Cara Lebih Memantapkan Shalat

Cara Lebih Memantapkan Shalat Jika dia melakukannya tiap Jumat maka muslimin, termasuk di Jateng, bisa melakukannya pada Sabtu, 28 Mei 2011, untuk kem

Cara Lebih Memantapkan Shalat

Judul buku, kitab: Ilmu Falak Praktik
Penulis dan Penerbit:
Sub Direktorat Pembinaan Syariah Dan Hisab Rukyat
Direktorat Urusan Agama Islam & Pembinaan Syariah
Direktokrat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
Kementerian Agama Republik Indonesia
Bidang studi: Ilmu falak,
Nama lain dari ilmu falak: ilmu hisab, ilmu rashd, ilmu miqat, ilmu haiah.


Daftar isi

  1. K. Upaya Lebih Memantapkan Shalat 
    1. Mengecek Ulang
  2. Kembali ke buku: Ilmu Falak dan Hisab Praktis

 K. Upaya Lebih Memantapkan Shalat[165]

Saat kancah perpolitikan para elite sedang panas-panasnya, saat itu
pula ada seorang tua tetap istigamah dengan tugas mulia yang dilakukannya
tiap Jum'at. Yang dilakukan tidak demi harta ataupun dunia, apalagi
bernuansa politik. Ia memilih mengalibrasi jam besar yang ada di mushala dan
rumahnya. Waktu baginya sangat penting demi tepatnya awal waktu shalat
dan keabsahan ibadah shalat jamaah.

Jika dia melakukannya tiap Jumat maka muslimin, termasuk di Jateng,
bisa melakukannya pada Sabtu, 28 Mei 2011, untuk kembali mengkiblatkan
masjid. Dalam sebuah Hadis, Rasulullah bersabda, “Apabila kamu melakukan
shalat, maka sempurnakanlah wudhumu, kemudian menghadaplah ke kiblat dan
bertakbirlah.” Para imam mujtahid pun bersepakat bahwa menghadap kiblat
ketika shalat hukumnya wajib karena merupakan syarat sahnya shalat.

Persoalan ketidaktepatan arah kiblat pada sejumlah masjid, mushala,
atau langgar di Indonesia bukan karena ada pergeseran lempengan bumi atau
akibat gempa. Persoalannya lebih mendasar, yaitu pembangunan masjid kali
pertama, termasuk penentuan arah kiblatnya, hanya berdasarkan ancar-ancar
arah barat, atau diukur menggunakan kompas.

Dalam konteks kekinian, masyarakat perlu memahami. bagaimana
menentukan arah kiblat dengan baik agar tidak terjadi permasalahan.
Pengalaman penulis selama ini menyimpulkan, masyarakat tidak memahami
metode untuk menentukan arah kiblat dengan baik. Persoalan arah kiblat yang
tepat 1009 memang bukan hanya masalah ukur-mengukur melainkan mengait
dengan persoalan sensitivitas agama dan ketokohan.

Ketika pengukuran tidak dilakukan oleh orang yang memiliki
keilmuan di masyarakat misalnya, maka masyarakat tidak akan memercayai.
Metode rasdul kiblat ini kiranya dapat dijadikan panduan atau cara yang bisa
mempermudah. Memang ada beberapa metode yang biasa digunakan untuk
menentukan arah kiblat, di antaranya dengan perhitungan trigonometri bola
yang diaplikasikan untuk mencari azimuth kiblat.

Seperti kita ketahui, sudut arah kiblat wilayah Indonesia berkisar dari
292 derajat sampai dengan 2.960 derajat sehingga jika dihitung dari arah barat
antara 24 dan 26 derajat. Sudut kiblat juga dapat diaplikasikan dengan
menggunakan beberapa alat, misalnya memakai rubu mujayyab, segi tiga
kiblat, atau peralatan yang teknologinya sudah modern semacam teodolit dan
global positioning system (GPS).

Mengecek Ulang

Adapun rasdul kiblat adalah cara tradisional yang tetap diyakini
kesahihannnya. Metrode ini mendasarkan pada pencatatan bayang-bayang
matahari pada waktu tertentu setelah kita mengetahui data lintang dan bujur
tempat serta mengetahui lintang dan bujur Kakbah.

Rasdul kiblat bisa menjadi metode alternatif, dan Sabtu, 25 Mei 2011
(juga Sabtu, 16 Juli pukul 16.27 WIB) adalah waktu yang tepat untuk
menerapkan pengecekan itu secara mudah dan praktis. kita bisa mengeceknya
dengan cara mendirikan tongkat di atas pelataran yang datar untuk
mendapatkan bayangan kiblat pada jam tertentu.

Pada 28 Mei 2011, ketika matahari berkulminasi di atas Kakbah, waktu
di Indonesia mengalami konversi waktu, sehingga bayangan matahari akan
menunjuk arah kiblat pada pukul 16.18 WIB (atau pukul 17.18 WITA dan
pukul 18.18 WIT). Bayangan yang terlihat itulah yang menunjukkan arah
kiblat.

Bayangan kiblat ini dideskripsikan dengan posisi matahari yang
memiliki nilai deklinasi yang hampir sama dengan lintang Kakbah. Ketika
bayangan matahari tiap benda yang berdiri tegak lurus pada pukul 1200 MMT
(Makkah Mean Time) ini menunjukkan arah kiblat, maka bayangan matahari
pada tiap benda yang berdiri tegak di kota Semarang pun akan membentuk
garis kiblat.

Gambaran itu terjadi ketika matahari muncul dari timur sehingga
bayangan tongkat pada pukul 16.18 WIB membentuk garis ke timur, serong ke
utara (membelakangi arah kiblat). Saat itu pula, kita bisa mengecek ulang arah
kiblat masjid, langgar, termasuk mushala di rumah, dengan memanfaatkan
Hari Kiblat tersebut. Tujuannya hanya satu, yakni lebih memantapkan ibadah
shalat.[] 

Referensi

165 Dimuat di Harian Sura Merdeka, Sabtu 28 Mei 2011.

LihatTutupKomentar