Akhlaq Ustadz Terhadap Diri Sendiri

Mengenai akhlaq ustazd kepada diri sendiri ada dua puluh akhlaq, yaitu , hendaknya seorang ustazd : Satu, selalu istiqamah dalam muraqabah kepada Allah SWT, baik ditempat yang sunyi atau ramai. Pengertian muraqabah ialah melihat Allah dengan mata hati dan menghubungkannya dengan perbuatan yang dilakukan selama ini,
Akhlaq Ustadz Terhadap Diri Sendiri
Nama buku: Terjemah kitab Adabul Alim wa Al-Muta'allim
Judul versi terjemah: 1. Pendidikan Akhlak untuk Pengajar dan Pelajar; 2. Pendidikan Karakter Khas Pesantren (Adabul Alim wal Mutaallim)
Nama kitab asal: Adabul Alim wal Muta'allim (آداب العالم والمتعلم)
Pengarang: Hadratusy Syekh Kyai Haji Hasyim Asy'ari
Nama Ibu: Nyai Halimah
Penerjemah: Ishom Hadziq (?)
Bidang studi: Akhlaq dan Tasawuf

Daftar Isi


BAB LIMA AKHLAQ USTADZ TERHADAP DIRI SENDIRI

Mengenai akhlaq ustazd kepada diri sendiri ada dua puluh akhlaq, yaitu , hendaknya seorang ustazd :
Satu, selalu istiqamah dalam muraqabah kepada Allah SWT, baik ditempat yang sunyi atau ramai. Pengertian muraqabah ialah melihat Allah dengan mata hati dan menghubungkannya dengan perbuatan yang dilakukan selama ini, kemudian mengambil hikmahnya atau jalan yang terbaik bagi dirinya dengan mempertimbangkan dan merasakan tentang adanya pemantauan Tuhan kepadanya. Salah satu ciri muraqabah menurut Zunnun Al Misry adalah mengagungkan apa yang diagungkan oleh tuhan dan merendahkan apa yang direndahkan oleh Tuhan. Muraqabah merupakan salah satu dari sekian banyak tingkatan dan langkah dalam kesufian, selain khuf, raja’, tawadlu’, khusu’, zuhud’, dan sebagainya ( Lihat Risalah Al Qusyairiya: 189-191 ).

Dua , Senantiasa berlaku khauf ( takut kepada Allah ) dalam segala ucapan dan tindakanya, baik ditempat yang sunyi atau tempat ramai, karena orang yang alaim (ustazd) adalah orang yang selalu dapat menjaga amanat, dapat dipercaya terhadap sesuatu yang dititipkan kepadanya, baik itu berupa ilmu, hikmah, dan perasaan takut kepada Allah. Sedangkan kebalikan dari hal tersebut diatas dinamakan khianat. Allah telah berfirman dalam Al Qur’an yang artinya :

Janganlah kalian semua mengkhianati terhaap Allah dan rasul-Nya dan engkau semua telah mengkhianati terhadap amanat-amanat kalian , sedangkan engkau mengetahuinya.
Maksud dari khauf disini adalah takut terhadap kemungkinan azab dari Tuhan, didunia atau diakhirat. Dasar yang diapaki adalah firman Allah dalam surat Al Imran ayat 175, tujuannya adalah agar manusia bisa mempertimbangkan tingkah lakunya. Abd. Qasin mengatakan, “ siapa yang takut kepada sesuatu, maka ia akan berlari darinya, tetapi takut kepada Allah justru semakin mendekati-Nya ( Risalah Al Qusyairi, 125-126 ).

Tiga, Senantiasa bersikap tenang

Empat, Senantiasa bersikap wira’i.

Wira’I menurut Ibrahim ibn Adham, adalah meninggalkan setiap perkara subhat sekaligus meninggalkan setiap perkara yang tidak bermanfaat yakni perkara yang sia-sia. Sedangkan menurut Yusuf ibn Abid, wara’ adalah keluar dari setiap perkara subhat dan mengoreksi diri dalam setiap keadaan. ( Risalah Qusairi, 109-111 )
Lima, Selalu bersikap tawadlu’.

Syaikh Junaidi menyatakan bahwa, tawadlu’ adalah merendahkan diri terhadap makhluq dan melembutkan diri kepada mereka , atau patuh kepada kebenaran dan tidak berpaling dari hikmah , hukum, dan kebijaksaan. ( Risalah Qusairi, 145-148 ).

Enam, Selalu bersikap khusu’ kepada Allah SWT.

Salah satu isi surat yang ditulis oleh imam Malik kepada Harus Al Rasyid adalah :” Apabila engkau mengerti tentang ilmu , maka hendaknya engkau bisa melihat pengaruh yang ditimbulkan oleh ilmu tersebut, wibawa, tenang dan dermawa. Karena Rasulullah telah bersabda bahwa : para ulama’ itu pewaris para nabi “.

Sahabat Umar berkata :” Pelajarilah ilmu dan pelajarilah bersama-sama sehin gga bis menimbulkan sifat wibawa dan sifat tenang “. Sebagian ulama’ salaf mengakatakan bahwa :” kewajiban orang-orang yang mempunyai ilmu adalah selalu merendahkan diri kepada Allah AWT, baik ditempat sunyi atau ditempat ramai, menjaga terhadap dirinya sendiri, menghentikan setiap sesuatu yang dirasa menyulitkan dirinya sendiri.

Maksud dari khusu’ di atas adalah stabilnya hati dalam menghadap kebenaran, namun sebagian ulama yang menagatakan bahwa khusu’ adalah membelenggu mata dari melihat sesuatu yang tidak pantas.

Tujuh, Menjadikan Allah sebagai tempat meminta pertolongan dalam segala keadaan.

Delapan, Tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga untuk mencapai keuntungan yang besifat duniawi, baik berupa jabatan, harta, didengar oleh orang banyak, terkenal, lebih maju dibandingkan dengan teman yang lainnya;
Sembilan, Tidak mengagungkan santri-santri karena berasal dari anak penguasa dunia ( pejabat, konglomerat, dan lain-lain) seperti mendatangi mereka untuk keperluan pendidikannya atau bekerja untuk kepentingannya, kecuali jika ada kemaslahatan yang bisa diharapakan yang melebihi kehinaan ini, terutama guru pergi kerumah atau letempat-tempat orang yang belajar kepadanya ( santri ), meskipun murid itu mempunyai kedudukan yang angat tinggi, pejabat tinggi dan sebagainya.

Bahkan yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah ia harus mampu menjaga kewibawaan ilmu yang ia miliki, seperti yang telah dilakukan oleh para ulama’ salafussalihin. Berita yang berhubungan dengan mereka sangat baik , tidak pernah ada berita yang mendiskriditkan mereka , karena mereka mampu menjaga ilmunya dari godaan dunia, walaupun mereka tidak pernah mengambil jarak terhadap para penguasa masa itu atau yang lainya.

Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas, suatu ketika beliau mendatangi raja Harun Al Rasyid untuk berkunjung kekediamannya , kemudian Harun Al Rasyid berkata kepadanya :” Hai Aba Abdillah, seharusnya engkau mondar mandir ketempat tinggalku ini sehingga anak-anaka kecilku bisa mendengarkan kitab Muattha’ darimu. Iamam Malik berkata : mudah-mudahan Allah memberikan berkah kepadamu wahai raja Harun Al Rasyid, sesungguhnya ilmu ini telah menyebar ditengah masyarakat.

Apabila engkau memulyakan ilmu ini maka ia akan menjadi mulia, namun sebaliknya apabila meremehkan ilmu ini , maka ia pun akan dihina oleh orang. Ilmu pengetahuan harus didatangi oleh orang yang mencarinya, bukan sebaliknya ilmu yang mendatangi pelajar ( santri ), kemudian Harus Al Rasyid berkata, engkau benar. Keluar kalian semua dimasjid-masjid sehingga kalian semuanya bisa mendengarnya bersama orang lain.

Al Zuhry berkata :” sebuah kehinaan bagi ilmu apabila ia dibawa olrh orang-orang yang alim kerumah-rumah muridnya, kecuali ada hal-hal yang memaksanya, atau dalam keadaan dlarurat, serta adanya kemaslahatan yang lebih banyak dari pada mafsadat ( kerusakan ) nya. Maka untuk memberikan ilmu diirumah orng yang membutuhkannya tidak akan menjadi masalah ( dosa ) selam alasan atau illat tersebut masih ada. Argumentasi ini juga dipaakai oleh sebagian ulama’ salaf untuk menyebarkan ilmu .

Secara umum dapat disimpulkan bahwa barang siapa yang mengagungka ilmu , maka ia akan di agungkan oleh Allah SWT, dan barang siapa yang meremehkan ilmu, maka ia akan dihina oleh Allah. Hal ini sudah banyak dan terbukti di tengah-tengah masyarakat.

Wahb bin Munabbah telah berkata :” ulama’ sebelum kita , mereka semuannya merasa cukup dengan ilmu yang mereka miliki sehingga mereka tidak membutuhkan harta dunia, karena mereka sangat mencintai terhadap ilmu. Sedangkan orang-orang yang ahli ilmu, orang yang pandai, cendikiawan, kaum cerdik pandai pada zaman sekarang, mereka mengabdikan ilmunya kepada orang-orang yang bergelimangan dengan harta dunia, para konglomerat, para pejabat, karena mereka sangat mencintai pada harta dunia mereka, sehingga mereka menjadi orang –orang yang kaya raya namun selalu zuhud terhadap ilmu yang ia miliki , hanya memiliki sedikit ilmu ketika mereka melihat posisi dirinya yang tidak menguntungkan, lantas menjual ilmu demi kemewahan harta dunia.
Dalam sebauh syair, Al Qadli Abu Al Hasan mengatakan :
LihatTutupKomentar