11/20/2018

Terjemah Kitab Tafsir Jalalain

Terjemah Kitab Tafsir Jalalain

Terjemah Kitab Tafsir Jalalain lengkap dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Nama kitab: Tafsir Al-Jalalain (Tafsir oleh Dua Jalaluddin)
Nama penafsir:
1. Jalaluddin Al-Mahalli. (Lahir: 791 - 864 Hijriyah / Wafat: 1389 - 1459 Masehi)
Nama lengkap: Jalaluddin, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Al-Mahalli Al-Syafi'i (محمد بن أحمد بن محمد بن إبراهيم المحلي الشافعي)
2. Jalaluddin Al-Suyuti (Lahir: 3 Oktober 1445 M / 1 Rajab 849 H; wafat: 18 Oktober 1505 M / 19 Jumadi Ula 911 H)
Nama lengkap: Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Suyuti (جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي)
Penerjemah ke Bahasa Indonesia:
Bidang studi: Tafsir Al-Quran

Daftar Isi


Download Tafsir Jalalain:
- Terjemah Bahasa Indonesia Format PDF (3 MB)
- Terjemah Indonesia Format CHM (2 MB)
- Versi Bahasa Arab: format Pdf
- Terjemah Arab - Inggris (pdf)

TAFSIR JALALAIN AL-QURAN SURAT AL-FATIHAH AYAT 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7

Al-Fatihah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

001. (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)


{ الحمد لله } جملة خبرية قصد بها الثناء على الله بمضمونها على أنه تعالى : مالك لجميع الحمد من الخلق آو مستحق لأن يحمدوه والله علم على المعبود بحق { رب العالمين } أي مالك جميع الخلق من الإنس والجن والملائكة والدواب وغيرهم وكل منها يطلق عليه عالم يقال عالم الإنس وعالم الجن إلى غير ذلك وغلب في جمعه بالياء والنون أولي العلم على غيرهم وهو من العلامة لأنه علامة على موجده

002. (Segala puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Taala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. (Tuhan semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal 'al-`aalamiin' merupakan bentuk jamak dari lafal '`aalam', yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata 'aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya.


{ الرحمن الرحيم }
أي ذي الرحمة وهي إرادة الخير لأهله

003. (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) yaitu yang mempunyai rahmat. Rahmat ialah menghendaki kebaikan bagi orang yang menerimanya.


{ مالك يوم الدين }
أي الجزاء وهو يوم القيامة وخص بالذكر لأنه لا ملك ظاهرا فيه لأحد إلا لله تعالى بدليل { لمن الملك اليوم ؟ لله } ومن قرأ مالك فمعناه مالك الأمر كله في يوم القيامة أو هو موصوف بذلك دائما كغافر الذنب فصح وقوعه صفة لمعرفة

004. (Yang menguasai hari pembalasan) di hari kiamat kelak. Lafal 'yaumuddiin' disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata, sesuai dengan firman Allah Taala yang menyatakan, "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (Q.S. Al-Mukmin 16) Bagi orang yang membacanya 'maaliki' maknanya menjadi "Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat". Atau Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti 'ghaafiruz dzanbi' (Yang mengampuni dosa-dosa). Dengan demikian maka lafal 'maaliki yaumiddiin' ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah (dikenal).


{ إياك نعبد وإياك نستعين }
أي نخصك بالعبادة من توحيد وغيره ونطلب المعونة على العبادة وغيرها

005. (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan) Artinya kami beribadah hanya kepada-Mu, seperti mengesakan dan lain-lainnya, dan kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu dalam menghadapi semua hamba-Mu dan lain-lainnya.


{ اهدنا الصراط المستقيم }
أي أرشدنا إليه ويبدل منه

006. (Tunjukilah kami ke jalan yang lurus) Artinya bimbinglah kami ke jalan yang lurus, kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu:


{ صراط الذين أنعمت عليهم }
بالهداية ويبدل من الذين بصلته { غير المغضوب عليهم } وهم اليهود { ولا } وغير { الظالمين } وهم النصارى ونكتة البدل إفادة أن المهتدين ليسوا يهودا ولا نصارى والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب وصلى الله على سيدنا محمد و على آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا دائما أبدا وحسبنا الله ونعم الوكيل ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

007. (Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), yaitu melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh ayat berikut: (Bukan (jalan) mereka yang dimurkai) Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. (Dan bukan pula) dan selain (mereka yang sesat.) Yang dimaksud adalah orang-orang Kristen. Faedah adanya penjelasan tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu. Semoga selawat dan salam-Nya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan para sahabatnya, selawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi kita Allah sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.[alkhoirot.org]

TERJEMAH AL-QURAN SURAT AL-FATIHAH BAHASA INGGRIS

1. In the name of Allah, the Entirely Merciful, the Especially Merciful.

2. [All] praise is [due] to Allah, Lord of the worlds -

3. The Entirely Merciful, the Especially Merciful,

4. Sovereign of the Day of Recompense.

5. It is You we worship and You we ask for help.

6. Guide us to the straight path

7. The path of those upon whom You have bestowed favor, not of those who have evoked [Your] anger or of those who are astray. [alkhoirot.org]

TERJEMAH BAHASA PRANCIS

1. Au nom d'Allah, le Tout Miséricordieux, le Très Miséricordieux.

2. Louange à Allah, Seigneur de l'univers.

3. Le Tout Miséricordieux, le Très Miséricordieux,

4. Maître du Jour de la rétribution.

5. C'est Toi [Seul] que nous adorons, et c'est Toi [Seul] dont nous implorons secours.

6. Guide-nous dans le droit chemin,

7. le chemin de ceux que Tu as comblés de faveurs, non pas de ceux qui ont encouru Ta colère, ni des égarés. [alkhoirot.org]

TERJEMAH BAHASA JERMAN

1. Im Namen Allahs, des Allerbarmers, des Barmherzigen!

2. Alles Lob gebührt Allah, dem Herrn der Welten

3. dem Allerbarmer, dem Barmherzigen

4. dem Herrscher am Tage des Gerichts!

5. Dir (allein) dienen wir, und Dich (allein) bitten wir um Hilfe.

6. Führe uns den geraden Weg

7. den Weg derer, denen Du Gnade erwiesen hast, nicht (den Weg) derer, die(Deinen) Zorn erregt haben, und nicht (den Weg) der Irregehenden. [alkhoirot.org]

TERJEMAH BAHASA SPANYOL

1. En el Nombre de Dios, el Más Misericordioso, el Dispensador de Gracia

2. Toda alabanza pertenece sólo a Dios, el Sustentador de todos los mundos,

3. el Más Misericordioso, el Dispensador de Gracia,

4. ¡Señor del Día del Juicio!

5. A Ti sólo adoramos; sólo en Ti buscamos ayuda.

6. ¡Guíanos por el camino recto –

7. el camino de aquellos sobre los que has derramado Tus bendiciones, no el de aquellos que han sido condenados [por Ti], ni el de aquellos que andan extraviados! [alkhoirot.org]

TERJEMAH BAHASA ITALIA

1. In nome di Allah, il Compassionevole, il Misericordioso

2. La lode [appartiene] ad Allah, Signore dei mondi

3. il Compassionevole, il Misericordioso,

4. Re del Giorno del Giudizio.

5. Te noi adoriamo e a Te chiediamo aiuto.

6. Guidaci sulla retta via,

7. la via di coloro che hai colmato di grazia, non di coloro che [sono incorsi] nella [Tua] ira, né degli sviati.[alkhoirot.org]

11/18/2018

Terjemah Al-Hidayah wan Nihayah

Terjemah Al-Hidayah wan Nihayah
Nama kitab: Terjemah Al-Bidayah wan Nihayah
Judul asal: Al-Bidayah wa An-Nihayah ( البداية والنهاية)
Penulis: Ibnu Katsir (ابن كثير)
Nama lengkap: Ismail bin Umar bin Katsir ( إسماعيل بن عمر بن كثير)
Volume: 15 jilid
Penerjemah:
Bidang studi: Sejarah Islam dan Biografi tokoh Muslim

Daftar Isi

PROFIL KITAB AL-BIDAYAH WAN NIHAYAH

Al-Bidayah wan Nihayah (bahasa Arab: البداية والنهاية) atau Tarikh Ibnu Katsir adalah kitab sejarah yang disusun oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir (w.774 H). Pembahasan kitab ini berawal dari penciptaan alam semesta, langit dan bumi, malaikat, manusia pertama, kemudian kisah para nabi dan umat-umat terdahulu hingga Nabi terakhir, kemudian tokoh-tokoh, dinasti (khilafah/daulah) dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada abad-abad yang dilalui dalam masa Islam hingga ke masa pengarang, kemudian diikuti dengan peristiwa yang akan terjadi di akhir zaman seperti tanda-tanda datangnya kiamat, perjalanan di alam barzakh, kebangkitan kembali hingga akhirat, Surga dan Neraka yang kisahnya diambil berdasarkan dari hadits nabi S.A.W. seluruh kisah diceritakan dengan baik melalui alqur’an dan juga hadist nabi.

PROFIL IBNU KATSIR

Nama: Ibnu Katsir (ابن كثير ), Ismail ibnu Kathir.
Nama lengkap: Abu al-Fida' Imadud Din Isma'il bin 'Umar bin Kathir al-Qurashi Al-Busrawi (إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي أبو الفداء عماد الدين
Tempat lahir: Busra, Kesultanana Mamluk, Kairo, sekarang di Suriah.
Tanggal lahir: 1300 M / 701 H
Wafat: 18 Februari 1373 M/ 26 Sya'ban 774 H
Tempat wafat: Damaskus, Kesultanana Mamluk (Kairo), sekarang di Suriah.
Madzhab fikih: Madzhab Syafi'i
Aqidah: Atsariyah (Ahlul Hadis)
Terpengaruh oleh: Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Al-Dzahabi.
Karya tulis:
- Tafsīr al-Qurʾān al-ʿaẓīm (Tafsir Ibn Kathir)
- Al-Bidāya wan Nihāya (“Yang awal dan yang akhir"), 14 jilid sejarah Islam.
- Kitāb al-jāmiʿ, kumpulan hadis.


MUKADDIMAH


مقدمة

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الأول الآخر، الباطن الظاهر، الذي هو بكل شيء عليم، الأول فليس قبله شيء، الآخر فليس بعده شيء، الظاهر فليس فوقه شيء، الباطن فليس دونه شيء، الأزلي القديم الذي لم يزل موجودًا بصفات الكمال، ولا يزال دائمًا مستمرًا باقيًا سرمديًا بلا انقضاء ولا انفصال ولا زوال. يعلم دبيب النملة السوداء، على الصخرة الصماء، في الليلة الظلماء، وعدد الرمال. وهو العلي الكبير المتعال، العلي العظيم الذي خلق كل شيء فقدره تقديرًا.

ورفع السماوات بغير عمد، وزينها بالكواكب الزاهرات، وجعل فيها سراجًا وقمرًا منيرًا وسوَّى فوقهن سريرًا، شرجعًا عاليًا منيفًا متسعًا مقبيًا مستديرًا - وهو العرش العظيم - له قوائم عظام، تحمله الملائكة الكرام، وتحفُّه الكروبيون عليهم الصلاة والسلام، ولهم زجل بالتقديس والتعظيم.

وكذا أرجاء السماوات مشحونة بالملائكة، ويفد منهم في كل يوم سبعون ألفًا إلى البيت المعمور بالسماء الرابعة لا يعودون إليه، آخر ما عليهم في تهليل وتحميد وتكبير وصلاة وتسليم.

ووضع الأرض للأنام على تيار الماء. وجعل فيها رواسي من فوقها وبارك فيها وقدر فيها أقواتها في أربعة أيام قبل خلق السماء، وأثبت فيها من كل زوجين اثنين، دلالة للألباء من جميع ما يحتاج العباد إليه في شتائهم وصيفهم، ولكل ما يحتاجون إليه ويملكونه من حيوان بهيم.

وبدأ خلق الإنسان من طين، وجعل نسله من سلالة من ماء مهين، في قرار مكين. فجعله سميعًا بصيرًا، بعد أن لم يكن شيئًا مذكورًا، وشرفه بالعلم والتعليم، خلق بيده الكريمة آدم أبا البشر، وصور جنته ونفخ فيه من روحه وأسجد له ملائكته، وخلق منه زوجه حواء أم البشر فأنس بها وحدته، وأسكنهما جنته، وأسبغ عليهما نعمته، ثم أهبطهما إلى الأرض لما سبق في ذلك من حكمة الحكيم. وبث منهما رجالًا كثيرًا ونساء، وقسَّمهم بقدرة العظيم ملوكًا ورعاة، وفقراء وأغنياء، وأحرارًا وعبيدًا، وحرائر وإماء.

وأسكنهم أرجاء الأرض، طولها والعرض، وجعلهم خلائف فيها يخلف البعض منهم البعض، إلى يوم الحساب والعرض على العليم الحكيم. وسخر لهم الأنهار من سائر الأقطار، تشق الأقاليم إلى الأمصار، ما بين صغار وكبار، على مقدار الحاجات والأوطار، وأنبع لهم العيون والآبار. وأرسل عليهم السحائب بالأمطار، فأنبت لهم سائر صنوف الزرع والثمار. وآتاهم من كل ما سألوه بلسان حالهم وقالهم { وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ } [إبراهيم: 34] فسبحان الكريم العظيم الحليم.

وكان من أعظم نعمه عليهم. وإحسانه إليهم، بعد أن خلقهم ورزقهم ويسر لهم السبيل وأنطقهم، أن أرسل رسله إليهم، وأنزل كتبه عليهم: مبينة حلاله وحرامه، وأخباره وأحكامه، وتفصيل كل شيء في المبدأ والمعاد إلى يوم القيامة.

فالسعيد من قابل الأخبار بالتصديق والتسليم، والأوامر بالانقياد، والنواهي بالتعظيم. ففاز بالنعيم المقيم، وزحزح عن مقام المكذبين في الجحيم ذات الزقوم والحميم، والعذاب الأليم.

أحمده حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، يملأ أرجاء السماوات والأرضين، دائمًا أبد الآبدين، ودهر الداهرين، إلى يوم الدين، في كل ساعة وآن، ووقت وحين، كما ينبغي لجلاله العظيم، وسلطانه القديم ووجهه الكريم.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، ولا ولد له ولا والد له، ولا صاحبة له، ولا نظير ولا وزير له ولا مشير له، ولا عديد ولا نديد ولا قسيم.

وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، وحبيبه وخليله، المصطفى من خلاصة العرب العرباء من الصميم، خاتم الأنبياء، وصاحب الحوض الأكبر الرواء، صاحب الشفاعة العظمى يوم القيامة، وحامل اللواء الذي يبعثه الله المقام المحمود الذي يرغب إليه فيه الخلق كلهم حتى الخليل إبراهيم ﷺ وعلى سائر إخوانه من النبيين والمرسلين، وسلم وشرف وكرم أزكى صلاة وتسليم، وأعلى تشريف وتكريم.

ورضي الله عن جميع أصحابه الغر الكرام، السادة النجباء الأعلام، خلاصة العالم بعد الأنبياء. ما اختلط الظلام بالضياء، وأعلن الداعي بالنداء وما نسخ النهار ظلام الليل البهيم.

أما بعد فهذا الكتاب أذكر فيه بعون الله وحسن توفيقه ما يسره الله تعالى بحوله وقوته من ذكر مبدأ المخلوقات: من خلق العرش والكرسي والسماوات، والأرضين وما فيهن وما بينهن من الملائكة والجان والشياطين، وكيفية خلق آدم عليه السلام، وقصص النبيين، وما جرى مجرى ذلك إلى أيام بني إسرائيل وأيام الجاهلية حتى تنتهي النبوة إلى أيام نبينا محمد صلوات الله وسلامه عليه. فنذكر سيرته كما ينبغي فتشفي الصدور والغليل، وتزيح الداء عن العليل.

ثم نذكر ما بعد ذلك إلى زماننا، ونذكر الفتن والملاحم وأشراط الساعة. ثم البعث والنشور وأهوال القيامة، ثم صفة ذلك وما في ذلك اليوم، وما يقع فيه من الأمور الهائلة. ثم صفة النار، ثم صفة الجنان وما فيها من الخيرات الحسان، وغير ذلك وما يتعلق به، وما ورد في ذلك من الكتاب والسنة والآثار والأخبار المنقولة المعقولة عند العلماء وورثة الأنبياء، الآخذين من مشكاة النبوة المصطفوية المحمدية على من جاء بها أفضل الصلاة والسلام.

ولسنا نذكر من الإسرائيليات إلا ما أذن الشارع في نقله مما لا يخالف كتاب الله، وسنة رسوله ﷺ وهو القسم الذي لا يصدق ولا يكذب، مما فيه بسط لمختصر عندنا، أو تسمية لمبهم ورد به شرعنا مما لا فائدة في تعيينه لنا فنذكره على سبيل التحلي به لا على سبيل الاحتياج إليه والاعتماد عليه. وإنما الاعتماد والاستناد على كتاب الله وسنة رسول الله ﷺ، ما صح نقله أو حسن وما كان فيه ضعف نبيٍّنه. وبالله المستعان وعليه التكلان. ولا حول ولا قوة إلا بالله العزيز الحكيم العلي العظيم.

فقد قال الله تعالى في كتابه { كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا } [طه: 99] .

وقد قصَّ الله على نبيه ﷺ خبر ما مضى من خلق المخلوقات، وذكر الأممم الماضين، وكيف فعل بأوليائه، وماذا أحل بأعدائه. وبين ذلك رسول الله ﷺ لأمته بيانًا شافيًا، سنورد عند كل فصل ما وصل إلينا عنه، صلوات الله وسلامه عليه. من ذلك تلو الآيات الواردات في ذلك فأخبرنا بما نحتاج إليه من ذلك، وترك ما لا فائدة فيه مما قد يتزاحم على علمه ويتراجم في فهمه طوائف من علماء أهل الكتاب مما لا فائدة فيه لكثير من الناس إليه. وقد يستوعب نقله طائفة من علمائنا ولسنا نحذو حذوهم ولا ننحو نحوهم ولا نذكر منها إلا القليل على سبيل الاختصار ونبين ما فيه حق مما وافق ما عندنا وما خالفه فوقع فيه الإنكار.

فأما الحديث الذي رواه البخاري رحمه الله في (صحيحه) عن عمرو بن العاص رضي الله عنه أن رسول الله ﷺ قال:

« بلغوا عني ولو آية، وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج، وحدثوا عني ولا تكذبوا علي ومن كذب علي متعمدًا فليتبوأ مقعده من النار »، فهو محمول على الإسرائيليات المسكوت عنها عندنا. فليس عندنا ما يصدقها ولا ما يكذبها، فيجوز روايتها للاعتبار. وهذا هو الذي نستعمله في كتابنا هذا فأما ما شهد له شرعنا بالصدق فلا حاجة بنا إليه استغناء بما عندنا. وما شهد له شرعنا منها بالبطلان فذاك مردود لا يجوز حكايته، إلا على سبيل الإنكار والإبطال.

فإذا كان الله، سبحانه وله الحمد، قد أغنانا برسولنا محمد، ﷺ، عن سائر الشرائع، وبكتابه عن سائر الكتب، فلسنا نترامى على ما بأيديهم مما وقع فيه خبط وخلط، وكذب ووضع، وتحريف وتبديل، وبعد ذلك كله نسخ وتغيير.

فالمحتاج إليه قد بيَّنه لنا رسولنا، وشرحه وأوضحه. عرفه من عرفه، وجهله من جهله. كما قال علي بن أبي طالب:

كتاب الله فيه خبر ما قبلكم، ونبأ ما بعدكم، وحكم ما بينكم، وهو الفصل ليس بالهزل. من تركه من جبار قصمه الله، ومن ابتغى الهدى في غيره أضله الله.

وقال أبو ذر، رضي الله عنه: لقد توفي رسول الله ﷺ وما طائر يطير بجناحيه إلا أذكرنا منه علمًا.

وقال البخاري في كتاب بدء الخلق: وروي عن عيسى بن موسى غنجار عن رقية عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب قال سمعت عمر بن الخطاب يقول:

قام فينا رسول الله ﷺ مقامًا فأخبرنا عن بدء الخلق حتى دخل أهل الجنة منازلهم. وأهل النار منازلهم. حفظ ذلك من حفظه ونسيه من نسيه.

قال أبو مسعود الدمشقي في أطرافه: هكذا قال البخاري، وإنما رواه عيسى غنجار عن أبي حمزة عن رقية.

وقال الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله في (مسنده): حدثنا أبو عاصم حدثنا عزرة بن ثابت، حدثنا علباء بن أحمر اليشكري: حدثنا أبو زيد الأنصاري، قال:

« صلَّى بنا رسول الله ﷺ صلاة الصبح، ثم صعد المنبر، فخطبنا حتى حضرت الظهر، ثم نزل فصلى الظهر. ثم صعد المنبر، فخطبنا حتى حضرت العصر، ثم نزل فصلى العصر ثم صعد المنبر، فخطبنا حتى غابت الشمس فحدثنا بما كان، وما هو كائن فأعلَمُنا أحفظنا »

انفرد بإخراجه مسلم فرواه في كتاب الفتن من (صحيحه) عن يعقوب بن إبراهيم الدورقي وحجاج بن الشاعر، جميعًا عن أبي عاصم الضحاك بن مخلد النبيل عن عزرة عن علباء عن أبي زيد عمرو بن أخطب بن رفاعة الأنصاري رضي الله عنه عن النبي ﷺ بنحوه.

DOWNLOAD TERJEMAH AL-BIDAYAH WAN NIHAYAH (RINGKASAN)

- Al Bidayah Wan Nihayah


DOWNLOAD KITAB AL-BIDAYAH WAN NIHAYAH VERSI ARAB (LENGKAP 15 JUZ)

- Al Bidayah Wan Nihayah 1
- Al Bidayah Wan Nihayah 2
- Al Bidayah Wan Nihayah 3
- Al Bidayah Wan Nihayah 4
- Al Bidayah Wan Nihayah 5
- Al Bidayah Wan Nihayah 6
- Al Bidayah Wan Nihayah 7
- Al Bidayah Wan Nihayah 8
- Al Bidayah Wan Nihayah 9
- Al Bidayah Wan Nihayah 10
- Al Bidayah Wan Nihayah 11
- Al Bidayah Wan Nihayah 12
- Al Bidayah Wan Nihayah 13
- Al Bidayah Wan Nihayah 14
- Al Bidayah Wan Nihayah 15

Terjemah Riyadhus Shalihin

Terjemah Riyadhus Shalihin
Hati-hati, Kitab Riyadhus Shalihin ini diberi syarah (komentar) oleh seorang ulama Wahabi bernama Saleh Al-Utsaimin yang pernah menyatakan bahwa Imam Nawawi itu sesat. Imam Nawawi adalah ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bermadzhab fikih Syafi'i dan madzhab akidah Asy'ariyah.

Nama kitab: Terjemah Riyadus Sholihin
Judul asal: Riyadhush Sholihin min Kalam Sayyidil Mursalin ( رياض الصالحين
من كلام سيد المرسلين)
Penulis: Imam Nawawi (الإمام النووي
Nama lengkap: Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi (محيي الدين أبي زكريا يحي بن شرف النووي الدمشقي)
Penerjemah:
Bidang studi: Kumpulan hadits

Daftar Isi

PROFIL KITAB RIYADUSH SHOLIHIN

Riyadhus Shalihin adalah nama salah satu kitab kumpulan hadis Nabi Muhammad S.A.W yang berarti taman orang-orang shalih, yang disusun oleh Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawy (Imam Nawawi).

Riyadhus Shalihin dimaksudkan untuk mengumpulkan hadis-hadis yang sahih, yang dapat menjadi perintis jalan menuju akhirat; tuntunan adab lahir dan batin; menghimpun anjuran dan ancaman, latihan jiwa, didikan akhlak, obat hati, pemeliharaan badan dan lain-lain.

Pada kitab ini hadis-hadis dikelompokkan ke dalam bab-bab berdasarkan tema utama, misalnya akhlak (ikhlas, sabar, takwa, tawakal, hubungan sosial, dst.); adab sopan santun (malu, menjaga rahasia, menepati janji, menghormati tamu, tata tertib makan, adab berpakaian, mengucapkan salam); adab terkait orang sakit dan orang yang meninggal; keutamaan membaca Al-Qur'an; keutamaan-keutamaan terkait berbagai macam salat dan puasa; jihad; dzikir dan doa; serta larangan-larangan terkait ibadah, muamalah, dan kebiasaan-kebiasaan hidup yang tertentu.

PROFIL IMAM NAWAWI

Nama: Imam Nawawi
Nama lengkap: Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi (محيي الدين أبي زكريا يحي بن شرف النووي الدمشقي)
Tgl lahir: Muharam 631 H/ Oktober 1233 M
Tempat: Nawa, Suriah
Wafat: 24 Rajab 676 H/ 21 Desember 1277 M (usia 45)
Makam: Nawa, Suriah
Keahlian: ahli fikih, ahli hadits, historiografer, bibliografer.
Aliran: Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja)
Madzhab Fikih: Madzhab Syafi'i
Madzhab akidah: Asy'ariyah.
Karya tulis:

Al Minhaj bi Sharh Sahih Muslim شرح صحيح مسلم,
Riyadh as-Saaliheen رياض الصالحين
al-Majmu' sharh al-Muhadhdhab المجموع شرح المهذب,
Minhaj al-Talibin منهاج الطالبين وعمدة المفتين في فقه الإمام الشافعي,
Tahdhib al-Asma wal-Lughat تهذيب الأسماء,
Taqrib al-Taisir التقريب والتيسير لمعرفة سنن البشير النذير, an introduction to the study of hadith, it is an extension of Ibn al-Salah's Muqaddimah, was published at Cairo, 1890, with Suyuti's commentary "Tadrib al-Rawi".
Forty Hadiths (al-arbaʿīn al-nawawiyya) الأربعون النووية,
Ma Tamas ilayhi hajat al-Qari li Saheeh al-Bukhaari ما تمس إليه حاجة القاري لصـحيح البـخاري,
Tahrir al-Tanbih تحرير التنبيه,
Kitab al-Adhkar الأذكار المنتخبة من كلام سيد الأبرار, is a collection of supplications of prophet Muhammad.
al-Tibyan fi adab Hamalat al-Quran التبيان في آداب حملة القرآن,
Adab al-fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti آداب الفتوى والمفتي والمستفتي,
al-Tarkhis fi al-Qiyam الترخيص بالقيام لذوي الفضل والمزية من أهل الإسلام,
Manasik متن الإيضاح في المناسك, on Hajj rituals.
Sharh Sunan Abu Dawood
Sharh Sahih al-Bukhari
Mukhtasar at-Tirmidhi
Tabaqat ash-Shafi'iyah
Rawdhat al-Talibeen
Bustan al-`arifin

MUKADDIMAH


الحمد لله الواحد القهار ، العزيز الغفار ، مكور الليل على النهار ، تذكرة لأولي القلوب والأبصار، وتبصرة لذوى الألباب والاعتبار، الذى أيقظ من خلقه من اصطفاه فزهدهم في هذه الدار، وشغلهم بمراقبته وإدامه الإفكار ، وملازمة الاتعاظ والادكار ، ووفقهم للدأب في طاعته ، والتأهب لدار القرار ، والحذر مما يسخطه ويوجب دار البوار، والمحافظة على ذلك مع تغاير الأحوال والأطوار‏ .‏

أحمده أبلغ حمدٍ وأزكاه وأشمله وأنماه ‏.‏

وأشهد أن لا إله إلا الله البر الكريم ، الرؤف الرحيم ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، وحبيبة وخليله ، الهادى إلى صراط مستقيم ، والداعى إلى دين قويم ‏.‏

صلوات الله وسلامه عليه ، وعلى سائر النبين ، وآله ، وسائر الصالحين‏ .‏

أما بعد‏ :‏ فقد قال الله تعالى ‏:‏ ‏{‏وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون‏}‏ ‏[‏الذاريات‏:‏ 56،75‏]‏

وهذا تصريح بأنهم خلقوا للعبادة ، فحق عليهم الاعتناء بما خلقوا له والإعراض عن حظوظ الدنيا بالزهادة ، فإنها دار نفادٍ لا محل إخلادٍ ، ومركب عبور لا منزل حبور ، ومشروع انفصام لا موطن دوام ‏.‏

فلهذا كان الأيقاظ من أهلها هم العباد ، وأعقل النار فيها هم الزهاد ‏.‏

قال الله تعالى‏ :‏ ‏{‏إنما مثل الحياة الدنيا كماءٍ أنزلناه من السماء فاختلط به نبات الأرض مما يأكل الناس والأنعام حتى إذا أخذت الأرض زخرفها وازينت وظن أهلها أنهم قادرون عليها أتاها أمرنا ليلاً أو نهاراً فجعلناها حصيداً كأن لم تغن بالأمس كذلك نفصل الآيات لقوم يتفكرون‏}‏ ‏[‏ يونس‏:‏ 24‏]‏ في هذا المعنى كثيرة .

ولقد أحسن القائل ‏:‏
إن لله عبادًا فُطـــنا طلقوا الدنيا وخافوا الفتنـا
نظروا فيها فلما علموا أنها ليست لحي وطنـــا
جعلوها لُجة واتخـذوا صالح الأعمال فيها سفنـا

فإذا كان حالها ما وصفته ، وحالنا وما خلقنا له ما قدمته ، فحق على المكلف أن يذهب بنفسه مذهب الأخيار ، ويسلك مسلك أولى النهى والأبصار، ويتأهب لما أشرت إليه ، ويهتم بما نبهت عليه ‏.‏

أصوب طريق له في ذلك ، وأشد ما يسلكه من المسالك‏ :‏

التأدب بما صح عن نبيناً سيد الأولين والآخرين ﷺ .

وقد قال الله تعالى‏ :‏‏ {‏وتعاونوا على البر والتقوى‏}‏ ‏[‏ المائدة‏:‏2‏]‏

وقد صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال‏ :‏ ‏"‏والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه‏"‏

وأنه قال‏ ﷺ : ‏‏"‏من دل على خير فله مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئاً‏"‏

وأنه ﷺ قال لعلى رضي الله عنه‏ :‏ ‏"‏فوالله لأن يهدى الله بك رجلاً واحداً خير لك من حمر النعم‏"‏‏ .‏

فرأيت أن أجمع مختصراً من الأحاديث الصحيحة ، مشتملاً على ما يكون طريقاً لصاحبه إلى الآخرة ، ومحصلاً لآدابه الباطنة والظاهرة ، جامعاً للترغيب والترهيب وسائر أنواع آداب السالكين‏ :‏

من أحاديث الزهد .

ورياضات النفوس .

وتهذيب الأخلاق .

وطهارات القلوب وعلاجها .

وصيانة الجوارح وإزالة اعوجاجها .

وغير ذلك من مقاصد العارفين‏ .‏

وألتزم فيه أن لا أذكر إلا حديثاً صحيحاً من الواضحات ، مضافاً إلى الكتب الصحيحة المشهورات ، وأصدر الأبواب من القرآن العزيز بآيات كريمات ، وأوشح ما يحتاج إلى ضبط أو شرح معنى خفى بنفائس من التنبيهات‏ .‏

وإذا قلت في آخر حديث‏ :‏ متفق عليه ، فمعناه‏ :‏ رواه البخاري ومسلم‏ .‏

وأرجو إن تم هذا الكتاب أن يكون سائقاً للمعتنى به إلى الخيرات ، حاجزاً له عن أنواع القبائح والمهلكات‏ .‏

وأنا سائل أخاً انتفع بشئ منه أن يدعو لي ، ولوالدى ، ومشايخى ، وسائر أحبابنا ، والمسلمين أجمعين ، وعلى الله الكريم اعتمادى ، وإليه تفويضى واستنادى ، وحسبى الله ونعم الوكيل ، ولا حول ولا قوة إلا بالله العزيز الحكيم‏ .‏

DOWNLOAD TERJEMAH RIYADHUSH SHOLIHIN

- Jilid 1
- Jilid 2

DOWNLOAD KITAB RIYADHUSH SHOLIHIN VERSI ARAB

- Riyadhush Sholihin versi Arab

11/17/2018

Terjemah Tafsir Ibnu Katsir

Terjemah Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir, penulis Tafsir Ibnu Kathir, adalah seorang ulama murid dari Ibnu Taimiyah yang berakidah Atsariyah atau Ahlul Hadits. Bukan Aqidah Asy'ariyah atau Maturidiyah, oleh karena itu, pembaca Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) hendaknya berhati-hati dalam menyikapi penafsiran Ibnu Katsir dalam soal sifat musyabihat Allah. Dan itu juga sebabnya tafsir ini disukai kalangan Wahabi Salafi karena ada kemiripan dengan akidah Wahabi.

Nama kitab: Terjemah Tafsir Ibnu Katsir
Judul asal: Tafsir Al-Quran Al-Azhim (تفسير القرأن العظيم)
Penulis: Ismail ibnu Katsir
Penerjemah:
Bidang studi: Tafsir Al-Quran

Daftar Isi

PROFIL KITAB TAFSIR IBNU KATSIR

Ibnu Katsir memiliki metode sendiri yang digunakan untuk menulis tafsirnya, yakni:

- Tafsir Alquran dengan Alquran sendiri.
- Selanjutnya bila penafsiran Alquran dengan Alquran tidak didapatkan, maka Alquran harus ditafsirkan dengan hadis Nabi Muhammad, sebab menurut Alquran sendiri Nabi Muhammad memang diperintahkan untuk menerangkan isi Alquran.
- Jika yang kedua tidak didapatkan, maka Alquran harus ditafsirkan oleh pendapat para sahabat karena merekalah orang yang paling mengetahui konteks sosial turunnya Alquran.
- Jika yang ketiga juga tidak didapatkan, maka pendapat dari para tabiin dapat diambil.

Perlu diketahui bahwa walaupun Ibnu Katsir secara fikih bermadzhab Syafi'i, namun secara aqidah tidak mengikuti akidah Asy'ariyah melainkan akidah Atsariyah atau Ahlul Hadits. Oleh karena itu, cara tafsir ini dalam menyikapi sifat musyabihatnya Allah juga berdasarkan pada akidah Atsariyah yakni menyerahkan sepenuhnya pada Allah tidak menakwilkannya sebagaimana cara Asy'ariyah dan Maturidiyah. Tapi juga tidak memakai cara mujassimah yang menyamakan sifat Allah dengan makhluknya sebagaimana penafsiran gurunya, Ibnu Taimiyah.

PROFIL PENULIS: IBNU KATSIR

Nama: Ibnu Katsir (ابن كثير ), Ismail ibnu Kathir.
Nama lengkap: Abu al-Fida' Imadud Din Isma'il bin 'Umar bin Kathir al-Qurashi Al-Busrawi (إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي أبو الفداء عماد الدين
Tempat lahir: Busra, Kesultanana Mamluk, Kairo, sekarang di Suriah.
Tanggal lahir: 1300 M / 701 H
Wafat: 18 Februari 1373 M/ 26 Sya'ban 774 H
Tempat wafat: Damaskus, Kesultanana Mamluk (Kairo), sekarang di Suriah.
Madzhab fikih: Madzhab Syafi'i
Aqidah: Atsariyah (Ahlul Hadis)
Terpengaruh oleh: Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Al-Dzahabi.
Karya tulis:
- Tafsīr al-Qurʾān al-ʿaẓīm (Tafsir Ibn Kathir)
- Al-Bidāya wan Nihāya (“Yang awal dan yang akhir"), 14 jilid sejarah Islam.
- Kitāb al-jāmiʿ, kumpulan hadis.
- Al-Baa'ith al-Hatheeth (الباعث الحثيث) adalah ringkasan dari Muqaddimah oleh Ibnu al-Salah tentang terminologi hadits.
- At-Takmil fi Ma`rifat Ath-Thiqat wa Ad-Du'afa wal Majdhil
Al-Fitan, (كتاب الفتن والملاحم الواقعة في آخر الزمان)
Al-Sira Al-Nabawiyya,(السيرة النبوية), Empat jilid.
Qisas Al-Anbiya, (قصص الأنبياء) "Kisah para Nabi".

MUKADDIMAH


بسم الله الرّحمن الرّحيم

[مقدمة المؤلف]

(قَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْأَوْحَدُ، الْبَارِعُ الْحَافِظُ الْمُتْقِنُ، عماد الدين أبو الفداء: إسماعيل ابن الخطيب أبي حفص عمر بن كثير، الشَّافِعِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَرَضِيَ عَنْهُ) .

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي افْتَتَحَ كِتَابَهُ بِالْحَمْدِ فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ. الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. مالِكِ يَوْمِ الدِّينِ [الْفَاتِحَةِ: 2- 4] وَقَالَ تَعَالَى: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلى عَبْدِهِ الْكِتابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجاً. قَيِّماً لِيُنْذِرَ بَأْساً شَدِيداً مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً حَسَناً ماكِثِينَ فِيهِ أَبَداً. وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَداً. مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لِآبائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْواهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِباً
[الْكَهْفِ: 1- 5] وَافْتَتَحَ خَلْقَهُ بِالْحَمْدِ فَقَالَ تَعَالَى: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُماتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ [الْأَنْعَامِ: 1] وَاخْتَتَمَهُ بالحمد فقال بعد ما ذِكْرِ مَآلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَأَهْلِ النَّارِ وَتَرَى الْمَلائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ [الزمر: 75] ولهذا قال تَعَالَى: وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولى وَالْآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [القصص: 70] كما قال تعالى: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ [سبأ: 1] فَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ أَيْ فِي جَمِيعِ مَا خَلَقَ وَمَا هُوَ خَالِقٌ، هُوَ الْمَحْمُودُ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ كَمَا يَقُولُ الْمُصَلِّي «اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الحمد، ملء السموات وَمِلْءَ الْأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ» وَلِهَذَا يُلْهَمُ أَهْلُ الْجَنَّةِ تَسْبِيحَهُ وَتَحْمِيدَهُ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ أَيْ يُسَبِّحُونَهُ وَيَحْمَدُونَهُ عَدَدَ أَنْفَاسِهِمْ، لِمَا يَرَوْنَ مِنْ عَظِيمِ نِعَمِهِ عَلَيْهِمْ، وَكَمَالِ قُدْرَتِهِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِهِ وَتَوَالِي مِنَنِهِ وَدَوَامِ إحسانه إليهم كَمَا قَالَ تَعَالَى:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ. دَعْواهُمْ فِيها سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيها سَلامٌ وَآخِرُ دَعْواهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ [يُونُسَ: 9، 10] .

DOWNLOAD TERJEMAH TAFSIR IBNU KATSIR

Berdasarkan Jilid Kitab (Lengkap)

- 1 Tafsir Ibnu Katsir 1 a
- 2 Tafsir Ibnu Katsir 1 b
- 3 Tafsir Ibnu Katsir 1 c
- 4 Tafsir Ibnu Katsir 1 d
- 5 Tafsir Ibnu Katsir 2.1
- 6 Tafsir Ibnu Katsir 2.2
- 7 Tafsir Ibnu Katsir 2.3
- 8 Tafsir Ibnu Katsir 2.4
- 9 Tafsir Ibnu Katsir 3.1
- 10 Tafsir Ibnu Katsir 3.2
- 11 Tafsir Ibnu Katsir 3.3
- 12 Tafsir Ibnu Katsir 3.4
- 13 Tafsir Ibnu Katsir 4.1
- 14 Tafsir Ibnu Katsir 4.2
- 15 Tafsir Ibnu Katsir 4.3
- 16 Tafsir Ibnu Katsir 4.4
- 17 Tafsir Ibnu Katsir 5.1
- 18 Tafsir Ibnu Katsir 5.2
- 19 Tafsir Ibnu Katsir 5.3
- 20 Tafsir Ibnu Katsir 5.4
- 21 Tafsir Ibnu Katsir 6.1
- 22 Tafsir Ibnu Katsir 6.2
- 23 Tafsir Ibnu Katsir 6.3
- 24 Tafsir Ibnu Katsir 6.4
- 25 Tafsir Ibnu Katsir 6.5
- 26 Tafsir Ibnu Katsir 7.1
- 27 Tafsir Ibnu Katsir 7.2
- 28 Tafsir Ibnu Katsir 7.3
- 29 Tafsir Ibnu Katsir 7.4
- 30 Tafsir Ibnu Katsir 7.5
- 31 Tafsir Ibnu Katsir 8.1
- 32 Tafsir Ibnu Katsir 8.2
- 33 Tafsir Ibnu Katsir 8.3
- 34 Tafsir Ibnu Katsir 8.4
- 35 Tafsir Ibnu Katsir 8.5
- 36 Tafsir Ibnu Katsir 8.6 (Keutamaan2 al-Qur'an)

Berdasarkan Juz Al-Quran (Tidak lengkap)

- Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 [Al-Baqarah 253 s.d. Ali Imran 91]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 4 [Ali Imran 92 s.d. An-Nisa 23]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 [An-Nisa 24 s.d. An-Nisa 147]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 [Surat An-Nisa 148 s.d. Al-Maidah 82]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 7 [Surat Al-Maidah 83 s.d. Al-An'am 110]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 8 [Surat Al-An'am 111 s.d. Al-A'raf 87]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 9 [Surat Al-A'raf 88 s.d Al-Anfal 40]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 10
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 13 [Surat Yusuf 53 s.d Al-Hijr 1]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 14 [Surat Al-Hijr 2 s.d. An-Nahl 128]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 15
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 28


DOWNLOAD TAFSIR IBNU KATSIR VERSI ARAB

- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 0
- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 1a
- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 1b
- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 2
- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 3
- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 4
- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 5
- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 6
- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 7
- Tafsir Ibnu Katsir versi Arab 8

Terjemah Fathul Muin

Terjemah Fathul Muin
Nama kitab: Terjemah Fathul Muin
Judul asal: Fathul Muin bi Syarhi Qurratil Ain bi Muhimmatid Din ( فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين)
Penulis: Ahmad bin Abdul Aziz bin Zainuddin bin Ali bin Ahmad Al-Mabari Al-Malibari Al-Hindi (أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي)
Penerjemah: Abul Hiyadh
Bidang studi: Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi


PROFIL KITAB FATHUL MUIN

Kitab Fathul Mu'in merupakan kitab penjelas atau kitab syarah terhadap kitab yang masih merupakan karya dari Syeikh Zainuddin Abdul Aziz , yakni kitab Qurratul 'Ain Fii Muhimmati Dien. Berdasarkan penuturan Syeikh Zainuddin dalam khutbah kitabnya, beliau menyusun kitab ini semata-mata mengaharap ridlo Allah demi kemanfaatan orang banyak. Dengan keinginan semoga kitab ini menjadi sebab beliau mendaptkan tempat kembali yang layak diakhirat kelak, yakni surga firdaus-Nya.

Selain itu, beliau juga menuturkan bahwasanya kitab ini merupakan kitab yang isinya merupakan kajian-kajian pilihan yang merujuk pada kitab-kitab pegangan buah karya ulama-ulama besar. Diantaranya adalah dari kitab-kitab karangan guru beliau yakni Ibnu Hajar Al-Haitamy, juga kitab-kitab karangan Wajhuddin Abdurohman Bin Ziyad Al-Zubaidi, Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshory, Imam Ahmad Al-MujZaddi Al-Zubaidi, Serta dari ulama lainnya yang merupakan Muhaqqiq Mutaakhirin.

PROFIL PENULIS AL-MALIBARI

Nama lengkap: Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz bin Zainuddin bn ‘Ali Al Malibari Al Fannani Asy Syafi’i,
Nama lain: Makhdum Thangal, Zainuddin Al-Tsani.
Tempat Lahir: Malibar (Malabar), India Selatan.
Tahun kelahiran: tidak diketahui.
Wafat: di Funnan/Ponani, India pada tahun 972 H / 987 H/1579 M.
Karya tulis:

Kitab Al-Isti’dad lil Maut Wasu’al Qubur (Aqidah).
Kitab Qurratul ‘Ain Bimuhimmatid Diin (fiqih; kitab matan Fathul Mu’in).
Kitab Fathul Mu‘in fi Syarh Qurrah al-‘Ayn (fiqih; dikomentari oleh Syaikh Sayyid Muhammad Syatho’ Ad Dimyati (W. 1310 H) dengan nama Kitab Hasyiyah I’anatuth Thalibin).
Kitab Irsyadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyaad (masalah fiqih disertai nasehat & hikayat).
Kitab Tuhfatul Muj­tahidin fi Ba‘adh Akhbar Al Burtu­ghalin (sejarah).


MUKADDIMAH KITAB


مقدمة
...
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الفتاح الجواد المعين على التفقه في الدين من اختاره من العباد وأشهد أن لا إله الله شهادة تدخلنا دار الخلود وأشهد أن سيدنا محمدا ورسوله صاحب المقام المحموم صلى الله وسلم عليه وعلى آله وأصحابه الأمجاد صلاة وسلاما أفوز بهما يوم المعاد.
وبعد فهذا شرح مفيد على كتاب المسمى بقرة العين بمهمات الدين يبين المراد ويتمم المفاد ويحصل المقاصد ويبرز الفوائد وسميته: بفتح بشرح قرة العين بمهمات الدين وأنا أسأل الله الكريم المنان أن يعم الانتفاع به للخاصة والعامة من الإخوان وأن يسكنني به الفردوس في دار الإمامان إنه أكرم كريم وأرحم رحيم.
بسم الله الرحمن الرحيم.
أي: أولف: والاسم مشتق من السمو وهو العلو لا من الوسم وهو العلامة.

الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله والصلاة والسلام على سيدنا محمد رسول الله.
والله: علم للذات الواجب الوجود وهو اسم جنس لكل معبود ثم عرف بأل وحذفت الهمزة ثم استعمل في المعبود بحق وهو الاسم الأعظم عند الأكثر ولم يسم به غيره ولو تعنتا.
والرحمن الرحيم صفتان بنيتا للمبالغة من رحم والرحمن أبلغ من الرحيم لأن زيادة البناء تدل على زيادة المعنى ولقولهم: رحمن الدنيا والآخرة ورحيم الآخرة:
الحمد الله الذي هدانا أي دلنا لهذا التأليف وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله إليه.
والحمد هو الوصف بالجميل.
والصلاة وهي من الله الرحمة المقرونة بالتعظيم.
والسلام أي التسليم من كل آفة ونقض على سيدنا محمد رسول الله لكافة الثقلين الجن والإنس
إجماعا وكذا الملائكة على ما قاله جمع محققون1.
ومحمد علم منقول من اسم المفعول المضعف موضوع لمن كثرت خصاله الحميدة سمى به نبينا صلى الله عليه واله وسلم بإلهام من الله لجده.

وعلى آله
والرسول من البشر ذكر حر أوحى إليه بشرع وأمر بتبليغه وإن لم يكن له كتاب ولا نسخ كيوشع عليه السلام فإن لم يؤمر بالتبليغ فنبي.
والرسول أفضل من النبي إجماعا وصح خبر أن عدد الأنبياء عليهم الصلاة والسلام مائة ألف وأربعة وعشرون ألفا وأن عدد الرسل ثلاثمائة وخمسة عشر.
وعلى آله أي أقاربه المؤمنين من بني هاشم والمطلب وقيل:

وصحبه الفائزين برضا الله.
وبعد فهذا مختصر في الفقه على مذهب الغمام الشافعي رحمه الله تعالى.
هم كل مؤمن أي في مقام الدعاء ونحو واختير لخبر ضعيف فيه وجزم به النووي في شرح
مسلم.

وصحبه وهو اسم جمع لصاحب بمعنى الصحابي وهو من اجتمع مؤمنات بنبينا صلى الله عليه واله وسلم ولو أعمى وغير مميز.
الفائزين برضا الله تعالى صفة لمن ذكر.

وبعد أي بعدما تقدم من البسملة والحمدلة والصلاة والسلام على من ذكر.

فهذا المؤلف الحاضر ذهنا مختصر قل لفظه وكثر معناه من الاختصار.
في الفقه هو لغة: الفهم. واصطلاحا: العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية.
واستمداده من الكتاب والسنة والإجماع والقياس. وفائدته: امتثال أوامر الله تعالى واجتناب نواهيه.
على مذهب الإمام المجتهد أبي عبد الله محمد بن إدريس الشافعي رحمه الله تعالى ورضي عنه أي ما ذهب إليه من الأحكام في المسائل.
إدريس والده هو ابن عباس بن عثمان بن شافع بن السائب بن وسميته بـ قرة العين بمهمات الدين راجيا من الرحمن أن ينتفع به الأذكياء وأن تقربه عيني غدا بالنظر إلى وجهه الكريم بكرة وعشيا.
عبيد بن عبد بن يزيد بن هاشم بن عبد المطلب بن عبد مناف.

وشافع وهو الذي ينسب إليه الإمام وأسلم هو وأبوه السائب يوم بدر.
وولد إمامنا رضي الله عنه سنة خمسين ومائة وتوفي يوم الجمعة سلخ رجب سنة أربع ومائتين.
وسميته بـ قرة العين ببيان مهمات أحكام الدين انتخبته وهذا الشرح من الكتب المعتمدة لشيخنا خاتمة المحققين شهاب الدين أحمد بن حجر الهيثمي وبقية المجتهدين مثل وجيه الدين عبد الرحمن بن زياد الزبيدي رضي الله عنهما وشيخي مشايخنا: شيخ الإسلام المجدد زكريا الأنصاري الإمام الأمجد أحمد المزجد الزبيدي رحمهما الله تعالى وغير هم من محققي المتأخرين معتمدا على ما جزم به شيخا المذهب: النووي والرافعي فالنووي فمحققو المتأخرين رضي الله عنهم.

راجيا من ربنا الرحمن أن ينتفع به الأذكياء أي العلاء وأن تقر به بسببه عيني غدا أي اليوم الآخر بالنظر إلى وجهه الكريم بكرة وعشيا آمين.

DOWNLOAD TERJEMAH FATHUL MUIN

Format file: Djvu
- Jilid 1
- Jilid 2:
- Jilid 3:
- Jilid 4:
- Jilid 5:
- Jilid 6:
- Jilid 7:
- Jilid 8:
- Jilid 9:
- Jilid 10
- Jilid 11:
- Jilid 12:


DOWNLOAD FATHUL MUIN VERSI ARAB

- Fathul Muin Arab (pdf)

11/16/2018

Terjemah Asbabun Nuzul Suyuti

Terjemah Asbabun Nuzul Suyuti
Nama kitab: Terjemah Asbabun Nuzul
Judul asal: Asbabun Nuzul al Musamma Lubaabun Nuqul fi Asbabin Nuzul (أسباب النزول المسمى لباب النقول في أسباب النزول)
Penulis: Jalaluddin Suyuti
Penerjemah:
Bidang studi: Ilmu Al-Quran

Daftar Isi


PROFIL KITAB ASBABUN NUZUL

Kitab asbabun nuzul karya Imam Suyuthi memiliki judul asli "Lubaabun Nuqul fi Nuzulul Qur'an". Kitab ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1280 hijriyah atau 1863 masehi di Boulaq.

Dalam muqaddimahnya Imam Suyuthi menuliskan bahwa kitab asbabun nuzul ini dirangkum dari beberapa kitab hadis dan kitab-kitab rujukan utama yang telah diseleksi jalur periwayatannya. Maksud dari penyusunan kitab asbabun nuzul karya Imam Suyuthi ialah mengetahui makna ayat al-Qur'an yang sebenarnya melalui latar belakang peristiwa yang menyertainya turunnya ayat tersebut.

PROFIL JALALUDDIN SUYUTHI

Nama: Jalaluddin Suyuti
Nama lengkap: Abul-Fadal ‘Abdur Raḥman ibnu Abi Bakar ibnu Muḥammad Jalaluddin al-Khudayri al-Suyuṭi (Arab: جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر بن محمد الخضيري السيوطي‎)
Lahir: Mesir, 3 Oktober 1445 M/ 1 Rajab 849 H
Tempat: Kairo, Mesir
Meninggal: 18 Oktober 1505
Madzhab: Fikih Syafi'i
Aqidah: Asy'ariyah
Tasawuf: Syadziliyah
Karya tulis:

Tafsir al-Jalalain (Arab: تفسير الجلالين‎, makna literal. 'Komentar Dua Jalal'); Tafsir Quran yang ditulis oleh Jalaluddin Suyuti dan gurunya Jalaluddin Al-Mahalli)
Al-Itqān fi ‘Ulum Al-Qur’an
Al-Tibb al Nabawi (Arab: الطب النبوي‎, lit. 'Pengobatan Nabi')
Al-Jaami' al-Kabir (Arab: الجامع الكبير‎)
Al-Jaami' al-Saghir (Arab: الجامع الصغير‎)
Dur al-Manthur (Arab: درالمنثور‎) in tafsir
Alfiyyah al-Hadith
Tadrib al-Rawi (Arab: تدريب الراوي‎) both in hadith terminology
History of the Caliphs (Tarikh al-khulafa)
Tabaqat al-huffaz, an appendix to al-Dhahabi's Tadhkirat al-huffaz
Nuzhat al-julasāʼ fī ashʻār al-nisāʼ (Arabic: نزهة الجلساء في أشعار النساء‎), 'an anthology of women's verse'
Al-Khasais-ul-Kubra, which discusses the miracles of Islamic prophet Muhammad


MUKADDIMAH


سم الله الرحمن الرحيم

مقدمة
الحمد لله الذي جعل لكل شئ سببا، وأنزل على عبده كتابا عجبا، فيه من كل شئ حكمة ونبا، والصلاة والسلام على سيدنا محمد أشرف الخليقة عجما وعربا، وأزكاهم حسبا ونسبا، وعلى آله وأصحابه السادة النجبا.

وبعد: فهذا كتاب سميته: لباب النقول في أسباب النزول لخصته من جوامع الحديث والأصول، وحررته من تفاسير أهل النقول، وبالله أسأل النفع به فهو أكرم مسؤول، وأعظم مأمول.

لمعرفة أسباب النزول فوائد واخطأ من قال لا فائدة له لجريانه مجرى التاريخ ومن فوائدة الوقوف على المعنى أو إزالة الأشكال قال الواحدي لا يمكن معرفة تفسير الآية دون الوقوف على قصتها وبيان سبب نزولها وقال أبن دقيق العيد بيان سبب النزول طريق قوي في فهم معاني القرآن وقال ابن تيميه معرفة سبب النزول يعين على فهم الآية فإن العلم بالسبب يورث العلم بالمسبب وقد أشكل على جماعة من السلف معاني آيات حتى وقفوا على أسباب نزولها فزال عنهم الإشكال وقد بسطت أمثلة ذلك في النوع التاسع من كتاب الإتقان في علوم القرآن وذكرت له فوائد أخرى من مباحث وتحقيقات لا يحتملها هذا الكتاب قال الواحدي ولا يحل القول في أسباب نزول الكتاب إلا بالرواية والسماع ممن شاهدوا التنزيل ووقفوا على الأسباب وبحثوا عن علمها وقد قال محمد بن سيرين سألت عبيدة عن آية من القرآن فقال أتق الله وقل سدادا ذهب الذين يعلمون فيم أنزل القرآن وقال غيره معرفة سبب النزول أمر يحصل للصحابة بقرائن تحتف بالقضايا وربما لم يجزم بعضهم فقال

أحسب هذه الآية نزلت في كذا كما قال الزبير في قوله تعالى فلا وربك لا يؤمنون الآية وقال الحاكم في علوم الحديث إذا أخبر الصحابي الذي شهد الوحي والتنزيل عن آية من القرآن أنها نزلت في كذا فإنه حديث مسند ومشى على هذا أبن الصلاح وغيره ومثلوه بما أخرجه مسلم عن جابر قال كانت اليهود تقول من أتى امرأته من دبرها في قبلها جاء الولد أحول فأنزل الله نساؤكم حرث لكم الآية وقال ابن تيميه قولهم نزلت الآية في كذا يراد به تارة أنها سبب النزول ويراد به تارة أن ذلك داخل في الآية وإن لم يكن السبب كما نقول عني بهذه الآية كذا وقد تنازع العلماء في قول الصحابي نزلت هذه الآية في كذا هل يجري مجرى المسند كما لو ذكر السبب الذي أنزلت لأجله أو يجري مجرى التفسير منه الذي ليس بمسند فالبخاري يدخله في المسند وغيره لا يدخله فيه واكثر المسانيد على هذا الاصطلاح كمسند احمد وغيره بخلاف ما إذا ذكر سببا نزلت عقبه فإنهم كلهم يدخلون مثل هذا في المسند انتهى وقال الزركشي في البرهان قد عرف من عادة الصحابة والتابعين أن أحدهم إذا قال نزلت هذه الآية في كذا فإنه يريد بذلك أنها تتضمن هذا الحكم لا أن هذا كان السبب في نزولها فهو من جنس الاستدلال على الحكم بالآية لا من جنس النقل لما وقع قلت والذي يتحرر في سبب النزول أنه ما نزلت الآية أيام وقوعه ليخرج ما ذكره الواحدي في سورة الفيل من أن سببها قصة قدوم الحبشة فإن ذلك ليس من أسباب النزول في شئ بل هو من باب الإخبار عن الوقائع الماضية كذكر قصة قوم نوح وعاد وثمود وبناء البيت ونحو ذلك وكذلك ذكره في قوله واتخذ الله إبراهيم خليلا سبب اتخاذه خليلا فليس ذلك من أسباب نزول القرآن كما لا يخفى

تنبيهات

الأول ما جعلناه من قبيل المسند من الصحابي إذا وقع من تابعي فهو مرفوع أيضا لكنه مرسل فقد يقبل إذا صح السند إليه وكان من أئمة التفسير الآخذين عن الصحابة كمجاهد وعكرمة وسعيد بن جبير أو اعتضد بمرسل آخر ونحو ذلك.

الثاني كثيرا ما يذكر المفسرون لنزول الآية أسبابا متعددة وطريق الاعتماد في ذلك أن تنظر إلى العبارة الواقعة فإن عبر أحدهم بقوله نزلت في كذا والآخر نزلت في كذا وذكر أمرا آخر فقد تقدم أن هذا يراد به التفسير لا ذكر سبب النزول فلا منافاة بين قولهما إذا كان اللفظ يتناولهما كما بينته في كتابي الإتقان وحينئذ فحق مثل هذا أن لا يورد في تصانيف أسباب النزول وانما يذكر في تصانيف أحكام القرآن وإن عبر واحد بقوله نزلت في كذا وصرح الآخر بذكر سبب خلافه فهو المعتمد كما قال ابن عمر في قوله نساؤكم حرث لكم إنها نزلت رخصة في وطء النساء في أدبارهن وصرح جابر بذكر سبب خلافه فاعتمد حديث جابر وان ذكر وأحدا سببا وآخر سببا غيره فقد تكون نزلت عقيب تلك الأسباب كما سيأتي في آية اللعان وقد تكون نزلت مرتين كما سيأتي في آية الروح وفي خواتيم النحل وفي قوله ما كان للنبي والذين آمنوا الآية مما يعتمد في الترجيح النظر إلى الإسناد وكون راوي أحد السببين حاضر القصة أو من الماء التفسير كابن عباس وأبن مسعود وربما كان في أجدى القصتين فتلا فوهم الراوي فقال نزلت كما سيأتي في سورة الزمر

الثالث أشهر كتاب في هذا الفن الآن كتاب الواحدي وكتابي هذا يتميز عليه بأمور أحدها الإختصار ثانيها الجمع الكثير فقد حوى زيادات كثيرة على ما ذكر الواحدي وقد ميزتها بصورة (ك) رمزا عليها ثالثها عزوة كل حديث إلى من خرجه من أصحاب الكتب المعتبرة كالكتب الستة والمستدرك وصحيح إبن حبان وسنن البيهقي والدارقطني ومسانيد أحمد والبزار وأبى يعلي ومعاجم الطبراني وتفاسير أبن جرير وابن آبى حاتم وابن مردويه وأبى الشيخ وابن حبان والفريابي وعبد الرزاق وابن المنذر وغيرهم وأما الواحدي فتارة يورد الحديث بإسناده وفيه مع التطويل عدم العلم بمخرج الحديث فلا شك أن عزوه إلى أحد الكتب المذكورة أولى من عزوه إلى تخريج الواحدي لشهرتها واعتمادها وركون الأنفس إليها وتارة يوزده لا مقطوعا فلا يدري هل له إسناد أو لا رابعها تمييز الصحيح من غيره والمقبول من المردود خامسها الجمع بين الروايات المتعددة سادسها تنحية ما ليس من أسباب النزول

وهذا آخر المقدمة ومن هنا نشرع في المقصود بعون الملك المعبود.


DOWNLOAD TERJEMAH ASBABUN NUZUL IMAM SUYUTHI

- Asbabun Nuzul (1)
- Asbabun Nuzul (2)
- Asbabun Nuzul (3)
- Asbabun Nuzul (4)
- Asbabun Nuzul (5)
- Asbabun Nuzul (6)
- Asbabun Nuzul (7)
- Asbabun Nuzul (8)
- Asbabun Nuzul (9)
- Asbabun Nuzul (10)
- Asbabun Nuzul (11)
- Asbabun Nuzul (12)
- Asbabun Nuzul (13)
- Asbabun Nuzul (14)
- Asbabun Nuzul (15)

DOWNLOAD KITAB ASBABUN NUZUL VERSI ARAB

- Asbabun Nuzul (Arab)

Terjemah Fathul Bari

Terjemah Fathul Bari
Nama kitab: Terjemah Fathul Bari Syarah Sahih Al-Bukhari
Judul asal: Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari (فتح الباري شرح صحيح البخاري)
Penulis: Ibnu Hajar Asqalani
Nama lengkap: Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqolani Abul Fadhal Syihabuddin (أحمد بن علي بن حجر العسقلاني أبو الفضل شهاب الدين)
Penerjemah:
Bidang studi: Syarah hadits

Daftar Isi


PROFIL KITAB FATHUL BARI

Fathul Bari (Arab: فتح الباري‎) atau lengkapnya berjudul "Fath Al-Bari bi Syarhi Shahih Al-Bukhari" adalah Kitab yang dikarang oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Kitab ini sangat masyhur dan telah dijadikan rujukan oleh kaum Muslimin baik dikalangan santri maupun muslim awam, karena merupakan Kitab Penjelasan (Syarah) dari kitab Shahih Bukhari.

Terkait Sahih Bukhori, Dr. M. Muhammad Abu Syuhbah dalam kitabnya Fi Rihabi as-Sunnah al-Kutub al-Shihahi al-Sittah menyatakan: "Belum ada kitab hadits yang mendapat perhatian besar dari umat Islam selain kitab shahih Bukhari. Para ulama memberikan perhatian kepadanya dan mensyarahkan (menjelaskan) semua hadits yang terdapat pada kitab itu, mengistinbatkan hukum darinya, meneliti para perawinya, menjelaskan kata-kata yang sulit dan seterusnya."

Ibnu Hajar Asqalani membutuhkan waktu hingga 25 tahun untuk menyelesaikan Fathul Bari. ia mulai mengerjakannya sejak tahun 817 H ketika itu ia berumur 44 tahun dan diselesaikannya pada bulan Rajab 842 H. Mukadimah kitab ini berjudul Hadyus Sari, mencakup 10 pasal yang digunakan sebagai landasan untuk memahami isi kitab Fathul bari.


PROFIL IBNU HAJAR

Nama: al-Hafiz Abul Fadal Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar al-Asqalani al-Misri.
Tempat/Tanggal Lahir: Kairo, Mesir, 773 H / 18 Februari 1372 M.
Wafat: 852 H/ 2 Februari 1449 M (usia 76 tahun).
Madzhab fikih: Syafi'i
Aqidah: Asy'ariyah
Daftar karya tulis:


Fath al-Bari
al-Isaba fi tamyiz al-Sahaba – the most comprehensive dictionary of the Companions.
al-Durar al-Kamina – a biographical dictionary of leading figures of the eighth century.
Tahdhib al-Tahdhib – an abbreviation of Tahdhib al-Kamal, the encyclopedia of hadith narrators by Yusuf ibn Abd al-Rahman al-Mizzi
Taqrib al-Tahdhib – the abridgement of Tahthib al-Tahthib.
Ta'jil al-Manfa'ah – biographies of the narrators of the Musnads of the four Imams, not found in al-Tahthib.
Bulugh al-Maram min adillat al-ahkam – on hadith used in Shafi'i fiqh.
Nata'ij al-Afkar fi Takhrij Ahadith al-Adhkar
Lisan al-Mizan – a reworking of Mizan al-'Itidal by al-Dhahabi.
Talkhis al-Habir fi Takhrij al-Rafi`i al-Kabir
al-Diraya fi Takhrij Ahadith al-Hidaya
Taghliq al-Ta`liq `ala Sahih al-Bukhari
Risala Tadhkirat al-Athar
al-Matalib al-`Aliya bi Zawa'id al-Masanid al-Thamaniya
Nukhbat al-Fikar along with his explanation of it entitled Nuzhah al-Nathr in hadith terminology
al-Nukat ala Kitab ibn al-Salah – commentary of the Muqaddimah of Ibn al-Salah
al-Qawl al-Musaddad fi Musnad Ahmad a discussion of hadith of disputed authenticity in the Musnad of Ahmad
Silsilat al-Dhahab
Ta`rif Ahl al-Taqdis bi Maratib al-Mawsufin bi al-Tadlis


MUKADDIMAH

مُقَدّمَة

قَالَ الشَّيْخ الإِمَام الْعَالم الْعَلامَة الرباني حجَّة الْإِسْلَام رحْلَة الطالبين عُمْدَة الْمُحدثين زين الْمجَالِس فريد عصره ووحيد دهره محيي السّنة الغراء قامع أهل الْبدع والاهواء الشهَاب الثاقب أَبُو الْفضل أَحْمد بن عَليّ بن مُحَمَّد بن مُحَمَّد بن عَليّ الْعَسْقَلَانِي الشهير بِابْن حجر اثابه الله الْجنَّة بمنه وَكَرمه أَمِين

الْحَمد لله الَّذِي شرح صُدُور أهل الْإِسْلَام للسّنة فانقادت لاتباعها وارتاحت لسماعها وامات نفوس أهل الطغيان بالبدعة بعد أَن تمادت فِي نزاعها وتغالت فِي ابتداعها وَأشْهد أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْعَالم بانقياد الافئدة وامتناعها المطلع على ضمائر الْقُلُوب فِي حالتي افتراقها واجتماعها وَأشْهد أَن مُحَمَّدًا عَبده وَرَسُوله الَّذِي انخفضت بِحقِّهِ كلمة الْبَاطِل بعد ارتفاعها واتصلت بإرساله أنوار الْهدى وَظَهَرت حجتها بعد انقطاعها صلى الله عَلَيْهِ وَسلم مَا دَامَت السَّمَاء وَالْأَرْض هَذِه فِي سَموهَا وَهَذِه فِي اتساعها وعَلى آله وَصَحبه الَّذين كسروا جيوش المردة وفتحوا حصون قلاعها وهجروا فِي محبَّة داعيهم إِلَى الله الاوطار والاوطان وَلم يعاودوها بعد وداعها وحفظوا على أتباعهم اقواله وافعاله واحواله حَتَّى أمنت بهم السّنَن الشَّرِيفَة من ضياعها أما بعد

فَإِن أولى مَا صرفت فِيهِ نفائس الْأَيَّام وَأَعْلَى مَا خص بمزيد الاهتمام الِاشْتِغَال بالعلوم الشَّرْعِيَّة المتلقاة عَن خير الْبَريَّة وَلَا يرتاب عَاقل فِي أَن مدارها على كتاب الله المقتفى وَسنة نبيه الْمُصْطَفى وَأَن بَاقِي الْعُلُوم أما الات لفهمهما وَهِي الضَّالة الْمَطْلُوبَة أَو أَجْنَبِيَّة عَنْهُمَا وَهِي الضارة المغلوبة وَقد رَأَيْت الإِمَام أَبَا عبد الله البُخَارِيّ فِي جَامعه الصَّحِيح قد تصدى للاقتباس من انوارهما البهية تقريرا واستنباطا وكرع من مناهلهما الروية انتزاعا وانتشاطا ورزق بِحسن نِيَّته السَّعَادَة فِيمَا جمع حَتَّى اذعن لَهُ الْمُخَالف والموافق وتلقى كَلَامه فِي التَّصْحِيح بِالتَّسْلِيمِ المطاوع والمفارق وَقد استخرت الله تَعَالَى فِي أَن أضم إِلَيْهِ نبذا شارحة لفوائده مُوضحَة لمقاصده كاشفة عَن مغزاه فِي تَقْيِيد اوابده واقتناص شوارده وأقدم بَين يَدي ذَلِك كُله مُقَدّمَة فِي تَبْيِين قَوَاعِده وتزيين فرائده جَامِعَة وجيزة دون الاسهاب وَفَوق الْقُصُور سهلة المأخذ تفتح المستغلق وتذلل الصعاب وتشرح الصُّدُور وينحصر القَوْل فِيهَا إِن شَاءَ الله تَعَالَى فِي عشرَة فُصُول

الأول فِي بَيَان السَّبَب الْبَاعِث لَهُ على تصنيف هَذَا الْكتاب

الثَّانِي فِي بَيَان مَوْضُوعه والكشف عَن مغزاه فِيهِ وَالْكَلَام على تَحْقِيق شُرُوطه وَتَقْرِير كَونه من أصح الْكتب المصنفة فِي الحَدِيث النَّبَوِيّ ويلتحق بِهِ الْكَلَام على تراجمه البديعة المنال المنيعة الْمِثَال الَّتِي انْفَرد بتدقيقه فِيهَا عَن نظرائه واشتهر بتحقيقه لَهَا عَن قرنائه

الثَّالِث فِي بَيَان الْحِكْمَة فِي تقطيعه للْحَدِيث واختصاره وَفَائِدَة اعادته للْحَدِيث وتكراره

الرَّابِع فِي بَيَان السَّبَب فِي إِيرَاده الْأَحَادِيث الْمُعَلقَة والْآثَار الْمَوْقُوفَة مَعَ أَنَّهَا تبَاين أصل مَوْضُوع الْكتاب والحقت فِيهِ سِيَاق الْأَحَادِيث المرفوعة الْمُعَلقَة وَالْإِشَارَة لمن وَصلهَا على سَبِيل الِاخْتِصَار

الْخَامِس فِي ضبط الْغَرِيب الْوَاقِع فِي متونه مُرَتبا لَهُ على حُرُوف المعجم بألخص عبارَة وأخلص إِشَارَة لتسهل مُرَاجعَته ويخف تكراره

السَّادِس فِي ضبط الْأَسْمَاء المشكلة الَّتِي فِيهِ وَكَذَا الكنى والأنساب وَهِي على قسمَيْنِ الأول المؤتلفة والمختلفة الْوَاقِعَة فِيهِ حَيْثُ تدخل تَحت ضَابِط كلى لتسهل مراجعتها ويخف تكرارها وَمَا عدا ذَلِك فيذكر فِي الأَصْل وَالثَّانِي الْمُفْردَات من ذَلِك

السَّابِع فِي تَعْرِيف شُيُوخه الَّذين اهمل نسبهم إِذا كَانَت يكثر اشتراكها كمحمد لَا من يقل اشتراكه كمسدد وَفِيه الْكَلَام على جَمِيع مَا فِيهِ من مهمل ومبهم على سِيَاق الْكتاب مُخْتَصرا

الثَّامِن فِي سِيَاق الْأَحَادِيث الَّتِي انتقدها عَلَيْهِ حَافظ عصره أَبُو الْحسن الدَّارَقُطْنِيّ وَغَيره من النقاد وَالْجَوَاب عَنْهَا حَدِيثا حَدِيثا وإيضاح أَنه لَيْسَ فِيهَا مَا يخل بِشَرْطِهِ الَّذِي حققناه

التَّاسِع فِي سِيَاق أَسمَاء جَمِيع من طعن فِيهِ من رِجَاله على تَرْتِيب الْحُرُوف وَالْجَوَاب عَن ذَلِك الطعْن بطرِيق الْإِنْصَاف وَالْعدْل والاعتذار عَن المُصَنّف فِي التَّخْرِيج لبَعْضهِم مِمَّن يُقَوي جَانب الْقدح فِيهِ أما لكَونه تجنب مَا طعن فِيهِ بِسَبَبِهِ وَأما لكَونه اخْرُج مَا وَافقه عَلَيْهِ من هُوَ أقوى مِنْهُ وَأما لغير ذَلِك من الْأَسْبَاب

الْعَاشِر فِي سِيَاق فهرسة كِتَابه الْمَذْكُور بَابا بَابا وعدة مَا فِي كل بَاب من الحَدِيث وَمِنْه تظهر عدَّة أَحَادِيثه بالمكرر اوردته تبعا لشيخ الْإِسْلَام أبي زَكَرِيَّا النَّوَوِيّ رَضِي الله عَنهُ تبركا بِهِ ثمَّ أضفت إِلَيْهِ مُنَاسبَة ذَلِك مِمَّا استفدته من شيخ الْإِسْلَام أبي حَفْص البُلْقِينِيّ رَضِي الله عَنهُ ثمَّ اردفته بسياق أَسمَاء الصَّحَابَة الَّذين اشْتَمَل عَلَيْهِم كِتَابه مُرَتبا لَهُم على الْحُرُوف وعد مَا لكل وَاحِد مِنْهُم عِنْده من الحَدِيث وَمِنْه يظْهر تَحْرِير مَا اشْتَمَل عَلَيْهِ كِتَابه من غير تَكْرِير ثمَّ ختمت هَذِه الْمُقدمَة بترجمة كاشفة عَن خَصَائِصه ومناقبه جَامِعَة لمآثره ومناقبه ليَكُون ذكره وَاسِطَة عقد نظامها وسرة مسك ختامها

فَإِذا تحررت هَذِه الْفُصُول وتقررت هَذِه الْأُصُول افتتحت شرح الْكتاب مستعينا بالفتاح الْوَهَّاب فأسوق إِن شَاءَ الله الْبَاب وَحَدِيثه أَولا ثمَّ أذكر وَجه الْمُنَاسبَة بَينهمَا أَن كَانَت خُفْيَة ثمَّ أستخرج ثَانِيًا مَا يتَعَلَّق بِهِ غَرَض صَحِيح فِي ذَلِك الحَدِيث من الْفَوَائِد المتنية والاسنادية من تتمات وزيادات وكشف غامض وتصريح مُدَلّس بِسَمَاع ومتابعة سامع من شيخ اخْتَلَط قبل ذَلِك منتزعا كل ذَلِك من أُمَّهَات المسانيد والجوامع والمستخرجات والأجزاء والفوائد بِشَرْط الصِّحَّة أَو الْحسن فِيمَا أوردهُ من ذَلِك وثالثا أصل مَا انْقَطع من معلقاته وموقوفاته وَهُنَاكَ تلتئم زَوَائِد الْفَوَائِد وتنتظم شوارد الفرائد ورابعا أضبط مَا يشكل من جَمِيع مَا تقدم أَسمَاء وأوصافا مَعَ إِيضَاح مَعَاني الْأَلْفَاظ اللُّغَوِيَّة والتنبيه على النكت البيانية وَنَحْو ذَلِك وخامسا أورد مَا استفدته من كَلَام الْأَئِمَّة مِمَّا استنبطوه من ذَلِك الْخَبَر من الْأَحْكَام الْفِقْهِيَّة والمواعظ الزهدية والآداب المرعية مُقْتَصرا على الرَّاجِح من ذَلِك متحريا للواضح دون المستغلق فِي تِلْكَ المسالك مَعَ الاعتناء بِالْجمعِ بَين مَا ظَاهره التَّعَارُض مَعَ غَيره

والتنصيص على الْمَنْسُوخ بناسخة وَالْعَام بمخصصه وَالْمُطلق بمقيده والمجمل بمبينه وَالظَّاهِر بمؤوله وَالْإِشَارَة إِلَى نكت من الْقَوَاعِد الاصولية ونبذ من فَوَائِد الْعَرَبيَّة ونخب من الخلافيات المذهبية بِحَسب مَا اتَّصل بِي من كَلَام الْأَئِمَّة واتسع لَهُ فهمي من الْمَقَاصِد المهمة واراعى هَذَا الاسلوب إِن شَاءَ الله تَعَالَى فِي كل بَاب فَإِن تكَرر الْمَتْن فِي بَاب بِعَيْنِه غير بَاب تقدم نبهت على حِكْمَة التّكْرَار من غير إِعَادَة لَهُ الا أَن يتغاير لَفظه أَو مَعْنَاهُ فأنبه على الْموضع المغاير خَاصَّة فَإِن تكَرر فِي بَاب آخر اقتصرت فِيمَا بعد الأول على الْمُنَاسبَة شارحا لما لم يتَقَدَّم لَهُ ذكر منبها على الْموضع الَّذِي تقدم بسط القَوْل فِيهِ فَإِن كَانَت الدّلَالَة لَا تظهر فِي الْبَاب الْمُقدم إِلَّا على بعد غيرت هَذَا الِاصْطِلَاح بالاقتصار فِي الأول على الْمُنَاسبَة وَفِي الثَّانِي على سِيَاق الاساليب المتعاقبة مراعيا فِي جَمِيعهَا مصلحَة الِاخْتِصَار دون الهذر والاكثار وَالله أسأَل أَن يمن على بالعون على اكماله بكرمه وَمِنْه وَأَن يهديني لما اخْتلف فِيهِ من الْحق بِإِذْنِهِ وَأَن يجزل لي على الِاشْتِغَال باثار نبيه الثَّوَاب فِي الدَّار الْأُخْرَى وَأَن يسبغ على وعَلى من طالعه أَو قَرَأَهُ أَو كتبه النعم الوافرة تترى أَنه سميع مُجيب

DOWNLOAD TERJEMAH FATHUL BARI

Format file: (a) Jilid 1, 2 dan 3 format PDF; (b) Jilid 4, 5, 6, 7, dan 8 format DJVU.

- Fathul Bari Jilid 1
- Fathul Bari Jilid 2
- Fathul Bari Jilid 3
- Fathul Bari Jilid 4
- Fathul Bari Jilid 5
- Fathul Bari Jilid 6
- Fathul Bari Jilid 7
- Fathul Bari Jilid 8


DOWNLOAD KITAB FATHUL BARI VERSI ARAB



- Fathul Bari Jilid 0
- Fathul Bari Jilid 1a
- Fathul Bari Jilid 1b
- Fathul Bari Jilid 2
- Fathul Bari Jilid 3
- Fathul Bari Jilid 4
- Fathul Bari Jilid 5
- Fathul Bari Jilid 6
- Fathul Bari Jilid 7
- Fathul Bari Jilid 8
- Fathul Bari Jilid 9
- Fathul Bari Jilid 10
- Fathul Bari Jilid 11
- Fathul Bari Jilid 12
- Fathul Bari Jilid 13

10/28/2018

Sifat Wajib bagi Rasul

Sifat Wajib bagi Rasul
Sifat yang wajib bagi Rasul ada empat yaitu shidiq (jujur), amanah, tabligh (menyampaikan) dan fatonah (cerdas). Adapun sifat jaiz bagi Rasul adalah karakter manusiawi.

Nama kitab: Terjemah Matan Kitab Tijan Darari / Tiijaan Al Daraari (Hasyiyah Al-Bajuriyah)
Judul asal: تيجان الدراري في التوحيد (Tijan Ad-Darari fit Tauhid)
Penulis: Ibrahim Al-Bajuri (1189 - 1276 H)
Penerjemah:
Bidang studi: Ilmu Tauhid Ahlussunnah Wal Jamaah (Asy'ariyah)
Download:
- Terjemah Kitab Matan Tijan Ad-Darari
- Syarah Tijan Ad-Darari oleh Syekh Nawawi Banten

Daftar Isi

SIFAT WAJIB BAGU RASUL

وَيَجِبُ فِى حَقِّ الرُّسُلِ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الصِّدْقُ وَضِدُّهُ الْكِذْبُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّـهُمْ لَوْ كَذَبُوا لَكَانَ خَبَرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالى كَاذِبًـاوَهُوَ مُحَالٌ.

وَيَجِبُ فِى حَقِّهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الأَمَانَـةُ وَضِدُّهَـا الْخِيَانَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ خَانُوا بِفِعْلٍ مَحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوهٍ لَكُـنَّا مَأْمُرِيْنَ بِمِثْلِ ذلِكَ وَلاَ يَصِحُ أَنْ نُؤْمَرَ بِمُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ.

وَيَجِبُ فِى حَقِّهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ تَبْلِيْغُ مَا أُمِرُوْا بِتَبْلِـيْغِهِ لِلْخَلْقِ وَضِدُّهُ كِتْمَانُ ذلِكَ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَتَمُوْا شَيْأً أُمِرُوْا بِتَبْلِـيْغِهِ لَكُـنَّا مَأْمُرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ وَلاَ يَصِحُ أَنْ نُؤْمَرَ بِهِ لأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ.

وَيَجِبُ فِى حَقِّهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الْفَطَانَـةُ وَضِدُّهَا الْبَلاَدَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَو انْتَفَتْ عَنْهُمْ الْفَطَانَةُ لَمَا قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّـةً عَلى الخَصْمِ وَهُوَ مُحَالٌ لأَنَّ الْقُرْأنَ دَلَّ فِى مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَى اِقَامَتِهِمْ الْحُجَّةَ عَلى الْخَصْمِ

وَالْجَائِزُ فِى حَقِّهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِى لاَ نُؤْدِى اِلى نَقْصٍ فِى مَرَاتِبِهِمْ الْعَلِيَةِ كَالْمَرَضِ وَنَحْوِهِ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ مُشَاهَدَتُهَـا بِهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ .

SHIDIQ (JUJUR DAN BENAR)

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat ash-Shiddīq (Benar atau Jujur). Kebalikannya adalah sifat al-Kidzbu(Berbohong). Dalil bahwa para rasul memiliki sifat ash-Shidqu adalah seandainya para rasul berbohong niscaya berita/khabar dari Allah s.w.t. adalah suatu hal yang tidak benar/bohong. Dan hal itu tidak dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).

AMANAH (DAPAT DIPERCAYA)

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Amānah (dapat dipercaya/terpercaya). Kebalikannya adalah sifat al-Khiayānat(Berkhianat/tidak dapat dipercaya). Dalil bahwa para rasul memiliki sifat al-Amānah adalah seandainya pula rasul berkhianat dengan berbuat hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan niscaya kita semua diperintahkan dengan hal yang serupa. Dan tidak benar jika kita diperintah untuk melakukan hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan.

TABLIGH

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat Tablīghu Mā Umirū bi Tablīghihi(Menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan). Kebalikannya adalah sifat Kitmān (Menyembunyikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan) Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Tablīghu Mā Umiru bi Tablīghihi adalah seandainya para rasul menyembunyikan suatu hal yang diperintahkan untuk disampaikan, niscaya kita diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu. Dan tidak benar jika kita diperintah untuk itu. Karena sesungguhnya orang yang menyembunyikan ilmu itu dilaknat.

FATHONAH

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Fathanah (Cerdas/Pandai). Dalil bahwa para rasul memiliki kecerdasan niscaya mereka tidak akan mampu untuk berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya. Dan hal itu tidak dapat diterima akal. Karena al-Qur’ān telah menunjukkan dalam banyak tempat atas kemampuan para rasul berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya.

SIFAT JAIZ RASUL

Boleh bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-A‘rādh-ul-Basyariyyah (sifat Manusiawi) yang tidak sampai mendatangkan pada rendahnya martabat mereka yang luhur, seperti sakit dan semisalnya. Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Manusiawi (al-A‘rādh-ul-Basyariyyah) adalah kenyataan yang dapat disaksikan pada diri para rasul ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām.

PENUTUP

خَاتِمَةٌ

يَجِبُ عَلى الشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ نَسَبَهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ وَ مِنْ جِهَّةِ أُمِّهِ فَأَمَّـا نَسَـبُهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بِنِ هَاشِمِ بِنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَى بِنِ كِلاَبِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَى بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مِالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ اِلْيَاسَ بِنِ مُضْرِ بْنِ نِزَارِ بْنِ مُعَدِ بْنِ عَدْنَانَ وَلَيْسَ فِيْمَا بَعْدَهُ اِلى آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلاِةُ وَالسَّلاَمُ طَرِيْقٌ صَحِيْحٌ فِيْمَا يُنْقَلُ.

وَأَمَّـا نَسَـبُهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ اُمِّهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلاَبِ فَتَجْتَمِعُ مَعَهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى جَدِّهِ كِلاَبٌ

SILSILAH NASAB RASULULLAH

Wajib bagi semua orang untuk mengetahui silsilah Nabi s.a.w., baik dari pihak ayah Beliau maupun dari pihak ibu Beliau.

Adapun silsilah Nabi s.a.w., dari jalur ayah beliau adalah, baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah putra ‘Abdullāh putranya ‘Abd-ul-Muththalib putranya Hāsyim putranya ‘Abdu Manāf putranya Qushay putranya Kilāb putranya Murrah putranya Ka‘b putranya Lu’ay putranya Ghālib putranya Fihr putranya Mālik putranya Nadhar putranya Kinānah purtranya Khuzaimah putranya Mudrikah putranya Ilyās putranya Mudhar putranya Nizār putranya Ma‘add putranya ‘Adnān. Dan – sampai Sayyid ‘Adnān ini – tidak ada silsilah yang Shaḥīḥ hingga Nabi ‘Ādam a.s.

Adapun silsilah Nabi s.a.w., dari jalur ibunya adalah, Baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah putra Āminah putrinya Wahb putranya ‘Abdu Manāf putranya Zuhrah putranya Kilāb. Maka bertemulah Sayyidah Āminah beserta Nabi s.a.w., pada kakeknya, yakni Sayyid Kilāb.

KEKHUSUSAN NABI


وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًـا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ لَهُ حَوْضًـا.

وَأَنَّهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْفَعُ فِى فَصْلِ الْقَضَاءِ وَهَذِهِ الشَّفَاعَةُ مُخْتَصَةٌ بِهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًـا أَنْ يَعْرِفَ الْرُّسُلَ الْمَذْكُورَةَ فِى الْقُرْأنِ تَفْصِيْلاً وَأَمَّا غَيْرُهُمْ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَهُمْ اِجْمَالاً

وَقَدْ نَظَّمَ بَعْضُهُمْ الأَنْبِيآء اَلَّتِى تَجِبُ مَعْرِفَتَهُمْ تَفْصِيْلاً, فَقَالَ :

حَتْمٌ عَلى كُلِّ ذِي التَّكْلِيْفِ مَعْرِفَةٌ *** بِأَنْبِيَآءَ عَلى التَّفْصِيْلِ قَدْ عُلِمُـوْا
فِى تِلْكَ حَجَتُنَا مِنْهُمْ ثَمَــانِيَةٌ *** مِنْ بَعْـدِ عَشْرٍ وَيَبْقى سَبْعَةٌ وَهُمْ
اِدْرِيْسٌ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحٌ وَكَذَا *** ذُو الْكِفْلِ آدَمٌ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خَتَمُوْا
Dan dari sebagian perkara yang wajib untuk diketahui adalah sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w., memiliki Ḥaudh(danau di surga).

Dan sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w. akan memberi syafaat ketika dalam Fashl-ul-Qadhā’ (pemutusan hukum untuk seluruh makhluk), dan Syafā‘ah ini dikhususkan kepada Nabi Muḥammad s.a.w.

Dan yang wajib untuk diketahui juga adalah nama para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān secara rinci, adapun selain para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān, maka wajib mengetahuinya secara global saja.

Dan sebagian ulama telah menazhamkan nama para Nabi yang wajib diketahui secara rinci, mereka berkata:

Wajib bagi setiap Mukallaf mengetahui,
Nama para Nabi secara terperinci yang telah diketahui.

Di situlah hujjah kita. Sebagian mereka ada delapan,
Setelah sepuluh (8+10=18) dan sisanya ada tujuh yakni.

Nabi Idrīs, Hūd, Syu‘aib, Shāliḥ, begitu juga,
Nabi Zulkifli, Ādam dengan Nabi yang terpilihlah (Nabi Muḥammad) para Nabi diakhiri.

ERA TERBAIK SETELAH ZAMAN NABI

وَمِمَّا يَجِبُ اِعْتِقَادُهُ أَيْضًـا أَنَّ قَرَنَهُ أَفْضَلُ الْقُرُونِ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِي بَعْدَهُ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِي بَعْدَهُ

وَيَنْبَغِى لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ أَوْلاَدَهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ عَلى الصَّحِيْحِ سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ وَسَيِّدَتُنَا زَيْنَبُ وَسَيِّدَتُنَا رُقَيَّةُ وَسَيِّدَتُنَا فَاطِمَةُ وَسَيِّدَتُنَا اُمُّ كُلْثُومٍ وَسَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ وَهُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَالطَّاهِرِ وَسَيِّدُنَا اِبْرَاهِيْمُ وَكُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرى اِلاَّ اِبْرَاهِيْمَ فَمِنْ مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةِ.

وَهَذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan sebagian yang wajib diyakini lagi adalah, bahwa sesungguhnya masa/era Rasūlullāh s.a.w., adalah masa yang terbaik, lantas masa sesudahnya (Shahabat Nabi) kemudian masa sesudahnya lagi (Tābi‘īn).

Dan seyogyanya bagi seseorang untuk mengetahui putra seseorang untuk mengetahui putra-putri Nabi Muḥammad s.a.w. Dan jumlah mereka berdasarkan riwayat yang Shaḥīḥ adalah Sayyid Qāsim, Sayyidah Zainab, Sayyidah Ruqayyah, Sayyidah Fāthimah, Sayyidah Ummi Kultsūm, Sayyid ‘Abdullāh yang dijuluki ath-Thayyib dan ath-Thāhir, Sayyid Ibrāhīm. Dan mereka semuanya dari Ibu Sayyidah Khadījah al-Kubrā kecuali Sayyid Ibrāhīm dari Ibu Māriyyah al-Qibthiyyah.

Ini akhir dari sesuatu yang telah dimudahkan oleh Allah s.w.t., dari sifat Kedermawanan-Nya dan Kemuliaan-Nya.

Segala puji hanya milik Allah s.w.t., Tuhan semesta alam. Shalawat kepada Baginda kita Muḥammad s.a.w., dan juga kepada keluarganya dan para Shahabatnya.

**SELESAI**

Terjemah Tauhid Hasyiyah Al-Bajuri

Terjemah Tauhid Hasyiyah Al-Bajuri
Nama kitab: Terjemah Hasyiyah Al-Bajuriyah Matan Kitab Tijan Darari / Tiijaan Al Daraari
Judul asal: تيجان الدراري في التوحيد (Tijan Ad-Darari fit Tauhid)
Penulis: Ibrahim Al-Bajuri (1189 - 1276 H)
Penerjemah:
Bidang studi: Ilmu Tauhid Ahlussunnah Wal Jamaah (Asy'ariyah)
Download:
- Terjemah Kitab Matan Tijan Ad-Darari
- Syarah Tijan Ad-Darari oleh Syekh Nawawi Banten

Daftar Isi

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْقُدْرَةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى يُوجَدُ بِهَا وَيُعَدِّمُ وَضِدُّهَا الْعَجْزُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوجَـدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ .

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلإِرَادَةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى يُخَصِّصُ بِهَـا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُودِ أَوْ بِالْعَدَمِ أَوْ بِالْغَـنِيِّ أَوْ بِالْفَقْـرِ أَوْ بِالْعِـلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ اِلى غَيْرِ ذلِكَ وَضِدُّهَـا الْكَرَاهَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارَهًا لَكَانَ عَاجِزًا وَ كَوْنُـهُ عَاجِزًا مُحَالٌ.

QUDRAT

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa). Sifat Qudrahadalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mewujudkan dan meniadakan sesuatu. Kebalikannya adalah sifat al-‘Ajz (lemah). Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat Maha Berkuasa adalah: seandainya Allah lemah, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari makhluq-Nya.

IRADAT

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Irādah (Maha Berkehendak). Sifat Irādah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah menentukan hal yang mungkin menjadi wujud atau tidak wujud atau kaya atau miskin atau mengerti atau bodoh dan seterusnya. Kebalikannya adalah sifat al-Karāhah(terpaksa). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Berkehendak adalah: Seandainya Allah terpaksa, maka tentunya Allah bersifat lemah. Dan adanya Allah bersifat lemah adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى الْعِـلْمُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى يَعْلَمُ بِهَـا الأَشْيَـاءَ وَضِدُّهَـا الْجَهْلُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلاً لَمْ يَكُنْ مُرِيْـدًا وَهُوَ مُحَالٌ.

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى الْحَيـاةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى تَصُحِّحُ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَغَيْرِهِ مِنَ الصِّفَـاتِ وَضِدُّهَـا الْمَوْتُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيْـتًا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا وَلاَ مُرِيْدًا وَلاَ عَالِمًـا وَهُوَ مُحَالٌ.

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى السَّمِيْـعُ وَالْبَصِيْرُ وَهُمَا صِفَتَانِ قَدِيْمَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالى يَنْكَشِفُ بِهِمَا الْمَوْجُودُ وَضِدُّهَمَا الصَّمَمُ والْعُمْيُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالى وَهُوَ السَّمِيْعُ وَالبَصِيْرُ.

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى الْكَلاَمُ وَهُوَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى وَلَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَلاَ صَوْتٍ وَضِدُّهَـا الْبُكْمُ وَهُوَ الْخَرْسُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ قَوْلُهُ وَكَلَّمَ اللهُ مَوسى تَكْلِيْمًـا.

ILMU

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui). Sifat al-‘ilmu adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mengetahui semua hal. Kebalikannya adalah sifat al-Jahl (bodoh). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah: seandainya Allah memiliki sifat bodoh, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkehendak. Dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

HAYAT

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Ḥayāh (Maha Hidup). Sifat al-Ḥayāhadalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut dapat membenarkan bahwa Allah memiliki sifat ‘Ilmu dan sifat-sifat lainnya. Kebalikannya adalah sifat al-Maut (Mati). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Hidup adalah: Seandainya Allah mati, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak, dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

SAMA' DAN BASHAR

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat as-Sama‘ (Maha Mendengar) dan al-Bashar (Maha Melihat). Keduanya adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan keduanya menjadi terbukalah hal yang wujud. Kebalikannya adalah sifat as-Shamam(Tuli) dan al-‘Amā (Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat adalah firman Allah s.w.t.:

(وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ)
Dialah Allah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (asy-Syūrā, ayat 11).

KALAM

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Kalām (Maha Berfirman). Sifat Kalām adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. dan tidak berwujud huruf dan tidak berwujud suara. Kebalikannya adalah sifat al-Bukmu yaitu al-Kharas (Bisu). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah firman Allah s.w.t.:

(وَ كَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا)
Dan Allah telah berfirman kepada Mūsā dengan Firman yang Nyata (An-Nisā’, ayat 164).


وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ قَادِرًا وَضِدُّهُ كَوْنُـهُ عَاجِزًا وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الْقُدْرَةِ.

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ مُرِيْدًا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ كَارِهًـا وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الإِرَادَةِ.

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ عَالِمًـا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ جَاهِلاً وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الْعِلْـمِ

. وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ حَيًّـا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ مَيتًـا وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الْحَيَـاةِ.

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ سَمِيْعًـا بَصِيْرًا وَضِدُّهُمَا كَوْنُهُ أَصَمُّ وَكَوْنُهُ أَعْمى وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ السَّمْعِ وَ دَلِيْلُ الْبَصَرِ.

وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ مُتَكَلِّمًـا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ أَبْكَمَ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الْكَلاَمِ.

QADIRAN

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Qādiran (adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ājizan(adanya Allah Dzat yang lemah).Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa adalah sebagaimana dalilnya sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa).

MURIDAN

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Murīdan (adanya Allah Dzat yang Maha Berkehendak). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Kārihan (adanya Allah Dzat yang terpaksa).Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Berkehendak adalah dalil sifat al-Irādah(Maha Berkehendak).

ALIMAN

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu ‘Āliman (adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Jāhilan (adanya Allah Dzat yang Bodoh). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui adalah dalil sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui).

HAYYAN

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Ḥayyan (adanya Allah Dzat yang Maha Hidup). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Mayyitan (adanya Allah Dzat yang Mati). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat yang Maha Hidup adalah dalil sifat al-Ḥayyāh(Maha Hidup).

SAMI'AN DAN BASHIRAN

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Samī‘an (adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar) dan Kaunuhu Bashīran(adanya Allah Dzat yang Maha Melihat). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ashamma (adanya Allah Dzat yang Tuli) adan Kaunuhu A‘mā (adanya Allah Dzat yang Maha Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar dan adanya Allah Dzat yang Maha Melihat adalah dalil sifat as-Sama‘ dan dalil sifat al-Bashar (Maha Mendengar dan Maha Melihat).

MUTAKALLIMAN

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Mutakalliman (adanya Allah Dzat yang Maha Berfirman). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Abkama (adanya Allah Dzat yang Bisu). Dalil bahwa Allah memiliki sifat adanya Allah s.w.t. Dzat yang Maha Berfirman adalah dalil sifat al-Kalām (Maha Berfirman).

SIFAT JAIZ BAGI ALLAH

وَالْجَـائِزُ فِى حَقِّهِ تَعَالى فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْتَرْكُهُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ وَجَبَ عَلَيْهَ سُبْحَانَ اللهُ وَتَعَالى فِعْلُ شَيْءٍ أَوْ تَرْكُهُ لَصَارَ الْجَائِزُ وَاجِبًـا أَوْ مُسْتَحِيْلاً وَهُوَ مُحِالٌ.
Boleh bagi ḥaqqnya Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau meninggalkannya. Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau meninggalkannya adalah seandainya Allah berkewajiban untuk mengerjakan sesuatu atau berkewajiban untuk meninggalkannya niscaya sifat Jā’iztersebut menjadi Wājib atau Mustaḥīl. Dan hal itu adalah hal yang tidak dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).[www.alkhoirot.org]