Fardhu 'Ain Dan Fardhu Kifayah

Pembahasan Fardhu Kifayah Perbandingan Fardhu 'Ain Dan Fardhu Kifayah Sasaran Fardhu Kifayah Pembahasan Sunnat Kifayah Pembahasan Wajib Muwassa Mengak

Fardhu 'Ain Dan Fardhu Kifayah

Nama kitab/buku: Terjemah kitab Ghayatul Wushul (Ghayah al-Wusul) Syarah Lubbul Ushul
Nama kitab asal: Lubbul Ushul fi Ushul al-Fiqh wad Din (لب الأصول في أصول الفقه والدين)
Pengarang: Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari
Nama lengkap penulis: Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya bin Muhammad  bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari (شيخ الاسلام ابو يحيى زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الانصاري)
Kelahiran: 1421 M   / 824 H Kairo, Mesir
Wafat: 1520 M / 926 H, Kairo, Mesir
Penerjemah:
Bidang studi: Ushul Fikih madzhab Syafi'i
 
Daftar isi   

  1. Pembahasan Fardhu Kifayah
  2. Perbandingan Fardhu 'Ain Dan Fardhu Kifayah
  3. Sasaran Fardhu Kifayah
  4. Pembahasan Sunnat Kifayah
  5. Pembahasan Wajib Muwassa'
  6. Mengakhiri Wajib Muwassa'
  7. Perkara Penyempurnaan Wajib
  8. Perkara Penyempurna Tinggal Haram
  9. Amar Tidak Mencakup Makruh
  10. Status Makruh Yang Memiliki Dua Sisi
  11. Kembali ke: Terjemah Ghayatul Wushul   

PEMBAHASAN FARDHU KIFAYAH

(مسألة فرض الكفاية) المنقسم إليه وإلى فرض العين مطلق الفرض السابق حده (مهم يقصد) شرعا (جزما) من زيادتي (حصوله من غير نظر بالذات لفاعله) وإنما ينظر إليه بالتبع للفعل ضرورة أنه لا يحصل بدون فاعل وشمل الحد الديني كصلاة الجنازة والأمر بالمعروف والدنيوي كالحرف والصنائع، وخرج عنه السنة إذ لم يجزم بقصد حصولها، وفرض العين فإنه منظور بالذات لفاعله حيث قصد حصوله من كل عين أي واحد من المكلفين أو من عين مخصوصة كالنبي ﷺ فيما خص به.

(Permasalahan).

 

(Fardhu kifayah) yang terbagi kepadanya dan kepada fardhu ‘ain oleh mutlak fardhu yang telah tersebutkan definisinya. (adalah hal penting yang dimaksukan) pada syara’ (secara tegas). Lafal  adalah merupakan tambahan dariku. (realisasinya dari ketiadaan meninjau secara dzatnya kepada siapa yang memperbuatnya). Namun, ditinjau kepadanya hanyalah dengan sebab mengikut bagi perbuatan secara otomatis bahwa perbuatan tersebut tidak diperoleh dengan tanpa ada yang memperbuatnya 

 

Definisi di atas mencakup kepada perkara bersifat agama, seperti shalat jenazah, perintah melakukan kebaikan, dan perkara bersifat duniawi, seperti pekerjaan/ profesi dan pertukangan.

 

Terkeluar dari definisi tersebut oleh sunnat. Karena sunnat tidak ditegaskan dengan kasad realisasinya. Dan terkeluar oleh fardhu ‘ain. Karena sesungguhnya fardhu ‘ain itu ditinjau secara dzat-nya kepada siapa pelakunya, karena dimaksudkan realisasinya dari setiap ‘ain, yakni, setiap orang dari mukallaf, atau dari ‘ain makhshsus (pribadi tertentu), seperti nabi Saw. pada perkara-perkara yang dikhususkan kepada beliau.

PERBANDINGAN FARDHU 'AIN DAN FARDHU KIFAYAH

(والأصح أنه دون فرض العين) أي فرض العين أفضل منه كما نقله الشهاب ابن العماد عن الشافعي رضي الله عنه. قال ونقله عنه القاضي أبو الطيب، وذلك لشدة اعتناء الشارع به بقصد حصوله من كل مكلف في الأغلب، ويدل له تعليل الأصحاب تبعا للإمام الشافعي كراهة قطع طواف الفرض لصلاة الجنازة بأنه لا يحسن ترك فرض العين لفرض الكفاية. وقال إمام الحرمين وغيره فرض الكفاية أفضل لأنه يصان بقيام البعض به جميع المكلفين عن إثمهم المترتب على تركهم له، وفرض العين إنما يصان بالقيام به عن الإثم الفاعل فقط وترجيح الأول من زيادتي.

(Dan menurut pendapat Ashah, bahwa fardhu kifayah itu berada di bawah fardhu ‘ain). Artinya, fardhu “ain lebih utama dari fardhu kifayah, sebagaimana yang telah dikutip Asy-Syihab bin Al-‘Imad daripada Asy-Syafi’iy Radhiyallahu ‘anh. Asy-Syihab berkata: Al-Qadhi Abu Ath-Thayeb telah mengutipnya daripada Asy-Syafi’iy, Keutamaan tersebut adalah karena syariat sangat mementingkan dengan fardhu ‘ain dengan kasad realisasinya dari setiap mukallaf secara umumnya.

 

Keutamaan ini ditunjuki oleh illat yang dibuat kalangan pengikut Asy-Syafi’iy -karena mengikuti bagi beliau- dengan makruh memutus thawaf fardhu untuk (melakukan) shalat jenazah, yakni, (diilatkan) dengan bahwa tidak — elok meninggalkan (memotong) fardhu ain untuk melakukan fardhu kifayah.

 

Imam Al-Haramain dan selain beliau berkata: Fardhu kifayah lebih utama. Karena, dipeliharakan dengan sebab dilakukan sebagian orang dengannya akan keseluruhan mukallaf dari berdosa mereka yang ditetapkan atas meninggalkannya. Sedangkan fardhu ‘ain hanya memelihara dengan sebab dilakukan dengannya daripada berdosa atas pelaku saja.

 

Pentarjihan di atas adalah merupakan tambahanku.

SASARAN FARDHU KIFAYAH

(و) الأصح (أنه) أي فرض الكفاية (على الكل) لإثمهم بتركه كما في فرض العين، ولقوله تعالى ﴿قاتلوا الذين لا يؤمنون بالله﴾ وهذا ما عليه الجمهور ونص عليه الشافعي في الأم. (ويسقط) الفرض (بفعل البعض) لأن المقصود كما مر حصول الفعل لا ابتلاء كل مكلف به ولا بعد في سقوط الفرض عن الشخص بفعل غيره كسقوط الدّين عنه بأداء غيره عنه، وقيل فرض الكفاية على البعض لا الكل ورجحه الأصل وفاقا بزعمه للإمام الرازي للاكتفاء بحصوله من البعض ولآية ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير﴾ وأجيب عن الأول بما مر من أن المقصود حصول الفعل لا ابتلاء كل مكلف به، وعن الثاني بأنه في السقوط بفعل البعض جمعا بين الأدلة، وعلى القول الثاني فالمختار كما في الأصل البعض مبهم فمن قام به سقط الفرض بفعله،

وقيل معين عند الله تعالى يسقط الفرض بفعله وبفعل غيره كسقوط الدين فيما مر، وقيل معين كذلك وهو من قام به لسقوطه بفعله ثم مداره على الظن، فعلى قول الكل من ظن أن غيره فعله أو يفعله سقط عنه، ومن لا فلا، وعلى قول البعض من ظن أن غيره لم يفعله ولا يفعله وجب عليه ومن لا فلا.

واعلم أن الكل لو فعلوه معا وقع فعل كل منهم فرضا أو مرتبا، فكذلك، وإن سقط الحرج بالأولين. نعم إن حصل المقصود بتمامه كغسل الميت لم يقع غير الأوّل فرضا. (و) الأصح (أنه) أي فرض الكفاية (لا يتعين بالشروع) فيه لأن القصد به حصوله في الجملة فلا يتعين حصوله ممن شرع فيه. (إلا جهادا وصلاة جنازة وحجا وعمرة) فتتعين بالشروع فيها لشدة شبهها بالعيني، ولما في عدم التعيين في الأول من كسر قلوب الجند، وفي الثاني من هتك حرمة الميت، وهذا تبعت فيه الغزالي وغيره، وقيل يتعين فرض الكفاية بالشروع فيه أي يصير به كفرض العين في وجوب إتمامه بجامع الفرضية، وهذا ما صححه الأصل تبعا لابن الرفعة وهو بعيد، إذ أكثر فروض الكفايات لا تتعين بالشروع فيها كالحرف والصنائع وصلاة الجماعة.

(Dan) menurut pendapat Ashah, (bahwa Sesungguhnya) fardhu kifayah litu atas seluruh mukallafl. Karena, berdosa semua mereka dengan sebab meninggalkannya, sebagaimana pada fardhu ‘ain. Dan karena firman Allah Swt., “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah.” (QS. At-Taubah, ayat 29).

 

Dan ini adalah pijakan jumhur, dan ke atasnya telah meng-nash oleh AsySyafi’iy di dalam Al-Umm. IDan gugur) fardhu (dengan sebab dilakukan sebagian mukallafl. Karena, yang dimaksud -sebagaimana yang telah lalu-adalah realisasi perbuatan, bukan menimpakan/ membebankan setiap mukallaf dengannya. Dan tidak tertutup kemungkinan pada gugur fardhu tersebut dari seseorang dengan sebab dilakukan selainnya,

 

Seperti contoh gugur utang darinya dengan sebab ditunaikan orang lain untuknya.

 

Ada yang berkata, Fardhu kifayah Itu atas sebagian mukallaf, bukan keseluruhan. Dan pendapat ini diunggulkan Ashal,’ karena sesuai dengan klaimnya bagi imam ArRaziy, (2). karena mencukupkan realisasinya dari sebagian mnukallaf, dan (2). karena ayat: “Hendaklah ada segolongan dari kalian yang mengajak kepada kebaikan”. (QS. Ali Imran, ayat 104).?

 

Untuk alasan pertama dijawab dengan alasan yang telah lalu, yakni, : bahwa sesungguhnya maksud adalah realisasi perbuatan, bukan membebankan setiap mukallaf dengannya. Dan untuk alasan kedua dijawab dengan bahwa sesungguhnya gugur fardhu dengan sebab dilakukan sebagian itu adalah karena mengumpulkan antara dua dalil.

 

Berdasarkan pendapat kedua, maka menurut pendapat pilihan, – sebagaimana di dalam Ashal- sebagian itu adalah yang mubham. Karena itu, barang siapa yang mendirikan kewajiban ini, maka tergugurlah fardhu dengan sebab perbuatannya.

 

Ada yang berkata, Yang tertentu di sisi Allah Swt., yang gugur fardhu tersebut dengan sebab perbuatan darinya dan perbuatan dari selainnya, seperti gugur utang pada contoh sebelumnya.

 

Ada yang berkata: Yang tertentu di sisi Allah Swt. Dan yang tertentu tersebut adalah orang-orang yang mendirikan kewajiban ini. Karena, gugurnya fardhu dengan sebab perbuatan dari mereka.

 

Kemudian, pijakan hukum fardhu kifayah adalah pada zhan (dugaan). Maka, berdasarkan pendapat yang menyebut “atas keseluruhan”: Barang siapa yang menduga bahwa selainnya telah memperbuat atau akan memperbuat hal tersebut – maka gugur fardhu darinya. Dan barangsiapa yang tidak demikian maka tidak.

 

Dan berdasarkan pendapat yang menyebut “atas sebagian”, Barangsiapa yang menduga bahwa selainnya tidak memperbuatnya dan tidak akan memperbuatnya maka wajib fardhu tersebut ke atasnya. Dan barangsiapa yang tidak demikian maka tidak.

 

Ketahuilah. Sesungguhnya keseluruhan mukallaf tersebut, seandainya mereka memperbuatnya secara bersamaan maka berlaku perbuatan masing-masing dari mukallaf tersebut (dihitung) kepada fardhu, atau secara berurutan maka begitu juga. Meskipun dosa itu telah gugur dengan (perbuatan) orang-orang yang lebih dulu. Akan tetapi, jika telah hasil maksud dengan kesempurnaannya, seperti memandikan mayat, maka tidak berlaku (dihitung) kepada fardhu dari selain orang pertama.

PEMBAHASAN SUNNAT KIFAYAH

(وسنتها) أي سنة الكفاية المنقسم إليها وإلى سنة العين مطلق السنة السابق حده. (كفرضها) فيما مر لكن (بإبدال جزما بضده) فيصدق ذلك بأنها مهمّ يقصد بلا جزم حصوله من غير نظر بالذات لفاعله كابتداء السلام والتسمية للأكل من جهة جماعة، وبأنها دون سنة العين، وبأنها مطلوبة من الكل، وبأنها لا تتعين بالشروع فيها أي لا تصير به كسنة العين في تأكد طلب إتمامها على الأصح في الثلاث الأخيرة.

(Dan sunnatnya). Artinya, sunnat kifayah yang terbagi kepadanya dan kepada sunnat ‘ain oleh mutlak sunnat yang telah tersebutkan definisinya (sama seperti fardhu kifayah) pada segala sesuatu yang telah lalu. Akan tetapi, (dengan menggantikan kata (tegas) dengan kebalikannya (tidak tegas). Maka, terbenar oleh pentasybihan (penyerupaan) tersebut (1). bahwa sunnat kifayah adalah hal yang penting yang dikasad realisasinya dengan tidak tegas, tanpa memandang secara dzat-nya kepada siapa pelakunya, seperti memulai salam dan membaca basmalah saat makan dari pihak jamaah, (2). bahwa sunnat kifayah berada di bawah sunnat ‘ain, (3). bahwa sunnat kifayah itu dituntutkan dari keseluruhan mukallaf, dan (4). bahwa sunnat kifayah tidak menjadi sunnat ‘ain dengan sebab masuk ke dalamnya. Artinya, dengan sebabnya, sunnat kifayah tidak jadi seperti sunnat ‘ain pada kuat tuntutan menyempurnakan-nya (menyelesaikannya), menurut pendapat Ashah pada tiga hal terakhir.

PEMBAHASAN WAJIB MUWASSA'

(مسألة: الأصح أن وقت) الصلاة (المكتوبة) كالظهر (جوازا وقت لأدائها) ففي أي جزء منه أوقعت، فقد أوقعت في وقت أدائها الذي يسعها وغيرها، ولهذا يعرف بالواجب الموسع، وقولي جوازا راجع إلى الوقت لبيان أن الكلام في وقت الجواز لا في الزائد عليه أيضا من وقتي الضرورة والحرمة، وإن كان الفعل فيهما أداء بشرطه. وقيل وقت أدائها أول الوقت فإن أخرت عنه فقضاء وإن فعل في الوقت حتى يأثم بالتأخير عن أوله، وقيل هو آخر الوقت فإن قدمت عليه فتقديمها تعجيل، وقيل هو الجزء الذي وقعت فيه من الوقت وإن لم تقع فيه فوقت أدائها الجزء الأخير من الوقت، وقيل إن قدمت على آخر الوقت وقعت واجبة بشرط بقاء الفاعل مكلفا إلى آخر الوقت فإن لم يبق كذلك وقعت نفلًا. وهذه الأقوال الأربعة منكرة للواجب الموسع.

(Permasalahan).

 

(Menurut pendapat Ashah, sesungguhnya waktu) bagi shalat (fardhul) seperti zuhur (secara jawaz’, adalah merupakan waktu bagi ada’—nya) . Maka, di bagian mana saja dari waktu tersebut dijatuhkan shalat sungguh dijatuhkan shalat tersebut di dalam waktu ada’-nya yang memuat shalat tersebut dan selainnya. Karena ini, dikenalkannya dengan wajib muwassa’.

 

Dan lafal dariku,  (secara jawaz) itu kembali kepada waktu, bagi menerangkan bahwa pembicaraan ini adalah tentang waktu jawaz, bukan pada yang melebihi atasnya sula, dari dua waktu lain: darurat dan haram, sekalipun perbuatan di dalam kedua waktu tersebut adalah ada’ dengan ketentuannya.

 

Ada yang berkata: Waktu ada’ bagi shalat adalah awal waktunya. Jika diakhirkan shalat dari awal waktu maka disebut dengan qadha’, sekalipun dilakukannya di dalam waktu, sehingga berdosa ia dengan sebab menundanya dari. awal waktu.

 

Ada yang berkata: Waktu ada’ bagi shalat adalah akhir waktu. Karena itu, jika didahulukan shalat atasnya, maka mendahulukannya itu adalah penyegeraan.

 

Ada yang berkata: Waktu ada’ bagi shalat adalah bagian waktu yang dijatuhkan shalat ke dalamnya. Jika shalat tidak jatuh ke dalamnya maka waktu ada” adalah bagian waktu yang akhir.

 

Ada yang berkata: Jika shalat didahulukan atas akhir waktu maka ia jadi sebagai shalat wajib, dengan syarat berkekalan pelaku shalat tersebut sebagai mukallaf hingga akhir waktu. Jika tidak kekal demikian maka jadi sebagai sunnat.

 

Keempat pendapat ini mengingkari adanya wajib muwassa’..

 

KETENTUAN MENGAKHIRI SHALAT

(و) الأصح (أنه) أي الشأن (يجب على المؤخر) أي مريد التأخير عن أول الوقت الذي هو سبب الوجوب (العزم) فيه على الفعل في الوقت كما صححه النووي في مجموعه، ونقله غيره عن أصحابنا ليتميز به التأخير الجائز عن غيره وتأخير الواجب الموسع عن المندوب في جواز التأخير عن أول الوقت، وقيل لا يجب اكتفاء بالفعل، ورجحه الأصل وزعم أن الأول لا يعرف إلا عن القاضي أبي بكر الباقلاني ومن تبعه، وأنه من هفوات القاضي ومن العظائم في الدين.
فإن قلت يلزم على الأول تعدد البدل والمبدل واحد. قلنا ممنوع إذ لا يجب إعادة العزم، بل ينسحب على آخر الوقت كانسحاب النية على أجزاء العبادة
 
الطويلة كما قاله إمام الحرمين وغيره.
فإن قلت العزم لا يصلح بدلًا عن الفعل إذ بدل الشيء يقوم مقامه والعزم ليس كذلك. قلت لا يخفى أن المراد بكونه بدلًا عنه أنه بدل عن إيقاعه في أول وقته لا عن إيقاعه مطلقا والعزم قائم مقامه في ذلك.


(Dan) menurut pendapat Ashah, (sesungguhnya) segala sesuatu (wajib atas orang yang mengakhirkan), artinya, yang ingin mengakhirkan shalat dari awal waktu yang merupakan sebab wajibnya (untuk ber-‘azam (bertekad)J pada awal waktu untuk melakukannya di dalam waktu, sebagaimana dikuatkan An Nawawiy di dalam kitab beliau, Al-Majmu’. Pendapat ini juga dikutip selain beliau dari kalangan kita. Hal tersebut agar dengan adanya tekad dapat terbedakan pengakhiran yang boleh dari yang tidak boleh, dan pengakhiran wajib muwassa’ dari perkara sunnat pada kebolehan mengakhirkan dari awal waktunya.

 

Ada yang berkata: ‘Azam tersebut tidak wajib. Karena, cukup dengan diperbuatnya. Pendapat ini dikuatkan Ashal.’ Beliau mengklaim bahwa pendapat pertama itu hanya dikenali daripada Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani dan orang-orang yang mengikutinya. Dan sesungguhnya hal tersebut adalah ketergesa-gesaan dari Al-Qadhi, dan sebagian dari kesilapan besar di dalam agama.

 

Jika kamu berkata: Berdasarkan pendapat pertama, akan melazimi banyak badal dengan mubdal yang satu.

 

Kami menjawabnya: Melazimi tersebut tertolak. Karena, tidak diwajibkan mengulangi ‘azam Tetapi, ia menarik hingga ke akhir waktu, seperti menarik niat ke atas setiap bagian ibadat yang panjang, sebagaimana yang telah diucapkan imam Al-Haramain dan selainnya.

 

Jika kamu berkata, “Azam tidak patut dijadikan sebagai pengganti untuk perbuatan. Karena, badal (pengganti) sesuatu dapat berposisi pada posisi sesuatu tersebut. Sedangkan ‘azam tidak demikian.

 

Aku menjawabnya, Jelas bahwa yang dimaksud dengan keberadaannya sebagai pengganti adalah ia pangganti dari menjatuhkannya di awal waktu, bukan menjatuhkannya secara mutlak. Dan ‘azam dapat berposisi pada posisi tersebut.

MENGAKHIRI WAJIB MUWASSA'

(ومن أخر) الواجب الموسع بأن لم يشتغل به أول الوقت مثلًا (مع ظن فوته) بموت أو حيض أو نحوهما. وهذا أعم من قوله مع ظن الموت. (عصى) لظنه فوت الواجب بالتأخير (و) الأصح (أنه إن بان خلافه) بأن تبين خلاف ظنه (وفعله) في الوقت (فأداء) فعله لأنه في الوقت المقدر له شرعا وقيل فعله قضاء لأنه بعد الوقت الذي تضيق بظنه وإن بان خطؤه، ويظهر أثر الخلاف في نية الأداء أو القضاء وفي أنه لو فرض ذلك في الجمعة تصلى في الوقت على الأول وتقضى ظهرا لا جمعة على الثاني. (و) الأصح (أن من أخر) الواجب المذكور (مع ظن خلافه) أي عدم فوته فبان خلاف ظنه ومات مثلًا في الوقت قبل الفعل. (لم يعص) لأن التأخير جائز له والفوت ليس باختياره، وقيل يعصى وجواز التأخير مشروط بسلامة العاقبة، هذا إن لم يكن عزم على الفعل، وإن عصى بتركه العزم وإلا فلا يعصى قطعا قاله الآمدي. (بخلاف ما) أي الواجب الذي (وقته العمر كحج) فإن من أخره بعد أن أمكنه فعله مع ظن عدم فوته كأن ظن سلامته من الموت إلى مضيّ وقت يمكنه فعله فيه ومات قبل فعله يعصى على الأصح، وإلا لم يتحقق الوجوب، وقيل لا يعصى لجواز التأخير له وعصيانه في الحج من آخر سني الإمكان على الأصح لجواز التأخير إليها، وقيل من أولها لاستقرار الوجوب حينئذ، وقيل غير مستند إلى سنة بعينها.

(Dan barangsiapa yang mengakhirkan/ menunda) wajib muwassa’. Dalam artian, tidak melakukannya di awal waktu, – contohnyaIserta menduga terlewatkannya) dengan sebab mati, haid atau semisal keduanya. Lafal  (serta menduga terlewatkannya) lebih umum dari kalimat Ashal:  (serta menduga meninggalnya).’ (maka, ia telah bermaksiat). Karena, dugaannya melewatkan wajib dengan sebab mengakhirkannya. (Dan) menurut pendapat Ashah, (bahwa, jika ternyata salah dugaannya). Dalam artian, terbukti sebalik dari dugaannya (dan ia melakukannya) di dalam waktu, (maka disebut ada’) perbuatannya. Karena, perbuatan tersebut di dalam waktu yang telah ditentukan baginya pada syara’.

 

Ada yang berkata, Perbuatannya itu adalah qadha’. Karena, perbuatan tersebut dilakukan setelah waktu yang menjadi sempit dengan sebab dugaannya, meskipun dugaannya itu salah.

 

Tampak pengaruh dari perbedaan pendapat ini pada niat ada’ dan qadha’, dan pada perkara yang seandainya difardhukan hal demikian pada shalat jumat yang dishalatkan sebagai jum’at di dalam waktu, berdasarkan pendapat pertama, dan di-qadha’ sebagai zuhur, bukan jumat, berdasarkan pendapat kedua.

 

(Dan) menurut pendapat Ashah, (bahwa seseorang yang mengakhirkan) wajib muwassa’ tersebut (serta dugaan sebaliknya) , yakni, tidak melewatkannya, dan ternyata sebalik dari dugaannya dan ia meninggal -contohnya- di dalam waktu sebelum melakukannya (maka ia tidak melakukan maksiat). Karena, pengakhiran ini boleh baginya. Sedangkan terlewatkan itu bukan pilihannya.

 

Ada yang berkata, Ia melakukan maksiat. Dan kebolehan mengakhirkannya itu disyaratkan dengan selamat dari akibat (faktor yang dapat melewatkannya). Perbedaan ini, jika ia tidak berazam untuk melakukannya, dan sekalipun ia telah bermaksiat dengan meninggalkan ‘azam. Dan jika tidak maka ia tidak bermaksiat, sepakat pendapat. Hal ini telah diucapkan Al-Amidiy.

 

(Berbeda halnya, sesuatu, artinya, wajib yang (waktunya adalah seumur hidup, seperti haji). Maka, bahwa seseorang yang mengakhirkannya setelah ia mungkin untuk melakukannya serta menduga tidak melewatkannya, seperti contoh ia menduga selamat dari kematian hingga melewati waktu yang memungkinkan melakukannya di dalam waktu, namun ia meninggal sebelum melakukannya maka ia bermaksiat, menurut pendapat Ashah. Jika tidak demikian, tentu tidak dapat dipastikan wajib.

 

Ada yang berkata, Ia tidak bermaksiat. Karena boleh pengakhiran baginya. Maksiatnya pada masalah haji adalah dimulai dari akhir tahun yang memungkinkan, menurut pendapat Ashah. Karena, kebolehan pengakhiran hingga kepadanya.

 

Ada yang berkata: Dari awal tahun. Karena, ketetapan wajib di saat itu.

 

Ada yang berkata, (maksiat atau tidaknya itu) tidak bersandarkan kepada diri tahun (awal atau akhir tahun).

PERKARA PENYEMPURNAAN WAJIB

(مسألة) الفعل (المقدور) للمكلف (الذي لا يتم) أي يوجد عنده (الواجب المطلق إلا به واجب) بوجوب الواجب (في الأصح) سببا كان أو شرطا إذ لو لم يجب لجاز ترك الواجب المتوقف عليه، وقيل لا يجب بوجوبه لأن الدال على الواجب ساكت عنه، وقيل يجب إن كان سببا كالنار للإحراق بخلاف الشرط كالوضوء للصلاة لأن السبب أشد ارتباطا بالمسبب من الشرط بالمشروط، وقيل يجب إن كان شرطا شرعيا كالوضوء للصلاة لا عقليا كترك ضد الواجب ولا عاديا كغسل جزء من الرأس بغسل الوجه ولا إن كان سببا شرعيا كصيغة الاعتاق له أو عقليا كالنظر للعلم عند الإمام وغيره أو عاديا كحز الرقبة للقتل، إذ لا وجود لمشروطه عقلًا أو عادة ولا لمسببه مطلقا بدونه، فلا يقصدهما الشارع بالطلب بخلاف الشرط الشرعي، فإنه لولا اعتبار الشرع لوجد مشروطه بدونه وخرج بالمقدور غيره كقدر الله وإرادته، إذ الإتيان بالفعل يتوقف عليهما وهما غير مقدورين للمكلف، وبالمطلق المقيد وجوبه بما يتوقف عليه كالزكاة وجوبها متوقف على ملك النصاب، فلا يجب تحصيله فالمطلق ما لا يكون مقيدا بما يتوقف عليه وجوده وإن كان مقيدا بغيره كقوله تعالى ﴿أقم الصلاة لدلوك الشمس﴾ فإن وجوبها مقيد بالدلوك لا بالوضوء والتوجه للقبلة ونحوهما.

(Permasalahan).

 

Perbuatan (yang mampu) atas mukallaf (yang mana, tidak sempurna) . Artinya, (tidak) akan diperdapatkan di sisinya (perkara wajib yang mutlak melainkan dengannya, adalah perbuatan itu wajib) dengan sebab kewajiban perkara wajib, (menurut pendapat Ashah)). Baik itu sebab atau syarat. Karena, seandainya perbuatan tersebut tidak wajib tentu boleh meninggalkan perkara wajib yang terhenti ke atasnya.

 

Ada yang berkata: Perbuatan tersebut tidak wajib dengan sebab kewajiban perkara wajib. Karena, scsungguhnya petunjuk (dalil) untuk perkara wajib diam untuknya.

 

Ada yang berkata: Perbuatan tersebut wajib, jika ia berbentuk sebab, seperti api bagi membakar. Berbeda halnya dengan syarat, seperti wudhu’ bagi shalat. Karena, bahwasanya sebab lebih kuat dari segi keterikatan dengan musabbab dibandingkan syarat dengan masyruth-nya.

 

Ada yang berkata, Perbuatan tersebut wajib, jika ia berbentuk syarat yang syar’iy, seperti wudhu bagi shalat. Tidak yang berbentuk aqliy (rasio akal), seperti meninggalkan kebalikan wajib, dan tidak yang bersifat adat/ kebiasaan, seperti membasuh satu bagian dari kepala bagi membasuh wajah, dan tidak jika ia berbentuk sebab yang Syar’iy, seperti sighat pemerdekaan bagi pemerdekaan budak, atau sebab yang aqliy, seperti nazhar (analisa) bagi ilmu (pengetahuan) menurut imam Al-Haramain dan selainnya, atau bersifat adat, seperti menebas .leher bagi membunuh (eksekusi mati). Karena, tidak wujud bagi masyruth-nya pada akal dan adat, dan tidak wujud bagi musabbab-nya secara mutlak, dengan tanpanya. Maka, keduanya tidak dimaksudkan syariat dengan tuntutan. Berbeda halnya dengan syarat yang syariy. Karena, seandainya bukan peninjauan syara’ tentu dijumpai masyruth dengan tanpa ada syarat.

 

Terkeluar dengan lafal (yang mampu) oleh selainnya, seperti Qudrah dan Iradah Allah Swt. Karena, mendatangkan dengan suatu perbuatan terhenti atas keduanya! Dan keduanya tidak mampu bagi mukallaf.

 

Terkeluar dengan “mutlak” oleh perkara wajib yang dikaitkan wajibnya dengan sesuatu yang terhenti wajib ke atasya, seperti zakat yang wajibnya terhenti atas kepemilikan nishab, maka tidak wajib menghasilkannya. Karena itu, mutlak adalah segala perkara yang tidak dikaitkan dengan sesuatu yang terhenti hukum wajib ke atasnya, sekalipun ia dikaitan dengan selainnya, seperti firman Allah Swt.: “Dirikanlah shalat karena tergelincir matahari”. (QS. Al-Isra’, ayat 78). Bahwasanya kewajiban shalat itu dikaitkan dengan tergelincir, bukan dengan wudhu’, menghadap kiblat dan semisal keduanya.

PERKARA PENYEMPURNA TINGGAL HARAM

(فلو تعذر ترك محرم إلا بترك غيره) من الجائز قيل كماء قليل وقع فيه بول.
 
(وجب) ترك ذلك الغير لتوقف ترك المحرم الذي هو واجب عليه. (أو اشتبهت حليلة) لرجل من زوجة أو أمة فتعبيري بذلك أولى وأعم من قوله أو اختلطت منكوحة (بأجنبية) منه (حرمتا) أي حرم قربانهما عليه، أما الأجنبية فأصالة، وأما الحليلة فلأنه لا يعلم الكف عن الأجنبية إلا بالكف عنها (وكما لو طلق معينة) من زوجتيه مثلًا (ثم نسيها) فإنهما يحرمان عليه لما مرّ. وقد يظهر الحال في هذه والتي قبلها فترجع الحليلة وغير المطلقة إلى ما كانتا عليه من الحل فلم يتعذر فيهما ترك المحرم وحده فلم يشملهما ما قبلهما ولو شملهما لكان الأولى إبدال أو بكان ليكونا مثالين له.

(Apabila uzor (tidak mungkin) meninggalkan perkara haram kecuali dengan meninggalkan sesuatu yang lainnya) dari yang boleh, -ada yang berkata, Seperti contoh, air sedikit yang kejatuhan najis ke dalamnya- (maka wajib) meninggalkan sesuatu yang lain tersebut. Karena, terhenti meninggalkan perkara haram -yang mana hal tersebut adalah wajibke atasnya.

 

(Atau, terjadi kesamaran wanita halal) bagi seorang lelaki berupa istri atau budak. Maka, ibarat dariku dengan demikian itu lebih baik dan lebih umum daripada kalimat dari Ashal:  (bercampur aduk wanita yang dinikahi). (dengan wanita lain) darinya (maka, diharamkan keduanya). Artinya, diharamkan ke atasnya mendekati kedua wanita tersebut. Adapun wanita lain maka karena dasar (haram). Dan wanita halal adalah karena tidak dapat diketahui cara menahan diri dari wanita lain melainkan dengan menahan diri darinya.

 

(Sama halnya, andai seseorang menceraikan wanita tertentu dari dua orang istrinya -contohnya-(kemudian ia terlupa untuk yang tertentu tersebuttersebut). Maka, keduanya diharamkan baginya karena alasan yang di atas.

 

Dan kadangkala keadaan tersebut menjadi tampak pada perkara ini dan perkara sebelumnya. Maka, perempuan halal dan istri yang tidak diceraikan tersebut kembali kepada hal sebelumnya, yakni halal. Maka, tidak menjadi uzor meninggalkan perkara haram saja pada kedua kasus tersebut. Dan kedua kasus ini tidak termasuk ke dalam ketentuan sebelumnya. Dan bila keduanya termasuk ke dalamnya tentu yang lebih bagus adalah menggantikan lafal (atau) dengan  (seperti contoh, bahwa) agar keduanya menjadi contoh bagi ketentuan tersebut.

 AMAR TIDAK MENCAKUP MAKRUH

(مسألة مطلق الأمر)
بما بعض جزئياته مكروهة كراهة تحريم أو تنزيه (لا يتناول المكروه) منها الذي له جهة أو جهتان بينهما لزوم (في الأصح) . وقيل يتناوله، وعزى للحنفية لنا لو تناوله لكان الشيء الواحد مطلوب الفعل والترك من جهة واحدة وذلك تناقض (فلا تصح الصلاة في الأوقات المكروهة) أي التي كرهت فيها صلاة النفل المطلق بشرطه كعند طلوع الشمس حتى ترتفع كرمح وعند اصفرارها حتى تغرب. (ولو) قلنا إن كراهتها فيها (كراهة تنزيه في الأصح)

(Permasalahan).

 

(Kemutlakan amar (perintah)) dengan sesuatu yang sebagian dari Juziyyat-nya itu makruh sebagai makruh tahrim atau tanzih. (tidak mencakup kepada makruh) dari segala juziyyat tersebut yang mana makruh itu ada yang satu sisi atau dua sisi yang diantara keduanya saling melazimi (menurut pendapat Ashah).

 

Ada yang berkata: Kemutlakan amar mencakup makruh. Dinisbatkan pendapat ini kepada kalangan Hanafiyyah.

 

Menurut kita, andai kemutlakan amar mencakup makruh sungguh keberadaan sesuatu yang tunggal itu adalah yang dituntut untuk diperbuat dan ditinggalkan dari satu sisi. Dan demikian merupakan hal yang kontradiktif (berlawanan). (Karena itu, tidak sah hukumnya shalat di dalam waktu-waktu yang makruh). Artinya, waktu yang dimakruhkan padanya shalat sunnat mutlak dengan ketentuannya. Seperti contoh, shalat di saat matahari terbit hingga terangkat umpama sepenggalah, dan shalat di saat matahari menguning hingga terbenam.

 

Walapun) kita berpendapat bahwa kemakruhan shalat di waktu itu adalah makruh tanzih, menurut pendapat Ashahl, sebagaimana jikalau kita berpendapat bahwa kemakruhan itu adalah makruh tahrim. Dan pendapat ini adalah Ashah. Karena, beramal dengan asal pada larangan daripadanya di dalam hadits Muslim. Hanyasanya shalat dihukumi tidak sah atas setiap dari keduanya (tanzih & tahrim) adalah karena seandainya shalat itu sah, yakni, sesuai dengan syara’, disebabkan bahwa makruh tersebut dicapai oleh amar dengan perbuatan mutlak maka melazimi adanya kontradiktif. Karena itu, keberadaan shalat tersebut atas makruh tanzih serta bolehnya adalah fasid (rusak), yang tidak dicapainya oleh amar, sehingga tidak diberikan pahala atas shalat tersebut.

 

Ada yang berkata, Shalat tersebut sah, yang dicapainya oleh amar, sehingga diberikan pahala atasnya. Sedangkan larangan darinya kembali pada perkara eksternal darinya, yakni, seperti kemiripan dengan para penyembah matahari pada sujud mereka di saat terbit dan terbenam matahari.

 

Dan dengan ini (kembali pada perkara eksternal) -yang sesuai bagi penjelasan yang akan datang pada shalat di tempat-tempat yang dimakruhkankalangan Hanafiyyah memilah-milah juga’ pada pendapat mereka tentang hal tersebut dengan sah serta makruh tahrim. Dan pendapat ini tertolak, sebagaimana yang telah kami terangkan di dalam Al-Hasyiyah.

 

Tidak menjadi musykil (rumit) tentang apa yang telah disebutkan di atas dengan sah puasa semisal hari jum’at serta kemakruhannya. Karena, larangan darinya adalah karena perkara eksternal. Yakni, lemah dari memperbanyak ibadat di hari jum’at.

 

Terkeluar dengan kalimat, “kemutlakan amar” oleh yang dikaitkan dengan selain makruh. Maka, tidak mencakup makruh, secara pasti.

 

Terkeluar dengan kalimat, “waktu-waktu yang dimakruhkan” oleh tempat-tempat yang dimakruhkan. Maka, shalat di tempat makruh itu hukumnya sah. Sedangkan larangan darinya adalah karena perkara eksternal (yang tidak lazim), secara pasti. Seperti contoh, mendatangkan bagi was-was syaithan dengan sebab shalat di dalam kamar mandi, dan dalam kandang unta bagi berlariannya, dan di pinggir jalan bagi lalu-lalang manusia. Setiap hal ini dapat membimbangkan hati dari shalat. Maka, larangan darinya pada tempat tersebut bukan karena diri shalat dan bukan karena perkara lazim (teri tersebut di atas.

STATUS MAKRUH YANG MEMILIKI DUA SISI


(Jika ada baginya), artinya, bagi makruh (dua sisi yang tidak saling melazimi (terkait) diantara keduanyal, seperti shalat pada tempat-tempat yang dimakruhkan. Telah terdahulu penjelasannya. Dan seperti shalat di dalam (tanah atau pakaian) rampasan. Karena, sesungguhnya perkara tersebut adalah (sisi) shalat dan (sisi) rampasan, yakni, menggunakan kepemilikan orang lain secara salah (zalim). Dan masing-masing dari keduanya dapat ditemukan dengan tanpa adanya yang lain. (maka mencakup makruh tersebut) oleh kemutlakan amar. Karena, ternafi dari yang diwaspadai pada sebelumnya. (secara pasti pada larangan tanzih) sebagaimana pada contoh yang pertama.’ (Dan menurut pendapat Ashah, pada) larangan (tahrim) sebagaimana pada yang kedua.

 

Ada yang berkata, Kemutlakan amar tidak mencakup makruh semacam ini pada larangan tahrim karena memandang bagi sisi pengharaman. 

LihatTutupKomentar