10 Pembatal Shalat

Dalil 10 sepuluh hal pembatal shalat, dan jumlah rakaat dalam shalat wajib dan bagaimana menyikapi perbuatan shalat yang tertinggal tidak dilakukan baik karena sengaja atau karena lupa menurut al Quran, hadits
10 Pembatal Shalat
Dalil 10 pembatal shalat, dan jumlah rakaat dalam shalat wajib dan bagaimana menyikapi perbuatan shalat yang tertinggal tidak dilakukan baik karena sengaja atau karena lupa menurut al Quran, hadits dan ijtihad ulama madzhab Syafi'i.

Judul kitab: Al-Tahdzib fi Adillati Matnil Ghayah wat Taqrib
Nama kitab asal: التذهيب في أدلة متن الغاية والتقريب
Penulis: Mustofa Daib Al-Bigha Al-Maidani Al-Dimasyqi Al-Syafi'i
Bidang studi: Dalil Quran dan Hadits fiqih madzhab Syafi'i dalam Kitab Matan Taqrib karya Abu Syujak

Daftar Isi
  1. 10 Pembatal Shalat
  2. 17 Rakaat Shalat Fardhu
  3. Saat Ada Yang Tertinggal Dalam Shalat
  4. Lima Waktu Yang Dilarang Shalat Sunnah
  5. Kembali ke: Kitab Tahdzib Dalil Matan Taqrib

10 PEMBATAL SHALAT


"فصل" والذي يبطل الصلاة أحد عشر شيئاً:
1 - الكلام العمد (1)
2 - والعمل الكثير (2)
3 - والحدث
4 - وحدوث النجاسة
5 - وانكشاف العورة
6 - وتغير النية (3)
7 - واستدبار القبلة (4)
8 - والأكل
9 - والشرب
10 - والقهقهة
11 - والردة (5).

Perkara yang membatalkan shalat ada 11 (sebelas): - Perkataan yang disengaja - Gerakan yang banyak - Hadats (kecil dan besar) - Adanya najis - Terbukanya aurat - Berubahnya niat - Membelakangi kiblat - Makan - Minum - Tertawa terbahak-bahak - Murtad 

DALIL QURAN HADIS DAN REFERENSI

(1) روى البخاري (4260) ومسلم (539) عن زيد بن أرقم رضي الله عنه قال: كُنَّا نتكلمُ في الصلاةِ، يُكَلَمُ أحَدُنا أخاه في حاجَتهِ حتى نَزَلَتْ هذه الآية: "حَافِظُوا عَلى الصلَوَات والصَّلاة الْوسْطًي وقوموا للهِ قَانِتِين " / البقرة: 382 / فأمِرْنا بالسكوتَ [قانتينَ: خاضعين] وروى مسلم (537) وغيره، عن معاوية بن الحَكم السلمي رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (إن هذه الصلاةَ لا يَصْلح فيها شيء من كلام الناس، إنَّما هوَ التَّسْبيح والتَّكبير وقراءة القُرْآنِ).

(2) لأنه يتنافى مع نظام الصلاة.

(3) بأن ينوي الخروج من الصلاة.

(4) لأن في هذه الأمور الخمسة تركاً لشرط من شروط الصلاة أو ركن من أركانها، كما علمت مما مر.

(5) لمنافاة هذه الأمور لهيئة الصلاة وشروطها، وانظر حا 2.

(1) Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 4260) dan Muslim (no. 539) dari Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu, ia berkata:  

"Kami biasa berbicara dalam shalat, salah seorang dari kami berbicara dengan saudaranya tentang keperluannya, hingga turun ayat ini:  
'حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ' 
(QS. Al-Baqarah: 238)  
'Maka jagalah shalat-shalat (kalian), terutama shalat wustha (tengah), dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.'  
Maka kami diperintahkan untuk diam."  

[قانتينَ: خاضعين]  
Artinya: Qanitin berarti khusyuk dan tunduk (dalam keadaan tenang dan fokus).

Diriwayatkan oleh Muslim (no. 537) dan lainnya dari Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:  

"Sesungguhnya shalat ini tidak layak ada di dalamnya sesuatu dari perkataan manusia. Sesungguhnya ia hanyalah tasbih, takbir, dan pembacaan Al-Qur'an."

(2) Karena hal itu bertentangan dengan sistem (tata cara) shalat.

(3) Dengan niat untuk keluar dari shalat.

(4) Karena dalam lima perkara ini terdapat meninggalkan salah satu syarat shalat atau rukun dari rukun-rukunnya, sebagaimana telah diketahui dari apa yang telah lalu.

(5) Karena perkara-perkara ini bertentangan dengan bentuk (postur) shalat dan syarat-syaratnya. Dan lihat hasyiyah 2.

Penjelasan singkat konteks fiqih (mazhab Syafi'i dan umum):  
- Ayat Al-Baqarah: 238 dan hadits-hadits ini menjadi dalil utama atas kewajiban diam dan menjaga kekhusyukan dalam shalat, serta larangan berbicara dengan perkataan duniawi (kecuali dzikir yang ditentukan seperti tasbih, takbir, baca Al-Qur'an, dll.).  
- Berbicara sengaja (bukan karena darurat atau untuk memperbaiki shalat) membatalkan shalat.  
- Poin (3) merujuk pada cara membatalkan shalat dengan niat keluar (misalnya mengucapkan salam atau niat berhenti).  
- Poin (4) dan (5) menjelaskan bahwa hal-hal seperti makan, minum, berbicara, tertawa keras, atau perbuatan yang bertentangan dengan postur shalat membatalkan shalat karena meninggalkan syarat/rukun atau menyalahi bentuk shalat.

17 RAKAAT SHALAT FARDHU

"فصل" وركعات الفرائض سبعة عشر ركعة: فيها أربع وثلاثون سجدة، وأربع وتسعون تكبيرة وتسع تشهدات، وعشر تسليمات ومائة وثلاث وخمسون تسبيحة.
وجملة الأركان في الصلاة مائة وستة وعشرون ركنا: في الصبح وثلاثون ركنا وفي المغرب اثنان وأربعون ركنا وفي الرباعية أربعة وخمسون ركناً.
ومن عجز عن القيام في الفريضة صلى جالساً ومن عجز عن الجلوس صلى مضطجعاً (1).
 
 Jumlah raka'at shalat fardhu ada 17 (tujub belas) roka'at, 34 sujud, 94 takbir, 9 tahiyat, 10 salam, 153 tasbih. Jumlah rukun dalam shalat ada 126 rukun. Shalat subuh 30 rukun, maghrib 42 rukun, shalat empat rakaat ada 54 rukun. Barangsiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardhu maka boleh shalat duduk, yang tidak mampu duduk, boleh shalat tidur miring. 

DALIL QURAN HADIS DAN REFERENSI

(1) لحديث عمران بن حصين رضي الله عنه: (صَلً قائماً، فإنْ لم تسْتَطعْ فقاعداً، فإنْ لم تَسْتَطعْ فَعَلى جنْبٍ). انظر: ص 51 حا 4.

(1) Berdasarkan hadits Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu:  "Shalatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka duduk. Jika tidak mampu, maka miring ke sisi (berbaring)."  Lihat: halaman 51, hasyiyah 4.


YANG TERTINGGAL DALAM SHALAT


فصل والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء:

1 - فرض
2 - وسنة
3 - وهيئة

فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره والزمان قريب أتى به وبنى عليه وسجد للسهو (1)

والسنة: لا يعود إليها بعد التلبس بالفرض لكنه يسجد للسهو عنها (2).
والهيئة: لا يعود إليها بعد تركها ولا يسجد للسهو عنها (3).
وإذا شك في عدد ما أتى به من الركعات بنى على اليقين وهو الأقل وسجد للسهو (4)

وسجود السهو سنة (5) ومحله قبل السلام (6)

Perkara yang ditinggal dalam shalat ada tiga macam yaitu fardhu, sunnah dan hai'ah. Adapun fardhu yang tertinggal tidak perlu mengganti apabila murni karena lupa tetapi apabila ingat dan waktunya dekat maka harus dilakukan dan sujud sahwi. Sedang sunnah yang tertinggal tidak perlu mengulangi apabila sudah melakukan hal yang fardhu akan tetapi hendaknya melakukan sujud sahwi. Sedang hai'ah yang tertinggal tidak perlu mengulangi dan sujud sahwi. Apabila ragu dalam jumlah rakaat shalat, maka lakukan berdasar rakaat yang yakin yaitu yang paling sedikit dan hendaknya sujud sahwi. Sujud sahwi itu sunnah dan dilakukan sebelum salam. 

DALIL QURAN HADIS DAN REFERENSI

(1) روى البخاري (1169) عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: صلّى بنا النبى صلى الله عليه وسلم الظهرَ أو العصرَ، فسلمَ، فقال له ذو اليدين: الصلاةُ يا رسول الله، أنقصت؟ فقال النبي صلى الله عليه وسلم لأصحابه: (أحق مَا يَقولُ). قالوا: نَعَم، فصلى ركعتين أخْرَيَينِ، ثم سَجدَ سجْدتَيْنِ.

(2) روى البخاري (1166) ومسلم (570) عن عبد الله بن بُحيْنةَ رضي الله عنه أنه قال: صلّى لنا رسولُ الله صلى الله عليه وسلم ركْعَتَيْنِ من بعض الصلوات - وفي رواية: قام من اثنتين من الظهر - ثم قام فلم يجلس، فقام الناس معه، فلما قَضَى صلاته ونَظرْنَا تسليمه، كبر قبل التسليم، فسجد سجدتين وهو جالس، ثم سلَّم. [نظرنا: انتظرنا].
وانظر ص 57 حاشية 1.
وروى ابن ماجه (1208) وأبو داود (1036) وغيرهما، عن المغيرة ابن شعبة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إذَا قَامَ أحَدُكمْ مِنَ الرَّكْعَتين، فلَمْ يستتم قَائماً، فَلْيَجْلِسْ. وَإذَا اسْتتَم قائِما فَلا يَجْلسْ، ويَسْجدُ سَجْدَتَيِ السهو).

(3) لعدم تأَكدها وعدم ورود السجود فيها.

(4) روى مسلم (571) عن أبي سعيد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إذَا شَك أحدُكُمْ في صلاتِهِ، فليمْ يَدرِ كَمْ صَلَّى، ثلاثا أم أربعاً؟ فَلْيَطرَحِ الشَك، وليبن على ما استيقَنَ ثم يَسْجُدُ سجدتينِ قبل أن يُسَلِّمَِ، فإن كان صلَّى خمساً شفَعْنَ له صلاتَه، وإن كان صلَّى إتماماً لأربع، كانَتا تَرْغيماً للشيطانِ).
[شفعن: جعلنها زوجاً كما ينبغي أن تكون. ترغيماً: إغاظة وإذلالاً]

(5) لأنه لم يشرع لترك واجب.

(6) كما ثبت في الأحاديث المتقدمة.
 
(1) Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1169) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:  

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami kami shalat Zhuhur atau Ashar, lalu beliau memberi salam. Maka Dzul Yadain berkata kepada beliau: 'Wahai Rasulullah, apakah shalatnya kurang?' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat: 'Apakah benar apa yang dikatakannya?' Mereka menjawab: 'Ya.' Maka beliau shalat dua rakaat lagi, kemudian sujud dua kali sujud sahwi."

(2) Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1166) dan Muslim (no. 570) dari Abdullah bin Buhainah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:  

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami kami shalat dua rakaat dari sebagian shalat – dan dalam riwayat lain: beliau bangkit dari dua rakaat Zhuhur – kemudian beliau bangkit tanpa duduk. Orang-orang pun ikut bangkit bersamanya. Ketika beliau menyelesaikan shalatnya dan kami menunggu salamnya, beliau bertakbir sebelum salam, lalu sujud dua kali dalam keadaan duduk, kemudian memberi salam."  

[نظرنا: انتظرنا]  
Artinya: Kami menunggu (menanti salam beliau).

Lihat halaman 57, hasyiyah 1.  

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1208), Abu Dawud (no. 1036) dan lainnya dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  

"Apabila salah seorang di antara kalian bangkit dari dua rakaat, lalu belum sempurna berdiri, maka hendaklah ia duduk kembali. Dan apabila telah sempurna berdiri, maka janganlah ia duduk, dan hendaklah ia sujud dua kali sujud sahwi."

(3) Karena tidak adanya penegasan kuat dan tidak adanya riwayat sujud sahwi dalam kasus tersebut.

(4) Diriwayatkan oleh Muslim (no. 571) dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  

"Apabila salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, tidak tahu apakah ia shalat tiga rakaat atau empat rakaat, maka hendaklah ia membuang keraguan itu dan membangun (melanjutkan) berdasarkan apa yang ia yakini, kemudian sujud dua kali sebelum salam. Jika ternyata ia shalat lima rakaat, maka dua sujud itu menyempurnakan shalatnya menjadi genap. Dan jika ternyata ia shalat empat rakaat sempurna, maka dua sujud itu menjadi penghinaan dan pengusiran setan."  

[شفعن: جعلنها زوجاً كما ينبغي أن تكون]  
Artinya: Menyempurnakan (menjadikannya genap sebagaimana seharusnya).  

[ترغيماً: إغاظة وإذلالاً]  
Artinya: Penghinaan dan pengusiran (membuat setan marah dan hina).

(5) Karena sujud sahwi tidak disyariatkan untuk meninggalkan wajib.

(6) Sebagaimana telah tetap dalam hadits-hadits yang telah lalu.



LIMA WAKTU YANG DILARANG SHALAT SUNNAH

"فصل" وخمسة أوقات لا يصلى فيها إلا صلاة لها سبب:

1 - بعد صلاة الصبح حتى تطلع الشمس
2 - وعند طلوعها حتى تتكامل وترتفع قدر رمح
3 - وإذا استوت حتى تزول
4 - وبعد صلاة العصر حتى تغرب الشمس
5 - وعند الغروب حتى يتكامل غروبها (1).

Ada lima waktu yang tidak boleh melakukan shalat kecuali shalat yang memiliki sebab yaitu setelah shalat subuh sampai terbit matahari; saat terbit matahari sampai sempurna dan naik sekitar satu tombak; saat matahari tepat di tengah sampai condong; setelah shalat ashar sampai matahari terbenam; saat matahari terbenam sampai sempurna terbenamnya. 

DALIL QURAN HADIS DAN REFERENSI

(1) روى البخاري (561) ومسلم (827) عن أبي سعيد الخدري رضى الله عنه قال: سمِعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (لا صَلاِةَ بَعدَ الصَّبْح حَتّى تَرْتَفع الشمْس، وَلا صَلاةَ بَعْدَ العَصْرِ حَتى تَغيب الشمس). والمراد بالنفي هنا النهي، أيَ لا يصلين أحد في هذه الأوقات.

وروى مسلم (831) عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال: ثلاث ساعات كان رسول الله صلي الله عليه وسلم ينهانا أن نُصَليَ فيهِن وأن نقبرَ موتانا: حين تَطلعٌ الشَمسُ بازغة حتى ترتَفع، وحينَ يَقُومُ قائمُ الظَهيرة حتى تزُولَ، وحينَ تَضيف الشمسُ للغرُوبِ.

[بازَغة: يطلع قرصها. قائم الظهيرة: اشتداد الحر، وأصله أن البعير إذا كان باركاً قام من شدة الحر. تزول: تميل عن وسط السماء. تضيف: تميل حال اصفرارها]. والنهي فيما سبق للتحريم.

أما ما لها سبب فتصلى في كل الأوقات. نفلاً كانت أم فرضاً، دل على ذلك:
ما رواه البخاري (572) ومسلم (684) عن أنس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مَنْ نَسيَ صلاة فَليصَل إذا ذَكَرَها، لا كَفارَةَ لها إلا ذلك: " وَأقمِ الصلاةَ لِذكري " / طه: 14 /).

وما رواه البخاري (1176) ومسلم (834) عن أم سلمة رضي الله عنها: أنه صلى الله عليه وسلم صلى ركعتينِ بعدَ العصرِ، فسألتْه عن ذلك فقال: (يا بنتَ أبي أمَيةَ، سألت عن الركعتين بعد العصر، وإنه أتاني ناس منْ عَبْد القَيس، فَشَغَلُوَني عن الركْعَتَينِ اللتًّيْن بعدَ الظهرِ، فَهُمًا هَاتانَ).

(1) Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 561) dan Muslim (no. 827) dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata:  

"Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  
'Tidak ada shalat setelah Subuh hingga matahari terbit tinggi, dan tidak ada shalat setelah Ashar hingga matahari terbenam.'"  

Yang dimaksud dengan penafian di sini adalah larangan (nahyu), yaitu janganlah seseorang shalat pada waktu-waktu tersebut.

Diriwayatkan oleh Muslim (no. 831) dari Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata:  

"Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kami shalat dan menguburkan mayat kami pada waktu itu: ketika matahari terbit bersinar terang hingga ia naik tinggi, ketika matahari tegak di tengah langit hingga ia bergeser (zawal), dan ketika matahari condong menjelang terbenam."  

[Penjelasan istilah:]  
- بازغة: Matahari muncul dengan piringannya (terbit penuh).  
- قائم الظهيرة: Waktu terik matahari yang sangat panas (asalnya dari unta yang berdiri karena panas terik).  
- تزول: Matahari condong/miring dari tengah langit (zawal).  
- تضيف: Matahari condong saat mulai menguning menjelang terbenam.  

Larangan dalam hadits-hadits di atas adalah larangan haram (tahrim).

Adapun shalat yang memiliki sebab (seperti qadha', shalat sunnah karena sebab tertentu, atau shalat fardhu yang tertinggal), maka boleh dikerjakan pada setiap waktu. Baik sunnah maupun fardhu. Dalilnya:  

Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 572) dan Muslim (no. 684) dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:  

"Barangsiapa lupa shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat, tidak ada kafarat baginya kecuali itu: 'Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku' (QS. Thaha: 14)."

Dan diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1176) dan Muslim (no. 834) dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha:  

"Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dua rakaat setelah Ashar. Lalu aku bertanya kepada beliau tentang hal itu. Beliau bersabda:  
'Wahai putri Abu Umayyah, engkau bertanya tentang dua rakaat setelah Ashar. Sesungguhnya datang kepadaku orang-orang dari Abdul Qais, lalu mereka menyibukkanku dari dua rakaat yang biasa aku kerjakan setelah Zhuhur. Maka kedua rakaat itu adalah keduanya ini.'"[]
LihatTutupKomentar