Bab I Seputar Ilmu Falak Dan Definisinya

Definisi Ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari tentang lintasan benda-benda langit, di antaranya Bumi, Bulan dan Matahari, Benda-benda langit


 
Bab I  Seputar Ilmu Falak Dan Definisinya

Judul: Ilmu Falak Praktik
Penulis dan Penerbit:
Sub Direktorat Pembinaan Syariah Dan Hisab Rukyat
Dibrektorat Urusan Agama Islam & Pembinaan Syariah
Direktokrat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
Kementerian Agama Republik Indonesia

Daftar isi

BAB I  SEPUTAR ILMU FALAK

A. Pengertian Ilmu Falak

Menurut bahasa, “falak” berasal dari bahasa Arab 48 yang mempunyai
arti orbit atau lintasan benda-benda langit (madar al-nujumj[1], Dengan
demikian, ilmu falak didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang
lintasan benda-benda langit, di antaranya Bumi, Bulan dan Matahari, Benda-
benda langit tersebut berjalan sesuai orbitnya masing-masing. Dengan orbit
tersebut dapat digunakan untuk mengetahui posisi benda-benda langit antara
satu dengan yang lain.

Selain ilmu falak, ilmu ini juga disebut ilmu rashd karena memerlukan
observasi (pengamatan). Menurut Howard R. Turner, oleh kaam Muslim abad
pertengahan ilmu ini disebut ilmu miigaat/ sains penentu waktu, yaitu sains
mengenai waktu-waktu tertentu yang diterapkan melalui pengamatan
langsung dan menggunakan alat serta melalui perhitungan matematis dalam
rangka menentukan shalat lima waktu, matahari tenggelam, malam, fajar,
lewat tengah malam, dan sore.[2]

Ilmu falak di kalangan umat Islam juga dikenal dengan sebutan ilmu
hisab, sebab kegiatan yang paling menonjol pada ilmu tersebut adalah
melakukan perhitungan-perhitungan, Namun demikian, menurut penulis
karena dalam ilmu falak pada dasarnya menggunakan dua pendekatan “ kerja
ilmiah” dalam mengetahui waktu-waktu ibadah dan posisi benda-benda langit,
yakni pendekatan hisab (perhitungan) dan pendekatan rukyat (observasi) benda-
benda langit, maka idealnya penamaan ilmu falak ditinjau dari “kerja
lmiah”nya, disebut ilmu hisab rukyat, tidak disebut ilmu hisab (saja).

Ilmu falak juga dapat disebut ilmu astronomi, karena di dalamnya
membahas tentang bumi dan antariksa (kosmografi). Perhitungan-
perhitungan dalam ilmu falak berkaitan dengan benda-benda langit,
walaupun hanya sebagian kecil dari benda-benda langit yang menjadi
objek perhitungan. Karena secara etimologi, astronomi berarti peraturan
bintang "law of the stars". Sebagaimana dikemukakan oleh Robert H. Baker
bahwa:

“Astronomy the science of the stars, is concerned not morely with the star,
but with all the celestial bodies with together comprise, the known physical universe. It deals with planets and their satellites, including the earth, of
course with comels and meteor, with stars and the instellar material, with stars
clusters, the system of the milky way, and the other systems which lie beyond
the mulky way”.[3]

Benda langit yang dipelajari oleh umat Islam untuk keperluan praktek
ibadah adalah Matahari, Bulan, dan Bumi dalam tinjauan posisi-posisinya
sebagai akibat dari gerakannya (astromekanika). Hal ini disebabkan karena
perintah-perintah ibadah dalam waktu dan cara pelaksanaannya hanya
melibatkan posisi benda-benda langit tersebut. 

End notes

[1] Baca Zubair Umar al-Jailany, al-Khulashah al-Wafiyah, Kudus: Menara Kadus, tih, hlm.
3-4. Bandingkan juga dengan Loewis Ma'luf, Al-Munjid, Mesir Dar al-Masyrig, Cet. Ke-25, 1975,
hlm. 132-133, 

[2] Howard R. Turner, Science in Medirval Islam, An Ulustrated Introduction, Austin:
University of Texas Pers, 1997, hlm. F5, 

[3] Menurut Robert H. Baker, objek pembahasan ilmu bumi dan antariksa selain ilmu astronomi, terdapat ilmu astrologi (mu mujum), ilma cosmogony, ilmu astrometry dan ilmu astrofisik, baca Robert H, Baker, Astronomy, D. Van Mostrand Company, Inc, Toronta - London - New York, Cet. Ke-4, 1953, hlm1-2. Lihat juga Francis D. Curtis and George Greisen Mallison, Science In Daily Life, New Yore Gin and Company, 1953, hlm. 246.

LihatTutupKomentar