Dalil Beda Pria Wanita Dalam Shalat

Dalil 5 (Lima) Perbedaan Pria Wanita Dalam Shalat menurut al Quran, hadits dan ijtihad ulama madzhab Syafi'i dari al Quran, sunnah dan ijtihad ulama
Dalil 5 (Lima) Perbedaan Pria Wanita Dalam Shalat
Dalil 5 (Lima) Perbedaan Pria Wanita Dalam Shalat menurut al Quran, hadits dan ijtihad ulama madzhab Syafi'i.

Judul kitab: Al-Tahdzib fi Adillati Matnil Ghayah wat Taqrib
Nama kitab asal: التذهيب في أدلة متن الغاية والتقريب
Penulis: Mustofa Daib Al-Bigha Al-Maidani Al-Dimasyqi Al-Syafi'i
Bidang studi: Dalil Quran dan Hadits fiqih madzhab Syafi'i dalam Kitab Matan Taqrib karya Abu Syujak
Download (pdf):

- Terjemah Matan Taqrib
- Terjemah Fathul Qorib
- Al-Tahdzib fi Adillati Matnil Ghayah wat Taqrib

Daftar Isi
  1. 5 (Lima) Perbedaan Pria Wanita Dalam Shalat
  2. Kembali ke: Kitab Tahdzib Dalil Matan Taqrib

5 (LIMA) PERBEDAAN PRIA WANITA DALAM SHALAT

(فصل) والمرأة تخالف الرجل في خمسة أشياء:

1 - فالرجل يجافي مرفقيه عن جنبيه (1)
2 - ويقل بطنه عن فخذيه في الركوع والسجود (2)
3 - ويجهر في مواضع الجهر
4 - وإذا نابه شيء في الصلاة سبح (3)
5 - وعورة الرجل ما بين سرته وركبته (4)

1 - والمرأة: تضم بعضها إلى بعض (5)
2 - وتخفض صوتها بحضرة الرجال الأجانب (6)
3 - وإذا نابها شيء في الصلاة صفقت (7)
4 - وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها (8)

والأمة كالرجل (9).

Artinya: Shalat perempuan berbeda dengan laki-laki dalam 5 (lima) perkara:
1- Laki-laki menjauhkan kedua sikutnya dari lambungnya.
2- Laki-laki menjauhkan perut dari kedua pahanya dalam ruku' dan sujud
3- Laki-laki mengeraskan suara di tempat yang dianjurkan mengeraskan suara
4- Apabila imam melakukan kesalahan, laki-laki mengucapkan tasbih (subhanallah).
5- Aurat laki-laki antara pusar dan lutut.

1- Perempuan mendekatkan sikunya satu sama lain.
2- Perempuan memelankan suaranya di dekat laki-laki bukan mahram
3- Apabila imam melakukan kesalahan, makmum perempuan bertepuk tangan.
4- Seluruh badan perempuan itu aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Sedang budak perempuan auratnya seperti laki-laki.


DALIL QURAN HADIS DAN REFERENSI


(1) روى البخاري (383) ومسلم (495) عن عبد الله بن مالك ابن بُحَينَة رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا صلى فَرَّجَ بَيْنَ يديه، حتّى يَبدُوَ بَيَاضُ إبْطَيْهِ.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila sholat merenggangkan kedua tangannya sehingga tampak putih kedua ketiaknya. Muttafaq Alaihi.

وعند أبي داود (734) والترمذي (270) عن أبي حميد رضي الله عنه: نحى يديه عن جنبيه، ووضع كفيه حذو منكبيه.

Artinya: Rasulullah merenggangkan kedua tangannya dari lambung dan meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua pundaknya

يجافي: يرفع ويباعد.

(2) روى أبو داود (735) عن أبي حميد رضي الله عنه، في صفة صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: وإذا سجد فَرج بينَ فَخِذيه، غَيرَ حَامِل بَطْنَهُ على شيء من فَخِذيه. يقل: يرفع ويحمل.

(1) يجافي: يرفع ويباعد.  

Artinya: يجافي berarti mengangkat dan menjauhkan (yaitu mengangkat tubuh bagian tertentu agar tidak menempel atau menempel rapat).

(2) Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 735) dari Abu Humaid radhiyallahu 'anhu, dalam sifat shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata:  

"Dan apabila beliau sujud, beliau merenggangkan kedua pahanya, tidak membiarkan perutnya menempel pada sesuatu pun dari kedua pahanya."  

يقل: يرفع ويحمل.  

Artinya: يقل berarti mengangkat dan membawa (yaitu mengangkat perut agar tidak menempel pada paha, sehingga ada jarak di antara keduanya).



(3) أي إذا حصل لإمامه أو غيره شيء وأراد أن ينبهه قال: سبحان الله. لما رواه البخاري (652) ومسلم (421) عن سهل بن سعد رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (مَنْ رَابَهُ شيءٌ في صَلاتِه فَليُسَبَح، فإنه إَذا سَبَّحَ التُفِتَ إلَيْهِ، وإنما التصفِيقُ للنسَاء).
[التصفيق هنا: ضرب ظاهر الكف اليسرى بباطن الكف اليمنى.
رابه: شك في أمر يحتاج إلى تنبيه، ولفظ مسلم (نابه) أي أصابه شيء يحتاج فيه إلى إعلام].

(4) روى الدارقطني (1/ 231) والبيهقي (2/ 229) مرفوعاً: (ما فوْقَ الركبَتَيْنِ مِنَ الْعوْرَةِ وً ما أَسْفَلَ مِنْ السرةِ مِنْ الْعوْرةِ).

(3) Yaitu apabila terjadi sesuatu pada imamnya atau orang lain, dan ia ingin memberi peringatan kepadanya, maka ia mengucapkan: "Subhanallah."  

Berdasarkan riwayat Bukhari (no. 652) dan Muslim (no. 421) dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  

"Barangsiapa yang merasa ragu dalam shalatnya, hendaklah ia bertasbih (mengucapkan Subhanallah), karena apabila ia bertasbih, maka orang itu akan menoleh kepadanya. Dan tepuk tangan hanyalah untuk wanita."  

[Penjelasan istilah:]  
- التصفيق di sini: Memukul punggung telapak tangan kiri dengan telapak tangan kanan (tepuk tangan).  
- رابه (atau نابه dalam lafazh Muslim): Merasa ragu atau terjadi sesuatu yang memerlukan peringatan/pemberitahuan.

(4) Diriwayatkan oleh ad-Daraquthni (1/231) dan al-Baihaqi (2/229) secara marfu' (disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam):  

"Apa yang berada di atas kedua lutut termasuk aurat, dan apa yang berada di bawah pusar termasuk aurat."


وروى البخارى (346) عن جابر رضي الله عنه: أنه صلى في ثوب واحد، وقال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في ثوب واحدٍ وفي رواية (345): صلّى جابرُ في إزارٍ قد عَقَدَهُ من قِبَلِ قَفَاهًُ.

والإزار في الغالب ثوب يستر وسط الجسم، أي ما بين السرة والركبة وما قاربهما

(5) روىَ البيهقي (2/ 223): أنه صلى الله عليه وسلم مرَّ على امرأتين تصلّيان، فقال: (إذَا سجَدْتُما فَضُمّا بَعْضَ اللَّحمِ إلى الأرْضِ، فَإن المرأةَ لَيْسَتْ في ذَلِكَ كالرَّجُلِ).

(6) خشيةَ الفتنة، قال تعالى: "فلا تخْضعْنَ بِالقوْلِ فيطمعً الذي في قَلْبه مَرَض " / الأحزاب: 32 /.

(bagian lanjutan dari poin sebelumnya, kemungkinan nomor 4 atau kelanjutan aurat/pakaian shalat)  

Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 346) dari Jabir radhiyallahu 'anhu: Bahwa ia shalat dengan satu kain saja, dan ia berkata: "Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dengan satu kain."  

Dan dalam riwayat lain (no. 345): Jabir shalat dengan mengenakan izar (kain penutup pinggang) yang ia ikat dari arah tengkuknya (belakang leher).  

الإزار pada umumnya adalah kain yang menutupi bagian tengah tubuh, yaitu antara pusar hingga lutut dan sekitarnya.

(5) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (2/223): Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melewati dua orang wanita yang sedang shalat, lalu beliau bersabda:  

"Apabila kalian berdua sujud, rapatkanlah sebagian daging (tubuh) kalian ke tanah, karena wanita tidak seperti laki-laki dalam hal itu."

(6) Karena khawatir terjadinya fitnah (godaan). Allah Ta'ala berfirman:  

"فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ"
 (QS. Al-Ahzab: 32)  

"Maka janganlah kamu melunakkan suara (berbicara lembut) sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya menjadi berhasrat (kepadamu)."

[تخضعنَ باَلقول: تلينَ كلامكنّ: مرض: فسوق وقلة ورع] وهذا يدل على أن صوت المرأة قد يثير الفتنة، فيطلب منها خفض الصوت بحضرة الأجانب.

(7) انظر: حا 3 ص 63.

(8) لقوله تعالى " ولا يبدِينَ زِينَتَهن إلا مَا ظهَرَ مِنهَا".
النور: 31 /.

[تخضعنَ بالقول: تلينَ كلامكنّ: مرض: فسوق وقلة ورع]  

Artinya: "Melunakkan suara (berbicara lembut)": kalian melunakkan ucapan kalian.  
"Penyakit" (مرض): kefasikan dan kurangnya kewaspadaan (ketakwaan).

Ayat ini menunjukkan bahwa suara wanita dapat menimbulkan fitnah (godaan), sehingga diminta darinya untuk merendahkan suara di hadapan laki-laki asing (non-mahram).

(7) Lihat: hasyiyah 3 halaman 63.

(8) Berdasarkan firman Allah Ta'ala:  
"وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا" 
(QS. An-Nur: 31)  

"Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) tampak darinya."


والمشهور عند الجمهور: أن المراد بالزينة مواضعها، وما ظهر منها هو الوجه والكفان. (ابن كثير: 3/ 283).
روى أبو داود (640) وغيره، عن أم سلمةَ رضي الله عنها: أنها سألت النبي صلى الله عليه وسلم: أتصَلي المرأةُ في دِرعْ وخمارٍ وليس عليها إزار؟ قال: (إذا كان الدرعُ سابغاً. يغطي ظهور قدميها).

[درع: قميص المرأة الذي يغطي بدنها ورجليها. خمار: ما تغطي به المرأة رأسها. سابغ: طويل].
وواضح: أنه إذا غطى ظهور قدميها حال القيام والركوع، انسدل أثناء السجود، وغطى باطن القدمين، لانضمام بعضها إلى بعض. وانظر: حاشية 1 ص 49.

(9) أي في ستر العورة فيَ الصلاة، أما خارج الصلاة فهي كالحرة.

Pendapat yang masyhur di kalangan mayoritas ulama (jumhur): Yang dimaksud dengan "perhiasan" (زينة) adalah tempat-tempat perhiasannya, dan yang dimaksud dengan "yang tampak darinya" (ما ظهر منها) adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Tafsir Ibnu Katsir: 3/283).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 640) dan lainnya dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha: Bahwa ia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Apakah seorang wanita boleh shalat dengan mengenakan gamis (dir') dan kerudung (khimar) tanpa mengenakan kain penutup pinggang (izar)?" Beliau menjawab:  

"Jika gamis itu panjang dan longgar (sabigh), yang menutupi punggung kedua telapak kakinya."

[Penjelasan istilah:]  
- درع: Gamis atau baju wanita yang menutupi badan dan kakinya.  
- خمار: Kerudung atau penutup kepala wanita.  
- سابغ: Panjang dan longgar (menjuntai hingga menutupi dengan sempurna).

Dan jelas bahwa jika gamis itu menutupi punggung kedua telapak kaki saat berdiri dan rukuk, maka ketika sujud ia akan menjuntai dan menutupi telapak kaki bagian dalam, karena sebagian kaki menempel pada sebagian lainnya. Lihat: hasyiyah 1 halaman 49.

(9) Yaitu dalam menutup aurat ketika shalat. Adapun di luar shalat, maka (hukum auratnya) sama seperti wanita merdeka (bukan budak).
LihatTutupKomentar