Kitab Pertama: Al-Qur'an
Nama kitab/buku: Terjemah kitab Lubbul Ushul
Nama kitab asal: Lubbul Ushul fi Ushul al-Fiqh wad Din (لب الأصول في أصول الفقه والدين)
Pengarang: Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari
Nama lengkap penulis: Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariyah al-Anshari (شيخ الاسلام ابو يحيى زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الانصاري)
Kelahiran: 1421 M / 824 H Kairo, Mesir
Wafat: 1520 M / 926 H, Kairo, Mesir
Penerjemah:
Bidang studi: Ushul Fikih madzhab Syafi'i
Daftar isi
- Kitab Pertama: Al-Qur'an
- Al-Manthuq (Petunjuk Lafazh di Tempat Pengucapan)
- Al-Mafhum (Petunjuk Lafazh di Luar Tempat Pengucapan)
- Az-Zhāhir (Makna Jelas) dan Al-Mu'awwal (Yang Diinterpretasi)
- Al-Bayān (Penjelasan)
- Kembali ke buku/kitab: Terjemah Lubbul Ushul
الكتاب الأول :في الكتاب ومباحث الأقوال
Kitab Pertama: Tentang Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Pembahasan tentang Perkataan
الكتاب، القرآن: وهو هنا اللفظ المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم المعجز بسورة
منه المتعبد بتلاوته ومنه البسملة أول كل سورة في الأصح غير براءة لا الشاذ في
الأصح والسبع متواترة ولو فيما هو من قبيل الأداء كالمدّ وتحرم القراءة بالشّاذ
والأصح أنه ما وراء العشر وأنه يجري مجرى الآحاد وأنه لا يجوز ورود مالا معنى له
في الكتاب والسنة ولا مالا يعنى به غير ظاهره إلا بدليل وأنه لا يبقى مجمل كلف
بالعمل به غير مبين وأن الأدلة النقلية قد تفيد اليقين بانضمام غيرها
Kitab Pertama: Tentang Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Pembahasan tentang
Perkataan
Al-Kitab, Al-Qur'an: Ia di sini adalah lafadz yang diturunkan
kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mu'jiz dengan satu surah
darinya, yang diibadahi dengan membacanya, dan termasuk basmalah di awal
setiap surah menurut yang lebih shahih kecuali surah Bara'ah (At-Taubah).
Tidak termasuk yang syadz menurut yang lebih shahih. Tujuh qira'at mutawatir
walaupun dalam hal adaa' seperti madd. Haram membaca dengan yang syadz. Yang
lebih shahih: Yang syadz adalah selain sepuluh (qira'at sab'ah plus tiga). Ia
berjalan seperti ahad. Tidak boleh ada dalam Al-Kitab dan Sunnah yang tidak
bermakna, atau yang tidak dimaksud selain zhahirnya kecuali dengan dalil.
Tidak tetap mujmal yang dibebani amal dengannya tanpa dibayangkan. Dalil-dalil
naqli bisa memberikan keyakinan dengan bergabungnya yang lain.
المنطوق والمفهوم
Al-Manthuq wa al-Mafhum (Yang Diucapkan dan Yang Dipahami)
المنطوق: ما دلّ عليه اللفظ في محل النطق وهو إن أفاد ما لا يحتمل غيره كزيد فنص
أو ما يحتمل بدله مرجوحًا كالأسد فظاهر ثم إن دل جزؤه على جزء معناه فمركب و إلا
فمفرد ودلالته على معناه مطابقة وعلى جزئه تضمن ولازمه الذهني التزام. والأوليان
لفظيتان والأخيرة عقلية ثم هي إن توقف صدق لمنطوق أو صحته على إضمار فدلالة
اقتضاء و إلا فإن دلّ على ما لم يقصده فدلالة إشارة و إلا فدلالة إيماء والمفهوم
ما دل عليه اللفظ لا في محل النطق فإن وافق المنطوق فموافقة ولو مساويا في الأصح
ثم فحوى الخطاب إن كان أولى ولحنه إن كان مساويًا فالدلالة مفهومية على الأصح وإن
خالفه فمخالفة وشرطه أن لا يظهر لتخصيص المنطوق بالذكر فائدة غير نفي حكم غيره
كأن خرج للغالب في الأصح أو لخوف تهمة أو لموافقة الواقع أو سؤال أو لحادثة أو
لجهل بحكمه أو عكسه ولا يمنع قياس المسكوت بالمنطوق فلا يعمه المعروض وقيل يعمه
وهو صفة كالغنم السائمة وسائمة الغنم وكالسائمة في الأصح والنفي في الأولين
معلوفة الغنم على المختار وفي الثالث معلوفة النعم. ومنها العلة والظرف والحال
والشرط وكذا الغاية وتقديم المعمول غالبًا والعدد، ويفيد الحصر إنما بالكسر في
الأصح وضمير الفصل ولا وإلا الاستثنائية وهو أعلاها فما قيل منطوق كالغاية وإنما
فالشرط فصفة أخرى مناسبة وغير مناسبة فالعدد فتقديم المعمول ، والمفاهيم حجة لغة
في الأصح. وليس منها لقب في الأصح.
Al-Manthuq adalah apa yang ditunjukkan oleh lafazh di tempat pengucapan (tersurat). Lafazh ini dibagi menjadi:
- Nass (Teks Tegas): Jika ia memberikan makna yang tidak mungkin mengandung makna lain (misalnya, nama Zaid).
- Zhahir (Teks Jelas): Jika ia memberikan makna yang memungkinkan adanya makna pengganti yang marjuh (lemah) (misalnya, kata Singa (al-asad) yang secara zahir bermakna hewan buas, namun bisa dimaknai ksatria—sebagai makna marjuh).
- Murakkab (Majemuk/Tersusun): Jika sebagian dari lafazhnya menunjukkan sebagian dari maknanya.
- Mufrad (Tunggal): Jika tidak (lafazh tunggal).
- Dhalalah Mutabaqah (Kesesuaian): Petunjuk lafazh terhadap maknanya secara keseluruhan.
- Dhalalah Tadhammun (Ketercakupan): Petunjuk lafazh terhadap sebagian dari maknanya.
- Dhalalah Iltizam (Kelaziman): Petunjuk lafazh terhadap makna yang merupakan kelaziman (konsekuensi logis) dari maknanya di pikiran.
Dua yang pertama (Mutabaqah dan Tadhammun) bersifat lafazhiyyah (tekstual), dan yang terakhir (Iltizam) bersifat 'aqliyyah (rasional/logis).
Dhalalah Iltizam (Konsekuensi) Lebih Lanjut
- Dhalalah Iqtida' (Kebutuhan): Jika kebenaran (shidq) atau keabsahan (shihhah) suatu manthuq bergantung pada adanya penghilangan (idhmar) (kata/makna yang tersembunyi).
- Dhalalah Isyarah (Isyarat): Jika tidak (bergantung pada idhmar), tetapi manthuq tersebut menunjukkan makna yang tidak dimaksudkan (secara langsung) oleh pembicara.
- Dhalalah I'ma' (Sindiran/Notasi): Jika tidak, melainkan menunjukkan makna yang dimaksudkan secara tersirat (dengan menyebutkan suatu sifat yang mengaitkan hukum).
II. Al-Mafhum (Petunjuk Lafazh di Luar Tempat Pengucapan)
Al-Mafhum adalah apa yang ditunjukkan oleh lafazh tidak di tempat pengucapan (tersirat).
A. Mafhum Muwafaqah (Persesuaian)
Jika mafhum sesuai dengan hukum manthuq, maka ia adalah Mafhum Muwafaqah (Persesuaian), meskipun persesuaiannya hanya setara (musawiyan) menurut pendapat yang paling sahih.
- Fahwa al-Khithab (Ibarat Utama): Jika makna yang tersirat lebih utama (awla) daripada manthuq.
- Lahn al-Khithab (Ibarat Setara): Jika makna yang tersirat setara (musawiyan) dengan manthuq.
B. Mafhum Mukhalafah (Perbedaan)
Jika mafhum berbeda (berlawanan) dengan hukum manthuq, maka ia adalah Mafhum Mukhalafah (Perbedaan).
Syarat Mafhum Mukhalafah (Agar berlaku sebagai dalil): Tidak ada manfaat yang jelas dari pengkhususan manthuq dengan penyebutan itu selain menafikan (meniadakan) hukum pada yang lainnya (yang tidak disebutkan), seperti jika pengkhususan itu:
- Karena keluar untuk kebiasaan (al-ghalib) menurut pendapat yang paling sahih.
- Atau karena khawatir dituduh (khawf tuhmah).
- Atau menyesuaikan dengan realita (muwafaqah al-waqi').
- Atau karena menjawab pertanyaan (su'al).
- Atau karena suatu peristiwa (haditsah).
- Atau karena ketidaktahuan (pembicara) terhadap hukumnya atau sebaliknya.
Dan (Mafhum Mukhalafah) tidak menghalangi qiyas (analogi) hal yang tidak disebutkan (maskut) dengan manthuq. Maka, (mafhum mukhalafah) tidak mencakup yang ma'rudh (yang ditentang). Dikatakan: bahkan ia mencakupnya.
Jenis-Jenis Mafhum Mukhalafah
Mafhum Mukhalafah mencakup jenis-jenis berikut:
- Mafhum Sifat (Sifat): Contoh: "Kambing yang digembalakan (al-ghanam as-sa’imah)" dan "Kambing yang digembalakan (sa'imat al-ghanam)"—dan seperti as-sa'imah (sifat pengembalaan) menurut pendapat yang paling sahih. Penafian hukum pada dua contoh pertama berlaku untuk "Kambing yang diberi makan (ma'lufat al-ghanam)" menurut pendapat yang terpilih, dan pada contoh ketiga (kambing ternak) berlaku untuk "Hewan ternak yang diberi makan (ma'lufat an-na'm)".
- Mafhum ‘Illah (Sebab)
- Mafhum Zharf (Keterangan Waktu/Tempat)
- Mafhum Haal (Keterangan Keadaan)
- Mafhum Syarth (Syarat)
- Demikian pula Ghayah (Batasan Akhir)
- Mendahulukan Ma'mul (Objek) secara umum
- Mafhum ‘Adad (Angka/Jumlah)
Alat Pembatas (Hashr)
Hashr (pembatasan) memberikan faedah pada:
- Kata Innama (sesungguhnya hanya) dengan kasrah menurut pendapat yang paling sahih.
- Dhamir al-Fashl (kata ganti pemisah).
- Kata La (tidak) dan Illa (kecuali) yang bersifat istitsna'iyyah (pengecualian)—dan inilah yang paling tinggi (tingkat pembatasannya).
Urutan Kekuatan Dalil (dari yang paling kuat):
- Dhalalah Manthuq (teks tersurat), seperti Ghayah (batasan akhir).
- Innama.
- Syarth (syarat).
- Shifah (sifat) yang lain: yang sesuai (munasibah) dan yang tidak sesuai (ghayr munasibah).
- 'Adad (angka).
- Mendahulukan Ma'mul (objek).
Mafaahim (bentuk-bentuk Mafhum) adalah hujjah (dalil) secara lughatan (bahasa) menurut pendapat yang paling sahih.
- Tidak termasuk (dalil mafhum) adalah Mafhum Laqab (Gelar/Nama) menurut pendapat yang paling sahih.
[مسألة]
من الألطاف حدوث الموضوعات اللغوية وهي أفيد من الإشارة
والمثال وأيسر وهي ألفاظ دالة على معان وتعرف بالنقل وباستنباط العقل منه ومدلول
اللفظ معنى جزئي أو كلي أو لفظ مفرد أو مركب والوضع جعل اللفظ دليل المعنى وإن لم
يناسبه في الأصح،
واللفظ موضوع للمعنى الذهني على المختار ولا يجب لكل
معنى لفظ بل لمعنى محتاج للفظ والمحكم المتضح المعنى والمتشابه غيره في الأصح وقد
يوضحه الله لبعض أصفيائه واللفظ الشائع لا يجوز وضعه لمعنى خفي على العوام كقول
مثبتي الحال الحركة معنى يوجب تحرك الذات.
Masalah
Di antara kelembutan (anugerah) (Allah) adalah adanya tema-tema linguistik. Tema-tema ini lebih bermanfaat daripada isyarat dan permisalan, serta lebih mudah. Tema-tema tersebut adalah lafazh-lafazh yang menunjukkan makna-makna, dan dikenal melalui transmisi (periwayatan) dan melalui pengambilan kesimpulan (istinbath) oleh akal darinya.
Petunjuk dari lafazh itu adalah makna parsial (جزئي) atau universal (كلي), atau lafazh tunggal (مفرد) atau lafazh majemuk (مركب).
Penetapan (Al-Wadh’u) adalah menjadikan lafazh sebagai petunjuk bagi suatu makna, meskipun makna tersebut tidak sesuai (secara alami) dengan lafazh tersebut, menurut pendapat yang paling sahih. Lafazh ditetapkan untuk makna yang ada di pikiran (al-ma’na adz-dzihni) menurut pendapat yang terpilih.
Tidak wajib bagi setiap makna memiliki lafazh, melainkan hanya bagi makna yang memerlukan lafazh.
Al-Muhkam adalah (lafazh) yang jelas maknanya. Sedangkan Al-Mutasyabih adalah (lafazh) yang tidak jelas maknanya, menurut pendapat yang paling sahih. Terkadang Allah menjelaskan (Al-Mutasyabih) kepada sebagian hamba pilihan-Nya.
Lafazh yang umum digunakan (asy-sya’i’) tidak boleh ditetapkan untuk makna yang tersembunyi (khafi) bagi orang awam. Contohnya, seperti ucapan orang-orang yang menetapkan keadaan (al-haal) (sebagai) makna yang mewajibkan bergerak bagi Dzat (Allah).
[مسألة]
المختار أن اللغات توقيفية علمها الله بالوحي أو بخلق أصوات
أو علم ضروري وأن التوقيف مظنون وأن اللغة لا تثبت قياسا فيما في معناه وصف.
Masalah
Pendapat yang terpilih (atau: yang diunggulkan) adalah bahwa bahasa-bahasa (kata-kata) bersifat tauqifiyyah (ditentukan/diajarkan oleh Allah), yang diajarkan oleh Allah melalui wahyu, atau melalui penciptaan suara-suara, atau melalui ilmu yang bersifat daruri (pasti/aksiomatik). Dan bahwa sifat tauqif (penentuan ilahi) ini bersifat zhanniy (dugaan/probabilitas). Dan bahwa bahasa (makna kosa kata) tidak ditetapkan melalui kias (analogi) pada suatu hal yang maknanya mengandung sifat (deskripsi/atribut).
[مسألة]
اللفظ والمعنى إن اتحد فإن منع تصوّر معناه الشركة فجزئي وإلا
فكلي متواطئ إن استوى و إلا فمشكك وإن تعددا فمباين أو اللفظ فقط فمرادف وعكسه إن
كان حقيقة فيهما فمشترك وإلا فحقيقة ومجاز. والعلم ما عين مسماه بوضع فإن كان
تعيينه خارجيا فعلم شخص وإلا فعلم جنس.
Masalah
Lafadz dan makna jika bersatu: Jika mencegah
pensyarekan maknanya secara syar'i, maka juz'i; jika tidak, kulli mutawathi'
jika setara, jika tidak musyakkik. Jika berbilang: Mubaayin atau hanya lafadz,
maka muradif; sebaliknya jika haqiqah pada keduanya, maka musytarak; jika
tidak, haqiqah dan majaz. Al-'Alam adalah yang ditentukan namanya dengan
wadha'; jika penentuannya eksternal, maka 'alam syakhshi; jika tidak, 'alam
jinsi.
[مسألة]
الاشتقاق رد لفظ إلى آخر لمناسبة بينهما في المعنى والحروف
الأصلية وقد يطرد كاسم الفاعل وقد يختص كالقارورة ومن لم يقم به وصف لم يشتق له
منه اسم عندنا فإن قام به ماله اسم وجب وإلا لم يجز والأصل أنه يشترط بقاء المشتق
منه في كون المشتق حقيقة إن أمكن وإلا فآخر جزء فاسم الفاعل حقيقة في حال التلبّس
لا النطق ولا إشعار للمشتق بخصوصية الذات.
Masalah
Isytiqaq adalah mengembalikan lafadz ke yang lain karena
kesesuaian makna dan huruf asli. Kadang mutlak seperti ism fa'il, kadang
khusus seperti qarurah. Yang tidak memiliki sifat tidak diisytiqaqkan nama
darinya menurut kami. Jika memiliki yang punya nama, wajib; jika tidak, tidak
boleh. Asal: Disyaratkan tetapnya yang diisytiqaqkan sebagai haqiqah jika
memungkinkan, jika tidak, bagian terakhir. Ism fa'il haqiqah pada saat talaqqi
(menempel), bukan nuthq (pengucapan), dan tidak ada isyarah bagi yang
diisytiqaqkan pada kekhususan dzat.
[مسألة]
الأصح أن المرادف واقع وأن الحد والمحدود ونحو حسن بسن ليسا
منه والتابع يفيد التقوية وأن كلا من المرادفين يقع مكان الآخر.
Masalah
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa sinonim (al-muradif) itu ada.
Dan bahwasanya definisi (al-hadd) dan yang didefinisikan (al-mahdud), serta kata-kata yang serupa (tapi hanya sebagai pengikut) seperti hasan (baik) dan basan (pengikut untuk penguat) bukan termasuk (sinonim).
Dan pengikut (at-tabi') itu memberikan faedah penguatan (taqwiyah).
Dan bahwasanya masing-masing dari kedua sinonim itu dapat saling menggantikan posisi satu sama lain.
[مسألة]
الأصح أن المشترك واقع مجازًا وأنه يصح لغة إطلاقه على معنييه
معا مجازا وأن جمعه بإعتبارهما مبني عليه وأن ذلك آت فالحقيقة والمجاز وفي
المجازين فنحو افعلوا الخير يعم الواجب والمندوب.
الحقيقة لفظ مستعمل
فيما وضع له أولا وهي لغوية وعرفية ووقعتا وشرعية والمختار وقوع الفرعية منهما
الدينية.
والمجاز لفظ مستعمل بوضع ثان لعلاقة فيجب سبق الوضع جزما لا
الاستعمال في الأصح وهو واقع في الأصح ويعدل إليه لثقل الحقيقة أو بشاعتها أو
جهلها أو بلاغته أو شهرته أو غير ذلك والأصح أنه ليس غالب على الحقيقة ولا
معتمدًا حيث تستحيل وهو النقل خلاف الأصل وأولى من الاشتراك والتخصيص أولى منهما
والأصح أن الإضمار أولى من النقل وأن المجاز مساوٍ للإضمار ويكون بشكل وصفة ظاهرة
واعتبار ما يكون قطعًا أو ظنًا ومضادة ومجاورة وزيادة ونقص وسبب لمسبب وكل لبعض
ومتعلق لمتعلق والعكوس وما بالفعل على ما بالقوّة والأصح أنه يكون في الإسناد
والمشتق والحرف لا العلم وأنه يشترط سمع في نوعه ويعرف بتبادر غيره لولا القرينة
وصحة النفي وعدم لزوم الاطراد وجمعه على خلاف جمع الحقيقة والتزام تقييده وتوقفه
على المسمى الآخر والإطلاق على المستحيل.
Masalah
Mengenai Isytirak (Lafazh Polisemik):
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa lafazh polisemik (al-musytarak) itu ada secara kiasan (majazan). Dan bahwasanya sah secara bahasa untuk menggunakannya untuk kedua maknanya sekaligus secara kiasan. Pengumpulan (jam'u) lafazh tersebut, dengan mempertimbangkan kedua maknanya, didasarkan pada hal ini (kebolehan penggunaan ganda). Dan hal itu berlaku pada makna hakiki dan makna kiasan, dan juga berlaku pada dua makna kiasan (yang berbeda). Maka, (lafazh) seperti "Lakukanlah kebaikan (if'alul khayr)" mencakup (hukum) wajib dan sunnah (mandub).
Mengenai Haqiqah (Makna Asli):
Al-Haqiqah adalah lafazh yang digunakan pada makna yang ditetapkan baginya pertama kali. Haqiqah ada yang bersifat Lughawiyyah (kebahasaan), 'Urfiyyah (kebiasaan), dan Syar'iyyah (syariat). Ketiga jenis ini terjadi (dalam penggunaan). Dan pendapat yang terpilih adalah terjadinya Haqiqah cabang (far'iyyah) dari keduanya (Lughawiyyah dan 'Urfiyyah) yang bersifat diniyyah (keagamaan).
Mengenai Majaz (Makna Kiasan/Metafora):
Al-Majaz adalah lafazh yang digunakan dengan penetapan kedua karena adanya hubungan ('alaqah) (dengan makna hakiki). Maka, harus ada penetapan makna yang mendahului (wadh'u sabiq) secara pasti, tetapi tidak wajib adanya penggunaan yang mendahului (isti'mal sabiq), menurut pendapat yang paling sahih.
Majaz itu ada (waqi') menurut pendapat yang paling sahih.
Makna kiasan (Majaz) dijadikan pilihan karena makna hakiki dirasa berat, atau terlalu buruk/canggung, atau ketidaktahuan (terhadap makna hakiki), atau karena balaghah (estetika bahasa), atau keterkenalan (makna kiasan), atau sebab lainnya.
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa Majaz tidak lebih dominan daripada Haqiqah, dan tidak dijadikan sandaran jika makna hakiki mustahil (untuk diterapkan). Majaz adalah pemindahan makna yang menyalahi asal, dan lebih utama daripada Isytirak (polisemi). Sedangkan Takhshish (pengkhususan) lebih utama daripada keduanya (Isytirak dan Majaz).
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa Adh-Dhimar (penyisipan kata yang dihilangkan) lebih utama daripada An-Naql (pemindahan makna/Majaz). Dan Majaz itu setara dengan Adh-Dhimar.
Majaz dapat berupa:
- Bentuk (syakl) dan sifat (shifah) yang jelas.
- Mempertimbangkan apa yang akan terjadi (secara pasti atau dugaan).
- Kontradiksi (mudhadah).
- Kedekatan/Bertetangga (mujawarah).
- Penambahan (ziyadah) dan pengurangan (naqsh).
- Sebab yang menunjukkan akibat (musabbab).
- Keseluruhan yang menunjukkan sebagian (kull li ba’dh).
- Keterkaitan (muta'alliq) untuk yang berkaitan (muta'alliq).
- Kebalikan (al-'ukus).
- Apa yang bersifat aktual (bil fi'l) yang menunjukkan apa yang bersifat potensial (bil quwwah).
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa Majaz dapat terjadi pada penyandaran (al-isnād), kata turunan (al-musytaq), dan kata huruf (al-harf), namun tidak pada nama diri (al-'alam).
Syarat dikenalnya Majaz adalah:
- Harus ada dalil sam’i (transmisi) pada jenisnya.
- Diketahui karena terbayangnya makna lain (hakiki) seandainya tidak ada qarinah (petunjuk).
- Sahnya penafian (terhadap makna kiasan).
- Tidak wajibnya iththirad (berlaku secara konsisten).
- Bentuk jamaknya berbeda dengan bentuk jamak Haqiqah.
- Keharusan terikat oleh batasan (taqyid).
- Ketergantungannya pada sesuatu yang lain yang dinamai.
- Diperbolehkan penggunaannya pada sesuatu yang mustahil (secara hakiki).
[مسألة]
المعرب لفظ غير علم استعملته العرب فيما وضع له في غير لغتهم
والأصح أنه ليس في القرآن.
Masalah
Mu'arrab: Lafadz bukan 'alam yang digunakan Arab pada
yang ditempatkan dalam bahasa selain mereka. Yang lebih shahih: Tidak ada
dalam Al-Qur'an.
[مسألة]
اللفظ حقيقة أو مجاز أو هما باعتبارين وهما منتفيان قبل
الاستعمال ثم هو محمول على عرف المخاطب ففي الشرع الشرعي فالعرفي فاللغوي في
الأصح، والأصح انه إذا تعارض مجاز راجح وحقيقة مرجوحة تساويا وأن ثبوت حكم يمكن
كونه مرادًا من خطاب لكن مجازًا لا يدل على أنه المراد منه فيبقى الخطاب على
حقيقته.
Masalah
Lafadz haqiqah atau majaz atau keduanya dengan dua
pertimbangan. Keduanya tidak ada sebelum istimal. Kemudian dimuat pada 'urf
mukhatab: Pada syara' adalah syar'i, 'urfi, lalu lughawi menurut yang lebih
shahih. Yang lebih shahih: Jika bertentangan majaz rajih dan haqiqah marjuhah,
setara. Tetapnya hukum yang mungkin dimaksud dari khitab tapi majaz tidak
menunjukkan itu yang dimaksud, maka khitab tetap pada haqiqahnya.
[مسألة]
اللفظ إن استعمل في معناه الحقيقي للانتقال إلى لازمه فكناية
فهي حقيقة أو مطلقًا للتلويح بغير معناه فتعريض فهو حقيقة ومجاز وكناية.
Masalah
Lafadz jika digunakan pada makna haqiqi untuk beralih
ke lazimnya, maka kinayah (kiasan), ia haqiqah; atau mutlak untuk talwih
(isyarat) selain maknanya, maka ta'ridh, ia haqiqah dan majaz serta
kinayah.
الحروف
إذن للجواب والجزاء قيل دائما وقيل غالبًا. وإن للشرط وللنفي
وللتوكيد.
و أو للشك أو للإبهام أو للتخيير ولمطلق الجمع و للتقسيم
وبمعنى إلى وللإضراب.
و أي بالفتح والتخفيف للتفسير ولنداء البعيد في
الأصح وبالتشديد للشرط وللاستفهام موصولة ودالة على كمال ووصلة لنداء ما فيه
أل.
وإذ للماضي ظرفا ومفعولا به وبدلا منه ومضافا إليها اسم زمان وكذا
للمستقبل وللتعليل حرفًا وللمفاجأة كذلك في الأصح.
وإذا للمفاجأة
حرفًا في الأصح وللمستقبل ظرفًا مضمنة معنى الشرط غالبًا وللماضي والحال
نادرًا.
والباء للإلصاق حقيقة ومجازًا وللتعدية وللسببية وللمصاحبة
وللظرفية وللبدلية وللمقابلة وللمجاوزة وللاستعلاء وللقسم وللغاية وللتوكيد وكذا
للتبعيض في الأصح. وبل للعطف باضراب وللاضراب فقط إما للابطال، أو للنتقال من غرض
إلى آخر. وبيد بمعنى غير وبمعنى من أجل ومنه بيد أني من قريش في الأصح.
وثم
حرف عطف للتشريك والمهلة والترتيب في الأصح.
و حتى لانتهاء الغاية
غالبًا وللاستثناء نادرًا وللتعليل.
و ربّ حرف في الأصح للتكثير
وللتقليل ولا تختص بأحدهما في الأصل.
وعلى الأصح أنها قد ترد اسمًا
بمعنى فوق وحرفًا للعلو وللمصاحبة وللمجاوزة وللتعليل وللظرفية وللاستدراك
وللتوكيد وبمعى الباء ومن. وأما علا يعلو ففعل.
والفاء العاطفة
للترتيب وللتعقيب وللسببية وفي للظرفية وللمصاحبة وللتعليل وللعلو وللتوكيد
وللتعويض. وبمعنى الباء وإلى ومن.
وكي للتعليل وبمعنى أن المصدرية
وكل
اسم لاستغراق أفراد المنكر والمعرفّ المجموع وأجزاء المعرف المفرد.
واللام
الجارة للتعليل وللاستحقاق وللاختصاص وللملك وللصيرورة وللتمليك وشبهه ولتوكيد
النفي وللتعدية وللتوكيد وبمعنى إلى وعلى وفي وعند وبعد ومن وعن.
ولولا
حرف معناه في الجملة الاسمية امتناع جوابه لوجود شرطه وفي المضارعية التخضيض
والعرض والماضية التوبيخ ولا ترد للنفي ولا للاستفهام في الأصح.
ولو
شرط للماضي كثيرا ثم قيل هي لمجرد الربط والأصح أنها لانتفاء جوابها بانتفاء
شرطها خارجًا وقد ترد لعكسه علما ولإثبات جوابها إن ناسب انتفاء شرطها بالأولى
كلو لم يخف لم يعص أو المساوي كلو لم تكن ربيبة ما حلت للرضاع أو الأدون كلو
انتفت أخوّة الرضاع ما حلت للنسب وللتمني وللتحضيض وللعرض وللتعليل نحو: ولو بظلف
محرق. ومصدرية.
ولن حرف نفي ونصب واستقبال والأصح أنها لا تفيد توكيد
النفي ولا تأبيده وأنها للدعاء .
وما ترد اسمًا موصولة أو نكرة موصوفة
وتامة تعجبية وتمييزية ومبالغية واستفهامية وشرطية زمانية وغير زمانية وحرفًا
مصدرية لذلك ونافية وزائدة كافة وغير كافة.
ومن لابتداء الغاية غالبًا
ولانتهائها وللتبعيض وللتبيين وللتعليل وللبدل ولتنصيص العموم ولتوكيده وللفصل
وبمعنى الباء وعن وفي وعند وعلى.
ومن موصولة أو نكرة موصوفة وتامة
شرطية واستفهامية وتمييزية.
وهل لطلب التصديق كثيرًا والتصوّر
قليلا.
و الواو العاطفة لمطلق الجمع في الأصح.
Huruf-Huruf
Idzan: Untuk jawab dan jazaa', dikatakan selalu
atau umumnya. In: Untuk syarth, nafi, taukid.
Aw: Untuk syak,
ibham, takhyir, mutlak jam', taqsim, makna ila, idhrab.
Ayy: Dengan
fathah dan takhfif untuk tafsir, nida' yang jauh menurut yang lebih shahih;
dengan tasyid untuk syarth, istifham musawwilah, dal pada kamal, washlah untuk
nida' yang ada al.
Idz: Untuk madhi sebagai zharrf, maful bih,
badal darinya, mudhaf ilaih ism zaman, begitu untuk mustaqbal, ta'lil huruf,
mufaja'ah begitu menurut yang lebih shahih.
Idza: Untuk mufaja'ah
huruf menurut yang lebih shahih, mustaqbal zharrf dengan makna syarth umumnya,
madhi dan hal jarang.
Ba': Untuk ilshaq haqiqah dan majaz,
ta'diyah, sababiyah, mushahabah, zharrfiyah, badaliyah, muqabalah, mujawazah,
isti'la, qasam, ghayah, taukid, begitu untuk tab'idh menurut yang lebih
shahih. Bal: Untuk 'athf dengan idhrab, atau idhrab saja: ibthal atau intiqal.
Bi-yad: Makna ghair, min ajl, termasuk bi-yadi anni min Quraisy menurut yang
lebih shahih.
Tsumma: Huruf 'athf untuk tasyrik, mahalah, tartib
menurut yang lebih shahih.
Hatta: Untuk intiha' ghayah umumnya,
istitsna' jarang, ta'lil.
Rabb: Huruf menurut yang lebih shahih
untuk taktsir dan taqlil, tidak khusus salah satu asalnya.
Yang
lebih shahih: Kadang nama makna fawq, huruf untuk 'uluww, mushahabah,
mujawazah, ta'lil, zharrfiyah, istidrak, taukid, makna ba' dan min. 'Ala ya'lu
adalah fi'il.
Fa' 'athifah untuk tartib, ta'aqub, sababiyah. Fi:
Zharrfiyah, mushahabah, ta'lil, 'uluww, taukid, ta'widh, makna ba', ila,
min.
Kay: Untuk ta'lil, makna anna mashdariyah.
Kull:
Ism untuk istighraq afraad mankur dan ma'rifah majmu', ajza' ma'rifah
mufrad.
Lam jarr untuk ta'lil, istihqaq, ikhtishash, milk,
shirurah, tamlik, taukid nafi, ta'diyah, taukid, makna ila, 'ala, fi, 'inda,
ba'da, min, 'an.
Lawla: Huruf maknanya pada jumlah ismiyah: Imtina'
jawab karena ada syarthnya; pada mudhari'iyah: Takhdhidh dan 'ardh; madhiyah:
Taubikh. Tidak untuk nafi atau istifham menurut yang lebih shahih.
Law:
Syarth untuk madhi banyak, dikatakan hanya rabth, yang lebih shahih untuk
intifa' jawab dengan intifa' syarth secara eksternal. Kadang sebaliknya ilmu,
ithbat jawab jika sesuai intifa' syarth dengan aula seperti law lam yakhaf lam
ya'shi, atau musawi seperti law lam takun rabbibah ma hallat li radha', atau
adna seperti law intafa'at ukhuwwah radha' ma hallat li nasab, tamanni,
tahdhidh, 'ardh, ta'lil seperti wa law bi zhulf muhraq. Mashdariyah.
Lan:
Huruf nafi, nashb, istiqbal. Yang lebih shahih: Tidak memberikan taukid nafi
atau abadi, untuk doa.
Ma: Ism musawwilah atau nakirah mawshufah,
tamah ta'ajjubiyah, tamyiziyah, mubalaghah, istifhamiyah, syarthiyah zamaniyah
atau ghair zamaniyah; huruf mashdariyah, nafiyah, zaidah kafah atau ghair
kafah.
Min: Untuk ibtida' ghayah umumnya, intiha', tab'idh, tabyin,
ta'lil, badal, tashih 'umum, taukid, fasl, makna ba', 'an, fi, 'inda, 'ala.
Man:
Musawwilah atau nakirah mawshufah, tamah syarthiyah, istifhamiyah,
tamyiziyah.
Hal: Untuk thalab tashdiq banyak, tashawwur sedikit.
Waw
'athifah untuk mutlak jam' menurut yang lebih shahih.
الأمر
أ م ر حقيقة في القول المخصوص مجاز في الفعل في الأصح، والنفسي
اقتضاء فعل غير كفّ مدلول عليه بغير نحو كفّ ولا يعتبر في الأمر علو ولا استعلاء
ولا إرادة الطلب في الأصح والطلب بديهي والنفسي غير الارادة عندنا.
Al-Amr (Perintah)
Amr: Haqiqah pada qaul khusus, majaz pada
fi'il menurut yang lebih shahih. Nafsi: Iqtida' fi'il ghair kaff, dimodelkan
tanpa kaff. Tidak dipertimbangkan pada amr: 'Uluww, isti'la, iradah thalab
menurut yang lebih shahih. Thalab badiehi. Nafsi bukan iradah menurut kami.
[مسألة]
الأصح أن صيغة افعل مختصة بالأمر النفسي وترد للوجوب وللندب
وللإباحة وللتهديد وللإرشاد ولإرادة الامتثال وللإذن وللتأديب وللإنذار وللامتنان
وللإكرام وللتسخير وللتكوين وللتعجيز وللإهانة وللتسوية وللدعاء وللتمني
وللاحتقار وللخبر وللإنعام وللتفويض وللتعجب وللتكذيب وللمشورة وللاعتبار والأصح
أنها حقيقة في الوجوب لغة على الأصح، وأنه يجب اعتقاد الوجوب بها قبل البحث وأنها
إن وردت بعد حظر أو استئذان فللإباحة وأن صيغة النهي بعد وجوب للتحريم.
[مسألة]
الأصح
أنها لطلب الماهية والمرّة ضرورية وأن المبادر ممتثل .
[مسألة]
الأصح
أن الأمر لا يستلزم القضاء بل يجب بأمر جديد وأن الإتيان بالمأمور به يستلزم
الإجزاء وأن الأمر بالأمر بشيء ليس أمرًا به وأن الآمر بلفظ يصلح له غير داخل فيه
ويجوز عندنا عقلا النيابة في العبادة البدنية .
[مسألة]
المختار
أن الأمر النفسي بمعين ليس نهيًا عن ضده ولا يستلزمه وأن النهي كالأمر.
[مسألة]
الأمران
إن لم يتعاقبا أو تعاقبا بغير متماثلين فغيران وكذا بمتماثلين ولا مانع من
التكرار في الأصح، فإن كان مانع عادي وعارضه عطف فالوقف وإلا فالثاني تأكيد.
[مسألة]
النهي
اقتضاء كفّ عن فعل لا بنحو كف وقضيته الدوام مالم يقيد بغيره في الأصح، وترد
صيغته للتحريم وللكراهة وللارشاد وللدعاء ولبيان العاقبة وللتقليل وللاحتقار
ولليأس، وفي الارادة والتحريم مافي الأمر وقد يكون عن واحد ومتعدد جمعًا كالحرام
المخير وفرقا كالنعلين تلبسان أو تنزعان ولا يفرق بينهما وجميعًا كالزنا والسرقة
والأصح أن مطلق النهي ولو تنزيها للفساد شرعًا في المنهي عنه إن رجع النهي إليه
أو إلى جزئه أو لازمه أو جهل مرجعه. أما نفي القبول فقيل دليل الصحة، وقيل الفساد
ومثله نفي الإجزاء وقيل أولى بالفساد.
Masalah
Yang lebih shahih: Shighah "if'al" khusus untuk amr
nafsi, digunakan untuk wujub, nadb, ibahah, tahdid, irsyad, iradah imtisal,
idzn, ta'dib, indzar, imtinan, ikram, taskhir, takwin, ta'jiz, ihana,
taswiyah, du'a, tamanni, ihqar, khabar, in'am, tafwidh, ta'ajjub, takdzib,
musyawarah, i'tibar. Yang lebih shahih: Haqiqah pada wujub secara bahasa
menurut yang lebih shahih. Wajib meyakini wujub dengannya sebelum pembahasan.
Jika datang setelah hazr atau isti'dzan, untuk ibahah. Shighah nahy setelah
wujub untuk tahrim.
Masalah
Yang lebih shahih:
Untuk thalab mahiyah, marrah dharuriyah. Yang mubadir adalah mumtatsil.
Masalah
Yang
lebih shahih: Amr tidak mewajibkan qadha', tapi wajib dengan amr baru.
Datangnya ma'mur bih mewajibkan ijza'. Amr dengan amr sesuatu bukan amr
dengannya. Yang memerintah dengan lafadz yang cocok bukan termasuk. Boleh
secara akal niabah pada ibadah badaniyah menurut kami.
Masalah
Muhtar:
Amr nafsi dengan mu'ayyan bukan nahy tentang dhidh-nya, tidak mewajibkannya.
Nahy seperti amr.
Masalah
Dua amr jika tidak
berturutan atau berturutan bukan mutamatsil, maka berbeda; begitu dengan
mutamatsil, tidak ada penghalang pengulangan menurut yang lebih shahih. Jika
penghalang 'adi dan dihadapi 'athf, waqf; jika tidak, yang kedua taukid.
Masalah
Nahy:
Iqtida' kaff tentang fi'il bukan dengan kaff. Qadhiyahnya daim selama tidak
dibatasi yang lain menurut yang lebih shahih. Shighahnya digunakan untuk
tahrim, karahah, irsyad, du'a, bayan 'aqibah, taqlil, ihqar, ya's. Pada iradah
dan tahrim seperti pada amr. Bisa tentang satu atau banyak: Jam' seperti haram
mukhayyar; farq seperti dua sandal dipakai atau dilepas, tidak dibedakan; jam'
seperti zina dan pencurian. Yang lebih shahih: Mutlak nahy walaupun tanzih
untuk fasad syar'an pada manhu 'anhu jika nahy kembali kepadanya atau juz',
lazim, atau jahil marji'. Nafi qabul: Dikatakan dalil shihhah, dikatakan
fasad; seperti nafi ijza', dikatakan lebih utama fasad.
العام
لفظ يستغرق الصالح له بلا حصر، والأصح دخول النادرة وغير
المقصودة فيه وأنه قد يكون مجازًا وأنه من عوارض الألفاظ فقط ويقال للمعنى أعم
وللفظ عام ومدلوله كلية أي محكوم فيه على كل فرد مطابقة إثباتًا أو سلبًا ودلالته
على أصل المعنى قطعية وعلى كل فرد ظنية في الأصح وعموم الأشخاص يستلزم عموم
الأحوال والأزمنة والأمكنة على المختار.
Al-'Amm (Umum)
Lafadz yang mencakup semua yang layak tanpa
pembatasan. Yang lebih shahih: Masuk nadirah dan ghair maqshud. Bisa majaz.
Dari 'awaridh al-alfazh saja. Dikatakan untuk makna a'amm, untuk lafadz 'amm,
modelnya kulliyah: Dihukumi pada setiap individu mutabiqah itsbat atau salb.
Dalalahnya pada asal makna qath'i, pada setiap individu zhanni menurut yang
lebih shahih. 'Umum asykhash mewajibkan 'umum ahwal, azminah, amkinah menurut
muhtar.
[مسألة]
كل والذي والتي وأيّ وما ومتى أين وحيثما ونحوها للعموم حقيقة
في الأصح كالجمع المعرّف باللام أو الإضافة ما لم يتحقق عهد والمفرد كذلك والنكرة
في سياق النفي للعموم وضعًا في الأصح نصًا إن بنيت على الفتح ظاهرًا إن لم تبن
وقد يعم اللفظ عرفًا كالموافقة على قولٍ مَرْ، وحرمت عليكم أمهاتكم أو معنى
كترتيب حكم على وصف كالمخالفة على قول مر والخلاف في أن المفهوم لا عموم له لفظي
ومعيار العموم الاستثناء، والأصح أن الجمع المنكر ليس بعام وأن أقل الجمع ثلاثة
وأنه يصدق بالواحد مجازًا وتعميم عام سيق لغرض ولم يعارضه عام آخر وتعميم نحو لا
يستوون ولا أكلت وإن أكلت لا المقتضي والمعطوف على العام والفعل المثبت ولو مع
كان والمعلق لعلة لفظًا لكن معنى وترك الاستفصال ينزّل منزلة العموم وأن نحو يا
أيها النبي لا يشمل الأمة وأن نحو ياأيها الناس يشمل الرسول وإن اقترن بقل وأنه
يعم العبد ويشمل الموجودين فقط وأن من تشمل النساء وأن جمع المذكر السالم لا
يشملهنّ ظاهرًا وأن خطاب الواحد لا يتعدّاه وأن الخطاب بيا أهل الكتاب لا يشمل
الأمة ونحو خذ من أموالهم يقتضي الأخذ من كل نوع.
Masalah
Mengenai Lafazh Umum:
Setiap (kull), yang (alladzī), yang (allatī), siapa (ayy), apa (mā), kapan (matā), di mana (ayna), di mana saja (haytsumā), dan sejenisnya, adalah untuk keumuman ('umūm) secara hakikat (haqīqatan) menurut pendapat yang paling sahih.
Demikian juga lafazh jama' (plural) yang didefinisikan dengan alif-lam (al-lām) atau idhafah (penyandaran), selama tidak terdapat batasan perjanjian ('ahd) yang pasti.
Lafazh tunggal (mufrad) juga demikian (mengandung keumuman).
Lafazh nakirah (indefinit) dalam konteks penafian adalah untuk keumuman secara penetapan (wadh'an) menurut pendapat yang paling sahih; secara tegas (nashshan) jika lafazh tersebut mabni (tetap) dengan fathah, atau secara jelas (zhāhiran) jika tidak mabni.
Lafazh terkadang bersifat umum secara kebiasaan ('urfān), seperti persetujuan atas suatu ucapan mar (misalnya, ungkapan yang mengandung penguatan), atau "Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian" (yang maksudnya adalah pernikahan dengan ibu).
Atau (lafazh bisa bersifat umum) secara makna, seperti mengaitkan hukum dengan suatu sifat, misalnya pertentangan atas suatu ucapan mar.
Perselisihan mengenai apakah mafhum (makna tersirat) tidak memiliki keumuman bersifat lafazhi (tekstual).
Tolak ukur keumuman adalah istitsnā' (pengecualian).
Mengenai Jumlah dan Penggunaan Khusus:
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa lafazh jama' (plural) yang bersifat nakirah (indefinit) bukanlah umum.
Jumlah minimal lafazh plural (al-jam'u) adalah tiga. Dan lafazh plural dapat menunjukkan makna tunggal secara kiasan (majāzan).
Keumuman berlaku pada lafazh umum yang disebutkan untuk suatu tujuan dan tidak bertentangan dengan lafazh umum lainnya.
Keumuman juga berlaku pada ungkapan seperti "Mereka tidaklah sama (lā yastawūn)" dan "Aku tidak makan meskipun aku makan", bukan pada lafazh yang menghendaki konsekuensi dan lafazh yang diathafkan (dihubungkan) kepada lafazh umum.
Kata kerja (fi'l) yang positif (mutsbat), meskipun disertai kāna (adalah), dan hukum yang digantungkan pada illah (sebab) secara lafazh tetapi (umum) secara makna, juga termasuk umum.
Meninggalkan rincian pertanyaan (tark al-istifshāl) diposisikan sama dengan keumuman.
Mengenai Cakupan Khitab (Seruan):
Seruan seperti "Wahai Nabi (yā ayyuhan nabiy)" tidak mencakup umat (secara langsung).
Seruan seperti "Wahai manusia (yā ayyuhan nās)" mencakup Rasul, meskipun diikuti dengan kata "Katakanlah (qul)".
Seruan tersebut mencakup hamba ('abd) dan hanya mencakup yang ada saat itu (al-mawjūdīn).
Kata ganti "siapa (man)" mencakup wanita.
Lafazh jama' muzakkar salim (plural maskulin utuh) tidak mencakup wanita secara jelas (zhāhiran).
Seruan terhadap satu orang tidak melampaui (mencakup) orang tersebut (secara pasti).
Seruan seperti "Wahai Ahli Kitab (yā ahl al-kitāb)" tidak mencakup umat (Nabi Muhammad ﷺ).
Ungkapan seperti "Ambillah dari harta mereka (khudh min amwālihim)" menghendaki pengambilan dari setiap jenis (harta).
المطلق والمقيد
المختار أن المطلق ما دلّ على الماهية بلا قيد والمطلق
والمقيد كالعام والخاص وأنهما في الأصح إن اتحد حكمهما وسببه وكانا مثبتين فإن
تأخر المقيد عن العمل بالمطلق نسخه وإلا قيده وإن كان أحدهما مثبتا والآخر خلافه
قيد المطلق بضد الصفة وإلا قيد بها في الأصح وهي خاص وعام وإن اختلف حكمهما أو
سببهما ولم يكن ثم مقيد بمتنافيين أو كان أولى بأحدهما قيد قياسا في الأصح.
Al-Muthlaq (Lafazh Mutlak/Tidak Terikat) dan Al-Muqayyad (Lafazh Terikat) dalam Ushul Fiqh:
Muthlaq dan Muqayyad
Pendapat yang terpilih adalah bahwa Al-Muthlaq adalah apa yang menunjukkan esensi (mahiyyah) tanpa ikatan (qayd).
(Perbedaan antara) Al-Muthlaq dan Al-Muqayyad adalah seperti (perbedaan antara) Al-'Am (Umum) dan Al-Khass (Khusus).
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa (Muthlaq dan Muqayyad) berlaku (dapat dihubungkan) jika:
- Hukumnya sama dan sebabnya sama.
- Keduanya bersifat penetapan (mutsbitīn).
Maka:
- Jika Muqayyad datang setelah diamalkannya Muthlaq, ia menasakh (naskh) (membatalkan) Muthlaq.
- Jika tidak (datang setelah diamalkannya), ia mengikat (qayyada) (membatasi) Muthlaq.
Jika salah satunya bersifat penetapan (mutsbit) dan yang lain bersifat sebaliknya (penafian/larangan), maka Muthlaq diikat dengan lawan dari sifat tersebut. Jika tidak (jika sifatnya sama), ia diikat dengan sifat tersebut menurut pendapat yang paling sahih.
(Sifat ini dapat berupa) Khass (Khusus) dan 'Am (Umum).
Jika hukumnya berbeda atau sebabnya berbeda, dan tidak ada ikatan dengan dua hal yang saling menafikan (mutanāfiyayn), atau salah satunya lebih utama (dari yang lain), maka Muqayyad mengikat Muthlaq melalui qiyas (analogi), menurut pendapat yang paling sahih.
الظاهر والمؤوّل
الظهر ما دّل دلالة ظنية والتأويل حمل الظاهر على
المحتمل المرجوح فإن حمل لدليل فصحيح أو لما يظن دليلا ففاسد أو لا لشيء فلعب
والأول قريب وبعيد كتأويل أمسك بابتدئ في المعية وستين مسكينا بستين مدًا ولا
صيام لمن لم يبيت بالقضاء والنذر وذكاة الجنين ذكاة أمه بالتشبيه.
Az-Zhāhir (Makna Jelas) dan Al-Mu'awwal (Yang Diinterpretasi)
Az-Zhāhir adalah apa yang ditunjukkan (oleh lafazh) dengan petunjuk yang bersifat dugaan (zhanniyyah).
At-Ta'wīl (Interpretasi) adalah membawa makna zhāhir kepada makna yang mungkin namun marjūh (lemah/tidak dominan).
- Jika interpretasi dilakukan berdasarkan dalil, maka ia sahih (benar).
- Jika interpretasi dilakukan berdasarkan apa yang disangka sebagai dalil, maka ia fāsid (rusak/keliru).
- Jika interpretasi dilakukan tanpa dasar apa pun, maka itu adalah main-main (la'b).
Interpretasi yang sahih dapat bersifat qarīb (dekat) maupun ba'īd (jauh), seperti:
- Menginterpretasi imsāk (memegang/menahan) sebagai ibtidā' (memulai) dalam (konteks) ma'iyyah (kebersamaan).
- (Menginterpretasi) enam puluh orang miskin sebagai enam puluh mudd (takaran) (makanan).
- (Menginterpretasi) "Tidak ada puasa bagi orang yang tidak berniat di malam hari" sebagai (puasa) qadha' dan nazar.
- (Menginterpretasi) "Penyembelihan janin adalah penyembelihan ibunya" dengan penyerupaan (tasybīh) (bukan kesamaan mutlak).
المجمل ما لم تتضح دلالته
فلا إجمال في الأصح في آية السرقة ونحو حرمت
عليكم الميتة وامسحوا برءوسكم ورفع عن أمتي الخطأ و لا نكاح إلا بوليّ لوضوح
دلالته الكلّ بل في مثل القرء والنور والجسم والمختار وقوله تعالى أو يعفو الذي
بيده عقد النكاح و إلا ما يتلى عليكم والراسخون وقوله عليه الصلاة والسلام (( لا
يمنع أحدكم جاره أن يضع خشبه في جداره )) وقولك زيد طبيب ماهر والثلاثة زوج وفرد
والأصح وقوعه في الكتاب والسنة وأن المسمى الشرعي أوضح من اللغوي وقد مرّ وأنه إن
تعذر حقيقة رد إليه بتجوّز وأن اللفظ المستعمل لمعنى تارة ولمعنيين ليس ذلك
المعنى أحدهما مجمل فإن كان أحدهما عمل به ووقف الآخر.
Al-Mujmal adalah apa yang belum jelas petunjuk maknanya.
Maka, menurut pendapat yang paling sahih, tidak ada ijmal (ketidakjelasan/globalitas) pada ayat pencurian, dan (lafazh) seperti "Diharamkan atas kalian bangkai," "Usaplah kepala kalian," "Diangkat (dimaafkan) dari umatku kesalahan," dan "Tidak ada nikah kecuali dengan wali," karena kejelasan petunjuk makna keseluruhannya.
Justru (lafazh Mujmal) terdapat pada (kata-kata) seperti "Al-Qur'u," "An-Nūr," dan "Al-Jism" (tubuh) menurut pendapat yang terpilih, dan firman Allah Ta'ala: "Atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan akad nikah," dan "Kecuali apa yang dibacakan atas kalian," dan "Orang-orang yang mendalam ilmunya (Ar-Rāsikhūn)".
Dan juga pada sabda Nabi ﷺ: "Janganlah salah seorang dari kalian menghalangi tetangganya untuk menancapkan kayunya di temboknya," dan ucapan Anda: "Zaid adalah dokter yang mahir," serta (lafazh) "Tiga itu genap (zawj) dan ganjil (fard)".
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa Mujmal terjadi dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Dan bahwasanya makna syariat yang dinamai lebih jelas daripada makna bahasa (sebagaimana telah berlalu pembahasannya).
Dan bahwasanya jika makna hakiki (dari Mujmal) sulit tercapai, maka ia dikembalikan kepada makna hakiki tersebut melalui tajawwuz (penggunaan kiasan).
Dan (kaidah) bahwa lafazh yang digunakan terkadang untuk satu makna dan terkadang untuk dua makna, dan makna (yang dicari) itu bukanlah salah satunya, maka lafazh itu Mujmal. Namun, jika makna yang dicari itu adalah salah satu dari dua makna tersebut, maka diamalkan salah satunya dan yang lain ditangguhkan.
البيان
إخراج الشيء من حيز الاشكال إلى حيز التجلي وإنما يجب لمن أريد
فهمه والأصح أنه يكون بالفعل والمضنون يبين المعلوم والمتقدم من القول والفعل هو
البيان هذا إن اتفقا وإلا فالقول وفعله مندوب أو واجب أو تخفيف .
Al-Bayān (Penjelasan)
Al-Bayān adalah mengeluarkan sesuatu dari cakupan kesamaran (isykāl) menuju cakupan kejelasan (tajallī). Penjelasan itu hanya wajib bagi orang yang dimaksudkan untuk memahaminya.
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa Bayān dapat berupa perbuatan (fi'il).
(Bayān dilakukan dengan) yang bersifat dugaan (mazhnūn) untuk menjelaskan yang bersifat pasti (ma'lūm), dan (menggunakan) perkataan atau perbuatan yang terdahulu adalah Bayān.
Ini (keutamaan perkataan/perbuatan terdahulu sebagai Bayān) berlaku jika keduanya sesuai/serasi (ittafaqa). Jika tidak, maka perkataan (didahulukan sebagai Bayān).
Dan perbuatan Nabi ﷺ dapat bersifat sunnah (mandūb), wajib (wājib), atau peringanan (takhfīf).
[مسألة]
تأخير البيان عن وقت الفعل غير واقع وإن جاز وإلى وقته واقع
في الأصح سواء أكان للمبين ظاهر وللرسول تأخير التبليغ إلى الوقت ويجوز أن لا
يعلم الموجود لمخصص ولا بأنه مخصص ولو على المنع .
Masalah
Menunda Penjelasan (Ta'khīr al-Bayān)
Menunda penjelasan dari waktu pelaksanaan (perbuatan) tidak terjadi (ghayr wāqi') dalam syariat, meskipun secara akal hal itu diperbolehkan (jāza).
Adapun (menunda penjelasan) hingga waktu pelaksanaan (perbuatan), maka itu terjadi (wāqi') menurut pendapat yang paling sahih. (Hal ini terjadi) baik bagi yang dijelaskan itu memiliki makna zhāhir (jelas) maupun tidak.
Dan bagi Rasulullah ﷺ diperbolehkan menunda penyampaian (hukum/syariat) hingga waktu (pelaksanaan)nya.
Dan diperbolehkan bahwa orang yang ada saat itu (al-mawjūd) tidak mengetahui adanya mukhashshish (pengkhusus), dan tidak (mengetahui) bahwa lafazh itu dikhususkan, meskipun (pendapat ini) didasarkan pada larangan (penundaan).
النسخ
رفع حكم شرعي بدليل شرعي ويجوز في الأصح نسخ بعض القرآن والفعل
قبل التمكن ونسخ السنة بالقرآن كهو به ونسخه بها ولم يقع إلا بالمتواترة في الأصح
وحيث وقع بالسنة فمعها قرآن عاضد لها أو بالقرآن فمعه سنة ونسخ القياس في زمن
النبيّ بنص أو قياس أجلى ونسخ الفحوى دون أصله إن تعرض لبقائه وعكسه والنسخ به لا
نسخ النص القياس ويجوز نسخ المخالفة دون أصلها لا عكسه ولا النسخ بها في الأصح
ويجوز نسخ الإنشاء ولو بلفظ قضاء أو بصيغة خبر أو قيد بتأبيد أو نحوه والإخبار
بشيء ولو مما لا يتغير بإيجاب الاخبار بنقيضه لا الخبر وإن كان مما يتغير ويجوز
عندنا النسخ ببدل أثقل وبلا بدل ولم يقع في الأصح.
An-Naskh (Penghapusan Hukum)
An-Naskh adalah mengangkat (membatalkan) hukum syar'i (agama) dengan dalil syar'i.
Diperbolehkan menurut pendapat yang paling sahih:
- Menasakh (menghapus) sebagian Al-Qur'an.
- Menasakh perbuatan (Nabi) sebelum adanya kesempatan untuk melakukannya (sebelum sempat diamalkan).
- Menasakh Sunnah dengan Al-Qur'an, seperti halnya menasakh Al-Qur'an dengan Al-Qur'an.
- Menasakh Al-Qur'an dengan Sunnah, namun hal ini tidak terjadi kecuali dengan Sunnah yang mutawātirah (diriwayatkan banyak orang) menurut pendapat yang paling sahih.
Di mana pun Naskh terjadi dengan Sunnah, maka disertai Al-Qur'an yang menguatkannya. Atau, jika Naskh terjadi dengan Al-Qur'an, maka disertai Sunnah (yang menjelaskan).
Naskh terhadap qiyās (analogi) di masa Nabi (dapat terjadi) dengan nash atau qiyas yang lebih jelas (ajlā).
Diperbolehkan menasakh Fahwa (makna prioritas) tanpa asalnya (ashl) (makna tersurat), jika ashl tersebut tetap ada. Dan sebaliknya (menasakh ashl tanpa fahwa).
Diperbolehkan menasakh dengan Fahwa, tetapi tidak diperbolehkan menasakh nash dengan qiyās.
Diperbolehkan menasakh Mukhālafah (makna berlawanan/Mafhum Mukhalafah) tanpa asalnya (makna tersurat), tetapi tidak sebaliknya. Dan tidak diperbolehkan Naskh dengannya (Mukhālafah) menurut pendapat yang paling sahih.
Diperbolehkan menasakh inshā' (perintah/pernyataan), meskipun dengan lafazh "qadā'" (keputusan), atau dengan redaksi khabar (berita), atau (meskipun) diikat dengan ta'bīd (keabadian) atau sejenisnya.
Pemberitaan (ikhbār) tentang sesuatu—meskipun sesuatu itu tidak dapat berubah—(dapat dinasakh) dengan mewajibkan pemberitaan tentang kebalikannya, tetapi tidak menasakh khabar (itu sendiri), meskipun ia adalah hal yang dapat berubah.
Diperbolehkan menurut kami (ulama) Naskh dengan pengganti (badal) yang lebih berat dan tanpa pengganti, namun (Naskh tanpa pengganti) tidak terjadi menurut pendapat yang paling sahih.
[مسألة]
النسخ واقع عند كل المسلمين وسماه أبو مسلم تخصيصًا فالخلف
لفظي والمختار أن نسخ حكم أصل لا يبقى معه حكم فرعه وأن كل شرعي يقبل النسخ ولم
يقع نسخ كل التكاليف ووجوب المعرفة إجماعا وأن الناسخ قبل تبليغ النبي الأمة لا
يثبت في حقهم وأن زيادة جزء أو شرط أو صفة على النص ليست بنسخ وكذا نقصه.
Masalah
An-Naskh (Penghapusan Hukum)
An-Naskh adalah terjadi (wāqi') di sisi seluruh Muslim. (Meskipun) Abu Muslim menamakannya Takhshish (pengkhususan), maka perselisihannya (dengan jumhur ulama) adalah sekadar lafazh (lafzhī).
Pendapat yang terpilih adalah bahwa penghapusan hukum ashl (pokok/dasar) tidak menyisakan hukum far'u (cabang/turunan) yang mengikutinya.
Dan bahwasanya setiap hukum syar'i menerima Naskh.
Namun, tidak terjadi penghapusan seluruh kewajiban (takālīf) dan kewajiban makrifat (mengenal Allah) berdasarkan ijmak (konsensus).
Dan bahwasanya hukum yang menasakh (nāsikh) tidak ditetapkan bagi umat sebelum disampaikan oleh Nabi kepada mereka.
Dan bahwasanya penambahan bagian, syarat, atau sifat pada nash bukanlah Naskh. Demikian pula pengurangannya (bukan Naskh).
خاتمه
يتعين الناسخ بتأخيره ويعلم بالإجماع وقول النبي هذا ناسخ أو
بعد ذاك أو كنت نهيت عن كذا فافعلوه أو نصه على خلاف النص الأول أو قول الراوي
هذا متأخر لابموافقة أحد النصين للأصل وثبوت إحدى آيتين في المصحف وتأخير إسلام
الراوي وقوله هذا ناسخ في الأصح لا الناسخ.
Khatimah
Penentuan Nāsikh (Hukum yang Menghapus)
Hukum yang menasakh (nāsikh) ditentukan oleh keterlambatannya (dalam waktu diturunkan).
Dan (Nāsikh) diketahui melalui:
- Ijmak (konsensus ulama).
- Ucapan Nabi ﷺ: "Ini adalah hukum yang menasakh," atau "Ini (terjadi) setelah itu (hukum sebelumnya)," atau "Dahulu aku telah melarang kalian dari ini, maka sekarang lakukanlah!"
- Penetapan (Nash) Nabi ﷺ pada hukum yang berbeda dengan nash yang pertama.
- Ucapan Perawi: "Ini (hukum/hadis) adalah yang datang belakangan."
(Nāsikh) tidak diketahui melalui:
- Kesesuaian salah satu dari dua nash dengan hukum asal.
- Tetapnya salah satu dari dua ayat di dalam mushaf.
- Keterlambatan keislaman perawi (tidak otomatis menjadikan riwayatnya nāsikh).
- Ucapan Perawi "Ini adalah nāsikh" menurut pendapat yang paling sahih, bukan (berdasarkan ucapan) orang yang ditasakh (yang hukumnya dihapus).
