4/30/2019

Dalil 6 Fardhu Wudhu

Tags

Dalil 6 Fardhu Wudhu
6 Fardhu atau rukun wudhu artinya 6 perkara ini harus dilakukan saat wudhu dan tidak sah wudhunya apabila meninggalkan salah satu di antara yang enam ini. Sedangkan meninggalkan perkara selain yang enam ini tidak masalah dalam arti wudhunya tetap sah.

Nama kitab: Terjemah Al-Tahzhib (Tahdzib) Syarah Matan Taqrib
Nama lain: Terjemah At-Tahzhib Dalil Al-Quran dan Hadits dari Matan Taqrib
Judul kitab asal: Al-Tahdzib fi Adillati Matnil Ghayah wat Taqrib
Nama kitab asal: التذهيب في أدلة متن الغاية والتقريب
Penulis: Mustofa Daib Al-Bigha Al-Maidani Al-Dimasyqi Al-Syafi'i

Daftar Isi


FARDHU WUDHU ADA ENAM

"فصل" وفروض الوضوء ستة أشياء:
1 - النية عند غسل الوجه
2 - وغسل الوجه
3 - وغسل اليدين مع المرفقين
4 - ومسح بعض الرأس
5 - وغسل الرجلين إلى الكعبين
6 - والترتيب على ما ذكرناه (1)

(Fasal): Fardlunya (rukunnya) wudhu ada enam: Niyat ketika membasuh muka, membasuh muka, membasuh kedua belah tangan sampai dengan siku-siku, mengusap sebagian kepala, membasuh kedua belah kaki sampai dengan kedua matakaki, dan tertib sebagaimana urutan penyebutan di atas(1).

Catatan dan dalil


(1) الأصل فيَ مشروعية الوضوء وبيان فروضه: قوله تعالى: " يَا أيهَا الَذينَ آمَنوا إذَا قُمتُمْ إلى الصلاة فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وأيْدِيَكُم إلى الَمَرَافِقِ وامْسَحُوا بِرُؤُوسِكُمْ واَرجُلَكُمْ إلى الكَعبَينِ " / المائدة: 6 /.

[المرافق: جمع مرفق، وهو مجتمع الساعد مع العضد. الكعبين: مثنى كعب، وهما العظمان الناتئان من الجانبين، عند مفصل الساق مع القدم.
وإلى في الموضعين بمعنى مع، فيدخل المرفقان والكعبان في وجوب الغسل، ودل على ذلك: ما رواه مسلم (246) عن أبي هريرة رضي الله عنه: أنه توضأ فغسل وجهه فأسبغ الوُضُوء، ثم غسل يده اليمنى حتى أشْرَعَ في العَضُد، ثم يده اليسرى حتى أشرع في العضد، ثم مسح رأسه، ثم غسل رجله اليمنى حتى أشرع في الساق، ثم غسل رجله اليسرى حتى أشرع في الساق، ثم قال: هكذا رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يتوضأ.
أشرع في العضد وأشرع في الساق: معناه أدخل الغسل فيهما.

برؤوسكم: أي بجزء منها، دل على ذلك: ما رواه مسلم (274) وغيره عن المغيرة رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم توضأ فمسح بناصِيَتِه وعلى العمامة.

والناصية مقدم الرأس، وفي جزء منه، والاكتفاء بالمسح عليها دليل على أن مسح الجزء هو المفروض، ويحصل بأي جزء كان..

ودل على فرضية النية أوَّلَه - وكذلك في كل موطن تطلب فيه النية - ما رواه البخاري ومسلم (1907) من حديث عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: (إنّمَا الأعْمالُ بِالنياتِ). أي: لا يعتد بها شرعاً إلا إذا نويت.

ودل على فرضية الترتيب - كما ذُكِر - فعلُ النبي صلى الله عليه وسلم، الثابت بالأحاديث الصحيحة، منها حديث أبي هريرة رضي الله عنه السابق.

قال في المجموع: واحتج الأصحاب من السنة بالأحاديث الصحيحة، المستفيضة عن جماعات من الصحابة، في صفة وُضوء النبي صلى الله عليه وسلم، وكلهم وصفوه مرتباً، مع كثرتهم وكثرة المواطن التي رأوه فيها، وكثرة اختلافهم في صفاته في مرة ومرتين وثلاث وغير ذلك، ولم يثبت فيه - مع اختلاف أنواعه - صفة غير مرتبة، فعله صلى الله عليه وسلم بيان للوضوء المأمور به، ولو جاز ترك الترتيب لتركه في بعض الأحوال لبيان الجواز، كما ترك التكرار في أوقات. (1/ 484).

(1) Asal usul disyari’atkannya berwudlu serta keterangan difardlukannya berwudlu: firman Allah: “Wahai orang-orang yang berimanapabila kalian hendak mendirikan sholat maka basuhlah muka kamu dan tangan kamu sampai dengan siku-siku dan usaplah pada bagian kepalamu dan basuhlah kedua kakimu sampai dengan dua matakaki” (al Maidah: 6).

Siku-siku dan matakaki termasuk wajib dibasuh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (246) dari Abi Hurairoh ra. bahwasanya ketika dia berwudlu, dia membasuh mukanya dengan sempurna, lalu membasuh tangannya yang kanan termasuk lengan bagian atas, lalu tangannya yang kiri termasuk lengan bagian atas, lalu dia mengusap kepalanya, lalu dia membasuh kaki kanannya termasuk betis, lalu membasuh kaki kirinya termasuk betis, kemudian dia berkata: Demikianlah saya melihat Rasulullah saw. berwudlu.

Pengertian “bi ru-usikum” artinya cukup bila hanya sebagian dari kepala saja, dasarnya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (274) dan lainnya dari al Mughiroh ra., bahwasanya Nabi saw. berwudlu mengusap pada bagian ubun-ubun beliau dan di atas surban beliau.

Ubun-ubun adalah bagian depan kepala, dan merupakan sebagian dari kepala, dan mencukupkan hanya mengusap pada ubun-ubun menjadi dasar hukum bahwa membasuh sebagian dari kepala hukumnya fardlu, dibagian kepala yang mana saja.

Dasar yang menunjukkan wajibnya berniyat di awal ketika berwudlu, dan di mana saja dituntut adanya niyat adalah hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhary (1) dan Muslim (1907) dari Umar Ibnul Khothob ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya yang dianggap sebagai amal ibadah adalah yang disertai dengan niyat”, artinya tidak dihitung sebagai amalan menurut syara’ kecuali apabila disertai dengan niyat.

Dasar tentang difardlukannya tertib adalah perbuatan Nabi saw. yang terdapat dalam hadits yang shohih, antara lain hadita Abu Hurairoh ra. di atas.

An Nawawi berkata di dalam kitab al Majmuk: sebagian golongan kami berhujjah dari perbuatan Nabi saw. dengan hadits-hadits shohih, dan terinci dari sejumlah sahabat Nabi saw. tentang tatacara berwudlu Nabi saw. Mereka secara keseluruhan mencirikan dengan tertib, dengan banyaknya sahabat dan banyaknyapula negeri yang mengbetahui tentang hal itu, serta banyakan perbedaan tentang tatacara Nabi saw. berwudlu tentang satu atau dua atau tiga kali dalam membasuh/mengusap, tetapi tidak ada penjelasan yang bahwa Nabi berwudlu tidak secara tertib. Perbuatan Nabi saw. sebagai penjelasan tentang bagaimana berwudlu yang diperintahkannya. Apabila orang dalam berwudlu diperbolehkan meninggalkan tertib, niscaya di suatu kesempatan beliau berwudlu tidak tertib, sebagai dasar bahwa boleh berwudlu dengan tidak tertib, sebagai beliau meninggalkan pengulangan dalam membasuh di sesekali waktu (Juz I/484).[]

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com

Untuk Konsultasi Agama kirim ke: alkhoirot@gmail.com atau info@alkhoirot.com
Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini!

EmoticonEmoticon