Perkara Boleh Ditinggal Tidak Disebut Wajib
Nama kitab asal: Lubbul Ushul fi Ushul al-Fiqh wad Din (لب الأصول في أصول الفقه والدين)
Pengarang: Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari
Nama lengkap penulis: Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari (شيخ الاسلام ابو يحيى زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الانصاري)
Kelahiran: 1421 M / 824 H Kairo, Mesir
Wafat: 1520 M / 926 H, Kairo, Mesir
Penerjemah:
Bidang studi: Ushul Fikih madzhab Syafi'i
- Pembahasan Hasan Dan Qabih (Baik dan Buruk)
- Perkara Boleh Ditinggal Tidak Disebut Wajib
- Mandub Adalah Ma'mur Bih
- Mubah Bukan Jinis Bagi Wajib
- Mubah Bukan Ma'mur Bih
- Mubah Adalah Hukum Syar'i
- Sisa Hukum Setelah Penghapusan Wajib
- Pembahasan Wajib Mukhayyar
- Pembahasan Haram Mukhayyar
- Kembali ke: Terjemah Ghayatul Wushul
PEMBAHASAN HASAN DAN QABIH (BAIK DAN BURUK)
مسألة هي إثبات عرض ذاتي للموضوع. (الأصح أن الحسن ما) أي فعل (يمدح) أي يؤمر بالمدح (عليه) . وهو الواجب والمندوب وفعل الله تعالى. (والقبيح ما يذم عليه) وهو الحرام. (فما لا) يمدح (ولا) يذم عليه من المكروه الشامل لخلاف الأولى والمباح. (واسطة) بين الحسن والقبيح، وهذا ما قاله
إمام الحرمين في المكروه صريحا وفي المباح، وفعل غير المكلف لزوما، ورجحه الأصل في شرح المختصر في المكروه، وتبعه البرماوي فيه، وألحق به المباح بحثا، وقيل الحسن فعل المكلف المأذون فيه من واجب ومندوب ومباح، والقبيح ما نهى عنه شرعا ولو كان منهيا عنه بعموم النهي المستفاد من أوامر الندب كما مرّ، فيشمل الحرام والمكروه، وخلاف الأولى وهذا ما رجحه الأصل هنا فيهما ولأصحابنا فيهما عبارات أخرى. وللمعتزلة فيهما بناء على تحكيمهم العقل عبارات أيضا منها أن الحسن ما للقادر عليه العالم بحاله أن يفعله والقبيح بخلافه فيدخل فيه الحرام فقط، وفي الحسن ما سواه. ومنها أن الحسن هو الواقع على صفة توجب المدح والقبيح هو الواقع على صفة توجب الذم، فيدخل فيه الحرام فقط أيضا. وفي الحسن الواجب والمندوب، فالمكروه والمباح واسطة بين الحسن والقبيح.
(Permasalahan). Masalah ialah penetapan/ penyebutan aradh dari suatu
dzat pada maudhu’ (objek bahasnya). (Menurut pendapat Ashah, sesungguhnya
hasan (kebaikan) adalah sesuatu), artinya, perbuatan )yang dipujil, artinya,
yang diperintah untuk dipuji (atas melakukannya). Dan yaitu, wajib, sunnat dan
perbuatan Allah Swt.
(Dan qabih adalah perbuatan
yang dicela atas melakukannya). Dan yaitu, haram.
(Maka,
perbuatan yang tidakl) dipuji (dan tidak) dicela atas melakukannya, yakni dari
perkara makruh yang mencakup khilaf aula, dan mubah (adalah perantara)
diantara hasan dan qabih. Ini adalah pendapat yang diucapkan imam Al-Haramain
pada perkara makruh secara jelas, dan pada perkara mubah serta perbuatan
selain mukallaf secara kelaziman. Ashal mengunggulkan pendapat tersebut di
dalam Syarah Al-Mukhtashar pada perkara makruh. Dan diikutinya oleh
Al-Barmawiy pada perkara tersebut dan memasukkan mubah ke dalam perkara makruh
karena suatu kajian.
Ada yang berkata, Hasan
adalah perbuatan mukallaf yang diizinkan padanya, yakni dari perkara wajib,
sunnat dan mubah. Sedangkan qabih adalah perkara yang dilarang darinya pada
syara’, walaupun perkara tersebut adalah yang dilarang dengan umum larangan
yang diambil dari segala perintah sunnat, sebagaimana pembahasan
sebelumnya.Maka, mencakup haram, makruh dan khilaf aula. Pendapat ini adalah
yang diunggulkan Ashal di sini pada kedua pembahasan ini (hasan dan qabih).
Dalam
mengartikan keduanya, ada beberapa ibarat yang lain bagi kalangan kita
(Asy’ariyyah). Dalam mengartikan keduanya, muktazilah juga memiliki beberapa
ibarat lain karena dibangun atas dasar penetapan hukum dengan akal, menurut
mereka.
Diantaranya, ialah bahwa sesungguhnya
hasan adalah perbuatan yang boleh bagi yang mampu atasnya dan tahu dengan
keadaannya untuk melakukannya. Sedangkan qabih adalah kebalikannya. Karena
itu, masuk ke dalamnya oleh haram saja. Dan masuk ke dalam hasan oleh selain
haram.
Dan diantaranya adalah bahwa sesungguhnya
hasan adalah. yang berlaku atas suatu sifat yang dituntut untuk dipuji. Dan
qabih adalah yang berlaku atas suatu sifat yang dituntut untuk dicela. Karena
itu, masuk ke dalamnya oleh haram saja juga. Dan ke dalam hasan oleh wajib,
sunnat. Sedangkan makruh dan mubah adalah perantara diantara hasan dan qabih.
PERKARA BOLEH TINGGAL TIDAK DISEBUT WAJIB
(و) والأصح (أن جائز الترك) سواء كان جائز الفعل أيضا أم لا. (ليس بواجب) وإلا لامتنع تركه والفرض أنه جائز. وقال بعض الفقهاء يجب الصوم على الحائض والمريض والمسافر مع جواز تركهم له لقوله تعالى ﴿فمن شهد منكم الشهر فليصمه﴾ وهم شهدوه ولوجوب القضاء عليهم بقدر ما فاتهم فكان المأتيّ به بدلًا عن الفائت. وأجيب بأن شهود الشهر موجب عند انتفاء العذر لا مطلقا، وبأن وجوب القضاء إنما يتوقف على سبب الوجوب هو هنا شهود الشهر، وقد وجد لا على وجوب الأداء وإلا لما وجب قضاء الظهر مثلًا على من نام جميع وقتها. وقيل يجب الصوم على المسافر دون الحائض والمريض لقدرته عليه دونهما. وقيل يجب عليه دونهما أحد الشهرين الحاضر أو آخر بعده. (والخلف لفظي) أي راجع إلى اللفظ دون المعنى لأن ترك الصوم حال العذر جائز اتفاقا والقضاء بعد زواله واجب اتفاقا.
(Dan) menurut pendapat Ashah, (bahwa sesungguhnya sesuatu yang boleh
ditinggalkan) baikkah sesuatu itu boleh diperbuat juga atau tidak (adalah
bukan wajib).? Dan jika bukan demikian, sungguh – tertegah untuk
meninggalkannya. Padahal, secara takdir, meninggalkannya itu boleh. Sebagian
dari Fuqaha berkata, Puasa itu wajib atas perempuan berhaid, orang sakit dan
pelaku perjalanan jauh serta boleh bagi mereka meninggalkannya, karena firman
Allah Swt.: “Maka, barangsiapa dari kalian yang mempersaksikan (hadir) di
bulan itu maka hendak ia berpuasa”. (QS. Al-Baqarah, ayat 185). Dan mereka
(dengan ketiga sifat di atas) menyaksikannya (yakni, hadir di saat itu). Dan
(2). karena kewajiban qadha’ ke atas mereka dengan sekedar yang mereka
tinggalkan. Maka, keberadaan yang didatangkan (qadha’) itu adalah sebagai
ganti dari yang tertinggal.’ Pendapat ini dijawab dengan bahwa: (1).
Persaksian/ kehadiran di bulan itu mewajibkannya disaat ketiadaan uzor, bukan
secara mutlak. Dan (2). bahwa kewajiban qadha’ itu hanyasanya terhenti atas
sebab wajib, dan sebab wajib di sini adalah menyaksikan/ kehadiran bulan, dan
sebab ini sungguh didapatkan, bukan karena (terhenti) atas wajib ada’. Dan
jika bukan demikian, sungguh tidak wajib qadha’ shalat zuhur -contohnya- orang
yang tertidur keseluruhan waktu zuhur.
Ada yang
berkata, Puasa itu wajib atas musafir (pelaku perjalanan jauh), tidak ke atas
perempuan berhaid dan orang sakit. Karena, kemampuan musafir untuk berpuasa,
tidak bagi keduanya.? Ada yang berkata, Puasa itu wajib atas musafir, tidak
atas keduanya, pada salah satu dari dua bulan, yakni, pada bulan yang hadir,
atau pada bulan lain setelahnya.
(Dan perbedaan
ini adalah bersifat lafal) . Artinya, kembali kepada lafal, tidak substansi
makna. Karena, meninggalkan puasa di saat uzor itu dibolehkan secara sepakat,
dan qadha’ setelah hilang uzor itu wajib secara sepakat pendapat.
MANDUB ADALAH MA'MUR BIH
(و) الأصح (أن المندوب مأمور به) أي مسمى به حقيقة كما نص عليه الشافعي وغيره، وقيل لا. والخلاف مبني على أن أم ر حقيقة في الإيجاب كصيغة افعل أو في القدر المشترك بينه وبين الندب أي طلب الفعل، والترجيح من زيادته، وعليه جرى الآمدي، أما إنه مأمور به بمعنى أنه متعلق الأمر أي صيغة افعل فلا نزاع فيه، سواء أقلنا إنها مجاز في الندب أم حقيقة فيه كالإيجاب خلاف يأتي. (و) الأصح (أنه) أي المندوب (ليس مكلفا به كالمكروه) فالأصح أنه ليس مكلفا به، وقيل مكلف بهما كالواجب والحرام ورجحوا الأول. (بناء على أن التكليف) اصطلاحا (إلزام ما فيه كلفة) أي مشقة من فعل أو ترك. (لا طلبه) وبه فسر القاضي أبو بكر الباقلاني أي لا طلب ما فيه كلفة على وجه الإلزام أو لا. فعلى تفسير التكليف بالأوّل يدخل الواجب والحرام فقط، وعلى تفسيره بالثاني يدخل جميع الأحكام إلا المباح، لكن أدخله الأستاذ أبو إسحاق الاسفرايني من حيث وجوب اعتقاد إباحته تتميما للأقسام، وإلا فغيره مثله في ذلك وإلحاقي المكروه بالمندوب هو
الوجه لا إلحاق المباح به كما سلكه الأصل، إذ لا إلزام فيه ولا طلب فلا يتأتى فيه القول بأنه مكلف به إلا على ما سلكه الأستاذ.
(Dan) menurut pendapat Ashah,
(sesungguhnya mandub adalah ma’mur bih (perkara yang diperintahkan). Artinya,
mandub disebut dengan ma’mur bih secara hakikat, sebagaimana nash imam
Asy-Syafi’iy dan selainnya.
Ada yang berkata,
Bukan.?
Perbedaan ini berpijak atas bahwasanya
lafal amar itu hakikat kepada wajib (mengharuskan), seperti lafal
(perbuatlah!), atau kepada qadr musytarak antara wajib dan sunnat, artinya
tuntutan untuk memperbuat.
Dan pentarjihan adalah
merupakan tambahan dariku. Dan kepadanya Al-Amidiy berpegang.
Adapun,
sesungguhnya mandub adalah ma’mur bih dengan arti muta’allaq amar, artinya
lafal (perbuatlah!) maka tidak ada perselisihan padanya. Baikkah itu, kita
berpendapat bahwa lafal tersebut majaz pada sunnat atau hakikat padanya, sama
seperti wajib, yang padanya ada perbedaan. yang akan datang penjelasannya.
(Dan) menurut pendapat Ashah, (bahwa sesungguhnya), artinya, mandub (itu bukan
mukallaf bih, sama seperti makruh). Maka, menurut pendapat Ashah, makruh bukan
mukallaf bih.
Ada yang berkata, Keduanya adalah
mukallaf bih, sama seperti wajib dan haram.
Para
ulama mengunggulkan pendapat pertama (karena berpijak atas dasar bahwa taklif)
secara istilah (adalah mengharuskan sesuatu yang di dalamnya ada kesulitan)
yakni, membebankan untuk dilakukan atau ditinggalkan. (Bukan menuntutnya). Dan
dengannya, Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilaniy menafsirkan taklif. Artinya, bukan
menuntut sesuatu yang di dalamnya ada kesulitan atas bentuk mengharuskan atau
tidak mengharuskan.
Berdasarkan penafsiran taklif
dengan yang pertama, maka masuk wajib dan haram saja. Dan atas penafsiran
taklif dengan yang kedua, maka masuk semua hukum, kecuali mubah. Bahkan,
Al-Ustadz Abu Ishaq Al-Isfarayaniy memasukkannya juga dari segi wajib
mengiktikad kemubahannya, Karena untuk menyempurnakan pembagian. Dan jika
bukan demikian, maka selainnya itu semisalnya pada demikian.
Penyamaanku
terhadap makruh dengan mandub adalah menurut satu pendapat. Tidak, penyamaan
mubah dengannya, sebagaimana yang dijalankan Ashal. Karena, tidak ada bentuk
mengharuskan pada mubah dan juga tidak ada tuntutan. Karena itu, tidak muncul
padanya pendapat yang menyebut bahwa ia mukallaf bih, kecuali atas apa yang
dijalankan Al-Ustadz.
MUBAH BUKAN JINIS BAGI WAJIB
(و) الأصح (أن المباح ليس بجنس للواجب) بل هما نوعان لجنس وهو فعل المكلف الذي تعلق به حكم شرعي، وقيل إنه جنس له لأنه مأذون في فعله وتحته أنواع الواجب والمندوب والمخير فيه والمكروه الشامل لخلاف الأولى، واختص الواجب بفصل المنع من الترك، قلنا واختص المباح أيضا بفصل الإذن في الترك على السواء والخلف لفظي، إذ المباح بالمعنى الأول أي المأذون فيه جنس للواجب اتفاقا وبالمعنى الثاني أي المخير فيه وهو المشهور غير جنس له اتفاقا.
(Dan) menurut pendapat Ashah,
(sesungguhnya mubah bukan jinis bagi wajib).’ Tetapi, keduanya adalah dua nau’
untuk jinis lain. Yaitu, perbuatan mukallaf yang terhubung hukum berbasis
syariat dengannya.
Ada yang berkata: Mubah adalah
Jinis bagi wajib. Karena mubah adalah perbuatan yang mendapat izin untuk
diperbuatnya, dan di bawahnya ada beberapa nau’, yaitu, wajib, mandub,
mukhayyar fih dan makruh yang mencakup khilaf aula.
Dan
ditentukan wajib dengan fashal: dilarang dari meninggalkannya.
Kita
menjawabnya, Mubah juga dikhususkan dengan fashal: izin pada meninggalkannya
dalam bentuk yang setara.
Dan perbedaan pendapat
adalah bersifat lafal. Karena, mubah – dengan pengertian yang pertama, yakni
perkara yang mendapat izin untuk diperbuatnya,adalah jinis bagi wajib secara
sepakat, dan dengan makna yang kedua, yakni, mukhayyar fih (perbuatan yang
boleh dipilih padanya), dan ini adalah makna yang masyhur, maka mubah bukan
jinis bagi wajib secara sepakat.
MUBAH BUKAN MA'MUR BIH
(و) الأصح (أنه) أي المباح (في ذاته غير مأمور به) فليس بواجب ولا مندوب. وقال الكعبي إنه مأمور به أي واجب إذ ما من مباح إلا ويتحقق به ترك حرام ما، فيتحقق بالسكوت ترك القذف، وبالسكون ترك القتل، وما يتحقق بالشيء لا يتم إلا به وترك الحرام واجب، وما لا يتم الواجب إلا به واجب كما سيجيء، فالمباح واجب ويأتي ذلك في غيره
كالمكروه والخلف لفظي، فإن الكعبي قائل بأنه غير مأمور به من حيث ذاته ومأمور به من حيث ما عرض له من تحقق ترك الحرام به وغيره لا يخالفه فيهما، فقولي في ذاته قيد للقول بأن المباح غير مأمور به لا لمحل الخلاف، وسيأتي ماله بذلك تعلق.
(Dan) menurut pendapat Ashah,
(sesungguhnya), artinya, mubah (secara dasarnya adalah bukan mna mur bih
(perkara yang diperintah)). Maka, mubah itu bukan wajib dan bukan mandub.
Al-Ka’biy berkata, Sesungguhnya mubah adalah ma’mur bih, artinya, wajib.
Karena, keberadaan mubah hanyalah untuk memastikan ditinggalkannya perbuatan
haram. Maka, dengan diam dapat dipastikan ditinggalkannya menuduh, dan dengan
tenang (tidak merespon) dapat dipastikan ditinggalkannya membunuh. Dan apapun
yang dapat dipastikannya dengan sesuatu maka tidak sempurna ia kecuali dengan
sesuatu tersebut. Dan meninggalkan perbuatan haram adalah wajib, dan sezala
sesuatu yang tidak sempurna wajib melainkan dengannya maka ia adalah wajib
juga, sebagaimana yang akan datang penjelasannya, maka mubah adalah wajib.’
Penjelasan ini juga datang pada selainnya, seperti makruh. Perbedaan pendapat
ini adalah bersifat lafal. Karena, Al-Ka’biy itu yang berkata, Bahwa mubah
adalah bukan ma’mur bih dari segi dzatnya, dan ma’mur bih dari segi aspek yang
datang padanya, yaitu, kepastian meninggalkan haram dengan mubah. Sedangkan
selain Al-Ka’biy tidak menyalahi beliau pada kedua hal tersebut.
Maka,
perkataanku “secara dasarnya/ pada dzat-nya” adalah kait bagi pendapat yang
menyebut bahwa mubah bukan ma’mur bih, tidak sada posisi serbedaan. Dan akan
datang penjelasan hal yang berkaitan dengannya.
MUBAH ADALAH HUKUM SYAR'I
(و) الأصح (أن الإباحة حكم شرعي) لأنها التخيير بين الفعل والترك المتوقف وجوده كبقية الأحكام على الشرع كما مر. وقال بعض المعتزلة لا لأنها انتفاء الحرج عن الفعل والترك وهو ثابت قبل ورود الشرع مستمر بعده. (والخلف) في المسائل الثلاث (لفظي) أي راجع إلى اللفظ دون المعنى. أما في الأوليين فلما مر، وأما في الثالثة فلأن الدليلين لم يتواردا على محل واحد، فتأخيري لهذا عن الثلاث أولى من تقديم الأصل له على الأخيرة.
واعلم أن ما سلكته في مسألة الكعبي تبعت فيه هنا الأكثر، وأولى منه ما ملكته في الحاشية أخذا من كلام بعض المحققين من تحريم الكلام فيها بوجه آخر، ومن رد دليل الكعبي بما يقتضي أن الخلاف معنوي وإن خالف ذلك ظاهر كلام الكعبي.
(Dan) menurut pendapat Ashah, (sesungguhnya mubah adalah hukum berbasis
syariat). Karena mubah adalah memilih diantara melakukan dan meninggalkannya,
yang terhenti adanya -seperti sisa hukum-hukum yang lainatas syara’,
sebagaimana yang telah lalu penjelasannya.’
Sebagian
dari muktazilah berkata, Bukan hukum syara’. Karena mubah adalah ketiadaan
dosa dari melakukan dan meninggalkannya. Dan hal ini telah sebut sebelum
muncul syara’, yang berkekalan (terus berlangsung) setelahnya. (Dan perbedaan)
pada tiga . masalah tersebut? (adalah bersifat lafal). Artinya, kembali kepada
lafal, bukan pada substansi makna.
Pada kedua
masalah yang pertama adalah karena alasan yang telah disebutkan.
Adapun
pada masalah ketiga maka karena dua dalilnya tidak saling muncul pada posisi
yang satu. Maka, pengakhiranku terhadap kalimat ini dari ketiga masalah
tersebut lebih bagus dari mendahulukannya oleh Ashal atas masalah terakhir.
Ketahuilah,
sesungguhnya cara yang aku jalani pada masalah Al-Ka’biy di atas itu aku tiru
padanya di sini akan kebanyakan ulama. Dan yang lebih bagus daripada cara
tersebut adalah cara yang aku jalani di dalam Al-Hasyiyah. -Karena memahami
dari kalam sebagian ulama muhaggigin,berupa (1). Penegasan kalam padanya
dengan bentuk yang lain, dan dari (2). penolakan dalil Al-Ka’biy dengan
perkara yang menghendakinya, yakni sesungguhnya perbedaan pendapat itu
bersifat makna. Meskipun hal tersebut menyalahi dengan lahiriyah kalam
Al-Ka’biy.
SISA HUKUM SETELAH PENGHAPUSAN WAJIB
(و) الأصحّ (أن الوجوب) لشيء (إذا نسخ) كأن قال الشارع نسخت وجوبه أو حرمة تركه (بقي الجواز) له الذي كان في ضمن وجوبه من الإذن في الفعل بما يقوّمه من الإذن في الترك. وقال الغزالي لا يبقى لأن نسخ الوجوب يجعله كأن لم يكن ويرجع الأمر إلى ما كان قبله من تحريم أو إباحة أو براءة أصلية فالخلف معنوي. (وهو) أي الجواز المذكور (عدم الحرج) في الفعل والترك من الإباحة أو الندب أو الكراهة بالمعنى الشامل لخلاف الأولى. (في الأصح) إذ لا دليل على تعيين أحدها، وقيل هو الإباحة فقط، إذ بارتفاع الوجوب ينتفي الطلب فيثبت التخيير، وقيل هو الندب فقط، إذ المتحقق بارتفاع الوجوب انتفاء الطلب الجازم فيثبت الطلب غير الجازم. والحاصل أنه يعتبر في الجواز المذكور رفع الحرج عن الفعل والترك في الأقوال الثلاثة، لكنه مطلق في الأول منها ومقيد باستواء الطرفين في الثاني، وبترجح الفعل في الثالث فالخلف معنويّ هكذا أفهم.
(Dan) menurut pendapat Ashah, (sesungguhnya kewajiban) bagi suatu
perkara (bila dihapuskannyal, seperti contoh, syar berkata: “Aku telah
menghapus kewajibannya”, atau “keharaman — meninggalkannya” (maka tersisa
jawaz) bagi perkara tersebut, yang mana jawaz ini berada dalam kandungan
(substansi) wajib, yakni mendapat izin untuk memperbuatnya, serta sesuatu yang
menguatkannya, Yakni, mendapat izin pada meninggalkan.
Imam
Al-Ghazaliy berkata, Tidak tersisa kepada jawaz. Karena, sesungguhnya
penghapusan wajib menjadikannya seperti belum ada sama sekali, dan
dikembalikan urusan kepada keadaan sebelum wajib, berupa haram atau mubah,
atau terbebas bersifat asal. Maka, perbedaannya adalah substansi makna.
(Dan
ianya) yakni, jawaz tersebut (adalah tidak ada dosa) pada memperbuat dan
meninggalkan, berupa mubah, sunnat, atau makruh dengan makna yang mencakup
bagi khilaf aula, (menurut pendapat Ashah) . Karena, tidak ada dalil yang
dapat menentukan kepada salah satunya.
Ada yang
berkata, Jawaz tersebut adalah mubah saja. Karena, dengan terangkat wajib maka
ternafilah thalab (tuntutan), sehingga sebutlah takhyir (hak memilih). Ada
yang berkata: Jawaz tersebut adalah sunnat saja. Karena, yang dipastikan
dengan sebab terangkat wajib adalah ternafi thalab jazim (tuntutan yang
tegas), sehingga sebutlah thalab ghair jazim (tuntutan yang tidak tegas, yakni
sunnat).
Kesimpulannya adalah bahwa yang
diperhitungkan pada jawaz tersebut adalah terangkat dosa dari memperbuat dan
meninggalkannya pada ketiga pendapat tersebut. Akan tetapi, terangkat dosa itu
mutlak pada pendapat yang pertama, dan dikaitkan dengan setara kedua sisi pada
pendapat kedua, dan dikaitkan dengan keunggulan memperbuat pada pendapat
ketiga Maka, perbedaan — pendapat adalah substansi makna. Begitulah yang aku
pahami.
PEMBAHASAN WAJIB MUKHAYYAR
مسألة في الواجب الحرام المخيرين (الأمر بأحد أشياء) معينة كما في كفارة اليمين. (يوجبه) أي الأحد (مبهما عندنا) وهو القدر المشترك بينها في ضمن أيّ معين منها لأنه المأمور به، وقيل يوجبه معينا عند الله تعالى، فإن فعل المكلف المعين فذاك أو فعل غيره منها سقط بفعله الواجب، وقيل يوجبه كذلك، وهو ما يختاره المكلف بأن علم الله منه أنه لا يختار سواه، وإن اختلف باختيار المكلفين. وقيل يوجب الكل فيثاب بفعلها ثواب واجبات، ويعاقب بتركها عقاب ترك واجبات، ويسقط الكل الواجب بواحد منها، لأن الأمر تعلق بكل منها بخصوصه على وجه الاكتفاء بواحد منها. قلنا إن سلم ذلك لا يلزم منه وجوب الكل المرتب عليه ذلك والقول الأخير والثاني للمعتزلة، فهم متفقون على نفي أيجاب واحد منهم كنفيهم تحريمه كما سيجيء لما قالوا من أن إيجاب الشيء أو تحريمه لما في تركه، أو فعله من المفسدة التي يدركها العقل، وإنما يدركها في المعين، والثالث يسمى قول التراجم، لأن كلًاّ من الأشاعرة والمعتزلة تنسبه إلى الأخرى فاتفق الفريقان على بطلانه. (فـ) ـعلى الأصح (إن فعلها) كلها (فالمختار) أنه (إن فعلها مرتبة فالواجب) أي
المثاب عليه ثواب الواجب الذي هو كثواب سبعين مندوبا (أولها) وإن تفاوتت لتأدّى الواجب به من حيث إنه مبهم. (أو) فعلها كلها (معا فأعلاها) ثوابا الواجب لأنه لو اقتصر لأثيب عليه ثواب الواجب الأكمل فضمّ غيره إليه لا ينقصه عن ذلك. (وإن تركها) كلها (عوقب بأدناها) عقابا إن عوقب، لأنه لو فعله فقط من حيث إنه مبهم لم يعاقب، فإن تساوت وفعلت معا أو تركت فثواب الواجب والعقاب على واحد منها. وقيل الواجب فيما إذا تفاوتت أعلاها ثوابا، وفيما إذا تساوت أحدها وإن فعلت مرتبة فيهما لما مر، فإن تركت فحكمه موافق للمختار ويثاب ثواب المندوب في كل قول على غير ما ذكر لثواب الواجب، وذكر حكم التساوي في المرتبة مع الترجيح في البقية من زيادتي المقتضية من حيث الترجيح لإبدال قوله في المرتبة أعلاها بقولي أولها، وبما قررته علم أن محل ثواب الواجب والعقاب أحدها مبهما لا من حيث خصوصه، حتى إن الواجب ثوابا في المرتبة أولها من حيث إنه مبهم لا من حيث خصوصه، وكذا يقال في كل من الزائد على ما يتأدّى به الواجب، منها أنه يثاب عليه ثواب المندوب من حيث إنه مبهم لا من حيث خصوصه.
(Permasalahan) tentang wajib dan haram yang mukhayyar (diberi hak
pilih).
(Perintah dengan melakukan satu dari
beberapa perkara) yang tertentu,’ seperti salah satu pada kafarat sumpah
(maka, perintah tersebut mewajibkannya), yakni, salah satunya (secara mubham,?
menurut pendapat kita). Dan mubham adalah gadar musytarak3 diantara
perkara-perkara tersebut dalam kandungan mana saja perkara yang telah
ditentukan daripadanya. Karena, kadar tersebut adalah ma’mur bih.
Ada
yang berkata: Mewajibkannya satu perkara tertentu di sisi Allah Swt.” Jika
mukallaf melakukan perkara yang ditentukan-Nya tersebut, maka persoalan
menjadi jelas, atau ia melakukan perkara yang lain dari perkara-perkara
tersebut, maka gugur kewajiban dengan sebab melakukannya.
Ada
yang berkata, Mewajibkannya demikian. Dan yang tertentu tersebut adalah
perkara yang dipilih mukallaf. Dalam artian, bahwa Allah Swt. mengetahui dari
mukallaf tersebut tidak akan memilih selain dari yang ditentukan-Nya,
sekalipun berbeda-beda pilihan para mukallaf.
Ada
yang berkata, Mewajibkan kesemuanya. Maka, diberikan pahala dengan melakukan
semuanya akan pahala wajib, dan disiksa dengan sebab meninggalkan semuanya
akan siksaan tinggal wajib, dan gugur keseluruhan wajib densan melakukan satu
diantara semuanya. Karena, perintah terhubung dengan setiap dari perkara
tersebut secara khususnya, atas bentuk kecukupan dengan satu diantaranya.
Kita
menjawabnya, Jika alasan pendapat terakhir ini diterima maka tidak melazimi/
otomatis kewajiban keseluruhan yang dilakukan berurutan ke atasnya kepada
demikian.
Pendapat terakhir dan yang kedua adalah
dari muktazilah. Mereka bersepakat atas penafian wajib satu diantara
perkara-perkara tersebut, sama seperti penafian haramnya, sebagaimana yang
akan datang penjelasannya. Karena, apa yang telah mereka katakan: Bahwa
mewajibkan sesuatu atau mengharamkan sesuatu adalah karena perkara yang
terdapat di dalam meninggalkan atau melakukannya berupa mafsadat (kerusakan)
yang didapatkan oleh akal. Dan sesungguhnya yang didapatkan akal hanyalah pada
yang tertentu.
Pendapat ketiga disebut dengan
pendapat tarajum (saling lempar). Karena, setiap dari kalangan Asy ariyyah dan
muktazilah menisbatkan pendapat tersebut kepada kelompok lain. Maka, kedua
kelompok ini sepakat atas batal pendapat ini.
(Maka)
berdasarkan pendapat Ashah, (jika mukallaf melakukannya) kesemua perkara
tersebut (maka, menurut pendapat terpilih) bahwa perintah tersebut (bila
dilakukannya secara berurutan, maka yang wajib), artinya, yang diberi pahala
ke atasnya pahala wajib, yang mana kualitas pahala terscbut adalah sctara
pahala tujuh puluh perkara sunnat (adalah perkara yang pertama) sekalipun
lebih-kurang antara perkara-perkara tersebut. Karena, tertunai kewajiban
dengannya dari segi bahwa yang wajib itu adalah mubham.
(Atau)
melakukan kesemuanya (secara bersamaan, maka yang tertinggi) dari segi pahala
adalah yang wajib. Karena, seandainya mukallaf membatasi ke atasnya saja
sungguh diberikan pahala ke atas wajib tersebut pahala wajib yang sempurna.
Maka, menggabungkan selainnya kepadanya tidak menQur’anginya dari demikian.
(Dan jika ia meninggalkan) kesemuanya (maka ia disiksa dengan yang terendah)
dari segi siksaan jika ia disiksa. Karena, seandainya ia melakukan yang
terendah tersebut saja dari segi ia yang mubham, maka ia tidak disiksa.
Jika
perkara-perkara tersebut setara dan dilakukannya secara bersamaan, atau
ditinggalkannya, maka pahala wajib dan siksaannya adalah atas satu dari
perkaraperkara tersebut.
Ada yang berkata, Yang
wajib pada perkara yang bila berbeda-beda adalah perkara tertinggi dari segi
pahala, dan pada perkara yang bila setara adalah salah satunya. Sekalipun,
dilakukannya secara berurutan pada kedua bentuk tersebut karena alasan yang
tersebut di atas. Jika ditinggalkannya, maka hukumnya itu sesuai bagi pendapat
pilihan.
Diberikan pahala sunnat -pada setiap
pendap- atatas selain yang disebutkan bagi pahala wajib.
Penyebutan
hukum yang setara pada yang berurutan serta tarjih pada yang sisanya adalah
merupakan tambahan dariku? yang berdampak -dari segi tarjih- bagi pergantian
perkataan Ashal pada yang berurutan (perkara tertinggi) dengan perkataan
dariku (Yang pertama dari perkara tersebut).
Dengan
apa yang telah aku tetapkan di atas, dapat diketahui bahwa posisi diberikan
pahala wajib dan siksaan adalah salah satunya secara mubham, bukan dari segi
khususnya, sehingga bahwa yang wajib dari segi pahala pada yang berurutan
adalah yang pertamanya dari segi ia yang mubham, bukan dari segi khususnya.
Begitu
juga, dikatakan pada setiap tambahan atas perkara yang tertunai wajib
dengannya dari perkara-perkara tersebut, dan diberikan pahala ke atasnya
pahala sunnat dari segi ia yang mubham, bukan dari segi khususnya.
PEMBAHASAN HARAM MUKHAYYAR
(ويجوز تحريم واحد مبهم) من أشياء معينة (عندنا) نحو لا تتناول السمك أو اللبن أو البيض، فعلى المكلف تركه في أي معين منها، وله فعله في غيره، إذ لا مانع من ذلك ومنعه المعتزلة كمنعهم إيجابه لما مر عنهم فيهما. وزعمت طائفة منهم أنه لم ترد به اللغة، وهذا (كـ) ـالواجب (المخير) فيما مر فيه فالنهي عن واحد مبهم مما ذكر يحرّمه مبهما. وقيل يحرمه معينا عند الله تعالى ويسقط تركه الواجب بتركه أو ترك غيره منها. فالتارك لبعضها إن صادف المحرم فذاك، وإلا فقد ترك بدله، وقيل يحرمه كذلك وهو ما يختاره المكلف، وقيل يحرمها كلها فيعاقب بفعلها عقاب فعل محرمات ويثاب بتركها امتثالًا ثواب ترك محرمات، ويسقط تركها الواجب بترك واحد منها، فعلى الأول إن تركها كلها امتثالًا وتفاوتت، فالمختار أنه يثاب على ترك أشدها عقابا وإن فعلها مرتبة عوقب على آخرها، وإن تفاوتت لارتكابه المحرم به أو فعلها معا عوقب على أخفها عقابا،
فإن تساوت وفعلت معا أو تركت فالمعتبر أحدها. وقيل المحرم فيما إذا فعلت ولو مرتبة أخفها عقابا.
(Dan boleh-boleh saja pengharaman satu yang mubhami) dari beberapa
perkara yang tertentu (menurut pendapat kita). Seperti contoh, Jangan kamu
konsumsi ikan, atau susu, atau telur! Maka, wajib atas mukallaf
meninggalkannya pada mana saja yang tertentu dari ketiga perkara tersebut,
serta boleh baginya melakukan (konsumsi) pada selainnya. Karena, tidak ada
larangan padanya. Muktazilah mencegah hal tersebut, sebagaimana cegahan mereka
pada mewajibkannya (satu yang mubham) karena alasan yang telah tersebut
sebelumnya dari mereka pada kedua hal tersebut.
Satu
kelompok dari muktazilah mengklaim bahwa hal tersebut tidak datang sccara
bahasa.
Dan ini (sama seperti) wajib (yang
mukhayyar) pada apa yang telah lalu.
Maka,
larangan satu perkara yang mubham dari yang telah tersebut sebelumnya itu
mengharamkannya secara mubham.
Ada yang berkata,
Diharamkannya yang tertentu di sisi Allah Swt., dan gugur kewajiban
meninggalkannya dengan sebab meninggalkan satu perkara tertentu tersebut, atau
meninggalkan selainnya dari perkara-perkara tersebut. Maka, yang meninggalkan
sebagian dari perkara tersebut, jika berbetulan dengan yang diharamkan (di
sisi Allah Swt.), maka jelas. Dan jika tidak demikian, maka ia telah
meninggalkan penggantinya.
Ada yang berkata,
Diharamkannya yang demikian (perkara tertentu di sisi Allah Swt.), dan yang
diharamkan tersebut adalah yang dipilih oleh muukallaf.
Ada
yang berkata, Diharamkan kesemuanya. Maka, disiksa dengan sebab melakukan
kesemuanya siksaan melakukan perkara haram, dan diberi pahala dengan
meninggalkan semuanya secara imtitsal (mematuhi perintah) pahala meninggalkan
perkara haram. Dan gugur dengan sebab meninggalkan satu diantaranya (hukum)
wajib meninggalkannya. Maka, berdasarkan pendapat pertama, jika ia
meninggalkan kesemua perkara tersebut dalam keadaan imtitsal dan berbeda-beda
(tingkat siksaannya), maka pendapat terpilih menyebut bahwa ia diberikan
pahala atas meninggalkan perkara terberat dari segi siksaan. Jika diperbuat
kesemuanya secara berurutan, maka disiksanya atas perkara yang terakhir,
sekalipun berbeda-beda segala serkara tersebut. Karena, ia menunggangi yang
haram dengan sebab perkara yang terakhir. Atau ia melakukan kesemuanya secara
bersamaan maka disiksanya atas perkara paling ringan dari segi siksaan. Jika
setara segala perkara tersebut dan dilakukannya secara bersamaan atau
ditinggalkannya maka yang diperhitungkan adalah satu diantaranya.
Ada
yang berkata, Yang diharamkan pada perkara yang bila dilakukakannya, walau
berurutan adalah perkara paling ringan dari segi siksaan.
Pemberitahuan.
Perkara sunnat sama seperti wajib. Dan perkara makruh sama seperti haram pada apa saja yang telah disebutkan di atas.
