Maulid Nabi Bidah yang Baik

Peringatan Maulid Nabi memang tidak pernah dilakukan di era Nabi dan karena itu bisa dianggap bid'ah. Tapi menurut Imam Suyuthi termasuk bid'ah hasanah (baik) atau bid'ah mandubah (dianjurkan). Ini berdasarkan pandangan Imam Syafi'i yang membagi bid'ah menjadi dua: bid'ah hasanah dan qabihah.
Maulid Nabi Bidah yang Baik
Peringatan Maulid Nabi memang tidak pernah dilakukan di era Nabi dan karena itu bisa dianggap bid'ah. Tapi menurut Imam Suyuthi termasuk bid'ah hasanah (baik) atau bid'ah mandubah (dianjurkan). Ini berdasarkan pandangan Imam Syafi'i yang membagi bid'ah menjadi dua: bid'ah hasanah dan qabihah.

Nama kitab: Terjemah Husnul Maqshid fi Amalil Maulid
Judul kitab asal: Husnul Maqshid fi Amalil Maulid (حسن المقصد في عمل المولد)
Penulis: Imam Suyuthi
Nama lengkap: Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuti
Penerjemah: Sya'roni As-Samfuriy
Bidang studi: Hukum syariah

Daftar Isi

MAULID NABI BID'AH YANG MANDUBAH (DIANJURKAN)

Bantahan 1 Pada Pendapat Anti Maulid

“Saya (Imam as-Suyuthi) berkata: Perkataan al-Fakihani yang berbunyi "Saya (al-Fakihani) tidak mengetahui amaliah Maulid ini memiliki dasar dalam al- Quran maupun as-Sunnah", jawabnya adalah ketidaktahuannya bukan berarti meniadakan sama sekali
dalil tentang Maulid Nabi. Padahal pemimpin ahli hadits, al-Hafidz Abul Fadhl Ibnu Hajar, telah mengambil dalil dari hadits. Dan saya (Imam as-Suyuthi) juga mengambil dalil yang kedua dari hadits, seperti yang akan dibahas berikutnya

Perkataan al-Fakihani yang berbunyi “Maulid ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang berbuat salah…”, jawabnya adalah: Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Maulid Nabi pertamakali dilakukan oleh seorang raja yang adil dan alim yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Acara tersebut dihadiri oleh para ulama dan orang shaleh tanpa ada pengingkaran dari mereka. Dan seorang ulama bernama Ibnu Dihyah merestuinya bahkan mengarang sebuah kitab tentang Maulid Nabi. Mereka ini adalah para ulama yang berpegang-teguh pada agama, menyetujui pelaksanaannya dan tidak mengingkarinya.

Perkataan al-Fakihani yang berbunyi “Juga bukan sunnah, sebab hakikat sunnah adalah hal-hal yang dianjurkan oleh syariat untuk melakukannya”, jawabnya ialah: Anjuran dalam melakukan hukum sunnah terkadang dengan nash (al-Quran dan al-Hadits), dan
adakalanya dengan Qiyas (analogi). Dalam masalah Maulid Nabi, meskipun tidak ada nash tetapi ada Qiyas dengan dua dalil hadits yang akan dijelaskan nanti. Perkataan al-Fakihani yang berbunyi “Juga tidak bisa dihukumi mubah (boleh), karena bid’ah dalam agama tidak dihukumi mubah dengan ijma’ umat Islam”. Ini adalah perkataan yang tidak dapat diterima. Sebab bid’ah tidak terbatas pada makruh dan haram saja, tetapi terkadang mubah, sunnah dan wajib. Berikut adalah penjelasan Bid’ah dan Klasifikasinya:[8]

1. Imam an-Nawawi berkata dalam kitab Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat:

البدعة في الشرع هي إحداث ما لم يكن في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وهي منقسمة إلى حسنة وقبيحة

“Bid’ah dalam agama adalah memperbarui sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad Saw. Bid’ah terbagi menjadi 2; bid’ah hasanah (baik) dan qabihah (jelek).”[9]

2. Syaikh Izzuddin bin Abdissalam berkata dalam kitab al-Qawa’id:

البدعة منقسمة إلى واجبة ومحرمة ومندوبة ومكروهة ومباحة ، قال : والطريق في ذلك أن نعرض البدعة على قواعد الشريعة ، فإذا دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة ، أو في قواعد التحريم فهي محرمة ، أو الندب فمندوبة ، أو المكروه فمكروهة ، أو المباح فمباحة

“Bid’ah terbagi menjadi 5 (lima): wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Metode untuk mengetahuinya adalah dengan membandingkan bid’ah dengan kaidah dalam agama. Jika bid’ah masuk dalam kaidah wajib, maka bid’ah tersebut hukumnya wajib. Jika masuk dalam kaidah haram, maka menjadi haram. Jika masuk dalam kaidah sunnah, maka menjadi sunnah. Jika masuk dalam kaidah makruh, maka menjadi makruh. Jika masuk dalam kaidah mubah, maka menjadi mubah.”[10]

Syaikh Izzuddin kemudian menjelaskan contoh-contoh dari masing-masing bagian tersebut. Diantaranya beliau berkata: “Contoh bid'ah yang sunnah adalah seperti membangun pesantren, tempat pendidikan, setiap kebaikan yang tidak dikenal di generasi awal, juga seperti Tarawih, bicara mendalam tentang tasawuf, dan berdebat. Contoh yang lain adalah perkumpulan perayaan dengan mengambil dalil dari beberapa masalah, jika bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.

3. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi’i dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i bahwa beliau berkata:[11]

المحدثات من الأمور ضربان ، أحدهما : ما أحدث مما يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا ، فهذه البدعة الضلالة ، والثاني : ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا ، وهذه محدثة غير مذمومة ، وقد قال عمر رضي الله عنه في قيام شهر رمضان : "نعمت البدعة هذه " ، يعني أنها محدثة لم تكن ، وإذ كانت فليس فيها رد لما مضى . هذا آخر كلام الشافعي

“Sesuatu yang diperbarui ada dua macam. Pertama, sesuatu yang baru yang bertentengan dengan al-Quran, al-Hadits, atsar dan atau ijma’. Maka ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua, sesuatu yang tidak bertentangan dengan dalil-dalil agama, maka hal ini tidak tercela. Sayyidina Umar Ra. berkata dalam ibadah malam di bulan Ramadhan: “Ini (Tarawih berjamaah) adalah sebaik-baik
bid’ah”. Yang dimaksud adalah sesuatu yang baru yang belum pernah ada. Dan kalaupun dikatakan bid’ah (secara bahasa) tapi di dalamnya tidak ada penolakan (bukan bid’ah tercela). Ini adalah akhir ucapan as Syafi’i.”

Dengan demikian bisa diketahui ketidakbenaran perkataan al-Fakihani yang berbunyi “Juga tidak bisa dihukumi mubah…” sampai perkataannya, “Maka inilah yang kami maksud dengan bid’ah yang makruh dan buruk”. Sebab amaliah Maulid Nabi ini adalah sesuatu
yang baru namun tidak bertentangan dengan al-Quran, al-Hadits, atsar dan ijma’, maka Maulid Nabi ini tidak tercela sebagaimana dalam analisa Imam syafi’i. Dan Maulid Nabi ini termasuk sebuah perbuatan baik yang tidak ditemukan dalam generasi awal. Sebab memberi hidangan yang jauh dari perbuatan berdosa adalah sebuah kebaikan, maka Maulid Nabi termasuk bid’ah yang dianjurkan (mandubah) sebagaimana dalam analisa Ibnu Abdissalam.

CATATAN KAKI

8. Ahli hadits al-Hafidz Ibnu Hajar selalu menggarisbawahi kata bid'ah dalam hadits-hadits Rasulullah Saw. sebagai bid'ah yang tidak ada dalilnya dalam agama. Sementara bid’ah yang memiliki dasar dalam agama tidak masuk dalam koridor bid’ah yang terdapat dalam hadits. (Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari juz 13 hlm. 253). Al-Hafidz Ibnu Hajar juga mencantumkan pernyataan Imam Syafi’i dan Syaikh Izzuddin Ibnu Abdissalam tentang klasifikasi bid’ah.

9. Tahdzib al-Asma wa al-Lughat juz 1 hlm. 994.

10. Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam juz 3 hlm. 172.

11. Penjelasan senada dari Imam Syafi’i diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliya’ juz 9 hlm. 113.
LihatTutupKomentar