Pembagian Air dan Hukumnya

Pembagian Air dan Hukumnya tentang air yang tidak dapat menolak kenajisan dan yang dapat menolaknya. Air sedikit adalah air yang kurang dari dua kula
Pembagian Air dan Hukumnya
Nama kitab: Terjemah Kitab Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Naja
Judul kitab asal: Kasyifat al-Saja Syarah Safinat al-Naja (كاشفة السجا شرح سفينة النجا)
Ejaan lain: Kashifa al-Saja, Kasyifah As-Saja, Kashifat Al-Saja Pengarang: Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi
Nama yang dikenal di Arab: محمد بن عمر بن عربي بن علي نووي الجاوي أبو عبد المعطي
Kelahiran: 1813 M, Kecamatan Tanara, Banten
Meninggal: 1897 M, Mekkah, Arab Saudi
Penerjemah: Muhammad Ihsan Ibnu Zuhri
Bidang studi: Fiqih mazhab Syafi'i

Daftar isi
  1. BAGIAN KESEMBILAN: AIR DAN PEMBAGIANPEMBAGIANNYA
  2. A. Air Sedikit dan Air Banyak
  3. B. Hukum Air Sedikit
  4. C. Najis-najis yang Ma’fu pada Air
  5. D. Hukum Air Banyak
  6. E. Hukum Air Mutaghoyyir (Air yang Berubah Sebab Benda Suci)
  7. F. Hukum Air Mengalir
  8. Kembali ke Terjemah Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Naja

BAGIAN KESEMBILAN AIR DAN PEMBAGIAN-PEMBAGIANNYA


A. Air Sedikit dan Air Banyak

فصل) في الماء الذي لا يدفع النجاسة والذي يدفعها قال (الماء) في قانون الشرع قسمان (قليل وكثير

Fasal ini menjelaskan tentang air yang tidak dapat menolak
kenajisan dan yang dapat menolaknya.
Syeh Salim bin Sumair al-Khadromi berkata bahwa [air]
menurut kaidah syariat dibagi menjadi dua, yaitu air [yang sedikit
dan yang banyak.

القليل ما دون القلتين) بأن نقص منهما أكثر من رطلين

Air sedikit adalah air yang kurang dari dua kulah]
sekiranya kurangnya dari dua kulah tersebut adalah lebih banyak dari
dua kathi.

والكثير قلتان فأكثر) من محض الماء يقينا ولو مستعملا 

[Sedangkan air banyak adalah air dua kulah atau lebih]
dengan catatan air tersebut adalah air murni secara yakin meskipun
berupa air musta’mal.

وقدرهما بالوزن خمسمائة رطل بالبغدادي التي هي أربعة وستون ألف درهم ومائتان
وخمسة وثمانون درهما وخمسة أسباع درهم إذ كل رطل بغدادي مائة وثمانية وعشرون
درهما وأربعة أسباع درهم

Ukuran timbangan air dua kulah adalah 500 Rithl Baghdad
yang sama dengan 64. 285 dirham lebih 5/7 dirham karena per Rithl
Baghdad adalah 128 dirham lebih 4/7 dirham.

وبالمكي أربعمائة رطل واثنا عشر رطلا وثلاثة عشر درهما وخمسة أسباع درهم على أن
الرطل مائة وستة وخمسون درهما أفاد ذلك العلامة محمد صالح الرئيس

Adapun dengan ukuran Rithl Mekah, maka dua kulah adalah
412 rithl lebih 13 dirham lebih 5/7 dirham dengan alasan karena per
rithl adalah 156 dirham. Demikian ini disebutkan oleh Muhammad
Sholih ar-Rois.

وبالطائفي ثلاثمائة وسبعة وعشرون رطلا وثلثا رطل إذ كل رطل طائفي مائة وستة
وتسعون درهما نبه على ذلك عبد الله المرغني في مفتاح فلاح المبتدي

Adapun dengan ukuran rithl Thoif, maka dua kulah adalah
327 rithl lebih 2/3 rithl, karena setiap rithl Thoif adalah 196 dirham,
seperti yang ditanbihkan oleh Abdullah al-Murghini di dalam kitab
Miftah Fallah al-Mubtadi.

وبالمصري أربعمائة رطل وستة وأربعون رطلا وثلاثة أسباع رطل

Adapun dengan rithl Mesir, dua kulah adalah 446 rithl lebih 3/7 rithl.

وبالدمشقي مائة وسبعة أرطال وسبع رطل

Adapun dengan rithl Damaskus, maka dua kulah adalah 107 rithl lebih 1/7 rithl.33
33 Satu Dirham menurut Imam Tsalatsah: 0,715 Gr
Air dua kulah:
- Menurut an-Nawawi : 55,9 cm3 =174,580 Ltr
- Menurut ar-Rofi’i : 56,1 Cm3 = 176,245 Ltr
- Menurut Ahli Iraq : 63,4 Cm3 = 245,325 Ltr
- Menurut Aktsarinnas : 60 Cm3 =187,385 Ltr
(Daftar Istilah Ukuran dalam Kitab Fiqih. Pondok Pesantren Hidayatul
Mubtadiien. Ngunut Tulungagung)

وقدرهما بالمساحة في المربع ذراع وربع طولا وعرضا وعمقا بذراع الآدمي وهو شبران تقريبا وفي المدور ذراعان عمقا بذراع الحديد وذراع عرضا بذراع الآدمي فكان ذلك بذراع اليد ذراعا عرضا وذراعين ونصفا عمقا لأن ذراع الحديد بذراع الآدمي ذراع وربع وفي المثلث وهو ماله ثلاثة أبعاد متساوية ذراع ونصف طولا وعرضا وذراعان عمقا بذراع الآدمي فالعرض هو ما كان بين الركنين والطول هو الركنان الآخران

Ukuran dua kulah menurut ukuran ruang kubus adalah
dengan panjang, lebar, dan tinggi 1 ¼ dzirok dengan ukuran dzirok
anak Adam, yaitu kurang lebih dua jengkal.
Dua kulah menurut ukuran ruang lingkaran adalah dengan
tinggi 2 dzirok tukang besi, dan diameter 1 dzirok anak Adam.
Dengan demikian, dengan ukuran dzirok tangan anak Adam, maka
dua kulah adalah dengan diameter 1 dzirok dan tinggi 2 ½ dzirok
karena dzirok tukang besi dengan dzirok anak Adam selisih 1 ¼
dzirok.


Ukuran dua kulah dalam ruang segi tiga sama sisi adalah
dengan panjang dan lebar 1 ½ dzirok dan tinggi 2 dzirok dengan
ukuran dzirok anak Adam. Lebar adalah bagian antara dua sisi
sedangkan panjang adalah bagian 2 sisi yang lain.34
Sedangkan menurut Kitab at-Tadzhib Fi Adillati Matni Abi Syujak, Dr.
Mushtofa Daib al-Bagho menuliskan bahwa ukuran dua kulah adalah
kurang lebih 190 Ltr.
34 Satu Dzirok al-Mu’tadil:
- Menurut Aktsarinnas : 48 cm
- Menurut al-Makmun : 41, 666625 cm
- Menurut an-Nawawi : 44,720 cm
- Menurut ar-Rofii : 44,820 cm
(Daftar Istilah Ukuran dalam Kitab Fiqih. Pondok Pesantren
Hidayatul Mubtadiien. Ngunut Tulungagung)

B. Hukum Air Sedikit

القليل) حكمه (يتنجس بوقوع النجاسة) المنجسة يقينا (فيه وإن لم يتغير) لمفهوم قوله
صلى الله عليه وسلّم إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل خبثا وفي رواية نجسا إذ مفهومه أن ما
دو ا يحمل الخبث

[Air sedikit,] maksudnya hukum air sedikit dapat [menjadi
najis karena kejatuhan najis] yang menajiskan secara yakin
[meskipun air sedikit tersebut tidak berubah] karena berdasarkan
pemahaman dari sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama,
“Ketika air mencapai dua kulah maka tidak mengandung kotoran,”
dan dalam riwayat lain, kata kotoran diganti dengan kata najis.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa air yang kurang dua kulah
dapat mengandung najis.


C. Najis-najis yang Ma’fu pada Air

وخرج بالنجاسة المنجسة النجس المعفو عنه كميتة لا دم لها سائل ونجس لا يدركه
طرف معتدل حيث لم يحصل بفعله ولو من مغلظ كما إذا عف الذباب على نجس
رطب ثم وقع في ماء قليل أو مائع فإنه لا ينجس مع أنه علق في رجله نجاسة لا يدركها
الطرف وما على منفذ حيوان طاهر غير آدمي وروث سمك لم يغير الماء ولم يضعه فيه
عبثا وما يماسه العسل من الكوارة التي تجعل من روث نحو البقر وجرة البعير وألحق به فم
ما يجتر من ولد البقر والضأن إذا التقم أخلاف أمه وفم صبي تنجس ثم غاب واحتمل
طهارته كفم الهرة فإنه لا ينجس الماء القليل وذرق الطيور في الماء وإن لم يكن من
طيوره وبعر فأرة عم الابتلاء به وبعر شاة وقع في اللبن حال الحلب وما يبقى في نحو
الكرش مما يشق تنقيته والقليل من دخان النجاسة ولو من مغلظ وهو المتصاعد منها
بواسطة نار واليسير من الشعر المنفصل من غير مأكول غير مغلظ والكثير منه من
مركوب والقصاص والدم الباقي على اللحم والعظم الذي لم يختلط بشيء كما لو ذبحت
شاة وقطع لحمها وبقي عليه أثر الدم بخلاف ما لو اختلط بغيره كما يفعل في البقر التي
تذبح في المحل المعد لذبحها الآن من صب الماء عليها لإزالة الدم عنها فإن الباقي من
الدم على اللحم بعد صب الماء لا يعفى عنه وإن قل لاختلاطه بأجنبي فليتنبه له

Mengecualikan dengan pernyataan najis yang menajiskan
adalah najis ma’fu atau najis yang dimaafkan (pada air), seperti;
 bangkai yang tidak mengalirkan darah (sekiranya ketika
disobek jasadnya, seperti; lalat, kecoa, dan lain-lain)
 najis yang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata biasa,
sekiranya najis tersebut tidak terlihat setelah berusaha
melihatnya, meskipun najis tersebut adalah najis
mugholadzoh, misalnya; ada lalat hinggap di atas najis yang
basah, kemudian lalat itu jatuh ke dalam air sedikit atau
benda cair, maka air sedikit atau benda cair tersebut tidak
najis meskipun pada kaki lalat itu ada najis yang tidak dapat
terlihat oleh mata.

 najis yang berada di alat kelamin hewan yang suci selain
milik anak Adam.
 kotoran ikan yang tidak sampai merubah sifat-sifat air (rasa,
bau, dan warna) dengan tidak dijatuhkan secara sengaja.
 bahan sarang lebah madu yang berasal dari kotoran sapi dan
muntahan unta. Disamakan dengan sarang lebah ini adalah
mulut binatang, seperti anak sapi dan kambing, ketika
disuapi oleh induknya.

 Mulut anak laki-laki kecil (shobi) yang terkena najis,
kemudian ia pergi dan dimungkinkan sudah suci, seperti
mulut kucing, maka tidak menajiskan air sedikit.
 kotoran burung yang berada di air meskipun itu bukanlah
termasuk burung-burung air dan kotoran tikus dimana
keduanya biasa mengenai air sedikit (‘Amaa al-Ibtilak Bihi)
 kotoran kambing yang jatuh ke dalam susu ketika diperah.
 najis yang masih tetap berada di perut kecil binatang
memamah biah, yaitu najis yang sulit dibersihkan
 najis sedikit yang berasal dari asap najis meskipun najis
mugholadzoh, maksudnya asap yang naik dari najis akibat
bakaran api,

 rambut atau bulu sedikit yang terlepas dari binatang yang
tidak halal dimakan selain biatang mugholadzoh, dan bulu
banyak yang berasal dari binatang tunggangan dan tukang
potong bulu kambing,
 dan darah yang masih ada pada daging dan tulang yang
darah tersebut tidak bercampur dengan yang lain, seperti;
ada kambing disembelih, kemudian dagingnya di potongpotong,
kemudian masih ada sisa-sisa darah pada daging,
berbeda apabila darah sudah bercampur dengan yang lain
maka tidak dima’fu, seperti yang dilakukan pada sapi yang
disembelih di tempat penjagalan yang biasa digunakan
sebagai tempat menyembelih, kemudian daging sapi itu
dituangi air guna menghilangkan darahnya, maka darah yang
tersisa pada daging dihukumi tidak ma’fu meskipun darah
yang tersisa adalah sedikit karena sudah tercampur dengan
yang lainnya, yaitu air. Ingatlah ini!

والضابط في جميع ذلك أن العفو منوط بما يشق الاحتراز عنه غالباً،

Patokan atau kaidah dalam najis-najis ma’fu (pada air
sedikit) di atas adalah bahwa hukum ma’fu didasarkan pada kesulitan
menghindari najis pada umumnya.


والمعتمد أنه لا يعفى عن دم البراغيث والقمل ونحوه بالنسبة للمائع والماء القليل وإن قل الدم دون الماء الكثير ولو قتل قملا أو براغيث بين أصابعه فإن كان الدم الحاصل كثيرا لم يعف عنه أو قليلا عفي عنه على الأصح

 

Menurut pendapat mu’tamad disebutkan bahwa tidaklah
dima’fu darah nyamuk, kutu, dan lainnya jika terjatuh ke benda cair
atau air sedikit, meskipun darah itu sedikit. Berbeda apabila darah
binatang tersebut jatuh ke air yang banyak. Apabila ada seseorang
membunuh kutu atau nyamuk dengan jari-jarinya, maka apabila
darah yang keluar itu banyak maka darah tersebut tidak dima’fu, dan
apabila darah tersebut sedikit maka dihukumi ma’fu menurut
pendapat Ashoh.

هذا وخرج بدخان النجاسة بخارها وهو المتصاعد منها لا بواسطة نار فهو طاهر ومنه
الريح الخارج من الكنف أو من الدبر فهو طاهر فلو ملأ منه قربة وحملها على ظهره
وصلى ا صحت صلاته

Mengecualikan dengan najis ma’fu yang berupa asap najis
yang keluar dari bakaran api adalah asap najis yang keluar bukan
karena bakaran api, maka asap ini dihukumi suci. Dan angin (bau)
yang keluar dari jamban atau dubur dihukumi suci. Apabila ada
geriba dipenuhi dengan angin tersebut, kemudian seseorang
memanggulnya, kemudian ia sholat dengan membawa geriba
tersebut, maka sholatnya sah.


D. Hukum Air Banyak

والماء الكثير لا يتنجس) بملاقاته النجاسة (إلا إذا تغير طعمه) وحده (أو لونه) وحده
(أو ريحه) وحده أي عقب ملاقاته النجاسة فلو تغير بعد مدة لم يحكم بنجاسته ما لم
يعلم بقول أهل الخبرة نسبة تغيره إليها وخرج بالملاقاة ما لو تغير بريح النجاسة التي على
الشط لقر ا منه فإنه لا ينجس لعدم الاتصال بل رد استرواح

[Air banyak tidak menjadi najis] sebab terkena najis
[kecuali rasanya] saja [telah berubah atau warnanya] saja [atau
baunya] saja dimana perubahan tersebut terjadi setelah air banyak
itu terkena najis. Apabila air banyak (terkena najis), beberapa waktu
kemudian, air tersebut baru berubah, maka tidak dihukumi najis
selama tidak diketahui kalau ahli khibroh mengatakan bahwa
perubahan tersebut disebabkan oleh najis yang sebelumnya telah
mengenainya


Mengecualikan dengan pernyataan sebab terkena najis
adalah apabila ada najis di dekat air banyak, karena saking dekatnya,
bau najis tersebut menyebabkan air banyak menjadi berubah, maka
air banyak yang telah berubah tersebut tidak dihukumi najis karena
tidak ada unsur pertemuan antara keduanya, tetapi hanya sebatas
membaui.

والمراد بالمتغير كل الماء أما إذا غيرت النجاسة بعضه دون باقيه وكان هذا الباقي قلتين
فإنه لا ينجس بل النجس هو المتغير فقط

Yang dimaksud dengan air mutanajis yang berubah adalah
sekiranya air tersebut berubah total atau semua. Apabila najis hanya
merubah sebagian air dan tidak merubah sebagian air yang lain maka
apabila sebagian air yang lain yang tidak berubah adalah dua kulah
maka tidak dihukumi mutanajis. Sedangkan sebagian air yang
berubah dihukumi mutanajis.

ولا يجب التباعد فيه عن النجاسة بقدر قلتين بل يجوز الاغتراف من جانبها

Tidak wajib menghindari najis yang berada di dalam air
dengan ukuran dua kulah bahkan boleh mencibuk air dari sisi
najisnya.

ولا فرق في التغير بالنجس بين الكثير واليسير ولا بين كونه بالمخالط أو ا اور ولا بين
المستغنى عنه وغيره ولا بين الميتة التي لا يسيل دمها وغيرها لغلظ أمر النجاسة ولو كان
التغير تقديريا بأن وقع في الماء نجس يوافقه في صفاته كالبول المنقطع الرائحة واللون
والطعم فيقدر مخالفا أشد الطعم طعم الخل واللون لون الحبر والريح ريح المسك فلو كان
الواقع قدر رطل من البول المذكور فنقول لو كان الواقع قدر رطل من الخل هل يغير
طعم الماء أو لا؟ فإن قال أهل الخبرة يغيره حكمنا بنجاسته وإن قالوا لا يغيره نقول لو
كان الواقع قدر رطل من الحبر هل يغير لون الماء أم لا؟ فإن قالوا يغيره حكمنا
بنجاسته وإن قالوا لا يغيره نقول لو كان الواقع قدر رطل من المسك هل يغير ريحه أو
لا؟ فإن قالوا يغيره حكمنا بنجاسته وإن قالوا لا يغيره حكمنا بطهارته هذا إذا كان
الواقع فقدت فيه الأوصاف الثلاثة فإن فقد بعضها حال وقوعه ولم يغير فيفرض المفقود
فقط لأن الموجود إذا لم يغير فلا معنى لفرضه


Tidak ada perbedaan dalam air banyak yang berubah sebab
najis tentang apakah perubahan tersebut banyak atau sedikit, dan
tidak ada perbedaan tentang apakah perubahan tersebut sebab najis
yang mencampuri (larut) atau hanya berdampingan (tidak larut), dan
tidak ada perbedaan tentang apakah air itu biasa terhindar dari najis
atau tidak, dan tidak ada perbedaan tentang apakah najis tersebut
berupa bangkai yang tidak mengalirkan darah atau tidak, karena
beratnya masalah najis, dan meskipun perubahan tersebut bersifat
taqdiri atau mengira-ngirakan, seperti; air kejatuhan sebuah najis
yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan air, seperti air kencing
yang sudah hilang bau, warna, dan rasa, maka dikira-kirakan air
tersebut berubah dengan rasa cuka, warna tinta, dan bau misik,
kemudian, apabila air kencing yang mengenai air sebanyak satu kati,
maka kita mengatakan, “Apabila cuka sebanyak satu kati menjatuhi
air tersebut, maka apakah air tersebut berubah rasanya atau tidak?
Apabila ahli khibroh mengatakan, ‘Berubah,’ maka kita
menghukumi air tersebut najis. 

Kemudian apabila mereka
mengatakan, ‘Tidak berubah,’ maka kita bertanya, ‘Apabila tinta
sebanyak satu kati menjatuhi air tersebut maka apakah warna air
berubah atau tidak?’ Apabila mereka berkata, ‘Berubah,’ maka kita
menghukumi air tersebut najis, dan apabila mereka mengatakan,
‘Tidak berubah,’ maka kita bertanya lagi, ‘Apabila misik satu kati
menjatuhi air tersebut maka apakah bau air tersebut berubah atau
tidak?’ Apabila mereka berkata, ‘Berubah,’ maka kita menghukumi
air tersebut najis, dan apabila mereka berkata, ‘Tidak berubah,’ maka
kita baru menghukumi air tersebut suci.” Perkiraan di atas adalah
apabila najis yang mengenai air tidak diketahui sifat-sifatnya yang
berjumlah tiga (bau, rasa, dan warna). Apabila sebagian sifat tidak
diketahui ketika mengenai air, maka hanya dikira-kirakan sifat yang
tidak diketahui tersebut karena tidak ada fungsinya mengira-ngirakan
sifat-sifat yang diketahui.


Perkiraan di atas kita sebut dengan PERKIRAAN
PERBEDAAN BERAT.

E. Hukum Air Mutaghoyyir (Air yang Berubah Sebab
Benda Suci)

وأما المتغير كثيرا يقينا بشيء مخالط بأن لم يمكن فصله أو لم يتميز في رأي العين طاهر
مستغنى عنه بأن سهل صونه عنه وليس ترابا وملح ماء طرحا فيه تغيرا يمنع إطلاق اسم
الماء عليه فهو غير مطهر ولو كان الماء قلتين ما لم يكن الخليط ماء مستعملا 

Adapun air yang berubah banyak secara yakin sebab benda yang mencampurinya, sekiranya tidak dapat memisahkan perubahan tersebut dari air atau air tidak dapat dibedakan menurut pandangan
mata (sederhananya kita mengatakan perubahan tersebut larut dalam
air), dimana benda tersebut adalah suci dan dapat dihindarkan dari
air sekiranya mudah (bagi kita) menjaga air dari benda tersebut, dan
benda tersebut bukanlah debu atau garam air yang sengaja dibuang
ke dalamnya, dimana perubahannya adalah perubahan yang dapat
mencegah kemutlakan air, maka air yang berubah ini tidak
mensucikan meskipun dua kulah selama benda yang mencampuri air
bukanlah air mustakmal.

Sedangkan apabila benda yang mencampurinya adalah air
mustakmal maka air yang dikenainya serta air mustakmalnya adalah
suci mensucikan apabila campuran keduanya mencapai dua kulah.

ولو كان التغير تقديريا بأن اختلط بالماء ما يوافقه في صفاته كماء الورد المنقطع الرائحة
والطعم واللون فيقدر مخالفا وسطا بين أعلى الصفات وأدناها الطعم طعم الرمان واللون
لون العصير والريح ريح اللاذن بفتح الذال المعجمة وهو اللبان الذكر كما هو المشهور
وقيل هي رطوبة تعلو شعر المعز وقشرها أي أنا نعرض عليه مغير اللون مثلا فإن حكم
أهل الخبرة بتغيره سلبنا الطهورية وإلا عرضنا مغير الطعم ثم مغير الريح كذلك، فلا
يعرض عليه الثاني إلا إذا لم يحكم بالتغيير بالأول ولا الثالث إلا إذا لم يحكم بالتغير
بالثاني


Apabila perubahan pada air mutaghoyyir adalah perubahan
yang taqdiri (secara perkiraan), misal; air tercampuri benda yang
memiliki kesamaan sifat dengan air itu sendiri, seperti air mawar
yang hilang bau, rasa, dan warna, maka kita mengira-ngirakannya
dengan PERKIRAAN PERBEDAAN YANG SEDANG antara
sifat-sifat yang tinggi dan rendah. 

Kita mengira-ngirakan sifat rasa
dengan rasa delima, sifat warna dengan warna anggur, dan sifat bau
dengan bau luban. Maksudnya kita mengira-ngirakan dengan
mengatakan, “

[1] Apabila air tersebut terjatuhi anggur maka apakah
warna air tersebut berubah? Apabila ahli khibroh mengatakan,
‘Berubah,’ maka air tersebut tidak mensucikan. Apabila mereka
mengatakan, ‘Tidak berubah,’ maka

 [2] apakah rasa air tersebut
berubah bila terjatuhi delima? Apabila mereka mengatakan,
‘Berubah’ maka air tersebut tidak mensucikan. Apabila mereka
mengatakan, ‘Tidak berubah,’ maka

 [3] apakah air tersebut berubah
bau ketika terjatuhi luban? Apabila mereka mengatakan, ‘Berubah’
maka air tersebut tidak mensucikan. Apabila mereka mengatakan,
‘Tidak berubah,’ maka air tersebut dihukumi (suci) yang
mensucikan. 

Dengan demikian, perkiraan nomer [2] tidaklah
ditanyakan kecuali ketika perkiraan [1] tidak merubah air, dan
perkiraan nomer [3] tidaklah ditanyakan ketika perkiraan [2] tidak
merubah air.


وخرج مما ذكر التغير اليسير والشك في كثرة التغير والتغير با اور وهو ما يتميز في رأي العين أو ما يمكن فصله كدهن وعود ولو مطيبين أو بغير مستغنى عنه سواء كان خلقيا في الأرض كطين وإن منع الاسم أو مصنوعا فيها كذلك بحيث يشبه الخلقي كالفساقي المعمولة بالجير وكالقرب المدبوغة بالقطران ولو مخالطا ولو كثيرا لأنه وضع لإصلاحها فإن الماء في هذه الصور كلها مطهر
والقطران بفتح القاف مع كسر الطاء وسكو ا وبكسرها مع سكون الطاء دهن شجر يطلى به الإبل للجرب ويسرج به بخلاف ما لو وضع لإصلاح الماء فإنه غير مطهر لاستغناء الماء عنه، ومما لا يستغني الماء عنه غير الممرية والمقرية ما يقع من الأوساخ المنفصلة من أرجل الناس من غسلها في الفساقي والمنفصلة من بدن المنغمس فإ ا لا تسلب الطهورية نبه على ذلك السويفي

 

Mengecualikan dengan air mutaghoyyir dengan perubahan
banyak oleh benda-benda di atas adalah air-air yang berubah yang
tetap dihukumi suci mensucikan; yaitu;
 air yang berubah sedikit
 air yang berubah banyak tetapi perubahannya tersebut masih
diragukan
 air yang berubah sebab benda yang menyandinginya (tidak
larut), yaitu perubahan yang dapat dibedakan oleh
pandangan mata, atau perubahan yang masih dapat
dipisahkan dari air, seperti; air terkena minyak dan kayu
yang meskipun keduanya memiliki bau wangi, dan
perubahan sebab benda yang air tidak dapat terhindarkan
darinya, baik asli muncul dari tanah, seperti lumpur,
meskipun perubahan tersebut mencegah kemutlakan air, atau
benda tersebut buatan (bukan asli) dari tanah, meskipun
perubahannya juga mencegah kemutlakan air, sekiranya
yang buatan ini menyerupai yang asli, seperti saluran air
mancur yang terbuat dari kapur, dan seperti geriba yang
terbuat dari ter, meskipun mencampuri air dan merubahnya
dengan perubahan banyak karena air yang dialirkan pada
saluran dan geriba ini adalah untuk mengawetkannya.
Dengan demikian, air-air dalam contoh di atas adalah air yang suci
mensucikan.

Lafadz ‘ القطران ’ dengan fathah pada huruf / ق/, kasroh atau
sukun pada huruf / ط/, atau kasroh pada huruf / ق/ dan sukun pada
huruf / ط/ berarti minyak pohon yang dioleskan pada unta untuk
mengobati sakit kudis dan untuk mempercantiknya, berbeda dengan
benda yang dimasukkan ke dalam air agar mengawetkan air, bukan
air yang mengawetkan benda itu, maka hukum airnya adalah suci
tidak mensucikan karena air dapat dihindarkan darinya.

Termasuk benda yang air tidak dapat dihindarkan darinya,
selain benda yang ada di tempat mengalir air dan tempat salurannya,
adalah kotoran-kotoran yang berasal dari kaki orang-orang yang
dibasuh dalam suatu saluran tertentu, dan kotoran yang terpisah dari
tubuh orang yang menyelam (berenang), maka kotoran-kotoran ini
tidak dapat menghilangkan sifat mensucikannya air, demikan ini
disebutkan oleh Suwaifi.

وخرج أيضا التغير بتراب وملح ماء طرحا فيه ولو كان التغير ما كثيرا وبمكثه لأنه لم
يخالطه شيء فإن الماء في هذا مطهر، وكذا لو تغير بانضمام ماء مستعمل إليه فبلغ به
قلتين فيصير مطهرا وإن أثر في الماء بفرضه مخالفا وسطا 

Dikecualikan juga, maksudnya air yang berubah dihukumi
suci mensucikan, yaitu air yang berubah dengan perubahan yang
disebabkan oleh debu atau garam air yang sengaja dibuang ke
dalamnya, meskipun perubahan tersebut banyak, dan perubahan yang
disebabkan oleh lamanya diam karena tidak tercampur oleh apapun
sehingga air yang berubah semacam ini adalah suci mensucikan.
Begitu juga, air yang berubah sebab air mustakmal yang
dicampurkan dengannya, kemudian campuran tersebut mencapai dua
kulah, maka air campuran ini adalah suci mensucikan meskipun jika
diperkirakan dengan perkiraan sedang, air mustakmal tersebut
merubah air yang dicampurinya.

واعلم أن التقدير المذكور مندوب لا واجب، فلو هجم شخص واستعمل الماء أجزأ
ذلك إذ غاية الأمر أنه شاك في التغير المضر والأصل عدمه

Ketahuilah! Sesungguhnya mengira-ngirakan yang
disebutkan di atas adalah hukumnya sunah, tidak wajib. Apabila
seseorang dengan langsung menggunakan air yang tercampur oleh
air mustakmal tersebut maka sudah mencukupi baginya karena
hakikatnya adalah bahwa ia ragu tentang perubahan yang
membahayakan air sedangkan asalnya adalah tidak adanya
perubahan tersebut.

F. Hukum Air Mengalir

اعلم) أن الماء الجاري كالراكد فيما مر لكن العبرة في الجاري بالجرية نفسها لا مجموع
الماء فإن الجريات متفاصلة حكما وإن اتصلت في الحس لأن كل جرية طالبة لما قبلها
هاربة عما بعدها

(Ketahuilah!) Sesungguhnya hukum-hukum air yang
mengalir adalah seperti hukum-hukum air yang diam tenang seperti
yang telah disebutkan. Akan tetapi, objek hukum dalam air yang
mengalir adalah aliran air itu sendiri, bukan seluruh air, karena
aliran-aliran air itu saling terpisah secara hukum meskipun secara
kasat mata terlihat saling sambung menyambung. Alasan mengapa
aliran-aliran air saling terpisah secara hukum adalah karena masingmasing
aliran mengalir maju hendak mengenai bagian depannya dan
menjauh dari bagian belakangnya.

فإن كانت الجرية وهي الدفعة التي بين حافتي النهر في العرض دون القلتين تنجس
بملاقاة النجاسة سواء تغير أم لا ويكون محل تلك الجرية من النهر نجسا ويطهر بالجرية
بعدها ويكون في حكم غسالة النجاسة حتى لو كانت مغلظة فلا بد من سبع جريات
عليها ومن الت تريب أيضا في غير الأرض الترابية، هذا في نجاسة تجري في الماء، فإن
كانت جامدة واقفة فذلك المحل نجس وكل جرية تمر ا نجسة إلى أن يجتمع قلتان منه
في موضع كفسقية مثلا فحينئذ هو طهور إذا لم يتغير ا ويلغز به فيقال لنا ماء ألف
قلة غير متغير وهو نجس أي لأنه ما دام لم يجتمع فهو نجس وإن طال محل جري الماء
والفرض أن كل جرية أقل من قلتين، وأما الذي لم يمر عليها وهو الذي فوقها فهو باق
على طهوريته

Dari keterangan di atas, maka apabila jumlah aliran air yang
mengalir yang berada di antara dua sisi sungai kurang dari dua kulah
maka dapat menjadi najis karena mengenai najis, baik berubah atau
tidak, dan tempat atau medan aliran tersebut juga najis. Kemudian
medan aliran tersebut dapat suci dengan terbasuh oleh aliran setelah
aliran yang pertama tadi. (Suci tidaknya) tempat atau medan aliran
tersebut disesuaikan dalam hukum basuhan najis sehingga apabila
najisnya adalah najis mugholadzoh maka wajib adanya tujuh aliran
yang membasuh najis tersebut dan wajib adanya unsur tercampur
debu apabila tempat atau medan aliran air bukanlah medan yang
berdebu.

Hukum medan aliran air pertama yang suci dengan basuhan
aliran air setelahnya ini adalah apabila najisnya ikut hanyut terbawa
arus aliran air. Sedangkan apabila najis yang mengenai adalah najis
keras yang diam di dalam air maka medan aliran air menjadi najis
dan setiap aliran yang melewatinya pun dihukumi najis hingga
apabila air terkumpul dalam satu muara dan mencapai dua kulah,
seperti tampungan air mancur, maka air tersebut baru dihukumi suci
mensucikan ketika tidak mengalami perubahan sebab najis yang
mengenainya tadi.

Dari rincian hukum di atas, kami para ulama Fiqih memiliki
pernyataan teka-teki (Jawa: Cangkriman), “Kami memiliki air
sebanyak 1000 kulah yang tidak berubah karena dikenai najis, tetapi
hukum air sebanyak itu adalah najis,” maksudnya, air yang mengaliri
najis yang diam selama air tersebut belum terkumpul dalam satu
muara maka tetap dihukumi najis meskipun medan aliran sangatlah
panjang, dan perkiraannya adalah bahwa setiap aliran air (yang
melewati najis tersebut) adalah lebih sedikit dari dua kulah. Adapun
aliran air yang tidak mengalir mengenai najis, yaitu aliran air yang
berada di atas najis, maka dihukumi tetap sebagai air suci yang
mensucikan.


مسألة) لنا جماعة يلزمهم تحصيل بولهم لطهرهم وذلك فيما لو كان عندهم ماء قلتان
فأكثر ولا يكفيهم لطهرهم ولو كمل ببول وقدر مخالفا أشد لم يغيره فيلزمهم خلطه
واستعمال جميعه وإنما احتيج للتقدير مع عدم تغيره حسا لإمكان تغيره تقديرا وهو مضرأيضا
 

[MASALAH]
Ada sebuah jamaah yang wajib atas mereka untuk buang air
kencing dan mengumpulkannya untuk digunakan bersuci,
maksudnya, pernyataan ini terjadi dalam kasus apabila mereka
mendapati air dua kulah atau lebih, tetapi air tersebut tidak cukup
bagi mereka untuk bersuci, maka apabila air tersebut dicampurkan
dengan air kencing mereka, kemudian dikira-kirakan dengan
perkiraan yang paling berat dan ternyata air kencing itu tidak sampai
merubah air, maka wajib bagi mereka mencampurkan air kencing ke
dalam air banyak itu dan wajib menggunakannya untuk bersuci.
Adapun dalam kasus ini dibutuhkan adanya mengira-ngirakan
padahal air kencing tersebut secara kasat mata tidak merubah air,
karena masih adanya kemungkinan perubahan secara kira-kira juga.
Dan perubahan secara kira-kira ini juga berbahaya, dalam artian
dapat menajiskan air.

LihatTutupKomentar