Dalil Tayamum

Dalil Quran, hadits dan ijtihad ulama terkait masalah tayamum meliputi 5 (Lima) Syarat Tayamum 4 (Empat) Fardhu Tayamum 3 (Tiga) Sunnah
Dalil Tayamum
Dalil Quran, hadits dan ijtihad ulama terkait masalah tayamum meliputi 5 (Lima) Syarat Tayamum 4 (Empat) Fardhu Tayamum 3 (Tiga) Sunnah Tayammum 3 (Tiga) Pembatal Tayamum Hukum Pemakai Perban Dan Infus

Judul kitab: Al-Tahdzib fi Adillati Matnil Ghayah wat Taqrib
Nama kitab asal: التذهيب في أدلة متن الغاية والتقريب
Penulis: Mustofa Daib Al-Bigha Al-Maidani Al-Dimasyqi Al-Syafi'i
Bidang studi: Dalil Quran dan Hadits fiqih madzhab Syafi'i dalam Kitab Matan Taqrib karya Abu Syujak
Download (pdf):


Daftar Isi
  1. 5 (Lima) Syarat Tayamum
  2. 4 (Empat) Fardhu Tayamum
  3. 3 (Tiga) Sunnah Tayammum
  4. 3 (Tiga) Pembatal Tayamum
  5. Hukum Pemakai Perban Dan Infus
  6. Kembali ke: Kitab Tahdzib Dalil Matan Taqrib

5 (LIMA) SYARAT TAYAMUM

"فصل" وشرائط التيمم خمسة أشياء:

1 - وجود العذر بسفر أو مرض (1)
2 - ودخول وقت الصلاة (2)
3 - وطلب الماء
4 - وتعذر استعماله
5 - وإعوازه بعد الطلب

والتراب الطاهر له غبار فإن خالطه جص أو رمل لم يجز.

Artinya: Syarat bolehnya tayammum ada 5 (lima): (a) adanya udzur karena perjalanan atau sakit, (b) masuk waktu shalat, (c) mencari air, (d) tidak dapat menggunakan air, (e) tidak ada air setelah mencari.

Debu suci apabila tercampur najis atau pasir maka tidak sah.

Catatan dan dalil

(1) قال تعالى: "وَإنْ كنتم مَرضى أوْ عَلى سَفَرٍ أوْ جَاءَ أحَد مِنْكُمْ مِنَ الْغَائطِ أوْ لامَسْتُمُ النسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاء فتيمموا " / المائدة: 6.
وروى البخاري (341) ومسلم (682) عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر، فصلى بالناس، فإذا هو برجل معتزل، فقال: (مَا مَنَعَكَ أنْ تُصَلًيَ).
قال: أصابتني جَنابَةٌ ولا ماءَ. قال: (عَلَيْكَ بالصَعِيدِ فَإنهُ يكفيكَ).
[الصعيد: ما صعد على وجه الأرض من التراب].

(2) روى البخاري (328) عن جابر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (وَجُعلتْ لِيَ الأرضُ مَسْجداً وَطَهُوراً، فأيُّمَا رَجُل مِنْ أمتى أدْركًتْهُ الصلاةُ فَلْيُصَل). وعند أحمد: (2/ 222)) أينَمَا أدرَكَتني الصَلاةُ تَمسَحْتُ وصَليتُ).
فدلت الروايتان على: أنه يتيمم ويصلى إذا لم يجد الماء، بعد دخول وقت الصلاة.
(1) Allah Ta'ala berfirman:

"وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا"

(QS. Al-Maidah: 6)  Artinya:
"Dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau salah seorang di antara kamu datang dari tempat buang air besar (al-gha'ith) atau kamu telah menyentuh wanita, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah."Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 341) dan Muslim (no. 682) dari Imran bin Husain radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

"Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, lalu beliau shalat mengimami orang-orang. Tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yang menjauh (tidak ikut shalat). Beliau bertanya: 'Apa yang menghalangimu untuk shalat?'  Ia menjawab: 'Aku mengalami junub (hadats besar) dan tidak ada air.' Beliau bersabda: 'Hendaklah kamu menggunakan tanah (sha'id), karena itu cukup bagimu.'  



4 (EMPAT) FARDHU TAYAMUM

وفرائضه أربعة أشياء:

1 - النية
2 - ومسح الوجه
3 - ومسح اليدين
4 - مع المرفقين
5 - والترتيب (1)


Artinya: Fardhu/rukun atau tatacara tayammum ada 4 (empat) yaitu (a) niat, (b) mengusap wajah, (c) mengusap kedua tangan sampai siku, (d) tertib (urut).

Catatan dan dalil


(1) لقوله تعالى: " فَتَيَمموا صَعِيداً طَيَباً فَامْسحُوا بِوُجُوهكُم وَأيْديكُمْ منْهُ " / المائدة: 6.
[فتيَمموا: فاَقصدوا، وهو دليل فرضية النية، مع حديث: (إنما الأعمال بالنيات). طيباً: طاهراً].
(1) Berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ"
(QS. Al-Maidah: 6)  Artinya:
"Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (suci), lalu usaplah wajah dan tangan kalian darinya."



3 (TIGA) SUNNAH TAYAMMUM

وسننه ثلاثة أشياء:

1 - التسمية
2 - وتقديم اليمنى على اليسرى
3 - والموالاة (1)
Artinya: Sunnahnya tayammum ada 3 (tiga) yaitu: (a) Membaca bismillah, (b) mendahulukan yang kanan dari yang kiri, (c) bersegera.

Catatan dan dalil

(
3) اعتباراً بالوضوء لأنه بدله. وانظر: حاشية (5) ص (16).
(3) Dianggap (sebagai dasar hukum) berdasarkan wudhu, karena tayammum adalah penggantinya (badal-nya).  Dan lihat: Hasyiyah (5) halaman (16).



3 (TIGA) PEMBATAL TAYAMUM

والذي يبطل التيمم ثلاثة أشياء:

1 - ما أبطل الوضوء
2 - ورؤية الماء في غير وقت الصلاة (1)
3 - والردة

Artinya: Yang membatalkan tayammum ada 3 (tiga) yaitu: (a) perkara yang membatalkan wudhu, (b) melihat air di selain waktu shalat, (c) murtad.

Catatan dan dalil

(1) أي في غير حال الصلاة، وقبل الدخول فيها. روى الترمذي (124) وغيره، عن أيى ذر رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (إن الصَعِيدَ الطَيبَ طَهُور المُسْلِمِ وَإن لم يَجِد المَاءَ عَشْر سنِينَ، فَإذَا وَجَدَ المَاءَ فَلْيُمِسهُ بشَرَتهُ، فَإن ذَلِك خَير).
[فليمسه بشرته: فليتوضأ، وهذا دليل على أن تيممه قد بطل].
(1) Yaitu dalam keadaan selain sedang shalat, dan sebelum memasuki (memulai) shalat.  Diriwayatkan oleh Tirmidzi (no. 124) dan lainnya dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  "Sesungguhnya tanah yang baik (suci) itu adalah penyuci bagi seorang muslim meskipun ia tidak menemukan air selama sepuluh tahun. Maka apabila ia menemukan air, hendaklah ia menyentuhkannya pada kulitnya, karena hal itu lebih baik."
 
[Penjelasan hadits:]
"فليمسه بشرته" 
(fa liyumissahu bisyaratihi): Artinya "hendaklah ia menyentuhkannya pada kulitnya", yaitu hendaklah ia berwudhu (atau mandi jika diperlukan).  Dan ini menjadi dalil bahwa tayammumnya telah batal (tidak lagi sah) setelah menemukan air, sehingga ia wajib menggunakan air tersebut untuk bersuci kembali.



HUKUM PEMAKAI PERBAN DAN INFUS


وصاحب الجبائر يمسح عليها، ويتمم ويصلي، ولا إعادة عليه إن كان وضعها على طهر (1).
ويتيمم لكل فريضة (2) ويصلي بتيمم واحد ما شاء من النوافل


Artinya: Orang yang memakai perban mengusap di atasnya, bertayammum dan shalat dan tidak perlu mengulangi shalatnya apabila saat memakai perban dalam keadaan suci.
Satu tayammum berlaku untuk satu kali shalat fardhu dan 1 shalat sunnah. Satu kali tayammum dapat dipakai beberapa kali shalat sunnah.

Catatan dan dalil


(1) روى أبو دارد (336) وغيره، عن جابر رضي الله عنه قال: خَرجْنا في سَفَر، فأصاب رجلا منا حجر فَشَجتهُ في رأسه، ثم احْتلمَ فسأل أصحابه: هل تجدون لي رخْصَةَ في التيمم؟ فقالوا: ما نجد لك
رخصة وأنت تقدر على الماء، فاغتسل فمات، فلما قدمنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم أخبر بذلك، فقال: (قَتلُوهُ قتلهم الله، ألا سألُوا إذْ لَمِْ يعلموا؟ فَإنما شِفَاءُ العِيِّ السؤالُ، إنّمَا كَانَ يكفيه أنْ يتًيَمَّم ويَعْصِرَ - أوْ يَعْصِبَ- جرْحَهُ، ثم يمسح عَلَيه، وَيغسلَ سَائِرَ جَسَدِهِ).
[العي: التحير في الكلام، وقيل: هو ضد البيان].

(2) روى البيهقي بإسناد صحيح (1/ 221) عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: يَتَيمّمُ لكل صلاة وإن لم يحدِثْ.
 
(1) Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 336) dan lainnya, dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata:  "Kami keluar dalam suatu perjalanan, lalu seorang laki-laki dari kami terkena batu yang melukai kepalanya (membuat luka terbuka di kepala). Kemudian ia mengalami ihtilam (mimpi basah sehingga junub). Ia bertanya kepada teman-temannya: 'Apakah kalian menemukan rukhsah (keringanan) bagiku untuk bertayammum?' Mereka menjawab: 'Kami tidak menemukan rukhsah bagimu sementara engkau mampu menggunakan air, maka mandilah.' Lalu ia mandi dan meninggal dunia. Ketika kami tiba di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kami memberitahukan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda:  'Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya ketika mereka tidak tahu? Sesungguhnya obat/kelegaan bagi orang yang bingung (al-'iyy) adalah bertanya. Sesungguhnya cukup baginya untuk bertayammum, lalu memeras (atau membalut) lukanya dengan kain, kemudian mengusap di atasnya, dan memandikan seluruh tubuhnya yang lain.'  [Penjelasan istilah:]  Al-'iyy (العي): Kebingungan atau kesulitan dalam berbicara/berfatwa, atau kebalikan dari kejelasan (penjelasan).

Hadits ini menunjukkan pentingnya bertanya ketika tidak tahu dalam masalah agama, larangan memberikan fatwa tanpa ilmu (karena bisa membahayakan), serta rukhsah tayammum bagi orang yang terluka (khawatir air membahayakan lukanya), dengan cara mengusap di atas pembalut/luka setelah menekan/membalutnya, lalu memandikan bagian tubuh lainnya.(2) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih (1/221) dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:  "Ia bertayammum untuk setiap shalat meskipun tidak berhadas (baru)."  Penjelasan dalam konteks fiqih (mazhab Syafi'i dan lainnya):
Ini adalah atsar (perkataan/riwayat) dari Ibnu Umar yang menunjukkan pendapat bahwa tayammum hanya berlaku untuk satu shalat (tidak boleh digunakan untuk shalat berikutnya meskipun belum batal), sehingga harus bertayammum lagi untuk setiap shalat baru meskipun belum berhadas lagi (misalnya karena masih dalam keadaan tidak mampu menggunakan air). Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian sahabat dan diikuti oleh sebagian ulama, meskipun pendapat mayoritas (termasuk yang mu'tamad dalam mazhab Syafi'i) adalah tayammum tetap sah hingga air ditemukan atau hadas hilang, tanpa harus mengulang tayammum untuk setiap shalat.


LihatTutupKomentar