2/04/2018

Mad Lazim, Wajib, Jaiz

Mad Lazim, Wajib, Jaiz
Mad adalah cara membaca huruf arab dengan panjang dua harkat atau lebih. Mad terbagi menjadi mad lazim, wajib dan jaiz. Wuquf adalah menghentikan bacaan pada kalimat tertentu. Biasanya di akhir kalimat. Ibtida' adalah memulai bacaan. Kesemua itu mempunyai cara-cara khusus terutama dalam membaca Al-Qur'an.

Daftar Isi

  1. Download Terjemah dan Matan
  2. Download Syarah Al-Jazariyah
  3. Mad (Panjang) dan Qashr (Pendek)
  4. Wuquf (Berhenti) dan Ibtida' (Memulai)
  5. Al-Maqthu’ (Putus) dan Mawshul (Sambung)
  6. Kembali ke: Matan Al Jazari

Download (pdf):
- Terjemah Al-Jazariyah
- Matan Al-Jazariyah (Arab)
- Matn Al-Jazariyah (teks Arab berwarna)

Download Syarah Al-Jazariyah (pdf):
- Al-Raudoh Al-Nadiyah Syarah Matn Al-Jazariyah (الروضة الندية شرح متن الجزرية)
- Syarah Al-Muqaddimah Al-Jazariyah fi Ilm Al-Tajwid li Zakariya Al-Anshari (شرح المقدمة الجزرية في علم التجويد)

Baca juga: Terjemah Tuhfatul Athfal



باب المد والقصر

69 وَالـمَــدُّ لاَزِمٌ وَوَاجِـــبٌ أَتَــى *** وَجَـائِـزٌ وَهْــوَ وَقَـصْــرٌ ثَـبَـتَـا
70 فَـلاَزِمٌ إِنْ جَـاءَ بَعْـدَ حَـرْفِ مَــدْ *** سَـاكِـنُ حَالَـيْـنِ وَبِالـطُّـولِ يُـمَـدْ
71 وَوَاجِــبٌ إنْ جَـاءَ قَـبْـلَ هَـمْـزَةِ *** مُـتَّـصِـلاً إِنْ جُـمِـعَـا بِـكِـلْـمَـةِ
72 وَجَـائِــزٌ إِذَا أَتَــى مُـنْـفَـصِـلاَ أ *** َوْ عَـرَضَ السُّكُـونُ وَقْـفًـا مُسْـجَـلاَ

Mad (Panjang) dan Qashr (Pendek)

69. Dan hukum mad itu lazim (mesti dipanjangkan hingga enam harakat), wajib (harus dipanjangkan lebih dari dua harakat), dan jaiz (boleh dipanjangkan lebih dari dua harakat, boleh dibaca dua harakat saja). Hukum mad (membaca lebih dari dua harakat)
dan qashr (membacanya hanya dua harakat saja) itu keduanya ada di dalam Al-Quran.

70. Mad lazim terjadi bila setelah huruf mad (Alif, Ya mad, dan Wawu mad) terdapat sukun asli, baik di tengah kalimat (dibaca washal) ataupun di akhir kalimat (dibaca waqaf). Cara membacanya adalah memanjangkan mad dengan thuul (enam
harakat).

71. Mad wajib yaitu apabila huruf mad berada sebelum Hamzah, dimana Hamzah
tersebut berada pada satu kata dengan huruf mad. Maka mad mesti dipanjangkan lebih dari dua harakat.

72. Mad jaiz yaitu apabila ada Hamzah setelah huruf mad, dimana Hamzah tersebut berada pada kata yang berbeda (terpisah) dengan huruf mad. Juga mad dihukumi jaiz apabila setelah huruf mad terdapat sukun ‘aridh di akhir kalimat, yakni huruf hidup yang disukunkan. Maka, mad boleh dipanjangkan lebih dari dua harakat.



باب معرفة الوقوف

73 وَبَـعْـدَ تَـجْـوِيْـدِكَ لِلْـحُـرُوفِ *** لاَبُــدَّ مِــنْ مَعْـرِفَـةِ الْـوُقُــوفِ
74 وَالابْـتِــدَاءِ29 وَهْــيَ تُـقْـسَـمُ إِذَنْ *** ثَـلاَثَـةً30 تَــامٌ وَكَـــافٍ وَحَـسَــنْ
75 وَهْـيَ لِمَـا تَـمَّ فَــإنْ لَـمْ يُـوجَـدِ *** تَعَـلُـقٌ أَوْ كَــانَ مَعْـنًـى فَابْـتَـدي
76 فَالتَّـامُ فَالْكَـافِـي وَلَفْـظًـا فَامْنَعَـنْ *** إِلاَّ رُؤُوسَ الآيِ جَـــوِّزْ فَالْـحَـسَـنْ
77 وَغَـيْـرُ مَـا تَـمَّ قَبِـيْـحٌ وَلَــهُ *** يُـوْقَـفُ31 مُضْـطَـرًّا وَيُـبْـدَا32 قَبْـلَـهُ
78 وَلَيْسَ فِي الْقُرْآنِ مِـنْ وَقْـفٍ وَجَـبَ33 *** وَلاَ حَـرَامٌ34 غَيْـرَ35 مَــا لَــهُ سَـبَـبْ
Wuquf (Berhenti) dan Ibtida' (Memulai)

73. Dan setelah engkau memahami kaidah-kaidah dan praktik dalam tajwidul huruf (bab makhraj sampai mad). Maka selanjutnya engkau mesti memahami kaidah-kaidah waqaf (tata cara berhenti) dalam membaca Al-Quran, karena kesempurnaan membaca
Al-Quran adalah “tajwiidul huruuf wa ma’rifatul wuquuf”.

74. Dan juga memahami tata cara ibtida` (memulai bacaan) dalam membaca Al-
Quran. Hukum waqaf dan ibtida terbagi menjadi tiga: taam (sempurna), kaaf (cukup), dan hasan (baik).

75. Dan apabila engkau berhenti pada kata yang susunan kalimatnya telah sempurna. Baik itu: tidak ada hubungan lafazh dan makna dengan kata setelahnya atau terdapat hubungan makna dengan kata setelahnya namun tidak terdapat hubungan
lafazh, maka mulailah bacaan (ibtida`) dari kata setelahnya.

76. Berhenti pada kata yang tidak memiliki hubungan lafazh dan makna dengan kata setelahnya disebut waqaf taam. Sedangkan berhenti pada kata yang memiliki hubungan makna namun tidak memiliki hubungan lafazh dengan kata setelahnya disebut waqaf kaaf.

Adapun bila engkau berhenti pada kata yang memiliki hubungan lafazh dan makna, maka janganlah engkau ibtida` pada kata setelahnya. Kecuali bila engkau berhenti di akhir ayat, walaupun masih memiliki hubungan lafazh dan makna dengan ayat setelahnya, namun engkau boleh langsung ibtida` pada awal ayat, tanpa mengulangi kata yang ada pada akhir ayat sebelumnya. Karena berhenti pada setiap
akhir ayat merupakan kebaikan (waqaf hasan).

77. Apabila engkau berhenti pada kata yang belum sempurna lafazh atau maknanya dengan sengaja, maka itu adalah waqaf qabih, yakni cara berhenti yang buruk. Kecuali bila berhenti karena darurat, seperti kehabisan nafas atau bersin, maka hal tersebut diperbolehkan. Lalu, engkau memilih beberapa kata sebelumnya untuk ibtida` agar tidak merusak makna, sehingga maksud dan tujuan ayat tersebut tercapai.

78. Dan permasalahan waqaf dan ibtida’ dalam Al-Quran ini tidak ada yang hukumnya wajib atau haram selama tidak ada sebabnya. Bila ada sebab sebagaimana yang telah dijelaskan, yakni berkaitan dengan hubungan lafazh dan makna, lalu mengakibatkan makna ayat berubah, maka hukumnya bisa jatuh menjadi makruh, haram, atau bahkan kufur.



باب المقطوع والموصول

79 وَاعْـرِفْ لِمَقْطُـوعٍ وَمَوْصُـولٍ وَتَـا *** فِـي مُصْحَـفِ36 الإِمَـامِ فِيمَـا قَـدْ أَتَـى
80 فَاقْطَـعْ بِـعَـشْـرِ كَـلِـمَـاتٍ أنْ لا *** مَـــعْ مَـلْـجَــأَ37 وَلاَ إِلَــــهَ إِلاَّ
81 وَتَعْـبُـدُوا يَاسِـيـنَ ثَانِـي هُـودَ لاَ *** يُشْرِكْـنَ تُشْـرِكْ يَدْخُلْـنَ تَعْلُـوا عَلَـى
82 أَنْ لا يَقُـولُـوا لاَ أَقُـــولَ إِنْ مَــا *** بِالرَّعْـدِ وَالمَفْتُـوحَ صِـلْ وَعَـنْ مَــا
83 نُهُوا اقْطَعُـوا مِـنْ مَـا بِرُومٍ وَالنِّسَـا *** خُـلْـفُ المُنَافِقِـيـنَ أَمْ مَــنْ أَسَّـسَـا
84 فُصِّلَـتِ النِّسَـا وَذِبْـحٍ حَـيْـثُ مَـا *** وَأَنْ لَـمِ المَفْـتُـوحَ كَـسْـرُ إِنَّ مَــا
85 الانْعَـامَ وَالمَفْـتُـوحَ يَدْعُـونَ مَـعَـا *** وَخُـلْـفُ الانْـفَـالِ وَنَـحْـلٍ وَقَـعَـا
86 وَكُـلُّ مَـا سَـأَلْتُـمُـوهُ وَاخْـتُـلِـفْ *** رُدُّوا كَذَا قُـلْ بِئْسَمَـا وَالْوَصْـلَ صِـفْ
87 خَلَفْتُمُونِي وَاشْتَـرَوْا فِـي مَـا اقْطَعَـا *** أُوحِـيْ أَفَضْتُـمُ اشْتَهَـتْ يَبْلُـوا مَـعَـا
88 ثَـانِـي فَعَـلْـنَ وَقَـعَـتْ رُومٍ كِـلاَ *** تَنْزِيْـلُ38 شُعَـرَا وَغَـيْـرَ ذِي صِــلاَ39
89 فَأَيْنَمَـا كَالنَّـحْـلِ صِـلْ وَ مُخْتَـلِـفْ40 *** فِي الشُّعَرَا41 الأَحْـزَابِ وَالنِّسَـا وُصِـفْ
90 وَصِـلْ فَإِلَّـمْ هُـودَ أَلَّــنْ نَجْـعَـلاَ *** نَجْمَـعَ كَيْـلاَ تَحْزَنُـوا تَأْسَـوْا عَـلَـى
91 حَــجٌّ عَلَـيْـكَ حَـرَجٌ وَقَطْـعُـهُـمْ *** عَنْ مَـنْ يَشَـاءُ مَـنْ تَوَلَّـى يَـوْمَ هُـمْ
92 ومَــالِ هَــذَا وَالَّـذِيــنَ هَــؤُلاَ *** تَحِيـنَ فِـي الإمَـامِ صِـلْ وَوُهِّــلاَ
93 وَوَزَنُـوهُــمُ وَكَـالُـوهُـمْ صِــلْ *** كَـذَا مِـنَ الْ وَيَـا وَهَـا42 لاَ تَفْـصِـلْ

Al-Maqthu’ (Putus) dan Mawshul (Sambung)

79. Dan ketahuilah permasalahan maqthu’ (dua kata yang ditulis terpisah) dan maushul (dua kata yang ditulis bersambung), serta permasalahan penulisan huruf Ta, apakah ditulis dengan Ta marbuthah atau ditulis dengan Ta maftuhah pada mushaf Imam (Utsmani). Karena pengetahuan terhadap penulisan ini erat kaitannya dengan persoalan waqaf dan ibtida`. Khususnya saat waqaf dan ibtida` yang darurat atau waqaf
dan ibtida` ikhtibariy (sebagai bentuk ujian dan pengajaran).

80. Pisahkan pada sepuluh kalimat penulisan (أن) dan (ل), yakni saat berhadapan dengan “malja`a” (At-Taubah 118), “laailaaha” (Huud 14),

81. Juga bila (أن) dan (ل) berhadapan dengan “ta’budu” pada surat Yasin (ayat 60) &
Hud (ayat 26), “laa yusyrikna” (Mumtahanah 12), “tusyrik” (Al-Hajj 26), “yadkhulan” (Al-Qalam 24), “ta’lu ‘ala” (Ad-Dukhaan 19),

82. Juga bila (أن) dan (ل) berhadapan “laa yaqulu” (Al-A’raaf 169) dan “laa aquula” (Al-A’raaf 105). Dan pisahkan juga kata (إن) dan (ما) pada surat Ar-Ra’du (ayat 40), dan bila difathahkan Hamzahnya maka sambungkanlah, yakni kata (أم) dan (ما).
Dan juga pisahkanlah kata (عن) dan (ما)...

83. Sebelum kata “nuhuu” (Al-A’raaf 166).
Dan pisahkanlah (من) dan (ما) pada QS. Ar-Ruum (28) & An-Nisaa (25). Sedangkan pada QS. Al-Munafiqun 10 para Ulama berbeda pendapat apakah penulisan (من) dan (ما) disambung atau dipisah.
Dan pisahkanlah (أم) dan (من) sebelum “assasa” (QS. At-Taubah 109),

84. Juga pisahkanlah (أم) dan (من) pada surat Fushshilat 40, An-Nisa 109, dan surat yang menceritakan penyembelihan (dzibhin), yakni QS. Ash-Shaaffat 11. Dan pisahkan juga (حيث) dan (ما) pada semua tempat di dalam Al-Quran, dengan kesepakatan para Ulama. Juga pisahkanlah (أن) dan (لم) pada semua tempat di dalam Al-Quran, dengan kesepakatan para Ulama.
Dan pisahkanlah (ن إ) dan (ما) pada...

85. Surat Al-An’aam 134, dan terjadi perbedaan pendapat pada Surat An-Nahl.
Dan pisahkanlah (ن أ) dan (ما) pada sebelum kata “yad’uuna” (QS. Al-Hajj 62 & Luqman 30). Serta terjadi perbedaan pendapat pada Surat Al-Anfaal (28 & 41), dimana dalam riwayat dari Imam Hafsh disambung.

86. Dan pisahkanlah (كل) dan (ما) pada sebelum kata “sa`altumuhu” (QS. Ibrahim 34). Serta terjadi perbedaan pendapat pada sebelum kata “ruddu” (QS. An-Nisaa 91), dimana dalam riwayat Hafash dipisah penulisannya.

Juga (terjadi perbedaan pendapat) pada penulisan (بئ) dan (َسمـا) pada قل بئسما
(Al-Baqarah 93) dan sambungkan (بئ) dan (َسمـا)

87. Sebelum “khalaftumuuni” (Al-A’raaf 150) dan “wasytaraw” (Al-Baqarah 90).
Lalu pisahkanlah (في) dan (ما) sebelum “uuhii” (Al-An’aam 145), “afadhtum” (An- Nuur 14), “isytahat” (Al-Anbiya 102), setelah “liyabluwakum” (Al-Maaidah 48 & Al- An’aam 165), dan juga...

88. Sebelum “fa’alna” yang kedua (Al-Baqarah 240), Al-Waqiah (61), Ruum (28), dua tempat pada Tanzil (Az-Zumar 3 & 46), dan Syu’ara (146). Sedangkan selainnya disambungkan.

89. Dan sambungkanlah (أين) dan (ما) pada (َمـا ْينَ فَأَ Al-Baqarah 115) & An-Nahl (76), dan para Ulama berbeda pendapat apakah penulisannya disambung atau dipisah pada Asy-Syu’ara (92), Al-Ahzaab (61), & An-Nisaa (78).

90. Dan sambungkanlah (إن) dan (لم) pada (فَإلَّـم ) Surat Huud (14). Juga sambungkanlah (أن) dan (لن) sebelum kata “naj’ala” (Al-Kahfi 48) & “najma’a” (Al- Qiyaamah 3).

Dan sambungkanlah (كي) dan (لا) sebelum kata “tahzanu” (Aali Imran 154) & “ta’saw ‘alaa” (Al-Hadid 23),

91. Juga pada surat Al-Hajj (5), dan sebelum “’alayka harajun” (Al-Ahzab 50).
Dan pisahkanlah (عن) dan (من) sebelum kata “yasyaa” (An-Nuur 43) & pada “man tawalla” (An-Najm 29). Dan juga pisahkanlah kata (يوم) dan (هم).

92. Dan pisahkanlah (َمــال ) dengan kata setelahnya bila kata tersebut “haadza” (Al- Kahfi 49 & Al-Furqan 7), “alladziina” (Al-Ma’arij 36), dan “haa-ulaa” (An-Nisaa 78).
Dan kata (لات) dan (حين) dalam (mushaf) Imam terdapat keraguan apakah disambungan (atau dipisahkan). Adapun pendapat terpilih dalam riwayat Imam Hafsh: dipisahkan.

93. Dan sambungkanlah kata (ََ وَ زَنُـوا) dan (ُهــم ), juga sambungkan kata (َكـالُـو ) dan (ْهـم ُ).
Cara menyambungkannya adalah dengan menghilangkan Alif setelah Wawu jamak.
Begitu pula jangan pernah pisahkan penulisan (ال ta’rif) dengan kata setelahnya
(baik itu Qamariyyah atau Syamsiyyah). Sama halnya dengan (يَـا nida) dan (هـا tanbih) dengan kata setelahnya.[alkhoirot.org]

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com

Untuk Konsultasi Agama kirim ke: alkhoirot@gmail.com atau info@alkhoirot.net
Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini!

EmoticonEmoticon