Muqaddimah Ghayatul Wushul
Nama kitab/buku: Terjemah kitab Ghayatul Wushul (Ghayah al-Wusul) Syarah
Lubbul Ushul
Nama kitab asal: Lubbul Ushul fi Ushul al-Fiqh wad Din (لب
الأصول في أصول الفقه والدين)
Pengarang: Syaikhul Islam Zakariya
al-Anshari
Nama lengkap penulis: Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya bin
Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari (شيخ الاسلام ابو يحيى زكريا بن
محمد بن أحمد بن زكريا الانصاري)
Kelahiran: 1421 M / 824 H
Kairo, Mesir
Wafat: 1520 M / 926 H, Kairo, Mesir
Penerjemah:
Bidang
studi: Ushul Fikih madzhab Syafi'i
Daftar isi
- Khutbah Pensyarah
- Kata Pengantar Pensyarah
- Khutbah Lubb Al-Ushul
- Kata Pengantar Lubb Al-Ushul
- Muqaddimah
- Kembali ke: Terjemah Ghayatul Wushul
غاية الوصول في شرح لب الأصول لشيخ الإسلام زكريا الأنصارى. الكتاب شرح لمختصرالمؤلف المسمى بـ (لب الأصول) الذي اختصر فيه جمع الجوامع
"Ghayatul Wushul fi Syarhi Lubbil Ushul karya Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari. Kitab ini merupakan penjelasan (syarah) atas ringkasan karya penulis sendiri yang bernama 'Lubbul Ushul', yang di dalamnya beliau meringkas kitab Jam'ul Jawami'."
KHUTBAH PENSYARAH
مقدمة
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أظهر بدائع مصنوعاته على أحسن نظام، وخص من بينها من شاء بمزيد الطول والإنعام، ووفقه وهداه إلى دين الإسلام، وأرشده إلى طريق معرفة الاستنباط لقواعد الأحكام، لمباشرة الحلال وتجنب الحرام، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ذو الجلال والإكرام، وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله المفضل على جميع الأنام، صلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه الغرّ الكرام.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.! Segala puji bagi
Allah Swt. Rahmat dan sejahtera atas pelindung dan penolong kita, yakni, nabi
Muhammad Saw., atas keluarganya dan para shahabatnya.
Pelindung dan
penolong kami, asy syaikh al-‘alim, al-‘amil, al-‘allamah (yang sangat banyak
ilmunya), al-habr (tinta ilmu), al-bahr (samudera ilmu), al-fahhamah (punya
pemahaman kuat), shadr almudarrisin (pimpinan para pengajar), zain al-millah
wa al-din (perhiasan syariat dan agama), Abu Yahya Zakariyya Al-Anshariy
berkata -Semoga Allah Swt. melimpahkannya dengan rahmatNya dan memberi manfaat
kepada kita dengan keberkahannya dan keberkahan segenap ilmunya dengan (berkat
nabi) Muhammad dan keluarganya-,
Dengan nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Tuhanku, permudahkan dan
tolonglah! Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menampakkan berbagai inovasi
penciptaan-Nya atas aturan yang sangat indah, dan diantara penciptaan-Nya itu
Ia tentukan orang-orang yang Ia kehendaki dengan bekal berlebih dan pemberian
nikmat, membimbing dan mengarahkan mereka ke dalam agama islam serta
menunjukkan mereka kepada metode (cara-cara) memahami istinbath? (penggalian)
undang-undang berbagai hukum. Agar dapat melakukan perkara halal dan
menghindari dari yang haram.
Aku bersaksi bahwa
tidak ada tuhan melainkan Allah, Keesaan-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya,
Dia yang memiliki ketinggian dan kemuliaan.
Dan
aku bersaksi bahwa penghulu kita, nabi Muhammad adalah hamba-Nya, utusan-Nya
yang teragung atas sekalian makhluk. Semoga Allah Swt. selalu mencurahkan
rahmat dan kesejahteraan ke atasnya, ke atas keluarga dan shahabatnya yang
utama lagi mulia.
KATA PENGANTAR PENSYARAH
وبعد، فهذا شرح لمختصري المسمى بـ (لب الأصول) الذي اختصرت فيه جمع الجوامع يبين حقائقه، ويوضح دقائقه، ويذلل من اللفظ صعابه، ويكشف عن وجه المعاني نقابه، سالكا فيه غالبا عبارة شيخنا العلامة، المحقق الفهامة الجلال المحلي لسلاستها وحسن تأليفها، وروما لحصول بركة مؤلفها، وسميته «غاية الوصول إلى شرح لب الأصول» . والله أسأل أن ينفع به وهو حسبي ونعم الوكيل.
Selanjutnya. ini adalah syarahan (penjelasan) terhadap mukhtashar
(ringkasan) milikku yang bernama dengan Lubb Al-Ushul yang mana aku ringkas
(resume) ke dalamnya akan kitab Jamu Al-Jawami’ (syarahan ini akan)
menerangkan berbagai hakikat (makna sebenar) dari (yang di dalam) mukhtashar,
memperjelas segala perkara yang halus, mengatasi segala kesulitannya dari segi
lafal dan menyingkap segala yang tertutup dari segi makna.
Secara
umum, (aku menyusunnya) dengan menempuh (meniru) di dalamnya ibarat guru kami,
al’allamah, al-muhaqqiq, alfahhamah, al-jalal, Al-Mahalliy (Wafat 864 H.).
Karena ibaratnya yang berangkai (sistematis) dan karangannya yang bagus, serta
bertujuan untuk memperoleh keberkahan pengarangnya.
Aku
menamakan syarahan ini dengan Ghayah Al-Wushul Ila Syarh Lubb Al-Ushul.
Hanya
kepada Allah Swt. aku memohon agar diberikan manfaat dengannya. Karena, Dia
adalah yang memberi kecukupan dan sebaik-baik tempat bertawakkal.
KHUTBAH LUBB AL-USHUL
(بسم الله الرحمن الرحيم) أي أؤلف أو أبتدىء تأليفي، والباء للمصاحبة ليكون ابتداء التأليف مصاحبا لاسم الله تعالى المتبرّك بذكره، وقيل للاستعانة نحو كتبت بالقلم، والاسم من السموّ وهو العلوّ. وقيل من الوسم وهو العلامة، والله علم للذات الواجب الوجود المستحق لجميع الصفات الجميلة، والرحمن الرحيم صفتان بنيتا للمبالغة من رحم، والرحمن أبلغ من الرحيم، لأن زيادة البناء تدل على زيادة المعنى كما في قطع وقطع.
(الحمد لله الذي وفقنا) أي خلق فينا قدرة. (للوصول إلى معرفة الأصول) فيه براعة الاستهلال، والحمد لغة الثناء باللسان على الجميل
الاختياري على جهة التبجيل والتعظيم، وعرفا فعل ينبىء عن تعظيم المنعم من حيث إنه منعم على الحامد أو غيره، وابتدأت بالبسملة والحمدلة اقتداء بالكتاب العزيز وعملًا بخبر أبي داود وغيره «كُلُّ أمرٍ ذي بَالٍ لاَ يبدأ فيه ببسْمِ الله الرَّحمن الرَّحيم» وفي رواية «بالحمد لله فَهُو أجْذَمُ» أي مقطوع البركة، وقدَّمت البسملة عملًا بالكتاب والإجماع، والحمد مختص بالله، كما أفادته الجملة سواء جعلت أل فيه للاستغراق أم للجنس أم للعهد، كما بينت ذلك في شرح البهجة وغيره. (ويسَّر لنا سلوك) أي دخول. (مناهج) جمع منهج أي طرق حسنة. (بـ) سبب (قوّة أودعها في العقول) جمع عقل وهو غريزة يتبعها العلم بالضروريات عند سلامة الآلات، وقد بسطت الكلام عليه في شرح لآداب البحث. (والصلاة) وهي من الله رحمة ومن الملائكة استغفار، ومن الآدمي تضرّع ودعاء. (والسلام) بمعنى التسليم. (على محمد) نبينا، ومحمد علم منقول من اسم مفعول المضعف تسمَّى به نبينا بإلهام من الله تعالى تفاؤلًا بأنه يكثر حمد الخلق له لكثرة صفاته الجميلة. (وآله) هم مؤمنوا بني هاشم وبني المطلب. (وصحبه) هو عند سيبويه إسم جمع لصحابة بمعنى الصحابي، وهو كما سيأتي من اجتمع مؤمنا بنبينا ﷺ، وعطف الصحب على الآل الشامل لبعضهم لتشمل الصلاة والسلام باقيهم، وجملتا الحمد والصلاة والسلام على من ذكر خبريتان لفظا إنشائيتان معنى، إذ القصد بالأولى الثناء على الله بأنه مالك لجميع الحمد من الخلق، وبالثانية إيجاد الصلاة والسلام لا الاعلام بذلك، وإن كان هو القصد بهما في الأصل. (الفائزين) أي الناجين والظافرين (من الله) متعلق بقولي (بالقبول) قدّم عليه هنا وفيما يأتي رعاية للسجع، ويجوز تعلقه بما قبله.
(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Artinya, aku
mengarang atau aku mulai karanganku. Lafal bagi mushahabah (menyertai)
agar permulaan karangan ini menyertai dengan nama Allah Swt. yang diberkahi
dengan menyebutnya.
Ada yang berkata, Lafal
bagi istianah (media bantu), seperti ucapan, aku menulis dengan pena. Lafal
diambil dari yang artinya tinggi.
Ada yang
berkata, Lafal diambil dari yang artinya tanda.
Lafal
adalah ‘alam (penyebutan nama) bagi Dzat yang wajib wujudNya lagi yang berhak
atas keseluruhan sifat-sifat terpuji.
Lafal
dan adalah dua lafal sifat yang dibentuk bagi faedah mubalaghah
(melebihkan/ maha), diambil dari lafal.
Lafal
lebih balaghah daripada . Karena, lebih pada bentuk menunjukkan lebih pada
makna, sebagaimana pada lafal dan (Segala puji bagi Allah yang
telah membimbing kita). Artinya, menciptakan kemampuan pada diri kita untuk
sampai kepada memahami ushul (dasar-dasar). Dalam mendatangkan kata “ushul” di
sini adalah bara’ah istihlal.
Lafal secara
bahasa adalah pujian dengan lisan (ucapan) atas perkara terpuji yang
ikhtiyariy (sukarela) dalam bentuk memuliakan dan pengagungan.?
Lafal
secara ‘uruf adalah perbuatan yang mengungkapkan untuk pengagungan Sang
Pemberi nikmat dari segi Ia memberi nikmat atas pemuji atau atas selain
pemujiNya.
Aku memulainya dengan basmalah dan
hamdalah karena mengikuti dengan (susunan) Al-Kitab yang agung’ dan juga
beramal dengan hadits riwayat Abu Daud dan selainnya: “Setiap perkara yang
memiliki kepentingan yang tidak dimulai di dalamnya dengan
Bismillahirrahmanirrahim”. Dan di dalam riwayat lain, “dengan alhamdulillah
maka Ia cacat”, artinya, terputus berkahnya.
Dan
aku dahulukan basmalah (atas hamdalah) karena beramal (meniru) dengan Al-kitab
dan ijma’.
Dan pujian itu terkhusus dengan Allah,
sebagaimana yang diberipaham oleh jumlah, baik itu dijadikan alif-lam padanya
bagi istighraq, jinis atau ‘ahdi, sebagaimana yang telah aku jelaskan demikian
di dalam Syarah Al-Bahjah dan selainnya.
(Dan Dia
yang telah memudahkan bagi kita untuk menempuhi), artinya, memasuki (beberapa
jalan). Lafal adalah jama’ daripada . Artinya, beberapa jalan kebaikan.
(dengan) sebab (kekuatan yang dititipkan olehNya ke dalam akal.) Lafal
adalah jama’ daripada , Yaitu, tabiat (naluri/ insting) yang diikuti oleh
pengetahuan secara mudah di saat sempurna semua alat. Pembahasan tentangnya
telah aku uraikan panjang lebar di dalam Syarah Adab Al-Bahts.
(Dan
shalawat). Shalawat dari Allah adalah rahmat (kasih sayang), dari malaikat
adalah mohon ampunan, dan dari manusia adalah rendah diri dan harapan.
(Dan
salam) dengan artian: kesejahteraan (atas Muhammad), yakni, nabi kita.
Lafal adalah alam (penyebutan nama) yang manqul (dikutip) dari isim
maful yang berganda ‘ain fi’il.
Dinamakan nabi
kita dengannya dengan sebab ilham’ dari Allah Swt. karena tafaul (pengharapan/
Optimis) bahwa akan banyak pujian dari makhluk kepadanya disebabkan banyak
sifatnya yang terpuji.
(dan keluarganya). Mereka
adalah orang-orang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Mutthalib.
(dan
para shahabatnya). Menurut Sibawaih, lafal adalah ism jama’ bagi , dengan
artian Yaitu, -sebagaimana yang akan dijelaskan nanti orang-orang yang
berkumpul dengan nabi kita, Muhammad Saw. dalam keadaan beriman.
Lafal
di ‘athaf ke atas (keluarga) yang juga termasuk bagi sebagian shahabat agar
melengkapi shalawat dan salam kepada selain mereka.
Kedua
jumlah: pujian dan shalawat salam atas mereka yang tersebut di atas adalah
khabariyyah pada lafal dan insyaiyyah pada makna. Karena, maksud dengan jumlah
pertama adalah sanjungan ke atas Allah Swt. dengan bahwa Ia adalah pemilik
bagi sekalian pujian dari makhluk, dan dengan jumlah kedua adalah mewujudkan
(merealisasikan) shalawat dan salam atas mereka, bukan (sekedar)
memberitahukan (menginformasikan) dengan kedua hal tersebut.? Meskipun
pemberitahuan tersebut adalah maksud keduanya pada asal.
(Mereka
yang beruntung).Artinya, mereka yang selamat (dari kesusahan) dan mereka yang
meraih (tujuan) (daripada Allah).
Lafal
muta’aliq dengan kalimat dariku: (dengan penerimaan.
Didahulukan
atasnya di sini dan pada kalimat selanjutnya adalah karena memelihara
sajak.
Boleh juga muta’aliq-nya dengan kalimat
sebelumnya.
KATA PENGANTAR LUBB AL-USHUL
(وبعد) يؤتى بها للانتقال من أسلوب إلى أسلوب آخر، وأصلها أما بعد بدليل
لزوم الفاء في حيزها غالبا لتضمن أما معنى الشرط والأصل مهما يكن من شيء
بعد البسملة والحمدلة والصلاة والسلام على من ذكر. (فهذا) المؤلف الحاضر
ذهنا (مختصر) من الاختصار، وهو تقليل اللفظ وتكثير المعنى. (في الأصلين)
عبر به دون الأصولين أي أصول الفقه وأصول الدين، إيثارا للتخفيف والاختصار.
(وما معهما) من المقدمات والتقليد وآداب الفتيا وخاتمة التصوّف. (احتضرت
فيه جمع الجوامع للعلامة) شيخ الإسلام عبد الوهاب. (التاج)
ابن
الإمام شيخ الإسلام تقي الدين. (السبكي رحمه الله) وتغمده بغفرانه، وكساه
حُلِي رضوانه. (وأبدلت منه) أي من جمع الجوامع. (غير المعتمد والواضح بهما)
أي بالمعتمد والواضح. (مع زيادات حسنة) ستقف عليها إن شاء الله تعالى.
(ونبهت على خلاف المعتزلة) ولو مع غيرهم. (بعندنا و) على خلاف (غيرهم)
وحده. (بالأصح غالبا) فيهما. (وسميته لب الأصول راجيا) أي مؤملًا. (من
الله) تعالى. (القبول وأسأله النفع به) لمؤلفه وقارئه ومستمعه وسائر
المؤمنين. (فإنه خير مأمول) أي مرجوّ. (وينحصر مقصوده) أي لب الأصول. (في
مقدمات) بكسر الدال كمقدمة الجيش من قدم اللازم بمعنى تقدم، وبفتحها على
قلة كمقدمة الرجل في لغة من قدم المتعدي أي في أمور متقدمة أو مقدمة على
المقصود بالذات للانتفاع بها فيه مع توقفه على بعضها، كتعريف الحكم
وأقسامه، إذ يثبتها الأصولي تارة وينفيها أخرى كما سيجيء. (وسبعة كتب) في
المقصود بالذات، خمسة في مباحث أدلة الفقه الكتاب والسنة والإجماع والقياس
والاستدلال. والسادس في التعادل والتراجيح. والسابع في الاجتهاد، وما يتبعه
من التقليد وأدب الفتيا وما ضم إليه من علم الكلام المفتتح بمسألة التقليد
في أصول الدين المختتم بما يناسبه من خاتمة التصوف، وهذا الحصر من حصر
الكلي جزائه لا الكلي في جزئياته.
(Dan setelahnya). Lafal didatangkan bagi (menyatakan) perpindahan
dari satu susunan kepada susunan yang lain.!
Asal
dari lafal tersebut adalah dengan bukti kemestian ada huruf pada
(mendekati) posisinya secara umum, karena terkandung lafal kepada makna
syarat. Asalnya ialah, Bila ada sesuatu setelah basmalah, hamdalah dan
shalawat serta salam atas mereka yang telah disebutkan.
(Maka,
ini) karangan yang hadir di dalam nalar (pikiran) (adalah sebuah ringkasan).
Lafal diambil dari (ringkasan). Yakni, meminimalkan (meringkas)
lafal (teks) serta memperbanyak makna (substansi) (pada dua ushul). Diibarat
dengan (dua asal), bukan dengan (dua ushul) -yakni, ushul fiqh dan
ushuluddin adalah karena mengutamakan bagi keringanan dan keringkasan. (Dan
yang dibahas bersama keduanya) berupa muqaddimah (pendahuluan), taqlid, adab
berfatwa dan penutup tentang tashawwuf.
(Ke
dalamnya, aku rangkum kitab Jam’u Al-Jawami, milik al-allamah) guru besar
islam, Abdul Wahhab (At-Taj) (Lahir 729 H. dan Wafat 776 H). anak dari Al-imam
guru besar islam Taqiyuddin (As-Subkiy, semoga Allah Swt. selalu merahmatinya)
serta melimpahkannya dengan keampunan-Nya dan memakaikannya sifat (pakaian)
keridhaan-Nya.
(Dan aku gantikan daripadanya),
yakni, dari Jamu Al-Jawami’ (pendapat yang tidak mu’tamad (kuat) dan jelas
dengan keduanya) yakni, dengan yang mu’tamad dan yang jelas. (serta beberapa
tambahan yang bagus (penting), yang akan kamu ketahuinya nanti, insyaallah.
(Dan
aku mengingatkan terhadap pendapat yang berbeda dengan muktazilah) walau serta
selain mereka (dengan lafal (menurut kami), dan) terhadap pendapat yang
berbeda dengan (selain mereka) saja (dengan lafal pada umumnya) pada
keduanya. (Dan aku menamakannya dengan Lubb Al-Ushul, yang mengharap),
artinya, yang berkeinginan (daripada Allah) Swt. (akan penerimaan. Dan memohon
kepada-Nya agar diberikan manfaat dengannya) bagi pengarang, pembaca,
pendengar kitab ini dan seluruh orang-orang yang beriman. (Karena,
sesungguhnya Allah Swt. adalah sebaik-baik pengharapan), artinya, yang
diharap.
(Dan teringkas maksud (isi)l, artinya,
isi dari Lubb Al-Ushul (ke dalam Muqaddimah). Lafal dibaca dengan kasrah
dal, seperti (pendahuluan tentara), yang diambil dari lafal yang
lazim dengan makna (terdahulu) Dan lafal dengan atah dal, atas
dasar bacaan yang jarang, seperti (mendahului keberangkatan) menurut
satu lughat, diambil dari lafal yang muta’adi.
Yakni,
(teringkas isi Lubb Al-Ushul) pada beberapa perkara pendahuluan atau yang
didahulukan atas maksud (isi) secara pokok. Karena, memberi manfaat pada
maksud pokok dengan (keberadaan) muqaddimah, serta terhenti (memahami) maksud
pokok atas sebagian dari muqaddimah, seperti definisi hukum dan pembagiannya.
Karena, ahli ushul sesekali menetapkan hukum dan menafikannya di kali yang
lain, sebagaimana yang akan datang.
(Dan tujuh
kitab) di dalam maksud pokok, Lima kitab mengkaji tentang berbagai dalil fiqh.
Yakni, (1). Al-kitab, (2). As-Sunnah, (3). Ijma’, (4). Qiyas dan (5).
Istidlal.
Kitab yang keenam ialah tentang Ta’adul
dan Tarjih. Kitab yang ketujuh ialah tentang Ijtihad dan kajian yang
mengikutinya, berupa taqlid dan adab berfatwa. Dan juga materi yang digabung
ke dalam kajian ijtihad dari kajian Ilmu Kalam (ilmu Tauhid) yang diawali
dengan: Permasalahan, Taqlid pada bidang ushuluddin, dan diakhiri dengan
materi yang berkaitan dengannya daripada: Penutup: Tentang Tashawwuf.
Hashar
di sini daripada hashar kull ke dalam juzu’-nya, bukan kulliy ke dalam
juziyyat-nya.!
MUQADDIMAH
المقدمات
أي مبحثها. افتتحهتا كالأصل بتعريف أصول الفقه ليتصوّره طالبه بما يضبط مسائله الكثيرة، ليكون على بصيرة في تطلبها، إذ لو تطلبها قبل بطلها لم يأمن فوات ما يرجيه وصرف الهمة إلى ما لا يعنيه فقلت (أصول الفقه) أي الفنّ المسمى بهذا اللقب المشعر بمدحه بابتغاء الفقه عليه، إذ الأصل ما يبنى عليه غيره. (أدلة الفقه الإجمالية) أي غير المعينة كمطلق الأمر والإجماع من حيث إنه يبحث عن أوّلهما، بأنه الوجوب حقيقة، وعن ثانيهما بأنه حجة. (وطرق استفادة جزئياتها) التي هي أدلة الفقه التفصيلية المستفاد هو منها، والمراد بالطرق المرجحات الآتي أكثرها في الكتاب السادس. (وحال مستفيدها) أي وصفات مستفيد جزئيات أدلة الفقه الإجمالية، وهو المجتهد لأنه الذي يستفيدها بالمرجحات عند تعارضها دون المقلد، والمراد بصفاته شرائطه الآتية في الكتاب السابع،
ويعبر عنها بشروط الاجتهاد، وخرج بأدلة الفقه غير الأدلة كالفقه، وأدلة غير الفقه كأدلة الكلام وبعض أدلة الفقه وبالإجمالية التفصيلية وإن لم يتغاير إلا بالاعتبار كأقيموا الصلاة ولا تقربوا الزنا، وصلاته ﷺ في الكعبة، فليست أصول الفقه، وإنما يذكر بعضها في كتبه للتمثيل.
(وقيل) أصول الفقه (معرفتها) أي عرفة أدلة الفقه وما عطف عليها، ورجح الأول لأن الأدلة وما عطف عليها إذا لم تعرف لم تخرج عن كونها أصولًا، والأصل قال أصول الفقه دلائل الفقه الإجمالية، وقيل معرفتها، ثم قال والأصولي العارف بها وبطرق استفادتها ومستفيدها مخالفا في ذلك الأصوليين باعترافه، وقرره في منع الموانع بما لا يشفي، وقرره شيخنا العلامة الجلال المحلي بما لا مزيد عليه، واستبعده أيضا شيخه العلامة الشمس البرماوي، وقال لا يعرف في المنسوب زيادة قيد من حيث النسبة على المنسوب إليه، وعدلت عن قوله دلائل إلى قولي أدلة، لأن الموجود هنا جمع قلة لا جمع كثرة، ولما قيل إن فعائل لم يأت جمعا لإسم جنس بوزن فعيل، وإن ردّ بأنه أتى نادرا كوصائد جمع وصيد.
(Pendahuluan). Artinya, pembahasan tentangnya.
Aku
memulai muqaddimah -sama seperti Ashal-‘ dengan definisi dari ushul fiqh.
Agar, penuntut (pencari ilmu tentang) ushul fiqh dapat tergambarkan dengan
segala sesuatu yang dapat mengukur segala permasalahan ushul fiqh yang sangat
banyak. Supaya ia berada atas kondisi bashirah (pengetahuan mendalam) pada
pencarian (penggalian) masalahmasalah tersebut. Karena, andai ia mencarinya
sebelum terukurnya niscaya ia tidak akan aman kehilangan apa yang ia
harapkannya dan. beralih hasrat kepada hal yang tidak dimaksudkan
Maka
aku berkata, (Ushul fiqh). Artinya, pelajaran yang disebut dengan nama ini
yang memberitahu dengan terpujinya dengan sebab terbangun fiqh ke atasnya.
Karena asal ialah sesuatu yang terbangun selannya ke atasnya. (adalah berbagai
dalil fiqh yang ijmaliy (bersifat global). Artinya, dalil yang tidak tertentu
(terperinci), seperti mutlak amar dan ijma’ dari segi bahwa dikaji untuk yang
pertama dengan bahwa mutlak amar itu wajib pada hakikat, dan untuk yang kedua
dengan bahwa ijma’ itu adalah hujjah (dan berbagai metode pengambilan
dalil-dalil rinci dari yang ijmaliy tersebut) yang mana dalil rinci tersebut
adalah dalil-dalil yang bersifat tafsiliy (terperinci) yang diambilkan fiqh
tersebut daripadanya.!
Maksud dengan “berbagai
metode” ialah hal yang mengunggulkan,? yang datang (penjelasan) kebanyakannya
di dalam kitab yang keenam. (dan karakteristik para pengambilnya). Artinya,
dan sifat-sifat pengambil dalil-dalil rinci dari dalil-dalil fiqh yang
bersifat ijmaliy tersebut. Pengambil ini ialah mujtahid. Karena, ia adalah
yang mengambil dalil-dalil tersebut dengan yang diunggulkan disaat terjadi
ta’arudh (kontradiktif) dari dalil-dalil yang ada, bukan mugallid. Maksud
dengan sifat-sifat mujtahid ialah berbagai syarat mujtahid yang akan datang
penjelasannya di dalam kitab yang ketujuh.’ Dan diibarat untuk sifat tersebut
dengan (syarat-syarat ijtihad).
Terkeluar
dengan kata “berbagai dalil fiqh” oleh selain dalil, seperti fiqh, dan oleh
dalil-dalil yang bukan fiqh, seperti dalil-dalil ilmu kalam, dan oleh sebagian
dalil fiqh.?
Terkeluar dengan kata “dalil yang
bersifat ijmaliy” oleh dalil bersifat tafsiliy (terperinci). Meskipun keduanya
tidak berbeda melainkan pada tinjauan. Seperti, Dirikanlah Shalat! (QS.
Al-Baqarah, ayat 43), Dan jangan kalian dekati zina! (QS. Al-Isra”, ayat 32)
dan Shalat nabi Saw. di dalam ka’bah. Semuanya bukanlah ushul fiqh. Disebutkan
sebagiannya di dalam kitab-kitab ushul fiqh hanyalah sebagai contoh.
(Ada
yang berkata) Ushul fiqh (adalah memahaminya), artinya, memahami dalil-dalil
fiqh dan perkara yang di-‘athaf ke atasnya.
Pendapat
pertama diunggulkan. Karena, berbagai dalil dan yang di’athaf ke atasnya, bila
tidak dipahami pun, ia tidak akan keluar dari keadaann sebagai ushul.
Ashal
(Jam’u Al-Jawami’) berkata: “Ushul fiqh adalah berbagai dalil fiqh yang
bersifat ijmaliy. Dan ada yang berkata Memahaminya”. Kemudian, beliau berkata
lagi: “Ushuliy adalah orang yang paham tentangnya, tentang metode
pengambilannya dan tentang dia (mujtahid) yang mengambilnya.” Perkataan Ashal
ini berbeda pada demikian dengan para ahli ushul yang lain dengan pengakuan
beliau sendiri.
Beliau menetapkannya di dalam
kitab Man’u Al-Mawani’ dengan senjelasan yang tidak memuaskan.
Guru
kami, al-allamah al-jalal Al-Mahalliy juga menetapkannya dengan penjelasan
yang tidak melebihi atasnya.
Menganggap jauh
penjelasannya pula oleh guru beliau, yakni al-‘allamah Asy-Syams Al-Barmawiy.
Beliau berkata: Tidak diketahuikan tambahan kait pada yang mansub dari segi
penisbatan ke atas mansub ilaih.
Aku alihkan kata
dari Ashal: kepada kata dariku: karena yang dijumpai di sini
hanyalah jama’ qillah, tidak jama’ katsrah. Dan karena alasan yang disebutkan
bahwa sesungguhnya lafal datang sebagai jama’ bagi ‘isim jinis dengan
wazan Meskipun disanggah bahwa wazan tersebut juga muncul dengan jarang
terjadi, seperti lafal yang merupakan jama’ dari.[]
