Syarat sebelum wudhu dan mandi wajib

Syarat-syarat bersuci dari hadas kecil dan besar agar wudhu dan mandi junubnya sah. Syarat adalah perkara yang harus dilakukan sebelum melakukan wudhu
Syarat sebelum wudhu dan mandi wajib

 BAGIAN SYARAT-SYARAT TOHAROH

Syarat-syarat bersuci dari hadas kecil dan besar agar wudhu dan mandi junubnya sah. Syarat adalah perkara yang harus dilakukan sebelum melakukan wudhu dan/atau mandi wajib

Nama kitab: Terjemah Kitab Kasyifatus Syaja Syarah Safinatun Naja
Judul kitab asal: Kasyifat al-Saja Syarah Safinat al-Naja (كاشفة السجا شرح سفينة النجا)
Pengarang: Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi
Nama yang dikenal di Arab: محمد بن عمر بن عربي بن علي نووي الجاوي أبو عبد المعطي
Kelahiran: 1813 M, Kecamatan Tanara, Banten
Meninggal: 1897 M, Mekkah, Arab Saudi
Penerjemah:
Bidang studi: Fiqih


فصل في شروط الطهارة (شروط الوضوء) وكذا الغسل (عشرة)

Fasal ini menjelaskan tentang syarat-syarat toharoh. Syarat-syarat wudhu dan mandi ada 10 (sepuluh), yaitu;

الأول (الإسلام) فلا يصح من كافر لأنه عبادة بدنية بغير ضرورة وليس هو من أهلها 

1. Islam; oleh karena itu, wudhu dan mandi tidak sah dari orang kafir karena wudhu dan mandi adalah suatu ibadah badaniah yang dilakukan tanpa dilatar belakangi oleh dhorurot sedangkan orang kafir bukanlah termasuk ahli ibadah.

(و) الثاني (التمييز) فلا يصح وضوء غير المميز كطفل ومجنون لما ذكر

2. Tamyiz; oleh karena itu, wudhu yang dilakukan oleh orang yang belum tamyiz dihukumi tidak sah, seperti; bocah dan majnun karena alasan yang telah disebutkan sebelumnya. 

 (و) الثالث (النقاء) بفتح النون بالمد وماضيه نقي بكسر القاف ومضارعه ينقى بفتحها أي النظافة (عن الحيض والنفاس

3. Naqo' (bersih ( النقاء ); lafadz ‘ النقاء ’ dengan fathah pada huruf ن/ / dan hamzah mamdudah. Bentuk fi’il madhi-nya adalah نَقِى‘ ’ dengan kasroh pada huruf / ق/ dan bentuk fi’il mudhoriknya adalah ‘ ينقَى ’ dengan fathah pada huruf / ق/, maksudnya bersih dari haid dan nifas

و) الرابع النقاء (عما يمنع وصول الماء إلى البشرة) كدهن جامد وشمع وعين حبر وحناء بخلاف أثرهما وشوكة لو أزيلت لم يلتئم محلها ودم وغبار على عضو لا عرق متجمد عليه ووسخ تحت الأظفار ورمض في العين وليس منه طبوع عسر زواله فيعفى عنه وكذا
قشرة الدمل بعد خروج ما فيها وإن سهلت إزالتها بل أولى من العرق لأنه جزء من البدن


4. Naqok atau bersih dari benda yang mencegah datangnya air sampai pada kulit, seperti; minyak yang telah mengeras, atau lilin, atau dzat tinta dan pacar, bukan bekasnya, atau duri yang apabila dicabut maka bagian yang dikenainya itu tidak merapat, atau darah, atau debu yang ada di anggota tubuh,
bukan keringat yang telah mengeras, atau kotoran di bawah kuku, atau kotoran di mata.

Tidak termasuk benda yang mencegah datangnya air sampai pada kulit adalah; lingso di rambut yang sulit dihilangkan, maka hukumnya dima’fu, dan kulit bisul yang sudah dikeluarkan isinya, meskipun sebenarnya mudah untuk dihilangkan, bahkan kulit bisul ini lebih utama sebagai perkara yang tidak mencegah datangnya air sampai ke kulit daripada keringat yang telah mengeras, karena kulit tersebut
masih termasuk bagian dari tubuh.

و) الخامس (أن لا يكون على العضو ما يغير الماء) كزعفران وصندل 

5. Tidak ada benda yang menempel di atas anggota tubuh yang dapat merubah sifat-sifat air, seperti; zakfaron, cendana.

و) السادس (العلم بفرضيته) أي يكون كل من الوضوء والغسل فرضا وهو ما يثاب على فعله ويعاقب على تركه لأن الجاهل بفرضيته غير متمكن من الجزم بالنية فلا تصح ممن جهل فرضيته

6. Mengetahui fardhiah (sifat kefardhuan) wudhu atau mandi, maksudnya mengetahui bahwa masing-masing dari keduanya adalah fardhu, yakni yang apabila dilakukan maka diberi pahala dan yang apabila ditinggalkan maka disiksa, karena orang yang tidak mengetahui fardhiah wudhu atau mandi tidak mungkin memiliki kemantapan niat, oleh karena inilah, niat tidak sah dari orang yang tidak mengetahi
fardhiah wudhu atau mandi.

و) السابع (أن لا يعتقد فرضا من فروضه) أي فروض كل منهما (سنة) سواء اعتقد أن أفعاله كلها فروض أو اعتقد أن فيه فرضا وسنة وإن لم يميز أحدهما عن الآخر وهذا في حق العامي أما العالم وهو من اشتغل بالفقه زمنا فلا بد فيه من تمييز فرائضه من سننه 

7. Tidak meyakini satu fardhu dari fardhu-fardhu wudhu atau mandi sebagai suatu kesunahan, baik seseorang meyakini bahwa semua perbuatan-perbuatan wudhu atau mandi itu fardhu atau ia meyakini bahwa di dalam wudhu atau mandi ada yang fardhu dan yang sunah meskipun tidak bisa membedakan manakah yang fardhu dan manakah yang sunah. Ini adalah bagi orang ‘am.


Adapun orang yang alim, yakni orang yang selama waktu tertentu telah fokus mempelajari Fiqih, maka wajib atasnya kemampuan membedakan fardhu-fardhu wudhu atau mandi dari sunah-sunahnya, artinya, ia harus mengetahui manakah yang fardhu dan manakah yang sunah.

و) الثامن (الماء الطهور) في ظن كل من المتوضىء والمغتسل واعتقاده وإن لم يكن طهورا عند غيره كما لو اشتبه الطهور بالمتنجس من إناءين وقع في أحدهما لا بعينه نجاسة فظن كل شخص طهارة إنائه فتوضأ فطهارة كل منهما صحيحة فلا يصح الوضوء والغسل بمستعمل ومتغير تغيرا كثيرا 

8. Air suci yang mensucikan menurut sangkaan mutawadhik
(orang yang berwudhu) dan mughtasil (orang yang mandi)
dan menurut keyakinannya, meskipun menurut orang lain air
tersebut tidak suci mensucikan, misalnya; ketika tidak
diketahui manakah air suci yang mensucikan dan manakah
air yang najis dari dua wadah, kemudian masing-masing
mutawadhik dan mughtasil menyangka kesucian wadah yang
berbeda, lalu mutawadhik bersuci dengan air wadah ini, dan
mughtasil bersuci dengan air wadah itu, maka masingmasing
toharohnya dihukumi sah. Oleh karena syarat
toharoh adalah air suci mensucikan, maka tidak sah
melakukan toharoh, baik wudhu atau mandi, dengan air
mustakmal dan mutaghoyyir yang berubah banyak.

و) التاسع (دخول الوقت) أي في طهارة دائم الحدث كمستحاضة فلو تطهر قبل دخوله لم تصح لأ ا طهارة ضرورة ولا ضرورة قبل الوقت 

9. Masuknya waktu sholat dalam masalah toharohnya daim alhadas
(orang yang selalu menetapi hadas), seperti;
perempuan istihadhoh. Oleh karena ini, toharoh, baik wudhu
atau mandi, yang dilakukan oleh daim al-hadas sebelum
masuknya waktu sholat dihukumi tidak sah, karena status
toharohnya adalah dhorurot, sedangkan tidak ada unsur
dhorurot sebelum masuk waktunya sholat.

و) العاشر (الموالاة) أي بين الأعضاء والموالاة بين أجزاء الوضوء الواحد (لدائم الحدث) وهذا القيد راجع لهاتين المسألتين كما علمت


10. Muwalah di antara anggota-anggota dalam mandi dan
muwalah di antara rukun-rukun wudhu bagi daim al-hadas.
Batasan atau qoyid dengan pernyataan bagi daim al-hadas
dikembalikan pada dua masalah di atas, yakni masuknya waktu
sholat dan muwalah, seperti yang kamu ketahui.

LihatTutupKomentar