Kitab Orang Murtad
Nama kitab: Terjemah Mukhtashar Al-Khiraqi
Judul asal: Mukhtashar Al-Khiraqi dikenal dengan nama Matn al-Khiraqi ala Madzhab Abi Abdillah ibn Hanbal al-Syaibani ("مختصر الخرقي ويُعرف بـ "متن الخرقي على مذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل الشيباني")
Penulis: Abu al-Qasim Umar ibn al-Husain bin Abdillah al-Khiraqi ( أبو القاسم عمر بن الحسين بن عبد الله الخرقي)
Wafat: 334 H.
Penerjemah: Al-Khoirot Research & Publication
Bidang studi: Fikih madzhab Hanbali (Hambali)
Daftar Isi
- Kitab Orang Murtad (Kitab al-Murtad)
- Kitab Hukum Pidana (Kitab al-Hudud)
- Kitab Pemotongan Tangan dalam Pencurian (Kitab al-Qath'i fi al-Sariqah)
- Kitab Perampok / Penyamun
- Kitab Minuman Keras dan Ketentuan Lainnya (Kitab al-Asyribah wa Ghairuha)
- Kembali ke: Mukhtashar Al-Khiraqi Fikih Mazhab Hanbali
كتاب المرتد1
Kitab Orang Murtad (Kitab al-Murtad)
ومن ارتد عن الإسلام من الرجال والنساء وكان عاقلا بالغا دعي إليه ثلاثة أيام
وضيق عليه فإن رجل وإلا قتل وكان ماله فيئا بعد قضاء دينه.
وكذلك من
ترك الصلاة دعي إليها ثلاثة أيام فإن صلى وإلا قتل جاحدا تركها أو غير جاحد
وذبيحة المرتد حرام وإن كانت ردته إلى دين أهل الكتاب والصبي إذا كان له عشر سنين
وعقل الإسلام فأسلم فهو مسلم فإن عاد فقال لم أدر ما قلت لم يلتفت إلى مقالته
وأجبر على الإسلام ولا يقتل حتى يبلغ ويجاوز بعد بلوغه ثلاثة أيام فإن ثبت على
كفره قتل وإذا ارتد الزوجان فلحقا بدار الحرب لم يجر عليهما ولا على أحد من
أولادهما ممن كانوا قبل الردة رق ومن امتنع منهما أو من أولادهما الذين وصفت من
الإسلام بعد البلوغ استتيب ثلاثا فإن لم يتب قتل.
ومن أسلم من الأبوين
كان أولاده الأصاغر تبعا له وكذلك من مات من الأبوين على كفره قسم له الميراث
وكان مسلما بموت من مات منهما ومن شهد عليه بالردة فقال ما كفرت فإن شهد أن لا
إله إلا الله وأن محمدا رسول الله لم يكشف عن شيء ومن ارتد وهو سكران لم
يقتل حتى يفيق ويتمم له ثلاثة أيام من وقت ردته فإن مات في سكره مات كافرا.
1 المرتد: رجوع المسلم العاقل البالغ عن الإسلام إلى كفر باختياره دون إكراه من أحد.
Kitab Orang Murtad (Kitab al-Murtad)
Barang siapa yang murtad dari
Islam—baik laki-laki maupun perempuan—dalam keadaan berakal dan baligh, maka
ia diminta bertobat (distitabah) selama tiga hari dan dipersempit ruang
geraknya. Jika ia bertobat (maka diterima), namun jika menolak maka ia dihukum
mati. Adapun hartanya menjadi harta fai’ (milik baitulmal/negara) setelah
dilunasi utang-utangnya.
Begitu pula bagi orang yang meninggalkan
salat; ia diminta bertobat selama tiga hari. Jika ia mau mendirikan salat
(maka dibebaskan), namun jika menolak maka ia dihukum mati, baik ia
meninggalkan salat karena mengingkari kewajibannya (jahid) maupun tidak
mengingkarinya (karena malas).
Hewan sembelihan orang murtad
hukumnya haram, meskipun ia murtadnya berpindah ke agama ahli kitab (Yahudi
atau Nasrani).
Anak kecil (muda) apabila telah mencapai usia
sepuluh tahun dan memahami Islam lalu ia masuk Islam, maka ia dihukumkan
sebagai seorang muslim. Jika ia kembali (pindah agama) lalu berkata: "Aku
tidak tahu apa yang dulu aku ucapkan," maka perkataannya tidak dihiraukan dan
ia dipaksa untuk kembali ke Islam. Namun, ia tidak boleh dihukum mati sampai
ia baligh. Setelah ia baligh, ia diberi waktu (diminta bertobat) selama tiga
hari; jika ia tetap bertahan di atas kekafirannya, barulah ia dihukum mati.
Apabila
suami-istri murtad bersama-sama lalu melarikan diri ke darulharb (wilayah
musuh), maka keduanya maupun anak-anak mereka yang lahir sebelum masa murtad
tidak boleh dijadikan sebagai budak (رق). Siapa saja yang menolak masuk Islam
di antara suami-istri tersebut atau anak-anak mereka (yang telah disebutkan
sifatnya) setelah mencapai usia baligh, maka diminta bertobat tiga kali; jika
tidak mau bertobat, maka dihukum mati.
Siapa saja di antara kedua
orang tua yang masuk Islam, maka anak-anaknya yang masih kecil otomatis
mengikuti keislamannya (taba'an lahu). Begitu pula jika salah satu dari orang
tua mati dalam keadaan kafir, maka bagian warisannya dibagikan (sesuai hukum
Islam) dan anak tersebut dihukumkan sebagai muslim berkat kematian salah satu
dari kedua orang tuanya yang muslim.
Barang siapa yang
dipersaksikan telah murtad namun ia membela diri: "Aku tidak kafir," maka
apabila ia bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah, tidak boleh dibongkar atau diperiksa lebih lanjut urusan
hatinya.
Barang siapa yang murtad dalam keadaan mabuk, ia tidak
boleh dihukum mati sampai ia sadar, dan hitungan waktu tiga harinya (untuk
bertobat) disempurnakan sejak waktu ia mulai murtad. Jika ia mati dalam
keadaan mabuknya, maka ia mati sebagai orang kafir.
Catatan
1. Murtad adalah kembalinya seorang muslim yang berakal dan baligh dari agama Islam menuju kekafiran atas pilihannya sendiri tanpa ada paksaan dari siapa pun.
كتاب الحدود
Kitab Hukum Pidana (Kitab al-Hudud)
وإذا زنى الحر المحصن أو الحرة المحصنة جلدا ورجما حتى يموتا في إحدى الروايتين
عن أبي عبد الله رحمه الله والرواية الأخرى يرجمان ولا يجلدان ويغسلان ويكفنان
ويصلى عليهما ويدفنان وإذا زنى الحر البكر جلد مائة وغرب عاما وكذلك المرأة وإذا
زنى العبد أو الأمة جلد كل واحد منهما خمسين جلدة ولم يغربا والزاني من أتى
بفاحشة من قبل أو دبر
ومن تلوط قتل بكرا كان أو ثيبا في إحدى
الروايتين والرواية الأخرى حكمه حكم الزاني ومن أتى بهيمة أدب وأحسن أدبه وقتلت
البهيمة.
والذي يجب عليه الحد ممن ذكرت من أقر بالزنا أربع مرات وهو
بالغ صحيح عاقل ولا ينزع عن إقراره حتى يتم عليه الحد أو يشهد عليه أربعة رجال من
المسلمين أحرار عدول يصفون الزنا ولو رجم بإقراره فرجع قبل أن يقتل كف عنه وكذلك
إن رجع بعد أن جلد وقبل كمال الحد خلي.
ومن زنى مرارا فلم يحد فحد
واحد.
وإذا [تحاكم] إلينا أهل الذمة حكمنا عليهم بما حكم الله عز وجل
علينا وإذا قذف حر بالغ عاقل حرا مسلما أو حرة مسلمة بالزنا جلد
الحد
ثمانين إن طلب المقذوف ولم يكن للقاذف بينة وإن كان القاذف عبدا أو أمة جلد
أربعين بأدون من السوط الذي يجلد به الحر وإذا قال له يا لوطي سئل عما أراد فإذا
قال أردت أنك من قوم لوط فلا شيء عليه وإن قال:
أردت أنك تعمل عمل قوم
لوط فهو كمن قذف بالزنا وكذلك من قال يا معفوج1.
ولو قذف رجلا فلم يقم
عليه الحد حتى زنى بالمقذوف لم يزل الحد عن القاذف.
ومن قذف عبدا أو
مشركا أو مسلما له دون العشر سنين أو مسلمة لها دون التسع سنين أدب ولم يحد.
ومن
قذف من كان مشركا وقال أردت أنه زنى وهو مشرك لم يلتفت إلى قوله وحد القاذف إذا
طالب المقذوف وكذلك من كان عبدا.
قال ويحد من قذف الملاعنة.
وإذا
قذفت امرأة لم يكن لولدها المطالبة إن كانت الأم في حال الحياة وإذا قذفت امة وهي
ميتة مسلمة كانت أو كافرة حرة كانت أو أمة حد القاذف إذا طالب الابن وكان مسلما
حرا
ومن قذف أم النبي صلى الله عليه وسلم قتل مسلما كان أو كافرا ومن
قذف الجماعة بكلمة واحدة فحد واحد إذا طالبوا أو واحد منهم ومن أتى حدا خارج
الحرم ثم لجأ إلى الحرم لم يبايع ولم يشار حتى يخرج من الحرم فيقام عليه الحد وإن
قتل أو أتى حدا في الحرم أقيم عليه الحد في الحرم والله أعلم.
1 فعل
قوم لوط.
Kitab Hukum Pidana (Kitab al-Hudud)
Pezina Muhsan (Sudah
Menikah):
Jika seorang laki-laki merdeka yang muhsan atau perempuan merdeka yang muhsan berzina, mereka dijilid (dicambuk) dan dirajam sampai mati menurut salah satu riwayat dari Abu Abdillah (Imam Ahmad) rahimahullah. Sedangkan riwayat yang lain menyatakan: mereka dirajam saja tanpa dijilid. Setelah wafat, mereka tetap dimandikan, dikafani, disalati, dan dimakamkan.
Pezina Ghoiru Muhsan (Gadis/Perjaka): Jika orang merdeka yang masih bapak/gadis berzina, hukumannya adalah dijilid seratus kali dan diasingkan (taghrib) selama satu tahun, begitu pula bagi perempuan.
Budak Laki-laki/Perempuan: Jika seorang budak berzina, masing-masing dijilid lima puluh kali dan tidak diasingkan.
Definisi Pezina: Orang yang melakukan perbuatan keji (persetubuhan) baik
melalui kubul (kemaluan depan) maupun dubur (jalur belakang).
Barang
siapa yang melakukan perbuatan homoseksual (taluwatha / sodomi), maka ia
dihukum mati, baik pelakunya masih perjaka/gadis (bakar) maupun sudah menikah
(tsayib) menurut salah satu riwayat. Sedangkan riwayat yang lain menyatakan:
hukumannya sama persis seperti hukuman pezina.
Barang siapa yang
menyetubuhi binatang, maka ia diberi hukuman ta'zir (edukatif) yang keras
(addaba wa ahsana adabahu), dan binatang tersebut harus dibunuh.
Syarat
wajibnya had zina bagi orang-orang yang disebutkan di atas adalah:
1.
Mengaku melakukan zina sebanyak empat kali dalam keadaan baligh, sehat, dan
berakal. Ia tidak boleh menarik kembali pengakuannya sampai had selesai
dilaksanakan secara sempurna atas dirinya.
2. Atau dipersaksikan oleh
empat orang laki-laki muslim yang merdeka lagi adil, yang mampu menjelaskan
detail perbuatan zina tersebut secara visual.
Seandainya seseorang
dirajam berdasarkan pengakuannya sendiri, lalu ia menarik kembali pengakuannya
sebelum mati, maka eksekusi harus dihentikan dari dirinya. Begitu pula jika ia
menarik pengakuannya setelah dijilid namun sebelum had selesai secara
sempurna, maka ia harus dilepaskan.
Barang siapa yang berzina
berkali-kali namun belum pernah dihukum had, maka ia cukup dikenai satu kali
hukuman had saja.
Apabila ahli dzimmah (non-muslim yang dilindungi)
meminta keputusan hukum kepada kita, maka kita hukumkan atas mereka dengan apa
yang telah Allah 'Azza wa Jalla hukumkan atas kita.
2. Had
Tuduhan Zina (Qadzaf)
Apabila seorang merdeka, baligh, dan berakal menuduh seorang muslim merdeka
(laki-laki atau perempuan) melakukan zina, maka penuduh dijilid sebanyak
delapan puluh kali sebagai hukuman had, dengan syarat pihak yang dituduh
menuntutnya dan penuduh tidak memiliki bukti (empat saksi). Jika penuduhnya
adalah seorang budak laki-laki atau perempuan, maka dicambuk empat puluh kali
dengan menggunakan cambuk yang tingkat kekerasannya di bawah cambuk untuk
orang merdeka.
Jika seseorang berkata kepada orang lain: "Wahai
Luti (pelaku sodomi)!", maka ia ditanya apa maksudnya. Jika ia menjawab:
"Maksudku kamu adalah keturunan dari kaum Nabi Luth," maka tidak ada hukuman
apa pun atasnya. Namun jika ia menjawab: "Maksudku kamu melakukan perbuatan
kaum Nabi Luth," maka kedudukannya sama seperti orang yang menuduh zina
(qadzaf). Begitu pula bagi orang yang berkata: "Wahai Ma'fuj!"
Catatan
1. Arti kontekstualnya: Orang yang disodomi/dimasuki dari
belakang.
Seandainya seseorang menuduh orang lain berzina, dan had
belum dilaksanakan atas si penuduh sampai akhirnya si penuduh sendiri
kedapatan berzina dengan orang yang dituduhnya tersebut, maka hukuman had
qadzaf tidak gugur dari si penuduh.
Barang siapa yang menuduh
seorang budak, orang musyrik, anak laki-laki muslim yang usianya di bawah
sepuluh tahun, atau anak perempuan muslimah yang usianya di bawah sembilan
tahun melakukan zina, maka penuduh diberi ta'zir (hukuman edukatif), bukan
hukuman had.
Barang siapa menuduh orang yang dulunya musyrik
(sekarang muslim) lalu pembelaannya: "Maksudku ia berzina sewaktu masih
musyrik," maka perkataannya tidak dihiraukan; si penuduh tetap dijilid had
qadzaf apabila pihak yang dituduh menuntut hukum. Ketentuan ini berlaku sama
bagi orang yang menuduh mantan budak.
Hukuman had juga berlaku bagi
orang yang menuduh berzina seorang wanita yang telah di-li'an (mula'anah).
Apabila
seorang wanita (ibu) dituduh berzina, maka anaknya tidak memiliki hak untuk
menuntut hukum selama ibunya tersebut masih hidup.
Apabila seorang
budak perempuan dituduh berzina dalam keadaan ia sudah wafat—baik ia wafat
sebagai muslimah atau kafir, wanita merdeka atau budak—maka penuduh tetap
dijilid had jika yang menuntut adalah anaknya yang berstatus muslim lagi
merdeka.
Barang siapa yang mencaci/menuduh ibu Nabi }$ melakukan
zina, maka ia dihukum mati, baik pelakunya seorang muslim maupun kafir.
Barang
siapa yang menuduh sekelompok orang (banyak orang) dengan satu kalimat tuduhan
sekaligus, maka hukumannya cukup satu kali had saja, apabila mereka semua
menuntut atau diwakili oleh salah satu dari mereka.
Barang siapa
yang melakukan pelanggaran yang terkena had di luar tanah haram (Mekah) lalu
ia melarikan diri berlindung ke dalam tanah haram, maka ia tidak boleh diajak
bertransaksi jual beli dan tidak boleh ditemani duduk sampai ia keluar sendiri
dari tanah haram, barulah dilaksanakan had atasnya. Namun jika ia membunuh
atau melakukan pelanggaran had di dalam tanah haram, maka had dilaksanakan
langsung di dalam tanah haram. Wallahu a'lam.
Catatan
1. Had Zina dan Homoseksual
كتاب القطع في السرقة
Kitab Pemotongan Tangan dalam Pencurian (Kitab al-Qath'i fi al-Sariqah)
وإذا سرق ربع دينار من العين أو ثلاثة دراهم من الورق أو قيمة ثلاثة دراهم طعاما
كان أو غيره وأخرجه من الحرز قطع إلا أن يكون المسروق ثمرا أو كثرا1 فلا قطع فيه
وابتداء قطع السارق أن تقطع يده اليمنى من مفصل الكف وتحسم فإن عاد قطعت رجله
اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس ولا يقطع غير يد ورجل والحر والحرة
والعبد والأمة في ذلك سواء ويقطع السارق وإن وهبت له السرقة بعد إخراجها ولو
أخرجها وقيمتها ثلاثة دراهم فلم يقطع حتى نقص قيمتها قطع وإذا قطع فإن كانت
السرقة قائمة ردت إلى مالكها وإن كانت متلفة فعليه قيمتها معسرا كان أو موسرا.
وإذا
أخرج النباش من القبر كفنا قيمته ثلاثة دراهم قطع ولا يقطع في آلة لهو ولا في
محرم ولا يقطع الوالد فيما أخذه من مال ولده لأنه أخذ ماله أخذه ولا تقطع الوالدة
فيما أخذت من مال ولدها ولا العبد فيما سرق من مال سيده.
ولا يقطع
السارق إلا بشهادة عدلين أو اعتراف مرتين ولا ينزع عن إقراره حتى يقطع وإذا اشترك
الجماعة في سرقة قيمتها ثلاثة دراهم قطعوا.
ولا يقطع وإن اعترف أو
قامت البينة حتى يأتي مالك المسروق يدعيه والله اعلم.
1 الكثر: جمار
النخل أو طلعها والجمار هو لب شجرة النخل في أعلاها ويؤكل وهو يشبه لب الكرنب
وداخل الخس ولكنه حلو الطعم.
Kitab Pemotongan Tangan dalam Pencurian (Kitab al-Qath'i fi al-Sariqah)
Apabila
seseorang mencuri uang senilai seperempat dinar emas murni, atau tiga dirham
perak murni, atau barang apa saja (makanan atau lainnya) yang nilainya setara
dengan tiga dirham, serta ia mengeluarkan barang tersebut dari tempat
penyimpanannya (al-hirz), maka tangan siberondong wajib dipotong. Kecuali jika
yang dicuri berupa buah yang masih di pohon atau katsar, maka tidak ada
hukuman potong tangan di dalamnya.
Tata Cara Pemotongan Tangan:
Pencurian Pertama: Dipotong tangan kanannya dari persendian
pergelangan tangan, lalu dicelupkan ke minyak panas untuk menghentikan darah
(hasm).
Pencurian Kedua: Jika ia kembali mencuri, dipotong kaki
kirinya dari persendian mata kaki, lalu disembuhkan (hasm).
Pencurian
Ketiga dan seterusnya: Jika ia kembali mencuri, ia cukup dipenjara; tidak
boleh dipotong anggota tubuh selain satu tangan dan satu kaki tersebut.
Dalam
hukum ini, orang merdeka (laki-laki/perempuan) dan budak (laki-laki/perempuan)
kedudukannya adalah sama rata.
Pencuri tetap dipotong tangannya
meskipun barang curian tersebut dihibahkan/diberikan kepadanya setelah barang
itu dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Seandainya saat dikeluarkan barang
itu bernilai tiga dirham, namun eksekusi potong tangan tertunda hingga nilai
barang tersebut menyusut (turun harga), ia tetap dipotong tangannya.
Apabila
hukuman potong telah dilaksanakan; jika barang curiannya masih utuh, maka
wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Namun jika barangnya telah rusak/habis,
maka pencuri wajib mengganti nilainya, baik dalam keadaan ia sedang susah
(miskin) maupun kaya.
Apabila seorang pencuri kuburan (nabbas)
mengeluarkan kain kafan dari dalam kubur yang nilainya mencapai tiga dirham,
ia wajib dipotong tangannya.
Tidak ada hukum potong tangan pada:
- Alat musik/hiburan (alat lahw) dan barang-barang yang diharamkan.
- Seorang ayah yang mengambil harta anaknya sendiri (karena status kedudukan kepemilikan ayah pada harta anak).
- Seorang ibu yang mengambil harta anaknya, dan seorang budak yang mencuri harta tuannya sendiri.
Pencuri tidak boleh dipotong tangannya kecuali berdasarkan kesaksian dua orang
saksi yang adil atau berdasarkan pengakuan sendiri sebanyak dua kali, dan ia
tidak boleh menarik kembali pengakuannya sampai tangannya dipotong.
Apabila
sekelompok orang berserikat (bersama-sama) mencuri suatu barang yang nilai
totalnya mencapai tiga dirham, maka semuanya dipotong tangannya.
Hukuman
potong tangan tidak boleh dieksekusi—meskipun ada pengakuan atau bukti
saksi—sampai pemilik barang yang dicuri datang untuk menuntut haknya. Wallahu
a'lam.
Catatan
1. Katsar adalah bagian dalam/pucuk pohon kurma (umbut) yang berada di bagian paling atas dan bisa dimakan. Rasanya manis dan menyerupai bagian dalam kubis atau selada.
كتاب قطاع الطريق
Kitab Perampok / Penyamun
والمحاربون هم الذين يعرضون للقوم بالسلاح في الصحراء فيغصبونهم المال مجاهرة.
ومن
قتل منهم وأخذ المال قتل وإن عفا صاحب المال وصلب حتى يشتهر ودفع إلى أهله ومن
قتل منهم ولم يأخذ المال قتل ولم يصلب ومن أخذ المال ولم يقتل قطعت يده اليمنى ثم
رجله اليسرى في مقام واحد ثم حسمتا وخلي ولا يقطع منهم إلا من أخذ ما يقطع السارق
في مثله ونفيهم أن يشردوا ولا يتركون يأوون في بلد فإن تابوا من قبل أن يقدر
عليهم سقطت عنهم حدود الله تعالى وأخذوا بحقوق الآدميين من الأنفس والجراح
والأموال إلا أن يعفى لهم عنها والله أعلم.
Kitab Perampok / Penyamun (Kitab Quththa' al-Thariq)
Al-Muharibun
(perampok/penyamun) adalah orang-orang yang menghadang manusia dengan
menggunakan senjata di tempat yang sepi/terbuka (seperti gurun atau jalanan
sepi) lalu merampas harta mereka secara terang-terangan (mujaharatan).
Ketentuan hukum bagi mereka adalah:
- Membunuh dan Mengambil Harta: Hukumannya adalah dihukum mati lalu disalib di tempat umum agar terkenal (menjadi pelajaran bagi yang lain), setelah itu jenazahnya diserahkan kepada keluarganya. Hukuman ini tetap berlaku meskipun pemilik harta telah memaafkannya.
- Membunuh saja (Tanpa Mengambil Harta): Hukumannya adalah dihukum mati namun tidak disalib.
- Mengambil Harta saja (Tanpa Membuhun): Hukumannya adalah dipotong tangan kanannya dan kaki kirinya sekaligus dalam satu waktu, kemudian disembuhkan (hasm) lalu dilepaskan. Batas minimal harta yang diambil agar terkena hukuman ini sama dengan batas minimal dalam pencurian biasa.
- Hanya Menakut-nakuti (Tanpa Membuhun & Tanpa Mengambil Harta): Hukuman mereka adalah diasingkan (nafyu), yaitu diusir dan dikejar-kejar sehingga mereka tidak dibiarkan menetap menetap di suatu negeri.
Apabila mereka bertobat sebelum penguasa berhasil menangkap mereka, maka gugurlah hukuman had yang berkaitan dengan hak-hak Allah Ta'ala dari mereka. Namun, mereka tetap dituntut dengan hak-hak adami (manusia) seperti qishash jiwa, luka-luka, dan ganti rugi harta, kecuali jika para korban memaafkan mereka. Wallahu a'lam.
كتاب الأشربة وغيرها
Kitab Minuman Keras dan Ketentuan Lainnya (Kitab al-Asyribah wa Ghairuha)
ومن شرب مسكرا قل أو كثر حد ثمانين جلدة إذا شربها مختارا لشربها وهو يعلم أن
كثيرها يسكر فإن مات في جلده فالحق قتله يعني ليس على أحد ضمانه.
ويضرب
الرجل في سائر الحدود قائما بسوط لا خلق ولا جديد ولا يمد ولا يربط ويتقي وجهه
وتضرب المرأة جالسة وتشد عليها ثيابها وتمسك يداها لئلا تنكشف ويجلد العبد والأمة
أربعين بدون سوط الحر.
والعصير إذا أتت عليه ثلاثة أيام فقد حرم إلا
أن يغلي قبل ذلك فيحرم وكذلك النبيذ.
والخمرة إذا أفسدت فصيرت خلا لم
تزل عن تحريمها وإن قلب الله عز وجل عينها فصارت خلا فهي حلال.
والشرب
في آنية الذهب والفضة حرام وإن كان قدح عليه ضبة فضة فشرب من غير موضع الضبة فلا
بأس.
ولا يبلغ بالتعزيز الحد.
وإذا حمل عليه جمل صائل فلم
يقدر على الامتناع منه إلا بضربه فضربه فقتله فلا ضمان عليه. ولو دخل رجل منزل
رجل بسلاح فأمره بالخروج فلم يفعل فله ضربه بأسهل ما يخرجه به فإن علم أنه يخرج
بضرب عصا لم يجز له أن يضربه بحديدة فإن آل الضرب إلى نفسه فلا شيء عليه وإن قتل
صاحب الدار كان شهيدا
وما أفسدت البهائم بالليل من الزرع فهو مضمون
على أهلها وما أفسدت من ذلك نهارا لم يضمنوه
وما جنت الدابة بيدها ضمن
راكبها ما أصابت من نفس أو جرح أو مال وكذلك إن قادها أو ساقها وما جنت برجليها
فلا ضمان عليه وإذا تصادم الفارسان فماتت الدابتان ضمن كل واحد منهما قيمة دابة
الآخر كان أحدهما يسير والآخر قائما فتلفت الدابتان فعلى السائر قيمة دابة الواقف
وإن تصادم نفسان يمشيان فماتا فعلى عاقلة كل واحد منهما دية الآخر وفي مال كل
واحد منهما عتق رقبة.
وإذا وقعت السفينة المنحدرة على المصاعدة فغرقتا
فعلى المنحدر قيمة سفينة المصاعد أو أرش ما نقصت إذا أخرجتا إلا أن يكون المنحدر
غلبته ريح فلم يقدر على ضبطها.
Kitab Minuman Keras dan Ketentuan Lainnya (Kitab al-Asyribah wa Ghairuha)
Barang
siapa yang meminum minuman yang memabukkan (muskir)—baik dalam jumlah sedikit
maupun banyak—maka ia dihukum had berupa dijilid (dicambuk) sebanyak delapan
puluh kali, dengan syarat ia meminumnya atas pilihan sendiri (bukan dipaksa)
dan ia tahu bahwa kadar banyaknya minuman tersebut dapat memabukkan. Jika ia
mati akibat cambukan had tersebut, maka ia mati demi menegakkan kebenaran
(artinya tidak ada kewajiban denda/ganti rugi bagi eksekutor).
Tata Cara Eksekusi Cambuk:
- Laki-laki: Dicambuk dalam posisi berdiri menggunakan cambuk yang tidak terlalu usang dan tidak terlalu baru. Badannya tidak boleh diregangkan (ditarik) dan tidak boleh diikat, serta harus dihindari bagian wajahnya.
- Perempuan: Dicambuk dalam posisi duduk, pakaiannya diikat kencang agar tidak tersingkap, dan kedua tangannya dipegangi agar auratnya tidak terbuka.
- Budak: Dijilid sebanyak empat puluh kali dengan menggunakan cambuk yang tingkat kekerasannya di bawah cambuk untuk orang merdeka.
Air perasan buah (seperti anggur/kurma) apabila telah melewati waktu tiga
hari, maka hukumnya menjadi haram, kecuali jika air tersebut telah mendidih
(mengalami fermentasi) sebelum tiga hari, maka ia seketika menjadi haram.
Begitu pula ketentuan hukum bagi nabidz (rendaman buah).
Khamar
(arak) apabila dirusak (diolah secara sengaja oleh manusia) hingga berubah
menjadi cuka, hukumnya tetap haram. Namun, jika Allah 'Azza wa Jalla yang
membalikkan zatnya sendiri (berubah secara alami tanpa campur tangan manusia)
hingga menjadi cuka, maka hukumnya halal.
Minum dengan menggunakan
wadah yang terbuat dari emas dan perak hukumnya haram. Namun jika ada wadah
yang retak lalu ditambal dengan sedikit perak (dhabbah fiddhah), kemudian
seseorang minum di bagian yang bukan tambalan perak tersebut, hukumnya tidak
mengapa (boleh).
Hukuman takzir (edukatif) jumlah/kadarnya tidak
boleh mencapai batas minimal hukuman had.
Ketentuan Ganti Rugi Kerusakan (Dhaman)
Apabila ada seekor unta yang mengamuk (shail) menyerang
seseorang, lalu orang tersebut tidak mampu membela diri darinya kecuali dengan
cara memukulnya, kemudian pukulan itu menyebabkan unta tersebut mati, maka
tidak ada kewajiban ganti rugi atas orang tersebut.
Apabila ada
seorang pria masuk ke dalam rumah orang lain dengan membawa senjata, lalu
pemilik rumah memerintahkannya untuk keluar namun ia menolak, maka pemilik
rumah boleh memukulnya dengan cara yang paling ringan untuk mengusirnya. Jika
diketahui bahwa ia bisa keluar hanya dengan pukulan tongkat, maka pemilik
rumah tidak boleh memukulnya dengan menggunakan besi (senjata tajam). Jika
pukulan tersebut akhirnya menyebabkan hilangnya nyawa si penyusup, maka tidak
ada sanksi apa pun atas pemilik rumah. Dan seandainya pemilik rumah yang
terbunuh, maka ia mati sebagai syahid.
Apa saja yang dirusak oleh
hewan ternak pada malam hari terhadap tanaman orang lain, maka kerugiannya
wajib diganti oleh pemilik ternak tersebut. Namun apa saja yang dirusak oleh
ternak pada siang hari, pemilik ternak tidak wajib menggantinya (karena
kewajiban menjaga tanaman di siang hari ada pada pemilik lahan).
Apa
saja yang dirusak oleh hewan tunggangan melalui kaki depannya atau mulutnya,
maka pengendara hewan tersebut wajib mengganti kerusakan yang menimpa jiwa,
luka, maupun harta. Begitu pula hukumnya jika ia menuntunnya dari depan atau
menghalaunya dari belakang. Namun, apa saja yang dirusak oleh kaki belakangnya
(seperti sepakan tiba-tiba), maka tidak ada kewajiban ganti rugi atas
pengendaranya.
Apabila dua orang penunggang kuda saling bertabrakan
lalu kedua hewan tunggangannya mati, maka masing-masing dari keduanya wajib
mengganti nilai hewan tunggangan pihak yang lain. Jika salah satunya sedang
berjalan sedangkan yang lain dalam posisi diam/berhenti, lalu kedua hewan itu
mati, maka penunggang yang berjalan wajib mengganti nilai hewan penunggang
yang diam.
Apabila dua orang yang sedang berjalan kaki saling
bertabrakan lalu keduanya mati, maka porsi denda pembunuhan (diat)
masing-masing korban dibebankan kepada keluarga ('aqilah) pihak yang lain, dan
diambil dari harta peninggalan masing-masing korban kewajiban untuk
memerdekakan seorang budak (kafarat).
Apabila ada kapal yang sedang
berlayar turun (mengikuti arus) menabrak kapal yang sedang berlayar naik
(melawan arus) lalu keduanya tenggelam, maka nakhoda kapal yang turun wajib
mengganti nilai kapal yang naik, atau membayar ganti rugi kerusakan (arsy)
setelah keduanya diangkat dari air. Kecuali jika kapal yang turun tersebut
kehilangan kendali akibat terhempas angin kencang sehingga nakhodanya tidak
mampu menguasainya (maka bebas dari ganti rugi).[]
