Bab 1: Tafsir bil Ra'yi dan Bil Ma'tsur
Nama kitab/buku: Kitab Tafsir dan Ulama Tafsir
Judul kitab asal: TAFSIR WAL MUFASSIRUN
Nama penulis: Dr. Muhammad Sofyan, MA
Editor: Syamsul Amri Sir,egar, S Th l
Lahir: Pulau banyak, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat pada 3 November 1969
Wafat: Medan, Sumatera Utara, Maret 2018
Penerjemah ke Bahasa Indonesia: M Nur Prabowo S
Bidang studi: Ulum Al-Quran, Ilmu Tafsir
Daftar Isi
- BAB I TAFSIR BIL RA'YI
- A. Tafsir Bil Ra'yi
- B. Kitab-Kitab Yang Tergolong Tafsir Bil Ra'yi
- BAB II TAFSIR BIL MA'TSUR
- A. Tafsir Bil Ma'tsur
- B. Macam-Macam Tafsir Bil Ma'tsur
- C. Nilai-Nilai Tafsir Bil Ma'tsur
- D. Keistimewahaan clan Kelemahan
- Kembali ke: Tafsir wal Mufassirun (Kitab Tafsir dan Ulama Tafsir)
A. TAFSIR BI AL-RA'YI
Tafsir yang bersumber dari riwayat ini tercatat sebagai tafsir yang disepakati kebolehannya dari pada tafsir yang berlandaskan nalar-ijtibad (tafsir bi al-ra)ri) yang masih diperselisihkan oleh beberapa ulama. Kendatipun demikian,.tafsir seperti ini justru membuat penaf-siran atas ayat-ayat AI Qur'an karena ketergantungan terhadap.riwayat yang ada.Karya-karya tafsir ma'tsur yang belakangan pad.a wnu.mnya hanya berupa ulangan clan nukilan dari karya kary.a tafsir pendahulunya. Hal ini bisa dilihat dalam tafsir lbnKatsir atauptm setelahnya, yang banyakmemilikikesamaan dengan pendahulunya seperti Al-Thabari, Ibn yyahdan lainnya.. Yang membedakannya hanyalah penyajian dan pembahasannya saja.
Setelah berakhir masa salaf sekicar abad ke-3 H.i dan peradabanislamsemakinmaju danherkembang, maka Iahirlah berbagaimadzhabdan aliran dikalangan umat. Masing..masing golongan berusaha mengikutkan pengikutnya da1a mengem bangkan f.ah.ammereka. Untuk mencapai maksud itu, mereka mencari hadis-hadis Nabi saw, lalu rnereka tafsirkan sesuai dengan keyakinan yang mereka anut. Ketika inilah mulai berkemhang tafsir dengan bentuk al-ra)ru (tafsir melalui pemikiran atauijtihad). Kamnfaqaha' (ahlifildh) menafsirkannya dari sudut hukum fikih se.perti a] Jashshash, al- Qurtubi,, dan lain-lain; kaum teolog menafsirkannya dari sudut-sudut pemahaman teologis sepertial- eft kaiangana1-Zamakbsary; clan kaum sufijrugamenafsirkanAl.!Quranmerwrutpemahaman dan pengalaman batin mereka seperti Tafsir Al-Qur'an al J\dtim oleh al-Tustari; FutuhatMaki;yyat oleh Ibn fuabi; dan lain-lam. Sela.in itu dalam. bidangjuga 1ahir tafs sepertial bahr al-muhith oleh abu hayyan; dan fain-lain. Pendek kata, berba.gai.corak tafsir bi al-ray muncul di kalangan-kalangan ulama muta'akhkhirin; sehingga di abad modem lahir lagi
tafsir menurut tinjauan sosiologis dan sams seperti Tafsir al manar dan al-jawahir. Melihat petkembangan tafsir bi al-ray yangdemikianpesa.4 maka tepatlah apayang dikatakanManna' al-Oaththan bahwa tafsir bi al-raymengalahkanpekembangan al ma.'tsur.1.
Tafsir bi al-ra'yi berasal dari kata tafsir, bi dan al-ra)ti.
Secara semantik al-ra)ri berarti keyakinan, pengaturan dan
1 M. Hasby As-Siddieqy, Sejarah dan Pmgantar Ilmu A1-Qur'an/
Tuf-sir (Jakarta Bulan Bintang, 1978), h. 377
akal.Al-m)'ijugaidentikdenganijtibad.Berdasarkan gert.ian semantik tersebut, para pakarilmu tafsirmenyatakan bahwa yang dimaksud den,gan tafsir bi al raj'i adalah menyingkap isi kandungan al-Qur'an dengan ijtihad yang dilakukan oleh aka!.
Menurut istilah tafsir bi al-ra)'i adalah penafsiran. yang dilakukan denganmenetapkanrasio sebagai.titik tolak. Corak ind.dinamakanj.Igadengana1- Tafsirbi a!-ljtihadi.,.yaitupenafimm yang menggunakan ijtihad..Karena penafsiran seperti ini didasarkan atas hasil pernildran seorang mufassiL Perbedaan perbedaan antara satu mufassir dengan mufassir lain lebih mungkin terjadi, dibandingkan al-Tafsir bial-ma1tsur. Karena alasan tersebut, beberapa ulama menolakpenafsiran dengan corakini, rum menyebutnya sebagai al- Tajsir bi al.-Hawa (tafsir atas dasar hawa nafsu). N amun, banyak para ulama yang daparmenerima tafsir corakinijuga, tapidengansyarat-syarat tertentu pula. Penerimaan mereka didasarkan ata.s ayat ayat al-Qur'an sencliri, yangmenurut mereka, memang meng anjurkan manusia untukmemikirk.an dan memahami kan-· dungannya. Adapun ayat-ayatyang menduknng kebolehan tafsir corak ini,. sebagaimana yang dilrutip Shubhi al-Shalih, adalah sebagai berikut.2
Artinya '}1.pakah m.ereka tidak memperhatikan al-Qur'an
1 M. Qurais siab, Sejara. Vlwnul Qur'an. fed). Azyumatdi Azra,
Get. lI (Jakarta Pustaka Firdaus, 2000), h. 177.
atauknh. lroti mereka terkunei1 (Q.S. MuJ1ammad
24).
Artinya "Jni adalah kitab yang kami turunkan kepadamu,, penuh derwan ber agarmereka memperho.tikan cyat-ayatclan orang-orangycmg mempunyai pikiran dapat memperoleh pelajaran darinya". (Q.S. a.s Shad 29).
Perlu dijelaskan, meskiptm mufassir dalam hal inimeng gunakan pemikira.n. namun ia tidaklah bebas mutlak. Mufas.sir harus bertolak daripemahamannya terhadap.nilai-nilai yang terkandungdalamal-Qutan clanStmnahNabiSAW Akan tetapi pemahaman tersebut tidak cukup untukmenjamin penafsiran caraini Karena itu, da1arn menggunakan mraktafslrini diber lakukansyarat-syaratmufassir dan kaedah-kaedah penafsiran yang ketat antara fain
1) Merniliki pengetahuan hahasa Arab dan segala seluk
beluknya.
2) Menguasai ilmu-ilmu al-Qur'an.
3) Menguasai ilmu- ilmu yangberhubungan dengan ilmu
ilinu al-'Qur'an, sepertihadis, Ushul fiqh danlain sebagainya.
4) Beraq·dah yang benar.
S) Mengetahui prinsip-prinsip pokok agama Islam.
6) Menguasai ilmu ymigberhubungan dengan pokokbahasan
ayat yang ditafsirkan.
Yang dimaksud ar-ra)'i di sini adaiah ''ijtihad" yang ber dasarkan pada prinsip-prinsipyan,gbenm; dankaidah-kaidah yangbenaryang \llll.um berlaku, yangwajib d.im.iliki oleh siapa saja yang mau terjun langsung kedalam dunia penafsiran Al Qtrr'an, atau siapa saja yang mau menyingkap keterangan artinya.
Danmaksudnya dalam halini bukan hanya semata-mata ij1tihad, atau kama hobbi, atauhanrya cukup den,gan apa yang terdidik di benaknya, atau semaunya sencliri.3
Al-Qurt!hu·b berkata barang siapa menafsi.rkan Al-qui'an hanya beniasarkan lintasan praduganya, atau apa yang Ttmg cerdetik dihaDnya, tanpa berda.5arlran diduksi atauasal-usumya_, maka dia telah bersalah dan terc.ela, baginyalah apa yang disabdakan Rastilullah saw
Artinya %arangsiapa berdusta kepadasaya dengan di.sengaja, maka dai akan dimasukkan dalam api nerrum. Dan barangsiapa menofsirkanld-Qurandenganljtihadnya sendiri.maka ia akan dimasukkan da1am api neraka.".
3 Moh. Ali As-Sabuni. PENGANTAR ILMU-ILMU AL-QUR.'AN'.
Ahli Bahasa; Saifu.1 Islam, P!. AHklas; Surabaya. h. 164
Dan Rasulullah bersabda pula
Artinya '13aran,gsiapa menaftirlmnAJ...(b.tr'an dengan ijtihadnya
sendiri.dan temrata benar maka ia telah bersalah".
Al-QurthubimengatabndalmnkitabMukaddinmh
"Al-Jami' l'iAhkamil Qur'an" sebagai berikut ;
Mengenai hadfs IbnAbbas
Artinya .
sendiri maka ia rakan masuk n.eraka.''.
DaJam ha1iniia menafsirkannya dalam duainterpretasi
Pertama barangsiapayangm.e.nafslltanmasalah-masalah yang musykil dalam Al-Qur'an tanpa berlandaskan apa yang telah diketahuiparasahabat clan tabiin, maka iamendapatkan murkaAllah Yang kedua baran.g siapa menafsirkanAl-Qutan dengan suatuinterpreta.54 padahalia ralrubahwa imelpretasinya itu salah, atau keluar dari yang sebenamya maka ia akan dimasukkan ke dalam api neraka.4
Meskipun·tafsibr i al-ray berkembang denganpesat, namun dalam penerimaann.yapara ulama terbagi dua; ada yang mem bolebkan dan ada pulayangmelarangnya. Tapi sete1ah diteliri, temyata kedua pendapatyang bertentanganitu hanya bersifat
.. Ibid. h. 166
lafzhi (redaksional). Maksudnya kedua belah pihak sama sama mencela penefsiran berdasarkan ray (pemikiran) semata tanpa mengindahkan kaidah-kaidah dan kriteria yang berlaku. serupa inilahyangdiharamkan lbnTaimiyah; bahkan imam.Ahmad hinHambal menryatakan seba¢tidak berdasru Sebalilmya, keduanya sepakatmembolebkanpenafsiran alqur'an dengan sunaluasul.serta.kaidah kaidahyangmutabarah (diakui sah secara resmi).5
Se.lain itu, berkaitan dengan tafsir bi al-rayt terdapat juga perbedaan pendapat yang lain, dalam penerimaanya paralliama terbelahmenjacliduakubu, adayangmemperboleh kan dan ada puJa yang melarangnya. Kubu yang melarang penafsiran dengan akal berargurnen6
1. Tafsir adalah suatu ilmu yang membicarakan tentang Allah Swt De11gan tanpa disertai ilmu yang memadai, penafsiran menggunakan akal sangat dilarang oleh Islam. Mereka rnelandaskan.Argumenini dengan ayat (QS. Al- a''raf.33)
2. berhakmenafsirkanAl-Qutanmenurutmerekahanyalah Nabi saw, bagi selainnya tidak ada ruang sedikitpun untuk menjelaskan makna-makna yang t.erkandung didalam Al-Qur'an. Dalilyangdi,gunakanuntukmenguatkanargunen ini adalah ayat (QS. Al-Nahl44)
3. Merekajugamenguatkan pendapat mereka dengan meng ambil hadis-bsdis yang melarang melakukan penafsiran
j Ibf.d. h. 377
;; Ibid. h. 236-237
dengan akal, diantaranya adalah hamsyangdiriwayatkan
oleh At-Turnmdzi.
.t.6>1,..w '1..91_;. f_;Ji iJ Ju if
Arrinya "barangsiapa menafsirkan AlMQur'an dengan ijti.hadnya sendiri dan tiemyata benar maka ia telah bersalah".
4. Riwayar darlulama,.uJama s baikdarl gofongan sahabat mauptmtabiinyangmemuliakantafsirAl-Qurandanmenjauhi unruk berpendapat dalam menafsirkan Al-Qur'an dengan akal dan pendapat mereka. Seper-ti riwayat ketika men ceritakan sababarAbu Bakar al-Shiddiq yan,g enggan men jawab pertanyaan tentang tafsir sebuah huruf' pennulaan surat (al-Ahrufal-Muqaththa'ah) dalamAl-Qur'an.
Sedangkan ulama-ulamayangmemperbolehkanmenafsiri al-Quran dengan nalar ijti.had memberikan argumen sebagai berikut7
1. Ayat-ayat al-Quran diantaranya
Artinya ''Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur7an ataukah hati mereka terkund". (Q.S. Muhammad 24).
.Ibid. h. 237-240.
Artinya "'Ini adalah kitab yang kami turunkan kepad.am.u, penuh dengan berkah, agar mereka me.mperhatikcm czyat-qyat dan orang-orangyang mempwiyai pikiran dapatmemperoleh pelajaran.darinya". (Q.S. as-Shad 29')-
Dari ayat-ayat mereka bet'pendapatuntuk memper bolehkan penafsiran.al-Quran dengan nalar- ijtihad {ra'yu). Dua ayatyangpertamamenurutmerekamerupakandorongan dari Allah swt Untuk men-tadabwi {merenwigkan) al-Quran danber-i'tibar (mengambilpelajaran) darl ayat-ayat al-Quran. Sedangkan ayatyang tera.khir merupakanbukribahwa didalam al-Quran terdapat hal halyang biasa digali dan di keluarkan ifilnya oleh orang-0rangyang rnemang memiliki kapasitas clan kapabilitas.
1. Apabila tafsir bi al-ra'yi tidak cliperbolehkan, maka ran.ah ijtihad dalam dunia Eslampun tidak mendapatkan ruang (terlarang) dan bias mengakibatkan banyak persoalan persoaian yangtidakmempunyaihukum (tidakada hukum) dan ini tidak bisa dibenarkan. Terbukti bahwa saat ini pintu ijtihad masih terbuka dan Nabi Saw. Sendiri.tidak menafsirkan semua ayat-ayar al-Quran dan mengeluarkan hukum-hukum yang terdapat didalamnya kama memberi. kanpeluang kepada umatnya untuk menafsirkan al-Quran b·1a di perlukan.
2. Ketika sahabat membaca al-Quran dan menafsirkanya1 temyata dalam penafsiranya terdapat keheragamrui. Pam sahabatjuga tidak mendengar tentang apa yang mereka
katakan mengenai tafsrr dari Nabi Saw. Halini disebabkan Nabi Saw. Tidakmenjelaskansemuamakna-maknaal-Quran pada sahabat, sedangkan yanglainnya bisa di ketahui oleh sahabat melalui ruillrr ijtihad mereka.. Kalaupun penalaran dengan aka1terhadap al-Quran dilarang1 Maka pastinya para sahabat telah melanggar larangan ini dan terjatuh dalam kubangan kesalahan yang di larang Allah swt.
3. Hadis Nabi Saw. Saat mendoakanlbn as
Artinya ''Ya.Allah. berikanlahlbn baspemahamandalam agama dan.ajarkanlah kepadmzya pentakwilan;'.
Dari doa Nabi Saw tersebut, kelompok yang pro nalar ijtihad dalam menafsirkan al-Quran memaknai kata takwil dengan tidakhanya terbatas pada mengutip danmendengarkan tafsir dari nabi Saw. Saja, tetapi Lebih dari itu, yakni sebuah penafsiran dengan penalaran dan ijtihad. IJi amara ulama ldasikyang rnemperbolehkan penafsiaran bi al-ra'yi adalah imam al-Ghozali.
Dari kedua kubu ini, sekilas tampak benar-benar tJerjadi perbedaan yang ti.dakbisa dipertemukan. Akan tetapi, kalau ditelisik lebih jauh lagi, kedua kubu ini. bisa saling melengkapi danmemberikan sebuah kulifikasi bagi sebuah tafsir bi ar-ra'yiJ mana yang diperbolehka.n dan mana yang dilarang. Secara tidak langsung, ha1ini memberikan kesimpulan bahwa tafsir bi al-aiyi terdapat dua ma yang boleh dan yang cillarang. Untukmenghasilkan tafsir bi al-ra)'iyang di perboleh.kan, makahmm terlebih dahu1u melewati beberapa tmapanhmgkah
1. Lebih dahulu menafsirkan d.engan ayat-ayat lain yang terdapat dalam al-Quran. Apabila tidak jug.a menemukan ayat yang bisa m.enafsirkan, maka dilanjutkan kesunnah (hadis) NabiSaw Danjika wbadis Nabi Sawtidakditemukan kererangan yang bfsamenafsirbnnyamakaia bolebmeng ambil pendapat sahabat.
2. Apabila keterangan yang bisa menafsirkan sebuah ayat tidak ditemukan pada ayat al-Quran, had.is Nabi Saw, dan riwayat para sahabat maka dia lbisa menggunakan nalamya unruk me]akukan ijtihad dengan mengikuti langkah fangkah berikut;
a. Memulaidari.halyangberkamm denganperbendaharaan kata-kata, baik dari segi ilmu bahasa, ilmu marfologi, ilmu etimofogi, atau akar kata, dengan memandang makna-makna yang berlaku saat turunya wahyu.
b. Menyambungkan kata tersebut pada sehuah susunan kalimat baik secara rrab-nya atau secara sastra agar bisa d\irasakan atau dikietahui kejelasannya.
c. Mendahulukan makna yang 'hakikat daripada makna
kiasan (maja.2) 'd Memperhatikan sebab turunya ayat
e. Menjaga kesesuaian (munasahab) antara kata atau kalimatyang lebih dahulu dengan yang belakangan, antara bagian-bagian dalam ayat dan antara ayat yang satu dengan ayat lain.
f Menjaga maksud dari hubungan a.tau keserasian kalimat.
g. Kecocokan tafsir dengan"yang d.itafshi dengan tanpa pengurangan atau penambahan.
h Kesesuaian tafsir dengan hal-hal y.ang sudah bisa diketahui (maklum) dari pengetahwmalam, norma nonna masyarakat, sejarah um.run, sejarahbangsa arab (khususnya pada masa tunmYa wahyu).
i Kecocokan tafsir dengan petunjuk dan ajaran Nabi
Saw.
j. Mengakhiri pembicaraml (tamr) dengan menjelaskan makna danhukum-hnkumyangbisadipetik dariayat ayat al-Quran, yangmasih berad.a dalam batas-batas atu.ran bahasa, syariat, danilmu pengetahuan alam.
Dengan adanya aturan-aturan dalampenafsiran tersebut; tafsir bi al-ra)"i. yang terpuji,bagus dan diperbolehkan adalah penafsiran yang s'esuai dengan kaidah-kaidah dan aturan main daJ.am menafsi.rkan al Quran. Sedangkan tafsir bi al ra)'i yang tercela, dan dilarang (madzmum;haram) adafah penafsiran yang tidak menginda.hkan kaidah kaidah dan aturan yang ada dalam penafsiran
B. KITAB-KITABYANGTERGOW, G KEPADA TAFSIRBIAL-RATI, ANTARA LAIN
! Al- Bahr al Muhit Muhammad al- dalust
. Ghara'ib al- Qur'an waRagha'ib al-Furqan Nizamuddin an- Nisabur.
! Ruh al- Ma'anifi Tafsir al-Qur'an al 1\dhim wa as- Seib'
al-Masani Allamah al- Alusi.
Selanjutnyajuga dikenal kitab-kitab Tafsir bi al- ra)ri
dari kalangan Mu'tazilah, seperti
Tanzih al-Qur'an 'an al-Mata'inAl- Qad.hi 'AbdulJabbar.
Amaliasy-Syarif al-Mwtada u al- Qasim 'Aliat- Tahir..
· Al- Kasysyaf 'an Haqa'iq at- Tanzil wa Vyun al-Aqawilfi Wtgud at Tanzil. u al- Qasi!n Mahmud bin' Umar az Zamakhsyari.
BAB II TAFSIR BIL MA'TSUR
A. AL-TAFSIR BI AL-MATSUR
afs'ir bi1-Ma'csur ia1ah tafsir yang berdasarkan AlQur'an atauriwayatycmgsbahih. yairumenafsirkan
Al-Qu.r'an dengan Al-Quran (ayat dengan ayat)1 Al-Qur'an dengans perkataan sahabat karena merekalah yang mengetahui Kitabullah, atau dengan pendapat tokoh tokoh besar tabfin.Padaumumnya mereka menerimanya dlarl para sahabat.1
Tafsir Riwayat (ma;tsur) ialah rangkaian keterangan yang terdapat dalamAl-Qutan,Sunah, atau kata-kata Sahabat sebagai penjelasan maksud dari finnan Allah, yairupenafsllan
1 Al Qattan Syaik Manna', P,enerjemah; El-Mazni Aunur Rafiq, Pengantar Stud.i flmu Al-Qur'an, Pustaka Al-Kautsm;. Jakarta Tim 2006, h. 434.
Al-Quran dengan As-Suruili Nabawiyyah. Dengan demildan, maka tafsir ma'tsur adalah tafsir Al-Quran dengan Al-quranJ penamiranAl-QurandenganAYSunahataupenaEinm.Al-Quran menurut atsar yang tirribul da.rl kalangan sahabat 2
B.. MACAM-MACAM AL-TAFSIR BI AL MA'TSUR
1. Tafsir AI-Quran dengan Af..Quran
C'ontdh Penafsiran Al-Quran dari firman Allah3
Artinya "... Dihala1kan bagimubinatang ternak kecualiyang akan disebutkan kepadamu ... " (QS. Al-Mal.dab 1).
Dijelaskan oleh fuman Allah
Artinya "Diharamkan bagimu (memakan) bangka dCirtJh daging.babi,dan (daging) hewanyangdisembe1ihbukmt ata.s (nama) Allah ... ". (QS. Al-Maidah 3).
2 Muammad Ali As-Syaibuniy,.Studi llmu Al-Qur'cm, Pustaka Setia, BandUllg, 1998, h. 248
J Ibid., h. 248·
2Ta.fsir Al-quran dengan Sunah
Contoh Sunah Rasul yang berfungsi sebagai tafsir dan penjelasan Al-Quran.
Rasulullah Sawmenjelaskan"zalim dengan syiriJ<" da1am firman Allah
Artinya ''Orang orangyangberiman. dan tidak mencampur· adukkan iman.m.ereka dengan kezaliman (syirik), dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat pettmjuk.." (QS. Al-An'am 82)
Rasulnllah mengatakan penafsiran ini dengan finmm Allah
Artinya; "Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezalimanyangbesar." (QS. Luqman 13)
3. Tafsir Sahabat
Masih adalagi bagian yang ketiga dari pembagian tafsir ma'tsur, yairu Tafsir sahabat. Tafsir inijuga termasuk yang muktamad (dapat dijadikan pegangan) dan dapat diterima,, karena para sahabat pemah berkumpul dan bertemu dengan
Nabi Saw, danmereka mengambil sumbemya y.ang asli dan telah m.enyaksikan turunnya wahyu dan turunnyaAl-qur'an, serta mengetahui asbabun nu.zul.. Mereka mempunyai tabiat jiwa yang mumi, fi.trah yang lurus dan berkedudukan tinggi da1am hal kefasihan dan kejelasan berbicara mereka memiliki. kemampuan dalam memahami Kalam Allah. Dan hal lain yangada pada mereka tentangrahasia-rnlia.sia.Al-Qman sndah tentu melebihi oran,g lain.
Al-Hakimberkata, 'kedudukan tafsir sahabatyangmerzyak sikanwahyu clan turunnyaAI-Quran adalah marfu.'.Ta1Sirtersebut mempunyaikedudukansebagaimana kedudukan hadis Nabi yangsilsilahnya sampai kepadaNaibi. Karena itu tafs1r sahabat termasuk ma'tsur.''
Adapun.tentang kedudukan tafsir tabfin, ada perbe.daan pendapat_ Seb gianulama ada yangberpendapat balnva.tafsir tabi'in itu tennasuk tafsir ma'tsur karena sebagian besar pengambilannya secara umum dari sahabat Sebagian ulama berpendapat bahwa tafSir ta;bi'in termasuk tafsir dengan ra)'u atau akal, dengan pengertian bahwa kedudukannya sama dengan kedudukan para mufassir lainnya (se1lain Nabi dan Sahabat). Mereka menafmkanAI-Qman sesuai dengankaidah kaidah bahasa Arab tidak berdasarlran pertimbangan dari atsar (hadis).
C. NILAI-NII.Al AL TAFSIR BI AL-MA'TSUR
Tafsir bil-Ma'tsur adalab metode penafsiran yang hams diikuti dan clijadikan pedoman dalam menaffilrkan Al-Qutan, karena ia merupakan carayangpaling aman mem3hami kitab Allah.";4
Bentukpenqfeironpermma (Al Qur'an menurutAl-qur''an) karena Allah Ta'ala lebih mengetahui maksudnya. Kitab Allah Swt adalah suatu berita yang paling benar dan tidak terdapat pertentangan antara yang satu dengan yanglaimlya (dari awal sampai ke akhimya) .s;
Bentuk tafsir kedua (Al-Qutan dengan Sunah Rasul)J karana.Al-Qur'an itusendi.ri menegaskan bahwa Rasul adalah berfungsi sebagai penjelas Al-Qur'an.
Artinya ''Dan kami tunmkan kepadamuAl-Qµranagar kamu menerangkan ke.pada ummat manusia apa yang telah. diturunkan kepada mereka." (QS. An Nahl 44)
Bentuktafsiryangpertamadankedua tidakperlu cliragukan dan diperselisihkan. Karena keduanya mempunyai kedudukan yang tinggi. Adapun penafsiran Al-Qur'an d.en,gan ma'tsur dan sahabat ada mengandun,g beberapa kelemahan, seperti. yang akan penulis bahas dibawah ini.6
4 Syaik Manna' Al-Qattan. Penerjemah El-Mazni Aunur Rafiq. Pengantar Stu.di Ilmu. Al-Qur an. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006. h.438
5 Muammad Ali, As-Syaibuniy. Penerjemah Aminuddin. Studi.
Rm.u Al-Quran. CV Pustaka Setia. Bandung 1998, h. 255
6 Ibid. h. 255
D. KEISTIMEWAAN DAN KELEMAHANNYA
Tafsir biAl.-Ma'tsur memililti elebihan dan kelemahan, ad.a pendapat mengatakan bahwa tafsir ini merupakan bagian tafsrryang paling baik dengan catacan bila sanadnya benar berurr berasal dari Nabi Saw amu pada sahabat.Penafsiran Al-Quran denganAl-qutan, Al-Qur'an dengan sunnahyang shahih tentu tidak diragukan la,gi dan tidak mungkin diper selisihkan.7
Disisi lain penafsiran Al-Quran dengan ma'tsur clan sahabatatmt tablin adamasihrnengandung beberapa kelemahan karena berbagai segi
1. Gampur bam antara yang shahlh dan yang tidak shahih, serta banyak mengutip kata-katayang dinisbarkan kepada
sahabat atautahrm tanpa.memilikisandaran danketentuan,
sehingga menimbulkan pencampuradukan antara yang hak dan.yang batil.
2. Riwayat-riwayattersebut ada yangclipengaruhi olehcerita cerita isroiltyat dan khw-afat(klenik) yangbertentangan dengan aki.dahlslamiyyah. Dan telah ada datily.mgmenya takan esalahan aerita ceritaJ yang dibawa kalangan ummat Islam oleh kelompok Islam yang dahulunya ahli kitab.
3. Dikalangan sahabat ada yang ekstrim. Mereka mengambil
beberapa pendapat dan membuat-buat kebatilan yang
7Muammad Ali,.As-Syaibuni)' Penerjemah Djaliel, Ma.man Abd.
Studi fl.mu Al-Quran. CV Pustaka Setia. Bandung. 1998. h. 258
