Fatwa Qardhawi Seputar Ibadah Malam Nishfu Sya'ban

Menghidupkan malam nishfu Sya'ban dengan doa-do'a khusus dan shalat khusus tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad, para Sahabat dan Tabi'in. Fatwa Qardawi
Fatwa Qardhawi Seputar Ibadah Malam Nishfu Sya'ban

Fatwa Qardhawi seputar melakukan Ibadah khusus seperti shalat baca Yasin dan doa khusus pada Malam Nishfu (pertengahan) bulan Sya'ban

Ringkasan:

1. Hadits-hadits yang terkait dengan keutamaan malam nishfu Sya'ban lemah.
2. Menghidupkan malam nishfu Sya'ban dengan doa-do'a khusus dan shalat khusus tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad, para Sahabat dan Tabi'in.
3. Tradisi yang dilakukan dengan membaca surah Yasin diikuti dengan shalat 2 rakaat dengan niat panjang umur, lalu shalat kedua dengan niat tidak butuh pada makhluk, lalu membaca doa panjang, semua itu bertentangan dengan nash Quran dan hadits.


تلقى فضيلة الدكتور يوسف القرضاوي رئيس الإتحاد العالمي لعلماء المسلمين سؤالاً، يقول صاحبه : نحن الآن في شهر شعبان… وبعض المسلمين يختصون ليلة النصف من شعبان بصلوات وأدعية يتلونها… فهل عملهم هذا مشروع، وهل ورد شيء في فضل هذه الليلة؟

وقد أجاب فضيلته على السؤال بقوله:

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وبعد:

ورد في فضل ليلة النصف من شعبان بعض الأحاديث: إن الله تعالى يتجلى فيها على عباده، ويستجيب دعاءهم، إلا بعض العصاة، وهذا الحديث قد حسنه بعض العلماء وضعفه بعضهم، حتى قال الفقيه القاضي أبو بكر بن العربي: لا يثبت حديث واحد في فضل ليلة النصف من شعبان. ولو قبلنا الأحاديث الواردة في فضل هذه الليلة وإحيائها بالطاعة فلم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن الصحابة ولا عن أهل القرون الأولى وهم خير القرون… لم يرد عنهم أنهم كانوا يتجمعون في المساجد لإحياء هذه الليلة، ويتلون دعاء خاصاً ويقيمون صلوات خاصة كالتي نعرفها في بعض بلاد المسلمين..

فبعض البلاد يتجمع الناس فيها بعد المغرب في الجوامع، ويقرؤون سورة "يس" ثم يصلون ركعتين بنية طول العمر!! وركعتين أخريين بنية الغنى عن الناس ثم يتلون دعاء لم يؤثر عن أحد من السلف، وهو دعاء طويل، وهو مخالف للنصوص ومتناقض، ومتعارض في معناه أيضاً، ففي هذا الدعاء يقول الداعي: اللهم إن كنت كتبتني عندك في أم الكتاب شقياً أو محروماً أو مطرودا أو مقتراً علي في الرزق، فامح اللهم بفضلك شقاوتي، وحرماني، وطردي، وإقتار رزقي، أثبتني عندك في أم الكتاب سعيدا مرزوقا موفقا للخيرات كلها، فإنك قلت قولك الحق في كتابك المنزل على لسان نبيك المرسل (يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب) هذا نص من الدعاء، وهو متناقض كما ترون فهو يقول: إن كنت كتبتني عندك في أم الكتاب كذا فامح هذا الذي كتبته، وأثبتني عندك في أم الكتاب على خلاف هذا لأنك قلت: (يمحو الله ما يشاء ويثبت، وعنده أم الكتاب). ومعنى الآية أن أم الكتاب لا محو فيها ولا إثبات.. وإنما المحو والإثبات فيما عدا ذلك من صحف الملائكة وغيرها، فإن كان هذا هو معنى الآية، فكيف يطلب العبد من ربه أن "يمحو ويثبت في أم الكتاب"، وهي لا محو فيها ولا إثبات؟.

ثم أي دعاء هذا الذي يقول فيه القائل هذا الترديد: إن كنت فعلت كذا فامح كذا، أو افعل كذا… مع أن النبي صلى الله عليه وسلم أمرنا إذا دعونا أن نجزم المسألة، نجزم ولا نردد الدعاء ولا نشكك… ولا نتشكك… فهذا يدل على أن ذلك الدعاء مغلوط ولا أساس له… وفي هذا الدعاء أيضا يقول القائل: إلهي بالتجلي الأعظم في ليلة النصف من شهر شعبان المكرم، التي يفرق فيها كل أمر حكيم ويبرم، أن ترفع عنا من البلاء ما نعلم وما لا نعلم… وهذا خطأ أيضا… فالليلة التي يفرق فيها كل أمر حكيم إنما هي الليلة التي نزل فيها القرآن… وهي ليلة القدر ليلة التجلي الأعظم… وهي في رمضان بنص القرآن.. قال تعالى في سورة الدخان: (حم والكتاب المبين. إنا أنزلناه في ليلة مباركة، إنا كنا منذرين. فيها يفرق كل أمر حكيم). وقال في سورة القدر: (إنا أنزلناه في ليلة القدر) وقال في سورة البقرة: (شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن) فالليلة التي يفرق فيها كل أمر حكيم هي في رمضان بيقين… وهي ليلة القدر بالإجماع، وما روي عن قتادة أن ليلة النصف هي التي يفرق فيها كل أمر حكيم فهو ضعيف ومضطرب وجاء عن قتادة نفسه أنها ليلة القدر. وما جاء في حديث أن ليلة النصف من شعبان تقطع الآجال من شعبان إلى شعبان فهذا أيضا حديث ضعيف كما قال ابن كثير وهو مخالف للنصوص، ومن هنا نرى أن هذا الدعاء، ملئ بالأغلاط وهو دعاء لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن خير القرون ولا عن السلف، وهذا التجمع بالصورة التي نراها ونسمع عنها في بعض بلاد الإسلام مبتدع ومحدث، والأولى أن نقف في العبادات عندما ورد، فكل خير في إتباع من سلف.. وكل شر في ابتداع من خلف. وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

وفقنا الله إلى إتباع ما جاء عن رسوله صلى الله عليه وسلم وعن أصحابه.

Pertanyaan:

Fadhilah Dr. Yusuf al-Qaradawi, Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional, menerima pertanyaan yang berbunyi: "Kami sekarang berada di bulan Sya'ban... dan sebagian kaum Muslim mengkhususkan malam Nisfu Sya'ban dengan shalat dan doa-doa tertentu yang mereka baca. Apakah amalan mereka ini disyariatkan? Dan apakah ada riwayat tentang keutamaan malam tersebut?"

Jawaban:

Beliau menjawab:

Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah, amma ba'du:

Mengenai keutamaan malam Nisfu Sya'ban, telah diriwayatkan beberapa hadis: Bahwa Allah Ta'ala menampakkan diri (tajalli) kepada hamba-hamba-Nya pada malam itu, dan mengabulkan doa mereka, kecuali sebagian orang-orang yang durhaka. Hadis ini telah dinilai hasan (cukup baik) oleh sebagian ulama dan didhaifkan (dinyatakan lemah) oleh sebagian yang lain, bahkan al-faqih al-Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi berkata: "Tidak ada satu pun hadis yang tetap (tsabit/shahih) mengenai keutamaan malam Nisfu Sya'ban."

Sekalipun kita menerima hadis-hadis yang diriwayatkan tentang keutamaan malam ini dan menghidupkannya dengan ketaatan, namun tidak pernah diriwayatkan dari Nabi ﷺ, dari para sahabat, maupun dari generasi awal yang merupakan generasi terbaik (khairul qurun)... tidak ada riwayat bahwa mereka berkumpul di masjid-masjid untuk menghidupkan malam ini, membaca doa khusus, atau mendirikan shalat-shalat khusus seperti yang kita ketahui di sebagian negeri kaum Muslimin.

Di sebagian negeri, orang-orang berkumpul di masjid jami' setelah Maghrib, membaca surat Yasin, kemudian shalat dua rakaat dengan niat panjang umur!! Dan dua rakaat lagi dengan niat kaya (tidak bergantung pada orang lain), lalu mereka membaca doa yang tidak diriwayatkan dari seorang pun dari salaf. Doa itu panjang, menyelisihi nash-nash (teks agama), bertentangan, dan maknanya saling kontradiktif.

Di dalam doa tersebut disebutkan: "Ya Allah, jika Engkau telah menuliskan aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka, terhalang (mahrum), terusir, atau disempitkan rezekinya, maka hapuslah ya Allah dengan karunia-Mu kecelakaanku, penghalanganku, pengusiranku, dan kesempitan rezekiku, serta tetapkanlah aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rezeki, dan dimudahkan kepada segala kebaikan. Karena Engkau telah berfirman dengan firman-Mu yang benar dalam kitab-Mu yang diturunkan melalui lisan Nabi-Mu yang diutus: 'Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab' (QS. Ar-Ra'd: 39)."

Ini adalah teks dari doa tersebut, dan ia bertentangan sebagaimana Anda lihat: Ia mengatakan, "Jika Engkau telah menuliskan aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab demikian, maka hapuslah apa yang telah Kau tulis itu, dan tetapkanlah aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab dengan kebalikannya, karena Engkau berfirman: 'Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab'." Padahal makna ayat tersebut adalah bahwa Ummul Kitab tidak ada penghapusan maupun penetapan baru di dalamnya, penghapusan dan penetapan hanya terjadi pada catatan-catatan selain itu, seperti lembaran para malaikat dan lainnya. Jika ini makna ayatnya, lalu bagaimana seorang hamba meminta kepada Tuhannya untuk "menghapus dan menetapkan" dalam Ummul Kitab, padahal tidak ada penghapusan maupun penetapan di dalamnya?

Kemudian, doa seperti apa ini yang di dalamnya orang mengatakan dengan keraguan: "Jika Engkau melakukan ini, maka hapuslah ini, atau lakukanlah ini..." Padahal Nabi ﷺ memerintahkan kita ketika berdoa untuk bersikap tegas (jazm) dalam permintaan, tegas dan tidak ragu-ragu, tidak mengulang-ulang doa dengan keraguan... Hal ini menunjukkan bahwa doa tersebut salah dan tidak memiliki dasar...

Di dalam doa tersebut juga disebutkan: "Ya Tuhanku, dengan tajalli yang agung pada malam Nisfu Sya'ban yang mulia, malam yang di dalamnya dipisahkan segala urusan yang penuh hikmah dan ditetapkan, agar Engkau angkat dari kami bala yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui..."

Ini juga kesalahan. Malam yang di dalamnya dipisahkan segala urusan yang penuh hikmah hanyalah malam turunnya Al-Qur'an... yaitu Lailatul Qadar, malam tajalli yang agung... dan ia berada di bulan Ramadhan berdasarkan nash Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman dalam surat Ad-Dukhan: "Ha Mim. Demi Kitab yang nyata. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (QS. Ad-Dukhan: 1-4). Dan firman-Nya dalam surat Al-Qadr: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam kemuliaan." Dan dalam surat Al-Baqarah: "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an." Maka malam yang di dalamnya dipisahkan segala urusan yang penuh hikmah adalah di Ramadhan secara pasti... dan itu adalah Lailatul Qadar menurut ijma' ulama. Adapun riwayat dari Qatadah yang menyatakan bahwa malam Nisfu adalah malam dipisahkannya segala urusan yang penuh hikmah, maka riwayat itu lemah dan mudhtharib (kacau), bahkan dari Qatadah sendiri diriwayatkan bahwa itu adalah Lailatul Qadar. Dan hadis yang menyatakan bahwa ajal diputuskan dari Sya'ban ke Sya'ban pada malam Nisfu Sya'ban juga hadis lemah sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir, dan ia menyelisihi nash-nash yang kuat.

Dari sini kita lihat bahwa doa tersebut penuh dengan kesalahan, ia adalah doa yang tidak diriwayatkan dari Nabi ﷺ, tidak dari generasi terbaik, dan tidak dari salaf. Perkumpulan dengan bentuk seperti yang kita lihat dan dengar di sebagian negeri Islam adalah perkara yang diada-adakan (mubtada') dan baru (muhdats). Sebaiknya kita membatasi diri dalam ibadah pada apa yang telah diriwayatkan. Segala kebaikan ada pada mengikuti jejak salaf, dan segala keburukan ada pada inovasi yang dibuat oleh generasi belakangan (khalaf). Setiap perkara baru adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengikuti apa yang datang dari Rasul-Nya ﷺ dan para sahabatnya.


Sumber: qaradawi.net

LihatTutupKomentar