Hadas Kecil Besar dan Hukumnya

Hadas Kecil dan Besar Perkara-perkara yang membatalkan wudhu ada 4 (empat). yang mewajibkan mandi penyebab hadas besar seperti keluar sperma, haid,
Hadas Kecil Besar dan Hukumnya

Nama kitab: Terjemah Kitab Kasyifatus Syaja Syarah Safinatun Naja
Judul kitab asal: Kasyifat al-Saja Syarah Safinat al-Naja (كاشفة السجا شرح سفينة النجا)
Pengarang: Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi
Nama yang dikenal di Arab: محمد بن عمر بن عربي بن علي نووي الجاوي أبو عبد المعطي
Kelahiran: 1813 M, Kecamatan Tanara, Banten
Meninggal: 1897 M, Mekkah, Arab Saudi
Penerjemah:
Bidang studi: Fiqih

Daftar isi
  1. BAGIAN KEDUA BELAS: HADAS
  2. A. Perkara-perkara Yang Membatalkan Wudhu
  3. B. Perkara-perkara Yang Diharamkan Sebab Hadas
  4. 1. Perkara-perkara Yang Diharamkan Sebab Hadas Kecil (Asghor)
  5. 2. Perkara-perkara yang Diharamkan Sebab Hadas Sedang (Ausat)
  6. 3. Perkara-perkara yang Diharamkan Sebab Hadas Besar
  7. Kembali ke Terjemah Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Naja

BAGIAN KEDUA BELAS HADAS

A. Perkara-perkara Yang Membatalkan Wudhu

فصل) في بيان الاحداث (نواقض الوضوء أربعة أشياء) أي أحد هذه الأشياء

Fasal ini menjelaskan tentang hadas-hadas.
[Perkara-perkara yang membatalkan wudhu ada 4 (empat).] Maksudnya, masing-masing dari 4 tersebut dapat membatalkan wudhu, yaitu;


1. Keluarnya Sesuatu dari Qubul dan Dubur.

الأول الخارج من أحد السبيلين من قبل أو دبر) هذا بيان للسبيلين أو من أي ثقب
كان إذا كان أحدهما منسدا انسدادا خلقيا وكان الخارج من الثقبة مناسبا للمنسد
كأن انسد القبل فخرج منها بول أو الدبر فخرج منها غائط وكذا إذا كان غير مناسب
لواحد منهما كالدم وأما إن كان مناسبا للمنفتح فقط فلا نقض وأما إن كان أحدهما
منسدا انسدادا عارضا فلا بد أن تكون الثقبة قريبة من المعدة، فإن كان في رجله أو
نحوها لم ينقض الخارج منها

 

Perkara pertama yang membatalkan wudhu adalah keluarnya
sesuatu (al-khorij) dari salah satu dua jalan, maksudnya dari qubul
atau dubur. Lafadz ‘ من قبل أو دبر ’ adalah athof bayan bagi lafadz ‘ .’السبيلين
Atau perkara yang membatalkan wudhu adalah adanya
sesuatu yang keluar (al-khorij) dari lubang manapun (selain qubul
atau dubur) ketika salah satu dari qubul dan dubur tertutup karena
asli bawaan lahir, dengan rincian sebagai berikut;
 al-khorij sama jenisnya dengan al-khorij yang biasa
dikeluarkan oleh qubul atau dubur yang tertutup, seperti ada
orang memiliki qubul yang tertutup, kemudian ia
mengeluarkan air kencing dari lubang tertentu, atau seperti
ada orang memiliki dubur yang tertutup, kemudian ia
mengeluarkan tahi dari lubang tertentu.


 Atau al-khorij tidak sama dengan sesuatu yang biasa keluar
dari qubul atau dubur (yang tertutup), seperti darah.


 Adapun apabila al-khorij sama jenis dengan qubul atau
dubur yang terbuka maka wudhunya tidak batal, misalkan;
ada orang memiliki qubul yang tertutup dan dubur yang
terbuka, kemudian ia memiliki satu lubang lain dan
mengeluarkan tahi, sedangkan tahi biasanya keluar dari
dubur, maka wudhunya tidak batal, atau ada orang memiliki
qubul yang terbuka dan dubur yang tertutup, kemudian ia
mengeluarkan air kencing dari lubang lain, maka wudhunya
juga tidak batal, karena dalam dua contoh ini, al-khorij sama
jenis dengan al-khorij yang keluar dari qubul atau dubur
yang terbuka.


Apabila salah satu qubul atau dubur tertutup bukan bawaan
lahir, maka wudhu dapat batal sebab al-khorij yang keluar dari
lubang yang dekat dengan lambung. Apabila lubang tersebut berada
jauh dari lambung, seperti di kaki atau lainnya, seperti tangan,
kepala, paha, dan lain-lain, maka wudhu tidak batal dengan adanya
al-khorij darinya.

ريح) هذا بدل من قوله الخارج أي سواء خرج ذلك الريح من القبل أو الدبر وسئل أبو
هريرة رضي الله عنه عن الحدث فقال فساء أو ضراط رواه البخاري قال في المصباح
الفساء ريح يخرج بغير صوت يسمع وقال الصاوي فإن كان الريح الخارج من الدبر بلا
صوت شديد سمي فسوة وإن كان خفيفا سمي فسية بالتصغير وإن كان بصوت سمي
ضراطا اه

Sesuatu yang keluar atau al-khorij yang dapat membatalkan
wudhu adalah (angin) atau ‘ الرِيْح ’. Kata ‘ الرِيْح ’ adalah badal dari kata
الخَارِج‘ ’. Angin dapat membatalkan wudhu, baik keluar dari qubul atau
dubur.

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu ditanya tentang hadas.
Kemudian ia menjawab, “Hadas adalah ‘ فَسَاء ’ atau ‘ 38 ’ضَرَاط . Hadis ini
diriwayatkan oleh Bukhori.
Disebutkan dalam kitab al-Misbah bahwa pengertian ‘ ’الفَسَاء
adalah angin yang keluar tanpa adanya suara yang terdengar. Syeh
Showi berkata, “Apabila angin yang keluar dari dubur tidak disertai
dengan suara keras maka disebut dengan ‘ فَسْوَة ’ (baca faswah).
Sedangkan apabila ia keluar disertai dengan suara pelan maka
disebut dengan ‘ فُسَيَّة ’ (baca; fusayyah). Dan apabila ia keluar disertai
dengan suara yang keras maka disebut dengan ‘ ضَرَّاط ’ (baca;
Dhorrot).”

أو غيره) أي سواء كان الخارج عينا أو ريحا طاهرا أو نجسا جافا أو رطبا معتادا كبول
أو نادرا كدم انفصل أولا كدودة أخرجت رأسها وإن رجعت وإذا ألقت المرأة جزء ولد
فإنه ينتقض الوضوء أما لو ألقت ولدا تاما بلا بلل فلا ينتقض الوضوء وإن وجب
الغسل

Atau perkara yang membatalkan wudhu adalah al-khorij
yang selain angin (kentut), baik al-khorij tersebut berupa benda atau
angin, baik suci atau najis, baik kering atau basah, baik yang biasa
keluar seperti air kencing atau yang langka keluar seperti darah, baik
keluar kemudian putus (munfasil) atau keluar dan tidak terputus
semisal ulat yang mengeluarkan kepalanya dari dubur kemudian ia
masuk lagi ke dalamnya.


Ketika perempuan masih melahirkan sebagian tubuh anak
maka wudhunya menjadi batal. Adapun apabila ia melahirkan
38 Masing-masing berarti angin yang keluar.
seluruh tubuh anak tanpa disertai basah-basah (balal) maka
wudhunya tidak menjadi batal meskipun ia diwajibkan mandi.

إلا المني) أي الموجب للغسل فلا نقض به كأن أمني بمجرد نظره وهو التأمل برؤية العين
لأنه أوجب أعظم الأمرين وهو الغسل بخصوص كونه منيا فلا يوجب أدو ما وهو
الوضوء بعموم كونه خارجا

Dikecualikan adalah sperma, maksudnya, keluarnya sperma

yang mewajibkan mandi, maka tidak membatalkan wudhu, misalnya;
seseorang mengeluarkan sperma gara-gara melihat, kemudian
dengan melihat tersebut, ia membayangkan sesuatu (mungkin yang
bersifat mesum), maka diwajibkan atasnya salah satu yang terbesar
dari dua hal, yaitu mandi atas dasar faktor khusus yang disebabkan
oleh sperma, maka tidak diwajibkan atasnya salah satu yang terendah
dari dua hal, yaitu wudhu atas dasar faktor umum yang disebabkan
oleh al-khorij


2. Hilang Akal

الثاني زوال العقل) أي التمييز الناشىء عنه (بنوم) أي في غير الأنبياء عليهم السلام
وهو ريح لطيفة تأتي من قبل الدماغ فتغطي العين وتصل إلى القلب فإن لم تصل إليه
كان نعاسا واسترخاء أعصاب الدماغ بسبب الأبخرة الصاعدة من المعدة ودليل النقض
بالنوم قوله صلى الله عليه وسلّم العينان وكاء السه فإذا نامت العينان استطلق الوكاء
فمن نام فليتوضأ رواه أبو داود وابن ماجه

Maksudnya, perkara kedua yang membatalkan wudhu adalah
hilangnya sifat tamyiz yang muncul dari akal sebab tidur, tetapi
selain tidurnya para nabi ‘alaihim as-salam.


Pengertian tidur adalah angin lembut yang keluar dari arah
otak yang menyebabkan tertutupnya mata yang nantinya angin
lembut tersebut akan sampai pada hati. Apabila angin tersebut tidak
sampai pada hati maka disebut dengan kantuk. Mengendornya otak
disebabkan oleh naiknya uap-uap dari lambung.

Dalil tentang batalnya wudhu sebab tidur adalah sabda
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Kedua mata adalah
pengikat kelalaian. Ketika kedua mata tidur maka pengikat tersebut
terlepas sehingga barang siapa tidur maka wajib atasnya berwudhu.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah.

أو غيره) كجنون وهو زوال الإدراك من القلب مع بقاء القوة والحركة في الأعضاء أو
صرع وهو داء يشبه الجنون وصاحبه غالبا يسيح على وجهه في الأرض أو خبل وهو
ذهاب العقل وفساده من الجنون أوعته وهو نقص العقل من غير جنون أو ذهابه حياء
أو خوفا أو سكر وهو فساد في العقل مع اضطراب واختلاط نطق أو مرض وهي حالة
خارجة عن الطبع ضارة بالفعل أو إغماء وهو زوال الإدارك من القلب مع انقطاع القوة
والحركة في الأعضاء وقيل هو امتلاء بطون الدماغ من بلغم بارد غليظ وقيل هو سهو
يلحق الإنسان مع فتور الأعضاء لعلة والإغماء جائز على الأنبياء عليهم الصلاة
والسلام ولا نقض بإغمائهم لأنه مرض من غلبة الأوجاع للحواس الظاهرة فقط دون
القلب لأنه إذا حفظت قلو م من النوم الذي هو أخف من الإغماء كما ورد في
حديث تنام أعيننا ولا تنام قلوبنا فمن الإغماء أولى لشدة منافاته للتعلق بالرب سبحانه
وتعالى وليس كالإغماء الذي يحصل لآحاد الناس ومثله الغشي في حقهم وأما في حقنا
فهو تعطيل القوى المحركة والإرادة الحساسة لضعف القلب بسبب وجع شديد أو برد أو
جوع مفرط فينقض أيضا ومما ينقض استغراق الأولياء بالذكر أو بالتفكر

Wudhu bisa batal karena hilang sifat tamyiz yang disebabkan
oleh selain tidur, seperti; gila. Pengertian gila adalah hilangnya sifat
pengetahuan dari hati, tetapi masih memiliki kekuatan dan gerak
pada anggota tubuh.


Atau hilang sifat tamyiz sebab kelenger, yaitu suatu penyakit
yang menyerupai gila. Pada umumnya, orang yang kelenger jatuh
telungkup.

Atau hilang sifat tamyiz sebab khobal, yaitu hilang akal yang
rusaknya akal tersebut berasal dari gila atau kedunguan. Sedangkan
pengertian kedunguan adalah kurang akal tanpa disertai gila atau
hilang akal karena malu atau takut.
Atau hilang sifat tamyiz sebab mabuk. Pengertian mabuk
adalah rusaknya akal disertai kondisi gentuyuran dan melantur.
Atau hilang sifat tamyiz sebab sakit, yaitu keadaan di luar
tabiat yang membahayakan secara nyata.


Atau hilang sifat tamyiz sebab ayan, yaitu hilangnya
pengetahuan dari hati disertai terputusnya kekuatan dan gerak dari
anggota tubuh. Ada yang mengatakan, ayan adalah kondisi dimana
isi otak terpenuhi oleh lendir dingin dan kental. Ada yang
mengatakan, ayan adalah kelalaian yang menimpa manusia disertai
mengendornya anggota tubuh karena suatu penyakit tertentu. Ayan
bisa saja dialami oleh para nabi ‘alaihim as-solatu wa as-salamu,
tetapi wudhu mereka tidak batal sebab ayan karena ayan sendiri
merupakan suatu penyakit yang menyerang alat-alat indera saja,
bukan hati, lagi pula ketika hati para nabi terjaga dari tidur dimana
tidur adalah lebih ringan pengaruhnya daripada ayan, seperti dalam
hadis, “Mata kami tidur tetapi hati kami tidak tidur,” maka sudah
lebih tentu mereka terjaga dari ayan sebab ayan lebih menyamarkan
hubungan kepada Allah. Ayan yang dialami oleh para nabi tidaklah
sama seperti ayan yang dialami oleh manusia biasa.


Sama seperti ayan adalah pingsan bagi para nabi, artinya
pingsan yang dialami oleh mereka tidaklah sama dengan pingsan
yang dialami oleh kita yang sebagai manusia biasa. Pingsan bagi kita
adalah suatu kondisi dimana hilangnya kekuatan untuk bergerak dan
kehendak untuk mengindra karena lemahnya hati sebab sakit parah,
dingin, atau lapar yang kebangetan. Pingsan dapat membatalkan
wudhu.


Termasuk yang dapat membatalkan wudhu adalah rasa
tenggelam sebab dzikir atau tafakkur yang dialami oleh para wali.

إلا نوم قاعد ممكن مقعده من الأرض) أي من مقره وهو متعلق بممكن أي ولو
احتمالا حتى لو تيقن النوم وشك هل كان متمكنا أو لا لم ينتقض وضوءه ولو زالت
إحدى أليتي نائم متمكن عن مقره قبل انتباهه يقينا انتقض وضوءه أو بعده أو معه
أوشك في تقدمه فلا نقض

Dikecualikan adalah tidurnya orang yang duduk dengan
menetapkan pantatnya di atas lantai. Lafadz ‘ من الأرض ’ berta’alluk
dengan lafadz ‘ ممكن ’. Maksudnya, tidak membatalkan wudhu adalah
tidurnya orang yang memungkinkan menetapkan pantatnya di atas
lantai sehingga apabila seseorang yakin telah tidur, tetapi ia ragu
apakah ia menetapkan pantat atau tidak maka wudhunya tidak batal.
Apabila salah satu pantatnya lepas dari lantai, artinya tidak
lagi menetap, sebelum ia sadar secara yakin, maka wudhunya batal.
Berbeda apabila salah satu pantatnya lepas dari lantai, artinya tidak
lagi menetap, tetapi setelah ia sadar secara yakin, atau bersamaan
dengan sadarnya secara yakin, atau ragu manakah yang lebih dulu
antara terlepasnya pantatku dari lantai ataukah sadarku, maka
wudhunya tidak batal.


3. Bertemunya Dua Kulit (al-lamsu)

الثالث التقاء بشرتي رجل وامرأة كبيرين أجنبيين من غير حائل) وينتقض وضوء كل
منهما من لذة أو لا عمدا أو سهوا أو كرها بعضو سليم أو أشل ولو كان الرجل هرما أو ممسوحا ولو كان أحدهما ميتا لكن لا ينتقض وضوء الميت أو كان أحدهما من الجن،
ولو كان على غير صورة الآدمي ككلب حيث تحققت الذكورة أو الأنوثة بخلاف ما لو
تولد شخص بين آدمي وحيوان آخر غير جني فلا نقض بلمسه ولو على صورة الآدمي

Maksudnya, perkara ketiga yang membatalkan wudhu adalah
saling bertemunya kulit laki-laki ajnabi yang dewasa dan kulit
perempuan ajnabiah yang dewasa tanpa adanya penghalang. Masingmasing
dari mereka, wudhunya batal, baik sama-sama merasakan
enak atau tidak, baik secara sengaja bersentuhan atau lupa atau
dipaksa, baik kulit yang saling bersentuhan adalah kulit anggota
tubuh yang berfungsi atau yang sudah mati, meskipun si laki-laki
adalah yang pikun atau yang tidak memiliki dzakar sama sekali,
meskipun salah satu dari mereka berdua adalah mayit, tetapi
wudhunya mayit tidak menjadi batal, meskipun salah satu dari
mereka berdua adalah jin, meskipun salah satu dari mereka memiliki
bentuk tidak seperti manusia, misalnya seperti anjing, sekiranya
terbukti kelaki-lakiannya atau keperempuanannya, berbeda dengan
masalah peranakan hasil manusia dan hewan lain yang bukan jin
maka wudhu menjadi batal sebab menyentuh kulit peranakan
tersebut meskipun peranakan itu memiliki bentuk tidak seperti
manusia.


وحاصله أن اللمس ناقض بشروط خمسة أحدها أن يكون بين مختلفي ذكورة وأنوثة
ثانيها أن يكون بالبشرة دون الشعر والسن والظفر فلا نقض بشيء منها بخلاف العظم
إذا كشط فإنه ينقض ولو اتخذت المرأة أو الرجل أصبعا من ذهب أو فضة لم ينقض
لمسها ولو سلخ جلد الرجل أو المرأة وحشي لم ينقض لمسه لأنه لا يسمى آدميا وكذا لو
سلخ ذكر الرجل وحشي إذ لا يسمى ذكرا ثالثها أن يكون بدون حائل فلو كان بحائل
ولو رقيقا فلا نقض ومن الحائل ما لو كثر الوسخ المتجمد على البشرة من غبار بخلاف
ما لو كان من العرق فإن لمسه ينقض لأنه صار كالجزء من البدن رابعها أن يبلغ كل
منهما حد الكبر يقينا وهو في حق الرجل من بلغ حدا تشتهيه فيه عرفا ذوات الطباع
السليمة من النساء كالسيدة نفيسة بنت الحسنبن زيد ابن سيدنا الحسن سبط رسول
الله صلى الله عليه وسلّم ابن سيدنا علي كرم الله وجهه ورضي الله عنه وذلك بأن يميل
قلب تلك النساء إليه وفي المرأة من بلغت حدا يشتهيها فيه عرفا ذوو الطباع السليمة
من الرجال كالإمام الشافعي رضي الله عنه وذلك بأن ينتشر منهم الذكر فلو بلغ
أحدهما حدا يشتهي ولم يبلغه الآخر فلا نقض خامسها عدم المحرمية ولو احتمالا والمحرم
من حرم نكاحها ويكون تحريمها على التأبيد بسبب مباح لا لاحترامها ولا لعارض يزول
فاح ترز بقولهم على التأبيد عن أخت الزوجة وعمتها وخالتها فإن تحريمهن من جهة
الجمع فقط وبقولهم بسبب مباح عن بنت الموطوأة يشبهه وأمها لأن وطء الشبهة لا
يوصف بإباحة ولا تحريم وعن الملاعنة لتحريم سبب حرمتها وهو الزنى وبقولهم لا
لاحترامها عن زوجات النبي صلى الله عليه وسلّم فإن تحريمهن لاحترامهن فإ ن يحرمن
على الأمم وعلى الأنبياء أيضا لأ م من أمته صلى الله عليه وسلّم ولو لم يدخل ن
بخلاف إمائه صلى الله عليه وسلّم فلا يحرمن على غيره إلا إن كن موطوآت له صلى
الله عليه وسلّم وأما زوجات بقية الأنبياء فيحرمن على الأمم خاصة لا على الأنبياء
وبقولهم ولا لعارض يزول عن الموطوءة في نحو حيض وا وسية والوثنية والمرتدة لأن
تحريمهن لعارض يزول فيمكن أن تحل له من ذكر في وقت

Kesimpulannya adalah bahwa bersentuhan kulit (lamsu)
dapat membatalkan wudhu dengan 5 (lima) syarat, yaitu:


1) Bersentuhan kulit terjadi antara dua jenis kelamin yang berbeda,
yaitu laki-laki dan perempuan.


2) Yang saling bersentuhan adalah kulit, bukan rambut, gigi, atau
kuku, sehingga apabila laki-laki dan perempuan saling
bersentuhan rambut, gigi, atau kuku maka wudhu masingmasing
dari mereka tidak menjadi batal. Berbeda dengan tulang
ketika terbuka, maka saling bersentuhan tulang antara laki-laki
dan perempuan dapat membatalkan wudhu.


Apabila ada perempuan atau laki-laki menjadikan jari-jarinya
terbuat dari emas atau perak maka wudhu tidak batal sebab
menyentuhnya.


Apabila ada laki-laki atau perempuan yang kulitnya diubah
menjadi kulit binatang liar, misalnya buaya, maka wudhu tidak
batal sebab menyentuhnya karena pada saat demikian itu ia
tidak disebut sebagai manusia. Begitu juga, apabila dzakar lakilaki
diubah menjadi alat kelamin binatang lain maka menyentuh
kulitnya tidak membatalkan wudhu sebab pada saat demikian itu
ia tidak disebut sebagai laki-laki.


3) Tidak ada penghalang (haa-il) antara kulit laki-laki dan kulit
perempuan. Apabila antara keduanya terdapat penghalang
sekalipun tipis maka saling bersentuhan tidak menyebabkan
batalnya wudhu. Termasuk penghalang adalah kotoran debu
banyak yang menempel dan mengeras di atas kulit, berbeda
apabila kotoran tersebut dari keringat maka wudhu menjadi
batal sebab menyentuhnya karena kotoran keringat tersebut
seperti bagian dari tubuh.


4) Masing-masing laki-laki atau perempuan telah mencapai batas
kedewasaan secara yakin.
Batas kedewasaan bagi laki-laki adalah sekiranya ia telah
mencapai batas yang mensyahwati pada umumnya menurut para
perempuan yang bertabiat selamat, seperti; Sayyidah Nafisah,
yakni putri Hasan bin Zaid bin Sayyidina Hasan Sang Cucu
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama dan Sang Putra
Sayyidina Ali karromallahu wajhahu dan rodhiallahu ‘anhu.
Pengertian mensyahwati di atas adalah sekiranya hati para
perempuan tersebut condong kepada laki-laki itu.
Batas kedewasaan bagi perempuan adalah sekiranya ia telah
mencapai batas yang mensyahwati pada umumnya menurut para
laki-laki yang bertabiat selamat, seperti; Imam Syafii
rodhiallahu ‘anhu. Pengertian mensyahwati disini adalah
sekiranya dzakar laki-laki mulai ereksi.

Oleh karena itu, apabila ada laki-laki yang telah mencapai batas
mensyahwati sedangkan perempuan belum mencapainya,
kemudian mereka saling bersentuhan kulit, maka wudhu tidak
menjadi batal.


5) Tidak ada sifat mahramiah antara laki-laki dan perempuan,
meskipun hanya menurut kemungkinan. Pengertian mahram
adalah perempuan yang haram dinikahi yang mana
keharamannya tersebut terus menerus berlangsung selamanya
karena faktor yang mubah, bukan karena kemuliaannya dan
bukan karena faktor baru yang dapat hilang.

Dikecualikan dengan pernyataan yang terus menerus
berlangsung selama-lamanya adalah saudara perempuan istri,
bibi istri (dari bapak) dan bibi istri (dari ibu) karena keharaman
mereka untuk dinikahi dilihat dari segi sebab perkumpulan
(jam’i).


Dikecualikan dengan pernyataan sebab faktor yang mubah
adalah anak perempuan dari perempuan yang diwati syubhat
dan ibu dari perempuan yang diwati syubhat karena wati
syubhat tidak disifati dengan hukum ibahah (boleh) dan haram.
Dan dikecualikan juga dengan pernyataan sebab faktor yang
mubah adalah perempuan li’an karena keharaman sebabnya,
yaitu zina.


Dikecualikan dengan pernyataan bukan karena kemuliaannya
adalah istri-istri Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama
karena keharaman dalam menikahi istri-istri beliau adalah
karena kemuliaan mereka sebab mereka haram dinikahi oleh
umat-umat secara umum dan juga oleh para nabi yang lain
karena para nabi yang lain juga termasuk umat Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallama meskipun Rasulullah sendiri
belum menjimak mereka. Berbeda dengan para perempuan amat
milik Rasulullah, maka tidak haram dinikahi oleh laki-laki lain
kecuali apabila para perempuan amat tersebut telah dijimak oleh
Rasulullah. Adapun istri para nabi yang lain maka haram
dinikahi oleh umat tertentu, bukan oleh nabi yang lain.
Dikecualikan dengan pernyataan bukan karena faktro baru
yang dapat hilang adalah perempuan yang dijimak dalam
kondisi haid, perempuan majusiah, perempuan watsaniah, dan
perempuan murtadah, karena keharaman dalam menikahi
mereka disebabkan oleh faktor baru yang dapat hilang dan
memungkinkan halal untuk dinikahi pada waktu tertentu,
misalnya; ketika perempuan majusiah telah masuk Islam dst.

Macam-macam wati syubhat

تتمة) اعلم أن وطء الشبهة الذي لا يوصف بإباحة ولا تحريم هو شبهة الفاعل كأن
يظن امرأة أجنبية زوجته فيطؤها وكوطء المكره بفتح الراء، وأما الوطء بشبهة المحل كوطء
أمة ولده أو شريك الأمة المشتركة أو سيد مكاتبته أو بشبهة الطريق أي المذهب وهو أن
يعقد عليها أي المرأة بجهة قالها عالم يعتد بخلافه كالحنفي ونحوه فإنه لا يوصف بحرمة،
وسمي وطء أمة الولد بشبهة المحل لأن مال الولد كله محل لإعفاف أصله ومنه الجارية،
فإعفاف الولد هو أن يهيىء للأصل مستمتعا بالحليلة ويمو ا، ومثال شبهة الطريق
كالنكاح بلا شهود عند العقد عند مالك ويجب الإشهاد عنده قبل الدخول وبلا ولي
عند أبي حنيفة وبلا ولي وشهود كما هو مذهب داود الظاهري كأن زوجته نفسها فلا
حد على الواطىء في ذلك وإن لم يقصد تقليدهم وإن اعتقد التحريم، وقد نظم بعضهم
الشبهات الثلاثة في قوله
اللذ أباح البعض حله فلا ** حد به وللطريق استعملا
وشبهة لفاعل كأن أتى ** لحرمة يظن حلا مثبتا
ذات اشتراك ألحقن وسمِّين ** هذا الأخير بالمحل فاعلمن

 

[Tatimmah]
Ketahuilah sesungguhnya wati (jimak) syubhat yang tidak
disifati dengan hukum ibahah dan tahrim adalah syubhat faa’il,
seperti; laki-laki menyangka perempuan ajnabiah sebagai istrinya,
kemudian ia menjimaknya, dan seperti jimak yang dilakukan oleh
laki-laki yang dipaksa.


Adapun wati (jimak) sebab syubhat mahal maka tidak
disifati hukum haram, seperti; laki-laki menjimak perempuan amat
milik anak laki-lakinya, atau laki-laki menjimak perempuan amat
yang diserikatinya, atau tuan menjimak perempuan amat mukatabnya.
Begitu juga, wati syubhat torik atau syubhat madzhab tidak
disifati hukum haram, seperti; laki-laki menjimak perempuan atas
dasar aturan yang dikatakan oleh orang alim yang terakui menurut
madzhab lain, seperti yang bermadzhab Hanafiah atau selainnya,
sekiranya madzhab Hanafiah tidak mengharamkan jimak tersebut.
Menjimak perempuan amat milik anak laki-laki disebut
dengan syubhat mahal karena semua harta anak laki-laki tersebut
adalah tempat untuk menjaga dan memelihara bapaknya dan budak
perempuannya. Pengertian penjagaan anak kepada bapaknya adalah
sekiranya anak tersebut menyediakan perempuan halal untuk
bapaknya agar bapaknya bisa bersenang-senang dengannya dan anak
membiayai perempuan halal tersebut.


Contoh syubhat torik adalah seperti pernikahan tanpa
beberapa saksi ketika akad menurut Imam Malik. Sedangkan
menurut Abu Hanifah, diwajibkan mendatangkan beberapa saksi
ketika akad sebelum dukhul (jimak) tanpa disertai adanya wali.
Sedangkan menurut madzhab Daud adz-Dzohiri, akad nikah sah
meski tanpa beberapa saksi dan wali, seperti; perempuan
menikahkan dirinya sendiri kepada laki-laki. Dengan demikian, tidak
ada had yang wajib ditegakkan bagi orang yang jimak menurut
madzhab-madzhab tersebut meski ia tidak sengaja bertaklid kepada
mereka sekalipun ia meyakini keharamannya.
Sebagian ulama telah menadzomkan 3 macam syubhat di
atas dengan perkataannya;
Jimak yang diperbolehkan oleh sebagian ulama tentang
kehalalannya, maka tidak ada had yang ditegakkan atasnya. 

 

(1) Jimak sebab syubhat torik sungguh diberlakukan.


(2) Jimak sebab syubhat faa’il, seperti; laki-laki menjimak
perempuan ajnabiah yang ia sangka sebagai istrinya sendiri.


(3) Laki-laki menjimak perempuan amat yang diserikati. Sebutlah
hubungan jimak terakhir ini dengan istilah syubhat mahal.
Ketahuilah.


4. Menyentuh Alat Kelamin (al-massu)

الرابع مس قبل الآدمي) ولو سهوا ولو مبانا حيث سمي فرجا ولو أشل ولو صغيرا أو ميتا من نفسه أو غيره

Perkara keempat yang membatalkan wudhu adalah
menyentuh qubul manusia, meskipun karena lupa, meskipun qubul
yang disentuh telah terpotong sekiranya masih disebut sebagai farji,
meskipun qubul sudah tidak berfungsi, meskipun qubul anak kecil
atau mayit, dan meskipun qubul milik sendiri atau orang lain.

وهو في الرجل جميع نفس القضيب أو محل قطعه لا ما تنبت عليه العانة والبيضتان وما بين القبل والدبر

Pengertian bagian qubul disini bagi laki-laki adalah seluruh
batang dzakar atau tempat terpotongnya, bukan bagian yang
ditumbuhi bulu roma (jembut) dan dua telur dan bukan bagian antara
qubul dan dubur.

وفي المرأة شفراها الملتقيان وهما حرفا الفرج المحيطان به كإحاطة الشفتين بالفم أو الخاتم
بالأصبع لا ما فوقهما مما ينبت عليه الشعر وخرج بالشفرين الملتقيين ما بعدهما، فلو
وضعت أصبعها داخل فرجها لم ينتقض وضوءها وإن نقض خروجه ومن ذلك البظر
بفتح الباء وهو لحمة بأعلى الفرج والقلفة حال اتصالهما فإن قطعا فلا نقض ما،

 

Pengertian bagian qubul bagi perempuan adalah dua bibir
vagina yang saling bertemu. Kedua bibir tersebut adalah dua sisi
vagina yang menutupinya sebagaimana dua bibir menutupi mulut
atau cincin menutupi bagian jari-jari dibawahnya. Tidak termasuk
qubul disini adalah bagian atas kedua bibir vagina yang ditumbuhi
bulu roma.

Mengecualikan dengan dua bibir vagina yang saling
bertemu adalah bagian di belakang dua bibir tersebut sehingga
apabila perempuan meletakkan jari-jari tangan ke dalam vagina tanpa
menyentuk dua bibir vagina maka tidak batal wudhunya meskipun
wudhu bisa batal sebab ia mengeluarkan jari-jarinya dari dalam
vagina.

Termasuk bagian di belakang dua bibir vagina yang saling
bertemu adalah badzr ‘ البظر ’, yaitu dengan fathah pada huruf / ./ب
Pengertian badzr adalah tonjolan daging yang berada di atas lubang
vagina. Dan termasuk bagian di belakangnya adalah qulfah ketika
badzr masih bersambung dengannya. Apabila keduanya dipotong
maka wudhu tidak menjadi batal sebab menyentuh masing-masing
dari mereka.

والتقييد بالآدمي يخرج البهيمة، وأما الجني فهو كالآدمي بناء على حل مناكحتنا لهم

 

Mengqoyyidi dengan pernyataan manusia mengecualikan
qubul binatang. Artinya, menyentuh qubul binatang tidak
membatalkan wudhu. Adapun makhluk jin, ia seperti manusia atas
dasar kehalalan menikahi mereka sehingga apabila menyentuh qubul
jin maka wudhunya menjadi batal.

أو حلقة دبره) وهو المنفذ المتلقى كفم الكيس لا ما فوقه وما تحته

Atau wudhu bisa menjadi batal sebab menyentuh halaqoh
dubur manusia. Pengertian halaqoh adalah lubang yang sisinya
saling bertemu, seperti mulut dan sisi-sisi kantong kain. Tidak
termasuk halaqoh adalah bagian di atasnya dan di bawahnya.

ببطن الراحة أو بطون الأصابع) وهي ما يستتر عند وضع إحدى الراحتين على الأخرى
مع تحامل يسير في غير الإ امين، أما هما فيضع باطن إحداهما على باطن الأخرى
 

Syarat menyentuh qubul atau halaqoh dubur manusia yang
dapat membatalkan wudhu adalah sekiranya disentuh dengan bagian
dalam telapak tangan atau bagian dalam jari-jari tangan. Maksud
bagian dalam dari keduanya tersebut adalah bagian yang tertutup
ketika dua telapak tangan saling dipertemukan dengan sedikit
menekan, selain dua ibu jari. Adapun bagian dalam dua ibu jari dapat
diketahui dengan meletakkan bagian dalam satu ibu jari di atas
bagian dalam ibu jari yang satunya.


فينتقض وضوء الماس دون الممسوس بخلاف اللمس فإنه ينتقض وضوء كل من اللامس والملموس

 

Dengan demikian, ketika menyentuh qubul atau halaqoh
dubur manusia, maka wudhunya pihak penyentuh dihukumi batal,
sedangkan wudhunya pihak yang disentuh dihukumi tidak batal.
Berbeda dengan al-lamsu atau saling bersentuhan kulit, karena
masing-masing dari pihak penyentuh dan yang disentuh, wudhunya
dihukumi batal.


Perbedaan Antara al-Massu dan al-Lamsu


والحاصل أن المس يفارق اللمس في ثمان صور أحدها أن النقض في المس خاص
بصاحب الكف فقط ثانيها أنه لا يشترط في المس اختلاف النوع ذكورة وأنوثة ثالثها أن
المس قد يكون في الشخص الواحد فيحصل بمس فرج نفسه رابعها أن لا يكون إلا
بباطن الكف خامسها أنه يكون في المحرم وغيره سادسها أن مس الفرج المبان ينقض
وإن لمس العضو المبان من المرأة لا ينقض سابعها اختصاص المس بالفرج ثامنها لا
يشترط الكبر في المس دون اللمس

Kesimpulannya adalah bahwa al-massu berbeda dengan allamsu dari 8 segi, yaitu;
No Al-Massu (Menyentuh qubul atau halaqoh dubur manusia) Al-Lamsu (Saling bersentuhan kulit)


1. Batalnya wudhu hanya berlaku bagi orang yang memiliki telapak tangan. Batalnya wudhu tidak hanya berlaku bagi orang yang memiliki telapak tangan saja.


2. Tidak disyaratkan adanya perbedaan jenis kelamin. Disyaratkan adanya perbedaan jenis kelamin.


3. Terkadang melibatkan satu orang sehingga bisa batal dengan menyentuh farji milik sendiri. Harus melibatkan lebih dari satu orang.


4. Disyaratkan harus dengan bagian dalam telapak tangan. Tidak disyaratkan hanya tersentuh dengan bagian dalam telapak tangan, tetapi menyeluruh.


5. Bisa berlaku bagi mahram atau bukan mahram. Hanya berlaku antara dua orang yang tidak ada hubungan mahram.


6. Menyentuh farji yang telah terpotong membatalkan wudhu. Menyentuh kulit anggota tubuh
perempuan yang telah terkelupas tidak membatalkan wudhu.


7. Hanya berlaku pada farji. Tidak hanya terbatas pada menyentuh farji.


8. Tidak disyaratkan dewasa. Disyaratkan harus dewasa dari penyentuh dan yang disentuh.
 

B. Perkara-Perkara Yang Diharamkan Sebab Hadas

فصل) في بيان ما يحرم بالحدث الأصغر والمتوسط والأكبر

Fasal ini menjelaskan tentang perkara-perkara yang diharamkan sebab hadas kecil (asghor), sedang (mutawasit), dan besar (akbar)

1. Perkara-perkara yang Diharamkan Sebab Hadas Kecil (Asghor)

من انتقض وضوءه حرم عليه أربعة أشياء)

Barang siapa telah batal wudhunya maka diharamkan atasnya 4 (empat) perkara, yaitu;


a. Sholat

أحدها (الصلاة ولو نفلا وصلاة جنازة لخبر الصحيحين لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا
أحدث حتى يتوضأ أي لا يقبل الله صلاة أحدكم حين حدثه إلى أن يتوضأ فيقبل
صلاته إلا على فاقد الطهورين فيصلي الفرض دون النفل لحرمة الوقت ويقضي إذا قدر
على أحدهما وفي معنى الصلاة خطبة الجمعة وسجدة التلاوة والشكر

(Orang yang telah batal wudhunya atau yang tengah
menanggung hadas kecil tidak diperbolehkan melakukan sholat)
sekalipun itu sholat sunah, sholat jenazah, karena berdasarkan hadis
yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, “Allah tidak akan
menerima sholat yang dilakukan oleh salah satu dari kalian ketika ia
telah menanggung hadas sampai ia berwudhu terlebih dahulu,”
maksudnya, Allah tidak akan menerima sholat salah satu dari kalian
ketika hadas ditanggungnya sampai ia berwudhu terlebih dahulu agar
Dia menerima sholatnya.
 

Dikecualikan yaitu faqid tuhuroini (orang yang tidak
mendapati dua alat toharoh, yaitu air dan debu), maka ia melakukan
sholat fardhu (tanpa bersuci, dalam hal ini, tanpa berwudhu), bukan
sholat sunah, karena lihurmatil waqti. Dan ketika ia telah mendapati
salah satu dari air atau debu, ia mengqodho sholatnya itu.
Masuk dalam makna sholat adalah khutbah Jumat, Sujud
Tilawah, dan Sujud Syukur, (artinya, ketika seseorang telah
menanggung hadas dan belum berwudhu, ia tidak diperbolehkan
melakukan khutbah Jumat dst.)


b. TowaF

و) ثانيها (الطواف) فرضا أو نفلا كطواف القدوم لخبر الحاكم الطواف بمنزلة الصلاة
إلا أن الله أحل فيه النطق فمن نطق فلا ينطق إلا بخير


(Orang yang telah batal wudhunya atau yang tengah
menanggung hadas kecil tidak diperbolehkan melakukan) towaf, baik
towaf fardhu atau sunah, seperti; towaf qudum, karena berdasarkan
hadis yang diriwayatkan oleh Hakim, “Towaf menduduki kedudukan
sholat. Hanya saja, Allah memperbolehkan berbicara di dalam towaf
(bukan sholat). Barang siapa berbicara (saat towaf) maka janganlah
ia berbicara kecuali kebaikan.”


c. Menyentuh Mushaf

و) ثالثها (مس المصحف) وهو كل ما كتب عليه قرآن لدراسة ولو عمودا أو لوحا أو
جلدا أو قرطاسا وخرج بذلك التميمة وهي ما يكتب فيها شيء من القرآن للتبرك وتعلق
على الرأس مثلا فلا يحرم مسها ولا حملها ما لم تسم مصحفا عرفا فإذا كتب القرآن
كله لا يقال له تميمة ولو صغر وإن قصد ذلك فلا عبرة لقصده
قال ابن حجر والعبرة في قصد الدراسة والتبرك بحال الكتابة دون ما بعدها وبالكاتب
لنفسه أو غيره تبرعا أي بلا أجرة ولا أمر وإلا فآمره أو مستأجره

(Orang yang telah batal wudhunya atau yang tengah
menanggung hadas kecil tidak diperbolehkan menyentuh mushaf.
Pengertian mushaf adalah setiap benda yang diatasnya tertulis al-
Quran untuk tujuan dirosah (dipelajari yang mencakup dibaca)
sekalipun benda tersebut adalah kayu, papan, kulit binatang, atau
kertas.

Dikecualikan yaitu tamimah atau azimat. Pengertian
tamimah adalah setiap benda yang didalamnya terdapat sedikit
tulisan al-Quran untuk tujuan tabarruk (mengharap keberkahan) dan
dikalungkan di atas, misalnya, kepala. Maka orang yang telah batal
wudhunya tidak diharamkan menyentuh dan membawa tamimah
selama tamimah tersebut menurut urf-nya tidak disebut sebagai
mushaf. Ketika seluruh al-Quran ditulis maka tidak bisa disebut
sebagai tamimah meskipun bentuknya diperkecil sekali dan
meskipun tidak ada tujuan menjadikan tulisan seluruh al-Quran
tersebut sebagai tamimah. Jadi, tidak ada ibroh (ketetapan hukum)
bagi tujuannya tersebut.

Ibnu Hajar berkata, “Ibroh (ketetapan hukum) terkait tujuan
dirosah dan tabarruk tergantung pada kondisi tulisan dan penulis,
baik penulis tersebut menulis al-Quran untuk dirinya sendiri atau ia
memang sukarela menuliskannya untuk orang lain tanpa adanya upah
dan perintah. Jika ada upah dan perintah, maka ibroh-nya tergantung
pada kondisi pemberi perintah dan penyewanya.”

قال النووي في التبيان وسواء مس نفس المصحف المكتوب أو الحواشي أو الجلد ويحرم
مس الخريطة والغلاف والصندوق إذا كان فيهن المصحف هذا هو المذهب المختار وقيل
لا تحرم هذه الثلاثة وهو ضعيف ولو كتب القرآن في لوح فحكمه حكم المصحف سواء
قل المكتوب أو كثر حتى لو كان بعض آية كتب للدراسة حرم

Nawawi berkata dalam kitabnya at-Tibyan Fi Adabi
Hamalati al-Quran, “(Diharamkan atas muhdis atau orang yang
menanggung hadas untuk menyentuh mushaf), baik menyentuh
tulisan mushaf itu sendiri, atau pinggirnya, atau sampulnya.
Diharamkan atas muhdis menyentuh kantong, sampul, dan peti kecil
yang di dalamnya terdapat mushaf. Hukum keharaman ini adalah
pendapat madzhab yang dipilih. Menurut qiil, tidak diharamkan atas
muhdis menyentuh kantong, sampul, dan peti kecil tersebut. Qiil ini
adalah pendapat dhoif. Apabila seseorang menulis al-Quran di atas
papan maka hukum papan tersebut adalah seperti hukum mushaf,
baik sedikit atau banyak tulisannya, bahkan apabila ia hanya menulis
sebagian ayat al-Quran dengan tujuan dirosah maka diharamkan
atasnya yang sedang menanggung hadas untuk menyentuhnya.”

وقال أيضا وفي المصحف ثلاثة لغات ضم الميم وفتحها وكسرها فالضم والكسر
مشهوران والفتح ذكرها أبو حفص النحاس وغيره
 

Nawawi juga berkata dalam kitabnya at-Tibyan, “Lafadz
المصحف‘ ’ memiliki tiga bahasa, yaitu dengan dhommah, fathah, dan
kasroh pada huruf / م/. Yang masyhur adalah yang dengan dhommah
dan kasroh, sedangkan yang dengan fathah telah disebutkan oleh
Abu Hafs an-Nuhas dan selainnya.”

قال الشبراملسي وظاهر أن مسه مع الحدث ليس كبيرة بخلاف الصلاة ونحوها
كالطواف وسجدتي التلاوة والشكر فإ ا كبيرة

Syabromalisi berkata, “Menurut pendapat dzohir, menyentuh
mushaf disertai menanggung hadas bukan termasuk dosa besar.
Berbeda dengan melakukan sholat, towaf, sujud tilawah, dan sujud
syukur, disertai menanggung hadas maka termasuk dosa besar.”


d. Membawa Mushaf

و) رابعها (حمله) إلا في متاع فيحل حمله معه تبعا له إذا لم يكن مقصودا بالحمل وحده
بأن لم يقصد شيئا أو قصد المتاع وحده وكذا إذا قصده مع المتاع على المعتمد بخلاف
ما إذا قصده وحده أو قصد واحدا لا بعينه فإنه يحرم

(Orang yang telah batal wudhunya atau yang tengah
menanggung hadas kecil tidak diperbolehkan membawa mushaf),
kecuali apabila mushaf yang dibawanya bersamaan dengan barangbarang
lain, maka ia diperbolehkan membawa mushaf karena diikut
sertakan pada barang-barang lain tersebut, dengan catatan, jika
memang ia tidak menyengaja mushaf saja sekiranya ia tidak
menyengaja apapun atau ia hanya menyengaja barang-barang lain
tersebut, dan juga, atau ia menyengaja mushaf dan barang-barang
lain tersebut menurut pendapat mu’tamad. Berbeda, apabila ia hanya
menyengaja mushaf, atau ia menyengaja salah satu dari mushaf atau
barang-barang lain tersebut tanpa menentukan mana yang
sebenarnya dimaksud, maka diharamkan atasnya membawa mushaf.

ولا يشترط كون المتاع ظرفا له ومحل جواز الحمل فيما ذكر حيث لم يعد ماسا له بأن
غرز فيه شيئا وحمله إذ مسه حرام ولو بحائل ولو بلا قصد


Dalam masalah orang yang menanggung hadas kecil yang
membawa mushaf beserta barang-barang lain, seperti yang baru saja
disebutkan, tidak disyaratkan barang-barang lain tersebut adalah
wadah bagi mushaf. Diperbolehkannya membawa mushaf dalam
masalah ini adalah sekiranya ia tidak dianggap sebagai penyentuh
mushaf, misalkan, ia memberi cantolan pada barang-barang lain itu,
kemudian ia membawanya, karena menyentuh mushaf saja atas
orang yang menanggung hadas kecil dihukumi haram meskipun
disertai penghalang dan meskipun tanpa tujuan tertentu.


قال النووي في التبيان أجمع المسلمون على وجوب صيانة المصحف واحترامه قال
أصحابنا وغيرهم ولو ألقاه مسلم في القاذورة والعياذ بالله تعالى صار الملقى كافرا قالوا
ويحرم توسده بل توسد آحاد كتب العلم حرام ويستحب أن يقوم للمصحف إذا قدم به
عليه لأن القيام مستحب للفضلاء من العلماء والأخيار فالمصحف أولى
 

Nawawi berkata dalam kitabnya at-Tibyan, “Kaum muslimin
telah bersepakat bahwa wajib menjaga mushaf dan memuliakannya.
Para ashab kami dan lainnya berkata, ‘Andaikan seorang muslim
menjatuhkan mushaf di tempat sampah, naudzu billah, maka ia telah
kufur.’ Mereka juga berkata, ‘Diharamkan bantalan dengan mushaf,
bahkan diharamkan bantalan dengan buku ilmu agama.’ Seseorang
disunahkan berdiri karena memuliakan mushaf, yakni ketika mushaf
dibawakan kepadanya . Oleh karena berdiri untuk menghormati para
ulama dan para kyai saja disunahkan, maka berdiri karena
memuliakan mushaf tentu lebih utama untuk dihukumi sunah.”
 

2. Perkara-perkara yang Diharamkan Sebab Hadas Sedang(Ausat)

ويحرم على الجنب) أي المحدث حدثا أوسط (ستة أشياء)

Diharamkan atas orang junub, yaitu orang yang menanggung
hadas sedang, 6 (enam) perkara, yaitu;

a. Sholat


أحدها (الصلاة) للحديث لا يقبل الله صلاة بغير طهور ولا صدقة من غلول والغلول
بضم الغين المعجمة الحرام

Maksudnya, orang junub diharamkan melakukan sholat
karena berdasarkan hadis, “Allah tidak akan menerima sholat yang
tidak disertai suci dan tidak akan menerima sedekah dari harta
haram.” Dalam hadis, lafadz ‘ الغلول ’ dengan dhommah pada huruf / ,/غ
berarti ‘ الحرام ’ atau haram.

قال النووي أما إذا لم يجد الجنب ماء ولا ترابا فإنه يصلي لحرمة الوقت على حسب
حاله ويحرم عليه القراءة خارج الصلاة ويحرم عليه أن يقرأ في الصلاة ما زاد على فاتحة
الكتاب وهل يحرم قراءة الفاتحة؟ فيه وجهان الصحيح المختار أنه لا يحرم بل يجب فإن
الصلاة لا تصح إلا ا وكما جازت الصلاة للضرورة مع الجنابة تجوز القراءة والثاني لا
يجوز بل يأتي بالأذكار التي يأتي ا العاجز الذي لا يحفظ شيئا من القرآن لأن هذا
عاجز شرعا فصار كالعاجز حسا والصواب الأول اه

Nawawi berkata, “Ketika orang junub tidak mendapati air
dan debu maka ia melakukan sholat karena lihurmatil waqti yang
sesuai dengan keadaannya. Ia diharamkan membaca al-Quran di luar
sholat. Sedangkan ketika di dalam sholat, ia diharamkan membaca
bacaan al-Quran yang melebihi Surat al-Fatihah. Pertanyaannya,
apakah ia diharamkan membaca Surat al-Fatihah? 

Jawaban dari pertanyaan ini terdapat dua wajah. Pertama, menurut pendapat
shohih yang dipilih, ia tidak diharamkan membaca Surat al-Fatihah
di dalam sholat, bahkan ia wajib membacanya karena sholat tidak
akan sah tanpa disertai membaca Surat-al-Fatihah dan karena
sebagaimana ia diperbolehkan sholat karena dhorurot padahal
disertai menanggung jinabat maka ia diperbolehkan membaca Surat
al-Fatihah. Pendapat kedua, ia tidak diperbolehkan membaca Surat
al-Fatihah di dalam sholat, tetapi ia menggantinya dengan dzikirdzikir
sebagaimana yang dibaca oleh musholli yang tidak hafal sama
sekali ayat al-Quran, oleh karena orang junub yang tidak mendapati
air dan debu ini adalah orang yang tidak mampu menurut syariat
maka ia menjadi seperti orang yang tidak mampu menurut
kenyataannya. Yang benar adalah pendapat yang pertama.”
 

b. Towaf

و) ثانيها (الطواف) لخبر الحاكم الطواف بالبيت صلاة أي كالصلاة في الستر والطهارة

Maksudnya, orang junub tidak diperbolehkan towaf karena
berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Hakim, “Towaf di Ka’bah
adalah sholat,” maksudnya seperti sholat dalam hal kewajiban
menutup aurat dan bersuci.


c. Menyentuh Mushaf

و) ثالثها (مس المصحف) قال النووي إذا كتب الجنب أو المحدث مصحفا إن كان
يحمل الورقة ويمسها حال الكتابة فهو حرام وإن لم يحملها ولم يمسها ففيه ثلاثة أوجه
الصحيح جوازه والثاني تحريمه والثالث يجوز للمحدث ويحرم على الجنب

Orang junub tidak diperbolehkan menyentuh mushaf.
Nawawi berkata, “Ketika orang junub atau muhdis (orang yang
menanggung hadas) menulis mushaf di kertas, maka apabila ia
sambil membawa dan menyentuh kertas pada saat menulis maka
hukumnya adalah haram, tetapi apabila ia tidak membawa dan
menyentuh kertas pada saat menulis maka terdapat tiga wajah
pendapat; yaitu pendapat pertama yang shohih menyebutkan boleh
bagi orang junub dan muhdis, pendapat kedua menyebutkan boleh
bagi muhdis saja, dan pendapat ketiga menyebutkan boleh bagi orang
junub saja.


d. Membawa Mushaf

و) رابعها (حمله) لأنه أعظم من المس فهو حرام بالقياس الأولوي قال النووي سواء
حمله بغلافه أو بغيره انتهى

Orang junub tidak diperbolehkan membawa mushaf karena
membawanya lebih parah daripada menyentuhnya. Jadi, bagi orang
junub, membawa mushaf adalah haram berdasarkan pengqiyasan
aulawi.
 

Nawawi berkata, “(Diharamkan atas orang junub membawa
mushaf), baik membawanya disertai penghalang berupa sampulnya
atau lainnya.”

ويجوز حمل حامل المصحف ولا يجري فيه تفصيل المتاع لأنه لا يعد حاملا للمصحف
ولو قصده فلا عبرة بقصده

Orang junub diperbolehkan menggendong orang lain yang
membawa mushaf. Dalam masalah ini, tidak berlaku rincian-rincian
yang telah disebutkan dalam hal membawa mushaf beserta barangbarang
lain, karena dengan menggendong orang lain tersebut, orang
junub tidak bisa dianggap sebagai pembawa mushaf meskipun ia
qosdu atau menyengaja mushaf. Jadi, dalam kasus ini, tidak ada
ibroh bagi qosdunya itu.

ولو حمل مصحفا مع كتاب في جلد واحد فحكمه حكم المصحف مع المتاع في
التفصيل المار بالنسبة للحمل أما المس فيحرم مس الجلد المسامت للمصحف دون ما
عداه وإنما حرم مس جلد المصحف مع أنه حائل والمس من ورائه لا يؤثر كما في عدم
نقض الوضوء بالمس من وراء حائل لأن حرمة المس هنا تعظيم للمصحف فحرم من
وراء حائل مبالغة فيه والنقض في الوضوء بالمس لما فيه من إثارة الشهوة المفقود ذلك مع
الحائل

Apabila seseorang membawa mushaf beserta buku lain
dalam satu jilidan maka hukum membawanya adalah seperti hukum
membawa mushaf bersamaan dengan barang-barang lain dalam hal
rincian yang telah disebutkan sebelumnya dengan dinisbatkan pada
perbuatan membawa. Adapun menyentuh, maka diharamkan
menyentuh jilidan yang menghadap ke mushaf, bukan jilidan lain
yang tidak menghadapnya. Alasan diharamkan menyentuh jilidan
mushaf tersebut, padahal jilidan tersebut adalah penghalang, lagi
pula menyentuh dari belakang mushaf sama sekali tidak berpengaruh
sebagaimana menyentuh alat kelamin dari balik penghalang tidak
membatalkan wudhu, adalah karena dalam menetapkan keharaman
menyentuh disini terdapat unsur mengagungkan mushaf. Oleh karena
ini, diharamkan menyentuh mushaf dari balik penghalang karena
menunjukkan sikap lebih mengagungkannya. Adapun batalnya
wudhu sebab menyentuh alat kelamin adalah karena dapat
membangkitkan syahwat, sedangkan syahwat sendiri tidak bisa
muncul disertai adanya penghalang, sehingga menyentuh alat
kelamin disertai adanya penghalang tidak memberikan pengaruh
terhadap batalnya wudhu.

ولا يجب منع صبي مميز ولو جنبا من حمل مصحفه ومسه لحاجة تعلمه ومشقة استمراره
متطهرا فمحل ذلك إن كان للدراسة قال الشبراملسي بخلاف تمكينه من الصلاة
والطواف أو نحوهما مع الحدث انتهى ويحرم تمكين غير المميز من نحو مصحف ولو بعض
آية لما فيه من الإهانة

Tidak wajib melarang anak kecil (shobi) yang tamyiz
meskipun ia sedang menanggung junub dari membawa dan
menyentuh mushaf karena ada tujuan belajar dan karena sulitnya
anak kecil tersebut untuk selalu menetapi suci dari hadas. Jadi,
ketidak wajiban melarangnya disini adalah ketika membawa dan
menyentuhnya tersebut bertujuan untuk dirosah.
Syabromalisi berkata, “Berbeda dengan masalah
memberikan kuasa kepada anak kecil (shobi) untuk melakukan
sholat, towaf, dan lain-lainnya disertai ia menanggung hadas, (maka
wajib dilarang).”


Diharamkan memberikan kuasa kepada anak kecil (shobi)
yang belum tamyiz untuk mendekati semisal mushaf meskipun hanya
sebagian ayat karena mengandung unsur ihanah atau menghina.

فائدة) قال النووي في التبيان لا يمنع الكافر عن سماع القرآن لقوله عز وجل وإن أحد
من المشركين استجارك فأجره حتى يسمع كلام الله ويمنع من مس المصحف وهل يجوز
تعليمه القرآن؟ قال أصحابنا إن كان لا يرجى إسلامه لم يجز تعليمه وإن رجي إسلامه
ففيه وجهان أصحهما يجوز رجاء لإسلامه والثاني لا يجوز كما لا يجوز بيع المصحف
منه وإن رجى وأما إذا رأيناه يتعلم فهل يمنع فيه وجهان انتهى

(Faedah) Nawawi berkata dalam kitabnya at-Tibyan, “Orang
kafir tidak boleh dilarang atau dicegah dari mendengarkan al-Quran
karena berdasarkan Firman Allah, ‘Dan jika seorang di antara kaum
musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia
supaya ia sempat mendengar Firman Allah.’39 Orang kafir dilarang
atau dicegah dari menyentuh mushaf. Pertanyaannya, apakah
diperbolehkan mengajarinya al-Quran? Jawaban dari pertanyaan ini,
para ashab kami berkata, ‘Apabila tidak diharapkan keislamannya
maka tidak boleh mengajarinya al-Quran. Dan apabila diharapkan
keislamannya maka ada dua wajah pendapat; pendapat pertama yang
paling ashoh menyebutkan boleh mengajarinya karena
mengharapkan keislamannya, dan pendapat kedua menyebutkan
tidak boleh mengajarinya sebagaimana tidak boleh menjual mushaf
kepadanya meskipun diharapkan keislamannya.’ Adapun ketika kami
melihat orang kafir belajar al-Quran, maka apakah ia dicegah atau
tidak? Jawaban dari pertanyaan ini juga terdapat dua wajah
pendapat.”


e. Berhenti Sebentar di Masjid (al-Lubts)

و) خامسها (اللبث) بضم اللام وفتحها مصدر لبث من باب سمع أي لبث مسلم
بالغ غير نبي (في المسجد) وهو ما وقف للصلاة ولو كان اللبث بقدر الطمأنينة لا
عبوره وهو الدخول من باب والخروج من آخر بخلاف ما إذا لم يكن له إلا باب واحد
فيمتنع الدخول أما التردد فإنه حرام كالمكث قال تعالى لا تقربوا الصلاة وأنتم سكارى
حتى تعلموا ما تقولون ولا جنبا إلا عابري سبيل حتى تغتسلوا أي لا تقربوا موضع
الصلاة حال كونكم سكارى ولا في حال كونكم جنبا 

Orang junub tidak diperbolehkan berhenti sebentar (al-
Lubts) di masjid. Lafadz ‘ الل ب ث ’ dengan dhommah atau fathah pada
huruf / ل/ adalah bentuk masdar dari lafadz ‘ لَبِثَ ’, yaitu termasuk dari
bab lafadz ‘ سمَِعَ يَسْمَعُ ’. Maksudnya, orang junub yang muslim, yang
baligh, yang selain nabi tidak diperbolehkan al-lubts di masjid.
Pengertian masjid adalah setiap bidang tanah atau bangunan yang
diwakafkan untuk sholat. Keharaman al-lubts atas orang junub
adalah meskipun berhentinya seukuran dengan lamanya tumakninah.
 

Berbeda dengan ‘ubur atau melewati masjid, maka tidak
diharamkan atasnya. Pengertian ‘ubur adalah masuk dari pintu
tertentu dan keluar dari pintu lain. Berbeda dengan masalah apabila
masjid hanya memiliki satu pintu saja, maka orang junub tidak
diperbolehkan memasukinya.
 

Adapun taroddud (mondar-mandir) di masjid bagi orang
junub adalah haram karena seperti berdiam diri.
Allah berfirman, “Janganlah kamu mendekati sholat
sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu mengetahui
apa yang kamu katakan dan janganlah kamu mendekati sholat
sedangkan kamu dalam keadaan sebagai orang junub sampai kamu
mandi (terlebih dahulu), kecuali mereka yang hanya melewati
jalan,”40 maksudnya, janganlah kamu mendekati tempat sholat pada
saat kamu dalam keadaan mabuk dan janganlah kamu mendekati
tempat sholat pada saat kamu dalam keadaan junub.

39 QS. At-Taubah: 6
40 QS. An-Nisak: 43

نعم يجوز لبثه فيه لضرورة كأن نام فيه فاحتلم وتعذر خروجه لخوف من عسس ونحوه
لكن يلزمه التيمم إن وجد غير تراب المسجد أما ترابه وهو الداخل في وقفيته كأن كان
المسجد ترابيا فيحرم التيمم به ويصح والعسس هو الحاكم الذي يطوف بالليل

Namun, orang junub diperbolehkan al-lubts di dalam masjid
karena dhorurot, seperti; ia tidur di masjid, kemudian ia bermimpi
basah dan kesulitan keluar dari sana karena takut dengan ‘asas atau
orang-orang yang sedang ronda di malam hari (semisal; takut
disangka oleh mereka sebagai pencuri) atau dengan yang lainnya,
tetapi ia wajib tayamum jika memang mendapati debu yang selain
debu masjid. Adapun debu masjid, yaitu debu yang termasuk dari
sifat kewakafan masjid sekiranya masjid masih berlantai tanah, maka
diharamkan bertayamum dengannya tetapi sah tayamumnya. Arti
kata ‘asas adalah penjaga yang berkeliling ronda di malam hari.

ولو جامع زوجته فيه وهما ماران لم يحرم أما لو مكثا فيه لعذر فإنه يمتنع مجامعتها حينئذ

Andaikan suami menjimak istrinya di masjid tetapi dengan
cara jimak sambil berjalan maka tidak diharamkan sebab tidak ada
aktifitas berhenti sebentar atau berdiam diri. Adapun apabila mereka
berdua berdiam diri di dalam masjid karena udzur maka suami tidak
boleh menjimak istri.


ومن المسجد سطحه ورحبته و روشنه وجداره وسرداب تحت أرضه وخرج بالمسجد مصلى
العيد والمدارس وهي المواضع التي يدرس فيها الشيخ مع الطلبة والرباط وهو البيت الذي
يبنى للفقراء وللطلبة أو هو معبد الصوفية أو هو الثغور أي المواضع التي يخاف منها
هجوم العدو
 

Termasuk bagian dari masjid adalah loteng, serambi, jendela
atap, tembok, dan bangunan di bawah tanah masjid. Dikecualikan
dengan masjid adalah musholla atau tempat sholat hari raya,
madrasah; yakni tempat yang digunakan untuk proses belajar
mengajar oleh syeh dan para santri, dan pondokan; yakni rumah yang
dibangun untuk ditempati oleh para fakir dan para santri atau rumah
yang dibangun sebagai tempat ibadah oleh para sufi, atau yang
dimaksud dengan pondokan adalah tsughur, yaitu tempat yang
dikhawatirkan mendapat serangan musuh

وأما الصبي فيجوز لوليه تمكينه من المكث كالقراءة

Adapun anak kecil (shobi) yang junub, maka diperbolehkan
bagi wali memberinya kuasa untuk berdiam diri di dalam masjid
sebagaimana diperbolehkan bagi wali memberinya kuasa untuk
membaca al-Quran.

وأما النبي صلى الله عليه وسلّم فيحل مكثه بالمسجد جنبا وهو من خصائصه صلى الله
عليه وسلّم لأن احتياجه للمسجد أكثر لنشر السنة فجوز له ذلك لكنه لم يقع منه
ولأن ذاته أعظم من ذات المسجد

Adapun Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, maka
beliau diperbolehkan berdiam diri di masjid dalam kondisi junub
karena termasuk salah satu dari keistimewaan-keistimewaan beliau
dan karena keberadaan beliau di masjid sangat dibutuhkan untuk
menyebar luaskan Sunah, dan karena dzat beliau adalah lebih utama
daripada dzat masjid. Akan tetapi, belum pernah terjadi kalau beliau
berdiam diri di masjid dalam kondisi junub.

وأما الكافر فلا يمنع من المكث في المسجد جنبا لأنه لا يعتقد حرمته وإن حرم عليه لأنه
مخاطب بفروع الشريعة ولا يجوز له دخول المسجد ولو غير جنب إلا بإذن مسلم بالغ
مع الحاجة ومنها جلوس القاضي أو المفتي فيه أو عمارته
 

Adapun orang kafir, ia tidak dilarang untuk berdiam diri di
dalam masjid dalam kondisi junub karena ia tidak meyakini
keharamannya meskipun sebenarnya diharamkan atasnya karena ia
dituntut atas cabang-cabang syariat.

Tidak diperbolehkan atas orang kafir untuk masuk ke dalam
masjid meskipun ia tidak dalam kondisi junub kecuali dengan izin
dari orang muslim yang baligh serta adanya hajat atau keperluan
darinya untuk masuk ke sana. Termasuk kategori hajat atau
keperluan adalah ikut duduk bersama qodhi atau mufti di dalam
masjid atau meramaikan masjid.


f. Membaca al-Quran

و) سادسها (قراءة القرآن) وشرط في حرمتها سبعة شروط الأول كون القراءة باللفظ
ومثله إشارة الأخرس المفهمة لأن إشارته معتد ا إلا في ثلاثة أبواب الصلاة فلا تبطل
ا والحنث فإذا حلف وهو ناطق أن لا يتكلم ثم خرس وأشار بالكلام لم يحنث
والشهادة فإذا أشار ا لا تقبل
وإشارة الناطق غير معتد ا إلا في ثلاثة أبواب أمان الكافر والإفتاء كأن قيل له أتتوضأ
ذا الماء؟ فأشار أن نعم أو لا ورواية الحديث كأن قيل له نروي عنك هذا الحديث؟
فأشار أن نعم أو لا
وخرج باللفظ ما إذا أجرى القراءة على قلبه

Orang junub diharamkan membaca al-Quran dengan 7
(tujuh) syarat, yaitu;
 

1) Membaca dengan cara dilafadzkan, atau bagi orang junub
yang bisu dengan cara berisyarat yang memahamkan, karena
isyarat dari akhros (orang bisu) dianggap (mu’tad biha)
kecuali dalam tiga bab, yaitu;
 

a. Sholat; oleh karena itu, ketika akhros sholat,
kemudian ia berisyarat dengan isyarat yang
memahamkan, maka sholatnya tidak batal.
 

b. Melanggar sumpah; oleh karena itu, ketika
seseorang telah bersumpah untuk tidak akan
berbicara sama sekali, padahal ia mampu berbicara,
lalu ia berubah menjadi bisu, lalu ia berisyarat
dengan isyarat yang memahamkan, maka ia tidak
dihukumi telah melanggar sumpahnya
 

c. Syahadah atau bersaksi; oleh karena itu, ketika
akhros bersyahadah dengan cara berisyarat maka
syahadahnya tidak dapat diterima.
Isyarat dari natiq (orang yang dapat berbicara) tidak
dianggap (mu’tad biha) kecuali dalam 3 (tiga) bab, yaitu:


a. Akad aman bagi natiq kafir.
 

b. Iftak atau berfatwa, misal; natiq ditanya, “Apakah
kamu berwudhu dengan air ini?” Kemudian natiq
berisyarat dengan menganggukkan kepala (Iya) atau
menggelengkannya (tidak).
 

c. Meriwayatkan hadis, misal; natiq ditanya, “Apakah
kami meriwayatkan hadis ini darimu?” natiq
menjawab dengan berisyarat menganggukkan kepala
(Iya) atau menggelengkannya (tidak).
Dikecualikan dengan pernyataan membaca dengan cara
dilafadzkan adalah membaca al-Quran dengan cara dibatin,
maka tidak diharamkan atas orang junub.

الثاني كون القارىء مسمعا ا نفسه وخرج ما إذا تلفظ ولم يسمع نفسه حيث اعتدل سمعه ولا مانع

2) Orang junub yang membaca al-Quran dapat mendengar
suara bacaannya sendiri. Oleh karena itu, dikecualikan ketika
ia melafadzkan bacaan al-Quran, tetapi ia tidak mendengar
suara bacaannya sendiri, sekiranya pendengarannya
berkemampuan sedang dan tidak ada manik atau penghalang
(spt; ramai, gaduh, dll).

الثالث كونه مسلما فخرج الكافر فلا يمنع من القراءة لعدم اعتقاده الحرمة وإن عوقب عليها

3) Orang junub adalah orang muslim. Oleh karena itu,
dikecualikan ketika orang junub adalah orang kafir, maka ia
tidak dilarang membaca al-Quran dalam kondisi junub
karena ia tidak meyakini keharaman membacanya meski ia
kelak akan disiksa sebab telah membaca al-Quran dalam
kondisi junub.

الرابع كونه مكلفا فخرج الصبي وا نون

4) Orang junub adalah orang yang mukallaf (baligh dan
berakal). Oleh karena itu, dikecualikan dengannya yaitu anak
kecil (shobi) dan majnun.

الخامس كون ما أتى به قرآنا حيث قال قراءة القرآن فخرج التوراة والإنجيل ومنسوخ
التلاوة ولو بقي حكمه كآية الرجم وهم الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما ألبتة نكالا عن الله والله عزيز حكيم

5) Bacaan yang dibaca adalah al-Quran, sekiranya ketika orang
junub membacanya, ia bisa disebut sebagai pembaca al-
Quran. Jadi, dikecualikan dengannya yaitu Taurat, Injil, dan
tilawah yang dimansukh meskipun hukumnya masih tetap,
seperti ayat rajam;

الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما أَلْبَتَّة نكالاً من الله والله عزيز حكيم
والسادس القصد للقراءة وحدها أو مع الذكر والقصد لواحد لا بعينه فإن قرأ آية
للاحتجاج ا حرم وإن قصد الذكر أو أطلق كأن جرى القرآن على لسانه من غير
قصد لواحد منهما فلا يحرم فإنه لا يسمى قرآنا عند الصارف إلا بالقصد وأما عند عدم
الصارف فيسمى قرآنا ولو بلا قصد

6) Orang junub membaca al-Quran dengan bermaksud qiroah
(membaca) saja, atau bermaksud qiroah dan dzikir, atau
bermaksud salah satu dari qiroah atau dzikir tetapi tidak
ditentukan manakah yang sebenarnya ia maksud.

Apabila ia membaca satu ayat al-Quran dengan bermaksud
ihtijaj atau mengambil dalil maka diharamkan.
Apabila orang junub membaca al-Quran dengan bermaksud
dzikir saja atau ia memutlakkan, artinya, ia membaca al-
Quran dengan menggerak-gerakkan lisan tanpa
memaksudkan salah satu dari qiroah atau dzikir, maka tidak
diharamkan karena demikian itu tidak disebut sebagai quran
(membaca) karena adanya shorif (perkara yang
mengalihkan) kecuali dengan disertai maksud tertentu.
Sebaliknya, apabila tidak ada shorif maka bisa disebut
dengan quran meskipun tanpa disertai maksud tertentu.

السابع أن تكون القراءة نفلا بخلاف ما إذا كانت واجبة سواء داخل الصلاة كفاقد
الطهورين فلا فرق بين أن يقصد القراءة وأن يطلق مثلا فتكون قرآنا عند الإطلاق
لوجوب الصلاة عليه فلا يعتبر المانع وهو الجنابة أو خارجها كأن نذر أن يقرأ سورة يس
مثلا في وقت كذا فكان في ذلك الوقت جنبا فاقدا الطهورين فإنه يقرؤها وجوبا للضرورة لكن بقصد القرآن لا مطلقا ولا حرمة عليه فليس ذلك كالفاتحة من كل وجه

7) Hukum membaca al-Quran yang dilakukan oleh orang junub
adalah sunah. Berbeda, ketika hukum membacanya adalah
wajib, baik di dalam sholat atau di luarnya.

Adapun bacaan al-Quran yang wajib di dalam sholat adalah
seperti; faqid at-tuhuroini (orang yang tidak mendapati dua
alat bersuci, yaitu air dan debu). Oleh karena itu, bagi si
faqid, tidak ada bedanya antara ia menyengaja qiroah atau
memutlakkan karena ketika dimutlakkan, bacaannya tetap
disebut sebagai quran sebab adanya kewajiban sholat
atasnya (lihurmatil waqti), sehingga manik (yakni jinabat)
tidak dianggap atau tidak mu’tabar.
 

Adapun bacaan al-Quran yang wajib di luar sholat adalah
seperti; seseorang telah bernadzar akan membaca Surat
Yaasin di waktu tertentu, lalu ternyata ia menanggung
jinabat pada waktu tersebut dan dalam kondisi sebagai faqid
at-tuhuroini, maka ia wajib membaca Surat Yaasin sebab
dhorurot, tetapi dengan maksud qiroah (quran), bukan
memutlakkan, dan tidak ada hukum keharaman atasnya.
Contoh ini tidaklah sama dengan rincian hukum keharaman
dalam membaca al-Fatihah atas orang junub di luar sholat
sebab ada faktor bernadzar.

3. Perkara-perkara yang Diharamkan Sebab Hadas Besar

ويحرم بالحيض) ومثله النفاس (عشرة أشياء)
 

Perkara-perkara yang diharamkan sebab haid dan nifas ada
10 (sepuluh), yaitu;


a. Sholat


أحدها (الصلاة) أي من العامدة العالمة ولا تصح مطلقا أي ولو مع الجهل أو النسيان
ولا يلزمها قضاؤها فلو قضتها كره وتنعقد نفلا مطلقا لا ثواب فيه على المعتمد
 

Maksudnya, perempuan haid atau nifas diharamkan
melakukan sholat ketika ia adalah perempuan yang sengaja dan tahu
tentang keharamannya. Apabila ia melakukan sholat maka sholatnya
tersebut tidak sah secara mutlak, artinya, meskipun ia bodoh tentang
keharamannya atau lupa melakukannya. Ia tidak diwajibkan
mengqodho sholat fardhu yang ditinggalkannya saat haid atau nifas,
tetapi jika ia mengqodhonya maka dimakruhkan dan sholat fardhu
tersebut berubah menjadi sholat sunah mutlak yang tidak berpahala
menurut pendapat mu’tamad.

وفارقت الصوم حيث يجب قضاؤه لأن الصلاة تتكرر كثيرا فيشق قضاؤها ولا كذلكVالصوم فلا يشق قضاؤه ولذلك قالت عائشة رضي الله عنها كنا نؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة


Perbedaan antara mengapa perempuan haid tidak diwajibkan
mengqodho sholat sedangkan ia diwajibkan mengqodho puasa
adalah karena sholat terjadi berulang-kali (setiap hari 5 kali
misalnya) sehingga ia merasa kesulitan dan berat untuk
mengqodhonya, tidak seperti puasa (yang hanya terjadi di bulan
Ramadhan) sehingga mengqodhonya tidak dirasa berat. Oleh karena
alasan inilah, Aisyah rodhiallahu ‘anha berkata, “Kami
diperintahkan untuk mengqodho puasa dan tidak diperintahkan untuk
mengqodho sholat.”


b. Towaf

و) ثانيها (الطواف) سواء كان في ضمن نسك أم لا لأنه لا يكون إلا في المسجد

Maksudnya, perempuan haid atau nifas tidak diperbolehkan
melakukan towaf, baik towaf yang termasuk dalam nusuk atau
manasik (haji atau umrah) atau yang tidak termasuk di dalamnya,
karena towaf dilakukan hanya di dalam masjid.

فإن قلت إذا كان دخول المسجد حراما فالطواف أولى فما الحاجة إلى ذكره؟ قلت لئلا يتوهم أنه لما جاز لها الوقوف مع أنه أقوى أركان الحج فلأن يجوز لها الطواف أولى

Apabila kamu bertanya, “Ketika masuk ke dalam masjid
diharamkan atas perempuan haid atau nifas maka towaf lebih utama
untuk diharamkan juga atasnya. Lantas apa tujuan menyebutkan
towaf sebagai perkara tersendiri yang diharamkan atasnya?” Aku
menjawab, “Tujuannya menyebutkan towaf disini adalah agar tidak
terjadi kesalah pahaman bahwa ketika perempuan haid atau nifas
diperbolehkan melakukan wukuf, padahal wukuf adalah rukun haji
yang paling kukuh, maka towaf seharusnya lebih diperbolehkan
atasnya.


c. Menyentuh Mushaf

و) ثالثها (مس المصحف) حتى حواشيه وما بين سطوره والورق البياض بينه وبين جلده في أوله وآخره المتصل به

Maksudnya, perempuan haid atau nifas tidak diperbolehkan
menyentuh mushaf, bahkan tidak diperbolehkan sekalipun
menyentuh sisi tepi mushaf, bagian antara baris atas dan baris bawah,
dan kertas putih yang berada di antara mushaf dan jilidannya yang
bersambung dengannya.

ويحرم المس ولو بحائل ولو كان ثخينا حيث يعد ماسا له عرفا لأنه يخل بالتعظيم

Diharamkan atas perempuan haid atau nifas menyentuh
mushaf sekalipun disertai dengan haa-il (penghalang) yang tebal
sekiranya menurut ‘urf ia masih bisa disebut sebagai penyentuh
mushaf karena dapat mengurangi sikap ta’dzim pada mushaf.

والمراد مسه بأي جزء لا بباطن الكف فقط

Yang dimaksud dengan menyentuh disini adalah menyentuh
dengan bagian anggota tubuh manapun, tidak terkhusus pada bagian
dalam telapak tangan.

قال النووي إذا مس المحدث أو الجنب أو الحائض أو حمل كتابا من كتب الفقه أو غيره
من العلوم وفيه آية من القرآن أو ثوبا مطرزا بالقرآن أو دراهم أو دنانير منقوشة به أو
مس الجدار أو الحلو أو الخبز المنقوش فيه فالمذهب الصحيح جواز هذا كله لأنه ليس
بمصحف وفيه وجه أنه حرام وقال أقضى القضاة أبو الحسن الماوردي في كتابه الحاوي
يجوز مس الثياب المطرزة بالقرآن ولا يجوز لبسها بلا خلاف لأن المقصود بلبسها التبرك
بالقرآن وهذا الذي قاله ضعيف لم يوافقه أحد عليه فيما رأيته بل جزم الشيخ أبو محمد
الجويني وغيره بجواز لبسها وهذا هو الصواب والله أعلم وأما كتب التفسير والفقه فإن
كان القرآن فيها أكثر من غيره حرم مسها وحملها وإن كان غيره أكثر كما هو الغالب
ففيه ثلاثة أوجه أصحها لا يحرم والثاني يحرم والثالث إذا كان القرآن بخط متميز بلفظ
أي باجتماع أو حمرة ونحوها حرم وإن لم يتميز لم يحرم قال صاحب التتمة من أصحابنا
إذا قلنا لا يحرم فهو مكروه وأما كتب حديث رسول الله صلى الله عليه وسلّم فإن لم
يكن فيها آيات من القرآن فلا يحرم مسها والأولى أن تمس على طهارة وإن كان فيها
آيات فلا يحرم على المذهب بل يكره وفيه وجه أنه يحرم وهو الوجه الذي في كتب الفقه
وأما المنسوخ تلاوته كالشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما وما أشبه ذلك فلا يحرم مسه ولا
حمله قال أصحابنا وكذلك التوراة والإنجيل انتهى كلام النووي

Nawawi berkata;
Ketika muhdis (disini orang yang menanggung hadas kecil),
junub, atau perempuan haid, menyentuh atau membawa kitab-kitab
Ilmu Fiqih atau selainnya, sedangkan di dalam kitab-kitab tersebut
terdapat ayat al-Quran, atau baju yang dibordir atau disulam dengan
bentuk tulisan al-Quran, atau dirham/dinar yang diukir dengan
bentuk ukiran ayat al-Quran, atau menyentuh tembok, manisan, atau
roti yang diukir dengan bentuk ukiran ayat al-Quran, maka menurut
madzhab yang shohih menyebutkan bahwa semua itu diperbolehkan
karena semua yang disentuh atau dibawa tersebut tidak bisa disebut
sebagai mushaf. Akan tetapi, menurut satu wajh pendapat, hukumnya
adalah haram.
 

Aqdhol Qudhot, yakni Abu Hasan Mawardi, berkata dalam
kitabnya al-Hawi, “Diperbolehkan menyentuh pakaian-pakaian yang
dibordir atau disulam dengan bentuk tulisan al-Quran, tetapi secara
pasti tidak diperbolehkan memakainya tanpa ada khilaf pendapat
ulama, karena tujuan memakainya adalah untuk tabarruk atau
mengharapkan keberkahan al-Quran.”
 

Pendapat yang dikatakan oleh Mawardi ini adalah dhoif dan
tidak ada satu ulama pun yang sependapat dengannya. Bahkan, Syeh
Abu Muhammad al-Juwaini dan selainnya mantap dengan
diperbolehkannya memakai pakaian-pakaian tersebut. Pendapat
mereka inilah yang dibenarkan. Wallahu a’lam.
 

Adapun buku-buku Tafsir dan Fiqih, apabila tulisan ayat al-
Quran adalah lebih banyak daripada tulisan selainnya maka
diharamkan menyentuh dan membawanya. Sebaliknya, apabila
tulisan selain ayat al-Quran adalah yang lebih banyak, maka hukum
menyentuh dan membawanya terdapat tiga wajh pendapat; pertama
dan yang paling ashoh adalah tidak diharamkan, kedua; diharamkan,
dan ketiga; apabila al-Quran ditulis dengan tulisan yang dapat
dibedakan, semisal; dari segi kerapatannya, atau ada yang merah dan
ada yang hitam, atau yang lainnya, maka diharamkan, sebaliknya
apabila al-Quran ditulis dengan tulisan yang tidak dapat dibedakan
maka tidak diharamkan. Pengarang kitab Tatimmah dari ashab kami
berkata, “Ketika tidak diharamkan maka hukumnya dimakruhkan.”
 

Adapun kitab-kitab hadis Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallama, maka apabila di dalamnya tidak terdapat ayat-ayat al-Quran
maka tidak diharamkan menyentuhnya. Tetapi yang lebih utama
adalah menyentuh kitab-kitab hadis dalam kondisi suci dari hadas.
Apabila di dalamnya terdapat ayat-ayat al-Quran maka menurut
madzhab tidak diharamkan, tetapi dimakruhkan. Menurut satu wajh
pendapat menyebutkan diharamkan. Pendapat wajh inilah yang
banyak tertulis di dalam kitab-kitab Fiqih.
Adapun ayat al-Quran yang telah dimansukh tilawahnya, seperti;

الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما

dan semisalnya maka tidak diharamkan menyentuh dan
membawanya. Ashab kami berkata, “Begitu juga tidak diharamkan
menyentuh dan membawa kitab Taurat dan Injil.” Sampai sinilah
keterangan dari Nawawi berakhir.


d. Membawa Mushaf

و) رابعها (حمله) ولو وضع يده على قرآن وتفسير فهو كالحمل في التفصيل بين كون التفسير الذي تحت يده أكثر أو لا

Maksudnya, perempuan yang haid atau nifas tidak
diperbolehkan membawa mushaf. Apabila ia meletakkan tangannya
di atas al-Quran dan Tafsir maka hukum meletakkannya tersebut
sama rinciannya dengan hukum membawanya, yaitu apakah tafsir
tersebut lebih banyak daripada al-Qurannya ataukah sebaliknya.

قال النووي إذا تصفح المحدث أو الجنب أو الحائض أوراق المصحف بعود وشبهه ففي
جوازه وجهان لأصحابنا أظهرهما جوازه وبه قطع العراقيون من أصحابنا لأنه غير ماس
ولا حامل والثاني وهو اختيار الرافعي تحريمه لأنه يعد حاملا للورقة والورقة كالجميع فأما
إذا لف كمه على يده وقلب الورقة فحرام بلا خلاف وغلط بعض أصحابنا فحكى فيه
وجهين والصواب القطع بالتحريم لأن القلب يقع باليد لا بالكم انتهى

Nawawi berkata, “Ketika muhdis (disini orang yang telah
batal wudhunya), atau junub, atau perempuan haid, membalikkan
kertas-kertas mushaf dengan kayu atau yang lain, maka hukumnya
terdapat dua wajh pendapat dari kalangan ashab kami. Pendapat
pertama yang paling adzhar menyebutkan diperbolehkan. Para ulama
Irak dari ashab kami memutuskan dan memastikan pendapat pertama
ini karena mereka tidak disebut sebagai orang yang menyentuh dan
yang membawa. Pendapat kedua menyebutkan diharamkan.
 

Pendapat kedua ini dipilih oleh Rofii karena mereka dianggap
sebagai orang-orang yang membawa kertas mushaf, sedangkan
membawa kertasnya adalah seperti membawa mushaf secara
keseluruhan itu sendiri. Adapun ketika mereka melipat lengan baju
gamisnya di tangan, kemudian dijadikan sebagai landasan untuk
membolak-balikan kertas mushaf, maka secara pasti diharamkan
tanpa ada khilaf pendapat di kalangan ulama. Sungguh keliru
pendapat yang dikatakan oleh sebagian ashab kami, “Hukum
membolak-balikkan kertas mushaf dengan lengan baju yang
dilipatkan pada tangan terdapat dua wajh pendapat. Pendapat yang
benar adalah memastikan keharamannya,” karena membalikkan
kertas mushaf terjadi dengan tangan, bukan dengan lengan baju.”

قال الشرقاوي فمحل جواز قلب الورقة بالعود إذا لم يلزم عليه حمل لها بأن يتحامل
عليها بالعود فتنفصل عن صاحبتها أو تكون قائمة فيخفضها به وليس المراد أنه يدخل
العود بين الورق ويفصل بعضه من بعض لأن ذلك حمل


Syarqowi berkata, “Diperbolehkannya membalikkan kertas
mushaf dengan kayu adalah ketika tidak ada unsur membawa,
artinya, sekiranya kayu tersebut tidak ditekan pada kertas. Dengan
demikian, dalam kondisi seperti ini, kertas satu terpisah dari kertas
berikutnya, atau kertas berposisi tegak kemudian diturunkan dengan
kayu. Yang dimaksud bukanlah kondisi kayu masuk di antara kertaskertas
mushaf, kemudian kayu memisahkan kertas satu dari kertas
berikutnya, karena demikian ini masih disebut sebagai membawa.


e. Berdiam Diri di dalam Masjid

و) خامسها (اللبث) أي الإقامة (في المسجد) ومثله التردد لقوله صلى الله عليه وسلّم
لا أحل المسجد لحائض ولا لجنب رواه أبو داود عن عائشة رضي الله عنها

Maksudnya, perempuan haid atau nifas tidak diperbolehkan
al-lubts di dalam masjid. Maksud al-lubts adalah berdiam diri.
Begitu juga, ia tidak diperbolehkan mondar-mandir di masjid.
Keharaman ini berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallama, “Aku tidak menghalalkan masjid bagi perempuan haid dan
orang junub.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah
rodhiallahu ‘anha.

ودخل في المسجد هواؤه وما اتصل به من نحو روشن وغصن شجرة أصلها خارج لا
عكسه ورحبته لا حريمه فرحبة المسجد هي الساحة المنبسطة والحريم ما حوله من المرفق
بكسر الميم وفتح الفاء لا غير أي كالمطبخ ونحوه

Termasuk masjid adalah ruang udaranya (Jawa; awangawang)
dan bagian yang bersambung dengan masjid, seperti; jendela
atap, batang pohon yang keluar dari batas masjid tetapi akar pohon di
dalam masjid, bukan sebaliknya, serambi, bukan harim serambi.
Serambi masjid adalah bagian halaman yang membentang sedangkan
harimnya adalah bagian siku yang berada di sekitar atau kanan kiri
serambi.

فائدة) لا بأس بالنوم في المسجد لغير الجنب ولو لغير أعزب وهو من لم يكن عنده
أهل فقد ثبت أن أصحاب الصفة وهم زهاد من الصحابة فقراء غرباء كانوا ينامون فيه
في زمنه صلى الله عليه وسلّم نعم يحرم النوم فيه إذا ضيق على المصلين ويجب حينئذ
تنبيهه ويندب تنبيه من نام في نحو الصف الأول أو أمام المصلين ولا ينبغي التصدق في
المسجد ويلزم من رآه الإنكار عليه ومنعه إن قدر ويكره السؤال فيه بل يحرم إن شوش
على المصلين أو مشى أمام الصفوف أو تخطى رقا م وأما إعطاء السائل فيه فيندب
ويحرم الرقص فيه ولو لغير شابة ويحرم النط فيه ولو بالذكر لما فيه من تقطيع حصره
وإيذاء غيره والنط الوثب وهو نقل الرجل من محل إلى محل آخر مرة بعد أخرى والحصر
بضم الحاء والصاد جمع حصير وهو البارية الخشنة

(Faedah) Diperbolehkan tidur di masjid bagi orang yang
bukan junub meskipun bagi seorang duda, yaitu orang yang tidak
memiliki istri. Sungguh ada dasar diperbolehkannya tidur di masjid,
yaitu bahwa para sahabat sifat, yaitu para sahabat yang ahli zuhud,
yang fakir, dan yang mengembara, pernah tidur di masjid pada
zaman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.
Namun, tidur di masjid dihukumi haram ketika
mempersempit orang-orang yang sedang sholat. Dalam keadaan
seperti ini, diwajibkan membangunkan orang yang sedang tidur di
dalamnya.
Disunahkan membangunkan orang yang sedang tidur di
tempat bagian shof pertama masjid atau di tempat depan orang-orang
yang sholat.


Seharusnya aktifitas memberikan sedekah tidak dilakukan di
dalam masjid. Ketika seseorang melihat orang lain bersedekah di
dalamnya, maka wajib atasnya mengingkari dan mencegah jika
memang ia mampu dan kuasa.
Dimakruhkan meminta-minta di dalam masjid, bahkan
diharamkan jika sampai mengganggu orang-orang yang sedang

sholat. Begitu juga dimakruhkan berjalan di depan shof-shof orangorang
yang sholat atau berjalan melangkahi leher mereka.
Adapun memberi peminta-minta di masjid maka hukumnya
sunah.
Diharamkan atas seseorang menari-nari di dalam masjid
meskipun ia bukan pemudi.
Diharamkan melompat-lompat di dalam masjid meskipun
disertai dengan berdzikir karena melompat-lompat dapat merusak
tikar masjid dan menyakiti orang lain. Pengertian melompat-lompat
adalah memindah-mindah kaki dari satu tempat ke tempat yang lain.
Pengertian tikar adalah alas lantai yang kasar.


f. Membaca al-Quran

و) سادسها (قراءة القرآن)

Maksudnya, perempuan haid atau nifas tidak diperbolehkan
membaca al-Quran.


قال النووي في التبيان سواء كان آية أو أقل منها ويجوز للجنب والحائض إجراء القرآن
على قلبهما من غير تلفظ به ويجوز لهما النظر في المصحف وإمراره على القلب وأجمع
المسلمون على جواز التهليل والتسبيح والتحميد والتكبير والصلاة على رسول الله صلى
الله عليه وسلّم وغير ذلك من الأذكار للجنب والحائض قال أصحابنا وكذا إذا قالا
لإنسان خذ الكتاب بقوة وقصد به غير القرآن فهو جائز وكذا ما أشبهه قالوا ويجوز لهما
أن يقولا عند المصيبة إنا لله وإنا إليه راجعون إذا لم يقصد القرآن وقال أصحابنا
الخراسانيون ويجوز أن يقول عند ركوب الدابة سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له
مقرنين أي مطيقين وعند الدعاء ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب
النار إذا لم يقصد به القرآن قال إمام الحرمين وإن قال الجنب بسم الله والحمد لله فإن
قصد القرآن عصى وإن قصد الذكر أو لم يقصد شيئا لم يأثم ويجوز لهما قراءة ما

نسخت تلاوته كالشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما ألبتة نكالا من الله انتهى قول النووي
رضي الله عنه

 

Nawawi berkata di dalam kitabnya at-Tibyan;
Orang junub dan perempuan haid diharamkan membaca al-
Quran) meskipun hanya satu ayat atau lebih sedikit.
Diperbolehkan bagi orang junub dan perempuan haid
membatin al-Quran di dalam hati tanpa melafadzkannya.
Diperbolehkan juga bagi mereka melihat mushaf dan membatin al-
Quran di dalam hati.
 

Para ulama muslim telah bersepakat tentang
diperbolehkannya membaca tahlil, tahmid, takbir, sholawat atas
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama dan dzikir-dzikir lain bagi
orang junub dan perempuan haid.
Para ashab kami berkata, “Begitu juga, ketika orang junub
dan perempuan haid berkata kepada orang lain;
خُ ذِ ال كِ ت ابَ ب قُ وَّة 41
dengan memaksudkan selain al-Quran maka diperbolehkan, dan
ayat-ayat lain yang bisa digunakan untuk sekiranya berdialog antar
sesama.” Mereka juga berkata, “Diperbolehkan bagi orang junub dan
perempuan haid membaca ketika tertimpa musibah;


إِنَّا للَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعونَ 42
dengan tanpa memaksudkan al-Quran dalam bacaan tersebut.”
41 QS. Maryam: 12
42 QS. Al-Baqoroh: 156

Para ashab kami dari Khurasan berkata, “Diperbolehkan
bagi orang junub dan perempuan haid membaca ketika naik
kendaraan;


سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ 43
 

Lafadz ‘ المقرنين ’ berarti orang-orang yang kuat. Dan boleh bagi mereka
ketika berdoa membaca;


رَبنََّا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار 44
 

Akan tetapi, dengan catatan bahwa mereka tidak memaksudkan al-
Quran dalam bacaannya.
 

Imam Haromain berkata, “Apabila orang junub membaca,
بسم الله‘ ’ dan, ‘ الحمد لله ’, maka jika ia memaksudkan al-Quran maka ia
berdosa dan jika ia memaksudkan dzikir atau tidak memaksudkan
apapun maka tidak berdosa. Diperbolehkan bagi orang junub dan
perempuan haid membaca ayat yang telah dimansukh tilawahnya,
seperti;

الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما ألبتة نكالا من الله

Sampai sinilah keterangan dari Nawawi berakhir.
 

g. Berpuasa

و) سابعها (الصوم) فمتى نوت الصوم حرم عليها وأما إذا لم تنو ومنعت نفسها الطعام
والشراب فلا يحرم عليها لأنه لا يسمى صوما والأوجه أنه لم يجب عليها أصلا ووجوب
القضاء إنما هو بأمر جديد وقيل وجب عليها ثم سقط


Maksudnya, perempuan haid atau nifas tidak diperbolehkan
berpuasa. Ketika ia berniat puasa maka puasa diharamkan atasnya.
Berbeda apabila ia tidak berniat puasa, tetapi ia enggan makan dan
minum, maka tidak diharamkan atasnya karena demikian itu tidak
disebut sebagai puasa.


Menurut pendapat aujah, puasa tidak diwajibkan sama sekali
atas perempuan haid dan nifas. Adapun kewajiban mengqodhonya
merupakan perintah baru.

Menurut qiil, awalnya puasa diwajibkan atas perempuan haid
atau nifas, kemudian kewajiban tersebut digugurkan.

43 QS. Az-Zukhruf: 13
44 QS. Al-Baqoroh: 201


h. Talak

و) ثامنها (الطلاق) وهو من الكبائر إلا في سبع صور فلا يحرم طلاقها فيها الأول إذا
قال أنت طالق في آخر جزء من حيضك أو مع آخره أو عنده ومثل ذلك ما لو تم لفظ
الطلاق في آخر الحيض لاستعقاب ذلك الطلاق الشروع في العدة الثاني أن تكون
المطلقة في ذلك غير مدخول ا لعدم العدة بخلاف المتوفى عنها زوجها قبل الدخول
فتجب عليها العدة الثالث أن تكون حاملا منه لاستعقاب ذلك الطلاق الشروع في
العدة الرابع أن يكون الطلاق بعوض منها إذا كانت حائلا لأن إعطاءها المال يشعر
بالحاجة إلى الطلاق وخرج بالعوض منها ما لو طلقها بسؤالها بلا عوض أو بعوض من
غيرها فيحرم والخامس أن يكون الطلاق في إيلاء بمطالبتها الطلاق في حال الحيض بعد
مطالبتها بالوطء من الزوج في حال الطهر فيمتنع منه لأن حاجتها شديدة إلى الطلاق
السادس ما إذا طلقها الحكم في شقاق وقع بينها وبين زوجها لحاجتها الشديدة إليه
السابع ما لو قال السيد لأمته إن طلقك الزوج اليوم فأنت حرة فعلم الزوج ذلك التعليق
وعدم رجوع السيد فطلقها أو سألته ذلك فلا يحرم طلاقها للخلاص من الرق إذ دوامه
أضر ا من تطويل العدة وقد لا يسمح به السيد بعد ذلك أو يموت فيدوم أسرها


Maksudnya, diharamkan menjatuhkan talak kepada istri
yang dalam kondisi haid dan keharamannya termasuk dosa besar,
kecuali dalam 7 (tujuh) contoh berikut, maka tidak diharamkan
menjatuhkan talak kepadanya;


1) Ketika suami berkata, “Kamu tertalak di saat akhir sebagian
waktu dari masa haidmu,” atau, “Kamu tertalak di saat yang
bersamaan dengan akhir haidmu,” atau,” Kamu tertalak di
saat akhir haidmu.” Begitu juga, apabila kata tertalak selesai
diucapkan di akhir haid maka tidak diharamkan menjatuhkan
talak kepada istri pada saat haid sebab pentalakan tersebut
bersambung langsung dengan memasuki masa iddah.


2) Istri yang ditalak pada saat haid bukanlah istri yang pernah
dijimak karena tidak berlaku masa iddah baginya sehingga
tidak diharamkan mentalaknya pada saat haid. Berbeda
dengan istri yang ditinggal mati suaminya sebelum dijimak
maka wajib atasnya berlaku masa iddah.


3) Istri yang ditalak saat haid sedang mengandung anak dari
suami yang mentalaknya sehingga hukum mentalaknya tidak
diharamkan karena masa tertalak bersambung langsung
dengan memasuki masa iddah.


4) Talak yang dijatuhkan berbanding dengan ‘iwadh atau
gantian dari istri ketika istri tersebut tidak hamil karena sikap
dimana ia memberikan harta kepada suaminya menunjukkan
bahwa ia benar-benar butuh untuk ditalak.
Dikecualikan dengan kata ‘iwadh dari istri adalah masalah
apabila suami mentalak istrinya atas dasar permintaan istri
sendiri tanpa adanya ‘iwadh atau dengan adanya ‘iwadh
tetapi dari orang lain selain istri, maka diharamkan mentalak
istri pada saat haid dalam dua masalah ini.


5) Talak terjadi di dalam masa sumpah ilak atas dasar istri
sendiri meminta di talak pada saat haid setelah istri meminta
suami untuk menjimaknya pada saat suci, tetapi suami
enggan menjimaknya, maka menjatuhkan talak kepada istri
tersebut pada saat haid tidak diharamkan karena istri sangat
butuh sekali untuk ditalak.


6) Ketika istri yang tengah haid ditalak oleh hakim di tengahtengah
terjadinya perselisihan antara istri tersebut dan
suaminya. Maka talak yang dijatuhkan oleh hakim tersebut
tidak diharamkan sebab istri sangat membutuhkan untuk
ditalak.


7) Apabila tuan berkata kepada perempuan amatnya, “Jika
suamimu mentalakmu hari ini maka kamu merdeka.”
Ternyata, suami amat tersebut tahu atau mendengar
perkataan tuan dan tuan sendiri tidak mencabut perkataannya
itu. Kemudian suami mentalak amat atau amat meminta
suaminya untuk mentalak. Maka talak yang dijatuhkan
kepada amat yang sedang haid itu tidak diharamkan sebab
menyelamatkan diri dari status budak. Lagi pula, bagi amat
sendiri, menyandang status sebagai budak adalah lebih berat
daripada menunggu lamanya masa iddah. Selain itu, jarangjarang
tuan mau memerdekakannya dengan cara demikian
atau dikuatirkan tuan keburu mati sehingga menyebabkan
amat tetap dalam statusnya sebagai budak.

والحكمة في تحريم الطلاق بالحيض تضررها بطول مدة التربص لأن بقية الحيض لا
تحسب من العدة قال الله تعالى إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعد ن أي إذا أردتم طلاق
الأزواج الموطوآت اللاتي يعتددن بالأقراء فطلقوهن في أول الوقت الذي يشرعن فيه في
العدة بأن يكون الطلاق في طهر لم تجامع فيه والمراد بوقت شروعهن ما يشمل وقت
تلبسهن ا فلو طلقت في عدة طلاق رجعي فلا حرمة لتلبسها بالعدة

Hikmah mengapa menjatuhkan talak kepada istri yang
sedang haid diharamkan adalah karena menyakiti istri dengan
memperpanjang masa tarobbus-nya karena sisa masa haid tidak
terhitung termasuk iddah.
 

Allah berfirman, “Ketika kamu mentalak para perempuan
maka talaklah mereka karena iddah mereka,” maksudnya, ketika
kamu hendak menjatuhkan talak kepada para istri yang pernah
dijimak yang mengalami masa iddah selama beberapa masa suci
maka talaklah mereka di awal waktu yang mana mereka mulai
memasuki masa iddah di waktu tersebut, sekiranya talak dijatuhkan
pada masa suci yang mana istri belum dijimak di masa suci tersebut.

Yang dimaksud dengan waktu yang mana istri mulai memasuki masa
iddah di waktu tersebut adalah waktu yang mencakup waktu-waktu
iddahnya sehingga apabila ada seorang perempuan ditalak di tengahtengah
masa iddah talak roj’i maka menjatuhkan talak kepadanya itu
tidak diharamkan sebab perempuan tersebut tengah menjalani masa
iddahnya.


i. Melewati Masjid

و) تاسعها (المرور) أي مجرد العبور (في المسجد) لغلظ حدثها و ذا فارقت الجنب
حيث لم يحرم في حقه مجرد العبور (إن خافت تلويثه) بالثاء المثلثة أي تلطيخه بالدم
صيانة للمسجد فإن أمنته كان لها العبور لكن مع الكراهة عند انتفاء حاجة عبورها
بخلاف الجنب فإن العبور في حقه بلا حاجة خلاف الأولى فإن كان لها غرض صحيح
كقرب طريق فلا كراهة ولا خلاف الأولى

Maksudnya, perempuan haid atau nifas tidak diperbolehkan
lewat di dalam masjid karena beratnya hadas yang ditanggungnya.
Oleh karena alasan ini, maka dapat dibedakan dari orang junub yang
tidak diharamkan atasnya sekedar lewat di dalam masjid.
Keharaman lewat di dalam masjid atas perempuan haid atau
nifas adalah dengan catatan jika ia kuatir mengotori masjid dengan
darahnya. Apabila ia merasa aman tidak akan mengotorinya maka
diperbolehkan baginya kalau hanya sekedar lewat di dalam masjid,
tetapi dimakruhkan jika memang ia tidak punya hajat melewatinya.
Berbeda dengan orang junub, karena hukum melewati masjid tanpa
didasari hajat adalah khilaf al-aula. Sedangkan apabila perempuan
haid atau nifas memiliki hajat yang dibenarkan, seperti; mencari
jalan pintas, maka melewati masjid baginya tidak dimakruhkan dan
juga tidak khilaf al-aula.

وخرج بالمسجد المدرسة والربط بضم الراء والباء جمع رباط ككتب جمع كتاب ومصلى
العيد وملك الغير فلا يحرم عبورها إلا عند تحقق التلويث أو ظنه لا عند توهمه والفرق أن
حرمة المسجد ذاتية وحرمة هذه عرضية

Mengecualikan dengan masjid adalah madrasah, pondokan,
tempat sholat hari raya (bukan masjid), dan tempat yang milik orang
lain, maka tidak diharamkan atas perempuan haid atau nifas
melewati tempat-tempat tersebut kecuali ketika benar-benar yakin
atau menyangka akan mengotorinya dengan darah, bukan ketika
salah sangka. Perbedaannya adalah bahwa keharaman dalam
melewati masjid bersifat dzatiah sedangkan keharaman dalam
melewati tempat-tempat tersebut adalah ‘ardhiah.

وكالحائض فيما ذكر من له حدث دائم كمستحاضة وسلس بول أو مذي ومن به
جراحة نضاحة بالدم فإذا خيف التلويث بشيء من ذلك حرم العبور وإلا كره إلا
لحاجة وكذا سائر النجاسات الملوثة ولو في نعل أو ثوب فلا يجوز إدخال النجاسة على
نحو النعل إلا بشرطين أن يأمن التلويث وأن يكون لحاجة كخوف الضياع
 

Sama seperti perempuan haid dalam boleh tidaknya
melewati masjid adalah daim al-hadas (orang yang langgeng
menanggung hadas) seperti; perempuan istihadhoh, orang beser air
kencing atau madzi, orang yang memiliki luka yang ternodai darah,
maka jika dikuatirkan akan mengotori masjid dengan darah, air
kencing, madzi, maka diharamkan melewatinya, jika tidak
dikuatirkan maka dimakruhkan kecuali ada hajat. Begitu juga najisnajis
lain yang dapat mengotori sekalipun menempel di sandal atau
baju, oleh karena itu, tidak diperbolehkan membawa masuk najis
yang menempel, misal, di sandal ke dalam masjid, kecuali dengan
dua syarat, yaitu aman tidak akan mengotori dan ada hajat seperti;
takut kehilangan sandal, dll.

j. Istimtak

و) عاشرها (الاستمتاع) أي المباشرة سواء كان بشهوة أم لا (بما بين السرة والركبة) بوطء سواء كانت بحائل أم لا وبغيره حيث لا حائل ولا بد أن تكون المباشرة بما ينقض مسه الوضوء ليخرج السن والشعر فلا تحرم المباشرة به

Maksudnya, perempuan haid atau nifas tidak diperbolehkan
istimtak, yaitu mubasyaroh (bersentuhan secara langsung), baik
disertai dengan syahwat atau tidak, pada bagian antara pusar dan
lutut dengan cara jimak, baik bersentuhan yang disertai adanya
penghalang atau tidak, atau dengan cara selain jimak sekiranya tidak
ada penghalang. Dalam mubasyaroh, bagian yang saling bersentuhan
harus bagian yang jika disentuh dapat membatalkan wudhu agar
mengecualikan gigi dan rambut karena tidak diharamkan atas
perempuan haid saling mubasyaroh dengan suaminya dalam rambut
atau gigi.

والحاصل أن بدن المرأة حال الحيض بالنسبة إلى الاستمتاع والمباشرة على قسمين أحدهما
ما بين السرة والركبة فيحرم على الرجل المباشرة فيه مطلقا سواء كانت بوطء أو بلمس
إذا كانت تحت الثياب بخلاف الاستمتاع بغيرهما كنظر بشهوة فإنه لا يحرم وأما المباشرة
فوقهما إن كانت بوطء فيحرم أيضا وأما بغيره فلا وثانيهما ما عدا ما بين السرة والركبة
فلا يحرم مطلقا ويحرم على المرأة وهي حائض أن تباشر الرجل بما بين سر ا وركبتها في
أي جزء من بدنه ولو غير ما بين سرته وركبته لأن ما منع من مسه يمنعها أن تمسه به

Kesimpulannya adalah bahwa tubuh perempuan yang sedang
haid dengan dinisbatkan pada istimtak dan mubasyaroh dibagi
menjadi dua, yaitu;


1) Bagian antara pusar dan lutut; maka diharamkan atas lakilaki
bermubasyaroh dengan perempuan pada bagian tersebut
secara mutlak, artinya, baik dengan jimak atau dengan
menyentuh ketika perempuan mengenakan baju. Berbeda
dengan istimtak dengan cara selain jimak dan menyentuh
pada bagian tubuh antara pusar dan lutut, seperti; melihatnya
dengan syahwat, maka tidak diharamkan. Adapun
mubasyaroh pada bagian di luar antara pusar dan lutut, maka
apabila dilakukan dengan cara jimak maka diharamkan,
sebaliknya, apabila dilakukan dengan cara selain jimak maka
tidak diharamkan.
 

2) Bagian tubuh selain bagian antara pusar dan lutut; maka
tidak diharamkan istimtak padanya secara mutlak.
Diharamkan atas perempuan haid menyentuhkan bagian
antara pusar dan lututnya dengan bagian manapun dari tubuh
laki-laki sekalipun selain antara pusar dan lutut laki-laki
tersebut, karena bagian tubuh yang dilarang untuk disentuh
oleh laki-laki maka dilarang pula atas perempuan untuk
menyentuh laki-laki dengan bagian tubuh tersebut.

ومما يحرم على الحائض الطهارة للحدث بقصد التعبد مع علمها بالحرمة لتلاعبها فإن
كان المقصود النظافة كأغسال الحج لم يمتنع ولا يحرم على الحائض والنفساء حضور
المحتضر على المعتمد خلافا لما في العباب والروض وعلله بتضرره بامتناع ملائكة الرحمة
من الحضور عنده بسببهما كذا ذكره السويفي نقلا عن الرملي
 

Termasuk perkara yang diharamkan atas perempuan haid
adalah bersuci karena hadas dengan maksud beribadah yang disertai
tahu akan keharamannya sebab talaub (bercanda). Apabila yang
dimaksudkan adalah nadzofah (bersih-bersih), seperti; mandi-mandi
dalam haji, maka tidak dilarang.
 

Tidak diharamkan atas perempuan haid dan nifas untuk
menghadiri muhtadhir (orang yang sekarat mati). Ini adalah menurut
pendapat muktamad. Berbeda dengan pendapat yang tertulis dalam
kitab al-Ubab dan ar-Roudh yang menyebutkan bahwa diharamkan
atas perempuan haid atau nifas menghadiri muhtadhir karena mereka
hanya akan menyakitinya sebab keberadaan mereka mencegah
hadirnya malaikat rahmat di sampingnya. Demikian ini disebutkan
oleh Suwaifi dengan mengutip dari Romli. [ALKHOIROT.ORG]

LihatTutupKomentar