Pembagian Hukum menurut Ushul Fikih

Pembagian Hukum Istilah Fardhu Dan Wajib Istilah Mandub, Sunnat Dan Semisalnya Hukum Menyempurnakan Sunnat Penjelasan Muta'allaq Khithab Wadh'iy Penge
Pembagian Hukum menurut Ushul Fikih


Nama kitab/buku: Terjemah kitab Ghayatul Wushul (Ghayah al-Wusul) Syarah Lubbul Ushul
Nama kitab asal: Lubbul Ushul fi Ushul al-Fiqh wad Din (لب الأصول في أصول الفقه والدين)
Pengarang: Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari
Nama lengkap penulis: Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya bin Muhammad  bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari (شيخ الاسلام ابو يحيى زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الانصاري)
Kelahiran: 1421 M   / 824 H Kairo, Mesir
Wafat: 1520 M / 926 H, Kairo, Mesir
Penerjemah:
Bidang studi: Ushul Fikih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

  1. Pembagian Hukum
  2. Istilah Fardhu Dan Wajib
  3. Istilah Mandub, Sunnat Dan Semisalnya
  4. Hukum Menyempurnakan Sunnat
  5. Penjelasan Muta'allaq Khithab Wadh'iy
  6. Pengertian Ada'
  7. Pengertian Qadha'
  8. Pengertian I'adah
  9. Pengertian Rukhsha
  10. Pengertian 'Azimah
  11. Kembali ke: Terjemah Ghayatul Wushul

PEMBAGIAN HUKUM

(فإن اقتضى) أي طلب الخطاب الذي هو كلام الله النفسي (فعلًا غير كف) من المكلف (اقتضاء جازما) بأن لم يجز تركه (فإيجاب) أي فهذا الخطاب يسمى أيجابا (أو) اقتضاء (غير جازم) بأن جوّز تركه (فندب أو) اقتضى (كفا) اقتضاء (جازما) بأن لم يجز فعله. (فتحريم أو) اقتضاء (غير جازم بنهي مقصود) لشيء كالنهي في خير الصحيحين «إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين (فكراهة) . أي فالخطاب المدلول عليه بالمقصود يسمى كراهة ولا يخرج عن المقصود دليل المكروه إجماعا أو قياسا، لأنه في الحقيقة مستند الإجماع أو دليل المقيس عليه، وذلك من المقصود وقد يعبرون عن الإيجاب والتحريم بالوجوب والحرمة لأنهما أثرهما، وقد يعبرون عن الخمسة بمتعلقاتها من الأفعال كالعكس تجوُّزا فيقولون في الأول الحكم إما واجب أو مندوب الخ. وفي الثاني الفعل إما إيجاب أو ندب الخ. (أو بغير مقصود) وهو النهي عن ترك المندوبات المستفاد من أوامرها، إذ الأمر بشيء يفيد النهي عن تركه. (فخلاف الأولى) أي فالخطاب المدلول عليه بغير المقصود يسمى خلاف الأولى كما يسماه متعلقه فعلًا غير كف كان كفطر مسافر لا يتضرر بالصوم كما
 
سيأتي، أو كفا كترك صلاة الضحى، والفرق بين قسمي المقصود وغيره أن الطلب في المقصود أشدّ منه في غيره، والقسم الثاني وهو واسطة بين الكراهة والإباحة زاده جماعة من متأخري الفقهاء منهم إمام الحرمين على الأصوليين، وأما المتقدمون فيطلقون المكروه على القسمين، وقد يقولون في الأول مكروه كراهة شديدة، كما يقال في قسم المندوب سنة مؤكدة، وعلى ما عليه الأصوليون يقال أو غير جازم فكراهة. (أو خير) الخطاب بين الفعل المذكور والكف عنه (فإباحة) وتعبيري بخير سالم مما يرد على تعبيره بالتخيير من أنه يقتضي أن في الإباحة اقتضاء وليس كذلك، وإن كان عن الإيراد جواب وزدت غير كف لأسلم من مقابلة الفعل بالكف الذي عبر عنه الأصل بالترك هو لا يقابل به، إذ الكف فعل والترك فعل هو كف كما سيأتي. (و) بما ذكر (عرفت حدودها) أي حدود المذكورات من أقسام خطاب التكليف، فحد الإيجاب مثلًا الخطاب المقتضي لفعل غير كف اقتضاء جازما، وأما حدود أقسام خطاب الوضع فتعرف من حده المشهور الذي قدمته وهو الخطاب الوارد بكون الشيء سببا الخ. فحدّ السببي منه مثلًا الخطاب الوارد بكون الشيء سببا لحكم شيء، وأما حدود السبب وغيره من أقسام متعلق خطاب الوضع فسيأتي، وكذا حد الحد بالجامع المانع الدافع للاعتراض بأنّ ما عرف رسوم لا حدود، لأن المميز فيها خارج عن الماهية.

(Maka, jika khithab menghendakil, artinya, menuntut oleh khithab yang merupakan kalam Allah yang nafsiy (suatu perbuatan yang bukan menahan diri) dari mukallaf (sebagai tuntutan yang tegas) . Dalam artian, bahwa khithab tidak mengizinkan untuk ditinggal perbuatan tersebut (maka wajib.) Artinya, khithab ini dinamakan dengan wajib. (atau) tuntutan )yang tidak tegas). Dalam artian, khithab tersebut mengizinkan untuk ditinggal (maka sunnat).

(Atau) menuntut oleh khithab (menahan diri) sebagai tuntutan (yang tegas). Dalam artian, bahwa khithab tidak mengizinkan untuk memperbuatnya. (maka haram. Atau) tuntutan (yang tidak tegas dengan larangan maqshud (yang tertuju)) bagi sesuatu, seperti larangan di dalam hadits Dua Yang Shahih: “Apabila kalian masuk ke dalam masjid maka janganlah kalian duduk hingga melakukan shalat dua rakaat” (maka makruh). Artinya, khithab yang ditunjuk dengan magshud itu dinamakan makruh.

Tidak keluar dari kata “maqshud/ yang tertuju” oleh dalil makruh secara ijma’ atau qiyas. Karena, dalil makruh itu pada hakikatnya adalah perangkat ijma’ atau dalil magis alaih. Dan hal demikian adalah bagian dari magshud.

Kadangkala mereka mengibarat untuk iyjab dan tahrim dengan wujub dan hurmah. Karena, wujub dan hurmah adalah atsar dari iyjab dan tahrim.

Kadangkala mereka mengibarat untuk hukum yang lima dengan muta’alliq-nya berupa perbuatan, sebagaimana kebalikannya -dalam bentuk majaz-.

Maka, mereka menyebutnya pada yang pertama, Hukum itu adakala wajib, mandub (sunnat), dan pada yang kedua, Perbuatan itu adakala iyjab atau nadab (sunnat), hingga akhirnya.

(Atau dengan bukan maqshud). Yaitu, larangan meninggalkan sunnat yang diambil paham dari segala perintahnya. Karena, perintah dengan sesuatu memberi faedah larangan untuk meninggalkannya. (maka khilaf aula). Artinya, khithab yang ditunjuk dengan bukan magshud dinamakan dengan khilaf aula,? sebagaimana dinamakan muta’allag-nya dengan khilaf aula perbuatan yang bukan menahan diri, seperti buka puasa orang sedang musafir yang tidak menjadi mudharat dengan (tetap) berpuasa, sebagaimana yang akan datang penjelasannya, atau perbuatan menahan diri, seperti meninggalkan shalat dhuha.

Perbedaan diantara dua pembagian ini, yakni magshud dan bukan maqshud ialah bahwa tuntutan pada yang magshud itu lebih berat dibandingkan tuntutan pada yang bukan maqshud.

Pembagian yang kedua, yang merupakan perantara diantara makruh dan mubah (yakni, khilaf aula), adalah yang ditambahkan satu golongan daripada fugaha’ mutaakhirin, diantaranya imam AlHaramain (W. 478 H.), atas ulama ushul’, Sedangkan fugaha’ mutagaddimin, mereka menggunakan secara mutlak kata “makruh” untuk kedua pembagian tersebut.?

Terkadang, mereka menggunakan pada yang pertama (yakni, larangan magshud) dengan nama “makruh sebagai makruh yang berat”, sebagaimana mereka menyebutnya pada pembagian mandub dengan “sunnat muakkad”,

 Berdasarkan atas pandangan ulama ushul maka disebutkan dengan, Atau yang tidak tegas maka dinamakan makruh.

(Atau memilih) oleh khithab diantara memperbuat yang tersebut di atas dan menahan diri darinya (maka adalah mubah).

Dan ibarat dariku dengan  itu selamat dari (sanggahan) yang muncul atas pengibaratan Ashal dengan  dari karena kehendakinya bahwa mubah itu termasuk tuntutan, padahal tidak demikian, meskipun kemunuculan (sanggahan) itu adajawabannya.

Dan aku menambahkan kalimat  (bukan menahan diri) agar selamat dari muqabalah (membandingkan) “perbuatan” dengan “menahan diri” yang oleh Ashal mengibaratnya dengan (meninggalkan). Padahal, “perbuatan” bukan muqabalah dengan “menahan diri”. Karena, menahan diri termasuk perbuatan, dan meninggalkan adalah juga perbuatan, yakni menahan diri, sebagaimana yang akan datang penjelasannya.

(Dan) dengan penjelasan yang telah disebutkan di atas (dapat diketahuikan segala definisinya). Artinya, segala definisi perkara yang telah disebutkan daripada pembagian-pembagian khithab taklif. Maka, definisi wajib -contohnya- adalah khithab yang menuntut untuk memperbuat yang bukan menahan diri sebagai tuntutan yang tegas.

Adapun definisi dari , segala pembagian khithab wadh’iy, maka dapat diketahuikan dari definisi khithab wadh’iy yang sudah masyhur yang telah aku sebutkan sebelumnya.

 Yakni, khithab yang muncul dengan keberadaan sesuatu sebagai sebab, hingga akhirnya. Maka, definisi sebab dari khithab wadh’iy -contohnya- ialah khithab yang muncul dengan keberadaan sesuatu sebagai sebab bagi hukum sesuatu.

Adapun definisi sebab dan selainnya dari pembagian-pembagian muta’allaq khithab wadh’iy maka akan datang penjelasannya. Begitu juga, definisi dari hadd dengan Jami’-mani, sebagai penolakan terhadap bantahan bahwa definisi tersebut adalah rasm, bukan hadd. Karena, yang membedakan pada yang didefinisikan tersebut keluar (eksternal) dari mahiyyah.

ISTILAH FARDHU DAN WAJIB

(والأصح ترادف) لفظي (الفرض والواجب) أي مسماهما واحد وهو كما علم من حدّ الإيجاب الفعل غير الكف المطلوب طلبا جازما، ولا ينافي هذا ما ذكره أئمتنا من الفرق بينهما في مسائل، كما قالوا فيمن قال الطلاق واجب عليّ تطلق أو فرض عليّ لا تطلق، إذ ذاك ليس للفرق بين حقيقتيهما، بل لجريان العرف بذلك أو لاصطلاح آخر كما بينته مع زيادة تحقيق في الحاشية. ونفت الحنفية ترادفهما فقالوا هذا الفعل إن ثبت بدليل قطعي كالقرآن فهو الفرض كقراءة القرآن في الصلاة الثابتة بقوله تعالى ﴿فاقرأوا ما تيسر من القرآن﴾ أو بدليل ظني كخبر الواحد فهو الواجب كقراءة الفاتحة في الصلاة الثابتة بخبر الصحيحين «لا صَلاَةَ لمنْ لَم يقرأ
بفاتِحَةِ الكِتابِ» فيأثم بتركها ولا تفسد به صلاته بخلاف ترك القراءة. 

(Dan menurut pendapat Ashah, adalah taraduf (semakna)) dari kedua lafal (fardhu dan wajib). Artinya, musamma/ makna (yang ditunjuk) keduanya adalah sama. Yakni, -sebagaimana yang telah dimaklumi dari definisi wajib- perbuatan yang bukan menahan diri yang dituntut sebagai tuntutan yang tegas.

Pernyataan taraduf ini tidak menafikan hal yang dibicarakan para imam kita tentang perbedaan antara keduanya pada beberapa persoalan. Seperti jawaban mereka terhadap suami yang berucap: “Perceraian itu wajib ke atasku” dengan terceraikan, atau “Perceraian itu fardhu ke atasku” dengan tidak terceraikan. Karena, hal yang dibicarakan para imam tersebut bukan tentang perbedaan diantara hakikat dari keduanya, namun karena berlaku ‘uruf dengan demikian atau karena istilah lain, sebagaimana yang telah aku jelaskan serta tambahan tahqiq di dalam Al-Hasyiyah.

Kalangan Hanafiyyah menafikan taraduf (kesamaan makna) dari kedua lafal tersebut. Mereka menyebut, Perbuatan ini, jika ia ditetapkan dengan dalil gath’y, seperti dalil Al-Quran, maka dinamakan fardhu. Seperti contoh ‘ membaca ayat Al-Qur’an di dalam “shalat yang ditetapkan dengan firman Allah Swt: “Maka, bacakanlah apa yang mudah dari Al-Qur’an” (QS. Al-Muzzammil, ayat 20). Atau, ia ditetapkan dengan dalil zhanniy, seperti hadits ahad, maka dinamakan wajib. Seperti, membaca surat Al-Fatihah di dalam shalat yang ditetapkan dengan hadits Dua Yan Shahih, “Tidak ada shalat bagi siapa saja yang tidak membaca pembuka Al-Kitab (Al-Fatihah)”. Sehingga, berdosa orang shalat dengan sebab meninggalkan AlFatihah namun tidak batal shalatnya. Berbeda halnya dengan meninggalkan bacaan ayat.

ISTILAH MANDUB, SUNNAT DAN SEMISALNYA

(كالمندوب) أي كما أن الأصح ترادف ألفاظ المندوب (والمستحب والتطوّع والسنّة) والحسن والنفل والمرغب فيه أي مسماها واحد وهو كما علم من حد الندب الفعل غير الكف المطلوب طلبا غير جازم، ونفى القاضي حسين وغيره ترادفها فقالوا هذا الفعل إن واظب عليه النبي ﷺ فهو السنّة، إلا كأن فعله مرة أو مرتين فهو المستحب، أو لم يفعله وهو ما ينشئه الإنسان باختياره من الأوراد فهو التطوّع، ولم يتعرضوا للبقية لعمومها للأقسام الثلاثة. (والخلف) في المسألتين (لفظي) أي عائد إلى اللفظ والتسمية،
 
إذ حاصله في الثانية أن كلًاّ من الأقسام الثلاثة كما يسمى باسم من الأسماء الثلاثة كما ذكر هل يسمى بغيره منها. فقال القاضي وغيره لا إذ السنة الطريقة والعادة والمستحب المحبوب والتطوّع الزيادة، والأكثر يعم ويصدق على كل من الأقسام أنه طريقة وعادة في الدين ومحبوب للشارع وزائد على الواجب. وفي الأولى أن ما ثبت بقطعي كما يسمى فرضا هل يسمى واجبا، وما ثبت بظني كما يسمى واجبا هل يسمى فرضا؟ فعند الحنفية لا أخذا للفرض من فرض الشيء حزه أي قطعُ بعضه، وللواجب من وجب الشيء وجبة سقط وما ثبت بظني ساقط من قسم المعلوم، وعندنا نعم أخذا من فرض الشي قدّره ووجب الشيء وجوبا ثبت وكلّ من المقدر والثابت أعم من أن يثبت بقطعي أو ظني ومأخذنا أكثر استعمالًا مع أنهم نقضوا أصلهم في أشياء منها جعلهم مسح ربع الرأس والقعدة في آخر الصلاة والوضوء من الفصد فرضا مع أنها لم تثبت بدليل قطعي، وما مر من أن ترك الفاتحة من الصلاة لا يفسدها عندهم أي دوننا لا يضر في أن الخلف لفظي، لأنه كم فقهي لا دخل له في التسمية.

(Sama seperti mandub), artinya, scbagaimana bahwa menurut pendapat Ashah, adalah taraduf (semakna) diantara lafal-lafal: mandub, (dan mustahabb, tathawwu’ dan sunnat,) hasan, nafal dan muragghab fih. Artinya, musamma (makna) dari semua lafal tersebut adalah satu. yakni, – sebagaimana yang telah dimaklumi dari definisi sunnat- perbuatan : yang bukan menahan diri yang dituntut sebagai tuntutan yang tidak tegas (tidak mengharuskan).

Al-Qadhi Husain (W. 462 H.) dan selain beliau menafikan taraduf antara lafal-lafal tersebut. Mereka menyebut, Perbuatan ini, jika Nabi Saw. konsisten (sering dan rutin) melakukannya maka dinamakan dengan sunnat. Jika tidak demikian, seperti bahwa Nabi Saw. hanya melakukannya sekali atau dua kali maka dinamakan dengan mustahabb. Atau, Nabi Saw. tidak melakukannya dan perbuatan tersebut diciptakan oleh manusia dengan pilihannya dari yang warid maka dinamakan tathawwu.. Mereka tidak mendatangkan yang sisa karena mengumumi yang sisa bagi tiga pembagian di atas.

(Dan perbedaan pendapat) pada kedua persoalan ini (adalah lafzhiy) . Artinya, kembali kepada lafal dan penamaan. Karena, kesimpulan perbedaan pada persoalan yang kedua, bahwasanya setiap dari pembagian yang tiga, sebagaimana dinamakannya dengan satu nama dari tiga nama sebagaimana yang telah disebutkan, adakah dinamakannya dengan selain namanya dari ketiga nama tersebut?

Al-Qadhi dan selainnya menjawab: Tidak. Karena, sunnat adalah aliran dan tradisi. Mustahabb adalah kesukaan. Dan tathawwu’ adalah tambahan (plus).

Dan mayoritas menjawab, Ya, dan terbenar atas keseluruhannya itu aliran dan tradisi di dalam agama, yang disukai bagi syariat dan penambahan atas yang wajib.

Kesimpulan perbedaan pada persoalan yang pertama, bahwa sesungguhnya perbuatan yang ditetapkan dengan dalil qath’iy, sebagaimana dinamakannya dengan fardhu, adakah ia juga dinamakan dengan wajib?, dan perbuatan yang ditetapkan dengan dalil zhannuy, sebagaimana dinamakannya dengan wajib, adakah ia dinamakan juga dengan fardhu? Menurut kalangan Hanafiyyah, Tidak. Karena, memahami fardhu (yang diambil) dari kata,  (ia mengfardhu sesuatu, yakni ia memotong sesuatu), artinya, ia memutuskan sebagiannya. Dan memahami wajib (yang diambil) dari kata,  (wajiblah sesuatu sebagai wajib, yakni, gugur ia) dan perbuatan yang ditetapkan dengan dalil dhanniy itu gugur (turun level) dari pembagian yang dimaklumi (yang qath’iy).

Sedangkan menurut pendapat kita, Ya. Karena, mengambilnya. dari kata:  (ia mengfardhukan sesuatu, yakni menetapkan kadar sesuatu), dan  (wajiblah sesuatu sebagai kewajiban, yakni menetap). Dan masing-masing dari muqaddar (yang ditetapkan kadar) dan yang tetap itu lebih umum dari ditetapkannya dengan qath’iy atau zhanni

Sumber pengambilan lafal dari kalangan kita lebih banyak pemakaiannya, sekaligus bahwa mereka (kalangan Hanafiyyah) membatalkan undang-undang mereka sendiri pada beberapa perkara. Diantaranya, mereka menjadikan sapu 1/4 kepala, duduk di akhir shalat dan wudhu’ karena bekam sebagai fardhu padahal kasus-kasus ini tidak sebut dengan dalil qath’iy.

Persoalan sebelumnya, bahwa meninggalkan bacaan Al-Fatihah di dalam shalat tidak membatalkan, menurut pendapat mereka, -bukan menurut pendapat kita- itu tidak menjadi masalah (tidak mempengaruhi) tentang perbedaan pendapat itu bersifat lafal. Karena, persoalan tersebut adalah hukum yang berbasis fiqhiyyah, tidak ada jalan masuk bagi hukum fiqh pada serihal senamaan.

HUKUM MENYEMPURNAKAN SUNNAT

(و) الأصح (أنه) أي المندوب (لا يجب) بالشروع فيه (إتمامه) لأن المندوب يجوز تركه وترك إتمامه المبطل لما فعل منه ترك له. وقالت الحنفية يجب إتمامه لقوله تعالى ﴿ولا تبطلوا أعمالكم﴾ حتى يجب بترك الصلاة والصوم منه إعادتهما وعورض في الصوم بخبر «الصائمُ المتطوِّعُ أميرُ نَفْسِه إن شاءَ صامَ وإنْ شَاءَ أفْطَرَ» رواه الترمذي وغيره، وصحح الحاكم إسناده، ويقاس بالصوم الصلاة فلا تشملهما الآية جمعا بين الأدلة.
 
(ووجب) إتمامه (في النسك) من حج أو عمرة (لأنه كفرضه نية) فإنها في كل منهما قصد الدخول في النسك أي التلبس به (وغيرها) ككفارة فإنها تجب في كل منهما بالوطء المفسد له وكانتفاء الخروج بالفساد، فإن كلًاّ منهما لا يحصل الخروج منه بفساده، بل يجب المضيّ في فاسده وغير النسك ليس نفله كفرضه فيما ذكر، فالنية في نفل الصلاة والصوم غيرهما في فرضهما، والكفارة في فرض الصوم دون نفله ودون الصلاة مطلقا وبفسادهما يحصل الخروج منهما مطلقا، ففارق النسك المندوب غيره من باقي المندوب في وجوب إتمامه، وتعبيري بالنسك أعم من تعبيره بالحج، ثم أخذت في بيان متعلق خطاب الوضع من سبب وغيره فقلت

(Dan) menurut pendapat Ashah, (sesungguhnya) , artinya, mandub: itu (tidak wajib)dengan sebab masuk ke dalamnya (menyempurnakannya). Karena, bahwasanya mandub itu boleh ditinggalkan. Dan tinggal menyempurnakannya, yakni membatalkan bagi mandub yang dikerjakan itu adalah termasuk meninggalkan bagi mandub. Kalangan Hanafiyyah berkata, wajib menyempurnakan (menyelesaikan) mandub, karena firman Allah Swt.:, “Janganlah kalian membatalkan amalan kalian”. (QS. Muhammad, ayat 33), sehingga, dengan sebab meninggalkan sempurna shalat dan puasa, wajib untuk mengulanginya.

 Pendapat tersebut disanggah pada perkara puasa dengan hadits: “Orang yang berpuasa tathawwu’ (sunnat) adalah orang yang memerintah dirinya, jika ia mau, ia berpuasa, dan jika ia mau ia berbuka”. HR. At-Tirmidzi dan selainnya. Al-Hakim men-shahihkan sanad hadits tersebut. Dan perkara shalat diqiyaskan kepada puasa. Karena itu, ayat di atas tidak mencakup keduanya, karena untuk mengombinasikan kedua dalil. (Dan wajib) menyempurnakan sunnat (pada nusuk) berupa haji atau umrah. (Karena, sunnat nusuk sama seperti fardhu nusuk pada niat). Karena, niat pada masing-masing dari sunnat dan fardhu nusuk itu adalah sengaja masuk ke dalam nusuk, artinya, melakukan dengannya. (dan pada selain niat), seperti kafarat. Karena, kafarat pada masingmasing daripada nusuk fardhu dan sunnat itu wajib dengan sebab persetubuhan yang merusakkan (membatalkan) nusuk, dan seperti ternafi keluar dengan sebab rusak. Karena, bahwa masing-masing dari fardhu dan sunnat nusuk itu tidak hasil keluar dengan sebab rusaknya. Bahkan, wajib menyelesaikan pada nusuk yang rusak.

Dan yang selain nusuk, sunnat itu tidak sama seperti fardhu pada perkara yang tersebut di atas. Niat pada shalat sunnat dan puasa sunnat bukanlah niat pada fardhu keduanya. Dan kafarat itu ada pada puasa fardhu, tidak pada puasa sunnat, dan tidak pada shalat secara mutlak’. Dan dengan rusak (batal) pada shalat dan puasa itu hasil keluar dari keduanya secara mutlak?.

 Karena itu, nusuk yang sunnat berbeda dengan selain nusuk dari sunnat-sunnat yang lain perihal wajib menyempurnakannya.

Ibarat dariku dengan lebih umum dari ibarat Ashal dengan

PENJELASAN MUTA'ALLAQ KHITHAB WADH'IY

 (والسبب) الشرعي هنا (وصف) وجودي أو عدمي (ظاهر منضبط معرف للحكم) الشرعي لا مؤثر فيه بذاته، أو بإذن الله أو باعث عليه كما قال بكل قائل كما سيأتي بيانها في معنى العلة، وهذا التعريف مبين لمفهوم السبب، وبه عرف المصنف في شرح المختصر كالآمدي وعرفه في الأصل بما يبين خاصته، ولذلك عدلت عنه إلى الأوّل والمعبر عنه هنا بالسبب هو المعبر عنه في القياس بالعلة، كالزنا لوجوب الجلد، والزوال لوجوب الظهر، والإسكار لحرمة الخمر، ومن قال لا يسمى الوقت السببي كالزوال علة نظر إلى اشتراط المناسبة في العلة. وسيأتي أنها لا يشترط فيها بناء على أنها المعرّف وهو الحق وخرج بمعرف الحكم المانع وسيأتي.

(والشرط ما يلزم من عدمه العدم) للمشروط (ولا يلزم من وجوده وجود ولا عدم) له خرج القيد الأوّل المانعَ إذ لا يلزم من عدمه شيء، وبالثاني السبب، إذ يلزم من وجوده الوجود وزاد الأصل ككثير في تعريفه لذاته ليدخل الشرط المقارن للسبب، فيلزم الوجود كوجود الحول الذي هو شرط لوجوب الزكاة مع النصاب الذي هو سبب للوجوب، والمقارن للمانع كالدين على القول بأنه مانع من وجوب الزكاة فيلزم العدم فلزوم الوجود والعدم في ذلك لوجود السبب والمانع لا لذات الشرط وحذفه لعدم الاحتياج إليه فيما ذكر، إذ المقتضي للزوم الوجود والعدم إنما هو السبب والمانع لا الشرط، ثم هو عقلي كالحياة للعلم، وشرعي كالطهارة للصلاة، وعادي كنصب السلم لصعود السطح، ولغوي كما في أكرم فلانا إن جاء أي الجائي، وسيأتي في مبحث التخصيص، وتعريفي هنا للشرط بما ذكر وإن شمل اللغوي أنسب من تأخير الأصل له إلى مبحث المخصص (والمانع) المراد عند الاطلاق كما هنا وهو مانع الحكم. (وصف وجودي) لا عدمي (ظاهر) لا خفي (منضبط) لا مضطرب (معرف نقيض الحكم) أي حكم السب (كالقتل في) باب (الإرث) فإنه مانع من وجود الإرث المسبب عن القرابة أو غيرها لحكمة، وهي عدم استعجال الوارث موت مورثه بقتله أما مانع السبب والعلة ولا يذكر إلا مقيدا
 
بأحدهما، فسيأتي في مبحث العلة (والصحة) الشاملة لصحة العبادة وصحة غيرها من عقد وغيره (موافقة) الفعل (ذي الوجهين) وقوعا (الشرع في الأصح) . والوجهان موافقة الشرع ومخالفته أي الفعل الذي يقع تارة موافقا للشرع، وتارة مخالفا له عبادة كان كصلاة أو غيرها كبيع صحته موافقته الشرع، بخلاف ما لا يقع إلا موافقا له كمعرفة الله تعالى، إذ لو وقعت مخالفة له أيضا لكان الواقع جهلًا لا معرفة فلا يسمى الموافق له صحيحا فصحة العبادة أخذا مما ذكر موافقة العبادة ذات الوجهين وقوعا الشرع، وإن لم يسقط قضاؤها، وهذا منسوب للمتكلمين، وقيل صحتها سقوط قضائها وهذا منسوب للفقهاء فما وافق منها الشرع ولم يسقط القضاء كصلاة من ظن أنه متطهر ثم تبين له حدثه يسمى صحيحا على الأوّل نظرا إلى ظن المكلف دون الثاني نظرا إلى ما في نفس الأمر.


قال ابن دقيق العيد
 
وفي هذا البناء نظر لأنه إن أريد بموافقة الأمر الأمر الأصلي فلم يسقط، أو الأمر بالعمل بالظن، فقد بان فساد الظن، فيلزم أن لا يكون صحيحا بالتقديرين، واستظهره البرماوي ويجاب بأن تبين فساد الظن وإن اقتضى عدم تسمية ذلك صحيحا بالنظر إلى نفس الأمر لا يمنع تسميته صحيحا بالنظر إلى الظنّ، وللسبكي وغيره هنا كلام ذكرته في الحاشية. (وبصحة العبادة) خبر لقولي (إجزاؤها أي
 
كفايتها في سقوط التعبد) أي الطلب وإن لم يسقط القضاء (في الأصح) وقيل إجزاؤها سقوط قضائها كصحتها على القول المرجوح، فالصحة منشأ الاجزاء على القول الراجح فيهما ومرادفة له على المرجوح فيهما. (و) بصحة (غيرها) التي هي أخذا مما مر موافقته الشرع (ترتب أثره) أي أثر غيرها وهو ما شرع الغير له كحل الانتفاع في البيع والتمتع في النكاح، فالصحة منشأ الترتب لا نفس الترتب، كما زعمه الآمدي وغيره بمعنى أنه حيثما وجدت فهو ناشىء عنها لا بمعنى أنها حيثما وجدت نشأ عنها حتى يرد البيع قبل انقضاء الخيار، فإنه صحيح ولم يترتب عليه أثره وتعبيري بغيرها أعم من تعبيره بالعقد. (ويختصّ الإجزاء بالمطلوب) من واجب ومندوب لا يتجاوزهما إلى غيرهما من عقد وغيره (في الأصحّ) وقيل يختص بالواجب لا يتجاوزه إلى غيره من المندوب وغيره، ومنشأ الخلاف خبر ابن ماجة وغيره أربع لا تجزىء في الأضحى فاستعمل الأجزاء في الأضحية وهي مندوبة عندنا واجبة عند غيرنا كأبي حنيفة. (ويقابلها) أي الصحة (البطلان) فهو مخالفة الفعل ذي الوجهين الشرع. وقيل في العبادة عدم إسقاطها القضاء (وهو) أي البطلان (الفساد في الأصح) فكل منهما مخالفة ما ذكر الشرع وإن اختلفا في بعض أبواب الفقه كالخلع والكتابة لاصطلاح آخر، وقالت الحنفية مخالفته الشرع بأن كان منهيا عنه إن كانت لكون النهي عنه لأصله فهي البطلان كما في الصلاة الفاقدة شرط أو ركنا، وكما في بيع الملاقيح لفقد ركن من البيع أو لوصفه فهي الفساد كما في صوم يوم النحر للاعراض بصومه عن ضيافة الله للناس بلحوم الأضاحي التي شرعها فيه، وكما في بيع الدرهم بدرهمين لاشتماله على الزيادة فيأثم به ويفيد بالقبض ملكا خبيثا أي ضعيفا ولو نذر صوم يوم النحر صح نذره، لأن الإثم في فعله دون نذره ويؤمر بفطره وقضائه ليتخلص عن الإثم ويفي بالنذر، ولو صامه وفي بنذره لأنه أدّى الصوم كما التزمه، فقد اعتدّ بالفاسد، أما الباطل فلا يعتد به وضعف ذلك بأن التفرقة إن كانت شرعية فأين دليلها بل يبطلها قوله تعالى ﴿لو كان فيهما آلهة إلا الله لفسدتا﴾ حيث سمى الله تعالى ما لم يثبت أصلًا فاسدا وإن كانت عقلية، فالعقل لا يحتج به في مثل ذلك (والخلف لفظي) من زيادتي أي عائد إلى اللفظ والتسمية، إذ حاصله أن مخالفة ما ذكر الشرع
 
بالنهي عنه لأصله كما تسمى بطلانا هل تسمى فسادا أو لوصفه. كما يسمى فسادا هل تسمى بطلانا، فعندهم لا وعندنا نعم.

1. SEBAB

 

Kemudian, aku memasuki ke dalam penjelasan muta’allaq khithab wadhiy berupa sebab dan selainnya.’ Maka, aku berkata:

 

(Dan sebab) yang syar’iy, di sini (adalah sifat) berbentuk wujudiy atau ‘adamiy (yang jelas) , terukur, yang menandai bagi hukum berbasis syariat, bukan pemberi efek pada hukum dengan dzatnya atau dengan izin Allah Swt., atau pembangkit atas keberadaan hukum, sebagaimana yang telah berkata oleh yang berpendapat dengan setiap pendapat tersebut, sebagaimana yang akan datang penjelasannya pada pembahasan arti dari illat.

 

Definisi ini adalah yang menjelaskan bagi mafhum (pengertian) sebab. Mushannif mendefinisikan sebab dengan definisi ini di dalam Syarah Al-Mukhtashar, sama seperti Al-Amidiy. Namun, mushannif mendefinisikannya di dalam Ashal dengan definisi yang menjelaskan khash-nya Karena itu, aku menggantikannya kepada definisi yang pertama.

 

Yang diperhitungkan di sini dengan sebab adalah yang diperhitungkan di dalam qiyas dengan illat. Seperti, zina (sebagai sebab/ illat) bagi wajib cambuk, tergelincir matahari (sebagai sebab/ illat) bagi wajib shalat zuhur, dan mabuk (sebagai sebab/ illat) bagi haram arak.

 

Dia yang berpendapat: Waktu yang menjadi sebab, seperti tergelincir matahari, tidak dinamakan illat, adalah ia melihat kepada disyaratkannya munasabat pada illat. Nanti akan dijelaskan bahwa munasabat tidak disyaratkan pada illat. Karena, dibangun atas dasar bahwa illat itu sebagai penanda hukum. Dan ini adalah pendapat yang benar.

 

Terkeluar dengan “penanda hukum” oleh mani’ Dan nanti akan dijelaskan.

 
2. SYARAT

 

(Dan syarat adalah sesuatu yang dari ketiadaannya melazimi (menuntut) ketiadaan) bagi masyruth (hukum). (dan yang dari adanya tidak menuntut ada dan ketiadaan) bagi masyruth (hukum).

 

Terkeluar dengan kait pertama oleh mani’. Karena, dari ketiadaan mani’ tidak melazimi sesuatu pun. Dan terkeluar dengan kait kedua oleh sebab. Karena, dari adanya sebab melazimi adanya hukum.

 

Ashal, sama seperti mayoritas ulama menambahi  (bagi dzatnya) ke dalam definisi syarat.’ Agar, dapat memasukkan syarat yang menyerta bagi sebab. Maka, menuntut adanya hukum, seperti wujud haul (sampai tahun) yang merupakan syarat bagi wajib zakat yang menyertai nishab yang merupakan sebab bagi wajib. Dan memasukkan syarat yang menyerta bagi mani’, seperti utang menurut satu pendapat yang menyebutnya sebagai mani’ dari wajibnya zakat, sehingga melazimi ketiadaan hukum. Maka, melazimi ada dan ketiadaan hukum pada syarat yang menyerta sebab dan mani’ tersebut adalah karena wujud sebab dan mani’, bukan karena dzat syarat.

 

Sedangkan aku membuang kata tersebut karena tidak dibutuhkannya pada perkara yang disebutkan di atas. Karena, kehendaki bagi melazimi ada dan ketiadaannya hanyalah karena dia sebagai sebab dan mani’, bukan syarat.

 

Kemudian, syarat itu (adakala) bersifat akal (rasional), seperti hidup (sebagai syarat) bagi pengetahuan, berbasis syariat, seperti bersuci (sebagai syarat) bagi shalat, bersifat kebiasaan, seperti mendirikan tangga bagi menaiki loteng, dan lughawi, seperti pada kalimat:  (Muliakan si fulan, jika ia datang), yakni, orang yang datang. Dan akan datang penjelasan syarat lughawi pada, Pembahasan Takhshis.

 

Definisi dariku untuk syarat di sini dengan kalimat yang tersebut di atas, -meskipun ia mencakup lughawi-lebih sesuai dari penundaan Ashal kepada, Pembahasan Takhshis.

 
3. MANI’

 

(Dan mani’) yang dimaksudkan ketika penggunaannya secara mutlak, sebagaimana di sini. Yakni, mani’ (pencegah) bagi hukum. (adalah sifat yang berbentuk wujudiy,) bukan ‘adamiy (jelas,) tidak tertutup (terukur) tidak simpang-siur (penanda bagi kebalikan hukum), artinya, hukum sebab. (seperti, pembunuhan di dalam) bab (warisan). Karena, sesungguhnya pembunuhan adalah pencegah dari mendapatkan warisan yang bersebab sebagai kerabat atau selainnya karena suatu hikmah, yakni, ahli waris tidak boleh menyegerakan kematian orang mewariskannya dengan cara membunuhnya.

 

Adapun mani’ (pencegah) sebab dan illat, dan tidak disebutkannya kecuali dikaitkan dengan salah satunya, maka akan datang penjelasannya pada: Pembahasan Illat.

 
4. SAH

 

(Dan shihah) yang mencakup kepada sah ibadat dan sah selain ibadat, berupa akad dan selainnya. (adalah kesesuaian) perbuatan (yang memiliki dua sisi) pada kejadiannya (dengan syara’, menurut pendapat Ashah). Pengertian “dua Sisi” jalah kesesuaian dengan syara’ dan menyalahinya. Yakni, satu perbuatan yang sesekali berlaku dengan menyesuaikan bagi syara’ dan di kali yang lain menyalahi bagi syara’. Baik itu ibadat, seperti shalat, atau selain ibadat, seperti jual beli, yang mana keabsahannya adalah sesuainya dengan syara’.

 

Berbeda halnya dengan perbuatan yang tidak berlaku melainkan sesuai dengan syara’, seperti ma’rifah (mengenali) Allah Swt. Karena, seandainya ma ruah tersebut terealisasi dengan menyalahi bagi syara juga sungguh yang terealisasi itu adalah kebodohan, bukan ma’rifah. Karena itu, kesesuaiannya dengan syara” tidak dinamakan Shahih (sah).

 

Maka, sah ibadat -dengan memahami dari penjelasan di atas- adalah kesesuaian ibadat yang memiliki dua sisi pada kejadiannya dengan syara’, meskipun tidak menggugurkan qadha-nya. Dan pendapat ini dinisbatkan kepada kalangan mutakallimin (pakar tauhid).

 

Ada yang berkata: Sah ibadat adalah gugur qadha’-nya. Dan pendapat ini dinisbatkan kepada kalangan fuqaha’.

 

Maka, ibadat yang sesuai dengan syara” dan belum menggugurkan (kewajiban) qadha”, seperti shalat dari orany yang menyangka dirinya suci, kemudian nyata dirinya berhadats, dinamakan sah, atas dasar pendapat pertama karena ditinjau kepada sangkaan mukallaf, dan tidak sah atas dasar pendapat kedua karena ditinjau kepada fakta perkara.

 

Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata: Dalam membangun atas dasar ini’ perlu ditinjau kembali. Karena, jika dimaksudkan dengan “kesesuaian urusan” adalah urusan yang bersifat asal maka tidak gugur qadha’, atau yang dimaksudkannya adalah urusan beramal dengan sangkaan maka sungguh nyata rusak sangkaannya. Maka, melazimi bahwa perkara tersebut tidak disebut shahih/ sah dengan kedua takdirnya. Dan peninjauan ini dianggap jelas oleh Al-Barmawiy.

 

Peninjauan tersebut dijawab dengan bahwa sesungguhnya nyata rusak sangkaan, -meskipun dikehendaki tidak dinamakannya dengan shahih dengan melihat kepada fakta perkara- tidak tertegah penamaannya dengan shahih dengan melihat kepada sangkaan mukallaf.

 

Disini, As-Subkiy dan selainnya mempunyai pembahasan, yang telah aku sebutkan di dalam AlHasyiyah.

 
DAMPAK SAH IBADAT KEPADA IJZA’

 

(Dan adalah dengan sah ibadat). Kalimat ini sebagai khabar bagi kata dariku: lijza’-nya, yakni, kecukupan ibadat dalam menggugurkan ta’abbud), artinya, tuntutan, meskipun belum menggugurkan (kewajiban) qadha’ (menurut pendapat Ashah).

 

Ada yang berkata: Kecukupan ibadat adalah gugur qadha’-nya, sama seperti sah ibadat, atas dasar pendapat lemah.?

 

Maka, sah adalah tempat kemunculan ijza’ menurut pendapat rajih (kuat) pada sah dan ijza’, dan sah adalah taraduf (sinonim) bagi ijza’ menurut pendapat lemah pada keduanya.

 

(Dan) adalah dengan sah (selain ibadat) yang mana, sah tersebut karena memahami dari penjelasan sebelumnya adalah kesesuaian perbuatan dengan syara’ (berlanjut efeknya), artinya, efek (tujuan) dari selain ibadat tersebut. Yakni, segala sesuatu yang disyariatkan selain ibadat tersebut karenanya, seperti halal pemanfaatan pada jual-beli dan menikmati kesenangan pada nikah.

 

Maka, sah adalah tempat muncul tarattub atsar (berlanjutnya tujuan), bukan diri tarattub, sebagaimana yang diklaim oleh Al) Amidiy dan selainnya. Dalam artian, bahwa dimana saja dijumpai tarattub atsar maka ia adalah yang muncul dari hukum sah, bukan dengan pengertian bahwa dimana saja didapatkan hukum sah maka muncul tarattub atsar untuknya, sehingga muncul jual-beli sebelum melewati masa khiyar. Karena, jual beli tersebut sah namun belum berlanjut atasnya oleh tujuan akad.

 

Dan ibarat dariku dengan (selain ibadat) lebih umum dari ibarat Ashal dengan (akad). (Dan perkara ijza’ itu terkhusus dengan ibadat yang dituntut) berupa wajib dan rnandub, dan tidak menjangkau keduanya kepada selainnya dari akad dan selain akad (menurut pendapat Ashah)

 

Ada yang berkata: Ijza’ hanya terkhusus dengan wajib, dan tidak menjangkau kepada selain wajib, berupa mandub dan selainnya. Sumber perbedaan pendapat adalah hadits riwayat Ibnu Majah dan selainnya, “Empat sifat tidak cukup pada qurban”. Lafal ijza’ dipakaikan pada masalah gurban, dan gurban adalah sunnat menurut pendapat kita, dan wajib menurut selain kita seperti Abu Hanifah.

 
5. BATAL

 

(Dan berbandingnya), yakni, sah (oleh batal). Yaitu, menyalahi perbuatan yang memiliki dua sisi dengan syara’.

 

Ada yang berkata, Batal pada ibadat adalah tidak menggugurkannya akan qadha’.

 

(Dan ia), artinya, batal (adalah fasad, menurut pendapat Ashah). Karena itu, setiap dari batal dan fasad adalah menyalahi perbuatan yang memiliki dua sisi tersebut dengan syara’, meskipun keduanya berbeda pada beberapa bab fiqh, seperti khulu’ (permintaan cerai berbayar dari istri) dan kitabah, karena istilah yang lain.

 

Kalangan Hanafiyyah berkata: Menyalahinya dengan syara’, dalam artian bahwa ia termasuk manhiy anh (hal yang dilarang), jika menyalahinya karena keberadaan larangan tersebut bagi dasar akad: maka dinamakan dengan batal, seperti yang berlaku pada shalat yang kurang syarat atau rukun, dan seperti yang terjadi pada jual-beli malaqih karena kurang satu rukun dari jual-beli. Atau karena larangan tersebut bagi sifat akad maka dinamakan dengan fasad, seperti yang berlaku pada puasa di hari raya gurban karena mengalihkan diri dengan sebab berpuasa daripada menjamu Allah bagi manusia dengan daging-daging gurban yang disyariatkan di hari tersebut, dan seperti pada penjualan satu dirham dengan .dua dirham karena termasuknya atas penambahan, sehingga ia berdosa dengan sebabnya. dan memberi faedah dengan melakukan serah terima kepada kepemilikan yang keji, yakni lemah.

 

Dan andai seseorang mengucap nazar puasa pada hari raya gurban maka sah nazarnya, karena dosa adalah pada melakukannya, bukan pada nazarnya, dan diperintahkannya untuk berbuka dan meng-qadha-nya agar ia terbebas dari dosa dan tertunaikan nazar.

 

Seandainya ia tetap berpuasa (di hari raya qurban) maka tertunai nazarnya karena ia telah menunaikan puasa sebagaimana yang ia wajibkan dirinya. Maka, sungguh diperhitungkannya dengan yang fasad. Adapun, yang batal itu tidak diperhitungkan.

 

Pandangan kalangan Manafiyyah tersebut dilemahkan dengan bahwasanya pemilahan (antara batal dan fasad), jika memang ia bersifat syariat maka dimana dalilnya. Bahkan, pandangan tersebut dibatalkan oleh firman Allah Swt. “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa”. (QS. Al-Anbiya’, ayat 22) di saat Allah Swt. menamakan perkara yang belum jadi sama sekali dengan fasad. Dan jika memang ia bersifat aqliy (rasional) maka akal tidak diberlakukan hujjah pada semisal masalah pemilahan tersebut.

 

(Dan perbedaan pendapat adalah sebatas lafal). Kalimat ini merupakan tambahanku (dari Ashal). Artinya, perbedaan ini kembali kepada lafal dan penamaan. Karena, kesimpulannya adalah bahwa menyalahi perbuatan yang tersebut di atas dengan syara’ dengan sebab larangan bagi asal akad, sebagaimana dinamakannya sebagai batal, adakah ia juga dinamakan fasad, atau larangan. bagi sifat akad, sebagaimana dinamakannya sebagai fasad, adakah ia juga dinamakan batal. Menurut mereka, tidak Menurut kita, ya!

PENGERTIAN ADA'

 (والأصح أن الأداء فعل العبادة) صوما أو صلاة أو غيرهما (أو) فعل (ركعة) من الصلاة (في وقتها) مع فعل البقية بعده واجبة كانت أو مندوبة، وتعبيري بالركعة هنا وبدونها في القضاء أولى ن تعبيره بالبعض لما لا يخفى، ولخبر الصحيحين «من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة» أي مؤداة، وقيل الأداء فعل العبادة في وقتها ففعل بعضها فيه ولو ركعة وبعضها بعده لا يكون أداء حقيقة كما لا يكون قضاء، كذلك، بل يسمى بأحدهما مجازا بتبعية ما في الوقت لما بعده أو بالعكس، وهذا ما عليه الأصوليون، واعتبار الركعة في الأداء ودونها في القضاء كما سيأتي ذكره الفقهاء، وإنما ذكرته هنا تبعا للأصل، والخبر المذكور قد لا يدل على ما ذكروه لاحتمال أنه فيمن زال عذره كجنون وقد بقي من الوقت ما يسع ركعة فيجب عليه الصلاة. (وهو) أي وقت العبادات المؤدّاة (زمن مقدر لها شرعا) موسعا كان كزمن الصلوات المكتوبة وسننها أو مضيقا كزمن صوم رمضان أو الأيام البيض، فما لم يقدر له زمن شرعا كنذر ونفل مطلقين وغيرهما وإن كان فوريا كالإيمان لا يسمى فعله أداء ولا قضاء اصطلاحا، وإن كان الزمن ضروريا لفعله، ومن ذلك ما وقته العمر كالحج وتسمية بعضهم لوقته موسعا مجاز، إذ الموسع ما يعلم المكلف آخره وآخر العمر لا يعلمه فلا يسمى فعله أداء ولا قضاء اصطلاحا، بل يسماهما مجازا أو لغة كأداء الدين وقضائه نبه على ذلك العلامة البرماوي.

(Dan menurut pendapat Ashah, sesungguhnya ada’ ialah melakukan (seluruh) ibadat), baik itu puasa, shalat atau selain keduanya (atau melakukan satu rakaat) daripada shalat (di dalam waktunya) serta melakukan sisanya setelah (habis) waktu, baik itu wajib atau sunnat.

 

Ibarat dariku dengan  (satu rakaat) di sini, dan dengan  (dibawah satu rakaat) pada pembahasan qadha’ itu lebih baik dari ibarat Ashal dengan ya (sebagian) karena alasan yang nyata, dan karena hadits Dua Yang Shahih, “Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka sungguh telah mendapatkan satu shalat”, artinya, secara muadda”.

 

Ada yang berkata: Ada’ ialah melakukan (seluruh) ibadat di dalam waktunya. Maka, melakukan sebagian ibadat di dalam waktu, walau satu rakaat dan sebagiannya yang lain setelah : (habis) waktu, tidak disebut ada’ secara hakikat, sebagaimana tidak disebut juga sebagai qadha’ secara hakikat. Bahkan, dinamakan dengan salah satunya secara majaz dengan memperikut (menarik) ibadat di dalam waktu bagi yang setelah waktu, atau kebalikannya. Pendapat ini menjadi pegangan para ulama ushul.

 

Peninjauan satu rakaat pada ada” dan dibawah satu rakaat pada qadha’ sebagaimana yang akan datang penjelasannya (pada pembahasan Qadha’) itu yang disebutkan ulama fuqaha’. Hanyasanya aku menyebutnya di sini karena mengikuti (meniru) Ashal.

 

Dan hadits yang telah disebutkan di atas, terkadang tidak menunjuk kepada apa yang mereka sebutkan. Karena, bisa jadi bahwa hadits tersebut tentang orang yang hilang uzornya seperti gila dan masih tersisa dari waktunya masa yang memuat satu rakaat sehingga diwajibkan shalat ke atasnya.”

 

(Dan ianya) , artinya, waktu ibadat yang ada’ (ialah masa yang ditentukan baginya pada syara’) Baik itu masa muwassa’ (kelonggaran), seperti masa shalat wajib lima waktu dan segala sunnatnya, atau mudhayyag (masa yang sempit), seperti masa puasa Ramadhan atau puasa hari-hari putih.!

 

Maka, ibadat yang tidak ditentukan masa baginya pada syara’, seperti nazar mutlak, sunnat mutlak dan selain keduanya meskipun ia disegerakan seperti beriman, tidak dinamakan perbuatannya itu sebagai ada’ dan tidak qadha’ secara istilah, meskipun masa itu dibutuhkan untuk melakukannya. – Diantaranya ialah ibadat yang waktunya adalah seumur hidup, seperti haji. Penamaan oleh sebagian ulama untuk waktu haji dengan muwassa’ adalah majaz. Karena, muwassa’ adalah waktu yang diketahui akhirnya oleh mukallaf, sedangkan umur tidak diketahui akhirnya. Maka, perbuatan itu tidak disebut sebagai ada” dan tidak qadha’ secara istilah, tetapi dinamakan keduanya secara majaz, atau secara bahasa seperti ada’ utang dan qadha’ utang (membayar utang). Al-‘Allamah Al-Barmawiy telah memberitahukan demikian.

PENGERTIAN QADHA'

(و) الأصح (أن القضاء فعلها) أي العبادة (أو) فعلها (إلا دون ركعة بعد وقتها) والفرق بين ذي الركعة وما دونها أنها تشتمل على معظم أفعال الصلاة، إذ معظم الباقي كالتكرير لها فجعل ما بعد الوقت تابعا لها، بخلاف ما دونها، وقيل القضاء فعل العبادة أو بعضها ولو دون ركعة بعد وقتها، وبعض الفقهاء حقق فسمى ما في الوقت أداء وما بعده قضاء. (تداركا) بذلك الفعل (لما سبق لفعله مقتض) وجوبا أو ندبا سواء كان المقتضي من المتدارك كما في قضاء الصلاة المتروكة بلا عذر أم من غيره، كما في قضاء النائم الصلاة والحائض الصوم، فإنه سبق لفعلهما مقتض من غير النائم والحائض لا منهما، وإن انعقد سبب الوجوب أو الندب في حقهما وخرج بالتدارك إعادة الصلاة المؤداة في الوقت بعده.

(Dan) menurut pendapat Ashah, (sesungguhnya qadha’ adalah mengerjakannya) yakni, ibadat (atau) mengerjakannya (kecuali yang dibawah satu rakaat setelah (habis) waktunya).

 

Dan perbedaan antara yang memiliki satu rakaat dan yang dibawah satu rakaat adalah bahwa satu rakaat itu melengkapi atas sebagian besar perbuatan shalat. Karena, sebagian besar yang sisa itu hanyalah seperti pengulangan bagi rakaat tersebut, sehingga dijadikan yang setelah waktu itu yang mengikuti kepadanya. Berbeda halnya yang dibawah satu rakaat.’ Ada yang berkata, Qadha’ adalah mengerjakan (seluruh) ibadat atau sebagian ibadat walau dibawah satu rakaat setelah waktunya.

 

Sebagian ulama fuqaha’ memastikan (lebih mendetail) pendapat ini. mereka menyebut bagi yang di dalam waktu sebagai ada’, dan yang setelah waktu sebagai qadha’. (Sebagai susulan) dengan perbuatan tersebut Ibagi perbuatan yang telah terdahulu tuntutan untuk memperbuatnya). Baik tuntutan yang wajib atau sunnat. Baikkah yang dituntut itu dari yang melakukan susulan?, seperti yang berlaku pada qadha’ shalat yang ditinggalkan tanpa uzor, atau dari selainnya, seperti yang berlaku pada qadha’ shalat orang yang tertidur atau qadha’ puasa orang yang berhaid. Karena, telah terdahulu tuntutan bagi melakukan keduanya dari selain orang tertidur dan orang yang berhaid, bukan dari keduanya, meskipun terbentuk

 

sebab wajib dan sunnat pada hak keduanya.’ Keluar dengan “susulan” oleh iadah shalat ada’ di dalam waktu setelah melakukannya.

PENGERTIAN I'ADAH

(و) الأصح (أن الإعادة فعلها) أي العبادة (وقتها ثانيا مطلقا) سواء
 
أكان لعذر من خلل في فعلها أولًا أو حصول فضيلة لم تكن في فعلها أولًا لكون الإمام أعلم أو أورع أو الجمع أكثر أو المكان أشرف، أم لغير عذر ظاهر بأن استوت الجماعتان أو زادت الأولى بفضيلة، وقيل الإعادة مختصة بخلل في الأوّل وعليه الأكثر، وقيل بالعذر الشامل للخلل ولحصول فضيلة لم تكن في الأوّل، وذكر الأول أن زيادتي وهو ما اختاره الأصل في شرح المختصر، ويمكن حمل أول كلامه هنا عليه كما بينته في الحاشية، وبما ذكر علم تعريف المؤدي والمقضي والمعاد بأن يقال على الأصح المؤدي مثلًا ما فعل مما مر في الأداء في وقته، وقس به الآخرين وأن الإعادة قسم من الأداء فهي أخص منه وعليه الأكثر، وقيل قسيم له وعليه مشى البيضاوي حيث قال العبادة إن وقعت في وقتها المعين ولم تسبق بأداء مختلّ فأداء، وإلا فإعادة لكن كلامه في المرصاد يخالفه، وقد ذكرته في الحاشية مع زيادة.

(Dan) menurut pendapat Ashah, (sesungguhnya i’adah adalah melakukannya), artinya, ibadat (di dalam waktunya untuk kali kedua, secara mutlak).’ Baikkah ia dilakukannya karena uzor dari kecacatan pada melakukannya di kali pertama, atau untuk meraih fadhilah yang tiada pada melakukannya di kali pertama karena keberadaan imam (pada kali kedua) lebih berilmu, lebih terjada agamanya, atau jamaahnya lebih banyak, atau tempatnya lebih mulia, ataupun karena tidak ada uzor yang jelas, yakni, kedua jamaahnya sama atau kali yang pertama lebih pada fadhilah. Ada yang berkata: Iadah itu terkhusus dengan yang cacat pada kali pertama. Pendapat ini adalah pegangan mayoritas ulama.

 

Ada yang berkata, Terkhusus dengan yang uzor yang mencakup bagi kecacatan dan bagi meraih fadhilah yang tidak didapatkan pada kali pertama.

 

Penyebutan pendapat pertama adalah tambahan dariku. Dan pendapat pertama merupakan pendapat yang dipilih Ashal di dalam Syarah Al-Mukhtashar. Dan mungkin saja mengarahkan awal pembahasan di sini kepadanya, sebagaimana yang aku beritahukan di dalam Al-Hasyiyah.

 

Dan dengan segala pembahasan yang telah disebutkan sebelumya dapat diketahui definisi tentang muadda’ (ibadah yang dikerjakan secara ada’), maqdhiy dan yang mu’adah. Dalam artian, bahwa . disebutkan, menurut pendapat Ashah: Muadda” -misalnyaadalah ibadat yang diperbuatnya -dari yang tersebut sebelumnya pada pembahasan ada’di dalam waktunya. Qiyaskan dua yang terakhir dengan definisi ini.

 

(Dan juga dapat diketahui bahwa) Sesungguhnya i’adah adalah satu pembagian dari ada’. Dan iadah lebih khusus dari ada’. Pendapat ini adalah pegangan mayoritas.

 

Ada yang berkata, I’adah adalah gasim (sebanding) bagi ada”. Pendapat ini telah dijalankan oleh Al-Baydhawiy di saat beliau berkata: Ibadat, jika ia dijatuhkan di dalam waktunya yang telah ditentukan dan tidak didahuluinya dengan ada’ lain yang cacat maka disebut ada”. Jika tidak demikian maka i’adah. Namun, kalam AlBaydhawiy di dalam Al-Mirshad menyalahi penjelasan ini. Dan aku telah menyebut kalam Al-Baydhawiy ini di dalam Al-Hasyiyah serta ada tambahan.

PENGERTIAN RUKHSHAH

(والحكم) أي الشرعي إذ الكلام فيه (إن تغير) من حيث تعلقه من صعوبة له على المكلف (إلى سهولة) كأن تغير من حرمة شيء إلى حله (لعذر مع قيام السبب للحكم الأصلي) المتخلف عنه للعذر، (فرخصة) أي فالحكم السهل المذكور يسمى رخصة وهي بإسكان الخاء أكثر من ضمها لغة السهولة. (واجبة ومندوبة ومباحة. وخلاف الأولى) هذه الصفات اللازمة بيان لأقسام الرخصة الممثل لها على هذا الترتيب بقولي (كأكل ميتة لمضطر (وقصر) من مسافر بقيد زدته بقولي (بشرطه) بأن كره القصر أو شك في جوازه، وكان سفره يبلغ ثلاث مراحل فأكثر ولم يختلف في جواز قصره كما هو معلوم من محله، 

(وسلم) وهو بيع موصوف في الذمة بلفظ سلم (وفطر مسافر) في زمن صوم واجب أصالة أو بنذر أو قضاء ما فات بلا تعدّ (لا يضره الصوم) فإن ضره فالفطر أولى، والمعنى أن الرخصة كحل المذكورات من وجوب وندب وإباحة وخلاف الأولى وحكمها الأصلي الحرمة وأسبابها الخبث في الميتة، ودخول وقتي الصلاة والصوم في القصر والنظر لأنه سبب لوجوب الصلاة تامة والصوم والغرر في السلم، وهي قائمة حال الحل وأعذار الحل الاضطرار ومشقة السفر، والحاجة إلى ثمن الغلات قبل إدراكها، وسهولة الوجوب في أكل الميتة لموافقته غرض النفس في بقائها، وقيل إنه عزيمة لصعوبته ومن الرخصة المباحة إباحة ترك الجماعة في الصلاة لمرض أو نحوه، وحكمه الأصلي الكراهة وسببها قائم حال الإباحة، وهو الانفراد فيما يطلب فيه الاجتماع من شعائر الإسلام، 

وقد بينت في الحاشية كمية أقسام الرخصة الحاصلة بالانتقال من حكم إلى آخر، وقضية ما ذكر أن الرخصة لا تكون محرمة ولا مكروهة، وهو كما قال العراقي ظاهره، خبر «إنَّ اللَّهُ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخصه» . وما قيل من أنها تكون كذلك حيث قيل إن الاستنجاء بذهب أو فضة يجزىء مع أنه حرام، وأن القصر لدون ثلاث مراحل جائز مع أنه مكروه كما قاله الماوردي. أجيب عن أولهما بأن الاستنجاء بما ذكر جائز على الصحيح أي في غير ما طبع أو هيىء لذلك، أما فيه فيجاب بأن هذه الحرمة ليست لخصوص الاستنجاء حتى تكون رخصة، بل لعموم الاستعمال. وعن ثانيهما بأن الماوردي أراد أنه مكروه كراهة غير شديدة وهي بمعنى خلاف الأولى، ولك أن تقول الرخصة إنما لم توصف بالحرمة لصعوبتها مطلقا، وهذا منتف في الكراهة كخلاف الأولى لأنهما سهلان بالنسبة إلى الحرمة.

(Dan hukum), artinya, yang berbasis syar’y. Karena pembahasan adalah tentangnya. (jika ia berubahj) dari sisi keterhubungannya dari sulit/ berat bagi hukum tersebut atas mukallaf (kepada ringan) Seperti, perubahan dari haram sesuatu kepada halalnya (karena adanya uzor’ serta masih tetap sebab bagi hukum yang asal) yang tertinggal dari sebab tersebut karena adanya uzor.’ (Maka disebut rukhshah). Artinya, maka hukum yang ringan tersebut dinamakan rukhsah. Lafal -dibaca dengan sukun kha’ lebih sering daripada dhammahnya- secara bahasa adalah mudah/ ringan.

 

(Adakalanya yang wajib, sunnat, mubah dan khilaf aula). Keempat sifat lazimah’ ini adalah untuk menerangkan bagi pembagian rukhshah yang dicontohkan untuk masing-masing atas urutan tersebut dengan perkataanku, (Seperti, memakan bangkai) bagi orang yang sedang darurat, (shalat gashar) dari orang yang melakukan perjalanan, dengan kait yang aku tambahkannya dengan perkataanku, (dengan sesuai syaratnya). Yakni, ia tidak menyukai gashar, atau meragukan kebolehannya, dan serjalanannya itu sampai tiga marhalah atau lebih jauh, dan tidak diperselisihkan pada kebolehannya melakukan gashar, sebagaimana yang telah dimaklumi dari tempat pembahasannya.

 

(Dan seperti akad salam). Yakni, jual-beli barang yang disifatkan di dalam tanggungan dengan lafal salam (pesanan). (dan tidak berpuasa bagi musafir) pada masa puasa wajib secara asal’, atau dengan sebab nazar, atau qadha’ dari puasa yang tertinggal tanpa sengaja (yang mana puasanya tidak membahayakannyal. Jika puasanya membahayakannya, maka berbuka lebih baik.

 

Artinya, bahwasanya rukhshah adalah seperti halal segala contoh yang telah disebutkan di atas dengan cara wajib, sunnat, mubah dan khilaf aula. Sedangkan hukum asalnya adalah haram.

 

Sebab haramnya adalah menjijikan pada bangkai, masuk waktu Shalat dan waktu puasa pada kasus gashar dan tidak puasa. Karena, masuk waktu adalah sebab diwajibkannya shalat dengan sempurna rakaat, dan puasa, dan gharar (potensi tertipu dan kecewa) pada jual-beli salam. Kesemua sebab ini tetap ada di saat halal.

 

Keuzoran yang menghalalkan ialah keadaan darurat, masyaggah (beratnya) perjalanan, butuh kepada uang tunai (modal dan laba) dari barang pesanan sebelum mendapatkannya.

 

Keringanan wajib pada memakan bangkai adalah karena menyesuaikannya dengan maksud diri dalam mempertahankan diri (nyawa).

 

Ada yang berkata, Sesungguhnya kewajiban ini . adalah hukum ‘azimah karena payahnya.

 

Diantara hukum rukhshah yang mubah adalah pembolehan meninggalkan jamaah pada shalat karena sakit atau semisalnya. Sedangkan hukum asalnya adalah makruh. Dan sebabnya masih tetap ada di saat mubah. Yakni, pengasingan diri pada perkara yang dituntut berjamaah padanya sebagai bentuk syiar agama islam.

 

Dan aku telah menjelaskan di dalam Al-Hasyiyah sejumlah pembagian rukhshah yang didapatkan dengan perpindahan dari satu hukum kepada hukum yang lain.

 

Maksud dari yang telah disebutkan di atas bahwasanya rukhshah itu tidak ada yang haram dan yang makruh.’ Hal tersebut – sebagaimana yang diucapkan Al-‘Iragiy- adalah tampak jelas dari hadits, “Sesungguhnya Allah menyukai “bahwa diambilkan rukhshah-Nya”.

 

Adapun yang dikatakan orang bahwa rukhshah ada juga dari yang haram dan yang makruh sekira dikatakan, Sesungguhnya istinja’ dengan emas dan perak itu cukup serta hal tersebut adalah haram, dan qashar shalat untuk perjalanan dibawah tiga marhalah itu boleh serta hal tersebut adalah makruh, sebagaimana yang diucapkan Al-Mawardiy.

 

Untuk persoalan yang pertama (istinja’ dengan emas dan perak) dijawab dengan, Bahwa sesungguhnya istinja’ dengan cara tersebut adalah boleh, menurut pendapat Shahih, artinya, pada selain alat yang dicetak atau dipersiapkan untuk istinja’. Adapun pada alat yang dicetak dan dipersiapkan untuknya maka dijawab bahwa keharamannya itu bukan khusus pada istinja’ sehingga dijadikan hukum rukhshah, bahkan pada pemakaian secara keseluruhan.

 

Dan untuk persoalan yang kedua (qashar dibawah tiga marhalah) dijawab dengan, Bahwa sesungguhnya Al-Mawardiy bermaksud bahwa makruh tersebut adalah makruh yang tidak berat, yakni dengan artian khilaf aula. Boleh juga kamu katakan: Hanyasanya rukhshah tidak disifatkan dengan haram, karena kesulitannya secara mutlak. Pemutlakan ini ternafi pada makruh, sama seperti khilaf aula. Karena keduanya adalah dua hukum ringan dibandingkan kepada haram.

PENGERTIAN 'AZIMAH

(وإلا) أي وإن لم يتغير الحكم كما ذكر بأن لم يتغير كوجوب المكتوبات أو تغير إلى صعوبة كحرمة الاصطياد بالإحرام بعد إباحته قبله، أو إلى سهولة لا لعذر كحل ترك الوضوء لصلاة ثانية مثلًا لمن لم يحدث
 
بعد حرمته بمعنى أنه خلاف الأولى، أو لعذر لا مع قيام السبب للحكم الأصلي كإباحة ترك ثبات واحد منا لعشرة من الكفار في القتال بعد حرمته، وسببها قلتنا ولم يبق حال الإباحة لكثرتنا حينئذ، وعذر الإباحة مشقة الثبات المذكور لما كثرنا. (فعزيمة) أي فالحكم غر المتغير أو المتغير إليه الصعب أو السهل المذكور آنفا يسمى عزيمة، وهي لغة القصد المصمم من عزمت على الشيء جزمت به وصممت عليه عزما وعزما وعزيما وعزيمة لأنه عزم أمره أي قطع وحتم وصعب على المكلف أو سهل، وظاهر كلام كثير انقسامها إلى الأحكام الستة، وبه صرح الشمس البرماوي، لكن الإمام الرازي خصها بغير الحرمة، والغزالي والآمدي وغيرهما بالوجوب، والقرافي بالوجوب والندب، واعترض تعريفا الرخصة والعزيمة بوجوب ترك الصلاة والصوم على الحائض، فإنه عزيمة ويصدق به تعريف الرخصة. وأجيب بمنع الصدق فإن الحيض وإن كان عذرا في الترك مانع من الفعل، ومن مانعيته نشأ وجوب الترك وتقسيم الحكم إلى الرخصة والعزيمة كما ذكر أقرب إلى اللغة من تقسيم الإمام الرازي وغيره الفعل الذي هو متعلق الحكم إليهما.

(Dan jika tidak). Artinya, dan jika tidak berubah hukum sebagaimana yang disebutkan di atas. Dalam artian, bahwa tidak berubah (sama sekali), seperti kewajiban shalat lima waktu, atau berubah kepada sulit/ berat, seperti keharaman berburu (binatang) dengan sebab ihram setelah dibolehkannya sebelum ihram, atau berubah kepada ringan yang bukan karena uzor, seperti dihalalkan tinggal wudhu’ untuk shalat kali kedua – contohnya – bagi orang yang tidak berhadats setelah diharamkannya, dengan artian bahwa meninggalkan tersebut khilaf aula, atau karena uzor yang tidak disertai tetap sebab bagi hukum asal, seperti pembolehan meninggalkan pendirian/ melarikan diri oleh satu orang dari kalangan kita bagi (menghadapi) sepuluh orang dari kalangan kafir di dalam peperangan setelah (sebelumnya) diharamkannya, dan sebab keharamannya ialah sedikit kalangan kita yang mana sebab tersebut tidak kekal di saat pembolehan karena banyaknya kalangan kita di saat itu, sedangkan uzor yang membolehkan ialah masyaqqah (berat) untuk tetap pendirian tersebut dikala banyak kalangan kita. (maka dinamakan ‘azimah). Artinya, maka hukum yang tidak mengalami perubahan, atau tujuan berubah adalah kepada yang berat, atau kepada ringan yang disebutkan barusan itu dinamakan ‘azimah.

 

‘Azimah secara bahasa adalah rencana yang kuat, (yang diambil) dari kalimat,  (Aku bercita-cita atas sesuatu), yakni aku tetapkan dengannya dan aku bertekad ke atasnya, (dengan mashdar-nya),   dan  karena sesungguhnya ia ditetapkan perkaranya, yakni, diputuskan dan ditetapkan, yakni, berat atas muukallaf atau ringan. Jelasnya kalam dari kebanyakan ulama adalah terbaginya ‘azimah kepada enam hukum. Dan Asy-Syams Al-Barmawiy telah menegaskan dengan demikian. Akan tetapi, imam Ar-Raziy mengkhususkan ‘azimah dengan selain haram. Al-Ghazaliy, Al-Amidiy dan selain keduanya mengkhususkannya dengan wajib.

 

Sedangkan Al-Oarafiy mengkhususkannya dengan wajib dan sunnat.

 

Kedua definisi rukhshah dan ‘azimah di atas dipertentangkan dengan kasus wajib meninggalkan shalat dan puasa atas perempuan yang berhaid. Karena, kewajiban ini adalah ‘azimah, namun terbenar definisi rukhshah dengannya.

 

Dan pertentangan tersebut dijawab dengan menolak terbenar tersebut. Karena, sesungguhnya haid – meskipun ia adalah keuzoran pada meninggalkan — shalat – adalah sebagai mani’ (pencegah) dari mengerjakan shalat. Dan dari pencegahannya ini muncullah kewajiban tinggal.

 

Membagikan hukum kepada rukhshah dan ‘azimah sebagaimana penjelasan di atas adalah yang lebih dekat kepada lughat, dibandingkan imam Ar-Raziy dan selainnya yang membagikan perbuatan yang merupakan muta’allaq hukum kepada rukhshah dan ‘azimah.[] 

LihatTutupKomentar