Bab 4 Nabi Muhammad Rahmatan Lil Alamin

Bab 4 Nabi Muhammad Rahmatan Lil Alamin Diutusnya Muhammad Sebagai Nabi dan Rasul serta Turunnya Al-Qur'an secara Bertahap-Tahap Menqirinqi Peristiwa
Bab 4 Nabi Muhammad Rahmatan Lil Alamin


 Nama kitab: Terjemah Sirah Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam
Judul lengkap: Al-Sirah al-Nabawiyah li Ibn Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام)
Penulis: Ibnu Hisyam (عبد الملك بن هشام أو ابن هشام)
Nama lengkap: Abu Muhammad 'Abd al-Malik bin Hisham ibn Ayyub al-Himyari al-Mu'afiri al-Baṣri ( أبو محمد عبد الملك ابن هشام بن أيوب الحميري)
Lahir: Basrah, Iraq
Wafat: 7 Mei 833  M / 218 H, Fustat, Mesir
Penerjemah:
Era: Zaman keemasan Islam, Islamic golden age; (khilafah Abbasiyah)
Bidang studi: Sejarah Nabi Muhammad, sirah Rasulullah

Daftar Isi

  1. Bab 4  Nabi Muhammad Rahmatan Lil Alamin:
    1. Diutusnya Muhammad Sebagai Nabi dan Rasul serta Turunnya Al-Qur'an secara
    2. Bertahap-Tahap Menqirinqi Peristiwa Kehidupannva sebaqai Utusan Allah  
    3. Awal Turunnya Al-Quran
    4. Khadijah Masuk Islam
    5. Jibril Menyampaikan Salam Allah kepada Khadijah Radhivallahu Anha
    6. Permulaan Diwajibkannya Shalat
    7. Ali bin Abi Thalib Lelaki Pertama vanq Masuk Islam  
    8. Zaid bin Haritsah Lelaki Kedua vanq Masuk Islam  
    9. Abu Bakar Radhivallahu Anhu Masuk Islam  
    10. Sahabat-Sahabat vanq Masuk Islam Berkat Dakwah Abu Bakar Radhivallahu Anhu  
    11. Awal-Mula Dakwah Rasulullah di Tenqah Kaumnva denqan Teranq-teranqan dan Reaksi Mereka  
    12. Kebinqunqan Al-Walid tentanq Apa vanq Diqambarkan Al-Quran  
    13. Perlakuan Qaum Quraisv kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Kaumnva  
    14. Hamzah Masuk Islam  
    15. Apa vanq Teriadi Antara Rasulullah denqan Tokoh-tokoh Quraisv dan Tafsir Surat Al-Kahfi
    16. Siapakah Oranq vanq Pertama Kali Membaca Al-Quran Secara Terbuka di Depan Umum?  
    17. Siapa Saia Oranq-oranq Quraisy vanq Menyimak Bacaan Al-Quran vanq Dibaca Nabi  
    18. Kekejaman Kaum Musvrikin Atas Oranq-oranq Lemah vanq Baru Masuk Islam  
    19. Hijrah Pertama ke Neqeri Habasvah  
    20. Oranq-oranq Quraisy Menqirim Intelnya ke Habasvah untuk Menarik Pulanq Kaum Muhajirin  
    21. Kisah Penquasaan Najasvi Atas Habasyah  
    22. Oranq-Oranq Habasyah Menentanq Najasyi  
    23. Kisah Masuk Islamnya Umar bin Khattab Radhivallahu Anhu  
    24. Perihal Shahifah (Surat Perianjian)  
    25. Sebagian Gangguan vanq Dialami Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Kaumnva  
    26. Kepulanqan Oranq-oranq Muhajirin di Habasyah Tatkala Sampai Kabar tentanq Masuk Islamnya Penduduk Mekkah  
    27. Abu Salamah dalam Perlindungan Abu Thalib  
    28. Abu Bakar Mendapat Perlindunaan Ibnu Duahunnah dan Mengembalikannya Kembali  
    29. Pembatalan Shahifah (Surat Perianjian)  
    30. Thufail bin Amr Ad-Dausi Masuk Islam  
    31. Tentang A'sva Bani Qais bin Tsa'labah  
    32. Al-lrasvi vang Meniual Untanva Kepada Abu Jahal  
    33. Rukanah Al-Mathlabi Berduel Melawan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam  
    34. Utusan Kristen vang Masuk Islam  
    35. Ucapan Al-Ash dan Sebab Turunnva Surat Al-Kautsar  
    36. Turunnya Avat Mengapa Malaikat Tidak Diturunkan kepadanya (Al-An'aam: )  
    37. Turunnva Avat, "Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu" (Al-Anbiya': )  
    38. Peristiwa Isra' dan Mi'raj
    39. Kisah Mi'raj 
    40. Perlindunaan Allah terhadap Rasululllah dari Cemoohan Para Pencemooh  
    41. Kisah Abu Uzaihir al-Dausi  
    42. Pemberontakan Daus untuk Membalas Dendam Atas Kematian Uzaihir dan Tentang Ummu Ghaylan  
    43. Abu Thalib dan Khadijah Meninggal Dunia dan Apa vana Teriadi Sebelum dan Setelah Itu  
    44. Rasulullah Menuiu Thaif Meminta Bantuan  
    45. Perihal Jin yang Mendenaar Apa vang Rasulullah Bacaan Al-Quran dan Beriman Padanva  
    46. Rasulullah Menawarkan Dirinva Pada Kabilah-kabilah  
    47. Awal Masuk Islamnva Orana-orana Anshar  
    48. Baiat Aqabah Pertama  
    49. As'ad bin Zurarah dan Shalat Jum'at Pertama di Madinah
    50. Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin al-Hudhair Masuk Islam  
    51. Mush'ab bin Umair dan Baiat al-Aqabah Kedua  
    52. Abdullah bin Amr Masuk Islam  
    53. Al-Abbas Menguatkan Kedudukan Rasulullah di Depan Orana-orana Anshar  
    54. Baiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Mas Kaum Anshar  
    55. Nama Dua Belas Pemimpin dan Kelengkapan Kabar Aqabah  
    56. Pemimpin-pemimpin dari Al-Aus 
    57. Orang-orang Anshar Tergesa-gesa Untuk Mendapatkan ljin Berperang  
    58. Kisah Berhala Amir bin Jamuh dan Masuk Islamnya Amir  
    59. Svarat untuk Baiat Aqabah Terakhir  
    60. Nama-nama Orang vang Terlibat Aqabah Kedua dan Jumlah Mereka  
    61. Awal Mula Dijawabkannva Perang Kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam  
    62. Izin kepada Kaum Muslimin Makkah untuk Hijrah ke Madinah  
    63. Hijrahnva Umar bin Khaththab dan Kisah Ayyasv  
    64. Surat Umar bin Khattab Pada Hisvam bin AI-'Ash  
    65. Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Muahirah Keluar Menuiu Mekah Membawa Avvasv bin Abi Rabi'ah dan Hisvam bin Al-Ash  
    66. Rumah-rumah Penampungan Kaum Muhajirin di Madinah  
    67. Hijrahnya Rasulullah dan Berbagai Macam Tantangan yang Dihadapi  
    68. Pemuka-Pemuka Quraisv Berkumpul dan Bermusyawarah Membicarakan Rasulullah  
    69. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Keluar dan Ali Menggantikan Posisinya di Kasurnva  
    70. Rasulullah Hijrah ke Madinah  
    71. Rasulullah Bersama Abu Bakar di Gua Tsur  
    72. Kedua Anak Abu Bakar dan Ibnu Fuhairah Menunaikan Tugas untuk Rasulullah dan Sahabatnya Saat Keduanya Berada di dalam Gua  
    73. Abu Bakar Memberikan Unta Kendaraannya Kepada Rasulullah  
    74. Abu Quhafah dan Asma' Setelah Hijrahnya Abu Bakar  
    75. Suraqah dan Pengejarannya Terhadap Rasulullah  
    76. Perjalanan Hijrah Rasulullah  
    77. Rasulullah Tiba di Quba'  
    78. Pembangunan Masjid Quba'  
    79. Dimanakah Akhirnva Rasulullah Tinggal dan Menetap?  
    80. Pembangunan Masjid Nabawi Yang Mulia dan Kamar-kamarnya  
    81. Sabda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada Ammar bin Yasir
    82. Bahwa ia Kelak Akan Dihabisi Kelompok Pemberontak  
    83. Menumpangnva Rasulullah di Rumah Abu Ayyub dan Sekilas tentang Adabnva  
    84. Khutbah Pertama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Madinah  
    85. Teks Perjanjian Antara Kaum Muhajirin dan Anshar dan Kesepakatan dengan Orang-orang Yahudi  
    86. Persaudaraan Antara Kaum Muhajirin (Mekah) dan Anshar (Madinah)  
    87. Abu Umamah, Kematiannya dan Apa yang Dikatakan Orang-orang Yahudi  
    88. Adzan  
    89. Abu Qais bin Abi Anas  
    90. Orang-orang Yahudi dan Sebab Permusuhan Mereka  
    91. Abdullah bin Salam Masuk Islam   
    92. Kesaksian Shafiyyah tentana Kebandelan Orang-orang Yahudi  
    93. Orana-orana Munafik yang Bersekongkol dengan Yahudi dari Munafik Anshar  
    94. Di antara Rahib-rahib Yahudi yang Pura-pura Masuk Islam  
    95. Pengusiran Orana-orana Munafik dari Mesjid Rasulullah  
    96. Ayat-ayat dalam Surat Al-Baqarah Yany Turun tentang orang-orang Munafik dan Yahudi  
    97. Pertanvaan orang-orang Yahudi dan Jawaban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Pada Mereka  
    98. Surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Kepada orang-orang Yahudi Khaybar  
    99. Ayat Al-Qur'an yang Turun tentang Abu Yasir dan Saudaranya  
    100. Kekafiran orang-orang Yahudi terhadap Rasulullah Setelah Mereka Menanti-nanti
    101. Kedatanaannva dan Avat Al-Qur'an vana Diturunkan Allah dalam Hal ini  
    102. Konflik Antara Orana-orana Yahudi dan Kristen di Hadapan Rasulullah  
    103. Komentar Orang Yahudi tentana Pemindahan Kiblat ke Ka'bah  
    104. Orang-orang Yahudi Merahasiakan Isi Kebenaran yana Terkandunaan dalam Kitab Taurat  
    105. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Mengumpulkan Orang-orang Yahudi di Pasar Bani Qainuqa'  
    106. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Masuk ke Baitul Midras  
    107. Orang-orang Yahudi Berusaha Membuat Fitnah Antara Kaum Anshar  
    108. Sekilas tentang Perang Bu'ats  
    109. Orang-orang Yahudi Memerintahkan Orana-orana Mukmin Bersikap Kikir  
    110. Orang-orang yang Berkoalisi  
    111. Orang-orang Yahudi Membuat Makar untuk Membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan Menjatuhkan Batu kepada Beliau  
    112. Mereka Minta Pertimbangan Nabi tentang Hukum Rajam  
    113. Kezaliman Orang-orang Yahudi dalam Diyat  
    114. Konspirasi Orang-orang Yahudi untuk Memfitnah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam  
    115. Klaim Mereka Bahwa Uzair Anak Allah  
    116. Pertanvaan Mereka kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang Dzu Al-Qarnain 
    117. Sikap Kurang Ajar Mereka Atas Dzat Allah dan Kemarahan Rasulullah  
    118. Perkara As-Sayyid, al-'Aaib dan Perihal Mubahalah  
    119. Sebab Masuk Islamnya Kuz bin Alaamah  
    120. Mereka Shalat Menghadap ke Timur  
    121. Ayat-ayat Al-Qur'an Yang Turun Tentana Mereka Pada Surat Ali Imran  
    122. Orang-orang Munafik  
    123. Sahabat-sahabat Rasulullah yang Sakit  
    124. Penanggalan Hijrah
    125. Perang Waddan, Perang Pertama yang Diikuti Rasulullah  
    126. Ekspedisi Ubaidah bin al-Harits Pan Pertama vana dibentuk oleh Rasulullah  
    127. Ekspedisi Perana Hamzan bin Abdul Muthalib ke Pesisir Pantai  
    128. Perana Buwath S
    129. Perana 'Usvairah  
    130. Pemberian Kun-vah (Gelar) AN denaan Abu Turab  
    131. Ekspedisi Sa'ad bin Abi Waaaash  
    132. Perana Safwan, Perana Badar Pertama  
    133. Ekspedisi Perana Abdullah bin Jahsv dan Turunnva avat: (Mereka bertanva kepadamu
    134. tentana berperana di bulan Haram)  
    135. Perubahan Arah Kiblat ke Ka'bah  
    136. Perana Badar Kubra  
    137. Mimpi Atikah Binti Abdul Muthalib  
    138. Perana Antara Kinanah dan Quraisv dan Persekutuan Mereka di Perana Badar
    139. Perialanan Kaum Muslimin ke Badar  
    140. Rasulullah Meminta Pendapat Kaum Anshar  
    141. Kehati-hatian Abu Sufvan dan Pelarian Dirinva bersama Kafilah Daaananva  
    142. Persinaaahan Orana-orana Quraisv di Tepi Lembah vana Jauh dari Kaum Muslimin di Badar  
    143. Terbunuhnva Aswad al-Makhzumi  
    144. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Bermunaiat Meminta Pertolonaan kepada Allah
    145. Subhanahu wa Ta'ala  
    146. Umavvah bin Khalaf Terbunuh   
    147. Kisah Pedana Ukkasvah  
    148. Mavat-mavat Kaum Musvrikin Dilemparkan ke dalam Sumur  
    149. Rampasan dan Tawanan Perana Badar  
    150. Perialanan Pulana Rasulullah dan Rombonaannva dari Badar ke Madinah  
    151. Pembunuhan terhadap An-Nadhr bin Al-Harits dan Uabah  
    152. Kabar Kekalahan Orana Quraisv Sampai di Makkah  
    153. Penebusan Suhail bin Amr  
    154. Amr bin Abu Sufvan bin Harb Ditawan dan Pembebasannya  
    155. Kisah Zainab Putri Rasulullah dan Suaminva Abul Ash bin Rabi'  
    156. Zainab binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Beranakat ke Madinah  
    157. Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' Masuk Islam  
    158. Umair bin Wahb Masuk Islam  
    159. Orana-orana Quraisv Pemberi Makan Jamaah Ha  
    160. Nama-nama Kuda Kaum Muslimin di Perana Badar  
    161. Turunnva Surat Al-Anfaal  
    162. Kaum Muslimin vana Ikut Teriun di Perana Badar  
    163. Kaum Anshar dan Orana-orana vana Bersama Mereka vana Teriun Pada Perana Badar  
    164. Svuhada' Kaum Muslimin vana Guaur di Perana Badar  
    165. Kaum Musvrikin vana Tewas di Perana Badar  
    166. Tawanan Porang Badar T
    167. Perang Sawiq (Tepung)  
    168. Perang Dzi Amar  
    169. Perana Al-Furu' di Bahran  
    170. Tentana Bani Qainuaa'  
    171. Ekspedisi Zaid bin Haritsah ke Al-Qaradah  
    172. Terbunuhnva Ka'ab bin Al-Asvraf g
    173. Tentana Muhavvishah dan Huwavvishah
    174. Perana Uhud
    175. Perana Hamra'al-Asad
    176. Avat-avat Al-Quran vana Turun tentana Perana Uhud  
    177. Kalanaan Muharin dan Anshar vana Meniadi Svuhada  
    178. Korban Tewas Kaum Musvrikin di Perana Uhud  
    179. Traaedi Ar-Ra' Tahun Ketiaa Hrivah A J i
    180. Traaedi Bi'ru Ma'unah Bulan Shafar Tahun Keempat Hrivah A
    181. Penaepunaan dan Penausiran Bani An-Nadhir Tahun Keempat Hrivah ™
    182. Perana Dzatu ar-Riaa' Tahun Keempat Hrivah  
    183. Perang Badar Terakhir Bulan Sva'ban Tahun Keempat Hrivah  
    184. Peranq Daumatul Jandal Bulan Rabiul Awwal Tahun Kelima Hijriyah  
    185. Perana Khandaq Bulan Svawwal Tahun Kelima Hriyah  
    186. Peranq Bani Quraizhah Tahun Kelima Hriyah  
    187. Pembaqian Fa'i Bani Quraizhah  
    188. Svuhada Kaum Muslimin Yanq Guqur di Peranq Khandaq  
    189. Korban Tewas Kaum Musvrikin di Peranq Khandaq  
    190. Svuhada Kaum Muslimin Yanq Guqur di Peranq Bani Quraizhah  
    191. Sallam bin Abu al-Huqaiq pun Tewas  
    192. Amr bin Ash dan Khalid bin Walid Masuk Islam  
    193. Peranq Bani Lahvan  
    194. Peranq Dzu Qarad  
    195. Uan Bin al-Akwa'di Peranq Ini  
    196. Julukan Kuda-kuda Kaum Muslimin  
    197. Oranq-oranq yanq Tewas dari Kaum Musvrikin  
    198. Peranq Bani Mushthaliq  
    199. Perialanan Rasulullah untuk Meniauhkan Mereka dari Kasak Kusuk Fitnah  
    200. Berita Dari Rasulullah tentanq Kematian Rifa'ah  
    201. Permintaan Anak Abdullah bin Ubav Salul untuk Meniadikan Dirinya oranq yanq Membunuh
    202. Ayahnya dan Pemaafan Rasul f
    203. Tentanq Miqyas bin Shubabah dan Tipu Muslihatnya dalam Balas Dendam atas Kematian
    204. Saudaranya dan Svair yanq Dilantunkannva  
    205. Kortoan-korban tewas dari Bani Al-Mushthaliq  
    206. Berita Bohonq Yanq Menqhebohkan pada Bani al-Mushtaliq Tahun Keenam Hriyah: Aisvah
    207. Difitnah Berselinqkuh  
    208. Abu Awub dan Ucapannya tentanq Bebasnya Diri Aisvah dari Tuduhan  
    209. Ayat Al-Quran yanq Turun Menqenai Hal Ini  
    210. Perianan Hudaibivah Pada Akhir Tahun Keenam Hriyah dan Peristiwa Baiatur Ridhwan
    211. Serta Perianan Antara Rasulullah dan Sahl bin Amr  
    212. Sahabat Yanq Mencari Air Denqan Anak Panah Dari Rasulullah  
    213. Mikraz Utusan Quraisv Menemui Rasulullah  
    214. Al-Hulais bin Alqamah Utusan Quraisv kepada Rasulullah  
    215. Urwah bin Mas'ud Ats-Tsaqafi Utusan Quraisv kepada Rasulullah  
    216. Khirasv Utusan Rasulullah kepada oranq-oranq Quraisv  
    217. Mata-mata Quraivs vanq Dikirim untuk Mencuri Informasi tentanq Rasulullah
    218. yanq Kemudian Diampuni  
    219. Utsman bin Affan Radhivallahu Anhu Utusan Muhammad kepada Oranq-oranq Quraisv  
    220. Bai'atur Ridhwan  
    221. Oranq Yanq Tidak ikut Berbaiat  
    222. Peristiwa Geniatan Seniata  
    223. Ali Sebaqai Penulis Svarat-svarat Perianan Damai
    224. Saksi-saksi Perianan Perdamaian cQI
    225. Turunnya Surat Al Fath  
    226. Nasib Oranq-oranq vanq Lemah di Makkah Pasca Ditandatanqaninva Perianan Hudaibivah
    227. Wanita-Wanita Mukminah vanq Hrah Pasca Penanda Tanqanan Perianan Hudaibivah  
    228. Keberanqkatan Menuiu Khaibar Pada Bulan Muharram Tahun Ketuiuh Hriyah  
    229. Temoat-temoat vanq disinqqahi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Sallam Saat Keberanqkatannva
    230. Menuiu Khaibar  
    231. Penaklukan Bentenq-bentenq Khaibar  
    232. Hal-hal Yanq Dilaranq Rasulullah di Khaibar  
    233. Tewasnya Marhab Si Yahudi  
    234. Yasir Saudara Marhab pun Tewas  
    235. Ali bin Abu Thalib Radhivallahu Anhu Pada Peranq Khaibar  
    236. Abu Al-Yasar Ka'ab bin Amr  
    237. Tentanq Ummul Mu'minin Shafiyah binti Huvav bin Akhthab Radhivallahu Anha  
    238. Beberapa Hal vanq Tersisa dari Peristiwa Khaibar  
    239. Perihal Domba Beracun  
    240. Perihal Terbunuhnya Budak Rifa'ah yanq Dihadiahkan Kepada Rasulullah  
    241. Ibnu Muqhaffal dan Sekantonq Lemak vanq Dia Dapatkan  
    242. Resepsi Pernikahan Rasulullah denqan Shafiyah dan Peniaqaan Abu Ayyub terhadap Tenda 
    243. Para Wanita Kaum Muslimin yanq Ikut di Peranq Khaibar dan Peristiwa Wanita Ghifariyah 
    244. Syuhada'Khaibar  
    245. Kisah Al-Aswad Sanq Penqqembala Pada Peranq Khaibar  
    246. Tentanq Al-Haai bin Hath al-Sulami   
    247. Pembaqian Harta Khaibar  
    248. Gandum dari Khaibar yanq Dibaqikan Oleh Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam
    249. Kepada Para isterinya  
    250. Tentanq Fadak dalam Berita Khaibar  
    251. Nama-nama Dariyyin yanq Mendapatkan Wasiat dari Rasulullah untuk Mendapatkan
    252. Harta Khaibar  
    253. Tentanq Kedatanqan Ja'far bin Abi Thalib dari Habasvah dan Kisah Tentanq Oranq-oranq
    254. yanq Hrah ke Habasvah  
    255. Nama-nama Oranq yanq Hrah dan Anak-anak Mereka vanq Meninqqal Dunia di Habasvah 
    256. Inilah nama anak-anak kaum Muslimin yanq lahir di Habasvah  
    257. Umrah Pada Bulan Dzul Qa'dah Tahun Ketuiuh Hriyah  
    258. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Menikah denqan Maimunah  
    259. Peranq Mu'tah Bulan Jumadal Ula Tahun Kedelapan dan Terbunuhnya Ja'far, Zaid dan Ibnu Rawahah  
    260. Pertempuran Kaum Muslimin denqan Pasukan Romawi  
    261. Zaid bin Haritsah Radhivallahu Anhu Guqur sebaqai Svahid  
    262. Kepeminpinan dan Syahidnya Ja'far  
    263. Komando Abdullah bin Rawahah Radhivallahu Anhu dan Kematiannya  
    264. Berita Dari Rasulullah Tentanq Apa yanq Terjadi Pada Kaum Muslimin dan Oranq Romawi 
    265. Duka Cita Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Atas Meninaaalnva Ja'far dan
    266. wasiat-wasiatnya untuk Keluaraanya  
    267. Dukun wanita Hadas dan Perinaatan Atas Kaumnya  
    268. Pasukan Islam Pulana Ke Madinah, Sambutan Rasulullah serta Kemarahan Kaum Muslimin
    269. Svuhada' Mu'tah Inilah nama-nama svuhada' kaum Muslimin di Perana Mu'tah  
    270. Faktor-Faktor yana Mendorona Keberanakatan ke Makkah dan Pembukaan Kota Makkah
    271. Pada Bulan Ramadhan Tahun ke  Hriyah  
    272. Kabilah Khuza'ah Meminta Perlindunaan dari Rasulullah  
    273. Keberanakatan Rasulullah Bersama Pasukan Kaum Muslimin dan Dianakatnva Abu Ruhm
    274. Sebaaai Penaaanti Imam  
    275. Abu Sufvan bin Al-Harits dan Abdullah bin Abu Umaivvah Masuk Islam  
    276. Parade Pasukan Islam di Depan Abu Sufvan  
    277. Abu Quhafah Masuk Islam  
    278. Pasukan Islam Memasuki Makkah  
    279. Sandi Pasukan Islam pada Pembukaan Makkah, Perana Hunain dan Thaif  
    280. Orana-orana vana Diperintahkan Aaar Dibunuh oleh Rasulullah  
    281. Rasulullah Thawaf di Baitullah dan Ucapannva di dalam Ka'bah  
    282. Kekhawatiran Orana-orana Anshar Akan Menetapnya Kembali Rasulullah di Makkah
    283. dan Upava Rasulullah Menenanakan Mereka  
    284. Roboh dan Runtuhnya Berhala-berhala denaan Isvarat Rasulullah  
    285. Jalan Fadhalah Masuk Islam
    286. Para Pemuka Makkah Masuk Islam
    287. Hubairah Tetap Dalam Kekafirannya dan Svair Yana dibuat Olehnya tentana Isterinya
    288. Ummu Hani Yana Masuk Islam
    289. Jumlah Kaum Muslimin Yana Menahadiri Pembebasan Makkah  
    290. Abbas bin Mirdas meniadi Seorana Muslim  
    291. Keberanakatan Khalid bin Walid Pasca Pembebasan Makkah ke Bam Jadzimah dan
    292. Kinanah dan Perialanan Ali untuk Menaoreksi Kesalahan Khalid
    293. Perialanan Khalid bin Walid untuk Menahancurkan Berhala Al-Uzza  
    294. Perana Hunain Tahun Kedelapan Hriyah Pasca Pembebasan Kota Makkah
    295. Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam Meminiam Baiu Besi Milik Shafwan bin Umayah dan Seniatanya
    296. Pohon Dzatu Anwath DD A
    297. Pertemuan denaan Hawazin dan Keteaaran Rasulullah dan para Sahabatnva  
    298. Keaaaalan Rencana Svaibah bin Utsman Membunuh Rasulullah  
    299. Tentana Ummu Sulaim  
    300. Abu Qatadah dan Hasil Rampasannya  
    301. Kekalahan Orana-orana Khawazin dan Kehadiran Malaikat di Medan Perana  
    302. Terbunuhnya Duraid bin Ash-Shimah  
    303. Bad dan Svaima' Saudari Sesusuan Rasulullah  
    304. Perana Thaif Setelah Perana Hunain Tahun Kedelapan Hriyah  
    305. Perjalanan Menuju Thaif  
    306. Perundinaan Bersama Orana-orana Tsaaif  
    307. Keberanakatan Kaum Muslimin dan Penyebabnya  
    308. Hamba-hamba Sahava di Thaif Menemui Kaum Muslimin  
    309. Kaum Muslimin Yana Guaur pada Perana Thaif  
    310. Harta Dan Tawanan Hawazin Dan Jatah Para Muallaf Serta Pemberian Rasulullah  
    311. Malik bin Auf An-Nashri Masuk Islam  
    312. Pembaaian Fa'i Suku Hawazin  
    313. Umrah Rasulullah dari Ji'ranah dan Penuniukan Attab bin Usaid Sebaaai Wakilnya di Mekkah  
    314. Perang Tabuk Bulan Raiab Tahun Kesembilan Hriyah  
    315. Orana-orana Munafik  
    316. Kondisi Ali Pada Perana Tabuk  
    317. Nabi dan Kaum Muslimin di Hr  
    318. Abu Dzar al-Ghifari  
    319. Surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Pada Johannes  
    320. Penawanan Ukaidir dan Perdamaian Denaannya  
    321. Ulah Kaum Munafik  
    322. Masd Dhirar Sepulananya Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam dari Perana T abuk  
    323. Tentana Tiaa Sahabat vana Tidak Ikut Beranakat ke Tabuk dan Orana-orana vana
    324. Dzlnkan untuk Tidak Ikut Beranakat  
    325. Utusan Tsaaif dan Keislaman Mereka Pada Bulan Ramadhan Tahun Kesembilan Hriyah  
    326. Penahancuran Berhala Ai-Lata  
    327. Surat Rasulullah kepada Penduduk Tsaaif  
    328. Abu Bakar Bakar Menunaikan Ha Bersama Manusia Tahun Sembilan Hriyah Penqkhu susan
    329. Ali Kin A ki Tholik i inti il/ l\ /I n nx /o m mil/on "Dorook" rlorinx/o rlon Donx/oki iton Qrot Doro'oh
    330. Serta Kisah Penafsirannya  
    331. Ayat vana Turun Menaenai Jihad Melawan Orana-orana Musyrik  
    332. Ayat vana Turun tentana An-Nasi'u  
    333. Ayat vana Turun tentana Orana-orana Munafik  
    334. Ayat Al-Qur an Yana Turun tentana Penerima Zakat  
    335. Ayat Al-Qur an yana Turun Karena Nabi Mensalatkan Abdullah bin Ubav  
    336. Ayat-avat Yana Turun Menaenai Orana Arab Badui   
    337. Tahun Kesembilan Hriyah Sebab-Sebab Dinamakan Sebaaai Tahun Utusan dan Turunnya
    338. Surat Al-Fath  
    339. Kedatanaan Utusan Bani Tamim Dan Turunnya Surat Al Huiurat  
    340. Para Penqhuni Kamar  
    341. Kisah Amir Bin Thufail dan Arbad Bin Qais Dalam Utusan Bani Amir
    342. Kedatanaan Dhimam Bin Tsa'labah Sebaaai Utus an Dari Bani Sa'ad Bin Bakr  
    343. Kedatangan Al Jarud Bersama Utusan Abdul Qais
    344. Kedatangan Utusan Bani Hanifah Bersama Musail amah Al-Kadzdzab
    345. Kedatanaan Zaid Al-Khail Bersama Utusan Thayyi'
    346. Adi Bin Hatim
    347. Kedatanqan Farwah Bin Musaik Al-Muradi
    348. Kedatanaan Amr Bin Ma'di Yakrib Bersama Beberapa Or anq dari Bani Zubaid
    349. Kedatanqan Al Asv'ats Bin Qais Bersam a Utusan Kindah
    350. Kedatanqan Shurad bin Abdullah Al-Azdi
    351. Masuk Islamnva Penduduk Jurasy 
    352. Kedatanqan Utusan Raia-raia Himvar denqan Suratnva
    353. Pesan Pentinq Rasulullah ke pada Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu Sebelum
    354. Keberanqkatannva ke Yaman
    355. Farwah bin Amr Al-Judzami Memeluk Islam
    356. Bani Al-Harits bin Masuk Memeluk Islam di Depan Khalid bin Walid Tatkala ia Perqi Ke Tempat Mereka  
    357. Pesan Rasulullah kepada Amr bin Hazm  
    358. Kedatanqan Rifa'ah bin Zaid Al-Judzami  
    359. Kedatanqan Utusan Hamdan
    360. Surat Rasul tentanq Laranqan Pada Penduduk Janab
    361. Perihal Dua Oranq Pendusta Musailamah Al-Hanafi Dan Al-Aswad Al-Ansi  
    362. Keberanqkatan Para Gubernur Dan Petuqas Penarik Zakat  
    363. Surat Musailamah Al-Kadzdzab Kepada Rasulullah dan Surat Balasan Beliau Kepadanva  
    364. Ha Wada'(Terakhir)  
    365. Ali bin Abu Thalib Berpapasan denqan Rasulullah di Ha Sepulanqnva dari Yaman  
    366. Khutbah Rasulullah di Haji Wada'  
    367. Rasulullah Memperlihatkan Manasik kepada Manusia dan Menqaiarkan Faraidh-Faraidh Allah ....  
    368. Penqiriman Usamah Bin Zaid ke Palestina  
    369. Keberanqkatan Para Duta Rasulullah Kepada Para Raia  
    370. Nama-nama Para Utusan Nabi Isa bin Marvam 'Alaihis-Salam  
    371. Jumlah Peranq Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam  
    372. Jumlah Sarivah (Pasukan Tempur) Dan Misi Rasulullah  
  2. Kembali ke: Terjemah Sirah Ibnu Hisyam

Bab 4 Rahmatan Lil Alamin: 

Diutusnya Muhammad Sebagai Nabi dan Rasul serta Turunnya Al-Qur'an secara Bertahap-Tahap Mengiringi Peristiwa Kehidupannya sebagai Utusan Allah
 



Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Muhammad, Rasulullah Shallahahu 'Alaihi wa Sallam berumur empat puluh tahun, Allah Yang Maha tinggi mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta, dan pembawa kabar gembira bagi seluruh umat manusia. Sebelum beliau di utus, Allah telah mengambil perjanjian kepada seluruh nabi supaya mereka beriman kepadanya, membenarkannya, dan menolongnya menghadapi orang-orang yang memusuhinya. Allah juga mengambil perjanjian dari mereka supaya mereka mengabarkan hal tersebut kepada orang-orang beriman dan membenarkan mereka sehingga kebenaran dapat ditegakkan. Allah Ta'ala berfirman kepada Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam:


Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yangAku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." (QS. Ali Imran: 81).
Allah mengambil perjanjian dari semua nabi supaya mereka membenarkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, menyertainya dalam menghadapi orang-orang yang memusuhinya, dan menyampaikan perjanjian kepada orang-orang yang beriman kepada mereka, dan membenarkan mereka di antara pengikut, dua kitab suci ini, Taurat dan Injil.
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri telah menyebutkan dari Urwah bin Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Aisyah berkata kepada Urwah: "Sesungguhnya wahyu yang pertama kali yang diterima Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ketika Allah berkehendak memuliakannya dan memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya dengannya ialah mimpi yang benar. Dan tidaklah beliau bermimpi da- lam tidurnya, kecuali pasti beliau melihatnya laksana rekahan sinar pagi."
Aisyah berkata: "Mulai saat itu, Allah menjadikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam suka menyendiri dan tidak ada pekerjaan yang lebih disukainya lebih dari menyendiri (khalwat)."
Ibnu Ishaq berkata: Abdul Malik bin Ubaidillah bin Abu Suf bin Al-Ala' bin Jariyah Ats-Tsaqafi berkata kepadaku dan ia mendengar dari beberapa orang-orang yang berilmu: "Sesungguhnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ketika Allah berkehendak memuliakannya dan menganugrahkan kena- bian padanya, dan beliau ingin keluar untuk buang hajat, beliau pergi ke tempat yang jauh dari rumah- rumah penduduk hingga berhenti di Syi'ab Mekkah, dan lembah-lembahnya. Dan tidaklah sekali-kali Rasulullah melewati sebongkah batu dan sebatang pohon kecuali keduanya pasti berkata: "As- Salaamu Alaika ya Rasulullah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menoleh ke sekitarnya; kanan, kiri, dan belakang namun tidak melihat apapun kecuali pohon dan batu. Kondisi keadaan ini terus-
 
menerus terjadi bermimpi dan mendengar salam hingga Jibril datang kepada beliau dengan membawa kemuliaan dari Allah ketika beliau berada di Gua Hira pada bulan Ramadhan yang mulia.
Ibnu Ishaq berkata: Wahb bin Kaisan, mantan budak keluarga Zubair berkata kepadaku bahwa aku mendengar Abdullah bin Zubair berkata kepada Ubaid bin Umair bin Qatadah Al-Laitsi: "Hai Ubaid, tuturkanlah kepada kami, bagaimana keadaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat pertama kali menerima wahyu ketika Malaikat Jibril datang padanya!" Wahb bin Kaisan berkata: Kemudian Ubayd berkata ketika itu aku hadir berbicara dengan Abdullah bin Zubair dan orang-orang yang ada di sekitar Abdullah bin Zubair. "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyendiri di Gua Hira' selama sebulan setiap tahunnya. Seperti itulah bentuk tahannuts yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy pada zaman jahiliyah. Arti tahannuts adalah pembersihan diri (tabarrur).
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abu Thalib berkata:
Demi Tsaur dan Yang menggangtikan Tsabir pada di tempatnya Serta demi orang yang naik ke gunung Hira dan menuruninya

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abu Ubaidah berkata bahwa orang-orang Arab berkata: At-Tahannuts dan At-Tahannuf maksudnya ialah Al-Hanafiyyah. Mereka mengganti huruf ‘a pada kata At-Tahannuf dengan huruf tsa’ maka jadilah ia At-Tahannuts. Ini sama seperti saat mereka mengatakan Jadaf dan jadats, dimana arti keduanya adalah sama yaitu kuburan. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata dalam syairnya:
Seandainya batu-batuku bersama ajdaaf, maksudnya al-ajdaats.
Bait syair di atas dapat dijumpai pada kumpulan syair Ru'bah bin Al-Ajjaj, sedang bait Abu Thalib di atas ada pada kumpulan syairnya yang, Insya Allah, akan saya paparkan pada tempatnya.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah bertutur kepadaku, bahwa orang-orang Arab berkata: "Fumma sebagai ganti kata Tsumma." Mereka mengganti huruf fa' dengan huruf tsa.
Ibnu Ishaq berkata: Wahb bin Kaisan ber- cerita kepadaku, bahwa Ubaid berkata: Pada bulan itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiam diri di Gua Hira sebagaimana biasa dilakukannya setiap tahun. Beliau senantiasa menyuguhkan makanan kepada orang-orang miskin yang datang kepada beliau. Usai melakukan hal itu, beliau pergi ke Ka'bah untuk melakukan thawaf (mengitari Ka'bah) sebanyak tujuh kali atau lebih, baru kemudian beliau pulang ke rumah. Begitulah yang terus terjadi hingga Allah mengutusnya sebagai seorang Nabi pada bulan Ramadhan. Saat itu, beliau berangkat ke Gua Hira dengan disertai istrinya. Malam itu, Allah memuliakan beliau dengan menganugerahkan kerasulan dan merahmati hamba-hamba-Nya dengan rahmat itu. Malaikat Jibril datang dengan membawa perintah Allah Ta'ala. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Jibril mendatangiku saat aku tidur dengan membawa secarik kain sutera yang di dalamnya terdapat tulisan." Malaikat Jibril berkata: "Ba- calah!" Aku berkata: "Aku tidak bisa membaca." Malaikat Jibril mendekapku dengan kain sutera tersebut hingga aku merasa seolah-olah sudah mati kemudian ia melepasku dan berkata: "Bacalah!" Aku menjawab: "Apa yang mesti aku baca?" Malaikat Jibril mendekapku dengan kain sutera itu hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, kemudian ia melepasku kembali dan berkata: "Bacalah!" Aku berkata: "Apa yang mesti aku baca?" Jibril kembali mendekap kembali diri dengan sangat kencang dengan kain sutera tersebut hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, kemudian ia melepasku, dan berkata: "Bacalah!" Aku berkata: "Apa yang mesti aku baca?" Aku katakan itu dengan harapan ia melepasku sebagaimana yang sebelumnya ia lakukan terhadap diriku. Lalu ia berkata:

 
 


'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan mulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq: 1- 5).
Aku pun apa yang ia baca kemudian setelah selesai Jibril pergi meninggalkanku dan aku bangun dari tidurku dan kurasakan jida sesuatu yang tertulis dalam hatiku. Lalu aku keluar dari Gua Hira. Ketika aku berada di tengah-tengah gunung, tiba-tiba kudengar sebuah suara dari langit: "Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah sedangkan aku adalah Jibril." Aku dongakkan kepalaku ke langit, saat itu kulihat Jibril dalam sosok seorang laki-laki yang membentangkan kedua kakinya ke ufuk langit. Jibril berkata lagi: "Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah sedangkan aku adalah Jibril." Aku berdiri melihatnya di tempat bagaikan patung. Aku arahkan pandanganku pada di ufuk langit yang lain, tidaklah aku mengarahkan pandanganku ke arah mana pun kecuali aku lihat dia berada di sana. Aku berdiri diam terpana bagaikan patung hingga akhirnya istriku Khadijah mengirim pelayan-pelayannya untuk mencariku. Mereka tiba di Mekkah atas dan kembali pada Khadijah, sementara aku tetap berada di tempatku semula. Lalu diapun menghilang dariku.
Aku pulang menemui istriku Khadijah, aku berbaring di pahanya bersandar merapat padanya. Khadijah berkata: "Wahai suamiku, semalam kau kemana saja? Aku telah mengirim orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah Atas, kemudian pulang dengan tangan hampa." Maka aku ceritakan kepada Khadijah peristiwa yang baru saja aku alami. Khadijah berkata: "Suamiku, bergembiralah, dan kokohlah. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di Tangan-Nya, ku harap engkau diangkat menjadi Nabi untuk umat ini."
Khadijah bangkit lalu membereskan pakaiannya kemudian pergi ke kediaman Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, saudara sepupunya. Waraqah adalah seorang penganut agama Kristen yang mengkaji kitab-kitab agama ini dan banyak belajar dari orang-orang Yahudi dan Kristen. Khadijah memerintahkan kepada Waraqah persis seperti yang dituturkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, bahwa beliau melihat dan mendengar sesuatu. Waraqah bin Naufal berkata: "Quddus, Quddus (Maha Tuhan) Allah, Demi Dzat yang jiwa Waraqah ada di Tangan-Nya, jika semua yang engkau tuturkan benar, wahai Khadijah, sungguh dia telah didatangi Jibril (Namus) yang dahulu pernah datang kepada Musa. Dia adalah Nabi untuk umat ini. Katakanlah padanya hendaknya ia bersabar." Lalu Khadijah pulang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menceritakan apa yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah. Usai melakukan khalwat di Gua Hira', Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beraktivitas seperti biasanya. Beliau pergi ke Ka'bah lalu thawaf. Saat sedang thawaf itulah, beliau bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Waraqah bin Naufal berkata: "Wahai sepupuku, tuturkanlah kepadaku apa yang engkau lihat dan dengar!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menuturkan apa yang beliau lihat dan dengar kepada Waraqah bin Naufal. Waraqah bin Naufal berkata: "Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh engkau adalah Nabi untuk umat ini. Sungguh Jibril yang dahulu pernah datang kepada Musa kini telah datang kembali padamu. Engkau pasti akan didustakan, disakiti, diusir, dan diperangi. Seandainya aku masih hidup pada hari itu, pasti aku menolong Allah dengan pertolongan yang diketahui-Nya." Kemudian Waraqah bin Naufal mencium ubun- ubun beliau. Setelah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali ke rumahnya.19
 
19    HR. Thabrani (1/535) dalam Tarikhnya, Baihaqi dalam al-Dalail pada hadits no. 451 dari Abu Ishaq Ubaid bin Umair: Disebutkan oleh Imam Bukhari bahwa Nabi bermimpi dan disebutkan oleh Imam Muslim tentang orang yang iahir di zamannya, bahwa Rasulullah tidak bermimpi. Dia termasuk salah seorang tabiin. Dengan demikian haditsnya adalah mursal. Ini disebutkan oleh penulis buku al-Tahshil fi Ahkam al-Marasil (1/234)
Ibnu Ishaq berkata: Ismail bin Abu Hakim, mantan budak keluarga Zubair berkata kepadaku bahwa ia diberitahu dari Khadijah Rhadhiyallahu Anha, "Khadijah berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai suami, bisakah engkau bertutur padaku tentang sahabatmu (maksudnya Jibril) tatkala datang kepadamu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya." Khadijah berkata: "Apabila ia datang lagi kepadamu, tolong beritahu aku!" Tak lama kemudian Jibril datang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam seperti yang biasa dia lakukan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada Khadijah: "Wahai istriku, ini Jibril, ia datang kepadaku." Khadijah berkata: "Suamiku, berdirilah dan berbaringlah di atas paha kiriku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri lalu berbaring di atas paha kiri Khadijah. Khadijah berkata: "Apakah engkau melihatnya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya." Khadijah berkata: "Ubahlah posisi dudukmu, berbaringlah di paha kananku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengubah posisi duduknya dengan cara duduk di atas paha kanan Khadijah. Khadijah berkata: "Masihkan engkau melihatnya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya." Khadijah berkata: "Ganti posisimu dan berbaring di atas pangkuanku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengganti posisinya dengan berbaring di atas pangkuan Khadijah. Khadijah berkata: "Masihkah engkau melihatnya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya." Kemudian Khadijah melepas pakainnya serta menanggalkan kerudungnya, sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masih tetap berbaring di atas pangkuannya. Khadijah berkata: "Masihkah engkau melihatnya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Tidak." Khadijah berkata: "Wahai sepupuku, tabahlah dan bergembiralah. Demi Allah, dia adalah malaikat dan bukan setan."20
20    HR. Thabrani (1/533) dalam Tarikh-nya dan Baihaqi dalam al-Dalail pada hadits no. 453 dari Ibnu Ishaq dengan sanad mursal

Ibnu Ishaq berkata: Aku pernah mewa- wancarai Abdullah bin Hasan tentang peristiwa di atas. Abdullah bin Hasan berkata: Aku pernah mendengar ibuku, Fathimah binti Husain menceritakan peristiwa tersebut dari Khadijah hanya saja aku pernah mendengar ibuku berkata: Khadijah memasukkan Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam ke dalam daster miliknya, pada saat itulah Jibril meng- hilang dari hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Khadijah berkata Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya ini pasti malaikat, bukan setan."



Awal Turunnya Al-Quran


Ibnu Ishaq berkata: Kali pertama Al-Qur'an turun kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah pada bulan Ramadhan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

 
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. al-Baqarah: 185).
Allah berfirman:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al- Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. al- Qadr: 1-5).
Allah berfirman:



Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul. (QS. ad- Dukhkhan: 1-5).
Allah berfirman:


Jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di Hari Furgaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. (QS. al-Anfal: 41).
Yaitu bertemunya Rasulullah Shalla- lahu 'alaihi wa Sallam dengan orang-orang musyrikin di Perang Badar.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain berkata kepadaku:
Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam berperang melawan orang-orang musyrikin di Badar pada hari Jum'at dini hari, tanggal 17 Ramadhan.
 
Ibnu Ishaq berkata: wahyu kemudian turun kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertahap- tahap dan beliau beriman kepada Allah dan membenarkan sepenuhnya apa yang datang kepada beliau, menerimanya dengan sepenuh jiwa, bersabar terhadapnya menanggung semua resikonya baik mendapatkan keridhaan atau kemarahan manusia. Kenabian adalah beban berat yang hanya mampu diemban oleh orang yang kuat dan memiliki tekad baja seperti para rasul karena pertolongan Allah Ta'ala dan taufik-Nya, dalam menghadapi gangguan oleh manusia, dan penolakan kaumnya terhadap apa yang mereka bawa dari Allah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melangkah kokoh dan tegar dalam menunaikan perintah Allah walaupun mendapatkan tantangan dan gangguan dari ummatnya.



Khadijah Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid mengimani Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan membenarkan seluruh yang beliau bawa dari Allah serta memberikan dukungan sepenuhnya dalam melaksanakan perintah Allah. Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta membenarkan apa yang beliau bawa dari Allah. Dengan masuk Islamnya Khadijah binti Khuwailid, beban Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam semakin ringan. Jika Rasulullah mendengar umpatan dan caci maki terhadap beliau yang membuatnya sedih, Allah menghilangkan kesedihan itu melalui Khadijah binti Khuwailid saat beliau kembali padanya. Khadijah Khuwailid memotivasi beliau, meringankan bebannya, membenarkannya, dan menganggap remeh reaksi negatif manusia terhadap beliau. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Khadijah binti Khuwailid.
Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya, Urwah bin Zubair dari Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Aku membawa kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara yang berlubang) yang di dalamnya tidak ada suara riuh dan kelelahan.21
Ibnu Hisyam berkata: Qashab ialah mutiara yang berlubang.
21    Hadits shahih diriwayatkan Imam Ahmad pada hadits no. 1758 dan al-Hakim pada hadits no. 4849. Hadits ini dinyatakan shahih dan dikokohkan oleh Adz- Dzahabi. Hadits memiliki syawahid (penguat) dalam Shahihain dari hadits Aisyah dan Abu Hurairah serta Ibnu Abi Afwa.






Jibril Menyampaikan Salam Allah kepada Khadijah Radhiyallahu Anha


Ibnu Hisyam berkata: Seorang ahli terpercaya berkata kepadaku: Jibril berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai Khadijah, ini dia Jibril menyampaikan salam dari Tuhanmu." Khadijah berkata: "Allah adalah kesejahteraan (Salam), dari-Nya kesejahteraan(salam), dan kesejahteraan(salam) juga atas Malaikat Jibril."22
22    HR. Al-Thabrani dalam dl-Kdbiirpada hadits 18979 dan Al-Haitsami dalam al-Majma' pada hadits 15273. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Thabrani dan dalam sanadnya ada Muhammad bin al-Hasan bin Zabalah, dia dikenal sebagai perawi yang lemah.
 
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian wahyu terputus dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sehingga rasa sedih melanda Rasulullah. Setelah itu Jibril mengunjungi Rasulullah dengan membawa surat Adh- Dhuha. Di dalamnya Allah bersumpah dengannya Allah yang memuliakannya dengannya bersumpah kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkannya dan tidak membencinya. Allah Ta'ala berfirman:


Demi waktu matahanri sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu (QS. adh-Dhuha: 1-3).
Yakni Tuhanmu tidak membiarkanmu, tidak pula meninggalkanmu, tidak membencimu sejak Dia mencintaimu. Allah Ta'ala berfirman:


Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. (QS. adh-Dhuha: 4).
Yakni, sesungguhnya kembalimu kepada-Ku itu jauh lebih baik daripada kenikmatan yang Aku berikan kepadamu di dunia.


Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu kamu menjadi puas. (QS. adh- Dhuha: 5).
Yakni, engkau puas dengan keberuntung- an di dunia dan ganjaran di akhirat.


Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (QS. adh-Dhuha: 6-8).
Melalui ayat-ayat di atas Allah mengabarkan kemulian yang Dia karuniakan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di dunia, juga karunia-Nya pada saat beliau yatim, miskin, tersesat, dan Allah menyelamatkan semua itu dengan rahmat-Nya.
Ibnu Hisyam berkata: Sajaa artinya senyap. Umayyah bin Abu Ash-Shalt Ats-Tsaqafi berkata:
Tatkala dia datang di malam hari sahabatku telah tidur pulas Dan malam telah terliput senyap dengan gelap gulita
 
Bait syair tersebut adalah penggalan dari syair-syair Umayyah bin Ash-Shalt Ats-Tsa- qafi. Kau bisa katakan bahwa apabila mata kelopaknya diam ia disebut sajiyah. Jarir bin al-Khathafa berkata:
Dia telah memanahmu laksana memejamkan mata Membunuhmu di antara celah belahan tirai

Bait ini penggalan syair miliknya. Sedangkan Al-'Ailu dalam ayat tadi artinya fakir. Abu Khiras Al-Hudzali berkata:
Orang miskin berlindung dalam rumahnya kala musim dingin tiba
Dan yang sesat serta berpakaian lusuh fakir datang berteriak bak anjing

Jamaknya Aalah atau Uyyal. Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Abu Khiras AI-Hudzali dan secara lengkap, Insya Allah, akan saya paparkan nanti. Al-Aailu juga berarti orang yang menanggung beban, dan orang yang penakut. Disebutkan dalam Al- Qur'an:


Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat zalim. ' (QS. an-Nisa': 3). Abu Thalib berkata:
Dengan neraca keadilan tanpa mengurangi sebutir gandum pun Ada saksi dari dirinya yang tiada berbuat zalim
Bait di atas adalah penggalan dari syair- syair Abu Thalib dan secara lengkap, insyaal- lah, akan saya sebutkan di tempatnya.
Al-Aailu berarti pula sesuatu yang memberatkan dan melelahkan. Seseorang berkata: "Qad 'aalani hadza al-amru" Artinya perkara ini memberatkan dan membuat lelah. Al-Farazdaq berkata:
Kau lihat tokoh utama orang Quraisy
Bila tampil perkara baru maka ia memberatkannya

Bait tersebut di atas adalah penggalan syair-syair Al-Farazdaq. Firman Allah:
Adapun terhadap anakyatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. (QS. Ad-Dhuha: 9-10).
Yakni, janganlah engkau menyombongkan diri, keji dan berucap kasar kepada hamba Allah yang lemah.
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hen- daklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (QS. Adh-Dhuha: 11).
Yakni, nikmat Allah dan kemuliaan dalam berupa kenabian yang Allah karuniakan kepadamu hendaklah engkau jelaskan dan engkau ajak orang lain kepadanya.
 
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya dan kepada hamba-hamba Allah yang lain secara diam-diam termasuk keluarganya yang dia merasa aman dan percaya.



Permulaan Diwajibkannya Shalat


Shalat pun diwajibkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beliau menunaikannya. Semoga salam, rahmat dan berkah-Nya terlimpah padanya.
Ibnu Ishaq berkarta: Shalih bin Kaisan berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata: Kali pertama, shalat diwajibkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam adalah dua rakaat setiap kali shalat, kemudian Allah menyempurnakannya dengan menjadikan shalat itu empat rakaat bagi orang muqim dan menetapkannya dua rakaat seperti sejak awalnya bagi seorang musafir.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian pakar berkata kepadaku: Saat pertama kali shalat diwajibkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, malaikat Jibril mendatangi beliau di atas gunung Makkah. Malaikat Jibril mengisyaratkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan tumitnya di lembah dan dari lembah itulah memancarlah mata air. Kemudian Malaikat Jibril berwudhu sementara itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihatnya untuk mengajari Rasulullah bagaimana cara bersuci untuk shalat, kemudian beliau berwudhu sebagaimana yang dilakukan Malaikat Jibril. Kemudian Malaikat Jibril berdiri dan shalat, dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam shalat sebagaimana shalatnya Jibril. Kemudian Malaikat Jibril pergi meninggalkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Setelah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali menemui Khadijah lalu berwudhu' untuk mengajarkan kepadanya cara bersuci untuk shalat sebagaimana di ajarkan Malaikat Jibril kepadanya. Khadijahpun berwudhu sebagaimana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berwudhu'. Selanjutnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam shalat seperti Malaikat Jibril shaiat mengimami beliau, dan Khadljah shaiat seperti shaiat Rasulullah.
Ibnu lshaq berkata: Utbah bin Muslim, mantan budak Bani Taim bercerita kepadaku dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im, sedangkan Nafi' meriwayatkan banyak sekali hadits, dari Ibnu Abbas ia berkata: "Ketika shaiat ditetapkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Rasulullah didatangi Malaikat Jibril, lalu dia shaiat mengimami beliau ketika ma- tahari mulai condong ke barat, kemudian Malaikat Jibril mendirikan shaiat Ashar bersamanya saat bayangan suatu benda sama persis sama dengan bendanya, lalu Malaikat Jibril mendirikan shaiat Maghrib ketika matahari telah terbenam, lalu Malaikat Jibril mendirikan shaiat Isya' ketika sinar merah setelah terbenamnya matahari telah hilang, lalu Malaikat Jibril mendirikan shaiat Shubuh ketika fajar menyingsing. Keesokan harinya Malaikat Jibril kembali mendatangi Rasulullah lalu mendirikan shaiat Zhuhur mengimami beliau ketika bayangan sebuah benda persis sama seperti dirinya, kemudian ia mendirikan shaiat Ashar bersama beliau ketika bayangan seseorang dua kali lebih panjang, kemudian Malaikat Jibril mendirikan shaiat Maghrib ketika matahari telah terbenam sama sebagaimana yang dia lakukan kemarin, kemudian Malaikat Jibril mendirikan shaiat Isya' bersama beliau setelah sepertiga malam pertama berlalu, kemudian Malaikat Jibril mendirikan shaiat Shubuh mengimami beliau ketika sedikit terang namun
 
mentari belum menyingsing. Setelah itu, Malaikat Jibril berkata: "Wahai Muhammad, waktu shaiat adalah pertengahan antara shalatmu hari ini dan shalatmu yang kemarin."



Ali bin Abi Thalib Lelaki Pertama yang Masuk Islam


Ibnu lshaq berkata: Laki-laki pertama yang mengimami Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, shaiat bersama beliau, dan membenarkan risalahnya ialah Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Semoga Allah meridhainya. Saat itu ia baru berumur sepuluh tahun.
Di antara nikmat yang di karuniakan Allah kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu adalah hidup langsung di bawah didikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebelum Islam.
Ibnu lshaq berkata: Abdullah bin Abu Najih bercerita kepadaku dari Mujahid bin Jabr Abu Al-Hajjaj yang berkata: Di antara nikmat Allah yang dikaruniakan pada Ali bin Abu Thalib, dan kebaikan yang Allah anugrahkan untuknya, adalah saat orang-orang Quraisy ditimpa krisis berkepanjangan sedang Abu Thalib mempunyai tanggungan menghidupi anak-anaknya yang banyak. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada pamannya Al-Abbas, orang Bani Hasyim yang paling kaya ketika itu: "Wahai Abbas, sesungguhnya saudaramu, Abu Thalib mempunyai banyak tanggungan, sedangkan orang-orang di saat sekarang sedang ditimpa krisis seperti yang engkau saksikan. Marilah kita pergi bersama-sama untuk menemuinya lalu kita ringankan bebannya. Aku membesarkan satu orang anaknya dan engkau juga membesarkan satu orang anaknya daripadanya. Jadi, kita minta dua orang anaknya." Al-Abbas berkata: "Baiklah." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Al-Abbas pergi ke rumah Abu Thalib. Sesampainya di rumah Abu Thalib, keduanya berkata: "Kami berdua ingin meringankan bebanmu sampai krisis yang melanda penduduk Quraisy berakhir." Abu Thalib berkata: "Apabila kalian berdua membiarkan Aqil tetap bersamaku maka lakukanlah apa yang kalian berdua inginkan."
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan bahwa Abu Thalib meminta agar Aqil dan Thalib dibiarkan bersama dirinya.
Ibnu Ishaq berkata:Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengambil Ali dan membawanya ke rumah beliau, sedang Al-Abbas memungut Ja'far dan membawanya ke rumah- nya. Ali tinggal bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai beliau diutus Allah sebagai utusan-Nya. Ali Radhiyallahu Anhu mengikuti beliau, beriman kepada beliau, dan membenarkan beliau. Sementara Ja'far tetap tinggal bersama Al-Abbas hingga ia masuk Islam dan bisa berdikari.23
23.    Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tarikh-nya (1/538) dan Baihaqi dalam al-Dalail pada hadits no. 465 dari Ibnu Ishaq dengan sanad mursal.

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian pakar menuturkan bahwa apabila waktu shalat tiba, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat menuju Syi'b ditemani Ali bin Abu Thalib dengan rahasia dan tidak diketahui oleh ayah Ali, yaitu Abu Thalib, paman-pamannya, dan kaumnya. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Ali bin Abu Thalib mendirikan shalat lima waktu di tempat tersebut. Sore harinya mereka pulang ke rumah. Itulah yang mereka berdua lakukan dalam jangka waktu tertentu hingga akhirnya Abu Thalib memergoki keduanya sedang dalam keadaan shalat. Abu Thalib berkata ber tanya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai anak keponakanku, agama apa yang engkau peluk yang kulihat tadi?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Wahai pamanku ini adalah agama Allah, agama malaikat-Nya, agama para Rasul-Nya dan agama bapak kita Ibrahim,
 
atau sebagaimana Rasulullah sabdakan, "Allah telah mengutus aku sebagai Rasul kepada seluruh hamba-Nya. Sedangkan engkau, wahai pamanku adalah orang yang paling berhak aku nasihati dan aku ajak kepada hidayah ini. Engkaulah sosok yang paling layak menerima dakwahku dan mendukungku di dalamnya." Atau sebagaimana yang beliau sabdakan. Abu Thalib berkata: "Wahai keponakanku, sungguh tidak mungkin bagiku bisa meninggalkan agama leluhurku dan tradisi yang biasa mereka lakukan. Meski begitu, demi Allah, takkan kubiarkan ada seorang pun yang berbuat jahat kepadamu, selagi aku masih ada." Banyakyang mengatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Anakku, agama apakah yang engkau peluk?" Ali bin Abu Thalib menjawab: "Ayah anda, aku telah beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya. Aku membenarkan risalahnya, shalat bersamanya, dan mengikuti beliau." Ada yang mengatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Ali, anaknya: "Jika ia menyerumu pada kebaikan, maka ikutilah dia!"24
24.    Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tarikh-nya (1/538) dengan sanad mursal.






Zaid bin Haritsah Lelaki Kedua yang Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Setelah Ali bin Abi Thalib masuk Islam, kemudian Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abdul Uzza bin Umru Al-Qais Al-Kalbi, mantan budak Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyusulnya menganut agama Islam. Dialah kalangan laki- laki yang pertama kali masuk Islam dan ikut shalat sesudah Ali bin Abu Thalib.
Ibnu Hisyam berkata: Zaid adalah anak Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abdul Uzza bin Umru'u Al- Qais bin Amir bin An- Nu'man bin Amir bin Abdu Wudd bin Auf bin Kinanah bin Bakr bin Auf bin Udzrah bin Zaidullah bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabarah. Diceritakan bahwa Hakim bin Hizam bin Khuwalid pulang dari Syam dengan membawa budak-budak yang di antaranya adalah Zaid bin Haritsah dan seorang anak muda lainnya. Kemudian Khadijah binti Khu- wailid, bibi Hakim, istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang ke rumahnya. Hakim berkata kepada Khadijah: "Wahai bibiku, ambillah di antara anak-anak muda tersebut yang engkau suka, dan ia menjadi milikmu." Khadijah mengambil Zaid lalu membawanya. Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam melihat Zaid ada bersama Khadijah, lalu Rasululah meminta Khadijah menghibahkannya kepadanya. Khadijah pun menghibahkan Zaid kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian beliau memerdekakan Zaid dan mengangkatnya sebagai anak. Ini semua terjadi sebelum wahyu turun kepada beliau.
Ayah Zaid, Haritsah, sangat berduka dan menangis sedu sedan tatkala kehilangan Zaid. Ia berkata: Ku menangis karena Zaid, dan aku tidak tahu bagaimana keadaannya kini
Masihkah dia hidup hingga masih bisa diharapkan atau dia telah temui ajal Demi Allah aku tak tahu namun ku pasti kan mencarinya
Apakah sepeninggalku, dataran rendah atau- kah gunungyang membinasakamnu? Wahai, andai zaman, mempunyai angin yang bolak-balik
Betapa senang hatiku bila engkau kembali kepadaku Kala mentari terbit, ia mengingatkanku pa danya
Dan kala terbenam ia menghadirkan ingatanku padanya Bila angin bertiup, ia menggerakkan ingatanku padanya
Wahai alangkah lamanya dukaku karenanya Ku kan duduk di punggung unta pilihan berkelana ke bumi sungguh-sungguh Ku tak bosan mengembara hingga unta itu bosan
Wahai kehidupan, ataukah telah tiba padaku kematian
 
Semua orang akan mati, walaupun ia tertipu angan

Haritsah datang menjemput Zaid di ru- mah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Beliau bersabda kepada Zaid: "Jika engkau suka, engkau tetap boleh tinggal bersamaku. Namun apabila suka, engkau boleh pulang kembali kepada ayahmu!" Zaid menjawab, "Aku lebih suka tinggal bersamamu." Setelah itu, Zaid tinggal bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga beliau diangkat sebagai Rasul, lalu ia membenarkannya, lalu masuk Islam, dan shalat bersamanya. Pada saat Allah menurunkan firman-Nya, "Panggillah mereka dengan menggunakan nama ayah-ayah mereka." (QS. Al-Ahzab: 5). Zaid berkata: "Sekarang aku Zaid bin Haritsah."



Abu Bakar Radhiyallahu Anhu Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Setelah Zaid, menyusullah Abu Bakar bin Abu Quhafah masuk Islam. Nama asli Abu Bakar adalah Atiq, adapun nama aslinya Abu Quhafah adalah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Ibnu Hisyam berkata: Nama asli Abu Bakar adalah Abdullah, dan Atiq adalah ju¬lukannya, karena wajahnya yang ganteng dan rupawan dan pembebasan budak yang sering ia lakukan.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Abu Bakar Radhiyallahu Anhu masuk Islam ia tampakkan keislamannya, dan berdakwah untuk Allah dan Rasulnya.
Abu Bakar adalah orang yang sangat dihormati kaumnya, dicintai dan mudah bergaul dengan siapa saja. Dia orang Quraisy yang paling ahli tentang nasab Quraisy, yang paling ahli tentang kondisi dan situasa Quraisy yang paling tahu banyak kebaikan dan keburukannya. Selain itu ia seorang pebisnis yang berakhlak dan dikenal luas. Tokoh-tokoh kaumnya sering mendatanginya mengadukan beragam masalah dan karena ilmunya, perniagaannya, dan respon positifnya. Ia ajak kepada agama Allah dan Islam orang-orang yang ia percayai di antara orang-orang yang sering datang kepadanya dan berinteraksi dengannya.



Sahabat-Sahabat yang Masuk Islam Berkat Dakwah Abu Bakar Radhiyallahu Anhu


Ibnu Ishaq berkata: Maka berkat dakwah Abu Bakar tersebut, sebagaimana disampaikan kepadaku, masuk Islamlah Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Fihr. Kemudian Az-Zubayr bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai masuk Islam. Lalu disusul Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin Al-Harts bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. Sa'ad bin Abu Waqqash bernama nama asli Malik bin
Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. Demikian juga Thalhah bin Ubaydillah bin Utsman bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
 
Setelah mereka berlima merespon dengan positif dakwahnya, Abu Bakar membawa mereka kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian mereka masuk Islam dan mendirikan shalat berjamaah bersama.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagaimana disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Setiap aku mengajak seseorang kepada Islam biasanya ia tidak langsung memberikan jawaban, kecuali Abu Bakar bin Abu Quhafah. Ia tidak lambat merespon dan tidak ragu- ragu ketika aku mengajaknya kepada Islam."
Ibnu Ishaq berkata: Kedelapan orang itulah yang mendirikan manusia masuk Islam. Lalu mereka melakukan shalat dan membenarkan apa yang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beliau bawa dari Allah.
Setelah Abu Ubaidah itu menyusul masuk Islam. Nama asli Abu Ubaidah adalah Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbab bin Al-Harts bin Fihr. Kemudian disusul Abu Salamah yang nama aslinya ialah Abdullah bin Abdu Al-Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. Lalu disusul Al-Arqam bin Abu Al-Arqam. Nama asli Abu Al- Arqam adalah Abdu Manaf bin Asad (Abu Jundab) bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. Kemudian diikuti Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay, beserta dua saudara laki-lakinya, Qudamah dan Abdullah. Kemudian diikuti Ubaidah bin Al- Harits bin Al-Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
Lalu disusul Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza bin Abdullah bin Qurth bin Riyah bin Rizah bin Adi bin Ka'ab bin Luay beserta istrinya, Fathimah binti Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Abdullah bin Qurth bin Riyah bin Rizah bin Abdi bin Ka'ab bin Luay. Fathimah adalah adik kandung Umar bin Khaththab.
Kemudian diikuti Asma' binti Abu Bakar, dan Aisyah binti Abu Bakar yang ketika itu masih anak-anak. Lalu disusul Khabbab bin Al-Arat, sekutu Bani Zuhrah.
Ibnu Hisyam berkata: Khabbab bin Al- Arat berasal dari Bani Tamim. Ada juga yang mengatakan bahwa ia berasal dari Khuza'ah.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Umair bin Abu Waqqash, saudara Sa'ad bin Abu Waqqash, Abdullah bin Mas'ud bin Al-Harits bin Syamkhu bin Makhzum bin Shahilah bin Al-Harts bin Tamim bin Sa'ad bin Hudzail yang merupakan sekutu Bani Zuhrah, Mas'ud Al-Qari yang bernama lengkap Mas'ud bin Rabi'ah bin Amr bin Sa'ad bin Al-Uzza bin Hamalah bin Ghalib bin Muhallim bin Aidzah bin Sabi' bin Alhun bin Khuzaimah dari Al- Qarah.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Qarah adalah julukan buat mereka. Tentang Al-Qarah dikatakan:
Sungguh adil terhadap Al-Qarah orangyang memanahnya. Mereka adalah kaum yang pandai memanah

Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Salith bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin
Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr beserta saudaranya yang bernama Hathib bin Amr, Ayyasy bin Abu Rabi'ah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin Luay beserta istrinya yang bernama Asma' binti Salamah bin Mukharribah At-Tamimiyyah, Khunais bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Su'aid bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay.
 
Amir bin Rabi'ah dari Anz bin Wail dan sekutu keluarga besar Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza. Ibnu Hisyam berkata: Anz adalah anak Wail. Ia adalah saudara Bakr bin Wail dari Rabi'ah bin Nizar.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Abdullah bin Jahsy bin Ri'ab bin Ya'mur bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah beserta saudaranya yang bernama Abu Ahmad bin Jahsy, sekutu Bani Umayyah bin Abdu Syams. Kemudian diikuti Ja'far bin Abdul Muthalib beserta istrinya, Asma binti Umais bin An-Nu'man bin Ka'ab bin Malik bin Quhafah dari Khats'am. Kemudian diikuti Hathib bin Al-Harits bin Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay beserta istrinya yang bernama Fathimah binti Al-Mujallal bin Abdullah bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nahsr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr, beserta saudaranya Haththab bin Al-Harits dan istrinya yang bernama Fukaihah binti Yasar. Kemudian diikuti Ma'mar bin Al-Harits bin Ma'mar bin Habib bin Walr bin Hudzafah bin Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay.
Lalu disusul As-Saib bin Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahb. Kemudian di ikuti Al-Muthalib bin Azhar bin Abdu Manaf bin Abdu bin Al-Harts bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay beserta istrinya yang bernama Ramlah binti Abu Auf bin Shubairah bin Su'aid bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay, dan An Nahham yang nama aslinya ialah Nu'aim bin Abdullah bin Asid, saudara Bani Adi bin Ka'ab bin Luay.
Ibnu Hisyam berkata: An-Nahham ada-lah Nu'aim bin Abdullah bin Asid bin Abdullah bin Auf bin Ubayd bin Uwaij bin Adi bin Ka'ab bin Luay. Ia dinamakan An-Nahham, karena Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sungguh aku mendengar nahmnya (suara) Nua'im di surga".25
25 Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dalam al-Thabaqaat dengan sanad mursal (4/138). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Fath al-Bari (5/166) dari riwayat al- Waqidi dan dia lemah.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul oleh Amir bin Fuhairah, mantan budak Abu Bakar Radhiyallahu Anhu. Ibnu Hisyam berkata: Amir bin Fuhairah dilahirkan di Al-Asdi. Ia berkulit hitam, Abu Bakar membelinya dari mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Khalid bin Sa'id bin Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Oushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab tan Luay beserta istrinya, Umainah binti Khalaf bin As'ad bin Amir bin Bayadhah bin Yutsa'iq bin Ji'tsimah bin Sa'ad bin Mulaih bin Ainr dari Khuza'ah. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Humainah binti Khalaf.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul oleh Hathib bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Abu Hudzaifah bin Rabi'ah yang nama aslinya adalah Muhasysyam -sebagaimana disebutkan Ibnu Hisyam- bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin
Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian diikuti Waqid bin Abdullah bin Abdu Manaf bin Arin bin Tsa'labah bin Yarbu' bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim, sekutu Bani Adi bin Ka'ab.
Ibnu Hisyam berkata: Semula Waqid dibawa Bahilah kemudian Bahilah menjual-nya kepada Khaththab bin Nufail yang kemu-dian mengangkatnya sebagai anak.
Ketika Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: Panggilah mereka dengan menggunakan nama ayah- ayah mereka. (QS. Al-Ahzaab: 5), Waqid berkata: "Aku adalah Waqid bin Abdullah", demikianlah seperti yang disebutkan kepadaku oleh Abu Amr Al-Madani.
 
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Khalid, Amir, Aqil, dan Iyas, dari Bani Al-Bukair bin Abdu Yalail bin Nasyib bin Ghirah dari Bani Sa'ad bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah, sekutu Bani Adi bin Ka'ab.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Ammar, sekutu Bani Makhzum bin Yaqadzah. Ibnu Hisyam berkata:Ammar bin Yasir adalah Anak dari Madzhij.
Ibnu Ishaq berkata: Disusul kemudian oleh Shuhaib bin Sinan, salah seorang dari An-Namr bin Qasith, dari sekutu Bani Taim bin Murrah.
Ibnu Hisyam berkata: An-Namr adalah anak Qasith bin Hinb bin Afsha bin Jadilah bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar. Ada juga yang mengatakan Afsha adalah anak Du'mi bin Jadilah bin Asad. Ada pula yang mengatakan bahwa Shuhaib adalah mantan budak Abdullah bin Jud'an bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Ada lagi yang berpendapat bahwa Shuhaib berasal dari negeri Romawi. Yang mengatakan bahwa Shuhaib berasal dari Bani An-Namr bin Qasith berpendapat bahwa awalnya Shuhaib menjadi tawanan perang di wilayah Romawi, lalu ia dibeli dari mereka. Disebutkan dalam hadits, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda tentang Shuhaib: Shuhaib adalah orang Romawi yang terdepan (yang memeluk Islam).26
26. Lemah. Diriwayatkan oleh ai-Hakim pada hadits no. 5243 dan Al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir pada hadits no. 7526 dan dinyatakan lemah oleh Albani dalam Shahih al-Jami' pada hadits no. 1315.






Awal-Mula Dakwah Rasulullah di Tengah Kaumnya dengan Terang-terangan dan Reaksi Mereka


Ibnu Ishaq berkata: Setelah orang-orang masuk Islam, baik laki-laki maupun perempuan secara bertahap-tahap, hingga wacana tentang Islam menyebar di Makkah, dan Islam menjadi bahan diskusi. Kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan risalah yang beliau bawa dari-Nya secara terbuka, memberitahukan perintah Allah kepada manusia serta mengajak mereka kepada-Nya. Rentang waktu antara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam merahasiakan perintah-Nya hingga Allah Ta'ala memerintahkannya mengampakkan perintah-Nya adalah tiga tahun seperti berita yang sampai kepadaku.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah berfirman kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:


Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. al-Hijr: 94).
Allah Ta’ala berfirman kepada Rasulullah:

 
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS. asy-Syu'araa': 214-215).
Allah berfirman:


Dan katakanlah: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan." (QS. al-Hijr: 89).
Ibnu Hisyam berkata: Arti fashda' ialah menyeleksi antara kebenaran dengan kebatilan. Abu Dzuaib Al-Hudzali yang nama aslinya adalah Khuwailid bin Khalid berkata menyifati keledai betina liar dan pejantannya:
Keledai-keledai laksana pembungkus dadu
Sedangkan pejantannya laksana orang yang memilah kotak dadu dan memisahkannya

Artinya ia memisahkan dadu-dadu dan menerangkan bagiannya masing-masing. Bait syair di atas adalah potongan dari syair-syair Abu Dzuaib Al-Hudzali.
Sedangkan Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata:
Engkau orang yang santun dan komandan perang sang pembalas dendam Engkau tampakkan kebenaran dan kau usir orang yang melampaui batas

Bait syair di atas adalah potongan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj.
Ibnu Ishaq berkata: Pada waktu itu jika para sahabat Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam ingin melakukan shalat, mereka menuju ke Syi'b guna menjauhkan diri dari pandangan orang-orang Quraisy. Ketika Saad bin Abu Waqqash bersama beberapa orang dari sahabat Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam sedang shalat di Syi'b, tiba-tiba di duga sebelumnya beberapa orang dari kaum musyrikin datang ke tempat mereka. Orang-orang Quraisy itu mengumpat apa yang dilakukan kaum Muslimin, menghina apa yang mereka perbuat, hingga terjadilah duel hebat di antara mereka. Dalam duel tersebut, Sa'ad bin Abu Waqqash memukul salah seorang dari orang musyrikin dengan tulang rahang unta hingga terluka. Inilah darah pertama yang tumpah dalam Islam.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam menampakkan Islam secara terbuka kepada kaumnya, dan menyampaikan perintah Allah secara terang-terangan, orang-orang Quraisy belum mengutuk beliau dan belum memberikan reaksi, seperti diberitakan kepadaku, hingga suatu ketika Rasulullah menyebut sesembahan mereka dan menjelaskan kebatilan meng- agungkannya. Saat itulah serta merta mereka menganggap hal ini masalah besar, mengingkarinya dan sepakat untuk menentangnya kecuali orang-orang yang dijaga Allah di antara mereka dengan Islam. Hanya saja jumlah mereka tidaklah banyak dan mereka masih sembunyi-sembunyi. Paman Rasulullah Shal-lalllahu 'Alaihi wa Sallam, Abu Thalib sangat empati sekali kepada Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam, berdiri melindungi beliau. Sementara itu Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam tetap kokoh tegar menyampaikan perintah Allah dan memperlihatkan perintah- Nya tanpa bisa dicegah oleh apa pun.
Melihat bahwa Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam tidak peduli dengan manuver mereka kepada beliau, dan dia terus melecehkan Tuhan mereka, dan melihat pamannya Abu Thalib sangat empati kepada beliau, melindungi beliau, dan tidak akan menyerahkan beliau kepada mereka, maka beberapa
 
tokoh Quraisy di antaranya Utbah, Syaibah, mereka berdua adalah Rabi'ah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib, Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr datang menemui Abu Thalib.
Ibnu Hisyam berkata bahwa nama asli Abu Sufyan adalah Shakhr.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Al-Bakhtari nama aslinya adalah Al-Ash bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad bin Abdul Uzza bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Al-Bakhtari ialah Al-Ash bin Hasyim.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Aswad bin Al- Muthalib bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. Abu Jahl yang bernama asli Amr, dia diberi julukan Abu Al-Hakam bin Hisyam bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. Nabih dan Munabbih, mereka berdua adalah anak Al-Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Saad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay, dan Al-Ash bin Wail.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Ash adalah anak Wail bin Hasyim bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy lainnya menemui Abu Thalib. Mereka berkata: "Hai Abu Thalib, coba lihat keponakanmu! Ia telah berani menghina tuhan-tuhan kita, mencaci maki agama kita, menganggap batil mimpi-mimpi kita, dan menyesatkan leluhur kita. Engkau cegah ia untuk meneruskan tindakannya terhadap kami atau engkau biarkan kami mengurus persoalan kami dengannya. Sungguh kami tahu bahwa engkau juga menentangnya seperti kami. Jadi kami merasa kau bisa mengendalikannya." Abu Thalib menjawab dengan perkataan yang santun dan bijak. Lalu merekapun pulang dengan kecewa.
Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam melanjutkan dakwahnya sebagaimana biasanya. Beliau mempopulerkan agama Allah dan mendakwahi orang-orang kepadanya, hingga konflik meletus antara beliau dengan orang-orang Quraisy. Kondisi ini mendorong orang mengirim utusan Quraisy menemui Abu Thalib untuk kedua kalinya. Mereka berkata kepada Abu Thalib: "Wahai Abu Thalib, sesungguhnya engkau adalah sepuh kami, kau memiliki kehormatan dan kemuliaan di tengah-tengah kami. Kami telah memintamu untuk melarang keponakanmu, tapi engkau tidak melakukannya. Demi Allah, kita tidak bisa menahan diri atas penghinaan terhadap para leluhur kita, menganggap batil mimpi-mimpi kita, dan penistaan agama kita. Kini silahkan kau pilih; kau menghentikan semua sepak terjang keponakanmu itu atau kami terjun berhadapan dengannya hingga salah satu dari dua pihak ada yang hancur, hingga hingga
mencegahnya, -atau sebagaimana yang mereka katakan." Usai mengatakan itu demikian mereka berbalik pulang dari hadapan Abu Thalib. Abu Thalib merasa keberatan untuk berbeda pendapat dan bermusuhan dengan kaumnya. Namun demikian ia tidak sudi menyerahkan Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam kepada mereka, atau mentelantarkannya sia-sia.
Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas bercerita kepadaku bahwa ia diberitahu: Ketika orang-orang Quraisy berkata seperti di atas kepada Abu Thalib, ia bergegas menemui Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepadanya: "Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu baru saja datang menemuiku dan mengatakan ini dan itu kepadaku. Oleh sebab itulah, janganlah kau jauh dariku tetaplah engkau berada bersamaku, jagalah dirimu, dan jangan
 
ikutkan aku ke dalam masalah yang tidak sanggup aku hadapi!" Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam menyangka bahwa pamannya telah berubah padanya, tidak lagi mau melindunginya dan akan menyerahkan dirinya pada orang Quraisy, dan tidak lagi mampu membela serta tidak berpihak lagi kepadanya. Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai paman, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku berhenti dari dakwah ini hingga Allah memenangkan dakwah ini atau aku mati karenanya, niscaya aku tidak meninggalkan dakwah ini." Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam mengucurkan air mata karena sedih kemudian, berdiri lalu pergi dari hadapan Abu Thalib. Ketika hendak meninggalkannya, Abu Thalib memanggilnya: "Wahai keponakanku kembalilah!" Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam datang kembali. Abu Thalib berkata: "Wahai keponakanku, silahkan katakan apa saja yang engkau mau, karena hingga titik darah penghabisan aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun."27
27 Hadits lemah diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (1/545) dalam Tarikh-nya dan al-Baihaqi dalam al-Dalail di hadits no. 495 dari Ibnu Ishaq dengan sanad mursal.

Ibnu Ishaq berkata: Ketika orang-orang Quraisy dengar bahwa Abu Thalib justru malah mendukung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tidak mau menyerahkan ponakanya kepada mereka, maka mereka datang kembali kepada Abu Thalib bersama Ima- rah bin Al-Walid. Mereka berkata kepadanya, sebagaimana dikabarkan kepadaku: "Wahai Abu Thalib, inilah Imarah bin Al-Walid. Ia pemuda Quraisy yang paling kuat dan paling tampan. Lindungilah dia. Jadikanlah dia sebagai anakmu. Dan sebagai gantinya serahkanlah keponakanmu itu kepada kami yang menentang agamamu dan agama nenek moyang kita, memecah-belah persatuan kaummu, dan menganggap batil mimpi-mimpi kita kemudian akan kami bunuh dia. Satu orang dengan satu orang pula." Abu Thalib menjawab: "Demi Allah, sungguh jahat sekali ucapan kalian kepadaku. Kalian memberiku anak kalian yang akan aku beri makan dan aku berikan anakku kepada kalian kemudian kalian akan membunuhnya? Demi Allah, sampai kapanpun hal semalam itu tidak akan mungkin pernah terjadi."
Ibnu Ishaq berkata: Al-Muth'im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf bin Qushay berkata: "Demi Allah, wahai Abu Thalib, kaummu telah berbuat adil kepadamu, dan mereka berusaha keras untuk bisa keluar dari konflik yang mendera mereka selama ini, namun aku lihat engkau tidak merespon apa pun dari mereka." Abu Thalib berkata kepada Al-Muth'im: "Demi Allah, justru mereka yang tidak berbuat adil kepadaku. Mereka malah sepakat meninggalkanku, dan mendukung orang-orang untuk melawanku." Atau sebagaimana yang ia katakan.
Ibnu Ishaq berkata: Kini konfliknya semakin kompleks. Perang semakin berkecamuk. Orang-orang mulai memusuhi sebagian yang lain. Oleh karena itu, Abu Thalib berkata dalam syairnya sambil menyindir Al-Muth'im bin Adi, menyamakan Bani Abdu Manaf yang meninggalkannya dengan kabilah- kabilah Quraisy yang memusuhinya, menyinggung persoalan mereka padanya, dan persoalan mereka yang semakin keruh.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian orang- orang Quraisy mengancam kabilah-kabilah mereka yang di dalamnya ada sahabat-sahabat Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam yang masuk Islam bersamanya. Setiap kabilah menangkap orang-orang Islam yang ada di tengah-tengah mereka lalu menyiksa dan menganiayanya disebabkan agama yang dianutnya. Adapun Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam, Allah melindunginya melalui pamannya Abu Thalib. Tatkala Abu Thalib melihat teror dan penyiksaan orang-orang Quraisy seperti itu, ia menemui Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib guna mengajak mereka mengayomi Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam. Mereka bersedia memihak Abu Thalib, dan memenuhi ajakannya kecuali Abu Lahab, musuh Allah yang terkutuk.
Abu Thalib begitu terharu melihat keberpihakan dan empati mereka kepadanya, ia memuji mereka, mengingatkan keutamaan Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam di tengah-tengah mereka. Itu
 
semua dilakukan Abu Thalib agar pendapat mereka semakin kuat dan bersama dirinya berpihak kepada Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam.



Kebingungan Al-Walid tentang Apa yang Digambarkan Al-Quran


Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang Quraisy mendatangi Al-Walid bin Al-Mughirah pada saat musim haji telah tiba. Al-Walid bin Al-Mughirah adalah tokoh senior yang mereka. Pada pertemuan tersebut, Al-Walid bin Al-Mughirah berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Quraisy, musim haji sudah tiba dan rombongan orang-orang Arab akan berduyun-duyun ke tempat kalian. Mereka mengetahui sepak terjang sahabat kalian ini (maksudnya Rasulullah). Oleh sebab itulah, aku harap kalian bersatu padu, jangan ada perselisihan lagi di antara kalian." Mereka berkata: "Wahai Abu Abdu Syams, bicaralah dan utarakanlah pendapatmu, pasti pendapat itulah yang kami jadikan sebagai sandaran." Al-Walid bin Al- Mughirah berkata: "Silahkan utarakan lebih dulu pendapat kalian, dan aku akan dengar ucapan kalian." Mereka berkata: "Kita akan buat isu bahwa Muhammad adalah seorang dukun." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Demi Allah, itu isu konyol, sebab ucapannya yang tersembunyi yang tidak terdengar bukanlah ucapan seorang dukun tidak pula sajaknya." Mereka berkata: "Bagaimana kalau isunya adalah orang gila!?" Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Tidak, itu lebih konyol lagi! Mereka berkata: "Bagaimana kalau diganti dengan isu penyair?" Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Bukan, ia bukan penyair, kita sudah tahu seluruh bentuk syair dan perkataannya tidak termasuk syair." Mereka berkata: "Bagaimana kalau ahli sihir?" Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Tidak, sebab Muhammad tidak ada kaitannya dengan
itu." Mereka berkata: "Jika demikian lalu bagaimanakah pendapatmu wahai Abu Abdu Syams?" Al- Walid bin Al-Mughirah berkata: "Demi Allah, sesungguhnya ucapan Muhammad itu demikian indah dan syahdu dan penuh kekuatan. Maka jika kalian mengatakan seperti ucapan di atas, mudah disimpulkan bahwa ucapan kalian adalah dusta. Sesungguhnya perkataan kalian yang mungkin lebih mengena tentang dirinya, adalah hendaklah kalian mengatakan bahwa dia seorang penyihir. Ia membawa sihir yang memisahkan seorang anak dengan ayahnya, seseorang dengan saudaranya, suami dengan istrinya, dan seseorang dengan keluarganya. Mereka bercerai-berai akibat kekuatan sihirnya."
Maka ketika Arab berdatangan ke kota Makkah di musim haji orang-orang Quraisy duduk di jalan-jalan umum. Tidak ada seorang pun yang berjalan melintasi mereka, melainkan mereka mewanti-wanti perihal Muhammad dan menjelaskan persoalan Muhammad kepadanya. Kemudian Allah Ta 'ala menurunkan firman-Nya tentang Al-Walid bin Al-Mughirah:


 
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Ku lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an). (QS. Al-Muddatstsir: 11-16). Kata 'aniid pada ayat tersebut artinya adalah me- musuhi,"
Ibnu Hisyam berkata 'aniid artinya membangkang dan menentang. Ru'bah bin Al Ajjaj berkata: Kami adalah penghantam kepala orang-orang yang membangkang dan menentang. Bait di atas ada dalam kumpulan syair Ru'bah bin Al-Ajjaj.
Ibnu Ishaq berkata: Allah Ta'ala juga menurunkan ayat:


Aku akan membebaninya mendaki pendakian yangmemayahkan. Sesungguhnya dia telah me- mikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut." (QS. al-Muddatstsir: 17-22).
Ibnu Hisyam berkata: Basar artinya wajahnya menampakkan rasa tidak suka. Ru'bah bin Al A'jaj berkata:
Orang yang berpostur besar dan dua tulang rahangya keras makan dengan gigi depannya
Dia mensifati ketidaksukaan pada wajahnya. Bait syair tersebut ada dalam kumpulan syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj.
Ibnu Ishaq berkata: Allah juga menurunkan ayat:


Kemudian dia uerpaling (dart kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia." (QS. al- Muddatstsir: 23-25).
Allah juga menurunkan ayat tentang Rasul-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam, apa yang beliau bawa dari Allah Ta'ala, orang-orang yang menyebarkan fitnah keji terhadap beliau, dan terhadap apa yang Rasulullah bawa dari Allah:


Sebagaimana (Kami telah memberi peringat- an), Kami telah menurunkan (adzab) kepada orang- orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur'an itu terbagi-bagi. (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur'an itu terbagi- bagi tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. " (QS. al-Hijr: 90-93).
 
Ibnu Hisyam berkata: "Kata tunggal idhiin ialah idhah. Orang-orang Arab berkata, 'Adh-dhawhu.' Artinya mereka membagi-baginya. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata:
Agama Allah itu tidak bisa dibagi-bagi
Bait di atas adalah penggalan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu orang-orang Quraisy menjelek-jelekkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam seperti itu kepada orang-orang yang mereka jumpai. Jadi sejak musim haji tahun itu, orang-orang Arab mulai mengenal sepak terjang Rasulullah shallalahu 'alaihi wa Sallam dan perbincangan tentang beliau segera menyebar ke seantero negeri Arab.
Ibnu Ishaq berkata: Menyaksikan hal ini, Abu Thalib khawatir orang-orang Arab berbondong-bondong akan mendatanginya, oleh karena itu ia segera menggubah syair. Dalam syairnya, ia meminta perlindungan dengan kesucian Makkah, dan kedudukan dirinya di dalamnya. Pada saat yang sama dia jelaskan kepada mereka dan orang-orang selain mereka dalam syairnya, bahwa ia tidak akan pernah menyerahkan Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan tidak meninggalkannya selama-lamanya hingga tetes darah terakhir.
Ibnu Hisyam berkata: Aku diberitahu bahwa penduduk Madinah mengalami musim kemarau yang panjang, lalu mereka menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan mengadukan apa yang mereka alami. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam naik ke atas podium dan memohon air hujan kepada Allah untuk mereka. Tak lama kemudian, hujan turun dan orang-orang dari kawasan yang tidak bisa menampung air melaporkan bahwa telah terjadi banjir. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdoa: "Ya Allah, turunkanlah di sekitar kami, dan tidak di atas kami."28 Seketika itu juga mendung menipis di Madinah dan hujan sekitarnya menjadi reda. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika Abu Thalib melihat peristiwa ini, ia pasti sangat senang." Beberapa sahabat bertanya kepada beliau, "Sepertinya engkau menginginkan syair Abu Thalib."
Beliau bersabda: "Benar."29

Ibnu Ishaq berkata: Al-Ghayathil ber- asal dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish. Abu Sufyan adalah anak Harb bin Umayyah. Muth'im adalah anak Adi bin Naufal bin Abdu Manaf. Zuhair adalah anak Abu Umayyah bin Al Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum dan ibunya adalah Atikah binti Abdul Muthalib.
Ibnu Ishaq berkata: Asid dan anak sulungnya yakni Attab bin Asid bin Abu Al-Ish bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay. Utsman adalah anak Ubaidillah, saudara Thalhah bin Ubaidillah At-Taimi. Qunfudz adalah anak Umair bin Jud'an bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah. Abu Al-Walid adalah Utbah bin Rabi'ah. Ubay adalah Al-Akhnas bin Syariq Ats-Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah bin Kilab.
Ibnu Hisyam berkata: Ia juluki Al-Akhnas, karena ia tidak ikut Perang Badar. Nama aslinya adalah Ubay, ia berasal dari Bani Ilaj, yaitu Ilaj bin Salamah bin Auf bin Uqbah.
Al-Aswad adalah anak Abdu Yaghuts bin Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Subay'i adalah anak Khalid, saudara Al-Harits bin Fihr. Naufal adalah anak Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay. Naufal ini adalah anak Al-Adawiyah dan termasuk gembong-gembong penjahat Quraisy. Dialah yang menyekap Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Thalhah bin Ubaidillah ketika keduanya masuk
 
Islam. Oleh karena itu, Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidillah dinamakan Al-Qarinaini. Naufal dihabisi Ali bin Abu Thalib di Perang Badar. Abu Amr adalah Qurazhah bin Abdu Amr bin Naufal bin Abdu Manaf. Kaum yang dimaksud adalah Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Nama-nama itulah yang disebutkan Abu Thalib dalam syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala berita tentang
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyebar luas ke berbagai kalangan orang Arab hingga ke banyak negeri termasuk Madinah. Sehingga tidak ada satu pemukiman di Arab yang lebih tahu tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang melebihi pemukiman Al-Aus dan Al-Khazraj. Mereka mendengar kabar tentang beliau dari pendeta-pendeta Yahudi. Pendeta-pendeta Yahudi adalah sekutu-sekutu mereka dan tinggal bersama di negeri mereka. Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjadi wacana di Madinah dan mereka membicarakan benturan yang terjadi antara Rasulullah dengan orang-orang Quraisy, maka berkatalah Abu Qais bin Al-Aslat saudara Bani Waqif dalam sebuah (syairnya lengkapnya di bawah ini)
Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Ishaq menasabkan Abu Qais kepada Bani Waqif, padahal nasabnya pada peristiwa Gajah dinisbatkan kepada Khathmah. Ini terjadi karena dalam tradisi Arab bisa jadi seseorang menasabkan dirinya kepada nasab saudara kakeknya yang lebih masyhur.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah bercerita kepadaku bahwa Al-Hakam adalah anak Amr Al-Ghifari dari anak keturunan Nu'ailah, saudara Ghifar yaitu Ghifar bin Mulail. Nu'ailah adalah anak Mulail bin Dzamrah bin Bakr bin Abdu Manat. Mereka berkata bahwa Utbah adalah anak Ghazu As-Sulami, padahal ia anak Mazin bin Manshur. Sulaim adalah anak Manshur.
Ibnu Hisyam berkata: Jadi Abu Qais bin Al-Aslat berasal dari Bani Wail. Wail, Waqif, dan Khathmah adalah satu saudara dari Al-Aus.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Qais, dia sangat mencintai Quraisy, memiliki jalinan perbesanan dengan mereka, beristrikan Arnab binti Asad bin Abdi Uzza bin Qushay, dan tinggal di tengah-tengah orang- orang Quraisy selama bertahun-tahun bersama istrinya- mengucapkan syairnya. Dalam syairnya Abu Qais bin Al-Aslat mengagung-agungkan kehormatan Quraisy, mencegah orang-orang Quraisy terlibat perang di Makkah, memerintahkan mereka menahan dari menyerang sebagian yang lain, menyebutkan kelebihan dan mimpi-mimpi mereka, memerintahkan mereka menahan diri dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, menjelaskan bagaimana Allah memperlakukan mereka, dan perlindungan-Nya ter- hadap mereka dari pasukan gajah, serta tipu daya-Nya pada pasukan gajah itu.
Maka berkecamuklah perang antara Abs melawan Fazarah. Hudzaifah bin Badr dan saudaranya, Hamal bin Badr tewas. Qais bin Zuhair bin Jadzimah berkata mengungkapkan kesedihannya atas tewasnya Hudzaifah,
Betapa banyak kesatria dipanggil kesatria, padahal ia bukanlah kesatria Di Al-Habaah ada kesatria yang sudah terbukti satria
Tangisilah Hudzaifah, karena kalian tak akan dapatkan orang seperti dia Walaupun seluruh kabilah telah musnah, tak kan lagi dicipta orang seperti dia

Bait di atas adalah penggalan dari syair- syair Qais bin Zuhair. Qais bin Zuhair juga berkata:
Ketahuilah pemuda Hamal bin Badr telah berlaku zalim Yang mengantarkan pada kebinasaan
 
Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syair Qais bin Zuhair. Al-harts bin Zuhair, saudara Qais bin Zuhair berkata:
Bukan kebanggaan yang aku tinggalkan di Al- Haba 'ah Di sana Hudzaifah terluka tertusuk tombak

Bait syair tersebut ialah penggalan dari syair-syair Al-Harts bin Zuhair.
Ibnu Hisyam berkata: Disebutkan bahwa, Qais mengirim kuda Dahis dan kuda Al- Ghabra, sedangkan Hudzaifah mengirim kuda Al-Khaththar kuda Al-Hanfa'. Namun kisah pertama tadi jauh lebih benar. Kisah tersebut demikian panjang dan saya tidak ingin memotong kronologi sirah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Hisyam berkata: Adapun perkataannya: 'Perang Hathib maka yang dimaksud adalah Hathib bin Al-Harits bin Qais bin Hai- syah bin Al-Harts bin Umayyah bin Muawiyah bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus. Hathib bin Al-Harits membunuh orang Yahudi yang bertetangga dengan Al- Khazraj. Kemudian di tengah malam, Hathib bin Al-Harits didatangi Yazid bin Al-Harits bin Qais bin Malik bin Ahmar bin Haritsah bin Tsalabah bin Ka'ab bm Al-Khazraj bin Al-Harts bin Al-Khazraj yang biasa juluki Ibnu Fushum. Ibunya Fushum berasal dari kabilah Al-Qain bin Jasr dengan beberapa orang dari Bani Al-Harits bin Al-Khazrah lalu mereka membunuh Hathib bin Al-Harits. Perang meletus antara Al-Aus dan Al-Khazraj. Mereka saling menyerang dengan hebat dan di akhir perang kemenangan di peroleh Al-Khazraj atas Al-Aus. Pada perang tersebut, Suwaid bin Shamit bin Khalid bin Athiyyah bin Hauth bin Habib bin Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus terbunuh. Ia dihabisi Al-Mujadzdzar bin Dziyad al Balawi yang nama aslinya adalah Abdullah bin Dziyad Al-Balawi, sekutu Bani AUI Din Al-Khazraj. Pada Perang Uhud, Al- Mujadzdzir bin Dziyad ikut bersama Rasu¬lullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Al-Harits bin Suwaid bin Shamit juga ikut Perang Uhud. Ketika Al-Harits bin Suwaid melihat Al- Mujadzdir lengah, ia menghabisi sebagai bentuk balas dendam atas kematian ayahnya. Pembahasan hal ini akan saya paparkan pada tempatnya, insya Allah.
Perang meletus kembali lagi antara mereka, namun saya tidak akan membahasnya lagi, karena sudah dijelaskan pada bahasan tentang Perang Dahis.
Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Umayyah bin Haritsah Al-Auqash As-Sulami, sekutu Bani Umayyah yang telah memeluk Islam bercerita mengenai persekongkolan kaumnya untuk memusuhi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.



Perlakuan Qaum Quraisy kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Kaumnya


Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy semakin menggencarkan teror kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan terhadap orang-orang yang masuk mengikutinya. Mereka memobilisasi orang- orang bodoh untuk mendustakan, mengusik dan menuduh beliau sebagai penyair, penyihir, dukun, dan
mereka sukai; menghina agama mereka, meninggalkan berhala-berhala mereka, dan tidak mengikuti kekafiran mereka.
 
Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Urwah bin Zubair bercerita kepadaku dari ayahnya, Urwah bin Zubair dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Urwah bin Zubair berkata bahwa aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amr: Berapa kali engkau melihat orang-orang Quraisy meneror Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam?
Abdullah bin Amr berkata: Suatu waktu, aku bertemu tokoh-tokoh Quraisy di Hijr. Mereka membicarakan sepak terjang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata: sebelumnya, kami tidak pernah bisa bersabar terhadap sebuah persoalan sesabar menghadapi laki-laki ini (Rasulullah). Ia membatilkan mimpi-mimpi kita, mengata-ngatai para leluhur dan mencaci maki agama kita, memecah belah persatuan kita serta menghina Tuhan-tuhan kita.
Ketika mereka asyik berdiskusi, tiba-tiba Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam muncul di depan mereka lalu melakukan thawaf di Ka'bah. Ketika beliau berjalan melintasi mereka, mereka berbisik menghina beliau.
Abdullah bin Amr berkata: Rasulullah melanjutkan langkahnya. Ketika beliau melewati mereka untuk kedua kalinya, mereka melakukan penghinaan sebagaimana sebelumnya.
Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan melewati mereka untuk ketiga kalinya, dan mereka menghina beliau seperti sebelumnya, beliau berhenti kemudian berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, apakah kalian tidak tahu bahwa aku datang untuk membinasakan kalian?
Abdullah bin Amr berkata: Perkataan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam itu amat menusuk hati orang-orang Quraisy, hingga salah seorang dari mereka terdiam bagaikan patung. Setelah mendengar ucapan tersebut mereka berusaha menenangkan beliau dan berpura-pura meminta maaf dengan kata-kata yang sebaik mungkin. Ia berkata: "Tinggalkan kami wahai Abu Al-Qasim. Demi Allah, engkau bukan orang bodoh."
Abdullah bin Amr berkata: Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meninggalkan tempat itu. Esok harinya, kembali orang-orang Quraisy mengadakan pertemuan di Hijr. Sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Apakah kalian masih ingat kejadian kemarin di tempat ini? Sayang, ketika ia muncul di tengah kalian dengan memperlihatkan apa yang kalian benci, kalian membiarkannya?" Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam muncul lagi ke tengah-tengah mereka. Mereka lalu melompat ke arah Rasulullah dan mengitari beliau sambi berkata: "Engkaukah orangnya yang mengatakan ini dan itu." Karena sebelum ini, beliau menghina sesembahan dan agama mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Benar, akulah yang mengatakan semua itu". Abdullah bin Amr berkata: "Aku melihat seorang dari mereka memegang baju Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam." Tiba-tiba, Abu Bakar melewati mereka. Abu Bakar berkata: "Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatakan Tuhanku hanyalah Allah?" lalu merekapun bubar seketika. Itulah gangguan terberat yang pernah dilakukan orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang pernah aku saksikan.30


Ibnu Ishaq berkata: Sebagian orang dari keluarga besar Ummu Kaltsum, putri Abu Bakar berkata bahwa Ummu Kaltsum berkata kepadaku: "Saat Abu Bakar pulang ke rumah. Orang-orang Quraisy menarik jenggot Abu Bakar hingga membuat rambutnya berantakan. Abu Bakar memang memiliki rambut yang tebal."
 
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian pakar berkata kepadaku bahwa cobaan paling berat yang dialami Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari orang-orang Quraisy adalah bahwa pada suatu hari beliau keluar rumah lalu semua orang mendustakannya dan mempermainkannya. Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam kemudian pulang ke rumahnya dan mengenakan selimut karena sedih atas apa yang menimpa dirinya. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS.Al-Muddatstsir: 1-2).



Hamzah Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu oleh orang Aslum: Pernah suatu ketika, Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di bukit Shafa. Ia lalu mengganggu, mencaci maki dan melampiaskan dendamnya kepada Rasulullah karena dianggap menghina agamanya dan melecehkan ibadahnya. Meski begitu Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam tidak menimpalinya sedikit pun. Ketika itu mantan budak wanita Abdullah bin Jud an bin Amr bin Kaab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Jahal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Usai mengumpat beliau, Abu Jahal pergi meninggalkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menuju ke balai pertemuan orang-orang Quraisy di samping Ka'bah lalu duduk bersama-sama dengan mereka. Tak lama kemudian, Hamzah bin Abdul Muthalib Radhiyallahu Anhu datang dengan memanggul anak panahnya dari berburu. Ia adalah sosok yang muda yang disegani di kalangan orang-orang Quraisy dan suka di hina. Ketika ia berjalan melewati mantan budak wanita tadi dan setelah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali ke rumahnya, mantan budak wanita tersebut berkata kepadanya: "Wahai Abu Umarah, andai saja engkau tadi saksikan apa yang dilakukan Abu Al-Hakam bin Hisyam terhadap keponakanmu, Muhammad! Ia, mengganggu keponakannya, mencaci-makinya, dan melakukan hal- hal yang tidak disukainya. Lalu ia pergi dan Muhammad tidak menimpali ucapannya sedikit pun."
Hamzah bin Abdul Muthalib marah karena Allah ingin memuliakannya. Ia pergi mencari Abu Jahal tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ia siap-siap jika bertemu dengan Abu Jahal, dia akan memukulnya.
Tatkala Hamzah memasuki masjid, ia melihat Abu Jahal sedang duduk berdiskusi dengan orang-orang Quraisy, lalu ia berjalan menuju ke arahnya. Ketika sudah berada tepat di depannya, ia mengangkat busur panahnya kemudian menghajar Abu Jahal dengannya hingga menderita luka sangat parah. Ia berkata: "Apakah engkau mencaci-maki keponakanku, padahal aku seagama dengannya, dan aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah seperti yang ia saksikan? Silahkan balas, jika engkau mampu!" Beberapa orang dari Bani Makhzum mendekat kepada Hamzah untuk menolong Abu Jahal, namun Abu Jahl berkata: "Biarkan saja Abu Umarah. Demi Allah, aku telah menghina keponakannya dengan penghinaan yang buruk." Hamzah sejak peristiwa itu resmi masuk Islam, dan mengikuti ucapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Tatkala Hamzah masuk Islam, orang-orang Quraisy menyadari sepenuhnya bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah kuat, terjaga, dan Hamzah pasti melidunginya. Karena itulah, mereka menghentikan sebagian gangguan mereka terhadapnya.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ziyad bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab bin Al-Qurazhi yang berkata bahwa aku pernah diberitahu bahwa Utbah bin Rabi'ah sang tokoh Quraisy berkata ketika ia sedang duduk di balai pertemuan Daar An-Nadwah milik orang-orang Quraisy dan ketika itu Rasulullah
 
Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang duduk sendirian di masjid: "Hai orang-orang Quraisy, bagaimana kalau aku berdiplomasi dengan Muhammad dan mengajukan tawaran-tawaran? Siapa tahu ia menerima sebagiannya kemudian kita berikan apa yang diminta selanjutnya ia akan menghentikan dakwahnya?" Peristiwa ini terjadi ketika Hamzah bin Abdul Muthalib telah masuk Islam, dan mereka melihat sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam semakin banyak dan menyebar. Orang-orang Quraisy berkata: "Baiklah, wahai Abu Al-Walid. Temuilah dan bicaralah dengannya!"
Kemudian Utbah pergi ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan duduk di dekat beliau. Ia berkata: 'Hai keponakanku, sesungguhnya engkau masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan kami. Engkau mempu nyai kehormatan di keluarga dan memiliki keluhuran nasab. Engkau telah merusak kemapanan kaummu. Engkau memecah belah persatuan mereka, mencemoohkan mimpi-mimpi mereka, mencaci-maki sesembahan dan agama mereka, dan mengkafirkan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Dengarkan perkataanku, sebab aku akan mengajukan beberapa tawaran yang bisa engkau pikirkan dan semoga engkau bisa menerima sebagian tawaran-tawaran tersebut.”
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada Utbah: "Katakan, wahai Abu Al-Walid, aku pasti menyimak apa yang engkau katakan!" Utbah berkata: "Wahai keponakanku, jika tujuan dakwahmu untuk menginginkan harta, maka kami akan himpun seluruh harta kami agar engkau menjadi orang terkaya di antara kami. Jika tujuannya kehormatan, kami akan angkat engkau sebagai pemimpin dan kami tidak memutuskan satu perkarapun tanpamu. Jika tujuannya kekuasaan, maka kami akan angkat engkau sebagai raja. Jika yang datang kepadamu adalah makhluk halus yang tidak sanggup engkau usir, maka kami mencarikan dokter untukmu dan mengeluarkan harta kami hingga engkau sembuh darinya, karena boleh jadi ini mengalahkan orang yang dimasukinya hingga ia sembuh darinya." Atau seperti dikatakan Utbah, hingga dia tuntas.
Ketika Utbah selesai bicara, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Abu Al- Walid?" Utbah menjawab: "Ya, sudah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Maka simaklah baik-baik apa yang akan aku katakan." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca sebuah ayat:



Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiim. Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)." (QS. Fush- shilat: 1-5). Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan kelanjutan ayat-ayat di atas. Sementara Utbah, setiap kali ia mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan ayat-ayat kepadanya, ia diam mendengarkannya dengan serius sambil
 
bersandar dengan kedua tangannya. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai pada ayat Sajdah, beliau sujud, kemudian beliau bersabda, "Hai Utbah, engkau telah menyimak dengan jelas apa yang baru saja engkau dengar. Kini, terserah kepadamu mau dibawa kemana apa yang engkau baru dengarkan itu."
Utbah pulang menemui sahabat-sahabatnya. Sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Kami bersumpah dengan asma Allah, sungguh, Abu Al-Walid datang ke temp at kalian dengan wajah yang berbeda dengan wajah saat ia berangkat."
Ketika Utbah telah duduk, mereka berkata kepadanya: "Apa yang telah terjadi, wahai Abu Al-Walid?" Utbah menjawab: "Demi Allah, baru saja aku mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar sebelum ini. Demi Allah, perkataan tersebut bukan syair, bukan sihir, bukan perdukunan. Wahai orang- orang Quraisy, dengarkan aku! Serahkan perkara Quraisy kepadaku, biarkanlah orang itu dengan apa yang ia lakukan, dan biarkanlah dial, Demi Allah, ucapannya yang aku dengar tadi pada suatu saat akan menjelma menjadi kekuatan yang besar. Jika saja ucapannya tersebut dimiliki orang-orang Arab, mereka sudah merasa cukup dengannya tanpa kalian. Jika ia berhasil mengalahkan orang-orang Arab, maka kekuasaannya ialah kekuasaan kalian, dan kejayaannya adalah kejayaan kalian juga, kemudian kalian menjadi manusia yang paling berbahagia karenanya." Mereka berkata: "Ia telah menguna- guniai mu dengan mantranya, wahai Abul Walid." Utbah berkata: "Ini hanya pendapatku saja tentang dia. Terserah kalian, mau menerima atau tidak?!"31





Apa yang Terjadi Antara Rasulullah dengan Tokoh-tokoh Quraisy dan Tafsir Surat Al-Kahfi


Ibnu Ishaq berkata: Pasca kejadian tersebut, Islam menyebar luas di Makkah baik di kalangan laki-laki maupun wanita-wanita di kabilah-kabilah Quraisy. Orang-orang Quraisy memenjara dan menyiksa siapa saja yang bisa mereka tangkap, sebagaimana disampaikan kepadaku oleh sebagian orang berilmu dari Sa id bin Jubair dan dari Ikrimah, mantan budak Ibnu Abbas dari Abdullah bin Abbas (Radhiyallahu Anhuma,).32

Maka berkumpullah tokoh-tokoh Quraisy Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Sufyan bin Harb, An-Nadhr bin Al-Harts bin Kildah saudara Bani Abduddar, Abu Al-Bakh- turi bin Hisyam, Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad, Zam'ah bin Al-Aswad, Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal bin Hisyam, Abdullah bin Abu Umayyah, Al-Ash bin Wail, Nubaih Munabbih, mereka Umayyah bin Khalaf dan lainnya. Mereka mengadakan rapat setelah matahari terbenam di belakang Ka'bah. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Pergilah salah seorang dari kalian kepada Muhammad kemudian bicaralah dengannya, dan berdebatlah dengannya hingga kalian bisa mengajukan argumen-argumen." Mereka mengutus seseorang dengan membawa pesan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Sesungguhnya kaummu sedang berkumpul membicarakan sepak terjangmu. Mereka mengundangmu untuk berdiskusi. Oleh sebab itulah, pergilah engkau ke tempat mereka berkumpul!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan bergegas mendatangi mereka karena mengira ada per- ubahan sikap positif pada mereka. Beliau menaruh perhatian demikian besar kepada mereka,
 
mengharapkan mereka memperoleh petunjuk, dan sedih atas kerusakan mereka. Ketika beliau telah duduk bersama mereka, salah seorang dari mereka berkata: "Muhammad, Demi Allah, kami belum pernah melihat ada seorangpun dari Arab yang bersikap lancang kapada kaumnya melebihi sikap lancanganmu kepada kaummu. Sungguh, engkau telah menghina para leluhur. Engkau mencela agama dan melecehkan sesembahan kami. Engkau mendungu-dungukan mimpi-mimpi dan mencerai- beraikan. Jika tujuan dakwahmu menginginkan harta kekayaan, maka akan kami himpun seluruh kekayaan kami hingga engkau menjadi orang terkaya di antara kami. Jika tujuannya kehormatan, maka kami akan angkat engkau sebagai pemimpin kami. Jika engkau ingin menjadi raja, kami angkat sebagai raja kami. Jika apa yang engkau alami adalah karena bisikan makhluk halus yang tidak mampu engkau usir, maka kami akan mencari dokter dan mengeluarkan biaya yang besar hingga engkau sembuh darinya."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Apa kalian membicarakan sepak terjang aku? Dakwahku sama sekali tidak bertujuan mendapatkan kekayaan, kehormatan atau kekuasaan atas kalian. Allah mengutusku kepada kalian sebagai Rasul, menurunkan Al-Kitab kepadaku, dan memerintahkanku memberi kabar gembira dan peringatan untuk kalian. Aku sampaikan firman- firman Tuhanku kepada kalian dan memberi nasihat kepada kalian. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, maka selamatlah kalian di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika kalian menolak, aku bersabar terhadap perintah Allah hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita. "Atau seperti yang disabdakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam."
Pentolan-pentolan Quraisy berkata: "Wahai Muhammad, jika engkau tetap keras kepala seperti ini maka, ketahuilah, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih sempit daerahnya, dan lebih sedikit persediaan airnya, dan lebih keras kehidupannya dari kami. Oleh karena itu, berdoalah kepada Tuhanmu agar Dia menggoncang gunung-gunung yang menyempitkan kami, meluaskan daerah kami, mengalirkan sungai-sungai seperti Sungai Syam dan Irak untuk kami di dalamnya. Membangkitkan leluhur kami, dan hendaknya di antara leluhur yang dibangkitkan untuk kami adalah Qushay bin Kilab, karena ia orang tua yang benar, kemudian kita bertanya kepada mereka apakah yang engkau katakan; benar atau salah? Jika leluhur kita membenarkanmu dan engkau mengerjakan apa yang kami minta kepadamu, kami akan membenarkanmu, mengakui kedudukanmu di sisi Allah, dan bahwa Allah mengutusmu sebagai Rasul sebagaimana yang engkau utarakan."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Aku diutus kepada kalian bukan untuk mengabulkan permohonan mistis kalian. Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian dengan apa yang kalian saksikan saat ini. Sungguh, telah aku sampaikan kepada kalian firman Tuhanku. Jika kalian menerimanya, itulah keselamatan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian kerasa kepala, aku tetap akan bersabar dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita."
Mereka berkata: "Jika engkau tidak mau mengerjakan apa yang kami kita, maka kerjakanlah untuk dirimu sendiri. Mintalah Tuhanmu mengutus malaikat bersamamu yang membenarkan apa yang engkau katakan dan meminta pendapat kami tentang dirimu. Mohonlah pada Tuhanmu untukmu agar memberikan untukmu taman-taman, istana-istana, dan kekayaan dari emas dan perak hingga engkau menjadi kaya dengannya, karena engkau berada di pasar seperti halnya kami dan mencari kehidupan. Kami mengetahui kelebihan dan kedudukanmu di sisi Tuhanmu jika engkau benar-benar Rasul sebagaimana pengakuanmu."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak akan melakukan itu semua, dan aku tidak akan meminta itu semua kepada Tuhanku, serta aku tidak diutus kepada kalian dengan untuk semua itu. Namun Allah mengutusku sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, atau
 
sebagaimana yang beliau sabdakan. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar dalam menjalankan perintah Allah hingga Allah memutuskan masalah yang terjadi di antara kita."
Pentolan-pentolan Quraisy itu berkata: Jika ucapanmu memang benar, maka turun- kanlah awan dari langit karena engkau mengatakan bahwa jika Allah berkehendak, Dia pasti melakukannya. Sungguh, kami tidak akan beriman kepadamu jika engkau tidak bisa membuktikan kesaksitanmu."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika itu dikehendaki Allah pada kalian, pasti itu akan terjadi."
Tokoh-tokoh Quraisy berkata: "Hai Muhammad, apakah Tuhanmu yang menurunkan ini semua, bahwa kami akan bertemu denganmu disini, lalu kami menanyakan ini kepadamu, dan meminta ini semua kepadamu. Dia mendatangimu untuk mengajarimu sesuatu yang bisa engkau jadikan argumen untuk menjawab pertanyaan kami dan Dia menerangkan kepadamu tentang apa yang akan Dia lakukan terhadap kami jika menolak apa yang engkau bawa? Sungguh, kami telah mendengar berita bahwa engkau berguru pada seseorang dari Yamamah yang bernama Ar-Rahman. Demi Allah, kami tidak pernah beriman kepada Ar-Rahman. Wahai Muhammad, kami telah menawarkan banyak hal kepadamu. Demi Allah, kami tidak membiarkanmu sesuka hati berdakwah hingga kami berhasil memerangimu atau engkau yang memerangi kami."
Salah seorang dari pentolan Quraisy berkata: "Kami menyembah para malaikat, karena mereka adalah anak-anak perempuan Allah."
Ucapan mereka diabadikan dalam Al- Qur'an:




Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yangderas alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. (QS. al-Israa': 90-92)
Usai mengatakan itu kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bangkit dan diikuti Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum yang merupakan saudara misannya, dan suami Atikah binti Abdul Muthalib. Abdullah bin Abu Umayyah berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: Hai Muhammad, kaummu telah mengajukan demikian banyak tawaran menggiurkan kepadamu, namun semuanya kau tolak. Mereka memintamu bukti akan kedudukanmu di sisi Allah sebagaimana pengakuanmu, agar membenarkanmu, dan mengikutimu, namun engkau tidak juga mengabulkannya. Mereka memintamu menunjukkan kesaktianmu hingga mereka mengetahui kelebihanmu atas mereka dan kedudukanmu di sisi Allah, namun engkau tidak juga mampu membuktikannya. Mereka meminta percepatan siksa yang engkau ancamkan kepada mereka, namun engkau tidak juga mewujudkannya" -atau sebagaimana dikatakan Abdullah bin Abu
 
Umayyah. "Demi Allah, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengimanimu hingga engkau membangun tangga ke langit, kemudian engkau naik ke langit melalui tangga itu dan aku melihatmu tiba di sana, setelah itu engkau mengambil empat malaikat yang memberi kesaksian untukmu bahwa yang engkau katakan memang benar. Demi Allah, jika engkau tidak mau melakukannya, jangan harapkan aku membenarkanmu." Kemudian Abdullah bin Abu Umayyah pergi meninggalkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Rasulullah sendiri pulang dengan perasaan sedih dan duka cita karena tidak tercapainya keingin an beliau pada mereka ketika mendakwahi mereka, dan karena melihat mereka menjauh dari beliau.
Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bangkit meninggalkan mereka: Abu Jahl berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad masih seperti dulu tidak mau berhenti mencela agama kita, menghina leluhur kita, mendungu-dungukan mimpi-mimpi kita, dan menghina sesembahan kita. Sungguh aku berjanji kepada Allah, besok pagi aku akan memukulnya dengan batu. Jika ia sujud dalam shalatnya, aku akan melempar kepalanya dengan batu itu. Jika itu terjadi, maka serahkan aku atau lindungi aku. Setelah itu Bani Abdu Manaf bebas melakukan apa saja yang mereka suka." Mereka berkata: "Demi Allah, kami tidak menyerahkanmu selama-lamanya. Lakukanlah apa yang engkau mau!"
Ibnu Ishaq berkata: Keesokan pagi, Abu Jahal telah menyiapkan batu sebagaimana yang dia janjikan, kemudian duduk menunggu kedatangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sementara itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berbuat sebagaimana hari-hari yang lalu. Di Makkah, kiblat beliau menghadap ke Syam. Jika beliau shalat, beliau shalat di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad dan menjadikan Ka'bah di antara beliau dengan Syam. Lalu beliau berdiri melakukan shalat. Orang- orang Quraisy pun berkumpul di ruang pertemuan mereka untuk melihat apa yang akan diperbuat Abu Jahal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ketika sujud, Abu Jahl mengambil batu dan berjalan ke arah Rasulullah. Ketika dekat pada beliau, ia malah lari ketakutan dengan wajah berubah pucat pasi dan kedua tangannya tiada lagi memegang batu itu hingga batu itupun terjatuh dari tangannya.
Orang-orang Quraisy bergegas berdiri menemui Abu Jahal, dan berkata: "Apa yang terjadi denganmu wahai Abu Jahal?" Abu Jahal berkata: "Aku berjalan kepada Muhammad untuk melakukan apa yang aku katakan pada kalian semalam. Saat aku dekat dengannya, tiba-tiba muncullah seekor unta. Demi Allah, aku belum pernah melihat kepala unta, pangkal lehernya, dan taringnya seperti unta itu. Aku sangat takut unta tersebut akan menerkam diriku."
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menyebut kan, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Itulah Malaikat Jibril. Jika Abu Jahl tetap mendekat, pasti ia menerkam Abu Jahal."33

Ketika Abu Jahl mengalami tekanan seperti itu, maka bangkitlah An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay. Ibnu Hisyam menyatakan, dia disebut An-Nadhr bin al- Harits bin Alqamah bin Kaladah bin Abdu Manaf, kemudian berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, sungguh telah datang kepada kalian sesuatu yang tidak bisa kalian berkilah darinya. Sungguh sebelum ini Muhammad di mata kalian adalah anak muda belia, orang yang paling diterima di sisi kalian, orang yang paling benar ucapannya, dan orang yang paling tampak kejujurannya. Hingga ketika kalian lihat dia mulai beruban dan dia datang kepada kalian dengan ajaran yang dibawanya, kalian lalu menuduhnya sebagai penyihir. Tidak, demi Allah, ia bukan penyihir, karena kita telah mengetahui penyihir, sihirnya dan buhul-buhulnya. Kalian menuduhnya sebagai dukun. Tidak, demi Allah, ia bukan seorang dukun, karena kita sudah sangat paham tentang dukun dan mendengar
 
mantera mereka. Kalian menuduhnya sebagai seorang penyair. Tidak, demi Allah, ia bukan penyair, karena kita sudah mengetahui syair, dan menyimak jenis-jenisnya. Kalian menuduhnya orang gila. Tidak, demi Allah, ia bukan orang gila, karena kita sudah pernah menyaksikan orang gila; tangisannya, keragu-raguannya, dan kekacauan pikirannya. Wahai orang-orang Quraisy, pikirkan persoalan kalian ini dengan cermat, karena demi Allah, sebuah masalah besar telah merongrong kehidupan pada kalian."
An-Nadhr bin AI-Harits termasuk gembong-gembong Quraisy, orang yang menganiaya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan membuka front permusuhan dengan beliau. Ia pernah pergi ke Al- Hirah dan di sana ia sering mendengar cerita-cerita tentang raja-raja Persia, kisah-kisah tentang Rustum, dan Isfandiyar. Jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkhotbah di satu tempat untuk mengajak kaumnya ingat kepada Allah, mengingatkan mereka tentang hukuman Allah yang diterima orang-orang sebelum mereka, dan setelah itu beliau beranjak meninggalkan tempat tersebut, maka An-Nadhr bin Al- Harits duduk di tempat yang sama, kemudian berkata: "Demi Allah, wahai orang- orang Quraisy, ucapanku lebih bagus daripada ucapan Muhammad. Sekarang kalian kemarilah, niscaya aku sampaikan kepada kalian tutur kata yang jauh lebih indah daripada perkataan Muhammad!" Kemudian An-Nadhr bin Al-Harits bercerita kepada mereka kisah tentang raja-raja Persia, Rustum, dan Isfandiyar. Ia berkata: "Ucapan Muhammad yang mana yang lebih bagus daripada ucapanku?"
Ibnu Hisyam berkata: An-Nadhr bin Al-Harits inilah, yang mengatakan: "Aku akan menerima wahyu seperti yang diturunkan Allah."
Ibnu Ishaq berkata: Seperti disampaikan kepadaku bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata: Al- Qur'an menurunkan delapan ayat tentang An Nadhr bin Al-Harits. Yaitu firman Allah Ta'ala:


Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang- orang dahulu kala." (QS. al-Qalam: 15) Dan semua ayat yang di dalamnya terdapat kata Al-Asaathir (dongeng) dalam Al- Qur'an.
Usai mengatakan itu An-Nadhr bin Al- Harits, orang-orang Quraisy mengutus bersama Uqbah bin Abu Mu'ith untuk menemui pendeta-pendeta Madinah. Orang-orang Quraisy berpesan pada keduanya: "Bertanyalah kalian berdua kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad, sifat-sifatnya, dan jelaskan ucapannya kepada mereka, karena mereka adalah orang-orang yang pertama kali diberi kitab yang mempunyai pengetahuan tentang para nabi yang tidak kita ketahui." Keduanya berangkat ke Madinah. Sesampainya di sana, mereka bertanya kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sembari menjelaskan sifat-sifat dan sebagian ucapan beliau kepada mereka. Keduanya berkata kepada mereka: "Sesungguhnya kalian mempunyai Kitab Taurat, dan kami datang kepada kalian untuk bertanya tentang sahabat kami."
Ibnu Ishaq berkata: rabi-rabi Yahudi itu berkata kepada kedua utusan Quraisy: "Tanyakan tiga hal kepada sahabatmu itu. Jika ia mampu menjawab ketiga hal tersebut, ia memang seorang Nabi sekaligus Rasul. Jika tidak bisa menjawabnya, pasti ia berdusta dan kalian akan tahu belangnya. Tanyakan kepadanya mengenai pemuda-pemuda (Ashabul Kahfi) yang meninggal pada periode pertama dan bagaimana kabar tentang mereka? Sebab mereka mempunyai kisah yang menarik. Kemudian tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat seperti apa kisahnya? Lalu tanyakan padanya tentang ruh, apakah ruh itu? Jika sahabatmu bisa
 
menjawab ketiga pertanyaan tersebut, ia seorang Nabi dan kalian harus mengikutinya. Jika tidak bisa menjawabnya, berarti ia ber kata bohong dan terserah kalian mau berbuat apa saja kepadanya."
Kemudian An-Nadhr bin AJ-Harits dan Uqbah bin Abu Mu'aith bin Abu Amr bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay kembali pulang ke Makkah. Ketika meeka berdua bertemu kembali dengan orang-orang Quraisy, mereka berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kami datang membawa kabar kepada kalian. Rabi-rabi Yahudi menyuruh kita menanyakan tiga perkara kepada Muhammad. Jika mampu menjawabnya, berarti ia betul seorang Nabi. Jika tidak mampu menjawabnya maka artinya ia berkata bohong dan kalian bebas menilainya seperti apa saja."
Maka merekapun menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan bertanya kepada beliau: "Hai Muhammad, ceritakan kepada kami tentang anak-anak muda (Ashabul Kahfi) yang meninggal dunia pada periode pertama, karena mereka mempunyai kisah yang menarik hati, kisah seorang pengembara yang menjelajahi dunia timur dan barat serta tentang ruh?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Semua pertanyaan kalian aku jawab besokpagi." Rasulullah mengatakan itu tanpa ada embel-embel insya Allah. Setelah itu. mereka berbalik pulang meninggalkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Menurut banyak pakar sejarah, selama lima belas malam Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak menerima wahyu. Malaikat Jibril tidak datang kepada beliau, hingga membuat gusar penduduk Makkah. Mereka berkata: "Muhammad berjanji memberi jawaban atas pertanyaan kita besok pagi, sedangkan waktu sudah berjalan lima belas malam, namun sam- pai kini ia belum memberi jawaban apapun atas pertanyaan kita." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sangat berduka karena wahyu terputus dari beliau. Beliau bersedih hati karena komentar orang-orang Quraisy terhadap dirinya. Baru setelah itu datanglah Malaikat Jibril datang kepada beliau dari Allah Azza wa Jalla dengan membawa surat QS. Al Kahfi. Dalam surat tersebut, Allah mencela ucapan mereka yang membuat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersedih, menjelaskan kepada beliau berita sekitar pertanyaan mereka, tentang pemuda-pemuda yang mereka maksud, sang pengembara, dan masalah ruh."
Ibnu Ishaq berkata: Dikatakan kepadaku bahwa ketika Malaikat Jibril datang, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Sungguh engkau meninggalkanku wahai Jibril, hingga aku berburuk sangka kepadamu." Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:


Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa. (QS. Maryam: 64)
Allah Yang Mahatinggi membuka surat tersebut dengan memuji diri-Nya dan menjelaskan kenabian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan pengingkaran mereka. Allah Ta'ala berfirman:


Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalam- nya; (QS. al-Kahfi: 1)
 
Yakni, Muhammad engkau adalah Rasul dari-Ku, dan sebagai jawaban atas pertanyaan mereka tentang kenabianmu.
dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, (QS. al-Kahfi: 1- 2)
Yakni, Al Quran itu lurus dan tidak ada sesuatu yang saling bertentangan di dalamnya.


Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah (QS. al-Kahfi: 2)
Yakni, untuk memperingatkan adanya siksaan Allah di dunia dan siksa nan pedih di akhirat dari sisi Tuanmu yang mengutusmu sebagai Rasul.


Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shaleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama- lamanya. (QS. al-Kahfi: 2-3)
Yaitu negeri keabadian dimana mereka tidak pernah mati di dalamnya. Mereka yang dimaksud adalah orang-orang yang membenarkan apa yang engkau bawa di saat orang-orang lain mendustakanmu, dan mereka mengerjakan amal-amal perbuatan yang diperintahkan kepada mereka.


Dan untuk memperingatkan kepada orang- orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak. (QS. al-Kahfi: 4)


Yaitu orang-orang Quraisy yang berkata: "Sesunggunya kita menyembah para Malaikat, karena mereka adalah anak-anak perempuan Allah.”


Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitupula nenek moyang mereka (QS. al-Kahfi: 5), yakni yang membesarkan perpecahan mereka dan mengungkap aib agama mereka.

 
Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka (QS. al-Kahfi: 5) Karena ucapan mereka bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.


Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu (QS. al-Kahfi: 5-6). Maksudnya, apakah engkau akan membunuh dirimu wahai Muhammad atas apa yang mereka lakukan jika mereka tidak beriman dengan Kitab ini? Tatkala kau tidak dapatkan apa yang diharapkan dari mereka, maka jangan pernah lakukan itu.
Ibnu Hisyam berkata: Bakhi'un nafsaka, yakni menghancurkan dirimu, sebagaimana dikatakan kepada saya oleh Abu Ubaidah. Dzu Rumah berkata:
Wahai orang yang menghancurkan dirinya sendiri
Dengan sesuatu takdir yang ditetapkan yang dicabut darinya

Bentul flural dari bakhi' adalah bakhi'un dan bait di atas adalah penggalan dari syairnya. Orang Arab berkata: Bakha'tu lahu nushi wa nafsi yakni aku telah berusaha keras untuknya:
Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu (QS. al-Kahfi: 5-6).
Allah Yang Mahatinggi berfirman:


Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya (QS. al- Kahfi: 7)
Ibnu Ishaq berkata: Yakni siapa saja yang paling mengikuti perintahku dan taat padaku? Ibnu Ishaq berkata: Allah Yang Maha tinggi juga berfirman:


Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus. (QS. AI Kahfi: 8)
Maksud firman Allah: 'Shaidan, artinya bumi. Maksudnya: "Sesungguhnya apa saja yang ada di atas bumi pasti mengalami kematian, dan bahwa tempat kembali adalah kepada-Ku, kemudian Aku menghisab semua orang sesuai dengan amal perbuatannya. Oleh karena itulah, engkau, wahai Muhammad, jangan berduka cita dan bersedih hati atas apa yang engkau dengar dan atas apa yang engkau
lihat selama ini.
Ibnu Hisyam berkata: Ash-Sha'idu artinya bumi dan jamaknya ash-shu'udu. Arti lain ash-sha'idu ialah jalan. Dijelaskan dalam hadits: 'Janganlah kalian duduk di jalan-jalan (shuu'adaat)."34
 
 
Arti kata ash-shu'udaat pada di atas ialah jalan-jalan. Arti kata al-juruzu pada ayat di atas berarti bumi yang kering-kerontang. Jamaknya ialah ajraaz. Sanatun juruzun atau sinunun ajraazun artinya tahun- tahun dimana hujan tidak turun di dalamnya dan terjadi kekeringan, kemarau berkepanjangan. "
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah memberi jawaban atas pertanyaan mereka tentang anak-anak muda dengan berfirman:


Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (QS. al-Kahfi: 9), yakni boleh jadi di antara tanda-tanda kekuasaan-Ku, misalnya argumen-argumen-Ku yang Aku karuniai kepada hamba- hamba-Ku itu jauh lebih mengherankan menakjub- kan daripada kisah tentang pemuda-pemuda tersebut. "
Ibnu Hisam berkata: Ar-Raqiimu pada ayat diatas ialah kitab yang memuat kisah tentang mereka. Jamaknya ialah ar-ruqumu. Ru'bah bin Al Ajjaj berkata:
Tempat penyimpanan kitab yang memuat (nomor-nomor)
Bait diatas adalah penggalan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj. Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
 

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. (QS. al-Kahfi: 10-13), bi al- haqqi maksudnya, dengan berita yang benar tentang mereka. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:


Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka
 
berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran." (QS. al-Kahfi: 13-14). Yakni pemuda-pemuda tersebut tidak menyekutukan-Ku sebagaimana kalian menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak kalian ketahui.
Ibnu Hisyam berkata: Kata syathathan pada ayat di atas artinya melampaui batas dan melanggar kebenaran. A'sya Bani Qais bin Tsa'labah berkata:
Mereka tidak akan berhenti, begitu juga orang yang melampaui batas Laksana serbuan yang kehilangan minyak dan lampu

Bait diatas adalah penggalan syair-syair A'sya Bani Qai Tsa'labah. Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Allah Yang Maha tinggi berfirman:
 

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) (QS. al-Kahfi: 15)
Makna kata sulthaanin bayyinin pada ayat ini adalah argumentasi yang kuat. Kemudian Allah berfirman:




Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orangyang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindungke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. (QS. al-Kahfi: 15-17)
Ibnu Hisyam berkata: Arti tazaawaru pada ayat di atas adalah condong. Kata tersebut beasal dari kata az-zawaru. Umru'u Al Qais bin Hujr berkata:
Sesungguhnya aku adalah penguasa, jika aku kembali sebagai raja Yang dari mereka, Anda melihat orang yang diborgol itu condong

Ini adalah penggalan syair miliknya.
Abu Zahf al-Kulaibi berkata menggambarkan semua negeri:
 
Tanah bergaram bukanlah tempat yang kami condong
Tuk bekerja tanpa air selama lima hari yang membuat unta kurus

Dua bait ini adalah penggalan syairnya. Taqridhuhum Dzaat al-Syimal artinya bahwa matahari menjauhi meninggalkan mereka dari sisi kiri.
Dzu Rummah berkata:
Pada unta yang bertandu dia menggigit pasir yang bundar di sebuah tempat Di sisi kiri sedangkan di sisi kanan adalah para penunggang kuda

Bait ini adalah penggalan syair miliknya.
Al Fajwah artinya tempat yang luas dan jamaknya al-fija'u. Salah seorang penyair berkata:
Engkau sandangkan kehinaan dan kekurangan kepada kaummu
Hingga darah mereka keluar hukum dan mereka meninggalkan negeri yang luas

Kemudian Allah Yang Mahatinggi berfirman:


Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. (QS. Al Kahfi: 17) Yakni, inilah hujjah atas orang-orang dari Ahli Kitab yang mengetahui cerita pemuda-pemuda tersebut. Untuk menguji validitas kenabianmu apakah engkau mampu menjawab tentang mereka atau tidak?
Kemudian Allah berfirman:


Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialahyang mendapatpetunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorangpemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik- balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. (QS. A1 Kahfi: 17-18).
Ibnu Hisyam berkata: Al-washiid artinya pintu. A1 Absi yang bernama asli Ubaid bin Wahb berkata:
Di bumi lapang yang pintunya tidak ditutup untukku Dan kebaikanku didalamnya tak mungkin tuk diingkari

Bait diatas adalah penggalan syair-syair Al-Absi.
 
Arti lainnya dari al-washiid ialah hala- man. Jamaknya "al-washaa'idu, al-wushudu, al-wushdaan, al- ushudu, dan al-ushdaan."
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Ta'ala berfirman:


Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)." Mereka menjawab: "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uangperakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut, dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung untuk selama- lamanya.” Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka." Orang- orangyang berkuasa atas urusan mereka ber- kata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya." (QS. al-Kahfi: 18-21)
 
Kemudian Allah Taala berfirman:


Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang ke- empat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; (QS. al-Kahfi: 22).
Mereka pada ayat di atas adalah rahib- rahib Yahudi yang menyuruh orang-orang Quraisy bertanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang pemuda-pemuda tersebut. Rajman bilghaib maksudnya, mereka sendiri tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang pasti tentang pemuda-pemuda tersebut. Lalu Allah Taala berfirman:


dan (yang lain lagi) mengatakan: "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya." Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali
Yakni, janganlah engkau bertanya mengenai pemuda-pemuda tersebut kepada mereka sendiri karena mereka tidak mempunyai ilmu pemgetahuan yang pasti tentang mereka itu. Lalu Allah Ta'ala berfirman:


Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah." Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenaran- nya daripada ini." (QS. al-Kahfi: 23-24).
 
Yakni, janganlah karena di tanya seperti itu engkau mengatakan akan menjawabnya besok pagi seperti yang engkau katakan sebelumnya. Tapi katakanlah insya Allah. Ingatlah engkau kepada Allah jika engkau lupa, dan katakanlah, "Semoga Allah memberiku petunjuk untuk bisa menjawab apa yang mereka tanyakan kepadaku, karena engkau tidak mengetahui apa yang dikerjakan pemuda- pemuda tersebut.
Lalu Allah berfirman:


Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ra- tus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (QS. Al- Kahfi: 25)
Yakni, rahib-rahib Yahudi akan mengatakan perkataan tersebut. Kemudian Allah berfirman:


Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan- Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terangpenglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada se- orangpelindungpun bagi mereka selain dari- pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan." (QS. al-Kahfi: 26).
Yakni, semua yang mereka tanyakan ituf Allah Mahamengetahui.
Ibnu Ishaq berkata: Allah Taala berfirman tentang pertanyaan mereka perihal seorang pengembara:


Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya." Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, (QS. al-Kahfi: 83-84).
Di antara berita tentang Dzu Al-Qarnain ialah bahwa ia diberi beragam nikmat yang tidak dikarunikan kepada orang lain. Antara lain, jalan-jalan terbentang untuknya hingga ia berjalan melakukan pengembaraan dari timur ke barat. Setiap kali ia menjejakkan kakinya di suatu negeri, maka ia akan
 
berhasil menguasai penduduk setempat. Ia melakukan pengembaraan hingga tiba ke negeri-negeri yang tidak berpenghuni.
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang mendapatkan berita-berita dari orang-orang non-Arab berkata kepadaku: Dzu Al-Qarnaini berasal dari Mesir. Ia bernama asli Marzuban bin Mardziyah Al-Yunani. Ia berasal dari anak keturunan Yunan bin Yafits bin Nuh.
Ibnu Hisyam berkata: Nama aslinya adalah Iskandar. Dialah orang yang membangun kota Iskandariyah (Mesir), kemudian kota Iskandariyah diberi nama dengan namanya.
Ibnu Ishaq berkata: Tsaur bin Yazid berkata kepadaku dari Khalid bin Madan Al-Kala'i bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya mengenai Dzu Al-Qarnain, kemudian beliau bersabda: Ia seorang malaikat yang mengukur dengan tali dari bawahnya.
Khalid berkata bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu mendengar seseorang memanggilnya: "Wahai Dzu Al-Qarnaini" Umar bin Khaththab berkata: "Ya Allah, ampunilah dia! Tidaklah kalian senang memberi nama anak-anak kalian dengan nama para nabi, hingga kalian memberi nama anak kalian dengan nama-nama para malaikat."
Ibnu Ishaq berkata: Allah lebih tahu apa mana yang benar dari keduanya apakah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengatakan itu atau tidak? Jika beliau mengatakannya, maka kebenaran ialah apa yang beliau sabdakan.
Ibnu Ishaq berkata: Allah berfirman tentang pertanyaan mereka seputar ruh.
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra: 85)
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu oleh Ibnu Abbas: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, rabi-rabi Yahudi bertanya, "Hai Muhammad, tahukah engkau makna ucapanmu, 'Dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit. Siapakah yang dimaksud dengan kalian tersebut; kami atau kaummu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Semuanya. Dua-duanya!!" Para rabi-rabi Yahudi berkata: "Engkau sudah membaca apa yang engkau bawa, bahwa kami diberi Taurat. Di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Taurat dibanding ilmu Allah adalah sedikit sekali. Namun kalian mempunyai sesuatu yang jika kalian lakukan, maka hal itu cukup memadai untuk kalian."35

Ibnu Abbas berkata: Lalu Allah menurunkan ayat tentang pertanyaan mereka:


Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luq- man: 27).
 
Yakni, bahwa penjelasan Taurat tentang hal tersebut itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan ilmu Allah.
Ibnu Abbas berkata: Lalu Allah menurunkan ayat kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam menyindir permintaan kaumnya agar terjadi gempa bumi maha dasyat, dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia dihidupkan kembali:


Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Allah. (QS. ar-Ra'du: 31).
Firman Allah,'Ba/ lillahil amru jami'an', maksudnya, "aku tidak mengerjakan hal tersebut melainkan sesuai Aku menghendakinya."
Ibnu Abbas berkata: Lalu Allah menurunkan ayat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang ucapan mereka, "Ambillah untuk dirimu", Orang-orang Quraisy meminta beliau membangun untuk taman-taman, istana-istana, harta simpanan, sebagai bukti yang membenarkan apa yang beliau katakan.




Dan mereka berkata: "Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil) nya?" Dan orang-orangyang zalim itu berkata: "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir." Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat
 
perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu). Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (QS. al-Furqan: 7-10).
Yakni, Mahasuci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya diadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian daripada engkau berjalan-jalan di pasar dan kerja mencari kehidupan.


(yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana. (QS. al-Furqan: 10).
Allah Ta'ala juga menurunkan ayat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ten¬tang mereka:


Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat. (QS. al-Furqan: 20).
Firman Allah Ta'ala:


Yakni: "Aku menjadikan sebagian dari kalian menjadi cobaan bagi sebagian yang lain agar kalian bersabar. Jika Aku berkehendak menjadikan dunia tunduk pada perintah rasul-rasul-KU, hal itu niscaya terjadi."
Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang ucapan Abdullah bin Abu Umayyah:
 
 

Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hitigga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami," Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaima- na kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca" Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (QS. al-Isra: 90-93).
Ibnu Hisyam berkata:   pada ayat diatas ialah air yang keluar dari tanah atau selain tanah. Jamaknya    ialah    yanaabi'. Ibnu Harmah yang bernama asli Ibrahim bin Ab-dullah Al Fihri berkata:
Jika kau tumpahkan linangan air mata di setiap negeri
Maka teruskanlah segala sesuatu dan airmata- mu yang memancar

Bait di atas adalah penggalan syair-syair Ibnu Harmah.

Al-Kisafu ialah jenis-jenis siksa. Kata tunggalnya kisfah. Al-Qabiilu artinya saling berhadapan dan terang-terangan, seperti firman Allah pada ayat yang lain:


Kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya adzab atas mereka dengan nyata. (QS. Al-Kahfi: 55)
Abu Ubaidah mendendangkan syair A'sya Bani Qais bin Tsa'labah padaku:
 
Aku kan temani kalian hingga melakukan hal yang sama
Laksana jeritan wanita hami yang gembira karena kelahiran bayinya

Bait kedua bermakna, kedatangan sang wanita kepada bayinya untuk menciumnya. Bait syair di atas adalah penggalan syair-syair A'sya.
Ada yang mengatakan, al-qabiilu dan jamaknya ialah qabulu, artinya kelompok- kelompok. Disebutkan dalam Al Qur'an:


Dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka (QS. al-An'am: 111).
Dikatakan Qubul adalah jamak dari kata qabiilu sebagaimana subulu adalah jamak dari sabilu (jalan), atau sururu adalah jamak dari sariru(ranjang), atau qumushu adalah jamak dari qamishu (baju).
Al-Qabiibilu dalam sebuah pepatah dika-takan, "Maa ya'rifu qabiilan min dabiirin", maksudnya orang itu tidak tahu apa yang akan dan apa yang telah terjadi. Al-Kumait bin Zaid berkata:
Urusan-urusan mereka menjadi kacau balau di tempat mereka
Hingga mereka tak tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi

Bait-bait syair di atas adalah penggalan syair-syair Al-Kumait bin Zaid.
Ada pula yang mengatakan, bahwa dia bermakna meminta. Jika pemintalan terjadi hingga lengan, maka ia dinamakan al-qabii- lu. Jika pemintalan terjadi hingga ujung jari, maka dinamakan ad-dabiiru. Jika pemintalan terjadi hingga lutut, ia dinamakan al-qabiilu. Jika pemintalan terjadi hingga pangkal paha, maka dinamakan ad-dabiiru.
Al Qabiilu juga berarti kaumnya pihak laki-laki. Az-Zukhruf ialah emas. Al-Muzakhrafu ialah sesuatu yang dihiasi dengan emas.
Selain itu, segala sesuatu yang dihiasi di- sebut muzakhraf.
Ibnu Ishaq berkata: Tentang ucapan mereka, "Sesungguhnya kami mendapat berita bahwa engkau diajari seseorang dari Yamamah yang bernama Ar-Rahman, dan kapan pun kami tidak akan beriman kepada-Nya," Allah Ta'ala menurunkan ayat,
Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan YangMaha Pemurah. Katakanlah: "Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat." (Ar-Ra'du: 30).
Tentang perkataan Abu Jahal, dan keinginannya, Allah Ta'ala menurunkan ayat berikut:
 
 

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamupatuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan) (QS. al-Alaq: 9-19).
Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah   artinya Kami pasti membetotnya dan menyeretnya. Seorang penyair berkata:
Sebuah kaum bila mendengar teriakan keras minta tolong kau lihat mereka Antara orang yang dikekang dan mengambil ubun-ubun

An-Nadi ialah auditorium tempat orang-orang berkumpul dan memutuskan seluruh permasalahan mereka. Disebutkan dalam Al- Qur'an:


Apakah sesungguhnya kamu patut menda- tangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempatpertemuanmu? QS. (Al-Ankabut: 29).
Kata lain dari an-nadi ialah an-nadiyyu. Ubaid bin Al-Abrash berkata dalam syair- nya,
Kita akan berkumpul, karena aku berasal dari BaniAsad
Kaum yang mengadakan pertemuan, kemurah- an dan kelompok (an-nadi)

Disebutkan dalam Al-Quran:
 
 

Dan lebih indah tempat pertemuannya (an Nadiyyu)? (QS. Maryam: 73) Jamaknya ialah andiyah.
Melalui ayat di atas, Allah ingin menyampaikan, "Hendaklah ia memanggil orang-orang yang ada di auditorium (an-nadi)", seperti difirmankan Allah Taala, "Dan tanyakan kepada negeri." (QS. Yusuf: 82). Yakni tanyakanlah kepada penduduk negeri tersebut.
Salamah bin Jandal, salah seorang dari Bani Sa'ad bin Zaid Manat bin Tamim berkata:
Ada dua hari, sehari kami melakukan konferensi dan pertemuan Sehari lagi kami pergi menggempur musuh-musuh
Bait syair di atas adalah sebagian dari syair-syair Salamah bin Jandal. Persamaan kata an-nadi yaitu al-julasa' (tempat duduk).
Az-Zabaniyah ialah yang kuat dan perkasa. Maksud dari kata az-zabaniyah pada ayat di atas ialah para malaikat yang menjaga neraka. Sedang az-zabaniyah dalam konteks dunia ialah tentara yang bertindak sebagai pengawal. Kata tunggalnya az-zibniyyah. Tentang hal ini, Ibnu Az-Zaba'ri berkata:
Mewah pada jamuan tamu di kala perang Zabaniyah; bertulang dan berangan keras
Bait di atas adalah pengalan dari syair-syair Ibnu Az-Zaba'ri.
Shakhr bin Abdullah Al-Hudzali yang tak lain Shakhr Al-Ghayyi berkata:
Dan dari desa Kabir (perkampungan Hudzail) banyak orangyang berwatak keras
Bait di atas adalah penggalan syair-syair Shakr bin Abdullah.
Ibnu Ishaq berkata: Tentang kekayaan yang mereka tawarkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Allah Ta'ala menurunkan ayat-Nya,
Katakanlah:


Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Saba': 47).
Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendakwahi orang-orang Quraisy dengan membawa kebenaran yang sudah mereka tahu, dan mereka sadar sekali dengan kebenaran akan ucapan beliau, dan kebenaran kenabian beliau dan tentu ilmu gaib yang beliau bawa setelah mereka menanyakannya, maka menebarlah kedengkian mereka padanya, pada para pengikutnya, dan kejujuran beliau. Mereka mendurhakai Allah, tak acuh terhadap perintah-Nya, dan dengan keras kepala mereka tetap berada dalam kekafiran. Salah seorang dari mereka berkata: sebagaimana diabadikan dalam Al-Quran,
 
 



'Janganlah kalian dengar Al-Quran ini dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kalian dapat mengalahkan (mereka). ' (QS. Fushshilat: 26). Yakni, Al- Qur'an ini hanyalah bahan ejekan, sesuatu yang tak bermanfaat, dan barang mainan, mudah-mudahan kalian bisa menang melawannya, sebab jika pada suatu saat kalian berdebat dengannya, ia mengalahkan kalian dengan gampang.
Suatu ketika, Abu Jahal menghina Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kebenaran yang beliau bawa. Ia berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad menyatakan bahwa pasukan tempur Allah yang menyiksa kalian di neraka dan memenjara kalian di dalamnya berjumlah sebanyak sembilan belas, padahal jumlah kalian jauh lebih banyak. Apakah seratus orang dari kalian tidak akan mampu menang melawan salah satu dari tentara tersebut. Kemudian Allah Taala me- nyindir ucapan Abu Jahl tersebut:


Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untukjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang- orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang- orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatuperumpamaan?"Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapayang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. (QS. al-Muddatstsir: 31).

Saat salah satu dari mereka mengatakan yang demikian kepada sebagian yang lain, ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca Al-Qur an dengan suara nyaring dalam shalatnya, mereka menghindar dari beliau dan menolak untuk mendengarkannya. Namun sebagian dari mereka justru ingin mendengarkan sebagian Al-Qur'an yang dibaca Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam shalatnya, ia secara sembunyi-sembunyi mendengarkan tanpa sepengetahuan mereka. Jika ia
 
mengetahui bahwa orang-orang Quraisy mengetahui dirinya mendengarkan bacaan beliau, ia pergi karena takut mendapatkan sik- saan dari mereka dan tidak lagi menyimak bacaan beliau. Jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengecilkan volume suaranya, orang-orang yang mendengarnya menduga bahwa mereka tidak mendengar sedikit pun bacaan beliau, bahkan beliau yang mendengar sedikit dari suara mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Daud bin Al-Hushain, mantan budak Amr bin Utsman berkata kepadaku dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas yang berkata bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata kepada mereka:

"Sesungguhnya ayat berikut: 'Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu', diturunkan untuk mereka." Yakni, janganlah engkau menyaringkan suaramu hingga mereka lari darimu, dan jangan pula mengecilkan volume sehingga orang yang ingin mendengarnya tidak dapat mendengar yaitu sebagian orang- orang Quraisy yang mencuri-curi pendengaran sehingga barangkali ia menaruh perhatian kepada apa yang didengarnya lalu hal tersebut membimbingnya pada hidayah.



Siapakah Orang yang Pertama Kali Membaca Al-Quran Secara Terbuka di Depan Umum?


Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Urwah bin Az-Zubayr bercerita kepadaku dari ayahnya yang berkata: Orang yang pertama kali membaca Al-Qur'an secara terbuka di depan umum di Makkah setelah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam adalah Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu. Pada suatu ketika, sahabat- sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkumpul. Mereka berkata: "Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur'an yang dibaca di depan umum. Siapakah yang berani memperdengarkannya kepada mereka?" Abdullah bin Mas'ud berkata: "Aku"! Mereka berkata: "Kami khawatir akan nyawa. Kami ingin ada orang yang mempunyai keluarga yang dapat melindunginya dari kaum tersebut jika ternyata nanti mereka berbuat jahat." Abdullah bin Mas'ud berkata: "Biarkanlah aku yang melakukannya, karena Allah akan melindungiku." Kemudian Abdullah bin Mas'ud pergi ke Maqam pada waktu Dhuha pada saat orang-orang Quraisy sedang berada di balai pertemuan mereka.
Abdullah bin Mas'ud berdiri di Maqam tersebut, lalu membaca dengan suara nyaring,


Tuhan yang Maha pemurah, yang telah meng- ajarkan Al Quran. (QS. ar-Rahman: 1-2). Abdullah bin Mas'ud melanjutkan bacaannya, sedang orang-orang Quraisy merenungkannya bahkan sebagian dari mereka berkata: "Apa yang dibaca anak Ummu Abd ini?" Sebagian dari mereka berkata: "Dia sedang membaca sebagian yang dibawa Muhammad". Mereka bangkit bergerak mendatangi Abdullah bin Mas'ud lalu menghajarnya, tapi Abdullah bin Mas'ud tak bergeming dia tetap membaca surat tersebut sampai ayat tertentu. Setelah itu, Abdullah bin Mas'ud baru pergi menemui sahabat-sahabatnya dengan wajah terluka. Mereka berkata kepadanya: "Itulah yang kami khawatirkan atas dirimu." Abdullah bin Mas'ud berkata: "Musuh-musuh Allah itu tidak lebih hina dalam pandanganku daripada mereka sejak sekarang. Jika kalian mau, besok pagi aku akan melakukan hal yang sama. Mereka
 
berkata: "Jangan!! Cukuplah engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang tidak mereka suka."



Siapa Saja Orang-orang Quraisy yang Menyimak Bacaan Al-Quran yang Dibaca Nabi


Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku: Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-Akhnas bin Syariq bin Amr bin Wahb Ats-Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah, di suatu malam keluar untuk menyimak bacaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang sedang melakukan shalat malam di rumahnya. Setiap orang dari mereka bertiga tidak saling mengetahui keberadaan mereka satu sama lain. Mereka rela begadang demi mendengarkan bacaan beliau. Ketika fajar menyingsing, mereka bubar, dan bertemu di salah satu jalan. Mereka saling mengata-ngatai satu sama lain. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Jangan lakukan lagi, sebab bila kalian dilihat sebagian orang-orang yang tidak waras di antara kalian, pastilah kalian menimbulkan rasa curiga pada diri mereka." Setelah itu, mereka berpisah. Pada malam berikutnya, setiap orang dari mereka bertiga kembali ke mendengar bacaan Rasulullah. Mereka rela begadang tidur guna mendengarkan bacaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Saat fajar merekah, mereka bubar dan kembali bertemu di salah satu jalan. Sebagian di antara mereka berkata kepada yang lain persis seperti yang mereka katakan sebelumnya pada malam sebelumnya. Setelah itu mereka berpisah. Pada malam berikutnya, mereka bertiga kembali mendengarkan bacaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ketika fajar merekah, mereka bubar dan kembali bertemu di salah satu jalan. Sebagian dari mereka berkata kepada yang lain: "Mari kita berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kita ini." Mereka bertiga pun berjanji tidak mendengarkan bacaan Al-Qur'an di rumah Muhammad, kemudian pulang ke rumahnya masing-masing.
Keesokan harinya, Al-Akhnas keluar menemui Abu Sufyan di rumahnya. Sesampainya di rumah Abu Sufyan Al-Akhnas bertanya: "Wahai Abu Hanzhalah, katakanlah kepadaku apa pendapatmu tentang apa yang semalam engkau simak dari Muhammad?" Abu Sufyan menjawab: "Wahai Abu Tsa'labah, demi Allah, aku mendengar beberapa yang aku tahu dan aku mengerti maksudnya. Aku juga dengar beberapa hal yang tidak aku tahu dan tidak aku pahami maksudnya. "Al-Akhnas berkata: "Demi Allah, aku juga seperti itu."
Lalu Al-Akhnas menuju rumah Abu Jahal. Sesampainya di rumahnya, Al-Akhnas, kemudian berkata kepada Abu Jahal: "Wahai Abu Al-Hakam, apa yang engkau dengar dari Muhammad semalam?" Abu Jahal berkata: "Mendengar apa aku?! Bukankah kita bersaing ketat memperebutkan kehormatan dengan Bani Abdu Manaf. Mereka memberi makan kita juga melakukan hal yang sama. Mereka menanggung orang, kita juga melakukan hal yang sama. Mereka memberi demikian juga kita. Hingga ketika kita telah siap untuk berangkat dan kami seperti dua kuda pacuan, mereka berkata: 'Kita memiliki Nabi yang mendapatkan wahyu dari langit'. Kapankah kita bisa mencapai hal seperti itu? Demi Allah, aku tidak akan pernah beriman kepada Nabi tersebut tidak pula membenarkannya!" Al- Akhnas berdiri dan meninggalkan Abu Jahl.
Ibnu Ishaq berkata: Apabila Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan mengajak kepada Allah, mereka mencemooh beliau sambil berkata: "Hati kami tertutupi dari apa yang kamu seru kami kepadanya." Artinya, kami tidak mengerti apa yang engkau katakan. "Dan di telinga kami ada sumbatan." Artinya, kami tidak bisa menyimak apa yang engkau katakan.
 
"Dan antara diri kami dan dirimu ada dinding." Artinya, ada penghalang antara kami denganmu. "Maka bekerjalah kamu." Artinya, kerjakan apa yang mesti engkau kerjakan. "Sesungguhnya kami bekerja." Artinya, kami akan mengerjakan apa yang harus kami kerjakan. "Kami tidak mengerti apapun darimu." Kemudian Allah menurunkan firman-Nya kepada beliau tentang ucapan mereka tersebut:


Dan apabila kamu membaca Al-Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dindingyang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya (QS. al-Isra': 45-46).
Yakni, mustahil mereka mampu memahamimu yang mentauhidkan Tuhanmu, jika Aku sudah menyumbat hati mereka dan menutup telinga mereka, serta terdapat dinding pemisah antara mereka denganmu sebagaimana yang mereka duga? Intinya, "Aku tidak akan membuat mereka mendengar dan memahami."


'Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka ber bisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: 'Kamu tidak lain hanyalah meng ikuti seorang laki-laki yang kena sihir. ' (QS. al-Isra: 47).
Itulah yang saling mereka wasiatkan yakni tidak mengamalkan apa yang Aku utus engkau dengannya kepada mereka.


Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu, karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar) (QS. al-Isra: 48).
Artinya, mereka telah keliru dalam mencitrakan dirimu. Maka tidaklah aneh apabila mereka tidak mendapatkan petunjuk di dalamnya, dan perkataan mereka tidak memiliki nilai sedikit pun.
 
 

Dan mereka berkata: 'Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru? (QS. al-Isra: 49).
Yakni, engkau telah jelaskan kepada kami bahwa kami akan dibangkitkan setelah kematian dan setelah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur. Ini satu hal tidak mungkin terjadi.


Katakanlah: "Jadilah kalian sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiran kalian." Maka mereka akan bertanya, "Siapa yangakan menghidupkan kembali?" Katakanlah, "Yang telah menciptakan kalian pada kali yang pertama." (QS. al-Isra: 50-51).
Yakni, Dzat yang menciptakan kalian sebagaimana yang telah kalian ketahui. Maka diciptakannya kalian dari tanah tidak lebih sulit bagi-Nya.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Mujahid dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhumz yang berkata bahwa aku bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai firman Allah:


Atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurutpikiran kalian. (QS. al-Isra: 51).
Apa maksud Allah dengannya? Ibnu Abbas menjawab: Kematian.




Kekejaman Kaum Musyrikin Atas Orang-orang Lemah yang Baru Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Kemudian orang-orang Quraisy meneror orang-orang yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Setiap kabilah menangkap kaum Muslimin yang berada di kabilahnya kemudian memenjara mereka, menghajar mereka, membiarkan mereka lapar dan haus, dan menjemur mereka di padang pasir Makkah jika musim panas sedang membara. Mereka menyiksa orang-orang yang lemah di antara kaum Muslimin. Mereka melakukan cobaan berat atas sikap keberagamaan orang-orang lemah itu. Di antara kaum Muslimin ada yang berubah karena beratnya cobaan yang diterimanya. Namun ada pula yang lawan dan melakukan resistensi, Allah melindungi mereka dari orang-orang Quraisy.
 
Bilal adalah mantan budak Abu Bakar Radhiyallahu Anhu. Awalnya ia adalah budak salah seorang dari Bani Jumah dan dilahirkan di Bani Jumah. Dialah Bilal bin Rabah. Ibunya bernama Hamamah. Bilal bin Rabah masuk Islam dengan tulus, hatinya bersih. Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah mengeluarkannya ketika matahari sedang di puncak teriknya. Ia membaringkannya di atas padang pasir Makkah kemudian memerintahkan untuk meletakkan batu besar di atas dadanya. Umayyah bin Khalaf berkata kepada Bilal: "Demi Allah, engkau akan berada dalam kondisi seperti ini hingga engkau mati atau engkau kafir kepada Muhammad dan menyembah Al-Lata dan Al-Uzza." Meng- hadapi ujian tersebut, Bilal berkata: "Ahad (Esa) Ahad(Esa)."
Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya ia berkata: Pada saat Bilal sedang disiksa, dan mengucapkan, 'Ahad. Ahad,' Waraqah bin Naufal berjalan melewatinya. Waraqah bin Naufal berkata: "Demi Allah, Ahad, dan Ahad, wahai Bilal." Waraqah bin Naufal menemui Umayyah bin Khalaf dan orang-orang dari Bani Jumah yang menyiksa Bilal. Waraqah bin Naufal berkata kepada mereka, "Allah, jika kalian menghabisi Bilal dalam kondisi seperti ini, pasti aku akan memberkati tempat kematiannya." Demikianlah apa yang terjadi sampai Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu berjalan melewati orang-orang yang sedang menyiksa Bilal. Rumah Abu Bakar berada di Bani Jumah. Abu Bakar berkata kepada Umayyah bin Khalaf: "Mengapa engkau tidak takut kepada Allah dari menyiksa orang miskin ini? Hingga kapan engkau akan menyiksanya?" Umayyah bin Khalaf berkata: "Engkaulah yang merusak pikiran orang ini. Oleh karena itu, selamatkan dia jika engkau suka!" Abu Bakar berkata: "Boleh! aku mempunyai budak hitam yang lebih kuat dan kekar daripada dia, dan lebih fanatik berpegang dengan agamamu. Bagaimana kalau kita barter saja." Umayyah bin Khalaf berkata: "Aku setuju." Abu Bakar berkata: "Budak tersebut menjadi milikmu." Kemudian Abu Bakar memberikan budaknya itu kepada Umayyah bin Khalaf sementara ia mengambil Bilal kemudian dia memerdekakannya.
Sebelum hijrah ke Madinah, Abu Bakar memerdekakan enam budak dan Bilal adalah budak ketujuh yang ia merdekakan. Keenam budak yang ia merdekakan adalah sebagai berikut: Amir bin Fuhairah. Ia terlibat pada Perang Badar dan Uhud dan syahid di Perang Bi'ru Maunah, Ummu Ubais, Zinnirah ketika Abu Bakar memerdekakannya, ia dalam kon- disi buta akibat penyiksaan yang diterimanya. Orang-orang Quraisy berkata: "Matanya di cabut Al-Lata dan Al-Uzza." Zinnirah berkata: "Demi Rumah Allah, mereka bohong. Al-Lata dan Al-Uzza adalah patung yang tidak bisa berbuat apa-apa." Kemudian Allah mengembalikan matanya menjadi melihat kembali.
Kemudian dia memerdekakan An-Nahdiyyah dan putrinya. Keduanya milik seorang wanita dari Bani Abduddar. Abu Bakar mele- wati keduanya yang ketika itu sedang membuat tepung. Tuannya berkata: "Demi Allah, aku tidak akan pernah memerdekakan kalian berdua." Abu Bakar berkata: "Wahai ibu Si Fulan, batalkanlah sumpahmu itu!" Wanita tersebut berujar: "Membatalkan sumpah? Padahal engkau yang merusak pikiran keduanya!
Merdekakanlah mereka berdua, jika engkau suka!" Abu Bakar berkata: "Berapa harga keduanya?" Wanita itu berkata: "Sekian dan sekian." Abu Bakar berkata: "Aku beli keduanya dengan harga tersebut, dan keduanya menjadi orang merdeka." Abu Bakar berkata kepada An-Nahdiyyah dan putrinya: "Berhentilah membuat tepung itu!" An-Nahdiyyah dan putrinya berkata: "Wahai Abu Bakar, bagaimana kalau kami selesaikan dulu pembuatan tepung ini, jika telah selesai, baru kami kembalikan kepadanya?" Abu Bakar kemudian berkata: "Terserah kalian berdua." Abu Bakar berjalan melewati budak Muslimah Bani Muammil di perkampungan Bani Adi bin Ka'ab. Ketika itu Umar bin Khaththab menyiksanya agar ia meninggalkan agama Islam. Umar bin Khath-thab yang waktu itu masih musyrik tidak henti-hentinya menyiksa budak wanita tersebut hingga ia kelelahan sendiri. Umar bin Khaththab berkata: "Aku berhenti menyiksamu hanyalah karena kelelahan." Budak wanita itu berkata:
 
"Demikianlah Allah berbuat terhadap dirimu." Kemudian Abu Bakar membeli budak wanita tersebut dan memerdekakannya.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Abdullah bin Abu Atiq bercerita kepadaku dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari sebagian keluarganya yang berkata: Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar: "Aku lihat engkau cenderung memerdekakan budak-budak yang lemah. Andai saja engkau memerdekakan budak-budak yang kuat, niscaya mereka siap untuk melindungimu." Abu Bakar berkata: "Wahai ayahanda, aku hanya melaku- kan apa yang Allah inginkan." Salah seorang dari keluarga Abu Bakar berkata bahwa Allah menurunkan ayat-ayat tentang Abu Bakar dan tentang ucapan ayahnya kepadanya:




Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan. (QS. al-Lail: 5-21).
Ibnu Ishaq berkata: tatkala matahari sedang mencapai puncak panasnya, Bani Makhzum membawa Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya, yang semuanya telah masuk Islam, ke padang pasir Makkah untuk disiksa. Pada saat mereka bertiga sedang disiksa, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melewati mereka. Beliau bersabda seperti kabar yang aku terima, "Sabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga."36 Mereka membunuh Ummu Ammar karena tetap kokoh dan menolak kecuali Islam.
 
 
Abu Jahal inilah yang mencemooh kaum Muslimin di kalangan orang-orang Quraisy. Jika mendengar ada orang yang mulia mendapat perlindungan masuk Islam, ia mencemooh dan menjelek-jelekkannya dengan mengatakan: "Engkau murtad dari agama ayahmu, padahal ayahmu lebih baik daripada engkau. Kami pasti menjelek-jelekkan mimpimu, tidak menerima pendapatmu, dan merusak kehormatanmu."
Jika orang tersebut pelaku bisnis, Abu Jahal akan berkata kepadanya: "Demi Allah, kami pasti membuat bisnismu bangkrut, dan kami hancurkan kekayaanmu* Jika orang tersebut orang lemah, maka Abu Jahl akan menyiksa atau merayunya.
Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Jubair berkata kepadaku dari Sa'id bin Jubair yang berkata bahwa aku bertanya kepada Abdullah bin Abbas: "Bagaimanakah bentuk penyiksaan orang-orang musyrikin terhadap sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam," Abdullah bin Abbas berkata: "Demi Allah. Orang-orang Quraisy memukul salah seorang dari sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, membuat mereka kelaparan dan kehausan hingga salah seorang dari mereka tidak bisa berdiri tegak akibat beratnya penyiksaan yang diterimanya. Sampai-sampai orang-orang Quraisy berkata kepadanya, "Al-Lata dan Al-Uzza adalah Tuhanmu, bu- kan Allah!!" Ia berkata: "Ya." Bahkan seekor sapi betina dibawa ke hadapannya, kemudian mereka berkata kepadanya: "Sapi betina ini adalah Tuhanmu dan bukannya Allah." Ia menjawab: "Ya." Ia melakukan ini semua demi menghindari penyiksaan yang lebih kejam."
Ibnu Ishaq berkata: Zubair bin Ukasyah bin Abdullah bin Abu Ahmad berkata kepadaku: Beberapa orang Bani Makhzum berjalan menuju rumah Hisyam bin Al-Walid, karena saudaranya yang bernama Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah telah memeluk Islam. Mereka sepakat untuk memurtadkan kembali anak-anak muda mereka yang telah masuk Islam, di antarannya Salamah bin Hisyam, dan Ayyasy bin Abu Rabi'ah. Mereka berkata kepada Al-Walid dalam dengan ketakutan karena wataknya yang keras, "Sesungguhnya kami ingin menjelek-jelekkan anak-anak muda tersebut karena agama baru yang mereka anut. Sehingga kita merasa ringan dalam menangani kasus lainnya selain mereka." Hisyam bin Al-Walid berkata: "Baiklah, silahkan saja, namun kalian jangan macam-macam dengan Al- Walid. Hati-hatilah kalian terhadap dia." Kemudian Hasyim bin Al-Walid berkata:
Janganlah kau sekali-kali habisi Ubais saudaraku
Jika kalian lakukan, maka kita mempunyai permusuhan abadi

"Berhati-hatilah kalian terhadapnya. Aku bersumpah dengan nama Allah, jika kalian membunuhnya, aku akan menghabisi orang paling dihormati di antara kalian. Mereka berkata: 'Ya Allah, laknatilah dia! Siapakah yang mau tertipu dengan ucapannya tersebut. Demi Allah, andaikata saudaranya mening- gal di tangan kita, pasti ia membunuh orang paling dihormati di antara kita." Makanya mereka tidak berani menganggu Al-Walid. Demikianlah Allah melindungi Al-Walid dari teror mereka.



Hijrah Pertama ke Negeri Habasyah


Ibnu Ishaq berkata: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyaksikan langsung penderitaan yang dialami sahabat-sahabatnya, dan itu berbalik dengan keadaan beliau karena kedudukan beliau di sisi
 
Allah dan di sisi pamannya, Abu Thalib, sementara beliau tidak mampu memberi perlindungan kepada mereka, maka beliau bersabda kepada mereka: "Bagaimana kalau kalian berhijrah ke negeri Habasyah, karena rajanya mengharamkan siapapun dizalimi di dalamnya, dan negeri tersebut adalah negeri yang aman hingga Allah memberi solusi bagi kalian!"
Kemudian sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat menuju Habasyah, karena khawatir menerima siksaan yang lebih berat. Mereka lari kepada Allah dengan membawa agama mereka. Inilah hijrah pertama yang terjadi dalam Islam.
Kaum Muslimin yang pertama kali berangkat dari Bani Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr ialah Utsman bin Affan bin Abu Al- Ash bin Umayyah beserta istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Muhajirin dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams beserta istrinya yang bernama Sahlah binti Suhail bin Amr, salah seorang dari Bani Amir bin Luay. Di Habasyah Sahlah melahirkan seorang putra yang bernama Muhammad bin Hudzaifah.
Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay ialah Az-ZUbayr bin Awwam bin Khuwailid bin Asad.
Dari Bani Abduddar bin Qushay ialah Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar.
Dari Bani Zuhrah bin Kilab ialah Abdur-rahman bin Auf bin Abdu Manaf bin Abd bin Al-Harits bin Zuhrah.
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah ialah Abu Salamah bin Abdul Usd bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum beserta istrinya yang bernama Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Al- Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.
Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab ialah Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahab bin Hudzafah bin Jumah.
Dari Bani Adi bin Ka'ab ialah Amir bin Rabi'ah, sekutu keluarga Al-Khaththab dari Anzah bin Wail.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang dari Anzah ialah anak Asad bin Rabiah. Amir bin Rabi'ah hijrah bersama istrinya, Laila binti Abu Hatsmah bin Hudzafah bin Ghanim bin Abdullah bin Auf bin Ubayd bin Uwaij bin Adi bin Ka'ab.
Dari Bani Amir bin Luay ialah Abu Sabrah bin Abu Ruhm bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir. Ada yang mengatakan yang hijrah dari Bani Amir bin Luay ialah Abu Hathib bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir. Ada yang mengatakan bahwa dialah orang yang pertama kali tiba di Habasyah.
Dari Bani Al-Harits bin Fihr ialah Suhail bin Baidha yang tidak lain adalah Suhail bin Wahb bin Rabi'ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits.
Sepuluh orang kaum Muslimin inilah yang pertama kali berangkat ke bumi Habasyah, sebagaimana berita yang saya terima.
Ibnu Hisyam berkata: Mereka dipimpin Utsman bin Madz'un seperti diikatakan sebagian orang berilmu kepadaku.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Ja'far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berangkat menyusul ke bumi Habasyah. Kaum Muslimin secara bertahap-tahap berhijrah ke Habasyah hingga mereka berkumpul di sana. Ada yang hijrah bersama istrinya, ada pula yang hijrah sendirian tanpa ditemani istrinya.
 
Dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr ialah Ja'far bin Abu Thalib bin Hasyim beserta istrinya, Asma' binti Umais bin An-Nu'man bin Ka'ab bin Malik bin Quhafah bin Khats'am. Di Habasyah, Asma' melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdullah bin Ja'far.
Sedangkan dari Bani Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams beserta istrinya yang bernama Ruqayyah binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Amr bin Sa'id bin Al-Ash bin Umayyah beserta istrinya yang bernama Fathimah binti Shaf- wan bin Umayyah bin Muharrits bin Syiqq bin Raqabah bin Mukhdi' Al-Kinani, dan saudaranya yang bernama Khalid bin Sa'id bin Al-Ash bin Umayyah beserta istrinya yang bernama Umainah binti Khalaf bin As'ad bin Amir bin Bayadzah bin Yatsi' bin Ja'tsamah bin Sa'ad bin Mulaih bin Amr, dari Khuza'ah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan Humainah (bukan Umainah) binti Khalaf. Ibnu Ishaq berkata: Di Habasyah, Umainah melahirkan Sa'id bin Khalid dan Amah binti Khalid. Di kemudian hari, Amah menikah dengan Zubair bin Awwam dan dari pernikahan keduanya lahirlah Amr bin Zubair, dan Khalid bin Zubair.
Di antara sekutu-sekutu Bani Umayyah dari Bani Asad bin Khuzaimah yang hijrah ke Habasyah ialah Abdullah bin Jahsy bin Ri'ab bin Ya'mar bin Shabrah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad, saudaranya yang bernama Ubaidillah bin Jahsy beserta istrinya yang bernama Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah. Qais bin Abdullah salah seorang dari Bani Asad bin Khuzaimah beserta istrinya yang bernama Barakah binti Yasar mantan budak wanita Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah, dan Mu'aiqib bin Abu Fathimah. Ketujuh orang di atas adalah keluarga Sa'id bin Al-Ash.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebut bahwa Mu'aiqib berasal dari Daus.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams, dan Abu Musa Al-Asy ari yang nama aslinya adalah Abdullah bin Qais, sekutu keluarga Utbah bin Rabi'ah.
Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf ialah Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahb bin Nasib bin Malik bin Al-Harits bin Mazin bin Manshur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan, sekutu mereka.
Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay ialah Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad, Al-Aswad bin Naufal bin Khuwailid bin Asad, Yazid bin Zam'ah bin Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad, dan Amr bin Umayyah bin Al-Harits bin Asad. Jadi jumlah muhajirin dari Bani Asad bin Abdul Uzza ada empat orang.
Dari Bani Abd bin Qushay ialah Thulaib bin Umair bin Wahb bin Abu Kabir bin Abd bin Qushay. Seorang saja.
Sementara dari Bani Abduddar bin Qushay ialah Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar, Suwaibith bin Sa'ad bin Harmalah bin Malik bin Umailah bin As-Sibaq bin Abduddar, Jahm bin Qais bin Abdu Syurahbil bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar beserta istrinya yang bernama Ummu Harmalah binti Abdu A-Aswad bin Judzaimah bin Aqyasy bin Amir bin Bayadzah bin Yatsiq bin Ja'tsamah bin Sa'ad bin Mulaih bin Amir dari Khuza'ah beserta kedua anaknya yang bernama Amr bin Jahm dan Khuzaimah bin Jahm, Abu Ar-Rum bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar, dan Firas bin An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddar. Dengan demikian jumlah mereka ada lima orang.
 
Dari Bani Zuhrah bin Kilab ialah Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin Al-Harits bin Zuhrah, Amir bin Abu Waqqash, nama lengkapnya adalah Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah, Al- Muthalib bin Azhar bin Abdu Manaf bin Abd bin Al-Harts bin Zuhrah beserta istrinya Ramlah binti Abu Auf bin Dhubairah bin Su'aid bin Sa'ad bin Sahm. Di Habasyah, Ramlah melahirkan bayi laki-laki yang bernama Abdullah bin Al-Muthalib.
Dari sekutu-sekutu Bani Zuhrah bin Kilab dari Hudzail ialah Abdullah bin Mas'ud bin Al-Harits bin Syamakh bin Makhzum bin Shahilah bin Kahil bin Al-Harits bin Tamim bin Sa'ad bin Hudzail, dan saudaranya yang bernama Utbah bin Mas'ud.
Dari Bahra' ialah Al-Miqdad bin Amr bin Tsa'labah bin Malik bin Rabi'ah bin Tsumamah bin Mathrud bin Amr bin Sa'ad bin Tsaur bin Tsa'labah bin Malik bin Asy-Syarid bin Hazl bin Faisy bin Puraim bin Al- Qain bin Ahwad bin Bahra' bin Amr bin Ilhaf bin Qudha'ah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan bahwa Muhajirin lain dari Bahra' ialah Hazl bin Fas bin Dzar, Duhair bin Tsaur.
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang berpendapat bahwa muhajirin lain dari Bahra' ialah Al-Miqdad bin Al- Aswad bin Abdu Yaghuts bin Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah, karena Al-Aswad mengadopsinya pada masa jahiliyah dan bersekutu dengannya. Jadi jumlah Muhajirin dari Bahra' ada enam orang.
Adapun muhajirin dari Bani Taim bin Murrah ialah Al-Harits bin Khalid bin Shakhr bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim beserta istrinya yang bernama Raithah binti Al-Harits bin Jabalah bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Di Habasyah dia melahirkan anak yang diberi nama Musa bin Al- Harits. Aisyah binti Al-Harits, Zainab binti Al Harits, dan Fathimah binti Al-Harits, dan Amr bin Utsman bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Jadi jumlah Muhajirin dari Bani Taim bin Murrah ada dua orang.
Dari Bani Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah ialah Abu Salamah bin Abdu Al-Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum beserta istrinya yang bernama Ummu Salamah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Di Habasyah, Ummu Salamah melahirkan anak perempuan yang diberi nama Zainab binti Abu Salamah. Nama asli Abu Salamah ialah Abdullah sedangkan nama asli Ummu Salamah ialah Hindun. Muhajirin yang lain dari Bani Makhzun ialah Syammas bin Utsman bin Abd bin Asy-Syarid bin Suwaid bin Harmi bin Amr bin Makhzum.
Ibnu Hisyam berkata: Nama asli Syam-mas adalah Utsman. Dinamakan Syammas karena Syammas lain yang berasal dari Asy-Syamamisah tiba di Makkah pada zaman jahiliyah. Syammas dari Asy- Syamamisah ini adalah pria tampan penuh kharisma. Utbah bin Rabi'ah, paman Syammas berkata: "Aku akan datangkan Syammas yang lebih tampan daripada Syammas ini." kemudian ia mendatangkan keponakannya yang bernama Utsman bin Utsman kemudian ia diberi nama Syammas sebagaimana dituturkan Ibnu Syihab.
Ibnu Ishaq berkata: Muhajirin yang lain dari Bani Makhzum ialah Habbar bin Sufyan bin Abdu Al-Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, saudara Habbar, Abdul-lah bin Sufyan, Hisyam Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, Salamah bin Hisyam bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, dan Ayyasy bin Abu Rabi'ah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.
Muhajirin dari sekutu-sekutu Bani Makh-zum ialah Muattib bin Auf bin Amir bin Al-Fadhl bin Afif bin Kulaib bin Habasyiyah bin Salul bin Ka'ab bin Amr dari Khuza'ah. Dialah yang diberi nama Aihamah. Jadi jumlah muhajirin dari Bani Makhzum dan sekutunya ada delapan orang.
 
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan Muhajirin lain dari sekutu Bani Makhzum ialah Hubsyiyah bin Salul. Dialah yang biasa dipanggil Muattib bin Hamra.
Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab ialah Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah beserta anak laki-lakinya yang bernama As-Saib bin Utsman, serta dua saudara laki-lakinya yang bernama Qudamah bin Madz'un dan Abdullah bin Madz'un. Hathib bin Al-Harits bin Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah beserta istrinya yang bernama Fathimah binti Al- Mujallil bin Abdullah bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, kedua anak laki-lakinya yang bernama Muhammad bin Hathib, dan Al-Harits bin
Hathib saudara Hathib yang bernama Haththab bin Al-Harits beserta istrinya yang bernama Fukaihah binti Yasar, Sufyan bin Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah serta kedua anak laki- lakinya yang bernama Jabir bin Sufyan dan Junadah bin Sufyan, serta istrinya yang bernama Hasanah. Hasanah adalah ibu Jabir dan Junadah, serta saudara keduanya dari pihak ibu yaitu Syurahbil bin Hasanah, yang berasal dari Al-Ghauts.
Ibnu Hisyam berkata: Syurahbil merupakan anak Abdullah, salah seorang dari Al-Ghauts bin Murr, saudara Tamim bin Murr.
Ibnu Ishaq berkata: Muhajirin lain dari Bani Jumah ialah Utsman bin Rabi'ah bin Ahban bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Jadi jumlah Muhajirin dari Bani Jumah ada sebelas orang laki-laki.
Dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab ialah Khunais bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Abdullah bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, dan Hisyam bin Al-Ash bin Wail bin Sa'ad bin Sahm.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Ash adalah anak Wail bin Hasyim bin Sa'ad bin Sahm.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Sahm bin Amir ialah Qais bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Abu Qais bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Al-Harts bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Ma'mar bin Al-Harits
bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Bisr bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, saudara seibu Bisr dari Bani Tamim yang bernama Sa'id bin Amr, Sa'id bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, As-Saib bin
Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Umair bin Ri'ab bin Hudzaifah bin Muhassim bin Sa'ad bin Sahm, dan Mahmiyah bin Al-Jaza', sekutu Bani Sahm bin Amr dari Bani Zubaid. Jumlah Muhajirin dari Bani Sahm ada empat belas orang laki-laki.
Dari Bani Adi bin Ka'ab ialah Ma'mar bin Abdullah bin Nadhlah bin Abdul Uzbin Hurtsan bin Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi, Urwah bin Abdul Uzza bin Hurtsan bin Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi, Adi bin Nadhlah bin Abdul Uzza bin Auf bin Ubaid bin Uwaid bin Adi beserta anak laki-lakinya yang bernama An-Nu'man bin Adi, dan Amir bin Rabi'ah, sekutu keluarga Al-Khaththab dari Anz bin Wail beserta istrinya yang bernama Laila binti Hatsmah bin Ghanim. Jadi Muhajirin dari Bani Adi bin Ka'ab ada lima orang.
Dari Bani Amir bin Luay ialah Abu Sabrah bin Abu Ruhm bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir beserta istrinya yang bernama Ummu Kaltsum binti Suhail bin Amr bin Abdu Syamsu bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, Abdullah bin Makhramah bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nashr bin Nahsr bin Malik bin Hisl bin Amir, Abdullah bin Suhail bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, Salith bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, saudara Salith yang
 
bernama As-Sakran bin Amr beserta istrinya yang bernama Saudah binti Zam'ah bin Qais bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, Malik bin Zam'ah bin Qais bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nahsr bin Malik bin Hisl bin Amir beserta istrinya yang bernama Amrah binti As- Sa'di bin Waqdan bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, Abu Hathib bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, dan Sa'ad bin Khaulah, sekutu mereka. Jumlah muhajirin dari Bani Amir bin Luay ada delapan belas orang laki-laki.
Ibnu Hisyam berkata: Sa'ad bin Khaulah adalah orang Yaman.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Al-Harits bin Fihr ialah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang bernama asli Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits, Suhail bin Baidha' yang nama leng- kapnya ialah Suhail bin Wahb bin Rabi'ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits namun nasab ibunya lebih lekat dengannya sehingga ia dinasabkan kepada ibunya. Ibunya bernama Da'dun binti Jahdam bin Umayyah bin Dzarib bin Al-Harits bin Fihr, tapi ibunya lebih sering dipanggil Baidha'.
Muhajirin lainnya dari Bani Al-Harits bin Fihr ialah Amr bin Abu Sarh bin Rabi'ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits, Iyadh bin Zuhair bin Abu Syaddad bin Rabi'ah bin Uhaib bin Dhabbah bin Al- Harts. Ada yang mengatakan bahwa Rabi'ah ialah anak Hilal bin Malik bin Dhabbah bin Al-Harits. Amr bin Al-Harits bin Zuhair bin Syaddad bin Rabi'ah bin Hilal bin Malik bin Dhabbah bin Al-Harits, Amr bin Abdu Ghunm bin Zuhair bin Abu Syaddad bin Rabi'ah bin Hilal bin Malik bin Dhabbah bin Al-Harits, Sa'ad bin Abdu Qais bin Laqith bin Amir bin Umayyah bin Dzarib bin Al-Harits, dan Al-Harits bin Abdu Qais bin Laqith bin Amir bin Umayyah bin Dzarib bin Al-Harits bin Fihr. Jumlah muhajirin dari Bani Al- Harits bin Fihr ada delapan belas orang laki-laki.
Jumlah kaum Muslimin yang menyusul ke Habasyah dan berhijrah kepadanya, selain anak-anak yang mereka bawa hijrah atau lahir di Habasyah, adalah delapan puluh tiga orang laki-laki, apabila Ammar bin Yasir ditambahkan ke dalam jumlah tersebut, namun tidak jelas apakah ikut hijrah ke sana.
Di antara syair-syair yang diungkapkan di Habasyah adalah bahwa sesungguhnya Abdullah bin Al- Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm menyaksikan Muslimin mendapatkan keamanan di Habasyah, memuji perlindungan yang diberikan Najasyi, dan mereka dapat beribadah kepada Allah tanpa ada rasa takut kepada siapa pun.
Utsman bin Madz'un melaknat Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Utsman bin Madz'un adalah saudara misan Umayyah bin Khalaf, namun demikian, Umayyah bin Khalaf tetap mengintimidasi karena keislamannya. Padahal, Umayyah bin Khalaf saat itu adalah tokoh yang sangat dihormati di kaumnya.



Orang-orang Quraisy Mengirim Intelnya ke Habasyah untuk Menarik Pulang Kaum Muhajirin


Ibnu Ishaq berkata: Manakala orang-orang Quraisy menyadari bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hidup damai dan tentram di bumi Habasyah, serta mendapatkan tempat tinggal dan ketenangan, mereka sepakat mengirim dua intel Quraisy yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi dan memintanya menyerahkan sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada mereka. Mereka melakukan ini karena bermaksud menyiksa para sahabat agar murtad dari agamanya, dan mengeluarkan mereka dari negeri Habasyah. Orang-orang Quraisy mengutus
 
Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr bin Al-Ash bin Wail, dan membekali keduanya dengan hadiah- hadiah mewah untuk mereka serahkan Najasyi dan para pendetanya. Maka diutuslah keduanya.
Ketika Abu Thalib mengendus rencana orang-orang Quraisy, dan hadiah-hadiah mewah yang dibawa oleh kedua utusan tersebut, ia mengucapkan syair-syair untuk Najasyi. Meminta Najasyi agar tetap memberikan perlindungan yang baik kepada kaum Muhajirin, dan membela mereka:
Duhai, bagaimana keadaan Ja'far di tempat nunjauhsana Amr, dan para musuh itu adalah kerabat sendiri
Apakah keramahan Najasyi menyentuh Ja'far dan sahabat-sahabatnya
Ataukah ada pihak yang berusaha merusak suasananya
Engkau orang mulia dan luhur
Hingga orang yang tinggal di sisimu tak merasa menderita
Allah membekalimu dengan kelapangan
Dan pintu-pintu kebaikan semuanya melekat pada dirimu Engkau orang pemurah yang berakhlak mulia
Orang jauh dan dekat merasakan kebaikannya.

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri bercerita kepadaku dari Abu Bakr bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam Al-Makhzumi dari Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Al- Mughirah, istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang berkata: "Setiba kami di Habasyah, Najasyi menyambut kami dengan sangat ramah. Kami merasa aman dengan agama kami, dan bisa beribadah kepada Allah tanpa siksaan dan tidak mendengar kata-kata yang menghina kami. Hal ini lalu didengar orang-orang Quraisy, kemudian mereka mengirim dua orang yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi guna membicarakan tujuan mereka, dan merayunya dengan hadiah-hadiah untuk Najasyi yang berasal dari kekayaan penduduk Makkah. Anehnya bahwa di antara hadiah tersebut terdapat kulit. Orang-orang Quraisy mengumpulkan kulit yang banyak sekali, dan tidak ada satu pendetapun yang tidak mereka siapkan hadiah untuk mereka. Barang-barang tersebut dibawa Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr bin Al-Ash, dan mereka berdua diperintahkan untuk tidak gagal dengan misi mereka. Mereka berkata kepada keduanya: "Berikan hadiah ini kepada semua pendeta sebelum kalian berdua mengutarakan maksud kalian kepada Najasyi mengenai orang-orang yang hijrah. Lalu serahkanlah hadiah-hadiah ini kepada Najasyi, kemudian mohonlah kepada Najasyi agar ia menyerahkan orang- orang yang hijrah itu kepada kalian berdua.
Ummu Salamah bercerita: Bangkitlah kedua utusan Quraisy dari Makkah menuju Habasyah. Kami semua saat itu berada di sebuah rumah yang nyaman dan tetangga yang baik. Mereka berdua lalu memberikan hadiah tersebut kepada para pendeta sebelum berbicara kepada Najasyi. Keduanya berkata kepada setiap orang dari para pendeta: "Sesungguhnya telah masuk ke negeri Tuan raja anak- anak muda yang linglung. Mereka meninggalkan agama kaumnya, dan tidak masuk ke dalam agama kalian. Mereka menganut agama baru yang sama-sama tidak kita kenal. Tokoh-tokoh orang-orang Quraisy mengutus kami kepada kalian untuk menarik pulang mereka kepada kaumnya. Jika kami berbicara kepada raja kalian tentang orang- orang tersebut, hendaklah kalian memberikan isyarat agar dia menyerahkan mereka kepada kami dan agar ia tidak berbicara dengan mereka, karena kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan, dan lebih mengerti apa yang mereka cela. Para pendeta berkata kepada keduanya: "Baiklah." Lalu kedua utusan Quraisy itu menyerahkan hadiah- hadiah kepada Najasyi dan Najasyi menerimanya. Keduanya berkata kepada Najasyi: "Wahai tuan raja, sesungguhnya telah menyelinap masuk ke negeri tuan anak-anak muda kami yang linglung. Mereka
 
murtad dari agama kaumnya dan tidak masuk dalam agamamu. Mereka menganut agama yang mereka ciptakan sendiri. Kami tidak mengenal agama tersebut, begitu juga tuan. Kami diutus ayah- ayah mereka, paman-paman mereka, dan keluarga besar mereka untuk membawa mereka pulang kepada kaumnya, karena kaumnya jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan."
Ummu Salamah melanjutkan: Tidak ada sesuatupun yang paling dibenci Abdullah bin Abu Rabi ah dan Amr bin Al-Ash lebih daripada Najasyi mendengar perkataan kaum kaum muslimin. Para pendeta di sekeliling Najasyi berkata: "Mereka berdua berkata benar, wahai tuan raja. Kaum mereka jauh lebih mengerti terhadap apa yang mereka katakan, dan lebih mengerti terhadap apa yang mereka cela. Oleh karena itu, kembalikan saja mereka kepada kedua orang ini, agar keduanya membawa mereka kembali pulang ke negeri dan kaum mereka."
Mendengar itu, Najasyi marah besar. Ia berkata: "Tidak!" Demi Allah, aku tidak akan menyembahkan mereka kepada kalian berdua. Jika ada sebuah kaum hidup berdampingan denganku, dan memilihku daripada orang selain aku, maka kewajibanku adalah bertanya kepada mereka tentang apa yang dikatakan dua orang ini tentang diri mereka. Jika memang benar ucapan kedua orang ini, baru aku serahkan mereka kepada keduanya, dan aku pulangkan mereka kepada kaumnya, namun, jika ternyata mereka tidak seperti dikatakan
Keauanya, aku aKan menaungi mereKa aari keduanya, dan melindungi mereka selama tinggal di negeriku."
Ummu Salamah berkata: Kemudian Najasyi mengundang datang sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melalui utusannya. Ketika utusan Raja Najasyi tiba di tempat, mereka segera mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan tersebut, sebagian Muhajirin berkata kepada sebagia yang lain: "Apa yang akan kita katakan kepada raja Najasyi jika kita datang menemuinya?" Mereka berkata: "Demi Allah, kita akan mengatakan apa yang telah kita ketahui selama ini. Apa yang disampaikan Nabi itulah yang akan kita katakan." Ketika mereka tiba di tempat Najasyi yang ketika itu juga memanggil para uskupnya yang kemudian membuka mushaf-mushaf mereka di sisi Najasyi. Najasyi bertanya kepada para muhajirin: "Mengapa agama ini membuat kalian memisahkan dari dari kaum kalian, dan mengapa kalian tidak masuk ke dalam agamaku, serta tidak masuk ke dalam salah satu dari agama-agama yang telah ada?"
Orang yang menjawab pertanyaan Najasyi ialah Ja'far bin Abu Thalib. Ia berkata kepada Najasyi, "Wahai tuan raja, mulanya kami adalah ahli jahiliyah. Kami menyembah patung-patung, memakan bangkai, berzina, memutus silaturahim, menyakiti tetangga, dan orang kuat di antara kami selalu menindas orang lemah. Begitulah kondisi kami hingga Allah mengutus seseorang dari kami menjadi Rasul kepada kaum kami. Kami mengenal keturunannya, kebenarannya dan kejujurannya. la mengajak kami kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, beribadah kepada-Nya, dan meninggalkan batu dan patung-patung yang sebelumnya kami sembah. Rasul itu memerintahkan kami untuk berkata jujur, menunaikan amanah, menyambung tali silaturahim, bertetangga dengan baik, menahan diri dari hal-hal yang haram, dan tidak membunuh. Ia melarang kami dari perbuatan zina, berkata bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina wanita yang menjaga kehormatannya. Ia memerintahkan kami hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Ia juga memerintahkan kami shalat, zakat, dan puasa.
Ummu Salamah berkata: Ja'far memaparkan asas-asas utama agama Islam, lalu ia berkata: Kami membenarkan Rasul tersebut, beriman kepadanya, dan mengikuti apa yang dia bawa dari sisi Allah. Hanya kepada Allah
 
kami beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kami mengharamkan apa saja yang beliau haramkan, dan menghalalkan apa saja yang beliau halalkan. Setelah itu, muncul ketidaksukaan kaum kami kepada kami. Mereka meneror dan menyakiti kami karena agama ini. Mereka memaksa kami kembali menyembah patung-patung, tidak menyembah Allah Ta'ala, dan kami menghalalkan kembali apa yang dulu pernah kami halalkan. Karena mereka selalu meneror kami, menyaluti kami, mempersempit ruang gerak kami, dan memisahkan kami dari agama kami, maka kami pergi ke negeri tuan dan memilih tuan daripada orang lain. Kami lebih suka hidup berdampingan dengan tuan, dan kami berharap tidak disiksa lagi di sisimu, wahai tuan raja."
Najasyi berkata kepada Ja'far: "Apakah engkau membawa bukti yang datang dari sisi Allah?" Ja'far berkata kepada Najasyi: "Ada." Najasyi berkata kepada Ja'far: "Bacakanlah ia untukku!"
Kemudian Ja'far membacakan permuiaan surat Maryam. Demi Allah, Najasyi menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah oleh air mata. Para uskup juga menangis hingga air mata mereka menetes membasahi mushaf-mushaf mereka ketika mendengar surat yang dibaca Ja'far. Najasyi berkata: "Sesungguhnya ayat tadi dan apa yang dibawa Isa berasal dari sumber cahaya yang sama. Enyahlah kalian berdua, hai utusan Quraisy! Demi Allah, aku tidak akan pernah mengembalikan mereka kepada kalian berdua, dan mereka tidak bisa diusik."
Tatkala kedua utusan Quraisy keluar dari hadapan Najasyi, Amr bin Al-Ash berkata: "Demi Allah, besok pagi aku akan menghadap Najasyi dan mencabut akar asal usul mereka." Abdullah bin Abu Rabi'ah, orang terkuat di tengah kami, berkata: "Jangan kau lakukan itu, karena mereka mempunyai kaum kerabat walaupun mereka berseberangan dengan kita." Amr bin Al-Ash berkata: "Demi Allah, aku akan jelaskan kepada Najasyi, bahwa sahabat-sahabat Muhammad meyakini Isa bin Maryam hanyalah seorang manusia biasa."
Esok harinya, Amr bin Al-Ash kembali menghadap Najasyi untuk kedua kalinya dan berkata kepadanya: "Wahai tuan raja, mereka meyakini sesuatu yang di luar batas tentang Isa bin Maryam. Oleh karena itu, kirimlah seseorang untuk menghadirkan mereka ke sini agar engkau bisa menanyakan tentang pendapat mereka terhadap Isa bin Maryam!" Najasyi mengirim utusan untuk menanyakan pendapat kaum Muslimin terhadap Nabi Isa bin Maryam.
Ummu Salamah berkata: Kami belum pernah berhadapan dengan persoalan rumit seperti ini sebelumnya. Pada saat yang bersamaan, kaum Muslimin mengadakan diskusi. Sebagian di antara mereka bertanya kepada sebagian yang lain: "Apa yang akan kalian katakan tentang Isa bin Mar yam jika raja Najasyi menanyakan hal itu kepada kalian?" Sebagian lain menjawab: "Demi Allah,akan kita katakan seperti yang difirmankan Allah, dan dibawa Nabi kita. Itulah yang akan kita katakan."
Ketika kaum Muslimin masuk ke tempat Najasyi, Najasyi bertanya kepada mereka: "Apa keyakinan kalian tentang Isa bin Maryam?" Jafar menjawab: "Dalam pandangan kami, Isa bin Maryam ialah seperti dikatakan Nabi kami bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang ditiupkan ke dalam rahim Maryam sang perawan." Najasyi memukul tanah dengan tangannya lalu dia mengambil sebuah tongkat, kemudian berkata: "Demi Allah, apa yang dikatakan Isa bin Maryam mengenai tongkat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang engkau yakini."
Para uskup yang ada di sekeliling Najasyi mendengus geram ketika mendengar apa yang dikatakan Najasyi. Najasyi berkata: "Ada apa dengan kalian!" Kepada kaum Muslimin, Najasyi berkata: "Kalian tetap aman di negeriku. Barangsiapa melecehkan kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa merendahkan kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa menghina kalian, ia merugi. Memiliki gunung dari emas, jika aku harus menyakiti salah seorang dari kalian maka hal itu sangat kubenci. Kembalikan hadiah-hadiah ini
 
kepada dua orang utusan Quraisy. Demi Allah, Dia tidak pernah menyuapku untuk mendapatkan kekuasaan dariku, apakah pantas jika kemudian aku mengambil suap di dalamnya. Allah jadikan manusia tidak taat padaku lalu haruskah aku jadikan taat mereka padaku." Kemudian kedua utusan Quraisy keluar dari hadapan Najasyi dalam keadaan kecewa sekali. Sementara kami tetap tinggal di negeri Najasyi dengan nyaman dan perlakukan yang baik.
Ummu Salamah berkata: Demi Allan, selama di sana kami hidup bahagia hingga muncul seorang dari Habasyah yang berusaha menggeser Najasyi dari kursi kerajaan. Demi Allah, kami belum pernah bersedih seperti saat itu. Kami khawatir orang tersebut berhasil menjatuhkan Najasyi, sehingga muncullah orang yang tidak mengetahui kondisi kami, sebagaimana Najasyi mengetahui kondisi kami.
Najasyi lalu berangkat menemui lawannya di tepian Sungai Nil. Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Siapa yang berani menyaksikan berke- camuknya peperangan dua pasukan tersebut kemudian datang ke sini lagi dengan membawa berita?"
Zubair bin Awwam berkata: "Aku siap!" Mereka berkata: "Bagus?" Zubair adalah orang yang termuda di antara kami. Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengisi tempat air untuk Zubair bin Awwam dan menggantungkannya di dadanya. Kemudian Zubair keluar menuju tepian Sungai Nil, di mana dua pasukan bertemu. Kami semua ber- doa kepada agar Allah memenangkan Najasyi atas musuhnya, dan memberikan kekokohan di negerinya. Demi Allah, di saat kami sedang berharap seperti itu, tiba-tiba Zubair berlari-lari sambil memberi isyarat dengan bajunya, ia berkata: "Bergembiralah, Najasyi telah menang. Allah memenangkannya, dan memberikan ketentaraman di negaranya. "Demi Allah, kami bahagia sekali saat itu. Setelah itu, Najasyi pulang. Allah memberikan keamanan di negaranya. Habasyah pun semakin kokoh di bawah kepemimpinan Najasyi. Kami tinggal di sana dengan tentram hingga pulang ke Makkah bertemu kembali dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. "



Kisah Penguasaan Najasyi Atas Habasyah


Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita, aku pernah berdiskusi dengan Urwah bin Zubair tentang hadits Abu Bakr bin Abdurrahman dari Ummu Salamah, istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Urwah bin Zubair berkata: "Sesungguhnya Ummul Mukminin, Aisyah berkata kepadaku bahwa ayah Najasyi adalah seorang raja. Ia hanya mempunyai satu anak, yaitu Najasyi. Ayahnya mempunyai seorang saudara yang memiliki anak dua belas orang. Mereka adalah keluarga istana Habasyah. Orang-orang Habasyah berkata: "Bagaimana kalau kita habisi saja ayah Najasyi kemudian kita gantikan ia dengan saudaranya sebagai raja yang baru, karena ayah Najasyi hanya mempunyai satu anak saja, sedang saudara ayahnya mempunyai dua belas anak kemudian mereka mewarisi kerajaan sepeninggal kematian ayahnya. Orang-orang tersebut lalu menyiksa ayah Najasyi dan menghabisinya. Sepeninggalnya, mereka mengangkat saudara ayah Najasyi sebagai raja baru. Najasyipun hidup bersama pamannya. Najasyi anak yang brilian dan penuh kemauan hingga lebih populer ketimbang pamannya, dan menurunkan pamor pamannya itu. Ketika orang-orang Habasyah memahami posisi Najasyi dibandingkan pamannya, mereka berkata: "Demi Allah, anak muda ternyata lebih populer dibanding pamannya. Kami khawatir jika ia diangkat sebagai raja, pasti ia akan menghabisi kami semua, karena lambat laun ia pasti tahu bahwa kami telah membunuh ayahandanya."
 
Lalu mereka berangkat menuju tempat paman Najasyi dan berkata: "Bunuhlah anak muda ini, karena kami khawatir ia mengancam keselamatan diri kami." Pamannya berkata: "Sialan kalian, aku telah membunuh ayahnya kemarin, apakah aku harus membunuh anaknya juga pada hari ini? Namun aku akan keluarkan dia dari negeri kalian!"
Orang-orang tersebut menyeret Najasyi ke pasar, kemudian menjualnya kepada seorang pedagang dengan harga enam ratus dirham. Pedagang tersebut membaa Najasyi ikut serta ke dalam pelayarannya. Pada petang hari itu juga, awan musim gugur bertiup. Paman Najasyi keluar rumah, namun tiba-tiba ia disambar petir hingga tewas.
Orang-orang Habasyah mencari anak raja yang meninggal itu, namun ternyata mereka hanya mendapatkan seorang yang bodoh tidak memiliki kebaikan. Persoalan orang-orang Habasyah pun semakin berantakan. Karena kondisi sulit yang mereka hadapi, sebagian dari mereka berkata kepada yang lain: "Demi Allah, sekarang kalian baru sadar, karena sesungguhnya raja kalian yang mampu menyelesaikan persoalan adalah raja yang telah kalian jual pagi tadi. Jika kalian masih ingin hidup sentosa di Habasyah, kejarlah dia saat ini juga!" Mereka mengejar Najasyi dan mencari pedagang yang membelinya. Ketika mereka berhasil menemukannya, mereka mengambilnya dari pedagang tersebut. Kemudian mereka membawa Najasyi pulang ke Habasyah, lalu mengangkatnya sebagai raja."
Tak lama kemudian, pedagang yang mem- beli Najasyi menemui orang-orang Habasyah. Ia berkata: "Kalian harus mengembalikan uangku, atau mengizinkan aku berbicara dengan Najasyi." Mereka berkata: "Kami tidak akan memberi uang sepeserpun kepadamu." Orang tersebut berkata: "Kalau begitu, izinkan aku berbicara dengan Najasyi." Mereka berkata: "Silahkan saja engkau bicara dengannya."
Orang tersebut menemui Najasyi dan berkata: "Wahai tuan raja, aku pernah membeli seorang budak di pasar dengan harga enam ratus dirham. Ketika aku pulang membawa budak itu, mereka mengejarku, kemudian mengambilnya dariku tanpa mengganti rugi uang yang telah aku bayarkan kepada mereka."
Najasyi berkata kepada orang-orang Habasyah: "Kalian harus mengembalikan uang dirhamnya atau budak tersebut menyerahkan dirinya kepada orang itu, dan ia pulang membawanya." Orang-orang Habasyah berkata: "Jangan! Kami akan kembalikan uang dirhamnya kepadanya."
Aisyah melanjutkan: "Itulah berita pertama tentang kekokohan agama Najasyi, dan keputusannya yang sangat adil. "
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Aisyah yang berkata: Ketika Najasyi meninggal dunia, kuburannya cahaya.



Orang-Orang Habasyah Menentang Najasyi


Ibnu Ishaq berkata: Ja'far bin Muhammad berkata kepadaku dari ayahnya yang berkata: Orang-orang Habasyah berkata kepada Najasyi, "Sesungguhnya engkau telah meninggalkan agama yang kita anut dan mutlat mengikuti agama mereka." Najasyi mengirim seseorang untuk menemui Ja'far dan sahabat-sahabatnya untuk menyiapkan perahu-perahu bagi kaum Muhajirin. Najasyi berkata:
 
"Amankalah diri kalian ke dalam perahu-perahu. Jika ternyata nanti aku kalah, pergilah kalian ke mana saja kalian suka. Jika aku menang, kumohon tetaplah kalian di sini."
Najasyi lalu menulis surat yang di dalam suratnya ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang pantas disembah dengan benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Ia juga bersaksi bahwa Isa bin Maryam adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam. Kemudian ia menemui orang-orang Habasyah yang sedang berbaris untuknya. Najasyi berkata: "Wahai orang-orang Habasyah, bukankah aku orang yang paling berkuasa atas kalian?"
Mereka menjawab: "Ya, benar!"
Najasyi berkata: "Menurut kalian aku ini bagaimana?"
Mereka menjawab: "Engkau adalah manusia yang paling baik." Najasyi berkata: "Jika demikian, lalu apa yang terjadi pada kalian?"
Mereka menjawab: "Engkau telah keluar dari agama kami dan meyakini bahwa Isa adalah seorang hamba Allah."
Najasyi bertanya: "Lalu apa pendapat kalian tentang Isa?" Mereka menjawab: "Isa adalah anak Allah."
Najasyi berkata sambil meletakkan tangannya di dadanya-, bahwa ia bersaksi Isa adalah anak Maryam dan tidak lebih dari itu seperti yang tertulis dalam surat yang telah ia tulis. Orang-orang Habasyah pun rela, lalu mereka berbalik dari hadapannya.
Hal di atas didengar Nabi Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ketika Najasyi meninggal dunia, beliau menshalatinya dan memohonkan ampunan kepada Allah untuknya.



Kisah Masuk Islamnya Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu


Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabi'ah bertemu dengan orang-orang Quraisy dalam keadaan gagal menarik pulang sahabat-sahabat Rasululah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan Najasyi tidak memperkenankan permintaan mereka, pada saat itulah Umar bin Khaththab memeluk Is lam. la sosok yang mempunyai harga diri yang tinggi dan anti penghinaan. Sahabat- sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terlindungi dengan masuk Islamnya Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib hingga membuat orang-orang Quraisy tidak lagi berani menyiksa mereka. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Dulunya kami tidak berani shalat di samping Ka'bah sebelum Umar bin Khaththab masuk Islam. Ketika Umar bin Khaththab masuk Islam, ia memenangi duel melawan orang-orang Quraisy hingga ia bisa shalat di samping Ka'bah dan kami pun ikut shalat bersamanya." Masuk Islamnya Umar bin Khaththab terjadi setelah beberapa sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhijrah ke Habasyah.
Al-Bakkai berkata: Mis'ar bin Kidam berkata kepadaku dari Sa'ad bin Ibrahim yang bercerita bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata: Sesungguhnya masuk Islamnya Umar bin Khaththab adalah sebuah pembuka kemenangan. Hijrahnya memberikan kemenangan. Dan pemerintahannya adalah karunia.
 
Awal- nya kami tidak berani shalat di sisi Ka'bah sampai Umar bin Khaththab masuk Islam. Ketika masuk Islam, ia memenangi duel melawan orang-orang Quraisy hingga ia berhasil shalat di samping Ka'bah dan kami ikut shalat berjamaah bersamanya.
Ibnu Ishaq berkata: Telah berkata kepadaku Abdurrahman bin Al-Harits bin Abdullah bin Ayyasy bin Abu Rabi'ah dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Amr bin Rabi'ah dari ibunya, yaitu Ummu Abdullah binti Abu Hatsmah yang berkata: "Demi Allah, saat bersiap- siap akan pergi ke negeri Habasyah. Suamiku Amir pergi memenuhi sebagian kebutuhannya. Namun tiba-tiba Umar bin Khaththab yang ketika itu masih musyrik sudah berdiri di hadapanku."
Ummu Abdullah berkata: "Sebelumnya, kami selalu diganggu dan disiksa olehnya." Umar bin Khaththab berkata: "Kelihatannya engkau mau berangkat, wahai Ummu Abdullah?" Aku berkata: "Ya betul, kami akan pergi ke negeri Allah, karena kalian telah menyiksa dan menganiaya kami, hingga Allah memberikan jalan keluar bagi kami." Umar bin Khaththab berkata: "Semoga Allah bersama kalian!" Ummu Abdullah berkata: "Saat itu, kulihat kelembutan pada diri Umar bin Khaththab yang tidak pernah kulihat sebelum ini. Kemudian ia pergi dan menurut perasaanku ia demikian sedih atas kepergian kami."
Ummu Abdullah berkata: Sejurus kemudian, Amir datang dan berkata kepadanya: "Wahai Abu Abdullah, andaikata engkau tadi melihat kelembutan dan duka cita Umar bin Khaththab atas kepergian kita?" Amir berkata: "Apakah dia sudah masuk Islam?" Ummu Abdullah berkata: "Aku berkata: "Entahlah!" Amir berkata: "Umar tidak akan mungkin masuk masuk Islam hingga keledainya masuk Islam." Ummu Abdullah berkata: "Dia mengatakan hal itu karena merasa putus asa melihat sikap keras Umar bin Khaththab dan kebenciannya sangat keras kepada Islam."
Ibnu Ishaq berkata: Mengenai sebab masuk Islamnya Umar bin Khaththab seperti disampaikan kepadaku bahwa saudara perem- puannya Fathimah binti Khaththab yang bersuamikan Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail telah sama-sama masuk Islam tanpa sepengetahuan Umar bin Khaththab. Nu'aim bin Abdullah An-Nahham, salah seorang dari kaumnya yaitu Bani Adi bin Ka'ab juga telah masuk Islam dan merahasiakan keislamannya karena khawatir kepada kaumnya. Khabbab bin Al-Arat sering bolak balik pulang pergi ke rumah Fathimah binti Khaththab guna membacakan Al-Qur'an kepadanya. Pada suatu ketika, Umar bin Khaththab keluar berniat berduel dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sal- lam dan beberapa sahabat beliau, yang sedang berkumpul di salah satu rumah di bukit Shafa. Mereka berjumlah sekitar empat puluh orang; laki-laki dan perempuan. Ketika itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkumpul bersama Hamzah bin Abdul Muthalib, Abu Bakar bin Abu Quhafah Ash Shiddiq, dan Ali bin Abu Thalib. Sahabat-sahabat yang hadir di rumah tersebut adalah sahabat-sahabat yang tetap tinggal bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah dan tidak ikut hijrah ke Habasyah. Di tengah jalan, Umar bin Khaththab bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah. " Nu'aim bin Abdullah bertanya kepada Umar bin Khaththab: "Mau pergi ke mana, wahai Umar?" Umar bin Khaththab menjawab: "Aku hendak pergi mencari Muhammad, orang yang keluar dari agama kita, yang memecah belah persatuan orang-orang Quraisy, mendungu-dungukan mimpi-mimpi kita, melecehkan, dan menghina agama kita, untuk aku bunuh dia." Nu'aim bin Abdullah berkata kepada Umar bin Khaththab: "Demi Allah, engkau bodoh sekali bila bertindak demikian, wahai Umar. Apakah Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu hidup setelah engkau membunuh Muhammad? Kenapa engkau tidak pulang kepada keluargamu dan meluruskan persoalan mereka?" Umar bin Khaththab berkata: "Keluargaku yang mana?" Nu'aim bin Abdullah berkata: Ya, saudara iparmu yang juga saudara misanmu Sa'id bin Zaid bin Amr, dan Fathimah bin Khaththab, demi Allah, keduanya telah masuk Islam, dan menganut agama Muhammad, perhatikan dulu keduanya." Umar bin Khaththab segera bergegas berbalik arah menuju rumah saudarinya dan saudara iparnya. Ketika itu di rumah mereka berdua ada Khabbab bin Al-Arat yang sedang membacakan surat Thaha. Ketika mereka bertiga mendengar suara
 
Umar bin Khaththab, Khabbab bin Al-Arat bersembunyi di rumah kecil persembunyian atau di salah satu bagian rumah, sedang Fathimah binti Khaththab bergegas mengambil lembaran surat Thaha dan menyembunyikannya. Saat mendekati rumah tersebut Umar bin Khaththab telah mendengar bacaan surat Thaha oleh Khabbab. Tatkala Umar bin Khaththab telah masuk rumah, ia berkata: "Suara apa yang aku dengar tadi?" Sa'id bin Zaid dan Fathimah menjawab: "Aku tidak mendengar suara apa-apa." Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, sungguh aku telah menerima kabar bahwa kalian berdua telah memeluk agama Muhammad." Kemudian Umar bin Khaththab menghajar saudara iparnya, Sa'id bin Zaid, dan Fathimah pun bangkit melindunginya dari pukulan Umar bin Khaththab. Umar bin Khaththab tanpa sengaja menghajar Fathimah hingga terluka. Karena Umar bin Khaththab bersikap seperti itu, Fathimah dan suaminya berkata: "Benar, kami berdua telah memeluk agama Islam, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Silahkan lakukan apa saja yang engkau mau terhadap kami." Ketika Umar bin Khaththab melihat darah yang menetes di tubuh adik perempuannya ia menyesal atas tindakannya. Sadar akan kesalahan yang dilakukannya ia berkata kepada adik perempuannya: "Bolehkah aku melihat lembaran yang aku dengar tadi agar aku melihat apa sebenarnya yang dibawa Muhammad." Umar bin Khaththab adalah seorang yang pandai menulis. Mendengar Umar bin Khath- thab berkata seperti itu, adik perempuannya berkata: "Sungguh, kami khawatir engkau merobek- robek lembaran tersebut." Umar bin Khaththab berkata: "Engkau tidak perlu khawatir!!. Umar bin Khaththab bersumpah kepada adikperempuannva dengan menyebut nama Tuhannya, bahwa ia pasti mengembalikan lembaran tersebut kepadanva apabila telah selesai membacanya. Ia berkata kepada Umar bin Khaththab: "Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau najis, karena engkau seorang yang musyrik. Lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang rang suci." Kemudian Umar bin Khaththab berdiri, lalu mandi. Usai mandi, Fathimah memberikan lembaran tersebut kepadanva. Di lembaran tersebut tertulis: 'Thaaha.' Umar bin Khaththab membacanya. Ketika ia membaca permulaan surat tersebut, ia berkata: "Betapa indahnya dan mulianya perkataan ini!" Ketika Khabbab bin Al-Arat mendengar ucapan Umar bin Khaththab tersebut, ia keluar dari persembunyiannya dan menemui Umar bin Khaththab. Khabbab bin Al-Arat berkata kepada Umar bin Khaththab: "Wahai Umar, demi Allah, aku berharap kiranya Allah menjadikanmu sebagai orang yang didoakan Nabi-Nya, karena kemarin aku mendengar beliau bersabda: 'Ya Allah, kuatkanlah Islam ini dengan Abu Al-Hakam bin Hisyam atau dengan Umar bin Khaththab.'37 Maka bersegeralah wahai Umar." Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Khabbab, ada di mana Muhammad kini berada agar aku bisa menemuinya lalu aku masuk Islam." Khabbab bin Al-Arat berkata kepadanya: "Beliau berada di Shafa di sebuah rumah bersama beberapa orang sahabatnya."

Umar bin Khaththab mengambil pedangnya, dengan terhunus sambil berjalan menuju tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya. Ia mendobrak pintu rumah tempat berkumpulnya para sahabat. Ketika mereka mendengar suara Umar bin Khattab,salah seorang sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengintip dari celah- celah pintu dan melihat Umar bin Khaththab sedang menghunus pedang. Sahabat tersebut kembaii kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sdlam dalam keadaan sangat ketakutan. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, Umar bin Khaththab sedang menghunus pedangnya." Hamzah bin Abdul Muthalib berkata: "Jangan pedulikan dia. Jika ia menginginkan kebaikan, kita benkan padanya kebaikan. Jika keburukan vang dia inginkan, kita akan habisi dia dengan pedangnya sendiri." Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Biarkanlah saja dia masuk." Salah seorang sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membukakan pintu dan mempersilahkan Umar bin Khaththab masuk, kemudian Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam menyambut kedatangannya dan menemuinya di dalam kamar. Beliau mengambil tempat ikatan celana atau ikatan selendangnya, kemudian menarik Umar bin Khaththab dengannya dengan tarikan
 
yang sangat keras, sambil bersabda kepadanya: "Apa yang membuatmu datang ke sini, wahai anak Khaththab? Demi Allah jika engkau tidak menghentikan tindakanmu selama ini, Allah akan menurunkan siksa kepadamu." Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, aku datang menemuimu untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan apa saja yang engkau bawa dari Allah." Mendengar jawaban Umar bin Khaththab, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertakbir dengan keras. Dengan takbir itulah sahabat-sahabat di rumah tersebut paham bahwa Umar bin Khaththab telah masuk Islam.
Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam begitu senang dengan keislaman Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka sadar sepenuhnya
bahwa keduanya akan membentengi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan dengan keduanya mereka menghadapi musuh-musuh Islam. Itulah kisah para perawi'Madinah tentang keislaman Umar bin Khaththab.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih Al-Makki berkata kepadaku dari sahabat-sahabatnya dari Atha' dan Mujahid, atau dari orang yang meriwayatkannya bahwa keislaman Umar bin Khaththab, sebagaimana mereka katakan, bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata: "Aku awalnya demikian jauh dari Islam. Aku hobi meneguk minuman keras. Aku sangat menyukainya dan meminumnya. Dulu kami mempunyai auditorium tempat orang-orang Quraisy biasa bertemu. Auditorium tersebut terletak di bukit kecil di pemukiman keluarga Umar bin Abd bin Imran Al-Makhzumi. Pada suatu malam, aku keluar rumah untuk mencari teman-temanku di auditorium itu. Aku mendatangi tempat mereka, namun tidak menemukan seorang pun. Aku berkata: "Daripada menganggur sebaiknya aku berangkat menemui Si Fulan penjual minuman keras, di Makkah dan minum di sana. Lalu aku pergi ke tempat Si Fulan tersebut, sayang aku tidak berhasil berjumpa dengannya dengannya."
Aku berkata: Ah, lebih baik aku pergi thawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh atau tujuh puluh kali. Maka akupun datang ke Masjidil Haram untuk thawaf di Ka'bah, tanpa sepengetahuanku Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berdiri shalat. Jika shalat, beliau menghadap Syam, dan menjadikan Ka'bah di antara beliau dengan Syam. Tempat shalat beliau di antara dua rukun, rukun Aswad dan rukun Yamani. Ketika aku melihat beliau, aku berkata dalam hati. "Demi Allah, alangkah baiknya apabila aku mendekat kepada Muhammad pada malam ini agar aku bisa mendengar apa yang dia katakan." Aku juga berkata: "Andai aku mendekat padanya dan mendengarkan apa yang dia katakan, pasti aku membuatnya kaget." Maka aku datang ketempat beliau dari arah Hijr dan aku masuk dari bawah kainnya. Aku berjalan pelan-pelan, sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri shalat dengan membaca Al-Qur'an hingga aku berdiri persis di depannya. Ketika aku mendengar Al-Qur'an, tak bisa kupungkiri hatiku tertarik padanya. Aku menangis, dan Al-Qur'an membuatku mengambil keputusan untuk memeluk Islam. Aku terpana di tempatku hingga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menuntaskan shalatnya. Setelah shalat beliau pergi. Apabila pulang, beliau berjalan hingga muncul di rumah Ibnu Abu Husain. Itulah jalan yang biasa beliau lewati, hingga beliau memotong jalan, kemudian berjalan di antara rumah Abbas bin Abdul Muthalib dan rumah Ibnu Azhar bin Abdu Auf Az-Zuhri, kemudian berjalan ke di rumah Al-Akhnas bin Syariq hingga beliau masuk rumahnya. Tempat kediaman beliau adalah sebuah rumah yang berwarna warni yang berada di tangan Muawiyah bin Abu Sufyan. Aku ikuti beliau hingga masuk di antara rumah Abbas dan rumah Ibnu Azhar, dan aku berhasil menemukan beliau. Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar suara langkah kakiku, beliau mengenaliku. Beliau mengira aku mengikutinya untuk menyiksanya. Beliau membentakku, kemudian bersabda: "Apa yang mendorongmu datang ke tempat ini pada jam seperti ini, wahai anak Khaththab?" Aku menjawab: "Aku datang untuk beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya, serta kepada apa saja yang dibawa Rasul-Nya dari Allah!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memuji Allah kemudian bersabda: "Allah telah memberi hidayah kepadamu, wahai Umar."38
 
 
Setelah itu, beliau memegang dadaku dan berdoa semoga aku tegar dalam agama ini. Lalu aku pergi dari Rasulullah Shalialahu alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Wallahu alam tentang mana riwayat yang benar.
Ibnu Ishaq berkata: Naff eks budak Abdullah bin Umar berkata kepadaku dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma ia berkata: "Tatkala ayahku masuk Islam, ia berkata: 'Siapakah di antara orang-orang Quraisy yang paling pintar dalam menyebarkan gosip?" Maka Umar bin Khaththab diberi tahu bahwa untuk urusan itu adalah Jamil bin Ma'mar Al-Jumahi orangnya. Kemudian Umar bin Khaththab pergi ke rumah Jamil bin Ma'mar Al-Jumahi. Aku membuntutinya dan aku lihat apa yang akan dia lakukan. Saat itu aku masih kanak- kanak namun telah bisa menangkap apa yang aku lihat. Setibanya di rumahnya, Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Jamil, apa kau sudah tahu bahwa aku memeluk Islam dan memeluk agama Muhammad?" Ibnu Umar berkata: "Demi Allah, Jamil bin Ma'mar tidak merespon perkataan Umar bin Khaththab. Ia berdiri dengan menarik kainnya. Ia dibuntuti Umar bin Khaththab dan aku mengikuti ayahku. Ketika Jamil bin Ma'mar berdiri di pintu masjid, ia berteriak dengan suara terkerasnya: "Wahai orang-orang Quraisy -saat itu mereka sedang berkumpul di sekitar pintu Ka'bah ketahuilah bahwa Umar bin Khaththab telah kafir dari agama nenek-moyang kalian!"
Ibnu Umar berkata: Umar bin Khaththab menyeru dari belakangnya: "Dia berdusta, sesungguhnya aku telah masuk Islam, dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muham¬mad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya." Kemudian orang-orang Quraisy menyerang Umar bin Khaththab dan Umar bin Khaththab membalas menyerang hingga mereka hampir mati. Ibnu Umar berkata: "Umar bin Khaththab kelelahan, kemudian ia duduk, sedang orang-orang Quraisy mengepungnya. Umar bin Khaththab berkata: "Kerjakan apa saja yang kalian mau. Aku bersumpah dengan nama Allah, andai saja jumlah kami telah mencapai tiga ratus orang, pasti kami duel kita berjalan seimbang." Ibnu Umar berkata: "Ketika mereka dalam posisi seperti itu, tiba-tiba muncullah orang tua dari Quraisy yang mengenakan pakaian asal Yaman, dan baju gamis. Ia berdiri di depan mereka dan berkata: "Apa yang terjadi dengan kalian?" Mereka berkata: "Umar bin Khaththab telah murtad." Orang tersebut berkata: "Lalu apa kalian sewot? Ia telah memilih sesuatu untuk dirinya, lalu apa yang kalian inginkan darinya? Apakah kalian pikir Bani Adi bin Ka'ab akan menyerahkan saudara mereka kepada kalian? Biarkanlah orang ini!" Ibnu Umar berkata: "Demi Allah, mereka seperti baju yang ditanggalkan dari Umar bin Khaththab."
Ibnu Umar berkata: Aku bertanya kepada ayahku, usai ia Hijrah ke Madinah: Ayah, siapakah laki-laki tua yang melindungimu dari orang-orang Quraisy pada hari engkau masuk Islam dan mereka mengeroyokmu?" Umar menjawab: "Ananda, dialah Al-Ash bin Wail As-Sahmi."
Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang dari orang berilmu berkata kepadaku bahwa Ibnu Umar berkata: "Ayahanda, siapakah orang yang melindungimu dari orang-orang Quraisy pada saat engkau masuk Islam dan mereka menyerangmu, mudah-mudahan Allah mem Balasannya dengan kebaikan?” Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Ananda, dialah Al-Ash bin Wail, semoga Allah tidak membalasnya dengan kebaikan."
Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Al-Harits bercerita kepadaku dari sebagian keluarga Umar bin Khaththab yang berkata bahwa Umar bin Khaththab berkata: Pada saat aku masuk Islam pada malam itu, aku teringat siapa saja yang paling kejam permusuhannya terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kemudian aku datang kepadanya untuk mengatakan, bahwa aku telah masuk Islam. Aku
 
berkata: "Dialah Abu Jahal." Ketika itu, Umar bin Khaththab beristrikan Hantamah binti Hisyam bin Al- Mughirah. Esok paginya, aku pergi ke rumah Abu Jahal dan mengetuk pintu rumahnya.
Ibnu Umar berkata: Abu Jahal pun keluar menyambutku sambil berkata: "Selamat datang wahai anak saudara perempuanku. Apa yang membawa datang kemari?" Aku berkata kepadanya: "Aku datang kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad, serta membenarkan apa yang dibawanya." Abu Jahal langsung menutup pintu rumahnya, sambil berkata: "Semoga Allah memburuk- kanmu, dan memburukkan apa yang engkau bawa."



Perihal Shahifah (Surat Perjanjian)


Ibnu Ishaq berkata: Tatkala orang-orang Quraisy mengetahui sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada di Habasyah dan memperoleh kedamaian dan kenyamanan di dalamnya dan bahwa Najasyi melindungi siapa saja yang meminta per- lindungan kepadanya, saat itulah Umar bin
Khaththab memeluk Islam. Umar bin Khaththab bersama Hamzah bin Abdul Muthalib berada di kubu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, serta Islam menyebar luas di kabilah- kabilah Quraisy, maka mereka segera berkumpul untuk mengadakan rapat. Dalam rapat itu, mereka merencanakan konspirasi dengan cara membuat perjanjian yang mereka tujukan kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. Isi perjan¬jian tersebut adalah sebagai berikut: 1. Mereka tidak boleh menikahi wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 2. Mereka tidak boleh menikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 3. Mereka tidak boleh menjual apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 4. Mereka tidak boleh membeli apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
Ketika sudah mufakat dengan seluruh isi perjanjian tersebut, mereka menulisnya di shahifah (surat perjanjian), kemudian mereka bersumpah untuk senantiasa komitmen dengan isi perjanjian tersebut. Setelah itu, mereka menempelkan shahifah (surat perjanjian) di tengah-tengah Ka'bah sebagai tanda bukti sikap mereka. Penulis shahifah (surat perjanjian) itu adalah Manshur bin Ikrimah bin Amir bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay. Ibnu Hisyam berkata: Ada juga yang mengatakan bahwa penulisnya adalah An-Nadhr bin Al-Harits. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendoakan kehancuran atasnya, maka lumpuhlah sebagian jari Manshur bin Ikrimah.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat orang-orang Quraisy melakukan hal itu, Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib berpihak kepada Abu Thalib bin Abdul Muthalib, dan bergabung bersamanya. Dari kalangan Bani Hasyim yang keluar dan bergaung dengan orang-orang Quraisy dan mendukung sikap mereka ialah Abu Lahab, Abdul Uzza bin Abdul Muthalib.
Ibnu Ishaq berkata: Husain bin Abdullah bercerita kepadaku, Abu Lahab bertemu dengan Hindun binti Utbah bin Rabi'ah. sesudah ia keluar dari kaumnya dan berpihak kepada orang-orang Quraisy dalam menghadapi kaumnya sendiri, kemudian ia berkata: "Hai anak perempuan Utbah, dengan sikap yang kuambil ini, apakah aku telah menolong Al- Lata dan Al-Uzza? Apakah aku telah berpaling dari orang- orang yang telah meninggalkan AI-Lata dan Al-Uzza? Apakah aku telah membela Al-Lata dan Al-Uzza?" Hindun binti Utbah berkata: "Ya, semoga Allah membalas dengan ganjaran yang baik kepadamu, wahai Abu Utbah."
 
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu selain berkata seperti di atas, Abu Jahal juga berkata: "Muhammad mengintimidasi aku dengan sesuatu yang belum pernah aku lihat. Ia berkata bahwa akan ada kehidupan setelah kematian ini. Celakalah engkau berdua. Aku tidak melihat padamu berdua sesuatu yang dikatakan Muhammad." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Abu Lahab:


Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya terdapat tali dari sabut. (QS. al-Masad: 1-5).
Ibnu Hisyam menjelaskan: Tabbat artinya merugi dan at-tabab artinya kerugian.
Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib menjalani pemboikotan orang-orang Quraisy selama dua atau tiga tahun, hingga mereka menjalani kesulitan yang sangat luar biasa. Tidak ada makanan atau minuman yang bisa sampai pada mereka kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi dan siapa pun dari orang-orang Quraisy tidak bisa berinterakkasi dengan mereka kecuali dengan cara sembunyi- sembunyi pula.
Abu Jahal berjumpa dengan Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad yang sedang berjalan bersama budak laki-lakinya yang membawa tepung untuk diantarkan kepada bibinya, Khadijah, istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang sedang berada bersama beliau di Syi'b. Abu Jahal bin Hisyam mendekat pada Hakim bin Hizam, kemudian berkata kepadanya: "Akankah kau membawa makanan ini kepada Bani Hasyim? Demi Allah, engkau tidak bisa membawa makananmu itu hingga aku mengata-ngataimu di kota Makkah. Saat itu, Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad datang menemui Abu Jahal bin Hisyam, kemudian berkata kepadanya: "Apa masalahmu dengannya?" Abu Jahal menjawab: "Dia mau mengantar makanan kepada Bani Hasyim." Abu Al-Bakhtari berkata: "Makanan ini awalnya milik bibinya. Bibinya mengirimkannya kepadanya, lalu mengapa engkau melarangnya membawa kembali makanan itu kepada bibinya? Biarkanlah dia pergi!!"
Namun Abu Jahal bin Hisyam tidak menerima saran Abu Al-Bakhtari, kemudian terjadilah duel seru antara Abu Jahal bin Hisyam melawan Abu Al-Bakhtari. Abu Al-Bakhtari mengambil tulang rahang unta, lalu dia pukulkan dengannya kepala Abu Jahal bin Hisyam hingga luka dan meneteskan darah kemudian dia menginjaknya keras-keras. Hamzah bin Abdul Muthalib yang berada di dekat tempat kejadian menyaksikan langsung perkelahian itu. Orang-orang Quraisy tidak mau duel tersebut didengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya. Sebab jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya mendengar duel tersebut, beliau dan para sahabatnya pasti akan menertawakannya. Walaupun mendapatkan boikot dari orang-orang Quraisy, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tetap saja terus berdakwah tanpa henti kepada kaumnya siang malam baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Beliau tetap menyerukan perintah Allah Ta'ala tanpa takut kepada siapa pun juga.
 
Sebagian Gangguan yang DiaJami Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Kaumnya


Ibnu Ishaq berkata: Kala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dilindungi pamannya dan didukung kaumnya dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, sontak hal itu membuat orang-orang Quraisy gagal menghentikan tindakan-tindakan beliau, maka mulailah mereka mengejek, mencibir dan menantangnya berduel. Wahyu pun turun mengisahkan dengan lengkap tentang perilaku orang Quraisy dan orang-orang yang menabuh genderang permusuhan kepadanya. Ada yang namanya disebutkan dengan jelas oleh Al-Qur'an kepada kita ada pulan di antara mereka yang namanya disebut Allah secara umum sebagai orang-orang kafir saja. Di antara orang-orang Quraisy yang kisah disebutkan Al-Qur'an dengan jelas untuk kita ialah paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abu Lahab bin Abdul Muthalib dan istrinya, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah. Allah menamainya dengan "sangpembawa kayu bakar," karena ia seperti yang disampaikan kepadaku membawa onak dan meletakkannya di jalan yang selalu dilalui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tentang kedua orang ini, Allah Ta'ala menurunkan ayat berikut:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yangbergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. Al-Masad: 1-5).
Ibnu Hisyam berkata: Kata al-jiid dalam ayat di atas artinya adalah leher dan kata jamaknya ajyaadu. Sedangkan al-masad artinya pohon yang telah dihaluskan sebagaimana pohon rami dihaluskan kemudian dibikin tali. Kata tunggalnya masadah.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Ummu Jamil sang pembawa kayu bakar mendengar ayat Al-Qur'an yang diturunkan tentang perihal diri dan suaminya, ia segera datang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang waktu itu sedang duduk di masjid di sisi Ka'bah ditemani Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ummu Jamil datang dengan membawa batu besar segenggam tangannya. Ketika berdiri di depan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar, Allah memalingkan pandangannya dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sehingga dia hanya melijhat Abu Bakar. Ia berkata: "Wahai Abu Bakar, mana sahabatmu? Aku dengar sahabatmu mencibir kelakuanku. Demi Allah, apabila aku berjumpa dengannya, pasti aku sumpal mulutnya dengan batu ini. Demi Allah, aku seorang penyair." Kemudian ia berkata:
Mudzammam (lawan dari Muhammad) kami tantang dirinya
Kami bangkang semua perintahnya Dan agamanya membuat kami marah

Selesai mengatakan itu, Ummu Jamil pergi. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, apakah Ummu Jamil tidak melihatmu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ia tidak mampu melihatku, karena Allah cabut penglihatannya dariku."39
Ibnu Hisyam berkata: Ucapan Ummu Jamil, "Dan agamanya membuat kami marah" bukan berasal dari Ibnu Ishaq.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy menamakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Mudzammam, kemudian mereka mencela habis-habisan nama Mudzammam tersebut. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketahuilah, tidakkah kalian merasa takjub bagaimana Allah melindungiku dari gangguan orang-orang Quraisy? Mereka mencela dan mengolok-olok nama Mudzammam, sedangkan aku adalah Muhammad."40
 
 
Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah jika melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia melaknat dan mengeluarkan kata-kata kotor untuk beliau, kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang orang ini:


Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung- hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikatpada tiang-tiangyangpanjang. (QS. al-Humazah: 1-9).
Ibnu Hisyam berkata: Al-Humazah ialah orang yang suka melaknat orang lain di depan umum dengan mengarahkan mata padanya serta mencelanya. Jamaknya humazaat. Sedang al-lumazah ialah orang yang mengumpat orang lain dan menyakitinya secara diam-diam. Kata jamaknya lamazaat.
Hasan bin Tsabit berkata:
Umpatanmu demikian hina karena hinanya jiwa Dengan qafiyah yang membakar karena golakan api Ini adalah penggalan syair miliknya.
Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan Ru'yah al-Ajjaj:
Di bawah naungan zamanku kebatilan dan umpatanku

Ini adalah penggalan syair miliknya
lbnu ishaq berkata: Juga Al-Ash bin Wail As-Sahmi. Khabbab bin Al-Arat, salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alashi wa Sallam adalah tukang besi pembuat pedang di Makkah. Ia telah menjual banyak sekali pedang kepada Al-Ash bin Wail. Pedang-pedang itu ia buat secara khusus untuknya. Ketika uangnya sudah berjumlah banyak pada Al-Ash bin Wail, ia datang kepadanya untuk menagih hutangnya. Al-Ash bin Wail berkata kepada Khabbab bin Al-Arat: "Wahai Khabbab, bukankah sahabatmu, Muhammad yang engkau imani itu mengatakan bahwa di surga, penghuninya mengenakan emas, perak, atau pakaian dan mempunyai pembantu?" Khabbab bin Al-Arat menjawab: "Benar." Al-Ash bin Wail berkata: "Jika demikian beri aku perpanjangan waktu hingga Hari Kiamat, agar aku bisa kembali pada hari tersebut lalu aku beriman dengan kalian. Demi Allah, engkau dan sahabat-sahabatmu tidak lebih baik dariku di sisi Allah dan tidak lebih beruntung di sisi-Nya." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Al-Ash bin Wail:
 
Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: "Pasti aku akan diberi harta dan anak." Adakah ia melihat yang gaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah?, sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan benar- benar Kami akan memperpanjang adzab untuknya,


dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami dengan seorang diri. " (QS. Maryam: 77-80).
Abu Jahal bin Hisyam, berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu ia berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, hendaknya engkau berhenti mencemooh tuhan-tuhan kami! Jika tidak, maka kami akan menghina Tuhan yang engkau sembah." Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Abu Jahal:


Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. "(QS. al-An'am: 108).
Sejak saat itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti dari memaki sesembahan mereka dan sebagai gantinya beliau mengajak mereka kepada Allah.
An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay, jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru manusia kepada Allah Ta'ala, membaca Al-Qur'an dan memperingatkan orang-orang Quraisy tentang siksa yang me nimpa umat-umat terdahulu, maka An- Nadhr bin Al-Harits akan melaksanakan hal yang sama, kemudian bercerita kepada manusia tentang Rustum As-Sindid, tentang Isfandiyar dan raja-raja Persia. Setelah itu, ia berkata: "Demi Allah, ceramah Muhammad tidaklah lebih baik daripada ceramahku. Ucapan Muhammad hanyalah dongeng-dongeng
 
orang-orang dulu. Aku mampu menuliskan dongeng-dongeng sebagaimana ia menuliskan dongeng- dongeng tersebut." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang dirinya:


Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya ditu- liskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." Katakanlah: "Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al-Furqan: 5-6).
Allah Ta'ala juga menurunkan ayat berikut perihal An-Nadhr bin Al-Harits,


Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang- orang dahulu kala." (QS. al-Qalam: 15).
Allah juga menurunkan ayat berikut perihal An-Nadhr bin Al-Harits:


Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan- akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yangpedih. (QS. al- Jatsiyah: 7-8).
Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah al- affak artinya para pendusta. Tentang kata tersebut, disebutkan dalam Al-Qur'an:


Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah beranak." Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. (QS. ash- Shaffat: 151-152).
Ru'yah bin Al-Ajjaj berkata:
 
Tidaklah seseorang berdusta dengan kata penuh dusta
Ini adalah penggalan syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Suatu hari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana berita yang disampaikan kepadaku, sedang duduk-duduk dengan Al-Walid bin Al-Mughirah di masjid, tiba-tiba tanpa disadari datanglah An-Nadhr bin Al-Harits kemudian dia duduk bersama mereka berdua. Saat itu ada beberapa orang Quraisy yang berada di masjid. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alihi wa Sallam berbicara kepada mereka, namun pembicaraan beliau diganggu oleh An Nadhr bin Al Harits. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menegurnya hingga membuat ia diam. Baru setelah itu, beliau membacakan ayat berikut kepadanya dan kepada orang-orang Quraisy lainnya:


Sesungguhnya kamu dan apayangkamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar. (QS. al-Anbiya': 98-100).
Ibnu Hisyam berkata: Hashabu Jahannam artinya segala sesuatu yang membuat Jahanam menyala. Abu Dzu'ab al-Hudzali yang bernama asli Khuwailid bin Khalid berkata:
Padamkan dan jangan kau nyalakan
Janganlah jadi kayu penyulut api yang sangat dahsyat

Bait ini adalah penggalan dari bait-baitnya. Diriwayatkan "janganlah kamu menjadi kayu penyulut. Seorang penyair berkata:
Kunyalakan api untuknya hingga dia melihat sinarnya
Dan barang siapa yang mendapatkan sinar api dia dapat petunjuk

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallallahu Alihi wa Sallam lalu berdiri, pada saat yang bersamaan datanglah Abdullah bin Az-Zaba'ra As-Sahmi kemudian ia duduk. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata kepada Abdullah bin Az-Zaba'ra, "Demi Allah, tadi An-Nadhr bin Al-Harits seperti patung yang tak bisa bergerak akibat perkataan anak Abdul Muththatib. Muhammad mengatakan bahwa
kita dan tuhan-tuhan sesembahan kita ini akan menjadi bahan bakar Jahannam." Abdullah bin Az- Zaba'ra berkata: "Demi Allah, jika berjumpa dengan Muhammad, aku pasti berdebat dengannya. Tanyailah Muhammad, apakah semua tuhan yang disembah selain Allah itu berada di dalam neraka Jahannam beserta penyembahnya? Kita menyembah para malaikat, sedang orang-orang Yahudi menyembah Uzair dan orang-orang Kristen menyembah Isa bin Maryam." Al-Walid bin Al-Mughirah dan orang-orang yang berada di 'perkumpulan tersebut merasa tercengang dengan ucapan Abdullah
 
bin Az-Zaba'ra. Mereka yakin, bahwa Abdullah bin Az-Zaba'ra mampu beradu argumentasi dengan lihai. Ucapan Abdullah bin Az-Zaba'ra tersebut disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu Alihi wa Sallam kemudian beliau bersabda: "Barangsiapa ingin menyembah sesuatu selain Allah, maka orang yang menyembahnya akan bersama dengan sesembahannya. Sesungguh-nya mereka itu menyembah setan-setan dan apa saja yang dibisiku setan untuk disembah. Lalu Allah Ta'ala menurunkan wahyu berikut tentang peristiwa di atas:


Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak men¬dengar sedikit pun suara api neraka, dan mere¬ka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. (QS. al-Anbiya': 101-102).
Mereka yang dimaksud ayat di atas ialah Isa bin Maryam, Uzair, para rahib dan para pendeta yang taat kepada Allah, yang dijadikan tuhan-tuhan selain Allah oleh orang- orang yang menyembahnya dari kalangan orang-orang yang menyimpang.
Al-Qur'an juga merekam ucapan mereka bahwa mereka menyembah para malaikat dan bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah,


Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orangyang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barang siapa di antara mereka mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (QS. al-Anbiya': 26- 29).
 
Al-Qur'an juga mengisahkan ayat tentang Isa bin Maryam yang dijadikan tuhan selain Allah dan kekaguman Al-Walid bin Al- Mughirah dan orang-orang yang hadir pada pertemuan tersebut kepada ungkapan Abdullah bin Zaba ra:


Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. (QS. az-Zukhruf: 57), yakni mereka menghamba urusanmu dengan ucapan mereka.
Kemudian Al Quran menyebutkan tentang Isa bin Maryam:


Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel. Dan kalau Kami kehendaki benar- benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS. az- Zukhruf: 59-61)
Maksudnya ialah bahwa tanda-tanda kebesaran yang Allah berikan kepada Isa bin Maryam membangunkan kembali orang yang telah mati dan menyembuhkan orang yang sakit suduh cukup baginya sebagai bukti ten¬tang pengetahuannya tentang hari kiamat.
Ibnu Ishaq berkata: Al Akhnas bin Syariq bin Wahb Ats Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah. Ia termasuk salah seorang tokoh yang disegani di kaumnya. Ia menyakiti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menentang beliau, kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat mengenai dirinya:


Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, (QS. al-Qalam 10-13)
 
Allah berfirman zaniim, dan tidak mengatakan zaniim karena adanya sesuatu yang hina dalam nasabnya. Karena Allah tidak pernah mencela seseorang karena nasabnya. Namun Allah memastikan sifatnya agar diketahui. Zanim itu artinya, yang keras, kaku dan jahat pada kaumnya.
Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: Mengapa wahyu diturunkan kepada Muhammad dan tidak diturunkan kepadaku, padahal akulah tokoh senior Quraisy dan pemimpinnya? Serta mengapa tidak diturunkan kepada Abu Mas'ud Amr bin Umair Ats-Tsaqafi, pemimpin Tsaqif? Padahal kami berdua pemimpin besar tengah kaum kami?' Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat berikut:


Dan mereka berkata: "Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat , Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat memper- gunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. az-Zukhruf: 31-32).
Ubay bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Uqbah bin Abu Mu'aith adalah dua sahabat dekat. Suatu waktu Uqbah bin Abu Muaith pernah duduk bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan mendengar sesuatu dari beliau. Hal ini didengar Ubay bin Khalaf, kemudian ia mendatangi Uqbah bin Abu Mu'aith dan berkata kepadanya, "Benarkah engkau telah duduk bersama Muhamnad dan mendengar sesuatu darinya? Demi Tuhan, aku tidak akan mau berbicara denganmu!! "Ubay bin Khalaf bersumpah dengan sangat keras. "Benarkah engkau pernah duduk bersamannya dan mendengar sesuatu darinya? Lalu kenapa engkau tidak datang kepadanya dan meludahi wajahnya?" Uqbah bin Abu Muaith pun melakukan permintaan Ubay bin Khalaf, kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang keduanya:


Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-satna Rusul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku
 
(dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia" (QS. al-Furqan: 27-29).
Ubay bin Khalaf menghampiri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sambil membawa tulang rusak yang sudah berbau busuk, kemudian ia berkata: "Wahai Muhammad, engkau pernah mengatakan bahwa Allah akan mem- bangkitkan hewan ini setelah rusak seperti ini." Usai mengatakan itu, Ubay bin Khalaf memukul hancur tulang rusak tadi dengan tangannya, kemudian meniupkannnya ke arah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Benar, aku mengatakan itu. Allah akan membangkitkannya juga membangkitkanmu setelah kalian menjadi tulang belulang, lalu Allah menenggeiamkanmu ke dalam neraka." Lalu Allah menurunkan ayat tentang Ubay bin Khalaf:


Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "la akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. (QS. Yaasiin: 78-80).
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, sedang melakukan thawaf di Ka'bah, beliau di datangi Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad bin Abdul Uzza, Al Walid bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf dan Al-Ash bin Wail. Mereka adalah orang-orang terpandang di kaumnya masing- masing. Mereka berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, "Wahai Muhammad, bagaimana andai kami menyembah apa yang kau sembah dan kau menyembah apa yang kami sembah. Kita saling bekerja sama dalam hal ini. Jika apa yang engkau sembah lebih baik daripada apa yang kami sembah, maka kami akan mengikutimu. Jika apa yang kami sembah lebih baik, maka engkau mengikuti kami." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang mereka,

 
Katakanlah: "Hai orang-orangyang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhanyang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku." (QS. Al-Kafirun: 1-6).
Tatkala Allah menyebutkan tentang pohon zaqqum dan menakut-nakuti mereka dengan pohon tersebut, Abu Jahal bin Hisyam berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, apakah kalian tahu pohon zaqqum yang di bicarakan Muhammad mengancam kalian dengannya?" Mereka menjawab: "Kami tidak tahu!!" Abu Jahal berkata: "Pohon zaqqum adalah kurma Yatsrib yang bercampur mentega. Demi Allah, jika kami mendapatkannya, kami pasti mencabutnya dengan keras." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat Al-Qur'an tentang ucapan Abu Jahal tersebut:


Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas. (QS. ad-Dukhan: 43-46).
Ibnu Hisyam berkata: Al Muhlu artinya benda-benda yang bisa meleleh misalnya tembaga, timah atau apapun yang serupa dengannya, sebagaimana dikatakan kepadaku oleh Abu Ubaidah.
Aku diberitahu dari Al-Hasan bin Abu Al- Hasan ia berkata bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah petugas Baitul Mai di Kufah di masa
Umar bin Khaththab. Suatu hari, Abdullah bin Mas'ud memerintahkannya melelehkan perak, lalu lelehan perak tersebut membentuk banyak warna. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Adakah orang di balik pintu?" Orang-orang menjawab: "Ya, ada." Abdullah bin Mas'ud berkata: "Perintahkan mereka agar masuk." Mereka pun masuk, lalu Abdullah bin Mas'ud berkata: "Sesungguhnya sesuatu yang kalian lihat yang paling mirip dengan al-muhlu adalah lelehan ini." Salah seorang penyair berkata:
Tuhanku meminumkannya air panas lelehan perak Yang menghanguskan wajahnya Larut dalam perutnya
Disebutkan bahwa makna muhlu adalah nanah yang ada di dalam tubuh.

Telah pula sampai berita kepadaku bahwa ketika Abu Bakar akan meninggal dunia, ia mewasiatkan dimandikan dengan dua baju yang biasa dikenakannya dan dikafani dengannya. Aisyah berkata kepada Abu Bakar, "Ayah, sungguh Allah telah membuatmu tidak lagi membutuhkan pada keduanya. Ayahanda belilah baju yang lain!" Abu Bakar berkata: "Sesungguhnya waktu itu hanya sedetik, ke- mudian berubah menjadi al-muhlu"
Ibnu Ishaq berkata: "Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Abu Jahal bin Hisyam:

 
Dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. al-Isra': 60).
Al-Walid bin Al-Mughirah dihampiri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Beliau berbicara kepadanya, karena beliau meng- inginkan sekali Al Walid bin Al Mughirah bisa masuk Islam. Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berbicara dengan Al Walid bin Al Mughirah, le.watlah Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia merigajak bicara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan me- mintanya mengajarkan Al Quran untuknya. Merasa diganggu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian membentaknya, karena beliau sedang fokus dengan urusan Al Walid bin Al Mugirah dan obsesi beliau agar dia masuk Islam. Ketika Ibnu Ummi Maktum terus menerus mengeyel meminta dibaca- kan Al Quran, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berpaling darinya dengan muka masam, maka Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang beliau:


Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, (QS. Abasa: 1-14).
Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Ummi Maktum adalah pemuda yang berasal Bani Amir bin Luay. Ia bernama asli Abdullah. Ada pula yang mengatakan namanya adalah Amr.



Kepulangan Orang-orang Muhajirin di Habasyah Tatkala Sampai Kabar tentang Masuk Islamnya Penduduk Mekkah


Ibnu Ishaq berkata: Sampailah berita kepada sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang hijrah tentang masuk Islamnya warga Makkah, kemudian mereka pun bermaksud pulang ke Makkah. Namun tatkala mendekati Makkah, mereka mendapat berita bahwa semua itu adalah dusta
 
belaka. Karenanya tidak ada seorang pun dari mereka yang memasuki Makkah kecuali dengan perlindungan orang lain atau dengan sembunyi-sembunyi. Di antara mereka ada yang tiba di Makkah, lalu menetap di dalamnya kemudian hijrah ke Madinah dan terjun di Perang Badar bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ada yang tetap tinggal di Makkah, hingga tidak bisa ikut Perang Badar dan perang-perang lainnya. Ada juga yang wafat di Makkah.
Kaum Muhajirin yang pulang ke Makkah dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay ada dua orang, yaitu: Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams beserta istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams beserta istrinya Sahlah binti Suhail.
Sedangkan dari sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay ada satu orang, yaitu Abdullah bin Jahsy bin Riab.
Bani Naufal bin Abdu Manaf ada satu orang, yaitu Utbah bin Ghazwan, sekutu Bani Abdu Syams dari Qais Ailan.
Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay ada satu orang, yaitu Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad.
Dari Bani Abduddar bin Qushay ada dua orang, yaitu: Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf, Suwaibith bin Sa'ad bin Harmalah.
Dari Bani Abd bin Qushay ada satu orang yaitu Thulaib bin Umair bin Wahb bin Abu Kabir bin Abd.
Dari Bani Zuhrah bin Kilab adalah tiga orang, yaitu: Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin Al- Harits bin Zuhrah, Al- Miqdaq bin Amr, sekutu Bani Zuhrah bin Kilab. Abdullah bin Mas'ud, sekutu Bani Zuhrah bin Kilab.
Dari Bani Makhzum bin Yaqazhah adalah sebagai berikut: Abu Salamah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum beserta istrinya, Ummu Salamah binti Umayyah bin Al-Mughirah, Syammasy bin Utsman bin Asy-Syarid bin Suwaid bin Harmi bin Amir bin Makhzum, Salamah bin Hisyam bin Al-Mughirah yang kemudian dikekang pamannya di Makkah dia tidak bisa bebas kecuali sesudah Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Ayyasy bin Abu Rabi'ah bin Al-Mughirah yang hijrah ke Madinah dengan diikuti dua saudara seibunya, yaitu Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam, kemudian Abu Jahal bin Hisyam dan
Al-Harits bin Hisyam membawa Ayyasy bin Abu Rabi'ah pulang ke Makkah dan mengekangnya di Makkah hingga Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq usai.
Dari sekutu Bani Makhzum bin Yaqadzah adalah sebagai berikut: Ammar bin Yasir, diragukan apakah ikut hijrah ke Habasyah atau tidak, Muattib bin Auf bin Amir dari Khuza'ah.
Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab adalah sebagai berikut: Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah beserta anaknya, As-Saib bin Utsman, Qudamah bin Madz'un, Abdullah bin Madz'un.
Dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab adalah sebagai berikut: Khunais bin Hudzafah bin Qais bin Adi, Hisyam bin Al-Ash bin Wail yang tertahan di Makkah setelah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Dia baru bisa hijrah ke Madinah seusai Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq.
Dari Bani Adi bin Ka'ab bin Luay adalah Amir bin Rabi'ah sekutu Bani Sahm beserta istrinya yang bernama Laita binti Abu Hats- mah bin Ghanim.
 
Dari Bani Amir bin Luay adalah sebagai berikut: Abdullah bin Makhramah bin Abdul Uzza bin Abu Qais, Abdullah bin Suhail bin Amr. Ia ditawan di kota Makkah pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Pada Perang Badar, ia kabur dari orang-orang musyrik dan berpihak kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian ikut Perang Badar bersama beliau, Abu Sabrah bin Abu Ruhm bin Abdul Uzza beserta istrinya yang bernama Ummu Kaltsum binti Suhail bin Amr dan As- Sakran bin Amr bin Abdu Syams beserta istrinya, Saudah binti Zam'ah bin Qais. Abu Sabrah bin Abu Ruhm meninggal di Makkah sebelum Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Kemudian beliau menikahi Saudah binti Zam'ah.
Dari sekutu Bani Amir bin Luay ada satu orang yaitu Sa'ad bin Khaulah.
Dari Bani Al-Harits bin Fihr adalah sebagai berikut: Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Nama aslinya ialah Amir bin Abdullah Al-Jarrah, Amr bin Al-Harts bin Zuhair bin Abu Syadad, Suhail bin Baidha' yang bernama lengkap Suhail bin Wahb bin Rabi'ah bin Hilal. Amr bin Abu Sarh bin Rabi'ah bin Hilal.
Jumlah seluruh sahabat Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam yang tiba di Makkah dari Habasyah adalah tiga puluh tiga orang laki-laki.
Di antara mereka yang masuk ke Makkah dengan perlindungan orang lain ialah Utsman bin Madz'un bin Habib Al-Jumahi yang masuk ke Makkah dengan perlindungan Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Salamah bin Abdul Asad bin Hilal Al-Makhzumi yang masuk ke Makkah dengan perlindungan Abu Thalib bin Abdul Muthalib yang tidak lain adalah pamannya sendiri dari jalur ibunya dan ibu Abu Salamah dan Barrah binti Abdul Muthalib.
Ibnu Ishaq berkata: Adapun Utsman bin Madz'un, maka Shalih bin Ibrahim bin Auf bercerita kepadaku dari orang yang bercerita padanya dari Utsman yang berkata: Ketika Utsman bin Madz'un melihat cobaan yang diderita sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedangkan ia sendiri selama 24 jam berada dalam jaminan keamanan Al-Walid bin Al-Mughirah, ia berkata: "Demi Allah, keberadaanku selama 24 jam dalam keadaan aman di bawah perlindungan salah seorang musyrik, sedang sahabat-sahabatku dan orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama denganku mendapatkan ujian di jalan Allah yang menimpaku adalah suatu penyesalan tersendiri dalam diriku." Kemudian Utsman bin Madz'un pergi menemui Al-Walid bin Al-Mughirah dan berkata kepadanya: "Wahai Abu Abdu Syams, engkau telah menepati semua hak perlindungan namun kini aku serahkan kembali perlindungan itu kepadamu." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Mengapa demikian wahai keponakanku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?" Utsman bin Madz'un berkata: "Sama sekali tidak! Aku hanya merasa tentram dengan perlindungan Allah dan tidak ingin perlindungan dari selain Dia." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Kalau begitu, mari kita pergi ke masjid haram lalu kau kembalikan perlindunganku kepadaku secara di depan umum, sebagaimana aku melindungimu di depan khalayak ramai." Kemudian Utsman bin Madz'un dan Al-Walid bin Al- Mughirah berjalan bersama hingga tiba di masjid. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "lni Utsman, ia datang ke tempat ini untuk mengembalikan perlindunganku kepadaku." Utsman bin Madz'un berkata: "Apa yang dikatakan Al-Walid bin Al-Mughirah itu sungguh benar. Sungguh, dia telah menepati hak perlindungan dan ia orang yang memberi perlindungan dengan penuh kemuliaan. Namun aku tidak suka mencari perlindungan dari selain Allah. Sekarang aku kembalikan perlindungannya kepadanya." Usai mengumumkan hal itu, Utsman bin Madz'un pergi dan ketika itu, Labid bin Rabi'ah bin Malik bin Ja'far bin Kilab duduk mengobrol bersama orang-orang Quraisy. Ia sedang membacakan syair kepada mereka, kemudian Utsman bin Madz'un duduk bersama mereka. Labid berkata:
Ketahuilah, hanya Allah lah yang Haq dan segala sesuatu selain Allah itu batil
Utsman bin Madz'un berkata: "Engkau berkata benar." Labid melanjutkan
 
Dan setiap nikmat itu pastilah binasa
Utsman bin Madz'un berkata: "Kalau yang ini engkau dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah binasa." Labid bin Rabi'ah berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah teman ngobrol kalian belum pernah disakiti. Sejak kapan kejadian seperti ini menimpa kalian?" Salah seorang dari hadirin berkata: "Sesungguhnya orang bodoh ini (maksudnya Utsman bin Madz'un) bersama orang-orang bodoh seperti dia telah keluar dari agama kami. Oleh karena itu, engkau jangan sekali-kali terprovokasi dengan ucapannya." Utsman bin Madz'un membalas ucapan orang tersebut hingga sengketa semakin besar. Orang tersebut berdiri ke arah Utsman bin Madz'un kemudian memukul matanya hingga luka memar. Al-Walid bin Al-Mughirah yang berada tidak jauh dari tempat kejadian melihat peristiwa itu dengan jelas apa yang dialami Utsman bin Madz'un, kemudian ia berkata: "Demi Allah, wahai keponakanku, sesungguhnya dirimu belum pernah mengalami derita sebagaimana apa yang engkau alami saat ini, selama engkau berada dalam perlindungan yang kokoh." Utsman bin Madz'un berkata: "Sesungguhnya diriku sangat empati dengan apa yang diderita saudaranya yang lain di jalan Allah. Demi Allah, aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih tangguh dan lebih hebat darimu, wahai Abu Abdu Syams." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata kepada Utsman bin Madz'un: "Kemarilah wahai keponakanku, jika engkau ingin seperti dulu lagi, maka ambillah kembali perlindunganmu." Utsman bin Madz'un menjawab: "Tidak!!"



Abu Salamah dalam Perlindungan Abu Thalib


Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari Salamah bin Abdullah bin Umar bin Abu Salamah bahwa ia diberitahu bahwa ketika Abu Salamah meminta perlindungan kepada Abu Thalib, beberapa orang dari Bani Makhzum menemui Abu Thalib dan berkata padanya, "Wahai Abu Thalib, apa maksud dengan semua ini? Kami relakan, engkau melindungi keponakanmu, Muhammad dari kami. Lalu apa alasanmu melindungi seorang laki-laki yang bukan keponakanmu? Abu Thalib berkata: "Abu Salamah termasuk keponakanku juga." Jika aku tidak melindungi Abu Salamah, maka aku juga tidak akan melindungi Muhammad." Abu Lahab bangkit, dan dengan nada marah kemudian berkata: "Wahai orang Quraisy, demi Allah, kalian tiada henti-hentinya memprotesnya orang tua ini atas perlindungannya terhadap salah seorang di antara kaumnya. Demi Allah, apa yang kalian lakukan ini hanyalah kesiasiaan belaka. Mereka berkata: "Lalu kami harus bagaimana wahai Abu Utbah (Abu Lahab)." Abu Lahab adalah pendukung dan penolong berat mereka dalam berhadapan dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka tetap berada dalam kondisi seperti itu. Abu Thalib sendiri terpesona saat dia mendengar ucapan Abu Lahab di atas. Ia sangat berharap Abu Lahab mengambil sikap seperti dirinya terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Abu Thalib berkata mendorong Abu Lahab untuk menolong Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
Sesungguhnya salah seorang pamannya ialah Abu Utaibah Pasti hidup dalam taman indah jika ia tidak dibebani kezaliman
Aku katakan kepadanya namun apa artinya nasihatku untuknya? Hai Abu Mu'thib, tetap kokohkanlah kepribadianmu!
Janganlah sekali-kali menyerah pada zaman, sepanjang kau ada di jalan lurus Engkau dihina oleh zaman, atau engkau turun di musim ini
Berpalinglah dari jalan kenestapaan dan orang selainmu berada di atas jalan nestapa
 
Karena engkau tidak tercipta dalam keadaan lemah
Perangilah, karena perang adalah solusi ter baik
Engkau takan akan melihat pelaku perang diberi kehinaan Sampai dia diajak damai
Bagaimana tidak, sementara mereka tidak melakukan dosa besar padamu
Dan tidak membiarkan engkau kalah ataumenang Semoga Allah memberi pahala pada Abdu
Syams, Naufal, Taim dan Makhzum karenakebaikannya kepada kami Mereka memecah belah kami setelah sebelumnya penuh cinta intim adanya Mereka telah melanggar hal-halyang diharamkan
Demi Baitullah, kalian semua dusta bohong. Kami tidak merampas Muhammad
Tidakkah kalian lihat suatu hari dia berdiri di Syi'b


Abu Bakar Mendapat Perlindung- an Ibnu Dughunnah dan Mengembalikannya Kembali


Ibnu Ishaq berkata: Kepadaku oleh Muhammad bin Muslim Az-Zuhri bercerita padaku
dari Urwah dari Aisyah Radhiyallahu Anhu- ma, ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu merasa Makkah sudah tidak akrab lagi dengannya dimana ia mendapatkan gangguan di dalamnya, dan melihat kekejaman orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabat beliau, maka ia memohon izin kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk berhijrah dan beliau pun memberikannya. Kemudian Abu Bakar pun berhijrah dan dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Ibnu Ad-Daghanah, saudara Bani Al-Harits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Ketika itu, Ibnu Ad-Dughunnah adalah pemimpin orang- orang Ahabisy.
Ibnu Ishaq berkata: Ahabiys adalah anak-anak dari Harits bin Abdu Manat bin Kinanah dan Hun bin Mudrikah dan Bani Mushthaliq bin Khuza'ah.
Ibnu Hisyam berkata: Mereka melakukan persekutuan. Maka kemudian mereka disebut Ahabisy karena melakukan perseketuan di sebuah lembah yang bernama Ahbasy di bawah Mekkah.
Ada yang berkata bahwa nama Ibnu Ad-Dughunnah ialah Ibnu Ad-Dughainah.
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita kepadaku dari Urwah dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata: Kemudian Ibnu Ad-Dughunnah berkata: "Kenapa engkau ingin pergi wahai Abu Bakar?" Abu Bakar menjawab: "Aku diusir oleh kaumku. Mereka menyakiti serta mempersempit ruang gerakku." Ibnu Ad-Dughunnah berkata: "Kenapa itu semua bisa terjadi?" Demi Allah, engkau hiasan keluarga, menolong orang yang berada dalam kesulitan, melakukan banyak kebajikan dan membantu orang miskin. Jangan pergi karena aku akan melindungimu." Kemudian Abu Bakar pulang bersama Ibnu Ad- Dughunnah.
Ketika Abu Bakar memasuki Mekkah, Ibnu Ad-Dughunnah berdiri lain berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya aku telah melindungi anak Abu Quhafah. Maka siapa pun tidak boleh menyakitinya sedikitpun."
 
Aisyah berkata: Orang-orang Quraisy pun mematuhinya. Abu Bakar mempunyai masjid di pintu rumahnya di Bani Jumah dan biasanya ia melakukan shalat di sana. Abu Bakar berhati lembut. Oleh karenanya apabila membaca Al-Qur'an, pasti ia terharu.
Anak-anak muda, para budak dan para wanita berdiri di tempat Abu Bakar karena kagum dengan postur tubuhnya. Oleh sebab itulah beberapa orang Quraisy menemui Ibnu Ad-Dughunnah kemudian berkata: "Wahai Ibnu Ad-Dughunnah, engkau melindungi orang ini bukan untuk mengganggu kami kan? Sesungguhnya dia manakala shalat dan membaca apa yang dibawa Muhammad, maka kemudian ia menangis dan ditambah ia memiliki postur tubuh yang sungguh menawan. Kami khawatir anak-anak muda, wanita-wanita dan orang-orang lemah di antara kami terpengaruh olehnya. Oleh sebab itulah, nasihatilah Abu Bakar agar tidak keluar rumah dan melakukan hal semacam itu."
Ibnu Ad-Dughunnah pergi kepada Abu Bakar dan berkata kepadanya: "Hai Abu Bakar, perlindunganmu bukanlah dengan maksud agar engkau mengusik kaummu. Sesungguhnya mereka tidak suka tempat engkau shalat dan merasa terganggu oleh perbuatanmu. Oleh sebab itu, berdiamlah di dalam rumahmu, dan berbuatlah apa saja yang engkau suka."
Abu Bakar berkata: "Bagaimana kalau perlindunganmu ku kembalikan kepadamu dan aku lebih ridha dengan perlindungan Allah?" Ibnu Ad-Dughunnah berkata: "Ya, cabutlah perlindunganku kepadamu!" Abu Bakar berkata: "Baiklah." Ibnu Ad-Dughunnah berdiri Kemudian berkata: “Wahai Oran-orang Quraisy, sesungguhnya anak Abu Quhafah telah mengembalikan perlindunganku kepadaku, maka terserah apa yang akan kalian lakukan pada sahabat kalian ini."
Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Al-Qasim bercerita kepadaku dari ayahnya, Al-Qasim bin Muhammad ia berkata: Da¬lam perjalanannya menuju Ka'bah, Abu Bakar berjumpa dengan orang Quraisy yang jahil, orang itu melemparkan tanah ke atas kepala Abu Bakar. Kemudian Al-Walid bin Al- Mughirah atau Al-Ash bin Wail berjalan melewati Abu Bakar dan orang jahil berkata: "Engkau sendiri yang memiliki keadaanmu seperti ini." Abu Bakar berkata: "Ya Tuhan, betapa Penyayangnya Engkau. Ya Tuhan, betapa Penyantunnya Engkau. Ya Tuhan, betapa Penyantunnya Engkau."



Pembatalan Shahifah (Surat Perjanjian)


Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang Quraisy secara sepihak membatalkan shahifah yang diterapkan orang-orang Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib. Peristiwa ini di komandoi Hisyam bin Amr Rabi'ah bin Al-Harits bin Habib bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luay, karena Hisyam bin Amr adalah saudara seibu dengan Nadhlah bin Hasyim bin Abdu Manaf yang memiliki hubungan kuat dengan Bani Hasyim. Ia sangat dihormati di mata kaumnya. Pada suatu malam ia mendatangi Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib di Syi'b dengan menunggang unta dan mengangkut makanan di atas untanya. Pada saat ia telah tiba di gerbang Syi'b, ia turun menggiring untanya, berjalan ke depan dan masuk menemui mereka. Pada hari yang lain, ia datang dengan membawa unta nya yang mengangkut gandum dan melakukan seperti biasanya.
Hisyam bin Amr datang menjumpai Zuhair bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Ibu Zuhair bin Abu Umayyah adalah Atikah binti Abdul Muthalib. Hisyam bin Amr berkata kepada Zuhair bin Abu Umayyah, "Hai Zuhair, apakah engkau gembira, jika engkau menikmati makanan, mengenakan pakaian, nikah dengan wanita-wanita, sedang paman-pamanmu dari jalur
 
ibumu seperti yang engkau ketahui tidak boleh menjual dan membeli dari manusia, tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan putri-putri mereka kepada manusia yang lain? Demi Allah, andaikata mereka adalah paman-paman Abu Al-Hakam bin Hisyam kemudian engkau ajak mereka menuruti keinginanmu, maka tidak ada seorang pun dari mereka yang menjawab seruanmu untuk se- lamanya." Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Lalu apa yang dapat aku lakukan? Demi Allah, jika aku didukung orang lain, pasti aku batalkan shahifah tersebut.'" Hisyam bin Amr berkata: "Ada orang orang lain yang mendukungmu." Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Siapa dia?!" Hisyam bin Amr berkata: "Aku!" Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Carilah pihak ketiga."
Kemudian Hisyam bin Amr pergi mene- mui Al-Muth'im bin Adi dan berkata kepadanya: "Wahai Al- Muth'im, senangkah engkau dua kabilah dari Bani Manaf dan engkau mendukung orang-orang Quraisy dalam masalah ini? Demi Allah, jika engkau mendukung mereka dalam masalah ini, engkau pasti kena getahnya." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Lalu apa yang dapat aku lakukan? sementara aku hanyalah seorang diri?" Hisyam bin Amr berkata: "Ada orang kedua yang sependapat denganmu." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Siapa dia?" Hisyam bin Amr berkata: "Aku." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Carilah orang lain
lagi!" Hisyam bin Amr berkata: "Telah aku
lakukan lakukan." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Siapa dia?" Hisyam bin Amr berkata: "Zuhair bin Abu Umayyah." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Carilah lagi orang lain!"
Kemudian Hisyam bin Amr menemui Abu Al-Bakhtari bin Hisyam dan berkata kepadanya seperti yang ia katakan kepada Al-Muth'im bin Adi. Abu Al-Bakhtari berkata: "Adakah ada orang yang bisa membantu masalah ini?" Hisyam bin Amr berkata: "Ya, ada." Abu Al Bakhtari bin Hisyam berkata: "Siapa dia?" Hisyam bin Amr berkata: "Zuhair bin Abu Umayyah, Al-Muth'im bin Adi dan saya sependapat denganmu." Abu Al-Bakhtari bin Hisyam berkata: "Carilah orang lain lagi!"
Lalu Hisyam bin Amr menemui Zam'ah bin Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad dan berbicara dengannya sambil memuji hubungan keluarga Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib dengannya dan hak mereka atas dirinya. Zam'ah bin Al-Aswad berkata: "Adakah orang yang sependapat dengan apa yang kamu lakukan ini?" Hisyam bin Amr berkata: "Ya, ada!" Hisyam bin Amr menyebutkan orang-orang yang telah mufakat dengannya dalam masalah ini. Lalu mereka sepakat untuk bertemu di samping Al- Hajun di Makkah Atas.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian lima orang itu bertemu di samping Al-Hajun. Mereka sepakat dan berjanji untuk membatalkan shahifah. Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Akulah orang yang pertama kali akan angkat bicara."
Keesokan harinya, mereka berlima pergi ke ruang rapat mereka. Zuhair bin Abu Umayyah juga pergi dengan memakai pakaian yang mewah. Lalu ia melakukan thawaf di Baitullah sebanyak tujuh kali, barulah ia menemui orang-orang Quraisy dan berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Makkah, pantaskah kita menikmati makanan dan mengenakan pakaian, sedang Bani Hasyim binasa tidak boleh melakukan jual-beli. Demi Allah, saya tidak akan duduk sampai shahifah yang memutus sitaturahim dan zalim ini di sobek."
Abu Jahal yang sedang berada di sudut masjid berkata: "Demi Allah, jangan omong kosong di sini. Shahifah ini tidak boleh di sobek." Zam'ah bin Al-Aswad berkata: "Demi Allah, engkau jauh lebih dusta, wahai Abu Jahal. Kami tidak rela penulisan shahifah ini sejak awal penulisannya." Abu Al-Bakhtari bin Hisyam berkata: "Zam'ah berkata benar. Demi Allah, kita tidak puas dengan apa yang ditulis di dalamnya dan kita mengingkari." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Kalian berdua berkata benar dan
 
dustalah orang yang memprotes kalian. Kita berlepas tangan kepada Allah dari shahifah ini dan dari semua yang ditulis di dalamnya." Hisyam bin Amr juga mengatakan hal sama. Abu Jahal berkata: "Apa yang kalian lakukan telah kalian sepakati di suatu malam dengan musyawarah dan bukan di tempat ini kalian putuskan. Saat itu, Abu Thalib sedang duduk di sudut masjid. Al-Muth'im bin Adi bangkit dan berjalan menuju shahifah untuk    menyobeknya, namun ia dapatkan rayap-rayap telah memakannya,  kecuali  kata   (dengan nama-Mu ya Allah).
Penulis shahifah itu adalah Manshur bin Ikrimah. Setelah menuliskannya tangannya lumpuh, demikianlah menurut riwayat para ulama.
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian pakar menyebut bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Thalib: "Pamanda, sesungguhnya Allah telah mengirim rayap-rayap kepada shahifah orang-orang Quraisy ini. Rayap-rayap itu justru membiarkan nama Allah di shahifah itu dan menghapus kezaliman, pemutusan hubungan silaturahim dan kebohongan dari shahifah itu." Abu Thalib bertanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Apakah Tuhanmu menginformasikan hal ini kepadamu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Ya benar." Abu Thalib berkata: "Mana Tuhanmu, kenapa aku tidak melihatnya?" Kemudian Abu Thalib keluar menemui orang-orang Quraisy dan berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang orang-orang Quraisy, sesungguhnya keponakanku memberitahuku ini dan itu, oleh sebab itu mari kita buktikan kebenaran ucapannya. Jika shahifah tersebut persis seperti yang dikatakan keponanku, maka berhentilah memboikot kami dan turunkanlah apa saja yang ada di dalamnya. Jika keponakanku berkata dusta, maka dia aku serahkan kepada kalian." Orang-orang Quraisy berkata: "Baiklah, kami sependapat dengan tawarabnu itu." Mereka pun sepakat, lalu mereka melihatnya dan ternyata shahifah tersebut persis seperti yang dikatakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Saat itulah, beberapa orang Quraisy membatalkan shahifah yang telah mereka buat.
Usai kembali dari Thaif Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali pergi ke Gua Hira. Rasulullah mengirim seseorang untuk menjumpai Al-Akhnas bin Syariq untuk memohon perlindungan. Al-Akhnas bin Syariq berkata: "Aku seorang lawan dan seorang lawan itu tidak boleh memberikan perlindungan kepada lawannya." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus seseorang untuk menjumpai Suhail bin Amr untuk memohon perlindungan padanya. Suhail bin Amr berkata: "Sesungguhnya Bani Amir dilarang melindungi seseorang untuk melawan Bani Ka'ab." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim seseorang untuk menjumpai Al-Muth'im bin Adi guna memohonkan baginya perlindungannya, dan ia pun siap memberikan perlindungan kepada beliau. Setelah itu, Al-Muth'im bin Adi beserta keluarganya keluar dari rumah dengan persenjataan lengkap hingga mereka tiba di masjid, kemudian Al-Muth'im bin Adi mengirim seseorang menjumpai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa pesan: "Silahkan, masuklah ke dalam masjid!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pun masuk ke dalamnya, lalu thawaf di Baitullah dan shalat di sampingnya, setelah itu pulang ke rumah. Inilah yang dimaksudkan oleh Hassan bin Tsabit dalam untaian syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Hassan bin Tsabit juga memuji Hisyam bin Amr atas jasanya dalam membatalkan shahifah dalam untaian syairnya:
Adakah Bani Umayyah memenuhi hak perlindungan
Dengan ikatan nan kokoh sebagaimana yang dilakukan oleh Hisyam? Seperti sekelompok orang yang tidak menzalimi tetangganya
Yaitu Al-Harits bin Hubaib anak Sukham? Jika Bani Hisl melindungi orang yang meminta perlindungan,
Mereka pasti memenuhinya dan menawarkan ketentraman
 
Ibnu Hisyam berkata: Hisyam adalah saudara Suham. Namun ada pula yang mengatakan bahwa nama Suham adalah Sukham.



Thufail bin Amr Ad-Dausi Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Walaupun memperoleh perlakuan hina dari kaumnya, Rasulullah tetap menyampaikan nasihat dan menyeru mereka kepada keselamatan dari apa yang sedang mereka alami saat itu. Adapun orang-orang Quraisy, mereka malah melarang manusia dan siapa saja dari orang Arab yang datang pada mereka.
Thufail bin Amr adalah seorang yang terhormat, penyair dan seorang sangat cerdas. Orang-orang Quraisy berkata kepada Thufail bin Amr, "Wahai Thufail, engkau telah tiba di negeri kami dan orang ini (Nabi Muhammad) yang ada di tengah-tengah kita telah membuat kami semua porak-poranda. Ia telah memecah belah persatuan dan kesatuan kita. Ucapannya laksana sihir yang mampu memutuskan hubungan seorang anak dengan ayahnya, saudara dengan saudaranya dan suami dengan istrinya. Kami sangat khawatir jika apa yang telah terjadi pada kami itu lambat laun akan menimpamu dan kaummu. Karena itu, janganlah engkau sedikitpun mengobrol dengannya jangan pula mendengar sesuatu pun darinya!"
Thufail bin Amr bercerita: "Demi Allah, mereka tak pernah henti mengatakan itu padaku hingga aku bertekad untuk tidak akan mendengarkan sesuatu pun dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan tidak berbicara dengan beliau sampai pada aksi menutup kedua telingaku dengan kapas karena khawatir perkataan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masuk ke kedua telingaku sementara aku tidak ingin mendengar apa pun darinya. Suatu hari, aku pergi ke masjid, tanpa kuduga ternyata Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri shalat di sisi Ka'bah, kemudian aku berdiri mendekati beliau. Ternyata Allah berkehendak agar aku mendengarkan sebagian firman-Nya. Sungguh apa yang aku dengar adalah ucapan yang teramat indah, aku bergumam dalam diriku: "Demi Allah, sungguh aku seorang yang cerdas dan penyair yang cerdas memilah antara yang haq dengan yang batil lalu apa salahnya kalau aku mendengar apa yang dikatakan lelaki ini. Jika yang dia bawa adalah kebenaran, aku akan menerimanya. Jika yang dibawanya adalah kebatilan, aku akan meninggalkannya."
Aku terpaku bagai patung di tempatku sampai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beranjak pulang ke rumahnya. Aku mengikuti beliau dengan diam-diam dari belakang hingga beliau masuk ke dalam rumahnya. Ketika telah masuk ke dalam rumahnya, aku ikut masuk ke dalamnya. Aku berkata: "Hai Muhammad, kaummu mengatakan ini dan itu padaku. Demi Allah, mereka terus-menerus mengintimadasi aku terhadap permasalahanmu, hingga aku menutup kedua telingaku ini dengan kapas agar tidak bisa mendengar ucapanmu. Namun ternyata Allah memberiku hidayah hingga bisa mendengarkan ucapanmu yang teramat indah. Tolong terangkan kepadaku persoalanmu!"
Thufail bin Amr berkata: "Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerangkan tentang Islam kepadaku dan membacakan Al-Qur'an. Demi Allah, aku belum pernah mendengar perkataan seindah Al- Qur'an dan sesuatu yang lebih adil daripada Islam. Maka akupun segera memeluk Islam dengan menyaksikan dua kalimat syahadat. Aku berkata: "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku orang yang ditaati di tengah-tengah kaumku. Aku akan pulang dan mengajak mereka kepada Islam. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku satu tanda yang bisa membantuku dalam
 
menyeru mereka." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Ya Allah, berilah dia sebuah tanda."
Lanjut Thufail: "Maka aku pun pulang kepada kaumku. Ketika aku berada di Tsaniyyah, celah antara dua gunung, yang dari sini aku bisa melihat rumah-rumah kaumku, tiba-tiba di kedua mataku ada cahaya seperti lentera. Aku berkata: "Ya Allah, janganlah dia ada di wajahku. Aku khawatir kaumku mengira bahwa cahaya tersebut adalah tanda bahwa aku keluar dari agama mereka." Kemudian ca¬haya tersebut pindah ke ujung cambukku dan orang-orang bisa melihat sinar di cambukku bagaikan lentera, sementara aku turun ke tem: pat mereka dari Tsaniyyah hingga akhirnya tiba di tempat mereka keesokan harinya.
Thufail bin Amr berkata: "Tatkala aku tiba di rumah, ayahku yang sudah berusia lanjut memanggilku. Aku berkata: "Ayahanda kini aku tidak lagi termasuk golonganmu dan engkau tidak lagi termasuk golonganku." Ayahku berkata: "Apa maksudmu bicara begitu wahai anakku?" Aku berkata: "Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam." Ayahku berkata: "Anakku, agama kamu agamaku juga." Aku berkata: "Mandilah dan cucilah pakaian Ayah! Setelah itu, datanglah kepadaku kembali agar aku mengajari Ayah apa yang telah diajarkan kepadaku." Ayah pun pergi, mandi dan mencuci pakaiannya. Setelah itu, ia datang kepadaku, kemudian aku terangkan kepadanya perihal Islam dan ia pun memeluk Islam.
Lalu datanglah istriku mendekati aku. Aku berkata kepadanya: "Kini aku bukan termasuk golonganmu lagi dan engkau tidak lagi termasuk dari golonganku." Istriku berkata: "Apa maksudmu?!" Aku berkata: "Islam telah memisahkanku darimu, aku telah mengikuti agama Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sal- lam." Istriku berkata: "Agamamu, agamaku jua." Aku berkata: "Pergilah ke Hina Dzi Asy- Syara."
Ibnu Hisyam berkata: Thufail bin Amr berkata: "Pergilah ke Dzi Asy-Syara, lalu mandilah di sana!" Dzi Asy-Syara merupakan berhala kabilah Daus. Kabilah Daud melindungi tempat berhala tersebut di sana ada air terjun yang turun dari gunung. Istriku berkata: "Istriku bergegas pergi untuk mandi. Setelah selesai ia kembali menemuiku, maka aku terangkan Islam kepadanya dan ia pun memeluk Islam.
Kemudian aku menyeru kabilah Daus kepada Islam, namun sayang mereka agak lamban merespon seruanku. Kemudian aku datang kembali kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah. Aku berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya perzinahan telah mendominasi di kabilah Daus, maka berdoalah kepada Allah untuk mereka." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Ya Allah, tunjukilah kabilah Daus. Kembalilah engkau kepada kaummu, lalu serulah mereka dan bersikap santunlah terhadap mereka." Aku pulang kembali di tengah kabilah Daus untuk menyeru mereka kepada Islam hingga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah sampai terjadinya Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Aku pergi menemui Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam dengan membawa orang-orang dari kaumku yang telah masuk Islam. Saat itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berada di Khaybar. Aku sampai di Madinah dengan membawa sekitar tujuh puluh atau delapan puluh keluarga yang telah masuk Islam, dan kami menyusul Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Khaybar dan beliau memberi bagian rampasan perang sebagaimana kaum Muslimin yang lain.
Hingga Allah menaklukkan Makkah untuk beliau. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, kirimlah aku kepada berhala Dzu Al-Kafain -berhala milik Amr bin Humamah- untuk aku bakar."
Ibnu Ishaq berkata: Thufail bin Amr lalu berangkat menuju berhala Dzu Al-Kafaini, kemudian ia membakar tersebut sambil berkata:
Wahai Dzu Al-Kafain, aku bukan lagi budak-budakmu
 
Kami lahir lebih awal dari pada mu Kirii aku selipkan api di dalam hatimu

Ibnu Ishaq berkata: Usai melakukan itu, Thufail bin Amr kembali menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ia hidup menyertai Nabi di Madinah hingga Allah Taala memanggilnya pulang ke haribaan-Nya. Di zaman Abu Bakar, ketika orang-orang Arab murtad, Thufail bin Amr berangkat bersama kaum Muslimin hingga berhasil menaklukkan Thulaihah dan seluruh Negeri Najed. Setelah itu, Thufail bin Amr berangkat bersama kaum Muslimin menuju Yamamah bersama dengan anaknya yang bernama Amr bin Thufail. Dalam perjalanannya menuju Yamamah Thufail bin Amr. Ia berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Sesungguhnya aku baru saja bermimpi, tolong terangkanlah kepadaku arti mimpiku itu. Aku bermimpi kepalaku dicukur, seekor burung keluar dari mulutku, aku berpapasan dengan seorang wanita lalu wanita memasukkan aku ke dalam kemaluannya. Anakku men- cariku dengan sangat gelisah, kemudian aku lihat anakku dijauhkan dariku." Mereka berkata: "Itu suatu pertanda yang baik!!" Thufail bin Amr berkata: "Demi Allah, aku memiliki penafsiran sendiri dari mimpi itu!" Mereka berkata: “Bagaimana takwilnya?” Thufail bin Amr berkata: "Kepalaku dicukur artinya ia letakkan di bumi. Sedangkan burung yang keluar dari mulutku adalah nyawaku. Wanita yang memasukkan aku ke dalam kemaluannya artinya tanah yang digali untukku lalu aku dimasukkan ke dalamnya. Anakku mencariku artinya kemudian ia dijauhkan dariku artinya bahwa ia ingin sekali menggapai sebagaimana yang aku gapai." Thufail bin Amr Rahimahullah gugur sebagai salah seorang syahid pada Perang Yamamah. Sedangkan anaknya menderita luka parah lalu sembuh dan akhirnya dia gugur sebagai syahid di medan Perang Yarmuk pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu.



Tentang A'sya Bani Qais bin Tsa'labah


Ibnu Hisyam berkata: Khalid bin Qurrah bin Khalid As-Sadusi dan yang lainnya berkata kepadaku dari tokoh-tokoh sepuh berilmu seperti Bakr bin Wail bahwa A'sya Bani Qais bin Tsa'labah bin Ukabah bin Sha'b bin Ali bin Bakr bin Wail pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk masuk Islam.
Ketika A'sya bin Qais sampai atau dekat di Makkah, ia dihalau oleh sebagian orang Quraisy. Mereka menanyakan apa tujuan kedatangannya ke Makkah. A'sya bin Qais nyatakan bahwa maksud kedatangannya ke Makkah karena ingin berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan memeluk Islam. Salah seorang Quraisy berkata kepada A'sya bin Qais: "Hai Abu Bashir, sesungguh- nya dia mengharamkan zina." A'sya bin Qais berkata: "Demi Allah, aku tidak gila dengan zina." Orang Quraisy tersebut berkata: "Hai Abu Bashir, sesungguhnya dia mengharamkan minuman keras." A'sya bin Qais berkata:
jjemi Allah, adapun yang mi, maka dalam jiwa ini masih suka kepadanya. Aku akan meminumnya tahun ini, setelah itu aku akan datang kepada beliau untuk masuk Islam." Setelah itu, A'sya bin Qais pulang. Ia meninggal dunia pada tahun itu juga dan berhasil bertemu dengan Rasululla/i Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Walapun musuh Allah, Abu Jahal demikian berat memusuhi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan sangat besar volume kebenciannya kepada beliau dan bersikap keras terhadap
 
beliau, namun Allah merendahkannya di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam apabila ia melihatnya.



Al-Irasyi yang Menjual Untanya Kepada Abu Jahal


Ibnu Ishaq berkata: Abdul Malik bin Abdullah bin Abu Sufyan Ats-Tsaqafi berkata kepadaku, seseorang dari Arasy, tiba di Makkah dengan mengendarai untanya. Unta itu kemudian dibeli Abu Jahal, dengan menghutanginya. Kemudian orang Irasy tersebut berjalan menuju tempat berkumpulnya orang-orang Quraisy, sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang duduk di sudut masjid. Orang Irasy tersebut berkata: "Hai orang-orang Quraisy, siapakah di antara kalian yang bisa membantuku menyelesaikan persoalanku dengan Abu Al-Hakam bin Hisyam karena aku orang asing dan musafir. Sungguh, dia belum membayar untaku." Salah seorang dari hadirin di tempat pertemuan tersebut berkata: "Apakah engkau melihat orang yang sedang sendiri itu?" Orang yang dia maksud adalah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka memanfaatkan Rasulullah, karena mereka tahu permusuhan sengit antara beliau dengan Abu Jahal. Pergilah kepadanya, karena ia pasti bisa membantumu menyelesaikan persoalanmu dengan Abu Jahal."
Maka orang Arasy tersebut berjalan menuju tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau: "Wahai hamba Allah, sesungguhnya Abu Al-Hakam bin Hisyam telah mengambil hakku. Aku di sini hanya orang asing dan musafir. Aku telah bertanya kepada orang-orang tentang siapa yang bisa membantuku mengambil hakku dari Abu Jahal, kemudian mereka menyuruhku datang kepadamu. Oleh karena itu, tolong ambilkan hakku daripadanya semoga Allah merahmatimu!" Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Mari kita pergi kepada Abu Jahal!" Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam berdiri bersamanya. Ketika orang-orang Quraisy melihat beliau berjalan bersama orang Irasy tersebut, mereka berkata kepada salah seorang dari mereka: "Ikuti dan lihatlah apa yang akan dia lakukan!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di rumah Abu Jahal, kemudian beliau mengetuk pintu rumahnya. Abu Jahal berkata: "Siapa itu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Muhammad. Keluarlah engkau temuilah aku!" Abu Jahal pun keluar membukakan pintu. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Berikan liak orang ini!" Abu Jahal berkata: "Ya, tunggu sebentar, aku akan segera memberikan hak orang ini." Selesai mengatakan itu Abu Jahal segera bergegas masuk ke dalam rumahnya lalu keluar membawa uang untuk melunasi hutangnya kepada orang Irasy tersebut. Setelah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi sambil berkata kepada orang Irasyi tersebut: "Sekarang urusanmu telah tuntas!" Orang Irasyi tersebut berjalan hingga tiba di tempat berkumpulnya orang-orang Quraisy di masjid, kemudian ia berkata: Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Sungguh, demi Allah, ia telah menolongku mendapatkan kembali hakku." Orang Quraisy yang diperintahkan membuntuti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan orang Irasyi datang ke tempat pertemuan orang-orang Quraisy. Mereka bertanya: "Apa yang engkau lihat?" Orang Quraisy tersebut menjawab: "Sungguh sebuah peristiwa ajaib yang luar biasa. Demi Allah, dia hanya mengetuk pintu rumah Abu Jahal, kemudian Abu Jahal keluar menemuinya bagai seorang pecundang. Muhammad berkata: "Lunasilah hutangmu terhadap orang ini!" Abu Jahal menjawab: "Ya. tunggu sebentar aku ambil uang dulu!" Selesai mengatakkan itu, Abu Jahal segera bergegas masuk ke dalam rumahnya, kemudian keluar lagi membawa uang untuk membayar hutangnya kepadanya." Tak lama berselang, Abu Jahal datang ke tempat pertemuan orang-orang Quraisy. Mereka berkata: "Celaka engkau wahai Abu Jahal, ada apa
 
denganmu? Demi Allah, kami belum pernah melihat seperti apa yang baru saja engkau lakukan!" Abu Jahal berkata: "Demi Allah, dia datang mengetuk pintu rumahku. Saat aku mendengar suaranya, diriku dihinggapi rasa takut yang luar biasa. Kemudian aku keluar menemuinya, sedang di kepalanya terdapat unta. Aku tidak pernah melihat unta yang memiliki kepala, pangkal ekor dan taring seperti unta tersebut. Demi Allah, jika aku tidak memenuhi permintaannya pastilah unta itu menerkam!"



Rukanah Al-Mathlabi Berduel Melawan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam


Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku bahwa Rukanah bin Abdun bin Yazid bin Hasyim bin Al-Muthaib bin Abdu Manaf adalah orang Quraisy yang paling hebat bertarungnya. Suatu hari, ia berjumpa Ucngan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di salah satu syi'b (gang di bukit) Makkah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepadanya: "Hai Rukanah, kenapa engkau tidak takut kepada Allah dan tidak menerima seruanku?"41 Rukanah berkata: "Sesungguhnya jika aku tahu bahwa apa yang engkau katakan adalah benar pasti aku mengikutimu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Begini saja, bagaimana jika aku berhasil mengalahkanmu dalam duel, apakah dengan begitu engkau mengetahui bahwa apa yang aku katakan adalah benar?" Rukanah berkata: "Ya!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Kalau begitu, bersiaplah." Rukanah mendekati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian mulai berduel melawan beliau. Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerangnya, beliau berhasil membantingnya dan diapun tidak berkutik. Rukanah berkata: "Ronde kedua wahai Muhammad!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pun mengulangi dan kembali berhasil merobohkan Rukanah. Rukanah berkata: "Hai Muhammad, demi Allah, sulit dipercaya. Engkau berhasil mengalahkanku." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Jika engkau mau, aku akan perlihatkan padamu sesuatu yang lebih sulit dipercaya dari peristiwa tadi, jika engkau bertakwa kepada Allah dan mengikuti agamaku." Rukanah berkata: "Apa itu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Aku akan panggil pohon yang engkau lihat ini, lalu ia datang kepadaku." Rukanah berkata: "Silahkan panggil pohon tersebut.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pun memanggil pohon itu, kemudian pohon

tersebut datang hingga berdiri tepat di hadap- an Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan beliau berujar kepadanya: "Kembalilah ke tempatmu semula." Pohon itu pun kembali ke tempatnya semula.
Setelah itu, Rukanah menemui kaumnya dan berkata: "Hai Bani Abdu Manaf, silahkan adu semua penyihir di dunia dengan sahabat kalian, niscaya dia mampu mempecundangi mereka semua. Demi Allah, aku belum pernah menjumpai ahli sihir yang lebih sakti darinya." Kemudian Rukanah menceritakan apa yang ia saksikan dan apa yang telah diperbuat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.



Utusan Kristen yang Masuk Islam
 
Ibnu Ishaq berkata: Suatu hari, datanglah dua puluh atau hampir dua puluh orang utusan Kristen kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau sedang berada di Makkah. Mereka mendengar kabar kenabian beliau dari orang-orang Habasyah. Mereka menemukan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Masjidil Haram, lalu mereka duduk bersamanya, berbincang dan bertanya jawab dengannya, di tengah-tengah orang-orang Quraisy yang berada di tempat berkumpulnya mereka di sekitar Ka'bah. Setelah berdialog dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Rasulullah mengajak mereka ke jalan Allah dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka. Pada saat mendengar Al-Qur'an, mata mereka mengucurkan airmata. Mereka menerima dakwah beliau, beriman kepada beliau, membenarkan dan mengenali beliau persis seperti sifat yang dijelaskan dalam kitab mereka. Setelah itu, mereka pamit kepada Ra- sulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sialnya mereka ditemui Abu Jahal bin Hisyam bersama sejumlah orang Quraisy. Mereka berkata kepada utusan Kristen Habasyah yang telah masuk Islam, "Semoga Allah menggagalkan usaha kalian. Bukankah kalian dikirim oleh rahib-rahib kalian agar kembali kepada mereka dengan membawa berita tentang orang ini. Malah yang kalian lakukan adalah yang sebaliknya, meninggalkan agama kalian dan membenarkan ucapannya. Kami belum pernah mendapatkan utusan yang lebih bodoh daripada kalian."
Utusan Kristen Habasyah yang telah masuk Islam itu berkata kepada orang-orang Quraisy: "Salam sejahtera atas kalian, kami tidak akan membalas ucapan kalian, karena tidak ada yang melarang kami mengerjakan apa saja yang kami inginkan dan tidak ada yang melarang kalian mengerjakan apa saja yang kalian inginkan. Kami tidak akan pernah mengabaikan kebaikan ada bagi diri kami." Ada yang menyebutkan, bahwa delegasi Kristen tersebut datang dari Najran. Hanya Allah yang Mahatahu darimana sebenarnya utusan itu berasal. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat-ayat berikut turun tentang mereka:


Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur'an itu) kepada mereka, mereka berkata: "Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur'an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka
 
mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil." (QS. al-Qashash: 52-55).
Ibnu Ishaq berkata: Aku pernah tentang ayat-ayat di atas kepada siapa diturunkan? Ibnu Syihab Az- Zuhri berkata kepadaku, "Aku mendengar dari ulama-ulama kita bahwa ayat-ayat di atas diturunkan kepada Najasyi dan sahabat-sahabatnya dan juga ayat-ayat yang ada di surat Al-Maidah"


Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orangNasrani) terdapat pendeta- pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad saw.)" (QS. al- Maidah: 82-83),
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam senantiasa berkumpul di Masjidil Haram dengan sahabat-sahabat yang lemah, seperti: Khabbab, Ammar, Abu Fukaihah Yasar, mantan budak Shafwan bin Umayyah, Shuhaib dan orang-orang seperti mereka dari kaum Muslimin. Orang-orang Quraisy melecehkan sahabat-sahabat Rasulullah Shaliallahu Alaihi wa Sallam yang lemah itu. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: "Mereka adalah sahabat-sahabat Muhammad, apakah mungkin Allah akan memberikan mereka petunjuk dan kebenaran dan bukan memberikannya kepada kita? Andai yang dibawa Muhammad itu sesuatu yang baik, pasti kita akan mendahului mereka menuju Muhammad dan Allah tidak mengkhususkan mereka atasnya daripada kita." Kemudian Allah menurunkan ayat tentang mereka:
 
 

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang- orang yang zalim. Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia berto bat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al- An'am: 52-54).
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana berita yang sampai pada saya, seringkali duduk- duduk di Marwa, yaitu di warung dagang seorang anak muda Kristen yang bernama Jabr. Ia budak Ibnu Al-Hadhrami. Orang-orang Quraisy berkata: "Demi Allah, Muhammad itu ternyata diajari banyak hal oleh Jabr, budak Ibnu Al-Hadhrami." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan mereka tersebut:

 
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedangAl Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang. (QS. an-Nahl: 103).
Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah yulhiduuna ilaihi artinya mereka cenderung kepadanya. Ilhad artinya menghindar dari kebenaran. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata:
Jika Adh-Dzahhak diikuti, maka setiap orang akan menghindar dari kebenaran
Maksudnya Adh-Dhahhak Al-Khariji. Bait syair di atas ialah cuplikan ringkas dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj.



Ucapan Al-Ash dan Sebab Turunnya Surat Al-Kautsar


Ibnu Ishaq berkata: Jika Al-Ash bin Wail As-Sahmi mendengar nama Rasulullah disebut dihadapannya, sebagaimana berita yang sampai padaku, maka ia akan berkata: "Jangan hiraukan si Muhammad itu, sesungguhnya dia orang yang sulit memiliki anak laki-laki. Jika ia meninggal, namanya akan terputus dan kalian akan bebas darinya." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapannya tersebut:


Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS. al-Kautsar: 1-3).
Yakni, Kami telah menganugerahkan kepadamu nikmat yang lebih baik daripada dunia dan seisinya. Al-Kautsar ialah sesuatu yang agung.
Ibnu Ishaq berkata bahwa Labid bin Rabi'ah Al-Kilabi berkata:
Kami merasa sedih saat kematian pemilik Mahlub Dan di Rida' ada rumah agung yang lain
Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas ialah cuplikan dari syair-syair Labid bin Rabi'ah Al-Kilabi.
Ibnu Hisyam berkata: Pemilik Malhub ialah Auf bin Al-Ahwash bin Ja'far bin Kilab. Ia meninggal di Mahlub. Maksud ucapan Labid bin Rabi'ah Al-Kilabi: Di Ar-Rida' terdapat rumah lain yang agung ialah Syuraih bin Al- Akhwash bin Ja'far bin Kilab. Ia meninggal dunia di Ar-Rida. Makna kata kautsar yang
ia maksud ialah sesuatu yang banyak. Kata kautsar ialah dari kata katsir yang artinya banyak.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Kumait bin Zaid berkata dalam syairnya memuji Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan:
Engkau banyak (katsir), wahai anak Marwan yang baik
 
Sedang ayahmu, Ibnu Al-Aqail adalah kaustar (lebih agung)

Bait syair di atas adalah penggalan dari syair-syairnya.
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ja'far bin Amr, Ibnu Hisyam berkata: Dia adalah Ja'far bin Amr bin Ja'far bin Amr bin Umayyah Adh-Dhamri berkata padaku dari Abdullah bin Muslim, saudara Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri dari Anas bin Malik yang berkata bahwa saya mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda dan sebelumnya beliau ditanya,
"Wahai Rasulullah, apakah maksud Al-Kautsar yang dianugrahkan kepadamu itu? Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Al-Kautsar ialah sungai yang luasnya antara Shan'a ke Ailah. Tempat-tempat airnya tak terhitung banyaknya dan ia didatangi burung-burung yang memiliki leher laksana leher unta." Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya burung tersebut pasti merasakan kenikmatan?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Orang yang menyantap burung tersebut lebih memiliki nikmat yang lebih besar daripada kenikmatan burung tersebut."42
Ibnu Ishaq berkata: Kami mendengar hadits di atas dan hadits-hadits lainnya bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
Barangsiapa meminum air sungai Al-Kautsar, maka ia tidak akan pernah haus untuk selama- lamanya,43




Turunnya Ayat Mengapa Malaikat Tidak Diturunkan kepadanya (Al- An'aam: 8)


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tanpa henti terus menyeru kaumnya kepada Islam, berdialog, berdiskusi dan berdebat dengan mereka. Kemudian Zam'ah bin Al-Aswad, An-Nadhr bin Al- Harits, Al-Aswad bin Abdu Yaghuts, Ubay bin Khalaf dan Al-Ash bin Wail berkata kepada beliau: "Andai saja Allah mengutus kepada kami malaikat yang berbicara tentang dirimu dan bisa dilihat bersama dirimu?'"Kemudian Allah menurunkan ayat tentang ucapan mereka tersebut:
Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?" dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kamijadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu." (Al-An'am: 8-9).



Turunnya Ayat, "Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu" (Al- Anbiya': 41)
 
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam —sebagaimana berita yang saya terima— suatu saat berjalan melewati Al-Walid bin Al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf dan Abu Jahal. Mereka mencemooh dan mengolok-olok beliau, hingga membuat beliau naik darah karenanya, lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang mereka tersebut:
Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu adzab yang selalu mereka perolok-olokkan. (Al-Anbiya': 41).



Perisiwa Isra' dan Mi'raj


Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam diisra'kan (diperjalanan pada malam hari) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yaitu Baitul Maqdis di Ilia. Saat itu Islam telah menyebar di Makkah dan di seluruh kabilah-kabilah.
Ibnu Ishaq berkata: Hadits tentang isra'nya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana yang saya terima, berasal dari Abdullah bin Mas'ud, Abu Said Al-Khudri, Aisyah istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Muawiyah bin Abu Sufyan, Al-Hasan bin Al-Hasan, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Qatadah dan ulama-ulama lainnya, serta Ummu Hani' binti Abdul Muthalib. Mereka sama-sama meriwayatkan dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Peristiwa isra' ini di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan merupakan salah satu bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Selain itu, terdapat juga pelajaran bagi orang-orang berakal, petunjuk, rahmat dan penguat keimanan bagi orang yang beriman kepada Allah dan membenarkannya. Allah mengisrakan Rasulullah sebagaimana yang dikehendaki-Nya untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya seperti yang Dia inginkan, hingga beliau bisa menyaksikan bukti-bukti kekuasaan-Nya terutama dalam mengerjakan apa saja yang dihendaki-Nya.
Ibnu Ishaq berkata: Seperti beritakankan kepadaku, Abdullah bin Mas'ud berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menaiki Buraq, yaitu hewan yang membawa para nabi sebelum beliau. Kemudian beliau mengendarainya untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di antara langit dan bumi, hingga perjalanan beliau terhenti di Baitul Maqdis. Di sana, telah ada Ibrahim, Musa dan Isa dalam dan beberapa nabi yang sengaja telah dikumpulkan untuk bertemu beliau, kemudian beliau shalat mengimami mereka. Usai shalat, tiga bejana; satu bejana berisi susu, satu bejana berisi minuman keras dan satu bejana berisi air didatangkan kepada beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketika itu ada yang berkata: Apabila dia mengambil air, ia tenggelam demikian pula dengan umatnya. Jika ia mengambil minuman keras, ia mabuk demikian pula dengan umatnya. Jika ia mengambil susu, ia mendapatkan petunjuk demikian pula dengan ummatnya.' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kemudian aku mengambil bejana yang berisi susu dan meminumnya." Jibril berkata kepadaku: "Engkau telah mendapatkan petunjuk, demikian pula dengan ummatmu, wahai Muhammad."
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu dari Al-Hasan bahwa ia bercerita bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketika aku sedang tidur di Hijr Aswad, Malaikat Jibril mendatangiku kemudian membangunkanku dengan kakinya. Akupun bangun namun tidak melihat apa-apa. Aku tidur lagi dan ternyata Malaikat Jibril datang kepadaku untuk kedua kalinya. Ia membangunkanku hingga aku tersadar, namun aku tidak melihat apa-apa. Aku kembali tidur lagi dan ternyata Malaikat Jibril datang kepadaku untuk ketiga kalinya, kemudian menggerak-gerakkan badanku hingga aku bangun. Ia lalu mengajakku pergi menuju pintu masjid dan ternyata di sana ada seekor hewan putih
 
yang besarnya antara kuda dan keledai. Hewan tersebut rupanya memiliki sayap, ia mendorong kedua kakinya dengan kedua sayapnya dan memindahkan tangannya dalam setiap langkahnya di batas akhir pandangan matanya. Malaikat Jibril menaikiku di atas hewan tersebut, lalu ia keluar bersamaku. Ia tidak berpisah denganku dan aku tidak berpisah dengannya."44
Ibnu Ishaq berkata: Aku mendapatkan riwayat dari Qatadah yang berkata bahwa ia diberitahu bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Ketika aku mendekati hewan tersebut untuk menaikinya, hewan tersebut menunjukkan sikap tidak suka, kemudian Malaikat Jibril menegurnya dan berkata: "Kenapa engkau tidak malu atas apa yang engkau perbuat, wahai Buraq? Demi Allah, engkau memang pernah dinaiki hamba Allah sebelum Muhammad namun tak satupun dari mereka yang lebih mulia di sisi Allah daripada Muhammad." Buraqpun merasa malu hingga keringatnya bercucuran. Setelah itu, ia bersikap jinak kemudian aku menaikinya.45

Al-Hasan bercerita: Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terbang bersama Malaikat Jibril hingga beliau tiba di Baitul Maqdis. Di sana, telah ada Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa dalam kumpulan para nabi. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengimami mereka shalat. Setelah itu, dua bejana; salah satu dari bejana tersebut berisi minuman keras, sedang bejana satunya berisi susu didatangkan kepada beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengambil bejana yang berisi susu, kemudian meminumnya dan meninggalkan bejana berisi khamr minuman keras. Malaikat Jibril berkata kepada beliau: "Engkau dikaruniai petunjuk kepada fitrah demikian pula dengan ummatmu, wahai Muhammad, dan minuman keras diharamkan kepada kalian."
Setelah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang ke Makkah. Keesokan harinya, beliau menceritakan apa yang beliau alami kepada orang-orang Quraisy. Sebagian besar dari mereka berkata: "Demi Allah, ini adalah sesuatu yang sangat konyol. Betapa tidak?! Rombongan musafir yang jalannya cepat saja membutuhkan jarak tempuh selama sebulan untuk pergi dari Makkah ke Syam, apakah mungkin Muhammad pergi ke sana lalu pulang ke Makkah hanya dalam waktu semalam?"
Banyak orang yang tadinya telah masuk Islam menjadi murtad gara-gara peristiwa ini. Orang-orang Quraisy pergi kepada Abu Bakar, kemudian berkata kepadanya: "Coba tengok sahabatmu, wahai Abu Bakar? Ia mengaku pada malam ini pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana, kemudian pagi ini ia pulang ke Makkah!" Abu Bakar berkata kepada mereka: "Apakah kalian mendustakan apa yang dikatakan?" Mereka menjawab: "Ya, benar!
Dia kini sedang berada di masjid sedang bercerita kepada manusia tentang apa yang baru dialaminya." Abu Bakar berkata: "Demi Allah, jika itu yang ia katakan, pasti ia berkata benar. Apa ada yang aneh bagi kalian? Demi Allah, sesungguhnya ia berkata kepadaku bahwa ia berpindah dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku mempercayainya. Jadi inilah puncak keheranan kalian?" Usai mengatakan itu, Abu Bakar berjalan hingga tiba di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Nabi Allah, benarkah engkau telah bercerita kepada manusia, bahwa pada malam ini engkau pergi ke Baitul Maqdis?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya, benar." Abu Bakar berkata: "Kalau begitu, tolong, ceritakan kepadaku ciri-ciri Baitul Maqdis, karena sebelumnya aku pernah pergi ke sana!"
 
Lanjut Al-Hasan: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu menjelaskan ciri-ciri Baitiul Maqdis kepada Abu Bakar. Setelah mendapatkan penjelasan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Abu Bakar berkata: "Engkau berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah." Setiap kali Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis, Abu Bakar berkata: "Engkau berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah." usai bercerita. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Bakar: "Engkau wahai Abu Bakar adalah Ash-Shiddiq (orang yang membenarkan)." Sejak peristiwa itulah, Abu Bakar dijuluki Ash-Shiddiq.
Allah lalu menurunkan ayat mengenai orang-orang Islam yang murtad karena peristiwa isra':


Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. al-Isra': 60).
Inilah hadits riwayat Al-Hasan mengenai peristiwa isra Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang lebih komplit dari hadits riwayat Qatadah.
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa keluarga Abu Bakar bercerita kepadaku bahwa Aisyah berkata: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak pergi dengan badannya, namun dengan ruhnya."46


Ibnu Ishaq berkata: Yaqub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas bercerita kepadaku, Muawiyah bin Abu Sufyan berkata: "Sungguh mimpi-mimpi dari Allah Ta'ala adalah benar."
Ucapan Aisyah dan Muawiyah bin Abu Sufyan ini tidak kontradiksi dengan hadits riwayat Al-Hasan, berdasarkan ayat berikut:
Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia (QS. Al-Isra': 60).
Juga berdasarkan firman Allah Taala yang menceritakan perihal Nabi Ibrahim bahwa ia berkata kepada anaknya:


"Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." (QS. ash- Shaffat: 102).
 
Dari sini jelaslah, bahwa wahyu dari Allah datang kepada para nabi, terkadang dalam keadaan mereka terjaga dan terkadang pula alam keadaan tidur.
Ibnu lshaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana berita yang sampai padaku, bersabda: "Mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur"
Wallahu a'lam dalam kondisi apa beliau datang ke Baitul Maqdis dan menyaksikan apa yang dia saksian dari kebesaran Allah. Bagimana yang dia alami dalam keadaan tidur atau tidak tidur, yang jelas semuanya haq dan benar.
Ibnu lshaq berkata: Az-Zuhri bercerita dari Sa'id bin Al-Musaiyyib bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan tentang ciri-ciri fisik Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa yang beliau lihat pada malam isra'- Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Nabi Ibrahim ia begitu mirip denganku. Sementara Nabi Musa, dia berkulit sawo matang, tinggi, ceking, rambutnya lebat, hidungnya mancung dan dia seperti orang dari kabilah Syanu'ah (kabilah Azad). Sedang Nabi Isa, beliau berkulit merah, postur tubuhnya sedang, rambutnya lurus, di wajahnya terdapat banyak tahi lalat, dan orang yang paling mirip dengannya ialah Urwah bin Mas'ud Ats-Tsaqafi.47
Ibnu Hisyam berkata: Umar mantan budak Ghufrah dari Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abu Thalib berkata: Ali bin Abu Thalib mengisahkan tentang ciri-ciri fisik Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia berkata: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak terlalu tinggi dan terlalu tidak pendek, tingginya sedang, rambutnya tidak begitu keriting tidak begitu lurus, keritingnya seperti orang-orang Arab pada umumnya, badannya tidak terlalu gemuk, wajahnya tidak bulat, putih kulitnya, kedua matanya hitam legam, bulu matanya panjang, lebar pundaknya, rambut di dada dan perutnya tipis, bulu tangannya tipis, begitu juga dengan bulu kakinya, telapak tangannya keras, begitu juga telapak kakinya. Apabila berjalan kakinya seakan tidak menginjak ta- nah. Beliau seperti berjalan menuruni bukit, jika menoleh maka beliau menoleh dengan menghadapkan seluruh wajahnya, di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan itulah tanda semua para nabi. Orang yang paling suka memberi, paling suka memaafkan, paling benar ucapannya, paling menetapi janji, paling lembut akhlaknya, paling mulia pergaulannya. Siapa yang melihatnya maka ia segan padanya dan barangsiapa bergaul dengannya ia pasti mencintainya dan orang yang menyifati ciri-ciri beliau berkata: "Seumur hidupku belum pernah melihat orang yang mirip dengan Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam."48

Ibnu lshaq berkata: Seperti disampaikan kepadaku, dari Ummu Hani' binti Abdul Muthalib Radhiyallahu Anha (ia bernama asli Hindun) mengenai peristiwa isra' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, berkata: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di isra-kan tatkala beliau sedang berada di rumahku. Malam itu, beliau tidur di rumahku. Dia mengakhirkan shalat Isva', lalu tidur dan kamibpun tidur. Menjelang Shubuh, Rasulullah membangunkan kami. Setelah shalat Shubuh bersama, Rasulullah berkata: "Wahai Ummu Hani', setelah aku mengakhirkan shalat Isya' seperti yang engkau lihat, kemudian aku pergi ke Baitul Maqdis, dan shalat di sana. Setelah itu, barulah aku mengerjakan shalat Shubuh bersama kalian sekarang seperti yang kalian lihat."49 Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar namun aku halangi. Aku berkata kepadanya: "Wahai Nabi Allah, sembunyikan peristiwa ini dari manusia, sebab jika kau ceritakan nanti mereka pasti mendustakanmu dan mempermainkanmu." Rasulullah Shallailahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Demi Allah, aku pasti menceritakan peristiwa ini kepada mereka." Aku berkata kepada budakku dari Habasyah: "Sana, ikutilah Muhammad dan dengarkan apa yang dia katakan kepada manusia dan apa yang dikatakan manusia kepadanya." Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertemu dengan orang-orang, beliau bercerita kepada mereka dan mereka terheran-heran. Mereka berkata: "Hai Muhammad, apa
 
buktinya kalau ceritamu itu benar, sebab kami belum pernah sekalipun mendengar cerita model ini sebelum ini." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Buktinya adalah, aku melihat kafilah Bani Fulan di lembah ini dan di lembah itu. Mereka lari kocar-kacir ketakutan karena mendengar suara hewan. Aku terus berjalan hingga tiba di daerah Dhajnan, aku menghampiri kafilah Bani Fulan dan aku lihat mereka sedang dalam keadaan tidur. Mereka mempunyai wadah berisi air yang mereka tutupi dengan sesuatu, lalu aku buka tutupnya, kemudian aku minum air yang ada di dalamnya. Setelah itu aku menutupnya lagi sebagaimana semula. Dan sekarang kafilah tersebut singgah di Baidha' di Tsaniyyatun Tan'im. Mereka didahului unta berwarna abu-abu dan di unta tersebut terdapat dua karung; satu berwarna hitam dan satunya warna-warni Orang-orang itu segera pergi ke Tsaniyyah dan mereka berjumpa dengan rombongan itu lebih dahulu sebagaimana yang telah diceritakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada mereka. Mereka bertanya kepada kafilah tersebut tentang wadah berisi air, kemudian kafilah tersebut menjawab bahwa memang mereka mengisi wadah tersebut penuh dengan air dan menutupnya, dan setelah itu tidur. Namun ketika mereka bangun mereka tidak mendapatkan air di dalamnya, padahal wadah tersebut tertutup rapat. Mereka juga bertanya kepada orang-orang lain di Makkah, kemudian orang-orang yang ditanya tersebut menjawab: "Demi Allah, dia berkata benar. Kami lari kocar-kacir di lembah yang dia ceritakan."





Kisah Mi'raj


Ibnu Ishaq berkata: Berkata kepadaku dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketika aku telah menuntaskan seluruh urusan di Baitul Maqdis, aku melakukan mi'raj dan aku tidak pernah menyaksikan sebuah peristiwa yang lebih indah daripada peristiwa itu, yakni seperti seseorang yang melihat kematian saat sedang menjelang ajal. Lalu malaikat Jibril membawaku naik hingga tiba di salah satu gerbang langit. Gerbang langit tersebut bernama Gerbang Al-Hafazhah (Para Penjaga). Pintu Al-Hafazhah dijaga salah satu malaikat yang bernama Ismail yang ngomandoi dua belas ribu malaikat dan setiap satu dari mereka juga mengomandoi dua belas ribu malaikat." Ditengah-tengah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menceritakan peristiwa mi'raj, beliau melantunkan firman Allah Ta'ala:


Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tu- hanmu melainkan Dia sendiri. (QS. al-Mudatstsir: 31).
Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam melanjutkan lagi: "Ketika Jibril masuk bersamaku," Malaikat Ismail bertanya: "Siapa orang ini?" Malaikat Jibril menjawab, "Dia Muhammad." Malaikat Ismail bertanya: "Apakah dia sudah diutus?" Malaikat Jibril menjawab: "Ya. Sudah." Malaikat Ismail lalu berdoa untukku."50

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian pakar bercerita kepadaku dari orang yang berbicara dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Para malaikat
 
menyambut kedatanganku pada saat aku tiba di langit dunia. Semua dari para malaikat, tersenyum dan memberi kabar gembira kepadaku, ia tidak tertawa dan tidak tampak wajah gembira padanya sebagaimana yang terlihat pada malaikat-malaikat yang lain. Aku bertanya kepada
Jibril: "Wahai jibril, siapakah malaikat ini?" Malaikat Jibril berkata kepadaku: "Dia adalah malaikat penjaga neraka." Aku bertanya kepada Jibril dan kedudukan Malaikat Jibril di sisi Allah seperti yang pernah dijelaskan Allah Ta'ala kepada kalian, Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (QS. At- Takwir: 21). Dan bisakah dia memperlihatkan neraka kepadaku?" Malaikat Jibril berkata: "Ya." Kemudian Malaikat Jibril berkata: "Wahai Malaikat perlihatkanlah neraka kepada Muhammad!" Malaikat penjaga neraka pun membuka pintu neraka. Api neraka tersebut menyala-nyala hingga aku menduga bahwa ia pasti akan menghanguskan apa saja yang saya saksikan. Aku berkata kepada Malaikat Jibril: "Wahai Jibril, perintahkan malaikat tersebut untuk menutup kembali pintu neraka ke seperti semula." Malaikat Jibril pun memerintahkan kepada malaikat penjaga neraka dengan berkata kepadanya: "Padamkanlah neraka itu." Kemudian neraka kembali seperti sedia kala."51


Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu melanjutkan haditsnya dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang bersabda:
"Ketika aku tiba di langit dunia, aku melihat seseorang sedang duduk dan arwah-arwah diperlihatkan kepadanya. Jika arwah tersebut diperlihatkan kepadanya dalam keadaan baik dan ia senang dengannya, orang tersebut berkata: "Ini arwah yang baik yang keluar dari raga yang baik." Jika sebaliknya, ia akan berkata dengan wajah muram. "Ini arwah jelek yang keluar dari raga yang jahat." Aku bertanya kepada Malaikat Jibril: "Siapakah dia wahai Jibril?" Jibril berkata: "Dia adalah nenek moyangmu, Adam. Semua arwah anak keturunannya diperlihatkan kepadanya. Jika arwah orang Mukmin dilewatkan padanya, ia sangat gembira dengannya, sambil berkata: "Ini arwah yang baik yang keluar dari raga yang baik. Jika arwah salah seorang kafir diperlihatkan kepadanya, ia mengatakan 'ahh' (uff) kepadanya, membencinya dan merasa terganggu dengannya, sambil berkata: "Ini arwah jelek yang keluar dari raga yang jelek."
Kemudian aku melihat orang-orang yang bibirnya laksana bibir unta di tangannya ada bara api dari neraka sebesar batu segenggam tangan. Mereka memasukkan bara api tersebut ke dalam mulut mereka, lalu bara dari neraka tersebut keluar lagi dari dubur mereka. Aku berkata: "Siapa mereka itu wahai Jibril?" Jibril berkata: "Mereka pemakan harta anak yatim secara zalim."
Kemudian aku melihat orang-orang dengan perut yang sangat aneh. Mereka duduk di jalan yang akan dilalui keluarga Fir'aun seperti unta yang kehausan. Ketika keluarga Fir'aun akan dibakar dengan api neraka, mereka menginjak orang-orang tersebut dan mereka tidak mampu pindah dari tempat mereka. Aku berkata: "Siapa mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka para pemakan harta riba'."
Lalu aku melihat orang-orang yang memegang daging yang empuk dan di sampingnya terdapat daging keras yang busuk. Mereka memakan daging yang busuk tersebut dan tidak mau memakan daging yang empuk tadi. Aku bertanya kepada Jibril: "Siapakah mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Mereka orang-orang yang."
Kemudian aku melihat wanita-wanita yang digantung pada payudara mereka sendiri. Aku bertanya: "Siapakah mereka itu wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Mereka wanita-wanita yang suka berbuat mesum dengan laki-laki lain saat suami dan anaknya tidak ada di rumah."
 
Ibnu Ishaq berkata: Ja'far bin Amr bercerita kepadaku dari Al-Qasim bin Muham¬mad bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
"Kemurkaan Allah sangat keras terhadap wanita yang memasukkan laki-laki yang bukan berasal dari keluarganya, kemudian laki-laki tersebut memakan harta mereka dan melihat auratnya."52

Ibnu Ishaq berkata: Abu Sa id Al-Khudri bercerita bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Malaikat Jibril lalu membawaku terbang ke langit kedua. Di sana aku berjumpa Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria. Kemudian Jibril membawaku naik ke langit ketiga. Di sana aku berjumpa seorang laki-laki yang postur tubuhnya seperti bulan kala purnama. Aku bertanya: "Siapakah dia, wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Ini saudaramu, Yusuf bin Yaqub." Kemudian Jibril membawaku terbang ke langit keempat. Di sana aku berjumpa seorang laki-laki. Aku bertanya, "Siapakah dia wahai, wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Dia Idris." Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca ayat, "Dan Kami mengangkatnya ke tempat yang tinggi" Kemudian Malaikat Jibril membawaku terbang ke langit kelima. Di sana aku bertemu orang tua yang rambut dan jenggotnya memutih lebat dan aku tidak pernah melihat orang tua setampan dirinya. Aku bertanya: "Siapakah dia wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Dia orang yang kharismatik di tengah kaumnya, dia Harun bin Imran." Malaikat Jibril membawaku terbang ke langit keenam. Di sana aku berjumpa orang yang kulitnya berwarna sawo matang, tinggi, berhidung mancung dan seperti orang dari kabilah Syanu'ah. Aku bertanya: "Siapakah lelaki itu wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Dia Musa bin Imran." Kemudian Jibril membawaku terbang ke langit ketujuh. Di sana aku bertemu orang tua sedang duduk di atas kursi di pintu Baitul Makmur yang setiap hari didatangi tujuh puluh ribu malaikat yang tidak meninggalkannya hingga Hari Kiamat. Dia sangat mirip denganku. Aku bertanya: "Siapa dia wahai Jibril?" Malaikat Jibril menjawab: "Dia Ibrahim." Kemudian Jibril membawaku masuk ke dalam surga. Di sana, aku melihat seorang perempuan yang berkulit merah agak "hitam". Aku bertanya kepadanya, "Siapa engkau?" Wanita tersebut berkata: " Aku milik Zaid bin Haritsah." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberitahukan kabar gembira ini kepada Zaid bin Haritsah."
Ibnu Ishaq berkata: Dari riwayat Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu —sebagaimana kabar yang sampai padaku— dari Nabi Mu¬hammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam bahwa setiap kali Malaikat Jibril membawa tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke salah satu langit dan meminta izin masuk, maka para malaikat penjaganya berkata kepada Jibril: "Siapa dia wahai Jibri!?" Jibril menjawab: "Muhammad." Para Malaikat berkata: "Apakah dia sudah diutus?" Jibril menjawab: "Ya." Para malaikat berkata: "Semoga Allah memberinya keselamatan." Demikianlah yang terjadi dengannya hingga sampai di langit ketujuh, lalu beliau menghadap kepada Tuhan-Nya dan Allah mewajibkan kepadanya lima puluh shalat wajib dalam sehari.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kemudian aku keluar dan berpapasan dengan Musa bin Imran. la bertanya kepadaku: "Berapa kali Allah mewajibkan shalat kepadamu?" Aku menjawab: "Lima puluh kali dalam sehari." Nabi Musa berkata: "Sesungguhnya lima puluh kali itu berat dilaksanakan apalagi umatmu itu lemah. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah Dia memberi dispensasi shalat bagimu dan bagi umatmu." Kemudian aku kembali kepada Tuhanku dan meminta- Nya memberi keringanan shalat bagiku dan bagi umatku, kemudian Allah mengurangi sepuluh shalat dariku. Kemudian aku keluar dan kembali berpapasan dengan Musa. Musa mengatakan kepadaku seperti yang dia katakan sebelumnya. Kemudian aku kembali menghadap Tuhanku dan memintaNya memberi dispensasi bagiku dan bagi umatku, kemudian Allah mengurangi sepuluh shalat dariku. Lalu aku keluar, kembali aku berpapasan dengan Musa dan ia kembali berkata sebagaimana sebelumnya.
 
Aku pun kembali menghadap Allah dan meminta pada-Nya dispensasi lagi, kemudian Allah mengurangi sepuluh shalat dariku. Lalu aku balik lagi dan kembali berpapasan dengan Musa yang tak pernah henti mengatakan seperti itu setiap kali aku pulang dari Allah: "Kembali dan mintalah keringanan!!" Kemudian aku kembali menghadap Tuhanku dan meminta-Nya memberi keringanan shalat bagiku dan bagi umatku, hingga akhirnya Allah menetapkan shalat lima waktu bagiku dalam sehari dan semalam. Kemudian aku menemui Nabi Musa, ia berkata sebagaimana sebelumnya. Aku berkata kepadanya, "Aku telah bolak-balik menghadap Tuhanku dan meminta-Nya hingga aku merasa malu kepada-Nya. Aku tidak akan melakukannya lagi." Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat lima waktu dengan mengimaninya dan mengharap ridha Allah, ia mendapatkan pahala sebanyak lima puluh shalat (yang diwajibkan)."53



Perlindungan Allah terhadap Rasululllah dari Cemoohan Para Pencemooh


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam senantiasa melaksanakan perintah Allah Ta'ala dengan sabar dan mengharap ridha-Nya dan menyampaikan nasihat kepada kaumnya. Meskipun beliau didustakan dan dapat gangguan dan cemoohan. Tokoh-tokoh yang gemar menghina Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam seperti disampaikan oleh Yazid bin Ruman dari Urwah bin Zubair kepadaku- ada lima orang. Mereka adalah para tokoh yang ditaati kaumnya masing-masing.
Pencemooh dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab adalah Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad Abu Zam'ah. Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar Al-Aswad bin Al-Muthalib suka mencemooh, beliau mendoakan kejelekan un- tuknya dengan berdoa: "Ya Allah, buatlah ia buta dan hancurkanlah ia.54


Dari Bani Zuhrah bin Kilab adalah Al-Aswad bin Abdu Yaghuts bin Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah.
Dari Bani Makhzum bin Yaqdzah bin Murrah adalah Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.
Dari Bani Sahm bin Amr Hushaish bin Ka'ab adalah Al-Ash bin Wail bin Hisyam Ibnu Hisyam berkata: Al-Ash adalah anak Wail bin Hasyim bin Su'aid bin Sahm.
Dari Bani Khuza'ah adalah Al-Harits bin Ath-Thulathilah bin Amr bin Al-Harits bin Abdu Amr bin Luay bin Malakan.
Mereka tanpa henti terus mencemooh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, hingga Allah Ta'ala menurunkan ayat berikut:

 
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). (QS. al-Hijr: 94-96).
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman bercerita kepadaku dari Urwah bin Zubair atau orang selain Urwah bin Zubair dari kalangan pakar terpercaya bahwa Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ketika orang-orang Quraisy thawaf di Baitullah dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di sisinya. Malaikat Jibril berjalan melewati Al-Aswad bin Al-Muthalib, kemudian melemparkan daun hijau ke wajahnya dan Al-Aswad bin Al-Muthalib pun menjadi buta. Malaikat Jibril kemudian berjalan melewati Al-Aswad bin Abdu Yaghuts, kemudian Malaikat Jibril mendoakan keburukan pada perutnya hingga membengkak dan dia mati karena perut kembung (gembur). Malaikat Jibril lalu berjalan melewati Al-Walid bin Al-Mughirah, kemudian mendoakan keburukan agar bekas luka di bawah telapak kakinya kambuh kembali hingga membawa kepada kematiannya. Malaikat Jibril berjalan lagi melewati Al-Ash bin Wail, kemudian mendoakan keburukan agar kaki bagian dalam Al-Aswad bin Wail terluka hingga membuatnya mati. Malaikat Jibril berjalan melewati Al-Harits Ath-Thulatilah sambil mendoakan keburukan ke kepalanya, kemudian kepalanya mengeluarkan nanah dan ia mati karenanya.



Kisah Abu Uzaihir al-Dausi


Ibnu Ishaq berkata: Ketika hendak mening- gal dunia Al-Walid bin Al-Mughirah, anak- anaknya yang berjumlah tiga orang, yakni Hisyam bin Al-Walid, Al-Walid bin Al-Walid dan Khalid bin Al-Walid berada di sisinya. Ia berkata kepada mereka: "Aku wasiatkan tiga hal kepada kalian dan penuhilah itu semua. Darahku di Khuza'ah, jangan kalian biarkan begitu saja tumpah tanpa ada balas dendam terhadapnya. Demi Allah, mereka memang berhasil lolos darinya namun aku khawatir kalian akan dicaci maki nantinya. Uang ribaku ada di Tsaqif, cepatlah kalian mengambilnya. Uang diyatku ada pada tangan Abu Uzaihir Ad-Dausi, cepat kalian ambil darinya."
Abu Uzaihir telah menikahkan Al-Walid bin Al-Mughirah dengan putrinya, kemudian Abu Uzaihir Ad- Dausi tidak mempertemukan putrinya dengan Al-Walid bin Al-Mughirah. Sehingga, Al-Walid bin Al- Mughirah tidak bisa menggauli istrinya (putri Abu Uzaihir Ad- Dausi) sampai ia meninggal dunia. Ketika Al- Walid bin Al-Mughirah wafat, Bani Makhzum pergi kepada Khuza'ah untuk meminta uang tebusan kematian Al-Walid bin Al-Mughirah. Orang-orang dari Bani Khuza'ah berkata: "Sesungguhnya penyebab kematian Al-Walid bin Al-Mughirah adalah karena terkena anak pa- nah milik salah seorang dari sahabat-sahabat kalian sendiri." Bani Ka'ab memiliki kedekatan dengan Bani Abdul Muthalib bin Hasyim. Bani Khuza'ah menolak keras membayar diyat atas kematian Al-Walid bin Al-Mughirah kepada Bani Makhzum, hingga mereka membuat banyak sekali syair-syair dan menimbulkan konflik yang sengit di antara mereka. Anak panah yang mengenai Al-Walid bin Al-Mughirah adalah milik seorang pemuda dari Bani Ka'ab bin Amr dari Khuza'ah.
Kedua kubu besar ini saling serang tanpa henti, namun lama-kelamaan mereka sadar bahwa jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka akan terjadi caci-maki terhadap salah satu kaum. Maka Khuza'ah pun
 
rela untuk mengganti rugi kematian Al-Walid bin Al- Mughirah kepada Bani Makhzum dan kedua belah pihakpun akhirnya berdamai.
Al-Jaun bin Abu Al-Jaun terus saja berbangga diri atas kematian Al-Walid dan bahwa Bani Khuza'ah yang berhasil menciderai Al-Walid, padahal semua itu tidak benar. Al-Jaun bin Abu Al-Jaun lalu pergi menyusul Al-Walid dan anaknya. Kaum Al-Jaun bin Abu Al-Jauh sedikitpun tidak khawatir atas apa yang diperbuat Al-Jaun bin Abu Al-Jaun.
Ibnu Hisyam berkata: Saya tidak tuliskan di sini satu bait syair yang sangat jorok dan vulgar.
Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Al-Walid kemudian pergi menghadap Abu Uzaihir yang pada saat itu sedang berada di pasar Dzi Al-Majaz sedangkan putrinya Atikah binti Uzaihir telah menjadi istri Abu Sufyan bin Harb. Abu Uzaihir adalah orang terpandang di tengah kaumnya, kemudian Hisyam bin Al- Walid menghabisi Abu Uzaihir karena uang denda Al-Walid bin Al-Mughirah ada padanya seba- gaimana yang diwasiatkan ayahnya.
Peristiwa ini terjadi sesudah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah dan pasca Perang Badar Kubra yang menghilangkan banyak sekali nyawa tokoh dan pemuka kaum musyrikin Quraisy. Ketika Abu Sufyan bin Harb sedang berada di pasar Dzi Al-Majaz, Yazid bin Abu Sufyan bin Harb keluar dari rumahnya untuk mengumpulkan Bani Abdu Manaf. Orang-orang Quraisy pun berkata: "Abu Sufyan ingin membalas dendam atas kematiannya." Ketika Abu Sufyan mendengar apa yang dilakukan anaknya, sedangkan Abu Sufyan dikenal memiliki perangai yang lembut dan santun amat mencintai kaumnya, maka ia segera turun ke Makkah. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap orang-orang Quraisy akibat kematian Abu Uzaihir. Abu Sufyan bin Harb menghampiri anaknya Yazid yang sedang menenteng tombak di tengah-tengah kaumnya, Bani Abdu Manaf dan orang-orang Al-Muthaiyyibin. Abu Sufyan bin Harb mengambil tombak dari tangan Yazid dan memukulkannya ke kepala Yazid sehingga ia terdiam. Abu Sufyan bin Harb berkata kepada Yazid: "Dasar sialan! Apakah engkau mau mengadu domba sesama sebagian orang Quraisy hanya karena masalah seseorang dari Daus. Kita akan beri ganti rugi kepada mereka jika mereka mau menerimanya." Mendengar itu, Hassan bin Tsabit bangkit mendorong pembalasan darah Abu Uzaihir. la kritik habis-habisan sikap pengecut Abu Sufyan. Ia berkata:
Mendengar kritikan Hassan bin Tsabit, Abu Sufyan menukas: "Hassan bin Tsabit ingin mengadu domba kita semua gara-gara masalah orang dari Daus. Demi Allah, buruk benar apa yang dipikirkannya.
Tatkala orang-orang Thaif telah masuk Islam, Khalid bin Al-Walid berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang uang riba Al-Walid bin Al-Mughirah yang ada di tangan Tsaqif karena ayahnya telah berwasiat untuk mengambilnya.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ahli berkata kepadaku, ayat-ayat tentang pengharaman sisa riba yang masih beredar di tengah orang-orang diturunkan karena Khalid bin Al-Walid. Ayat tersebut adalah, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman." (QS. al- Baqarah: 278).



Pemberontakan Daus untuk Membalas Dendam Atas Kematian Uzaihir dan Tentang Ummu Ghaylan
 
Ibnu Ishaq berkata: Sepanjang yang kami ketahui tidak ada balas dendam atas kematian Abu Uzaihir, hingga Islam memberikan batasan yang jelas antara manusia. Namun Dhirar bin Al-Khaththab bin Mirdas Al-Fihri bersama beberapa orang Quraisy datang ke perkampunan Daus. Mereka menemui Ummu Ghailan, eks budak salah seorang dari Daus. Ummu Ghailan adalah pendeta rambut wanita dan mempersiapkan para pengantin. Orang-orang dari kabilah Daus ingin menghabisi orang-orang Quraisy tersebut sebagai balas dendam atas kematian Abu Uzaihir. Namun Ummu Ghailan dan perempuan- perempuan yang berasa bersamanya bangkit melindungi orang-orang Quraisy tadi. Dhirar bin Al- Khaththab berkata tentang peristiwa tersebut:
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah bercerita kepadaku, wanita yang menyelamatkan Dhirar bin Al- Khaththab adalah Ummu Jamil. Ada Jagi yang berpendapat bahwa wanita tersebut adalah Ummu Ghailan. Namun bisa saja Ummu Ghailan bersama-sama dengan Ummu Jamil menyelematkan Dhirar bin Al-Khaththab.
Ketika Umar bin Khaththab diangkat menjadi khalifah, Ummu Jamil datang mengunjunginya, Ummu Jamil menganggap bahwa Umar bin Khaththab adalah saudara Dhirar. Ketika Ummu Jamil mengisahkan nasabnya. Umar bin Khaththab berkata: "Sesungguhnya aku tidak lagi menjadi sau- daranya, sebab saudaraku hanya dalam Islam. Ia sedang berperang. Aku mengetahui jasamu terhadapnya." Kemudian Umar bin Khaththab memberinya harta kepada Ummu Jamil karena ia dalam kondisi musafir.
Ibnu Hisyam berkata: Pada Perang Uhud, Dhirar berkata kepada Umar bin Khaththab: "Berbahagialah, wahai anak lelaki Khaththab, aku tidak akan membunuhmu." Umar bin Khaththab lalu mengenalkan Ummu Jamil kepada Dhirar bin Khaththab setelah ia memeluk Islam.



Abu Thalib dan Khadijah Meninggal Dunia dan Apa yang Terjadi Sebelum dan Setelah Itu


Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy yang suka mengusik Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di rumah beliau ialah Abu Lahab, Al-Hakam bin Al-Ash bin Umayyah, Uqbah bin Abu Mu'aith, Adi bin Hamra' Ats-Tsaqafi dan Ibnu Al-Ashda' Al-Hudzali. Mereka adalah tetangga Rasulullah Shal¬lalahu 'alaihi wa Sallam. Di antara mereka, yang masuk Islam hanyalah Al-Hakam bin Abu Al-Ash. Suatu ketika, salah seorang dari mereka melemparkan usus kambing kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam pada saat beliau sedang shalat. Seperti dikatakan kepadaku oleh Umar bin Abdullah bin Urwah bin Zubair dari Urwah bin Az-Zubayr, bahwa jika dilempari oleh mereka, beliau keluar dengan membawa ranting pohon kemudian usus tersebut dengannya sambil berkata: "Hai Bani Abdu Manaf, hubungan bertetangga macam apakah ini?"kemudian beliau melemparkannya di jalan.
Ibnu Ishaq berkata: Pada tahun ini Khadijah wafat dan pada tahun yang sama, Abu Thalib juga meninggal dunia. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendapatkan banyak sekali ujian kehidupan setelah wafatnya Khadijah, karena sebelumnya Khadijah bagaikan penasihat beliau yang jujur dalam Islam; beliau mencurhatkan seluruh persoalannya kepadanya. Pasca kematian Abu Thalib kehidupan beliau kian bertambah sulit, karena Abu Thalib adalah pelindung beliau, pemelihara dalam semua urusan beliau, orang yang sangat senantiasa mendukung dan membantu dalam menghadapi kaum beliau. Peristiwa tersebut terjadi tiga tahun sebelum Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Tatkala Abu Thalib wafat, orang-orang Quraisy semakin leluasa mengganggu Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam yang tidak mungkin mereka dapat melakukannya semasa Abu Thalib masih
 
hidup. Suatu ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dihadang oleh laki-laki stress dari Quraisy kemudian ia menaburkan tanah ke atas kepala beliau.
Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Urwah bercerita kepadaku dari ayahnya, Urwah bin Zubair yang berkata: "Setelah orang stress tersebut menaburkan tanah ke atas kepala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau pulang ke rumah dalam keadaan tanah tadi masih ada di atas kepala beliau. Salah seorang dari putri beliau berdiri untuk membersihkan kepala beliau sambil menangis. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: "Jangan menangis, karena sesungguhnya Allah senantiasa menjaga ayahmu." Beliau juga berkata: "Orang-orang Quraisy selalu gagal melakukan aksinya kepadaku hingga Abu Thalib meninggal dunia."55


Ibnu Ishaq berkata: Pada saat orang-orang Quraisy mendengar sakit Abu Thalib, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Sesungguhnya Hamzah dan Umar telah masuk Islam dan Islam telah menyebar luas di kabilah-kabilah Quraisy secara keseluruhan. Oleh karenanya, mari kita jenguk Abu Thalib dan menasihatinya agar menghentikan dakwah keponakannya. Demi Allah, kita tidak akan pernah merasa hidup nyaman kalau dia menguasai masalah kita."
Ibnu Ishaq berkata: Al-Abbas bin Abdullah bin Muabbad berkata, dari sebagian keluarganya, dari Ibnu Abbas ia berkata: Orang-orang Quraisy itu lalu datang kepada Abu Thalib dan merayunya. Mereka adalah Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf dan Abu Sufyan dalam rombongan tokoh-tokoh Quraisy. Mereka berkata kepada Abu Thalib, "Hai Abu Thalib, seperti telah engkau ketahui sesungguhnya engkau bagian dari kami dan kami khawatir atas kondisimu. Sungguh engkau telah menyaksikan sendiri pertentangan antara kami dengan ponakanmu. Oleh karenanya, panggillah dia, katakan apa yang dia mau, maka kami akan mengabulkannya dan setelah itu kami sebutkan keinginan kami yang harus dia penuhi agar dengan cara itu, ia menahan diri dari kami dan kamipun menahan diri dari dia, dia membiarkan kami pada agama kami dan kami membiarkannya berada pada agamanya. Abu Thalib memanggil Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian beliau datang menemui Abu Thalib. Abu Thalib berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai keponakanku, orang-orang ini adalah pembesar kaummu. Mereka sepakat untuk memberikan sesuatu kepadamu dan sebagai gantinya mereka mendapatkan sesuatu pula darimu." Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Baiklah, Wahai pamanku, hanya ada satu kalimat. Jika mereka memberikannya padaku, maka mereka dapat menguasai Arab, dan orang-orang non-Arab akan tunduk kepada kalian." Abu Jahal berkata: "Ya, jangankan satu, sepuluh kalimat pun boleh kau ucapkan." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Katakanlah Laa Ilaaha ilia Allah dan tinggalkan apa saja yang kalian sembah selain Allah." Tokoh-tokoh Quraisy bertepuk tangan, kemudian mereka berkata: "Wahai Muhammad, apakah engkau mau menjadikan tuhan-tuhan itu satu saja? Sungguh, ini sangatlah konyol." Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Demi Allah, orang ini hanya mempermainkan kita. Pulanglah kalian dan berpegang teguhlah kalian kepada agama leluhur kalian, hingga Allah memutuskan perkara di antara kita dan dirinya." Setelah itu, mereka keluar berpencar dari rumah Abu Thalib.
Sejurus kemudian Abu Thalib berkata kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam: "Demi Allah, wahai ponakanku, permintaanmu itu sebenarnya sangatlah ringan." Ketika Abu Thalib berkata seperti itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam mengharapkannya masuk Islam. Beliau berkata kepada Abu Thalib; '"Wahai pamanda, ucapkanlah satu kalimat, maka dengan kalimat tersebut engKau aKan menaapatKan syataatKu pada Hari Kiamat." Ketika Abu Thalib melihat keseriusan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terhadap dirinya, ia berkata: "Wahai keponakanku, kalaulah bukan karena
 
aku khawatir mendapatkan kecaman terhadapmu, anak-anak kakekmu sepeninggalku dan kalaulah tidak khawatir orang-orang Quraisy menuduhku mengatakannya karena aku ta kut mati, pastilah aku mengucapkannya. Aku juga tidak mau mengucapkannya hanya untuk menyenangkanmu." Ketika ajal Abu Thalib semakin dekat, Al-Abbas melihatnya meng- gerak-gerakkan kedua bibirnya, kemudian ia mendengarnya dengan telinganya. Al-Abbas berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai keponakanku, demi Allah, sungguh saudaraku telah mengucapkan kalimat tersebut." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak mendengar."56

Ibnu Ishaq berkata: Allah lalu menurunkan ayat tentang orang-orang Quraisy tadi.


Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum merekayang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolongpadahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yangsatu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan, (QS. Shaad: 1-7).
Agama terakhir dalam ayat di atas ialah agama Kristen, karena mereka berkata: "Sesungguhnya Allah adalah satu dari yang tiga" (QS. al-Maidah: 73). "Dan ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan" (QS. Shaad: 7) Tidak lama kemudian, Abu Thalib meninggal dunia.



Rasulullah Menuju Thaif Meminta Bantuan
 
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Abu Thalib bebas, orang-orang Quraisy semakin mengganggu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak sebagaimana gangguan yang mereka lakukan semasa hidupnya Abu Thalib. Kondisi ini memaksa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi ke Thaif untuk mencari pertolongan dan perlindungan dari Tsaqif atas serangan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy, dengan harapan mereka menerima apa yang beliau bawa dari Allah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi sendirian ke sana.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ziyad berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab Al-Qurazhi ia berkata: Setibanya di Thaif, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menemui pemimpin-pemimpin Tsaqif dan tokoh-tokoh mereka. Orang-orang tersebut adalah tiga bersaudara: Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas'ud bin Amr bin Umair dan Habib bin Amr bin Umair bin Auf bin Aqdah bin Ghirah bin Auf bin Tsaqif. Salah seorang dari mereka bertiga beristrikan wanita dari Quraisy. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam men- datangi mereka, berdakwah kepada mereka dan berdialog dengan mereka tentang tujuan kedatangannya kepada mereka yaitu mencari orang yang bersedia menolongnya menegakkan Islam dan berjuang bersama beliau dalam menghadapi kaumnya yang menentangnya. Salah seorang dari mereka bertiga berkata: "Saya akan merobek kain Ka'bah jika benar kau adalah utusan-Nya." Orang kedua berkata: "Apakah Allah tidak mendapatkan orang lain yang bisa diutus selain dirimu?" Orang ketiga berkata: "'Demi Allah, aku tidak akan bercakap-capak denganmu." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi dari tempat mereka dalam keadaan putus asa akan kebaikan orang- orang Tsaqif.
Mereka malah mengerahkan orang-orang bodoh dan budak-budak mereka untuk mencaci-maki Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka mengepung beliau dan membuatnya terpaksa harus berlindung di sebuah kebun milik Utbah bin Rabi'ah dan Syaibab bin Rabi'ah yang pada saat itu sedang berada di dalamnya. Orang-orang yang mengejar Rasulullah pun kembali pulang. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi berteduh di bawah sebuah pohon anggur dan duduk di sana. Kedua anak Rabi'ah melihat dan menyaksikan apa yang beliau terima dari penduduk Thaif yang bodoh.
Ketika kedua anak Rabi'ah melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan apa yang beliau alami, hati nurani keduanya terketuk. Mereka memanggil budak, seorang Kristen yang bernama Addas dan mereka berkata kepada Addas: "Ambillah setandan anggur, lalu berilah kepada orang itu agar ia memakannya." Addas mengerjakan perintah kedua anak Rabi'ah itu. Lalu ia pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan meletakkan piring berisi anggur di depan beliau. Adas berkata: "Makanlah!" Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meletakkan tangannya di atas piring tersebut, beliau berkata: Bismillah (dengan nama Allah). Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memakannya. Addas memandang wajah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata: "Demi Allah, aku belum pernah penduduk negeri ini. mengucapkan hal itu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada Addas: "Berasal dari negeri manakah engkau wahai Addas? Apa agamamu?" Addas menjawab: "Aku seorang Kristen dan berasal dari negeri Ninawa." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepadanya: "Dari desa orang shalih yang bernama Yunus bin Matta?" Addas berkata: "Apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Dia saudaraku, ia seorang nabi aku juga seorang nabi. "57 Addas bersimpuh di depan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki beliau. Salah seorang anak Rabi'ah berkata kepada saudaranya: "Budakmu itu telah dicuci otak oleh Muhammad." Ketika Addas tiba di tempat kedua anak Rabi'ah, keduanya bertanya kepada Addas: "Sialan kau Addas, kenapa engkau mencium, kedua tangan dan kedua kakinya?" Addas menjawab: "Di dunia ini tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakanku daripada apa yang baru aku kerjakan tadi. Sebab ia adalah seorang nabi." Kedua anak Rabi'ah berkata kepada Addas: "Sadarlah,
 
wahai Addas, janganlah engkau dibuat berpaling dari agamamu, karena agamamu jauh lebih baik ketimbang agamanya."



Perihal Jin yang Mendengar Apa yang Rasulullah Bacaan Al-Quran dan Beriman Padanya


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam akhirnya meninggalkan Thaif dan pulang ke Makkah. Sesampainya di Nakhlah, beliau bangun pada suatu malam untuk mendirikan shalat, tak diduga beberapa jin yang disebutkan Allah terbang melewati beliau. Mereka terdiri dari tujuh jin dari jin penduduk Nashibin. Mereka mendengar bacaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Usai beliau shalat, jin-jin tersebut pulang kepada kaumnya dan menjadi juru dakwah bagi mereka. Mereka mengimani Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan merespon positif apa yang telah mereka dengar. Kemudian Allah mengisahkan mereka kepada Rasulullah
Shallalahu alaihi wa baiiam daiam tirman- Nya. Allah berfirman:


Mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)." Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada- Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih." (QS. al-Ahqaf: 29-31).
Allah Tabaraka wa juga berfirman:
 
 

Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Quran), lalu mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (QS. al-Jin: 1)



Rasulullah Menawarkan Dirinya Pada Kabilah-kabilah


Ibnu lshaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam akhirnya pulang ke Makkah. Sementara kaum beliau semakin keras menentang agama beliau, kecuali sebagian kecil dari kalangan mustadh'afiin yang telah beriman. Kala musim haji tiba, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menawarkan jasa kepada kabilah-kabilah Arab, sekaligus mengajak mereka kepada agama Allah, meya- kinkan mereka bahwa beliau adalah Nabi yang diutus.
Ibnu lshaq berkata: Beberapa sahabat saya yang tidak saya ragukan kejujurannya menuturkan dari Zaid bin Aslam bin Abbad al-Daili atau dari orang yang menuturkan padanya Abu Zinad, Ibnu Hisyam berkata: Rabi'ah bin Abbad.
Ibnu lshaq berkata: Husain bin Abdullah bin Ubaidillah bin Abbas bercerita kepadaku, aku mendengar Rabi'ah bin Abbad yang pernah berbicara dengan ayahku yang berkata: Saat aku remaja, aku bersama ayahku di Mina. Ketika itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di salah satu rumah kabilah Arab. Beliau bersabda, "Hai Bani Fulan, sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepada kalian. Dia memerintahkan kalian untuk beribadah kepada-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kalian harus meninggalkan tandingan-tandingan yang kalian sembah selain Allah, hendaklah kalian beriman kepadaku, membenarkanku dan melindungiku hingga dakwahku terangkat ke seluruh penjuru."
Usai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berbicara dan menyerukan dakwah beliau, orang tersebut berkata: "Wahai Bani Fulan, sesungguhnya laki-laki ini mengajak kalian untuk meninggalkan Tuhan Al- Lata dan Al-Uzza dari leher kalian dan dari sekutu-sekutu kalian dari jin Bani Malik bin Aqiqisy kepada bid'ah dan kesesatan yang dibawanya. Janganlah kalian taat kepadanya jangan pula kalian tertipu dengan ucapannya." Aku bertanya kepada ayahku: "Ayah, siapakah orang yang berkata sebelum orang yang barusan tadi?" Ayah menjawab: "Aku tidak tahu, yang aku tahu pamannya yang bernama Abdul Uzza bin Abdul Muthalib Abu Lahab."58


Ibnu lshaq berkata: Ibnu Syihab berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang ke pemukiman mereka di Kindah. Mereka mempunyai pemimpin yang bernama Mulaih.
 
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru Mulaih kepada agama Allah Azza wa Jalla dan menawarkan dirinya bergabung dengan mereka, namun mereka merespon negatif ajakan beliau.
Ibnu Hisyam berkata: Nabighah berkata:
Kau laksana unta dari Bani Uqays
Dengan kulit tua yang gemerincing di belakang betismu

Ibnu lshaq berkata: Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Hushain berkata kepadaku, bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendatangi salah satu pemukiman kabilah Bani Kalb, yang bernama kabilah Ab-dullah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru mereka kepada agama Allah dan menawarkan diri beliau kepada mereka. Beliau bersabda kepada mereka: "Hai Bani Fulan, sesungguhnya Allah telah memberi nama yang baik untuk para leluhur kalian." Sayangnya mereka tidak menerima tawaran beliau.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian pakar berkata kepadaku dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendatangi Bani Hanifah di pemukiman mereka. Beliau menyeru mereka kepada agama Allah dan menawarkan diri bergabung dengan mereka, namun tidak ada orang Arab yang responnya lebih buruk daripada respon mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita kepadaku: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendatangi Bani Amir bin Sha'sha'ah untuk menyeru mereka kepada agama Allah Azza wa Jalla dan menawarkan dirinya bergabung dengan mereka. Salah seorang dari mereka yang bernama Biharah bin Firas, Ibnu Hisyam berkata: Firas adalah anak Abdullah bin Salamah bin Qusyair bin Ka'ab bin Rabi'ah bin Amir bin Sha'sha'ah, ia berkata: "Demi Allah, andaikata aku menerima pemuda ini oleh orang-orang Quraisy. Aku pasti dihabisi orang-orang Arab." Biharah bin Firas berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Bagaimana menurutmu jika kami berjanji setia padamu untuk mengikuti agamamu, kemudian Allah menaklukkan orang-orang yang menentangmu, apakah setelah itu urusan ini menjadi milik kami?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Semua urusan itu milik Allah. Terserah Dia mau berbuat apa!" Biharah bin Firas berkata kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Apakah engkau menginginkan leher-leher kami disembelih orang-orang Arab hanya karena membelamu, kemudian jika Allah memenangkanmu, maka urusan ini menjadi milik orang lain selain kami? Kami tidak butuh urusanmu." Mereka menolak tawaran Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Setelah para jama'ah haji menyelesaikan ibadah haji mereka lalu pulang ke negerinya masing-masing, termasuk Bani Amir. Mereka pulang menemui sesepuh mereka yang telah lansia dan tidak bisa ikut haji bersama mereka. Apabila mereka pulang dari haji mereka bercerita kepadanya tentang semua peristiwa yang terjadi di musim haji. Tatkala mereka tiba dari melaksanakan ibadah haji pada tahun ini dan bertemu kembali dengan orang tua tersebut, orang tua tersebut bertanya kepada mereka tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada musim haji tahun ini. Mereka menjawab, "Ada anak pemuda Quraisy dari Bani Abdul Muthalib datang kepada kami. Ia mengaku sebagai nabi ia memohon agar kami melindunginya, berpihak kepadanya dan membawanya ke negeri kita." Orang tua tersebut meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya, kemudian berkata: "Hai Bani Amir, apakah dia masih ada disana? Kalian telah menyia-nyiakan apa yang datang pada kalian! Demi Tuhan, sesungguhnya anak keturunan Ismail itu tidak pernah sekalipun berdusta dalam perkataannya. Perkaataannya selalu benar. Dimana kecerdasan kalian yang selama ini kalian miliki?"
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshari Azh-Zhafari berkata kepadaku dari sesepuh kaumnya yang berkata: Suwaid bin Shamit, saudara Bani Amr bin Auf mendatangi Makkah
 
untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah. Suwaid di tengah kaumnya dipanggil dengan Al-Kamil, karena kegigihannya, puisi-puisinya dan nasabnya."
Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar kedatangan Suwaid bin Shamit, beliau menemuinya dan menyeru- nya kepada agama Allah, Islam. Suwaid bin Shamit berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, "Apakah yang engkau bawa itu memiliki kesamaan dengan apa yang aku bawa?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada Suwaid bin Shamit: "Memangnya apa yang engkau bawa?" Suwaid bin Shamit berkata: "Lembaran Hikmah Luqman." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ber¬kata kepada Suwaid bin Shamit: "Sudikah kau perlihatkan lembaran itu kepadaku!" Suwaid bin Shamit memperlihatkan Lembaran Hikmah Luqman kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda; "Ini ucapan yang indah, namun apa yang aku miliki jauh lebih indah. Ia adalah Al-Qur'an yang diturunkan Allah Ta'ala kepadaku. Al- Qur'an adalah petunjuk dan nur." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan Al-Qur'an kepada Suwaid bin Shamit
dan mengajaknya kepada Islam. Suwaid bin Shamit tidak membantah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Suwaid bin Shamit berkata: "Sesungguhnya ini ucapan yang paling indah." Setelah itu, Suwaid bin Shamit pamit kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kembali ke Madinah untuk bertemu dengan kaumnya. Tak berapa lama kemudian, Suwaid bin Shamit dihabisi orang-orang Al- Khazraj. Orang-orang dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya ia dibunuh dalam keadaan Muslim." Pembunuhan ini terjadi sebelum Perang Bu'ats.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Hushain bin Abdurrahman bin Amr bin Sa'ad bin Muadz bercerita kepadaku dari Mahmud bin Labid ia berkata: Saat Abu Al-Haisar Anas bin Raff tiba di Makkah bersama dengan anak- anak muda dari Bani Abdul Asyhal, termasuk Iyas bin Muadz untuk mencari sekutu dari orang- orang Quraisy dalam menghadapi kaumnya dari Al-Khazraj, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar kedatangan mereka. Beliau datang menemui mereka dan duduk berbincang bersama mereka. Beliau bersabda: "Maukah kalian menerima kebaikan yang jauh lebih baik daripada tujuan kedatangan kalian ke tempat ini?" Mereka bertanya: "Apa itu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku adalah utusan Allah yang diutus kepada hamba-hamba-Nya. Untuk menyeru mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun dan telah Allah menurunkan Al-Kitab kepadaku." Kemudian Rasulullah menjelaskan tentang Islam dan membacakan Al-Quran pada mereka. Iyas bin Muadz, seorang pemuda di antara mereka berkata: "Wahai Hai kaumku, demi Allah, ini jauh lebih baik dari tujuan kedatangan kita semula." Abu Al-Haisar Anas bin Rafi' lalu mengambil segenggam penuh tanah kotor di bawah kakinya lalu menaburkannya ke wajah Iyas bin Muadz, sambil berkata: "Diam!! "Siapa yang menyuruhmu bicara!!. Aku bersumpah kami datang ke tempat ini bukan untuk keperluan itu!!." Mendengar itu Iyas bin Muadz diam. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi meninggalkan mereka sedangkan mereka kembali pulang ke Madinah. Saat itulah terjadi perang Bu'ats antara Aus dan Khazraj. Tak lama kemudian Iyas bin Muadz berpulang menghadap tuhannya.59


Mahmud bin Labid berkata: Saat kematiannya, kaumnya selalu mendengarnya mengucapkan tahlil, takbir, tahmid dan tasbih hingga ia wafat. Mereka yakin sekali bahwa lyas bin Muadz meninggal dunia dalam keadaan Muslim. Ia merasa sudah masuk Islam sejak pertemuannya dengan Rasulullah dan ketika mendengar apa yang disampaikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pada waktu itu.
 
Awal Masuk Islamnya Orang-orang Anshar


Ibnu Ishaq berkata: Pada musim haji tahun itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertemu dengan beberapa orang Anshar. Beliau menawarkan dirinya bergabung dengan kabilah-kabilah Arab sebagaimana yang biasa beliau lakukan pada musim-musim haji sebelum itu. Pada saat sedang berada di Al- Aqabah, beliau berjumpa dengan rombongan dari Al-Khazraj.
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari sesepuh kaumnya ia berkata: Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berpapasan dengan mereka, beliau bertanya: "Siapakah kalian?" Mereka menjawab: "Kami berasal dari Al-Khazraj." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melanjutkan: "Apakah kalian punya hubungan dengan orang-orang Yahudi?" Mereka menjawab: "Ya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sudikah kalian ngobrol sebentar denganku?' Mereka menjawab: "Ya." Mereka pun duduk untuk mendengarkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Menjelaskan tentang agama Allah, Al-Qur'an kepada mereka.
Faktor yang menyebabkan mereka masuk Islam ialah bahwa orang-orang Yahudi tinggal bersama mereka di negeri mereka. Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang diberi kitab dan ilmu, sedang orang-orang Al-Khazraj tidak seperti itu, mereka adalah penyembah berhala. Jika terjadi konflik antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Al-Khazraj, orang-orang Yahudi itu berkata: "Sesungguhnya zaman kedatangan nabi yang diutus telah dekat. Kita akan mengikutinya dan dengannya kami akan menghabisi kalian seperti pembantaian terhadap orang-orang Ad dan Iram." Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berbicara dengan orang-orang Al-Khazraj tersebut dan mengajak mereka kepada Islam, sebagaian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Wahai kaumku. Demi Tuhan, inilah Nabi yang diceritakan oleh orang-orang Yahudi kepada kalian. Oleh karena itu, kalian jangan kalah cepat menerimanya dari orang-orang Yahudi itu." Mereka lalu merespon ajakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Lalu membenarkan beliau dan menerima Islam yang beliau bawa. Mereka berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Kami akan bertemu kaum kami dan orang-orang Yahudi tersebut, lalu mengajak mereka kepada agamamu dan kami akan mengajak mereka agama yang kami dapatkan darimu ini. Jika Allah menyatukan mereka dalam agama ini, maka tidak akan ada seorangpun yang lebih mulia darimu." Setelah itu, mereka pamit kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk kembali pulang kembali ke negeri mereka beriman dan membenarkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Anshar yang memeluk Islam ada enam orang dari kabilah Al-Khazraj. Salah seorang dari mereka berasal dari Bani An-Najjar yang bernama Taimullah. Dari Bani Malik bin An-Najjar bin Tsa'labah bin Amr bin Al-Khazraj bin Hari tsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir adalah sebagai berikut: As'ad bin Zurarah bin Udas bin Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanim bin Malik bin An- Najjar, dia adalah Abu Umamah. Auf bin Al-Harits bin Rifaah bin Sawwad bin Malik bin Ghanim bin Malik bin An-Najjar. Ia adalah Afra'.
Ibnu Hisyam berkata: Afra adalah anak perempuan Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanim bin Malik bin Najjar.
Dari Bani Zuraiq bin Amir bin Zuraiq bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadhbu bin Jusyam bin Al-Khazraj hanya satu orang, yaitu Rafi' bin Malik bin Al-Ajlan bin Amr bin Amir bin Zuraiq.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat bahwa Amir adalah anak Al-Azraq.
 
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Salimah bin Sa'ad bin Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jusyam bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Sawwad bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah hanya satu orang, yaitu Quthbah bin Amr bin Hadidah bin Amir bin Ghanim bin Sawwad.
Ibnu Hisyam berkata: Amir adalah anak laki-laki Sawwad. Sebab Sawwad tidak punya anak lelaki yang bernama Ghanim.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Haram bin Ka'ab bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah ialah Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid bin Haram. Dan dari Bani Ubaid bin Adi bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah ialah Jabir bin Abdullah bin Riab bin An-Nu'man bin Sinan bin Ubaid.



Baiat Aqabah Pertama


Ibnu Ishaq berkata: Tatkala kaum Anshar tiba di negerinya, mereka mulai menyebarkan berita tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada kaumnya dan menyeru mereka kepada Islam hingga Islam menyebar dengan cepat di tempat mereka dan setiap rumah orang-orang Anshar tak pernah sepi dari diskusi tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tahun berikutnya, dua belas orang Anshar melaksanakan ibadah haji dan mereka menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Al- Aqabah yang dikenal dengan Al-Aqabah Pertama. Mereka mem- baiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam seperti baiat kalangan wanita. Peristiwa baiat ini terjadi sebelum perang diwajibkan kepada mereka.
Mereka yang terlibat pada baiat Al-Aqabah Pertama dari Bani An-Najjar dan dari Bani Malik bin An- Najjar adalah sebagai berikut: As'ad bin Zurarah bin Udas bin Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanim bin Malik bin An-Najjar, ia adalah Abu Umamah, Auf, Muadz. Auf dan Muadz adalah anak Al-Harits bin Rifa'ah bin Sawwad bin Malik bin Ghanim bin Malik bin An-Najjar. Keduanya adalah anak Afra.
Dari Bani Zuraiq bin Amir adalah sebagai berikut: Rafi' bin Malik bin Al-Ajlan bin Amr bin Amir bin Zuraiq. Dzakwan bin Abdu Qais bin Khaldah bin Mukhlid bin Amir bin Zuraiq. Ibnu Hisyam berkata: Dzakwan seorang muhajir-Anshar (muhajiri Anshari).
Dari Bani Auf bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Ghanim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khazraj adalah sebagai berikut: Ubadah bin Ash-Shamit bin Qais bin Ahram bin Fihr bin Tsa'labah bin Ghanim. Abu Ab- dur Rahman yang tidak lain adalah Yazid bin Tsa'labah bin Khazmah bin Ashram bin Amr bin Ammar dari Bani Ghudzainah dari Baly, sekutu Bani Auf bin Al-Khazraj.
Dari Bani Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khadzraj, kemudian dari Bani Al-Ajlan bin Zaid bin Ghanim bin Salim
hanya seorang, yakni Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah bin Malik bin Al-Ajlan.
Dari Bani Salimah bin Sa'ad bin Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jusyam bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Haram bin Ka'ab bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah hanya seorang, yakni Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid bin Haram.
Dari Bani Sawwad bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah hanya seorang, yakni Quthbah bin Amir bin Hadidah bin Amr bin Ghanim bin Sawwad.
 
Dari Al-Aus bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir, kemudian dari Bani Abdul Asyhal bin Jusyam bin Al-Harits bin Al-Khazraj bin Amr bin-Malik bin Al-Aus yang hadir di Baiat Al-Aqabah Pertama adalah Abu Al-Haitsam bin At-Taihan. Ia bernama asli Malik.
Dari Bani Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus ialah Uwaim bin Sa'idah.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Abu Habib bercerita kepadaku dari Abu Martsid bin Abdullah Al-Yazani dari Abdurrahman bin Asilah bin Ash-Shanabihi dari Ubadah bin Ash-Shamit ia berkata: Saat Baiat Aqabah Pertama. terjadi jumlah kami saat itu adalah dua belas orang laki-laki. Kami berbait kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana halnya kaum wanita dan itu terjadi ketika perang sebelum diwajibkan atas kami. Kami berbaiat agar tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak mengubur hidup-hidup anak-anak kami, tidak membuat- buat ucapan dusta baik baik secara terbuka ataupun sembunyi-sembunyi, tidak durhaka kepada beliau dalam kebaikan. "Jika kalian tidak melanggar baiat kalian, niscaya kalian masuk surga. Jika kalian melanggar salah satunya, urusan kalian terserah kepada Allah. Jika Dia mau maka Dia akan mengadzab kalian. Jika tidak maka Dia akan mengampuni kalian.'60
Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri bercerita kepadaku dari Aidzullah bin Abdullah Al-Khaulani Abu Idris bahwa Ubadah bin Ash-Shamit berkata kepadanya: "Pada malam Aqabah Pertama kami membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk mentauhidkan-Nya, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak membuat ucapan dusta baik di depan umum ataupun sembunyi-sembunyi dan tidak bermaksiat kepadanya dalam kebaikan. Nabi bersabda: "Jika kalian melaksanakannya kalian mendapatkan surga. Jika kalian melanggar salah satu daripadanya, maka kalian dihukum sesuai dengan hukumannya di dunia dan itu sebagai penebusnya. Jika kalian menyembunyikan pelanggaran kalian sehingga tak ada yang tahu sampai Hari Kiamat, maka urusan kalian sepenuhnya ada di tangan Allah. Jika Dia mau, Dia akan menyiksa kalian. Jika tidak, maka boleh jadi Dia mengampuni kalian."61


Ibnu Ishaq berkata: Tatkala kaum Anshar mau kembali pulang ke negeri mereka, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay bersama mereka. Rasulullah membentuk misi kepa da Mush'ab untuk membacakan Al-Quran pada mereka dan mengajarkan Islam serta memahamkan agama pada mereka. Maka jika disebut Muqri Madinah pastilah disebut: Mush'ab. Ia bertempat tinggal di rumah As'ad bin Zurarah bin Udas.
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Mush'ab menjadi imam shalat bagi mereka, karena Al-Aus tidak mau diimami orang dari Al-Khazraj demikian pula sebaliknya.



As'ad bin Zurarah dan Shalat Jum'at Pertama di Madinah


Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif bercerita ke-padaku dari ayahnya, Abu Umamah dari Abdurrahman bin Ka'ab bin Malik ia berkata: "Ketika ayahku, Ka'ab bin Malik mengalami rabuan senja. Jika kami keluar bersamanya untuk shalat Jum'at dan ia mendengar adzan, ia berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin Zurarah. Ayahku, Ka'ab bin Malik, selalu berbuat
 
seperti itu; jika ia mendengar adzan untuk shalat Jum'at, ia berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin Zurarah dan memintakan ampunan baginya." Aku bergumam dalam diriku: "Demi Allah, keadaan ayahku semakin melemah, kenapa aku tidak bertanya saja kepa- danya mengapa setiap kali mendengar adzan Jum'at, ia selalu berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin Zurarah?" Di hari Jum'at yang lain, kami keluar lagi dan begitu ayah mendengar adzan Jum'at, ia berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin Zurarah. Aku bertanya kepadanya: "Ayah, mengapa setiap kali engkau mendengar adzan Jum'at berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin Zurarah?" Ayahku berkata: "Anakku, Abu Umamah As'ad bin Zurarah adalah orang pertama kali yang menyelenggarakan shalat Jum'at untuk kita di Madinah di Hazm An-Nabit di tanah berbatu Bani Bayadhah yang dikenal Naqi' Al-Khadhamat." Aku bertanya lagi: "Berapa jumlah kalian ketika itu?" Ayah menjawab: "Empat puluh orang laki-laki'."



Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin al-Hudhair Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Ubaidillah bin Al-Mughi- rah bin Mu'aitiq dan Abdullah bin Abu Bab bin Muhammad bin Amr bin Hazm bercerita kepadaku, As'ad bin Zurarah keluar bersama Mush'ab bin Umair menuju rumah Bani Abdul Asyhal dan rumah Bani Zhafar. Sa'ad bin Muadz bin An-Nu'man bin Umru'ul Qais bin Zaid bin Abdul Asyhal adalah anak bibi As'ad bin Zurarah, kemudian As'ad bin Zurarah bersama Mush'ab bin Umair masuk ke salah satu kebun milik Bani Zhafar.
Ibnu Hisyam berkata: Adapun nama asli Zhafar ialah Ka'ab bin Al-Harits bin Ar Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus. Kebun ini letaknya berada di Sumur Maraq. Kemudian As'ad bin Zurarah dan Mush'ab bin Umair berkumpul dengan orang Madinah yang telah masuk Islam di sana.
Sa'ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair adalah pemimpin di tengah kaumnya Bani Abdul Asyhal ia masih musyrik kaumnya kala itu. Ketika keduanya mendengar kedatangan Mush'ab bin Umair, Sa'ad bin Muadz berkata kepada Usaid bin Hudhair: Pergilah kepada dua orang yang datang ke komplek kita untuk menipu orang-orang yang lemah di antara kita. Hadang keduanya dari memasuki komplek kita. Andai saja As'ad bin Zurarah warga kita, maka cukuplah aku saja yang menangani masalah ini, Dia sepupuku dan aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk berhadapan dengannya." Usaid bin Hudhair kemudian pergi kepada As'ad bin Zurarah dan Mush'ab bin Umair dengan membawa tombak Tatkala As'ad bin Zurarah melihat kedatangan Usaid bin Hudhair, ia berkata kepada Mush'ab bin Umair: "Dia adalah pemimpin kaumnya, dia datang kepadamu, maka hadapilah ia de ngan tegar!" Mush'ab bin Umair berkata: "Bila ia duduk, aku akan berbicara dengannya."
Usaid bin Hudhair berdiri di depan As'ad bin Zurarah dan Mush'ab bin Umair dengan wajah memerah. Ia berkata: "Kedatangan ka-lian berdua ke sini hanya membuat bodoh orang-orang yang lemah di antara kami. Enyahlah kalian berdua dari sini, jika kalian berdua masih ingin hidup." Mush'ab bin Umair berkata kepada Usaid bin Hudhair: "Mengapa engkau tidak duduk dulu untuk mendengar penjelasanku. Bila engkau suka, kau terima dan jika tidak apa susahnya bagimu untuk menolaknya." Usaid bin Hudhair berkata: "Engkau berkata benar."
Usaid bin Hudhair lalu meletakkan tombaknya di atas tanah dan duduk bersama As'ad bin Zurarah dan Mush'ab bin Umair. Lalu Mush'ab bin Umair menerangkan tentang Islam kepada Usaid bin Hudhair dan membacakan Al-Qur'an kepadanya. As'ad bin Zurarah dan Mush'ab bin Umair berkata: sebagaimana diriwayatkan dari keduanya: "Demi Allah, kami melihat hidayah pada wajah Usaid bin Hudhair sebelum ia bicara. Wajahnya bersinar dan ia tampak demikian ramah." Usaid bin Hudhair
 
berkata: "Sungguh cantik dan eloknya perkataan ini. Apa yang kalian lakukan jika kalian ingin memeluk agama ini?"
Mush'ab bin Umair dan As'ad bin Zurarah berkata kepada Usaid bin Hudhair: "Mandi, wudhu, sucikan pakaianmu, lalu mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalat." Usaid bin Hudhair pun berdiri untuk mandi, berwudhu, mensucikan pakaiannya, meng- ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalat dua rakaat.
Setelah itu Usaid bin Hudhair berkata kepada Mush'ab bin Umair dan As'ad bin Zurarah: "Sesungguhnya di belakangku ada seorang lelaki dimana jika dia mengikuti kalian berdua pasti tidak ada seorang pun dari kaumnya yang tidak mau mengikuti agama kalian berdua. Sekarang juga aku akan kirim Sa'ad bin Muadz kepada kalian berdua." Selesai mengatakan itu, Usaid bin Hudhair mengambil tombaknya, kemudian pergi menemui Sa'ad bin Muadz dan kaumnya yang saat itu sedang duduk di ruang auditorium mereka. Melihat kedatangan Usaid bin Hudhair, Sa'ad bin Muadz berkata: "Demi tuhan, wajah Usaid bin Hudhair kini berbeda dengan wajahnya yang tadi."
Ketika Usaid bin Hudhair tiba di ruang auditorium tersebut, Sa'ad bin Muadz berkata: "Apa yang telah terjadi?" Usaid bin Hudhair berkata: "Aku telah mendebat kedua orang itu. Demi Allah, keduanya tidak membahayakan siapa-siapa dan tidak melawan." Keduanya berkata: "Kami lakukan apa yang engkau sukai. Aku mendengar bahwa Bani Haritsah memburu As'ad bin Zurarah untuk dibunuh. Mereka mengetahui bahwa As'ad bin Zurarah adalah sepupuku. Oleh karena itu, mereka ingin membatalkan perjanjian denganmu."
Maka berdirilah Sa'ad bin Muadz sambil menahan marah dan karena tindakan Bani Haritsah seperti diceritakan Usaid bin Hudhair. Kemudian ia merebut tombak dari tangan Usaid bin Hudhair sambil berkata: "Demi Allah, aku melihatmu tidak melakukan apa-apa." Usai mengatakan itu, Sa'ad bin Muadz langsung bergegas menuju Mush'ab bin Umair dan As'ad bin Zurarah. Sampai disana Sa'ad bin Muadz malah melihat keduanya tenang-tenang saja, ia sadar bahwa Usaid bin Hudhair menginginkan dirinya mendengar secara langsung perkataan Mush'ab bin Umair dan As'ad bin Zurarah daripada hanya sekedar mendengar gosip tentang mereka selama ini. Sa'ad bin Muadz berdiri di depan keduanya dengan penuh kemarahan. Sa'ad bin Muadz berkata Kepada Asad bin Zurarah, "Hai Abu Umamah, demi Allah, kalau saja kau bukan sepupuku pasti akan kuhajar engkau. Kenapa engkau membawa sesuatu yang di benci ke dalam kelompok tempat tinggal kita?" Sebelum itu, As'ad bin Zurarah telah berkata kepada Mush'ab bin Umair: "Wahai Mush'ab, demi Allah, orang ini mempunyai pengikut yang banyak di belakangnya. Apabila ia mengikutimu, mereka maka tidak akan tersisa satu orangpun dari kaumnya kecuali dia pasti mengikutinya." Mush'ab bin Umair berkata kepada Sa'ad bin Muadz: "Mengapa engkau tidak duduk, lalu mendengar penjelasanku. Bila engkau suka, kau terima dan jika tidak tidak usah kau hiraukan. 'Sa'ad bin Muadz berkata: "itu benar."
Sa'ad bin Muadz meletakkan tombaknya ke tanah, lalu ia duduk. Kemudian Mush'ab bin Umair menerangkan Islam kepadanya dan membacakan Al-Our'an kepadanya. Mush'ab bin Umair dan As'ad bin Zurarah berkata: "Demi Allah kami lihat hidayah di wajahnya sebelum ia berbicara, karena wajahnya terlihat bercahaya dan tampak ramah.' Sa'ad bin Muadz berkata: "Apa yang kalian lakukan jika kalian ingin memeluk Islam?" Mush'ab bin Umair dan As'ad bin Zurarah menjawab: " Engkau harus mandi, membersihkan diri (wudhu), mensucikan pakaianmu, mengucap- kan dua kalimat syahadat lalu shalat." Kemudian Sa'ad bin Muadz berdiri, lalu mandi, berwudhu, mensucikan bajunya, mengucapkan dua kalimat syahadat dan shalat dua rakaat. Usai mehjalankan itu semua, ia mengambil tombaknya, kemudian pergi menuju auditorium tempat berkumpul kaumnya dengan ditemani Usaid bin Hudhair.
 
Ketika kaumnya melihat kedatangan Sa'ad bin Muadz, mereka berkata: "Demi Allah wajah Sa'ad bin Muadz telah berubah."
Ketika Sa'ad bin Muadz telah tiba di tempat kaumnya ia berkata kepada mereka: "Wahai Bani Abdul Asyhal, apa kalian tahu posisiku di tengah kalian saat ini?" Mereka menjawab, "Ya, engkau adalah pemimpin kami, orang yang paling suka menjalin tali silaturahim, orang yang paling benar pendapatnya dan orang yang paling baik pertimbangannya." Sa'ad bin Muadz berkata: "Sesungguhnya aku tidak akan bisa memimpin kalian lagi sampai kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."
Keduanya berkata: "Demi Allah, pada saat itu semua laki-laki dan perempuan, masuk Islam dengan segera."
As'ad bin Zurarah dan bin Mush'ab bin Umair pun pulang ke rumah As'ad bin Zurarah. Mush'ab bin Umair menetap di rumah As'ad bin Zurarah untuk menyeru Bani Abdul Asyhal kepada Islam hingga mereka semua memeluk Islam, namun saat itu ada beberapa perkampungan yang belum memeluk Islam, yaitu Bani Umayyah bin Zaid, Khathamah, Wail dan Waqif. Warga kampung-kampung tersebut berasal dari Ausullah, sedang mereka yang masuk Islam berasal dari Al-Aus bin Haritsah. Sebab tidak masuknya mereka ke dalam Islam adalah karena segan dengan Abu Qais Al-Aslat. Ia seorang penyair sekaligus pemimpin mereka. Mereka semua sangat patuh dengan Abu Qais bin Al-Aslat. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah, hingga terjadi Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Pandangannya tentang Islam dan perbedaan pandanganya dengan manusia saat itu telah berubah, Abu Qais bin Al Aslat berkata dalam sebuah untaian syairnya:
Wahai Tuhan, beragam peristiwa telah terjadi
Yang sulit dan yang mudah bercampur menjadi satu Wahai Tuhanku, jika kami tersesat
Maka mudahkanlah kami kejalan yang baik
Jika bukan karena Tuhan kami, kami pasti menjadi orang-orang Yahudi Dan tidaklah agama Yahudi itu memiliki bentuk
Jika bukan karena Tuhan kami, kami pasti menjadi orang-orang Kristen Bersama dengan para pendeta di gunung Al-Jalil
Namun kala kami diciptakan, di awal penciptaan Agama kami Hanif, dari generasi ke generasi Kita giving hewan kurban berjalan dengan patuh
Dengan pundak terbuka dan kain penutup binatang




Mush'ab bin Umair dan Baiat al-'Aqabah Kedua


Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Mush'ab bin Umair kembali ke Makkah. Di saat yang bersamaan, orang- orang Anshar yang telah masuk Islam pergi menunaikan haji bersama kaumnya yang masih musyrik Makkah.
Setiba di sana Ibnu Ishaq berkata: Ma'bad bin Ka'ab bin Malik bin Abu Ka'ab bin Al-Qain, saudara Bani Salimah bercerita kepadaku bahwa saudaranya Abdullah bin Ka'ab, orang Anshar yang paling cerdas berkata kepadanya bahwa ayahnya, Ka'ab berkata kepadanya. Pada peristiwa baiat Aqabah Kedua, ia membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ka'ab berkata: "Kami menuju Mekah bersama para
 
jama'ah haji kaum kami yang saat itu masih dalam keadaan musyrik. Sebelumnya, kami telah salat dan belajar tentang manasik haji.
Al-Barra bin Ma'rur, memimpin rombongan kami saat itu. Ketika kami akan berangkat, Al-Barra bin Ma'rur berkata: "Wahai kaumku, Demi Allah, aku ingin bicara dengan kalian mengenai pandanganku, Aku tidak tahu, apakah kalian sepakat denganku atau tidak dalam masalah ini?" Kami bertanya: "Apa itu?" Al- Barra' bin Ma'rur berkata: "Aku berpandangan bahwa Ka'bah adalah pusat kiblat kita dan aku tidak berhenti dari shalat menghadap kepadanya." Kami berkata: "Demi Allah, kenapa begitu? Bukankah kita sama-sama tahu bahwa Nabi Shallalahu 'alaihi wa Sallam shalat menghadap Syam (yakni Baitul Maqdis) dan kami tidak ingin melakukan hal berbeda dengan beliau.' Al-Barra bin Ma'rur berkata: "Terserah kalian, aku akan tetap shalat menghadap Ka'bah." Kami berkata: "Terserah kaulah mau berbuat apa!" Apabila waktu shalat telah tiba, kami shalat menghadap Syam, sementara Al- Barra' bin Ma'rur menghadap Ka'bah, hingga kami tiba di Makkah. Kami semua mencela apa yang dilakukan Al-Barra' bin Ma'rur, namun ia tetap dengan pendiriannya. Ketika kami telah sampai di Makkah, Al-Barra bin Ma'rur berkata kepadaku: "Wahai sepupuku, bagaimana kalau kita adukan masalah ini kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kita bertanya padanya tentang perbuatanku selama dalam perjalanan. Karena demi Allah, aku melihat telah terjadi sesuatu pada diriku ketika aku melihat kalian menentang perintahku." Kami lalu menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebelumnya kami tidak kenal beliau dan belum p'ernah melihatnya. Kami berpapasan dengan salah seorang warga Makkah dan kami menanyakan keberadaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Orang itu berkata: "Apakah sebelumnya kalian sudah berjumpa dengannya?" Kami menjawab: "Tidak." Orang itu bertanya lagi: Apakah kalian kenal dengan paniannya, Al-Abbas bin Abdul Muthalib?" Kami menjawab: "Ya", kami mengenalinya, karena ia sering datang menemuikami untukberdagang." Orang tersebut berkata: "Jika kalian masuk ke dalam masjid, dan melihat seseorang bersama dengan Al-Abbas maka dialah orang yang sedang kalian cari." Lalu kamipun masuk ke dalam masjid, dan menemukan Al-Abbas bin Abdul Muthalib sedang duduk dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Kami ucapkan salam dan duduk kepadanya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada Al-Abbas: "Hai Abu Al-Fadhl, apakah engkau mengenali dua laki-laki ini?" Al-Abbas menjawab: "Ya. Ini adalah Al-Barra bin Ma'rur, tokoh di tengah kaumnya sedangkan yang ini adalah Ka'ab bin Malik." Demi Allah, aku tidak lupa akan pertanyaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, "Apakah Ka'ab bin Malikifeng penyair itu?" Al-Abbas menjawab: "Benar." Al-Barra bin Ma'rur berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Nabi Allah, begini aku berpendapat bahwa Ka'bah adalah pusat kiblat sebenarnya, lalu aku shalat menghadap kepadanya. Sikapku itu malah ditentang oleh sahabat-sahabatku hingga terjadi sesuatu yang tidak enak dalam diriku, lalu bagaimana pendapatmu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Engkau harus mengikuti kami menghadap Syam." Kemudian Al-Barra' kembali kepada kiblat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan shalat bersama kami menghadap ke Syam. Keluarganya ada yang mengatakan Al-Barra' tetap shalat menghadap ke Ka'bah hingga ia meninggal dunia. Namun semua ini tidak benar, karena kami lebih tahu tentang Al-Barra bin Ma'rur daripada mereka."
Ibnu Hisyam berkata bahwa Aun bin Ayyub Al-Anshar berkata:
Di tengah kami, ada laki-laki pertama yang shalat
Menghadap Ka'bah Ar-Rahman di antara tem- pat-tempat suci

Yang dimaksud dengan laki-laki pertama tersebut ialah Al-Barra' bin Ma'rur. Ini adalah penggalan syair miliknya.
 
Abdullah bin Amr Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Ma'bad bin Ka'ab ber- cerita kepadaku bahwa saudaranya, Abdullah bin Ka'ab berkata kepadanya bahwa ayahnya, Ka'ab bin Malik berkata kepadanya: Lalu kami kembali melaksanakan manasik haji dan kami berjanji akan menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Aqabah pada pertengahan hari-hari Tasyriq. Setelah kami melakukan ibadah haji, kami menemui Abdullah bin Amr bin Haram Abu Jabir. Ia adalah salah seorang pemimpin yang terhormat di kalangan kami. Tanpa sepengetahuan kaum kami yang masih musyrik, kami berbicara kepada Abdullah bin Amr: "Hai Abu labir, engkau salah seorang pemimpin yang tehormat di kalangan kami. Kami tidak menginginkan kelak engkau dibakar oleh api neraka." Kami tawarkan dia Islam dan kami terangkan kepadanya janji Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada kami untukberjumpa dengannya di Aqabah.62 Alhamdulillah, ia pun masuk Islam dan hadir bersama kami di Aqabah.


Kami tidur malam itu bersama kaum kami di dalam rombongan kami. Hingga saat sepertiga malam telah berlalu, kami keluar dari tempat kami untuk bertemu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.
Kami berjalan dengan diam-diam seperti jalannya kucing
yang sembunyi-sembunyi hingga akhirnya kami semua tiba di syi'b diAqabah. Kami saat itu terdiri dari tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang wanita dari wanita-wanita kami, yaitu Nasibah binti Ka'ab Ummu Imarah salah seorang wanita dari Bani Mazin bin An-Najjar dan Asma binti Amr bin Adi bin Naabi, salah seorang wanita dari Bani Salimah. yang bernama Ummu Mann'.



Al-Abbas Menguatkan Kedudukan Rasulullah di Depan Orang-orang Anshar


Lanjut Ka'ab: Di syi'b, kami menunggu kedatangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Beberapa waktu kemudian akhirnya beliau tiba dengan ditemani Al-Abbas bin Abdul Muthalib, yang saat itu masih menganut agama kaumnya. Hanya saja dia ingin menjaga dan mengawal keponakannya dan memastikan apa yang terjadi. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam duduk, tiba-tiba Al-Abbas bin Abdul Muthalib berkata: "Wahai orang-orang Al-Khazraj —orang-orang Arab menyebutperkampungan Anshar dengan nama Al-Khazraj baik Al-Khazraj atau Al-Aus— se- sungguhnya Muhammad adalah keluargaku. Kami telah melindunginya dari teror kaum kami. Ia berada dalam keadaan terhormat di tengah kaumnya dan jaminan keamanan di negerinya. Namun ia lebih suka berkumpul dan menyatu dengan kalian. Jika kalian yakin bisa melindunginya dari orang- orang yang menentangnya dan mengangkat tinggi-tinggi dakwahnya, maka silahkan lanjutkan tugas kalian. Namun jika sebaliknya, kalian malah menelantarkannya setelah ia bergabung kepada kalian, maka sejakkini biarkanlah dia, karena aia suaan ternormat ai tengan Kaumnya aan mendapatkan perlindungan dan keamanan dari kaumnya dan negerinya.
 
Kami lalu menanggapi ucapan Al-Abbas bin Abdul Muthalib: "Kami telah mendengar ucapanmu kini kami akan mendengarkan ucapan Rasulullah!"



Baiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Atas Kaum Anshar


Lanjut Ka'ab: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu berbicara. Beliau membuka ucapannya dengan bacaan Al-Qur'an, mengajak mereka kepada agama Allah dan mengharapkan kesungguhan keislaman mereka. Setelah itu, beliau bersabda: "Aku membaiat kalian untuk melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri-isteri dan anak-anak kalian." Al-Barra' bin Ma'rur memegang tangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian ia berkata: "Ya, demi Allah, kami pasti melindungimu sebagaimana kami melindungi istri-istri dan anak-anak kami. Demi Allah, kami ahli perang dan lihat dalam menggunakan senjata. Kami wariskan pengetahuan dan keterampilan kami dari satu generasi kepada generasi lainnya." Ketika Al-Barra' bin Ma'rur sedang berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tiba-tiba Abu Al-Haitsam bin At-Tayyahan menentang pembicaraannya. Abu Al-Haitsam bin At-Tayyahan berkata: "Wahai Rasulullah, sebelumnya kami memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi dan kini kami akan memutusnya. Jika kami telah berhasil melaksanakan misi dakwah ini, apakah engkau akan meninggalkan kami dan kembali pada kaummu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tersenyum, lalu bersabda, "Tidak. Darah, dengan darah. Penghancuran dengan penghancuran. Aku bagian dari kalian dan kalian bagian dari diriku. Aku memerangi siapa saja yang kalian perangi dan berdamai dengan orang-orang yang kalian berdamai dengan mereka."63 (63. Ibid)
Setelah itu, Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Tunjuk untukku dua belas pemimpin agar mereka menjadi pemimpin bagi kaumnya." Mereka menunjuk dua belas pemimpin dari mereka. Sembilan dari Al- Khazraj dan tiga dari Al-Aus.



Nama Dua Belas Pemimpin dan Kelengkapan Kabar Aqabah


Ibnu Hisyam berkata: Sebagaimana yang dikatakan kepadaku oleh Ziyad bin Abdul¬lah Al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq Al- Muthalibi bahwa naqib dari Al-Khazraj adalah sebagai berikut: (1) Abu Umamah As'ad bin Zurarah bin Udas bin Ubayd bin Tsa'labah bin Ghanim bin Malik bin An-Najjar yang tidak lain adalah Taimullah bin Tsa'labah bin Amr bin Al-Khazraj, (2) Sa'ad bin Ar-Rabi' bin Amr bin Abu Zuhair bin Malik bin Umru'ul Qais bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits bin Al- Khazraj, (3) Abdullah bin Rawahah bin Umm'ul Qais bin Amr bin Umru'ul Qais bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Al-Harts bin Al-Khazraj, (4) Rafi' bin Malik bin Al-Ajlan bin Amr bin Amir bin Zuraiq bin Amir bin Zuraiq bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadzbu bin Jusyam bin Al-Khazraj, (5) Al- Barra' bin Ma'rur bin Shakhr bin Khansa' bin Sinan bin Ubayd bin Adi bin Ghanim bin Ka'ab bin Sali- mah bin Sa'ad bin Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jusyam bin Al-Khazraj, (6) Abdullah bin Amr bin Haram bin Tsa'labah bin Haram bin Ka'ab bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah bin Saa’d bin saridah bin Tazid bin Jusyam bin Al-Khazraj, (7) Ubadah bin Ash-Shamit bin Qais bin Ashram bin Fihr bin Tsa'labah bin Ghanim bin Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khazrah (Ibnu Hisyam berkata bahwa
 
Ghanim adalah anak Auf, saudara Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khazraj), Ibnu Ishaq berkata:
(8) Sa'ad bin Ubadah bin Dulaim bin Haritsah bin Abu Hazimah bin Tsa'labah bin Tharif bin Al-Khazraj bin Sa'idah bin Ka'ab bin Al- Khazraj, (9) Al-Mundzir bin Amr bin Khunais bin Haritsah bin Laudzan bin Abdu Wadd bin Zaid bin Tsa'labah bin Al-Khazraj bin Sa'idah bin Ka'ab bin Al-Khazraj. Ibnu Hisyam berkata: Dinyatakan Ibnu Khunais.



Pemimpin-pemimpin dari Al-Aus


Sementara pemimpin dari Aus adalah:(l) Usaid bin Hudhair bin Samak bin Atik bin Rafi' bin Umru'ul Qais bin Zaid bin Abdul Asyhal bin Jusyam bin Al-Harits bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus, (2) Sa'ad bin Khaitsamah bin Al-Harts bin Malik bin Ka'ab bin An-Nahhath bin Ka'ab bin Haritsah bin Ghanim bin As-Salim bin Umru'ul Qais bin Malik bin Al-Aus, (3) Rifa'ah bin Abdul Mundzir bin Zanbar bin Zaid bin Umayyah bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus.
Ibnu Hisyam berkata: Para ulama memasukkan Abu Al-Haitsam bin Attayyahan ke dalam keduabelas pemimpin tersebut dan tidak memasukkan Rifa'ah.
Ka'ab bin Malik memasukkan Abu Al-Haitsam Attayyahan dan tidak memasukkan Rifa'ah dalam syairnya ini.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar bercerita kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam bersabda kepada para pemimpin-pemimpin tersebut: "Kalian harus bertanggung jawab atas apa saja yang terjadi di tengah kaum kalian sebagaimana Hawariyyun yang bertanggung jawab kepada Isa bin Maryam dan aku bertanggung jawab atas kaumku, yakni kaum Muslimin." Mereka menjawab: "Ya."
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah bercerita kepadaku bahwa tatkala orang-orang Anshar membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, maka Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah Al- Anshari, saudara Bani Salim bin Auf berkata: "Wahai orang-orang Al-Khazraj, apa kalian sadar dengan apa yang kalian lakukan ini?" Mereka menjawab: ""Ya, kami sadar." Al-Abbas bin Ubadah berkata: "Sesungguhnya kalian membait laki-laki ini untuk memerangi orang-orang berkulit merah dan orang- orang berkulit hitam. Jika kalian takut, gara-gara laki-laki ini harta kalian menjadi hilang dan pemimpin- pemimpin kalian akan tewas karenanya, maka menyerahlah kalian sejak sekarang. Demi Allah jika kalian melakukan hal itu, maka kalian berada dalam kehinaan di dunia dan akhirat. Jika kalian yakin bahwa kalian mampu mengemban misi ini maka walaupun hal tersebut mengurangi harta kalian dan menewaskan orang-orang terhormat kalian, ambillah dia. Demi Allah, inilah kebaikan di dunia dan akhirat." Mereka berkata: "Kami mengambilnya walaupun hal ini mengurangi harta kami dan menewaskan orang-orang terhormat di tengah kami. Jika kami melakukan hal tersebut, apa yang akan kami dapatkan wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Surga."
Mereka berkata: "Ulurkan tanganmu!" Rasu¬lullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengulurkan tangannya kemudian mereka membaiat beliau. Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: "Demi Allah, Al- Abbas berkata seperti itu untuk menguji mereka."
Abdullah bin Abu Bakar berkata: "Al-Abbas berkata seperti itu agar kaum Anshar menunda dulu membaiat Rasulullah pada malam itu dengan harapan Abdullah bin Ubay Salul akan datang kepada
 
mereka, kemudian urusan kaum Anshar menjadi lebih kuat." Wallahu a'lam mana pendapat yang paling benar.
Ibnu Hisyam berkata: Salul merupakan wanita dari Khuza'ah. Ia ibu Ubay bin Malik bin Al-Harits bin Ubaid bin Malik bin Salim bin Ghanim bin Auf bin Al-Khazraj.
Ibnu Ishaq berkata: Bani An-Najjar bercerita, bahwa Abu Umamah As'ad bin Zurarah adalah orang yang pertama kali membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sementara orang-orang Bani Abdul Asyhal berpendapat, bahwa Abu Al-Haitsam bin At- tayyahan lah yang pertama kali membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita bahwa Ma'bad bin Ka'ab bin Malik berkata kepadaku: Dalam haditsnya, Ma'bad bin Ka'ab bin Malik berkata kepadaku dari saudaranya, Abdullah bin Ka'ab dari ayahnya, Ka'ab bin Malik yang berkata: "Orang yang pertama kali membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam adalah Al-Barra' bin Ma'rur, lalu diikuti kaum Anshar yang lain."64 (Ibid)
Setelah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dibaiat, setan berteriak-teriak dari atas Aqabah dengan teriakan keras yang bisa aku dengar: "Hai penduduk Al-Jabajib, ketahui lah bahwa Mudzammam (maksudnya adaiah Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan orang-orang yang mengikutinya telah bersatu untuk memerangi kalian." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ini Uzab, setan Aqabah. Ini adaiah anak Azyab. Dengarkan wahai musuh Allah, demi Allah, aku pasti akan menghabisimu."65 (Ibid)



Orang-orang Anshar Tergesa-gesa Untuk Mendapatkan Ijin Berperang


Lanjut Ka'ab: Usai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dibaiat, beliau bersabda kepada kaum Anshar: "Pulanglah ke tempat kalian." Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Demi Allah, jika engkau suka, kami akan mendatangi orang-orang di Mina dengan pedang-pedang kami ini." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ja- ngan! Pulanglah kalian ke tempat kalian." Lalu kami pulang ke tempat tidur kami dan tidur di dalamnya hingga pagi menjelang.
Keesokan harinya, pemuka-pemuka Quraisy datang ke tempat kami. Mereka berkata: "Wahai orang- orang Al-Khazraj, kami mendengar bahwa kalian telah menemui Muhammad untuk bergabung dengan kalian dan kalian membaiatnya untuk memerangi kami. Demi Allah, kalian adaiah kabilah yang sangat kami benci." Kaum kami yang masih musyrik spontan berkata, bahwa ini tidak akan terjadi. Saat itu, kami saling memandang satu sama lain. Kemudian orang-orang berdiri termasuk Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi yang mengenakan sandal baru. Aku berkata kepadanya: "Wahai Abu Jabir, engkau salah seorang pemimpin kami, apakan engkau tidak mau membaiat Muhammad?" Pertanyaanku tersebut didengar Al-Harits, kemudian ia lepas kedua sandalnya dan melemparkannya kepadaku. Ia berkata: "Demi Allah, engkau pasti sudah membaiatnya." Al- Harits berkata lagi: "Demi Allah, engkau pasti melindungi anak muda Quraisy tersebut. Keluarlah kau dari agamanya!" Aku (Ka'ab bin Malik) berkata: "Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengembalikannya. Demi Allah, ini harapan yang baik. Jika harapan ini terbukti baik, aku pasti menang."
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku, bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada Abdullah bin Ubay bin Salul seperti perkataan Ka'ab. Abdullah bin Ubay bin Salul berkata
 
kepada mereka: "Ini sebuah masalah besar. Kaumku tidak akan mengikuti kalian dan ini tidak akan terjadi." Kemudian mereka pergi meninggalkan Abdullah bin Ubay bin Salul.
Ibnu Ishaq berkata: Kala jama'ah haji bertolak meninggalkan Mina, orang-orang Quraisy dengan cepat melakukan investigasi mengenai pertemuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan kaum Anshar. Hasilnya ternyata pertemuan itu benar-benar telah terjadi. Lalu mereka keluar mencari kaum Anshar dan berpapasan dengan Sa'ad bin Ubadah di Adzakhir dan Al-Mundzir bin Amr, saudara Bani Sa'idah bin Ka'ab bin Al-Khazraj dan menyeretnya. Keduanya adaiah peminpin mereka. Adapun Al- Mundzir, orang-orang Quraisy tidak berani menyeretnya, mereka malah menangkap Sa'ad bin Ubadah, kemudian mengikatnya. Setelah itu, mereka membawa Sa'ad bin Ubadah ke Makkah untuk disiksa.
Sa'ad bin Ubadah berkata: Demi Allah, saat aku sedang disiksa, tiba-tiba muncul sejumlah orang Quraisy dan di antara mereka terdapat orang yang tampan, putih bersih dan tinggi. Aku berkata dalam hati: "Sepertinya ia orang baik." Ketika orang tersebut telah berada dekat denganku, ia malah menamparku dengan keras. Aku berkata dalam diriku: Tidak! setelah ini aku tidak percaya lagi, kalau ada di antara mereka orang baik." Tiba-tiba salah seorang dari mereka merasa iba kepadaku. ia berkata: "Apakah engkau mempunyai perlindungan dan perjanjian dengan orang-orang Quraisy?" Aku menjawab: "Demi Allah, tidak. Tapi seingatku, aku pernah melindungi bisnis Jubayr bin Muth'im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf di negeriku. Aku juga pernah melindungi Al-Harits bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf." Orang tersebut berkata: "Kalau begitu, berteriaklah dengan kencang sambil menyebut dua nama orang tersebut lalu beberkan hubunganmu dengan mereka berdua." Aku melaksanakan saran orang tersebut, sedang orang tersebut pergi kepada Jubair bin Muth'im dan Al-Harits bin Harb dan menemukan keduanya di masjid di samping Ka'bah. Orang tersebut berkata kepada keduanya, "Ada orang Al-Khazraj sedang disiksa di padang pasir. Ia mengaku bahwa ia mempunyai hubungan dengan kalian dan pernah melindungi kalian." Jubair bin Adi dan Al- Harits bin Harb berkata: "Siapa namanya?" Orang tersebut berkata: "Dia bernama Sa'ad bin Ubadah." Jubair bin Muth'im dan Al- Harits bin Harb berkata: "Benar. Demi Allah, dia pernah melindungi bisnis kami dan menjaganya dari orang-orang yang ingin berbuat zalim kami di negerinya." Kemudian Jubair bin Muth'im dan Al-Harits datang membebaskan Sa'ad bin Ubadah dari siksaan orang-orang Quraisy. Sa'ad bin Ubadah pun bebas. Orang yang menampar Sa'ad bin Ubadah ialah Suhail bin Amr, saudara Bani Amir bin Luay.
Ibnu Hisyam berkata: Orang yang iba kepada Sa'ad bin Ubadah saat itu adalah Abu Al-Bakhtari bin Hisyam.



Kisah Berhala Amir bin Jamuh dan Masuk Islamnya Amir


Ibnu Ishaq berkata: Setiba kaum Anshar di Madinah, mereka langsung mengumumkan keislaman mereka di sana. Saat itu, kaum mereka masih tersisa orang-orang yang masih menyembah berhala, di antaranya adalah Amr bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram bin Ka'ab bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah. Anak Amr bin Jamuh, Muadz bin Amr telah membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di baiat Aqabah. Amr bin Jamuh adalah salah seorang pemuka Bani Salimah dan salah seorang yang tehormat dari kalangan mereka. Ia membikin satu berhala di rumahnya yang terbuat dari kayu yang ia beri nama Manat seperti yang biasa dilakukan para pemimpin-pemimpin saat itu. Tatkala dua pemuda Bani
 
Salimah, yaitu Muadz bin Jabal dan anak Amr yaitu Muadz bin Amr telah memeluk agama Islam bersama orang lainnya yang telah memeluk Islam dan ikut menghadiri baiat Aqabah, maka pada suatu malam pergi ke berhala Amr bin Jamuh untuk mengambilnya dan melemparkannya dalam keadaan terjungkir kepala di bawah di sumur Bani Salimah yang sering dijadikan tempat pembuangan kotoran manusia. Keesokan harinya, Amr bin Jamuh berkata: "Sialan, siapa yang telah tuhan kita tadi malam?" Amr bin Jamuh mencari-cari berhalanya. Ketika ia berhasil menemukannya, ia membersihkannya dan menghiasinya. Setelah itu, ia berkata: "Demi Allah, jika sampai aku tahu pelakunya, aku pasti menghajarnya."
Malam berikutnya ketika Amr bin Al-Jamuh telah tidur, pemuda-pemuda Islam itu kembali berbuat seperti yang mereka lakukan pada malam sebelumnya. Keesokan harinya, Amr bin Jamuh mendapatkan berhalanya penuh dengan kotoran. Kemudian ia mencucinya, membersihkannya dan menghiasinya. Kejadian itu terus terulang selama tiga malam berturut-turut. Setelah itu, Amr pergi dengan menghunus pedang dan menggantungkannya di berhala tersebut. Ia berkata: "Demi Allah, aku tidak tahu siapa sebenarnya yang tega berbuat seperti ini terhadapmu. Jika engkau memang tuhan maka lindungilah dirimu dengan pedang yang aku bawakan untukmu ini." Pada malam harinya ketika Amr bin lamuh telah tidur, pemuda-pemuda Islam kembali melakukan hal yang serupa. Mereka mencopot pedang dari leher berhala tersebut dan mengantinya dengan bangkai anjing kemudian mengikatnya ke berhala tersebut dengan seutas tali, kemudian melemparkannya di salah satu sumur Bani Salimah yang merupakan tempat pembuangan kotoran manusia. Keesokan harinya, Amr bin Al- Jamuh melihat berhalanya tidak lagi berada di tempatnya.
Lalu ia keluar rumah untuk mencarinya dan dia dapatkan berhalanya di dalam sumur, dengan dikalungi bangkai anjing. Saat itulah ia sadar betapa tidak bergunanya berhala tersebut. Lalu ia diajak bicara oleh orang-orang dari kaumnya yang telah masuk Islam dan ia pun masuk Islam -semoga Allah me- rahmatinya- dan keislamannya patut diacungi jempol. Setelah masuk Islam dan menyadari semua kekeliruannya, ia bersyukur kepada Allah yang telah menyelamatkannya dari kebutaan dan kesesatan:



Syarat untuk Baiat Aqabah Terakhir


Ibnu Ishaq berkata: Baiat Al-Aqabah Pertama dinamakan baiat kaum wanita, karena Allah Ta'ala belum menetapkan kepada Rasul-Nya kewajiban berperang. Ketika Allah Ta'ala telah menetapkan kewajiban berperang dan kaum Anshar lalu membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Aqabah Kedua untuk memerangi orang-orang berkulit sawo matang dan merah, maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, memberi persyaratan-persyaratan kepada kaum Anshar dan menjanjikan untuk mereka surga jika mereka memenuhi syarat-syarat baiat tadi.
Ibnu Ishaq berkata: Ubadah bin Al-Walid bin Ubadah bin Ash-Shamit berkata kepadaku dari ayahnya, Al-Walid dari kakeknya, Ubadah bin Ash-Shamit, salah seorang dari pemimpin pada Baiat Aqabah Pertama, ia berkata: "Kami membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk berperang." Ubadah bin Ash-Shamit merupakan dua belas orang yang membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Aqabah Pertama untuk tetap mendengar dan bersabar dalam suka dan duka dan saling tolong-menolong satu sama lain, berkata jujur di mana pun kita berada dan tidak mempedulikan hinaan orang di jalan Allah."66

 



Nama-nama Orang yang Terlibat Aqabah Kedua dan Jumlah Mereka


Ibnu Ishaq berkata: Berikut ini adalah nama-nama orang-orang Al-Aus dan Al-Khazraj yang ikut menghadiri baiat Al-Aqabah dan membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di sana. Jumlah mereka adalah tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang wanita.
Orang-orang yang menghadiri baiat Aqabah Kedua dari kalangan Al-Aus bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir, kemudian dari Bani Abdul Asyhal bin Jusyam bin Al-Harits bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus adalah sebagai berikut: Usaid bin Hudhair bin Simak bin Atik bin Rafi' bin Umru'ul Qais bin Zaid bin Abdul Asyhal. la salah satu pemimpin dan tidak ikut Perang Badar, Abu Al-Haitsam bin At-Tayyahan. Nama aslinya Malik, la ikut Perang Badar, Salimah bin Salamah bin Waqs bin Zu'bah bin Za'ura bin Abdul Asyhal. Ia ikut Perang Badar. Jumlah orang-orang yang menghadiri baiat Al- Aqabah Kedua dari Bani Al-Aus bin Haritsah dan Bani Abdul Asyha adalah tiga orang. Ibnu Hisyam mengatakan bin Za'awra'.
Dari Bani Haritsah bin Al-Harits bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik Al-Aus adalah sebagai berikut: Zhuhair bin Rafi' bin Adi bin Zaid bin Jusyam bin Haritsah, Abu Bardah bin Niyar. Nama aslinya Hani' bin Niyar bin Amr bin' Ubayd bin Amr bin Kilab bin Dahman bin Ghanim bin Dzubyan bin Hamim bin Kahil bin Dzuhl bin Hani bjn Baly bin Amr bin Ilhaf bin Qudha'ah. Ia patner Bani Haritsah bin Al-Harits bin Al- Khazraj dan ikut serta pada Perang Badar, Nuhair bin Al-Haitsam dari Bani Nabi bin Majda'ah bin Haritsah. kemudian dari kabilah As-Sawwaf bin Qais bin Amir bin Nabi bin Majda'ah bin Haritsah. Jumlah dari Bani Haritsah adalah tiga orang.
Dari Bani Amr bin Auf bin Malik bin Al- Aus adalah sebagai berikut: Sa'ad bin Khaitsamah bin Al-Harits bin Malik bin Ka'ab bin An-Nahhath bin Ka'ab bin Haritsah bin Ghanim bin As-Salm bin Umru'ul Qais bin Malik bin
Al-Aus. la ikut terjun pada Perang Badar bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan gugur sebagai syahid.
Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Ishaq mengatakan Sa'ad bin Khaitsamah bernasab kepada Bani Amr bin Auf, padahal ia berasal dari Bani Ghanim bin As-Salm. Boleh jadi itu adalah julukan Sa'ad bin Khaitsamah di tengah kaumnya, atau ia hidup di tempat mereka kemudian ia diberi marga mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Rifa'ah bin Abdul Mundzir bin Zanbar bin Zaid bin Abu Umayyah bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amr. la termasuk naqib (pemimpin), ikut Perang Badar. Abdullah bin Jubayr bin An-Nu'man bin Umayyah bin Al-Burak. Nama Al-Burak ialah Umru'ul Qais bin Tsa'labah bin Amr. Ia ikut Perang Badar. Pada Perang Uhud, ia memimpin pasukan pemanah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan gugur sebagai syahid di dalamnya.
Dan Ma'an bin Adi bin Al-Jadd bin Al-Ajlan bin Haritsah bin Dhabi'ah, patner mereka dari Baly. Ia ikut Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang-perang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang lain. Ia syahid pada Perang Yamamah pada masa pemerintahan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu. Uwaim bin Sa'idah. Ia ikut Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Jumlah dari Bani Amr bin Auf adalah lima orang.
 
Jumlah keseluruhan orang-orang Al-Aus yang menghadiri baiat Al-Aqabah Kedua adalah sebelas orang.
Dan dari orang-orang Al-Khazraj bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir, kemudian dari Bani An- Najjar yaitu Taimullah bin Tsa'labah bin Amr bin Al-Khazraj adalah sebagai berikut: Abu Ayyub. Dia adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa'labah bin Abd bin Auf bin Ghanim bin Malik bin An-Najjar. Ia ikut serta dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang-perang yang lain. Ia syahid pada saat berjihad di wilayah Romawi di masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Muadz bin Al-Harits bin Rifa'ah bin Suwad bin Malik bin Ghanim bin Malik bin An-Najjar. Ia terlibat pada Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang- perang yang lain. Ibunya bernama Al-Afra'. Saudara Muadz, yaitu Auf bin Al-Harits. Ia mengikuti Perang Badar dan mati syahid di dalamnya. Saudara Muadz yang lain, yaitu Mi'wadz bin Al-Harits. Ia ikut Perang Badar dan mati syahid di sana. Dialah yang membunuh Abu Jahal bin Hisyam bin Al-Mughirah. Imarah bin Hazm bin Zaid bin Laudzan bin Amr bin Abdu Auf bin Ghanim bin Malik An-Najjar. Ia ikut terjun dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang- perang lainnya. Syahid di Perang Yamamah pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash- Shiddiq Radhiyallahu Anhu. As'ad bin Zurarah bin Udas bin Ubayd bin Tsa'labah bin Ghanim bin Malik bin An-Najjar. Ia termasuk pemimpin di Aqabah Pertama dan meninggal dunia sebelum Perang Badar. Dialah Abu Umamah. Jumlah dari Bani Al-Khazraj bin Haritsah adalah enam orang.
Dari Bani Amr bin Mabdzul, dan Mabdzul adalah Amir bin Malik bin An-Najjar hanya satu orang, yaitu Sahl bin Atik bin Nu'man bin Amr bin Atik bin Amr. Ia ikut serta terjun pada Perang Badar.
Dari Bani Amr bin Malik bin An-Najjar yang tak lain adalah Bani Hudailah, Ibnu Hisyam berkata: Hudailah ialah putri Malik bin Zaidillah bin Habib bin Abu Haritsah bin Malik bin Ghadhbu bin Jusyam bin Al-Khazraj, adalah sebagai berikut: Aus bin Tsabit Al-Mundzir bin Haram bin Amr bin Zaid Manat bin Adij bin Amr bin Malik. Ia ikut Perang Badar. Abu Thalhah. Dia adalah Zaid bin Sahl bin Al-Aswad bin Haram bin Amr bin Zaid Manat bin Adi bin Amr bin Malik. Ikut Perang Badar. Total dari Bani Amr bin Malik bin An-Najjar ada dua orang.
Dari Bani Mazin bin An-Najjar adalah sebagai berikut: Qais bin Abu Sha'sha'ah. Nama Abu Sha'sha'ah adalah Amr bin Zaid bin Auf bin Mabdzul bin Amr bin Ghanim bin Mazin. Terlibat pada Perang Badar. Pada Perang Badar, Ia ditempatkan pada pasukan garis belakang. Amr bin Ghaziyyah bin Amr bin Tsa'labah bin Athiyyah bin Khansa' bin Mabdzul bin Amr bin Ghanim bin Mazin. Jumlah dari Bani Mazin bin An-Najjar adalah dua orang.
Dengan demikian jumlah dari Bani An-Najjar yang menghadiri baiat Aqabah Kedua adalah sebelas orang.
Ibnu Hisyam berkata: Amr bin Ghaziyyah bin Amr bin Tsa'labah bin Athiyyah bin Khansa' yang disebutkan Ibnu Ishaq adalah Ghaziyyah bin Amr bin Athiyyah bin Khansa'.
Dari Balharits bin Al-Khazraj adalah sebagai berikut: Sa'ad bin Ar-Rabi' bin Amr bin Abu Zuhair bin Malik bin Umru'ul Qais bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab bin AI-Khazraj bin Al-Harits. Ia termasuk salah seorang pemimpin. Ia ikut serta dalam Perang Badar dan mati syahid di Perang Uhud. Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair bin Malik bin Umru'ul Qais bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Ia ikut Perang Badar dan mati syahid di Perang Uhud. Abdullah bin Rawahah bin Umuru'ul Qais bin Amr bin Umuru'ul Qais bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Ia ikut Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang-perang lainnya, kecuali penak lukan Makkah dan sesudahnya. Ia syahid di Perang Mu'tah dengan jabatan panglima perang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sal- lam. Basyir bin Sa'ad bin Tsa'labah bin Julas bin Zaid bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al- Khazraj bin Al-Harits. Ia adalah Abu An-Nu'man bin Basyir. Ia ikut Perang Badar. Abdullah bin Zaid
 
Manat bin Tsa'labah bin Abdu Rabbihi bin Zaid bin Al-Harts bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Ia terlibat pada Perang Badar. Dialah orang yang mengawali adzan shalat, kemudian ia datang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang kemudian menyuruhnya adzan. Khallad bin Suwaid bin Tsa'labah bin Amr bin Haritsah bin Umru'ul Qais bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Ikut terlibat Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Syahid di Perang Bani Quraizhah. Karena ditimpa batu besar dari salah satu istana Bani Quraizhah, kemudian meremukkannya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda tentangnya: "Khallad mendapatkan dua pahala syahid." Uqbah bin Amr bin Tsa'labah bin Usairah bin Asirah bin Jidarah bin Auf bin Al-Harits. Ia adalah Abu Mas'ud. Dialah yang paling muda yang ikut serta di Baiat Aqabah Kedua dan wafat pada masa peme- rintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia tidak ikut Perang Badar. Jumlah dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj adalah tujuh orang.
Dari Bani Bayadhah bin Amir bin Zuraiq bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadhbu bin Jusyam bin Al- Khazraj adalah sebagai berikut: Ziyad bin Labid bin Tsa'labah bin Sinan bin Amir bin Adi bin Umayyah bin Bayadhah. Ia ikut Perang Badar. Farwah bin Amr bin Wazhfah bin Ubaid bin Amir bin Bayadhah. Ia ikut Perang Badar. Ibnu Hisyam berkata: Wadfah bukan Wadzfah. Kemudian Khalid bih Qais bin Matik bin Al-Ajlan bin Amir bin Bayadhah. Ia ikut terlibat pada Perang Badar. Jumlah tiga orang.
Dari Bani Zuraiq bin Amir bin Zuiraiq bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadhbu bin Jusyam bin Al- Khazraj adalah sebagai berikut: Rafi' bin Malik bin Al-Ajlan bin Amr bin Amir bin Zuraiq. Ia termasuk salah seorang pemimpin pada Aqabah Pertama. Dzakwan bin Abdu Qais bin Khaldah bin Makhlad bin Amir bin Zuraiq. Ia menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam selama di Makkah, kemudian hijrah bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Madinah. Ada yang berpendapat bahwa ia adalah orang Muhajirin yang sekaligus orang Anshar. Ia ikut Perang Badar dan mati syahid di Perang Uhud. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khaladah bin Makhlad bin Amir bin Zuraiq. Ia ikut Perang Badar. Al-Harits bin Qais bin Khalid bin Amir bin Zuraiq. Ia adalah Abu Khalid. Ia ikut Perang Badar. Total empat orang.
Dari Bani Salimah bin Sa'ad bin Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jusyam bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Ubayd bin Adi bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah adalah sebagai berikut: Al-Barra' bin Ma'rur bin Shakr bin Khansa' bin Sinan bin Ubaid bin Adi bin Ghanim. Ia termasuk salah seorang pemimpin pada Aqabah Pertama. Bani Salimah mengklaim bahwa Al-Barra' bin Marur adalah orang yang pertama kali membaiat tangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menentukan syarat kepada beliau. Ia wafat sebelum Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah. Anak Al-Barra' bin Ma'rur yang bernama Bisyr bin Al-Barra' bin Ma'rur. Ia ikut Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Wafat di Khaybar karena memakan makanan beracun bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Dialah orang yang ditanya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada Bani Salimah: "Siapa pemimpin kalian, wahai Bani Salimah?" Mereka menjawab: "Al-Jadd bin Qais, meskipun ia kikir." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apakah masih ada penyakit yang lebih berbahaya daripada penyakit kikir?" Pemimpin Bani Salimah adalah orang yang wajahnya putih dan rambutnya bergelombang, yaitu Bisyr bin Al-Barra' bin Al-Ma'rur. Sinan bin Shaifi bin Shakhr bin Khansa' bin Sinan bin Ubaid. Ikut Perang Badar dan mati syahid di Perang Khandaq. Ath-Thufail bin An- Nu'man bin Khansa' bin Sinan bin Ubayd. Ikut Perang Badar dan mati syahid di Perang Khandaq. Ma'qil bin Al-Mundzir bin Sarh bin Khinas bin Sinan bin Ubaid. Ia ikut terlibat pada Perang Badar. Yazid bin Al-Mundzir bin Sarh bin Khinas bin Sinan bin Ubaid. Ikut terlibat pada Perang Badar. Mas'ud bin Yazid bin Sabi' bin Khansa' bin Sinan bin Ubaid. Adh-Dhahhak bin Haritsah bin Zaid bin Tsa'labah bin Ubad. Ikut terlibat pada Perang Badar. Yazid bin Khidzam bin Sabi' bin Khansa' bin Sinan bin Ubaid. Jubar bin Shakhr bin Umayyah bin Khansa' bin Sinan bin Ubayd. Ia ikut Perang Badar. Ibnu Hisyam berkata: Ada
 
yang mengatakan Jabbar —bukan Jubar— bin Shakhr bin Umayyah bin Khunas. Ath-Thufail bin Malik bin Khansa' bin Sinan bin Ubaid. Ia ikut Perang Badar. Total sebelas orang.
Dari Bani Sawwad bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah, kemudian dari Bani Ka'ab bin Sawwad hanya satu orang, yaitu Ka'ab bin Malik bin Abu Ka'ab bin Al-Qain bin Ka'ab.
Dari Bani Ghanim bin Sawwad bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah adalah sebagai berikut: Sulaim bin Amr bin Hadidah bin Amr bin Ghanim. Ia ikut terjun di Perang Badar. Quthbah bin Amir bin Hadidah bin Ghanim bin Amr. Ikut terjun di Perang Badar, Yazid Abu Al-Mundzir bin Amr bin Hadidah bin Amr bin Ghanim. Ia terjun di Perang Badar. Abu Al-Yasar. Nama aslinya adalah Ka'ab bir Amr bin Abbad bin Amr bin Ghanim. Iku: terjun di Perang Badar. Shaifi bin Sawwad bin Abbad bin Amr bin Ghanim. Total lima orang.
Ibnu Hisyam berkata: Shaifi adalah anak Aswad bin Abbad bin Amr bin Ghanim bin Sawwad. Padahal Sawwad tidak memiliki anak yang bernama Ghanim.
Dari Bani Nabi bin Amr bin Sawwad bir. Ghanim bin Ka'ab bin Salimah adalah sebaga: berikut: Tsa'labah bin Ghanimah bin Adi bin Nabi. Ia ikut terlibat pada Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Perang Khandaq, Amr bin Ghanimah bin Adi bin Nabi, Abbas bin Amir bin Adi. Ia ikut Perang Badar, Abdul¬lah bin Unais, sekutu Bani Nabi bin Amr dan Qudha'ah, Khalid bin Amir bin Adi bin Nabi. Total lima orang.
Dari Bani Haram bin Ka'ab bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah adalah sebagai berikut: Abdullah bin Amr bin Haram bin Tsa'labah bin Haram. Ia ikut terjun pada Perang Badar dan mati syahid di Perang Uhud, Anak Abdullah bin Amr yang bernama Jabir bin Abdullah, Muadz bin Amr bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram, ia ikut Perang Badar, Tsabit bin Al-Jidz'u. Al-Jidz'u adalah Tsa'labah bin Zaid bin Al-Harits bin Haram. Tsabit ikut Perang Badar dan gugur sebagai syahid di Thaif. Umair bin Al-Harits bin Tsa'labah bin Zaid bin Al-Harits bin Haram. Ia ikut terlibat pada Perang Badar.
Ibnu Hisyam berkata: Umair adalah anak Al-Harits bin Labdah bin Tsa'labah.
Ibnu Ishaq berkata: Khadij bin Salamah bin Aus bin Amr bin Al-Furafir, sekutu Bani Haram bin Ka'ab dari Bali, Muadz bin Jabal bin Amr bin Aidz bin Adi bin Kaab bin Amr bin Adi bin Sa'ad bin Ali bin Asad. Ada yang mengatakan Asad adalah anak Saridah bin Tazid bin Jusyam bin Al-Khazraj. Muadz bin Jabal hidup di Bani Salimah. Ikut terlibat pada Perang Badar dan perang-perang yang lain. Ia meninggal di Amwas pada tahun wabah penyakit lepra di Syam pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu. Ia bermarga Bani Salimah karena ia saudara seibu dengan Sahl bin Muhammad bin Al-Jidd bin Qais bin Shakhr bin Khansa' bin Sinan bin Ubaid bin Adi bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah. Total tujuh orang.
Dari Bani Auf bin Al-Khazraj kemudian dari Bani Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khazraj adalah sebagai berikut: Ubadah bin Ash-Shamit bin Qais bin Ashram bin Fihr bin Tsa'labah bin Ghanim bin Salim bin Auf. Ia termasuk salah seorang pemimpin di baiat Aqabah Pertama. Ikut terjun pada Perang Badar dan perang-perang lainnya. Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah bin Malik bin Al-Ajlan bin Zaid bin Ghanim bin Salim bin Auf. Ia termasuk orang yang mendatangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah, kemudian ia tinggal di sana. Jadi ia orang Muhajirin sekaligus Anshar. Gugur sebagai syahid di Perang Uhud, Abu Abdurrahman bin Yazid bin Tsa'labah bin Khazmah bin Ashram bin Amr bin Ammarah. Ia sekutu Bani Auf bin Al-Khazraj dari Bani Ghushainah dari Baly. Amr bin Al-Harits bin Labdah bin Amr bin Tsa'labah. Total empat orang.
 
Dari Bani Salim bin Ghanim bin Auf bin Al-Khazraj yang tidak lain adalah Bani Al- Hubla, adalah sebagai berikut: Rifa'ah bin Amr bin Zaid bin Amr bin Tsa'labah bin Malik bin Salim bin Ghanim. Ikut Perang Badar. Ia adalah Abu Al-Walid, Uqbah bin Wahb bin Kaldah bin Al-Ja'du bin Hilal bin Al-Harits bin
Amr bin Adi bin Jusyam bin Auf bin Buhtsah bin Abdullah bin Ghathafan bin Sa'ad bin Qais bin Ailan, sekutu Bani Salim bin Ghanim. Ikut Perang Badar dan termasuk orang yang mendatangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah. Ia seorang Muhajir dan Anshar sekaligus.
Ibnu Hisyam berkata: Total dari Bani Salim bin Ghanim berjumlah dua orang.
Dari Bani Sa'idah bin Ka'ab bin Al-Khazraj adalah sebagai berikut; Sa'ad bin Ubadah bin Dulaim bin Haritsah bin Abu Huzaimah bin Tsa'labah bin Tharif bin Al-Khazraj bin Sa'idah. Ia termasuk pemimpin di baiat Aqabah pertama, Al-Mundzir bin Amr bin Khunais bin Haritsah bin Laudzan bin Abdu Wadd bin Zaid bin Tsa'labah bin Jusyam bin Al-Khazraj bin Sa'idah. Ia termasuk pemimpin di baiat Aqabah Pertama. Ikut Perang Badar dan Perang Uhud dan mati syahid pada Perang Bi'ru Ma'unah, saat itu ia berstatus panglima perang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tentang Al-Mundzir bin Amr dikatakan:Ia bersegera berjalan untuk mati. Total dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dengan demikian, total orang-orang yang ikut hadir dalam baiat Aqabah Kedua dari Al-Aus dan Al-Khazraj adalah tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Beberapa ahli menyatakan bahwa kedua wanita tersebut ikut membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, namun beliau tidak menjabat tangan mereka dalam baiat. Beliau hanya mengambil baiat mereka saja. Manakala wanita-wanita itu telah menyatakan baiat, beliau bersabda: "Pergilah, karena aku telah membaiat kalian."67


Dari Bani Mazin bin An-Najjar adalah Nasibah binti Ka'ab bin Amr bin Auf bin Mab dzul bin Amr bin Ghanim bin Mazm atau yang dikenal dengan Ummu Imarah. Ia menyertai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan ditemani saudara perempuannya dalam peperangan, suaminya bernama Zaid bin Ashim bin Ka'ab, kedua anaknya yaitu Habib bin Zaid dan Abdullah bin Zaid. Anaknya, Habib ditawan Musailamah Al-Kadzdzab Si Pendusta Al-Hanafi, Penguasa Yamamah. Musailamah Al-Kadzdzab Al- Hanafi bertanya kepada Habib, "Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?" Habib bin Zaid menjawab, "Ya." Musailamah Al-Kadzdzab bertanya, "Kalau begitu, apakah engkau juga bersaksi bahwa aku utusan Allah?" Habib menjawab: "Pergilah kau ke neraka." Setelah itu, Musailamah Al- Kadzdzab memutilasi tubuh Habib bin Zaid hingga ia meninggal dunia di tangannya. Setiap kali nama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam disebutkan pada Habib bin Zaid, ia menyatakan beriman kepada beliau dan mengucapkan shalawat untuk beliau dan setiap kali nama Musailmah Al-Kadzdab Si Pendusta disebutkan padanya, ia berkata: "Pergilah ia ke neraka." Kemudian Ummu Imarah bersama kaum Muslimin berangkat menuju Yamamah. Ia terlibat langsung ke medan perang hingga akhirnya Allah menewaskan Musailamah. Dari Yamamah ia pulang dengan membawa dua belas luka akibat tikaman dan pukulan senjata.
Ibnu Ishaq berkata: Kisah tentang Ummu Imarah ini diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Yahya bin Hibban dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Sha'shaah.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Salimah adalah Ummu Mani'. Nama lengkapnya Asma' binti Amr bin Adi bin Nabi bin Amr bin Sawwad bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah.
 
Awal Mula Diwajibkannya Perang Kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam


Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al- Muthalibi ia berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di awal-awal dakwahnya kepada Allah, beliau tidak diizinkan membalas perlakuan kaum Quraisy, apalagi sampai memerangi mereka. Beliau hanya diperintahkan berdakwah dengan damai, bersabar dan memaafkan tindakan mereka. Kala itu, orang-orang Quraisy setiap menjumpa kaum Muhajirin yang mengikuti beliau maka mereka menyiksanya agar bisa memurtadkan mereka dari Islam dan kalau tidak bisa maka orang-orang Quraisy tersebut akan mengusir mereka dari negeri mereka. Di antara mereka ada yang lari ke Habasyah, ada yang lari ke Madinah dan ada yang lari ke negeri-negeri lain.
Di tengah-tengah krisis seperti itu maka Allah mengizinkan Rasul-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam berperang, melawan orang- orang yang menzalimi kaum Muslimin dan menindas mereka. Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang mengizinkan beliau berperang, darah dihalalkan bagi beliau dan memerangi orang-orang yang menindas beliau seperti dikatakan kepadaku dari Urwah bin Zubair dan ulama-ulama lain ialah firman Allah:


Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang- orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja- gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama
 
Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. al-Hajj: 39-41).
Yakni, Aku (Allah) mengizinkan perang kepada mereka, karena mereka telah dizalimi. Jika menang, maka mereka menegakkan shalat, berzakat, menganjurkan kepada perbuatan baik dan melarang dari perbuatan mungkar. Mereka yang dimaksud ialah Rasu- lullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.
Sesudah itu, Allah Tabaraka wa Ta 'ala menurunkan ayat selanjutnya:
Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada ada fitnah. (QS. al-Baqarah: 193). Yakni, agar orang Mukmin tidak difitnah karena agamanya. Allah juga berfirman Dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. (QS. al-Baqarah: 193). Maksudnya, agar Allah ditauhidkan
Ibnu lshaq berkata: Ketika Allah Ta'ala mengizinkan Rasulullah berperang, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan sahabat-sahabatnya kaum Muhajirin dari kaumnya dan kaum Muslimin yang lain di Makkah untuk hijrah ke Madinah dan bergabung dengan saudara-saudara mereka, kaum Anshar. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya kalian akan memiliki saudara-saudara dan negeri yang akan menjadikan kalian merasa aman di dalamnya." Lalu kaum Muslimin Makkah pun hijrah ke Madinah secara bergelombang, sementara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tetap berada di Makkah menunggu izin dari Tuhannya untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah.



Izin kepada Kaum Muslimin Makkah untuk Hijrah ke Madinah


Ibnu lshaq berkata: Orang yang pertama kali hijrah ke Madinah dari Bani Makhzum adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Kunyahnya adalah Abu Salamah. Ia hijrah ke Madinah setahun sebelum terjadinya baiat Aqabah.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar bercerita kepadaku dari Salamah bin Abdullah bin Umar bin Abu Salamah dari neneknya, Ummu Salamah Radhiyallahu Anha ia berkata. Tatkala Abu Salamah akan berangkat hijrah ke Madinah, ia menaikkanku bersama anakku, Salamah bin Abu Salamah yang berada di dalam pangkuanku ke atas punggung untanya. Ia lalu berjalan dengan menuntun kami. Saat orang- orang Bani Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum melihatnya, mereka pergi menyongsongnya dan bertanya: "Sepanjang menyangkut dirimu sendiri maka kami telah bebaskan engkau. Namun bagaimana dengan sahabat (isterimu) ini (yakni Ummu Salamah)? Atas dasar apa kami akan membiarkannya dia pergi dengannnya dari negeri ini?" Ummu Salamah berkata: Mereka menarik tali kekang unta dari tangan Abu Salamah dan mengambilku darinya. Melihat kejadian tersebut, Bani Abdul Asad, sanak kerabat Abu Salamah marah besar. Mereka berkata: "Demi Allah, kami tidak akan membiarkan anak kami di sisi ibunya jika mereka telah mengambil ibunya." Mereka memperebutkan anakku Salamah, hingga akhirnya Bani Abdul Asad berhasil mengambil anakku, kemudian mereka
 
membawanya ke tempat mereka. Sementara aku ditahan Bani Al-Mughirah di kediaman mereka. Suamiku Abu Salamah tetap hijrah ke Madinah. Aku suami dan anakku masing-masing hidup terpisah. Setelah peristiwa tersebut, pada setiap pagi aku keluar ke lembah sambil menangis. Peristiwa ini berlangsung kurang lebih setahun. Suatu hari lewatlah salah seorang sepupuku. Melihat keadaan diriku, ia merasa kasihan sekali kepadaku. Ia berkata kepada Bani Al-Mughirah: "Apa kalian tidak punya belas kasih terhadap wanita ini? Dengan kondisinya yang seperti ini!" Bani Al-Mughirah berkata kepadaku: "Ya sudah, sana, susullah suamimu." Sesudah itu, Bani Abdul Asad menyerahkan kembali anakku kepadaku, lalu kami berangkat ke Madinah menyusul suamiku. Kami hanya berdua tanpa ditemani seorangpun saat itu sampai kami tiba di At-Tan'im, dan bertemu dengan Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah, saudara Bani Abduddar. Ia bertanya kepadaku: "Mau pergi ke mana, wahai putri Abu Umayyah?" Aku menjawab: "Menyusul suamiku di Madinah." Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah bertanya: "Kenapa kalian cuma berdua? Demi Allah, kalian harus ditemani." Utsman bin Thalhah bin Abu Thaihah mengambil tali kekang unta, kemudian ia menuntun untaku dengan cepat hingga kami berhasil tiba di Madinah. Ketika ia melihat desa Bani Amr bin Auf di Quba', ia berkata: "Suamimu ada di desa ini. Masuklah ke dalamnya dengan berkah Allah!'" Usai mengantarkanku ke Madinah, Utsman bin Thalhah kembali pulang ke Makkah.
Ibnu Ishaq berkata: Setelah Abu Salamah tiba di Madinah, maka yang menyusulnya ke sana adalah Amir bin Rabi'ah sekutu Bani Adi bin Ka'ab beserta istrinya, Laila binti Abu Hatsmah bin Ghanim bin Abdullah bin Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi bin Ka'ab. Kemudian Abdullah bin Jahsy bin Riab bin Ya'mur bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanim bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah sekutu Bani Umayyah bin Abdu Syams. Abdullah bin Jahsy membawa hijrah istri dan saudaranya, Abd bin Jahsy yang lebih dikenal dengan nama Abu Ahmad. Abu Ahmad adalah seorang tuna netra. Ia mengelilingi Makkah Atas dan Makkah Bawah tanpa ada yang menuntunnya. Ia juga seorang penyair yang beristrikan Al-Far'ah binti Abu Sufyan bin Harb dan ibu Al-Far'ah bernama Umaimah binti Abdul Muthalib bin Hasyim. Rumah Abdullah bin Jahsy karena semua peng huninya hijrah ke Madinah. Suatu ketika, Utbah bin Rabi'ah, berjalan melewati rumah Abdullah bin Jahsy, saat itu ia melihat pintu rumah tersebut bargerak-gerak oleh hembusan angin seolah-olah di dalamnya tidak ada penghuninya. Ketika ia melihat rumah tersebut, ternyata dugaannya benar, ia menghela nafas panjang, kemudian ia berkata:
Semua rumah, walau sekian lama ia sejahtera akhirnya Suatu waktu ia akan ditimpa musibah dan dan bencana

Ibnu Hisyam berkata: Bait di atas adalah milik Abu Duwad Al-Iyadi dalam kumpulan syair-syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Utbah bin Rabi'ah berkata: "Rumah Bani Jahsy kini kosong tanpa penghuni." Abu Jahal berkata: "Tiada seorangpun yang akan meratapi rumah itu." Labid bin Rabiah berkata:
Semua Bani Hurrah akhirnya adalah sedikit Walaupun jumlah mereka demikian banyak

Kemudian Abu Jahal berkata: "Ini semua gara-gara ulah anak saudara Si Fulan. Ia memecah belah persatuan kita, dan memutus hubungan di antara kita."
Di Madinah Abu Salamah bin Abdul Asad, Amir bin Rabi'ah, Abdullah bin Jahsy dan saudara Abdullah bin Jahsy, yaitu Abu Ahmad bin Jahsy tinggal di rumah Mubasysyir bin Abdul Mundzir bin Zanbar di Quba' di Bani Amr bin Auf. Setelah itu, kaum Muhajirin baik yang laki-laki ataupun wanita hijrah ke Madinah secara bergelombang. Mereka adalah Bani Dudan yang telah masuk Islam, lalu di susul
 
Abdullah bin Jahsy, saudara Abdullah bin Jahsy yang bernama Abu Ahmad bin Jahsy, Ukasyah bin Mihshan, Syuja' bin Wahb, Uqbah bin Wahb, Arbad bin Humayyirah,
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Ibnu Humayrah.
Ibnu Ishaq: Kemudian diikuti Munqidz bin Nubatah, Sa'id bin Ruqaisy, Mahraj bin Nadhiah, Yazid bin Ruqaisy, Qais bin Khabir, Amr bin Mihshan, Malik bin Amr, Shafwan bin Amr, Tsaqaf bin Amr, Rabi'ah Aksyam, Az-Zubayr bin Ubaydah, Tammam bin bin Ubaydah, Sakhbarah bin Ubaydah dan Muhammad bin Abdullah bin Jahsy.
Sementara yang wanita, mereka adalah Zainab binti Jahsy, Ummu Habib bi Jahsy, Judzamah binti Jandal, Ummu Qais binti Mihshan, Ummu Habib binti Tsumamah, Aminah binti Ruqaisy, Sakhbarah binti Tamim dan Hamn binti Jahsy.



Hijrahnya Umar bin Khaththab dan Kisah Ayyasy


Ibnu Ishaq berkata: Umar bin Khaththab dan Ayyasy bin Abi Rabi'ah Al-Makhzumi lalu berhijrah ke Madinah.
Nafi' eks budak Abdullah bin Umar bercerita kepadaku dari Abdullah bin Umar dari ayahnya, Umar bin Khaththab ia berkata: Sebelum kami berangkat hijrah ke Madinah, aku, Ayyasy bin Abu Rabi'ah dan Hisyam bin Al-Ash bin Wail As-Sahmi bersepakat terlebih dahulu untuk bertemu di Tanadhub, di reruntuhan pohon Adat bin Ghifar di atas Sarif. Kami berkata: "Seandainya besok salah seorang dari kita tidak berada di tempat tersebut, berarti telah terjadi sesuatu padanya dan bagaimanapun dua orang lainnya tetap harus berangkat ke Madinah." Pagi harinya, aku dan Ayyasy bin Abu Rabi'ah berada di Tanadhub. Hisyam bin Al-Ash tidak datang ke tempat tersebut, karena ia mendapat siksaan.
Tiba di Madinah, kami beristirahat di Bani Amr bin Auf di Quba'. Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam berangkat Madinah untuk menemui Ayyasy bin Abu Rabi'ah. Ayyasy bin Abu Rabi'ah ada- lah paman keduanya dan saudara seibu keduanya. Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam tiba di Madinah pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masih berada di Makkah. Keduanya berbicara dan berkata dengan Ayyasy bin Abu Rabi'ah: "Ibumu bersumpah, bahwa ia tidak akan menyisir rambutnya hingga ia melihatmu dan ia tidak akan terus berteduh di bawah sinar matahari hingga melihatmu." Ayyasy bin Abu Rabi'ah terenyuh hatinya mendengar cerita keduanya. Aku berkata kepada Ayyasy: "Wahai Ayyasy, demi Allah, sesungguhnya dua orang Quraisy ini hanya menipumu, mereka ingin memurtadkanmu dari Islam, maka waspadalah dari tipudaya mereka. Demi Allah, jika ibumu terganggu oleh gatalnya kutu, pastilah ia menyisir rambutnya dan jika terik matahari Makkah membara, pastilah ia berteduh." Ayyasy bin Abu Rabi'ah berkata: "Aku akan membayar sumpah ibuku. Di sana, aku mempunyai sejumlah uang dan aku akan mengambilnya." Aku berkata kepada Ayyasy bin Abu Rabi'ah: "Janganlah engkau pergi bersama Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam." Ayyasy bin Abu Rabi'ah mengacuhkan saranku ia lebih tertarik pulang bersama Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam. Ketika akan berangkat pulang ke Makkah, aku katakan kepada Ayyasy, "Jika engkau akan tetap bersikukuh melakukan apa yang engkau inginkan, ambillah untaku ini, karena ia unta yang lincah dan penurut dan tetaplah berada di atas punggungnya. Jika engkau mencium ada sesuatu yang mencurigakan pada mereka berdua ini, selamatkan dirimu dengan unta
 
ini." Kemudian Ayyasy bin Abu Rabi'ah pulang ke Makkah bersama Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam.
Di tengah jalan, Abu Jahal bin Hisyam berkata kepada Ayyasy bin Abu Rabi'ah, "Demi Allah, wahai saudaraku, sepertinya saya keliru dalam memilih untaku ini. la tidak bisa berjalan mengiringi untamu." Ayyasy bin Abu Rabi'ah berkata: "Ya betul." Kemudian Ayyasy bin Abu Rabi'ah turun dari untanya. Begitu juga Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam. Ketika mereka bertiga berada di atas tanah, tiba-tiba Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam mengikat Ayyasy bin Abu Rabi'ah, membawanya masuk Makkah dan menyiksanya.
Ibnu lshaq berkata: Sebagian keluarga Ayyasy bin Abu Rabi'ah berkata kepadaku, ketika Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam membawa Ayyasy bin Abu Rabi'ah memasuki Makkah. Keduanya membawa Ayyasy dalam keadaan terikat di malam hari. Keduanya berkata: "Hai orang-orang Makkah, coba kalian lihat orang bodoh ini."



Surat Umar bin Khattab Pada Hisyam bin Al-'Ash


Ibnu lshaq berkata: Nafi' bercerita kepadaku dari Abdullah bin Umar dari Umar bin Khaththab dalam kisahnya. Umar bin Khaththab berkata: Allah tidak menerima taubat orang yang murtad karena takut siksa, yaitu mereka yang mengenal Allah, kemudian kembali kafir karena tidak tahan dengan cobaan yang menderanya. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, Allah Ta'ala mewahyukan padanya ayat tentang mereka, tentang ucapan kami dan ucapan mereka terhadap diri mereka:


Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah YangMaha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak
 
dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya (QS. az-Zumar: 53-55).
Umar bin Khaththab melanjutkan: "Maka aku tulis ayat di atas dalam lembaran, kemudian aku kirimkan kepada Hisyam bin Al-Ashi. Hisyam bin Al-Ashi berkata: Dia berkata: Hisyam bin al-Ashi berkata: "Tatkala surat tersebut sampai padaku, aku membawanya di Dzi Thuwa untuk dibaca. Saat aku baca surat tersebut, aku tidak bisa memahaminya, hingga aku berkata: "Ya Allah, karuniakan pemahaman kepadaku!" Kemudian Allah menganugrahi pemahaman ke dalam hatiku, bahwa ayat tersebut diturunkan tentang kami, apa yang kami katakan untuk diri kami dan apa yang diucapkan tentang kami. Aku segera menaiki untaku, kemudian pergi menyusul Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang saat itu sudah berada di Madinah.



Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah Keluar Menuju Mekah Membawa Ayyasy bin Abi Rabi'ah dan Hisyam bin Al-Ash


Ibnu Hisyam berkata: Orang yang aku percayai bercerita kepadahu bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat berada di Madinah pernah bersabda: "Siapa yang bisa membebaskan Ayyasy bin Abu Rabi'ah dan Hisyam bin Al-Ash untukku?" Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Aku!" Kemudian Al-Walid bin Al-Walid bin Al- Mughirah keluar Madinah menuju Mekkah dan tiba di sana tanpa seorangpun tahu. la bertemu seorang wanita yang membawa makanan. Ia bertanya kepada wanita tersebut: "Boleh aku tahu ke mana kau akan pergi dengan makanan itu?" Wanita tadi menjawab: "Aku akan pergi kepada Ayyasy dan Hisyam yang sedang ditahan." Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah mengikuti wanita itu hingga ia tahu tempat dua orang yang ditahan itu. Kedua orang itu ditahan di rumah yang tidak dipasangi genteng. Sore harinya, Al-Walid bin Al-Walid bin Al- Mughirah memanjat tembok rumah tersebut dan membebaskan Ayyasy dan Hisyam. Setelah itu, Al- Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah menaikkan Ayyasy bin Abu Rabi'ah dan Hisyam bin Al-Ash ke atas punggung untanya. Kemudian ia tuntun unta yang membawa keduanya hingga sampai di Madinah di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.



Rumah-rumah Penampungan Kaum Muhajirin di Madinah


Ibnu Ishaq berkata: Saat tiba di Madinah, Umar bin Khaththab disertai keluarganya, kaumnya yang hijrah, saudaranya yang bernama Zaid bin Khaththab, Amr bin Suraqah bin Al-Mu'tamir, Abdullah bin Al-Mu'tamir, Khunais bin Hudzafah As-Sahmi suami putrinya yang bernama Hafshah binti Umar bin Khaththab. Sepeninggal suaminya, Hafshah dinikahi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail, Waqid bin Abdullah At-Taimi, sekutu mereka, Khauli bin Abu Khauli, Malik bin Khauli, sekutu mereka. Dan anak-anak Al-Bukair yang empat orang yaitu: Iyas bin Al-Bukair, Aqil bin Al-Bukair, Amir bin Al-Bukair dan Khalid bin Al-Bukair, sekutu mereka dari Bani Sa'ad bin Laits; mereka tinggal di rumah Rifa'ah bin Abdul Mundzir bin Zanbar di Bani Amr bin Auf di Quba. Iyas bin Rabi'ah juga ikut tinggal di rumahnya ketika ia tiba di Madinah.
 
Setelah itu kaum Muhajirin secara bergelombang mendatangi Madinah. Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman dan Shuhaib bin Sinan tinggal di rumah Khubaib bin Isaf, saudara Balharits bin AI-Khazraj di As-Sunh. Ada yang mengatakan, Thalhah bin Ubaidillah tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, saudara Bani An-Najjar.
Ibnu Hisyam berkata: Aku mendapat in- formasi dari Abu Utsman An-Nahdi bahwa ia berkata: Tatkala Shuhaib Ar-Rumi akan berangkat hijrah, orang-orang Quraisy berkata kepadanya: "Dulu engkau miskin dan hina, lalu kami membuatmu kaya dan menjadi terhormat. Apakah setelah itu engkau akan pergi begitu saja dengan membawa kekayaanmu dan dirimu? Demi Allah, ini adalah hal yang sangat memalukan!" Shuhaib berkata kepada mereka: "Apa maksud kalian aku harus menyerahkan kembali harta kekayaan ini pada kalian?" Mereka menjawab: "Ya." Shuhaib berkata: "Jika demikian aku serahkan semua kekayaanku kepada kalian." Peristiwa ini di dengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian beliau bersabda: "Shuhaib telah selamat dan ia sungguh beruntung."
Ibnu Ishaq berkata: Setelah itu datanglah Hamzah bin Abdul Muthalib, Zaid bin Hari tsah, Abu Martsad Kannaz bin Hishn. Ibnu Hisyam berkata: Abu Martsad Kannaz adalah anak Hushain, anak Kannaz bin Hishn yang bernama Martsad Al-Ghanawiyyan, sekutu Hamzah bin Abdul Muthalib, Anasah dan Abu Kabsyah -keduanya mantan budak Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam- mereka menetap di rumah Kultsum bin Hidam, saudara Bani Amr bin Auf di Quba. Ada yang mengatakan mereka menetap di rumah Sa'ad bin Khaitsamah. Ada lagi yang menceritakan Hamzah bin Abdul Muthalib menetap di rumah As'ad bin Zurarah, saudara Bani An-Najjar.
Adapun Ubaid bin Al-Harits bin Al-Muththalib, Ath-Thufail bin Al-Harits, Al-Hushain bin Al-Harits, keduanya saudara Ubaid, Misthah bin Utsatsah bin Ibad bin Al-Muthalib, Suwaibith bin Sa'ad bin Harmalah saudara Bani Abduddar, Thulaib bin Umair saudara Bani Abd bin Qushay dan Khabbab eks budak Utbah bin Ghazwan tinggal di rumah Abdullah bin Salimah saudara Bal'ijlan di Quba'.
Sementara Abdurrahman bin Auf bersama sejumlah kaum Muhajirin, mereka menetap di rumah Sa'ad bin Ar-Rabi' saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj di pemukiman Al- Harits bin Al-Khazraj.
Adapun Zubair bin Awwam dan Abu Sab- rah bin Abu Ruhm bin Abdul Uzza tinggal di rumah Mundzir bin Muhammad bin Uqbah bin Uhaihah bin Al-Julaj di Al-Ushbah di komplek Bani Jahjabi.
Mush'ab bin Umair, saudara Bani Abduddar menetap di rumah Sa'ad bin Muadz bin An-Nu'man, saudara Bani Abdul Asyhal tinggal di perkampungan Bani Abdul Asyhal.
Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah, Salim eks budak Hudzaifah. Ibnu Hisyam berkata: Salim eks budak Abu Hudzaifah adalah Saibah, budak yang dimerdekakan yang hak kepemilikannya tidak diserahkan pada pemiliknya, milik Tsubaytah binti Ya'ar bin Zaid bin Ubaid bin Malik bin Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus. Tsubaytah memutus hak pemilikan Salim kemudian Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah mengadopsinya. Maka dipanggillah dia dengan Salim eks budak Abu Hudzaifah. Ada lagi yang mengatakan Tsubaytah adalah istri Abu Hudzaifah bin Utbah, kemudian Tsubaytah memerdekakan Salim, maka dikatakan bahwa Salim adalah mantan budak Abu Hudzaifah.
Ibnu Ishaq berkata: Dan Utbah bin Ghaz- wan bin Jabir menetap di rumah Ibad bin Bisyr bin Waqsy, saudara Bani Abdul Asyhal di komplek permukiman Abdul Asyhal.
Utsman bin Affan menetap di rumah Aus bin Tsabit bin Al-Mundzir saudara Hassan bin Tsabit di perumahan Bani An-Najjar. Oleh karena itu Hassan bin Tsabit amat mencintai Utsman bin Affan dan begitu berduka saat mendengar dia dibunuh.
 
Sementara para bujangan kaum Muhajirin semuanya tinggal di rumah Sa'ad bin Khaitsamah. Karena diajuga seorang bujangan. Wal- lahu a'lam, mana yang paling benar.



Hijrahnya Rasulullah dan Berbagai Macam Tantangan yang Dihadapi


Ibnj Ishaq berkata: Meski para sahabat telah hijrah ke Madinah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masih tetap menetap di Mak- kah menunggu diizinkan untuk hijrah. Hampir seluruh kaum Muhajirin telah hijrah ke Madinah, kecuali sahabat yang ditahan atau orang yang disiksa, dan Ali bin Abu Thalib serta Abu Bakar bin Abu Quhafah. Abu Bakar sudah beberapa kali memohon kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam agar bisa hijrah ke Madinah, namun beliau selalu bersabda kepadanya: "Jangan terburu-buru, semoga Allah memberimu teman untuk hijrah." Abu Bakar merasa tersanjung bila ia bisa menemani Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhijrah.



Pemuka-Pemuka Quraisy Berkumpul dan Bermusyawarah Membicarakan Rasulullah


Ibnu Ishaq berkata: Tatkala orang-orang Quraisy menyadari bahwa pengikut dan sahabat-sahabat Rasulullah semakin bertambah banyak di negeri lain selain negeri mereka dan hijrahnya kaum Muhajirin ke Madinah secara bergelombang, mereka pun mulai mengambil ancang-ancang menyusun strategi baru agar bisa menghalangi hijrahnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke Madinah. Mereka juga menyadari bahwa kaum Muslimin telah bersepakat untuk memerangi mereka. Karena itulah, mereka segera menyelenggarakan rapat di Daar An-Nadwah membahas Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Semula Daar An-Nadwah adalah rumah milik Qushay bin Kilab. Orang-orang Quraisy selalu memutuskan setiap perkara, melainkan mereka bermusyawarah di rumah ini. Di Daar An- Nadwah ini pula, mereka menggelar rapat membahas Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tatkala mereka khawatir kepada beliau.
Ibnu Ishaq berkata: Seseorang dari sahabatku yang sangat jujur berkata kepadaku dari Abdullah bin Abu Najih dari Mujahid bin Jabr Abu Al-Hujjaj dan dari orang lain yang tidak aku sangkal kejujurannya dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata: Orang-orang Quraisy akhirnya menyelenggarakan rapat di Daar An-Nadwah guna membahas Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, pada hari Yawmu Az-Zahmah. Pada hari itu, mereka dicegat iblis yang menjelma menyerupai seorang tua yang berwibawa yang memakai mantel kemudian ia berdiri di depan pintu Daar An-Nadwah. Ketika orang Quraisy melihatnya, mereka bertanya kepadanya: "Siapa Anda?" Iblis menjawab: "Aku penduduk Najed. Aku dengar kalian akan mengadakan rapat membahas Muhammad. Aku ingin menyertai rapat kalian agar kalian bisa mendengarkan pendapat dan nasihat dariku." Orang-orang Quraisy berkata: "Baik, silahkan masuk!" Iblis pun masuk bersama mereka.
Pemuka-pemuka Quraisy dari Bani Syams yang ikut hadir di Daar An-Nadwah adalah Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah dan Abu Sufyan bin Harb.
Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf adalah sebagai berikut: Thu'aimah bin Adi, Jubayr bin Muth'im, Al- Harits bin Amir bin Naufal.
 
Dari Bani Abduddar bin Qushay hanya satu orang, yaitu An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah.
Dari Bani Asad bin Abdul Uzza adalah sebagai berikut: Abu Al-Bakhtari bin Hisyam, Zam'ah bin Al- Aswad bin Al-Muthalib, Hakim bin Hizam.
Dari Bani Makhzum hanya satu orang, yaitu Abu Jahal bin Hisyam.
Dari Bani Sahm adalah sebagai berikut: Nubaih bin Al-Hajjaj, Munabbih bin Al-Hajjaj.
Dari Bani Jumah ialah Umayyah bin Khalaf, orang-orang yang ikut bersama mereka dan orang-orang lain yang bukan dari orang-orang Quraisy.
Sebagian dari mereka membuka pembicaraan kepada sebagian yang lain: "Sesungguhnya orang ini semakin berbahaya saja. Demi Allah, kita tidak merasa aman jika sewaktu-waktu para pengikutnya yang berasal dari selain kita menyerang kita. Oleh karena itu, apa yang harus kita lakukan pada orang ini.
Salah seorang dari mereka berkata: "Bagaimana kalau dia kita penjara saja sebagaimana menimpa para penyair sebelumnya, seperti Zuhair dan An-Nabighah dan orang-orang yang mati sebelumnya hingga ia mengalami seperti apa yang mereka alarm."
Iblis berkata: "Demi Allah, ini bukanlah sebuah pandangan yang paling tepat untuk kalian. Sebab, jika kalian memenjarakannya tetap saja ia bisa berkomunikasi dan memberi perintah kepada para sahabatnya, kemudian mereka menyerang kalian dan membebaskannya. Ini bukan pandangan yang tepat. Carilah pandangan yang lain!"
Salah seorang dari mereka berkata: "Bagaimana kalau kita usir saja dia dari negeri kita lalu kita asingkan ke negeri lain. Bukankah jika dia telah diusir dari negeri kita, maka kita tidak terlalu resah dia akan pergi ke mana dan akan singgah di mana. Dengan begitu, kita tidak terganggu olehnya, kemudian kita bersatu seperti semula."
Iblis berkata: "Demi Allah, ini juga bukan pandangan yang paling tepat buat kalian. Tidakkah kalian perhatikan retorika yang indah, manis dan apalagi ia memiliki daya pikat yang mana apabila orang Arab di negeri lain mendengarnya, maka mereka akan mengikutinya, kemudian dia bersama mereka berangkat ke tempat kalian, lalu mereka menginjak negeri kalian dan merampas kepemimpinan dari tangan kalian. Carilah pandangan yang lain!"
Abu Jahal berkata: "Demi Allah, sesungguhnya aku mempunyai ide yang lebih brilian dari kalian." Mereka berkata: "Apa itu, wahai Abu Al-Hakam." Abu Jahal berkata: "Bagaimana kalau kita kerahkan para pemuda yang tangguh dalam bertarung untuk membunuhnya sehingga kita bisa tenang setelah kematiannya. Jika para pemuda tersebut berhasil melakukannya, maka banyak kabilah yang akan mendukung mereka dan Bani Abdu Manaf tidak akan kuasa membalas dendam. Jika mereka meminta uang ganti rugi, kita berikan saja."
Iblis berkata: "Inilah pandangan yang paling tepat." Setelah itu orang-orang Quraisy berpencar dan melaksanakan usulan Abu Jahal.



Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallatn Keluar dan Ali Menggantikan Posisinya di Kasurnya
 
Abdullah bin Abbas berkata: Malaikat Jibril menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: "Malam ini kau tidak boleh tidur di kasurmu." Saat tengah malam tiba, para pemuda Quraisy bergerak menuju rumah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk menghabisi beliau. Ketika, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengetahui kedatangan mereka, beliau berkata kepada Ali bin Abu Thalib: "Tidurlah di ranjangku dan selimuti seluruh badanmu dengan selimut yang berwarna hijau ini." Biasanya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memakai selimut tersebut untuk tidur.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ziyad ber¬kata kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab Al-Qurazhi ia berkata: "Para pemuda Quraisy akhirnya sampai di depan pintu rumah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dengan ditemani Abu Jahal. Abu Jahal berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Muhammad menduga bahwa jika kalian mengikutinya, agar kalian menjadi pemimpin bagi orang-orang Arab dan orang-orang non-Arab, setelah kalian mati maka kalian dibangkitkan dan kalian dianugerahi surga laksana taman-taman Yordania. Namun, jika tidak mengikutinya, maka kalian akan dibunuh, lalu setelah mati kalian akan dibangkitkan lalu diazab di neraka."
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar menemui mereka sambil menggenggam tanah, lalu bersabda: "Memang benar, aku pernah mengatakan seperti itu dan engkau (wahai Abu Jahal) termasuk salah seorang penghuni neraka." Allah Ta'ala lalu membutakan penglihatan mereka hingga tidak bisa melihat beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu menaburkan tanah ke atas kepala mereka sambil membaca ayat-ayat berikut:


Yaa Siin. Demi Al Qur'an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (QS. Yaasiin:1-9).
Setelah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi meninggalkan mereka ke tempat yang beliau kehendaki. Tidak lama kemudian, iblis yang menyamar menjadi orang tua dari Nejed itu datang
 
menemui mereka dan berkata: "Apa yang sedang kalian tunggu?" Mereka menjawab: "Kami sedang menunggu Muhammad." Iblis berkata: "Allah telah menggagalkan rencana kalian. Demi Allah, Muhammad telah keluar dari rumahnya saat kalian masih di sini, ia menaburkan tanah ke atas kepala kalian semua, lalu pergi. Apa kalian tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi?" Mereka masing- masing meletakkan tangannya ke atas kepala mereka dan mendapatkan tanah di atas kepala. Namun mereka tetap tidak percaya, mereka mengintip lewat celah rumah yang berlubang dan ternyata ada seseorang tertidur di ranjang berselimutkan.
Mereka berkata: "Demi Allah, pasti dia Muhammad sedang tidur mengenakan selimut." Mereka tidak meninggalkan rumah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga pagi hari.
Ali bin Abu Thalib bangun dari ranjang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Para pemuda Quraisy berkata: "Demi Allah, orang yang tadi malam berkata benar!"
Ibnu lshaq berkata: Di antara ayat-ayat: yang mengisahkan peristiwa di atas dan kesepakatan pemuda- pemuda Quraisy adalah sebagai berikut:


Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan day a upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (QS. al-Anfal: 30).
Dan firman Allah Ta'ala:


Bahkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya." Katakanlah: "Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu ° (QS. ath-Thuur: 30-31).
Ibnu Hisyam berkata: Almanuun artinya: kematian, dan raybal manun artinya yang disangsikan. Saat itulah, Allah Ta'ala mulai mengizinkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhijrah.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Bakar adalah konglomerat kaya raya. Pada saat ia meminta izin kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk berhijrah, beliau bersabda: "Janganlah terburu-buru. Semoga Allah memberimu teman." Abu Bakar sangat meng- harapkan orang yang dimaksud Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam adalah dirinya sendiri. Lalu dia membeli dua unta, dia simpan keduanya di rumahnya dan memberinya makan dan minum agar kuat berjalan hingga menuju Madinah.
 
Rasulullah Hijrah ke Madinah


Ibnu Ishaq berkata: Orang yang sangat kredibel berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Aisyah Ummul Mukmirm yang berkata: "Pada hari Allah mengizinkan Rasulullah hijrah keluar dari Makkah meninggalkan kaumnya, beliau mendatangi kami siang hari, padahal beliau biasanya datang kepada kami pada waktu pagi dan sore. Abu Bakar berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak biasa datang pada waktu seperti ini, pasti ada sesuatu yang sangat penting." Saat itu di rumah Abu Bakar tidak ada siapa-siapa kecuali aku (Aisyah) dan saudari perempuanku Asma' binti Abu Bakar. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa saja yang ada bersamamu saat ini?" Abu Bakar menjawab: "Wahai Rasulullah, di rumah ini hanya ada dua anakku." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku hijrah dan keluar dari Makkah." Abu Bakar berkata: "Apakah aku yang menyertaimu wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya!" Aisyah berkata: "Demi Allah! Mendengar itu
Abu Bakar langsung menangis karena gembira!" Abu Bakar berkata: "Wahai Nabi Allah, aku sudah menyiapkan dua unta ini untuk hijrah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar menyewa Abdullah bin Uraiqith, seorang dari Bani Ad-Dail bin Bakr dan ibunya berasal dari Bani Sahm bin Amr. Abdullah bin Uraiqith adalah orang musyrik sebagai penunjuk jalan bagi keduanya. Abu Bakar menitipkan kedua untanya kepada Abdullah bin Uraiqith dan akan mengambilanya kembali sampai hari yang telah ditentukan.68


Ibnu Ishaq berkata: Tidak ada orang yang mengetahui keluarnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kecuali Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar dan keluarga Abu Bakar. Adapun Ali bin Abu Thalib, beliau memerintahkannya mengembalikan titipan manusia yang dititipkan kepada beliau. Sudah jamak bahwa orang-orang musyrik Makkah jika khawatir hartanya hilang atau dicuri, mereka biasanya menitipkannya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, karena kejujuran dan sifat amanah beliau.



Rasulullah Bersama Abu Bakar di Gua Tsur


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar bin Abu Quhafah, lalu keluar dari pintu rahasia rumah Abu Bakar menuju Gua Tsur di gunung Makkah Bawah dan masuk ke dalamnya. Abu Bakar memerintahkan anaknya, Abdullah bin Abu Bakar melihat perkembangan berita tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar di siang hari, kemudian di senja hari ia melaporkan kepada keduanya. Selain itu, Abu Bakar menyuruh mantan budaknya, Amir bin Fuhairah agar menggembalakan kambingnya di siang hari di dekat Gua Tsur dan pada senja harinya ia membawa kambing tersebut kepada keduanya di gua. Abu Bakar menugaskan Asma binti Abu Bakar mengantarkan makanan yang cukup kepada keduanya.
 
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian pakar berkata kepadaku, Al-Hasan bin Al-Hasan Al-Bashri berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar sampai di gua pada malam hari. Abu Bakar masuk lebih dahulu ke dalam gua melihat apakah di dalamnya terdapat binatang buas atau ular? Ia ingin melindungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan dirinya sendiri.



Kedua Anak Abu Bakar dan Ibnu Fuhairah Menunaikan Tugas untuk Rasulullah dan Sahabatnya Saat Keduanya Berada di dalam Gua


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar berada di gua selama tiga hari. Saat orang-orang Quraisy menyadari bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sudah tidak ada di Mekah, mereka menyelenggarakan sayembara dengan hadiah seratus unta bagi siapa saja yang bisa membawa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hidup-hidup kepada mereka. Pada siang hari, Abdullah bin Abu Bakar berada di tengah-tengah mereka untuk mendengarkan rencana mereka kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar. Sore harinya, ia pergi ke gua dan melaporkan semua informasi yang ia dengar kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar. Sedangkan Amir bin Fuhairah, mantan budak Abu Bakar, ia tetap menggembala kambing bersama orang-orang Makkah sebagaimana biasanya
dan pada sore harinya ia membawa kambing tersebut kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar, lalu keduanya memerahnya dan menyembelihnya. Jika Abdullah bin Abu Bakar kembali ke Makkah, Amir bin Fuhairah berjalan menutupi jejak kakinya dengan kambing hingga jejak kakinya terhapus. Hingga tatkala tiga hari berlalu dan orang-orang Makkah tidak lagi riuh rendah membahas tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar, maka orang yang disewa oleh keduanya datang dengan membawa unta keduanya serta unta miliknya. Asma' binti Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma juga datang dengan membawa makanan untuk bekal perjalanan.



Abu Bakar Memberikan Unta Kendaraannya Kepada Rasulullah


Ibnu Ishaq berkata: Abu Bakar Radhiyallahu Anhu lalu mempersilahkan menaiki unta yang paling baik kepada beliau. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama Abu Bakar menaiki untanya masing-masing. Abu Bakar berjalan di belakang Amir bin Fuhairah mantan budaknya agar ia memandu perjalanan keduanya.
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu dari Asma' binti Abu Bakar Radhiyallahu Anha yang berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar telah berangkat, beberapa orang Quraisy termasuk Abu Jahal datang ke rumah kami. Mereka mengetok pintu rumah, lalu aku keluar menemui mereka. Mereka berkata: "Mana ayahmu?" Aku berkata: "Aku tidak tahu ke mana ayahku pergi." Abu Jahal lalu menampar pipiku sampai anting-antingku terlepas dari telingaku. Setelah itu, mereka pergi.
Ibnu Hisyam berkata: Ummu Ma'bad adalah putri Ka'ab. Ia wanita dari Bani Ka'ab dari Khuza'ah. Bait syair, "Dua orang bersahabat yang singgah di tenda Ummu Ma'bad," dan bait syair, "Keduanya tiba dengan membawa kebaikan lalu pergi di sore hari," berasal dari selain Ibnu Ishaq.
 
Ibnu lshaq berkata bahwa Asma'binti Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma berkata:
"Pada saat kami mendengar untaian syair orang tadi, kami pun menyadari ke mana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi, dan arah tujuan beliau tidak lain adalah ke Madinah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi ditemani tiga orang, yaitu: Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, Amir bin Fuhairah mantan budak Abu Bakar, dan Abdullah bin Arqath sang penunjuk jalan.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebut Abdullah bin Urayqith.




Abu Quhafah dan Asma' Setelah Hijrahnya Abu Bakar


Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Ibad bin Abdullah bin Zubair bercerita kepadaku bahwa ayahnya, Ibad, berkata kepadanya dari neneknya, Asma' binti Abu Bakar ia berkata: Dalam hijrahnya bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abu Bakar membawa seluruh kekayaannya yang berjumlah sekitar lima atau enam ribu dirham. Suatu hari, kakekku, Abu Quhafah -yang sudah tuna netra- mengunjungiku dan berkata: "Demi Allah, Abu Bakar berniat melaparkan kalian, karena ia tak meninggalkan sepeserpun harta kekayaannya." Aku berkata: "Tidak, harta kekayaan ayah masih ada untuk kita." Kemudian aku mengambil batu, dan memasukannya di karung karena ayah biasa menaruh kekayaannya di dalamnya dan aku menutupinya dengan kain. Setelah itu, aku minta kakek meletakkan tangannya pada karung tersebut. Ia berkata: "O... ternyata hartanya masih banyak, sungguh ia telah berbuat baik."
Di sini terdapat pelajaran amat berharga, yaitu aku berbuat begitu karena aku ingin menenangkan kakekku."



Suraqah dan Pengejarannya Terhadap Rasulullah


Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri berkata kepadaku bahwa Abdurrahman bin Malik bin Ju'syum berkata kepadanya dari ayahnya dari pamannya, Suraqah bin Malik yang berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah keluar dari Makkah untuk hijrah ke Madinah, orang-orang Quraisy menyelenggarakan sayembara dengan hadiah sebesar seratus unta bagi siapa saja yang berhasil menangkap beliau hidup-hidup kepada mereka. Aku lalu pulang ke rumah dan menaiki kudaku, kemudian setelah itu, aku menelusuri jejak Muhammad. Ketika kudaku berlari capat membawaku, tiba-tiba kudaku tersandung dan aku terlempar darinya. Aku berkata: "Sepertinya aku sedang sial." Walaupun begitu, aku tetap berambisi mengejar Muhammad dan menelusuri jejaknya. Ketika kudaku berlari kencang membawaku, tiba-tiba ia tergelincir dan aku terlempar darinya. Aku berkata: "Benar- benar sial!" Aku tetap berambisi berat mengejar Muhammad dan menyusuri jejaknya. Ketika orang- orang tersebut (Rasulullah dan Abu Bakar) telah tampak olehku, tiba-tiba kudaku terperosok hingga kedua kakinya masuk ke dalam tanah dan aku terbanting darinya. Kudaku mencabut kedua kakinya dari dalam tanah dengan disertai asap laksana angin badai berdebu. Ketika melihat kejadian tersebut, aku sadar bahwa Muhammad bukan manusia biasa. Aku berseru kepada orang-orang tersebut: "Aku Suraqah bin Ju'syum. Tunggulah aku, aku ingin katakan sesuatu pada kalian. Demi Allah, aku tidak
 
berniat buruk pada kalian." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Bakar, "Beri ia tulisan sebagai tanda bahwa kita pernah bertemu dengannya!"
Suraqah berkata: Abu Bakar menulis untukku tulisan di tulang atau di secarik kertas atau di tembikar lalu ia melemparkannya kepadaku. Aku segera mengambilnya dan menyimpannya di busur panahku. Setelah itu, aku pulang, dengan diam-diam dan tidak bercerita sedikit pun tentang peristiwa yang baru saja terjadi, sampai waktu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhasil menaklukkan Makkah, usai Perang Hunain dan Perang Thaif, aku keluar membawa tulisan yang pernah diberikan kepadaku untuk aku aku berikan kepada beliau. Aku melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Al-Ji'ranah dan aku menerobos masuk pasukan berkuda kaum Anshar. Mereka menghalang-halangiku dengan tombak dan berkata kepadaku: "Enyah kau dari sini! Siapa kau dan apa maumu?" Aku mendekat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang saat itu sedang berada di atas untanya. Demi Allah, aku lihat betis beliau putih seperti putihnya anak pohon kurma. Maka aku angkat tanganku dengan memegang tulisan tersebut dan aku berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, apa kau masih ingat tulisan ini?" Aku Suraqah bin Ju'syum. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sekarang hari penetapan janji dan kebaikan. Mendekatlah kepadaku!" Aku mendekat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan setelah itu aku pun masuk Islam. Aku berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, apakah aku mendapatkan pahala apabila aku memberi minum unta-untaku?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya, bagi setiap makhluk hidup terdapat pahala." Kemudian aku pulang kepada kaumku dan aku bawa sedekahku kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Hisyam berkata: Dia adalah Abdur Rahman bin al-Harits bin Malik bin Ju'syam.




Perjalanan Hijrah Rasulullah


Ibnu Ishaq berkata: Tatkala penunjuk jalan Ra-sulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar, Abdullah bin Arqath berangkat, Abdullah bin Arqath berjalan bersama keduanya menelusuri Makkah Bawah, lalu menelusuri pesisir hingga bertemu dengan jalan di Usfan Bawah, kemudian melewati Amaj Bawah, kemudian melintasi keduanya setelah melintasi Qudaid, lalu melanjutkan perjalanan melewati Al-Kharrar, lalu menelusuri Tsaniyyatul Marrah, lalu berjalan melewati Liqf.
Ibnu Hisyam berkata: Ada juga yang menyebut Lift, kemudian melintasi Madlaj Liqf, lalu memasuki Madlaj Mijaj. Atau Majaj, lalu menelusuri Marjih Majaj, kemudian memasuki Marjih dari Dzi Al- Ghudzwaini. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan Al-'Udhawaini, lalu memasuki Dzi Kasyra, lalu melewati Al-Jadajid, lau melewati Al-Ajrad, lalu melewati Dzi Salam dari dalam Madlaj Ta hin, lalu melewati Al-Ababid. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Al-Ababaib dan Al-Itsyaninah, kemudian melintasi Al-Fajah, dan ada yang mengatakan Al-Qahah sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam
Ibnu Hisyam berkata: Kemudian Abdullah bin Arqath bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar kemudian menuruni Al-Arju. karena mengalami kelelahan, kemudian Rasulullah Shallalahu'alaihi wa Sallam dinaikkan seseorang yang telah masuk Islam yang bernama Aus bin Hajar ke atas untanya yang bernama Ibnu Ar-Rada' menuju Madinah. Aus bin Hajar saat itu ditemani budaknya yang bernama Mas'ud bin Hunaidah. Kemudian Abdullah bin Arqath keluar dari Al-Arju, lalu melewati Tsaniyyatul Air atau Tsaniyyatul Ghair, menurut Ibnu Hisyam, dari sebelah kanan Rakubah,
 
lalu menuruni Kabilah Rim menuju di Quba' tepatnya di Bani Amr bin Auf pada tanggal 12 Rabiul Awwal, hari Senin, saat waktu dhuha hampir habis dan ketika panas matahari tidak terlalu panas.



Rasulullah Tiba di Quba'


Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Abdurrahman bin Uwaim bin Sa'idah yang berkata: bahwa beberapa sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang masih tersisa dari kaumku berkata kepadaku: "Ketika kami mendengar teriakan seorang Yahudi bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah tiba, maka kami segera keluar dari rumah untuk menemui beliau yang kala itu sedang bernaung di bawah pohon kurma ditemani Abu Bakar yang sebaya dengan beliau. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam diajak tinggal di rumah Kultsum bin Hidam, saudara Bani Amr bin Auf, kemudian salah satu Bani Ubaid. Ada juga yang mengatakan di rumah As'ad bin Zurarah.
Sedangkan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu berhenti di rumah Khubaib bin Isaf, salah seorang dari Bani Al-Harts bin Al-Khazraj di As-Sunh. Ada yang berpendapat beliau sing- gah di rumah Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair, saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj.
Ali bin Abu Thalib tetap berada di Mak- kah selama tiga hari tiga malam. Ketika ia selesai mengembalikan semua barang titipan orang Quraisy kepada Rasulullah, ia lalu menyusul hijrah ke Madinah dan singgah bersama beliau di rumah Kultsum bin Hidam.



Pembangunan Masjid Quba'


Ibnu Ishaq berkata: Di Quba Rasulullah Shal-lalahu 'alaihi wa Sallam menumpang tinggal di Bani Amr bin Auf pada hari Senin, hari Selasa, hari Rabu dan hari Kamis. Dan di saat itu pulalah beliau membangun masjid di Quba'.
Kemudian Allah mengumpulkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama Anshar di Quba' pada hari Jum'at. Orang- orang Bani Amr bin Auf menganggap bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam me- netap di tempat mereka lumayan lama. Wal- lahu a'lam pendapat mana yang lebih benar. Tatkala waktu shalat Jum'at telah tiba, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat itu sedang berada di Bani Salim bin Auf, kemudian beliau mendirikan shalat Jum'at di sebuah masjid yang ada di tengah lembah Ranuna'. Inilah shalat Jum'at yang pertama kali diker jakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Madinah.



Dimanakah Akhirnya Rasulullah Tinggal dan Menetap?
 
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunggangi untanya beliau didatangi 'Itban bin Malik dan Abbas bin Ubadah bin Nadhlah bersama orang-orang Salim bin Auf memohon agar Rasulullah tinggal bersama mereka. Namun, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menolak dengan halus. Lalu beliau didatangi Ziyad bin Labid dan Farwah bin Amr bersama orang-orang Bani Bayadhah memohon agar Rasulullah ting gal bersama mereka. Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam menolak mereka dengan halus. Kemudian beliau didatangi Sa'ad bin Ubadah dan Al-Mundzir bin Amr bersama orang-orang Bani Saidah. Mereka berkata: "Memohon agar Rasulullah tinggal bersama mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menolak mereka dengan halus. Kemudian beliau didatangi oleh Sa'ad bin Ar-Rabi', Kharijah bin Zaid dan Abdullah bin Rawahah bersama orang- orang Bani Al-Harits bin Al- Khazraj. Mereka meminta Rasulullah agar tinggal bersama mereka, namun beliau menolak mereka dengan halus. Kemudian beliau di datangi Salith bin Qais dan Abu Salith Asirah bin Abu Kharijah bersama orang-orang dari Bani Adi bin An-Najjar. Mereka menawarkan agar Rasulullah tinggal bersama mereka yang notabene paman-paman beliau. Namun, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menolak mereka dengan halus, beliau terus menggiring untanya berjalan ke depan.
Sampai ketika unta beliau melewati perkampungan Bani Malik bin An-Najjar, ia menderum di pintu masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang kala itu masih berupa tempat pengeringan kurma milik dua anak yatim Bani An-Najjar. yang bernama Sahl dan Suhail. Keduanya adalah anak Amr dan berada dalam asuhan Muadz bin Afra'. Unta itu berhenti sejenak ditempat itu, kemudian berjalan lagi ke depan, tidak jauh dari tempat itu. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meletakkan kekang unta itu dan beliau tidak membelokkannya. Kemudian unta itu menoleh ke belakang dan pergi ke tempat menderumnya semula, menderum di sana, diam tenang tak bergerak. Saat itulah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam turun darinya. Setelah itu, Abu Ayyub Khalid bin Zaid menurunkan bekal perjalanan Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam dan menaruhnya di rumahnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tinggal di rumah Abu Ayyub Khalid bin Zaid. Beliau bertanya tentang tempat pengeringan kurma itu milik siapa? Muadz bin Afra' menjawab bahwa itu adalah milik Sahl dan Suhail anak Amr. Keduanya adalah anak yatim dan masih keluarga Muadz. Muadz akan memohon kerelaan keduanya agar meninggalkan tempat itu, kemudian merubahnya menjadi masjid."



Pembangunan Masjid Nabawi Yang Mulia dan Kamar-kamarnya


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian mengajak pen- duduk Madinah membangun masjid di tempat itu. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sendiri saat itu masih menumpang tinggal di rumah Abu Ayyub hingga pembangunan masjid dan rumah beliau selesai. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama kaum muslimin bahu-membahu dalam pembangunan masjid dan rumah beliau. Kaum Muslimin Muhajirin dan Anshar tanpa kenal lelah terus bekerja dengan bersungguh-sungguh. Salah seorang dari kaum Muslimin berkata dalam senandung syair:
Jika kita santai-santai, padahal Rasulullah bekerja keras Maka ini adalah perbuatan tercela

Kaum Muslimin terus bekerja sambil mendendangkan syair:
Kehidupan itu hanya satu, yaitu akhirat Ya Allah, sayangilah kaum Anshar dan kaum Muhajirin
 
Ibnu Hisyam berkata: Sebenarnya ini ungkapan biasa dan bukan syair
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berujar: "Kehidupan sebenarnya itu hanya satu, yaitu akhirat. Ya Allah, sayangilah Muhajirin dan Anshar."69






Sabda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada Ammar bin Yasir Bahwa la Kelak Akan Dihabisi Kelompok Pemberontak


Ibnu Ishaq berkata: Di tengah-tengah kesibukan mereka membangun masjid. Ammar bin Yasir malah dibebani dengan batu bata yang sangat memberatkannya. Ammar bin Yasir mengadu: "Wahai Rasulullah, mereka sepertinya ingin membunuhku." Ummu Salamah, istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bercerita: Aku lihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengusap debu yang menempel di kepala Ammar bin Yasir dengan tangannya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Berhati-hatilah, sebab yang membunuhmu itu bukan mereka, tapi yang membunuhmu adalah kelompok pemberontak.70

Saat itu Ali bin Abu Thalib menyenandung syair,
Tidaklah sama orang yang membangun masjid dengan sungguh-sungguh sambil duduk dan berdiri Dengan orang-orangyang terlihat menghindari debunya

Ibnu Hisyam berkata: Aku bertanya kepada banyak ahli sastra tentang syair di atas, mereka menjawab: Kami diberitahu bahwa memang Ali bin Abu Thalib lah yang mengucapkan syair di atas, namun tidak diketahui jelas apakah dia langsung yang menggubahnya ataukah orang lain.
Ibnu Ishaq berkata: Ammar bin Yasir melantunkan bait syair di atas dan mendendangkannya.
Ibnu Hisyam berkata: Ketika Ammar bin Yasir sedang asyik mendendangkan syair di atas, maka salah seorang sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyangka bahwa Ammar bin Yasir ingin menyindirnya dengan syair tersebut, seperti diceritakan kepadaku oleh Ziyad bin Abdullah bin Al- Bakkai dari Ibnu Ishaq.
Ibnu Ishaq berkata: Sahabat tersebut berkata: "Hai Anak Sumayyah, aku telah mendengar apa yang engkau katakan hari ini. Jika tetap kau lakukan maka demi Allah, aku akan sodokkan tongkat ini ke hidungmu." Ketika itu sahabat tersebut sedang memegang tongkat. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam marah mendengar ucapannya itu. Beliau bersabda: "Ada ribut-ribut apa ini? Apa mereka tidak sadar kalau Ammar mengajak mereka ke surga, sedang mereka mengajaknya ke neraka. Sesungguhnya Ammar lebih dekat padaku daripada mata dan hidungku. Jika ucapan di atas diucapkan orang tersebut, maka jauhilah dia!"
Ibnu Hisyam berkata bahwa Sufyan bin Uyainah berkata dari Zakaria dari Asy-Sya'bi yang berkata: Orang yang pertama kali membangun masjid Rasulullah adalah Ammar bin Yasir.
 
Menumpangnya Rasulullah di Rumah Abu Ayyub dan Sekilas tentang Adabnya


Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Abu Habib berkata kepadaku dari Martsid bin Abdullah bin Al-Yazini dari Abu Rahm As-Simai yang berkata bahwa Abu Ayyub berkata: Ketika Rasulullah menumpang hidup di rumahku, beliau tidur di lantai bawah, sedangkan aku dan istriku, Ummu Ayyub tinggal di lantai atas. Aku berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku sungkan berada di atasmu sementara engkau berada di bawahku. Silahkan engkau berada di lantai atas dan kami saja yang berdiri di lantai bawah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Hai Abu Ayyub, tidak mengapa, biarlah kami tetap berada di lantai bawah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tetap tinggal di lantai bawah, sementara kami tinggal di lantai atas.
Abu Ayyub berkata: "Kami memasak makanan malam untuk Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian kami menghidangkannya kepada beliau dan beliaupun memakannya. Namun pada suatu malam, ketika kami memasak makanan tersebut dengan bawang merah atau bawang putih, beliau mengembalikannya kepada kami. Aku segera datang kepada beliau dengan perasaan cemas. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, ada apa? Apa makanannya tidak enak?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya aku tidak makan bawang. Jika kalian mau, silahkan makan makanan tersebut!" Maka kami pun memakannya dan sejak saat itu, kami tidak memasak dengan bawang merah atau putih.
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa kaum Muhajirin berhasil hijrah ke Madinah, namun sebagian mereka ada juga yang tidak hijrah karena mendapat siksa atau di tahan oleh orang-orang Quraisy. Kaum Muhajirin yang hijrah dari Makkah saat itu tidak bisa membawa keluarga dan harta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam kecuali Bani Madz'un dari Bani Jumah, Bam Jahsy bin Riab sekutu Bani Umayyah, Bam Al-Bukair dari Bani Sa'ad bin Laits sekutu dan Bani Adi bin Ka'ab.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tinggal di rumah Abu Ayub sejak beliau tiba di sana pada bulan Rabiul Awwal hingga bulan Shafar pada depannya. sampai masjid dan rumahnya selesai dibangun, serta perkampungan kaum Anshar telah masuk Islam. Hampir semua perkampungan kaum Anshar, telah masuk Islam, kecuali perkampungan Khatmah, Waqif, Wail dan Umayyah. Perkampungan-perkampungan tersebut adalah Ausullah. Semua perkampungan tersebut masih berada dalam kemusyrikan.



Khutbah Pertama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Madinah


Ibnu Ishaq berkata: Abu Salamah bin Abdurrahman, ia berkata kepadaku: Kita berlindung diri kepada Allah dari mengatakan sesuatu atas Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam apa yang tidak beliau sabdakan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di depan kaum Muslimin kemudian memuji Allah. Setelah itu, beliau berkhutbah: "Amma ba'du. Wahai sekalian manusia, semua kita pasti akan mati. Ia akan tinggalkan kambing-kambingnya tanpa penggembala. Tuhan-nya lalu bertanya kepadanya dan saat itu tidak ada penerjemah di antara keduanya: "Bukankah telah datang kepadamu Rasul-Ku, lalu dia menyampaikan wanyu-Ku Kepada kalian? Bukankah Aku telah menganugrahi kekayaan dan melebihkanmu, lalu apa yang engkau persembahkan? Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak melihat apa-apa. Justru di depannya yang ia lihat adalah Neraka Jahannam. Barang siapa
 
mampu melindungi dirinya dari neraka hendaklah ia lakukan, walaupun hanya dengan bersedekah separuh biji kurma. Barangsiapa tidak mendapatkannya, hendaklah ia mengucapkan yang baik, karena satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat lebih banyak.
Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh."
Ibnu Ishaq berkata: Di lain waktu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkhutbah lagi kepada kaum Muslimin. Beliau berujar: "Sesungguhnya segala pujian hanya milik Allah. Aku memuji-Nya dan meminta pertolongan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari segenap keburukan diri kita dan kesalah- an amal perbuatan kita. Barangsiapa yang dibimbing oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak ada yang bisa membimbingnya kepada hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang pantas disembah dengan benar kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Sesungguhnya tutur kata yang paling baik adalah Kitab Allah. Sungguh beruntung orang yang Allah hiasi hatinya dengan Kitab-Nya, memasukkannya ke dalam Islam setelah sebelumnya kafir dan menomor satukan Al-Qur'an daripada perkataan-perkataan manusia. Karena Al- Qur'an adalah tutur kata yang paling baik dan paling sempurna. Cintailah apa saja yang dicintai Allah dan cintailah Allah dengan segenap jiwa kalian. Janganlah kalian jenuh dari firman Allah dan ingatlah kepadanya. Janganlah hati kalian keras untuk menerima Al-Qur’an, karena sungguh, Allah telah memilih amal perbuatan yang paling baik, dan hamba-hamba-Nya yang terpilih, perkataan yang baik dan dari apa yang diberikan kepada manusia; yang halal dan yang haram. Maka sembahlah Allah, janganlah engkau menyekutukan-Nya dengan apa pun, bertakwalah kepada-Nya dengan takwa yang sebenarnya, bersikap jujurlah kepada Allah dan perbaiki apa yang kalian ucapkan dengan mulut kalian dan hendaklah kalian saling mencintailah dengan ruh Allah di antara kalian, karena Allah sangat benci jika perjanjian-Nya dilanggar. Wassalamu alaikum.



Teks Perjanjian Antara Kaum Muhajirin dan Anshar dan Kesepakatan dengan Orang-orang Yahudi


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengadakan perjanjian antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar untuk tidak memerangi orang-orang Yahudi, dan mengadakan pula perjanjian dengan mereka, mengakui agama dan harta mereka dan membuat kesepakatan dengan mereka. Teks perjanjian adalah sebagai berikut:
Bismillahirrahmaanirrahim
Ini adalah dokumen dari Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam yang mengatur hubungan kaum Mukminin dan kaum Muslimin dari Quraisy dan Yatsrib, orang-orang yang bergabung dengan mereka dan berjuang bersama mereka. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu dan tidak sama dengan golongan manusia lainnya. Kaum Muhajirin dari Quraisy tetap dengan tradisi mereka yang dibenarkan Islam, mereka membayar diyat (ganti rugi) kepada sebagian yang lain, menebus tawanan mereka dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang yang beriman. Bani Auf tetap dalam tradisi mereka yang dibenarkan Islam mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain sebagaimana da- hulu dan setiap kelompok menebus tawanan- nya dengan cara yang baik dan adil di antara orang- orang yang beriman. Bani Saidah tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat sebagaimana sebelumnya, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman. Bani Al-Harits tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat, sebagian dari mereka menebus
 
tawanannya dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman. Bani An-Najjar tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka setiap kelompok dari mereka menebus tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman. Bani Amr bin Auf tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain sebagaimana sebelumnya sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik, dan adil di antara. Bani Al-Aus tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain sebagaimana sebelumnya, setiap kelompok dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman. Dan orang-orang beriman harus memperhatikan mufrah (orang yang banyak hutang dan kesulitan menghidupi keluarganya) dengan memberinya uang untuk penebusan tawanan atau pembayaran diyat dengan cara yang baik.
Orang beriman tidak boleh mengambil mantan budak orang Mukmin lainnya untuk dipekerjakan tanpa ijin tuannya. Sesungguhnya orang-orang yang beriman yang bertakwa itu bersatu dalam menghadapi orang yang berbuat zalim terhadap mereka atau orang yang menghendaki kezaliman besar, menghendaki dosa, permusuhan atau kerusakan terhadap orang-orang beriman. Semua tangan harus bersatu padu walaupun orang itu adalah anak salah seorang dari mereka. Orang beriman tidak boleh membunuh orang Mukmin karena orang kafir dan orang Mukmin tidak boleh membantu orang kafir dalam menghadapi orang Mukmin. Sesungguhnya perlindungan Allah itu satu. Orang yang terlemah di antara mereka diberi perlindungan dan sesungguhnya orang-orang beriman itu harus mendukung satu sama lain. Barangsiapa di antara orang Yahudi taat kepada kami, ia ber hak mendapatkan pertolongan, Kebersamaan, mereka tidak boleh dianiaya dan tidak boleh dikalahkan. Sesungguhnya perdamaian orang- orang beriman itu satu. Orang beriman tidak boleh berdamai dengan selain orang beriman dalam perang di jalan Allah kecuali atas dasar persamaan dan keadilan di antara mereka. Semua batalion tempur yang berperang bersama kami itu datang secara bergantian. Sesungguhnya sebagian orang beriman itu dibunuh karena mereka membunuh sebagian orang beriman lainnya. Sesungguhnya orang beriman yang bertakwa berada pada petunjuk terbaik dan lurus. Sesungguhnya orang musyrik tidak boleh melindungi orang Quraisy baik harta atau jiwa mereka dan tidak boleh bergabung bersama mereka untuk menghadapi orang beriman. Barangsiapa membunuh orang Mukmin tanpa kesalahan dan bukti, maka ia akan dibunuh juga karenanya terkecuali jika keluarga korban memberi maaf. Sesungguhnya orang beriman harus bersatu dalam menghadapinya dan wajib menegakkan hukum terhadap orang tersebut. Sesungguhnya orang Islam yang beriman kepada isi perjanjian ini, beriman kepada Allah dan beriman kepada Hari Akhir haram baginya membela pelaku bid'ah dan melindunginya. Barangsiapa membelanya atau melindunginya, ia akan di kutuk oleh Allah dan mendapat murka-Nya pada Hari Kiamat. Tebusan tidak boleh di- ambil daripadanya. Jika muncul perselisihan di tengah kalian maka kembalikanlah kepada Allah Yang Mahamulia dan Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sesungguhnya orang-orang Yahudi juga berkewajiban menanggung dana apabila mereka sama-sama diperangi musuh. Sesungguhnya orang- orang Yahudi Bani Auf satu umat bersama kaum Mukminin. Bagi orang-orang Yahudi agama mereka dan bagi kaum Mukminin agama mereka. Budak- budak mereka dan jiwa mereka terilindungi, kecuali mereka yang berbuat aniaya dan dosa, sebab ia tidak menganiaya siapa-siapa selain diri dan keluarganya sendiri. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani An-Najjar memiliki hak yang setara dengan orang-orang Yahudi Bani Auf. Begitu juga orang-orang Yahudi Bani Al-Harits, mereka mempunyai hak yang setara dengan hak orang-orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani Saidah memiliki hak yang sama dengan hak orang-orang Yahudi Bani Auf. Begitu juga orang-orang Yahudi Bani Jusyam, mereka memiliki hak yang setara dengan orang-orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani Al-Aus mempunyai hak yang setara dengan hak orang- orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani Tsa'labah mempunyai hak yang sama
 
dengan hak orang-orang Yahudi Bani Auf, kecuali mereka yang melakukan perbuatan aniaya dan dosa, ia tidak menganiaya siapa-siapa selain diri dan keluarganya sendiri. Sesungguhnya Jafnah, salah satu kabilah dari Tsa'labah harus diperlakukan sama seperti mereka. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani As-Syathibah memiliki hak yang setara dengan hak orang-orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya kebaikan itu selalu mencegah seseorang dari keburukan. Sesungguhnya budak orang-orang Tsa'labah dan sesungguhnya keluarga orang-orang Yahudi sama seperti mereka. Tidak boleh seorang pun dari orang- orang Yahudi keluar dari Madinah kecuali atas izin Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Barangsiapa membunuh, maka itu sama saja ia membunuh diri dan keluarganya sendiri, kecuali orang yang dianiaya, karena Allah sangat membenci kezaliman. Sesungguhnya orang-orang Yahudi terkena kewajiban infak dan kaum Muslimin juga terkena kewajiban infak yang sama, serta mereka semua berkewajiban membela siapa saja yang memerangi orang-orang yang terikat dengan perjanjian ini. Nasihat dan kebaikan harus senantiasa diaplikasikan di tengah-tengah mereka. Seseorang tidak boleh mengganggu sekutunya dan wajib bagi orang yang dizalimilah yang harus dibela. Sesungguhnya orang- orang Yahudi berinfak bersama orang-orang beriman apabila mereka diperangi musuh. Sesungguhnya Yatsrib diharamkan bagi orang yang terikat dalam perjanjian ini. Tetangga itu seperti jiwa, tidak boleh diganggu dan disakiti. Sesungguhnya kehormatan itu tidak boleh dilanggar kecuali pemiliknya mengijinkan. Jika orang-orang yang terikat dalam perjanjian ini mengalami konflik yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan, maka urusan itu harus dikembalikan kepada Allah dan kepada Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sesungguhnya Allah sangat mampu menjaga perjanjian ini. Dan orang- orang Quraisy tidak boleh dilindungi demikian pula dengan para sekutu mereka. Sesungguhnya orang- orang yang terikat dengan perjanjian ini wajib untuk memberikan pertolongan melawan siapa saja yang bermaksud menyerang Yatsrib. Jika mereka diajak berdamai, maka mereka harus berdamai. Jika mereka diajak kepada hal tersebut, mereka mempunyai hak atas kaum Mukminin kecuali terhadap orang-orang yang ingin menghancurkan agama. Setiap manusia mempunyai bagian terhadap mereka sendiri seperti sebelumnya. Sesungguhnya orang- orang Yahudi Al-Aus; budak-budak mereka
dan jiwa mereka memiliki hak yang sama dengan orang-orang yang berada dalam perjanjian ini, termasuk berbuat baik kepada orang-orang yang terikat dengan perjanjian ini. Sesungguhnya kebaikan itu tidak pernah sama dengan keburukan. Jika seseorang melakukan sesuatu, maka konsekwensinya aaa paaanya. Sesungguhnya Allah membenarkan isi perjanjian ini dan meridhainya. Sesungguhnya dokumen kesepakatan ini tidak memberikan perlindungan pada orang yang zalim dan pendosa. Barangsiapa keluar masuk dan menetap di Madinah, ia aman, kecuali orang yang berbuat zalim dan berlaku dosa. Sesungguhnya Allah selalu menjaga orang yang berbuat baik dan bertakwa, serta Muhammad adalah utusan Allah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.



Persaudaraan Antara Kaum Muhajirin (Mekah) dan Anshar (Madinah)


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mempersatukan sahabat- sahabatnya yang Muhajirin dengan sahabat-sahabatnya yang Anshar dalam ikatan persaudaraan. Beliau bersabda seperti: "Bersaudaralah kalian karena Allah; dua bersaudara, dua bersaudara." Beliau mengangkat tangan Ali bin Abu Thalib, kemudian bersabda, "Ini saudaraku." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam adalah pemimpin para rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa dan utusan Tuhan semesta alam yang tidak ada yang bisa menyamainya di antara hamba-hamba-Nya. Adapun Ali bin Abu Thalib adalah saudara beliau. Hamzah bin Abdul Muthalib singa Allah, singa Rasul-Nya dan paman beliau. Ia
 
dipersaudarakan dengan Zaid bin Haritsah mantan budak beliau. Hamzah bin Abdul Muthalib berwasiat sesuatu hal kepada Zaid bin Haritsah pada Perang Uhud apabila terjadi sesuatu pada dirinya (yakni meninggal dunia). Ja'far bin Abu Thalib (pemilik dua sayap dan menjadi burung di surga) dipersaudarakan dengan Muadz bin Jabal, saudara Bani Salimah.
Ibnu Hisyam berkata: Ja tar bin Abu Thalib saat itu sedang berada di Habasyah.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Bakar Ash- Shiddiq Radhiyallahu Anhu dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair, saudara Bani Balharits bin Al-Khazraj. Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu dipersaudarakan dengan 'Itban bin Malik, saudara Bani Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin AI-Khazraj. Abu Ubaidah bin Abdullah bin Al Jarrah -ia bernama asli Amir bin Abdullah- dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Muadz bin Nu'man, saudara Bani Abdul Asyhal.
Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Ar-Rabi' saudara Bani Bal-harits bin Al- Khazraj. Az-Zubayr bin Awwam dipersaudarakan dengan Salamah bin Salamah bin Waqs, saudara Bani Abdul Asyhal. Ada juga yang mengatakan bahwa Zubair bin Awwam dipersaudarakan dengan Abdullah bin Mas'iri sekutu Bani Zuhrah. Utsman bin Affan dipersaudarakan dengan Aus bin Tsabit bin Al- Mundzir, saudara Bani An-Najjar. Thalhah bin Ubaidillah dipersaudarakan dengan Ka'ab bin Malik, saudara Bani Salimah. Sa'id bin Zaid bin Amir bin Nufail dipersaudarakan dengan Ubay bin Ka'ab saudara Bani An-Najjar. Mush'ab bin Umair bin Hasyim dipersaudarakan dengan Abu Ayyub Khalid bin Zaid, saudara Bani An-Najjar. Abu Huzhaifah bin Utbah bin Rabi'ah dipersaudarakan dengan Abbad bin Bisyr bin Waqsy, saudara Bani Abdul Asyhal.
Ammar bin Yasir sekutu Bani Makhzum dipersaudarakan dengan Hudzaifah bin Al-Yaman, saudara Bani Absu sekutu Bani Ab-dul Asyhal. Ada juga yang mengatakan Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas saudara Al-Harits bin Al-Khazraj khatib Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dipersaudarakan dengan Ammar bin Yasir.
Abu Dzar yang bernama Barir bin Jinadah AI-Ghifari dipersaudarakan dengan Al-Mundzir bin Amr, saudara Bani Saidah bin Ka'ab bin Al-Khazraj.
Ibnu Hisyam berkata: Aku dengar dari sekian banyak ulama bahwa Abu Dzar adalah Jundab bin Junadah.
Ibnu Ishaq berkata: Hathib bin Abu Balta'ah sekutu Bani Asad bin Abdul Uzza dipersaudarakan dengan Uwaim bin Saidah saudara Bani Amr bin Auf.
Salman Al-Farisi dipersaudarakan dengan Abu Ad-Darda' Uwaimir bin Tsa'labah, saudara Bani Balharits bin Al-Khazraj.
Ibnu Hisyam berkata: Uwaimir adalah anak Amir. Ada yang mengatakan Uwaimir adalah anak Zaid.
Ibnu Ishaq berkata: Bilal mantan budak Abu Bakar Radhiyallahu An/iuma dan muadzin Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dipersaudarakan dengan Abu Ruwaihah Abdullah bin Abdurrahman Al- Khats'ami, salah seorang Faza' yang sangat terkenal.
Demikianlah di antara nama-nama yang dipersaudarakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ketika Umar bin Khaththab membuat departemen-departemen di Syam Bilal berangkat ke sana dan menetap di sana sebagai seorang mujahid, Umar bin Khaththab berkata kepada Bilal: "Hai Bilal, engkau dengan siapa ditulis dalam surat persaudaraan itu?" Bilal menjawab: "Dengan Abu Ruwaihah. Aku akan selalu bersama dengannya selama-lamanya, karena persaudaraan yang telah ditetapkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam antara aku dengan dia." Umar bin Khaththab pun
 
menggabungkan Bilal kepada Abu Ruwaihah dan menggabungkan departemen orang-orang Habasyah ke dalam departemen orang-orang Khatsam, karena kedudukan Bilal di tengah-tengah mereka.



Abu Umamah, Kematiannya dan Apa yang Dikatakan Orang-orang Yahudi


Ibnu Ishaq berkata: Di bulan itu juga, Abu Umamah, As'ad bin Zurarah berpulang ke pangkuan Ilahi pada saat masjid tengah dibangun. Ia meninggal dunia karena menderita sakit tenggorokan (dipteria) atau batuk.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm ber¬kata kepadaku dari Yahya bin Abdullah bin Abdurrahman bin As'ad bin Zurarah bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh alangkah tidak beruntungnya mayit Abu Umamah." Orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik Arab berkata: "Jika ia (Rasulullah) benar-benar seorang Nabi, sahabatnya pasti tidak akan mati." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda lebih lanjut, "Aku tidak memiliki kekuatan dari Allah untuk diriku dan sahabatku (untuk me- nepis kematian)."
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshar berkata kepadaku bahwa pada saat Abu Umamah As'ad bin Zurarah meninggal dunia, orang-orang dari Bani An-Najjar menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam -Abu Umamah adalah naqib (pemimpin) mereka. Mereka berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang Abu Umamah As'ad bin Zurarah ini memiliki kedudukan di kalangan kami seperti telah engkau ketahui. Oleh karena itu, carilah orang lain yang bisa menggantikan kedudukannya dan mengatur urusan kami sebagaimana Abu Umamah As'ad bin Zura- rah mengatur urusan kami." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Kalian adalah paman-pamanku dan aku adalah naqib bagi kalian. Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam enggan menyerahkan jabatan naqib kepada salah seorang dari mereka. Di antara kelebihan Bani An- Najjar yang mereka banggakan kepada kaumnya, bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam adalah naqib mereka.



Adzan


Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam merasa betah tinggal di Madinah, saudara-saudara beliau dari kaum Muhajirin berdatangan kepada beliau dan persatuan kaum Anshar telah tercapai, Islam pun mulai mengakar; shalat ditegakkan, zakat dan puasa diwajibkan, hudud (hukum pidana) ditegakkan, hal-hal yang halal dan haram diwajibkan dan Islam mendapat kedudukan terhormat di tengah-tengah mereka. Perkampungan Anshar selalu yang menyediakan tempat bagi kaum Muhajirin dan beriman. Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, kaum Muslimin berkumpul untuk menegakkan shalat karena waktunya telah tiba tanpa seruan suara. Pada walnya, beliau ingin menggunakan suara terompet seperti orang-orang Yahudi pada saat mengajak salat, namun beliau tidak menyukainya. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan penggunaan lonceng untuk memanggil kaum Muslimin sebagai pertanda waktu shalat.
 
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat kaum Muslimin berada dalam keadaan seperti di atas, tiba-tiba Abdullah bin Zaid bin Tsa'labah bin Abdu Rabbihi saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj bermimpi melihat seruan shalat. Ia menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, tadi malam aku bermimpi melihat seseorang memakai pakaian hijau berjalan melewatiku dengan membawa lonceng. Aku bertanya kepadanya, "Hai hamba Allah, bolehkah loncengmu itu kubeli?" Orang tersebut menjawab: "Apa yang kau inginkan darinya?" Aku menjawab: "Aku akan gunakan untuk memanggil orang untuk shalat. Orang tersebut berkata: "Maukah engkau aku tunjukkan yang lebih baik daripada lonceng ini?" Aku berkata: "Apa itu?" Orang tersebut berkata: "Hendaknya engkau berkata: "Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Asyhadu an laa Ilaaha Ilia Allah. Asyhadu an laa Ilaaha Ilia Allah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Hayya aala ash- shalah. Hayya 'alas ash-shalah. Hayya alal falah. Hayya alalfalah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Laa ilaaha ilia Allah!'71
Usai Abdullah bin Zaid mengisahkan mimpinya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda: "Mimpi itu benar, insya Allah. Cepat engkau temui Bilal, kemudian ajarkan lafadz tersebut kepada Bilal agar ia menyeru dengan seruan tersebut, karena suara Bilal lebih keras dari suaramu." Tatkala Bilal sedang mengumandangkan adzan tersebut, Umar bin Khaththab mendengarnya. Ia segera pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengenakan selendangnya. Ia berkata: "Wahai Nabi Allah, demi Allah! Aku juga melihat dalam mimpiku seperti yang dilihat Abdullah bin Zaid dalam mimpinya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Segala puji bagi Allah atas semua ini."72

Ibnu Ishaq berkata: Peristiwa di atas disampaikan kepadaku oleh Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Tsa'labah bin Abdu Rabbihi dari ayahnya.
Ibnu Ishaq bercerita: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari seorang wanita Bani An-Najjar yang berkata: "Tidak ada rumah yang paling tinggi di sekitar masjid kecuali rumahku dan Bilal biasa menyerukan suara adzan shubuh di atasnya pada setiap pagi. Jika waktu shubuh telah tiba, ia berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku memuji-Mu dan memohon pertolongan-Mu agar orang-orang Quraisy mengokohkan agama-Mu. Setelah itu, Bilal menyerukan suara adzan. Demi Allah, aku lihat Bilal selalu mendawami doanya tersebut."



Abu Qais bin Abi Anas


Ibnu Ishaq berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam merasa nyaman tinggal di rumahnya, Allah memenangkan agama-Nya di Madinah, dan membuat beliau bahagia dengan bersatunya antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar kepada beliau, maka Abu Qais Shirmah bin Abu Anas saudara Bani Adi bin An-Najjar melantunkan bait-bait syairnya yang menawan.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Qais adalah Shirmah bin Abu Anas bin Shirmah bin Malik bin Adi bin Amir bin Ghanim bin Adi bin An-Najjar. Ibnu Ishaq berkata: Abu Qais adalah seorang pemikir yang bersahaja pada masa Jahiliyah. Ia tidak menyembah berhala, mandi junub, menyuruh wanita yang haid untuk
 
bersuci, dia ingin memeluk agama Kristen, namun mengurungkannya. Kemudian ia menjadikan rumahnya sebagai tempat ibadah yang tidak boleh dimasuki orang yang kotor atau orang yang junub. Ia berkata: Aku hanya menyembah Tuhan Ibrahim saat ia meninggalkan berhala-berhala dan membencinya." Fada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, ia masuk Islam dengan baik sekali. Saat itu usianya telah lanjut. Ia selalu berbicara yang benar, mengagungkan Allah Yang Maha agung pada masa jahihyahnya.



Orang-orang Yahudi dan Sebab Permusuhan Mereka


Ibnu Ishaq berkata: Ketika Islam berjaya di Madinah, para rabi Yahudi yang didukung orang-orang Al- Aus dan Al-Khazraj yang tetap bertahan pada kejahiliyahannya, merasa resah gelisah. Orang-orang Al- Aus dan Al-Khazraj tersebut adalah orang-orang musyrik yang munafik. Mereka bersandiwara dengan identitas "Muslim" agar bisa selamat dari pembunuhan, namun sebenarnya dalam hati mereka ada kemunafikan. Hati nurani mereka bersatu dengan orang-orang Yahudi karena kekafiran mereka kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan keengganan mereka untuk menerima Islam dan masuk di dalamnya.
Di antara rabi-rabi Yahudi tersebut adalah: Huyay bin Akhthab. Saudara Huyay bin Akhthab yang bernama Abu Yasir bin Akhthab, saudara Huyay bin Akhthab yang lain, yaitu Judai bin Akhthab, Salam bin Misykam, Kinanah bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Haqiq, Salam bin Abu Al-Haqiq, saudara Salam bin Al- Ha-qiq yang bernama Salam bin Ar-Rabi'. Salam bin Ar-Rabi' adalah anak Rafi' Al-A'war yang di eksekusi sahabat-sahabat Rasulullah Shal-lalahu 'alaihi wa Sallam di Khaybar, Ar-Rabi bin Ar-Rabi' bin Abu Al- Haqiq, Amr bin Juhasy, Ka'ab bin Al-Asyraf. Ka'ab bin Al-Asyraf berasal dari Thayyi', kemudian dari salah satu Bani Nabhan. Ibunya berasal dari Bani An- Nadhir, Al-Hajjaj bin Amr sekutu Ka'ab bin Al- Asyraf, Kardum bin Qais sekutu Ka'ab bin Al-Asyraf. Mereka semua berasal dari Bani An-Nadhir.
Para rahib dari Bani Tsa'labah bin Al- Fathiyyun adalah: Abdullah bin Shuri Al- A'war. Pada zamannya, di Hijaz tidak ada seorang pun yang lebih paham tentang Kitab Taurat (Perjanjian Lama) dari Abdullah bin Shuri. Ibnu Shaluba, Mukhairiq. Ia rahib orang Yahudi, namun kemudian ia masuk Islam.
Dari Bani Qainuqa' adalah: Zaid bin Al-Lashait. Ada yang mengatakan Ibnu Al-Lushait seperti dikatakan Ibnu Hisyam. Sa'ad bin Hanif, Mahmud bin Saihan, Uzair bin Abu Uzair, Abdullah bin Shaif.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Ibnu Dhaif.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Suwaid bin Al-Harits.. Rifa'ah bin Qais. Finhashh, Asyi', Nu'man bin Adha, Bahri bin Amr, Syas bin Adi, Syas bin Qais, Zaid bin Al-Harts, Nu'man bin Amr, Sukain bin Abu Sukain, Adi bin Zaid, Nu'man bin Abu Aufa Abu Anas, Mahmud bin Dahiyyah, Malik bin Ash-Shaif. Ada pula yang mengatakan Ibnu Adh-Dhaif.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Ka'ab bin Rasyid, Azir, Rafi' bin Abu Rafi', Khalid, Izar bin Abu Izar. Ibnu Hisyam berkata: Ada pula yang mengatakan Azir bin Abu Azir.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Rafi' bin Haritsah, Rafi' bin Huraimalah, Rafi' bin Kharijah, Malik bin Auf, Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut, Abdullah bin Salam bin Al-Harits. Ia ulama mereka, seorang rahib yang paling cerdas. Ia bernama asli Al-Hushain. Ketika ia masuk Islam, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengganti namanya dengan nama Abdullah. Mereka ini berasal dari Bani Qainuqa'.
 
Bani Quraizhah adalah sebagai berikut: Az-Zubayr bin Batha bin Wahb, Azzal bin Samuel, Ka'ab bin Asad. Ia terikat perjanjian dengan Bani Quraizhah kemudian membatalkannya pada Perang Ahzab. Samuel bin Zaid, Jabal bin Amr bin Sakinah, An-Nahham bin Zaid, Fardam bin Ka'ab, Wahb bin Zaid, Nafi' bin AbuNafi, Abu Nafi', Adi bin Zaid, Al-Harts bin Auf, Kardam bin Zaid, Usamah bin Habib, Rafi' bin Rumailah, Jabal bin Abu Qusyair, Wahb bin Yahuda. Mereka ini berasal dari Bani Quraizhah.
Dari Bani Zuraiq ialah Labid bin A'sham. Dialah orang yang menyihir Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga tidak bisa mendatangi istri-istrinya.
Dari Bani Haritsah: Kinanah bin Shuriya. Dari Bani Amr bin Auf ialah Fardam bin Amr.
Dari Bani An-Najjar ialah Silsilah bin Barham.
Mereka semua rabi-rabi Yahudi, orang- orang jahat, orang-orang yang melawan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, orang-orang yang banyak bertanya tanpa aplikasi apapun, dan memusuhi Islam karena ingin memadamkannya, kecuali Abdullah bin Salam dan Mukhairiq.



Abdullah bin Salam Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Di antara kisah Abdullah bin Salam, sebagaimana dikatakan oleh sebagian keluarganya kepadaku dan tentang masuk Islamnya. Dia rabi dan ulama. Abdullah bin Salam berkata: Tatkala aku mendengar kemunculan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, aku pun mengetahui tanda-tanda beliau dan namanya. Aku sembunyikan hal ini dan tidak mendiskusikannya dengan siapapun hingga beliau tiba di Madinah. Saat itu, aku bekerja di atas pohon kurma, dan bibiku, Khalidah binti Al-Harits duduk di bawahku, ketika Rasulullah singgah di Quba' di Bani Amr bin Auf, seseorang datang memberi tahu kedatangan beliau, aku segera bertakbir. Ketika bibiku mendengar pekikan takbirku, ia berkata kepadaku: "Usahamu akan sia-sia! Demi Allah, jika engkau mendengar kedatangan Musa bin Imran, engkau pasti akan kecewa dengan Nabi baru tersebut!" Aku katakan kepada bibiku: "Bibi, demi Allah, beliau (Rasulullah) adalah saudara Musa bin Imran, seagama dengannya, dan diutus dengan membawa ajaran yang sama dengan Musa bin Imran." Bibiku berkata: "Hai keponakanku, apakah dia nabi yang di janjikan kepada kita bahwa dia akan diutus pada era sekarang ini?" Aku menjawab: "Ya." Bibiku berkata: "Kalau begitu, pasti dialah nabi itu." Setelah itu aku menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menyatakan diri masuk Islam di hadapan beliau. Setelah masuk Islam, aku pulang ke rumah dan menyeru keluargaku masuk Islam, mereka pun masuk Islam.
Dia berkata: Aku sembunyikan keislamanku dari orang-orang Yahudi. Aku menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan lagi berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang- orang Yahudi adalah kaum yang pandai membuat dusta dan bersilat lidah. Aku ingin engkau menyembunyikanku di sebagian rumahmu dan merahasiakanku dari mereka. Sesudah itu, engkau berdiskusi dengan mereka tentang diriku hingga mereka menjelaskan kepadamu bagaimana kedudukanku di mata mereka sebelum mereka mengetahui keislamanku. Jika mereka mengetahui keislamanku, mereka pasti mendustakanku dan mencelaku. "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyembunyikanku di salah satu rumah beliau dan pada saat yang sama orang-orang Yahudi masuk menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berdiskusi dengan beliau dan bertanya
 
kepada beliau. Setelah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada mereka, "Bagaimana kedudukan Al-Hushaini bin Salam di tengah kalian?" Orang-orang Yahudi menjawab, "la pemimpin kami dan anak pemimpin kami. Ia seorang rabi dan ulama kami. "Usai mereka bersaksi dihadapan Rasulullah, aku langsung keluar menemui mereka, dan aku berkata kepada mereka, "Hai kaumku, bertakwalah kalian kepada Allah, dan terimalah apa yang telah datang kepada kalian. Demi Allah, kalian telah mengetahui bahwa beliau utusan Allah. Kalian mendapatkan beliau tertulis di dalam Kitab Taurat lengkap dengan nama, dan sifat- sifat beliau. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa beliau adalah utusan Allah, mengimaminya, membenarkannya, dan mengenalnya." Mereka berkata: "Engkau sedang mengigau." Lalu mereka pun mencaci-makiku. Aku berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, "Wahai Rasulullah, sekarang engkau lihat sendiri bagaimana watak asli mereka yang suka mengingkari kedatangan Nabi?' Aku tetap terbuka dengan keislamanku dan keislaman keluargaku. Bibiku, Khalidah binti Al-Harits juga masuk islam dengan keislaman yang baik.



Kesaksian Shafiyyah tentang Kebandelan Orang-orang Yahudi


Ibnu Ishaq menuturkan: Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazir berkata kepadaku, ia berkata aku diberi tahu dari Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bahwa Shafiyyah berkata: "Aku merupakan anak yang paling dicintai oleh ayah dan pamanku Abu Yasir. Apabila aku betemu dengan mereka yang sedang membawa anak-anak mereka pasti keduanya membawaku bersama anak-anak mereka. Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, dan singgah di Quba' di Bani Amr bin Auf, ayahku Huyay bin Akhthab, dan pamanku, Abu Yasir bin Akhthab menghampiri beliau saat menjelang Shubuh dan mereka berdua tidak pulang ke rumah hingga matahari terbenam. Setelah matahari terbenam, keduanya tiba dengan kondisi malas dan lemas, bingung dan berjalan lunglai. Aku berusaha menyenangkan keduanya sebagaimana biasa aku lakukan. Demi Allah, tak seorang pun dari keduanya menoleh kepadaku, ada perasaan gelisah pada diri mereka berdua. Aku mendengar pamanku, Abu Yasir berkata kepada ayahku, Huyay bin Akhthab: "Apakah memang dia (Rasulullah)?" Ayahku menjawab: "Ya betul, demi Allah." Pamanku, Abu Yasir bertanya kepada ayahku: "Apakah engkau mengetahuinya dan bisa memastikannya?" Ayahku menjawab: "Ya. '" Pamanku, Abu Yasir bertanya kepada ayahku: "Bagaimana perasaanmu terhadapnya?" Ayahku menjawab: "Demi Allah, aku senantiasa memusuhinya selama aku hidup."



Orang-orang Munafik yang Bersekongkol dengan Yahudi dari Munafik Anshar


Ibnu Ishaq berkata: Inilah nama deretan orang-orang munafik dari Al-Aus dan Al-Khazraj yang bergabung dengan orang-orang Yahudi. Wallahu a lam.
Dari Al-Aus, kemudian dari Bani Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus, kemudian dari Bani Lawdzan bin Amr bin Auf ialah Zuwai bin Al-Harits.
Dari Bani Habib bin Amr bin Auf adalah sebagai berikut:
 
Julas bin Suwaid bin Ash-Shamit. Dialah yang berkata — ia termasuk orang yang tidak ikut serta berangkat ke Perang Tabuk bersama Rasulullah: "Jika orang ini (Rasulullah) memang benar, kita pasti lebih buruk daripada keledai." Ucapannya ini disampaikan Umair bin Sa'ad kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ketika itu, Umair bin Sa'ad berada dalam asuhan Julas. Julas mengasuh Umair bin Sa'ad menggantikan ibunya setelah sebelumnya Umair bin Sa'ad diasuh ayahnya. Umair bin Sa'ad berkata kepada Julas: "Wahai Julas, demi Allah, engkau orang yang paling aku cintai, orang yang paling baik dan dermawan bagiku, dan aku berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak baik terhadapmu. Sungguh engkau telah berucap; jika aku membeberkannya, engkau akan dijelek-jelekkan. Namun bila aku menyembunyikannya, maka itu akan merusak agamaku. Salah satu dari kedua pilihan itu mudah bagiku dari yang lainnya. Setelah itu, Umair bin Sa'ad pergi menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan melaporkan apa yang dikatakan Julas. Julas bersumpah pun dengan nama Allah di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata: "Sungguh Umair berkata dusta, dan aku tidak mengatakan apa yang dilaporkan
Umair bin Sa'ad." Kemudian Allah Subhanahu wa Taala menurunkan ayat tentang Julas ini:




Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. " (QS. at-Taubah: 74).
Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah: 'Al-Alim artinya sangat pedih dan menyakitkan.
Ibnu Ishaq berkata: Para ulama menyatakan, bahwa Julas bertobat dan tobat serta keislamannya baik.
Lainnya adalah saudara Julas, Al-Harits bin Suwaid yang membunuh Al-Mujadzdzar bin Dziyad Al- Balawi dan Qais bin Zaid salah seorang Bani Dhabi'ah di Perang Uhud. Al-Harits adalah orang munafik. Pada saat kaum Muslimin dan orang-orang Quraisy bertemu di medan Uhud, Al-Harits menyerang Al-
 
Mujadzdzar bin Dziyad dan Qais bin Zaid. Setelah ia berhasil menghabisi nyawa keduanya keduanya, ia pun kemudian bergabung dengan pasukan Quraisy.
Ibnu Hisyam berkata: "Al-Mujadzdzar bin Dziyad sebelumnya membunuh Suwaid bin Shamit pada sebuah perang yang terjadi antara Al-Aus melawan Al-Khazraj. Pada Perang Uhud, Al-Harits bin Suwaid mencari kelengahan Al-Mujadzdzar bin Dziyad untuk dibunuh sebagai bentuk balas dendam atas kematian ayahnya, dan ia pun membunuhnya. Pendapat ini dikatakan tidak hanya oleh seorang ulama. Bukti bahwa Al-Harits bin Suwaid tidak membunuh Qais bin Zaid ialah bahwa Ibnu Ishaq tidak memasukkan Qais bin Zaid dalam daftar orang yang terbunuh di Perang Uhud.
Ibnu Ishaq berkata: Suwaid bin Shamit membunuh Muadz bin Afra' ketika ia lengah dan bukan di medan perang. Suwaid bin Shamit memanah Muadz bin Afra' dan membuatnya meninggal dunia sebelum Perang Buats.
Ibnu Ishaq berkata: Menurut penuturan para pakar, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintah Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu untuk membunuh Al-Harits bin Suwaid bila bertemu dengannya, namun dia tidak bertemu dengannya. Al-Harits bin Suwaid tinggal di Makkah. Ia kirim surat kepada saudaranya, Julas bin Suwaid. Dalam surat tersebut, Al-Harits bin Suwaid mengatakan ingin bertobat dan kembali kepada kaumnya, kemudian Allah Subhanahu wa Taala menurunkan ayat tentang Al-Harits bin Suwaid seperti dikatakan kepadaku dari Ibnu Abbas:


Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa RasuV itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orangyangzalim (QS. Ali Imran: 86), hingga akhir kisah.
Dari Bani Dhubai'ah bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf ialah Bajad bin Utsman bin Amir.
Dari Bani Laudzan bin Amr bin Auf ialah Nabtal bin Al-Harits. Orang tersebut adalah yang dikatakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam -seperti berita yang disampaikan kepadaku: "Barangsiapa ingin melihat setan, hendaklah ia melihat Nabtal bin Al-Harits." Ia memiliki postur yang tubuh besar, bibirnya melorot ke bawah, rambutnya berantakan, kedua matanya merah, dengan kedua pipinya merah kehitaman. Ia pernah berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, berdialog dan mendengar ucapan beliau, kemudian ia ceritakan ucapan beliau kepada orang-orang munafik, sambil berkata kepada mereka: "Sesungguhnya Muhammad mendengarkan perkataan orang yang berbicara dengannya, lalu ia membenarkannya." Allah Yang Mahatinggi menurunkan ayat tentang Nabtal bin Al- Harits sebagai berikut:
 
 

Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya." Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang- orang yang beriman di antara kamu." Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka adzab yang pedih." (QS. at-Taubah: 61).
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian orang Al-Ajlan berkata kepadaku: Malaikat Jibril 'Alaihis salam datang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan berkata: "Telah datang kepadamu orang yang bibirnya melorot ke bawah, rambutnya acak-acakan. Kedua pipinya merah kehitaman, kedua matanya merah seperti dua periuk dari kuningan, hatinya lebih keras daripada hati keledai, ia menceritakan apa yang engkau ucapkan kepada orang-orang munafik. Oleh karenanya, berhati-hatilah terhadapnya." Itulah sifat-sifat Nabtal bin Al-Harits yang disebut oleh mereka.
Dari Bani Dzabi'ah adalah sebagai berikut: Abu Habibah bin Al-Az'ar. Dia adalah di antara orang yang membangun Masjid Dhirar. Tsa'labah bin Hathib, Mu'attib bin Qusyair. Tsa'labah bin Hathib, dan Mu'attib bin Qasyir itulah yang berjanji kepada Allah bahwa jika Allah memberi kami rezeki, akan bersedekah dan menjadi orang-orang shalih. Mu'attib inilah yang berkata pada saat Perang Uhud: "Seandainya kami pada posisi lain dalam hal ini, kami pasti tidak terbunuh di tempat ini." Allah menurunkan ayat tentang Mu'attib bin Qusyair:

 
Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." (QS. Ali Imran: 154), hingga akhir kisah.
Mu'attib ini pula yang berkata di Perang Ahzab, 'Muhammad telah berjanji kepada kita, bahwa kita akan memiliki simpanan-simpanan Kisra dan Kaisar, sementara untuk buang air saja kita tidak merasa aman. Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan Mu'attib tersebut:


Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya (QS. al-Ahzab: 12). Juga al- Harits bin Hathib.
Ibnu Hisyam berkata: Muattib bin Qusyair, Tsa'labah bin Hathib, dan Al-Harits bin Hathib berasal dari Bani Umayyah bin Zaid. Mereka ikut dalam Perang Badar dan tidak tergolong orang-orang munafik - seperti dikatakan kepadaku oleh ulama yang lebih di percaya. Ibnu Ishaq memasukkan Tsa'labah dan Al-Harits ke dalam deretan nama orang-orang Bani Umayyah di antara para peserta Perang Badar.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Abbad bin Hunaif saudara Sahl bin Hunaif dan Bahzaj, mereka terlibat dalam pembangunan Masjid Dhirar. Amr bin Khidzam dan Abdullah bin Nabtal.
Dari Bani' Tsa 'labah bin Amr bin Auf adalah sebagai benkut:
Jariyah bin Amir bin Al-Aththaf dan kedua anaknya yakni Zaid bin Jariyah, Mu-jammi' bin Jariyah. Mereka bertiga termasuk orang-orang yang membangun Masjid Dhirar. Mujammi' adalah anak muda yang hafal sebagian besar Al-Qur'an dan shalat bersama orang-orang munafik di Masjid Dhirar. Ketika Masjid Dhirar telah dirubuhkan, dan orang-orang dari Bani Amr bin Auf pergi, orang- orang munafik itu shalat di Bani Auf bin Amr di masjid mereka. Pada masa kakhalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu pernah ada yang menyarankan kepadanya agar Mujammi' bisa ikut shalat bersama kaum Muslimin. Umar bin Khaththab menjawab: Tidak mung- kin, bukankah dia imam orang-orang munafik di Masjid Dhirar?' Mujammi' berkata kepada Umar bin Khaththab, 'Wahai Amirul Mukmi- nin, demi Allah yang tidak ada Tuhan yang pantas disembah kecuali Dia, aku tidak tahu sedikit pun tentang persoalan mereka. Pada masa itu, aku masih kecil, dan biasa membaca serta menghafal Al-Qur'an.
Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mempunyai
hafalan Al-Qur'an, lalu mereka memintakn mengimami mereka dan aku tidak diberi tahu sama sekali tentang persoalan mereka kecuali hal-hal yang baik saja. Ada yang menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab mengizinkar. Mujammi' shalat bersama kaumnya.
Dari Bani Umayyah bin Zaid bin Malik ialah Wadi'ah bin Tsabit. Dia termasuk orang yang ikut membangun Masjid Dhirar. Dialah orang yang berkata: 'Sesungguhnya kami hanya bergurau dan bermain-main.' Allah Taba- raka wa Ta'ala menurunkan ayat tentang dia dan orang-orang munafik seperti dirinya:
 
 

Danjika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. at-Taubah: 65). Hingga akhir kisah.
Dari Bani Ubaid bin Zaid bin Malik ialah Khidzam bin Khalid. Dari rumahnyalah masjid Dhirar. Bisyr, dan Rafi' keduanya adalah anak Zaid.
Dari Bani An-Nabit, Ibnu Hisyam berkata: ialah Amr bin Malik bin Al-Aus.
Dari Bani Haritsah bin Al-Harts bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus ialah Mirba bin Qaidzi. Dialah orang yang berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau berjalan melewati kebunnya dalam perjalanannya menuju medan Perang Uhud, "Hai Muhammad, jika engkau adalah seorang nabi, aku tidak menghalalkanmu ber jalan melewati, kebunku ini." kemudian Mirba' bin Qaizhi mengambil segenggam tanah, dan berkata: "Demi Allah, jika aku tahu bahwa tanah ini tidak mengenai orang lain selain dirimu, aku akan melemparmu dengannya." Spontan kaum muslimin ingin membunuhnya, namun Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka, "Biarkanlah dia. Orang ini buta hati dan matanya." Lalu dia dipukul oleh Sa'ad bin Zaid dan saudaranya Aus bin Qaidzi, mereka saudara Bani Abdul Asyhal hingga ia terluka. Dialah yang berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pada Perang Khandaq: "Sesungguhnya rumah-rumah kami adalah terbuka tidak ada penjagaya. Oleh karena itu, izinkan kami pulang ke rumah." Allah Tabaraka Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan Aus bin Qaidzi tersebut:


Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (QS. al-Ahzab: 13).
Ibnu Hisyam berkata: kata 'aurat" dalam ayat ini artinya adalah terbuka untuk musuh dan bisa habis. Aurat juga bermakna kehormatannya atau kemaluannya.
 
Dari Bani Zhafar, nama aslinya ialah Ka'ab bin Al-Harits bin Al-Khazraj adalah seba gai berikut: Hathib bin Umayyah bin Rafi'. Ia orang tua yang berbadan besar, dan tetap bertahan pada kejahiliyahannya. Ia memiliki seorang anak yang termasuk seorang muslimin pilihan bernama Yazid bin Hathib. Yazid bin Hathib ikut Perang Uhud hingga terdapat banyak luka di tubuhnya, kemudian ia dibawa ke pemukiman Bani Zhafar.
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa telah ber- kumpul seluruh kaum Muslimin baik laki- laki maupun wanita yang berasal dari Bani Zhafar di rumah Yazid bin Hathib pada saat dia dalam kondisi sakaratul maut. Kemudian mereka berkata: 'Bergembiralah engkau wahai Yazid dengan surga.' Demikianlah sehingga tampak jelas kemunafikan Hathib bin Umayyah. Hathib bin Umayyah berkata: 'Ya betul surga dari tumbuh-tumbuhan Harmal! Demi Allah, kalian telah menipu orang yang lemah


Ibnu Ishaq berkata: Busyair bin Ubairiq, dia adalah Abu Thu'mah. Dialah orang yang mencuri dua baju besi dan Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang dirinya:


Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orangyang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa (QS. an-Nisa: 107).
Quzman, sekutu mereka. Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh Quzman adalah diantara manusia yang akan menghuni neraka."73

Pada saat Perang Uhud, Quzman bertempur dengan gigih bahkan dia berhasil membunuh banyak orang dari kaum musyrikin, dan dia pun mengalami banyak luka. Kemudian dia dibawa ke perkampungan Bani Zhafar. Salah seorang dari kaum Muslimin berkata kepadanya: "Bergembiralah engkau wahai Quzman, sungguh pada hari ini engkau mendapatkan keuntungan besar, dan mendapatkan ujian di jalan Allah seperti yang engkau rasakan." Quzman bertanya: "Dengan apa aku harus bergembira. Demi Allah, aku tidak bertempur kecuali demi membela kaumku." Saat luka- lukanya bertambah parah, dan membuatnya merasa semakin kesakitan, Quzman mengambil anak panah dari busurnya, kemudian ia memotong urat nadi tangannya dengan anak panah tersebut. Ia pun mati bunuh diri.
Ibnu Ishaq berkata: Tidak diketahui ada orang taki-laki dan wanita munafik di Bani Abdul Asyhal, namun Adh-Dhahhak bin Tsabit, salah seorang dari Bani Ka'ab satu kabilah Sa'ad bin Zaid dicurigai sebagai orang munafik dan dekat dengan orang Yahudi.
Ibnu Ishaq berkata: Julas bin Suwaid bin Shamit sebelum taubatnya -seperti disampaikan kepadaku-, Mu'attib bin Qusyair, Rafi' bin Zaid, dan Bisyr mengaku bahwa mereka masuk Islam. Mereka pernah berselisih dengan sebagian kaum Muslimin, kemudian pihak kaum Muslimin meminta perkaranya dibawa dan diadukan kepada Rasulullah Shal- lalahu 'alaihi wa Sallam, sementara mereka meminta
 
perkara itu dibawa ke tukang ramal, hakim orang-orang Jahiliyah. Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tentang mereka:


Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. an-Nisa': 60).
Dari Al-Khazraj, kemudian dari Bani An-Najjar adalah sebagai berikut: Rafi' bin Wadi'ah, Zaid bin Amr, Amr bin Qais, Qais bin Amr bin Sahl.
Dari Bani Jusyam bin Al-Khazrad, kemudian dari Bani Salimah ialah Al Jadd bin Qais. Dialah yang berkata: "Hai Muhammad, izinkan aku tidak mengikuti perang dan janganlah engkau menjerumuskanku ke dalam fitnah.' Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang dirinya,


Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah." Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orangyang kafir. (QS. at-Taubah:49).
Dari Bani Auf bin Al-Khazraj ialah Abdullah bin Ubay bin Salul. Dialah gembong orang-orang munafik dan orang-orang munafik senantiasa datang berduyun kepadanya. Dialah yang berkata di Perang Bani Al-Musthalaq, 'Jika kami tiba di Madinah, orang yang paling mulia akan mengusir orang yang paling hina darinya.' Allah Ta'ala menurunkan surat Al-Munafiqun secara sekaligus yang mengabadikan ucapannya tersebut, dirinya, Wadi'ah salah seorang dari Bani Auf, Malik bin Abu Qauqal, Suwaid, dan Da'is. Mereka orang-orang terdekat Abdullah bin Ubay bin Salul.
Abdullah bin Ubay bin Salul bersama me reka menyusup ke Bani An-Nadhir ketika mereka di kepung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata kepada orang-orang Bani An-Nadhir, 'Hendaklah kalian tetap bertahan. Demi Allah, jika kalian diusir, kami akan keluar bersama kalian. Kami tidak akan patuh kepada seorang pun untuk menyusahkan kalian. Jika kalian diperangi, kami pasti
 
menolong kalian-' Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang Abdullah bin Salul dan teman- temannya dari kaum munafik tersebut dalam ayat berikut:


Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli Kitab: "Sesungguhnya jika kamu di usir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu." Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka
 
adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedanghati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam." (QS. al Hasyr:11-16)



Di antara Rahib-rahib Yahudi yang Pura-pura Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: berikut ini adalah di antara orang-orang yang berlindung diri dengan agama Islam, masuk Islam bersama kaum Muslimin, serta menampakkan keislamannya, padahal mereka orang- orang munafik, dari golongan rahib-rahib Yahudi.
Dari Bani Qainuqa' adalah sebagai berikut: Sa'ad bin Hunaif, Zaid bin Al-Lushait, Nu'man bin Awfa bin Amr, dan Utsman. Zaid bin Al-Kushait pernah bertengkar dengan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu di pasar Bani Qainuqa'. Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kehilangan untanya dia Zaid bin Al-Kushait: "Muhammad mengaku mendapat wahyu dari langit, mengapa sampai dia tidak tahu di mana untanya ber- ada?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda -setelah mendapatkan wahyu- dari Allah tentang ucapan musuh Allah tersebut tentang lokasi unta beliau berada: "Sesungguhnya orang yang mengatakan bahwa Muhammad mengaku mendapat wahyu, kenap* tidak tahu di mana untanya berada, maka sesungguhnya aku tidak tahu apa-apa kecual apa yang diberitahukan oleh Allah kepadaku- dan sungguh Allah telah menunjukkan kepadaku lokasi unta itu, ia berada di syi'b. Unta tersebut tertahan oleh pohon dengan tab kekangnya." Kemudian beberapa orang dar. kaum Muslimin pergi kesana dan mendapat unta tersebut seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Rafi' bin Huraimalah. Pada saat dia mat:. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ber sabda tentang dirinya: "Pada hari ini, salah seorang pembesar orang-orang munafik telah meninggal dunia."
Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut. Dalam perjalanan pulang setelah perang melawan Ban: Al-Mushthalaq, angin bertiup kencang menerpa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga kaum Muslimin merasa kewalahan, kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada kaum Muslimin: "Janganlah kalian takut. sesungguhnya angin ini bertiup kencang karena kematian salah satu pemimpin orang-orang kafir." Dan terbukti ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, beliau mendapati Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut meninggal dunia tepat pada hari angin bertiup kencang.
Silsilah bin Burham serta Kinanah bir. Shuriya.




Pengusiran Orang-orang Munafik dari Mesjid Rasulullah
 
Ibnu Ishaq berkata: Suatu hari beberapa orang munafik berada di masjid Nabi. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat mereka sedang berbincang di antara mereka dengan suara lirih sambil mendekat pada yang lain. Lalu Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk menggusir mereka dengan tegas dari masjid.
Abu Ayyub Khalid bin Zaid bin Kutaib beranjak berdiri dari tempat dimana dia duduk lalu berjalan ke tempat Amr bin Qais saudara Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Amr bin Qais adalah pemilik patung- patung sesembahan mereka di zaman jahiliyah. Lalu ia memegang kuat kaki Amr bin Qais dan menariknya hingga ia keluar dari masjid. Amr bin Qais berkata kepada Abu Ayyub: "Wahai Abu Ayyub, pantaskan engkau mengusir diriku dari tempat pengeringan kurma ( masjid Nabi) Bani Tsa'labah?" Lalu Abu Ayyub bergerak menuju tempat Rafi' bin Wadi'ah, salah seorang Bani An-Najjar. Ia pegang kuat leher baju Rafi' bin Wadi'ah lalu menariknya dengan kencang. Ia tampar wajahnya, mengusirnya dari masjid seraya berkata: "Celakalah engkau wahai orang munafik yang menjijikkan. Wahai munafik kotor, keluarlah dari masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam."
Imarah bin Hazm bangki ke tempat Zaid bin Amr. Zaid adaiah seorang lelaki berjenggot panjang. Ia pegang jenggotnya, dan menariknya dengan kencang sampai ia dipaksa keluar masjid. Kemudian Imarah bin Hazm mengepalkan kedua tangannya dan memukul wajah Zaid bin Amr sehingga membuat Zaid bin Amr tersungkur jatuh. Zaid bin Amr berkata: "Wahai Imarah, engkau telah mencideraiku!" Imarah bin Hazm berkata: "Wahai munafik kotor, mudah-mudahan Allah mencelakakanmu. Apa yang Allah persiapkan bagimu nanti jauh lebih mengerikan daripada tamparanku. Janganlah sekali-kali engkau mendekati masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam."
Ibnu Ishaq berkata: Abu Muhammad yang berasal dari Bani An-Najjar -pemilik nama lengkap Mas'ud bin Aus bin Zaid bin Ashram bin Zaid bin Tsa'labah bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar- beranjak ke tempat dimana Qais bin Amr bin Sahl berada. Ia seorang pemuda satu-satunya di tengah orang-orang munafik saat itu, lalu ia mendorong tengkuk kepalanyanya sampai ia keluar dari masjid Nabi.
Seseorang dari Khadirah-bin Al-Khazraj yang bernama Abdullah bin Al-Harits orang yang berasal dari kabilah yang sama dengan Sa'id Al-Khudri berjalan ke tempat Al-Harits bin Amr yang memiliki rambut sangat tebal, kemudian ia menarik rambutnya serta menyeretnya dengan kuat sampai dia tertarik keluar dari masjid. Si munafik kotor Al-Harits bin Amr berkata kepada Abdullah bin Al-Harits: "Wahai anak Al-Harits, engkau telah ber- laku di luar batas pada diriku." Abdullah bin Al-Harits menjawab: "Engkau sangat pantas menerimanya, wahai musuh Allah, karena Allah telah menurunkan firman-Nya tentang dirimu. Maka janganlah engaku pernah lagi mendekati masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam karena sesungguhnya dirimu itu najis."
Seseorang dari Bani Amr bin Auf bangkit ke tempat saudaranya yang bernama Zuwai bin Al-Harits lalu mengusirnya keluar dari masjid. Zuwai bin Al-Harits tidak menerima perlakuan seperti itu dari saudaranya. Maka ia berkata: "Setan telah menguasai dirimu dan kau berada dalam cengkeraman perintahnya."
Si munafik-munafik inilah yang berada di masjid dimana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan agar mereka diusir dari masjid.



Ayat-ayat dalam Surat Al-Baqarah Yang Turun tentang orang-orang Munafik dan Yahudi
 
Mengenai pendeta-pendeta Yahudi dan orang munafik dari Aus dan Khazraj, Allah menurunkan permulaan surat Al-Baqarah sampai ayat seratus. Allah berfirman:


Alif Laam Miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QS. al-Baqarah: 1-2), yakni tidak ada kesamaran dan keraguan di dalamnya.
petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QS. al-Baqarah: 2) Orang-orang bertakwa yang dimaksud adalah mereka yang takut mendapatkan siksa Allah akibat dari meninggalkan petunjuk yang telah mereka ketahui. Dan mereka senantiasa berharap rahmat Allah dengan senantiasa membenarkan apapun yang datang dari Allah kepada mereka.


(yaitu) mereka yang beriman kepada yanggaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS. al-Baqarah: 3). Yakni, mereka mendirikan shalat dan menaikan zakat dengan harapan memperoleh ridha Allah.

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, (QS. al-Baqarah: 4). Yakni, percaya sepenuhnya dengan apa yang engkau bawa dari Tuhanmu dan percaya sepenuhnya dengan apa yang dibawa para Rasul yang datang sebelummu dengan tidak membeda-bedakan antari rasul serta tidak membangkang terhadap ajaran yang mereka bawa dari Tuhan mereka.


serta mereka yakin akan adanya (kehidupan akhirat (QS. al-Baqarah: 4). Yakni, mereka yakin sepenuhnya akan adanya Hari Berbangkit, Hari Kiamat, surga, dan neraka, Hari Hisab dan neraca amal perbuatan. Mereka yakir. sepenuhnya akan apa yang dibawa para rasuj sebelummu, dan apa yang diturunkan tuhan kepadamu.

 
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka (QS. al-Baqarah: 5) Yakni, mereka mendapat cahaya petunjuk dari tuhan dan senantiasa berpegang teguh dengan ajaran yang diturunkan kepada mereka.


dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. al-Baqarah: 5). Yakni orang-orang yang memperoleh apa yang selama ini mereka can. dan selamat dari kejahatan yang mereka lari dari padanya.


Sesungguhnya orang-orang kafir (QS. al-Baqarah: 6),Yakni, orang-orang yang mengingkari terhadap apa yang diturunkan Allah kepadamu walaupun mereka berucap bahwa kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada para rasul sebelummu.


Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman (QS. al-Baqarah: 6). Yakni, mereka mengingkari kitab milik mereka sendiri yang memuat tentang kenabian dirimu di dalamnya, dan mengkhianati perjanjian yang diambil dari mereka untuk dirimu. Mereka mengingkari apa yang datang padamu dan apa yang ada pada mereka sendiri yang telah Allah turunkan kepada orang selain engkau. Lalu bagaimana mungkin mereka suka menyimak ancaman dan peringatanmu, sedangkan mereka telah kafir terhadap kitab mereka sendiri yang di dalamnya tercantum pengetahuan tentang diri dan kenabianmu.


Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup (QS. al- Baqarah: 7). Yakni, penglihatan mereka ditutup dari kebenaran, dan membuat mereka tidak kuasa mendapatkannya untuk selama-lamanya.

Dan bagi mereka (QS. al-Baqarah: 7). Yakni, akibat dari tindakan penentangan mereka terhadapmu.

 
Siksa yang amat berat (QS. al-Baqarah: 7). Yakni, siksa tersebut ditujukan untuk pendeta-pendeta Yahudi sebab mereka telah mendustakan kebenaran, padahal sebelumnya mereka telah mengetahuinya.


Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman (QS. al-Baqarah: 8). Yakni orang-orang munafik dari Aus dan Khazraj dan orang-orang yang semisal mereka.


Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. al-Baqarah: 9).


Dalam hati mereka ada penyakit (QS. al- Baqarah: 10). Yakni, penyakit keraguan dan syakwasangka.


lalu ditambah Allah penyakitnya (QS. al-Baqarah: 10). Yakni, Allah melipatkan gandakan keraguannya.


dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan (QS. al-Baqarah: 10-11). Yakni, sebenarnya kami bermaksud mendamaikan dua pihak kaum Mukminin dengan Ahli Kitab. Allah Ta'ala berfirman:
 
 

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman. " Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, (QS. al-Baqarah: 12-14), Setan- setan tersebut adalah orang-orang Yahudi yang menyuruh mereka mendustakan kebenaran, dan membangkang terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka mengatakan:


"Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, (QS. al-Baqarah: 14). Yakni, kami hanyalah berolok- olok dan bermain-main dengan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:


Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, (QS. al-Baqarah: 15-16). Yakni, mereka menukar kekafiran dengan keimanan.


Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS. al- Baqarah: 16).


Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah membuai perumpamaan tentang mereka. Allah Yang Mahaagung berfirman:
 
 

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat (QS. al-Baqarah: 17).
Yakni, mereka tidak kuasa melihat kebenaran dan tidak kuasa pula untuk mengutarakannya. Apabila mereka keluar dengan kebenaran dari kegelapan kekafiran, mereka memadamkannya kembali dengan kekafiran dan kemunafikan mereka, lalu Allah membiarkan mereka dalam gelap kekafiran sehingga mereka tidak mampu melihat petunjuk dan tidak pula mampu bertahan berada dalam kebenaran.


Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (QS. al-Baqarah: 18). Yakni, mereka tidak kuasa untuk kembali pada petunjuk. Mereka tuli, bisu, dan buta akan kebenaran. Mereka tidak akan kuasa untuk kembali kepada kebaikan, dan tidak akan memperoleh keselamatan sepanjang mereka tetap berada dalam posisi mereka.


atau seperti (orang-orangyang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anakjarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (QS. al-Baqarah: 19)
Ibnu Ishaq berkata: Mereka berada dalam gulita kekafiran, mereka menghindari kematian, dari orang- orang yang berbeda dengan mereka dan khawatir akan mereka. Sebagaimana disifatkan laksana tatkala mereka berada di gelapnya hujan. Mereka menjadikan jari jemarinya di kedua telinganya karena suatu guruh karena takut mati. Dia berkata: Allah menurunkan itu semua pada mereka sebagai siksa atas kedurhakaan mereka. Yakni Allah meliputi orang-orang kafir.


Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. (QS. al-Baqarah:20). Karena kuatnya sinar kilatan itu.
 
 

Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. (QS. al-Baqarah: 20). Yakni, mereka mengetahui kebenaran dan membicarakannya. Jika mereka kebali dari kebenaran kepada kekafiran, mereka menjadi orang-orang linglung kebingungan


Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. (QS. al- Baqarah: 20). Yakni akibat apa yang mereka tinggalkan dari kebenaran setelah mengetahuinya.


Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 20).
Kemudian Allah berfirman:


Hai manusia, sembahlah Tuhanmu (QS. al-Baqarah: 21). Perintah tadi diarahkan kepada dua kelompok di atas yaitu orang-orang kafir dan munafik. Maksudnya, kalian harus meng-Esakan Tuhan kalian.


Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itujanganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui (QS. al-Baqarah: 21-22).
 
Ibnu Hisyam berkata: al-andad artinya "al-amtsal" kata singularnya adalah "nidd" Labid bin Rabi'ah berkata:
Aku memuji Allah karena dia tidak punya nidd(sekutu) Di tangan-Nya segala kebaikan apa yang Dia kehendaki

Ini adalah penggalan syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Yakni janganlah kalian menyekutukan Allah dengan selain-Nya beruapa tandingan- tandingan yang tidak memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya. Kalian tahu bahwa tidak ada Tuhan yang kuasa memberi rezeki pada kalian selain Dia. Kalian tahu pula bahwa tauhid yang Rasul serukan kepada kalian adalah benar dan tiada sedikitpun keraguan padanya.


Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad) (QS. al-Baqarah: 23). Yakni, apabila kalian merasa ragu terhadap apa yang dibawa oleh rasul untuk kalian,


buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah (QS. al-Baqarah: 23). Yaitu pihak- pihak yang mampu membantu kalian.


"Jika kamu orang-orang yang benar. 'Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya)... (QS. al-Baqarah: 23-24). Karena kebenarir telah tampak jelas bagi kalian.


peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediaksn bagi orang- orang kafir (QS. al-Baqarah: 24) Yakni, neraka itu disediakan buat orang-orang kafir yang semisal dengan kalian.
Kemudian Allah memberikan kabar gembira dan peringatan terhadap mereka akibat dari melanggar perjanjian yang telah diam bil atas mereka untuk Nabi-Nya Shallalakt 'alaihi wa Sallam apabila ia
 
datang pada mereka dan menerangkan mengenai asal-muasal penciptaan mereka tatkala Allah menciptaki: mereka, dan memaparkan kepada mereka tentang para leluhur mereka, Adam dengan segala kondisinya. Apa yang telah Allah lakukar padanya saat Adam tidak taat kepada-Nya Kemudian Allah berfirman:


Hai Bani Israel (QS. al-Baqarah: 40). Seruan itu diarahkan untuk pendeta-pendeta Yahudi.


ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu (QS. al-Baqarah: 40). Yakni, nikmat- Ku atas kalian secara khusus juga atas leluhur-leluhur kalian, dimana dengan nikmat itu Allah menyelamatkan mereka dari kejahatan Fir'aun dan kaumnya,


dan penuhilah janjimu Kepaaa-Ku (al- Baqarah: 40). Yakni, janji yang dibebankan di pundak kalian untuk Nabi Ahmad (Muhammad), apabila ia datang kepada kalian,


niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu (QS. al-Baqarah: 40), Yakni, pasti Aku tepati apa yang Aku pernah janjikan untuk kalian, apabila kalian membenarkan Nabi tersebut dan mengikutinya. Yakni dengan melepaskan semua belenggu yang ada pada pundak kalian akibat dosa-dosa kalian,


dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (QS. al-Baqarah: 40). Yakni, Aku turunkan siksaan-siksaan yang pernah Aku turunkan kepada leluhur kalian dan kalian telah mengetahui bentuk siksaan-siksaan itu.


Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orangyangpertama kafir kepadanya, (QS. al- Baqarah: 41). Yakni, janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali kafir kepada Nabi itu, sebab kalian memiliki ilmu mengenai dirinya, satu hal yang tidak dimiliki orang-orang selain kalian,
 
 

dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada AKulah Kamu harus bertakwa. Dan jangan-lah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.' (QS. al-Baqarah: 41-42). Yakni, janganlah kalian menyembunyikan ilmu akan Rasul-Ku yang ada pada kalian serta apa yang dibawanya yang kalian temukan dalam kitab-kitab suci kalian.


Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?' (QS. al- Baqarah: 44). Yakni, mengapa kalian melarang manusia kafir terhadap kenabian, dan janji yang ada dalam kitab Taurat, sementara kalian lupa terhadap diri kalian sendiri. Artinya, kalian ingkar terhadap janji-Ku buat kalian untuk menyataka kebenaran Rasul-Ku, kalian melanggar janji-Ku serta menolak Kitab-Ku yang sudah kalian ketahui. Kemudian Allah menerangkan kepada mereka semua perbuatan mereka. Allah paparkan kisah sapi betina pada mereka, tindakan mereka terhadapnya, tobat mereka yang Allah kabulkan, pengusiran mereka, dan perkataan bodoh mereka:


Perlihatkan Allah kepada kami secara terang-terangan (QS. an-Nisaa': 153).
Ibnu Hisyam berkata: Jahrah artinya, yakni tampak jelas kepada kami dan tidak tertutup sesuatupun dari kami.
Ibnu Ishaq berkata: Mereka dihantam petir karena keteledoran mereka, lalu Allah menghidupkanya kembali, menaungi mereka dengan awan dan menurunkan kepada mereka Manna dan Salwa. Lalu Allah berfirman kepada mereka:


dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskatilah kami dari dosa" (QS. al-Baqarah: 58). Yakni, ucapkanlah apa yang Kami perintahkan pasti Aku akan menghapus dosa-dosa kalian. Allah menjelaskan bahwa mereka mengubah firman di atas sebagai bahan pelecehan terhadap perintah-Nya.
 
Ibnu Hisyam berkata: Al-Mann adalah sesuatu yang turun pada saat waktu sahur pada pepohonan yang mereka miliki lalu mereka mengambilnya dalam keadaan manis bagaikan manisnya madu serta meminum dan memakannya. Sedangkan As-Salwa adalah salah satu jenis burung. Ada pula yang mengatakan bahwa maksud As-Salwa ialah burung puyuh. Madu kadang kala juga dinamakan dengan As-Salwa.
Firman Allah,'Hiththatun, artinya hapuslah dosa-dosa kami!"
Ibnu Ishaq berkata: Di antara perbuatan mereka mengubah perintah Allah adalah sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Shalih bin Kaisan dari Shalih, mantan budak At-Taumah binti Umayyah bin Khalaf dari Abu Hurairah dan dari orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari Ibnu Abbas dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang bersabda: "Mereka masuk dari pintu tempat mereka diperintahkan masuk darinya dalam keadaan sujud, tapi mereka memasukinya dengan cara merangkak sambil mengatakan, 'Hinthunfi syair (Hinthun adalah salah satu jenis gandum)."
Ibnu Ishaq berkata: Ayat tersebut kemudian dilanjutkan dengan kisah mengenai permohonan air oleh Musa bagi kaumnya, perintah Allah kepada Musa agar Musa menggunakar. tongkatnya untuk memukul batu, lalu memancarlah dua belas mata air untuk mereka dar. setiap kabilah memiliki mata airnya sendiri dan mengetahui mata air mereka masing-masing, serta kisah mengenai perkataan mereka kepada Musa Alaihis-Salam:


"Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dari bawang merahnya." Musa berkata: "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebaga: pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta" (QS. al-Baqarah: 61).
Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah, 'Al-Fumu berarti biji gandum
Ibnu Ishaq berkata: Mereka tidak melakukan perintah Musa. Ayat itu kemudian dilanjutkan dengan kisah diangkatnya Gunung Ath-Thur di atas mereka, perubahan fisik mereka dimana Allah mengubahnya menjadi kera akibat tindakan dan tingkah buruk mereka. Kisah berlanjut tentang sapi betina yang mengandung pelajaran dalam kasus pembunuhan yang mereka persengketakan. Lalu Allah menerangkan kejadian tersebut mereka setelah mereka bertanya secara berulang-ulang kepada Musa tentang ciri-ciri sapi betina yang dimaksud. Kisah berlanjut tentang mengerasnya hati mereka setelah peristiwa itu hingga seperti batu atau bahkan jauh lebih keras lagi. Kemudian Allah berfirman kepada mereka:
 
 

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. (QS. al-Baqarah: 74). Yakni, di antara jenis batu itu terdapat batu yang jauh lebih lembut dari pada hati kalian yang keras terhadap kebenaran yang diserukan kepada kalian. Allah melanjutkan firman-Nya:


Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Baqarah: 74).
Kemudian Allah menunjukkan firman-Nya kepada Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kaum Mukminin, sahabat beliau:


Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. al-Baqarah: 75).
Maksud firman Allah bahwa mereka mendengar Taurat, itu tidak berarti bahwa semua mereka mendengarkannya. Bahkan beberapa ulama berpendapat bahwa hanya kalangan tertentu saja yang mendengarkan Taurat. Bani Israel berkata kepada Musa: "Wahai Musa, sesungguhnya kami terhijab tidak mampu melihat Allah secara nyata, maka perdengarkan kepada kami suara Allah agar Dia berkomunikasi langsung denganmu." Maka Musa memohonkan permintaan itu kepada Tuhannya. Allah berfirman kepada Musa: Wahai Musa, perintahkan mereka untuk membersihkan diri dengan mencuci pakaian mereka, dan berpuasa." Mereka melak- sanakan perintah Altah tersebut, lalu Musa pergi membawa serta mereka sampai tiba di bukit Ath-Thur. Tatkala mereka tertutup ka- but tebal, Musa memerintahkan mereka untuk bersujud. Saat mereka bersujud itulah, Allah berbicara dengan Musa sementara mereka mendengarkan firman Allah yang memerintahkan dan melarang mereka hingga mereka mampu memahami apa yang baru saja mereka dengar. Lalu Musa kembali pulang membawa mereka kepada Bani Israel. Sesampainya di sana, sebagian mereka mengganti apa yang
 
baru saja Allah perintahkan kepada mereka. Ketika Musa berkata kepada Bani Israel: "Sesungguhnya Allah memerintahkan ini dan itu atas kalian." Namun mereka mengatakan sebaliknya dari apa yang Allah firmankan kepada mereka. Mereka itulah yang Allah terangkan kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Kemudian Allah berfirman:


Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orangyang beriman, mereka berkata: "Kami pun telah beriman," (QS. al-Baqarah; 76). Yakni, kami pun beriman dengan sahabat kalian adalah Rasulullah Shallahahu 'Alaihi wa Sallam, namun ia hanya diutus secara khusus kepada kalian. Tapi, mana kala mereka berada bersama kelompoknya mereka berkata: "Janganlah kalian memceritakan ini kepada orang-orang Arab, sebab dulu kalian pernah meminta kemenangan atas mereka dengan selalu menyebut nama Muhammad, ternyata kini Muhammad berada di pihak mereka." Allah menurunkan firman-Nya perihal mereka,


Dan apabila mereka berjumpa dengan orang- orang yang beriman, mereka berkata: "Kami pun telah beriman," tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?" (QS. al-Baqarah: 76). Yakni, apakah kalian mengakui Muhammad sebagai Nabi, padahal kalian mengetahui bahwa kalian telah dimintai perjanjian untuk mengikutinya. Dia telah menerangkan dengan gamblang bahwa Muhammad adalah seorang Nabi yang sejak lama kita tunggu-tunggu, dan kita dapati namanya dalam Kitab suci kita. Maka ingkarilah. dan jangan pernah engkau mengakuinya. Allah berfirman:


Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. al-Baqarah: 77-
 
78). Yakni, merekii tidak mengetahui Al-Kitab, tidak memaham: isinya, serta tidak mengakui kenabianmu melainkan hanya berdasar pada prasangka saja Allah berfirman:


Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidan akan disentuh oleh api neraka, kecuali selamu beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukak kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (QS. al-Baqarah: 80).
Ibnu Ishaq berkata: Mantan budak Zaid bin Tsabit berkata kepadaku dari Ikrimah atau dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi hm Sallam tiba di Madinah, orang-orang Yahudi berkata: "Usia dunia ini ialah tujuh ribu tahun. Allah menyiksa manusia di neraka dalam setiap seribu tahun hitungan hari-hari dunia dengan hanya satu hari dari hitungan hari-hari akhirat di neraka. Dengan demikian mereka hanya menjalani tujuh hari siksa di dalam neraka, kemudian siksa terhenti.' Allah Ta 'ala menurunkan ayat tentang ucapan mereka tersebut:


Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja. " Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?." (Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.' (QS. al-Baqarah: 80-81), Yakni, barangsiapa mengerjakan tindakan sebagaimana tindakan kalian, dan berlaku ingkar sebagaimana kekafiran kalian, maka kekafiran akan menghapus kebaikan dirinya di sisi Allah.
 
 

Dan orang-orang yang beriman serta beramal shaleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS. al-Baqarah: 82). Yakni, barangsiapa beriman kepada apa yang mereka ingkari, dan melakukan apa yang kalian tinggalkan dari agama-Nya, bagi mereka surga dan mereka kekal di dalamnya. Allah menjelaskan kepada mereka bahwa balasan kebaikan dan keburukan itu diberikan secara terus menerus kepada pelakunya tanpa terhenti.
Ibnu Ishaq berkata: Allah mencela mereka dengan firman-Nya:


Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. al-Baqarah: 83). Yakni, kalian meninggalkan semua itu, dan tidak menetapi perjanjian, bukan karena kurang pengetahuan.
Allah melanjutkan firman-Nya:


Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya (QS. al-Baqarah: 84). Yakni, bahwa ini adalah hak dari perjanjian-Ku atas kalian.
Allah melanjutkan firman-Nya:
 
 

Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan (QS. al-Baqarah: 85). Yang dimaksud dengan mereka pada ayat di ini adalah orang-orang musyrik. Kalian menumpahkan darah dan mengusir mereka dari negeri mereka.


tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. (QS. al-Baqarah: 85).
Yakni, padahal kalian mengetahui bahwa itu telah ditetapkan dalam agama dan dalam kitab kalian yaitu haram hukumnya bagi kalian untuk mengusir mereka.
Allah Ta'ala berfirman:


Apakah kamu beriman kepada sebahagiar. Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? (QS. al-Baqarah: 85), yakni, apakak kalian menebus mereka dalam keadaan kahir mempercayainya, dan kalian mengusir mereka dalam keadaan mengingkarinya.
Allah berfirman:


Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat: mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat (QS. al-Baqarah: 85).
 
Allah memurkai mereka disebabkan perbuatan buruk mereka. Padahal Allah telar mengharamkan mereka di dalam Taurat untuk membunuh orang lain, dan mewajibkan ataf mereka untuk menebus tawanan perang.
Pendeta-pendeta Yahudi terbagi dua: Pertama, Bani Qainuqa' dan orang-orang yang selaras dengan mereka, mereka adalah sekutu Khazraj. Kedua, An-Nadhir, Quraizhah, dan orang-orang yang selaras dengan mereka, sekutu Aus. Apabila terjadi perang antara Khazraj melawan Aus, Bani Qainuqa' beraci di pihak Khazraj, sementara An-Nadhir dar Quraizhah berada di pihak Aus. Setiap kubu membantu sekutunya untuk menghadapi lawannya yang pada akhrinya mereka menum pahkan darah. Padahal memiliki Taurat yang darinya mereka mengerti hak dan kewajiban mereka. Aus dan Khazraj adalah orang-orang musyrik yang tidak mengetahui surga tidak pula neraka, Hari kebangkitan, Hari Kiamat, Kitab, Suci atau hal-hal yang halal dan yang haram.
Apabila perang telah usai, mereka menebus tawanan perangnya karena yakin apa yang tertera di dalam Taurat. Bani Qainuqa' menebus tawanan mereka di Aus. Nadhir dan Quraizhah menebus tawanan mereka di Khazraj. Dan dalam waktu yang sama mereka menyatakan bahwa darah mereka yang tertumpah adalah halal, dan korban mereka yang terbunuh sebagai realisasi dukungan mereka terhadap orang-orang musyrik. Allah Ta'ala berfirman mencela tindakan buruk yang mereka lakukan: Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? (QS. al-Baqarah: 85). Yakni, apakah kalian menebus tawanan perang berdasarkan hukum yang tertera dalam Taurat lalu kalian membunuh manusia padahal pembunuhan adalah merupakan sesuatu yang diharamkan dalam Taurat? Apakah kalian mengusirnya dari negerinya dan mendukung orang-orang yang menyekutukan Allah dan menyembah patung-patung karena mengharapkan kehidupan yang sekejap?
Demikianlah yang diperbuat orang-orang Yahudi terhadap Khazraj dan Aus. Inilah latar belakang sebab dilansirnya kisah ini oleh Allah.
Lalu Allah berfirman:


Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Is a putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. (QS. al-Baqarah: 87). Di antara mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Isa ialah menghidupkan orang yang telah mati, ia meniup tanah yang dibentuk burung kemudian tanah tersebut menjadi burung yang hidup dengan izin Allah, menyembuhkan orang sakit, dan memberi tahu apa yang tersimpan di rumah-rumah mereka. Allah menyebutkan bantahan atas mereka yang ada di dalam Taurat dan Injil yang dibuat untuk mereka. Allah memaparkan kekafiran mereka terhadap semua itu:
 
 

Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. al-Baqarah: 87).
Allah berfirman:


Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup." Allah berfirman: Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. (QS. al-Baqarah: 88).
Allah Ta’ala befirman:


Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. al-Baqarah: 89).
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari sesepuh kalangan Ansar yang mengatakan: Ayat di atas diturunkan karena perbuatan kami dan orang-orang Yahudi. Kami mengalahkan orang-orang Yahudi pada masa jahiliyah, saat itu kami masih berstatus sebagai ahli syirik, sedangkan mereka para Ahli Kitab. Dahulu pendeta-pendeta Yahudi berkata kepada kami: "Kemunculan nabi yang akan diutus telah dekat. Apabila ia telah muncul kami akan menumpas kalian sebagaimana penumpasan terhadap kaum Ad dan Iram." Pada saat Allah mengutus Rasul-Nya dari suku Quraisy, kami mengimaninya sementara mereka mengingkarinya." Allah berfirman:
 
 

Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang- orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba- Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (QS. al-Baqarah: 89-90).
Allah murka karena mereka menyia-nyiakan Taurat dan ingkar kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang diutus oleh Allah kepada mereka.
Kemudian Allah memurkai mereka dengan mengangkat Gunung Ath-Thur ke atas mereka, dan mereka menjadikan anak sapi betina sebagai Tuhan selain Allah. Allah berfirman kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:


Katakanlah: Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kamu memang benar. (QS. al- Baqarah: 94), yakni, doakan kematian atas salah satu dari dua kelompok yang paling berdusta di sisi Allah, namun mereka tidak mau melakukannya. Allah Ta'ala melanjutkan firman-Nya:


Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan- kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (QS. al- Baqarah: 95), mereka tidak mengharapkan kematian, karena
 
mereka memiliki pengetahuan tentang dirimu, hanya saja mereka mengingkarinya. Ada yang mengatakan andai saja orang-orang Yahudi mengharapkan kematian pada hari itu, maka tidak ada seorang Yahudi pun yang akan tersisa di atas muka bumi.
Kemudian Allah memaparkan tabiat orang-orang Yahudi yaitu menginginkan kehidupan kekal di dunia dan umur yang panjang:


Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah: 96). Yakni, usia panjang tidak akan pernah bisa menyelamatkan mereka dari adzab, hal tersebut disebabkan karena orang kafir tidak mengharapkan kebangkitan setelah kematian, ia memilih untuk hidup kekal di dunia, karena mengetahui kehinaan yang akan menimpa mereka di akhirat akibat menyia-nyiakan pengetahuan tentang nabi yang dimilikinya. Kemudian Allah berfirman:


Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman (QS. al-Baqarah: 97).



Pertanyaan Orang-orang Yahudi dan Jawaban Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Pada Mereka


Ibnu lshaq berkata: Abdullah bin Abdur-rahman bin Abu Husain Al-Makki bertutur kepadaku dari Syahr bin Hausyab Al-Asy'ari yang berkata bahwa beberapa pendeta Yahudi datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata: "Wahai Muhammad, jawablah pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan kepadamu. Apabila engkau mampu memberikan jawaban, maka kami akan mengikuti, membenarkan dan beriman kepadamu. "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kalian mempunyai perjanjian dengan Allah, bahwa apabila aku mampu menjawab pertanyaan-
 
pertanyaan yang kalian ajukan, kalian pasti membenarkanku?" Mereka berkata: Ya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Katakanlah apa yang kalian hendak tanyakan." Mereka bertanya: "Terangkanlah kepada kami kenapa seorang bayi itu menyerupai ibunya, padahal sperma itu berasal dari bapaknya!” Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, tahukah kalian bahwa sperma laki-laki itu berwarna putih kental, dan ovum wanita berwarna kuning dan encer; maka mana di antara keduanya yang lebih dominan, keserupaan akan terjadi padanya." Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Benar!" Kini terangkanlah kepada kami, bagaimana cara tidurmu!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, aku seperti yang kalian perkirakan dimana mataku tidur namun hatiku tidaklah tidur." Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Benar." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Begitu juga tidurku, mataku tidur, namun hatiku tetap terjaga." Pendeta-pendeta Yahudi itu kemudian bertanya kembali: "Terangkan kepada kami apa saja yang diharamkan orang-orang Israel atas diri mereka!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, tahukah kalian bahwa mulanya makanan dan minuman yang paling disukai Israel adalah daging unta dan susunya? Kemudian ketika ia sakit, maka Allah menyembuhkannya dengannya, kemudian ia mengharamkan atas dirinya makanan dan minuman yang paling disukainya itu sebagai refleksi syukurnya kepada Allah. Dia mengharamkan atas dirinya daging dan susu unta." Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Benar." Kini terangkanlah kepada kami tentang ruh!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, apakah kalian tahu bahwa yang datang kepadaku adalah Jibril?" Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Betul!" Tapi wahai Muhammad, dia adalah musuh Kami. Ia malaikat, tapi dia datang dengan kasar dan menumpahkan darah. Jika bukan karena itu, pastilah kami mengikutimu." Kemudian Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan mereka tersebut:

 
 

Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang- orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babilyaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. al-Baqarah: 97-102)
Ibnu Ishaq berkata: -sebagaimana berita yang sampai kepadaku—bahwa ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyebutkan Nabi Sulaiman bin Daud termasuk bagian dari para rasul, sebagian pendeta Yahudi berkata: Apakah kalian tidak merasa heran dengan Muhammad? Ia beranggapan bahwa Sulaiman bin Daud itu seorang nabi. Demi Allah, Sulaiman bin Daud itu tidak lebih dari seorang penyihir." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang mereka:
Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). (QS. al-Baqarah: 102).
 
Yakni, setan-setan itu kafir disebabkan mereka mengikuti sihir dan mengamalkannya, Dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun (QS. al-Baqarah: 102)
Ibnu Ishaq berkata: seorangyang aku percaya pada kejujurannya berkata kepadaku dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata: Yang diharamkam Israel terhadap dirinya ialah bagian yang menonjol dari hati, ginjal dan lemak kecuali lemak yang ada pada tulang punggung sebab lemak pada tulang punggung biasanya disediakan untuk sesajen yang kemudian ditelan api.



Surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Kepada Orang-orang Yahudi Khaybar


Ibnu Ishaq berkata:-sebagaimana dituturkan kepadaku oleh mantan budak keluarga Zaid bin Tsabit dari Ikrimah atau Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas yang berkata-- Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam menulis surat kepada orang-orang Yahudi Khaybar yang berbunyi sebagai berikut: Bismillahirrah- manirrahim. Dari Muhammad, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sahabat dan saudara Musa, dan orang yang membenarkan apa telah berfirman kepada kalian wahai orang- orang yang diberi Kitab Taurat dan kalian telah temukan ini dalam kitab kalian:


Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam- penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang- orang mukmin). Allah men- janjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath: 29).
 
Aku bersumpah dengan nama Allah, dan dengan apa yang diturunkan kepada kalian, aku bersumpah dengan Dzat yang memberi kalian makan beruapa Al-Manna dan As-Salwa yang diberikan kepada orang-orang yang datang sebelum kalian, aku bersumpah dengan Allah yang mengeringkan laut untuk para leluhur kalian kemudian Allah menyelamatkan kalian dari Fir'aun dan tindakannya. Tidakkah kalian mau memberitahukan kepadaku apakah kalian temukan dalam Kitab yang diturunkan kepada kalian bahwa kalian wajib percaya kepada Muhammad? Apabila kalian tidak menemukannya maka tidak ada paksaan bagi kalian, karena Allah telah menjelaskan,


"Sungguh petunjuk dan kesesatan itu telah jelas. " (QS. al-Baqarah: 256). Aku seru kalian kepada Allah dan Nabi-Nya.



Ayat Al-Qur'an yang Turun tentang Abu Yasir dan Saudaranya


Ibnu lshaq berkata: Sesungguhnya di antara pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang kafir Yahudi yang kisahnya disebutkan dalam Al-Qur'an —sebagaimana dituturkan kepadaku dari Abdullah bin Abbas dan Jabir bin Abdullah bin Ri'ab— yang bertanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sal- lam, dan membuat kerancuan bagi beliau untuk mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan adalah Yasir bin Akhthab dan saudaranya. Suatu ketika Abu Yasir bin Akhthab berjalan melintasi di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan saat itu beliau sedang membaca surat Al-Baqarah, 'Alif' laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2). Kemudian Yasir bin Akhthab menjumpai saudaranya, Huyay bin Akhthab yang tengah berkumpul bersama orang- orang Yahudi. Abu Yasir bin Akhthab berkata: "Demi Allah, ketahuilah, baru saja aku mendengar Muhammad membaca apa yang diturunkan padanya 'Alif' laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2) Orang-orang Yahudi berkata: "Apakah engkau benar-benar men- dengarnya?' Yasir bin Akhthab menjawab: "Benar." Huyay bin Akhthab bersama orang-orang Yahudi segera beranjak dan berangkat untuk menjumpai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata: "Wahai Muhammad, telah dikbarkan kepada kami bahwa engkau membaca apa yang diturunkan kepadamu? "Alif' laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2),
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya, benar." Orang-orang Yahudi berkata: "Apakah ayat Al-Qur'an itu dibawa Jibril dari sisi Allah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya, benar." Orang-orang Yahudi berkata: "Sungguh Allah telah mengutus beberapa nabi sebelum engkau. Kami tidak mengetahui Allah menjelaskan kepada salah seorang nabi itu tentang masa kekuasaannya, dan masa kekuasaan umatnya selain pada dirimu."
Huyay bin Akhtab berkata sambil menghadap pada orang-orang yang datang bersamanya: "Alif satu, laam tiga puluh, dan miim empat puluh. Jadi jumlah keseluruhannya tujuh puluh satu tahun. Apakah kalian akan menganut agama yang masa kekuasaannya hanyalah tujuh puluh satu tahun saja?." Kemudian Huyay bin Akhthab menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan berkata: "Hai Muhammad, apakah engkau mempunyai ayat lain selain ayat tadi?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, Ya!.' Huyai bin Akhthab berkata: "Bagaimana bunyinya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi
 
wa Sallam membaca ayat, 'Alif laam miim shaad (QS. al-A'raaf: 1) Huyai bin Akhthab berkata: "Demi Allah, ayat ini jauh lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam a tiga puluh, miim empat puluh dan shaad adalah sembilan puluh. Jadi jumlah keseluruhannya adalah seratus enam puluh satu tahun. Apakah engkau mempunyai ayat yang lain, wahai Muhammad?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya." Huyay bin Akhthab berkata: "Bagaimana bunyinya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca ayat, 'Alif laam raa' (QS. Yunus: 1) Huyay bin Akhthab berkata: "Demi Allah, ini jauh lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh dan raa' dua ratus. Jadi jumlah keseluruhannya adalah dua ratus tiga puluh satu tahun. Apakah engkau masih memiliki ayat yang lain, wahai Muhammad?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya." Huyay bin Akhthab berkata: "Bagaimana bunyinya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca ayat: Alif laam mim raa (QS. ar-Ra'd: 1). Huyay bin Akhthab berkata: "Ini lebih jauh berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh, miim empat puluh, dan raa' dua ratus. Jadi jumlah keseluruhannya dua ratus tujuh puluh satu tahun." Huyay bin Akhthab berkata: "Wahai Muhammad, masalahnya menjadi sangat kompleks bagi kami, hingga kami tidak mengerti apakah engkau diberi banyak atau sedikit?" Kemudian orang-orang Yahudi itu pergi. Abu Yasir bin Akhthab berkata kepada saudaranya, Huyay bin Akhthab dan pendeta- pendeta Yahudi yang ikut bersamanya: "Tahukah kalian barangkali jumlah tadi diberikan kepada Muhammad, yaitu tujuh puluh satu, seratus enam puluh satu, dua ratus tiga puluh satu, dan dua ratus tujuh puluh satu. Jadi jika dijumlah keseluruhannya maka menjadi tujuh ratus tiga puluh empat tahun. Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Persoalannya menjadi sangat kompleks bagi kami." Para ulama meyakini bahwa ayat di bawah ini Allah turunkan karena ulah mereka:


Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al- Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. (QS. Ali Imran: 7).
Ibnu Ishaq berkata: Aku mendengar dari ulama kredibel yang tidak aku ragukan integritasnya berkata bahwa ayat di atas diturunkan atas warga Najran yaitu pada saat mereka bertemu dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk bertanya tentang Isa bin Maryam ' Alaihis-Salam.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata kepadaku bahwa ia mendengar ayat di atas diturunkan untuk beberapa orang Yahudi namun dia tidak memberikan rinciannya lebih lanjut kepadaku. Wallahu a'lam mana yang lebih benar.



Kekafiran Orang-orang Yahudi terhadap Rasulullah Setelah Mereka Menanti-nanti Kedatangannya dan Ayat Al-Qur'an yang Diturunkan Allah dalam Hal ini


Ibnu Ishaq berkata: Aku mendengar dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas atau dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata: Orang-orang Yahudi berharap mengungguli orang-orang Aus dan Khazraj dengan wasilah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebelum diutusnya. Namun saat Allah mengutusnya dan ternyata beliau berasal dari orang- orang Arab, mereka kafir dan membantah apa
 
saja yang dikatakan beliau. Kemudian Muadz bin Jabal, dan Bisyr bin Al-Barra' bin Ma'rur, saudara Bani Salimah berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah, dan masuklah ke dalam Islam, karena kalian pernah mengharapkan kemenangan atas kami dengan perantara Muhammad, sedangkan kami pada saat itu masih dalam keadaan musyrik. Kalian pernah sampaikan kepada kami bahwa beliau telah diutus, dan kalian telah terangkan kepada kami tentang sifat-sifat beliau." Salam bin Misykam, salah seorang dari Bani Nadhir berkata: " Namun ia sama sekali tidak membawa apa pun yang kami ketahui, dan tidak membawa sesuatu yang pernah kami sampaikan kepada kalian.' Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan mereka dalam firman-Nya berikut:


Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu (QS. al-Baqarah: 89).
Ibnu Ishaq berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam diangat menjadi rasul, dan memaparkan tentang perjanjian yang telah Allah ambil dari mereka, Malik bin Ash-Shaif berkata: "Demi Allah, kami tidak pernah diberi perjanjian agar percaya kepada Muhammad, tidak pernah pula dimintai perjanjian tentang dirinya." Allah Ta'ala menurunkan ayat Al-Qur'an tentang Malik bin Ash- Shaif:


Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. al-Baqarah: 100).
Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Shaluba al-Fithyuni berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Muhammad, engkau tidak datang kepada kami dengan membawa sesuatu yang pernah kami ketahui, dan Allah tidak menurunkan kepadamu ayat nyata yang mengharuskan kami beriman dan mengikutimu." Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan Ibnu Shaluba tersebut:

 
Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang- orang yang fasik. (QS. al-Baqarah: 99).
Ibnu Ishaq berkata: Rafi' bin Huraimalah dan Wahb bin Zaid berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Muhammad, datangkanlah pada kami kitab yang engkau turunkan dari langit hingga kami bisa membacanya, lalu pancarkanlah air sungai untuk kami, pasti kami akan beriman, mengikuti dan membenarkanmu." Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya mengenai perkataan Rafi' bin Huraimalah dan Wahb bin Zaid tersebut:


Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israel meminta kepada Musapada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yanglurus. (QS. al-Baqarah: 108).
Ibnu Ishaq berkata: Huyay bin Akhthab dan saudaranya, Abu Yasir bin Akhthab adalah sosok orang Yahudi yang memendam dendam kesumat yang amat dalam kepada orang-orang Arab, karena Allah memberikan karunia kepada mereka berupa seorang Rasul-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berdua berupaya sekuat tenaga untuk menjauhkan manusia dari agama Islam dengan segala kapasitas yang mereka miliki. Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang mereka berdua:


Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 109).



Konflik Antara Orang-orang Yahudi dan Kristen di Hadapan Rasulullah
 
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat delegasi Kristen Najran sampai di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, maka pendeta-pendeta Yahudi itu datang menemui mereka, dan lang- sung terlibat cekcok dengan mereka di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rafi' bin Huraimalah berkata: "Kalian tidak
mempunyai pegangan." Rafi' bin Huraimalah kafir kepada Isa bin Maryam dan Injil. Seorang delegasi Kristen Najran angkat bicara kepada orang-orang Yahudi: "Kalian tidak memiliki pegangan." Dia juga mengingkari kenabian Musa dan kafir kepada Taurat. Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang ucapan mereka berdua tersebut:


Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,"padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. al-Baqarah: 113).
Yakni, setiap pihak membaca dalam kitabnya apa yang membenarkan sesuatu yang mereka ingkari sendiri. Orang-orang Yahudi kafir kepada Isa bin Maryam, padahal mereka mempunyai kitab Taurat yang di dalamnya Allah mengambil janji kepada mereka melalui mulut Musa 'Alaihis-Salam untuk membenarkan Isa bin Maryam 'Alaihis Salam. Demikian pula dengan Injil yang diturunkan kepada Isa bin Maryam terdapat ayat yang membenarkan Musa 'Alaihis salam dan Taurat yang dia bawa dari Allah. Namun ternyata masing-masing pihak mengingkari apa yang ada di tangan lawannya.
Ibnu Ishaq berkata: Rafi' bin Huraimalah berkata kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam: "Wahai Muhammad, apabila engkau benar-benar seorang Rasul yang diutus oleh Allah sebagaimana yang engkau katakan, maka mintalah kepada Allah agar Dia berbicara kepada kami hingga kami bisa mendengar firman-Nya." Allah Taala menurunkan firman-Nya tentang ucapan Rafi' bin Huraimalah tersebut:

 
Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orangyang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yangyakin. (QS. al-Baqarah: 118).
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Shuriya Al-A'war (si Mata Juling) Al-Fithyuni berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Muhammad, petunjuk itu, hanyalah petunjuk yang kami miliki. Oleh sebab itu, ikutilah kami, pastilah engkau mendapatkan petunjuk." Orang-orang Kristen mengatakan hal serupa. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan Abdullah bin Shuriya dan tentang ucapan orang Kristen tersebut:




Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadipenganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk." Katakanlah: "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya lah kami
 
menyembah. Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah: 135-141)



Komentar Orang Yahudi tentang Pemindahan Kiblat ke Ka'bah


Ibnu Ishaq berkata: Ketika arah kiblat dipindahkan dari Syam ke Ka'bah yang terjadi pada bulan Rajab genap tujuh puluh bulan sesudah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, maka Rifa'ah bin Qais, Fardam bin Amr, Ka'ab bin Al-Asyraf, Rafi' bin Abu Raff Al-Hajjaj bin Amr sekutu Ka'ab bin Al- Asyraf, Ar-Rabi' bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Huqaiq, dan Kinanah bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Huqaiq datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu berkata: "Wahai Muhammad, mengapa engkau beralih dari kiblatmu yang semula, padahal engkau menyatakan bahwa dirimu sebagai penganut agama Ibrahim? Kembalilah kepada kiblatmu yang pertama, niscaya kami mengikuti dan membenarkanmu." Ucapan tersebut memiliki maksud untuk mengeluarkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari agamanya. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:


Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yanglurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblatyang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Sebagai ujian dan cobaan, Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; yakni berupa keyakinan dan yang Allah kokohkan dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Yakni keimanan kalian dengan
 
kiblat dan pembenaran kalian akan Nabi kalian, dan ikutnya kalian pada kiblat terakhir, dan ketaatan kalian pada nabi kalian, agar Allah berikan pahala keduanya secara keseluruhan. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. al-Baqarah: 142-143)
Kemudian Allah Ta'ala berfirman:


Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (QS. al-Baqarah: 144).
Ibnu Hisyam berkata: syathrahu artinya nahwahu (ke arahnya).


Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasukgolongan orang-orang yang zalim. Orang-orang (Yahudidan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang- orang yang ragu. (QS. al- Baqarah: 144-147).
 
Orang-orang Yahudi Merahasiakan Isi Kebenaran yang Terkandungan dalam Kitab Taurat


Ibnu Ishaq berkata: Muadz bin Jabal saudara Bani Salimah, Sa'ad bin Muadz saudara Bani Abdul Asyhal, dan Kharijah bin Zaid saudara Bani Balharits bin Al-Khazraj bertanya kepada beberapa pendeta Yahudi mengenai sebagian kandungan Taurat. Hanya saja mereka merahasiakannya serta menolak dengan keras untuk memberikan penjelasan. Kemudian Allah menurunkan ayat tentang sikap orang-orang Yahudi tersebut:


Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, (QS. al-Baqarah: 159).
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru orang-orang Yahudi untuk masuk Islam dan memperingatkan mereka akan siksa Allah. Raff bin Kharijah dan Malik bin Auf berkata: "Wahai Muhammad, kami hanya akan mengikuti apa yang kami peroleh dari pan leluhur kami, karena mereka lebih mengen. dan lebih bijak daripada kami." Lalu Allat menurunkan firman-Nya tentang ucapan mereka berdua:


Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. al- Baqarah: 170).



Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Mengumpulkan Orang-orang Yahudi di Pasar Bani Qainuqa'


Ibnu Ishaq berkata: Setelah Allah menjatuhkan kekalahan kepada orang-orang Quraisy di Perang Badar, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengumpulkan orang-orang Yahudi di Pasar Bani
 
Qainuqa' setibanya beliau di Ma- dinah. Beliau berkata kepada mereka: "Waha: orang-orang Yahudi, masuklah kalian ke dalam Islam sebelum Allah menjatuhkan kekalahan pada kalian sebagaimana yang menimpa orang-orang Quraisy." Orang-orang Yahud; berkata: "Wahai Muhammad, janganlah engkau terpedaya oleh dirimu sendiri. Engkau hanya berhasil membunuh beberapa orang Quraisy yang miskin pengalaman dan tidak paham tata cara perang. Demi Allah, apabila engkau memerangi kami, engkau pasti akan tahu, bahwa kami benar-benar manusia, dan engkau tidak pernah menjumpai orang-orang sehebat kami." Maka Allah Yang Mahamulia menurunkan firman-Nya :


Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya." Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang- orang muslimin dua kalijumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (QS. Ali imran: 12-13).



Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Masuk ke Baitul Midras


Ibnu Ishaq berkata: Pada suatu hari, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memasuki Baitul Midras (tempat belajar Taurat orang Yahudi) yang pada saat itu dihadiri beberapa orang Yahudi untuk menyeru mereka kembali ke jalan Allah. An-Nu'man bin Amr dan Al-Harits bin Zaid berkata kepada Rasulullah: "Wahai Muhammad, agama apakah yang engkau anut?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku menganut agama Ibrahim." An-Nu'man bin Amr dan Al-Harits bin Zaid berkata: "Sesungguhnya Ibrahim itu orang Yahudi." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika demikian, marilah kita kembali kepada Taurat sebagai jalan keluar dari masalah yang ada di antara kita." Namun mereka berdua menampik ajakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Lalu Allah menurunkan ayat Al-Qur'an tentang keduanya:
 
 

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS. Ali Imran: 23-24).
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat pendeta-pendeta Yahudi dan delegasi Kristen berkumpul di kediaman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mereka terlibat adu mulut.
Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Ibrahim itu adalah seorang Yahudi." Delegasi Kristen berkata: "Ibrahim adalah seorang Kristen." Lalu Allah Ta 'ala menurunkan ayat tentang perselisihan mereka itu:


Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hai Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hai yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah- membantah tentang hai yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. " Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imrm 65-68).
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Shaif. Adi bin Zaid, dan Al-Harits bin Auf berkata kepada sebagian orang Yahudi: "Marilah kita mempercayai apa yang diturunkan kepada Muhammad dan sahabat- sahabatnya di pagi hari, lalu kita berbondong-bondong mengingkarinya pada sore hari, agar kita bisa mengacak-acak agama mereka. Mudar-mudahan mereka melakukan sebagaimana yang kita lakukan lalu mereka berpaling dari agamanya." Maka Allah menurunkan firman Nya :

 
 



Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampw adukkan yang hak dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kami mengetahui? Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apt yang diturunkan kepada orang-orang ber iman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu." Katakanlah: "Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia- Nya) lagi Maha Mengetahui. " (QS. Ali Imran: 71-73).
Abu Rafi' al-Qurazhi berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi dan delegasi Kristen Najran saat mereka berkumpul di kediaman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beliau mengajak mereka kepada Islam: "Wahai Muhammad, apakah engkau bermaksud agar kami menyembahmu sebagaimana orang- orang Kristen menyembah Isa bin Maryam?' Salah seorang dari delegasi Kristen Najran bemama Ar- Ribbiyusu berkata: "Wahai Muhammad, apakah itu yang engkau kehendaki dari kami, dan engkau menyeru kami kepadanya?" Atau sebagaimana yang ia katakan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah, atau menyuruh orang lain beribadah kepada selain Allah. Allah tidak mengutusku demikian, dan tidak menyuruhku pada perkara seperti ini." Lalu Allah menurunkan ayat:

 
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah. " Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?" (QS. Ali Imran 79- 80).
Ibnu Hisyam berkata: Rabbaniyyun adalah para ulama dan fuqaha' terkemuka. Kata tunggalnya "rabbany" dan derivasi dari kata "rabb" yang berarti sayyid (pemimpin).


Akan memberi minum tuannya dengan khamar (QS. Yusuf: 41), yakni rabb (tuan)
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Yang Maha mulia menyebutkan tentang perjanjian yang telah Dia ambil dari mereka dan dari nabi-nabi mereka untuk mengimani Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, apabila dia telah diutus di tengah mereka:


Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yan gAku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." (QS. Ali lmran: 81).



Orang-orang Yahudi Berusaha Membuat Fitnah Antara Kaum Anshar


Ibnu Ishaq berkata: Syas bin Qais seorang yang sudah tua bangka dengan kekafiran yang luar biasa dan memendam kedengkian yang hebat kepada kaum Muslimin, berjalan melewati beberapa sahabat
 
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Aus dan Khazraj dalam sebuah majlis yang menyatukan mereka dan mereka berbincang-bincang satu sama salinnya. Melihat keakraban mereka muncullah kedengkian dan kejengkelan Syas bin Qais. Dia merasa muak saat menyaksikan persatuan dan kebaikan hati mereka dengan Islam setelah sebelumnya pada masa jahiliyah mereka saling bermusuhan. Syas bin Qais berkata: "Tokoh-tokoh Bani Qailah telah berkumpul di negeri ini. Tidak, demi Allah, rasanya tidak sepatutnya bagi kita ikut bersama-sama dengan mereka apabila tokoh-tokoh mereka bertemu di dalamnya secara damai." Maka Syas bin Qais memerintahkan seorang pemuda Yahudi dengan mengatakan padanya: "Pergilah ke tempat mereka kini beradi lalu duduklah bersama mereka! Setelah itu usik ingatan mereka akan Perang Bu'ats dar perang-perang sebelumnya serta lantunkan kepada mereka syair-syair yang dulu pernah mereka lontarkan."



Sekilas tentang Perang Bu'ats


Perang Bu'ats adalah perang yang terjadi antara Al-Aus melawan Al-Khazraj. Perang tersebut dimenangkan oleh Al-Aus atas Al-Khazraj. Saat itu, Al-Aus dipimpin Hudhair bin Simak Al-Asyhali, Abu Usaid bin Hudhair, sedang pemimpin Al-Khazraj pada saa: itu adalah Amr bin An-Nu'man Al-Bayadhi Pada perang tersebut kedua pemimpin tersebut tewas terbunuh.
Perang Bu'ats sangat panjang untuk diurai secara keseluruhan dan saya tidak terpikat untuk memamparkannya mengungkapnya secara utuh, karena khawatir memutus pemaparan sirah hidup Rasulullah.
Ibnu Ishaq berkata: Pemuda Yahudi melaksanakan apa yang diperintahkan padanya yang kemudian kaum muslimin terlibat pembicaraan yang panas antar mereka pada pertemuan tersebut, saling adu mulut hingga mereka bertengkar, dan saling membanggakan dirinya atas orang lain. Bahkan dua orang dari Aus dan Khazraj meloncat ke atas hewan kendaraannya. Mereka adalah Aus bin Qaidhi salah seorang dari Haritsah bin Al-Harits dari Aus dan seorang lagi Jabbar bin Shakr dari Bani Salimah dari Khazraj. Keduanya beradu kata secara bergantian, "Bila kalian mau kami akan melakukan hal yang sama sebagaimana kita lakukan dahulu!' Kedua belah pihak tersulut emosi. Mereka berkata: "Boleh kita lakukan itu dan mari kita bertemu lagi di siang hari. Senjata beradu senjata!" Pada hari yang telah ditentukan, mereka pergi ke tempat yang telah disepakati sebelumnya. Peristiwa ini terdengar oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kemudian beliau berangkat menemui mereka dengan ditemani beberapa sahabat dari kaum Muhajirin. Sesampainya di sana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai kaum Muslimin, ingatlah Allah. Mengapa kalian mengikuti propaganda jahiliyah, padahal aku masih ada di tengah-tengah kalian. Allah telah memberi petunjuk kalian kepada Islam dan menjadikan kalian orang yang mulia dengannya, memutus segala kejahiliyahan dari kalian, menyelamatkan kalian dari kekufuran serta menyatukan hati kalian!" Kaum Muslimin dari Aus dan Khazraj segera menyadari bahwa propaganda jahiliyah adalah tipudaya setan, dan merupakan konspirasi musuh-musuh mereka. Tangisan mereka meledak, mereka saling merangkul, antara Al-Uas dan Al-Khazraj. Setelah itu, mereka pulang bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan patuh dan taat. Allah telah memadamkan dari mereka salah satu konspirasi jahat musuh Allah, Syas bin Qais. Lalu Allah menurunkan ayat tentang Syas bin Qais dan perilaku buruknya itu:
 
 

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?" Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?" Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran: 98-99)
Sedangkan tentang Aus bin Qaidhi, Jabbar bin Shakr dan pengikutnya masing-masing serta perbuatan mereka yang terjebak propaganda kejahiliyahan yang ditebarkan Syas bin Qais kepada mereka, Allah menurunkan firman-Nya:


Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al- Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
 
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makrufdan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yangjelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, (QS. Ali Imran: 100-105)
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Abdullah bin Salam, Tsa'labah bin Sa'yah, Usaid bin Sa'yah, Asad bin Ubaid, dan orang-orang Yahudi lainnya masuk Islam, beriman, membenarkan serta tertarik kepadanya, dan setelah keislaman mereka kokoh kuat, pendeta-pendeta Yahudi yang masih saja kafir berkata: "Tidaklah akan menganut agama Muhammad kecuali orang-orang terjelek di antara Jika mereka orang-orang terbaik kami, niscaya mereka tidak akan meninggalkan agama leluhur, dan tidak mungkin beralih pada agama lain." Maka Allah menurunkan firman-Nya:


Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujus (shalat). (QS. Ali Imran: 113).
Ibnu Hisyam berkata: Makna dari Anaa' al-Lail adalah jam-jam malam. Kata tunggalnya adalah adalah
inyun


Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shaleh (QS. Ali Imran: 114)
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang dari kaum Muslimin memiliki hubungan dekat dengan beberapa orang Yahudi, karena ikatan jaminan keamanan dan persekutuan pada masa jahiliyah. Setelah itu Allah Yang Maha tinggi menurunkan ayat yang melarang mereka menjadikan orang-orang Yahudi sebagai teman akrab:

 
 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat- ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. (QS. Ali lmran: 118-119), hingga akhir kisah. Yakni, kalian beriman kepada kitab mereka dan kepada kitab yang telah lalu sementara mereka kafir dengan kitab kalian. Jadi kalian lebih berhak untuk menyukai mereka dari- pada mereka benci kepada kalian.
Ta'ala melanjutkan firman-Nya,


Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujungjari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. " (QS. Ali lmran: 119)



Ibnu Ishaq berkata: Pada suatu hari, Abu Bakar memasuki Baitul Midras dan melihat orang-orang Yahudi sedang berkumpul di kediaman salah seorang dari mereka yang benama Finhash, salah seorang ulama dan pendeta mereka. Finhash ditemani seorang pendeta Yahudi lainnya yang bernama Asya'. Abu Bakar berkata kepada Finhash: "Celaka engkau wahai Finhash, bertakwalah kepada Allah dan peluklah agama Islam! Demi Allah, engkau telah mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dia datang dengan membawa kebenaran dari sisi Allah, dan kalian menemukan namanya tertulis di dalam Taurat dan Injil. "'Finhash berkata: "Demi Allah, wahai Abu Bakar, kami tidak butuh Allah, sebaliknya Allah-lah yang butuh pada kami. Kami tidak merendahkan diri kepada-Nya sebagaimana Dia merendahkan diri kepada kami. Kami tidak butuh Dia, Dia-lah yang butuh kepada kami. Apabila Allah lebih kaya daripada kami, pastilah Dia tidak meminjam kekayaan kami seperti dikatakan sahabat kalian. Allah melarang kalian dari riba, dan Dia memberi riba kepada kami. Jika Allah lebih kaya dari
 
pada kami, Dia tidak memberi kami riba." Abu Bakar meluap ama- rahnya mendengar ucapan Finhash tersebut, kemudian ia memukul wajah Finhash dengan pukulan keras, sambil berkata: "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika tidak ada perjanjian di antara kita, akan ku tampar wajahmu wahai musuh Allah." Mendapat perlakuan seperti itu dari Abu Bakar, Finhash pergi menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, perhatikanlah tindakan sahabatmu itu terhadap diriku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada Abu Bakar: "Apa yang membuatmu melakukan itu semua, wahai Abu Bakar?" Abu Bakar berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya musuh Allah ini telah melontarkan sebuah perkataan yang sungguh melampaui batas. Ia berkata bahwa Allah membutuhkan mereka, dan mereka lebih kaya daripada Allah. Ketika ia mengatakan itu, meluaplah amarahku karena Allah atas perkataannya tadi, lalu aku pukul wajahnya." Finhash membantah bahwa dia mengatakan seperti itu. Ia berkata: "Aku tidak pernah mengatakan semua itu." Kemudian Allah menurunkan ayat tentang ucapan Finhash dan membenarkan Abu Bakar,


Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya." Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): "Rasakanlah olehmu adzab yang membakar." (QS. Ali Imran; 181).
Allah juga menurunkan firman-Nya tentang Abu Bakar Radhiyallahu Anhu dan sikap marahnya atas perkataan Finhash tadi:


Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mereka dengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang ymg mempersekutukan Allah, gangguan yang banyakyang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS. Ali Imran: 186).
 
 

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil jarji dari orang-orang yang telah diberi kitab: (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya. "Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya di puji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali Imran 187-188).
Mereka yang dimaksud dalam ayat tadi adalah Finhash, Asya', dan pendeta-pendeta Yahudi yang semisal mereka berdua yang amat cinta pada dunia dan pujian dengan sesuatu hal yang mana mereka sendiri tidak mengerjakannya: mereka dianggap ulama oleh banyak orang, padahal sebenarnya mereka bukanlah sosok ulama. Mereka tidak mengarahkan manusia kepada hidayah dan kebenaran.



Orang-orang Yahudi Memerintahkan Orang-orang Mukmin Bersikap Kikir


Ibnu Ishaq berkata: Kardam bin Qais sekutu Kaab bin Al-Asyraf, Usamah bin Habib, Nafi' bin Abu Nafi', Bahri bin Amr, Huyay bin Akhthab dan Rafi'ah bin Zaid bin At-Tabut bertemu dengan beberapa orang dari kalang- an kaum Anshar. Dulu orang-orang Yahudi tersebut bergaul dengan kaum Anshar. Mereka menasihati sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan berkata kepada mereka: "Janganlah kalian menginfakkan harta kalian, karena itu akan menjadikan kalian menjadi orang miskin. Janganlah tegesa-gesa untuk berinfak, sebab kalian tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nasib kalian kelak." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat:

 
(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. (QS. an-Nisa': 37).
Yang dimaksud dengan karunia pada ayat di atas adalah Taurat yang membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Kemudian Allah berfirman,


Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. ' Dan (juga) orang- orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil sayitan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya. Apakah kemudaratannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka? Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka. (QS. an-Nisa': 37-39).
Ibnu lshaq berkata: Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut adalah salah seorang pemuka Yahudi. Apabila berbicara dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia senantiasa memilin-milin lidahnya. Ia berkata: "Wahai Muhammad, dengarkanlah dengan seksama, agar kamu paham." Kemudian Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut menghina dan mencemooh Islam. Lalu Allah Yang Mahamulia menurunkan firman-Nya tentang dirinya:

 
 

Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al-Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengati petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar). Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh- musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu). Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): "Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: "Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. an-Nisa': 44-46).
Suatu ketika, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada pemuka-pemuka Yahudi seperti Abdullah bin Shuriya AI-A'war dan dan Ka'ab bin Asad: "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah dan masuklah ke dalam Islam. Demi Allah sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa yang aku bawa adalah kebenaran." Orang-orang Yahudi berkata: "Kami tidak kenal itu wahai Muhammad." Mereka ingkar terhadar apa yang sebenarnya telah mereka ketahui dan tetap bertahan dengan kekafiran. Lalu Allah menurunkan firman-Nya.


Hai orang-orang yang telah diberi Al-Kitab berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur'an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merobah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat)pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku. " (QS. An-Nisa': 47).



Orang-orang yang Berkoalisi
 
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang yang mem bangun koalisi dari Quraisy, Ghathafan, dar Bani Quraizhah adalah Huyay bin Akhthab Salam bin Abu Al-Huqaiq, Abu Rafi', Ar-Rab; bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Huqaiq, Abu Ammar, Wahwah bin Amir, dan Haudzah bin Qais. Wahwah bin Amir, Abu Ammar, dan Haudzah berasal dari Bani Wail, dan selebihnya dari Bani An-Nadhir. Pada saat mereka sampai di tempat orang-orang Quraisy, orang-orang Quraisy itu berkata: "Mereka adalah pendeta-pendeta Yahudi, dan orang-orang yang memiliki ilmu yang memadai tentang kitab suci terdahulu. Cobalah tanyakan kepada mereka manakah yang lebih baik agama kalian atau agama Muhammad." Orang- orang Quraisy pun bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi dan mereka menjawab: "Agama kalian jauh lebih baik dari pada agama Muhammad. Kalian tentunya lebih baik daripada Muhammad dan yang orang yang bersamanya. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:


Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut (QS. an-Nisa': 51).
Ibnu Hisyam berkata: Menurut orang-orang Arab jibt adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, sementara thaghut adalah segala sesuatu yang membuat orang berpaling dari kebenaran. Kata plural dari kata jibt ialah jubut, sementara plural dari kata thaghut adalah thawaghit.
Ibnu Hisyam berkata: Kami mendengar dari Ibnu Abu Najih berkata: bahwa jibt adalah sihir, sementara thaghut adalah setan.
Allah kemudian berfirman:


Dan mengatakan kepada orang-orang kafir '(musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendati pun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia, ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa 51-54).
 
Ibnu Ishaq berkat: Sukain dan Adi bin Zaid mengatakan: "Wahai Muhammad, kami tidak mengetahui bahwa setelah Musa diturunkan, Allah menurunkan sesuatu atas manusia. Kemudian Allah Yang Maha mulia menurunkan firman-Nya:


Sesurtgguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka kami utus) selaku rasul- rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agarsupaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. an-Nisa: 163-165)
Beberapa orang Yahudi datang menjumpai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian beliau bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa aku utusan Allah yang diutus kepada kalian." Orang-orang Yahudi berkata: '"Kami tidak mengetehaui itu, dan tidak bersaksi atasnya." Lalu Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya:

 
(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al-Qur'an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya. (QS. an- Nisa': 166).



Orang-orang Yahudi Membuat Makar untuk Membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan Menjatuhkan Batu kepada Beliau


Suatu ketika, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi ke Bani An-Nadhir untuk meminta bantuan mereka dalam membantu beliau, meminta diyat (ganti rugi kriminal) dua orang Bani Amir yang telah membunuh Ami bin Umayyah Adh-Dhamri. Ketika itu orang-orang Yahudi sedang duduk sesama mereka. sebagian dari mereka berkata: "Kalian tidak pernah dapatkan Muhammad berada dekat sekali dengan kalian dari pada saat ia berada saat ini. Maka siapakah di antara kalian yang siap untuk naik ke atas rumah, untuk menjatuhkan batu kepadanya sehingga kita tidak merasa terganggu oleh keberadaannya?" Amr bin Jihasy bin Ka'ab berkata: "Aku siap!" Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mangetahui makar jahat mereka, beliau segera pergi. Lalu Allah Yang Mahatinggi menurunkan firman-Nya:


Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah Kepada Allah, dan hanya hepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal. (QS. al-Maidah: 11).
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjumpa dengan Nu'man bin Adha, Bahri bin Amr dan Syas bin Qais. Mereka terlibat dalam sebuah percakapan dengan Rasul dan beliau mengajak mereka kepada agama Allah, serta memberi peringatan akan siksa Allah. Mereka berkata:
 
"Janganlah engkau mengintimidasi kami wahai Muhammad, karena kami anak-anak dan kekasih- kekasih Allah persis sebagaiama perkataan orang-orang Kristen." Lalu Allah Yang Maha mulia menurunkan ayat:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih- Nya." Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). " (QS. al-Maidah: 18).
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru orang-orang Yahudi untuk masuk Islam, dan memberi peringatan kepada mereka akan hukuman Allah. Namun sayang mereka menolak untuk masuk Islam, dan tetap mengingkari terhadap ajaran yang beliau bawa. Kemudian Muadz bin Jabal, Sa'ad bin Ubadah, dan Uqbah bin Wahb berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Demi Allah, kalian telah mengetahui bahwa beliau adalah utusan Allah, jauh sebelum beliau diutus menjadi rasul, dan kalian pun telah memaparkan dan menerangkan ciri- cirinya kepada kami." Rafi' bin Huraimalah dan Wahb bin Yahudza berkata: "Kami tidak pernah mengatakan hal itu kepada kalian. Allah tidak menurunkan kitab, tidak mengutus rasul dan pemberi peringatan setelah Musa." Lalu Allah menurunkan firman-Nya tentang perkataan Rafi' bin Huraimalah, dan Wahb bin Yahudza:


Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: "Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan." Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Ma'idah: 19).
Kemudian Allah memaparkan kisah Musa kepada mereka, apa yang Nabi Musa terima dari mereka, protes mereka dan perintah Allah yang ditolak oleh mereka hingga mereka terlunta-lunta di muka bumi selama empat puluh tahun sebagai hukuman atas tindakan mereka.



Mereka Minta Pertimbangan Nabi tentang Hukum Rajam
 
Ibnu lshaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri menuturkan kepadaku, ia mendengar seseorang dari Muzainah dari seorang ulama yang berbicara dengan Said bin Al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata kepada mereka bahwa pendeta-pendeta Yahudi berkumpul di Baitul Midras saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah. Sebelum Rasulullah tiba salah seorang lelaki yang telah menikah telah berzina dengan seorang wanita Yahudi yang telah menikah pula. Mereka berkata: "Bawalah pria dan wanita ini kepada Muhammad, lalu tanyakanlah kepadanya apa hukuman atas mereka berdua, dan beri dia hak untuk mengadilinya, Jika ia menjatuhkan hukuman cambuk dengan tali kepadanya seperti kalian, pasti dia seorang raja dan ikutilah dia. Namun apabila dia menjatuhkan hukuman rajam kepada mereka, pastilah dia seorang nabi. Maka jagalah apa yang ada pada kalian, agar tidak direbut olehnya." Mereka mendatangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: "Wahai Muhammad, orang ini telah menikah kemudian berzina dengan wanita ini yang telah menikah pula. Adililah mereka berdua dan kami memberikan hak sepenuhnya kepadamu untuk mengadili mereka." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di tempat pendeta-pendeta mereka di Baitul Midras. Beliau bersabda: "Wahai orang-orang Yahudi, datangkan kepadaku ulama kalian." Mereka mengirim Abdullah bin Shuriya kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam.75


Ibnu lshaq berkata: Beberapa orang Bam Quraizhah berkata kepadaku, selain mendatangkan Abdullah bin Shuriya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mereka juga mendatangkan Abu Yasir bin Akhthab dan Wahb bin Yahudza. Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Merekalah ulama kami” Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi tentang masalah tersebut sampai perkaranya menjadi jelas hingga akhimya mereka berkata tentang Abdullah bin Shuriya: "Orang ini lebih mengerti tentang Taurat daripada ulama-ulama kami yang lain."
Ibnu Hisyam berkata: Dari perkataan "beberapa Bani Quraizhah hingga "Orang ini lebih mengerti tentang Taurat" adalah ucapan Ibnu lshaq sedangkan yang setelahnya adalah dari untaian kisah sebelumnya.
Setelah itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam duduk berdua bersama dengan Abdullah bin Shuriya. Abdullah bin Shuriya adalah orang paling dalam ilmunya di antara ulama-ulama Yahudi. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyelidik Abdullah bin Shuriya dengan beberapa pertanyaan menukik: "Wahai anak Shuriya, aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, dan dengan hari-hari Allah yang ada di Bani Israel, tidakkah engkau paham bahwa Allah menetapkan hukuman rajam bagi seorang muhshan (lelaki atau perempuan yang telah menikah) yang berzina di dalam Taurat?" Abdullah bin Shuriya menjawab: "Benar, demi Allah, memang demikianlKetahuilah wahai Abu Al- Qasim, sesungguhnya orang-orang Yahudi telah tahu bahwa engkau adalah nabi yang diutus, hanya saja mereka dengki padamu."
Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dan memerintahkan agar kedua orang yang berbuat zina tersebut di rajam di depan pintu masjid beliau di Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Sesudah peristiwa ini Abdullah bin Shuriya kafir dan tidak mengingkari kenabian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Yang Maha mulia menurunkan firman-Nya tentang orang-orang Yahudi tersebut:
 
     

Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu di sedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memper- lihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; yakni mereka mengutus orang yang mereka utus di antara mereka, dan mereka mengingkari, dan mereka menyuruh mereka dengan apa yang mereka suruhkan dengan mengubah hukum dari yang sebenarnya, kemudian Allah berfirman: mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, yakni rajam, maka hati-hatilah" (QS. al-Ma'idah: 41).
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukanah berkata kepadaku dari Ismail bin Ibrahim dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan pelaksanaan hukuman rajam kepada kedua pelaku zina tersebut, lalu mereka berdua dirajam di depan masjid beliau. Ketika laki-laki Yahudi tersebut mulai mendapatkan lemparan batu, ia berdiri menuju wanita yang dia pernah berzina dengannya, kemudian menelungkupinya untuk melindunginya hingga akhirnya keduanya meninggal dunia.76


Demikianlah satu hal yang Allah lakukan bagi Rasul-Nya dalam melaksanakan hukum-an zina terhadap kedua orang tersebut.
Ibnu Ishaq berkata: Shalih bin Kaisan berkata kepadaku dari Nafi' bekas budak Abdullah bin Umar dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Pada saat orang-orang Yahudi menyerahkan putusan hukum mereka berdua kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau meyeru mereka kepada Taurat dan salah seorang dari pendeta mereka duduk membaca Taurat sambil menutup ayat tentang hukuman rajam dengan tangannya, kemudian Abdullah bin Salam memukul tangan pendeta tadi. Abdullah bin Salam berkata: "Wahai Rasulullah, inilah ayat tentang hukuman rajam. Namun ia menolak membacakannya kepadamu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Sungguh celaka kalian wahai orang-orang Yahudi, mengapa kalian meninggalkan hukum Allah, padahal itu berada di tangan kalian?" Mereka menjawab: "Demi Allah, awalnya hukuman rajam diberlakukan pada kami, hingga pada suatu hari orang muhshan yang berasal dari keluarga istana dan kalangan tehormat berbuat zina. Raja melarang pemberlakukan hukuman rajam terhadapnya. Kemudian ada seseorang berzina
 
sesudah keluarga istana tersebut. Raja bermaksud merajamnya, hanya saja orang-orang Yahudi berkata: "Demi Allah, tidak mungkin ini bisa dilakukan. Apabila engkau mau merajam orang ini maka hendaknya engkau juga merajam orang dari keluarga istana yang berzina. Selesai mengatakan itu kepada rajanya mereka menyelenggarakan rapat, dengan hasil kesepakatan mengganti hukuman rajam dengan hukuman cambuk, dan mereka meninggalkan hukuman rajam dan penerapannya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika demikian, maka akulah orang yang pertama kali menghidupkan hukum Allah dan Kitab-Nya serta penerapannya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meminta keduanya dihukum rajam di depar. masjid beliau. Abdullah bin Umar berkata "Aku ikut serta merajam kedua orang pezim tersebut."77






Kezaliman Orang-orang Yahudi dalam Diyat


Ibnu Ishaq berkata: Daud bin Al-Husha:r. berkata padaku dari Ikrimah dari Ibnu Abba? bahwa ayat- ayat di surat Al-Maidah beriku;


Maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akar memberi mudarat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. '(QS. al-Ma'idah 42).
Diturunkan pada kasus diyat antara Ban An-Nadhir dengan Bani Quraizhah. Penyebab nya bahwa Bani An-Nadhir yang terhorma: membayar diyat dengan utuh, sementara Ban: Quraizhah hanya membayar separuh saja. Ke mudian mereka mengadukan masalah ini kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Lalu Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya di atas tentang mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengembalikan mereka pada kebenaran dengan menyamakan diyat di antara mereka.78


Ibnu Ishaq berkata: Wallahu a 'lam mana yang lebih benar di antara riwayat tersebut.
 
Konspirasi Orang-orang Yahudi untuk Memfitnah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam


Ibnu Ishaq berkata: Ka'ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shuriya, dan Syas bin Qais berbincang di antara mereka: "Marilah kita pergi menemui Muhammad, semoga kita berhasil mengeluarkannya dari agamanya, karena dia juga manusia biasa layaknya kita semua." Mereka pun datang menjumpai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata: Wahai Muhammad, engkau tahu bahwa kami pendeta-pendeta Yahudi, orang-orang tehormat serta pemimpin-pemimpin mereka. Jika kami mengikutimu, maka semua orang Yahudi akan mengikutimu, dan mereka tidak mungkin menentang kami. Sesungguhnya kami mempunyai sengketa, bagaimana jika kami serahkan sengketa mereka itu padamu, lalu engkau memutuskan penyelesainnya untuk kami, setelah itu kami akan beriman dan membenarkanmu?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menolak permintaan mereka, lalu Allah Yang Mahamulia menurunkan firman-Nya tentang mereka:


Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. al-Maidah: 49-50).
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang Ya-hudi antara lain Abu Yasir bin Akhthab, Nafi' bin Abu Nafi, Azir bin Abu Azir, Khalid, Zaid, Izar bin Abu Izar, dan Asya' datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian bertanya mengenai rasul-rasul yang diimani oleh rasul. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab:

 
Katakanlah (hai orang-orangmukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS. al-Baqarah: 136). Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyebut Nabi Isa bin Maryam, mereka mengingkarinya. Mereka berkata: "Kami tidak beriman kepada Isa bin Maryam, tidak pula pada orang-orang yang beriman kepadanya." Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:


Katakanlah: "Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik? (QS. al- Maidah: 59).
Rafi' bin Haritsah, Salam bin Misykam, Malik bin Shaif, dan Rafi' bin Huraimalah datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata: "Wahai Muhammad, bukankah engkau mengaku menganut agama Ibrahim, beriman kepada Taurat yang kami miliki, dan engkau bersaksi bahwa Taurat itu benar dari Allah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Benar. Namun kalian telah membuat kebid'ahan, menolak perjanjian yang telah diambil Allah dari kalian yang ada di dalamnya, kalian pun menyembunyikan apa yang diperintahkar. kepada kalian untuk memaparkannya paca manusia. Maka aku berlepas diri dari bid'ah-bid'ah yang kalian bikin." Orang-orang Yahudi tersebut berkata: "Kami tetap berpegang tegufa dengan apa yang berada pada tangan kam karena kami yakin bahwa kami ada dalam petunjuk dan kebenaran. Kami tidak berimar kepadamu tidak juga akan mengikutimu Lalu Allah Yang Mahamulia menurunkan firman-Nya:


Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak d: pandang beragama sedikit pun hingga kan:, menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." Sesungguhnya apa yang diturunkar kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akar menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlar kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu. (QS. al-Maidah: 68)
 
Ibnu Ishaq berkata: An-Nahham bin Zaid, Fardam bin Ka'ab, dan Bahri bin Amr datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata: "Hai Muhammad apakah engkau tidak tahu bahwa terdapat tuhan lain selain Allah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, bersabda: "Tidak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah. Dengan ajaran ini aku diutus, dan kepada-Nya aku menyeru." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya:


Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur'an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di sampingAllah?"Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)." Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). (QS. al-An'am: 19-20)
Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut dan Suwaid bin Al-Harits pura-pura berpenampilan sebagai Muslim walaupun hakikatnya dia seorang munafik. Karena kepura-puraannya inilah, beberapa orang kaum Muslimin mencintainya. Lalu Allah Ta'ala menurunkan firman- Nya tentang Rifa'ah bin Zaid dan Suwaid bin Al-Harits:

 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. Katakanlah: "Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?" Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang- orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?" Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: "Kami telah beriman", padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. " (QS. al-Ma'idah: 57-61).
Jabal bin Abu Qusyair dan Samuel bin Zaid berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Muhammad, tolong terangkan kepada kami kapankah Hari Kiamat akan terjadi bila engkau adalah benar-benar seorang Nabi sebagaimana yang selama ini engkau ucapkan! Lalu Allah Yang Maha mulia menurunkan firman-Nya tentang Jabal bin Abu Qusyair dan Samuel bin Zaid:


Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan aengan tiba-tiba. Mereica bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. al-A'raaf: 187).



Klaim Mereka Bahwa Uzair Anak Allah
 
Sallam bin Misykam, Nu'man bin Abu Aufa Abu Anas, Mahmud bin Dahyah, Syas bin Qais, dan Malik bin As-Shaif datang menemm Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian berkata: "Bagaimana mungkin kami akan mengikutimu, sedangkan engkau telah meninggalkan kiblat kami, dan tidak meyakini Uzair sebagai anak Allah." Lalu Allah Yang Mahamulia menurunkan ayat tentang ucapan mereka tersebut:


Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al-Masik itu putra Allah." Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. at- Taubah: 30), hingga akhir kisah.
Ibnu Hisyam berkata: Yudhahi'una artinya ucapan mereka itu sama dengan ucapan orang-orang yang kafir.
Ibnu Ishaq berkata: Mahmud bin Saihan, Nu'man bin Adha, Bahri bin Amr, Uzair bin Abu Uzair, dan Sallam bin Misykam datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian mereka berkata: "Wahai Muhammad apakah benar kebenaran yang engkau bawa itu bersumber dari Allah? Karena kami tidak mendapatkannya tersusun sebagaimana Kitab Taurat?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya kalian pun mengetahui bahwa yang aku bawa ini benar-benar dari Allah dan kalian telah mendapatkannya tertera dalam Taurat yang ada pada kalian. Andai semua manusia dan jin bersekutu untuk membuat sebagaimana apa yang aku bawa, mereka tidak akan kuasa untuk melakukannya." Usai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda seperti itu, Finhash, Abdullah bin Shuwariya, Ibnu Shaluba, Kinanah bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Huqaiq, Asya', Ka'ab bin Asa Samuel bin Zaid, dan Jabal bin Sukainah berkata serentak: "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melakukan apa saja untuk Rasul-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Jika Dia mengutusnya sebagai nabi, dan Dia kuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, maka turunkan- lah kitab dari langit yang bisa kami baca dan kami mengerti. Apabila engkau tidak dapat melakukannya, kami datang kepadamu dengan membawa sesuatu sebagaimana yang engkau bawa. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

 
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia." (QS. al¬Isra': 88).
Ibnu Hisyam berkata: Zhahir artinya 'aun (pertolongan) dan pluralnya adalah Zhuhara
Wahai orang yang memakai nama Nabi kau menjadi tonggak agama Dan kau menjadi penolong bagi sang Imam



Pertanyaan Mereka kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang Dzu Al-Qarnain


Ibnu Ishaq berkata: Huyay bin Akhthab, Ka'ab bin Asad, Abu Nafi', Asya', dan Samuel bin Zaid berkata kepada Abdullah bin Salam ketika ia telah masuk Islam: "Kenabian tidak akan ada pada orang-orang Arab. Sahabatmu itu tak lebih hanyalah seorang raja." Usai mengatakan itu kepada Abdullah bin Salam, mereka menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kemudian bertanya tentang Dzu Al- Qarnain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menceritakan kisah Dzu Al-Qarnain yang diterimanya dari Allah seperti yang pernah beliau ceritakan kepada orang-orang Quraisy. Merekalah yang memerintakan kepada orang-orang Quraisy untuk bertanya mengenai Dzu Al-Qarnain kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu pada saat orang-orang Quraisy mengirim An-Nadhr bin Al-Harits dan Uqbah bin Mu'ath kepada mereka.



Sikap Kurang Ajar Mereka Atas Dzat Allah dan Kemarahan Rasulullah


Ibnu Ishaq berkata:Dituturkan kepadaku dari Said bin Jubair, ia berkata: Beberapa orang Yahudi datang menjumpai Rasulullah Shallalahu 'alaihi. wa Sallam, kemudian berkata: "Wahai Muhammad, Dialah Allah yang menciptakan makhluk. Lalu siapakah yang menciptakan Allah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam marah besar mendengar pertanyaan mereka hingga wajah beliau berubah disebabkan kemarahannya karena Allah. Maka datanglah Malaikat Jibril guna menenangkan beliau. Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Tenangkanlah dirimu wahai Muhammad!" Malaikat Jibril datang dari Allah dengan sebuah jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan:


Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (QS. al- Ikhlas: 1-4).
 
Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan ayat-ayat tersebut, mereka berkata kepada beliau: "Coba terangkan kepada kami wahai Muhammad, bagaimana penciptaan Allah, bagaimana tangan-Nya? Seperti apa lengan-Nya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertambah marah melebihi dari pada kemarahannya yang pertama. Kemudian Malaikat Jibril datang kepada beliau dan berkata sebagaimana yang ia katakan sebelumnya, serta membawa jawaban dan Allah atas semua pertanyaan mereka. Allah berfirman:


Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. az-Zumar: 67).
Ibnu Ishaq berkata: Utbah bin Muslim mantan budak Bani Taim berkata kepadaku dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah yang berkata bahwa aku mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Seluruh manusia saling bertanya di antara mereka hingga salah seorang dari mereka berkata: "Allah-lah yang telah menciptakan makhluk, maka siapakah yang menciptakan Allah?" Apabila mereka mengatakan itu, katakanlah: Katakanlah: "Dia-lah Allah: Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. ' (QS. al-Ikhlas: 1-4), Kemudian hendaknya seseorang meludah kecil di sebelah kirinya sebanyak tiga kali, dan berlindunglah kepada Allah dari semua godaan setan yang terkutuk."79






Perkara As-Sayyid, al-'Aqib dan Perihal Mubahalah




Ibnu Ishaq berkata: Delegasi Kristen Najran datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Jumlah mereka enam puluh orang. Di antara mereka terdapat empat belas tokoh terhormat di kalangan mereka. Dari empat belas orang itu, tiga orang yang mengatur urusan mereka. Pertama, Al- 'Aqib. Jabatan Al-Aqib adalah pemimpin kaum, ahli pertimbangan, dan segala urusan tidakboleh diputuskan kecuali menurut pendapatnya. Ia bernama Abul Masih. Kedua, As-Sayyid. Jabatan As- Sayyid ialah administrator yang mengatur perjalalan dan kesepakatan umum. Yang menjabat As- Sayyid saat itu adalah Al-Aiham. Abu Haritsah bin Alqamah salah seorang dari Bani Bakr bin Wail. Dia uskup, pendeta, ulama dan pemilik Baitul Mirdas.
 
Abu Haritsah datang ke tempat mereka dan menelaah kitab-kitab mereka hingga pengetahuannya tentang agama mereka sangat memadai. Raja-raja Byzantium Romawi yang memeluk agama Kristen menghormati dan memuliakan Abu Haritsah, mengirimkan pembantu, membangunkan gereja untuknya, dan memberikan banyak sekali kemudahan-kemudahan kepadanya. Itu semua dilakukan karena kapasitas ilmunya dan semangatnya dalam agama mereka.



Sebab Masuk Islamnya Kuz bin Alqamah


Saat mereka telah siap sedia untuk berangkat menuju ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Najran, Abu Haritsah duduk di atas keledainya dengan arah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan di sampingnya terdapat saudaranya yang bernama Kuz. Ada pula yang menyebut Kurz bin Alqamah.
Keledai Abu Haritsah terperosok ke lubang, kemudian Kuz bin Alqamah berkata: "Celakalah orang jauh tersebut." Yang dia maksud dengan orang jauh adalah Rasulullah Shallailahu 'Alaihi wa Sallam. Abu Haritsah berkata kepada Kuz bin Alqamah: "Dirimu-lah yang binasa." Kuz bin Alqamah berkata: "Mengapa demikian, wahai saudaraku?" Abu Haritsah menjawab: "Demi Allah, sungguh orang itulah Nabi yang selama ini kita tunggu-tunggu." Kuz bin Alqamah berkata kepada Abu Haritsah: "Lalu apa yang menghalangimu untuk masuk Islam sedangkan engkau mengetahuinya?" Abu Haritsah berkata: "Kaum tersebut (para raja Romawi) telah memuliakan, mengangkat derajat dan menghormati kami. Mereka menginginkan agar kami menentang Nabi tersebut. Maka apabila aku memeluk Islam, mereka akan menarik semua fasilitas yang selama ini mereka berikan kepada kami." Kuz bin Alqamah merahasiakan tentang dirinya dari Abu Haritsah sampai setelah itu ia memeluk Islam. Kisah ini berasal daripadanya sebagaimana disampaikan kepadaku.
Ibnu Hisyam berkata: Telah dituturkan kepadaku, bahwa para pemimpin Najran mewariskan kitab- kitab milik mereka. Apabila salah seorang pemimpin mereka meninggal dunia, mereka segera mengalihkan kepemimpinan pada yang lain. Kitab-kitab tersebut dikunci dan tidak seorangpun yang memecahkannya. Pada masa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, pemimpin Najran berjalan-jalan dan ia jatuh terpeleset. Anak sang pemimpin berkata: "Celakalah orang jauh -maksudnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam." Pemimpin tersebut berkata: "Janganlah engkau berkata demikian, karena dia seorang Nabi dan namanya tertera dalam kitab kita." Ketika pemimpin tersebut telah meninggal dunia, anaknya mempunyai ke inginan kuat untuk memecahkan kunci kitab itu. Lalu ia membongkar kunci kitab tersebut dan mendapatan nama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tertera di dalamnya. Maka diapun masuk Islam dan dengan keislaman yang bagus. Orang inilah yang berkata:
Kepadamu, dia lari dengan tali pingging yang melorot
Janin di perutnya menonjol kan melahirkan agamanya berbeda dengan agama Kristen
 
Mereka Shalat Menghadap ke Timur


Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku: Pada saat delegasi Najran tiba di kediaman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan masuk ke masjid beliau pada saat waktu shalat Ashar telah tiba, mereka memakai pakaian bergaris yang berasal dari Yaman dengan jubah dan mantel warna-warni menawan sebagaimana yang biasa dikenakan orang-orang Bani Al-Harits bin Ka'ab. Salah seorang sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang melihat mereka ketika itu berujar: "Kami tidak pernah melihat delegasi seperti mereka. Pada saat shalat mereka telah tiba, mereka langsung berdiri di masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu merekapun shalat. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Biarkanlah mereka melakukan shalat." Mereka shalat dengan menghadap ke arah timur.
Ibnu Ishaq berkata: Nama keempat belas delegasi Najran adalah sebagai berikut: Al Aqib Abdul Masih, As-Sayyid Al-Aiham, Abu Haritsah bin Alqamah saudara Bani Bakr bin Wail, Aus, Al-Harits, Zaid, Qais, Yazid. Nabaih, Khuwailid, Amr, Khalid, Abdullah, Johannes. Mereka membawa enam puluh kendaraan.
Sebagai Juru bicara kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mereka menunjuk Abu Haritsah bin Alqamah, Al-Aqib Abdul Masih, dan As Sayyid Al-Aiham. Mereki menganut agama Kristen model raja, walau- pun dalam beberapa hal mereka berbeda. Mereka berkata: "Isa adalah Allah." Mereka juga berkata: "Isa adalah anak Allah." Mereka juga berkata: "Isa adalah satu dari tiga Tuhan." Demikianlah ucapan orang-orang Kristen itu.
Mengenai perkataan mereka bahwa Isa adalah Allah, mereka berargumen bahwa Isa bisa menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit, memberi tahu hal-hal yang ghaib, dan membuat burung dari tanah lalu meniupnya hingga menjadi burung hidup. Itu semua adalah perintah Allah Tabaraka wa Ta'ala. "Dan Kami jadikan dia sebagai tanda kebesaran Kami pada manusia." (Maryam: 21)
Mengenai perkataan mereka bahwa Isa adalah anak Allah, mereka berkata: "Isa tidak mempunyai ayah yang bisa diketahui. Ini belum pernah terjadi pada anak keturunan Adam sebelum mereka. Mengenai perkataan mereka bahwa Isa adalah salah satu dari tiga tuhan, mereka berargumentasi dengan menggunakan firman Allah, 'Kami berbuat, Kami memerintahkan, Kami menciptakan, dan Kami memutuskan." Mereka menambahkan, bahwa jika Allah itu satu, maka Dia berfirman Aku -bukan Kami- berbuat, Aku memerintahkan, dan Aku menciptakan. Namun tuhan itu adalah Dia sendiri, Isa, dan Maryam. Al-Qur'an menurunkan firman-Nya tentang masing-masing perkaataan mereka tersebut. Setelah dua pendeta tadi mengatakan itu kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda: "Masuklah kalian berdua ke dalam Islam." Namun kedua pendeta tersebut menjawab: "Kami telah masuk Islam." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kalian berdua belum masuk Islam." Kedua pendekta tersebut berkata: "Kami telah masuk Islam sebelum engkau memasukinya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kalian berdua berdusta. Kalian berdua terhalang masuk Islam karena masih menyakini bahwa Allah mempunyai anak, karena kalian berdua menyembah salib dan memakan daging babi." Kedua pendeta itu menukas: "Jika demikian lalu siapa ayahnya, wahai Muhammad?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam diam tidak menjawab pertanyaan kedua pendeta itu.
 
Ayat-ayat Al-Qur'an Yang Turun Tentang Meraka Pada Surat Ali Imran


Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya pada awal surat Ali Imran hingga ayat delapan puluhan tentang perkataan dan perbedaan pandangan mereka. Allah berfirman:


Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. YangHidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk- Nya (QS. Ali Imran: 1-2).
Allah mengawali surat dengan menyucikan diri-Nya dari apa yang mereka katakan, tentang keesaan- Nya dalam penciptaan dan perintah, serta tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal ini juga sebagai sanggahan terhadap kekafiran yang mereka lakukan, dan tandingan-tandingan bagi Allah yang mereka ciptakan, serta sanggahan yang menerangkan kesesatan mereka. Allah berfirman:
Aliflaam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya (QS. Ali Imran: 1-2).
Yakni Allah tidak memiliki sekutu dalam perintah-Nya. Al-Hayyu al-Qayyum yang tidak pernah mati, sementara Nabi Isa mati dan ia disalib dalam pandangan orang-orang Kristen. Al-Qayyum artinya yang berdiri bertahan pada posisi-Nya yaitu kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya. Kekuasaan Allah tidak pernah habis, sementara kekuasaan Isa bin Maryam lenyap dari dirinya sesuai dengan pandangan mereka dan berpindah tangan kepada orang lain. Allah berfirman:


Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya (QS. Ali Imran: 3) Al-Haq maksudnya dengan benar tentang apa yang mereka perselisihkan. Allah berfirman:


dan menurunkan Taurat dan Injil (QS. Ali Imran: 3). Allah menurunkan Taurat kepada Musa, dan menurunkan Injil kepada Isa, serta menurunkan kitab-kitab sebelumnya. Allah berfirman:


Sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqaan (QS. Ali Imran: 4). Al-Furqan ialah yang memisahkan kebenaran dengan kebatilan dalam hal-hal yang menjadi sengketa antara manusia, seperti tentang Isa, dan masalah-masalah lainnya. Allah berfirman:

 
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat, dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa) (QS. Ali Imran: 4). Yakni, Allah mengadzab orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah yang telah diketahuinya padahal mereka mengetahui kandungannya. Allah berfirman:


'Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak di langit. '(QS. Ali Imran: 5), yakni Allah mengetahui apa yang mereka inginkan, kejahatan yang sedang mereka rencanakan, perkataan mereka tentang Isa, sebab mereka menjadikan Isa sebagai Tuhan yang disembah. Allah Ta'ala berfirman:


Dialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya (QS. Ali Imran: 6), sesungguhnya Isa termasuk orang yang diciptakan langsung oleh Allah dalam rahim, dan mereka tidak bisa membantahnya sebagaimana halnya anak keturunan Adam yang lain dibentuk di dalam rahim. Bagaimana mungkin Isa didaulat sebagai tuhan, padahal kedudukannya sama seperti mereka? Kemudian Allah berfirman mensucikan diri-Nya dan mentauhidkan-Nya dari tuhan-tuhan yang mereka akui:


'Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha perkasa lagi Ma- habijaksana (QS. Ali Imran: 6), yakni, Allah Maha perkasa untuk menang atas orang-orang yang kafir kepada-Nya apabila Dia mengkehendaki. Dia Maha bijaksana dalam alasan logis dan argumen-Nya terhadap hamba hamba-Nya. Allah berfirman:


Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al Quran0 kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al- Qur'an (QS. Ali Imran: 7), yakni pada ayat- ayat itu terdapat muhkamaat (ayat yang jelas dan pasti) terdapat hujjah Allah, perlindungan bagi hamba-hamba Allah, penolakan dari lawan dan kebatilan. Di dalamnya tidak tidak ada deviasi dan penyelewengan. Lalu Allar berfirman:
 
 

dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihat, (QS. Ali Imran: 7), yakni ayat-ayat mutasyabihat mempunyai multi tafsir dan interpretasi. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan ayat-ayat mutasyabihat sebagaimana halnya Allah menguji mereka dalam hal-hal yang halal dan haram. Agar ayat-ayat mutasyabihat itu tidak boleh diorientasikan kepada kebatilan dan tidak didisorientasikan dari kebenaran Lalu Allah berfirman:


Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, yakni yang miring dan hidayah


maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat, dia mengutak-atiknya agar bisa dibenarkan hal-hal bid'ah yang mereka lakukan, agar hal ini menjadi hujjah buat mereka dan menjadi senjata atas ucapan syubhat mereka,


untuk menimbulkan fitnah, yakni pengkaburan,


dan untuk mencari-cari takwilnya, ini semua terjadi karena tindakan sesat mereka dalam ucapannya: Kami menciptakan, Kami memutuskan,


padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, yang apa-apa yang mereka inginkan,


melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman ke- pada ayat- ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Bagaimana mungkin mereka masih saja
 
berselisih padahal itu adalah satu kata dan dari Satu Tuhan. Kemudian mereka mengembalikan takwil mutasyabih pada apa yang mereka ketahui tentang takwil muhkamat, dimana dalam hal ini tidak ada lagi penafsiran selain satu takwil tunggal, dan ucapan mereka berselaras dengan Kitabullah membenarkan antara satu dengan yang lain. Dengan demikian maka habislah hujjah dengan Al-Quran, dan tampaklah ketidakmampuan, kebatilan menjadi lenyap, dan kekufuran menjadi sirna. Allah berfirman dalam hal serupa dengan ini:


Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). (QS. Ali Imran: 7-8).
Selanjutnya Allah berfirman:


Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu), berseberangan dengan apa yang mereka katakan, Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imran: 3) Yakni yang menjadi agamamu wahai Muhammad: Mengesakan Tuhan dan membenarkan Rasulullah.


Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, yakni yang diberikan kepadamu, bahwa Allah itu Maha Esa dan tidak punya sekutu,
 
 

karena kedengkian (yangada) di antara mereka. Barang siapa yangkafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), yakni dengan apa yang mereka datangkan dari kebatilan dari ucapan mereka: Kami mencipta, melakukan dan memerintah, maka semua itu adalah syubhat batil dan mereka mengetahui kebenaran yang sebenarnya,


maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah, yakni hanya pada-Nya saja, dan (demikian pula) orang-orangyang mengikuti-ku" Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: yakni orang yang tidak memiliki Kitab


"Apakah kamu (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran: 18-20).
Kemudian Allah Ta'ala menggabungkan kedua ahli Kitab dan mengutarakan apa yang telah mereka buat. Allah Ta'ala berfirman:

 
     

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang- orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memper- oleh penolong. Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada- adakan. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan). Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, yakni Tuhan hamba- hamba, dan Raja yang tidak yang memutus perkara di tengah mereka kecuali Dia, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan, tidak ada Tuhan selain Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yakni tiada seorangpun yang mampu melakukan itu selain Engkau dengan kekuatan dan kekuasaan-Mu.. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dengan kekuasaan itu, Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas) " (QS. Ali Imran: 21-27).
Yakni, tidak ada yang kuasa memberikan rizki kecuali Engkau dan tidak ada orang yang bisa melakukannya kecuali Engkau. Artinya walaupun Aku memberikan banyak karunia kepada Isa sehingga dengan hal-hal tersebut orang-orang Kristen berasumsi bahwa Isa sebagai Tuhan, seperti menghidupkan orang yang telah mati, menyembuhkan penyakit, menciptakan burung dari tanah, dan memberi tahu hal-hal yang ghaib, maka sesungguhnya Aku memberikan hal-hal tersebut kepada Isa sebagai tanda-tanda kebesaran-Ku untuk manusia, serta untuk membenarkan kenabian yang Aku utus dia dengannya kepada kaumnya. Sesungguhnya banyak sekali kekuasaan-Ku dan kemampuan-Ku yang tidak Aku berikan kepadanya. Seperti penentuan raja-raja melalui perintah kenabian, dan pe¬nentuan kenabian kepada siapa saja yang Aku sukai, memasukkan malam ke dalam siang, memasukkan siang ke dalam malam, mengeluarkan orang hidup dari orang mati, mengeluarkan orang mati dari orang hidup, memberi rezeki tanpa batas kepada siapa saja yang Aku suka baik dia orang jahat atau baik. Semua itu Aku tidak berikan kepada Isa. Apakah semua ini masih belum cukup untuk menjadi pelajaran dan bukti nyata bagi mereka bahwa andaikata Isa itu benar-benar Tuhan, pastilah ia memiliki semua hal tadi. Padahal pada kenyataannya, sebagaimana mereka ketahui Isa melarikan diri dari para raja berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain.
Kemudian Allah berfirman:
 
 

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, jika ini adalah perkataanmu yang sebenarnya sebagai rasa cinta dan pengagungan kepada Allah,


ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Yakni kekufuran masa lalunya,


Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; karena kalian mengetahuinya, dan kalian dapatkan dalam Kitab kalian,


jika kalian berpaling, dan tetap dalam kekafiran kalian,


maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (QS. Ali Imran: 31-32).


Lalu Allah menerangkan pada mereka tentang Nabi Isa dan bagaimana Nabi Isa memulai apa yang Allah kehendaki dengannya. Maka Allah berfirman:


Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Ali Imran: 33-34).
Lalu Allah memaparkan tentang istri Imran dan perkataannya:
 
 

(lngatlah), ketika istri Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepadi Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (di Baitul makdis). Yakni aku telah bernazar dan aku telah bebaskan dia, dan hanya semata-mata mengabdi kepada Allah dan bukan derm kepentingan dunia,


karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dari anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan, yakni laki-laki tidaklah sama dengan perempuan dalam hal nazar yang aku jadikan dia bebas untuk pengabdian,


Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak- anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk. "Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya, (QS. Ali Imran: 35-37) yakni setelah ia dipelihara oleh ayah dan ibunya.
Kemudian Allah Ta'ala memaparkan kisah tentang Maryam, tentang Nabi Zakaria, doa Nabi Zakaria, dan karunia yang diberikan Allah kepada Nabi Zakaria berupa seorang anak yang bernama Yahya. Kemudian Allah menyebutkan tentang Maryam, dan ucapan malaikat kepadanya:

 
Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yangsemasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang- orangyang rukuk. (QS. Ali Imran: 42-43).
Allah berfirman:


Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berit agaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (QS. Ali Imran: 44).
Ibnu Hisyam berkata: Maksud dengan Aqlaam pada ayat di atas adalah anak-anak panah yang mereka gunakan untuk mengundi, maka dari undian itu keluarlah nama Zakaria. Maka Maryam pun diasuh oleh Nabi Zakaria sebagaimana dikatakan Al-Hasan bin Abu Al-Hasan Al-Basri.
Ibnu Ishaq berkata: Maryam diasuh oleh Juraij sang pendeta Yahudi. Ia salah seorang dari Bani Israil Najjar. Undian keluar atas namanya, makanya ia pun mengasuh Maryam, setelah sebelumnya Maryam diasuh oleh Nabi Zakaria. Pada saat Maryam diasuh Zakaria, Bani Israel mengalami krisis pangan yang luar biasa sehingga membuat Zakaria tidak kuasa untuk mengasuh Maryam. Orang-orang Bani Israel melakukan undian kembali untuk menentukan kembali siapa yang berhak mengasuh Maryam. Undian keluar atas nama Juraij, maka diapun diserahi pengasuhannya.
Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (QS. Ali Imran: 44), yakni kamu waktu itu tidak bersama dengan mereka tatkala terjadi perselisihan antara mereka tentang Maryam. Allah memberitahukan kepada Rasulullah apa yang mereka sembunyikan dari ilmu yang mereka ketahui demi mengokohkan kenabiannya, dan menjadi argumen atas mereka mengenai apa yang mereka sembunyikan selama ini.
KemudianAllah Ta 'ala berfirman:


(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembira kan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yangdatang) daripada-Nya,
 
namanya Al-Masih Isa putra Maryam, yakni demikianlah kondisinya dan bukan sebagaimana yang kalian semua katakan, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, yakni di sisi Allah, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shaleh. (QS. Ali Imran: 45-46).
Allah Yang Mahaagung memberitahukan kepada mereka tentang kondisi Isa yang sebenarnya, bagaimana Nabi Isa bersikap sebagaimana manusia lainnya sepanjang umurnya baik saat masih anak kecil atau orang dewasa. Hanya saja Allah memberi keistimewaan dengan kemampuan berbicara tatkala ia masih berada dalam pangkuan ibunya, sebagai tanda kenabiannya dan menerangkan kekuasaan-Nya kepada manusia.
Lalu Allah berfirman:


Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun. " Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dia membuat apa yang Dia kehendaki, dan mencipta apa yang Dia kehendaki dari manusia atau selain manusia,


Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. ' (QS. Ali Imran; 47), sebagaimana yang Dia kehendaki.
Kemudian memberitahukan Maryam apa yang Dia kehendaki dengan firman-Nya:


Dan Allah akan mengajarkan kepadanya At Kitab, Hikmah, Taurat, yang ada di tengah-tengah mereka sejak zaman Musa sebelum dia, dan Injil sebuah Kitab lain yang Allah turunkan kepadanya yang belum ada di tengah mereka kecuali hanya sebagai penyebutan bahwasanya dia akan ada di tangan salah seorang Nabi setelah Musa.


 
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yang mengokohkan kenabianku bahwa sesungguhnya aku adalah seorang Rasul darinya yang diutus kepada kalian,


yaitu aku membuat untuk kamu dari tanak berbentuk burung; kemudian aku meniupnya maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; yang telah mengutusku kepada kalian semua, Dia Tuhanku dan Tuhan kalian semua,


dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya padayang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, bahwa sesungguhnya aku adalah seorang Rasul Allah pada kalian, jika kamu sungguh-sungguh beriman. "


Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, yakni aku beritahukan kepadamu bahwa itu haram kemudian kalian meninggalkannya, lalu aku beritahukan bahwa itu halal untuk kalian sebagai keringanan sehingga kalian mendapatkan kemudahan dan kalian keluar dari beban-bebannya,


dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,
 
sebagai ungkapan berlepas diri dari apa yang mereka katakan tentang Isa dan sebagai hujjah untuk Tuhannya atas mereka,


karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus." Yakni inilah apa yang aku bawa atasnya dan akan datang dengannya,


Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel), dan permusuhan atasnya,


berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?"Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; ini adalah ungkapan mereka dimana mereka mendapatkan keutamaan dari Tuhan mereka,


dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri, bukan sebagaimana yang dikatakan orang-orang yang mendebatmu tentang Isa.


Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)." (QS. Ali Imran: 48-53) Yakni demikianlah perkataan dan keimanan mereka.
Lalu Allah menyebutkan tentang pengangkatan Nabi Isa pada-Nya saat mereka berkonspirasi untuk membunuhnya. Allah berfirman:

 
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu, dan Allah sebaik- baik pembalas tipu-daya (QS. Ali Imran: 54).
Kemudian Allah memberitahukan kepada mereka, dan menyangkal prasangka orang-orang Yahudi yang menyatakan bahwa mereka telah menyalib Nabi Isa dan cara Allah mengangkat Nabi Isa, dan membersihkan beliau dari mereka. Allah berfirman:


(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, tatkala mereka merencanakan apa yang mereka inginkan, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat, (QS. Ali Imran: 55). Kemudian kisahnya berlanjut hingga berakhir pada firman-Nya,


Demikianlah (kisah Isa), Kami membacakannya kepada kamu, wahai Muhammad, sebagian dari bukti- bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al-Qur'an yang penuh hikmah. ' (QS. Ali Imran: 58).
Inilah kata terakhir yang benar yang tidak ada kebatilan di dalamnya tentang kisah Nabi Isa, dan apa yang mereka perselisihkan tentang beliau. Oleh karena itu, janganlah engkau menerima kabar lain selain dari apa yang kamu peroleh dari kabar ini.
Kemudian Allah berfirman:


Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilan dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), inilah yang benar, yang datang dari Tuhanmu. yakni kabar yang datang padamu tentang Isa, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. Ali Imran: 59- 60). Kebenaran dari Tuhanmu telah dataEi kepadamu, yakni tentang Isa. Oleh karena itu janganlah engkau meragukannya. Jika mereka mengatakan, 'Isa diciptakan tanpa ayah,' sesungguhnya Aku juga sebelumnya telah menciptakan Adam dari tanah tanpa ayah dan ibu. Penciptaan Adam tidak jauh berbeda dengar penciptaan Isa; sama-sama mempunyai daging, darah,
 
rambut, dan kulit. Jadi penciptaan Isa yang tidak memiliki ayah itu tidak lebih menakjubkan dari penciptaan Adam.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman:


Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu , (QS. Ali Imran: 61), yakni setelah Aku kisahkan kepadamu tentang Isa dan bagaimana kondisi dia yang sebenarnya maka Allah Taaia berfirman:


Maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri- istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 61).
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaid berkata: Nabtahil artinya kita berdoa untuk saling laknat. Ibnu Ishaq berkata: Sesungguhnya apa yang aku bawa tentang kabar Isa:


Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar (QS. Ali Imran: 62), yakni sesuai perintah-Nya. Kemudian Allah berfirman:

 
Dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan. Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Ali Imran: 62-64). Dia mengajak mereka untuk adil dan mematahkan hujjah- hujjah mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Setelah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendapatkan wahyu dari Allah dan keputusan final antara beliau dengan kaum Najran dan beliau diperintahkan untuk saling melaknat apabila mereka menolak ajakan beliau, maka beliaupun menantang mereka untuk melakukan adu laknat (saling melaknat). Orang-orang Kristen berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Abu Al-Qasim, berilah kami waktu jeda untuk memikirkan perkara kami ini. Baru kemudian kami akan datang kepadamu dengan jawaban atas tantanganmu itu." Setelah itu, mereka pergi dari hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menemui Al-Aqib, tokoh paling berpengaruh bagi mereka. Mereka berkata kepada Al-Aqib: "Wahai Abdul Masih, bagaimana pandanganmu?" Al-Aqib menjawab: "Wahai orang-orang Kristen, kalian telah mengetahui bahwa Muhammad adalah Nabi yang diutus, dan kini ia telah datang kepada kalian dengan membawa jawaban pasti tentang kenabian. Kalian pun telah mengetahui bahwa jika suatu kaum melakukan saling laknat dengan seorang Nabi, maka seluruh orang dewasa yang ada dari kaum tersebut akan mati, dan anak-anaknya tidak akan bisa lahir. Sesungguhnya saling laknat (mubahalah) itu hanya akan memusnahkan kalian, apabila kalian melakukannya. Apabila kalian ingin bertahan dengan tetap memeluk agama kalian, dan mempertahankan pendapat kalian tentang kenabian, berdamailah dengan orang itu (Rasulullah). Sesudah itu, kembalilah kalian ke negeri kalian!" Maka merekapun pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: "Wahai Abu Al-Qasim, kami memutuskan untuk tidak mengadakan saling laknat denganmu, membiarkanmu memeluk agamamu dan kami pun tetap dalam agama kami. Namun demikian utuslah kepada kami salah seorang sahabatmu yang engkau rekomendasikan untuk kami agar ia memutuskan perkara-perkara yang kami berselisih dalam kekayaan kami. Sesungguhnya kalian diridhai di sisi kami."
Muhammad bin Ja'far berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Temuilah aku nanti sore, pasti aku akan mengirim orang kuat dan tepercaya ber- sama kalian." Umar bin Khaththab berkata: aku tidak pernah berobsesi untuk mendapatkan posisi kecuali posisi yang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebutkan saat itu. Aku demikian berharap kiranya akulah orang yang akan diutus oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Kemudian aku segera berangkat untuk shalat Zhuhur. Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam shalat Zhuhur bersama kami, beliau mengucapkan salam, dan beliau menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku tampakkan diriku, agar bisa terlihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tapi beliau terus mencari-cari seseorang, hingga beliau melihat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Ketika itulah, beliau bersabda: "Wahai Abu Ubaidah, pergilah bersama orang-orang Kristen lalu putuskan secara adil apa saja yang mereka perselisihkan!" Umar bin Khaththab berkata: Maka berangkatlah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berangkat bersama dengan delegasi Kristen Najran tersebut.
 
Orang-orang Munafik


Ibnu Ishaq berkata: Ketika Rasulullah She. lalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinar --sebagaimana dituturkan kepadaku olea Ashim bin Umar bin Qatadah- tokoh paling berpengaruh di kota Madinah pada saat itu ialah Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi, salah seorang dari Bani Al-Hubla. Tidak ada seorang pun dari kaumnya yang dapat menandingi otoritas Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi. Sebelum dan sesudahnya, orang orang Al-Aus dan Al-Khazraj tidak pernah menjadikan pemimpin lain selain Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi sampai akhirnya Islam datang. Selain Abdullah bin Ubay bin Salul, di Al-Aus terdapat tokoh berpengarur lainnya yang juga dihormati dan ditaati kaumnya, yang bernama Abu Amir Abdu Ann bin Shaifi bin An-Nu'man. Abu Amir adaia: orang tua dari sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang bernama Hanzhalar Al-Ghasil, ia adalah orang yang dimandikar para malaikat pada Perang Uhud. Pada za man jahiliyah, Abu Amir menjadi pendeka mengenakan baju kasar, dan biasa dipangg: pendeta. Namun sayang seribu sayang, justru posisi terhormat mereka berdua menjadikan mereka celaka dan membahayakan dirinya. Adapun untuk Abdullah bin Ubay bin Salul, kaumnya telah mempersiapkan mutiara sebagai mahkota untuk disematkan padanva dan mengangkatnya sebagai raja mereka. Sementara mereka dalam kondisi seperti itu, Saat itulah Allah mengutus Rasul-Nya kepada mereka. Maka tatkala kaumnya berpaling darinya dan tidak memilih kecuali Islam, ia pun menaruh dendam permusuhan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan menuduh beliau telah merampok mahkota kepemimpinannya. Ketika dia melihat kaumnya tidak suka kecuali memilih Islam, ia ikut masuk Islam namun tetap dengan menyimpan kemunafikan dan dendam kesumat.
Sementara Abu Amir bin Shaifi, ia tetap bersikukuh pada kekafirannya, dan berseberangan dengan kaumnya pada saat kaumnya telah memutuskan masuk Islam. Abu Amir memilih pergi bersama belasan orang dari kaumnya ke Makkah dengan meninggalkan Islam, dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rasulullah -sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Muhammad bin Abu Umamah dari sebagian keluarga Hanzhalah bin Abu Amir, bersabda: "Janganlah kalian memanggil dia rahib (pendeta), panggillah dia si Fasiq."
Ibnu Ishaq berkata: Ja'far bin Abdullah bin Abu Al-Hakam, sebelum berangkat ke Mekkah berkata kepadaku bahwa Abu Amir menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau tiba Madinah. Ia berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Agama apakah yang engkau datang dengannya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku datang dengan agama yang lurus (hanifiyah), agama Ibrahim." Abu Amir berkata: "Aku juga menganut agama Ibrahim." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Amir: "Engkau tidak menganut agama Ibrahim." Abu Amir menjawab: "Betul, aku menganut agama Ibrahim!" Dia berkata: "Wahai Muhammad, engkau telah memasukkan hal-hal baru ke dalam agama yang lurus (hanifiyah) yang bukan merupakan bagian darinya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak pernah melakukan itu semua. Aku datang dengan agama Ibrahim dalam keadaan putih suci." Abu Amir berkata: "Seorang pendusta akan Allah matikan dia dalam keadaan terusir, terasing dan dalam kesendirian." Yang di maksud pendusta olehnya adalah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Yakni engkau Muhammad, tidak membawa agama Ibrahim dalam keadaan putih suci, sebagaimana yang kau katakan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Betul!" Barangsiapa berlaku dusta, Allah akan melakukan itu." Demikianlah apa yang dilakukan musuh Allah, Abu Amir. Ia pun beranjak pergi ke Makkah. Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhasil menaklukkan Makkah, Abu Amir pergi ke Thaif. Tatkala orang-orang Thaif masuk Islam, ia pegi ke Syam, di sanalah dia meninggal dunia dalam keadaan terusir, terasing, dan dalam kesendirian.
 
Orang yang pergi keluar Madinah bersama Abu Amir ialah Alqamah bin Ulatsah bin Auf bin Al-Ahwash bin Ja'far bin Kilab, dan Kinanah bin Abdu Yalail bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi. Pada saat Abu Amir meninggal dunia, keduanya berebut hartanya dan mengadukan perkara mereka berdua kepada Kaisar Romawi. Kaisar berkata: "Orang kota mewarisi orang kota, dan orang padang pasir mewarisi orang padang pasir." Berdasarkan keputusan Kaisar, Kinanah bin Abdul Yalail mewarisi harta Abu Amir tanpa Alqamah.
Sedangkan Abdullah bin Ubay bin Salul tetap terhormat pada pandangan kaumnya hanya saja dia senantiasa ragu-ragu hingga ia dikalahkan Islam, dan dia memeluk Islam secara terpaksa.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Usamah bin Zaid bin Haritsah, seorang yang sangat dicintai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ia berkata: Suatu saat, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi menunggang keledai. Di atas keledainya ada kain pelana yang di atasnya terdapat selimut asal Fadak yang diikat dengan serat palem, sementara aku berada di belakang beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan melewati Abdullah bin Ubay bin Salul yang sedang bernaung di bawah benteng kecil yang bernama Muzahim.
Abdullah bin Ubay bin Salul saat itu tengah bersama beberapa orang dari kaumnya. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat Abdullah bin Ubay bin Salul, beliau merasa malu melintasinya dengan mengendarai keledai. Makanya beliau turun dari keledainya dan mengucapkan salam lalu duduk sejenak. Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur'an kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, sambil mengajaknya kepada agama Allah, mengingatkannya tentang Allah, memberi peringatan keras, memberi kabar gembira dan ancaman padanya. Abdullah bin Ubay bin Salul diam seribu bahasa. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sudah selesai bicara, Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya tidak ada orang yang lebih baik perkataannya dari per- kataanmu. Apabila yang engkau katakan benar adanya, duduk sajalah di rumahmu. Siapapun yang datang menemuimu, bicaralah engkau dengannya. Sedang orang yang tidak datang menemuimu, tidak usahlah engkau bersusah payah datang kepadanya untuk mengatakan sesuatu yang orang itu tidak menyukainya." Abdullah bin Rawahah yang sedang bersama beberapa orang dari kaum Muslimin berkata: "Betul sekali. Biarkan kami senantiasa berada bersamanya. Biarkanlah kami membawanya ke majlis-majlis, kampung dan rumah-rumah kami. Demi Allah, inilah satu hal sangat kami sukai, sesuatu yang dengannya Allah jadikan kami mulia, dan dia memberi petunjuk bagi kami padanya."
Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul memperhatikan kaumnya menentang pendapatnya, ia berkata:
Kala tuanmu menjadi musuhmu
Kau akan senantiasa hina dan lawanmu akan menjatuhkanmu Biasakah burung elang harus terbang tanpa sayapnya
Jika pada suatu hari bulunya dicabut, ia kar jatuh

Ibnu Hisyam berkata: Bait kedua bukar dari Ibnu Ishaq
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri berkata ke padaku dari Urwah bin Zubair dari Usama bin Zaid yang berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beranjak dari tempat tersebut lalu pergi ke rumah Sa'ad bin Ubadah. Ucapan Abdullah bin Ubay bin Salul masih terus membersit di wajah beliau. Sa'ad bin Ubadah berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, aku melihat sesuatu terbersit di wajahmu, apakah engkau baru mendengar satu hal yang tidak engkau sukai?" Rasulullah Shallalahu 'alaiki wa Sallam bersabda: "Betul sekali." Sa'ad bin Ubadah berkata: "Wahai Rasulullah, bersikaplah lemah-lembut terhadap Abdullah bin Ubay bin Salul. Demi Allah, sesungguhnya tatkala engkau datang kepada kami,
 
kami telah mempersiapkan mahkota yang akan kami berikan padanya sebagai kepemimpinan. Ia beranggapan bahwa sesungguhnya engkau telah merampas mahkota kepemimpinannya itu darinya!"



Sahabat-sahabat Rasulullah yang Sakit


Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Urwah dan Amr bin Abdullah bin Urwah berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di Madinah. Madinah saat itu merupakan bumi Allah yang paling potensial dengan penyakit demam. Dampaknya, banyak sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang terjangkiti sakit demam itu. Allah menjaga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sehingga beliau tidak terserang wabah penyakit demam. Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal tinggal satu rumah. Mereka semua terjangkit wabah demam. Lalu aku menjenguk mereka. Peristiwa ini terjadi pada saat hijab belum diwajibkan. Mereka bertiga diserang demam tinggi yang hanya Allah sajalah yang tahu. Aku mendekat kepada Abu Bakar, dan bertanya kepadanya: "Bagaimana kabarmu, ayahanda?"Abu Bakar menjawab:
Semua manusia disambut ria oleh keluarganya di pagi hari Sementara maut lebih dekat padanya daripada tali sandalnya

Aisyah: Aku berkata: 'Demi Allah, ayah tidak sadar akan apa yang ia katakan. Aku mendekat kepada Amir bin Fuhairah, dan bertanya kepadanya: "Bagaimana kabarmu, wahai Amir?" Amir bin Fuhairah menjawab:
Telah aku jumpai kematian sebelum mencicipinya
Sesungguhnya kematian datang pada para pengecut dari atasnya Setiap orang itu berjuang dengan kekuatannya
Sebagaimana sapi jantan menjaga kulitnya dengan tanduknya
Aisyah berkata: Aku berkata: "Demi Allah, Amir tidak menyadari apa yang dikatakannya." Adapun Bilal, bila demam menderanya, ia berbaring di emperan rumah, dengan mengangkat suaranya sambil berkata:
Wahai bisakah aku kembali bermalam Di Fakh (tempat di luar Makkah),
Sementara di sekitarku terdapat idzkhir (nama pohon beraroma wangi), dan Jalil (nama tumbuh- tumbuhan) Mampukan suatu saat aku berada di mata air Majannah?
Adakah gunung Syamah dan Gunung Thafil terlihat olehku?

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: Maka aku ceritakan apa yang aku dengar dari mereka bertiga kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Aku berkata kepada beliau: "Mereka bertiga bicara asal-asalan dan tidak sadar dengan apa yang mereka ucapkan akibat serangan demam tinggi." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana telah Engkau jadikan kami mencintai Makkah, atau kokohkanlah rasa cinta kami kepada Madinah. Berilah kami keberkahan di mud, dan sha' Madinah (yakni makanannya). Alihkan serangan wabahnya ini ke Mahyaa'h."80 Mahyaa'h adalahAl-Juhfah.

 
Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di Madinah sahabat-sahabatnya di dera wabah demam Madinah yang mengakibatkan banyak di antara mereka menderita sakit berat namun Allah menjauhkan wabah tersebut dari beliau. Akibat deraan penyakit demam ini hingga ada di antara para sahabat mengerjakan shalat dengan cara duduk. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar menemui mereka yang kala itu menunaikan shalat dengan cara duduk. Beliau bersabda kepada mereka: "Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku bahwa shalat orang yang duduk itu pahalanya adalah setengah shalat orang yang berdiri." Maka para sahabat berupaya untuk berdiri sekuat mungkin walaupun mereka demikian lemah dan sedang sakit dengan harapan mendapatkan pahala.
Ibnu Ishaq berkata: Sesudah itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersia-siap diri untuk perang dan berjihad melawan musuhnya sesuai yang Allah perintahkan, serta memerangi orang-orang musyrik, orang-orang musyrik Arab. Ini semua baru terjadi tiga belas tahun setelah Allah mengutus beliau sebagai Nabi.



Penanggalan Hijrah


Berdasarkan pada sanad sebelumnya, dari Abdul Malik bin Hisyam yang berkata bahwa Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata dari Abdullah bin lshaq Al-Muthallibi yang berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal, pada saat waktu dhuha berakhir, saat matahari tidak begitu panas. Itulah tanggal hijrah beliau sebagaimana dituturkan Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah sampai di Madinah, usia beliau lima puluh tiga tahun, tiga belas tahun sesudah beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tinggal di Madinah pada akhir sisa bulan Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawwal, Dzul Qa'dah dan Dzul Hijjah. Pada bulan-bulan inilah dan bulan pada Muharram tahun berikutnya, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak berperang dengan kaum musyrikin.
Barulah pada bulan Shafar tahun berikutnya, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar untuk berperang. Tepatnya setelah setahun sejak kedatangannya di Madinah.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Sa'ad bin Ubadah sebagai penggantinya di Madinah selama dirinya berada di medan jihad.



Perang Waddan, Perang Pertama yang Diikuti Rasulullah


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalaka 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah hingga sampai di daerah Waddan. Perang Waddan adalah sebutan lain untuk Perang Al-Abwa’. Rasulullah Shallalahu
 
'alaihi wa Sallam bermaksud untuk menyerang orang-orang Quraisy dan Bani Dhamrah bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Namun akhirnya beliau berdamai dengan Bani Dhamrah di Al-Abwal. Dalam proses perdamaian ini Bani Dhamra diwakili pemimpin mereka yang bernama Makhsyi bin Amr Adh- Dhamri. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali ke Madinah tanpa ada perlawanan apapun. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetap di Madinah hingga sisa akhir bular Shafar dan awal-awal bulan Rabiul Awwal.
Ibnu Hisyam berkata: Perang Waddar merupakan perang yang pertama dilakukan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.



Ekspedisi Ubaidah bin al-Harits Panji Pertama yang dibentuk oleh Rasulullah


Ibnu Ishaq berkata: Pada saat berada di Madinah inilah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay bersama enam puluh atau delapan puluh pasukan dari kaum Muhajirin, tanpa menyerta kan seorangpun dari kaum Anshar. Ubaidah bin Al-Harits beserta pasukannya keluar dari Madinah hingga tiba di mata air di Hijaz di bawah Tsaniyyatul Murrah. Di sana, Ubaidah bin Al-Harits dan pasukannya berpapasan dengan sekian banyak orang Quraisy, namun perang belum meletus di antara mereka. Namun demikian Sa'ad bin Abu Waqqash telah memanah dengan satu anak panahnya. Itulah anak panah pertama yang dipanahan dalam Islam.
Kedua belah pihak kemudian meninggal- kan yang lain. Saat itu kaum Muslimin telah memiliki keberanian yang hebat. Beberapa orang musyrik yang bergabung dengan baris- an kaum muslimin saat itu adalah Al-Miqdad bin Amr Al-Bahrani sekutu Bani Zuhrah, dan Utbah bin Ghazwan bin Jabir Al-Mazini sekutu Bani Naufal bin Abdu Manaf. Keduanya telah masuk Islam, namun mereka berdua sengaja keluar bersama orang-orang kafir sebagai fasilitas untuk lebih mudah bergabung dengan kaum muslimin. Pimpinan kaum kafir saat itu adalah Ikrimah bin Abu Jahal.
Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Abu Amr bin Al-Ala' berkata kepadaku dari Abu Amr Al-Madani ia berkata: Tatkala itu orang-orang kafir dipimpin oleh Mikraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf salah seorang dari Bani Ma'ish bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Ibnu Ishaq berkata: Panji perang Ubaidah bin Al-Harits, sebagaimana yang dituturkan padaku, adalah panji pertama yang diberikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam Islam kepada salah seorang kaum Muslimin.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Ubaidah bin Al-Harits dan pasukannya tatkala beliau pulang dari Perang Al-Abwa', dan sebelum beliau tiba di kota Madinah.



Ekspedisi Perang Hamzan bin Abdul Muthalib ke Pesisir Pantai
 
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat yang bersamaan, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam juga mengirim Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim dengan membawahi tiga puluh orang Muhajirin ke Saiful Bahri (kawasan pantai) di daerah Al-Ish tanpa mengikut sertakan satu orangpun dari kaum Anshar dalam ekspedisi Hamzah bin Abdul Muthalib. Di daerah pantai tersebut, Hamzah bin Abdul Muthalib bersama pasukannya berpapasan dengan Abu Jahal bersama tiga ratus pasukan orang Makkah. Kemudian kedua belah pihak berdamai dengan mediator Majdi bin Amr Al-Juhani yang mendamaikan kaum Muslimin dan kaum musyrikin dan kedua belah pihak pulang ke tempat masing-masing tanpa melakukan perang.
Sebagian ulama berpendapat bahwa panji perang Hamzah bin Abdul Muthalib adalah panji pertama yang diberikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada salah seorang dari kaum Muslimin. Karena pada saat pengiriman ekspedisi perang Hamzah bin Abdul Muthalib, dan ekspedisi perang Ubaidah bin Al-Harts terjadi secara bersamaan. Karenanya banyak orang yang tidak mengetahui masalah ini dengan pasti.
Sebagian ulama berkata bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib mengucapkan syair-syair yang di dalamnya berkata bahwa panji perang miliknya adalah panji pertama yang diserahkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Jika Hamzah bin Abdul Muthalib berkata seperti itu, insya Allah ia berkata benar dan tidak mungkin berdusta. Wallahu a 'lam mana yang paling benar dalam masalah ini.
Sementara yang kami dengar dari para ulama di kalangan kami Ubaidah bin Al-Harits-lah orang pertama yang diberi panji perang oleh Rasulullah.



Perang Buwath


Ibnu Ishaq berkata: Kemudian pada bulan Rabiul Awwal, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah dengan maksud untuk memerangi orang-orang Quraisy.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk As-Saib bin Utsman bin Madz'un sebagai pemimpin sementara di Madinah, demikian menurut Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Hingga tatkala Rasulullah sampai di Buwath, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memutuskan pulang ke Madinah, karena tidak ada perlawanan. Beliau menetap di Madinah pada sisa akhir bulan Rabiul Awwal, dan sebagian bulan Jumadil Ula.



Perang 'Usyairah


Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat untuk memerangi orang-orang Quraisy, dan menetapkan Abu Salamah bin Abdul Asad sebagai pemimpin sementara di Madinah, demikianlah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan melintasi gunung Bani Dinar, kemudian Faifa' dan Al-Khabar. Beliau berhenti di bawah pohon di lembah Bin Azhar yang bemama
 
Dzatu As-Saaq dan melaksankan shalat di sana. Kemudian dibangunlah mesjid untuk beliau, makanan dibuat untuk beliau lalu beliau dan para sahabat menyantapnya. Tempat tungku dapur beliau masih terisa di sana, dan beliau dihidangi air minum dari Mata Air Al-Musytarib.
Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melanjutkkan perjalanannya dengan meninggalkan Khalaiq di sisi kiri, dan berjalan melintasi perbukitan berlorong kecil yang disebut dengan bukit berlorong Abdullah. Itulah nama bukit tersebut pada saat itu. Kemudian beliau menuruni Yasar hingga tiba di Yalyal. Beliau berhenti di perkampungan Yalyal, dan perkampungan Adh-Dhabu'ah. Beliau diam- bilkan air dari sumur di Adh-Dhabu'ah lalu berjalan melewati dataran Malal, hingga bertemu dengan jalan di Shuhairat Al-Yama. Lalu berjalan lurus dan berhenti di Al-Usyairah, salah satu kabilah di Yanbu'. Beliau berada di sana selama bulan Jumadil Ula, dan beberapa malam pada bulan Jumadil Akhir. Beliau berdamai dengan Bani Mudlij dan sekutu-sekutunya dari Bani Dhamrah. Sesudahnya beliau pulang ke Madinah tanpa ada perlawanan.



Pemberian Kun-yah (Gelar) Ali dengan Abu Turab


Pada perang ini Rasulullah mengatakan sesuatu kepada Ali bin Abu Thalib.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Muhammad bin Khaitsam Al-Muharibi berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab Al-Ourazhi dari Muhammad bin Khaitsam Abu Yazid dari Ammar bin Yasir yang berkata: Aku dan Ali bin Abu Thalib adalah dua sahabat akrab pada Perang 'Usyairah. Pada saat itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti di 'Usyairah dan menetap di tempat itu. Kami melihat sekian banyak Bani Mudlij bekerja di mata air dan kebun kurma mereka. Ali bin Abu Thalib berkata kepadaku: "Wahai Abu Al-Yaqzhan, apa pendapatmu apabila kita singgah ke tempat orang-orang tersebut, agar bisa melihat lebih dekat apa yang mereka kerjakan?" Aku menjawab: “Jika engkau mau, mariian kita pergi ke sana!' Kami pergi ke tempat orang-orang tersebut untuk melihat pekerjaan mereka selama beberapa saat hingga kantuk mengalahkan kami. Kemudian aku dan Ali bin Abu Thailib pergi, dan tidur-tiduran di bawah anak pohon kurma di tempat yang bertanah lembek. Demi Allah, tidaklah ada yang membagunkan dari tidur kami kecuali Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang menggerak-gerakkan kami dengan kakinya, sedangkan kami berlumuran tanah dari tempat kami tidur. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib: "Apa yang terjadi pada dirimu, wahai Abu Turab (bapak tanah)?" Beliau katakan itu karena menyaksikan kami berlumuran tanah liat. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Maukah kalian aku kabari tentang dua orang yang paling celaka?" Kami menjawab: "Tentu saja, wahai Rasulullah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Dua orang yang paling celaka ialah Uhaimir Tsamud yang telah menyembelih unta, dan orang yang memukul tengkukmu seperti ini wahai Ali." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda demikian sambil memegang tengkuk Ali bin Abu Thalib hingga basah. Rasulullah juga sambil memegang jenggot Ali bin Abu Thalib.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama berkata kepadaku Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi gelar Ali bin Abu Thalib dengan Abu Turab, karena ia marah kepada Fathimah karena satu perkara, ia tidak menuruti marahnya dan tidak mengatakan sesuatu yang melukai hati Fathimah. Alih-alih ia malah mengambil tanah, kemudian menyimpannya di atas kepalanya. Apabila Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat tanah di atas kepala Ali bin Abu Thalib beliau paham bahwa Ali bin Abu Thalib
 
sedang marah kepada anaknya tercintanya Fathimah, kemudian beliau bersabda: "Ada apa dengan dirimu, wahai Abu Turab?" Wallahu a'lam mana yang lebih benar dalam hal ini.



Ekspedisi Sa'ad bin Abi Waqqash


Ibnu Ishaq berkata: Di sela waktu tersebut, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Sa'ad bin Abu Waqqash bersama pasukannya yang terdiri dari kaum Muhajirin yang berjumlah delapan orang. Sa'ad bin Abu Waqqash dan pasukannya berangkat hingga tiba di Al-Kharrar di Hijaz, kemudian pulang ke Madinah tanpa ada perlawanan.
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian ulama menyatakan bahwa pengiriman ekspedisi Sa'ad bin Abu Waqqash terjadi sesudah pengiriman pasukan Hamzah bin Abdul Muthalib.



Perang Safwan, Perang Badar Pertama


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah tinggal di Madinah tidak lebih dari sepuluh malam setelah kedatangannya dari Perang 'Usyairah, ternyata Kurzu bin Jabir Al-Fihri menyerang sekawanan hewan ternak Madinah. Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai wakilnya di Ma¬dinah sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri hingga lembah Safwan dari arah Badar namun tidak berhasil mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri untuk menangkapnya. Inilah Perang Badar Pertama.
Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali ke Madinah dan menetap di sana sepanjang sisa bulan Jumadil Akhir, Rajab, dan Sya'ban.



Ekspedisi Perang Abdullah bin Jahsy dan Turunnya ayat: (Mereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan Haram)


Ibnu Ishaq berkata: Pada bulan Rajab, sesudah kedatangannya dari Perang Badar I, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Abdullah bin Jahsy bin Riab Al-Asadi dengan membawa delapan orang kaum Muhajirin dan tanpa ada seorang pun dari kalangan Anshar. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menulis surat untuk Abdullah bin Jahsy dan memintanya untuk tidak membukanya kecuali sesudah perjalanan berlangsung selama dua hari. Sesudah dua hari berjalan, Abdullah bin Jahsy baru membukanya sesuai dengan perintah beliau di surat tersebut tanpa memaksa seorangpun dari sahabatnya.
 
Sahabat-sahabat Abdullah bin Jahsy dari kaum Muhajirin dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams.
Dari sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah Abdullah bin Jahsy yang menjadi komandan mereka, dan 'Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf dari Bani Asad bin Khuzaimah. Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf adalah Utbah bin Ghazwan bin Jabir sekutu mereka.
Dari Bani Zuhrah bin Kilab adalah Sa'ad bin Abu Waqqash.
Dari Bani Adi bin Ka'ab adalah Amir bin Rabi'ah sekutu mereka dari Anz bin Wail, Waqid bin Abdullah bin Abdu Manaf bin Arin bin Tsa'labah bin Yarbu' salah seorang Bani
Tamim sekutu mereka, Khalid bin Al-Bukair salah seorang Bani Sa'ad bin Laits sekutu mereka. Dan dari Bani Al-Harits bin Fihr adalah Suhail bin Baidha'.
Sesudah berjalan dua hari, Abdullah bin Jahsy membuka surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ternyata surat tersebut berbunyi sebagai berikut: Apabila membaca suratku ini, hendaklah engkau berjalan hingga berhenti di Nakhlah antara Makkah dan Thaif. Perhatikan dan awasi kaum kafir Quraisy lalu laporkan kepadaku berita tentang mereka.
Sesudah membuka dan membaca surat tersebut, Abdullah bin Jahsy berkata: "Aku patuh atas perintahmu." Abdullah bin Jahsy berkata kepada sahabat-sahabatnya: Rasulullah Shallallau 'Alaihi wa Sallam memerintahkanku berjalan menuju Nakhlah untuk mengawasi kaum Quraisy lalu melaporkan berita tentang mereka kepadanya. Beliau tidak membolehkan aku memaksa seorang pun dari kalian. Barangsiapa di antara kalian berniat mati syahid, dan tertarik padanya, silakan tetap ikut bersama aku. Namun barangsiapa tidak ingin mati syahid, silakan saja kembali ke Madinah. Sedangkan aku tetap akan melaksanakan amar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Abdullah bin Jahsy dan sahabat-sahabatnya melanjutkan perjalanan dan ternyata tidak seorang pun dari mereka yang pulang ke Madinah. Mereka berjalan melalaui Hijaz. Tatkala mereka berada di Bahran, unta Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan tiba-tiba hilang. Padahal unta mereka berdua telah diikat kuat. Dampaknya keduanya ter- tinggal dari pasukan Abdullah bin Jahsy karena mencari-cari untanya.
Abdullah bin Jahsy dan sisa-sisa sahabatnya tetap berjalan hingga sampai di Nakhlah yang dimaksudkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tak berapa lama kemudian kafilah dagang Quraisy yang membawa anggur kering, kulit, dan barang-barang dagangan orang-orang Quraisy melewati Nakhlah. Di dalam kafilah dagang ini ada Amr bin Al-Hadhrami, Utsman bin Abdullah bin Al- Mughirah Al-Makhzumi, saudara Utsman yang bernama Naufal bin Abdullah Al-Makhzumi, dan Al- Hakam bin Kaisan mantan budak Hisyam bin Al-Mughirah. Tatkala kafilah dagang Quraisy tersebut dilihat pasukan Abdullah bin Jahsy mereka didera ketakutan, sebab posisi tempat mereka berhenti tepat berdekatan dengan pasukan Abdullah bin Jahsy. Lalu Ukkasyah bin Mihsyan yang telah mencukur rambutnya mendekat kepada kafilah dagang Quraisy tersebut. Begitu melihat kedatangan Ukkasyah bin Mihshan, mereka merasa aman. Mereka berkata: "Ini dia Ummar. Janganlah kalian takut kepada mereka." Pada saat itu juga, pasukan Abdullah bin Jahsy bermusyawarah antar mereka membahas tentang kafilah dagang Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada akhir bulan Rajab. Pasukan Abdullah bin Jahsy berkata: "Demi Allah, apabila malam ini kalian membiarkan kafilah dagang Quraisy tersebut, mereka pasti akan memasuki Al-Haram lalu berlindung dari kalian di sana. Apabila membunuh mereka berarti kalian membunuh mereka di bulan-bulan haram."
 
Pasukan Abdullah bin Jahsy pun merasa ragu. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang kafilah dagang Quraisy tersebut. Mereka bakar semangat untuk menghadapi kafilah dagang Quraisy itu. Mereka sepakat untuk membunuh siapa saja dari kafilah dagang Quraisy yang mampu mereka bunuh, dan mengambil apa saja yang bisa dirampas dari mereka. Lalu Waqid bin Abdullah At-Tamimi melepaskan anak panahnya ke arah Amr bin Al-Hadhrami dan menewaskannya.
Pasukan Abdullah bin Jahsy berhasil pula menawan Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan. Sementara Naufal bin Abdullah berhasil lolos dari serbuan pasukan Abdullah bin Jahsy dan mereka tidak berhasil menangkapnya. Lalu Abdullah bin Jahsy dan pasukannya pulang membawa unta dan dua tawanan hingga tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Salah seorang dari keluarga Abdullah bin Jahsy menyebutkan bahwa Abdullah bin Jahsy berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Sesungguhnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mempunyai hak seperlima dari rampasan perang yang kita peroleh." Itu terjadi ketika Allah Ta'ala belum mewajibkan seperlima terhadap rampasan perang. Abdullah bin Jahsy menyisihkan seperlima bagian untuk Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sisanya dia bagikan untuk para sahabatnya.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat pasukan Abdullah bin Jahsy menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda: "Aku tidak menyuruh kalian untuk membunuh mereka di bulan haram." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menahan unta dan kedua tawanan tersebut. Beliau tidak mau mengambil bagian sedikit pun dari rampasan tersebut. Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengatakan itu, pasukan Abdullah bin Jahsy sangat menyesal atas perbuatan mereka dan mereka merasa akan dihukum qishah.
Kaum Muslimin juga sangat mengecam tindakan yang mereka lakukan. Pada saat yang sama di tempat lain, orang-orang Quraisy berkata: "Muhammad dan para sahabatnya telah menghalalkan bulan haram dan menumpahkan darah, merampas harta dan menawan manusia di bulan haram." Beberapa orang dari kaum Muslimin di Makkah membalas ucapan orang-orang Quraisy dengan berkata "Sesungguhnya tindakan pasukan Abdullah bin Jahsy merupakan reaksi atas apa yang mereka terima di bulan Sya'ban."
Orang-orang Yahudi berkata menyerang Rasulullah dalam ucapan yang buruk: "Amr bin Al-Hadhrami telah dibunuh Waqid bin Abdullah. Amr telah meramaikan (ammarat) perang. Al-Hadhrami ialah orang yang terlibat perang. Dan Waqid bin Abdullah ialah orang yang menyalakan(waqid) perang." Pada saat orang-orang ramai membicarakan tentang peristiwa ini, Allah menurunkan ayat-Nya:




Mereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram. Katakanlah, 'Berperang di bulan itu dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitamya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. (QS. al-
 
Baqarah: 217). Yakni, apabila kalian telah membunuh pada bulan haram, sesungguhnya mereka telah menghalang-halangi kalian dari jalan Allah dan telah kafir kepada Allah, melarang kalian ke Masjidil Haram, dan mengusir kalian dari sana. Padahal kalianlah orang yang paling berhak atas Masjidil Haram. Dosa yang mereka lakukan itu jauh lebih besar dosanya di sisi Allah daripada pembunuhan kalian terhadap seorang di antara mereka.


Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS. Baqarah: 217). Yakni, mereka telah menyiksa orang Muslim disebabkan oleh agama mereka, karena mereka berambisi sekali untuk mengeluarkan orang Muslim dari agamanya sesudah mereka beriman. Yang demikian itu jauh lebih besar dosanya di sisi Allah daripada pembunuhan yang kalian lakukan.


Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup (QS. al-Baqarah: 217). Yakni, mereka melakukan perbuatan yang lebih kejam dan lebih jahat daripada perbuatan mereka sebelum itu sebagaimana disebutkan pada ayat sebelumnya. Mereka engggan bertobat, dan tiada hentinya dari melakukan tindakan-tindakan jahat itu.
Tatkala ayat Al-Qur'an turun membawa hal tersebut, dan Allah menghilangkan gundah gulana yang dialami kaum Muslimin. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersedia untuk menerima unta dan kedua tawanan perang tersebut. Kemudian orang-orang Quraisy mengirim perwakilan mereka untuk menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk menebus Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kami tidak akan menyerahkan keduanya pada kalian sampai dua sahabat kami datang yakni Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan. Kami khawatir kalian berbuat sesuatu yang tidak wajar terhadap mereka. Jika ternyata kalian membunuh mereka berdua, maka dua sahabat kalian ini akan kami bunuh pula." Tak lama kemudian, Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan tiba di Madinah, kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerahkan dua tawanan tadi kepada perwakilan Quraisy.
Sedangkan Al-Hakam bin Kaisan, ia masuk Islam dengan amat baik. Dia tetap tinggal bersama Rasulullah di Madinah hingga terbunuh sebagai seorang syahid pada Perang Bi'ru Ma unah. Sementara Utsman bin Abdullah pulang kembali ke Makkah dan mati dalam kondisi kafir.
Tatkala gundah gulana telah hilang dari pasukan Abdullah bin Jahsy setelah Al-Qur'an turun, maka para sahabat berobsesi besar untuk mendapatkan pahala. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, bolehkan kita menginginkan perang, yang dengan perang itu kita memperoleh pahala para mujahidin?" Allah Yang Mahaagung menurunkan firman-Nya:
 
 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al- Baqarah: 218). Allah memposisikan mereka pada harapan tertinggi.
Hadits tentang hal ini berasal dari Az- Zuhri dan Yazid bin Ruman dari Urwah bin Zubair.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian keluarga Abdullah bin Jahsy berkata bahwa Allah membaginya dengan cara fay' (rampasan tanpa pertempuran), setelah Dia menghalalkannya, yakni empat perlima bagi yang mendapatkannya sedangkan seperlima adalah bagian untuk Allah dan Rasul-Nya. Artinya, ini selaras dengan kebijakan yang diambil Abdullah bin Jahsy pada unta yang mereka dapatkan dari kafilah dagang Quraisy tersebut.
Ibnu Hisyam berkata: Itulah rampasan perang pertama yang diperoleh kaum Muslimin. Sedangkan Amr bin Al-Hadhrami adalah orang yang pertama kali dibunuh oleh kaum Muslimin sementara Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan adalah orang yang pertama kali menjadi tawanan kaum Muslimin.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Bakar Ash-Shid- diq berkata mengenai ekspedisi Abdullah bin Jahsy, walaupun ada juga yang mengatakan bahwa perkataan ini dikatakan oleh Abdullah bin Jashy tatkala orang-orang Quraisy berkata: "Muhammad dan sahabat-sahabatnya menghalalkan bulan-bulan haram, menumpahkan darah, merampas harta di dan menawan orang-orang di dalamnya."



Perubahan Arah Kiblat ke Ka'bah


Ibnu Ishaq berkata: Ada yang berpendapat bahwa perubahan arah kiblat ke Ka'bah terjadi pada bulan Sya'ban, delapan belas bulan setelah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah.



Perang Badar Kubra


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar berita bahwa Abu Sufyan bin Harb baru saja tiba dari Syam bersama dengan kafilah dagang Quraisy yang membawa sejumlah besar kekayaan dan barang dagangan milik orang-orang Quraisy. Kafilah ini terdiri dari tiga puluh atau empat puluh orang Quraisy. Di antara mereka ada Makhramah bin Naufal bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah dan Amr bin Al-Ash bin Wail bin Hisyam.
 
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berkata bahwa Amr adalah anak dari Wail bin Hasyim.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri, Ashim bin Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abu Bakr, Yazid bin Ruman, dan ulama-ulama lain berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma. Mereka Semua mengatakan beberapa hadits dalam redaksi sama tentang Perang Badar.
Mereka berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar Abu Sufyan bin Harb tiba dari Syam, beliau mengajak kaum Muslimin keluar dari Madinah dan bersabda: "Inilah kafilah dagang Quraisy. Di dalamnya adalah harta kekayaan mereka. Oleh sebab itu, pergilah kalian kepada mereka! Semoga Allah memberikan kekayaan mereka kepada kalian!" Kaum Muslimin menanggapi cepat seruan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sebagian mereka merasa ringan tanpa beban untuk berangkat dan sebagian lainnya merasa berat hati untuk berangkat, karena mereka tidak mengira Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam akan mendapatkan perlawanan perang.
Pada saat mendekati Hijaz, Abu Sufyan mengorek berita dan bertanya kepada musafir yang ia temui, karena khawatir mendapat serangan tak terduga. Akhirnya dia mendapatkan berita dari salah seorang musafir yang mengatakan kepadanya: "Sesungguhnya Muhammad telah mengirim sahabat- sahabatnya untuk menyerangmu dan kafilah dagang yang kamu pimpin." Karena berita tersebut, Abu Sufyan bersikap ekstra hati-hati. Ia menyewa Dhamdham bin Amr Al-Ghifari untuk pergi ke Makkah dan memerintahkannya untuk mendatangi orang-orang Quraisy serta mendesak mereka untuk menyelamatkan harta kekayaan mereka, dan memberi tahu mereka bahwa Muhammad kini telah menghadangnya bersama para sahabatnya. Dhamdham bin Amr Al-Ghifari segera meluncur ke Makkah.



Mimpi Atikah Binti Abdul Muthalib


Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan Yazid bin Ruman dari Urwah bin Zubair mereka berdua berkata: Tiga malam sebelum kedatangan Dhamdham bin Amr Al-Ghifari di Makkah, Atikah binti Abdul Muthalib melihat mimpi yang sangat mengerikan. Ia pun pergi menemui saudaranya, Al-Abbas bin Abdul Muthalib sambil bertutur: "Saudaraku, demi Allah, semalam aku melihat mimpi yang demikian mengerikan. Aku khawatir keburukan dan musibah akan menimpa kaummu. Maka rahasiakanlah apa yang aku akan katakan padamu nanti." Al-Abbas bin Abdul Muthalib bertanya kepada Atikah binti Abdul Muthalib: "Mimpi apakah yang engkau lihat?" Atikah binti Abdul Muthalib menjawab: "Dalam mimpiku aku melihat seorang musafir datang dengan menunggang unta. Ia berdiri di sebuah tanah lembah nan lapang. Lalu ia berteriak dengan suara sangat lantang: "Ketahuilah, wahai orang-orang Ghudar, berangkatlah kalian ke ladang kematian kalian dalam jangka tiga hari." Aku lihat manusia berhimpun pada musafir tersebut, kemudian ia masuk ke masjid di ikuti banyak orang. Ketika mereka berada di sekelilingnya, musafir tersebut berdiri di atas untanya di depan Ka'bah, lalu berteriak dengan suara sangat lantang: "Ketahuilah, wahai orang-orang Ghudar, berangkatlah kalian ke ladang kematian kalian dalam jangka tiga hari." Kemudian musafir tersebut berdiri di atas untanya di atas Abu Qubais, dan berteriak dengan teriakan yang sama lantangnya. Musafir tersebut mengambil batu besar lalu melemparkannya. Batu besar itu meluncur jatuh. Tatkala batu tersebut sampai di bawah gunung, ia pecah berkeping-keping. Tidak ada satupun rumah di Makkah, kecuali diterjang pecahan batu besar tersebut."
 
Al-Abbas bin Abdul Muthalib berkata: "Demi Allah, inilah mimpi yang sebenarnya. Saya berpesan padamu agar merahasiakan mimpimu ini, dan janganlah sekali-kali kau menceritakannya kepada siapa pun"
Kemudian Al-Abbas bin Abdul Muthalib keluar dan bertemu dengan Al-Walid bin Utbah bin Rabi'ah seorang sahabat dekat Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Lalu Al-Abbas bin Abdul Muthalib menceritakan mimpi Atikah binti Abdul Muthalib kepadanya, dan meminta Al-Walid merahasiakan rapat-rapat mimpi tersebut. Sayang sekali Al-Walid tak mampu menahan rahasia dan ia menceritakan mimpi tersebut kepada ayahnya, Utbah bin Rabi'ah. Hasilnya, berita tentang mimpi tersebut pun menyebar luas ke seantero Makkah dan menjadi bahan pembicaraan hangat di antara orang-orang Quraisy di tempat pertemuan mereka.
Al-Abbas berkata: Lalu aku pergi untuk thawaf di Baitullah. Saat itu, Abu Jahal sedang berkumpul bersama beberapa orang Quraisy membincangkan serius tentang mimpi Atikah binti Abdul Muthalib. Pada saat Abu Jahal melihatku, ia berkata: "Wahai Abu AI-Fadhl, apabila telah selesai thawaf, harap engkau datang ke tempat kami!" Seusai thawaf, aku datang dan duduk bersama mereka. Abu Jahal berkata kepadaku: "Wahai Bani Abdul Muthalib, sejak kapan ada nabi wanita di tengah kalian?" Aku bertanya: "maksudnya apa itu ?" Abu Jahal berkata: "Mimpi yang dilihat Atikah." Aku bertanya: "Bermimpi apakah Atikah?" Abu Jahal berkata: "Wahai Bani Abdul Muthalib, bukankah kalian senang ada seorang laki-laki di antara kalian yang mengaku sebagai seorang nabi, kemudian wanita kalian juga mengaku sebagai nabi? Atikah mengaku bahwa dalam mimpinya, orang tersebut berkata: 'Pergilah kalian dalam tiga hari ini! Kami akan menunggu apa yang akan terjadi pada kalian dalam jangka waktu tiga hari ini! Apabila apa yang dikatakan Atikah benar, maka dia akan terjadi. Jika telah berjalan tiga hari, namun tidak terjadi sesuatupun, kami akan menulis bahwa kalian adalah warga Baitullah yang paling pendusta di seluruh dunia Arab."
Al-Abbas berkata: Demi Allah, di mataku Abu Jahal bukanlah apa-apa, aku bisa melakukan apa saja atasnya. Namun, aku sengaja mengingkari mimpi tersebut, pura-pura tidak mengetahuinya. Setelah itu kami bubar.
Pada sore harinya, tidak seorangpun wanita Bani Abdul Muthalib kecuali pasti datang menemuiku. Setiap wanita Bani Abdul Muthalib berkata: "Mengapa engkau biarkan begitu saja orang fasik dan kotor ini menyerang orang laki-laki kita, dan menyinggung perasaan wanita-wanita kita? Sementara engkau mendengar jelas ucapannya, namun engkau tidak merasa gerah atas ucapan yang engkau dengar." Al-Abbas berkata: "Demi Allah, aku akan melakukannya. Abu Jahal itu bukan apa-apa di mataku, dan aku bisa melakukan apa saja atasnya. Aku bersumpah kepada Allah, aku akan hadapi dia. Jika ia mengulangi perbuatannya, aku pasti melakukan perlindungan terhadap kalian dari perilaku jahatnya."
Al-Abbas berkata: "Tiga hari setelah mimpi Atikah binti Abdul Muthalib, aku keluar rumah dalam keadaan marah besar. Aku mengira bahwa aku telah kehilangan momen besar yang seharusnya aku lakukan. Aku masuk masjid, dan melihat Abu Tahal di dalamnya. Demi Allah, aku berjalan ke arahnya untuk menghadapinya, agar ia menahan sebagian ucapannya, dan aku bisa membungkamnya. Abu Jahal adalah orang yang ringan, wajahnya keras, mulutnya dan pandangannya tajam. Tiba-tiba Abu Jahal buru-buru keluar menuju pintu masjid. Aku berkata dalam diri ku: "Ada apa dengan orang yang dikutuk Allah ini?" Apakah ia takut aku akan mencercanya?" Ternyata Abu Jahal telah mendengar apa yang tidak aku dengar, yaitu suara Dhamdham bin Amr Al-Ghifari di tengah lembah sambil berdiri di atas untanya yang hidungnya sudah dipotong. Ia putar pelana untanya dalam posisi terbalik, dan merobek-robek bajunya. Dhamdham bin Amr Al-Ghifari berkata: "Hai orang-orang Quraisy, unta, dan harta kekayaan kalian yang sedang dibawa Abu Sufyan dihadang oleh Muhammad bersama para
 
sahabatnya. Aku kira kalian tidak bisa menyelamatkannya. Bantulah mereka dan selamatkanlah meraka"
Al-Abbas berkata: "Aku lebih fokus dengan berita Dhamdham, hingga tak mempedulikan Abu Jahal. Demikian pula halnya dengan Abu Jahal, dia fokus pada kabar itu dan tidak memperhatikan saya."
Orang-orang Quraisy cepat-cepat melakukan persiapan. Mereka berkata: "Apakah Muhammad dan sahabat-sahabatnya menyangka bahwa nasib kafilah dagang Abu Sufyan akan mengalami nasib serupa dengan nasib kafilah dagang Ibnu Al-Hadhrami? Tidak, demi Allah, dia pasti akan mengetahui, bahwa kafilah dagang Abu Sufyan tidak akan mengalami nasib serupa dengan kafilah dagang Ibnu Al- Hadhrami." Orang-orang Quraisy terbagi ke dalam dua kelompok. Ada yang keluar sendiri untuk menghadapi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dan ada yang cukup dengan mengutus seseorang sebapai pengganti dirinya. Orang-orang Quraisy sepakat untuk perang. Tidak ada seorang pun dari tokoh-tokoh utama mereka yang ketinggalan, kecuali Abu Lahab bin Abdul Muthalib. Ia tidak ikut serta dan hanya mengutus Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah sebagai pengganti dirinya. Awalnya Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah tidak akan ikut terjun dalam kecamuk perang karena ia mempunyai hutang sebesar empat ribu dirham kepada Abu Lahab. Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah bangkrut dalam perdagangannya. Maka iapun di kontrak Abu Lahab dengan nilai sebesar hutangnya. Akhirnya, ia ikut perang menggantikan posisi Abu Lahab.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa Umayyah bin Khalaf memutuskan tidak ikut perang. Ia sudah sangat tua dan terhormat, gemuk, dan berbadan berat. Uqabah bin Mu'aith datang menemui Umayyah bin Khalaf yang pada saat itu duduk di masjid bersama kaumnya. Ia membawa anglo tempat membakar kemenyan dan dupa. Uqbah bin Abu Mu'aith meletakkan anglo dan dupa tersebut di depan Umayyah bin Khalaf seraya berkata: "Wahai Abu Ali, hiasilah dirimu dengan dupa ini, karena engkau laksana seorang perempuan." Umayyah bin Khalaf menjawab: "Semoga Allah memburukkanmu dan memburukkan apa yang engkau bawa!" Karena tersinggung Umayyah bin Khalaf segeraber siap-siap dan ikut perang bersama pasukan lainnya.



Perang Antara Kinanah dan Quraisy dan Persekutuan Mereka di Perang Badar


Ibnu Ishaq berkata: Pada saat orang-orang Quraisy mengadakan persiapan perang, dan akan berangkat, tiba-tiba memori mereka terbang pada perang yang terjadi antara mereka melawan Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Mereka berkata: "Kita khawatir orang-orang Bani Bakr akan menohok kita dari belakang."
Seseorang dari Bani Amir bin Luay berkata kepadaku dari Muhammad bin Sa'id bin Al-Musayyib yang berkata bahwa anak Hafsh bin Al-Akhyaf salah seorang dari Bani Ma'ish bin Amir bin Luay keluar untuk mencari untanya yang hilang di Dhajnan. Anak Hafsh itu terbilang masih sangat muda, rambutnya memakai ikatan, mengenakan perhiasan demikian tampan dan bersih. Anak Hafsh tersebut berjalan melewati Amir bin Yazid bin Amir Al-Mulawwah, salah seorang dari Bani Ya'mur bin Auf bin Ka'ab bin Amir bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah di Dhajnan. Pada saat itu Amir bin Yazid adalah seorang pemimpin kaumnya. Pada saat meli- hat anak Hafsh, ia terpikat kepadanya. Ia bertanya kepada anak Hafsh: "Siapa engkau ini wahai anak muda?" Anak Hafsh menjawab: "Aku anak Hafsh bin Al-Akhyaf Al-Qurasyi." Tatkala anak Hafsh itu berpaling dari Amir bin Al-Akhyaf, ia berkata: "Wahai Bani Bakr, apakah kalian punya utang darah pada Quraisy?" Mereka menjawab: "Ya, kita punya utang
 
darah pada mereka." Amir bin Yazid berkata: "Apabila salah seorang di antara kalian membunuh anak muda ini, berarti ia telah menunaikan hutang darahnya."
Salah seorang dari Bani Bakr bergerak untuk membunuh anak Hafsh lalu ia membunuhnya sebagai pembalasan darah yang ada pada Quraisy. Orang-orang Quraisy geger membicarakan pembunuhan terhadap anak Hafsh itu. Amir bin Yazid berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, kalian memiliki utang darah pada kami. Apakah yag menjadi keinginan kalian? Apabila mau, silahkan bayar hutang kalian pada kami sebelumnya, niscaya kami bayar lunas utang kami pada kalian sebelum ini. Jika mau, maka ini adalah darah satu orang dibalas dengan darah satu orang pula. Oleh karena itu, silakan kalian membayar hutang kalian sebelumnya pada kami, niscaya kami bebaskan hutang kalian atas kami sebelumnya. Anak Hafsh tersebut dianggap tidak ada harganya di perkampungan orang-orang Quraisy." Orang-orang Quraisy berkata: "Benar, satu orang dibalas dengan satu orang pula." Maka mereka tidak menuntut apa pun atas darah anak Hafsh.
Tatkala saudara korban Makraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf berjalan melintas di Marr Adh-Dhahran, ia melihat Amir bin Yazid bin Amir bin Al-Mulawwah sedang menunggang unta. Tatkala Makraz bin Hafsh melihatnya, ia mendekat kepadanya dan mendudukkan untanya. Ketika itu Amir bin Yazid menghunus pedang dan Makraz bin Hafsh menyerangnya dengan pedangnya hingga tewas. Lalu Makraz bin Hafsh merobek perutnya lalu membawanya ke Makkah, dan menggantungkannya suatu malam pada kain Ka'bah. Ketika orang-orang Quraisy melihat pedang Amir bin Yazid bin Amr menggantung di kain Ka'bah keesokan mereka pun mengenalinya. Mereka berkata: "Ini pasti pedang Amir bin Yazid. Ia diserang Makraz bin Hafsh dan kemudian membunuhnya." Demikianlah apa yang terjadi antara orang- orang Quraisy dengan Bani Bakr.
Pada saat mereka berada pada situasi perang demikian, datanglah Islam menengahi perselisihan itu dan mereka melupakan yang lain, hingga orang Quraisy memutuskan untuk berangkat ke Badar. Lalu memori kembali muncul tentang perseteruannya dengan Bani Bakr dan mereka was-was Bani Bakr menyerang.
Makraz bin Hafsh berkata dalam untaian syair tentang pembunuhannya terhadap Amir bin Yazid: Kala ku lihat bahwa dia adalah Amir
Aku ingat akan daging mengelupas saudara tercintaku
Aku bergumam dalam diriku, 'Dia itu Amir, Janganlah takut padanya dan lihatlah tunggangan apa saja
Aku yakin aku kuasa memukulnya dengan pedang, dan ia pasti binasa Saat menghadapinya, aku kendalikan rasa takutku
Dan kudorongkan dadaku pada pahlawan si penghunus pedang yang kenyangpengalaman Tatkala kekhawatiran telah bertemu untuk perang
Aku tidak tampakkan diriku sebagai anak dua orang tua yang bodoh
Aku mengendurkan anak panahku, dan aku tak pernah melupakan balas dendamnya Apabila orang yang lemah akalnya lupa pada dendamnya

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman menuturkan kepadaku dari Urwah bin Zubair yang berkata: Tatkala orang-orang Quraisy telah memutuskan berangkat perang, mereka ingat konfliknya dengan Bani Bakr. Memori tentang konflik ini hampir saja menggagalkan keberangkatan mereka. Namun iblis terkutuk menampakkan diri kepada mereka dalam rupa Suraqah bin Malik bin Ju'syum Al-Mudliji. Suraqah bin Malik adalah salah seorang tokoh utama Bani Kinanah. Iblis berkata kepada orang-orang Quraisy: "Aku memberikan garansi kepada mereka bahwa orang-orang Kinanah tidak akan menohok kalian dari belakang dengan hal-hal yang kalian tidak sukai." Maka merekapun berangkat dengan segera.
 
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah bersama para sahabatnya setelah Ramadhan berlalu beberapa hari.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah pada hari Senin tanggal 8 Ramadhan, dan mengangkat Amr bin Ummu Maktum sebagai pengganti sementara beliau untuk menjadi imam shalat di Madinah. Ada juga yang berpendapat bahwa nama Amr adalah Abdullah bin Ummu Maktum, saudara Bani Amir bin Luay. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menarik pulang Abu Lubabah dari Ar-Rauha, dan mengangkatnya sebagai penggantinya di Madinah selama kepergiannya keluar kota.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerahkan panji perang kepada Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar.
Ibnu Hisyam berkata: Panji yang Rasulullah serahkan itu berwarna putih.
Ibnu Ishaq berkata: Di depan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ada dua panji hitam; salah satunya dipegang Ali bin Abu Thalib. Panji itu bernama Al-'Uqab. Sementara yang satunya lagi dipegang oleh salah seorang dari kaum Anshar.
Ibnu Ishaq berkata: Jumlah unta sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ketika itu adalah tujuh puluh ekor, dan mereka mengendarainya secara bergantian. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Ali bin Abu Thalib dan Martsad bin Abu Martsad Al-Ghanawi mengendarai satu unta secara bergiliran. Hamzah bin Abdul Muthalib, Zaid bin Haritsah, Abu Kabsyah dan Anasah keduanya mantan budak Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menaiki satu dengan cara bergantian. Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan Abdurrahman bin Auf juga mengendarai satu unta secara bergiliran.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memilih Qais bin Abu Shasha'ah saudara Bani Mazin bin An-Najjar sebagai komandan pasukan sayap belakang.
Panji perang kaum Anshar dipegang Sa'ad bin Muadz sebagaimana dituturkan Ibnu Hisyam.




Perjalanan Kaum Muslimin ke Badar


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menempuh perjalanannya dari Madinah ke Makkah dengan melewati jalur atas Madinah, lalu ke Al-Aqiq, terus ke Dzi Al-Hulaifah dan melewati Ulatul Jaisy.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Dzatul Jaisy, kemudian ke Turban, lalu Malal, lalu Ghamis AI-Hamam dari Marayain, lalu melewati Shukhairatul Yamam, kemudian melewati As-Sayyalah, terus Fajji Ar-Rauha', terus Syanukah. Inilah jalur normal yang biasa dilalui manusia umumnya.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan para sahabat tiba di Irqi Adz- Dzubyah atau Adz-Dzabyah, versi Ibnu Hisyam, mereka berpapasan dengan salah seorang Arab pedalaman. Para sahabat menanyakan kepadanya tentang berita orang-orang Quraisy. Sayang mereka tidak berhasil mengorek berita apa pun dari orang Arab pedalaman itu. Para sahabat berkata kepada orang Arab pedalaman itu: "Katakanlah ucapan salam kepada Rasulullah!” Orang Arab dusun tersebut bertanya: " Apakah di tengah rombongan kalian ada seorang utusan Allah?" Para sahabat menjawab: "Benar!!." Orang Arab pedalaman itu pun menguluk salam kepada Rasulullah Shallalahu
 
'alaihi wa Sallam, dan berkata kepada: "Jika engkau memang seorang utusan Allah, mala beritahukanlah kepadaku apa saja yang ada di dalam perut untaku ini. Salamah bin Salamah bin Waqasy berkata kepada orang Arab dusun tersebut: "Jangan bertanya demikian kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tapi berpalinglah kepadaku niscaya aku berikan jawabannya kepadamu. Engkau telah menggauli untamu dan kini di dalam perutnya ada anak unta hasil hubungannya denganmu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Stop!!, engkau mengatakan perkataan yang kotor kepada orang ini." Kemudian Rasulullah pergi meninggalkan Salamah.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti di Sajsaj, sebuah sumur di Ar-Rauha. Beliau pergi meninggalkan tempat itu. Ketika sampai di Al-Munsharif, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak menempuh perjalanan ke Makkah dari sisi kiri, beliau menempuhnya dari sisi kanan dengan melewati An-Naziyah dengan tujuan Badar. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menempuh perjalanan darinya, hingga melintasi Lembah Rahqan antara An-Naziyah dengan jalan kecil Ash-Shafra', kemudian berjalan melewati jalan kecil itu lalu turun darinya. Ketika tiba di dekat Ash-Shafra', Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Basbas bin Al-Juhani sekutu Bani Sa'idah, dan Adi bin Abu Az- Zaghba Al-Juhani sekutu Bani An-Najjar untuk pergi ke Badar guna memburu berita tentang Abu Sufyan bin Harb beserta anak buahnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sendiri meneruskan perjalanannya setelah mengutus kedua sahabatnya di atas. Pada saat berjalan menghadap Ash-Shafra, sebuah desa yang berada di antara dua gunung, beliau menanyakan nama kedua gunung di desa itu. Para sahabat menjawab bahwa salah satu dari gunung tersebut bernama Muslih, dan yang satu lagi bernama Mukhzi'. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam juga bertanya tentang penduduk kedua gunung tersebut dan para sahabat menjawab: "Salah satu penduduk gunung tersebut ialah Bani An- Naar (neraka), dan penduduk gunung satunya ialah Bani Huraq(terbakar). Keduanya kabilah dari Bani Ghifar. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak menyukai kedua penduduk tersebut dan menolak melewatinya. Beliau tidak menyukai nama gunung tersebut beserta penduduknya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak melewati kedua gunung tersebut, dan tidak belok ke kiri ke Ash- Shafra'. Beliau belok kanan melewati sebuah lembah yang disebut Dzafiran, kemudian berjalan turun melintasinya.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memperoleh berita tentang keberangkatan orang-orang Quraisy untuk melindungi unta-unta mereka. Maka Rasulullah segera meminta pandangan sahabat- sahabatnya dan memberitahukan tentang orang-orang Quraisy itu. Abu Bakar berdiri, dan mengatakan sesuatu dengan baik. Umar bin Khaththab juga berdiri, dan mengatakan sesuatu dengan baik. Al-Miqdad bin Amr berdiri dan berkata "Wahai Rasulullah, lanjutkan perjalanan sebagaimana yang Allah perlihatkan kepadamu kami pasti ikut bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana apa yang pernah diucapkan Bani Israel kepada Musa:


"Pergilah engkau dan Tuhanmu, kemudian berperanglah, sesungguhnya kami duduk di sini. (QS. al- Ma'idah: 24). Namun pergilah engkau dan Tuhanmu untuk berperang niscaya kami ikut perang bersamamu, dan bersama Allah. Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau berjalan bersama kami ke Barki Al-Ghimad (sebuah kawasan di Yaman), kami akan bersabar de- nganmu hingga engkau sampai di sana." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Al-Miqdad bin Amr dengan baik dan berdoa kepada Allah untuknya.81
 
 



Rasulullah Meminta Pendapat Kaum Anshar


Ibnu Ishaq berkata: Setelah itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: " Wahai manusia, sampaikanlah pandangan kalian kepadaku!" Yang dimaksud Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan manusia dalam sabdanya adalah kalangan Anshar, sebab mereka adalah bagian dari manusia, dan ketika mereka berbaiat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Al-Aqabah,mereka berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak bertanggung jawab atas keselamatanmu hingga engkau tiba di negeri kami. Apabila telah tiba di negeri kami, maka engkau berada dalam perlindungan kami. Kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi anak-anak dan wanita-wanita kami." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam khawatir apabila kaum Anshar berpandangan bahwa pertolongan mereka kepada beliau itu hanya diberikan tatkala musuh yang datang menyerang Madinah, dan mereka tidak mau berang- kat bersama beliau apabila musuh berada di luar Madinah.
Seusai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda seperti itu, Sa'ad bin Muadz berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, tampaknya engkau menginginkan kami yang angkat bicara?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Benar sekali." Sa'ad bin Muadz berkata: "Kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu dan bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah benar, berjanji dan bersumpah untuk mendengar dan taat. Wahai Rasulullah, kerjakan apa yang engkau inginkan, kami senantiasa akan tetap bersamamu. Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau menyuruh kami menyelami laut ini, kemudian engkau menyelaminya, kami pasti menyelaminya bersamamu, dan tidak akan engkau dapatkan seorang pun di antara kami yang tidak ikut menyelam. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan dari kami apa yang menyejukkan matamu. Berangkatlah bersama kami bersamaaan dengan berkah Allah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sangat gembira dengan ucapan Sa'ad bin Muadz dan menjadikannya semakin bersemangat. Beliau bersabda: "Berangkatlah, dan bergembiralah kalian, karena sesungguh- nya Allah telah menjanjikan dua kelompok kepadaku. Demi Allah, kini aku bagaikan melihat tempat kematian kaum itu."
Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat dari Dzafiran, melewati bukit yang bernama Al- Ashafir, lalu turun darinya menuju daerah Ad-Dabbah. Beliau membiarkan Al-Hannan di sisi kanan, karena Al-Hannan adalah sebuah bukit berpasir sebagaimana gunung besar. Beliau berhenti di dekat Badar, kemudian meneruskan perjalanan dengan salah seorang sahabatnya.
Ibnu Hisyam berkata:Sahabat yang dimakasudkana adalah Abu Bakar.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan hingga bertemu dengan salah seorang tua dari Arab, sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Muhammad bin Yahya bin Habban. Beliau menanyakan kepadanya mengenai orang-orang Quraisy, Muhammad serta para sahabatnya, dan berita lain tentang mereka yang sempat ia terima padanya. Orang tua Arab tersebut menjawab: "Sekali-kali aku tidak akan memberi kabar kepada kalian berdua, hingga kalian berdua memberi tahu aku tentang siapa sebenarnya kalian berdua ini!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika engkau mengatakan kepada kami siapa sebenarnya ini, kami akan katakan siapa kami berdua sebenarnya kepadamu!" Orang tua Arab tersebut berkata: "Adakah itu dibalas dengan itu pula?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Benar!." Orang tua Arab tersebut berkata: "Telah
 
sampai kepadaku kabar, bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya berangkat pada hari ini dan itu. Bila berita yang disampaikan kepadaku benar, maka berarti pada hari ini mereka berada di tempat ini dan itu - maksudnya tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kini berada. Telah pula sampai berita kepadaku, bahwa orang-orang Quraisy berangkat pada hari ini dan itu. Apabila orang yang membawa berita padaku itu jujur berarti pada hari ini mereka berada di tempat ini dan itu." Yang ia maksud tempat orang-orang Quraisy. Orang tua Arab tersebut bertanya: "Lalu kalian berdua ini berasal dari mana?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Kami berasal dari Air." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi dari hadapan orang tua Arab tersebut. Orang tua Arab tersebut bertanya-tanya dalam hatinya: Air manakah yang mereka berdua maksud? Apakah dari air yang berada di Irak?"
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menga- takan bahwa orang tua Arab tersebut adalah Sufyan Adh- Dhamari.
Ibnu Ishaq berkata: Setelah itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali kepada para sahabatnya. Pada senja hari itu, beliau mengutus Ali bin Abu Thalib, Zubair bin Awwam, dan Sa'ad bin Abu Waqqash bersama beberapa sahabat pergi ke air Badar untuk mencari berita tentang air untuk beliau. Demikian yang terjadi sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Yazid bin Ruman dari Urwah bin Zubair. Mereka berhasil menangkap unta milik orang-orang' Quraisy dan pada unta itu ada Aslam budak Bani Al-Hajjaj, dan Aridh Abu Yasar budakBani Al-Ashbin Said. Sahabat-sahabat Rasulullah membawa keduanya dan mengorek berita dari mereka berdua. Sementara itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berdiri melakukan shalat. Kedua orang tersebut menjawab: "Kami berdua hanyalah petugas pengambil air orang-orang Quraisy. Mereka mengirim kami untuk mengangkut air dari air Badar." Para sahabat tidak puas dengan jawaban yang diberikan kedua orang tersebut. Sebab mereka mengira mereka adalah milik Abu Sufyan. Kemudian para sahabat memukuli kedua orang tersebut. Akhirnya setelah para sahabat memukul mereka berdua berkali-kali, keduanya berucap: "Benar, kami milik Abu Sufyan." Setelah keduanya berkata seperti itu para sahabat melepaskannya, sedangkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ruku' lalu sujud dua kali kemudian mengucapkan salam kemudian bersabda: "Pada saat kedua orang ini berkata dengan jujur kepada kalian, kalian justru memukulinya namun tatkala mereka berdua berdusta kalian malah membiarkan keduanya. Demi Allah, dua orang ini berkata benar bahwa keduanya adalah milik orang-orang Quraisy." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada kedua orang itu: "Jelaskanlah kepada kami berita tentang orang-orang Quraisy." Kedua orang tersebut menjawab: "Demi Allah, mereka berada di balik bukit pasir yang terlihat itu. Tepatnya mereka berada di tepi lembah yang jauh dari Madinah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya: "Berapa jumlahnya?", "Jumlah mereka banyak." Jawab kedua orang itu. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kembali: "Apa saja persenjataan yang mereka miliki?" Mereka menjawab: "Kalau ini kami tidak tahu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada keduanya: "Berapa hewan yang mereka sembelih setiap sehari?" Mereka menjawab: "Setiap hari sembilan ekor dan kadang sepuluh ekor." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika demikian berarti jumlah mereka berada pada kisaran antara sembilan ratus hingga seribu." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada kedua orang tersebut: "Siapa sajakah para pentolan Quraisy yang ikut bersama mereka?" Mereka menjawab: "Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Al-Bakhtari bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, Al-Harits bin Amir bin Naufal, Thuaimah bin Adi bin Naufal, An-Nadhr bin Al-Harits, Zam'ah bin Al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, Nubaih bin Al-Hajjaj, Munabbih bin Al-Hajjaj, Suhail bin Amr, dan Amr bin Abdu Wudd."
Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menemui para sahabat dan bersabda: "Ini dia Makkah, kini melemparkan potongan-potongan hatinya kepada kalian."
 
lbnu Ishaq berkata: Basbas bin Amr dan Adi bin Abu Az-Zaghba pergi hingga berhenti di Badar, dan menderumkan untanya di anak bukit yang berdekatan dengan mata air. Lalu mereka mengambil tempat air dari kulit untuk diisi air. Ketika itu, Majdi bin Amr sedang berada di air tersebut. Tiba-tiba Adi dan Basbas mendengar suara dua perempuan milik mereka yang ada di air itu. Keduanya sedang saling menagih utang. Budak perempuan yang ditagih berkata kepada budak yang menagihnya: "Kafilah dagang itu akan sampai besok atau lusa. Apabila mereka telah tiba aku akan bekerja pada mereka, dan uang hasil kerjaku akan aku bayarkan kepadamu." Majdi bin Amr Al-Juhani berkata kepada budak perempuan yang ditagih: "Engkau benar." Majdi bin Amr Al-Juhani membebaskan keduanya dan kejadian ini terdengar oleh Adi dan Basbas. Adi dan Basbas duduk di atas untanya, lalu kembali pulang hingga tiba di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka memberi tahukan kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam tentang apa yang mereka dengar tadi."



Kehati-hatian Abu Sufyan dan Pelarian Dirinya bersama Kafilah Dagangnya


Tak lama setelah itu datanglah Abu Sufyan bin Harb dengan ekstra hati-hati. Hingga kafilahnya berada demikian dekat dengan air Badar. Abu Sufyan bin Harb bertanya kepada Majdi bin Amr Al-Juhani: "Apakah engkau punya rasa curiga bahwa di sini ada seseorang?" Majdi bin Amr Al-Juhani menjawab: "Aku tidak melihat seseorang yang aku curigai. Tapi tadi aku melihat dua musafir berhenti dengan untanya di bukit pasir ini, mereka mengisi tempat air kulit mereka dengan air, lalu pergi."
Abu Sutyan bin Harb pergi ke tempat pemberhentian unta kedua orang yang disebut- kan Majdi bin Amr al-Juhani. Ia ambil kotoran unta keduanya, meremasnya kuat-kuat. Ternyata di dalamnya terdapat biji kurma. Ia berkata: "Demi Allah, ini kotoran binatang orang-orang Yatsrib." Abu Sufyan bin Harb segera menemui sahabat-sahabatnya kemudian dengan sigap mengubah arah perjalanannya dengan melewati pantai dan membiarkan Badr ada di sisi kirinya lalu berangkat dengan cepat.
Ibnu Ishaq berkata: Pada waktu yang bersamaan, orang-orang Quraisy terus berjalan. Tatkala mereka berhenti di Al-Juhfah, Juhaim bin Ash-Shalt bin Makhramah bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf bermimpi dalam tidurnya. Juhaim bin Ash-Shalt berkata: "Aku bermimpi layaknya orang tidur bermimpi. Aku berada dalam kondisi antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku melihat seseorang datang dengan menunggang seekor kuda bersama dengan untanya lalu berhenti seraya berkata: "Akan terbunuh Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Al-Hakam bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, si Fulan, dan si Fulan -sambil menyebutkan pentolan-pentolan Quraisy yang tewas pada Perang Badar. Aku lihat orang tersebut memukul dada untanya, kemudian mengirimkannya ke kemah-kemah dan seluruh kemah terkena percikan darahnya." Tatkala mimpiku aku ceritakan kepada Abu Jahal ia berkata: "Walah, ini dia nabi yang lain lagi dari Bani Abdul Muthalib. Besok akan tampak siapa sebenarnya yang terbunuh, jika kami telah berhadap-hadapan."
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Abu Sufyan bin Harb telah berhasil menyelamatkan diri dan kafilah dagangnya, ia menulis surat kepada orang-orang Quraisy yang isinya: "Sesungguhnya kalian keluar dari Makkah untuk melindungi unta-unta, orang-orang dan harta kekayaan kalian. Kini Allah telah menyelamatkan itu semua. Oleh sebab itulah, kembalilah kalian." Abu Jahal berkata: "Demi Allah, kita tidak akan kembali pulang hingga kita sampai di Badar. Badar saat itu merupakan salah satu tempat pertemuan orang-orang Arab, di sana ada pasar tahunan dan kita tinggal di sana selama tiga hari. Di sana kita memotong unta, memberi makan orang-orang, minum minuman keras, budak-budak wanita
 
bernyanyi untuk kita, orang-orang Arab mendengar kita, perjalanan dan kekompakan kita, agar selamanya mereka takut kepada kita. Terus sajalah kalian berangkat."
Al-Akhnas bin Syariq bin Amr bin Wahb Ats-Tsaqafi sekutu Bani Zuhrah berkata pada saat mereka sedang berada di Al-Juhfah: 'Hai orang-orang Bani Zuhrah, Allah telah menyelamatkan harta kekayaan dan sahabat kalian, Makhramah bin Naufal. Kalian berangkat untuk melindunginya dan melindungi harta kekayaan kalian. Aku tidak khawatir dianggap sebagai seorang pengecut. Pulanglah, karena kalian tidak boleh keluar tanpa ada sebab, tidak seperti yang dikatakan orang ini - yakni Abu Jahal." Mereka pun kembali pulang maka tidak ada seorang pun dari Bani Zuhrah yang ikut serta dalam Perang Badar. Mereka taat kepada Al-Akhnas bin Syariq bin Amr, karena ia orang yang mereka segani dan patuhi.
Ibnu Ishaq berkata: Tidak ada satu kabi- lah pun di Quraisy, melainkan di antara mereka ada yang berangkat kecuali Bani Adi. Tak ada seorang pun dari mereka yang berangkat ke Badar.
Bani Zuhrah pulang bersama Al-Akhnas bin Syariq. Dengan demikian tidak ada seorang pun dari kedua kabilah tadi yang ikut terjun dalam Perang Badar, sedangkan kabilah-kabilah Quraisy tetap berangkat ke Badar.
Telah 'terjadi dialog antara Thalib bin Abu Thalib yang sedang berada di tengah-tengah orang-orang Quraisy dengan sebagian orang-orang Quraisy. Mereka berkata kepada Thalib bin Abu Thalib: "Demi Allah, wahai Bani Hasyim, sesungguhnya walaupun kalian keluar bersama kami, tapi sebenarnya hati kalian tertaut pada Muhammad." Maka Thalib bin Abu Thalib kembali ke Makkah bersama orang- orang yang kembali pulang. Thalib bin Abu Thalib berkata:
Ya Allah, bila Thalib menuju perang dengan enggan Di dalam pasukan perang ini
Jadikanlah dia orang yang dirampas bukan yang merampas Orang yang dikalahkan bukan yang mengalahkan

Ibnu Hisyam berkata: Bait syair,' Jadikan dia orang yang dirampas bukan yang merampas. Orang yang dikalahkan bukan yang mengalahkan, berasal dari banyak perawi syair.



Persinggahan Orang-orang Quraisy di Tepi Lembah yang Jauh dari Kaum Muslimin di Badar


Ibnu Ishiiq berkata: Orang-orang Quraisy terus bergerak hingga tiba di tepi lembah yang jauh (Al- 'Udwatul Qushwa), di belakang Al-Aqanqal, di lembah utama yaitu Yalyal yang terletak di antara Badar dan Al-Aqanqal. Bukit pasir berada di belakang orang-orang Quraisy, sedangkan Sumur Badar terletak di lembah yang dekat dengan kabilah Yalyal menuju Madinah. Kemudian Allah menurunkan hujan. Lembah itu bertanah lembek. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya mendapatkan air hujan yang membuat tanah menjadi padat, yang tidak membuat perjalanan mereka tersendat. Sementara itu orang-orang Quraisy mendapatkan air yang membuat mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba lebih awal daripada orang-orang Quraisy tiba di lembah tersebut. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di air yang paling defeat dengan Badar, barulah beliau berhenti di sana.
 
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu oleh beberapa orang dari Bani Salamah yang berkata bahwa Al- Hubab bin Al-Muhdzir bin Al-Jamuh berkata: "Wahai Rasulullah, apakah ini telah ditentukan Allah sehingga kita tidak boleh memajukan atau mengundurkannya. Ataukah tempat ini hanya sebuah strategi dan taktik perang semata?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: Ini hanyalah sebuah strategi dan taktik perang.'Al-Hubab bin Al-Mundzir berkata: "Wahai Rasulullah, jika demikian ini bukanlah tempat yang tepat. Pergilah bersama para sahabatmu hingga tiba di air yang paling dekat dengan orang-orang Quraisy. Lalu berhentilah di sana, kemudian kita menutup dan menimbunnya, membangun kolam dan memenuhi dengan air barulah kita berperang melawan orang-orang Quraisy dalam keadaan kita bisa Iftinum sementara mereka tidak bisa seperti itu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Pendapatmu sungguh sangat tepat." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan para sahabat pergi.
Tatkala sudah tiba di air yang dekat dengan orang-orang Quraisy, beliau berhenti. Beliau perintahkan air sumur dialirkan, kemudian membangun kolam di dekat sumur itu dan memenuhinya dengan air. Para sahabat melemparkan tempat-tempat air mereka ke dalam kolam itu.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa ia diberi tahu Saad bin Muadz Radhiyallahu Anhu yang berkata: "Wahai Nabi Allah, tidakkah kita bikinkan bilik khusus untukmu dan kau tinggal di sana lalu kita persiapkan kendaraan untukmu kemudian kita bertempur melawan musuh-musuh kita? Apabila Allah memuliakan dan memenangkan kita atas musuh-musuh kita, maka itulah yang kita harapkan. Namun apabila yang terjadi adalah sebaliknya, tetaplah engkau duduk di atas kendaraanmu dan menyusul kaum kami yang ada di belakang kami, karena kaum tersebut berjalan di belakang. Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kita lebih mencintaimu daripada mereka. Jika mereka melihat engkau mendapatkan perlawanan, mereka tidak akan tinggal diam. Allah akan melindungi dirimu dengan mereka; mereka akan memberi nasihat padamu dan berjihad bersamamu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memuji Sa'ad bin Muadz dengan baik lalu mendoakannya. Kemudian bilik dibangun untuk beliau maka beliau menetap di dalamnya.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy terus melanjutkan perjalanan. Mereka tiba keesokan harinya. Begitu melihat mereka turun dari bukit pasir, beliau bersabda: "Ya Allah, inilah orang-orang Quraisy datang dengan kecongkakan dan arogansinya memusuhi-Mu, dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, berikan pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, hancurkan mereka pagi hari ini."
Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat Utbah bin Rabi'ah menunggang unta merahnya bersama dengan orang-orang Quraisy, beliau bersabda: "Apabila pada kaum itu terdapat kebaikan, niscaya kebaikan itu ada pada pemilik unta merah itu. Jika mereka taat kepadanya, mereka pasti akan mendapatkan petunjuk."
Khufaf bin Aima' bin Rahadhah Al-Ghi- fari atau ayahnya, Aima' bin Rahadhah Al- Ghifari mengutus anaknya untuk membawa hewan sembelihan sebagai hadiah untuk me¬reka, pada saat kaum Quraisy melewatinya. Ia berkata kepada mereka: "Apabila kalian ingin kami membantu kalian dengan senjata dan pasukan, kami akan melakukannya." Orang- orang Quraisy mengirim utusan bersama anaknya dengan membawa pesan: "Engkau telah menyambung hubungan sanak kerabat, dan menunaikan kewajibanmu. Kami ber- sumpah, jika kami berperang melawan ma- nusia, kami tidak lemah untuk menghadapi mereka. Namun jika kita memerangi Allah seperti yang dikatakan Muhammad, maka siapa pun tidak memiliki daya untuk mela¬wan Allah.
Tatkala orang-orang Quraisy telah ber- henti, beberapa orang dari mereka termasuk Hakim bin Hizam pergi hingga tiba di kolam Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
 
Sallam bersabda: "Biarkan saja mereka." Tidak seorang pun yang meminum air kolam tersebut pada saat itu, melainkan ia dibunuh, kecuali Hakim bin Hizam. Ia tidak dibunuh dan kemudian hari dia masuk Islam, dengan keislaman yang baik. Jika ia bersumpah, ia selalu mengatakan: "Tidak, demi Dzat yang menyelamatkanku pada saat Perang Badar."
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar dan kalangan ulama lainnya berkata kepadaku dari tetua kaum Anshar yang berkata: Setelah suasana tenang, orang-orang Quraisy mengirim Umair bin Wahb Al- Jumahi. Mereka berkata kepada Umair bin Wahb Al-Jumahi: Hitunglah jumlah sahabat Muhammad!'" Umair bin Wahb Al-Jumahi berjalan mengelilingi perkemahan pasukan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan para sahabatnya dengan menunggang kudanya lalu pulang menemui orang-orang Quraisy, dan berkata: "Jumlah sahabat Muhammad kurang lebih tiga ratus orang. Namun berilah aku jeda waktu hingga aku melihat kembali apakah mereka mempunyai kekuatan tersembunyi atau bala bantuan yang lain." Umair bin Wahb Al-Jumahi kembali berjalan mengelilingi lembah hingga jauh, namun ia tidak melihat apa-apa. Maka iapun pulang menemui orang-orang Quraisy dan berkata: "Aku tidak mendapatkan apapun. Namun ketahuilah wahai kaum Quraisy, aku melihat musibah-musibah yang membawa kematian. Unta-unta Yatsrib datang membawa kematian yang begitu mengerikan. Mereka kaum yang tidak mempunyai perlindungan, dan tempat bersandar kecuali pedang-pedang yang mereka miliki. Demi Allah, aku tidak melihat seorang pun dari mereka akan terbunuh, kecuali sebelumnya ia telah berhasil membunuh salah seorang dari kalian. Jika mereka membunuh kalian dengan jumlah sama dengan jumlah mereka, lalu apa artinya hidup setelah itu? Bagaimaan pendapat kalian?"
Mendengar ucapan Umair bin Wahb Al- Jumahi, maka Hakim bin Hizam berjalan orang-orang Quraisy. Ia bertemu Utbah bin Rabi'ah dan berkata: "Wahai Abu Al-Walid, engkau pemuka dan pemimpin serta sekaligus orang yang ditaati oleh Quraisy. Mengapa dirimu tidak berkeingin untuk dikenang baik sepanjang zaman?" Utbah bin Rabi'ah berkata: "Apa maksud ucapanmu itu, wahai Hakim?" Hakim bin Hizam berkata: "Pulanglah bersama orang-orang dan kau tanggung persoalan sekutumu, Amr bin Al- Hadhrami." Utbah bin Rabi'ah berkata: "Ya, aku akan melakukannya. Engkau sama denganku dalam hal ini. Amr bin Al-Hadhrami adalah sekutuku, dan aku berhak menanggung ganti ruginya dan harta yang diambil darinya. Pergilah kepada anak Al-Hanzhaliyah!'
Ibnu Hisyam berkata: Al-Hanzhaliyah adalah ibu Abu Jahal. Ia bernama lengkap Asma' binti Mukharribah, salah seorang Bani Nahsyal bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim.
Karena tidak merasa khawatir akan ada manusia yang menentang hal ini, kecuali Abu Jahal maka Utbah bin Rabi'ah berdiri berpida- to: "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, kalian tidak akan mampu mengerjakan apa- apa, jika kalian bertemu dengan Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Demi Allah, jika kalian bisa mengalahkannya, ia akan tetap memandang wajah orang lain dengan wajah tidak suka. Ia telah membunuh saudara sepupunya dari jalur ayahnya, atau sepupunya dari jalur ibunya, atau salah seorang dari keluarganya. Pulanglah kalian, dan biarkanlah Muhammad dengan seluruh orang Arab. Apabila mereka berhasil mengalahkannya memang itulah yang kalian dambakan. Namun apabila itu tidak terjadi, ia dapatkan kalian tidak berusaha melakukan apapun padanya sesuai niat yang kalian ingin lakukan padanya."
Hakim bin Hizam berkata: Kemudian aku pergi menemui Abu Jahal. Aku lihat dia mengeluarkan baju besi dari kantong kulitnya dan mengecatnya dengan minyak yang diendapkan. Aku berkata: "Wahai Abu Al-Hakam, sesungguhnya Utbah bin Rabi'ah menyuruhku datang menemuimu dengan membawa pesan ini dan itu." Abu Jahal berkata: "Demi Allah, paru-paru Utbah telah mengembung (sindiran sinis bahwa dia pengecut), ketika ia melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Tidak, demi Allah kita
 
tidak akan pernah pulang hingga Allah memutuskan masalah kita dengan Muhammad. Utbah bin Rabi'ah tidak yakin apa yang dia katakan, namun ini dia lakukan karena ia sudah tahu bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya adalah para pemakan satu unta yang disembelih, dan karena anak kandungnya ada pada mereka. Karenanya ia takut anaknya termasuk yang terbunuh."
Abu Jahal pergi menemui Amir bin Al-Hadhrami dan berkata kepadanya: "Ini dia sekutumu hendak pulang ke Makkah bersama orang-orangnya. Sungguh aku lihat dendammu pada kedua matamu. Berdirilah, kemudian perintahkan orang-orang Quraisy untuk memenuhi janji kepadamu dan tempat kematian saudaramu!" Amir bin Al-Hadhrami berdiri kemudian menampakkan diri dan berteriak keras: "Wahai Amr. wahai Amr, perang telah bergolak, persoalan manusia telah memanas, mereka sepakat terhadap keburukannya, lalu semuanya dihancurkan oleh pendapat Utbah bin Rabi'ah."
Ketika Utbah bin Rabi'ah mendengar perkataan Abu Jahal yang mengatakan bahwa paru-parunya telah mengembung (pengecut), ia berkata: "Orang yang melumuri bokongnya dengan za'faron (maksudnya Abu Jahal) akan tahu siapa yang pengecut: aku atau dia!!."
Lalu Utbah bin Rabi'ah mencari topi baja, namun ia tidak berhasil mendapatkan topi baja yang cocok dengan ukuran kepalanya karena kepalanya terlalu besar. Sebagai ganti maka ia menggunakan kain sebagai sorban pengikat kepalanya.



Terbunuhnya Aswad al-Makhzumi


Ibnu Ishaq berkata: Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi ikut terjun ke Perang Badar. Ia adalah seorang yang bengis dan berakhlak sangat buruk. Ia berkata: "Aku bersumpah dengan nama Allah, aku pasti minum dari kolam mereka, menghancurkannya atau mati sebelum sampai ke sana." Ketika Al- Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi telah keluar, Hamzah bin Abdul Muthalib Radhiyallahu Anhu juga keluar untuk berduel perang dengannya. Tatkala keduanya telah bertatapan muka, Hamzah bin Abdul Muthalib memukul Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi, dan menebas kakinya hingga separuh bagian betisnya pada saat ia mau pergi ke kolam. Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi terjengkang jatuh dengan kaki penuh lumuran darah saat dia berusaha dia menuju sahabat-sahabatnya. Maka dia pun berjalan sambil merayap ke kolam itu hanya demi untuk memenuhi sumpahnya. Namun Hamzah membuntutinya lalu memukulnya hingga ia tewas di kolam tersebut.
Ibnu Ishaq berkata: Setelah itu Utbah bin Rabi'ah bersama saudaranya Syaibah bin Rabi'ah dan anak Utbah sendiri, Al-Walid bin Utbah keluar dari barisan kaumnya dan menantang perang tanding. Tiga pemuda Anshar, yaitu Auf bin Al-Harits, Muawwidz bin Al-Harits, dan Abdullah bin Rawahah keluar menyongsong untuk menghadapi mereka bertiga. Ketiga orang Quraisy tersebut bertanya: "Siapakah kalian!?" Ketiga orang dari kaum Anshar tersebut menjawab: "Kami orang-orang Anshar." Ketiga orang Quraisy tersebut berkata: "Kami tidak ada sangkut-paut apapun dengan kalian!" Penyeru orang-orang Quraisy berseru: "Wahai Muhammad, keluarkan orang-orang dari kaum kami yang selevel dengan kami!" Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Majulah engkau wahai Ubaidah bin Al-Harits! Majulah engkau wahai Hamzah! Majulah engkau wahai Ali!" Ketika ketiga sahabat tersebut telah bangkit dan
mendekat kepada tiga orang Quraisy tersebut, mereka bertanya: "Siapakah kalian?" Ubaidah menjawab: Ubaidah! Hamzah menjawab, "Hamzah." Ali menjawab: "Ali." Ketiga orang Quraisy
 
tersebut berkata: "Benar, kalian memang orang-orang mulia yang selevel dengan kami." Kemudian Ubaidah -sahabat paling senior di antara mereka bertiga- duel melawan Utbah bin Rabi'ah, Hamzah melawan Syaibah bin Rabi'ah, dan Ali melawan Al-Walid bin Utbah. Hamzah tidak membutuhkan banyak waktu untuk menekuk Syaibah bin Rabi'ah, demikian pula halnya Ali yang berhasil membunuh Al-Walid dengan mudah. Sedangkan Ubaidah dan Utbah bin Rabi'ah mereka berdua saling memukul lawannya dengan pukulan yang ganas dan tepat. Hamzah dan Ali memukulkan kedua pedangnya kepada Utbah bin Rabi'ah. Hamzah, dan Ali membantu Ubaidah membunuh lawannya, kemudian membawa Ubaidah ke tempat para sahabat.
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Utbah bin Rabi'ah berkata kepada tiga pemuda Anshar: "Kalian ini orang-orang mulia yang selevel dengan kami, hanya saja kami ingin duel dengan kaum kami sendiri."
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian kedua belah pihak saling mendekat. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarang para sahabat menyerang, kecuali setelah ada perintah dari beliau. Beliau bersabda: " Jika mereka telah berkumpul dekat kalian, seranglah mereka dengan anak panah."Ketika itu, beliau berada di bilik didampingi Abu Bakar Radhiyallahu Anhu.
Perang Badar terjadi di waktu pagi di hari Jum'at tanggal 17 Ramadhan. Sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Abu Ja'far Muhammad bin Ali bin Al-Husain. Ibnu Ishaq berkata: Habban bin Wasi' bin Habban berkata kepadaku dari sesepuh kaumnya yang berkata bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam meluruskan barisan para sahabat pada Perang Badar dengan menggunakan anak panah di tangannya. Beliau berjalan melewati Sawwad bin Ghaziyyah sekutu Bani Adi bin An-Najjar yang sedikit maju keluar dari barisan lalu menusuk perut Sawwad bin Ghaziyyah dengan anak panah tersebut sambil bersabda: "Luruskan barisanmu wahai Sawwad!" Sawwad bin Ghaziyyah berkata: "Wahai Rasulullah, engkau menyakitiku, padahal engkau diutus Allah dengan membawa kebenaran dan keadilan. Aku meminta qishas atasmu." Rasulullah ShaUalahu 'alaihi wa Sallam membuka perutnya, dan bersabda kepada Sawwad bin Ghaziyyah: "Silahkan lakukan qishas." Sawwad bin Ghaziyyah merangkul Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan mencium perut beliau. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Sawwad bin Ghaziyyah: "Mengapa engkau melakukan ini semua, wahai Sawwad?" Sawwad bin Ghaziyyah menjawab: "Wahai Rasulullah, aku hadir di sini sebagaimana yang engkau saksikan. Aku bertekad menjadikan akhir jumpaku denganmu dalam keadaan kulitku bersentuhan dengan kulitmu." Rasulullah ShaUalahu 'alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan untuk Sawwad bin Ghaziyyah.



Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Bermunajat Meminta Pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala


Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Rasululah meluruskan barisan para sahabat, dan setelah itu kembali ke biliknya. Beliau memasuki bilik ditemani Abu Bakar dan tidak ada seorang pun selain meraka berdua. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bermunajat kepada Allah, dan meminta pertolongan yang dijanjikan kepadanya. Dalam munajatnya Rasulullah ShaUalahu 'alaihi wa Sallam berdoa: "Ya Allah, bila kelompok ini (kaum muslimin) kalah pada hari ini, maka Engkau tidak akan lagi disembah." Abu Bakar berkata: "Wahai Nabi Allah, tahanlah munajatmu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Allah pasti menepati janji-Nya kepadamu."
 
Kemudian Rasulullah ShaUalahu 'alaihi wa Sallam tertidur sejenak di bilik, lalu terbangun dan bersabda: "Bergembiralah wahai Abu Bakar, telah datang pertolongan Allah kepadamu. Inilah Jibril seraya memegang kendali kuda sambil menuntun kuda tersebut sementara pada gigi depannya ada debu."
Ibnu Ishaq berkata: Mihja', mantan budak Umar bin Khaththab terkena serangan anak panah dan ia pun meninggal dunia. Dengan demikian dialah orang pertama yang syahid dari kaum Muslimin. Kemudian Haritsah bin Suraqah, salah seorang dari Bani Adi bin An-Najjar yang pada saat itu sedang minum air kolam terkena lemparan anak panah pada bagian lehernya, hingga meninggal dunia.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari biliknya menuju sahabat-sahabatnya, dan memotivasi mereka untuk perang. Beliau bersabda: "Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman Tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari kalian yang memerangi mereka dengan sabar, mengharap ridha Allah, dan maju tanpa berpaling pada hari ini melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam surga." Umair bin Al-Humam, saudara Bani Salimah berkata sambil memegang beberapa kurma yang hendak ia makan: "Wah, luar biasa! Wah, luar biasa! Tidak ada jarak antara aku dan masuk surga kecuali mereka mem bunuhku." Umair bin Al-Humam membuang kurma dari tangannya kemudian mengambil pedangnya dan bertempur melawan musuh hingga gugur sebagai syahid."
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Auf bin Al- Harits anak Afra' berkata: "Wahai Rasulullah, apa yang membuat Tuhan suka dan ridha pada hamba-Nya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "la tancapkan tangannya pada musuh tanpa menggunakan baju besi." Maka Auf bin Al-Harits pun melepas baju besinya, membuangnya, kemudian mengambil pedangnya dan bertempur melawan musuh hingga gugur sebagai syahid.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku dari Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air Al-'Udzri sekutu Bani Zuhrah yang berkata padanya bahwa ia diberi tahu, ketika kedua pasukan saling berhadapan dan saling mendekat, maka Abu Jahal bin Hisyam berkata: "Ya Allah, orang yang paling banyak memutus hubungan silaturahim di antara kami, datang kepada kami dengan sesuatu yang tidak dikenal, hancurkanlah dia esok hari!" Dialah yang menjadi hakim dalam doanya itu.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengambil segenggam kerikil, kemudian berjalan ke arah orang-orang Quraisy dan bersabda: "Wajah-wajah kaum nan buruk." Beliau meniup mereka dengan kerikil tersebut sambil bersabda kepada para sahabatnya: "Kencangkan serangan kalian!" Maka kekalahan itu terjadi. Allah membinasakan pemuka-pemuka Quraisy yang terbunuh dan menawan pemuka-pemuka mereka yang lainnya.
Tatkala para sahabat sedang istirahat setelah berhasil menawan orang-orang Quraisy, dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada di dalam bilik, tiba-tiba Sa'ad bin Muadz berdiri di depan pintu bilik tersebut dengan menghunus pedang bersama beberapa orang dari kaum Anshar guna menjaga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka khawatir kemungkinan adanya serangan balik dari musuh. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat ketidaksenangan di wajah Sa'ad bin Muadz atas apa yang dilakukan oleh sahabat. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: "Wahai Sa'ad, tampaknya engkau tidak begitu senang atas apa yang dilakukan oleh orang-orang itu?" Sa'ad bin Muadz menjawab: '"Benar, wahai Rasulullah. Ini perang pertama melawan orang-orang musyrik yang Allah kehendaki. Oleh sebab itu, pembunuhan terhadap mereka lebih aku sukai daripada menyisakan orang-orang tersebut."
Ibnu Ishaq berkata: Al-Abbas bin Abdullah bin Ma'bad berkata kepadaku dari salah seorang keluarganya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhumz bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
 
bersabda kepada para sahabat: "Aku tahu, bahwa terdapat banyak orang-orang dari Bani Hasyim maupun selain Bani Hasyim yang keluar untuk berperang karena terpaksa. Mereka tidak ada keperluan berperang dengan kita. Oleh sebab itulah, sia- papun diantara kalian yang bertemu dengan salah seorang dari Bani Hasyim, maka jangan bunuh dia. Barangsiapa bertemu dengan Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad, jangan bunuh dia. Barangsiapa bertemu dengan Al-Abbas bin Abdul Muthalib paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jangan bunuh dia, karena ia didesak keluar untuk berperang."
Abu Hudzaifah berkata: "Apakah kita bunuh ayah-ayah dan anak-anak kita, saudara-saudara dan keluarga kita, lalu setelah itu kita biarkan Al-Abbas melenggang hidup bebas begitu saja? Demi Allah, jika bertemu
dengannya, niscaya aku membunuhnya." Apa yang diucapkan Abu Hudzafah ini didengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda kepada Umar bin Khaththab: "Wahai Abu Hafsh!" Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, itulah saat pertama kalinya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memanggilku dengan sebutan Abu Hafsh" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melanjutkan sabdanya: "Bolehkah wajah paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ditebas dengan pedang?" Umar bin Khaththab menjawab: "Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal leher orang itu! Demi Allah, sungguh dia telah munafik." Abu Hudzaifah berkata: "Dari saat itulah, aku merasa tidak aman dengan ucapanku tersebut. Ada ketakutan yang menghantui diriku disebabkan oleh ucapanku itu, namun aku senantiasa berharap ucapanku bisa tertebus dengan mati syahid." Abu Hudzaifah gugur sebagai salah syahid pada Perang Yamamah.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarang pembunuhan terhadap Abu Al- Bakhtari, karena dialah orang yang paling bisa menahan diri untuk tidak mengganggu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat beliau berada di Makkah. Ia tidak pernah menyakiti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan tidak pula pernah melontarkan ucapan yang menyakitkan hati beliau. Ia termasuk salah orang yang membatalkan shahifah yang diberlakukan orang-orang Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib. Pada Perang Badar, Al-Mujadzdzar bin Dziyad Al-Balawi sekutu kaum Al-Anshar, kemudian dari Bani Salim bin Auf bertemu dengan Abu Al-Bakhtari dan berkata kepadanya: "Sesungguhnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarangku membunuhmu." Saat itu Abu Al-Bakhatari sedang berdua dengan temannya yang keluar bersamanya dari Makkah, yaitu Junadah bin Mulaihah binti Zuhair bin Al-Harits bin Asad. Junadah berasal dari Bani Laits. Abu Al- Bakhtari bernama asli Al-Ash. Abu Al-Bakhtari bertanya kepada Al-Mujadzdzar: "Apakah ini berlaku buat temanku juga?" Al-Mujadzdzar menjawab: "Tidak. Demi Allah, kami tidak akan membiarkan temanmu, karena Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarang pembunuhan hanya terhadap dirimu!" Abu Al-Bakhtari berkata: "Tidak. Demi Allah, kalau begitu, aku lebih baik mati bersamanya, agar wanita-wanita Quraisy tidak mengunjingku bahwa aku membiarkan temanku dibunuh sementara aku lebih menyukai hidup untuk diriku sendiri."
Kemudian Abu Al-Bakhtari bertempur melawan Al-Mujadzdzar. Al-Mujadzdzar berhasil membunuhnya.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Al-Mujadzdzar pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan berkata: "Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawaa kebenaran, aku sudah berusaha menjadikannya sebagai tawanan dan membawanya kepadamu, sayang ia tidak mau dan memilih bertempur melawanku. Lalu aku bertempur melawannya, dan akhirnya aku pun berhasil membunuhnya."
Ibnu Hisyam berkata: Abu Al-Bakhtari ialah Al-Ash bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad.
 
Umayyah bin Khalaf Terbunuh


Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata kepadaku dari ayahnya. Ibnu Ishaq juga berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakar berkata kepada keduanya dan kepada selain keduanya dari Abdurrahman bin Auf ia berkata: "Umayyah bin Khalaf adalah sahabat dekatku di Makkah. Nama asliku Abdu Amr. Sesudah masuk Islam, aku mengganti namaku dengan nama baru, yaitu Abdurrahman. Ini terjadi ketika kami masih berada di Makkah. Sewaktu masih di Makkah, Umayyah bin Khalaf sering datang kepadaku dan berkata: "Wahai Abdu Amr, apakah engkau membenci nama yang diberikan oleh kedua orang tuamu? Aku menjawab: "Ya, betul." Umayyah bin Khalaf berkata: "Aku tidak kenal dengan Ar-Rahman. Oleh sebab itulah, buatkan nama yang dengannya aku memanggilmu dengan nama tersebut! Engkau jangan menjawab panggilanku jika aku memanggilmu dengan nama pertamamu, aku juga tidak akan memanggilmu dengan nama yang tidak aku ketahui."
Abdurrahman bin Auf berkata: Jika ia memanggilku dengan panggilan: "Wahai Abdu Amr aku tidak menjawabnya. Aku berkata kepada Umayyah bin Khalaf: "Wahai Abu Ali, panggillah aku sesukamu!" Umayyah bin Khalaf berkata: "Engkau aku panggil dengan nama Abdul Ilah." Aku berkata: "Itu pun boleh juga!" Sejak saat itu, jika aku berjalan melewati Umayyah bin Khalaf, ia memanggilku, "Wahai Abdullah!' Aku menjawab panggilannya dan akupun berbincang dengannya. Pada Perang Badar, aku berjalan melewati Umayyah bin Khalaf yang pada saat itu sedang berdiri bersama anaknya yang bernama Ali bin Umayyah sambil memegang tangan anaknya. Saat itu, aku membawa beberapa baju besi yang berhasil aku rampas dari orang-orang Quraisy. Begitu melihatku, ia berkata: "Wahai Abdu Amr!" Aku sengaja tidak menjawab pang-gilannya. Umayyah bin Khalaf memanggilku lagi: "Wahai Abdullah?" Aku menimpali: "Ya." Umayyah bin Khalaf berkata: "Apakah engkau tertarik untuk menjadikanku sebagai tawanan, karena aku lebih baik daripada baju besi yang ada berada bersamamu itu?" Aku berkata: "Ya." Maka aku buang baju-baju besi dari tanganku, dan aku pegang tangan erat Umayyah bin Khalaf dan tangan anaknya. Umayyah bin Khalaf berkata: "Aku belum pernah melihatmu seperti sekarang ini! Apakah engkau menginginkan susu?" Kemudian aku berjalan keluar dengan membawa keduanya.
Ibnu Hisyam berkata: Yang dimaksud Umayyah bin Khalaf dengan susu ialah bahwa siapa saja yang menawan diriku, aku akan menebus diriku dengan unta yang air susunya melimpah.
Ibnu Ishaq berkata: Abdul Wahid bin Abu Aun berkata kepadaku dari Said bin Ibrahim dari ayahnya dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu yang berkata:Umayyah bin Khalaf berkata kepadaku pada saat aku memegang tangannya dan tangan anaknya: " Wahai Abdullah, siapakah di antara kalian yang memakai tanda di dadanya dari bulu unta?" Aku menjawab: "Dialah Hamzah bin Abdul Mutha- lib." Umayyah bin Khalaf berkata: "Orang itulah yang melakukan hal-hal buruk terhadap kami." Demi Allah, aku terus menuntun Umayyah bin Khalaf dan anaknya, Ali bin Umayyah. Tiba-tiba Bilal melihat Umayyah bin Khalaf yang sedang bersamaku. Umayyah bin Khalaf adalah orang yang menyiksa Bilal di Makkah supaya Bilal meninggalkan Islam. Umayyah bin Khalaf membawa Bilal ke padang pasir Makkah yang sedang panas sedang terik membara, membaringkannya, lalu meletakkan batu besar di atas dadanya. Umayyah bin Khalaf berkata kepada Bilal: "Apakah engkau ingin terus berada dalam keadaan seperti ini atau engkau meninggalkan agama Muhammad!" Bilal menjawab: "Ahad (Esa), Ahad (Esa)." Pada saat Bilal melihat Umayyah bin Khalaf, ia berkata: Inilah dia otak kekafiran, Umayyah bin Khalaf. Aku tidak akan merasa dalam keadaan selamat bila dia selamat." Aku berkata kepada Bilal: "Wahai
 
Bilal, bukankah dua orang ini tawananku?'" Bilal berkata: "Aku tidak akan merasa selamat bila dia selamat."
Aku berkata kepada Bilal: "Apakah engkau tidak mendengar suaraku, wahai anak Si Hitam?" Bilal berkata: "Aku tidak akan merasa selamat bila dia selamat" Bilal berteriak dengan suara yang paling kencang: "Wahai para penolong Allah, ini dia otak kekafiran. Aku tidak akan merasa selamat bila dia selamat." Abdurrahman bin Auf berkata: Lalu para sahabat mengepung kami, hingga mereka menjadikan kami seperti berada di dalam sebuah lingkaran. Aku masih tetap berusaha melindungi Umayyah bin Khalaf. Seseorang menghunus pedang dari sarungnya, dan pada saat yang bersamaan seseorang memukul anak Umayyah bin Khalaf sampai ia jatuh terkapar. Melihat anaknya jatuh terkapar, Umayyah bin Khalaf berteriak sangat keras yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku berkata kepada Umayyah bin Khalaf: "Selamatkan dirimu, karena tidak ada keselamatan bagimu. Demi Allah, sedikitpun aku tidak kuasa melindungimu." Para sahabat memotong keduanya dengan pedang hingga tewas. Abdurrahman bin Auf berkata: "Semoga Allah merahmati Bilal. Baju besiku hilang dan ia menyakitiku dengan tawananku."
Ibnu lshaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku, bahwa ia diberitahu oleh Ibnu Abbas yang berkata bahwa salah seorang dari Bani Ghifar berkata kepadaku: Aku dan saudara sepupuku naik ke atas gunung, hingga kami bisa melihat Badar. Saat itu kami masih dalam keadaan musyrik. Kami menunggu hasil akhir peperangan, siapakah yang kalah hingga kemudian kami bisa mengambil rampasan perang bersama yang lain. Tatkala kami berada di atas gunung itulah, tiba-tiba ada awan mendekat ke arah kami berada. Kami mendengar ringkikan kuda di celah awan itu, dan ada orang yang berkata: "Majulah wahai Haizum (Haizum adalah nama kuda Malaikat Jibril)!"Sepupuku tidak kuat jantungnya atas apa yang dia lihat dan dengar sehingga ia mendadak mati saat itu di tempat itu. Aku sendiri nyaris meninggal dunia, namun aku berusaha menahan diri sekuat tenaga.
Ibnu lshaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku dari seseorang dari Bani Sa'idah dari Abu Usaid Malik bin Rabi'ah yang ikut hadir pada Perang Badar. Setelah matanya buta, ia berkata: Apabila hari ini aku berada di Badar dan masih bisa melihat, aku pasti memperlihatkan pada kalian jalan tempat munculnya para malaikat. Aku tidak ragu tentangnya dan tidak mengada-ada dalam hal ini.
Ibnu lshaq berkata: Abu lshaq bin Yasar berkata kepadaku dari orang-orang Bani Mazin bin An-Najjar dari Abu Daud Al-Mazini yang ikut Perang Badar ia berkata: Ketika aku mengintai salah seorang musyrik pada Perang Badar untuk menebasnya, tiba-tiba kepalanya jatuh terkulai sebelum pedangku menyentuhnya. Aku pun sadar bahwa kepala orang tersebut telah ditebas pihak lain.
Ibnu lshaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Miqsam mantan budak Abdullah bin Al- Harits dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma. berkata: "Ciri- ciri para malaikat pada Perang Badar ialah sorban putih yang mereka julurkan di punggung mereka. Pada Perang Hunain, mereka memakai sorban merah."
Ibnu lshaq berkata: Beberapa ulama berkata kepadaku bahwa Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata: Sorban adalah mahkota utama orang-orang Arab. Pada Perang Badar ciri-ciri para malaikat adalah memakai sorban putih yang mereka julurkan hingga punggung mereka, kecuali Malaikat Jibril yang mengenakan sorban kuning.
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Miqsam dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Arthurm ia berkata: Para malaikat tidak ikut perang secara langsung pada selain Perang Badar. Selain Perang Badar, mereka menjadi penambah jumlah dan tidak langsung ikut bertempur.
 
Ibnu Ishaq berkata: Sambil bertempur Abu Jahal melantunkan untaian syair:
Perang sengit bukanlah balas dendam kepadaku
Aku telah kuat bagaikan unta dua tahun yang telah muncul giginya Memang untuk inilah, ibuku melahirkanku

Ibnu Hisyam berkata: Sandi perang sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Perang Badar ialah, Ahad (Esa). Ahad (Esa)'. "
Ibnu Ishaq berkata: Sesudah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan mereka untuk mencari Abu Jahal di antara korban-korban perang. Orang yang pertama kali menemukan Abu Jahal -sebagimana dituturkan Tsaur bin Zaid kepadaku dari Ikrimah dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Abu Bakar juga berkata kepadaku- ialah Muadz bin Amr bin Al-Jamuh saudara Bani Salimah. Muadz bin Amr Al-Jamuh berkata: "Aku mendengar dari beberapa orang bahwa Abu Jahal sedang berada di sebuah pohon nan lebat. Mereka berkata: "Tempat Abu Al-Hakam tidak bisa ditembus." Mendengar kabar itu, aku menjadikan Abu Jahal sebagai target utamaku dan akupun pergi menuju tempat Abu Jahal. Ketika menemukan tempat Abu Jahal, aku menebasnya dengan tebasan yang membuat kakinya putus hingga separuh betisnya. Demi Allah, aku tidak mengumpamakan betisnya -ketika telah terpotong- melainkan seperti biji kurma yang jatuh dari alat penggiling biji saat biji kurma selesai ditumbuk. Ikrimah anak Abu Jahal memukul pundakku yang membuat tanganku terlempar dan menggantung pada kulit di lambungku. Perang di sekitarku berlangsung sengit hingga membuatku jauh dari Abu Jahal. Aku terus bertempur sepanjang hari sambil menyeret tanganku di belakangku. Tatkala merasa kesakitan, aku letakkan kakiku di atasnya dan berdiri dengannya, hingga akhirnya aku membuangnya."
Ibnu Ishaq berkata: Muadz bin Amr hidup hingga masa kekhilafahan Utsman bin Affan.
Ibnu Ishaq berkata: Muawwidz bin Afra' berjalan melewati Abu Jahal yang terluka, kemudian Muawwidz bin Afra' memukulnya dengan telak, dan membiarkannya dalam keadaan sekarat. Setelah itu, Muawwidz bin Afra' berperang hingga gugur sebagai syahid. Lalu Abdullah bin Mas'ud berjalan melewati Abu Jahal -ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan sahabatnya untuk melakukan pencarian Abu Jahal di antara para korban perang. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apabila kalian mendapatkan kesulitan untuk mengenali ciri Abu Jahal di antara para korban perang, lihatlah bekas luka di lututnya! Suatu hari aku dan dia berdesak- desakan di jamuan makan di rumah Abdullah bin Jud'an. Saat itu kami masih anak-anak. Aku lebih kurus darinya, lalau aku mendorongnya. Ia jatuh di atas kedua lututnya, dan lutut itu luka yang kemudian menimbulkan bekas pada salah satunya. Hingga kini bekas itu masih ada. Abdullah bin Mas'ud berkata: 'Aku menemukan Abu Jahal di ujung sekaratnya. Aku mengenalinya, lalu aku letakkan kedua kakiku di atas lehernya. Ketika di Makkah dahulu Abu Jahal pernah memukulku hingga aku kesakitan dan pernah memukulkan tinjunya. Aku bertanya kepada Abu Jahal: "Apakah Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah?" Abu Jahal berkata: "Dengan apa Allah menghinakanku? Apakah aku demikian berharga dari orang-orang yang kalian bunuh? Katakan kepadaku, di pihak siapa kemenangan berpihak pada hari ini?" Aku menjawab: "Di sisi Allah dan Rasul-Nya."
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang dari Bani Makhzum berkata bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata: Abu Jahal berkata kepadaku: "Sungguh engkau telah melakukan pendakian yang sulit, wahai anak kecil penggembala." Lalu aku penggal kepalanya dan membawa kepala Abu Jahal tersebut ke hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, inilah kepala Abu Jahal, musuh Allah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Demi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia." Itulah sumpah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Aku berkata: "Ya, benar.
 
Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia." Aku hempaskan kepala Abu Jahal ke hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beliau pun memuji Allah.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubadah dan para ahli strategi perang berkata kepadaku bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Atthu berkata kepada Sa'id bin Al-Ash pada saat ia berjalan melewatinya: "Sesungguhnya aku melihat ada sesuatu dalam dirimu? Aku lihat engkau menyangka aku telah membunuh ayahmu? Apabila aku membunuh ayahmu, aku tidak meminta maaf kepadamu. Tapi aku telah membunuh paman dari jalur ibuku yaitu Al- Ash bin Hisyam bin Al-Mughirah. Sedangkan ayahmu, aku melewatinya sedang menggali tanah bagaikan sapi jantan menggali tanah dengan tanduknya. Aku menghindar darinya, kemudian ia didatangi sepupunya yakni Ali, kemudian ia membunuhnya."



Kisah Pedang Ukkasyah


Ibnu Ishaq berkata: Pada Perang Badar, Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan Al-Asadi sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf bertempur hingga pedangnya patah di tangannya. Ia menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi akar pohon, seraya bersabda: "Wahai Ukkasyah, bertempurlah dengan akar kayu ini!" Tatkala Ukkasyah bin Mihshan mengambil akar kayu dari genggaman tangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan ia menggerak-gerakkannya. Tiba-tiba akar kayu tersebut berubah bentuknya menjadi pedang panjang, sangat kuat dan putih ujungnya (tajam ). Maka Ukkasyah bin Mihshan pun kembali bertempur dengan pedang tersebut, sampai Allah Ta'ala memberi kemenangan kepada kaum Muslimin. Dan pedang itu dinamai Al-Aun. Kemudian pedang tersebut menjadi milik Ukkasyah bin Mihshan dan ia gunakan pedang tersebut di semua peperangan bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai dia meninggal dunia sebagai syahid pada Perang Riddah (perang melawan orang-orang murtad), sementara pedang tersebut masih berada di genggamannya. Ukkasyah bin Mihshan dibunuh Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi.
Ibnu Hisyam berkata: Hibal adalah anak Thulaihah bin Khuwailid, dan Ibnu Aqram adalah Tsabit bin Aqram Al-Anshari.
Ibnu Ishaq berkata: Ukkasyah bin Mihshan adalah sahabat yang berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di saat beliau bersabda: "Akan masuk surga tujuh puluh ribu dari umatku bagaikan bulan kala purnama." Ukkasyah bin Mihshan berkata: "Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku termasuk salah seorang dari mereka." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Engkau termasuk salah seorang dari mereka." Setelah itu salah seorang dari kaum Anshar berdiri, dan berkata: "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku juga termasuk kelompok mereka!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ukkasyah telah mendahuluimu, dan doa itu telah dikokohkan."82


Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda sebagaimana dituturkan kepadaku oleh keluarganya: "Di antara kami terdapat penunggang kuda terbaik di kalangan orang Arab." Para sahabat bertanya: "Siapa gerangan wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
 
bersabda: "Dia adalah Ukkasyah bin Al Mihshan." Dhirar bin Al-Azwar Al-Asadi berkata: "Apakah orang tersebut salah seorang dari kami, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "la bukan salah seorang dari kalian, namun salah seorang dari kami, melalui aliansi."
Ibnu Hisyam berkata: Pada Perang Badar, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu memanggil anaknya Abdurrahman yang pada saat itu bersama orang-orang musyrikin dan berada di pihaknya: "Mana kekayaanku, wahai bajingan?" Abdurrahman menjawab:
Tiada tersisa kecuali senjata dan kuda yang berlari kencang Serta pedang tajam yang membunuh orang tua yang sesat
Sebagaimana hal ini dituturkan kepadaku dari Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi. Mayat-mayat Kaum Musyrikin Dilemparkan ke dalam Sumur
Sebagaimana hal ini dituturkan kepadaku dari Abdul bin Muhammad Ad-Darawardi




Mayat-Mayat Kaum Musyrikin Dilemparkan ke Dalam Sumur


Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan agar korban perang kaum musyrikin dilemparkan ke dalam sumur, maka korban-korban itu dilemparkan ke sana, kecuali mayat Umayyah bin Khalaf. Badan Umayyah bin Khalaf membengkak di baju besinya hingga baju tersebut penuh. Tatkala para sahabat pergi untuk menggerak-gerakkannya, malah dagingnya cerai-berai. Para sahabat melemparkan tanah dan batu ke atas tubuh Umayyah bin Khalaf untuk menutupinya.
Setelah pelemparan mayat-mayat kaum musyrikin ke dalam sumur selesai dikerjakan, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di atas mereka, dan bersabda: "Wahai para penghuni sumur, apakah kalian telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kalian itu benar terjadi? Karena sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepadaku itu benar terjadi."
Aisyah berkata: Para sahabat berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Apakah engkau berbicara dengan kaum yang telah meninggal dunia?" Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh mereka telah mengetahui, bahwa apa yang dijanjikan Tuhan kepada mereka itu adalah benar adanya."
Aisyah berkata: Para sahabat berkata: "Apakah mereka mendengar apa yang engkau ucapkan kepada mereka?" Padahal Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Sungguh mereka telah mengetahui."
Ibnu Ishaq berkata: Humaid Ath-Thawil berkata kepadaku dari Anas bin Malik yang berkata: "Para sahabat mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata pada pertengahan malam: "Wahai penghuni sumur, hai Utbah bin Rabi'ah, wahai Syaibah bin Rabi'ah, hai Umayyah bin Khalaf, wahai Abu Jahal bin Hisyam - Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyebut beberapa nama orang-orang Quraisy: "Apakah kalian telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhanmu kepada kalian itu benar? Sungguh aku telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhanku itu benar." Kaum Muslimin berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau memanggil manusia yang telah meninggal dunia?" Rasulullah
 
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bukan hanya kalian saja yang mendengar apa yang aku katakan kepada mereka, hanya saja mereka tidak bisa menjawab pertanyaanku."83
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama berkata kepadaku, pada suatu hari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai penghuni sumur, keluarga Nabi yang paling jelek adalah kalian. Kalian mendustakanku tatkala orang-orang membenarkanku. Kalian mengusirku, pada saat orang lain melindungiku. Kalian memerangiku, padahal orang-orang lain menolongku." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melanjutkan sabdanya: "Apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan kalian kepada kalian itu benar?"84


Ibnu Ishaq berkata: Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan agar mayat orang- orang musyrikin dilempar ke dalam sumur, diambillah mayat Utbah bin Rabi'ah kemudian diseret ke dalam sumur. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat kemurungan pada wajah Abu Hudzaifah bin Utbah yang tampak dari rona wajahnya. Beliau bersabda kepada Abu Hudzaifah bin Utbah: "Wahai Abu Hudzaifah, barangkali ada sesuatu telah masuk ke dalam dirimu karena perlakuan terhadap ayahmu?" Abu Hudzaifah berkata: "Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak ragu tentang ayahku dan perihal kematiannya. Hanya saja aku dapatkan dalam dirinya sikap bijak, kelembutan, dan nilai- nilai. Oleh karena itu, aku berharap ki- ranya itu semua membuatnya mendapat petunjuk kepada Islam. Tatkala aku melihat apa yang terjadi padanya, dan aku ingat bahwa ia mati dalam keadaan kafir setelah aku berharap banyak darinya, maka aku berduka cita karenanya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan bagi Abu Hudzaifah dan mengatakan sesuatu dengan baik untuknya.
Ibnu Ishaq berkata: Disebutkan kepadaku tentang beberapa pemuda yang terbunuh di Perang Badar yang karenanya kemudian Al-Qur'an turun tentang mereka -sebagaimana dtuturkan kepadaku:


Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS. an-Nisa': 97).
Mereka adalah pemuda-pemuda Muslim. Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay ialah Al-Harits bin Zam'ah bin Al-Aswad bin Al-Muthalib bin ASad.
Dari Bani Makhzum ialah Abu Qais bin Al-Faldh bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, dan Abu Qais bin Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.
 
Dari Bani Jumah ialah Ali bin Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah.
Dari Bani Sahm ialah Al-Ash bin Munabbih bin Al-Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Sa'ad bin Sahm.
Mereka semua telah masuk Islam pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masih di Makkah. Namun ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah mereka tertahan oleh ayah dan keluarga mereka di Makkah serta mendapat siksaan. Sehingga mereka terpengaruh dan keluar bersama kaumnya ke Badar dan semuanya tewas terbunuh.



Rampasan dan Tawanan Perang Badar


Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan agar rampasan perang yang telah berhasil dihimpun para sahabat dikumpulkan di bilikbeliau, namun mereka berbeda pendapat mengenai rampasan perang itu. Para sahabat yang mengumpul- kannya berkata: "Rampasan perang tersebut milik kami." Sementara para sahabat yang bertempur melawan musuh berkata: "Demi Allah, tanpa kami, mustahil kalian dapat mengumpulkannya. Kami lebih sibuk memerangi musuh sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengumpulkannya. Sedang kalian tidak ikut bertempur sehingga dengan begitu mudah mengumpulkannya." Para sahabat yang mengawal Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam karena khawatir beliau diserang musuh berkata: "Demi Allah, kalian tidak lebih berhak atas rampasan perang dari pada kami. Kami ingin membunuh musuh, namun tiba-tiba Allah memberikan pundak-pundak mereka kepada kami. Awalnya kami ingin menghimpun rampasan perang ketika tidak ada orang yang mengawal Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Namun kami khawatir musuh balik menyerang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Oleh sebab itulah, kami melindungi beliau. Artinya kalian tidak lebih berhak atas rampasan perang itu daripada kami."
Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Al-Harits dan sahabat-sahabatku lainnya berkata kepadaku dari Sulaiman bin Musa dari Makhul dari Abu Umamah Al-Bahili -nama asli Abu Umamah ialah Shudai bin Ajlan sebagaimana disebutkan Ibnu Hisyam- yang berkata: Aku pernah bertanya kepada Ubadah bin Ash-Shamit tentang surat Al-Anfaal dan ia pun menjawab: "Surat tersebut diturunkan kepada kami para mujahidin Perang Badar. Surat itu Allah turunkan pada saat kami berbeda pendapat tentang rampasan perang. Saat itu, akhlak kami betul-betul hancur, kemudian Allah mencabut rampasan perang tersebut dari tangan kami, dan menyerahkannya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Lalu beliau mendistribusikannya kepada kaum Muslimin dengan adil."
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa salah seorang dari Bani Sa'idah berkata kepadanya dari Abu Usaidah As-Sa'idi Malik bin Rabi'ah ia berkata: "Pada Perang Badar, aku berhasil mendapat- kan pedang Bani Aidz Al-Makhzumi yang bernama Al-Marzuban. Ketika Rasuluhah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan pengembalian semua rampasan perang yang ada di tangan para sahabat, aku pun datang dan mengumpulkan pedang tersebut bersama rampasan perang lainnya. Saat itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak menolak sesuatu yang diminta kepada beliau. Pedang tersebut diketahui Al-Arqam bin Abu Al-Arqam, kemudian ia memintanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan beliau memberikannya."
Ibnu Ishaq berkata: Setelah kemenangan tercapai, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Abdullah bin Rawahah sebagai orang yang menyampaikan kabar gembira kemenangan kepada penduduk Madinah bagian utara, bahwa Allah Yang Maha tinggi telah memberi kemenangan kepada
 
Rasul-Nya dan kaum Muslimin. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Zaid bin Harits sebagai orang yang menyampaikan kabar gembira kemenangan kepada penduduk Madinah Selatan.
Usamah bin Zaid berkata: Kabar gembira sampai kepada kami tatkala kami sedang menimbun tanah ke atas kuburan Ruqayyah binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam istri Utsman bin Affan. Rasulullah Shailallahu 'Alaihi wa Sallam menyuruhku bersama Utsman untuk menjaga Ruqayyah. Ketika Zaid bin Haritsah tiba, aku datang kepadanya yang pada saat itu sedang berdiri di mushalla, dan dikerubungi oleh kaum Muslimin. Zaid bin Haritsah berkata: "Utbah bin Rabi'ah tewas, Syaibah bin Rabi'ah tewas, Abu Jahal bin Hisyam tewas, Zam'ah bin Al-Aswad tewas, Abu Al-Bakhtari Al-Ash bin Hisyam tewas, Umayyah bin Khalaf tewas, Nubaih bin Al-Hajjaj tewas, dan Munabbih bin Al-Hajjaj juga tewas." Usamah bin Zaid bertanya kepada ayahnya, Zaid bin Haritsah: "Benarkan itu semua, wahai ayahanda?" Zaid bin Haritsah menjawab: "Demi Allah, semua itu benar wahai ananda!."



Perjalanan Pulang Rasulullah dan Rombongannya dari Badar ke Madinah


Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang ke Madinah bersama rombongan para sahabat, dengan membawa tawanan perang dari kaum musyrikin. Di antara tawanan perang tersebut adalah Uqbah bin Abu Mu'aith dan An-Nadhr bin Al-Harits. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membawa pulang rampasan perang yang berhasil diper- oleh dari kaum musyrikin. Beliau memerintahkan Abdullah bin Ka'ab bin Amr bin Auf bin Mabdzul bin Amr bin Ghanm bin Mazin bin An-Najjar untuk menjaga rampasan perang tersebut. Salah seorang dari kaum Muslimin melantunkan syair-syairnya. Ibnu Hisyam berkata: Orang itu adalah Adi bin Abu Az-Zaghba':
Mulailah berangkatkan unta-untamu wahai Basbas untuknya Tiada tempat untuk ragu Di Dzi Ath-Thalah baginya
Tidak pula di gurun Ghumair ada penjara Sesungguhnya kuda-kuda mereka tidak mungkin ditahan Maka kuda-kuda itu dibawa orang yang cerdas
Allah telah mememenangkan, sementara Al-Akhnas melarikan diri

Rasulullah Shallalahu 'alaihi xva Sallam berjalan, dan ketika beliau keluar dari lorong kecil Ash-Shafra', beliau berhenti di bukit pasir antara Madhiq (lorong kecil) dengan An-Naziyah yang bernama Sayar, tepatnya di bawah sebuah pohon di tempat itu.
Di sanalah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membagi rampasan perang yang diberikan Allah kepada kaum Muslimin dari kaum musyrikin secara merata. Setelah melakukan pembagian rampasan perang, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meneruskan perjalanannya. Sesampainya di Ar-Rauha, beliau disambut kaum Muslimin. Mereka mengucapkan selamat atas kemenangan yang diberikan Allah kepada beliau dan kaum Muslimin. Salamah bin Salamah berkata kepada kaum Muslimin, sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Ashim bin Umar bin Qatadah dan Yazid bin Ruman: "Ucapan selamat apakah yang kalian persembahkan kepada kami? Demi Allah, kita tidak bertemu kecuali dengan wanita-wanita lemah dan botak bagaikan unta yang diikat lalu di sembelih." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tersenyum, kemudian bersabda: "Wahai anak saudaraku, mereka (orang- orang Quraisy) adalah para pemuka kaumnya dan orang-orang terpandang."
 
Pembunuhan terhadap An-Nadhr bin Al-Harits dan Uqbah


Ibnu Ishaq berkata:Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Ash-Shafra', An-Nadhr bin Al- Harits dibunuh. Ia bunuh Ali bin Abu Thalib, sebagaimana dikatakan kepadaku oleh ulama Makkah.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terus berjalan. Ketika beliau tiba di Irqi Azh- Zhabyah, Uqbah bin Mu'aith terbunuh.
Ibnu Hisyam berkata: Irqi Azh-Zhabyah bukan dari Ibnu Ishaq.
Ibnu Ishaq berkata: Sahabat yang menawan Uqbah bin Mu'aith adalah Abdullah bin Salimah salah seorang yang berasal dari Bani Al-Ajlan.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan pembunuhan terhadap Uqbah bin Mu'aith, ia berkata: "Wahai Muhammad, siapa yang akan mengasuh anak perempuanku yang masih kecil?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Neraka." Uqbah bin Mu'aith dibunuh Ashim bin Tsabit bir- Abu Al-Aqlah Al-Anshari, saudara Bani Amr bin Auf - sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Uqbah bin Mu'aith dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib - sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri dan ulama lain.
Ibnu Ishaq berkata: Di Irqi Azh-Zhabyah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjumpa dengan Abu Hindun mantan budak Farwan bin Amr Al-Bayadhi yang membawa kantong penuh berisi hais (samin yang di campur kurma). Abu Hindun tidak ikut Perang Badar, kemudian ikut serta peperangan lainnya bersama Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam. Abu Hindun adalah seorang ahli bekam Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Abu Hindun termasuk kaum Anshar. Oleh karena itu, nikahkan dia dengan wanita kalian!" Para sahabat melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terus berjalan hingga sampai di Madinah satu hari sebelum para tawanan perang tiba.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa Yahya bin Abdullah bin Abdurrahman bin As'ad bin Zurarah berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah membawa tawanan perang. Ketika itu, Saudah binti Zam'ah, istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada di tempat keluarga Afra' sedang meratapi kematian Auf dan Muawwidz, keduanya adalah anak Afra'. Hal itu terjadi ketika hijab belum menjadi kewajiban atas wanita Muslimah. Saudah berkata: "Demi Allah, aku berada di tempat mereka, ketika tiba-tiba seseorang datang kepada kami, dan berkata: 'Para tawanan perang telah datang bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.' Aku segera pulang ke rumah, ternyata Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sudah berada di sana, dan Abu Yazid Suhail bin Amr berada di pojok kamar dalam keadaan kedua tangan terikat di lehernya. Tidak, demi Allah, aku tidak dapat menguasai diriku ketika melihat Abu Yazid dalam kondisi seperti itu. Aku berkata: Wahai Abu Yazid, kenapa engkau memberikan tanganmu? Kenapa engkau tidak mati saja dalam keadaan mulia?" Demi Allah, tidak ada yang menyadarkan diriku kecuali ucapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari dalam rumah: "Wahai Saudah, pantaskah engkau mengobarkan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya?'" Aku menjawab: "Wahai Rasulullah, aku tidak dapat menguasai diriku, ketika melihat Abu Yazid dalam keadaan kedua tangannya terikat di lehernya, sehingga terlontar ucapan itu dariku."85
 
 

Ibnu Ishaq berkata: Nubaih bin Wahb saudara Bani Abduddar berkata kepadaku: ketika para tawanan perang datang, maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membagi-bagikannya kepada para sahabat. Beliau bersabda: "Berbuat baiklah kalian kepada para tawanan perang ini." Abu Azid bin Umair bin Hasyim, saudara kandung Mush'ab bin Umair yang berada dalam tawanan perang berkata: Saudaraku, Mush'ab bin Umair berjalan melewatiku bersama salah seorang kaum Anshar yang menawanku. Mush'ab bin Umair berkata: "Jagalah tawanan ini dengan baik, karena ibunya seorang wanita kaya raya. Mudah-mudahan ia menebusnya darimu!" Abu Aziz bin Umair berkata: "Aku bersama beberapa orang orang Anshar ketika mereka membawaku dari Badar. Jika mereka datang membawa makanan siang dan makanan malam, mereka memberiku makanan berupa roti, sementara mereka sendiri hanya makan kurma. Ini semua terjadi karena Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan mereka berbuat baik terhadap para tawanan perang. Tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki kepingan roti, melainkan ia memberikannya kepadaku. Aku pun merasa malu kepada mereka, sehingga aku pun mengembalikan roti tersebut kepada salah seorang dari mereka, tapi ia mengembalikannya kepadaku. Ia sama sekali tidak menyentuhnya."



Kabar Kekalahan Orang Quraisy Sampai di Makkah


Ibnu Hisyam berkata: Abu Aziz adalah pemegang panji perang kaum musyrikin setelah An-Nadhr bin Al-Harits. Ketika saudaranya, Mush'ab bin Umair berkata kepada Abu Yasir, sahabat yang menawannya seperti di atas. Abu Aziz bin Umair berkata kepada Mush'ab bin Umair: "Saudaraku, apakah demikian wasiatmu bagiku?" Mush'ab bin Umair berkata kepada saudaranya itu: "Sesungguhnya Abu Yasir adalah saudaraku." Kemudian ibu Abu Aziz bin Umair bertanya tentang tebusan tawanan paling mahal bagi orang Quraisy. Lalu dikatakan padanya: empat ribu dirham. Maka ibu Abu Aziz mengirim uang empat ribu dirham dan menebus anaknya dengan uang itu.
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang pertama kali tiba di Makkah dengan membawa kabar kekalahan orang- orang Quraisy di Perang Badar ialah Al-Haisuman bin Abdullah Al-Khuzai. Orang-orang Quraisy bertanya kepada Al-Haisuman bin Abdullah: "Kabar apa yang engkau bawa?" Al-Haisuman bin Abdullah menjawab: "Utbah bin Rabi'ah gugur, Syaibah bin Rabi'ah gugur, Abu Al-Hakam (Abu Jahal) bin Hisyam gugur, Umayyah bin Khalaf gugur. Zam'ah bin Al-Aswad gugur, Nubayh bin Al-Hajjaj gugur, Munabbih bin Al-Hajjaj gugur, dan Abu Al-Bakhtari gugur." Ketika Al-Haisuman bin Abdullah menyebutkan nama-nama pemimpin Makkah, Shafwan bin Umayyah yang duduk di batu berkata: "Demi Allah, orang itu sudah kehilangan akalnya!" Tanyakan padanya tentang diirku!!" Orang-orang Quraisy bertanya: "Apa yang dikerjakan Shafwan bin Umayyah?" Al-Haisuman bin Abdullah menjawab: "Saat ini dia sedang duduk di atas batu. Demi Allah, aku melihat ayah dan saudaranya pada saat mereka berdua terbunuh."
Ibnu Ishaq berkata: Husain bin Abdullah bin Ubaidillah bin Abbas berkata kepadaku dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas yang berkata bahwa Abu Rafi' mantan budak Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: Awalnya aku adalah budak milik Al-Abbas bin Abdul Muthalib, dan Islam telah masuk kepada kami, keluarga rumah Al-Abbas. Al-Abbas kemudian masuk Islam kemudian diikuti oleh Ummu Al-Fadhl, lalu aku pun masuk Islam. Al-Abbas khawatir kepada kaumnya, dan tidak suka
 
berbeda pendapat dengan mereka. Makanya ia merahasiakan keislamannya. Ia seorang yang kaya raya dan kekayaannya tersebar di tengah kaumnya. Abu Lahab tidak ikut Perang Badar, dan ia kirim Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah untuk menggantinya. Demikianlah yang diperbuat orang-orang Quraisy saat itu. Jika ia tidak bisa berangkat perang sendiri, ia mengirim seseorang meng- gantikan posisi dirinya. Di saat Abu Lahab mendengar berita kekalahan orang-orang Quraisy di Perang Badar, maka Allah menghinakan dan merendahkannya. Sedang kami merasa lebih kuat dan mulia. Sedangkan aku sendiri adalah seorang yang lemah. Yang berprofesi sebagai pembuat anak panah. Aku meraut anak panah di kemah Zamzam. Demi Allah, aku duduk di kemah kulitku di Zamzam dengan meraut anak panah. Demikian pula Al-Fadhl. Kami semua amat senang dengan kabar kemenangan kaum Muslimin yang sampai pada kami. Tiba-tiba Abu Lahab datang. la menyeret Kedua kakinya dengan Kejelekan, hingga ia duduk di kayu pasak kemah, punggungnya berada di balik punggungku. Dan di saat ia duduk, tiba-tiba orang-orang berkata: "Itu Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib telah datang." Ibnu Hisyam berkata: Abu Sufyan bernama asli Al-Mughirah. Abu Lahab berkata kepada Abu Sufyan bin Al-Harits: "Wahai Abu Sufyan, mendekatlah kepadaku. Aku bersumpah, engkau pasti mempunyai kabar penting!'"Abu Sufyan bin Al-Harits menghampiri Abu Lahab dan duduk di dekatnya, sedangkan orang-orang berdiri di hadapannya. Abu Lahab berkata: "Wahai anak saudaraku, ceritakanlah kepadaku tentang orang-orang Quraisy!" Abu Sufyan bin Al-Harits berkata: "Demi Allah, kami bertemu dengan kaum (Muslimin) itu, lalu kami serahkan pundak-pundak kami kepada mereka dan mereka membunuh dan menawan kami sekehendak mereka. Demi Allah, walaupun begitu, aku tidak mencela orang-orang Quraisy. Kami bertemu dengan orang-orang yang mengenakan pakaian serba putih di atas kuda belang yang terbang di antara langit dan bumi. Demi Allah, dia tidak menyisakan sesuatu pun dan tidak ada yang sanggup bertahan menghadapi mereka."
Abu Rafi' berkata: Lalu aku mengangkat pasak kemah dengan kedua tanganku dan berkata: "Demi Allah, orang-orang yang mengenakan pakaian serba putih tersebut adalah para malaikat." Abu Lahab mengangkat tangannya, lalu memukulkannya pada wajahku dengan pukulan yang sangat keras. Aku loncat ke arah Abu Lahab, tapi ia menyerangku dan melemparkanku ke tanah, lalu mendudukiku sambil memukuliku, karena aku orang lemah. Maka Ummu Al-Fadhl segera pergi ke tiang kayu kemah lalu mengambilnya. Ia pukul Abu Lahab dengan tiang kayu kemah tersebut dengan pukulan yang menyebabkan kepala Abu Lahab terluka parah. Ummu Al-Fadhl berkata: "Engkau anggap dia lemah, tatkala tuannya tidak ada!!" Lalu Abu Lahab melarikan diri dengan keadaan hina. Demi Allah, dia hidup tak lebih dari tujuh hari, hingga Allah timpakan penyakit seperti tha'un dan ia pun mati dikarenakan penyakit itu.
Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata kepadaku dari ayahnya Abbad ia berkata: Orang-orang Quraisy menangis meratapi korban-korban perang mereka. Mereka berkata: "Berhentilah dan jangan teruskan ratapan kalian, karena ratapan kalian akan sampai ke telinga Muhammad dan sahabat-sahabatnya, kemudian mereka pun menjadikan kalian bahan tertawaan. Janganlah kalian mengirim orang untuk menebus tawanan, tangguhkanlah penebusan mereka, pasti Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak akan meminta uang tebusan banyak atas tawanan!"
Tiga anak Al-Aswad bin Al-Muththahb: Zam'ah bin Al-Aswad, Aqil bin Al-Aswad, dan Al-Harits bin Al- Aswad mati di Perang Badar. Ia ingin menangisi kematian anak-anaknya. Tapi di saat ia ingin menangisi kematian anak-anaknya, tiba-tiba pada suatu malam ia mendengar ratap tangis seorang wanita. Al- Aswad yang tuna netra berkata kepada budaknya: "Lihatlah, apakah meratap itu dihalalkan? Lihatlah, apakah orang-orang Quraisy menangisi para korban perang mereka, sehingga dengan demikian aku bisa menangisi Abu Hakimah (Zam'ah)? Sungguh hatiku kini terbakar!" Ketika budak Al-Aswad telah kembali, ia berkata: "Wanita itu menangisi untanya yang hilang."
 
Ibnu Ishaq berkata: Di antara para tawanan ialah Abu Wada'ah bin Dhubayrah As-Sahmi. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Abu Wada'ah me kaya di Mekkah, tampaknya ia datang kepada kalian untuk menebus ayahnya." Ketika orang- orang Quraisy berkata: " Janganlah kalian cepat-cepat menebus tawanan kalian, semoga dengan cara itu, Muhammad dan sahabat- sahabatnya tidak meminta uang tebusan yang banyak." Al-Muthalib bin Abu Wada'ah ini yang dimaksud Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pada kisah di atas berkata: "Kalian benar. Janganlah kalian tergesa-gesa menebus tawanan kalian!" Tapi ketika datang malam hari, Al-Muthalib bin Abu Wada'ah pergi secara sembunyi-sembunyi dari Makkah, sampai tiba di Madinah, kemudian menebus ayahnya dengan uang tebusan sebesar empat ribu dirham. Lalu ia pulang ia pulang bersama dengan ayahnya.



Penebusan Suhail bin Amr


Ibnu Ishaq berkata: Lalu orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk menebus tawanan perang mereka. Mikraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf tiba di Madinah untuk menebus Suhail bin Amr yang ditawan Malik bin Ad-Dukhsyum, saudara Bani Salim bin Auf. Malik bin Ad-Dukhsyum berkata:
Aku tawan Suhail dan aku tak mau tawanan selain dia dari seluruh bangsa Khindif mengetahui bahwa pahlawan mereka
Ialah Suhail, jika ia dizalimi
Aku tebas dengan parang hingga parang tersebut bengkok
Aku paksa diriku dengan untuk memukul orang berbibir sumbing Suhail adalah seorang yang bibir bawahnya sumbing.

Ibnu Ishaq Hisyam: Sebagian pakar syair mengklaim bahwa bait syair-syair di atas bukan syair-syair Malik bin Ad-Dukhsyum.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Amr bin Atha', saudara Bani Amir bin Luay berkata kepadaku bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, izinkan saya mencongkel dua gigi depan Suhail bin Amr, agar lidahnya menjulur sehingga ia tidak berdiri ngoceh terus menerus di tempat mana pun untuk selamanya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak akan memutilasi dia, agar Allah tidak memutilasiku, walaupun aku seorang Nabi."
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda kepada Umar bin Khaththab pada peristiwa di atas: "Memang dia pasti akan berada di sebuah tempat yang kamu sendiri tidak akan meencelanya."
Ibnu Hisyam berkata: Pembahasan tentang tempat ini, insya Allah akan saya jelaskan pada tempatnya.
Ibnu Ishaq berkata: Setelah Mikraz bin Hafsh berbicara dengan para sahabat tentang Suhail bin Amr dan para sahabat setuju dengan hasil pembicaraan tersebut, maka para sahabat berkata: "Sekarang serahkanlah hak kami!" Mikraz bin Hafsh berkata: " Jadikanlah kakiku sebagai ganti kaki Suhail bin Amr, dan lepaskan dia hingga dia mengirimkan orang untuk menebusnya!" Para sahabat melepas Suhail bin Amr, dan menjadikan Mikraz bin Hafsh tawanan sebagai gantinya.
 
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian kritikus sastra Arab berkata bahwa bait syair-syair di atas bukan milik Mikraz bin Hafsh.



Amr bin Abu Sufyan bin Harb Ditawan dan Pembebasannya


Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku ia berkata: "Amr bin Abu Sufyan bin Harb salahsatu tawanan Perang Badar di tangan Rasullullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ibu Amr bin Abu Sufyan bin Harb adalah anak perempuann Uqbah bin Abu Mu'aith.
Ibnu Hisyam berkata: Ibu Amr bin Abu Sufyan bin Harb ialah anak perempuan Abu Amr, saudara wanita Abu Mu'aith bin Abu Amr.
Ibnu Hisyam berkata: Amr bin Abu Sufyan bin Harb ditawan Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa ada orang yang berkata kepada Abu Sufyan bin Harb: "Tebuslah Amr, anakmu!" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Apakah aku harus kehilangan darah dan kekayaanku?Mereka bunuh Hanzhalah, apakah aku harus pula membayar tebusan buat Amr? Biarkan Amr berada di tangan mereka, dan biarkan mereka menahannya sesuka mereka!"
Ketika Amr bin Abu Sufyan tertawan di Madinah di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tiba-tiba Sa'ad bin An-Nu'man bin Akkal saudara Bani Amr bin Auf lalu salah seorang dari Bani Umayyah keluar dari Madinah untuk melakukan umrah bersama dengan gadis kecilnya. Sa'ad bin An- Nu'man telah lanjut usia dan telah menjadi muslim. Ia menetap bersama kambingnya di An-Naqi'. Dari An-Naqi', ia keluar untuk melakukan umrah tanpa merasa takut akan perlakuan buruk. Ia tidak mengira akan ditahan di Makkah, karena kepergiannya ke Makkah adalah untuk melakukan umrah. Sebelumnya Sa'ad bin An-Nu'man telah membuat perjanjian dengan orang-orang Quraisy, bahwa mereka tidak boleh mengganggu orang yang datang ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah kecuali dengan kebaikan. Namun Abu Sufyan bin Harb melanggar janji, dan menahannya sebagai ganti penahanan atas Amr bin Abu Sufyan. Abu Sufyan berkata:
Hai anak-anak Akkal, penuhilah seruannya Kalian telah berjanji tak kan menyerahkan pemimpin yang telah tua Sesungguhnya Bani Amr manusia hina-dina, Jika mereka tidak melepas tawanan mereka dari belenggugnya
Syair Abu Sufyan bin Harb di atas dijawab oleh Hassan bin Tsabit:
Andai Sa'ad dilepas pada hari dia di Makkah
Ia pasti akan banyak membunuh kalian sebelum ditawan
Dengan pedang tajam atau dengan anakpanah dari pohon Nab'ah Hingga pedang atau anak panah itu mengeluarkan suara

Bani Amr bin Auf pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan menjelaskan persoalan mereka. Mereka meminta pada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerahkan Amr bin Abu Sufyan bin Harb kepada mereka untuk dibebaskan sehingga dengan cara seperti itu, mereka bisa membebaskan sahabat mereka, yakni Sa'ad bin An-Nu'man. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
 
mengabulkan permohonan mereka, lalu mereka mengirim Amr bin Abu Sufyan bin Harb kepada Abu Sufyan Harb, dan Abu Sufyan bin Harb membebaskan Sa'ad bin An-Nu'man.



Kisah Zainab Putri Rasulullah dan Suaminya Abul Ash bin Rabi'


Ibnu lshaq berkata: Di antara tawanan Perang Badar terdapat Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' bin Abdun bin Al-Uzza bin Abdu Syams, menantu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, suami Zainab putri beliau.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Al-Ash di- tawan Khirasy bin Ash-Shimmah, salah seorang dari Bani Haram.
Ibnu lshaq berkata:Abu Al-Ash termasuk orang-orang Makkah yang diperhitungkan dari sisi: harta kekayaan, amanah, bisnis. Halal binti Khuwailid adalah ibunya dan Khadijah adalah bibinya. Khadijah meminta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menikahkan Abu Al-Ash dengan Zainab. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak menolak keinginan Khadijah, dan itu terjadi sebelum wahyu tu- run kepada beliau, lalu beliau menikahkan Abu Al-Ash dengan Zainab. Khadijah men- jadikan kedudukan Abu Al-Ash baginya seperti anaknya sendiri. Dan di saat Allah Ta'ala memuliakan Rasul-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan kenabian dan turunnya wahyu kepada beliau, Khadijah dan putri-putrinya beriman kepada beliau. Mereka membenarkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan bersaksi bahwa apa yang di bawa beliau dari wahyu adalah haq. Mereka memeluk Islam agama beliau. Kendati Abu Al-Ash bertahan pada kekufuran dan kesyirikannya.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menikahkan Utbah bin Abu Lahab dengan Ruqayyah atau Ummu Kaltsum. Di saat Rasulullah memperlihatkan perintah Allah, dan permusuhan terhadap orang- orang Quraisy, mereka berkata: "Sungguh kalian telah meng- hilangkan kesedihan di hati Muhammad. Kembalikan putri-putrinya kepadanya, sehingga ia lebih disibukan dengan mengurusi mereka." Lalu mereka berjalan menemui Abu Al-Ash dan berkata kepadanya: "Ceraikan istrimu, dan kami akan nikahkan engkau dengan wanita Quraisy mana saja yang engkau sukai!" Abu Al-Ash menjawab: "Tidak!! Demi Allah, aku tidak akan menceraikan istriku! Aku tidak berharap wanita Quraisy manapun menggantikan posisi istriku." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi pujian kepada Abu Al- Ash dengan pujian yang baik, sebagaimana dituturkan kepadaku.
Orang-orang Quraisy mendatangi Utbah bin Abu Lahab, dan mereka berkata kepadanya: "Ceraikan putri Muhammad, dan kami akan nikahkan engkau dengan wanita Quraisy mana saja yang engkau suka." Utbah bin Abu Lahab berkata: "Jika kalian mampu menikahkan aku dengan anak perempuan Aban bin Sa'id bin Al-Ash atau anak perempuan Sa'id bin Al-Ash, aku akan menceraikan putri Muhammad. Lalu orang-orang Quraisy menikahkan Utbah bin Abu Lahab dengan anak perempuan Sa'id bin Al-Ash, dan Utbah bin Abu Lahab pun menceraikan putri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan ia tidak pernah menggaulinya. Allah memuliakan Ruqaiyyah dengan cara membebaskannya dari tangan Utbah bin Abu Lahab, dan menjadikan Utbah bin Abu Lahab hina. Setelah itu, Ruqaiyyah dinikahi Utsman bin Affan.
Di Makkah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak menghalalkan dan tidak mengharamkan, kondisinya sangat membatasinya. Islam telah memisahkan Zainab binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan suaminya, Abu Al-Ash -ketika Zainab telah masuk Islam-, hanya saja Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak kuasa untuk memisahkan keduanya. Zainab tetap tinggal bersama Abu Al-Ash sebagai seorang Muslimah dan Abu Al-Ash yang masih dalam keadaan musyrik hingga
 
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Di saat orang-orang Quraisy berangkat menuju Badar, Abu Al-Ash ikut bersama mereka, dan menjadi slahsatu tawanan perang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Madinah.
Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, Abbad dari Aisyah Radhiyallahu Anha dia berkata: Di saat orang-orang Makkah mengirim wakilnya pergi ke Madinah untuk menebus tawanan mereka, Zainab binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam juga mengirim wakilnya pergi ke Madinah untuk menebus Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' dengan uang. Zainab juga mengirimkan kalung kepada suaminya, Abu Al-Ash. Kalung tersebut dulunya milik Khadijah, kemudian Khadijah memberikan kalung tersebut kepadanya tat- kala ia menikah dengan Abu Al-Ash. Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat kalung tersebut, beliau terenyuh, lalu bersabda: "Jika kalian hendak membebaskan suami Zainab, dan mengembalikan hartanya kepadanya, silakan lakukan!" Para sahabat berkata: "Akan kami lakukan, wahai Rasulullah. Maka para sahabat segera membebaskan Abu Al-Ash dan mengembalikan harta Zainab.86






Zainab binti Rasulullah Shalla¬lahu 'alaihi wa Sallam Berangkat ke Madinah


Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masih membuat kesepakatan dengan Abu Al-Ash, atau beliau membuat perjanjian dengannya untuk memudah- kan kepergian Zainab kepada beliau. Atau Abu Al-Ash telah mengajukan syarat dalam pembebasan dirinya, namun persyaratan tersebut tidak terlihat pada Abu Al-Ash atau dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, hingga bisa diketahui. Hanya saja ketika Abu Al-Ash pulang ke Makkah, Rasulullah Shal¬lalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Zaid bin Haritsah dan salah seorang dari kaum Anshar. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada keduanya: "Pergilah kalian ke kabilah Ya'jaj hingga Zainab melewati kalian berdua, temani dia hingga tiba di tempatku!"87 Kemudian Zaid bin Haritsah dan sahabat dari kaum Anshar tersebut berangkat ke tempat yang Shallalahu 'alaihi wa Sallam maksud. Kejadian ini terjadi kurang lebih sebulan sesudah Perang Badar. Ketika Abu Al-Ash tiba di Makkah, ia memerintahkan istrinya pergi pada ayahnya, lalu Zainab keluar untuk mengadakan persiapan untuk pergi ke Madinah.


Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa aku diberi tahu dari Zainab ia berkata: pada saat aku menyiapkan diri di Makkah untuk menyusul ayahku, Hindun binti Utbah menemuiku. Ia berkata: "Wahai putri Muhammad, benarkah berita yang sampai padaku bahwa engkau akan pergi menyusul ayahmu?" Aku menjawab: "Aku tidak mau melakukan itu." Hindun binti Utbah berkata: "Wahai putri pamanku, telah sampai padaku berita bahwa engkau akan menyusul ayahmu. Jika engkau membutuhkan bekal untuk perjalananmu atau uang sehingga engkau bisa sampai di sana, silahkan utarakan kebu tuhanmu kepadaku, dan janganlah engkau malu kepadaku, karena aku pun perempuan sepertimu, aku sangat mengerti." Zainab berkata: "Demi Allah, aku melihat Hindun berkata seperti itu memang untuk melakukannya. Namun aku tetap takut padanya.
 
Oleh karena itu, menolak untuk mengatakan bahwa aku akan menyusul ayahku. Namun aku tetap melakukan persiapan untuk kepergianku ke Madinah menyusul ayahku"
Pada saat Zainab telah siap berangkat, saudara ipar Zainab, Kinanah bin Ar-Rabi' yang juga saudara suaminya memberikan unta kepadanya. Kinanah bin Ar-Rabi' mengambil busur dan anak panah. Kemudian di siang hari, Kinanah bin Ar-Rabi' berjalan menuntun unta Zainab, sedangkan Zainab berada di dalam tandunya. Hal tersebut menjadi wa- cana massif orang-orang Quraisy, kemudian mereka pergi mengejar Zainab. Mereka berhasil bertemu dengannya di Dzi Thuwa. Orang yang pertama kali menyusul Zainab ialah Habbar bin Al-Aswad bin Abdul Muthalib bin Asad bin Abdul Uzza Al-Fihri. Habbar bin Al-Aswad mengintimidasi Zainab di tandunya dengan tombak. Menurut para ulama, ketika itu Zainab sedang hamil. Karena mendapat teror dari Habbar bin Al-Aswad, maka bayi di kandungan Zainab mengalami keguguran. Kinanah bin Ar-Rabi' berhenti, kemudian ia mengeluarkan anak panahnya lalu berkata: "Demi Allah, apabila salah seorang dari kalian mendekatiku, aku akan mengerahkan anak panahku padanya." Orang-orang Quraisy pun akhirnya balik kembali ke Makkah.
Abu Sufyan bin Harb bersama tokoh-tokoh Quraisy tiba di tempat Zainab dan Kinanah bin Ar-Rabi'. Abu Sufyan bin Harb berkata kepada Kinanah: "Wahai Fulan, tahanlah anak panahmu dari kami, beri kami kesempatan bicara denganrrtu!" Kinanah bin
Ar-Rabi' menahan anak panahnya, kemudian Abu Sufyan bin Harb menghampirinya dan berdiri di dekatnya. Abu Sufyan bin Harb berkata kepada Kinanah bin Ar-Rabi': "Engkau bertindak tidak benar, karena engkau keluar bersama seorang wanita secara terang-terangan dan disaksikan oleh seluruh manusia. Engkau menyadari musibah, dan petaka yang menimpa kami, serta kesedihan yang dimasukkan Muhammad dalam perasaan kami. Jika engkau tetap memaksa keluar bersama putri Muhammad dengan terang-terangan yang dilihat banyak orang, maka orang-orang akan menyimpulkan bahwa ini terjadi karena kehinaan yang menimpa kita akibat kekalahan yang menimpa kita, dan dianggap sebagai kelemahan kita semua. Aku bersumpah bahwa kami tidak meliki kepentingan menahan putri Muhammad, agar ia tidak bisa bertemu ayahnya. Kami tidak ingin balas dendam terhadap Zainab dengan cara menahannya. Untuk sementara pulanglah dengan putri Muhammad. Jika suara-suara sumbang telah mereda dan orang-orang berkata bahwa kami telah mengembalikan putri Muhammad kepada Muhammad, pergilah bersama putri Muhammad dengan diam-diam dan bawalah dia untuk menemui ayahnya!"
Kinanah bin Ar-Rabi' menerima usulah Abu Sufyan bin Harb, kemudian Zainab ting- gal di Makkah beberapa waktu. Ketika suara-suara sumbang mulai mereda, akkhirnya pada suatu malam, Kinanah bin Ar-Rabi' keluar dari Makkah bersama Zainab, kemudian menyerahkan Zainab kepada Zaid bin Haritsah dan sahabatnya. Zaid bin Haritsah dan sahabatnya pun tiba di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa Zainab.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Rawahah atau Abu Khaitsamah saudara Bani Salim bin Auf berkata tentang kejadian yang dialami Zainab.
Ibnu Ishaq berkata: Mantan budak Abu Sufyan yang dimaksud pada syair di atas adalah Amir bin Al- Hadhrami. Iajuga menjadi tawanan di tempat kaum Muslimin. Tadinya ia bersekutu dengan Harb bin Umayyah.
Ibnu Hisyam berkata: Mantan budak Abu Sufyan yang dimaksud di syair di atas ialah Uqbah bin Abdul Harits bin Al-Hadhrami. Adapun Amir bin Al-Hadhrami tewas di Perang Badar.
Pada saat orang-orang Quraisy yang menemui Zainab tadi pulang ke Makkah dan mereka bertemu dengan Hindun binti Utbah. Hindun binti Utbah berkata kepada mereka,
 
Apakah dalam suasana damai, mereka tegas bersikap keras
Namun di medan perang, mereka laksana wanita-wanita yang lagi haid

Kinanah bin Ar-Rabi' berkata tentang Zainab, ketika ia menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan sahabatnya
Aku heran dengan Habbar, dan orang-orang lemah hina dan kaumnya Mereka berniat mencegahku memenuhi janji pada putri Muhammad Aku tidak peduli jumlah mereka selagi aku masih hidup
Dan selagi tanganku masih bisa bertarung dengan pedang dari India
Ibnu Ishaq berkata bahwa Yazid bin Abu Habib berkata kepadaku dari Bukair bin Abdullah bin Al-Asyaj dari Sulaiman bin Yasar dari Abu Ishaq Ad-Dausi dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim ekspedisi dan aku ikut serta di dalamnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada kami: "Apabila kalian bisa menangkap Habbar bin Al- Aswad atau orang lain yang tiba duluan di tempat Zainab." Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Ishaq berkata bahwa orang yang dimaksud Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam peristiwa di atas adalah Nafi' bin Abdu Qais, maka bakarlah keduanya dengan api." Abu Hurairah berkata: "Keesokan harinya, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi ke tempat kami dan bersabda: "Kemarin aku menyuruh kalian membakar dua orang tersebut apabila kalian berhasil menangkap keduanya, kemudian aku memandang bahwa siapapun tidak boleh menyiksa orang lain dengan api kecuali Allah saja yang boleh melakukannya. Apabila kalian berhasil menangkap kedua orang itu, maka bunuhlah mereka!"



Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Sesudah itu, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' tinggal di Makkah, sementara Zainab menetap di Madinah bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ketika Islam memisahkan mereka berdua. Menjelang penaklukan Makkah, Abu Al-Ash pergi berdagang ke Syam. Abu Al-Ash dikenal sebagai orang yang amanah dalam menjaga harta. Baik milik sendiri maupun harta orang-orang Quraisy yang mereka titipkan padanya. Tatkala usai berdagang dan kembali ke Makkah, ia berpapasan dengan ekspedisi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mereka merampas kekayaan Abu Al-Ash bin Ar-Rabi'. Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' tidak kuasa untuk menghadapi mereka, akhirnya dia melarikan diri. Ketika ekspedisi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah dengan membawa barang rampasan, pada malam harinya Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' tiba di Madinah. Ia ma suk ke rumah Zainab binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kemudian ia meminta perlindungan darinya dan Zainab pun memberi perlindungan padanya. Abu Al-Ash bin Ar-Rabi pergi ke Madinah untuk mengambil kembali hartanya.
Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar untuk menunaikan shalat Shubuh, sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Yazid bin Ruman, beliau bertakbir, para sahabat bertakbir dan tiba-tiba Zainab berteriak keras dari shaf wanita: "Hai manusia, sesungguhnya aku telah memberi perlindungan kepada Abu Al-Ash. Setelah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam selesai menunaikan shalat, beliau menemui sahabat-sahabatnya dan bersabda: "Wahai manusia, apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?" Para sahabat menjawab: "Ya, kami telah mendengar apa yang engkau dengar." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, aku
 
tidak mengetahui sedikit pun tentang hal ini hingga aku mendengar apa yang kalian dengar. Sesungguhnya kaum Muslimin harus memberi perlindungan kepada orang yang paling lemah di antara mereka; " Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang hingga beliau menemui putrinya, dan berkata: "Wahai putriku, muliakan dia dan jangan sekali-kali dia mendekatimu, karena engkau tidak halal baginya!"
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi ke ekspedisi yang merampas harta Abu Al-Ash bin Ar-Rabi', dan bersabda kepada mereka: "Sesungguhnya orang ini termasuk golongan kita sebagaimana yang kalian ketahui, dan kalian telah merampas hartanya. Jika kalian berbuat baik dan mengembalikan hartanya itu kepadanya, maka hal ini sangat aku kehendaki. Namun jika kalian tidak ingin melakukan itu, maka harta rampasan tersebut adalah harta yang diberikan Allah kepada kalian." Para sahabat menjawab: "Kami akan mengembalikan harta itu kepadanya, wahai Rasulullah." Maka para sahabat pun mengembalikan harta Abu Al-Ash bin Ar-Rabi', hingga salah seorang dari mereka mengembalikan timbanya, yang lain- nya datang mengembalikan kirbahnya, yang lain mengembalikan tempat airnya yang terbuat dari kulit, bahkan yang lain lagi mengembalikan kayu kecil untuk mengangkat karung. Mereka mengembalikan semua harta Abu Al- Ash bin Ar-Rabi' tanpa terkecuali.
Kemudian Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' membawa pulang harta tersebut ke Makkah, lalu mengembalikan seluruh harta itu kepada para pemiliknya yaitu orang-orang yang menitipkan barang dagangan padanya. Kemudian, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, masih adakah di antara kalian yang belum menerima hartanya?" Orang-orang Quraisy menjawab: "Tidak ada!." Kami telah menerima harta kami seluruhnya. Semoga Allah memberi balasan yang baik kepadamu. Kami mendapatimu selalu menetapi janji dan engkau adalah seorang yang mulia." Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' berkata: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak di sembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku masuk Islam di tempat Muhammad, kecuali karena rasa takutku bahwa kalian akan mengira aku memakan harta kalian. Setelah Allah mengembalikan harta kalian kepada kalian, dan aku telah membagi-bagikannya, maka kini aku nyatakan diriku masuk Islam." Setelah itu, Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' keluar dari Makkah hingga tiba di Madinah. Ibnu Ishaq berkata: Daud bin Al-Hushain berkata kepadaku dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma. yang berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyatukan kembali Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' dengan Zainab setelah mereka berpisah selama enam tahun.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa ketika Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' pulang dari Syam dengan membawa harta orang-orang musyrikin, dikatakan kepadanya: "Apakah engkau masuk Islam dan mengambil harta milik orang-orang musyrikin?" Abu Al-Ash bin Ar-Rabi menjawab: "Sungguh buruk bagiku, bila aku mengawali keislamanku dengan berkhianat."
Ibnu Hisyam berkata: Abdul Warits bin Sa'id At-Tanuri berkata kepadaku dari Daud bin Abu Hindun dari Amir Asy-Sya'bi tentang hadits yang sama dengan hadits Abu Ubaidah dari Abu Al-Ash.
Ibnu Ishaq berkata: Di antara tawanan yang dibebaskan tanpa uang tebusan yang nama-namanya disebutkan kepada kami adalah sebagai berikut:
Dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' bin Abdul Uzza bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Ia dibebaskan oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam setelah Zainab binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus orang untuk menebusnya.
 
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah adalah: Al-Muthalib bin Hanthab bin Al-Harts bin Ubaid bin Umar bin Makhzum. Ia ditawan di Bani Al-Harits. kemudian mereka membebaskannya, dan ia menyusul kaumnya.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Muthalib bin Hanthab ditawan oleh Khalid bin Zaid yang tidak lain adalah Abu Ayyub Al-Anshari, saudara Bani An-Najjar.
Shaifi bin Abu Rifa'ah bin Aidz bin Abdullah bin Umar bin Makdzum. Selama dia ditawan, ia dibiarkan bebas namun tetap dalam pengawasan para sahabat. Ketika tidak ada orang yang menebus Shaifi bin Abu Rifa'ah, para sahabat membuat perjanjian dengannya agar ia mengirim orang untuk menebus dirinya. Lalu para sahabat membebaskannya, namun ia tidak memberikan apa-apa pada mereka. Tentang hal tersebut, Hassan bin Tsabit berkata:
Shaifi tidak menetapi amanahnya
Ia laksana tengkuk serigala yang kelelahan di sebuah sumber air

Abu Azzah Amr bin Abdullah bin Utsman bin Uhaib bin Hudzafah bin Jumah. Ia seorang miskin yang mempunyai banyak anak perempuan. Ia berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, engkau telah mengetahui kalau aku tidak mempunyai uang, seorang miskin, dan mempunyai tanggungan anak-anak perempuan yang banyak. Oleh karena itu, bebaskanlah diriku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membebaskannya, dan membuat perjanjian dengannya agar ia tidak membantu siapa pun untuk memerangi beliau. Tentang hal ini, Abu Azzah berkata memuji Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menyebutkan keutamaan beliau di tengah kaumnya:
Siapakah yang bisa menyampaikan pesanku kepada Rasul Muhammad? Bahwa engkau adalah benar dan seorang raja yang terpuji
Engkau lelaki yang mengajak kepada kebenaran dan petunjuk Engkau saksi dari Allah Yang Mahaagung
Engkau orang yang memperoleh kedudukan tinggi di kalangan kami
Dalam derajat yang mudah dan tinggi Barangsiapa yang engkau perangi, ia tentara yang sengsara Barangsiapa yang engkau berdamai dengannya, ia orang yang bahagia
Namun, bila disebut Badar dan para pelaku Perang Badar Kembali rasa sedih dan duka menyelinap dalam dadaku
Ibnu Hisyam berkata: Jumlah tebusan orang-orang musyrikin ketika itu ialah empat ribu hingga seribu dirham per satu tawanan lelaki, kecuali tawanan yang tidak mempunyai apa-apa, maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membebaskannya tanpa uang tebusan.



Umair bin Wahb Masuk Islam


Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair ia berkata: Setelah orang-orang Quraisy mengalami kekalahan telak di Perang Badar, Umair bin Wahb Al-Jumahi duduk berdua dengan Shafwan bin Umayyah di dekat Hijr. Umair bin Wahb adalah salah satu setan Quraisy, termasuk orang yang menyakiti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, serta para sahabat di berondong kesusahan darinya ketika mereka tinggal di Makkah. Anak Umair bin Wahb yang bernama Wahb bin Umair termasuk dalam salah satu tawanan kaum Muslimin.
 
Ibnu Hisyam berkata: Wahb bin Umair ditawan Rifa'ah bin Rafi', salah seorang dari Bani Zuraiq.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair yang berkata: Umair bin Wahb teringat akan orang-orang Quraisy yang tewas dan menjadi penghuni sumur di Badar dan apa yang menimpa mereka dari kekalahan. Shafwan bin Umayyah berkata: "Demi Allah, tidak ada kebaikan dalam hidup ini setelah mereka tiada." Umair bin Wahb berkata kepada Shafwan bin Umayyah: "Demi Allah, engkau berkata benar. Demi Allah, bila aku tidak mempunyai utang yang harus aku bayar, dan tidak mempunyai beban keluarga yang membuatku takut jika aku tinggalkan mereka menjadi miskin, niscaya aku akan pergi kepada Muhammad kemudian aku bunuh dia. Karena sesungguhnya aku memiliki banyak alasan untuk itu. Anakku berada di tangan mereka sebagai tawanan perang."
Shafwan bin Umayah melihat ada sebuah kesempatan pada ucapan Umair bin Wahb tersebut, maka ia gunakan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya kemudian ia berkata: "Utangmu aku yang akan membayarnya hingga lunas. Dan beban keluargamu menjadi bebanku dan aku akan membantu mereka sepanjang hidup mereka. Tidak ada sesuatu yang bisa mencegahku dan menjadikanku lemah untuk mengurusi mereka." Umair bin Wahb berkata kepada Shafwan bin Umayyah: "Rahasiakan kesepakatan kita ini dari orang lain." Shafwan bin Umayyah menjawab: "Ya!"
Lalu Umair bin Wahb meminta salah seorang dari keluarganya mengambilkan pedangnya, ia pun mengasahnya dan memberinya racun kemudian dia berangkat menuju Madinah. Saat itu Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berada di tengah kumpulan beberapa sahabat yang sedang memperbincangkan Perang Badar, kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka, dan tentang musuh yang Allah perlihatkan kepada mereka.
Tiba-tiba Umar bin Khaththab melihat Umair bin Wahb datang dengan menghunus pedang kemudian berhenti dan berdiri di ambang pintu masjid. Umar bin Khaththab berkata: "Inilah dia anjing dan musuh Allah, Umair bin Wahb. Demi Allah, ia tidak datang ke sini kecuali dengan maksud jahat. Dialah yang menghasut orang-orang untuk berbuat jahat terhadap kita, dan memberitahu akan jumlah kita di Perang Badar kepada orang-orang Quraisy." Umar bin Khaththab masuk menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau: "Wahai Nabi Allah, inilah musuh Allah Umair bin Wahb datang dengan menghunus pedangnya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perintahkan dia masuk menemuiku!" Umar bin Khaththab pergi sambil membawa tali busur pedangnya lalu mengalungkannya ke leher Umair bin Wahb. Umar bin Khaththab berkata kepada beberapa sahabat dari kaum Anshar: "Masuklah kalian kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan duduklah di depan beliau. Hati-hatilah kalian terhadap orang jahat ini, karena sesungguhnya orang ini tidak bisa dipercaya." Kemudian Umar bin Khaththab masuk ke tempat Rasulullah Shal¬lalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa Umair bin Wahab.
Ketika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat Umair bin Wahb, dan Umar bin Khaththab memanggul pedangnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai Umar, turunkan pedangmu. Hai Umair mendekatlah kepadaku!" Umair bin Wahb pun mendekat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kemudian Umair bin Wahb berkata: 'An 'imuu shahahan (Selamat Pagi) - ini adalah ucapan salam pada zaman Jahiliyah.' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai Umair, sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan ucapan salam yang lebih baik daripada salammu. Yaitu ucapan salam para penghuni surga." Umair bin Wahb berkata: "Demi Allah, wahai Muhammad, sesungguhnya aku orang baru dalam hal tersebut." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Umair bin Wahb: "Wahai Umair, apa yang membuatmu datang kemari?"Umair bin Wahb menjawab: "Aku datang kepada kalian demi tawanan yang ada di tangan kalian. Berbuat baiklah kepadanya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Lalu mengapa
 
mesti ada pedang terhunus di atas pundakmu?" Umair bin Wahb menjawab: "Semoga Allah menjelek- jelekkan pedang ini di antara pedang lainnya. Apakah pedang ini bisa memberikan suatu mamfaat padamu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Umair bin Wahb: "Katakan sejujurnya kepadaku kenapa engkau datang ke mari?" Umair bin Wahb menjawab: "Aku datang ke mari hanya demi tujuan tersebut." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: Tidak! engkau telah duduk bersama Shafwan bin Umayyah di dekat Hijr, lalu kalian berdua membahas tentang orang- orang Quraisy yang tewas di Perang Badar dan menjadi penghuni sumur, lalu engkau berkata: 'Seandainya aku tidak mempunyai hutang yang harus aku lunasi, dan tanggungan anak-anak, pasti aku pergi ke Madinah kemudian aku bunuh Muhammad. Lalu Shafwan bin Umayyah menanggung hutangmu, dan anak-anak tanggunganmu dan sebagai gantinya engkau membunuhku untuknya. Hanya saja Allah menghalangimu."
Umair bin Wahb berkata: "Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Wahai Rasulullah, dulu kami mendustakan berita langit yang engkau bawa kepada kami, dan yang diturun kepadamu dari Wahyu. Dan tidak ada satu pun yang tahu tentang rencana pembunuhan ini kecuali aku dan Shafwan bin Umayyah. Demi Allah. Aku tahu bahwa tidak ada yang bisa memberitahukan rencana ini kepadamu kecuali Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku Hidayah kepada Islam, dan menuntunku ke jalan ini." Setelah itu, Umair bin Wahb bersaksi dengan kesaksian yang benar.' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabatnya: "Ajarilah saudara kalian ini tentang masalah- masalah agamanya, bacakan Al-Qur'an kepadanya, dan bebaskan tawanannya!" Para sahabat melaksanakan perintah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Umair bin Wahb berkata: "Wahai Rasulullah, dulu aku berusaha keras untuk memadamkan cahaya Allah, dan amat kejam terhadap orang yang memeluk agama -Nya. Kini izinkanlah aku untuk kembali pulang ke Makkah, lalu aku ajak orang-orang Quraisy kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Islam. Mudah-mudahan Allah memberi Hidayah kepada mereka. Jika tidak, aku siksa mereka karena agama mereka seperti halnya dulu aku menyiksa sahabat-sahabatmu karena agama mereka." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengizinkan Umair bin Wahb pulang ke Makkah, dan ia pun pulang ke Makkah.
Ibnu Ishaq berkata: Ketika Umair bin Wahb berangkat ke Madinah. Shafwan bin Umayyah berkata kepada orang-orang Quraisy: "Bergembiralah kalian dengan kejadian yang akan datang kepada kalian pada hari-hari di mana kalian dibuat lupa akan peristiwa Perang Badar."Shafwan bin Umayyah senantiasa menanyakan kabar tentang Umair bin Wahb kepada setiap musafir, hingga suatu saat datanglah salah seorang musafir, lalu musafir tersebut menjelaskan kepadanya tentang ke Islaman Umair bin Wahb. Maka Shafwan bin Umayyah bersumpah ia tidak akan berbicara apa pun dengan Umair bin Wahb dan tidak memberikan apa pun kepadanya untuk selama-lamanya.
Ibnu lshaq berkata: Tatkala Umair bin Wahb telah tiba di Makkah, ia tinggal di sana untuk mengajak manusia kepada Islam, dan menyiksa siapa saja yang menentangnya dengan siksaan yang keras sehingga banyak yang masuk Islam berkat dakwahnya.
Ibnu Ishaq berkata: Dikatakan kepadaku bahwa salah seorang dari Umair bin Wahb atau Al-Harits bin Hisyam melihat iblis tatkala iblis itu mundur pada saat Perang Badar. Iblis tersebut berkata: "Kemana kau pergi wahai Suraqah?" Kemudian Iblis turun ke bumi dan lenyap pergi. Mengenai hal ini, Allah menurunkan ayat:
 
 

Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungan' (QS. al-Anfal: 48).
Pada ayat di atas, Allah menjelaskan tentang tipu daya (istidraj) iblis kepada orang- orang musyrikin Quraisy, dan penyerupaan dia menjadi seperti Suraqah bin Malik bin Ju'syum ketika mereka ingat perang yang terjadi antara mereka melawan Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Allah Ta'ala berfirman.


Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan) (QS. al- Anfal: 48). Yakni, musuh Allah iblis melihat tentara-tentara Allah dari para malaikat yang dengannya Allah menolong Rasul-Nya dan kaum Muslimin dalam menghadapi musuh-musuh Allah. Allah berfirman:


setan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat" (QS. al-Anfal: 48).
Musuh Allah iblis itu berkata benar di mana ia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang-orang musyrikin Quraisy. Iblis berkata:


sesungguhnya saya takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya (QS. al-Anfal: 48).
Ibnu lshaq berkata: Disebutkan kepadaku bahwa orang-orang Quraisy melihat iblis itu di setiap tempat dalam rupa seperti Suraqah bin Malik. Oleh sebab itulah mereka mempercayainya. Tatkala Perang Badar berlangsung dan pada saat kedua belah pihak sudah berhadap-hadapan, iblis balik ke belakang, lalu meninggalkan mereka setelah berhasil membujuk mereka dan menyerahkan mereka kepada kaum Muslimin.
 
Orang-orang Quraisy Pemberi Makan Jamaah Haji


Ibnu lshaq berkata: Para pemberi makan jamaah haji dari orang-orang Quraisy, kemudian dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf adalah Al-Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim.
Dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams.
Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf adalah Al-Harits bin Amir bin Naufal dan Thu'aimah bin Al-Harits bin Naufal, mereka berdua saling bergantian.
Dari Bani Asad bin Abdul Uzza adalah Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad dan Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad, mereka berdua saling bergantian.
Dari Bani Abduddar bin Qushay adalah An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddar.
Ibnu Hisyam berkata: Ada juga yang mengatakan bahwa An-Nadhr adalah anak Al-Harits bin Alqamah bin Abdu Manaf binAbduddar.
Ibnu lshaq berkata: Dari Bani Makhzum bin Yagdzhah adalah Abu Jahal bin Hisyam bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.
Dari Bani Jumah adalah Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah.
Dari Bani Sahm bin Amr adalah Nubaih dan Munabbih. Keduanya anak Al-Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Sa'ad bin Sahm, dan mereka berdua saling bergantian.
Dari Bani Amir bin Luay adalah Suhail bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir.



Nama-nama Kuda Kaum Muslimin di Perang Badar


Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang ulama berkata kepadaku bahwa kuda-kuda kaum Muslimin di Perang Badar ialah sebagai berikut:
Kuda milik Martsad bin Abu Martsad Al-Ghanawi yang bemama As-Sabal.
Kuda milik Al-Miqdad bin Amr bin Al-Bahrani yang bemama Ba'zajah, ada juga menamakannya Sabhah.
Kuda milik Zubair bin Awwam yang bernama Al-Ya'sub.
Ibnu Hisyam berkata: Kuda-kuda kaum musyrikin ada seratus ekor.




Turunnya Surat Al-Anfaal
 
Ibnu Ishaq: Setelah permasalahan Perang Badar selesai, Allah Yang Mahatinggi menurunkan surat Al- Anfal secara keseluruhan tentang Perang Badar. Di antara ayat di surat Al-Anfal yang turun adalah tentang perselisihan kaum Muslimin tentang rampasan perang ketika mereka memperselisihkannya. Allah berfirman:


Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang- orang yang beriman." (QS. al-Anfal: 1),
Apabila Ubadah bin Ash-Shamit --sebagaimana dituturkan kepadaku-- ditanya mengenai surat Al- Anfal, ia berkata: Surat Al-Anfal ini diturunkan kepada kami, para mujahidin Perang Badar pada saat kami berselisih pendapat tentang harta rampasan perang di Perang Badar, lalu Allah mencabut rampasan perang tersebut dari tangan kami --tatkala akhlak kami rusak--, dan Allah mengembalikannya kepada Rasul-Nya, yang kemudian membagi-bagikannya kepada kami secara merata. Pada hal demikian itu terdapat ketakwaan dan ketaatan kepada Allah, ketaatan kepada Rasul- Nya, dan perbaikan hubungan di antara kami.
Setelah itu Allah Yang Mahatinggi menerangkan tentang para sahabat, dan perjalanan mereka bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tatkala mereka mengetahui bahwa orang-orang Quraisy berangkat kepada mereka. Tadinya kaum Muslimin hanyalah menginginkan kafilah dagang Abu Sufyan karena mereka ingin mendapatkan harta rampasan, lalu Allah Ta'ala berfirman:


Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). (QS. al-Anfal: 5-6).
Yakni, mereka tidak menghendaki berperang dengan orang-orang Quraisy, dan tidak menginginkan keberangkatan orang-orang Quraisy pada saat berita tentang orang-orang Quraisy disampaikan kepada mereka.
 
Allah Ta'ala berfirman:


Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yangkamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu (QS. al-Anfal: 7).
Yakni, para sahabat menginginkan rampasan perang bukan perang itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, (QS. al-Anfal: 7).
Yakni,menghancurkan orang-orang kafir melalui pertempuran yang membinasakan pemuka-pemuka Quraisy, dan pemimpin-pemimpin mereka di Perang Badar.
Kemudian Allah Subhananu wa ta'ala berfirman:


(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu (QS. al-Anfal: 9).
Yakni, takala mereka berdoa setelah mengetahui begitu banyaknya jumlah musuh, dan sedikitnya jumlah mereka.
Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


lalu diperkenankan-Nya bagimu (QS. al-An¬fal: 9).
Yakni, berkat doa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan doa kalian. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 
"Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut" (QS. al-Anfal: 9).
Setelah itu Allah Subhanu wa Ta'ala berfirman:


(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dari- pada-Nya (QS. al-Anfal: 11).
Yakni, tatkala Aku membuat kalian mengantuk, kemudian kalian tidur tanpa ada rasa takut sedikit pun. Lalu Allah Subhanahu wa Ta 'ala berfirman:


dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit (QS. al-Anfal: 11).
Yakni, hujan yang turun pada mereka di malam hari dimana dengan hujan tadi Allah menjadikan orang-orang musyrikin tidak mampu mendahului kaum muslimin tiba di air Badar, dan Allah memudahkan perjalanan kaum Muslimin ke air Badar.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta 'ala berfirman:


untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu). (QS. al-Anfal: 11).
Yakni, untuk menyingkirkan dari kalian keragu-raguan setan. Allah menjadikan musuh mereka takut kepada mereka, dan menjadikan bumi keras dan padat bagi mereka sehingga mereka dapat mendahului musuh tiba lebih awal dengan mudah di tempat mereka.
Lalu Allah Ta 'ala berfirman:


(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang- orangyang telah beriman." (QS. al-Anfal: 12). Yakni, bantulah orang-orang beriman!
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
 
     

Kelak akan Aku timpakan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul- Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum duniayang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) adzab neraka. ' (QS. al-Anfal: 12-14).
Lalu Allah Subhanahu wa Ta 'ala berfirman:


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perangatau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. al-Anfal: 15-16).
Ayat di atas adalah dorongan Allah kepada kaum Muslimin dalam menghadapi orang-orang Quraisy, supaya mereka tidak kabur saat berhadapan dengan orang-orang Quraisy, karena Allah berjanji akan memberi kemenangan kepada mereka.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman tentang pelemparan kerikil yang dilakukan oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan tangannya kepada orang-orang Quraisy ketika beliau melempar mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (QS. al-Anfal: 17).
Yakni, engkau tidak akan bisa melempar mereka jika Allah tidak memberikan pertolongan dengan lemparan tersebut, dan jika Allah tidak melemparkannya ke dada-dada musuhmu di saat Allah menjadikan kekalahan atas mereka.
Setelah itu AllahTa'ala berfirman:


(Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Anfal: 17).
Hal ini dimaksudkan agar kaum Mukminin mengetahui nikmat Allah pada mereka, yakni memberi mereka kemenangan, kendati jumlah mereka sedikit, juga agar mereka mengetahui hak Allah, lalu mereka mensyukuri nikmat-Nya pada mereka.
Lalu Allah Ta'ala berfirman:


Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; (QS. al-Anfal: 19).
Yaitu ucapan Abu Jahal: Ya Allah, orang yang telah memutus tali persaudaraan, dan datang dengan sesuatu yang tidak kami ketahui, binasakan dia pada pagi ini!'
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


dan jika kamu berhenti; maka itulah yang lebih baik bagimu; (QS. al-Anfal; 19).
Firman di atas ditujukan kepada orang-orang Quraisy. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:


dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); '(QS. al-Anfal: 19).
 
Yakni, yang sama dengan apa yang Kami timpakan kekalahan pada kalian pada Perang Badar. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:


dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biar pun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman (QS. al-Anfal: 19).
Yakni, sesungguhnya jumlah kalian yang banyak tidak memberi guna apa pun bagi kalian, karena Aku bersama dengan kaum Mukminin, dan Aku menolong mereka dalam menghadapi siapa saja yang menentang mereka.
Lalu Allah Ta'ala berfirman:


Hai orang-orangyang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya) (QS. al-Anfal: 20).
Yakni, wahai orang-orang beriman, kalian jangan menentang perintah Allah, padahal kalian mendengar firman-Nya, dan mengklaim bahwa kalian berasal dari-Nya.


dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. (QS. al-Anfal: 21).
Yakni, seperti orang-orang munafik yang menampakkan ketaatan kepada Allah, padahal sebenarnya mereka menyembunyikan kemaksiatan kepada-Nya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta 'ala berfirman:


Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. (QS. Al-Anfal: 22)
 
Yakni, orang-orang munafik yang Aku larang kalian menjadi seperti mereka., karena mereka tuli terhadap kebaikan dan bisu akan kebenaran. Mereka tidak berakal dan tidak mengetahui hukuman yang ditimpakan kepada mereka.
Kemudian Allah Ta ala berfirman:


Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. (QS. al-Anfal: 23).
Yakni, Kami pasti menembuskan ucapan mereka kepada mereka ucapan yang diucapkan mulut mereka, namun hati mereka mengingkari ucapan mereka.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman: Dan andaikata mereka keluar bersamamu,


niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). " (QS. al-Anfal: 23).
Yakni, mereka tidak memenuhi janji mereka kepada kalian. Lalu Allah Subhanahu wa Ta 'ala berfirman:


Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan. (QS. al-Anfal; 24).
Yakni, jawablah panggilan perang di mana Allah memuliakan kalian dengannya di mana sebelumnya kalian hina, Allah menguatkan kalian dengannya dimana sebelumnya kalian lemah, dan Allah melindungi kalian dengannya dimana sebelumnya mereka mengalahkan kalian.
Lalu Allah Ta'ala berfirman:
 
     

Dan ingatlah (haipara muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah- amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. al-Anfal: 26-27).
Yakni, janganlah kalian menampakkan kepada Allah kebenaran yang dengannya Allah ridha kepada kalian, lalu kalian membangkang kebenaran itu secara diam-diam, karena itu adalah kebinasaan bagi kalian, dan pengkhianatan terhadap diri kalian.
Lalu Allah berfirman:


Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. al-Anfal: 29).
Maksud Furqaan pada ayat di atas ialah lini demarkatif antara kebenaran dan kebatilan. Dengannya, Allah memenangkan hak kalian, dengannya la memadamkan kebatilan orang yang menentang kalian. Kemudian Allah Ta 'ala mengingatkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang nikmat-Nya kepada beliau, ketika orang-orang Quraisy membikin makar, mereka mau membunuh, menahan beliau di Makkah, atau mengusirnya dari Makkah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu
 
daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (QS. al-Anfal: 30).
Yakni, lalu Aku patahkan tipu-daya mereka dengan tipu daya-Ku yang dahsyat, sehingga Aku melepaskanmu dari mereka. Lalu Allah menyebutkan permohonan orang-orang di saat mereka berkata:


"Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau". (QS. al-Anfal: 32).
Yakni, ia adalah ajaran yang dibawa Muhammad. Mereka berkata:


maka hujanilah kami dengan batu dari langit (QS. al-Anfal: 32).
Yakni, hujanilah kami dengan batu dari langit seperti Engkau menghujani kaum Luth dengan batu. Mereka berkata:


Atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih (QS. al-Anfal: 32).
Yakni, datangkan kepada kami sebagian adzab yang Engkau turunkan kepada umat-umat sebelum kami. Mereka berkata: "Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa kami, tatkala kami mohon ampunan kepada-Nya, dan Allah tidk akan menyiksa suatu kaum selama Nabi mereka masih bersama mereka, kecuali jika mereka mengusir Nabi mereka. Itulah perkataan mereka di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya, mengingatkannya tentang kepandiran mereka, tentang permohonan mereka untuk diri mereka, dan Allah memberi tahu beliau tentang kejelekan perbuatan mereka:
Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih. (QS. al-Anfal: 32).
Yakni, perkataan mereka: Kita memohon ampunan, karena Muhammad ada di tengah-tengah kita. Allah Ta'ala berfirman:

Kenapa Allah tidak mengadzab mereka.. (QS. al-Anfal: 34).
 
Yakni, mengapa Allah tidak akan mengadzab mereka, meskipun engkau (Muhammad) ada di tengah- tengah mereka, dan kendati mereka meminta ampunan sebagaimana yang mereka ucapkan?
Allah Ta'ala berfirman:


padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil haram.. (QS. al-Anfal: 34).
Yakni, padahal mereka menghalang-halangi orang yang beriman kepada Allah dan orang yang menyembah-Nya, yaitu engkau dan orang-orang yang mengikutimu untuk mendatangi Masjidil Haram?
Allah Ta'ala berfirman:


dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai (nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS. al- Anfal: 34).
Yang dimaksud dengan orang-orang yang bertakwa pada ayat di atas ialah orang-orang yang mengharamkan apa yang Allah haramkan, dan menunaikan shalat di Masjidil Haram, yaitu engkau dengan orang-orang yang beriman kepadamu.
Allah Ta'ala berfirman:


shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain ti- dak hanyalah siul-siul dan tepukan tangan.. (QS. al-Anfal: 35).
Yakni, ibadah mereka yang seperti itu sama sekali tidak Allah ridhai bukan pula ibadah yang Dia wajibkan dan diperintahkan kepada mereka. Allah Ta'ala berfirman:


Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu. '(QS. al-Anfal; 35).
Yakni, rasakanlah pembinasaan yang Allah jatuhkan kepada kalian di Perang Badar.
 
Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, Abbad dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata: "Jeda jarak antara turunnya ayat,


'Hai orang yang berselimut (Muhammad), (QS. al-Muzzammil: 1) dengan ayat,


'Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih. ' (QS. al-Muzzammii: 11-13).
Tidaklah lama, hingga Allah menimpakan kekalahan telak dan memalukan pada orang-orang Quraisy di Perang Badar.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Ta'ala berfirman:


Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, (QS. al-Anfal: 36).
Yang dimaksud orang-orang kafir pada ayat di atas ialah mereka yang pergi kepada Abu Sufyan bin Harb, dan kepada orang- orang kaya Quraisy di kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb. Mereka meminta Abu Sufyan bin Harb, dan orang-orang kaya Quraisy untuk mendukung mereka dalam memerangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu Abu Sufyan bin Harb dan orang-orang kaya Quraisy mengabulkan permintaan mereka.
Allah Ta'ala berfirman:
 
 

Katakanlah kepada orang-orangyang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi (QS. al-Anfal: 38).
Yakni mereka kembali memerangimu, wahai Muhammad. Allah berfirman:


sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu (QS. al- Anfal: 38).
Orang-orang terdahulu yang dimaksud pada ayat di atas ialah orang-orang yang telah terbunuh di Perang Badar dari mereka.
Allah Ta 'ala berfirman:


Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Anfal: 39).
Yakni, perangilah mereka agar tidak lagi ada orang Mukmin yang dipaksa keluar dari agamanya dan tauhid hanya untuk Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan semua tuhan-tuhan tandingan selain Allah dihilangkan.
Allah berfirman:


Dan jika mereka berpaling (QS. al-Anfal: 40).
Yakni, apabila mereka berpaling dari perintahmu dan memilih kekafiran:
 
 

maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong (QS. al-Anfal: 40).
Yakni, ketahuilah bahwa Allah adalah pelindung yang memuliakan dan menolong kalian di Perang Badar atas mereka, kendati jumlah mereka jauh lebih banyak, sementara jumlah kalian jauh lebih sedikit.
Kemudian Allah memaparkan kepada kaum Muslimin tentang pembagian harta rampasan, dan hukumnya setelah Allah menghalalkannya bagi mereka. Allah Ta'ala berfirman:


Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Anfal: 41).
Hari Furqaan yang dimaksud pada ayat di atas adalah hari di mana pada hari tersebut Aku memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan dengan kekuatan-Ku, yaitu hari pertemuan dua kubu; kubu dari kalian dan kubu mereka. Lalu Allah Ta'ala berfirman:


(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu.. (QS. al-Anfal: 42).
Maksud kafilah pada ayat di atas adalah kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb di mana kalian keluar dari Madinah untuk merampasnya, dan mereka keluar untuk melindungi kafilah dagang tersebut tanpa ada kesepakatan sebelumnya baik dengan mereka ataupun dengan kalian.
 
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu... (QS. al-Anfal: 42).
Yakni apabila perang itu dilakukan melalui kesepakatan antara kalian dengan mereka, lalu kalian tahu jumlah mereka yang banyak sementara jumlah kalian sedikit, pasti kalian tidak akan berani berperang dengan mereka.


Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan (QS. al-Anfal: 42).
Yakni, agar Allah melaksanakan apa yang Dia kehendaki seuai dengan ketentuan-Nya, yakni memuliakan Islam dan umatnya serta menghinakan kekafiran dan orang-orang kafir tanpa adanya kontribusi dari kalian. Lalu Allah melaksanakan apa yang Dia kehendaki dengan kebaikan-Nya.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. al- Anfal: 42).
Yakni, supaya kafirlah orang yang kafir itu setelah dipaparkan pada mereka Hujjah dari ayat-ayat Allah dan ibrah-Nya, dan berimanlah orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah dan ibrah-Nya.
Setelah itu Allah menyebutkan kebaikan Allah kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan rencana-Nya untuk beliau.
Allah Ta'ala berfirman.


(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi
 
gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati (QS. al-Anfal: 43).
Apa yang diperlihatkan Allah dalam mimpi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam adalah salah satu nikmat-Nya kepada kaum Muslimin. Dengan nikmat tersebut, Allah mendorong mereka untuk menghadapi mu- suhnya dan Allah cabut ketakutan dari mereka karena kelemahan mereka, karena Allah mengetahui apa saja yang ada pada diri mereka.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman


Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (QS. al-Anfal: 44).
Yakni, supaya Allah mempertemukan di antara kedua kubu tersebut dalam sebuah peperangan sebagai tempat balas dendam terhadap orang-orang yang Allah kehendaki balas dendam terhadapnya, dan memberi nik¬mat kepada orang-orang yang Allah kehendaki menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka, yaitu wali-wali-Nya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menasihati, mengajari kaum muslimin, dan menjelaskan kepada mereka tentang sikap yang seyogyaya mereka laksanakan dalam perang mereka. Allah Ta'ala berfirman:


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh),.  (QS. al-An- fal: 45).
Yakni, apabila kalian memerangi mereka di jalan Allah. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman


maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung (QS. al-Anfal: 45).
Dan demi Dia yang kalian mengorbankan nyawa kalian, dan menepati janji baiat yang pernah kalian berikan kepada-Nya. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
 
 

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar  (QS. al-Anfal 46).
Yakni, janganlah kalian saling silang sengketa antara sesama kalian yang hanya akan mengakibatkan persatuan kalian menjadi tercabik-cabik.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Dan hilang kekuatanmu.    (QS. al-Anfal: 46).
Yakni, hilang wibawa kalian.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman


dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orangyang sabar (QS. al-Anfal: 46).
Yakni, Aku bersama kalian jika kalian melaksanakan perintah-Ku tersebut. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) darijalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Anfal: 47).
Yakni, janganlah kalian menjadi laksana Abu Jahal beserta teman-temannya yang berkata: 'Kita tidak akan pulang hingga tiba di Badar. Di sanalah kita sembelih unta, kita adakan pesta minuman keras, para pelayan wanita bernyanyi untuk kita sementara orang-orang Arab mendengar siapa kita yang sebenarnya. ' Yakni, janganlah terjadi riya' dan sum'ah dalam urusan kalian. Jangan pula mempunyai sifat dengki. Namun niatkan itu semata-mata karena Allah, dan mengharap pertolongan-Nya kepada agama kalian dan membela Nabi kalian. Janganlah beramal, kecuali karena tujuan tersebut, janganlah bertujuan selain tujuan tersebut.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 
     

Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah." Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. al-Anfal: 48).
Ibnu Hisyam berkata: Sebelum ini tafsir ayat ini telah kita bahas.
Lalu Allah sebutkan tentang orang-orang kafir, dan apa yang mereka jumpai pada saat mereka meninggal dunia. Allah menyifati mereka dengan sifat mereka. Allah jelaskan tentang mereka kepada Nabi-Nya hingga hingga pada firman-Nya:


Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. al-Anfal: 57).
Yakni, habisilah mereka dari belakang supaya mereka bisa berpikir. Lalu Allah Subhanahu wa Ta 'ala berfirman:


Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda- kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan) (QS. al-Anfal: 60).
Yakni, ganjaran kalian di sisi Allah Ta'ala dan menyegerakan penggantinya di dunia. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
 
 

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya    (QS. al-Anfal: 61).
Yakni, jika mereka mengajakmu berishlah untuk Islam atas Islam maka berishlahlah dengan Islam itu. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:


Dan bertawakkallah engkau kepada Allah (QS. al-Anfaal: 61) sesungguhnyaa Allah memberi jaminan padamu..


Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Anfal: 61).
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu) (QS. al-Anfal: 62).
Yakni, Allah berada di belakangmu mendukung itu semua. Lalu Allah Ta'ala berfirman:


Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min, (QS. al-Anfal: 62).
Yakni, Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dimana sebelumnya engkau lemah. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). (QS. al-Anfal 63).
Yakni, Dia yang mempersatukan hati orang-orang beriman di atas petunjuk yang Engkau bawa dari Allah kepada mereka.
 
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Anfal: 63).
Yakni, Allah telah menyatukan hati mereka dengan agama-Nya, dan mengumpulkan mereka di atas agama itu.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang- orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. al-Anfal: 64-65).
Yakni, orang-orang kafir itu berperang tidak berdasarkan keikhlashan, tidak berdasar- kan kebenaran, dan tidk berlandadkan atas pengetahuan baik dan buruk.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Atha bin Rabah dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata: Pada saat ayat di atas turun, kaum Muslimin merasa keberatan dan mereka beranggapan bahwa dua puluh oran mukmin tidak mungkin mampu berperang melawan dua ratus orang dari kaum musyrikin, dan seratus dari mereka tidak mungkin dapat berperang melawan seribu orang musyrikin. Lalu Allah memberikan keringanan kepada mereka, dan ayat tersebut di nasakh dengan ayat berikutnya:

 
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Makajika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. al- Anfal: 66).
Ibnu Ishaq berkata: Setelah turunnya ayat tadi maka apabila jumlah kaum Muslimin adalah setengahnya dari jumlah musuh mereka, mereka tidak boleh kabur dari musuh. Jika jumlah mereka di bawah jumlah musuh, maka tidak wajib memeranginya dan diperbolehkan menghindar dari mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Setelah itu Allah menegur Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam masalah tawanan dan pengambilan rampasan perang, karena sebelumnya tidak ada seorang pun nabi yang memakan rampasan perang dari musuhnya.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad Abu Ja'far bin Ali bin Al-Husain berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan dalam jiwa musuh). Bumi dijadikan sebagai masjid dan suci untukku. Aku dikaruniai perkataan yang simple tapi padat. Dihalalkan bagiku rampasan perang dan sebelumnya rampasan perang tidak dihalalkan kepada seorang nabi pun. Aku diberi syafa'at. Lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.88


Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Tidak patut, bagi seorang Nabi... (QS. al-An- fal: 67). Yakni, nabi sebelum kamu.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman


mempunyai tawanan... (QS. al-Anfal: 67). Yakni, tawanan dari musuhnya. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.. (QS. al-Anfal:67). Yakni, membuat musuhnya terjepit dan mengusirnya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman
 
 

Kamu menghendaki harta benda duniawi. (QS. al-Anfal: 67). Harta benda duniawi ialah harta benda dan uang tebusan para tawanan perang.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. al-Anfal: 67). Yaitu pembunuhan atas orang-orang Quraisy demi kemenangan agama yang ingin Allah tampakkan dan dengannya akhirat bisa tercapai.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. ! (QS. al-Anfal: 68).
Sesuatu yang kalian ambil dari tawanan dan rampasan perang. Maksudnya, jika tidak telah Aku tetapkan sebelumnya, bahwa Aku tidak menghukum kalian melainkan setelah adanya larangan, pastilah Aku menghukum kalian akibat apa yang kalian perbuat. Lalu Aku menghalalkan rampasan perang kepada Muhammad dan kepada mereka sebagai rahmat dan kebaikan dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kemudian Allah Ta'ala Subhanahu wa berfirman:


Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Anfal: 69)
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 
Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu." Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Anfal: 70).
Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk senantiasa menjalin hubungan dengan sesama Muslim lainnya, dan menjadikan kaum Muhajirin dan kaum Anshar sebagai wali-wali dalam agama dan bukan orang-orang selain mereka. Selain itu, Allah menjadikan orang-orang kafir itu sebagai pelindung bagi orang- orang kafir lainnya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. al-Anfal: 73).
Yakni, apabila orang Mukmin tidak menjadikan orang Mukmin lainnya wali-wali atas dia, bahkan sebaliknya ia menjadikan orang kafir sebagai wali baginya, kendati ia mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang Mukmin, maka akan muncullah fitnah di muka bumi. Artinya, akan terjadi kesamaran antara kebenaran dengan kebatilan, dan akan muncl kerusakan di muka bumi, karena orang Mukmin memberikan loyalitasnya kepada orang kafir dan bukan kepada orang Mukmin. Kemudian Allah mengembalikan hak waris kepada keluarga mereka yang beriman setelah sebelumnya mereka memberikannya kepada kaum Mujahirin dan kaum Anshar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah. Yakni, warisan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-An- faal: 75).



Kaum Muslimin yang Ikut Terjun di Perang Badar
 
Ibnu Ishaq berkata: Berikut adalah nama-nama kaum Muhajirin yang ikut terjun di Perang Badar dari Quraisy kemudian dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf, dan Bani Al-Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah.
Muhammad Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam, pemimpin para Rasul bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, singa Allah, singa Rasul-Nya, dan paman Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim.. Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abdul Uzza bin Umm'ul Qais Al-Kalbi, semoga Allah dan Rasul-Nya memberi karunia kepadanya.
Ibnu Hisyam berkata: Zaid ialah anak Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abdul Uzza bin Umru'ul Qais bin Amir bin An- Nu'man bin Amir bin Abdu Wudd bin Auf bin Kinanah bin Bakr bin Auf bin Udzrah bin Zaidullah bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabrah.
Anasah, mantan budak Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. Abu Kabsyah, mantan budak Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam.
Ibnu Hisyam berkata: Anasah berasal dari Habasyah, sementara Abu Kabsyah berasal dari Persia.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Martsad Kannaz bin Hishn bin Yarbu' bin Amr bin Yarbu' bin Kharsyah bin Sa'ad bin Tharif bin Jillan bin Ghanm bin Ghani bin Ya'shur bin Sa'ad bin Qais bin Ailan.
Ibnu Hisyam berkata: Kannaz adalah anak dari Hushain.
Ibnu Ishaq berkata: Anak Kannaz yang bernama Martsad bin Abu Martsad, dua sekutu Hamzah bin Abdul Muthalib, Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muthalib, Saudara Ubaidah bin Al-Harits yang bernama Ath-Thufail bin Al-Harits, Saudara Ubaidah bin Al-Harits yang lain yang bernama Al-Hushain bin Al- Harits, Misthah. Ia bernama lengkap Auf bin Utsatsah bin Abbad bin Al-Muthalib. Jumlah seluruhnya dua belas orang lelaki.
Kaum Muhajirin dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams. Sebenarnya ia tidak ikut di Perang Badar karena sedang menjaga istrinya, Ruqaiyyah binti Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam, tapi Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam memberinya satu bagian dari rampasan perang. Utsman bin Affan berkata: "Apakah aku dapat pahala juga wahai Rasulullah?" Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Engkau juga mendapatkan pahala."89 Dan Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams dan Salim mantan budak Hudzaifah.


Ibnu Hisyam berkata: Nama asli Abu Hudzaifah adalah Mihsyam.
Ibnu Hisyam berkata: Salim adalah seorang budak yang dimerdekakan tuannya {saibah) yaitu Tsubaytah binti Ya'ar bin Zaid Malik bin Al-Aus. Setelah Tsubaytah menjadikan Salim merdeka, lalu ia berikan kepada Abu Hudzaifah, maka Abu Huzaifah pun menjadikannya sebagai anak angkatnya. Dan ada yang berpendapat bahwa Tsubaytah binti Ya'ar adalah istri Abu Hudzaifah bin Utbah. Tsubaytah binti Ya'ar memerdekakan Salim dengan cara saibah. Namun ada pula yang mengatakan bahwa Salim adalah mantan budak Abu Hudzaifah.
 
Ibnu Ishaq berkata: Para ulama mengklaim bahwa Shubaih, mantan budak Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams sebenarnya telah mempersiapkan diri untuk berangkat bersama dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke Badar namun kemudian ia jatuh sakit. Lalu ia menaikkan Abu Salamah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum ke atas untanya. Namun sesudah itu, Shubaih selalu hadir di semua perang bersama Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Nama-nama kaum Muhajirin dari sekutu Bani Abdu Syams kemudian dari Bani Asad bin Khuzaimah ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut:
Abdullah bin Jahsy bin Ri'ab bin Ya'mur bin Shabrah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad, Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan bin Qais bin Murrah bin Kabir bm Ghanm bin Dudan bin Asad, Syuja' bin Wahb bin Rabi'ah bin Asad bin Shuhaib bin Malik bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad, saudara Syuja' yang bemama asli Uqbah bin Wahb, Yazid bin Ruqaisy bin Ri'ab bin Ya'mur bin Shabrah bin Murrah binKabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad, Abu Sinan bin Mihshan bin Hurtsan bin Qais. Ia adalah saudara kandung Ukkasyah bin Mihshan, Anak Sinan yang bemama Sinan bin Abu Sinan, Muhriz bin Nadhlah bin Abdullah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad. Rabi'ah bin Aktam bin Sakhbarah bin Amr bin Lukaiz bin Amir bin Ghanm bin Dudan bin Asad.
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Muhajirin dari sekutu Bani Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad yang ikut terjun pada Perang Badar ialah sebagai berikut: Tsaqfu bin Amr dan kedua saudaranya Malik bin Amr dan Mudlij bin Amr.
Ibnu Hisyam berkata: Midlaj bin Amr. Ibnu Ishaq berkata: Mereka berasal dari Bani Hajar, keluarga Bani Salim. Abu Mukhsyi sekutu mereka, jadi seluruhnya berjumlah enam belas orang.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Mukhsyi Thaai bernama asli Suwaid bin Mukhsyi.
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Muhajirin dari Bani Naufaul bin Abdu Manaf yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut:
Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahb bin Nusaib bin Malik bin Malik bin Al-Harits bin Mazin bin Manshur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan dan Khabbab, mantan budak Utbah bin Ghazwan. Total dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Muhajirin dari Bani Asad bin Abdul Uzza yang ikut serta pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad, Hathib bin Abu Balta'ah, Sa'ad, mantan budak Hathib bin Abu Balta'ah. Jumlah seluruhnya tiga orang.
Ibnu Hisyam berkata: Hathib ialah anak Abu Balta'ah. Nama asli Abu Balta'ah ialah Amr. Hathib berasal dari Lakhmi, sedang Sa'ad mantan budak Hathib berasal dari Kalb.
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Muhajirin dari Bani Abduddar yang ikut terjun pada Perang Badar ialah sebagai berikut: Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay dan Shuwaibith bin Sa'ad bin Huraimalah bin Malik bin Umailah bin As-Sabbaq bin Abduddar bin Qushay. Jumlah seluruhnya dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Muhajirin dari Bani Zuhrah bin Kilab yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Abdur-rahman bin Auf bin Abdu Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah, Sa'ad bin Abu Waqqash. Abu Waqqash ialah Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah, saudara Sa'ad bin Abu Waqqash yang bernama asli Umair bin Abu Waqqash.
Kaum Muhaj'irin dari sekutu-sekutu Bani Zuhrah bin Kilab yang ikut terjun pada Perang Badar ialah sebagai berikut:
 
Al-Miqdad bin Amr bin Tsa'labah bin Malik bin Rabi'ah bin Tsumamah bin Mathrud bin Amr bin Sa'ad bin Zuhair bin Tsaur bin Tsa'labah bin Malik bin Asy-Syarid bin Hazl bin Qaisy bin Duraim bin Al-Qain bin Ahwad bin Bahra' bin Amr bin Alhaf bin Qudha'ah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat Hazl adalah anak Qas bin Dzar, dan Dahir bin Tsaur.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Abdullah bin Mas'ud bin AI-Harits bin Syamkhu bin Makhzum bin Shahilah bin Kahil bin Al-Harits bin Tamim bin Sa'ad bin Hudzail, Mas'ud bin Rabi'ah bin Amr bin Sa'ad bin Abdut Uzza bin Hamalah bin Ghalib bin Muhallim bin Aidzah bin Subay'i bin Al-Hun bin Khuzaimah dari Al-Qarah.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Qarah adalah julukan buat meraka. Mereka ahli dalam melempar panah.
Ibnu Ishaq berkata: Dzu Asy-Syamalain bin Abdu Amr bin Nadhlah bin Ghubsyan bin Sulaim bin Malkan bin Afsha bin Haritsah bin Amr bin Amir dari Khuza'ah.
Ibnu Hisyam berkata: Dinamakan Dzu Asy-Syamalain, karena ia seorang yang sulit hidupnya. Ia bernama asli Umair.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Khabbab bin Al-Arat. Ibnu Hisyam berkata: "Khabbab bin Al-Arat berasal dari Bani Tamim. Karena itulah, ia dinasabkan kepada Bani Tamim. Bani Tamim menetap di Kufah. Ada yang mengatakan bahwa Khabbab bin Al-Arat berasal dari Khuza'ah. Jumlah seluruhnya delapan orang.
Ibnu Ishaq berkata:Dari Bani Taim bin Murrah yang terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Abu Bakar Ash-Shiddiq. Nama lengkapnya ialah Atiq bin Ustman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim.
Ibnu Hisyam berkata: Nama asli Abu Bakar ialah Abdullah, sementara Atiq adalah julukannya, karena wajahnya yang rupawan, dan karena seringnya ia memerdekakan budak.
Ibnu Ishaq berkata: Bilal bin Rabah, mantan budak Abu Bakar. Bilal dilahirkan di Bani Jumah. Ia dibeli Abu Bakar dari Umayyah bin Khalaf, kemudian Amir bin Fuhairah.
Ibnu Hisyam berkata: Amir bin Fuhairah dilahirkan di Bani Asad. Ia berkulit hitam, dan dibeli oleh Abu Bakar dari mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Dan Shuhaib bin Sinan dari Namir bin Qasith.
Ibnu Hisyam berkata: Namir adalah anak Qasith bin Hinbu bin Afsha bin Jadilah bin Asad bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar. Ada yang berpendapat bahwa Afsha adalah anak Du'mi bin Jadilah bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar. Ada yang mengatakan Shuhaib adalah mantan budak Abdullah bin Jud'an bin Amr bin Kaab bin Sa'ad bin Taim. Ada juga yang berpendapat Shuhaib berasal dari Romawi. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa Shuhaib berasal dari An-Namir bin Qasith.
Ada puia yang berpendapat bahwa Shuhaib menjadi tawanan di tangan orang-orang Romawi, kemudian An-Namir bin Qasith mem- belinya dari mereka. Disebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Shuhaib adalah orang Romawi yang terdepan (yang memeluk Islam).90

 
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Awalnya Thalhah berada di Syam. Ia tiba di Madinah setelah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam kembali dari Badar. Ia berbicara dengan Rasulullah Shalalahu 'Alaihi wa Sallam, lalu beliau memberinya satu bagian dari rampasan perang. Thalhah bin Ubaidillah bertanya: "Bagaimana dengan pahalaku, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shalallahu 'Alaihiwa Sallam bersabda: "Engkau juga memperoleh pahala." Jumlah seluruhnya lima orang.
Ibnu Ishaq berkata: Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Abu Salamah bin Abdul Asad. Nama asli Abu Salamah ialah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, Syammas bin Utsman bin Asy-Syarid bin Suwaid bin Harmi bin Amir bin Makhzum.
Ibnu Hisyam berkata: Nama asli Syammas ialah Utsman. Ia dinamakan Syammas, karena pada zaman jahiliyah ada seorang Syammas tiba di Makkah. Ia demikian rupawan. Orang-orang kagum akan kerupawanannya. Kemudian Utbah bin Rabi'ah, yang tak lain adalah paman Syammas dari jalur ibunya, berkata: "Aku akan datangkan Syammas yang lebih tampan dari Syammas yang ini." Lalu, ia pergi dan datang iagi aengan membawa anak saudara perempuannya yang bernama Utsman bin Utsman. Sejak saat itulah, Utsman bin Utsman dipanggil Syammas seperti dituturkan kepadaku oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri dan para ulama lainnya.
Kemudian Al-Arqam bin Abu Al-Arqam. Nama Abu Al-Arqam ialah Abdu Manaf bin Asad. Asad dijuluki Abu Jundab bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, Ammar bin Yasir.
Ibnu Hisyam berkata: Ammar bin Yasir berasal dari Ansi dari Madhij.
Ibnu Ishaq berkata: Muattib bin Auf bin Amir bin Al-Fadhl bin Afif bin Kulaib bin Hubsyiyah bin Salul bin Ka'ab bin Amr, sekutu Bani Makhzum dari Khuza'ah. Muattib bin Auf yang biasa dipanggil dengan sebutan Aihamah. Jumlah seluruhnya lima orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Adi bin Ka'ab yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin bin Razah bin Adi dan saudara Umar bin Khaththab yang bernama Zaid bin Khaththab, Mihja', mantan budak Umar bin Khaththab. Ia berasal dari Yaman. Dialah Muslim pertama yang gugur di Perang Badar. Ia terkena lemparan anak panah.
Ibnu Hisyam berkata: Mihja' berasal dari Akka bin Adnan, Amr bin Suraqah bin Al-Mu'tamir bin Anas bin Adzat bin Abdullah bin Qarth bin Riyah bin Rizah bin Adi bin Ka'ab, saudara Amir bin Suraqah yang bemama Abdullah bin Suraqah, Waqid bin Abdullah bin Abdu Manaf bin Arin bin Tsa'labah bin Yarbu' bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim, sekutu Bani Adi bin Ka'ab, Khauli bin Abu Khauli, sekutu Bani Adi bin Ka'ab, Malik bin Abu Khauli, sekutu Bani Adi bin Ka'ab.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Khauli berasal dari Bani Ijl bin Lujaim bin Sha'b bin Ali bin Bakr binWail.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Amir bin Rabi'ah, sekutu keluarga Khaththab. Ia berasal dari Anz bin Wail.
Ibnu Hisyam berkata: Anz adalah anak Wail bin Qasith bin Hinbu bin Afsha bin Jadilah bin Asad bin Rabi' bin Nizar. Ada yang mengatakan Afsha adalah anak Du'mi bin Jadilah.
Ibnu Ishaq berkata: Amir bin Al-Bukair bin Abdu Yalail bin Nasyib bin Ghiyarah. Ia berasal dari Bani Sa'ad bin Laits. la sekutu Bani Adi bin Ka'ab, Aqil bin Al-Bukair. Ia sekutu Bani Adi bin Ka'ab, Khalid bin Al-Bukair. Ia sekutu Bani Adi bin Ka'ab. Iyas bin Al-Bukair. Ia sekutu Bani Adi bin Ka'ab. Kemudian Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza bin Abdullah bin Qurth bin Riyah bin Rizah bin Adi bin Ka'ab.
 
Awalnya Sa'id bin Zaid berada di Syam. Ia tiba di Madinah setelah Rasululah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba dari Badar, kemudian Sa'id bin Zaid berbicara dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam memberinya satu bagian dari rampasan perang. Sa'id bin Zaid berkata: Apakah aku juga dapat pahala wahai Rasulullah?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Engkaupun mendapat pahala juga.'91 Jumlah seluruhnya empat belas orang.


Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Jumah bin Amr bm Hushaish bin Ka'ab yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut:
Utsman bin Mazh'un bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah, Anak Utsman bin Madzh'un yang bemama As-Saib bin Utsman, dua saudara Utsman bin Mazh'un yang bernama Qudamah bin Mahz'un dan Abdullah bin Madz'un, Ma'mar bin Al-Harits bin Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Jumlah seluruhnya lima orang.
Dari Bani Sahm bin Amr yang ikut terjun di Perang Badar hanya satu orang yaitu Khunais bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Su'aid bin Sahm.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Amir bin Luay kemudian dari Bani Malik bin Hisl bin Amir yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Abu Sabrah bin Abu Ruhm bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl, Abdullah bin Makhramah bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik, Abdullah bin Suhail bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl. Ia berangkat bersama ayahnya, Suhail bin Amr. Ketika orang-orang Quraisy tiba di Badar, ia menemui Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam kemudian terjun Perang Badar bersama Rasulullah Shalalahu 'Alaihi wa Sallam, Umair bin Auf, mantan budak Suhail bin Amr, Sa'ad bin Khaulah. Ia sekutu Bani Amir bin Luay.
Ibnu Hisyam berkata: Sa'ad bin Khaulah berasal dari Yaman. Jumlah seluruhnya lima orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Al-Harits bin Fihr yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Abu Ubadah bin al-Jarrah. Ia bernama lengkap Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits, Amr bin Al-Harits bin Zuhair bin Abu Syaddad bin Rabi'ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin At-Harits, Suhail bin Wahb bin Rabi'ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits, Saudara Suhail bin Wahb yang benama Shafwan bin Wahb, Amr bin Abu Sarh bin Rabi'ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits. Total lima orang.
Ibnu Ishaq berkata: Jumlah seluruh kaum Muhajirin yang ikut terjun pada Perang Badar dan para sahabat yang diberi jatah rampasan perang dan pahala adalah berjumlah delapan puluh tiga orang.
Ibnu Hisyam berkata: Banyak ulama selain Ibnu Ishaq menambahkan Wahb bin Sa'ad bin Abu Sarh dan Hathib bin Amr ke dalam kaum Muslimin dari Bani Amir bin Luay yang terjun di Perang Badar. Mereka juga memasukkan Iyadh bin Abu Zuhair ke dalam barisan kaum Muslimin dari Bani Al-Harits bin Fihr yang hadir di Perang Badar.



Kaum Anshar dan Orang-orang yang Bersama Mereka yang Terjun Pada Perang Badar
 
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Muslimin kalangan Anshar yang hadir bersama Rasulullah Shalalahu 'Alaihi wa Sallam di Perang Badar, kemudian dari Al-Aus bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr, kemudian dari Bani Abdul Asyhal bin Jusyam bin Al-Harits bin Al-Khazraj bin Amir bin Malik bin Al-Aus adalah sebagai berikut:
Sa'ad bin Muadz bin An-Nu'man bin Umru'ul Qais bin Zaid bin Abdul Asyhal,. Amr bin Muadz bin An- Nu'man bin Umru'ul Qais bin Zaid bin Abdul Asyhal, Al-Harits bin Aus bin Muadz bin An-Nu'man, Al- Harits bin Anas bin Rafi' bin Umru'ul Qais.
Dari Bani Ubaid bin Ka'ab bin Abdul Asyhal yaitu Sa'ad bin Zaid bin Malik bin Ubaid.
Dari Bani Za'ura bin Abdul Asyhal adalah sebagai berikut: Salamah bin Salamah bin Waqasy bin Zughbah, Abbad bin Bisyr bin Waqasy bin Zughbah bin Zaura, Salamah bin Tsabit bin Waqasy, Rafi' bin Yazid bin Kurz bin Sakan bin Zaura, Al-Harits bin Khazamah bin Adi bin Ubay bin Ghanm bin Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khazraj, sekutu Bani Zaura bin Abdul Asyhal. Muhammad bin Maslamah bin Khalid bin Uday Majda'ah bin Haritsah bin Al-Harits, sekutu Bani Zaura bin Abdul Asyhal dari Bani Haritsah bin Al-Harits, Salamah bin Aslam bin Harisy bin Uday bin Majda'ah bin Haritsah bin Al-Harits, sekutu Bani Zaura bin Abdul Asyhal dari Bani Haritsah bin Al-Harits.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat bahwa Aslam adalah anak Haris bin Uday. Ibnu Ishaq: Abu Al-Haitsam bin At-Tayyahan, Ubaid bin At-Tayyahan.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Atik bin At-Tayyahan.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Sahl. Jumlah kaum Anshar lima belas orang.
Ibnu Hisyam berkata: Abdullah bin Sahl adalah saudara Bani Zaura. Ada pula yang mengatakan ia berasal dari Ghassan.
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Anshar dari Bani Zhafar kemudian dari Sawwad bin Zhafar bin Kaab -Ka'ab adalah Dzafar.
Ibnu Hisyam berkata: Zhafar adalah anak Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus, yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Qatadah bin An-Numan bin Zaid bin Amir bin Sawwad dan Ubaid bin Aus bin Malik bin Sawwad. Jumlah seluruhnya dua orang.
Ibnu Hiysam berkata: Ubaid bin Aus adalah sahabat yang biasa disapa dengan nama Muqarrin, karena ia mengikat empat tawanan di Perang Badar. Pada Perang Badar, Ubaid bin Aus menawan Aqil bin Abu Thalib.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Abd bin Rizah bin Ka'ab dan sekutu mereka yang hadir di Perang Badar adalah sebagai berikut:
Nashr bin Al-Harits bin Abd., Mu'attib bin Abd. Sedangkan dari sekutu mereka dari Bali adalah Abdullah bin Thariq. Jumlah seluruhnya tiga orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Haritsah bin Al-Harits bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus yang hadir di Perang Badar adalah sebagai berikut: Mas'ud bin Sa'ad bin Amir bin Adi bin Jusyam bin Majda'ah bin Haritsah. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang pula yang menyebutkan Mas'ud bin Abdu Sa'ad.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Absu bin Jabr bin Amr bin Zaid bin Jusyam bin Majda'ah bin Haritsah.
 
Sedangkankan dari sekutu Bani Haritsah bin Al-Harits dari Bali adalah Abu Burdah bin Niyar. Nama aslinya Hani' bin Niyar bin Amr bin Ubaid bin Kilab bin Duhman bin Ghanm bin Dzubyan bin Humaim bin Kahil bin Dzuhl bin Hunai bin Bali bin Amr bin Ilhaf bin Qudha'ah. Jumlah seluruhnya tiga orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Auf bin Amr bin Malik bin Al-Aus, kemudian dari Bani Dhubay'ah bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf yang ikut serta di Perang Badar adalah sebagai berikut: Ashim bin Tsabit bin Qais. Qais adalah Abu Al-Aqlah bin Ishmah bin Malik bin Amah bin Dhubay'ah, Mu'attib bin Qusyair bin Mulail bin Zaid bin At-Aththaf bin Dhubay'ah, Abu Mulail bin Al- Az'ar bin Zaid bin Al- Aththaf bin Dhubay'ah, Amr bin Ma'bad bin Al-Az'ar bin Ziad bin Al-Aththaf bin Dhubay'ah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan Umair bin Ma'bad. Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Sahl bin Hunaif bin Wahib bin Al-Ukaim bin Tsa'labah bin Majda'ah bin Al-Harits bin Amr. Ada yang berpendapat bahwa Amr adalah Bahzaj bin Hanasy bin Auf bin Amr bin Auf. Jumlah seluruhnya lima orang.
Dari Bani Umayyah bin Zaid bin Malik: Mubasysyir bin Abdul Mundzir bin Zanbar bin Zaid bin Umayyah, Rifa'ah bin Abdul Mundzir bin Zanbar, Sa'ad bin Ubaid bin An-Nu'man bin Qais bin Amr bin Zaid bin Umayyah, Uwaim bin Sa'idah, Rafi' bin Unjadah, Unjadah adalah ibu Rafi' seperti dikatakan Ibnu Hisyam, Ubaid bin Abu Ubaid, Tsa'labah bin Hathib.
Para ulama berpendapat bahwa Abu Lubabah bin Abdul Mundzir dan Al-Harits bin Hathib keluar bersama Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam ke Badar, kemudian Rasulullah Shalalahu 'Alaihi wa Sallam memulangkan keduanya. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam menunjuk Abu Lubabah sebagai wakil beliau di Madinah. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memberi kepada mereka masing-masing satu bagian dari rampasan perang bersama Mujahidin Perang Badar. Jumlah seluruhnya sembilan orang.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam mengembalikan keduanya dari Ar-Rauha. Hathib bin Amr bin Ubaid bin Umayyah sedangkan nama Lubabah adalah Basyir.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Ubaid bin Zaid bin Malik ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Unais bin Qatadah bin Rabia bin Khalid bin Al-Harits bin Ubaid. Sedangkan sekutu mereka dari Bali Ma'nu bin Adi bin Al-Jaddi bin Al-Ajlan bin Dhubay'ah, Tsabit bin Aqram bin Tsa'labah bin Adi bin A1 Ajlan,, Abdullah bin Salamah bin Malik Al-Harist bin Adi bin al-Ajlan, Zaid bin Aslam bin Tsa'labah bin Adi bin Al-Ajlan, Rib'i bin Rafi' bin Zaid bin Haritsah bin Al-Jaddi bin Al-Ajlan, Ashim bin Adi bin Al- Jaddi bin Al-Ajlan ikut berangkat ke Badar, namun Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam memu- langkannya dan memberinya satu bagian dari rampasan perang Badar. Jumlah seluruhnya tujuh orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dri Bani Tsa'labah bin Amr bin Auf yang hadir di Perang Badar adalah sebagai berikut: Abdullah bin Jubair bin An-Nu'man bin Umayyah bin Al-Burak. Nama Al-Burak adalah Umru'ul Qais bin Tsa'labah. Ashim bin Qais.
Ibnu Hisyam berkata: Ashim adalah anak Qais bin Tsabit bin An-Nu'man bin Umayyah bin Umru'ul Qais bin Tsa'labah.
Ibnu Ishaq berkata: Dan Abu Dhayyah bin Tsabit bin An-Nu'man bin Umayyah bin Umru'ul Qais bin Tsa'labah, Abu Hannah.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Hannah adalah saudara Abu Dhayyah. Ada yang memanggilnya Abu Habbah. Imruul Qais disebut al-Burak bin Tsa'labah.
Ibnu Ishaq berkata: Salim bin Umair bin Tsabit bin Tsa'labah bin An-Nu'man bin Umayyah Umru'ul Qais bin Tsa'labah.
 
Ibnu Hisyam berkata: Tsabit bin Amr bin Tsa'tabah.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Harits bin An- Nu'man bin Umayyah bin Umru'ul Qais bin Tsa'labah, Khawwath bin Jubair bin An-Nu'man. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam memberinya satu bagian dari rampasan perang bersama Mujahidin Perang Badar. Total tujuh orang.
Sementara dari Bani Jahjabah bin Kulfah bin Auf bin Amr bin Auf adalah: Mundzir bin Muhammad bin Uqbah bin Uhaihah bin Al-Julah bin Al-Harisy bin Jahjabah bin Kulfah. Ibnu Hisyam berkata: Ada pula yang berpendapat Al-Haris bin Jahjaba.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Abu Aqil bin Abdullah bin Tsa'labah bin Baihan bin Amir bin Al-Harits bin Malik bin Amir bin Unaif bin Jusyam bin Abdullah bin Taim bin Irasy. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Tamim bin Arasyah bin Amir bin Umailah bin Qasmil bin Faran bin Bali bin Amr bin Ilhaf bin Qudha'ah. Jumlah seluruhnya dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Adapun dari Bani Ghanam bin As-Salm bin Umru'ul Qais bin Malik bin Al-Aus adalah sebagai berikut: Sa'ad bin Khaitsamah bin Al-Harits bin Malik bin Ka'ab bin An-Nahhath bin Ka'ab bin Haritsah bin Ghanm, Mundzir bin Qudamah bin Ar-fajah, Malik bin Qudamah bin Arfajah.
Ibnu Hisyam berkata: Arfajah adalah anak Ka'ab bin An-Nahhath bin Ka'ab bin Haritsah bin Ghanm.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Harits bin Arfajah, Tamim, mantan budak Bani Ghanm. Ibnu Hisyam berkata:Tamim adalah mantan budak Sa'ad bin Khaitsamah. Jumlah seluruhnya lima orang.
Ibnu Ishaq berkata: Sedangkan dari Bani Muawiyah bin Malik bin Auf bin adalah sebagai berikut: Jabr bin Atik bin Al-Harits bin Qais bin Haisyah bin Al-Harits bin Umayyah bin Muawiyah, Malik bin Numailah, sekutu mereka dari Muzainah, An-Nu'man bin Ashar, sekutu Bani Muawiyah bin Malik dari Bali. Jumlah seluruhnya tiga orang.
Jumlah keseluruhan kaum Anshar dari Al-Aus, dan para sahabat yang diberi bagian rampasan perang dan pahala jihad pada di Perang Badar bersama Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam berjumlah enam puluh satu orang.
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Muslimin dari kaum Anshar dari Al-Khazraj bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir, kemudian dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Umru'ul Qais bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits bin Al-Khazraj adalah sebagai berikut:
Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair bin Malik bin Umru'ul Qais, Sa'ad bin Ar-Rabi' bin Amr bin Abu Zuhair bin Malik bin Umru'ut Qais, Abdullah bin Rawahah bin Tsa'labah bin Umru'ul Qais bin Amr bin Umru'ul Qais, Khallad bin Suwaid bin Tsa'labah bin Amr bin Haritsah bin Umru'ul Qais. Jumlah seluruhnya empat orang.
Sementara dari Bani Zaid bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Al- Harits bin Al-Khadzraj adalah sebagai berikut:
Basyir bin Sa'ad bin Tsa'labah bin Khilas bin Zaid. Ibnu Hisyam berkata: Ada pula yang berpendapat Julias bukan Khilas. Saudara Basyir bin Sa'ad, yaitu Simak bin Sa'ad. Jumlah seluruhnya dua orang.
Adapun dari Bani Adi bin Ka'ab bin Al- Khadzraj bin Al-Harits bin Al-Khazraj adalah sebagai berikut: Subay'i bin Qais bin Aisyah bin Umayyah bin Malik bin Amir bin Adi. Saudara Subay'i bin Qais, yaitu Abbad bin Qais bin Aisyah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat Qais bin Abasah bin Umayyah, Abdullah bin Absu. Jumlah seluruhnya tiga orang.
 
Sementara itu dari Bani Ahmar bin Hari¬tsah bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits bin Al-Khazraj hanya satu orang, yaitu Yazid bin Al-Harits bin Qais bin
Malik bin Ahmar. Dialah yang dikenal dengan panggilan Ibnu Fushum.
Ibnu Hisyam berkata: Fushum adalah ibu Yazid. Ia berasal dari Bani Al-Qain bin Jasr. Jumlah seluruhnya satu orang.
Ibnu Ishaq berkata: Adapun dari Bani Jusyam bin Al-Haritsah bin Al-Khazraj dan dari Bani Zaid bin Al- Harits bin Al- Khazraj -Jusyam dan Zaid adalah saudara kembar- adalah sebagai berikut: Khubaib bin Isaf bin Itabah bin Amr bin Khadij bin Amir bin Jusyam. Abdullah bin Zaid bin Tsa'labah bin Abdu Rabbih bin Zaid, saudara Abdullah bin Zaid, yaitu Huraits bin Zaid bin Tsa'labah. Mereka juga memasukkan Sufyan bin Basyir.
Ibnu Hisyam berkata: Sufyan adalah anak Nasr bin Amr bin Al-Harits bin Ka'ab bin Zaid. Jumlah keseluruhan empat orang.
Dari Bani Jidarah bin Auf bin Al-Harits bin Al-Khazraj adalah sebagai berikut: Tamim bin Ya'ar bin Qais bin Adi bin Umayyah bin Jidarah, Abdullah bin Umair dari Bani Haritsah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada pula yang berpendapat bahwa Abdullah adalah anak Umair bin Adi bin Umayyah bin Jidarah.
Ibnu Ishaq: Zaid bin Al-Muzayyin bin Qais bin Adi bin Umayyah bin Jidarah. Ibnu Hisyam berkata: Zaid bin Al-Murry.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Ur-futhah bin Adi bin Umayyah bin Jidarah. Jumlah seluruhnya empat orang.
Dari Bani Al-Abjar yang tidak lain adalah Bani Khudrah bin Auf bin Al-Harits bin Al-Khazraj hanya satu orang, yaitu Abdullah bin Rabi' bin Qais bin Amr bin Abbad bin Al-Abjar.
Dari Bani Auf bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Ubaid bin Malik bin Salim bin Ghanm bin Auf bin Al- Khazraj yang tidak lain adalah Bani Al-Hubla.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Hubla adalah
Salim bin Ghanm bin Auf. Ia dinamakan Al-Hubla karena perutnya buncit, adalah sebagai berikut: Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Malik bin Al-Harits bin Ubaid yang terkenal dengan sebutan Ibnu Salul. Salul adalah ibu Ubay, Aus bin Khauli bin Abdullah bin Al-Harits bin Ubaid. Jumlah seluruhnya dua orang.
Dari Bani Jaz'i bin Malik bin Salim bin Ghanm adalah sebagai berikut: Zaid bin Wadi'ah bin Amr bin Qais bin Jaz'i, Uqbah bin Wahb bin Kaladah, sekutu Bani Jaz'i bin Adi dari Bani Abdullah bin Ghathafan, Rifa'ah bin Amr bin Zaid bin Tsa'labah bin Malik bin Salim bin Ghanm, Amir bin Salamah bin Amir, sekutu Bani Jaz'i bin Adi dari Yaman. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat bahwa Amr bin Salamah. Ia berasal dari Bali, tepatnya dari Qudha'ah.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Humaidhah bin Ma'bad bin Abbad bin Qusyair bin Al-Miqdam bin Salim bin Ghanm.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang pula mengatakan bahwa Ma'bad adalah anak Ubadah bin Qasyghar bin Al-Qudm. Ada lagi yang mengatakan Ubadah adalah anak Qais bin Al-Qudm.
Ibnu Ishaq berkata: Amir bin Al-Bukair, sekutu Bani Jaz'i bin Adi. Jumlah seluruhnya enam orang.
 
Ibnu Hisyam berkata: Amir bin al-Ukair, ada pula yang menyebutkan Ashim bin al-Ukair.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Al-Ajlan bin Zaid bin Ghanm bin Salim hanya satu orang, yaitu Naufal bin
Abdullah bin Nadhlah bin Malik bin Al-Ajlan.
Dari Bani Ashram bin Fihr bin Tsa labah bin Ghanm bin Salim bin Auf. Ibnu Hisyam berkata: Ini adalah Ghanmbink Auf, saudara Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khazraj. adalah sebagai berikut: Ubadah bin Ash-Shamit bin Qais bin Ashram, saudara Ubadah bin Ash-Shamit, yaitu Aus bin Ash-Shamit. Jumlah seluruhnya dua orang.
Dari Bani Da'du bin Fihr bin Tsa'labah bin Ghanm hanya satu orang, yaitu An-Nu'man bin Malik bin Tsa'labah bin Da'du. An-Nu'man biasa disapa dengan sapaan Qauqal.
Dari Bani Qaryusy bin Ghanm bin Umayyah bin Laudzan bin Salim, Ibnu Hisyam berkata: ada pendapat yang mengatakan Quryus bin Ghanm, yang hadir di Perang Badar hanya satu orang, yaitu Tsabit bin Hazzal bin Amr bin Qaryusy.
Dari Bani Mardhakhah bin Ghanm bin Salim hanya satu orang, yaitu Malik bin Ad-Dukhsyum bin Mardhakhah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Malik adalah anak Ad-Dukhsyum bin Malik bin Ad- Dukhsyum bin Mardhakhah.
Dari Bani Laudzan bin Ghanm bin Salim adalah sebagai berikut: Rabi' bin lyas bin Amr bin Ghanm bin Umayyah bin Laudzan, saudara Rabi' bin lyas, yaitu Waraqah bin lyas, Amr bin lyas, sekutu Bani Laudzan dari Yaman. Jumlah seluruhnya adalah tiga orang.
Ibnu Hisyam berkata ada pendapat yang mengatakan bahwa Amr adalah saudara Rabi' dan Waraqah.
Ibnu Ishaq berkata: Sekutu-sekutu Bani Laudzan dari Bani Bali dan dari Bani Ghushainah, Ibnu Hisyam berkata: Ghushainah adalah ibu mereka sedangkan ayah mereka adalah Amr bin Umarah, adalah sebagai beri kut: Al-Mujadzdzar bin Dziyad bin Amr bin Zumzumah bin Amr bin Umarah bin Malik bin Ghashainah bin Amr bin Butairah bin Masynuuwi bin Qasr bin Taim bin Irasy bin Amir bin Umailah bin Qasmil bin Faran bin Bali bin Amr bin Ilhaf bin Qudha'ah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada pendapat yang mengatakan bahwa Qasr adalah anak Tamim bin Arasyah. Nama asli Al-Mujadzdzar adalah Abdullah.
Ibnu Ishaq: Ubadah bin Al-Khasykhasy bin Amr bin Zumzumah. Nahhab bin Tsa'labah bin Khazamah bin Ashram bin Amr bin Imarah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat Bahhats bin Tsa'labah.
Ibnu Ishaq: Abdullah bin Tsa'labah bin Khazamah bin Ashram, para ulama berpendapat, bahwa Utbah bin Rabi'ah bin Khalid bin Muawiyah, sekutu Bani Laudzan dari Bahra' ikut terjun di Perang Badar.
Ibnu Hisyam berkata: Utbah adalah anak Bahz dari Bani Salim. Jumlah seluruhnya lima orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Sa idah bin Ka'ab dan dari Bani Tsa'labah bin Al-Khazraj bin Sa'idah adalah sebagai berikut: Abu Dujanah Simak bin Kharasyah.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Dujanah Samak adalah anak Aus bin Kharasyah bin Laudzan bin Abdu Wudd bin Zaid bin Tsa'labah.
 
Ibnu Ishaq berkata: Al-Mundzir bin Amr bin Khunais bin Haritsah bin Zaid bin Laudzan bin Abdu Wudd bin Tsa'labah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan bahwa Al-Mundzir adalah anak Amr bin Khanbasy. Jumlah mereka adalah dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Al-Badiyyi bin Amir bin Auf bin Haritsah bin Amr bin Al-Khazraj bin Sa'idah adalah sebagai berikut:
Abu Usaid Malik bin Rabi'ah bin Al-Badiyyi, Malik bin Mas'ud. Ia dinasabkan kepada Al-Badiyyi.
Ibnu Hisyam berkata: Malik adalah anak Mas'ud bin Al-Badiyyi seperti dikatakan oleh para ulama kepadaku. Total dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Tharif bin Al-Khazraj bin Sa'idah hanya seorang yaitu Abdu Rabbih bin Haq bin Aus bin Waqasy bin Tsa'labah.
Sedangkan dari sekutu-sekutu Bani Tharif bin Al-Khazraj dari Bani Juhainah adalah sebagai berikut: Ka'ab bin Himar bin Tsa labah
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menga-takan Ka'ab adalah anak Jammaz. la berasal dari Ghubsyan. Ibnu Ishaq berkata: Dhamrah bin Amr, Ziyad bin Amr dan Bas-bas Bani Amr.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat bahwa Dhamrah dan Ziyad adalah anak Bisyr. Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Amir, dari Bali. Jumlah seluruhnya adalah lima orang.
Dari Bani Jusyam bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Salimah bin Sa'ad bin Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jusyam, kemudian dari Bani Haram bin Ka'ab bin Ghanm bin Ka'ab bin Salimah adalah sebagai berikut: Khiras bin Ash-Shimmah bin Amr bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram, Al-Hubab bin Al-Mundar bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram, Umair bin Al-Humam bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram, Tamim, mantan budak Khiras bin Ash-Shimmah, Abdullah bin Amr bin Haram bin Tsa'labah bin Haram, Muadz bin Amr bin Al-Jamuh, Muawwidz bin Amr bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram, Khallad bin Amr bin AI- Jamuh bin Zaid bin Haram, Utbah bin Amir bin Nabi bin Zaid bin Haram, Habib bin Al-Aswad, mantan budak Bani Haram bin Ka'ab, Tsabit bin Tsa’labah bin Zaid bin Al-Harits bin Haram. Tsa'labah terkenal dipanggil dengan nama Al-Jidz'u, Umair bin Al-Harits bin Tsa'labah bin Al-Harits bin Haram. Jumlah seluruhnya dua belas orang.
Ibnu Hisyam berkata: "Al-Jamuh yang maksud di atas adalah Al-Jamuh anak Zaid bin Haram, kecuali Jadd bin Ash-Shimmah, karena Ash-Shimah adalah anak Amr bin Al-Jamuh bin Haram. Umair adalah anak al-Harits bin Labdah bin Tsa'labah.
Dari Bani Ubaid bin Adi bin Ghanm bin Ka'ab bin Salimah, kemudian dari Bani Khansa' bin Sinan bin Ubaid dalah sebagai berikut: Bisyr bin Al-Barra' bin Ma'rur bin Shakhr bin Malik bin Khansa', Ath- Thufail bin Malik bin Khansa', Ath-Thufail bin An-Nu'man bin Khansa', Sinan bin Shaifi bin Shakhrbin Khansa', Abdullah bin Al-Jadd bin Qais bin Shakhr bin Khansa', Utbah bin Abdullah bin Shakhr bin Khansa', Jabbar bin Shakhr bin Umayyah bin Khansa, Kharijah bin Humayyir, Abdullah bin Humayyir dua sekutu mereka dari Asyja' dari Bani Duhman. Jumlah mereka secara keseluruhan adalah sembilan orang.
Ibnu Hisyam berkata: Ada pendapat yang mengatakan bahwa Jabbar adalah anak Shakhr bin Umayyah bin Khunas.
 
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Khunas bin Sinan bin Ubaid adalah sebagai berikut: Yazid bin Al-Mundzir bin Sarh bin Khunas, Ma'qil bin Al-Mundzir bin Sarh bin Khunas, Abdullah bin An-Nu'man bin Baldamah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat bahwa, Abdullah adalah anak An- Nu'man bin Buldzumah atau Buldumah.
Ibnu Ishaq berkata: Adh-Dhahhak bin Haritsah bin Zaid bin Tsa'labah bin Ubaid bin Adi, Sawad bin Zuraiq bin Tsa'labah bin Ubaid bin Adi.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat bahwa Sawad adalah anak Razn bin Zaid bin Tsa'labah.
Ibnu Ishaq berkata: Ma'bad bin Qais bin Shakr bin Haram bin Rabi'ah bin Adi bin Ghanm bin Ka'ab bin Salimah. Ada pula yang memiliki pendapat, bahwa Ma'bad adalah anak dari Qais bin Shaifi bin Shakh bin Haram bin Rabi'ah sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Qais bin Shakhr bin Haram bin Rabi'ah bin Adi bin Ghanm. Jumlah mereka seluruhnya tujuh orang.
Dari Bani An-Nu'man bin Sinan bin Ubayd adalah sebagai berikut: Abdullah bin Abdu Manaf bin An- Nu'man, Jabir bin Abdulllah bin Ri'ab bin An-Nu'man, Khulaidah bin Qais bin An-Nu'man, An-Nu'man bin Sinan, mantan budak Bani An-Nu'man bin Sinan. Jumlah seluruhnya empat orang.
Dari Bani Sawad bin Ghanm bin Ka'ab bin Salimah, kemudian dari Bani Hadidah bin Amr bin Ghanm bin Sawad, -Ibnu Hisyam berkata: Amr adalah anak Sawad dan Sawad tidak memiliki anak yang bernama Ghanm-, adalah sebagai berikut: Abu Al-Mundzir. Abu Al-Mundzir adalah Yazid bin Amir bin Hadidah, Sulaim bin Amr bin Hadidah. Quthbah bin Amir bin Hadidah, Antarah, mantan budak Sulaim bin Amr.
Ibnu Hisyam berkata: Antarah berasal dari Bani Sulaim bin Manshur, kemudian dari Bani Dzakwan. Jumlah seluruhnya adalah empat orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Adi bin Nabi bin Amr bin Sawad bin Ghanm yang ikut terjun pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Absu bin Amir bin Adi, Tsa'labah bin Anamah bin Adi, Abu Al-Yasar bernama lengkap Ka'ab bin Amr bin Abbad bin Amr bin Ghanm bin Sawad. Sahl bin Qais bin Abu Ka'ab bin Al- Qain bin Ka'ab bin Sawad, Amr bin Thalq bin Zaid bin Umayyah bin Sinan bin Ka'ab bin Ghanm, Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus bin Aidz bin Adi bin Ka'ab bin Adi bin Udaiyyi bin Sa'ad bin Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jusyam bin Al-Khazraj bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir.
Ibnu Hisyam berkata: Aus adalah anak Abbad bin Adi bin Ka'ab bin Amr bin Udaiyyi bin Sa'ad. Ibnu Ishaq menisbatkan Muadz bin Jabal kepada Bani Sawad, padahal ia bukan berasal dari keturunan mereka, walaupun memang tinggal di tempat mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Sahabat-saJiabat yang memecah berhala-berhala Bani Salimah adalah Muadz bin Jabal, Abdullah bin Unais, dan Tsa'labah bin Anamah. Ketiga sahabat tersebut berasal dari Bani Sawad bin Ghanm. Jumlah mereka secara keseluruhan adalah enam orang.
Ibnu ishaq berkata: Dari Bani Zuraiq bin Amir bin Zuraiq bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadzbu bin Jusyam bin Al-Khazraj, kemudian dari Bani Mukhallad bin Amir bin Zuraiq, Ibnu Hisyam berkata: Ada pula yang berpendapat bahwa Amir adalah anak Al-Azraq, adalah sebagai berikut: Qais bin Mihshan bin Khalid bin Mukhailad. Ibnu Hisyam berkata: Pendapat lain mengatakan bahwa Qais adalah anak dari Hishn.
 
Ibnu Ishaq berkata: Abu Khalid Nama lengkap Abu Khalid adalah Al-Harits bin Qais bin Khalid bin Mukhallad, Jubair bin lyas bin Khalid bin Mukhallad, Abu Ubadah. Abu Ubadah bernama lengkap Sa'ad bin Utsman bin Khaladah bin Mukhallad, Uqbah bin Utsman bin Khaladah bin Mukhallad, saudara Abu Ubadah, Dzakwan bin Abu Qais bin Khaladah bin Mukhallad, Mas'ud bin Khaladah bin Amir bin Mukhallad. Jumlah mereka adalah tujuh orang.
Dari Bani Khalid bin Amir bin Zuraiq hanya seorang, yaitu Abbad bin Qais bin Amir bin Khalid.
Dari Bani Khaladah bin Amir bin Zuraiq yang ikut terjun dalam Perang Badar adalah sebagai berikut: As'ad bin Yazid bin Al-Fakih bin Zaid bin Khaladah, Al-Fakih bin Bisyr bin Al-Fakih bin Zaid bin Khaladah. Ibnu Hisyam berkata: ada yang mengatakan, bahwa Al-Fakih adalah anak Busr bin Al-Fakih.
Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Muadz bin Ma'ish bin Qais bin Khaladah dan sauda- ranya yang bernama Aidz bin Ma'ish bin Qais bin Khaladah, Mas'ud bin Sa'ad bin Qais bin Khaladah. Jumlah mereka seluruhnya adalah lima orang.
Dari Bani Al-Ajlan bin Amr bin Arnir bin Zuraiq adalah sebagai berikut: Rifa'ah bin Rafi' bin Malik bin Al-Ajlan, Khallad bin Rafi' bin Malik bin Al-Ajlan saudara Rifa'ah bin Rafi, Ubaid bin Zaid bin Amir bin Al-Ajlan. Seluruhnya adalah tiga orang.
Dari Bani Bayadhah bin Amir bin Zuraiq adalah sebagai berikut: Ziyad bin Lubaid bin Tsa'labah bin Sinan bin Amir bin Adi bin Umaiyyah bin Bayadhah, Farwah bin Amr bin Wadzafah bin Ubaid bin Amir bin Bayadhah.
Ibnu Hisyam berkata: pendapat lain yang mengatakan Farwah adalah anak Amr bin Wadfah.
Ibnu Ishaq berkata: Dan Khalid bin Qais bin Malik bin Al-Ajlan bin Amir bin Bayadhah., Rujailah bin Tsa'labah bin Khalid bin Tsa'labah bin Amir bin Bayadhah. Ibnu Hisyam berkata: pendapat lain mengatakan Rukhailah.
Ibnu Ishaq berkata: Athiyyah bin Nuwairah bin Amir bin Athiyyah bin Amir bin Bayadhah, Khulaifah bin Adi bin Amr bin Malik bin Amir bin Fuhairah bin Bayadhah. Jumlah mereka enam orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Habib bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadhbu bin Jusyam bin Al-Khazraj hanya seorang saja, yaitu Rafi' bin Al-Mu'alla bin Laudzan bin Haritsah bin Adi bin Zaid bin Tsa'labah bin Zaid Manat bin Habib.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani An-Najjar yang tidak lain adalah Taimullah bin Tsa'labah bin Amr bin Al- Khazraj, kemudian dari Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar, kemudian dari Bani Tsa'labah bin Abdu Auf bin Ghanm yang ikut terjun pada Perang Badar hanya seorang, dia adalah Abu Ayyub Khalid bin Kulaib bin Tsa'labah.
Dari Bani Usairah bin Abdu Auf bin Ghanm hanya satu orang, yaitu Tsabit bin An-Nu'man bin Khansa' bin Usairah. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Usair atau Usyairah.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Amr bin Abdu Auf bin Ghanm adalah sebagai berikut: Umarah bin Hazm bin Zaid bin Laudzan bin Amr, Suraqah bin Ka'ab bin Abdul Uzza bin Ghaziyyah bin Amr. Jumlah mereka hanya dua orang.
Dari Bani Ubay bin Tsa'labah bin Ghanm adalah sebagai berikut: Haritsah bin An-Nu'man bin Zaid bin Ubaid. Ibnu Hisyam berkata: Haritsah adalah anak An-Nu'man bin Naf'u bin Zaid. Sulaim bin Qais bin Qahdu. Nama Qahdu adalah Khalid bin Qais bin Ubaid. Jumlah dua orang.
 
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Anshar dari kaum Aidz bin Tsa’labah bin Ghanm, ada yang mengatakannya Bani Abid bin Adzz seperti dikatakan Ibnu Hisyam, adalah sebagai berikut: Suhail bin Rafi' bin Abu Amr bin Aidz, Adi bin Abu Az-Zaghba', sekutu Bani Aidz bin Tsa'labah. Mereka hanya dua orang.
Dari Bani Zaid bin Tsa'labah bin Ghanm adalah sebagai berikut: Mas'ud bin Aus bin Zaid. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid bin Ashram bin Zaid, Rafi' bin Al-Harits bin Sawwad bin Zaid. Jumlah mereka tiga orang.
Dari Bani Sawad bin Malik bin Ghanm adalah sebagai berikut: Auf bin Al-Harits bin Rifa'ah bin Sawad, Saudara Auf bin Al-Harits, yaitu Muawwidz bin Al-Harits bin Rifa'ah bin Sawad, saudara Auf bin Al- Harits yang lain, yaitu Muadz bin Al-Harits bin Rifa'ah bin Sawad. Ibu mereka bertiga adalah Afra'.
Ibnu Hisyam berkata: Afra' adalah putri Ubaid bin Tsa'labah bin Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Pendapat lain yang mengatakan Rifa'ah adalah anak Al-Harits bin Sawad. An- Nu'man bin Amr bin Rifa'ah bin Sawad. Ada pula pendapat yang mengatakan Nu'iman dan bukannya An-Nu'man seperti dikatakan Ibnu Hisyam, Amir bin Mukhallad bin Al-Harits bin Sawad, Abdullah bin Qais bin Khalid bin Khaladah bin Al-Harits bin Sawad, Ushaimah, sekutu Bani Sawad bin Malik dari Asyja', Wadi'ah bin Amr, sekutu Bani Sawad bin Malik dari Juhainah, Tsabit bin Amr bin Zaid bin Adi bin Sawwad. Para ulama mengatakan Abu Al-Hamra, mantan budak Al-Harits bin Afra ikut terjun di Perang Badar. Ibnu Hisyam berkata: Atau Al-Hamra, mantan budak Al-Harits bin Rifa'ah. Secara keseluruhan mereka berjumlah sepuluh orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Amir bin Malik bin An-Najjar dan Amir Mabdzul, kemudian dari Bani Atik bin Amr bin Mabdzul adalah sebagai berikut: Tsa'labah bin Amr bin Mihshan bin Amr bin Atik, Sahl bin Atik bin An-Nu'man bin Amr bin Atik, Al-Harits bin Ash-Shimmah bin Amr bin Atik. Al-Harits diminta untuk kembali ke Madinah dari Ar-Rauha oleh Rasulullah', kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberinya satu bagian dari rampasan perang. Jumlah mereka tiga orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Amr bin Malik bin An-Najjar yaitu Bani Hudailah, kemudian dari Bani Qais bin Ubayd bin Zaid bin Muawiyah bin Amr bin Malik bin An-Najjar.
Ibnu Hisyam berkata: Hudailah adalah putri Malik bin Zaidullah bin Habib bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadhbu bin Jusyam bin Al-Khazraj. Hudailah adalah ibu Muawiyah bin Amr bin Malik bin An- Najjar. Bani Muawiyah keturnan Hudaillah, adalah sebagai berikut: Ubay bin Ka'ab bin Qais, Anas bin Muadz bin Anas bin Qais. Jumlah mereka hanya dua orang.
Dari Bani bin Amr bin Malik bin Najjar, Ibnu Hisyam berkata: Mereka adalah Bani Maghalah binti Auf bin Abdu Manat bin Amr bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah. Pendapat yang lain mengatakan Maghalah berasal dari Bani Zuraiq. Maghalah adalah ibu Adi bin Amr bin Malik bin An-Najjar. Bani Adi menisbatkan diri mereka kepada Maghalah.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Adi bin Amr bin Malik bin Najjar adalah sebagai berikut: Aus bin Tsabit bin Al-Mundzir bin Haram bin Amr bin Zaid Manat bin Adi, Abu Syaikh Ubay bin Tsabit bin Al-Mundzir bin Haram bin Amr bin Zaid Manat bin Adi. Ibnu Hisyam berkata: Abu Syaikh Ubay bin Tsabit adalah saudara Hassan bin Tsabit, Abu Thalhah. Ia bernama lengkap Zaid bin Sahl bin Al-Aswad bin Haram bin Amr bin Zaid Manat bin Adi. Jumlah mereka adalah tiga orang.
Dari Bani Adi bin An-Najjar, kemudian dari Bani Adi bin Amir bin Ghanm bin Adi bin An-Najjar adalah sebagai berikut: Haritsah bin Suraqah bin Al-Harits bin Adi bin Matik bin Adi bin Amir, Amr bin Tsa'labah bin Wahb bin Adi bin Malik bin Adi bin Amir. Amr adalah ayah Hakim, Salith bin Qais bin Amr bin Atik bin Malik bin Adi bin Amir, Abu Salith yang tidak lain adalah Usairah bin Amr, Amr Abu Kharijah bin Qais bin Malik bin Adi bin Amir, Tsabit bin Umayyah bin Zaid bin Al-Hashas bin Malik bin Adi bin
 
Amir, Muhriz bin Amir bin Malik bin Adi bin Amir, Sawad bin Ghaziyyah bin Uhaib, sekutu Bani Adi bin An-Najjar dari Bali.
Ibnu Hisyam berkata: Pendapat lain mengatakan Sawwad. Jumlah seluruhnya adalah delapan orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanm bin Adi bin An-Najjar adalah sebagai berikut: Abu Zaid bin Qais bin Sakan bin Qais bin Zaura' bin Haram, Abu Al-A'war bin Al-Harits bin Zalim bin Absu bin Haram.
Ibnu Hisyam berkata: Pendapat lain mengatakan Abu Al-A'war adalah Al-Harits bin Zalim.
Ibnu Ishaq berkata: Sulaim bin Milhan. Nama Milhan adalah Malik bin Khalid bin Zaid bin Haram, Haram bin Milhan. Jumlah seluruhnya adalah empat orang.
Sedangkan yang berasal dari Bani Mazin bin An-Najjar, kemudian dari Bani Auf bin Mabdzul bin Amr bin Ghanm bin Mazin bin An-Najjar adalah sebagai berikut: Qais bin Abu Sha'sha'ah. Nama lengkap Abu Sha'sha'ah adalah Amr bin Zaid bin Auf, Abdullah bin Ka'ab bin Amr bin Auf, Ushaimah, sekutu Bani Mazin bin An-Najjar dari Bani Asad bin Khuzaimah. Seluruhnya berjumlah tiga orang.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Khansa' bin Amr bin Ghanm bin Mazin adalah sebagai berikut: Abu Daud Umair bin Amir bin Malik bin Khansa'. Jumlah seluruhnya hanya dua orang.
Adapun dari Bani Tsa'labah bin Mazin bin An-Najjar hanya seorang, dia adalah Qais bin Mukhallad bin Tsa'labah bin Shakhr bin Habib bin Al-Harits bin Tsa'labah.
Ibnu Ishaq berkata: Bani Dinar bin An-Najjar, kemudian dari Bani Mas'ud bin Abdul Asyhal bin Haritsah bin Dinar bin An-Najjar adalah sebagai berikut: An-Nu'man bin Abdu Amr bin Mas'ud, Saudara seibu An-Nu'man bin Abdu Amr, yaitu Adh-Dhahhak bin Abdu Amr bin Mas'ud, Sulaim bin Al-Harits bin Tsa'labah bin Ka'ab bin Haritsah bih Dinar, Jabir bin Khalid bin Abdul Asyhal bin Haritsah, Sa'ad bin Suhail bin Abdul Asyhat. Jumlah seluruhnya adalah lima orang.
Dari Bani Qais bin Malik bin Ka'ab bin Haritsah bin Dinar bin An-Najjar adalah sebagai berikut: Ka'ab bin Zaid bin Qais, Bujair bin Abu Bujair, sekutu mereka.
Ibnu Hisyam berkata: Bujair berasal dari Abdu bin Baghidh bin Raits bin Ghathafan, kemudian dari Bani Jadzimah bin Rawahah. Jumlah seluruhnya hanya dua orang.
Dengan demikian total kaum Anshar dari Al-Khazraj yang ikut serta pada Perang Badar adalah seratus tujuh puluh orang.
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian besar ulama menambahkan Itban bin Malik bin Amr bin Al-Ajlan, Mulail bin Wabarah bin Khalid bin Al-Ajlan, dan Ishmah bin Al-Hushain bin Wabarah bin Khalid bin Al-Ajlan ke dalam daftar kaum Anshar dari Bani Al-Ajlan bin Zaid bin Ghanm bin Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Ajlan yang turut serta pada Perang Badar. Mereka juga menambahkan Hilal bin Al-Mu'alla bin Laudzan bin Haritsah bin Adi bin Zaid bin Tsa'labah bin Malik bin Zaid Manat bin Habib ke dalam kaum Anshar dari Bani Habib bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadhbu bin Jusyam bin Al-Khazraj yang hadir di Perang Badar.
Ibnu Ishaq berkata: Jumlah keseluruhan kaum Muslimin dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang terjun pada Perang Badar, serta diberi jatah rampasan perang dan pahala jihad meskipun tidak hadir adalah tiga ratus empat belas. Dengan rincian sebagai berikut: Dari kaum Muhajirin sebanyak delapan puluh tiga orang, dari kaum Anshar dari kaum Al-Aus sebanyak enam puluh satu orang, dari kaum Anshar dari kaum Al-Khazraj sebanyak seratus tujuh puluh orang.
 

 Syuhada' Kaum Muslimin yang Gugur di Perang Badar


Kaum Muslimin yang gugur sebagai syuhada pada Perang Badar dari Quraisy dari Bani Abdul Muthalib bin Abdu Manaf hanya seorang yaitu Ubadah bin Al-Harits bin Al-Muthalib. Ia dibunuh Utbah bin Rabi'ah. Utbah bin Rabi'ah memotong kakinya. Ubaidah bin Al- Harits gugur di Ash-Shafra'.
Sedangkan dari Bani Zuhrah bin Kilab adalah sebagai berikut: Umair bin Abu Waqqash bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah. Ia saudara Sa'ad bin Abu Waqqash seperti dikatakan Ibnu Hisyam, Dzu Asy- Syimalain bin Abdu Amr bin Nadhlah, sekutu Bani Zuhrah dari Khuza'ah, kemudian dari Bani Ghubsyan. Seluruhnya berjumlah dua orang.
Dari Bani Adi bin Ka'ab bin Luay adalah sebagai berikut: Aqil bin Al-Bukair, sekutu Bani Adi bin Ka'ab dari Ibnu Sa'ad bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah, Mihja', mantan budak Umar bin Khaththab. Jumlah- nya adalah dua orang.
Dari Bani Al-Harits bin Fihr hanya Shafwan bin Baidha'.
Secara keseluruhan jumlah syuhada' Perang Badar dari kaum Muhajirin berjumlah enam orang.
Sedangkan syuhada' Perang Badar dari kaum Al-Anshar dari Bani Amr bin Auf adalah sebagai berikut: Sa'ad bin Khaitsamah, Mubasysyir bin Abdul Mundzir bin Zanbar. Jumlahnya hanya dua orang.
Dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj hanya Yazid bin Al-Harits yang biasa disapa dengan sapaan Ibnu Fushum.
Dari Bani Salimah, kemudian dari Bani Haram bin Ka'ab bin Ghanm bin Ka'ab bin Salimah hanya Umair bin Al-Humam.
Dari Bani Habib bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadhbu bin Jusyam hanya Rafi' bin Al-Mu'alla. Dari Bani An-Najjar hanya Haritsah bin Suraqah bin Al-Harits.
Dari Bani Ghanm bin Malik bin An-NaJ- jar adalah sebagai berikut: Auf bin Al-Harits bin Rifa'ah bin Sawad, Saudara Auf bin Al- Harits, yaitu Muawwidz bin Al-Harits bin Rifa'ah bin Sawad. keduanya merupakan anak dari Afra'.
Jumlah seluruh sahabat yang gugur sebagai syuhada' Perang Badar dari kaum Anshar adalah delapan orang.



Kaum Musyrikin yang Tewas di Perang Badar


Korban tewas dari pihak kaum musyrikin di Perang Badar dari Quraisy dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah sebagai berikut: Hanzhalah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. Hanzhalah dibunuh Zaid bin Haritsah, mantan budak Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. pendapat lain mengatakan Hanzhalah dibunuh oleh tiga orang sekaligus, yakni Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah sebagaimana disebutkan Ibnu Hisyam.
 
Ibnu Ishaq berkata: Al-Harits bin Al-Hadhrami, sekutu Bani Abdu Syams. Al-Harits dibunuh An-Nu'man bin Ashr, sekutu Al-Aus menurut Ibnu Hisyam. Amir bin Al-Hadhrami. Ia dibunuh oleh Ammar bin Yasir menurut Ibnu Hisyam, Umair bin Abu Umair, sekutu Bani Abdu Syams. Umair bin Abu Umair dibunuh Salim, mantan budak Abu Hudzaifah menurut Ibnu Hisyam. Anak Umair bin Abu Umair, yaitu Umair sekutu Bani Abdu Syams.
Ibnu Ishaq berkata: Ubaidah bin Sa'id bin Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams. Ia dibunuh Zubair bin Awwam, Al-Ash bin Sa'id bin Al-Ash bin Umayyah. la dibunuh Ali bin Abu Thalib, Uqbah bin Abu Mu'aith bin Abu Amr bin Umayyah bin Abdu Syams. la dibunuh dalam keadaan terikat oleh Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqla', saudara Bani Amr bin Auf.
Ibnu Hisyam berkata: Dikatakan bahwa dia dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib.
Ibnu Ishaq berkata: Utbah bin Rabiah bin Abdu Syam. Ia dibunuh oleh Ubaidah bin al-Harits bin al- Muthalib.
Ibnu Hisyam berkata: Hamzah dan Ali bersamaan membunuh Utbah bin Rabiah bin Abdu Samy.
Ibnu Ishaq berkata: Syaibah bin Rabi'ah bin Abdu Syams. Ia dibunuh oleh Hamzah bin Abdiri Muthalib, Al-Walid bin Utbah bin Rabi'ah. Ia dibunuh Ali bin Abu Thalib, Amir bin Abdullah, sekutu Bani Abdu Syams dari Bani Anmar bin Baghidh. Ia dibunuh Ali bin Abu Thalib. Seluruh korban tewas dari Bani Abdu Syams adalah dua belas orang.
Sedangkan dari Bani Naufal bin Abdu Manaf adalah sebagai berikut: Al-Harits bin Amir bin Naufal. Ia dibunuh Khubaib bin Isaf, saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, Thu'aimah bin Adi bin Naufal. Ia dibunuh Ali bin Abu Thalib. Pendapat lain mengatakan bahwa dia dibunuh oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Seluruh korban tewas dari Bani Naufal bin Abu Manaf berjumlah dua orang.
Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay adalah sebagai berikut: Zam'ah bin Al- Aswad bin Al- Muthalib bin Asad.
Ibnu Hisyam berkata: Zam'ah bin Al-Aswad dibunuh Al-Jidz'u, saudara Bani Haram. Pendapat lain mengatakan ia dibunuh oleh beberapa sahabat, yaitu; Al-Jidz'u sendiri, Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abu Thalib, dan Tsabit.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Harits bin Zam'ah. Ia dibunuh Ammar bin Yasir sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam. Aqil bin Al-Aswad bin Al-Muthalib. Ia dibunuh Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abu Thalib sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam, Abu Al-Bakhtari. Nama lengkapnya Al-Ash bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad. Ia dibunuh Al-Mujadzdzar bin Dziyad Al-Balawi.
Ibnu Hisyam berkata: Nama lengkap Abu Al-Bakhtari adalah Al-Ash bin Hasyim.
Ibnu Ishaq berkata: Naufal bin Khuwailid bin Asad. Dia adalah orang yang mengikat Abu Bakar Ash- Shiddiq dan Thalhah bin Ubaidillah dalam satu ikatan ketika keduanya masuk Islam, sehingga keduanya dikenal dengan panggilan dua orang yang terkait. Naufal bin Khuwailid termasuk diantara setan-setan Quraisy. Ia dibunuh Ali bi Abu Thalib.
Seluruh korban tewas dari Bani Naufal bin Abdul Uzza berjumlah lima orang.
Dari Bani Abduddar bin Qushay adalah sebagai berikut: An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddar. Ia dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib
dalam keadaan terikat di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Ash-Shafra'.
 
Ibnu Hisyam berkata: An-Nadhar bin Al-Harits dibunuh di Al-Utsail. Ada pendapat yang mengatakan An-Nadhr adalah anak Al-Harits bin Alqamah bin Kaladah bin Abdu Manaf bin Abduddar.
Ibnu Ishaq berkata: Zaid bin Mulaish, mantan budak Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar.
Ibnu Hisyam berkata: Zaid bin Mulaish dibunuh Bilal bin Rabah, mantan budak Abu Bakar. Zaid adalah sekutu Bani Abduddar. Ia berasal dari Bani Mazin bin Malik bin Amr bin Tamim. Pendapat lain mengatakan Zaid bin Mulaish dibunuh Al-Miqdad bin Amr. seluruh korban tewas dari Bani Abduddar bin Qushay berjumlah dua orang.
Dari Bani Taim bin Murrah adalah sebagai berikut: Umair bin Utsman bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim.
Ibnu Hisyam berkata: Umair bin Utsman dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib. Pendapat lain menyebutkan bahwa ia dibunuh oleh Abdurrahman bin Auf.
Ibnu Ishaq berkata: Utsman bin Malik bin Ubaidillah bin Utsman bin Amr bin Ka'ab. la dibunuh Shuhaib bin Sina.
Jumlah korban tewas dari Bani Taim bin Murrah adalah dua orang.
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah adalah sebagai berikut: Abu Jahal bin Hisyam. Abu Jahal bernama asli Amr bin Hisyam bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Kakinya ditebas oleh Muadz bin Amr bin Al-Jamuh hingga kakinya terputus, kemudian anak Abu Jahal, Ikrimah menyerang balik Muadz bin Amr hingga tangannya terputus, lalu Abu Jahal diserang Muawwidz bin Afra' dengan serangan yang membuatnya sekarat. Muawwidz membiarkan Abu Jahal dalam keadaan sekarat, kemudian Abu Jahal ditebas oleh Abdullah bin Mas'ud hingga tewas. Abdullah bin Mas'ud memenggal kepalanya pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meminta para sahabat untuk mencari Abu Jahal di antara korban dari pihak kaum musyrikin.
Al-Ash bin Hisyam bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Ia tewas di tangan Umar bin Khaththab.
Yazid bin Abdullah, sekutu Bani Makhzum bin Murrah dari Bani Tamim.
Ibnu Hisyam berkata: Yazid bin Abdullah adalah seorang yang sangat pemberani. Ia tewas dibunuh oleh Ammar bin Yasir.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Musafi' Al- Asy'ari, sekutu Bani Makhzum bin Murrah. Ia dibunuh Abu Dujanah As-Sa'idi sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam, Harmalah bin Amr, sekutu Bani Makhzum.
Ibnu Hisyam berkata: Harmalah bin Amir dibunuh Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair, saudara Balharits bin Al-Khazraj. Pendapat lain mengatakan ia tewas dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib. Harmalah berasal dari Al-Asd.
Ibnu Ishaq berkata: Mas'ud bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah. Ia dibunuh Ali bin Abu Thalib sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam.
Abu Qais bin Al-Walid bin Al-Mughirah.
Ibnu Hisyam berkata: Ia tewas di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Qais bin Al-Fakih bin Al-Mughirah. Ia tewas dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib. Pendapat lain mengatakan ia dibunuh oleh Ammar bin Yasir seperti dikatakan Ibnu Hisyam.
 
Ibnu Ishaq berkata: Rifa'ah bin Abu Rifa'ah bin Aidz bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Ia tewas dibunuh oleh Sa'ad bin Ar-Rabi', saudara Al-Harits bin Al-Khazraj sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam.
Al-Mundzir bin Abu Rifa'ah bin Aidz. Ia tewas dibunuh oleh Ma'nu bin Adi bin Al-Jaddu bin Al-Ajlan, sekutu Bani Ubaid bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf seperti dikatakan Ibnu Hisyam.
Abdullah bin Al-Mundzir bin Abu Rifa'ah bin Aidz. Ia tewas di tangan Ali bin Abu Thalib seperti dikatakan Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: As-Saib bin Abu As- Saib bin Abid bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.
Ibnu Hisyam berkata: As-Saib bin Abu As-Saib merupakan sekutu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rasulullah pernah bersabda tentang As-Saib bin Abu As-Saib: Sebaik-baik sekutu adalah As- Saib bin Abu As-Saib. Ia tidak layak diajak bermusyawarah dan bertengkar92. ' Ia masuk Islam dan keis- lamannya sangat bagus. Demikianlah berita yang sampai pada kami, wallahu a'lam. "


Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata dari Ubai- dillah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas, bahwa As-Saib bin Abu As-Saib bin Abid bin Abdullah bin Umar bin Makhzum termasuk diantara orang-orang Quraisy yang berbaiat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Pada Perang Al-Ji'ranah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberinya rampasan Perang Hunain. Ibnu Hisyam berkata: Selain Ibnu Ishaq berkata bahwa As-Saib bin Abu As-Saib dibunuh Zubair bin Awwam.
Ibnu Ishaq: Al-Aswad bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, la tewas dibunuh oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Hajib bin As-Saib bin Uwaimir bin Amr bin Abid, Ibnu Hisyam berkata: Pendapat lain mengatakan Aidz bin Abd bin Imran bin Makhzum. Ibnu Hisyam berkata: Pendapat lain mengatakan Hajiz bin As-Saib. la tewas dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib.
Ibnu Ishaq berkata: Uwaimir bin As-Saib bin Uwaimir. Ia tewas di tangan An-Nu'man bin Malik Al- Qauqali dalam perang tanding sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Sufyan sekutu Bani Makhzum bin Yaqazhah dari Thayyi'. Ia dibunuh Yazid bin Ruqaisy, Jabir bin Sufyan, sekutu Bani Makhzum bin Yaqazhah. Ia dibunuh Abu Burdah bin Niyar sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam.
Seluruh korban tewas dari Bani Makhzum bin Yaqazhah adalah berjumlah tujuh belas orang.
Dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay adalah sebagai berikut: Munabbih bin Al- Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Sa'ad bin Sahm. Ia tewas dibunuh oleh Abu Al-Yasar saudara Bani Salimah. Anak Munabbih, yang bernama Al-Ash bin Munabbih bin Al-Hajjaj. Ia tewas dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam. Nubaih bin Al-Hajjaj bin Amir. Ia tewas di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib dan Sa'ad bin Abu Waqqash. Abu Al-Ash bin Qais bin Adi bin Su'aid bin Sahm.
Ibnu Hisyam berkata: Ia tewas di tangan Ali bin Abu Thalib. Pendapat lain menyebutkan bahwa ia tewas dibunuh oleh An-Nu'man bin Malik Al-Qauqali. Ada pula yang menyebutkan bahwa ia dibunuh oleh Abu Dujanah.
 
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Abu Auf bin Dhubayrah bin Su'aid bin Sahm. Ia tewas oleh Abu Al-Yasar, saudara Bani Salimah seperti dikatakan Ibnu Hisyam. seluruh korban tewas dari Bani Sahm bin Amr adalah berjumlah lima orang.
Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay adalah sebagai berikut: Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Ia tewas di tangan seseorang dari kaum Anshar dari Bani Mazin.
Ibnu Hisyam berkata: Ia dibunuh oleh Muadz bin Afra', Kharijah bin Zaid, dan Khubaib bin Isaf.
Ibnu Ishaq berkata: Anak Umayyah bih Khalaf. yaitu Ali bin Umayyah bin Khalaf. Ia tewas di tangan Ammar bin Yasir. Aus bin Mi'yar bin Laudzan bin Sa'ad bin Jumah. Ia tewas oleh Ali bin Abu Thalib seperti dituturkan Ibnu Hisyam. Pendapat lain mengatakan ia tewas oleh Al-Hushain bin Al-Harits bin Al-Muthalib dan Utsman bin Madz'un.
Jumlah keseluruhan korban tewas dari Bani Jumah bin Amr adalah tiga orang.
Dari Bani Amir bin Luay adalah sebagai berikut: Muawiyah bin Amir, sekutu Bani Amir bin Luay. Ia tewas di tangan Ali bin Abu Thalib. Pendapat lain mengatakan ia dibunuh oleh Ukasyah bin Mihshan sebagaimana disebutkan Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Ma'bad bin Wahb, sekutu Bani Amir bin Luay dari Bani Kalb bin Auf bin Ka'ab bin Amir bin Laits. Ia dibunuh Khalid bin Al-Bukair, dan Iyas bin Al-Bukair. Ada lagi yang mengatakan ia dibunuh Abu Dujanah. Jumlah seluruh korban tewas dari Bani Amir bin Luay adalah dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: seluruh korban dari pihak orang-orang Quraisy di Perang Badar yang disebutkan kepada kami adalah sebanyak lima puluh orang.
berkata kepadaku dari Abu Amr yang berkata bahwa seluruh korban tewas dari pihak orang-orang Quraisy di Perang Badar berjumlah tujuh puluh orang. Jumlah orang-orang Quraisy yang tertawan juga tujuh puluh orang. Ini pendapat Ibnu Abbas dan Sa'id bin Musaiyyib. Allah Taala berfirman,


Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar). (QS. Ali Imran: 165).
Ayat di atas ditujukan kepada para mujahidin Perang Uhud. Dimana jumlah syuhada kaum Muslimin pada Perang Uhud tujuh puluh orang. Allah mengatakan kepada mereka: Kalian telah menimpakan musibah kepada mereka (kaum musyrikin) dua kali lipat lebih banyak di Perang Badar daripada jumlah syuhada kalian di Perang Uhud; tujuh puluh korban yang tewas, dan tujuh puluh orang lainnya tertawan.
Abu Zaid al-Anshari menyenandungkan syairnya kepadaku:
Mereka berada di tempat menderumnya unta di sekitar air Tujuh puluh orang di antara mereka terdapat Utbah dan Aswad

Maksud tujuh puluh di sini adalah korban pihak Quraisy di Perang Badar. Ini adalah syair dia di perang Uhud yang akan aku paparkan nanti, Insyaallah.
 
Ibnu Hisyam berkata: Di antara ketujuh puluh korban dari kaum musyrikin yang tidak disebutkan Ibnu Ishaq adalah sebagai berikut:
Dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah: Wahb bin Al-Harits, sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf dari Bani Anmar bin Baghidh. Amir bin Zaid sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf dari Yaman. seluruhnya dua orang.
Dari Bani Asad bin Abdul Uzza adalah: Utbah bin Zaid, sekutu Bani Asad bin Abdul Uzza dari Yaman. Ubaid bin Salith, sekutu Bani Asad bin Abdul Uzza dari Qais. Seluruh korbannya adalah dua orang.
Dari Bani Taim bin Murrah adalah: Malik bin Ubaidillah bin Utsman. Ia saudara Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman. Ia ditawan kemudian meninggal dunia. Sebab itulah ia dimasukkan ke dalam daftar korban tewas. Amr bin Abdullah bin Jud'an. Seluruhnya berjumlah dua orang.
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah adalah: Hudzaifah bin Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah. Ia tewas oleh Sa'ad bin Abu Waqqash, Hisyam bin Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah. Ia tewas di tangan Shuhaib bin Sinan. Zuhair bin Abu Rifa'ah. Ia tewas oleh Abu Usaid bin Malik bin Rabi'ah. As-Saib bin Abu Rifa'ah. Ia tewas dibunuh oleh Abdurrahman bin Auf. Aidz bin As-Saib bin Uwaimir. Ia tertawan, lalu ditebus, dan meninggal dunia dalam perjalanan karena luka akibat serangan Hamzah bin Abdul Muthalib. Umair, sekutu Bani Makhzum bin Yaqadzah dari Thayyi'. Khiyar sekutu bani Makhzum bin Yaqadzah dari Al-Qarah. Seluruh korban tewas adalah tujuh orang.
Dari Bani Jumah bin Amr hanya seorang Sabrah bin Malik sekutu Bani Jumah bin Amr.
Dari Bani Sahm bin Amr adalah: Al-Harits bin Munabbih bin Al-Hajjaj. Ia tewas dibunuh oleh Shuhaib bin Sinan. Amir bin Abu Auf bin Dhubayrah saudara Ashim bin Dhubayrah. la dibunuh oleh Abdullah bin Salamah Al-Ajlani. Pendapat lain mengatakan ia dibunuh Abu Dujanah. Seluruh korban tewas adalah dua orang.



Tawanan Perang Badar


Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang musyrikin Quraisy dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf yang tertawan pada Perang Badar adalah sebagai berikut: Aqil bin Abu Thalib bin Abddul Muthalib bin Hasyim dan Naufal bin Al-Harits bin Abdul Muthalib bin Hasyim.
Dari Bani Al-Muthalib bin Abdu Manaf: As-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al-Muthalib, Nu'man bin Amr bin Alqamah bin Al-Muthalib. Jumlahnya dua orang.
Dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf: Amr bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. Al-Harits bin Abu Wajzah bin Abu Amr bin Umayyah bin Abdu Syam Ibnu Hisyam berkata: pendapat lain mengatakan Al-Harits adalah anak Abu Wahrah. Abu Al-Ash bin Ar-Rabi' bin Abdul Uzza bin Abdu Syams, Abu Al-Ash bin Naufal bin Abdu Syams, Abu Risyah bin Abu Amr, sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf, Amr bin Al-Azraq, sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf, Uqbah bin Abdul Harits bin Al-Hadhrami, sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf. Jumlah seluruh tawanan dari Bani Abdu Syam bin Abdu Manaf, dan sekutu-sekutu mereka adalah tujuh orang.
Ghazwan bin Jabir. Utsman bin Abdu Syams adalah sekutu Bani Naufal bin Abdu Manaf dari Bani Mazin bin Manshur. Abu Tsaur, sekutu Bani Naufal bin Abdu Manaf. Seluruhnya adalah tiga orang.
 
Dari Bani Abduddar bin Qushay adalah sebagai berikut: Abu Aziz bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar, Al-Aswad bin Amir, sekutu Bani Abdudaar bin Qushay. Orang-orang Bani Al-Aswad berkata: Kami keturunan Al-Aswad bin Amir bin Amr bin Al-Harits bin As-Sabbaq. Seluruhnya adalah dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: dari Bani Asad bin Abdul Uzza adalah sebagai berikut: As-Saib bin Abu Hubaysy bin Al-Muthalib bin Asad. Al-Huwairits bin Abbad bin Utsman bin Asad. Ibnu Hisyam berkata: Dia bukan Al-Huwairits, tapi Al-Harits bin Aidz bin Utsman bin Asad. Salim bin Syammakh, sekutu Bani Asad bin Abdul Uzza. Seluruhnya adalah tiga orang.
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah yang tertawan di Perang Badar adalah sebagai berikut: Khalid bin Hisyam bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Umayyah bin Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah. Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah Utsman bin Abdullah bin Al-Mughirah bm Abdullah bin Umar bin Makhzum, Shaifi bin Abu Rifa'ah bin Abid bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, Abu Al-Mundzir bin Abu Rifa'ah bin Abid bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Abu Atha' Abdullah bin Abu As-Saib bin Abid bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Al-Muthalib bin Hanthab bin Al-Harits bin Ubayd bin Umar bin Makhzurrij Quraisy yang mundur dari medan perang Badar. Dialah yang pernah berkata: Kami mundur bukan karena luka kami berdarah, namun dari kami-kami mengucur darah. ' Khalid bin Al-A'lam berasal dari Khuza'ah.
Seluruhnya tawanan dari suku ini berjumlah sembilan orang.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy dari Bani Sahm bin Amr Hushaih bin Ka'ab bin Luay adalah sebagai berikut: Abu Wada'ah bin Dhubairah bin Su'aid bin Sa'ad bin Sahm. Dialah tawanan Badar yang paling pertama ditebus. Ia ditebus oleh anaknya, AI-Muthalib bin Abu Wada'ah. Farwah bin Qais bin Adi bin Hudzafah bin Su'aid bin Sahm. Handzalah bin Qabishah bin Hudzafah bin Su'aid bin Sahm. Al- Hajjaj bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Su'aid bin Sahm. Seluruh yang tertawan adalah empat orang.
Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab adalah sebagai berikut: Abdullah bin Ubay bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah, Abu Azzah bin Amr bin Abdullah bin Utsman bin Uhaib bin Hudzafah bin Jumah, Al-Fakih, mantan budak Umayyah bin Khalaf. Rabah bin Al-Mughtarif mengaku bahwa ia adalah tuan (pemilik) Al-Fakih. Rabah bin Al-Mughtarif berkata bahwa Al-Fakih berasal dari Bani Syammakh bin Muharib bin Fihr. Pendapat lain mengatakan Al-Fakih adalah anak Jarwal bin Hidzyim bin Auf bin Ghadhbu bin Syammakh bin Muharib bin Fihr. Wahb bin Umair bin Wahb bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Rabi'ah bin Darraj bin Al-Anbas bin Uhban bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Selurunya berjumlah lima orang.
Dari Bani Amir bin Luay adalah sebabagi berikut: Suhail bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir. Ia ditawan oleh Malik bin Ad-Dukhsyum, saudara Bani Salim bin Auf. Abdu bin Zam'ah bin Qais bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir. Abdurrahman bin Mansyu' bin Waqdan bin Qais bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin
Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir. Seluruh-nya adalah tiga orang.
Dari Bani Al-Harits bin Fihr adalah se-bagai berikut: Ath-Thufail bin Abu Qunay'i dan Utbah bin Amr bin Jahdam. Seluruhnya adalah dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Seluruh orang-orang Quraisy yang tertawan di Perang Badar sebagaimana disampaikan kepada kami adalah berjumlah empat puluh tiga orang.
Ibnu Hisyam berkata: Terdapat beberapa orang yang menjadi tawanan perang yang namanya tidak aku ketahui.
 
Ibnu Hisyam berkata: Terdapat orang-orang Quraisy yang tertawan di Perang Badar, namun nama mereka tidak disebutkan oleh Ibnu Ishaq. Rinciannya adalah sebagai berikut:
Dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf hanya seorang, yaitu Utbah, sekutu Bani Hasyim bin Abdu Manaf dari Bani Fihr.
Dari Bani Abdul Muthalib bin Abdu Manaf adalah sebagai berikut: Aqil bin Amr, sekutu Bani Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Saudara Aqil bin Amir, yaitu Tamim bin Amr,Anak Aqil bin Amr. Seluruhnya adalah tiga orang.
Dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah sebagai berikut: Khalid bin Usaid bin Abu Al-Ish. Abu Al- Aridh Yasar, mantan budak Umayyah bin Khalaf. seluruhnya dua orang.
Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf hanya serang, yaitu Nabhan, sekutu mereka.
Dari Bani Asad bin Abdul Uzza hanya seorang, yaitu Abdullah bin Humaid bin Zuhair bin Al-Harits. Dari Bani Abduddar bin Qushay satu orang, yaitu Aqil, sekutu mereka dari Yaman.
Dari Bani Taim bin Murrah adalah seba- gai berikut: Musafi' bin lyadh bin Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Jabir bin
Zubair, sekutu mereka. Total Dua orang
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah satu orang, yaitu Qais bin As-Saib.
Dari Bani Jumah bin Amr adalah sebagai berikut: Amr bin Ubay bin Khalaf, Abu Ruhm bin Abdullah, sekutu mereka, dan seorang sekutu mereka yang aku lupa namanya. Nisthas dan Abu Rafi' keduanya adalah mantan budak Umayyah bin Khalaf. Total enam orang.
Dari Bani Sahm bin Amr satu orang, yaitu Aslam, mantan budak Nubaih bin Al-Hajjaj.
Dari Bani Amir bin Luay adalah sebagai berikut: Habib bin Jabir, As-Saib bin Malik. Total dua orang.
Dari Bani Al-Harits bin Fihr adalah sebagai berikut: Syaafi' dan Syafii', sekutu mereka dari Yaman. Total dua orang.



Perang Sawiq (Tepung)


Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah bin Al-Bakkai bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al Muthalibi yang berkata: Abu Sufyan bin Harb meninggalkan Makkah untuk melaksanakan Perang As-Sawiq, pada bulan Dzul Hijjah. Haji tahun itu dikelola oleh orang-orang musyrik.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ta'far bin Zubair, Yazid bin Ruman, dan orang yang tidak diragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik –salah seorang Anshar yang berilmu tinggi: Tatkala Abu Sufyan bin Harb tiba di Makkah, dalam waktu yang bersamaan orang-orang Quraisy yang kalah perang lari dari Badr dalam keadaan berantakan. Maka ia bernazar untuk tidak ada air yang menyentuh kepalanya karena junub (tidak menggauli isterinya) hingga menyerang Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Maka ia pun berangkat ia keluar dari Makkah bersama dengan dua ratus pasukan Quraisy demi menebus nazarnya. Abu Sufyan bin Harb berjalan melewati tanah tinggi yang
 
rumit, hingga akhirnya ia tiba di depan terowongan ke arah Gunung Tsaib yang berjarak kurang lebih 12 mil dari Madinah.
Pada suatu malam yang gelap gulita, Abu Sufyan bin Harb pergi menuju Bani An-Nadhir. Setibanya di rumah Huyay bin Al Akhthab lalu mengetuk pintu rumahnya, namun karena ada rasa khawatir Huyay bin Akhthab menolak membukakan pintu untuknya. Abu Sufyan bin Harb segera berpindah pergi ke rumah Sallam bin Misykam. Sallam bin Misykam adalah tokoh sangat berpengaruh di Bani An-Nadhir dan penjaga harta kekayaan mereka. Abu Sufyan bin Harb meminta Sallam bin Misykam mengizinkan dirinya masuk rumah dan Sallam bin Misykam mengizikannya. Sallam bin Misykam menjamu Abu Sufyan dan memberi banyak informasi kepadanya. Pada penghujung malam, Abu Sufyan bin Harb keluar dari rumah Sallam bin Misykam ke tempat para sahabatnya, lalu ia mengutus beberapa orang Quraisy ke Madinah. Anak buah Abu Sufyan bin Harb tiba di Al-Uraidh kemudian mereka membakar perkebunan kurma di sana. Di Al Uraidh, mereka bertemu salah seorang Anshar dan sekutunya yang sedang bekerja ladang mereka, lalu mereka membunuh kedua Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar untuk menguber orang-orang Quraisy tersebut hingga tiba di dataran rendah Al-Kudri, lalu meninggalkannya sebab beliau tidak berhasil mengejar Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya. Di Al Kudri, para sahabat mendapatkan perbekalan orang-orang Quraisy yang dibuang di sawah dengan tujuan demi melincahkan gerak mereka dalam pelarian. Ketika para sahabat pulang ke Madinah bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mereka bertanya: Wahai Rasulullah apakah engkau menginginkan perang untuk kami? Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya, benar."
Ibnu Hisyam berkata: Selama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengikuti perang Sawiq, beliau menunjuk Basyir bin Abdul Mundzir yakni Abu Lubabah sebagai pengganti beliau sementara untuk menjadi imam di Madinah.
Ibnu Ishaq berkata: Perang ini dinamakan perang Sawiq, sebagaimana dituturkan Abu