1/26/2020

Hukum Wajib Haram Sunnah Makruh Mubah

Hukum Wajib Haram Sunnah Mubah
Nama buku: Terjemah kitab Minhajut Thalibin
Nama kitab asal: Minhajut Thalibin wa Umdat Al-Muftin fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi'i atau Minhaaj Al-Thalibin (منهاج الطالبين وعمدة المفتين في فقه مذهب الإمام الشافعي)
Pengarang: Imam Nawawi
Nama lengkap: Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi
Nama lengkap dalam bahasa Arab: أبو زكريا يحيى بن شرف الحزامي النووي الشافعي
Lahir: Oktober 1233 M/ Muharam 631 H, Nawa, Syria.
Wafat: 21 December 1277 M/ 24 Rajab 676 H, Nawa, Syria.
Makam: Daraa, Syria
Penerjemah:
Bidang studi: Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

HUKUM-HUKUM

WAJIB :

Yang diberi pahala jika dikerjakan dan akan disiksa jika ditinggalkan, misalnya : melaksanakan sholat lima waktu,
puasa bulan Ramadhan dll.

MANDUB :

Yang diberi pahala jika dikerjakan dan tidak akan disiksa jika ditinggalkan, misalnya : melaksanakan sholat sunnah
Tahiyyatul Masjid dll.

HARAM :

Yang diberi pahala jika ditinggalkan dan akan disiksa jika dikerjakan, misalnya : Riba, melakukan perbuatan yang
merusak dll

MAKRUH :

Yang diberi pahala jika ditinggalkan dan tidak akan disiksa jika dikerjakan, misalnya : mendahulukan mencuci yang sebelah kiri daripada yang sebelah kanan ketika berwudhu dll

MUBAH :

Yang tidak diberi pahala jika dikerjakan dan juga tidak akan disiksa jika ditinggalkan, misalnya : tidur disiang hari dll

SHOHIH :

Jika Rukun dan Syarat-nya terpenuhi

BATHIL :

Jika Rukun dan Syarat-nya tidak terpenuhi

RUKUN :

Yang menentukan sahnya sesuatu (amal perbuatan) dan termasuk bagian dari sesuatu itu, misalnya : mencuci muka ketika wudhu, Takbiratul Ihram ketika sholat dll.

SYARAT :

Yang menentukan sahnya sesuatu (amal perbuatan) namun bukan termasuk bagian dari sesuatu itu, misalnya : untuk sahnya wudhu diperlukan air muthlak (yang suci mensucikan) dan untuk sahnya sholat diharuskan menutup „aurat

RUKHSOH :

Hukum yang berubah dari yang sulit menjadi mudah, diiringi dengan adanya sebab hukum asal, misalnya : diperbolehkan berbuka puasa bagi musafir jika puasa itu menyebabkan kesulitan/kepayahan bagi musafir, dan diperbolehkan memakan bangkai bagi orang-orang yang berada dalam keadaan dharurat, dll

‘AZIMAH :

Hukum asal, misalnya : Wajibnya sholat lima waktu, bangkai itu haram bagi yang tidak dalam keadaan dharurat, dll.

BEBERAPA PEMBAHASAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN USHUL FIQH

PEMBAHASAN KE-1: Menerangkan tentang AMAR

AMAR adalah permintaan melakukan suatu pekerjaan dari yang lebih tinggi derajatnya kepada yang lebih rendah derajatnya. Dalam AMR terdapat beberapa kaidah yaitu :

1.

الأصل في الأمر للوجوب الا ما دل الدليل علي خلافه
“Asal dalam perintah itu hukumnya wajib kecuali terdapat dalil yang menjelaskan tentang perbedaannya” seperti firman Allah Swt :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

" Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat !" (QS. an-Nisa : 77)

2.

ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﻻ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺍﻟﺘﻜﺮﺍﺭ ﺇﻻّ ﻣﺎ ﺩﻝ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺧﻼﻓﻪ
“Asal dalam perintah itu tidak mesti diulangi kecuali terdapat dalil yang menjelaskan tentang perbedaannya” seperti firman Allah Swt :

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
" Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah Karena Allah. " (QS. al-Baqarah :196)

3.

ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﻻ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺍﻟﻔﻮﺭ
“Asal dalam perintah itu tidak mesti spontan” karena sesungguhnya tujuan yang diminta adalah melaksanakan perintah dengan tidak menentukan waktu pelaksanaannya pada masa awal bukan pada masa kedua

4.

ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺸﻴﺊ ﺃﻣﺮ ﺑﻮﺳﺎﺋﻠﻪ

“Memerintah sesuatu berarti juga memerintah melaksanakan wasilah (perantara) nya,” misalnya : perintah melaksanakan sholat juga berarti perintah untuk bersuci sebelum sholat, karena sholat tidak sah jika tidak bersuci.

5.

ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺸﻴﺊ ﻧﻬﻲ ﻋﻦ ﺿﺪﻩ
“Memerintah sesuatu berarti juga melarang yang berlawanan dengan sesuatu itu” seperti firman Allah Swt :


ﻭ ﻗﻮﻟﻮﺍ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺣﺴﻨﺎ

"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia," (QS. Al-Baqarah : 83) Perintah untuk mengucapkan kata-kata yang baik kepada manusia berarti larangan untuk mengucapkan kata-kata yang tidak baik.

6.

ﺇﺫﺍ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﺭ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻬﻪ ﻳﺨﺮﺝ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﺭ ﻋﻦ ﻋﻬﺪﺓ ﺍﻷﻣﺮ

“Jika apa yang diperintahkan telah dilakukan, maka orang yang diperintah telah keluar dari tanggungan perintah itu.”

Misalnya : jika seseorang dengan tidak adanya air ia bertayammum dan melaksanakan sholat, maka tidak mesti melakukan qadha sholat jika ia telah menemukan air.

1/20/2020

Kaidah Fikih dan Ushul Fiqh Terjemah Kitab Mabadi Awaliyah

Terjemah Kaidah Fikih dan Ushul Fiqh
Nama buku: Terjemah kitab Kaidah Fiqh dan Ushul Fikih Mabadi Awaliyah (Mabadi' Awwaliyyah)
Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

DOWNLOAD (PDF)

1. Terjemah Mabadi Awaliyah


PENGANTAR PENERJEMAH

Bismillahirrahmanirrahim
Puji Syukur yang tak terhingga, teruntuk Allah ‘Azza wa Jalla. Sholawat dan Salam tercurahkan selalu kehadirat baginda alam, yakni nabi Muhammad Saw.

Berkat Rahmat dan ‘Inayah Allah Swt. Kami menulis terjemahan kitab "Mabadi 'Awwaliyyah" karya Syaikh 'Abdul Hamid Hakim, yang
didalamnya membahas tentang Ushul Fiqh dan Qaidah-qaidah Fiqhiyyah Kitab ini merupakan dasar-dasar dari ushul Fiqh madzhab Syafi’i, dan juga terdapat 40 Qaidah Fiqhiyyah, sebagai dasar penentuan hukum Fiqih bagi Madzhab Syafi’i.

Oleh karena itu, kami berusaha menyajikan buku ini agar lebih mudah dicerna, dihayati dan diamalkan oleh semua lapisan umat islam, terutama para santri atau pelajar di pondok-pondok pesantren yang ingin mengkaji Ushul Fiqh madzhab Imam Syafi’i.
Mudah-mudahan bermanfa’at.

H. Sukanan, S.Pd.I & Ust. Khairudin


MUKADIMAH


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام علي رسول الله و علي أله وصحبه المتسكين بالكتاب والسنة

Sesungguhnya sudah tidak meragukan lagi bahwa pohon itu tidak akan berdiri tanpa ada akarnya, dan rumah tidak akan tegak kokoh tanpa ada pondasi yang kuat, begitu pula hukum fiqih yang tidak berdiri sendiri tanpa ada Ushul Fiqih, untuk itu termaktub dalam Kitab Jami‟ul Bayan :


مَنْ جَهِلَ الأَصْلَ لَمْ يُصِبِ الْفَرْعَ أَبَدًا

“Barang siapa yang bodoh (tidak tahu) terhadap pokok asalnya, maka ia tidak akan menemukan cabangnya, untuk selamanya”
Dan ketika kitab-kitab Ushul Fiqh yang beredar dirasakan sulit oleh sebagian para pelajar/santri, karena kurangnya ibarat atau contoh yang diberikan untuk setiap kaidah-kaidahnya, maka untuk itu didalam kitab ini dijelaskan dengan mudah tentang kaidah-kaidah ushul fiqh beserta contoh/perumpamaan nya, karena untuk menghafal satu kaidah dengan tidak adanya pengetahuan tentang contoh kaidah tersebut, maka hal itu tidak akan memberikan kemanfa‟atan dan akan membuang waktu dengan sia-sia.

Dan kitab ini terbagi pada dua pokok bahasan, pembahasan pertama tentang Ushul Fiqh, dan pembahasan kedua tentang Kaidah-kaidah Fiqhiyyah. Akhirnya kepada Allah Swt, pengarang berharap semoga kitab ini bermanfa‟at, dan tercapainya semua cita-cita.

تنبيه

يُدْرِكُ اَلذَّكِيُّ بِنَظِيْرٍ وَاحِدٍ مَا لاَ يُدْرِكُهُ الْغَبِيُّ بِأَلْفِ شَاهِدٍ

“Dengan satu contoh, maka orang yang pintar akan menemukan hal-hal yang tidak ditemukan oleh orang-orang bodoh yang diberi seribu macam contoh”

BAGIAN PERTAMA

Pembahasan Tentang Ushul Fiqh

Definisi Ushul secara etimologi (bahasa) ialah sesuatu yang diatasnya berdiri sesuatu yang lain, seperti dasarnya pohon itu adalah akarnya yang berada di dalam bumi, seperti itu pula ushul fiqh adalah dasarnya fiqih. Dan definisi Far‟i secara etimologi (bahasa) ialah sesuatu yang berdiri diatas yang lain, seperti cabang (ranting) pohon berada pada dasarnya pohon, seperti itu pula cabangnya fiqih berada pada ushul fiqh.

Sedangkan definisi Ushul secara terminologi (istilah) ialah sesuatu yang diucapkan atas dasar dalil dan kaidah secara global, seperti pendapat „ulama : bahwa dasar hukumnya wajib sholat adalah al-Kitab (al-Qur‟an), seperti firman Allah Swt :
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ (dirikanlah sholat) dan pendapat „ulama yang mengatakan bahwa bangkai itu halal hukumnya bagi mereka yang dalam kondisi dharurat, menyimpang dari hukum asal yaitu menyimpang dari kaidah hukum secara global bahwa :
كل ميتة حرام(semua bangkai itu hukumnya haram) dan firman Allah Swt :
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ (sesungguhnya bangkai itu diharamkan atas kalian semua).

Ushul Fiqh ialah dalil hukum fiqih yang dibuat secara global/ijmal, seperti pendapat „ulama bahwa muthlaqnya perintah itu adalah suatu kewajiban, dan muthlaqnya larangan adalah suatu yang diharamkan, serta muthlaqnya perbuatan Nabi Saw, muthlaqnya Ijma‟ dan Qiyas adalah Hujjaj (dalil).

Definisi Fiqih secara etimologi (bahasa) ialah Faham, sedang menurut terminologi ialah ilmu yang mempelajari hukum-hukum syar‟i yang dihasilkan dari Ijtihad. Misalnya : mengetahui bahwa niat ketika wudhu hukumnya wajib, Nabi Saw bersabda :

" إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (Sesungguhnya setiap pekerjaan itu dengan niat) dan wudhu termasuk dari salah satu perbuatan.

Berbeda dengan mengetahui hukum syara‟ yang tidak melalui jalan ijtihad seperti mengetahui bahwa sholat lima waktu itu hukumnya wajib, dan berzina itu hukumnya haram, semua itu termasuk dari masalah Qath‟iyyah (pasti) maka pengetahuan itu bukan disebut fiqih.

ILMU : Sifat yang dapat menjelaskan sesuatu yang dicari dengan penjelasan yang sempurna
JAHL : Tidak mengetahui sesuatu
DZON : Menemukan perkiraan sesuatu yang kuat dari dua perkara
WAHM : Menemukan perkiraan sesuatu yang lemah dari dua perkara
SYAK : Menemukan perkiraan sesuatu yang sama/seimbang dari dua perkara

Seperti dalam analisa memperkirakan Zaid berdiri atau tidak itu sama/seimbang itu disebut SYAK, jika kedua indikasinya kuat maka itu disebut TSUBUT (SUBUT), dan jika salah satu indikasinya itu kuat maka disebut DZON, namun jika salah satu indikasinya itu lemah maka disebut WAHM.[alkhoirot.org]

Terjemah Kitab Mabadi Awaliyah

Hukum Asal Sesuatu adalah Boleh

Hukum Asal Sesuatu adalah Boleh
Nama buku: Terjemah kitab Kaidah Fiqh dan Ushul Fikih Mabadi Awaliyah (Mabadi' Awwaliyyah)
Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

KAIDAH KETIGA PULUH LIMA

ما حرم فعله حرم طلبه
“Yang haram pekerjaannya, maka haram mencarinya”

Misalnya :

1. Mencari riba dan mas kawin dari orang yang dzalim.

2. Mencari persen (uang tip) dukun dan sogokan.

3. Mencari upah menangisi mayyit

KAIDAH KETIGA PULUH ENAM

ما حرم اخذه حرم اعطاؤه
“Yang haram mengambilnya maka haram untuk memberikannya”

Misalnya :

1. Memberikan riba dan mas kawin orang yang dzalim.

2. Memberikan persen (uang tip) dukun dan sogokan.

3. Memberikan upah menangisi mayyit

Allah Swt. Berfirman dalam surat Yasin : 12

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ
"Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang Telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh mahfuzh)."

KAIDAH KETIGA PULUH TUJUH

الخير المتعدي افضل من القاصر
“Kebaikan yang berkesinambungan itu lebih utama daripada yang singkat”

Misalnya :

1. Mengajarkan ilmu itu lebih utama dari sholat sunnah muthlaq.

2. Melakukan fardhu kifayah itu mengungguli dari melakukan fardhu „ain karena telah menggugurkan kewajiban terhadap umat yang lain.

3. Ungkapan nadzam Imam Suyuthi ra.

إِذَا مَاتَ اِبْن آدَم لَيْسَ يَجْرِي *** عَلَيْهِ مِنْ فِعَال غَيْر عَشْر

Ketika ibnu Adam meninggal dunia tidaklah baginya berjalan amal perbuatannya kecuali 10 perkara.

عُلُوم بَثَّهَا وَدُعَاء نَجْل *** وَغَرْس النَّخْل وَالصَّدَقَات تَجْرِي

Ilmu yang diajarkan, do‟a nya anak sholeh, menanam kurma (tanaman), shodaqoh jariyah

وِرَاثَة مُصْحَف وَرِبَاط ثَغْر *** وَحَفْر الْبِئْر أَوْ إِجْرَاء نَهَر

Mewariskan mushaf (al-Qur‟an), membangun pondok (tempat belajar), menggali sumur, menyalurkan kali/sungai

وَبَيْت لِلْغَرِيبِ بَنَاهُ يَأْوِي *** إِلَيْهِ أَوْ بَنَاهُ مَحَلّ ذِكْر
Membangun rumah untuk peristirahatan musafir dan untuk tempat dzikir

وَتَعْلِيم لِقُرْآنٍ كَرِيم *** فَخُذْهَا مِنْ أَحَادِيث بِحَصْرٍ

Dan mengajarkan al-Qur‟anul Karim, maka ambillah/lakukanlah semua itu yang diambil dari keterangan hadits yang singkat

Nabi Saw bersabda :

لا يحل لامرئ أن يأخذ عصا أخيه بغير طيب نفسه منه

“Tidaklah halal bagi seorang muslim yang mengambil tongkat saudaranya dengan perasaan tidak senangnya saudaranya itu” (HR. Ibnu Hibban)

KAIDAH KETIGA PULUH DELAPAN

الرضى بالشيء رضى بما يتولد منه
“Ridha terhadap sesuatu itu ridha dengan apa yang terlahir darinya”

Misalnya :
1. Ridhonya suami istri terhadap „aib (cacat) salah satunya, walaupun kemudian bertambah cacatnya itu, maka tidaklah ada khiyar, menurut pendapat Qaul Shahih.

2. Murtahin (orang yang menggadaikan) yang telah memberikan izin kepada Rahin (orang yang menggadai) dalam memukul hamba sahaya yang digadaikan, walaupun sampai rusak karena dipukul, tidaklah mendapatkan hukuman mengganti, karena itu merupakan dampak/akibat dari izinnya murtahin.

3. Jika seseorang berkata : Potonglah tangan saya, maka kemudian dipotong tetapi selanjutnya tangannya terputus-putus akibat dari pemotongan itu, maka biarkanlah menurut Qaul Adzhar.

4. Memakai wewangian pada waktu sebelum Ihram, kemudian wewangian itu terus menerus sampai melakukan ihram, maka tidaklah wajib membayar fidyah.

5. Beristinja‟ dengan batu itu diampuni walaupun ketika berkeringat kotorannya itu menjadi basah, maka hukum asalnya tetap diampuni.

6. Jika seseorang yang sedang berpuasa terlanjur meminum air ketika madlmadlah dan istinsyaq padahal ia tidaklah mubalaghah dalam melakukannya, maka ia tidaklah batal puasanya menurut Qaul Ashoh, berbeda hukumnya (batal puasanya) bagi yang melakukannya dengan mubalaghoh, karena terlanjur meminum air itu disebabkan melakukan yang dicegah (mubalaghah bagi orang yang berpuasa).

Seiring dengan kaidah diatas, yaitu kaidah :

المتولد من مأذون لا اثر له

“Yang muncul/terlahir dari yang telah diizini maka tidaklah ada masalah”

Nabi Saw bersabda :

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
“Setiap yang memabukkan itu khamr, dan setiap khamr itu haram” (HR. Muslim)

KAIDAH KETIGA PULUH SEMBILAN

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما

“Hukum itu beredar bersama dengan „illatnya (sebabnya) ada maupun tidak ada”

Misalnya :

1. Haramnya khamer itu karena memabukkan, maka ketika tidak lagi memabukkan huumnya menjadi halal, seperti : cuka

2. Masuk ke rumah orang lain dan memakai pakaiannya itu haram karena tidak ada ridho dari pemiliknya, jika diketahui bahwa pemiliknya itu ridho maka hukumnya boleh.

3. Haram hukumnya meminum racun karena merusak, tetapi ketika tidak akan merusak maka hukumnya boleh.

Nabi Saw bersabda :

الحلال ما أحل الله في كتابه، والحرام ما حرم الله في كتابه، وما سكت عنه فهو مما عفا عنه

“Halal itu adalah yang telah dihalalkan oleh Allah Swt dalam kitab-Nya, dan haram itu juga yang telah diharamkan Allah dalam kitab-Nya, dan yang tidak ada didalamnya maka itu diampuni” (HR. Imam Turmudzi dan Ibnu Majah)

KAIDAH KEEMPAT PULUH

الاصل فى الآ شياء الاءباحة

“Asalnya sesuatu itu hukumnya Mubah (boleh)”

Misalnya :

1. Keraguan menentukan halal haramnya hewan yang susah dicari hukumnya, maka hewan itu hukumnya halal.

2. Jika seekor burung dara masuk kedalam sangkar seseorang, dan orang itu raguragu apakah burung itu milik orang lain atau bukan, maka yang lebih utama adalah boleh memilikinya.

3. Jika seseorang ragu-ragu pada ukuran kadar tambalan emas pada tempat makanan/minuman, apakah ia besar atau kecil, maka hukum asalnya itu ialah mubah (boleh dipakai).

4. Untuk masalah hukum jerapah, Imam Subki berkata : sesungguhnya jerapah itu boleh dimakan, karena hukum asalnya adalah mubah (boleh).[alkhoirot.org]

T A M M A T 20 JANUARI 2020

Jika Tidak Didapati Seluruhnya Jangan Tinggalkan Semuanya

Jika Tidak Didapati Seluruhnya Jangan Tinggalkan Semuanya
Nama buku: Terjemah kitab Kaidah Fiqh dan Ushul Fikih Mabadi Awaliyah (Mabadi' Awwaliyyah)
Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

KAIDAH KETIGA PULUH

الرخصة لاتناط بالمعاصى

“Rukhshoh (keringanan) itu tidak berlaku dengan kemaksiatan”

Misalnya :

1. Tidak diperbolehkan bagi orang yang maksiat dalam perjalanannya apapun dalam hal rukhshoh bepergian, dari qashar sholat, jama‟ sholat maupun berbuka puasa,

2. Tidak diperbolehkan bagi orang yang maksiat dalam perjalanannya ketika ia madharat untuk makan bangkai dan daging babi.
3. Jika seseorang beristinja‟ dengan sesuatu yang dihormati/dimuliakan, atau dengan makanan, maka itu tidaklah cukup (tidak sah) menurut Qaul Ashoh (yang lebih shohih), karena istinja‟ dengan batu itu adalah rukhshoh. Dan sama juga pada pengertiannya (tentang ketidak sahannya) ungkapan : istinja‟ itu dengan sesuatu yang keras, yang membersihkan dan yang dimuliakan (dihormati).

KAIDAH KETIGA PULUH SATU

الرخصة لاتناط بالشكّ

“Rukhshoh (keringanan) itu tidak berlaku dengan sebab keraguan”

Misalnya

1. Diwajibkan mencuci kaki bagi yang ragu-ragu dalam hukum bolehnya mengusap Khuff (mujah)

2. Diwajibkan sholat secara itmam (sempurna) bagi yang ragu-ragu dalam hukum bolehnya sholat Qashar. Dan dalam hal ini terdapat beberapa perumpamaan :

a. Ketika seseorang ragu-ragu, apakah ia mengusap mujah itu diwaktu hadir atau diwaktu bepergian ? maka dipastikan bahwa mengusapnya itu diwaktu hadir, karena asalnya ialah mencuci kedua kaki, dan mengusap mujah itu rukhshoh dengan syarat, maka jika tidak yakin dengan syaratnya harus kembali lagi ke asalnya kefardhuan.

b. Dan jika seseorang ragu-ragu, apakah ia niat takbiratul ihram sholat pada waktu diperjalanan atau dalam keadaan hadir, atau ragu-ragu niat Qashar atau tidak, atau apakah imam yang diikutinya itu musafir atau muqim ? maka wajib baginya melaksanakan sholat secara itmam (sempurna), karena asalnya adalah itmam (sholat secara sempurna). Dan Qashar itu dibolehkan dengan beberapa
syarat, maka ketika syarat-syaratnya itu tidak nyata, harus dikembalikan kepada asalnya.

Nabi Saw berkata pada Siti „Aisyah :

أجرك على قدر نصبك

“Pahalamu itu tergantung kadar kepayahanmu.” (HR. Muslim)

KAIDAH KETIGA PULUH DUA

ما كان اكثر فعلا كان اكثر فضلا

“Yang banyak pekerjaannya maka banyak keutamaannya”

Misalnya :

1. Memisahkan sholat witir itu lebih utama dibandingkan dengan disambungkan (diwasholkan) nya, karena tambahnya niat, dan takbiratul ihram serta salam.

2. Orang yang sholat sunnah sambil duduk pahalanya adalah separuh dari yang sholat sunnah dengan berdiri, begitu pula yang sholat sunnah sambil berbaring pahalanya separuh dari yang sholat sambil duduk.

3. Haji Ifrad (mendahulukan haji baru kemudian umroh) itu lebih utama dibanding Haji Qiran (haji dan umroh dilakukan bersama)

Nabi Saw bersabda :

وما أمرتُكم به فأتوا منه ما استطعتُم

“Dan pada apapun yang telah saya perintahkan padamu, lakukanlah sesuai dengan kekuatanmu (kemampuanmu)” (HR. Bukhari Muslim)

KAIDAH KETIGA PULUH TIGA

ما لا يدرك كله لا يترك كله

“Sesuatu yang tidak bisa dilakukan seluruhnya janganlah ditinggal seluruhnya”

Misalnya :

1. Barang siapa tidak mampu berbuat baik (bershodaqoh) dengan dinar, karena kemampuannya hanya dengan dirham, maka lakukanlah !

2. Barang siapa tidak mampu mengajar atau belajar dengan beberapa cabang ilmu maka janganlah ia meninggalkan seluruhnya.

3. Barang siapa yang merasa sulit melakukan sholat malam dengan 10 raka‟at maka sebaiknya laksanakanlah walau hanya 4 raka‟at.
Perumpamaan kaidah ini adalah ungkapan para ulama Fuqaha :

ما لا يدرك كله لا يترك بعضه

“Sesuatu yang tidak bisa dilakukan seluruhnya itu tidak dilakukan sebagiannya”

KAIDAH KETIGA PULUH EMPAT

الميسور لا يسقط بالمعسور

“Kemudahan itu tidak akan hilang oleh sebab kesukaran”

Misalnya :

1. Ketika seseorang terpotong ujung jari-jari tangannya, maka wajib baginya mencuci yang tersisa dalam bersuci.

2. Bagi yang hanya mampu menutupi sebagian auratnya, maka itu dibolehkan sesuai dengan kadar kemampuannya dalam menutup aurat.

3. Jika seseorang tidak mampu melakukan ruku‟ dan sujud tetapi ia masih mampu berdiri, maka berdiri dalam sholatnya itu tetaplah wajiblah baginya.

4. Barang siapa hanya memiliki setengah sha‟ (1 sha = 3 liter lebih, untuk kadar zakat fitrah), maka tetap wajib baginya untuk mengeluarkannya sebagai zakat fitrah.

5. Bagi yang hanya mampu membaca setengah dari surat al-fatihah dalam sholat, maka lakukanlah (bacalah), dan kekurangannya diganti dengan membaca surat yang lain (yang ia bisa).

6. Barang siapa memiliki 1 nishab (kadar zakat) dimana separuhnya ada pada dirinya dan yang separuhnya itu ghaib (tidak bersamanya), maka pendapat yang lebih Shahih (Qaul Ashoh) sesungguhnya wajib baginya mengeluarkan zakatnya itu dari harta yang ada pada dirinya saja.

7. „Ulama-ulama Iraq menuqil nash pendapat imam Syafi‟i yang menyatakan bahwa sesungguhnya orang yang gagu (bisu) itu wajib menggerak-gerakkan lisannya sebagai ganti dari menggerakkan lisannya dalam membaca fatihah, seperti halnya isyarat dengan ruku‟ dan sujud.

8. Bagi orang yang pada anggota tubuhnya terdapat luka yang mencegah masuknya air pada anggota tubuh itu, maka pendapat madzhab mengungkapkan tetap wajib mencuci anggota tubuh yang lain kemudian melakukan tayammum pada anggota tubuh yang luka itu.

Allah Swt. Berfirman dalam surat ali-„Imran : 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

1/19/2020

Kebijakan Pemimpin berdasarkan Kemaslahatan

Kebijakan Pemimpin berdasarkan Kemaslahatan
Nama buku: Terjemah kitab Kaidah Fiqh dan Ushul Fikih Mabadi Awaliyah (Mabadi' Awwaliyyah)
Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

KAIDAH KEDUA PULUH LIMA

الإيثار بغيرالعبادة مطلوب

“Mendahulukan diri sendiri dalam hal yang bukan ibadah itu yang dicari”

Misalnya :

1. Mendahulukan dalam hal kemiskinan (demi orang lain)

2. Mendahulukan dalam hal pakaian (demi orang lain)

3. Mendahulukan dalam hal makanan (demi orang lain)

4. Tidak mengambil harta sodaqoh, karena mendahulukan buat orang lain

Nabi Saw bersabda :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya itu”

KAIDAH KEDUA PULUH ENAM


تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

“Kebijakan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya harus dilandasi dengan kemaslahatan”

Misalnya :

1. Ketika imam membagi zakat terhadap beberapa ashnaf, maka diharamkan memberikan kelebihan kepada salah satu ashnaf jika kebutuhannya sama.

2. Tidak diperbolehkan kepada seseorang untuk memilih imam dalam sholat itu yang fasiq walaupun secara hukum sah menjadi ma‟mum padanya, karena hukumnya adalah makruh.

3. Tidak diperbolehkan menggunakan harta baitul mal untuk orang yang tidak butuh
dan membelakangkan orang yang lebih butuh

Nabi Saw bersabda :

قال النبي صلى الله عليه وسلم : ادرؤا الحدود بالشبهات

“Tolaklah hukum hudud itu dengan perkara yang syubhat (ragu-ragu)”

KAIDAH KEDUA PULUH TUJUH

الحدود تسقط بالشبهات

“Hudud (hukum had) itu hilang dengan adanya perkara yang syubhat”

Misalnya

1. Bagi orang yang menjima‟ perempuan dan ia menyangka bahwa perempuan itu adalah istrinya, maka ia tidaklah mendapat hukuman (had)

2. Bagi orang yang menjima‟ perempuan yang dinikahinya, tetapi nikahnya menurut pendapat sebagian hukumnya halal dan sebagian yang lain menyatakan haram, seperti nikah mut‟ah, nikah tanpa wali, atau tanpa saksi dan setiap nikah yang ulama berbeda pendapat dalam hukumnya.

3. Orang yang mengambil harta yang disangkanya adalah kepunyaannya atau kepunyaan bapaknya atau anaknya, maka tidaklah ia diberi hukuman (had) karena syubhat dalam kepemilikannya itu.

4. Orang yang meminum khamer untuk berobat walau menurut Qaul Ashoh (yang lebih shahih) itu hukumnya haram, karena syubhatnya khilafiyah (perbedaan pendapat).

Allah Swt. Berfirman dalam surat ali-„Imran : 102

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."

KAIDAH KEDUA PULUH DELAPAN

ما لا يتم الواجب الا به فهو واجب

“Perkara yang membuat sempurnanya hukum wajib maka perkara itu hukumnya wajib pula ”

Misalnya :

1. Wajibnya mencuci juz (bagian) dari leher dan kepala beserta mencuci wajah

2. Wajibnya mencuci juz (bagian) dari lengan dan betis beserta mencuci sikut dan kaki.

Nabi Saw bersabda :

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ، اِسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ

“Barang siapa yang menjaga perkara syubhat, maka akan mendapatkan kesucian dalam agamanya dan kehormatannya”

KAIDAH KEDUA PULUH SEMBILAN

الخروج من الخلاف مستحبٌّ

“Keluar dari khilafiyah hukumnya sunnah”

Misalnya :

1. Disunnahkan menggosok-gosok dalam bersuci/berwudhu dan meratakan usapan pada kepala, karena keluar dari khilafiyah Imam Malik yang mewajibkannya.

2. Disunnahkan mencuci mani (sperma), karena Imam Malik mewajibkannya.

3. Disunnahkannya Sholat Qashr dalam perjalanan yang menempuh jarak 3 marhalah ( + 16 farsakh = 88,5 km ) karena keluar dari khilafiyah Imam Abu Hanifah yang mewajibkannya.

4. Menjauhi menghadap dan membelakangi kiblat (bagi yang sedang buang air besar atau kecil) dengan menggunakan penutup, hukumnya adalah sunnah, karena keluar dari khilafiyah Imam Shofyan Tsauri yang menghukumi wajib menjauhinya secara muthlak.

5. Makruhnya sholat munfarid (sendirian) dibelakang barisan ma‟mum yang ada, karena keluar dari khilafiyah Imam Ahmad yang membatalkannya.

6. Makruhnya mufarraqah (berpisah) dengan imam tanpa udzur, karena keluar dari khilafiyah Imam Daud Dzahiri yang membatalkannya.

PERHATIAN (تنبيه)

Untuk menjaga khilafiyah terdapat beberapa syarat :

1. Menjaga khilafiyah itu tidak berada pada tempat khilafiyah yang lain, untuk itu memfashal (memisah) sholat witir itu lebih afdhol dari mewasholnya (menyambungnya) dengan tidak menjaga khilafiyah imam Abu hanifah karena sesungguhnya sebagian dari ulama itu tidak membolehkan untuk menyambungkannya.

2. Khilafiyah itu tidak berbeda dengan sunnah yang ditetapkan, untuk itu disunnahkan mengangkat kedua telapak tangan dalam sholat dengan tidak memperdulikan pendapat imam Abu Hanifah yang membatalkannya, karena mengangkat kedua telapak tangan itu sudah ditetapkan dari hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh 50 orang sahabat.

3. Landasan hukum khilafiyah itu telah kuat dengan tidak tergesa-gesa dalam menentukannya, untuk itu berpuasa bagi orang yang bepergian itu lebih utama, dengan tidak memperdulikan pendapat sebagian ahli dzahir yang menyatakan bahwa puasanya itu tidak sah.

وليس كل خلاف جاء معتبرا إلا خلاف له حظ من النظر

“Dan tidak ada pada setiap khilafiyah itu datang dengan i‟tibar, kecuali khilafiyah yang terdapat di dalamnya bagian-bagian dari pemikiran.”

Allah Swt. Berfirman dalam surat al-Baqarah : 173

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ

".....Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya....."

Adat itu bisa Menjadi Hukum

Adat itu bisa Menjadi Hukum
Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

KAIDAH KEDUA PULUH SATU

العادة محكمة

“Adat itu bisa menjadi hukum”

Misalnya :

1. Berjual beli dengan memuthlakan bahasa singkat, maka ketentuannya adalah sesuai dengan mata uang yang berlaku.

2. Mu‟amalah dalam jenis barang-barang atau macam-macam jenisnya yang lain itu pada dasarnya berlaku harga yang sesuai dengan mata uang yang berlaku.

3. Dalam hal menggunakan kamar mandi dan makan makanan yang disuguhkan kepada tamu dengan tidak ada lafadz/ucapan apapun, maka hukumnya tergantung adat yang berlaku, apakah itu gratis (cuma-cuma) atau tidak.

4. Dalam hitungan haidh, sedikitnya haid, nifas dan suci, serta kebiasaan dan paling banyaknya itu tergantung kebiasaan yang berlaku.

5. Untuk memberikan upah pada tukang jahit dan tukang tenun, menurut imam Rafi‟i rahimahullah sebaiknya bersandar pada kebiasaan yang berlaku.


واعلم انما تعتبر العادة اذا اضطردت فان اطربت فلا وجب البيان

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya adat itu menjadi perumpamaan ketika berlaku, maka ketika berubah tidaklah wajib untuk membuat bayan (keterangan)”

KAIDAH KEDUA PULUH DUA

ما ورد به الشرع مطلقا ولا ضابط له فيه ولا فى فى اللغة يرجع فيه الى العرف

“Sesuatu yang datang dalam hukum syara‟ secara muthlaq dan tidak ada yang menjadi landasannya dan tidak juga dengan definisi lughoh (bahasa) maka semua itu dikembalikan pada kebiasaan (adat) yang berlaku”

Misalnya :

1. Niat dalam sholat itu cukup dengan Muqoronah „Urfiyah (berbarengan sesuai adat) dengan perkiraan hitungan orang itu telah menghadirkan niat dalam sholat atau yang biasa disebut dengan Istihdharul „Urfi.

2. Jual beli dengan saling serah terima tanpa akad ijab dan qabul itu secara hukum syara‟ tidak sah, maka wajib dikembalikan kepada adat kebiasaan, dan pendapat ini dipilih oleh Imam Nawawi rahimahullah, dan termasuk Qaul Mu‟tamad.

KAIDAH KEDUA PULUH TIGA

الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد

“Ijtihad itu tidak akan rusak dengan ijtihad yang lain”

Misalnya :

1. Jika seseorang berubah ijtihadnya dalam menentukan arah kiblat, maka yang dipakai adalah ijtihad yang kedua, tetapi tidak mesti mengqadho (mengulangi) sholatnya (jika sudah melakukan sholat), bahkan walaupun ia sholat 4 raka‟at dengan 4 arah kiblat yang berbeda itu tidak mesti diqodho.

2. Jika seorang hakim telah memutuskan hukum sesuatu dengan ijtihadnya, kemudian ijtihad itu berubah, maka hukum dari ijtihad yang pertama tadi tidaklah menjadi batal.

3. Apabila seorang suami melakukan khulu‟ kepada istrinya sebanyak 3 kali kemudian setelah itu ia menikahi istrinya (yang telah dikhulunya itu), dengan tidak menggunakan Muhallil (orang yang menyelang), dengan beri‟tiqad bahwa khulu‟ itu adalah fasakh nikah bukan thalaq, tetapi kemudian ijtihadnya berubah bahwa khulu‟ itu adalah thalaq maka ia tetap masih diperbolehkan bersama
istrinya itu dengan pernikahannya tadi.

Imam Ghazali berkata : Jika hakim telah memutuskan untuk menyatakan sah pada pernikahannya itu maka tidaklah wajib memisahkannya, walaupun kemudian ijtihad hakim itu berubah untuk memisahkannya sebagai perubahan hukum yang telah ditetapkan hakim dalam ijtihadnya, sekalipun hakim tidak memberikan keputusan harus pisah, maka hukum dalam pernikahan itu terdapat keragu-raguan. Qaul Mukhtar (yang dipilih) berpendapat wajib memisahkannya karena kewajiban menjaga perempuan tadi dari jima‟ haram berdasarkan
i‟tiqad/ijtihadnya hakim yang kedua.

PERINGATAN (تنبيه)

Pengertian Kaidah ini adalah bahwa ijtihad (yang kedua) itu tidak membatalkan ijtihad yang pertama, akan tetapi harus adanya perubahan hukum setelah itu, karena tidak adanya tarjih (yang kuat) pada ijtihad yang pertama tadi, karena itu yang harus digunakan adalah ijtihad kedua didalam menentukan arah kiblat, namun ijtihad yang pertama tidaklah menjadi batal.

Allah Swt. Berfirman dalam surat al-Baqarah : 148

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

".....Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan...."

KAIDAH KEDUA PULUH EMPAT

الإيثار بالعبادة ممنوع

“Mendahulukan orang lain dalam hal ibadah itu dilarang”

Misalnya :

1. Mendahulukan orang lain dalam barisan pertama dalam sholat berjama‟ah,

2. Mendahulukan orang lain dalam memakai air suci dan bergantian menutup aurat

3. Mendahulukan orang lain untuk mencari orang lain karena giliran mengajar ilmu
4. Mendahulukan orang lain dalam memberikan kebutuhan orang yang hajat seperti memberi makan orang miskin dan anak-anak yatim

Allah Swt. Berfirman dalam surat al-Hasyr : 9

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

"....Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan...."

Menolak Keburukan dan Mengambil Kebaikan

Menolak Keburukan dan Mengambil Kebaikan
Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

KAIDAH KEDELAPAN BELAS

اذا تعارض المفسدتان روعي اعظمهما ضررا بارتكاب اخفهما

“Ketika terdapat dua kemafsadatan maka hindari yang lebih besar madharatnya dengan melakukan yang lebih ringan mafsadatnya”

Misalnya

1. Boleh membelah perut orang mati jika didalamnya terdapat seorang anak yang diperkirakan hidup.

2. Tidak boleh meminum Khamr dan berjudi karena madharat keduanya itu lebih besar dari manfa‟atnya.

3. Diberlakukannya dalam agama Islam hukum Qishah, hudud, membunuh perampok.

4. Boleh bagi orang yang madharat mengambil makanan orang lain dengan paksa.

5. Boleh memotong dahan/ranting pohon milik orang lain jika berada di area tanah miliknya.

6. Apabila orang yang madharat menemukan bangkai dan makanan milik orang lain, maka pendapat yang lebih shahih menyatakan lebih baik memakan bangkai, karena memakan bangkai itu hukumnya mubah dengan dasar Nash, sedangkan memakan makanan orang lain itu hanya dengan dasar ijtihad.


KAIDAH KESEMBILAN BELAS

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Mendahulukan untuk menolak kemafsadatan dari pada mengambil kemashlahatan”

Misalnya

1. Mubalaghah dalam berkumur-kumur dan istinsyaq itu hukumnya disunnahkan, namun dimakruhkan bagi orang yang berpuasa karena untuk menjaga puasanya dari jalan yang menjadikannya batal.

2. Menyela-nyela rambut hukumnya sunnah dalam bersuci, tetapi dimakruhkan bagi orang yang sedang ihram karena menjaga dari rontoknya rambut.

3. Diampuni dalam meninggalkan sebagian kewajiban dengan yang lebih rendah tingkat kesukarannya seperti berdiri dalam melaksanakan sholat (boleh duduk jika udzur), dan berbuka (bagi yang udzur berpuasa) serta dalam hal bersuci (boleh diganti dengan tayammum), dan tidak diampuni dalam hal melakukan perbuatan yang dilarang (seperti memilih yang lebih rendah dosanya) terlebih lagi dalam masalah dosa-dosa besar.

Allah Swt berfirman dalam surat al-Mu‟minun : 5 - 7

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)

5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.

7. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.

KAIDAH KEDUA PULUH

الاصل فى الابضاع التحريم

“Asalnya berjima‟ itu hukumnya haram”

Misalnya

1. Ketika seorang perempuan muhrim (yang haram dinikahi) yang tidak diketahuikeberadaannya, ada bersama dengan perempuan-perempuan yang jumlahnya dapat dihitung (jumlah sedikit) dan berada pada satu kampung, maka dilarang bagi orang itu untuk berijtihad (memilih salah satunya untuk dijadikan istri) karena syarat ijtihad dalam menentukan sesuatu itu asal hukumnya harus mubah (boleh), tetapi diperbolehkan memilih salah satu dari perempuan-perempuan itu, jika jumlahnya amat banyak, karena rukhshoh (keringanan) agar tidak tertutupnya pintu nikah dan terbukanya pintu zina.

2. Jika seseorang mewakilkan kepada orang lain dalam membeli jariyah (budak perempuan) dan memberikan keterangan tentang sifat-sifatnya, dan ketika siwakil membeli jariyah itu dengan sifat-sifat yang sama tetapi ia meninggal sebelum menyerahkannya pada orang yang mewakilkannya, maka hukumnya si jariyah tadi tidak boleh di jima‟ oleh orang yang mewakilkannya itu, karena
dikhawatirkan siwakil membeli jariyah itu untuk dirinya sendiri, walaupun siwakil membeli jariyah itu dengan sifat yang telah disebutkan tadi itu jelas dalam kehalalannya, karena asalnya jima‟ itu haram sampai diyakini sebab-sebab yang menghalalkannya.

3. Tidak dihalalkan menjima‟ perempuan yang menjadi boyongan (tawanan) perang kecuali sudah menjadi bagian dari ghanimah yang dibagi oleh imam yang membaginya dengan baik dengan tidak ada rasa ragu dan takut.

Allah Swt berfirman dalam surat al-A‟raf : 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ...

"Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh."

Darurat Membolehkan yang Haram

Darurat Membolehkan yang Haram
Nama buku: Terjemah kitab Kaidah Fiqh dan Ushul Fikih Mabadi Awaliyah (Mabadi' Awwaliyyah)
Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

KAIDAH KETIGA BELAS

الضرر يزال

“Kemadharatan itu dihilangkan”

Misalnya :

1. Si pembeli itu boleh khiyar (memilih mengembalikan atau tidak) dengan adanya cacat benda yang telah dibelinya.

2. Bagi suami istri itu boleh fasakh (bubar) nikah dengan adanya beberapa cacat.

3. Diperbolehkan bagi istri meminta fasakh nikah karena susahnya/miskinnya suami.

4. Menjaga kelestarian umat, menetapkan hukum, mencegah kedzaliman, Qishash dan memberikan hukum harus mengganti bagi para perusak.

KAIDAH KEEMPAT BELAS

الضررلا يزال بالضرر

“Kemadharatan itu tidak bisa dihilangkan dengan kemadharatan yang lain”

Misalnya :

1. Orang yang madharat tidak boleh memakan makanan orang lain yang sama madharatnya dan tidak boleh membunuh anaknya atau hamba sahayanya.

2. Jika seseorang terjatuh diatas orang yang sedang terluka, dan tetap berada diatasnya sampai orang yang luka itu meninggal, maka orang itu hukumnya telah membunuh, tetapi jika langsung pindah maka yang membunuh bukanlah orang yang terjatuh itu.

3. Jika uang dinar yang terjatuh ditempat tinta dan tidak bisa dikeluarkan kecuali dengan cara menghancurkannya, maka apabila dihancurkan berarti orang itu harus mengganti tempat tinta itu pada pemiliknya, tetapi jika yang menghancurkannya itu pemilik tempat tinta, maka orang itu tidaklah mesti menggantinya.

KAIDAH KELIMA BELAS

الضرورات تبيح المحظورات

“Darurat itu dapat membolehkan semua yang dicegah/larang”

Misalnya :

1. Diperbolehkan memakan bangkai dan daging babi bagi mereka yang sangat lapar dan bagi yang amat kehausan boleh meminum arak.

2. Boleh melafazkan kalimat yang mengakibatkan kekufuran karena dipaksa.

3. Diperbolehkan mengambil harta orang yang tidak mau membayar hutang kepadanya dengan tanpa izin orang itu.

4. Apabila keharaman itu sudah menyebar disuatu daerah sampai dirasakan sulit menemukan sesuatu yang halal kecuali sedikit (jarang) maka diperbolehkan untuk memakai yang haram itu sesuai dengan kebutuhan.

5. Menggali mayyit yang sudah dikubur karena dharurat seperti tidak dimandikan atau tidak menghadap kiblat.

Dan pengertian kaidah ini sama dengan kaidah yang lain yaitu :

لا حرام مع الضرورة ولا كراهة مع الحاجة
“Tidak ada hukum haram bagi yang dharurat dan tidak ada hukum makruh bagi yang hajat (butuh)”

KAIDAH KEENAM BELAS

ما ابيح للضرورة يقدر بقدرها

“Yang dibolehkan dalam hal kemadharatan itu hanya ukuran perkiraan madharatnya”

Misalnya :

1. Orang yang madharat itu tidak boleh makan makanan yang haram kecuali makan untuk menyambung hidupnya.

2. Jika seseorang bertujuan (mengobati/menyuntik) seorang perempuan maka wajib baginya menutupi semua lengan perempuan itu dan tidak boleh membukanya kecuali pada bagian yang menjadi tujuannya itu.

3. Tidak diperbolehkan mengawinkan orang gila dengan perempuan yang lebih dari satu, karena itu telah menolak kebutuhan baginya.

4. Boleh menambah tempat sholat Jum‟at karena tidak muat pada satu tempat, dengan perkiraan dapat menghilangkan alasan tidak muat itu, dan jika dengan dua tempat sholat Jum‟at sudah terpenuhi maka tidaklah boleh membuat tempat yang ketiga.

KAIDAH KETUJUH BELAS

الحجة قد تنزل منزلة الضرورة

“Hajat itu terkadang berada diposisi dharurat”

Misalnya :

1. Diperbolehkan melihat perempuan karena alasan mu‟amalah dan khitbah (melamar)

2. Qaul sebagian ulama yang membolehkan akad Muzara‟ah (bibitnya dari yang menggarap sawah) dan Mukhabarah (bibitnya dari yang punya sawah) karena butuh pada keduanya dalam kehidupan ini.

3. Menurut sebagian ulama : diperbolehkan menjual (sayuran dll) yang masih berada didalam tanah, seperti : lobak dan bawang karena kemashlahatan umum bagi manusia, karena jika disyaratkan pada penjualnya untuk mengeluarkannya dari dalam tanah sekaligus, maka itu menjadikannya susah dan rusaknya (sayuran dll) yang tidak dibeli, dan jika ia menjualnya dengan cara sedikit-sedikit, maka itu juga akan menjadikannya kesusahan dan hilangnya kemashlahatan baginya.

1/18/2020

Kesulitan Menghasilkan Kemudahan

Kesulitan Menghasilkan Kemudahan
Nama buku: Terjemah kitab Kaidah Fiqh dan Ushul Fikih Mabadi Awaliyah (Mabadi' Awwaliyyah)
Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

KAIDAH KESEBELAS

المشقة تجلب التيسر
“Kesulitan itu akan menghasilkan kemudahan ”

Misalnya :

1. Ketika seseorang tidak bisa berdiri dalam sholat fardhu maka baginya diperbolehkan sholat sambil duduk, begitu pula jika ia tidak bisa untuk duduk maka diperbolehkan sholat sambil berbaring miring.

2. Jika seseorang tidak boleh menggunakan air maka ia boleh bertayammum.

3. Ketika dirasakan sukar bagi seseorang untuk menghindari/menghilangkan najis pada dirinya, maka najis itu diampuni oleh Allah Swt, seperti najis darah akibat luka, bisul, kotoran jalan, dan bekas najis yang susah untuk dihilangkan.

4. Imam Syafi‟i ra. berkata : “Ketika seorang perempuan tidak mempunyai wali dalam perjalanannya, maka ia boleh menyerahkan sepenuhnya kepercayaan kepada orang lain yang dipercayanya.”

5. Ucapan Imam Syafi‟i yang lain tentang tempat-tempat yang dibuat dari tanah dan dipanaskan dengan kotoran itu boleh dipergunakan untuk berwudhu.

Dan dengan pengertian kaidah ini, Imam Syafi‟i berkata :

الامر اذا ضاق اتسع

“Perkara itu ketika dalam kondisi sempit, maka hukum akan menjadi longgar”

Dan ucapan sebagian ulama :

الاشياء اذا ضاقت اتسعت

“Setiap sesuatu itu jika dalam kondisi sempit maka ia akan menjadi longgar”

FAIDAH

Keringanan dalam hukum syara’ itu terbagi menjadi tujuh macam :

1. Keringanan menghilangkan/menggugurkan, seperti gugurnya kewajiban Jum‟at, haji dan Umroh dengan sebab „udzur/halangan.

2. Keringan mengurangi, seperti meng-qashar (meringkas jumlah raka‟at) sholat

3. Keringanan menggantikan, seperti menggantikan wudhu dan mandi dengan tayammum, dan menggantikan berdiri dalam sholat dengan duduk, berbaring miring dan isyarah, dan menggantikan puasa dengan memberi makan fakir miskin (bagi yang udzur)

4. Keringanan mendahulukan, seperti sholat jama‟ taqdim dan mendahulukan zakat sebelum waktunya tiba, dan mendahulukan zakat fitrah dibulan Ramadhan, dan mendahulukan membayar kafarat bagi yang melanggar sumpah.

5. Keringanan Mengakhirkan, seperti sholat jama‟ ta‟khir, dan mengakhirkan puasa Ramadhan bagi orang yang sakit dan musafir, dan mengakhirkan sholat bagi orang yang menyelamatkan orang yang tenggelam.

6. Keringanan Rukhshoh, seperti sholatnya orang yang beristinja‟ dengan batu karena masih ada bekas sisa kotorannya, dan minum arak bagi orang yang haus, serta makan najis untuk kebutuhan obat.

7. Keringanan merubah, seperti merubahnya peraturan/praktik sholat pada sholat khauf.

KAIDAH KEDUA BELAS

الاشياء اذا اتسع ضاقت

“Setiap sesuatu itu jika dalam kondisi longgar maka ia akan menjadi sempit”

Misalnya :

1. Sedikitnya bergerak dalam sholat itu diampuni, dan jika banyak bergeraknya dengan tidak adanya hajat (kebutuhan) maka itu tidak diampuni.

2. Ketika air berubah misalnya oleh ganggang maka air itu tetap suci mensucikan, tetapi ketika ganggang itu diremas-remas/dihancurkan oleh seseorang dan menceburkannya ke air kemudian air itu berubah, maka air itu menjadi tidak suci
mensucikan.

3. Jika didalam air terdapat bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir, maka air itu tetap suci mensucikan,

Imam Ghazali rahimahullah mengumpulkan antara dua kaidah dengan ucapannya :

كل ما تجوز حده انعكس الى ضده
“Setiap sesuatu yang melewati batas, maka ia akan kembali pada kebalikannya”

Nabi Saw bersabda :

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak memberikan madharat pada diri sendiri, dan tidak memberikan madharat pada orang lain” (HR. Imam Malik dan Ibnu Majah)

Yang Asal adalah Lepasnya Tanggungan

Yang Asal adalah Lepasnya Tanggungan
Nama buku: Terjemah kitab Kaidah Fiqh dan Ushul Fikih Mabadi Awaliyah (Mabadi' Awwaliyyah)
Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

KAIDAH KEDELAPAN

الاصل براة الذمة

“Asalnya itu lepasnya tanggungan / tanggung jawab”

Misalnya :

1. Seseorang yang diminta untuk melakukan sumpah, kemudian ia tidak mau melakukannya, maka ia tidaklah dihukum karena ketidak mauannya itu, karena asalnya adalah tidak adanya tanggungan/tanggung jawab, kemudian sumpah itu dihadapkan kepada orang yang meda‟wanya/menggugatnya.

2. Jika seseorang berkata : “saya berikan kitab padamu agar kamu memberikan pengganti kitab yang lain, maka ketika orang yang diberi itu memungkirinya bahwa tidak ada lafadz “memberikan penggantinya” maka ucapan yang didengar adalah ucapan orang yang diberi kitab, karena asalnya adalah lepasnya/bebasnya tanggungan.

3. Jika dua orang berselisih tentang harga barang yang dipinjam kemudian rusak, agar orang yang merusakkannya mengganti sesuai dengan harganya, maka ucapan yang didengar adalah ucapan orang yang meminjamkannya, karena asalnya ialah lepasnya tanggungan dari apapun yang melebihi tuntutan (harga barang.

KAIDAH KESEMBILAN

الاصل العدم

“Asalnya itu tidak ada”

Misalnya :

1. Ucapan pelaku Qiradh (pemberian modal untuk berdagang dengan memperoleh bagian keuntungan) itu dibenarkan ketika ia berkata : “tidak ada untungnya” karena asalnya adalah tidak adanya keuntungan.

2. Dan ucapannya juga yang mengatakan : “tidak ada keuntungan kecuali segini” karena asalnya tidak adanya kelebihan/keuntungan.

3. Serta ucapannya yang mengatakan : “kenapa kamu tidak mencegah saya untuk membeli barang itu” karena asalnya itu tidak ada yang mencegah.

4. Seseorang yang memakan makanan orang lain kemudian ia berkata bahwa dia telah membolehkannya untuk saya, sementara yang memiliki makanan itu memungkirinya, maka ucapan yang didengar adalah ucapan si pemilik makanan, karena asalnya adalah tidak adanya kemubahan.

5. Jika seseorang ditetapkan mempunyai hutang dengan sebab pengakuan atau jual beli, kemudian ia mengaku/menda‟wa tentang hutang itu sudah dibayar atau dibebaskan, maka ucapan yang dipegang adalah ucapan orang yang didakwa mempunyai hutang, karena asalnya adalah tidak adanya semua itu (hutang).

6. Jika seseorang ragu-ragu dalam meninggalkan perbuatan yang diperintah dalam sholatnya, seperti tidak melaksanakan tahiyyat awal, maka ia menggantinya dengan sujud sahwi, tetapi jika melakukan perbuatan yang dilarang dalam sholat, seperti menambah jumlah sujud dengan ragu-ragu, maka tidaklah harus sujud sahwi, karena sesungguhnya asalnya itu tidak adanya pekerjaan menambah sujud.

KAIDAH KESEPULUH

الاصل فى كل واحد تقديره باقرب زمنه

“Asalnya sesuatu yang datangnya kemudian, perkiraan hukumnya adalah menghitung pada yang lebih dekat waktu kedatangannya ”

Misalnya :
1. Seseorang yang telah memukul perut orang hamil sampai kemudian melahirkan seorang anak yang hidup dan dan tidak dalam kondisi sakit, tetapi kemudian ia meninggal dunia, maka orang itu tidaklah dijatuhi hukuman sebagai pembunuh, karena secara dzahir anak itu meninggal dengan sebab yang lain, dan sebab yang lain itu sangat dekat dengan kematian anak tadi.

2. Seseorang yang menjual hamba sahaya, kemudian hamba itu ternyata sakit, dan meninggal dunia, maka tidaklah boleh dikembalikan lagi kepadanya, karena sakitnya itulah yang terus bertambah dan menghasilkan hamba itu meninggal dunia, dan juga karena sakit itu lebih dekat waktunya dengan kematian sihamba sahaya, serta tidak ada kenyataan menyalahkan kematian hamba itu kepada pemiliknya yang dahulu.

3. Seseorang yang melihat mani (sperma) pada pakaiannya, tetapi ia tidak mengingat mimpinya (lupa), maka orang itu wajib mandi wajib, dan wajib mengi‟adah (mengulangi) sholatnya sejak akhir tidurnya (sejak ia terbangun), karena sesungguhnya akhir tidurnya itu yang lebih dekat masanya pada orang itu.

4. Orang yang berwudhu di sumur setiap hari untuk melakukan sholat, kemudian ia menemukan bangkai tikus disumur itu, maka ia tidak wajib mengulangi (mengqodho) sholatnya kecuali jika ia yakin bahwa ia sholat dalam keadaan najis.

5. Orang yang membuka pintu sangkar burung kemudian burung itu langsung terbang, maka ia wajib menggantinya, tetapi jika burung itu diam terlebih dulu baru kemudian terbang, maka ia tidak wajib menggantinya. Karena itu hanya memberikan pilihan kepada si burung. Namun menurut pendapat ulama (Qaul yang lemah) bahwa orang itu tetap wajib menggantinya, karena membuka pintu sangkar itulah yang menjadikan burung itu terbang.

Allah Swt berfirman dalam surat al-Baqarah : 185

يُرِيد اللَّه بِكُمْ الْيُسْر وَلَا يُرِيد بِكُمْ الْعُسْر

"....Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu

Yakin Tidak Hilang oleh Karaguan

Yakin Tidak Hilang oleh Karaguan

Nama kitab asal: Mabadi' Awaliyah fi Ushul al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah (مبادئ أولية في أصول الفقه صش القواعد الفقهيه)
Pengarang: Abdul Hamid Hakim
Penerjemah: H. Sukanan S.Pd.I, Ust. Khairudin
Bidang studi: Kaidah dan Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

KAIDAH KEEMPAT


ما لا يشترط التعرض له خملة ولا تفصيلا اذا عينه واخطأ لم يضر

“Jika tidak disyaratkan menentukan secara global, dan tidak secara terperinci, maka ketika seseorang menyatakannya dan ia salah, maka hal itu tidak akan menjadikannya madharat”

Misalnya :

1. Kesalahan menyatakan tempat sholat, maka ketika seseorang niat sholat dzuhur di Mesir dan ternyata ia berada di Mekkah, maka tidaklah batal sholatnya, karena niat sholatnya sudah ada, dan ta‟yin (menyatakan) tempat itu bukanlah sambungan dari niat sholat baik secara global maupun terperinci.

2. Kesalahan dalam menyatakan masa sholat, maka ketika seseorang niat melaksanakan sholat „Ashar pada hari Kamis tapi ternyata hari Jum‟at, maka sholatnya itu tidak batal.

3. Kesalahan ta‟yin (pernyataan) Imam tentang ma‟mum yang ada dibelakangnya, maka jika seseorang berniat menjadi imamnya Zaid tapi ternyata yang jadi ma‟mum adalah umar, maka sholat imam itu tidak menjadinya madharat (tidak batal) hal itu karena tidak adanya syarat bagi imam untuk menentukan siapa ma‟mumnya, dan tidak juga niat untuk menjadi imam.

KAIDAH KELIMA

مقاصد اللفظ على نية اللافظ

“Maksud lafadz (ucapan) itu tergantung orang yang melafadzkannya (mengucapkannya)”

Misalnya :

1. Jika seseorang mempunyai istri bernama “Thaliq” (yang dicerai), atau mempunyai budak perempuan bernama “Hurroh” (yang merdeka) maka ketika ia memanggil istrinya “Ya Thaliqu” (Hai perempuan yang dicerai), atau memanggil budak perempuannya “Ya Hurrotu” (Hai budak yang merdeka), jika ketika ia memanggil bertujuan untuk menthalaq istrinya atau memerdekakan budaknya, maka terjadilah keduanya itu, tetapi jika hanya untuk memanggil saja maka tidaklah menjadi apa-apa.

2. Jika seseorang mengulang-ulang lafadz thalaq sebanyak tiga kali untuk menthalaq istrinya dengan tidak ada huruf athafnya, maka jika ia bertujuan mengulangi lafadz itu dengan memulai dari awal, maka jatuhlah thalaqnya tiga, tetapi jika hanya mentaukidkannya (memperkuat) saja maka thalaq nya hanya jatuh satu. 3. Jika seseorang membaca dalam sholat dengan bacaan Al-Qur‟an dan tidak berniat selain membacanya, maka itu hukumnya jelas, tetapi jika ia bertujuan untuk memberikan faham kepada orang lain saja, maka batal sholatnya, tetapi jika ia berniat dua-duanya maka sholatnya tidak batal, dan ketika seseorang memutlakannya maka Qaul yang lebih Shahih berpendapat bahwa sholatnya itu batal seperti firman Allah Swt dalam surat al-Hijr : 46

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ
"Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman" Dan firman Allah dalam surat Maryam : 12


يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

"Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh."

4. Ketika seseorang mengiringi niatnya dengan ucapan “Insya Allah” maka ketika ia berniat untuk menggantungkannya maka batallah niatnya itu, tetapi jika untuk mengharap berkah maka tidaklah menjadi batal, atau hanya memuthlakkannya saja (tidak menggantungkan tidak juga mengharap berkah), maka Qaul yang lebih shahih menentukan bahwa hukumnya batal.

Rasulullah Saw bersabda :

‏ إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ

“Jika salah satu diantara kamu ragu dalam sholatnya dan tidak mengetahuinya apakah ia telah sholat 3 raka‟at atau 4 raka‟at, maka sebaiknya ia meninggalkan keraguan itu dan sebaiknya berpegang pada apa yang diyakininya.” (HR. Muslim)

KAIDAH KEENAM

اليقين لا يزال بالشك

“Keyakinan itu tidak akan hilang oleh keraguan”

Misalnya :

1. Barang siapa ragu-ragu dalam hitungan sholatnya apakah 3 atau 4 maka peganglah 3 karena itulah yang lebih meyakinkan.

2. Barang siapa yakin dalam keadan suci dan ragu-ragu mempunyai hadats maka ia adalah suci.

3. Barang siapa yakin mempunyai hadats dan ragu-ragu dalam keadan suci, maka ia adalah orang yang mempunyai hadats.

Dan kaidah yang lain menyebutkan :

أن ما ثبت بيقين لا يرتفع إلا بيقين

“Sesungguhnya sesuatu yang tetap dengan keyakinan itu tidak akan hilang kecuali dengan keyakinan pula”

KAIDAH KETUJUH

اْلأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ
“Asalnya itu tetapnya sesuatu atas sesuatu”

Misalnya :

1. Barang siapa yang makan sahur diakhir malam dan ragu-ragu telah muncul fajar, maka sah puasanya, karena sesungguhnya asalnya adalah masih tetapnya malam.

2. Barang siapa yang berbuka puasa diakhir siang dengan tanpa ijtihad, dan ia raguragu pada terbenamnya matahari, maka batal puasanya, karena sesungguhnya asalnya adalah masih tetapnya siang.

3. Kedua suami istri hidup susah dalam waktu yang cukup lama, kemudian istrinya menggugat suaminya tidak pernah memberikannya pakaian, dan nafkah, maka ucapan yang dipegang adalah ucapan si istri itu, karena pakaian dan nafkah itu berada pada tanggungan suaminya dan suami tidak dapat memenuhi keduanya (pakaian dan nafkah)

4. Suami istri yang berselisih/berseteru tentang masalah tamkin (perlakuan istri melayani suami), maka ucapan yang dipegang adalah ucapan suami, karena asalnya itu tidak adanya tamkin, maka tidak wajib bagi suami untuk memberikan nafkah, karena nafkah itu wajib jika adanya tamkin.

5. Seseorang yang telah membeli air kemudian menggugat bahwa air itu najis, dan hendak mengembalikannya, maka ucapan yang mesti dipegang adalah ucapan si penjual, karena sesungguhnya asalnya air itu adalah suci.

6. Seseorang yang meragukan air suci yang berubah, apakah perubahan itu sedikit atau banyak, maka air itu masih tetap suci.[alkhoirot.org]