Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki

Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki Kitab Al-Muqaddimah fi Al-Ushul literatur hukum Islam, khususnya bagi Mazhab Maliki karya Ibnul Qishshar (w. 398)

Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki

Nama kitab: Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki Al-Muqaddimah fi al-Ushul
Judul kitab asal: Al-Muqaddimah fi al-Ushul li al-Qassar (المقدمة في الأصول للقصار )
Penulis: Imam Abul Hasan Ibn al-Qashshar / al-Qassar (أبو الحسن ابن القصار)
Nama lengkap: Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Umar ibn al-Qashar al-Maliki (أبو الحسن، علي بن عمر بن أحمد بن سعد الخولاني البغدادي المالكي، الشهير بـ"ابن القصار)
Tempat/Lahir: Baghdad, Irak, 
Tempat/Wafat: Baghdad, Irak, 297 atau 398 H/ 25 Juli 1007 atau 1008 M 
Penerjemah: alkhoirot.org / Al-Khoirot Research and Publication
Bidang studi: Ushul fikih, Hukum syariah

Daftar Isi 

  1. Biografi Pengarang
  2. Profil Kitab 
  3. Download Kitab
  4. Mukkadimah
  5. Bab I: Perbedaan Sisi-sisi Dalil
  6. Bab II: Kewajiban Bernalar (An-Nadzar)  
  7. Bab III: Pembatalan Taqlid (Larangan) bagi Seorang Ulama terhadap Ulama Lainnya 
  8. Bab IV: Hal-Hal yang Diperbolehkan Melakukan Taqlid 
  9. Bab V: Taqlid Orang Awam kepada Ulama
  10. Bab VI: Taqlid Orang Awam kepada Sesama Orang Awam 
  11. Bab VII: Kewajiban bagi Pemohon Fatwa (Mustafti) yang Awam
  12. Bab VIII: Hal yang Wajib Dilakukan Ijtihad dan yang Tidak Wajib
  13. Bab IX: Hal yang Boleh Taqlid dan yang Tidak Boleh 
  14. Bab X: Penggunaan Fatwa yang Diterima oleh Orang Awam
  15. Bab XI: Bertaqlid kepada Ulama yang Sudah Wafat
  16. Bab XII: Apa yang Ditemukan dalam Kitab Ulama
  17. Bab XIII: Penerjemahan Makna
  18. Bab XIV: Kewajiban Dalil-Dalil Sam'iyyah (Wahyu) 
    1. Fasal Mengenai Al-Kitab (Al-Qur'an) 
    2. Fasal Mengenai As-Sunnah
    3. Fasal Mengenai Al-Ijma' (Konsensus)
    4. Fasal Mengenai Al-Istidlal (Penalaran) dan Al-Qiyas (Analogi)
    5. Fasal Mengenai Al-Qiyas (Analogi)
  19. Bab XV: Al-Khushush (Khusus) dan Al-Umum (Umum)
  20. Bab XVI: Perintah (Al-Awamir) dan Larangan (An-Nawahi)  
  21. Bab XVII: Perbuatan Nabi ﷺ (Af’alun Nabi)
  22. Bab XVIII: Berita (Hadis) dan Penjelasan tentang Berita Mutawatir
  23. Bab XIX: Khabar Wahid (Hadis Ahad) yang Adil
  24. Bab XX: Hadis Mursal (Khabar al-Mursal)
  25. Bab XXI: Konsensus (Ijma') dan Ilmu Penduduk Madinah
  26. Bab XXII: Dalil al-Khithab (Mafhum Mukhalafah) 
  27. Bab XXIII: Sebab-Sebab yang Menjadi Latar Belakang Teks (Khithab) 
  28. Bab XXIV: Tambahan dalam Berita (Ziyadat al-Akhbar) 
  29. Bab XXV: Hal-Hal yang Mengkhususkan Umum (Mukhassis)
    1. Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an 
    2. Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan As-Sunnah
    3. Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Ijma' dan Sunnah
    4. Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Qiyas
    5. Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Pendapat Sahabat Nabi
    6. Fasal: Pengkhususan Sunnah dan Prinsip Harmonisasi Dalil
  30. Bab XXVI: Penjelasan Mengenai Berita (Hadis) yang Saling Berbeda
  31. Bab XXVII: Penjelasan Mengenai Pertemuan antara Hadis Ahad dan Qiyas
  32. Bab XXVIII: Penjelasan Bahwa Kebenaran Itu Satu dalam Pendapat Para Mujtahid
  33. Bab XXIX: Penjelasan Mengenai Penundaan Penjelasan (Tak’khirul Bayan)
  34. Bab XXX: Penjelasan Mengenai Perintah kepada Satu Orang (Apakah Berlaku untuk Semua?)
  35. Bab XXXI: Penjelasan Mengenai Lafal Umum yang Dikhususkan Sebagiannya
  36. Bab XXXII: Penjelasan Mengenai Qiyas terhadap Dalil yang Dikhususkan
  37. Bab XXXIII: Penjelasan Mengenai Pengecualian (Istitsna') Setelah Beberapa Kalimat
  38. Bab XXXIV: Penjelasan Mengenai Perintah, Apakah Harus Segera (Fawr) atau Boleh Ditunda (Tarakhi)?
  39. Bab XXXV: Penjelasan Apakah Perintah Menuntut Pengulangan (At-Tikrar) atau Tidak?
  40. Bab XXXVI: Penjelasan Mengenai Penghapusan (Nasakh) Al-Qur'an dengan Sunnah  
  41. Bab XXXVII: Apakah Penambahan atas Teks (Nash) Merupakan Nasakh atau Bukan?
  42. Bab XXXVIII : Syariat Para Nabi Sebelum Kita
  43. Bab XXXVIX : Larangan (Hazhr) dan Kebolehan (Ibahah)
  44. Bab XL: Istish-hab al-Hal
  45. Bab XLI : Ijma (Konsensus) Setelah Adanya Perselisihan
  46. Bab XLII : Konsensus di Setiap Masa (Ijma' al-A'shar)
  47. Bab XLIII : 'Illah (Sebab) dan Ma'lul (Akibat)
    1. Fasal: Ma'lul (Akibat Hukum)
  48. Bab XLIV: Apa yang Menunjukkan Validitas 'Illah/Illat
  49. Bab XLV: 'Illah yang Tidak Meluas (Qashirah)
  50. Bab XLVI: Pengkhususan Sebab (Takhshish al-'Illah)
  51. Bab XLVII: Pendapat Adanya Dua 'Illah dalam Satu Hukum
  52. Bab XLVIII: Dua 'Illah yang Salah Satunya Memiliki Lebih Banyak Cabang Hukum
  53. Bab XLIX: Kebolehan Menjadikan Nama (Ism) Sebagai 'Illah
  54. Bab L: Pengambilan Nama Secara Analogi (Qiyas)
  55. Bab LI: Hukum Pidana (Al-Hudud) 
  56. Kembali ke: Terjemah Ushul Fiqih

    BIOGRAFI PENGARANG

    Ibnul Qishshar / al-Qashshar / Al-Qassar (wafat 397 H / 1007 M) adalah salah satu tokoh raksasa dalam mazhab Maliki, khususnya di wilayah Irak (Baghdad). Beliau dikenal sebagai ahli ushul, ahli fikih, sekaligus hakim (qadhi).

    1. Identitas dan Latar Belakang

    • Nama Lengkap: Abuul Hasan Ali bin Khalaf bin Battal (namun lebih masyhur dengan julukan Ibnul Qashshar).
    • Asal: Beliau tinggal dan besar di Baghdad, Irak. Pada masa itu, Baghdad merupakan pusat intelektual dunia Islam di mana berbagai mazhab bertemu.

    2. Kedudukan Ilmiah

    Ibnul Qishshar dianggap sebagai salah satu ulama yang paling berjasa dalam merumuskan dan membela metodologi hukum (Ushul Fiqh) mazhab Maliki. Beberapa poin penting tentang keilmuannya:

    • Mujtahid dalam Mazhab: Beliau memiliki kemampuan melakukan analogi (qiyas) dan penggalian hukum yang sangat tajam.
    • Ahli Jidal (Debat): Beliau dikenal sangat piawai dalam berdiskusi dan mematahkan argumen lawan dari mazhab lain dengan cara yang ilmiah dan santun.
    • Murid dari Tokoh Besar: Beliau menimba ilmu dari ulama-ulama besar, di antaranya Abubakar al-Abhari (ulama yang membangkitkan kembali mazhab Maliki di Irak).

    3. Karya Monumental

    Karyanya yang paling terkenal dan masih menjadi rujukan hingga saat ini adalah:

    •   المقدمة في أصول الفقه (Al-Muqaddimah fi Ushul al-Fiqh): Kitab ini dianggap sebagai salah satu literatur paling awal dalam ushul fiqh mazhab Maliki yang sampai kepada kita. Kitab ini menjelaskan bagaimana metodologi Imam Malik dalam mengambil hukum.
    •   عيون الأدلة (Uyun al-Adillah): Kitab besar mengenai fikih perbandingan (khilafiyah). Di sini beliau membela pendapat-pendapat mazhab Maliki dengan argumen hadis dan logika yang kuat.

    4. Karir dan Kepribadian

    Ibnul Qishshar menjabat sebagai Qadhi (hakim). Para sejarawan mencatat beliau sebagai sosok yang:

     Zuhud: Meskipun menjabat posisi penting, beliau sangat menjaga diri dari kemewahan duniawi.
     Wara': Sangat berhati-hati dalam memutuskan perkara hukum agar tidak menyimpang dari syariat.

     5. Kesan Para Ulama

    Al-Qadhi 'Iyadh memujinya sebagai: "Seorang pakar yang cerdas, pemberani dalam kebenaran, dan yang paling mengerti tentang metodologi Imam Malik di masanya."
    Al-Khatib al-Baghdadi mencatat beliau sebagai: "Orang yang tsiqah (terpercaya) dalam meriwayatkan hadis dan lurus jalannya."

    Ibnul Qishshar meninggal dunia di Baghdad pada tahun 397 Hijriah. Meskipun beliau berasal dari Irak (di mana mazhab Hanafi sangat dominan saat itu), dedikasinya membuat mazhab Maliki tetap eksis dan memiliki landasan ushul yang kokoh di wilayah timur.

    PROFIL KITAB  AL-MUQADDIMAH FI AL-USHUL

    Kitab Al-Muqaddimah fi Al-Ushul karya Ibnul Qishshar (wafat 397 H) merupakan salah satu permata tersembunyi dalam literatur hukum Islam, khususnya bagi Mazhab Maliki. Kitab ini dianggap sebagai salah satu literatur Ushul Fiqh tertua dalam mazhab tersebut yang masih tersisa dan sampai kepada kita saat ini.

    1. Identitas Kitab

     Judul Lengkap: Al-Muqaddimah fi Al-Ushul (Pendahuluan dalam Ushul Fiqh).
     Penulis: Abu al-Hasan Ali bin Khalaf bin Battal, yang lebih dikenal sebagai Ibnul Qishshar.
     Mazhab: Maliki (Aliran Baghdad/Irak).

    2. Latar Belakang Penulisan

    Kitab ini sebenarnya merupakan bagian pembuka (mukadimah) dari karya besar beliau yang berjudul "Uyun al-Adillah" (sebuah kitab fikih perbandingan/khilafiyah). Ibnul Qishshar merasa perlu menuliskan kaidah-kaidah ushul (metodologi pengambilan hukum) di awal bukunya agar pembaca memahami mengapa Imam Malik memilih suatu hukum tertentu dibandingkan imam lainnya.

    3. Karakteristik dan Metodologi

    Kitab ini memiliki beberapa keunikan yang membuatnya sangat dihargai oleh para peneliti:

    • Pembelaan terhadap Mazhab Maliki: Kitab ini ditulis di Baghdad, pusat intelektual yang didominasi oleh Mazhab Hanafi dan Syafi'i. Ibnul Qishshar menyusun kitab ini untuk membuktikan bahwa Mazhab Maliki memiliki landasan dalil yang sangat kuat dan sistematis.
    • Gaya Bahasa Dialektika (Jadal): Karena penulisnya adalah seorang pakar debat, gaya bahasanya sangat argumentatif. Beliau sering menyebutkan, "Jika mereka (lawan bicara) berkata demikian, maka kita jawab demikian."
    • Fokus pada Dalil Naqli dan Aqli: Beliau menyeimbangkan antara penggunaan Hadis, Ijmak, dan metode analogi (Qiyas) serta kemaslahatan (Maslahah).

     4. Struktur Isi Kitab

    Secara garis besar, kitab ini membahas pilar-pilar utama Ushul Fiqh, antara lain:

    1. Pembahasan Bahasa: Hakikat perintah (amr), larangan (nahyu), umum ('amm), dan khusus (khash).
    2. Sumber Hukum: Al-Qur'an, Sunnah (termasuk status Hadis Ahad), dan Ijmak.
    3. Metode Ijtihad: Analogi (Qiyas), alasan hukum ('illah), dan pembatalan hukum (naskh).
    4. Fatwa dan Ijtihad: Syarat-syarat menjadi mujtahid dan etika memberikan fatwa.

     5. Kedudukan Penting dalam Sejarah

     Mata Rantai yang Hilang: Sebelum kitab ini ditemukan kembali dan ditahqiq (diedit secara ilmiah), banyak orang mengira metodologi awal Mazhab Maliki tidak terdokumentasi dengan baik. Kitab ini menjadi bukti kemajuan berpikir ulama Maliki pada abad ke-4 Hijriah.
     Rujukan Ulama Sesudahnya: Kitab ini menjadi fondasi bagi ulama Maliki setelahnya, seperti Al-Baji (dalam Al-Ihkam) dan Ibnu Rusyd, dalam membangun kerangka berpikir mazhab.

     6. Status Saat Ini

    Kitab ini telah dicetak dan diedit secara ilmiah (tahqiq), salah satunya oleh Dr. Muhammad Sulaimani. Penemuan kembali naskah ini memberikan kontribusi besar bagi studi sejarah perkembangan hukum Islam di dunia akademik modern.

    Ringkasnya: Jika Anda ingin mempelajari bagaimana ulama awal Mazhab Maliki berargumen menggunakan logika dan dalil secara bersamaan, kitab Al-Muqaddimah ini adalah pintu masuk yang paling tepat.[]

    DOWNLOAD KITAB


    LihatTutupKomentar