Pengertian Dalil
Nama kitab/buku: Terjemah kitab Ghayatul Wushul (Ghayah al-Wusul) Syarah Lubbul Ushul
Nama kitab asal: Lubbul Ushul fi Ushul al-Fiqh wad Din (لب الأصول في أصول الفقه والدين)
Pengarang: Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari
Nama lengkap penulis: Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari (شيخ الاسلام ابو يحيى زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الانصاري)
Kelahiran: 1421 M / 824 H Kairo, Mesir
Wafat: 1520 M / 926 H, Kairo, Mesir
Penerjemah:
Bidang studi: Ushul Fikih madzhab Syafi'i
Daftar isi
- Pengertian Dalil
- Hasil Pengetahuan Dari Analisis Dalil
- Definisi Hadd
- Kalam Nafsiy Adalah Khithab
- Pengertian Nazhar
- Pengertian Idrak
- Perbedaan Ilmu Dan I'tikad
- Perbedaan Syak, Zhan Dan Wahm
- Pembahasan Ilmu (Keyakinan)
- Definisi Jahl (Bodoh)
- Definisi Sahw (Terlupa)
- Kembali ke: Terjemah Ghayatul Wushul
PENGERTIAN DALIL
(والدليل) لغة المرشد وما به الإرشاد واصطلاحا (ما) أي شيء (يمكن التوصل) أي
الوصول بكلفة (بصحيح النظر فيه إلى مطلوب خبري) بأن يكون النظر فيه من الجهة التي
من شأنها أن ينتقل الذهن بها إلى ذلك المطلوب المسماة وجه الدلالة بفتح الدال
أفصح من كسرها، والخبري ما يخبر به، ومعنى الوصول إليه بما ذكر علمه أو اعتقاده
أو ظنه فالنظر هنا الفكر
لا بقيد المؤدّي إلى علم أو ظن كما
سيأتي حذرا من التكرار، والفكر حركة النفس في المعقولات بخلافها في المحسوسات،
فإنها تخييل لا فكر، وكأنهم ضمنوا الحركة اعتبار قصدها فيخرج الحدس وما يتوارد
على النفس في المعقولات بلا قصد كما في النوم والنسيان، ويطلق الفكر أيضا على
حركة النفس من المطالب إلى المبادىء، ثم الرجوع منها إليها، وشمل التعريف الدليل
القطعي كالعالم لوجود الصانع والظني كالنار لوجود الدخان، وأقيموا الصلاة لوجوبها
بناء على طريقة الأصوليين والفقهاء من أن مطلوبهم العمل وهو لا يتوقف على العلم،
بخلاف طريقة المتكلمين والحكماء، فإن مطلوبهم العلم ولهذا زادوا لفظة في التعريف،
فقالوا إلى العلم بمطلوب خبري فبالنظر الصحيح في الأدلة المذكورة أي بحركة النفس
فيما تعقله منها مما من شأنه أن ينتقل به إلى تلك المطلوبات، كالحدوث في الأول،
والإحراق في الثاني، والأمر بالصلاة في الثالث يصل إلى تلك المطلوبات بأن ترتب
هكذا العالم حادث وكل حادث له صانع فالعالم له صانع. النار شيء محرق وكل محرق له
دخان فالنار لها دخان. أقيموا الصلاة أمر بها وكل أمر بشيء لوجوبه حقيقة فأقيموا
الصلاة لوجوبها حقيقة، وقالوا يمكن التوصل دون يتوصل لأن الشيء يكون دليلًا، وإن
لم يوجد النظر المتوصل به فالدليل مفرد، ويقال له المادة والإمكان يكون قبل الفكر
فيه، أما بعده فلا بد من قضيتين صغرى مشتملة على موضوع المطلوب كما رأيت.
وأما الدليل عند المناطقة فقضيتان فأكثر تكون عنهما قضية أخرى فهو عندهم مركب، ويقال له المادة والصورة، وخرج بصحيح النظر فاسده فلا يمكن التوصل به إلى المطلوب لانتفاء وجه الدلالة عنه، وإن أدى إليه بواسطة اعتقاد أو ظن كما إذا نظر في العالم والنار من حيث البساطة، فإنهما ليسا من شأنهما أن ينتقل بهما إلى وجود الصانع والدخان، لكن يؤدّي إلى وجودهما هذان النظران ممن اعتقد أن العالم بسيط وكل بسيط له صانع، وممن ظنّ أن كل مسخن له دخان كذا قيل، وهو ظاهر في المطلوب الاعتقادي والظني لا العلمي لما سيأتي أن العلم لا يقبل النقض، وظاهر أن الحاصل بذلك يقبله إذا تبين فساد النظر. وبالخبري المطلوب التصوري، فيتوصل إليه بالحد بأن يتصور بتصوره كالحيوان الناطق حدا للإنسان، وسيأتي حد الحد الشامل لذلك ولغيره.
(Dan dalil) secara bahasa adalah petunjuk dan sesuatu yang dengan sebabnya
terpetunjuk. Dan secara istilah (ialah apapun), artinya, sesuatu (yang mungkin
mengantarkan), artinya, sampai dengan usaha (dengan analisa yang benar padanya
kepada kesimpulan yang berbentuk khabar). Dalam artian, (shahih nazhar adalah)
bahwa keberadaan analisa pada dalil tersebut adalah dari sisi yang dasarnya
itu dapat terpindahkan (terpahamkan) hati/ pikiran dengan sebabnya kepada
kesimpulan tersebut, yang dinamakan sisi itu dengan wajh dalalah (bentuk
penunjukan dalil). Dibaca dengan fatah dal lebih jelas dari kasrah
dal.
Khabariy (berbentuk khabar) adalah setiap
informasi yang diberitakan.
Pengertian dari
“sampai kepada kesimpulan” dengan cara yang tersebut di atas adalah
meyakininya, atau mengiktikadnya atau menduganya.
Maka
nazhar (analisa) di sini adalah berpikir, tanpa tambahan kait dengan,
mengantarkan kepada keyakinan atau dugaan, seperti yang akan dijelaskan nanti.
Karena, menjaga dari pengulangan.
Fikir adalah
pergerakan hati (menganalisa) pada beberapa perkara ma’gulat (yang bersifat
rasional). Berbeda halnya pada perkara mahsusat (perkara yang terpantau
panca-indra). Karena, hal tersebut adalah khayalan (imajinasi)!, bukan
berpikir. Seolah-olah, para pakar tersebut memasukkan ke dalam “pergerakan”
(dalam definisi nazhar) tinjauan perencanaannya, sehingga keluar hads? dan
segala sesuatu yang terlintas dalam hati pada perkara ma’qulat dengan tanpa
perencanaan, sebagaimana yang berlaku di dalam tidur dan terlupa.
Dipakaikan
kata “fikir” juga ke atas (makna) pergerakan hati dari beberapa kesimpulan
kepada awalannya dan kemudian kembali darinya kepada kesimpulan.
Definisi
dalil di atas mencakup dalil qath’iy,seperti alam semesta (sebagai dalil)
eksistensi Pencipta, dan dalil zhanniy, seperti ada api sebagai dalil bagi ada
asap, dan kalimat: “Dirikanlah shalat” sebagai dalil bagi wajib shalat, karena
dibangun atas aliran ulama ushul dan fugaha’ dari sisi bahwa tujuan mereka
adalah pengamalan, yang mana hal tersebut tidak terhenti atas pengetahuan.
Berbeda halnya dengan aliran mutakallimin dan ahli hikmah/ filsafat. Karena,
tujuan mereka adalah pengetahuan. Karena itu, mereka menambahkan satu lafal di
dalam definisi, dengan menyebut, kepada keyakinan/ pengetahuan dengan
kesimpulan yang berbentuk khabar. Yakni, menambahkan lafal .
Maka,
dengan analisa yang benar pada berbagai dalil di atas, -artinya, dengan
pergerakan hati pada segala perkara yang ia pikirkan dari dalil-dalil tersebut
berupa perkara yang dasarnya ia adalah terpindahkan (terpahamkan) dengannya
kepada kesimpulan tersebut, seperti huduts pada yang pertama, membakar pada
yang kedua, perintah shalat pada yang ketiga -itu dapat mengantarkan kepada
kesimpulan tersebut. Dalam artian, bahwa diurutkan demikian (dengan analisa):
Alam semesta itu yang huduts, –dan setiap yang huduts itu memiliki Pencipta. –
Maka alam semesta itu ada Pencipta. Api adalah sesuatu yang membakar, –dan
setiap yang membakar itu memiliki asap. – Maka, api itu ada asap. Kalimat
“Dirikanlah shalat” adalah perintah dengan shalat, –dan setiap perintah
sesuatu itu adalah bagi wajib sesuatu secara hakikat. – Maka, kalimat
“Dirikanlah shalat” adalah bagi wajib shalat secara hakikat.
Mereka
berkata dengan (mungkin mengantarkan), tidak Josh (dihantarkan). Karena,
sesungguhnya sesuatu itu telah menjadi dalil, meskipun tidak dijumpai analisa
yang dihantarkan dengannya. Maka, dalil itu sesuatu yang asing. Dan
disebutkannya dengan maddah. Dan “kemungkinan” itu adanya sebelum berpikir
padanya. Adapun setelah berpikir maka dimestikan ia (lahir) dari dua
qadhiyyah, shughra yang mencakup atas maudhu’ nattjah (kesimpulan) dan kubra
yang mencakup atas mahmul natijah, sebagaimana yang kamu pahami (di dalam
kajian mantiq). Dalil, menurut ahli mantiq, adalah dua qadhiyyah (proposisi)
atau lebih banyak yang dari keduanya melahirkan qadhiyyah lain (natijah/
kesimpulan). Dalil menurut mereka adalah susunan, dan disebutkannya dengan
maddah dan shurrah. Terkeluar dengan “analisa yang benar” oleh analisa yang
rusak. Maka, tidak mungkin mengantarkan dengannya kepada kesimpulan. Karena,
ternafi wajh dalalah (bentuk penunjukan) dari analisa tersebut, meskipun
tertunaikannya kepada kesimpulan dengan adanya perantara iktikad atau dugaan,
seperti bila dianalisakan tentang alam semesta dari segi basith (tunggal), dan
api dari segi memanaskan. Karena, tiadalah keduanya dari dasar keduanya
terpindahkan (terpahamkan) dengan keduanya kepada wujud Pencipta dan asap.
Akan tetapi, mengantarkan kepada wujud keduanya oleh dua analisa tersebut —
dari mereka yang mengiktikad: Bahwa alam semesta itu basith (tunggal), –dan
setiap yang tunggal itu ada Pencipta, dan mereka yang menduga-duga:
Bahwa
setiap yang panas itu ada asap. Begitulah yang dikatakan. Hal ini tampak jelas
pada kesimpulan yang bersifat iktikad dan dugaan, bukan bersifat pengetahuan/
keyakinan, karena alasan yang akan datang, yakni, sesungguhnya keyakinan itu
tidak menerima pembatalan. Dan zhahirnya bahwa yang hasil dengan demikian
(dugaan dan iktikad) itu menerima pembatalan bila ternyata analisanya
rusak.
Terkeluar dengan kata: “berbentuk khabar”
oleh kesimpulan yang berbentuk tashawwur.’ Karena, dihantarkan kepadanya
dengan hadd. Yakni, ditashawwurkan kesimpulan tersebut dengan mentashawwurkan
hadd, seperti (makhluk hidup yang berpikir) sebagai hadd bagi
manusia.
Dan akan datang pembahasan tentang
definisi hadd yang mencakup bagi hadd tersebut (manusia) dan hadd-hadd yang
lain.
HASIL PENGETAHUAN DARI ANALISIS DALIL
(والعلم) بالمطلوب الحاصل (عندنا) أيها الأشاعرة (عقبه) أي عقب صحيح النظر عادة عند الأشعري وغيره فلا يتخلف إلا خرقا للعادة كتخلف الإحراق عن مماسة النار، أو لزوما عند الإمام الرازي وغيره، فلا ينفك أصلًا كوجود الجوهر لوجود العرض. (مكتسب) للناظر (في الأصح) لأن حصوله عن نظره المكتسب له، وقيل لا لأن حصوله اضطراري لا قدرة على دفعه فلا خلاف إلا في التسمية وهي بالمكتسب أنسب والتصحيح من زيادتي، وكالعلم فيما ذكر الظن وإن لم يكن بينه وبين أمر ما ارتباط بحيث يمتنع تخلفه عنه عقلًا أو عادة، لأن النتيجة لازمة للقضيتين وإن كانتا ظنيتين، وزواله بعد حصوله لا يمنع حصوله لزوما أو عادة وخرج بعندنا العتزلة فقالوا النظر يولد العلم كتوليد حركة اليد لحركة المفتاح عندهم، وعلى وزانه يقال الظن الحاصل متولد عن النظر عندهم.
(Dan pengetahuan) dengan kesimpulan yang dihasilkan’ menurut pendapat kita
wahai kalangan Asy’ariyyah (setelahnya), artinya, setelah analisa yang benar
secara adat, menurut Asy’ariy dan selainnya. Maka, pengetahuan itu tidak
tertinggal (setelah analisa) kecuali perkara menyalahi adat, seperti
tertinggalnya terbakar dari bersentuhan api, atau secara kelaziman, menurut
imam Ar-Raziy dan selainnya. Maka, pengetahuan tersebut tidak terlepas sama
sekali, seperti adanya dzat (materi) (menunjukkan) bagi adanya sifat.
(adalah
muktasab (yang diupayakan) bagi pengkaji (menurut pendapat Ashah). Karena,
dihasilkannya pengetahuan tersebut dari analisa pengkaji yang diupayakan bagi
pengetahuan tersebut.
Ada yang berkata, Bukan
muktasab. Karena, dihasilkannya itu dharuri (otomatis), yang tidak ada
kemampuan untuk menolaknya (di saat pengetahuan itu dihasilkan). Maka, tidak
ada perbedaan pendapat melainkan pada penamaan saja! Dan penamaan dengan
muktasab itu lebih sesuai. Dan penyebutan Ashah adalah dari tambahanku.
Sama
halnya seperti (pengetahuan) pada penjelasan di atas (tentang muktasab
atau bukan) ialah (dugaan), sekalipun diantara zhan dan diantara sesuatu
itu tidak ada keterikatan, dalam artian tertegah ketertinggalannya dari
analisa pada akal dan adat. Karena, sesungguhnya natijah (kesimpulan) itu
sesuatu yang lazim bagi dua qadhiyyah, meskipun keduanya adalah zhanniyat.
Hilangnya dugaan setelah dihasilkannya itu tidak menolak tentang dihasilkannya
secara kelaziman atau adat.
Terkeluar dengan kata
“menurut pendapat kita” oleh muktazilah. Karena, mereka berpendapat: Analisa
itu melahirkan pengetahuan seperti pergerakan tangan yang melahirkan
pergerakan anak kunci, menurut mereka. Dan atas sebanding dengannya,
dikatakan, zhan yang dihasilkan itu dilahirkan dari analisa, menurut mereka.
DEFINISI HADD
(والحد) لغة المنع واصطلاحا عند الأصوليين. (ما يميز الشيء عن غيره) ولا يميز
كذلك إلا ما لا يخرج عنه شيء من أفراد المحدود، ولا يدخل فيه شيء من غيرها،
والأول وهو من زيادتي مبين لمفهوم الحدّ ولهذا زدته، والثاني لخاصته وهو بمعنى
قول القاضي أبي بكر الباقلاني المذكور بقولي (ويقال) الحد (الجامع) أي لأفراد
المحدود (المانع) أي من دخول غيرها فيه (و) يقال أيضا الحد (المطرد) أي الذي كلما
وجد وجد لمحدود فلا يدخل فيه شيء من غير أفراد المحدود فيكون مانعا. (المنعكس) أي
الذي كلما وجد المحدود وجد هو فلا
يخرج عنه شيء من أفراد
المحدود فيكون جامعا، فمؤدى العبارتين واحد والأولى أوضح فيصدقان بالحيوان الناطق
حدا للإنسان بخلاف حدّه بالحيوان الكاتب بالفعل، فإنه غير جامع وغير منعكس،
وبالحيوان الماشي فإنه غير مانع وغير مطرد وتفسير المنعكس، بما ذكر الموافق للعرف
واللغة حيث يقال كل إنسان ناطق، وبالعكس وكل إنسان حيوان، ولا عكس أظهر في معنى
الجامع من تفسير ابن الحاجب وغيره له، بأنه كلما انتفى الحدّ انتفى
المحدود
اللازم لذلك التفسير، وبما ذكر علم أنه قد يكون للشيء حدّان فأكثر، كقولهم الحركة
نقلة وزوال وذهاب في جهة وهو المختار، كما نقله الزركشي عن القاضي عبد الوهاب بعد
نقله عن غيره خلافه.
(Dan hadd) secara bahasa adalah mencegah. Dan secara istilah, menurut ulama
ushul Jadalah sesuatu yang dapat membedakan satu perkara dari perkara
lainnya). Perkara tersebut tidak dapat dibedakan kecuali oleh sesuatu yang
tidak keluar darinya perkara dari afrad mahdud (yang didefinisikan) dan tidak
masuk ke dalamnya perkara dari selainnya.’ Potongan pertama, -dan ia merupakan
tambahan dariku- adalah menjelaskan bagi mafhum hadd Dan karena itu, aku
menambahkannya. Dan potongan yang kedua adalah (menjelaskan) bagi khash-nya.
Dan yang kedua ini semakna dengan perkataan Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani
yang disebutkan dengan perkataanku: (Dan dikatakan) juga, hadd (adalah jami’
(pengumpul)), artinya, bagi afrad mahdud (lagi mani’ (pencegah)), artinya,
dari masuk selainnya ke dalamnya. (Dan) dikatakan juga, hadd (adalah
muttharid). Yakni, sesuatu yang dikala didapatkannya (hadd) pasti dijumpai
mahdud (yang didefinisikan). Maka, tidak masuk ke dalamnya perkara dari yang
bukan afrad mahdud. Karenanya, muttharid adalah mani. (lagi mun’akis). Yakni,
sesuatu yang dikala didapatkan mahdud pasti dijumpainya (hadd). Maka, tidak
keluar darinya perkara dari afrad mahdud. Karenanya, mun’akis adalah jami’.
Kehendaki
dari dua ibarat ini adalah satu (sama). Dan yang pertama lebih jelas/ terang.
Terbenar kedua ibarat tersebut dengan contoh: “Makhluk hidup yang berpikir”
sebagai definisi bagi manusia. Berbeda halnya, mendefinisikan manusia dengan,
“Makhluk hidup yang menulis bil-fiil (dengan aktual)”. Karena, definisi
tersebut tidak ada jami’ dan tidak ada . mun’akis, dan dengan, “Makhluk hidup
yang berjalan”. Karena, definisi tersebut tidak ada mani’ dan tidak ada
muttharid.
Penafsiran mun’akis dengan pengertian
yang telah disebutkan di atas -yang sesuai dengan ‘uruf dan lughat ketika
dikatakan, Setiap manusia itu berpikir, dan dengan sebaliknya, dan setiap
manusia itu makhluk — hidup dan tidak sebaliknya – itu lebih jelas pada
mengartikan jami’ daripada penafsiran Ibnu Al-Hajib dan selainnya tentang
mun’akis dengan mengatakan bahwa mun’akis adalah dikala ternafi hadd maka
ternafi mahdud, yang melazimi penafsiran ini bagi pentafsiran di atas.
Dengan
apa yang telah disebutkan di atas dapat dimaklumi bahwa kadangkala mahdud itu
memiliki dua hadd atau lebih banyak, seperti contoh perkataan mereka, Gerak
adalah perpindahan, menghilang, pergi pada satu sisi. Hal ini adalah pendapat
pilihan, sebagaimana yang dikutip Az-Zarkasyiy dari Al-Qadhi Abdul Wahhab
setelah kutipan beliau dari selainnya dengan kebalikannya.
KALAM NAFSIY ADALAH KHITHAB
(والكلام) النفسي (في الأزل يسمى خطابا) حقيقة في الأصح بتنزيل المعدوم الذي سيوجد منزلة الوجود، وقيل لا يسماه حقيقة لعدم من يخاطب به إذ ذاك، وإنما يسماه حقيقة فيما لا يزال عند وجود من يفهم وإسماعه إياه ما بلفظ كالقرآن، أو بلا لفظ كما وقع لموسى عليه الصلاة والسلام خرقا للعادة، وقيل سمعه بلفظ من جميع الجهات لذلك. (و) الكلام النفسي في الأزل (يتنوّع) إلى أمر ونهي وخبر وغيرها. (في الأصح) بالتنزيل السابق، وقيل لا يتنوّع إليها لعدم من تتعلق به هذه الأشياء إذ ذاك، وإنما يتنوّع إليها فيما لا يزال عند وجود من يتعلق به فتكون الأنواع حادثة مع قدم المشترك بينها، وهذا يلزمه محال وهو وجود الجنس مجردا عن أنواعه إلا أن يراد أنها أنواع اعتبارية أي عوارض له يجوز خلوّه عنها تحدث بحسب التعلقات كما أن تنوّعه إليها على الأول بحسب التعلقات أيضا لكونه صفة واحدة كالعلم وغيره من الصفات، فمن حيث تعلقه في الأزل أو فيما لا يزال بشيء على وجه الاقتضاء لفعله يسمى أمرا أو لتركه يسمى نهيا، وعلى هذا القياس، وأخرت كالأصل هاتين المسألتين عن الدليل لأن موضوعهما مدلوله في الجملة والمدلول متأخر عن الدليل، وإنما قدمتا على النظر المتعلق بالدليل أيضا لأن موضوعهما أشدّ ارتباطا منه بالدليل لأنه مقصود من الدليل والنظر من آلات تحصيله.
(Dan kalam) nafsiy (pada azali itu dinamakan khithab) secara hakikat, menurut
pendapat Ashah, dengan pertempatan perkara ma’dum (yang tidak ada) yang akan
ada pada posisi perkara maujud (sudah ada).
Ada
yang berkata, Tidak dinamakannya dengan khithab secara hakikat. Karena, tidak
ada orang yang dikhithabkan dengannya pada saat itu. Dinamakannya secara
hakikat hanyalah pada kalam yang senantiasa (dikhithabkan) di saat ada orang
yang memahaminya dan memperdengar kalam tersebut kepadanya, adakala dengan
lafal, seperti Al-Qur’an, atau dengan tanpa lafal, seperti yang terjadi dengan
nabi Musa As. secara menyalahi kebiasaan.
Ada
yang berkata, Nabi Musa As. mendengarnya dcngan lafal dari scmua sisi, karena
demikian (menyalahi kebiasaan).
(Dan) kalam
nafsiy pada azali tersebut (beragam bentuk) kepada amar, nahi, khabar dan
selainnya’ (menurut pendapat Ashah) dengan pertempatan yang telah lalu?.
Ada
yang berkata, Tidak bermacam — bentuk kepada semua bentuk tersebut. Karena,
ketiadaan orang yang dihubungkan segala bentuk tersebut dengannya di saat itu.
Beragam bentuk kalam nafsiy kepada semua bentuk tersebut hanyalah pada bentuk
yang senantiasa ada di saat wujud orang yang dihubungkan dengannya. Maka,
beragam bentuk tersebut adalah huduts, serta gadim yang dipersekutukan
diantaranya. Hal ini melazimi suatu kemustahilan.? Yakni, wujud suatu jenis
yang kosong — dari — pembagiannya. Kecuali, dimaksudkan dengannya adalah –
pembagian yang iktibariyyat. Yakni, segala aspek bagi kalam tersebut yang
mungkin saja terkosongnya dari ragam bentuk tersebut yang akan muncul dengan
sekira ta’alluq, sebagaimana terbagi bentuk kalam nafsiy kepadanya dengan
sekira ta’alluq juga, menurut pendapat pertama. Karena, keberadaanya sebagai
sifat yang tunggal, seperti ilmu dan selainnya dari segala sifat. Maka, dari
sisi ta’alluq-nya pada azali (menurut pendapat pertama), atau pada yang
senantiasa ada (menurut pendapat kedua) dengan sesuatu atas bentuk tuntutan
bagi melakukannya maka dinamakannya amar, atau meninggalkannya maka dinamakan
nahi, dan qiyas (yang lain) di atas ini.
Aku
mengakhirkan kedua masalah ini dari pembahasan dalil -sama seperti Ashal-.
Karena, maudhu’ (objek kajian) keduanya adalah madiul dari dalil secara umum.
Dan madlul diakhirkan daripada dalil. Dan didahulukan keduanya atas pembahasan
nazhar (analisa) yang berkaitan dengan dalil juga, hanyalah karena
sesungguhnya maudhu’ keduanya lebih kuat dari sisi keterkaitan dengan dalil
berbanding daripada nazhar. Karena, maudhu’ kedua masalah adalah maksud dari
dalil, sedangkan nazhar adalah alat menghasilkan dalil.
PENGERTIAN NAZHAR
«والنظر) لغة يقال لمعان منها الاعتبار والرؤية واصطلاحا (فكر) . وتقدم تفسيره
(يؤدّي) أي يوصل (إلى علم أو اعتقاد) والتصريح به من زيادتي، (أو ظنّ) بمطلوب
خبري فيها أو تصوّري في العلم والاعتقاد، فخرج الفكر غير المؤدّي إلى ذلك كأكثر
حديث النفس فليس بنظر وشمل التعريف النظر
الصحيح من قطعي وظني، والفاسد فإنه
يؤدّي إلى ذلك بواسطة اعتقاد أو ظن كما مر بيانه، وإن لم يستعمل بعضهم التأدية
إلا فيما يؤدّي بنفسه كذا قيل، وظاهر أنه خاص بتأديته إلى الاعتقاد أو الظنّ لا
إلى العلم لما مر في تعريف الدليل.
(Dan nazhar (analisa)) secara bahasa disebutkan dengan beberapa makna.
Diantaranya, iktibar dan melihat. (adalah berpikir) . Dan telah lalu
penafsirannya. (yang mengantarkan), artinya, menyampaikan (kepada ilmu
(keyakinan) atau iktikad (pendirian)). Pernyataan dengan lafal “iktikad”
adalah merupakan tambahan dariku. Jatau zhan (dugaan)) dengan kesimpulan yang
berbentuk khabar pada ketiganya, atau berbentuk tashawwur pada ilmu dan
iktikad.
Karena itu, terkeluar oleh berpikir yang
tidak mengantarkan kepada tiga hal tersebut, seperti kebanyakan bisikan hati’.
Maka ia bukan nazhar.
Definisi di atas mencakup
nazhar shahih (analisa yang benar) berupa qath’iy dan zhanniy, dan nazhar
fasid (analisa yang rusak). Karena, nazhar fasid juga mengantarkan pada
demikian dengan perantara iktikad atau zhan, sebagaimana penjelasannya yang
lalu. Meskipun, sebagian ulama tidak menggunakan kata ta diyyah (mengantarkan)
kecuali pada perkara yang mengantarkan dengan sendirinya (tanpa perantara).
Begitulah yang dikatakan. Dan jelasnya adalah bahwa nazhar fasid hanya
mengantarkan pada iktikad dan zhan, tidak ilmu, karena alasan yang telah lalu
penyebutannya di dalam definisi dalil.
PENGERTIAN IDRAK
(والإدراك) لغة الوصول واصطلاحا وصول النفس إلى تمام المعنى من نسبة أو غيرها (بلا حكم) معه من إدراك وقوع النسبة أو لا وقوعها (تصور) ساذج، ويسمى علما أيضا كما علم مما مر، أما وصول النفس إلى المعنى لا بتمامه فيسمى شعورا. (وبه) أي بالحكم أي والإدراك للنسبة وطرفيها مع الحكم المسبوق بذلك. (تصوّر بتصديق) أي معه كإدراك الإنسان والكاتب وثبوت الكتابة له، وأن النسبة واقعة أولًا في التصديق بأن الإنسان كاتب أو أنه ليس بكاتب الصادقين في الجملة. (وهو) أي التصديق (الحكم) وهذا من زيادتي وهو رأي المحققين، وقيل التصديق التصور مع الحكم، وعليه جرى الأصل، فالتصورات السابقة على الحكم على هذا شطر منه، وعلى الأول شرط له، وتفسيري له بأنه إدراك وقوع النسبة أو لا وقوعها هو رأي متقدمي المناطقة. قال القطب الرازي وغيره من المحققين وهو التحقيق، وأما متأخروهم ففسروه بإيقاع النسبة أو انتزاعها، وقدماؤهم قالوا الإيقاع والانتزاع ونحوهما عبارات وألفاظ أي توهم أن للنفس بعد تصور النسبة وطرفيها فعلًا وليس كذلك، فالحكم عندهم من مقولة الانفعال، وعند متأخريهم من مقولة الفعل.
(Dan idrak) secara bahasa adalah sampai/ mencapai. Dan secara istilah adalah
sampai hati kepada makna yang lengkap dari suatu penisbatan (penyandaran) atau
selainnya (dengan tanpa (disertai) hukum) besertanya dari memahami berlaku
penisbatan atau tidak berlakunya? (adalah tashawwur sadzij) . Dan dinamakannya
juga sebagai ilmu, sebagaimana yang telah dimaklumi dari penjelasan
sebelumnya.
Adapun sampai hati kepada suatu
makna, tidak dengan kelengkapannya, maka dinamakannya syu’ur (perasaan).
(Dan
dengannya), artinya, dengan disertai hukum. Artinya, dan idrak (memahami) bagi
suatu penisbatan dan kedua sisinya serta hukum yang didahului dengan demikian’
(adalah tashawwur bi-tashdig), artinya, beserta tashdig. Seperti, memahami
kata (manusia) dan (yang menulis) serta penetapan “menulis” bagi
“manusia”, dan sesungguhnya penisbatan itu berlaku atau tidak pada contoh
tashdiq dengan bahwasanya, “Manusia itu yang menulis”, atau bahwasanya
“manusia itu tidak menulis” yang terbenar keduanya secara umum.
(Dan
dianya), artinya, tashdig (adalah hukum). Dan ini merupakan tambahan dariku.
Dan dianya adalah pendapat dari kalangan ulama muhaqqiqin.
Ada
yang berkata, Tashdiq adalah tashawwur serta hukum. Ashal berpendapat
dengannya.
Maka, segala tashawwur yang telah lau
atas hukum, menurut pendapat ini adalah bagian dari tashdiq, dan menurut
pendapat pertama adalah syarat bagi tashdiq.
Penafsiran
dariku tentang tashdiq dengan: memahami berlaku penisbatan atau tidak
berlakunya senisbatan, adalah pendapat dari kalangan ulama mutaqaddimin
mantig.
Al-Guthub Ar-Raziy dan selainnya dari
kalangan muhaqqiqin berkata: Pendapat ini adalah yang pasti.
Adapun
mutaakhirin dari kalangan mantiq menafsirkan tashdig dengan, memberlakukan
penisbatan atau mencabutnya. Para senior dari kalangan mereka berkata: iyqa’
dan intiza’. Dan semisal dengan keduanya adalah beberapa ibarat dan beberapa
lafal. Artinya, memberi anggapan bahwa bagi hati setelah tashawwur penisbatan
dan kedua sisinya itu adalah fi’ill Padahal bukan demikian. Maka, hukum,
menurut mereka (mutagaddimin mantiq) adalah maqulat infi’al, dan menurut
mutaakhirin dari kalangan mantiq adalah dari ma’qulat
PERBEDAAN ILMU DAN IKTIKAD
(وجازمه) أي الحكم أي والحكم الجازم (إن لم يقبل تغيرا) بأن كان لموجب من حس ولو باطنا أو عقل أو عادة، فيكون مطابقا للواقع. (فعلم) كالحكم بأن به جوعا أو عطشا أو بأن زيدا متحرك ممن رآه متحركا أو بأن العالم حادث، أو بأن الجبل من حجر. (وإلا) أي وإن قبل التغير بأن لم يكن لموجب مما ذكر طابق الواقع أو لا. إذ يتغير الأول بالتشكيك والثاني به أو بالاطلاع على ما في نفس الأمر. (فاعتقاد) وهو اعتقاد (صحيح إن طابق) الواقع كاعتقاد المقلد سنية الضحى، (وإلا) أي وإن لم يطابق الواقع (ففاسد) كاعتقاد الفلسفي قدم العالم،
(Dan kemantapannya) artinya, hukum. Artinya, dan hukum yang mantap (jika tidak menerima perubahan). Dalam artian, bahwa keberadaan hukum tersebut adalah karena kehendaki dari panca-indra walaupun indra batin!, atau akal atau adat, sehingga keberadaanya yang sesuai bagi fakta. (Maka, dinamakan ilmu (keyakinan)). Seperti hukum bahwa seseorang itu lapar atau haus, atau bahwa Zaid itu bergerak, dari orang yang melihatnya bergerak, atau bahwa alam semesta itu hadits, atau bahwa gunung itu berasal dari bebatuan.(Dan jika tidak). Artinya, dan jika menerima perubahan. Dalam artian, bahwa keberadaan hukum tidak karena kehendaki dari hal di atas, baik itu sesuai dengan fakta atau tidak. Karena, perubahan yang pertama dengan diragukan,? dan yang kedua dengan diragukan atau dengan tertampak atas kejadian pada nafs amri. (Maka, dinamakan dengan iktikad). Dan ianya adalah iktikad yang (shahih, jika sesuainya) dengan fakta, seperti iktikad mukallid akan kesunnatan shalat dhuha. (Dan jika tidak). Artinya, dan jika tidak sesuainya dengan fakta (maka iktikad yang fasid). Seperti iktikad sara ahli filsafat tentan: qidam (dahulu/ tanpa awalan) alam semesta.
PERBEDAAN SYAK, ZHAN DAN WAHM
(و) الحكم (غير الجازم ظن ووهم وشك لأنه) أي غير الجازم إما (راجح) لرجحان المحكوم به على نقيضه فالظن، أو مرجوح) لمرجوحية المحكوم به لنقيضه فالوهم، أو مساو) لمساواة المحكوم به من كل من النقيضين على البدل للآخر فالشك فهو بخلاف ما قبله حكمان، كما قال إمام الحرمين والغزالي وغيرهما الشك اعتقادان يتقاوم سببهما. وقال بعض المحققين ليس الوهم والشك من التصديق أي بل من التصور، إذ الوهم ملاحظة الطرف المرجوح والشك التردّد في الوقوع واللاوقوع، فما أريد مما مر من أن العقل يحكم بالمرجوح أو المساوي عنده ممنوع على هذا، وقد أوضحت ذلك في الحاشية، وقد يطلق العلم على الظن كعكسه مجازا، فالأول كقوله تعالى ﴿فإن علمتموهنّ مؤمنات﴾ أي ظننتموهن والثاني كقوله تعالى ﴿الذين يظنون أنهم ملاقو ربهم﴾ أي يعلمون ويطلق الشك مجازا كما يطلق لغة على مطلق التردّد الشامل للظن والوهم، ومن ذلك قول الفقهاء من تيقن طهرا أو حدثا وشك في ضدّه عمل بيقينه.
(Dan) hukum (yang tidak mantap itu adalah zhan (dugaan), wahm (anggapan) dan
syakk (keraguan). Karena, bahwa sesungguhnya artinya, yang tidak mantap
tersebut adakala (yang lebih unggul). Karena, keunggulan hukum padanya
dibandingkan kebalikannya, maka disebut zhan. (atau yang diungguli/ kalah
unggul). Karena, diungguli hukum padanya bagi kebalikannya, maka disebut wahm.
(atau menyamai/ setara), karena, kesamaan (kesetaraan) hukum padanya dari
masing-masing dua yang berlawanan secara bergantian bagi yang lain,’ maka
disebut syakk. Karena itu, syakk -berbeda dengan dua sebelumnyaadalah dua
hukum, sebagaimana yang disebutkan imam Al-Haramain, Al-Ghazaliy dan selain
keduanya, Syakk adalah dua iktikad yang saling tegak (dan berlawanan) sebab
keduanya.
Sebagian dari kalangan muhaggigin
berkata: Wahm dan syakk bukan bagian dari tashdig, namun dari tashawwur.
Karena, wahm adalah tinjauan sisi marjuh (yang kalah unggul) dan syakk adalah
kesimpang-siuran pada berlaku atau tidak berlaku. Sedangkan, apa yang
dimaksudkan sebelumnya, yakni sesungguhnya akal menetapkan hukum dengan yang
kalah unggul dan yang setara menurut mereka adalah hal yang tertolak,
berdasarkan pendapat ini. Dan hal tersebut telah aku jelaskan di dalam
Al-Hasyiyah.
Kadangkala, lafal ilmu dipakaikan
secara mutlak pada zhan, begitu juga sebaliknya atas jalan majaz. Yang pertama
adalah seperti firman Allah Swt.: “Maka jika kalian telah meyakini mereka itu
yang beriman”. (QS. Al-Mumtahanah, ayat 10). Artinya, kalian telah menyangka
mereka. Dan yang kedua adalah seperti firman Allah Swt.: “Mereka yang
meng-zhan bahwa mereka akan menemui Tuhannya”. (QS. Al-Baqarah, ayat 46).
Artinya, mereka meyakini.
Dan kadangkala, kata
syakk dipakaikan secara majaz, sebagaimana dipakaikannya secara lughat atas
kemutlakan taraddud yang mencakup bagi zhan dan wahm. Diantaranya adalah
perkataan para Fuqaha: Barangsiapa yang meyakini dirinya Suci atau hadats dan
ia syakk pada kebalikannya maka diamalkan dengan yakinnya.
PEMBAHASAN ILMU (KEYAKINAN)
(فالعلم) أي القسم المسمى بالعلم التصديقي من حيث تصوره بحقيقته بقرينة السياق (حكم جازم لا يقبل تغيرا فهو نظري يحد في الأصح) . واختار الإمام الرازي أنه ضروري أي يحصل بمجرد التفات النفس إليه من غير نظر واكتساب، لأن علم كل أحد بأنه عالم بأنه موجود مثلًا ضروري بجميع أجزائه، ومنها تصور العلم بأنه موجود بالحقيقة وهو علم تصديقي خاص، فيكون تصور مطلق العلم التصديقي بالحقيقة ضروريا وهو المدعي. وأجيب بمنع أنه يتعين أن يكون من أجزاء ذلك تصور العلم المذكور بالحقيقة، بل يكفي تصوره بوجه، فالضروري تصور مطلق العلم التصديقي بالوجه لا بالحقيقة الذي النزاع فيه، وعلى ما اختاره فلا يحدّ، إذ لا فائدة، في حدّ الضروري لحصوله بغير حدّ قال نعم قد يحدّ الضروري لإفادة العبارة عنه أي فيكون حدّه حينئذ حدّا لفظيا لا حقيقيا. وقال إمام الحرمين هو نظري لكنه عسر أي لا يحصل إلا بنظر دقيق لخفائه ومال إليه الأصل حيث قال فالرأي الإمساك عن تعريفه أي المسبوق بذلك التصور العسر صونا للنفس عن مشقة الخوض في العسر. قال الإمام ويميز عن غيره من أقسام الاعتقاد بأنه اعتقاد جازم مطابق ثابت فليس هذا حقيقته عنده، والترجيح من زيادتي.
(قال المحققون ولا يتفاوت) العلم (إلا بكثرة المتعلقات) أي لا يتفاوت في جزئياته
فليس بعضها ولو ضروريا أقوى من بعضها ولو نظريا، وإنما يتفاوت بكثرة المتعلقات في
بعض جزئياته دون بعض فيتفاوت فيها كما في العلم بثلاثة أشياء والعلم بشيئين، بناء
على اتحاد العلم مع تعدّد المعلوم، كما هو قول بعض الأشاعرة قياسا على علم الله
تعالى، والأشعري وكثير من المعتزلة على تعدد العلم بتعدد المعلوم، وأجابوا عن
القياس بأنه خال عن الجامع، وعلى هذا لا يقال يتفاوت بما ذكر، وقيل يتفاوت العلم
في جزئياته، إذ العلم مثلًا بأن الواحد نصف الاثنين أقوى في الجزم من العلم بأن
العالم حادث. وأجيب بأن التفاوت في ذلك
ونحوه ليس من حيث الجزم،
بل من حيث غيره كإلف النفس بأحد المعلومين دون الآخر.
(Maka, ilmu. Artinya, pembagian yang dinamakan dengan ilmu yang bersifat
tashdiq’ dari segi tashawwur-nya dengan hakikat dengan karinah (petunjuk)
konteks kalam (adalah hukum yang mantap dan tidak menerima perubahan. Dan ilmu
ini adalah nazhari yang didefinisikan, menurut pendapat Ashah).
Imam
Ar-Raziy memilih bahwa ilmu ini adalah dharuri. Artinya, ilmu ini didapatkan
dengan semata-mata peralihan hati kepadanya tanpa analisa dan usaha! Karena,
“bahwasanya pengetahuan setiap orang bahwa ia mengetahui dirinya lada
-contohnya- adalah dharuri dengan segala juzu-nya.” Dan diantara juzu’-nya,
ialah tashawwur ilmu bahwa ia ada secara hakikat.
Dan
pengetahuan ini adalah ilmu tashdiqiy yang khash.
Karena
itu, tashawwur ilmu tashdigiy secara umum pada hakikat adalah dharuri. Dan
inilah yang diklaim (oleh imam Ar-Raziy bahwa ilmu adalah dharuri).
Pilihan
imam Ar-Raziy tersebut dijawab dengan menolak bahwa keberadaan tashawwur ilmu
tersebut dari juzu’-juzu’ demikian itu tertentu dengan cara hakikat (hadad).
Akan tetapi, cukup tashawwur-nya dengan satu sisi Gmanapun)!’:. Maka, dharuri
adalah tashawwur mutlak ilmu tashdigiy dengan satu sisi manapun. Bukan,
hakikat yang merupakan objek perselisihan.
Berdasarkan
pilihan Ar-Raziy tersebut, maka ilmu tidak didefinisikan. Karena, tidak ada
faedah dalam mendefinisikan yang dharuri. Karena didapatkannya dengan tanpa
definisi Beliau berkata, “Ya, memang. Kadangkala dharuri itu didefinisikan
untuk memberi faedah ibarat untuknya”. Artinya, maka, definisi di saat itu
adalah definisi bersifat lafal, bukan hakikat.
Imam
Al-Haramain berkata: ilmu adalah nazhari tetapinya sulit. Artinya, tidak
didapatkannya melainkan dengan analisa yang mendalam karena tertutupnya. Ashal
condong pada pendapat ini ketika beliau berkata: Maka pendapat (yang benar)
adalah menahan diri dari mendefinisikannya. Artinya, yang didahului dengan
tashawwur yang sulit. Karena, menjaga hati dari beban berat menyelam ke dalam
kesulitan.
Imam Al-Haramain berkata: Ilmu dapat
dibedakan dari selainnya dari segala pembagian iktikad, dengan bahwa ilmu
adalah iktikad yang mantap yang sesuai dan kokoh.
Maka,
pembeda ini bukan hakikat/ hadd bagi ilmu, menurut beliau. Dan pentarjihan
adalah merupakan tambahan dariku.
(Ulama
muhaggigin berkata: Tidak berbeda-beda) suatu ilmu (pengetahuan) tersebut
(kecuali dengan sebab banyak hal-hal yang berkaitan. Artinya, ilmu tidak
berbeda-beda pada juziyyatnya. Tiadalah sebagiannya, -walau dharuri- lebih
kuat dari sebagian juziyyat yang lain, -walau nazhari-. Berbeda-beda ilmu
hanyalah dengan sebab banyak muta’allag (hal-hal yang berkait dengannya) pada
sebagian juziyyat-nya, tidak pada sebagian yang lain. Maka, perbedaan itu
adalah pada muta’allaq tersebut, seperti ilmu tentang tiga perkara dan ilmu
tentang dua perkara. Hal ini dibangun atas dasar tunggal ilmu serta banyak
ma’lum (yang diketahui), sebagaimana pendapat sebagian dari Asy’ariyyah.
Karena, menganalogikan dengan ilmu Allah Swt.
Asy’ariy
dan kebanyakan dari muktazilah itu (berpijak) atas banyaknya ilmu dengan sebab
banyaknya ma’lum. Mereka menjawab untuk pengqiyasan tersebut dengan bahwa ia
kosong dari jami’. Atas dasar ini, tidak dikatakan, Ilmu berbeda-beda dengan
sebab perkara di atas (banyak muta’allaq).
Ada
yang berkata, Ilmu berbedabeda pada juziyyat-nya. Karena, pengetahuan
-contohnyatentang satu adalah setengahnya dua itu lebih kuat pada
kemantapannya dari pengetahuan tentang alam semesta adalah hadits.
Pendapat
ini dijawab: Bahwa sesungguhnya perbedaan pada demikian dan semisalnya
bukanlah dari sisi kemantapan, tetapi dari sisi lainnya, seperti kecenderungan
hati dengan salah satu dari dua ma’lum, tidak pada yang lain.
DEFINISI JAHL (BODOH)
(والجهل انتفاء العلم بالمقصود في الأصح) أي بما من شأنه أن يقصد ليعلم بأن لم يدرك ويسمى الجهل البسيط أو أدرك على خلاف هيئته في الواقع، ويسمى الجهل المركب لتركبه من جهلين جهل المدرك بما في الواقع، وجهله بأنه جاهل به كاعتقاد الفلسفي أن العالم قديم، وقيل الجهل إدراك العلوم على خلاف هيئته، فالجهل البسيط على الأول ليس جهلًا على هذا، واستغنى بانتفاء العلم عن التقييد في قول بعضهم عدم العلم عما من شأنه العلم لإخراج الجماد والبهيمة عن الاتصاف بالجهل لأن انتفاء العلم إنما يقال فيما من شأنه العلم بخلاف عدم العلم، وخرج بالمقصود غيره كأسفل الأرض وما فيه فلا يسمى انتفاء العلم به جهلًا اصطلاحا، والتعبير به أحسن كما قال البرماوي من تعبير بعضهم بالشيء، لأن الشيء لا يطلق على المعدوم بخلاف المقصود، ولأنه يشمل غير المقصود.
(Dan jahl adalah ketiadaan ilmu terhadap hal yang dimaksud, menurut pendapat
Ashahil, artinya, dengan hal yang dasarnya adalah yang dimaksud untuk
dimaklumi. Dalam artian, bahwa ia tidak menemukannya, dan dinamakannya dengan
jahl basith, atau menemukannya atas kebalikan rupanya pada realita sebenarnya,
dan dinamakannya dengan jahl murakkab. Karena, tersusunnya dari dua jahl, jahl
mudrik (penemu) dengan yang realitanya, dan jahlnya bahwa ia jahil (tidak
tahu) dengan yang realita sebenarnya, seperti iktikad ahli filsafat bahwa alam
semesta itu gadim (dahulu tanpa awalan). Ada yang berkata, Jahl adalah
menemukan yang ma’lum atas kebalikan bentuk realita sebenarnya. Maka jahl
basith atas dasar pendapat pertama itu bukan jahl menurut pendapat ini.
Terkaya
dengan penyebutan (ketiadaan ilmu) dari kait yang dibuat sebagian ulama,
Tiada ilmu dari yang dasarnya itu menjadi ilmu. Karena, mengeluarkan benda
mati dan binatang dari bersifat dengan jahl. Karena, ketiadaan ilmu hanya
disebutkan pada yang dasarnya berilmu. Berbeda halnya dengan (tiada
ilmu). Terkeluar dengan kata “yang dimaksud” oleh yang tidak dimaksud. Seperti
bagian bumi terbawah dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Maka, ketiadaan
ilmu tentangnya tidak dinamakan jahl pada istilah.
Pengibaratan
— dengan — “yang dimaksud” lebih bagus, – sebagaimana yang disebutkan
Al-Barmawiy, dibandingkan ibarat dari sebagian mereka dengan (sesuatu).
Karena, (sesuatu) tidak dipakaikan pada yang ma’dum (berkarakter tidak
ada). Berbeda halnya dengan (yang dimaksud). Dan juga, lafal
(sesuatu) mencakup kepada selain yang dimaksud.
DEFINISI SAHW (TERLUPA)
(والسهو الغفلة عن المعلوم) الحاصل فيتنبه له بأدنى تنبيه بخلاف النسيان، فهو زوال المعلوم فيستأنف تحصيله، وعرّفه الكرماني وغيره بزوال المعلوم عن القوّة الحافظة والمدركة والسهو بزواله عن الحافظة فقط، وذلك قريب مما ذكر، وجعلهما البرماوي من أقسام الجهل البسيط حيث قسمه إليهما وإلى غيرهما، ثم فرق بينهما بأنه إن قصر زمن الزوال سمي سهوا وإلا فنسيانا. قال وهذا أحسن ما فرق بيه بينهما.
(Dan sahw adalah terlupa dari yang diketahui) yang telah pernah dihasilkan.
Maka, orang yang terlupa itu akan teringat tentangnya dengan diingatkan yang
ringan. Berbeda halnya dengan nisyan. Karena, nisyan adalah hilang yang
diketahui, sehingga dimulai lagi dari awal untuk menghasilkannya. Al-Kirmaniy
dan selainnya mendefinisikan nisyan dengan: Hilang yang diketahui dari
kekuatan hafalan dan pemahaman, dan sahw dengan, Hilang yang diketahui dari
hafalan saja. Dan definisi ini mendekati dari definisi yang disebut di
atas.
Al-Barmawiy menjadikan keduanya bagian dari
jahl basith ketika beliau membagikan jahl basith kepada keduanya dan kepada
selain keduanya. Kemudian, beliau membedakan antara keduanya dengan bahwa:
Jika singkat masa hilang maka disebut dengan sahw. Dan jika tidak, maka
disebut nisyan. Beliau berkata: Perbedaan ini adalah yang paling bagus dari:
berbagai cara yang dibedakan antara keduanya.[]
