Tingkat Pemahaman Al-Qur'an Para Sahabat Nabi
Nama kitab/buku: Terjemah Ilm al-Tafsir Kaifa Nasya'a wa Tatawwara hatta Intaha ila Ashrina al-Hadir / Ilmu Tafsir Bagaimana ia bermula (sejarah kemunculannya) dan perkembangannya hingga sampai ke zaman kita sekarang.)
Judul kitab asal: Ilm al-Tafsir Kaifa Nasya'a wa Tatawwara hatta Intaha ila Ashrina al-Hadir (علم التفسير كيف نشأ وتطور حتى انتهى إلى عصرنا الحاضر )
Nama penulis: Prof. Dr. Abdel Moneim Al-Nimr / Abd al-Mun'im al-Nimr / Abdul Mun'in An-Nimr (عبد المنعم النمر)
Penerjemah: alkhoirot.org | Al-Khoirot Research and Publication, Malang
Lahir: Mesir, 1913 M
Wafat: Mesir, 1991 M
Bidang studi: Ulum Al-Quran, Ilmu Tafsir
Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyyah – Kairo Cetakan: Pertama, 1405 H – 1985 M Jumlah Halaman: 168 Halaman Catatan: [Penomoran halaman dalam versi digital ini sesuai dengan versi cetak]
Daftar Isi
- Dalam Batas Kebudayaan Sahabat, Mereka Memahami Al-Qur'an
- Tingkat Intelektual/Budaya
- "Aku Diutus kepada Umat yang Buta Huruf"
- Kekosongan yang Diisi dengan Israiliyat
- Ayat-Ayat Kauniyah (Fenomena Alam)
- Pertanyaan tentang Hilal (Bulan Sabit)
- Hasil dan Kesimpulan
- Kembali ke: Sejarah Ilmu Tafsir
فى حدود ثقافة الصحابة فهموا القرآن
«نحن أمة أمية لا نحسب ولا نكتب» (حديث)
المستوى الثقافى
ومن الضرورى أيضا أن نلاحظ المستوى الثقافى الذى كان عليه الصحابة
وتلقوا به القرآن الكريم أو فهموه على ضوئه.
وهو عامل مهم .. لأنه على
قدر وعى الانسان وثقافته، يكون فهمه لما يقرأ، أو يسمع، أو يكون حسن استقباله
له،. ووضوحه عنده، كأجهزة الاستقبال. فعلى قدر سلامتها وقوّتها، يكون وضوح ما
تتلقاه، أو تستقبله ..
ونحن ندرك من واقعنا أن الخطبة تلقى على
المستمعين، فيأخذ كل منها على قدر ثقافته ووعيه، وأن الكتاب يقرأ، فلا يكون
الجميع متساوين فى فهمه واستيعابه. بل على قدر ثقافة السامع أو القارئ يكون
الفهم، ويكون الاستيعاب.
هذه حقيقة أولى لا جدال فيها ..
الحقيقة
الثانية: أن القرآن عربى وفى أعلى درجات البلاغة. وهو بلغة القوم الذين نزل فيهم
أولا .. وخاطبهم وتحداهم .. فمن الطبيعى أن يفهموه (وَما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ
إِلَّا بِلِسانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ) [1]
ولقد فهموه،
وأدركوا بلاغته، وعرفوا منها مصدره (فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ
صَدَّ عَنْهُ) ، آمن به من استجاب لفطرته، وصد عنه من قامت الحوائل عنده دون
الاستجابة لهذه الفطرة، ولكنه كان فهما قائما على ما أتقنوه من فنون المعرفة وكان
أولها وأهمها: الناحية البلاغية اللفظية.
(1) سورة إبراهيم/ 4.
الحقيقة
الثالثة: أن أهم ما جاء القرآن من أجله هو العقائد والأحكام، وما يتصل بها من
مكارم الأخلاق، ومن أجل توضيح العقائد وتدعيمها، والتدليل عليها، وتثبيت الداعين
إليها، جاءت الآيات التى تتحدث عن دلائل قدرة الله فى خلقه، والآيات التى تسرد
قصص السابقين ...
أما الآيات التى تتحدث عن العقائد، كالإيمان بالله
وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر فهى آيات واضحة، يفهم مضمونها كل عربى، دون
كبير عناء وبمجرد أن يسمعها أو يقرأها، حتى بعد أن ضعفت السليقة العربية فيهم،
وذلك فى حدود قدرته وتصوره، وأما آيات الأحكام والأخلاق، فهى فى جملتها كذلك
واضحة محددة، وتكفل الرسول أيضا بزيادة بيانها وتوضيحها قولا وعملا ...
ومثل
ذلك فى العقائد:
(إِلهُكُمْ إِلهٌ واحِدٌ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ
الرَّحْمنُ الرَّحِيمُ) (وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً)
(إِنَّ اللَّهَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ) (اللَّهُ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ
الْحَيُّ الْقَيُّومُ) (آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ) (الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ
بِالْغَيْبِ) .. (وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِما أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَما أُنْزِلَ
مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ) (آمَنَ الرَّسُولُ بِما أُنْزِلَ
إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ
وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ) .. إلى غير ذلك
من الآيات التى يدرك العقل ما ترمى إليه.
ومثل ذلك فى الأحكام:
«وأحل
الله البيع وحرم الربا» و «إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه»، «يوصيكم الله
فى أولادكم للذكر مثل حظ الانثيين. إلى آخر الآيتين .. إلى غير ذلك من الآيات
..
ومثل ذلك فى الأخلاق:
«وبالوالدين احسانا وبذى القربى
واليتامى والمساكين والجار ذى القربى» الآية. «ادفع التى هى أحسن».
فكانت
هذه الآيات على قدر من الوضوح يكفى لالزام المخاطبين بمضمونها،
وبما
دعت إليه من عقائد وأحكام، فإن كانت فى حاجة إلى زيادة تفاصيل تكفّل الرسول صلى
الله عليه وسلم بها ..
وبقى بعد ذلك الآيات التى تتحدث عن المظاهر
الكونية، والآيات التى تتحدث عن قصص السابقين ..
وينضم إليها كذلك
الآيات التى تتحدث عن بعض صفات الله تفصيلا، كالاستواء والوجه واليدين، والمشيئة
والارادة .. الخ .. ويلحق بها الآيات التى جاءت غير واضحة وغير محددة .. مثل روح
الله وكلمته. ومثل الم ...
والر .. الخ
هذا النوع من
الآيات هو فى الحقيقة موضوع الحديث الذى عنينا بتوضيحه فى هذه البحوث ...
وهو
الذى تساءلنا عن مدى فهم الصحابة له، أو استيعابهم فهمه، وتحدثنا عن عوامل أثرت
فى فهم الصحابة له وبقى آخر هذه العوامل .. وهو القدر الثقافى الذى استقبلوا هذه
الآيات به ..
Dalam batas-batas budaya (tingkat pengetahuan dan wawasan) para sahabat, mereka memahami Al-Qur'an
«Kami adalah umat yang ummi, kami tidak menghitung dan tidak menulis»
(hadits)
Tingkat kebudayaan
Dan hal yang juga sangat penting untuk diperhatikan adalah tingkat
kebudayaan yang dimiliki para sahabat ketika mereka menerima Al-Qur'an
Al-Karim atau memahaminya sesuai dengan kadar itu.
Ini adalah
faktor yang sangat penting… karena sejauh mana kesadaran dan kebudayaan
seseorang, sejauh itu pula pemahamannya terhadap apa yang dibaca atau
didengarnya, sejauh itu pula kemampuannya menerimanya dengan baik, kejelasan
baginya, sebagaimana perangkat penerima sinyal. Semakin baik dan kuat
perangkat itu, semakin jelas apa yang diterimanya atau ditangkapnya…
Kita
menyadari dari realitas kita bahwa ketika sebuah khutbah disampaikan kepada
para pendengar, masing-masing mengambilnya sesuai dengan tingkat kebudayaan
dan kesadaran mereka. Begitu pula sebuah buku dibaca, tidak semua orang setara
dalam memahami dan mencerna isinya. Melainkan pemahaman dan penyerapan itu
sesuai dengan tingkat kebudayaan pendengar atau pembaca.
Ini adalah
kebenaran pertama yang tidak bisa diperdebatkan…
Kebenaran kedua:
Al-Qur'an berbahasa Arab dan berada pada tingkat tertinggi balaghah (seni
bahasa dan kefasihan). Ia menggunakan bahasa kaum yang pertama kali diturunkan
kepadanya… Ia berbicara kepada mereka dan menantang mereka… Maka wajar jika
mereka memahaminya («Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan
dengan bahasa kaumnya agar ia menjelaskan kepada mereka») [1]
Mereka
memang memahaminya, merasakan keindahan balaghahnya, dan mengetahui dari situ
sumbernya («Maka di antara mereka ada yang beriman kepadanya dan di antara
mereka ada yang berpaling darinya»). Orang yang beriman adalah yang merespons
fitrahnya, sedangkan yang berpaling adalah yang terhalang oleh berbagai
penghalang untuk merespons fitrah itu. Namun pemahaman mereka tetap didasarkan
pada apa yang mereka kuasai dari berbagai cabang pengetahuan, dan yang paling
utama serta penting adalah aspek balaghah lafazh (seni bahasa kata per
kata).
(1) QS. Ibrahim: 4.
Kebenaran ketiga: Hal
terpenting yang dibawa Al-Qur'an adalah aqidah dan hukum-hukum, serta akhlak
mulia yang berkaitan dengannya. Untuk menjelaskan aqidah, memperkuatnya,
memberikan dalil atasnya, serta meneguhkan para pendakwahnya, maka turunlah
ayat-ayat yang berbicara tentang tanda-tanda kekuasaan Allah dalam
ciptaan-Nya, serta ayat-ayat yang menceritakan kisah-kisah umat terdahulu…
Adapun
ayat-ayat yang berbicara tentang aqidah—seperti iman kepada Allah,
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir—maka ayat-ayat
itu jelas. Setiap orang Arab memahami isinya tanpa kesulitan besar, cukup
dengan mendengar atau membacanya, bahkan setelah melemahnya naluri bahasa Arab
di kalangan mereka. Pemahaman itu sesuai dengan kemampuan dan bayangan mereka.
Sedangkan ayat-ayat hukum dan akhlak, secara umum juga jelas dan tegas, dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bertanggung jawab menambah
penjelasan dan keterangan dengannya melalui ucapan dan perbuatan…
Contoh
dalam aqidah:
«Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada
Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang»
«Dan
sembahlah Allah serta janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
pun»
«Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala
sesuatu»
«Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup
lagi Maha Mengurus»
«Berimanlah kepada Allah dan
Rasul-Nya»
«Orang-orang yang beriman kepada yang
gaib»
«Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang
diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu, serta mereka yakin
akan adanya akhirat»
«Rasul telah beriman kepada apa yang
diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Semuanya
beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan
rasul-rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara
rasul-rasul-Nya»… dan seterusnya dari ayat-ayat yang akal langsung memahami
tujuannya.
Contoh dalam hukum-hukum:
«Dan Allah
menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba»
«Apabila
kalian berhutang-piutang dengan hutang hingga waktu tertentu, maka
tulislah»
«Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak
kalian: bagi laki-laki mendapat bagian seperti bagian dua perempuan…» hingga
akhir dua ayat tersebut… dan seterusnya dari ayat-ayat…
Contoh
dalam akhlak:
«Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat,
anak yatim, orang miskin, dan tetangga yang dekat…» ayat
tersebut.
«Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih
baik».
Maka ayat-ayat ini memiliki tingkat kejelasan yang cukup
untuk mewajibkan orang yang diajak bicara dengan isinya, serta dengan aqidah
dan hukum yang ditunjukkannya. Jika membutuhkan penjelasan lebih rinci, maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanggung jawab atasnya…
Kemudian
tersisa ayat-ayat yang berbicara tentang fenomena alam semesta, ayat-ayat yang
menceritakan kisah-kisah umat terdahulu…
Dan juga termasuk
ayat-ayat yang berbicara secara rinci tentang sebagian sifat Allah, seperti
istiwa, wajah, dua tangan, kehendak, dan iradah… dst. Serta ayat-ayat yang
datang tidak jelas dan tidak tegas… seperti ruh Allah dan kalimat-Nya. Serta
seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra… dst.
Jenis ayat inilah
sebenarnya yang menjadi topik pembicaraan yang kami maksud untuk dijelaskan
dalam penelitian-penelitian ini…
Yaitu ayat-ayat yang kami tanyakan
sejauh mana pemahaman para sahabat terhadapnya, atau penyerapan mereka dalam
memahaminya. Kami telah membahas faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman para
sahabat terhadapnya, dan tersisa faktor terakhir dari faktor-faktor ini… yaitu
tingkat kebudayaan yang mereka miliki ketika menerima ayat-ayat tersebut…
بعثت إلى أمّة أمّيّة:
وهذا يستدعى منا أن نعرف ما كان عليه العرب من ثقافة علمية
وتاريخية، استقبلوا بها الآيات الكونية والقصصية وبعض الآيات الأخرى المتشابهة
..
لقد جاء القرآن الكريم يصف العرب بأنهم أميون، ووصف الرسول بأنه
أمى.
فيقول الله تعالى فى أول سورة الجمعة [1]
هُوَ
الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ
آياتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كانُوا
مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ 2
(1) سورة الجمعة الآية
الثانية.
ويقول فى سورة الأعراف
فَآمِنُوا بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِماتِهِ
[1]
ويقول تعالى فى سورة العنكبوت: وَما كُنْتَ تَتْلُوا مِنْ
قَبْلِهِ مِنْ كِتابٍ وَلا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذاً لَارْتابَ الْمُبْطِلُونَ
48 [2]
ويقول عليه الصلاة والسلام: (نحن أمة أمية لا نحسب ولا نكتب.
الشهر هكذا وهكذا) [3] وأشار بأصابعه، يعنى مرة تسعة وعشرين ومرة ثلاثين.
ويقول
عليه الصلاة والسلام مخاطبا جبريل: (إنى بعثت إلى أمة أميين) [4] أو (إنى بعث إلى
أمة أمية)
ولعل أصح تفسير لمعنى كلمة أمية وأميين هو ما فسرها به
الرسول صلى الله عليه وسلم وعناها حين قال لا نحسب ولا نكتب .. وهو ما وضحه
الإمام الشاطى [5] حين قال: والأمى منسوب إلى الأم، وهو الباقى على أصل ولادة
الأم لم يتعلم كتابا ولا غيره، فهو على أصل خلقته التى ولد عليها.
وليس
معنى هذا جهلهم التام بأمور الحياة، وبما يكتسب منها بالتجارب والعقل، بل معناه
أنه لم يتعلم بطريق الكتابة والقراءة شيئا، وهو الذى فسرته الآية الأخرى عن وصف
الرسول بالأمى «وما كنت تتلو من قبله من كتاب ولا تخطه بيمينك إذا لارتاب
المبطلون» ومن أجل هذا جاء وصف الرسول فى القرآن من حاله، ودفعا لأى شك فى صحة
رسالته ونزول القرآن من ربه.
(1) سورة الأعراف آية 158.
(2)
سورة سورة العنكبوت آية 48.
(3) كما جاء فى صحيح البخارى فى كتاب
الصوم عن ابن عمر رضى الله عنه.
(4) كما جاء فى الترمذى فى أنزل
القرآن على سبعة أحرف.
(5) ص 69 ج من الموافقات.
فالعرب
الذين نزل عليهم لم تكن الكتابة والقراءة منتشرة عندهم انتشارها عند الأمم
المتحضرة حولهم، وبالتالى لم يتمكنوا من دراسة العلوم التى كانت معروفة عند غيرهم
من الفرس أو الروم فى ذلك الوقت، فكان كل ما يتناقلونه بينهم من الطب والفلك
وغيرهما، لا يمكن تسميته علوما إلا تجاوزا، لأنه كان مكتسبا عن طريق تجاربهم
وملاحظاتهم الخاصة. المنبعثة من البيئة وحاجاتها وظروفها. مما يعينهم على حياتهم
البدوية، من الاستدلال بالنجوم على معرفة الجهات، وعلى تعيين الوقت، كما قال الله
«وعلامات وبالنجم هم يهتدون» وما كانوا يداوون به مرضاهم بطريق التجربة، والتناقل
فيما بينهم، مما يمكن أن تجد له شبيها الآن فى البيئات البعيدة، المنعزلة عن
المدينة، المحرومة مما وصل إليه العلم من تقدم ..
على أن هذه المعرفة
المحدودة لم تكن عامة شائعة لدى العرب جميعا، بل كانت قاصرة على بعضهم أو خاصتهم،
ممن كانت الحاجة تدعوهم إلى معرفتها، ولعل هذا الوصف (الأمية) قد غلب على العرب،
حتى لم ير الرسول بدا من الاحتجاج به عند ربه، وهو يخاطب جبريل كما فى الحديث
السابق، كما صرح به أيضا، وهو بصدد معرفة أيام الشهر .. ولهذا جرى على لسان
اليهود حين قالوا: (لَيْسَ عَلَيْنا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ) يقصدون فى
كلامهم هذا .. العرب، وإن كان هذا مبدأ عاما عندهم فى معاملة غير اليهود، لا يرون
بأسا فى نهب أموالهم .. لكن الآية تحكى حال اليهود الذين يعاملون العرب، ويطلقون
عليهم هذا الوصف (الأميين) ..
وكذلك كان لهم بالنسبة لتاريخ الأمم
قبلهم مما قصه القرآن، فلم يكن لهم به معرفة سابقة، وذلك هو ما تخبر به هذه الآية
الكريمة بعد أن سبقها ذكر قصة نوح (تِلْكَ مِنْ أَنْباءِ الْغَيْبِ نُوحِيها
إِلَيْكَ ما كُنْتَ تَعْلَمُها أَنْتَ وَلا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هذا فَاصْبِرْ
إِنَّ الْعاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ) [1]، وفى قصة مريم وزكريا: (ذلِكَ مِنْ
أَنْباءِ
(1) آية 49 من سورة هود.
الْغَيْبِ نُوحِيهِ
إِلَيْكَ وَما كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلامَهُمْ، أَيُّهُمْ
يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَما كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ) [1].
حتى
ليمكننا أن نقول إنه لما كان عدم معرفة الرسول بالكتابة والقراءة ارتكازا لحجة من
حجج رسالته، ونزول القرآن عليه من عند الله، كان عدم معرفة قومه بالعلوم
وبالتاريخ ارتكازا آخر لحجة من حجج رسالته، وكون القرآن منزلا عليه من الله، إذ
لم يكن من قومه من يعرف ذلك حتى يقال إنه تعلمه منهم.
فحين أراد
أعداؤه المشركون الطعن فيه، وفى صحة نزول القرآن عليه، قالوا: إن ما يقصّه من
أخبار الماضين إنما هو من تعليم هذا الرومى المثقف المهاجر إلى مكة، المقيم فيها،
فنزل القرآن يرد عليهم: (وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّما
يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ، لِسانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ، وَهذا
لِسانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ) [2].
ولو كان لدى العرب عامة علم بهذه
الوقائع، أو لو كان لدى خاصتهم علم بها، لما لجأوا إلى اتهام الرسول بالتعلم من
هذا الرومى، أو لكروا بعد رد الله عليهم هذا الرد، بأنه يتعلم من فلان العربى
صاحب اللسان العربى. ولكنهم لم يجدوا عربيا عالما أمامهم بهذه القصص، حتى يسندوا
إليه تهمة تعلم الرسول منه ...
وهكذا كانت أمية الرسول وأمية قومه
وعدم المامهم بالعلوم من ممهدات الرسالة، أو من ركائز صدقها، ودلائل صحتها ..
ولعل
فى هذا الكفاية فى الدلالة على خلو البيئة العربية التى نزل فيها القرآن، من
العلم بتاريخ الأمم والرسل السابقين، وكانت أرقى بيئة عربية فى الجزيرة فى ذلك
الوقت.
فكل ما ساقه الله سبحانه- اذن- من قصص الأمم السابقة، عن رسلها
والصالحين من عباده، إنما كانت قصصا بكرا لم يعرفها العرب من قبل. بل استمدوا
معرفتها من القرآن وحده ..
(1) آية 44 من سورة آل عمران.
(2)
آية 103 من سورة النحل.
هذه نتيجة أحب أن يتذكرها القارئ لأن لها
أهميتها عند ما يقرأ ما جاء فى تفسير قصص القرآن، من أخبار زائدة من منطوق القرآن
.. من أين جاءت وعمن رويت، لأنهم ما داموا قد علموا هذه القصص من القرآن. وفى
ثناياها أخبار طويت، لعدم الحاجة إليها فى ابراز العبرة من القصة، فمن أين جاء
العلم بها؟ هل سأل الصحابة عنها رسول الله وأجابهم؟ أو سكتوا، واكتفوا، بالعبرة
الظاهرة من القصة، دون أن يتابعوا تفاصيلها الخفية التى تركها القرآن؟ تلك
التفاصيل التى رأيناها تثار فيما بعد، ويسأل عنها، لأن النفس البشرية فيها غريزة
حب الاستطلاع، وهى تجرى وراء هذه الغريزة، متى كان الجو صالحا ومساعدا. كما رأينا
ذلك بعد عصر الفتوح والاتجاه إلى الاستقرار والبحث، ولا سيما بعد دخول غير العرب
فى الاسلام وخاصة من اليهود والنصارى.
لم نجد الصحابة يتابعون هذه
الأخبار التى طويت، أو هذه الفجوات التى تركت فى القصة بسؤال الرسول عنها، ولم
نجد فيما روى صحيحا عن الرسول، ما يشبع حب الاستطلاع الطبيعى لدى النفوس ...
Diutus kepada umat yang ummi:
Hal ini mengharuskan kita untuk
mengetahui seperti apa tingkat kebudayaan ilmiah dan sejarah orang Arab ketika
menerima ayat-ayat kosa dan kisah-kisah tersebut, serta sebagian ayat
mutasyabihat lainnya…
Al-Qur'an Al-Karim menyebut orang Arab
sebagai ummi, dan menyebut Rasulullah sebagai ummi.
Allah Ta’ala
berfirman di awal surah Al-Jumu’ah [1]:
«Dialah yang mengutus di
kalangan orang-orang ummi seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan
kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam
kesesatan yang nyata.» (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Dan berfirman dalam
surah Al-A’raf:
«Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi
yang ummi, yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya…» (QS. Al-A’raf:
158) [1]
Dan berfirman dalam surah Al-‘Ankabut:
«Dan
engkau tidak pernah membaca kitab sebelumnya dan engkau tidak pernah
menulisnya dengan tangan kananmu. Jika demikian, tentulah orang-orang yang
mengada-adakan kebatilan akan ragu.» (QS. Al-‘Ankabut: 48) [2]
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: «Kami adalah umat yang ummi, kami
tidak menghitung dan tidak menulis. Bulan itu seperti ini dan seperti ini» [3]
sambil menunjuk dengan jarinya, artinya kadang dua puluh sembilan hari dan
kadang tiga puluh hari.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
bersabda kepada Jibril: «Sesungguhnya aku diutus kepada umat yang ummi» [4]
atau «Sesungguhnya aku diutus kepada umat yang ummi».
Mungkin
penafsiran paling benar tentang makna kata “ummi” dan “ummiyyin” adalah apa
yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ketika beliau
mengatakan «kami tidak menghitung dan tidak menulis»… yaitu sebagaimana
dijelaskan Imam Asy-Syathibi [5] ketika berkata: “Al-ummi dinisbahkan kepada
ummi (ibu), yaitu orang yang tetap pada asal kelahirannya dari ibu, belum
belajar membaca atau menulis apa pun, sehingga ia tetap pada fitrah
penciptaannya saat dilahirkan.”
Makna ini tidak berarti mereka sama
sekali tidak tahu tentang urusan kehidupan dan apa yang diperoleh darinya
melalui pengalaman dan akal. Melainkan maknanya adalah mereka tidak belajar
apa pun melalui cara membaca dan menulis. Itulah yang dijelaskan ayat lain
tentang sifat Rasulullah sebagai ummi: «Dan engkau tidak pernah membaca kitab
sebelumnya dan engkau tidak pernah menulisnya dengan tangan kananmu. Jika
demikian, tentulah orang-orang yang mengada-adakan kebatilan akan ragu.» Dan
karena itulah sifat Rasulullah disebutkan dalam Al-Qur'an sesuai keadaannya,
serta untuk menolak segala keraguan tentang kebenaran risalahnya dan turunnya
Al-Qur'an dari Tuhannya.
(1) QS. Al-A’raf: 158.
(2)
QS. Al-‘Ankabut: 48.
(3) Sebagaimana terdapat dalam Shahih
Bukhari dalam kitab puasa dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu.
(4)
Sebagaimana terdapat dalam Sunan Tirmidzi dalam bab “Al-Qur'an diturunkan
dengan tujuh huruf”.
(5) Hal. 69 jilid dari Al-Muwafaqat.
Orang
Arab yang Al-Qur'an diturunkan kepada mereka tidak memiliki penyebaran membaca
dan menulis seperti yang ada pada bangsa-bangsa berperadaban di sekitar
mereka. Akibatnya, mereka tidak mampu mempelajari ilmu-ilmu yang dikenal oleh
bangsa lain seperti Persia atau Romawi pada masa itu. Segala yang mereka
wariskan di antara mereka dari ilmu kedokteran, astronomi, dan lainnya tidak
bisa disebut ilmu kecuali secara berlebihan, karena itu hanya diperoleh
melalui pengalaman dan pengamatan khusus mereka sendiri yang muncul dari
lingkungan, kebutuhan, dan kondisi mereka. Hal itu membantu kehidupan Badui
mereka, seperti menentukan arah dengan bintang-bintang dan menentukan waktu,
sebagaimana firman Allah: «Dan tanda-tanda serta dengan bintang-bintang mereka
mendapat petunjuk». Dan apa yang mereka gunakan untuk mengobati orang sakit
melalui percobaan dan penurunan dari satu ke yang lain, yang sekarang bisa
ditemukan serupa di lingkungan pedesaan yang terpencil dari kota, yang tidak
mendapat bagian dari kemajuan ilmu…
Meskipun pengetahuan terbatas
ini tidak umum tersebar di kalangan seluruh orang Arab, melainkan terbatas
pada sebagian mereka atau kalangan khusus yang kebutuhan mendorong mereka
untuk mengetahuinya. Mungkin deskripsi “ummi” ini begitu dominan pada orang
Arab hingga Rasulullah tidak ragu untuk berhujjah dengannya kepada Tuhannya
ketika berbicara dengan Jibril sebagaimana dalam hadits sebelumnya. Beliau
juga secara tegas mengatakannya ketika menjelaskan hari-hari dalam sebulan…
Karena itulah orang Yahudi mengatakannya: «Tidak ada jalan bagi kami terhadap
orang-orang ummi»—yang mereka maksud adalah orang Arab. Meskipun ini adalah
prinsip umum mereka dalam memperlakukan non-Yahudi, mereka tidak melihat
masalah dalam merampas harta mereka… Namun ayat itu menceritakan keadaan orang
Yahudi yang memperlakukan orang Arab dan memberi mereka label “ummiyyin”…
Demikian
pula pengetahuan mereka tentang sejarah umat-umat sebelumnya yang diceritakan
Al-Qur'an. Mereka tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang itu. Itulah
yang diberitakan ayat mulia ini setelah sebelumnya menyebut kisah Nuh: «Itu
adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu. Tidaklah
engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah.
Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.» (QS.
Hud: 49) [1], dan dalam kisah Maryam dan Zakaria: «Itu adalah sebagian dari
berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu. Dan engkau tidak berada
bersama mereka ketika mereka melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di
antara mereka yang akan memelihara Maryam, dan engkau tidak berada bersama
mereka ketika mereka berselisih.» (QS. Ali Imran: 44) [1].
Sehingga
kita bisa mengatakan bahwa sebagaimana ketidaktahuan Rasulullah tentang
membaca dan menulis menjadi salah satu hujjah dari hujjah-hujjah risalahnya
dan turunnya Al-Qur'an dari sisi Tuhannya, demikian pula ketidaktahuan kaumnya
tentang ilmu dan sejarah menjadi hujjah lain dari hujjah-hujjah risalahnya
serta kebenaran Al-Qur'an diturunkan kepadanya dari Allah. Karena tidak ada
seorang pun dari kaumnya yang mengetahui hal itu sehingga dikatakan bahwa
beliau belajar darinya.
Ketika musuh-musuhnya dari kalangan
musyrikin ingin mencela beliau dan kebenaran turunnya Al-Qur'an kepadanya,
mereka berkata bahwa apa yang beliau ceritakan tentang berita-berita masa lalu
hanyalah dari pengajaran orang Romawi yang terpelajar yang hijrah ke Mekkah
dan tinggal di sana. Maka turunlah Al-Qur'an membantah mereka: «Dan sungguh
Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya ia diajari oleh seorang
manusia.” Bahasa orang yang mereka tuduhkan kepadanya itu bahasa asing,
sedangkan ini adalah bahasa Arab yang jelas.» (QS. An-Nahl: 103) [2].
Seandainya
orang Arab secara umum memiliki pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa itu,
atau seandainya kalangan khusus mereka mengetahuinya, niscaya mereka tidak
akan menuduh Rasulullah belajar dari orang Romawi itu, atau setelah Allah
membantah mereka dengan bantahan itu, mereka akan berkata bahwa beliau belajar
dari si fulan orang Arab yang berbahasa Arab. Namun mereka tidak menemukan
orang Arab yang mengetahui kisah-kisah itu di hadapan mereka sehingga mereka
bisa menisbatkan tuduhan belajar kepada beliau darinya…
Demikianlah
ketidaktahuan (ummi) Rasulullah dan ummi-nya kaumnya serta ketidakmampuan
mereka menguasai ilmu menjadi salah satu pendorong risalah, atau salah satu
pilar kebenarannya serta dalil-dalil sahihnya…
Mungkin ini sudah
cukup sebagai dalil bahwa lingkungan Arab tempat turunnya Al-Qur'an kosong
dari pengetahuan tentang sejarah umat-umat dan rasul-rasul sebelumnya, padahal
itu adalah lingkungan Arab paling maju di Jazirah pada masa itu.
Maka
segala yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan berupa kisah-kisah umat-umat
terdahulu tentang rasul-rasul mereka dan orang-orang saleh dari
hamba-hamba-Nya hanyalah kisah-kisah yang masih “perdana” dan belum diketahui
orang Arab sebelumnya. Bahkan pengetahuan mereka tentangnya murni diambil dari
Al-Qur'an saja…
(1) QS. Hud: 49.
(1) QS. Ali
Imran: 44.
(2) QS. An-Nahl: 103.
Ini adalah hasil
yang ingin saya ingatkan kepada pembaca karena memiliki pentingnya ketika
membaca apa yang terdapat dalam tafsir kisah-kisah Al-Qur'an berupa
berita-berita tambahan di luar teks Al-Qur'an… Dari mana datangnya dan dari
siapa diriwayatkan? Karena selama mereka hanya mengetahui kisah-kisah ini dari
Al-Qur'an, dan di dalamnya ada berita-berita yang ditutup karena tidak
dibutuhkan untuk menonjolkan pelajaran dari kisah tersebut, maka dari mana
datang pengetahuan tentangnya? Apakah para sahabat bertanya tentangnya kepada
Rasulullah lalu beliau menjawab mereka? Atau mereka diam, cukup dengan
pelajaran yang tampak dari kisah tersebut, tanpa mengejar detail-detail
tersembunyi yang ditinggalkan Al-Qur'an? Detail-detail yang kemudian kita
lihat dimunculkan belakangan, ditanyakan tentangnya, karena jiwa manusia
memiliki naluri ingin tahu, dan naluri itu berlari mengikutinya ketika suasana
mendukung dan memungkinkan—seperti yang kita lihat setelah masa penaklukan dan
kecenderungan menuju stabilitas serta penelitian, terutama setelah masuknya
non-Arab ke dalam Islam, khususnya dari kalangan Yahudi dan Nasrani.
Kami
tidak menemukan para sahabat mengejar berita-berita yang ditutup ini atau
celah-celah yang ditinggalkan dalam kisah dengan bertanya kepada Rasulullah
tentangnya. Kami juga tidak menemukan dalam apa yang diriwayatkan secara
shahih dari Rasulullah sesuatu yang memuaskan naluri ingin tahu yang alami
pada jiwa…
فراغ سدوه بالاسرائيليات:
ومن هنا وجد الفراغ الذى حاول المسلمون سده، بعد زمن الرسول، عن
طريق علماء اليهود والنصارى، أو عمن ظنوهم علماء بالتوراة، وربما لم يكونوا من
العلماء، بل من النقلة المحرفين، الذين يحرفون ويزيدون، أو من عوامهم الذين
يسمعون وينقلون، ويستمع منهم المسلمون، حتى لتجد كتب التفسير محشوة بتفاصيل لهذه
القصص، لم يذكرها القرآن ولكنها مأخوذة عن هؤلاء مما اشتهرت تسميته:
بالاسرائيليات. وبعض هذه الاسرائيليات تجدها معزوة إلى ابن عباس وغيره من الصحابة
والتابعين- كما قلنا من قبل- مما يوهم روايتها عن الرسول صلى الله عليه وسلم. وما
هى كذلك .. وإنما هذا هو مصدرها الذى أتت منه: أولا: اليهود الذين أسلموا ونصبوا
من أنفسهم أو نصب منهم المسلمون معلمين، مخبرين بما لم يذكره القرآن من تفاصيل
القصص، وثانيا: الذين لم يسلموا واطمأن المسلمون إلى أقوالهم ..
Celah kekosongan yang mereka isi dengan Israiliyat:
Dari sinilah muncul celah yang berusaha diisi kaum muslimin setelah masa Rasulullah melalui para ulama Yahudi dan Nasrani, atau dari orang-orang yang mereka anggap ulama Taurat—meskipun mungkin bukan ulama, melainkan perawi yang memalsukan, yang mengubah dan menambah, atau dari kalangan awam mereka yang mendengar dan menyampaikan, lalu kaum muslimin mendengarkan dari mereka—sehingga kitab-kitab tafsir dipenuhi dengan detail kisah-kisah yang tidak disebutkan Al-Qur'an, namun diambil dari mereka—yang terkenal dengan sebutan Israiliyat. Sebagian Israiliyat ini Anda temukan dinisbahkan kepada Ibnu Abbas dan lainnya dari kalangan sahabat dan tabi’in—sebagaimana kami katakan sebelumnya—yang menimbulkan kesan bahwa itu diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal bukan demikian… Itulah sumbernya yang menjadi asalnya: pertama, orang Yahudi yang masuk Islam dan mengangkat diri mereka (atau diangkat oleh kaum muslimin) sebagai guru dan pemberi informasi tentang detail kisah-kisah yang tidak disebutkan Al-Qur'an; kedua, orang-orang yang tidak masuk Islam namun kaum muslimin merasa tenang dengan perkataan mereka…
الآيات الكونية:
بقى معنا الآيات التى تتحدث عن مظاهر قدرة الله فى خلقه: فى
الإنسان، وفى السماء والأرض، وتلفت النظر إلى التدبر فيها حتى يصل العقل من خلال
ذلك إلى الإيمان بقدرة الله الواحد. هذه الآيات تتحدث عن سنن الله فى كونه: وعن
بعض الظواهر التى يراها الانسان، ويستطيع العربى العادى، أن يأخذ منها عبرة عامة.
وهذا كاف فى الهداية والاتعاظ، ولكنها تحوى اشارات إلى حقائق علمية، تظهر لدارس
القرآن، كلما تقدم العلم، وكشف شيئا من أسرار هذا الكون ...
ومما لا
شك فيه أن العرب حين نزول القرآن لم تكن عندهم قدرة لتفسير هذه الآيات على الأساس
العلمى الذى أمكن أو يمكن أن نفسر به بعضها الآن إذ لم يكن عندهم معلومات علمية
يستقبلون بها هذه الآية كما يستقبلها اليوم بعض علماء الطب والفلك والزراعة
والجيولوجيا .. أو كما استقبلها بعض المسلمين العالمين بهذه العلوم فى العصر
العباسى وما بعده
لم تكن عندهم طاقة لفهم الدقائق التى يفهمها هؤلاء
العلماء اليوم، ولذلك لم يفهموها إلا فهما إجماليا أو لم يتناولوها بالشرح إلا
على قدر جهدهم.
وكذلك علماء التفسير الذين فسروا القرآن حتى الآن
تقريبا. إلا قليلا جدا.
اكتفوا بالتفسير اللفظى البلاغى النحوى، مع
النظرة العامة للمظاهر التى تتحدث عنها الآية، ويفهمها المفسر ويبرز العبرة منها
.. وربما أضافوا للتفسير شيئا مما سمعوه من الاسرائيليات التى لبست عليهم، كما
فسروا مظاهر الرعد والبرق وغير ذلك مما نراه وننكره فى كتب التفسير التى بين
أيدينا ..
ومن المعروف أنه على قدر تفتح الذهن، وعلى قدر المحصول
العلمى للانسان، يكون اتجاهه فى المعرفة والسؤال عما يتطلع إلى معرفته ..
فالريفى
الجاهل فى القرية الذى لم يقرأ ولم يكتب لا يستطيع وهو يسمع الإذاعة ويشاهد
التليفزيون أن يتجه ذهنه إلى السؤال عن دقائق صنع المذياع والتلفاز، كما كان يؤثر
المرحوم الدكتور أحمد زكى أن يسميه، أو المرناء كما كان
يسميه المرحوم
الأستاذ محمود تيمور. ولكنه ينظر نظرة هامة فى الجهازين وهما يؤديان عملهما.
ويستدل من ذلك على قدرة العقل البشرى الذى صنعهما. وحتى لو ظهر منه سؤال- فلتة أو
اعتباطا-: كيف يتم نقل الصوت والصورة؟ فإن من غير المناسب أن يجلس العالم بذلك،
فيشرح له دقائق هذه العملية، لأن عقله لا يستوعبها، وليس لديه أساس علمى يمكن أن
يقوم عليه هذا الشرح ..
. فالاشتغال بذلك- اذن- مضيع للوقت، ومجاف
للحكمة. ولذلك يكون من الحكمة توجيه الجواب وجهة يحتملها عقله، وهذا هو ما سلكه
القرآن الكريم.
Ayat-ayat kosa (alam semesta):
Masih tersisa bagi kita ayat-ayat yang berbicara tentang fenomena
kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya: pada manusia, langit dan bumi, serta yang
mengajak untuk merenungkannya hingga akal sampai kepada iman akan kekuasaan
Allah Yang Maha Esa. Ayat-ayat ini berbicara tentang sunnah-sunnah Allah dalam
alam semesta: tentang sebagian fenomena yang dilihat manusia, dan orang Arab
biasa mampu mengambil pelajaran umum darinya. Ini sudah cukup untuk memberi
petunjuk dan pelajaran. Namun ayat-ayat itu mengandung isyarat-isyarat kepada
hakikat-hakikat ilmiah yang tampak bagi penelaah Al-Qur'an seiring kemajuan
ilmu dan penemuan rahasia alam semesta…
Tidak diragukan bahwa orang
Arab pada masa turunnya Al-Qur'an tidak memiliki kemampuan untuk menafsirkan
ayat-ayat ini berdasarkan dasar ilmiah yang memungkinkan atau dapat kita
tafsirkan sebagiannya sekarang—karena mereka tidak memiliki informasi ilmiah
untuk menerima ayat-ayat ini sebagaimana diterima sekarang oleh sebagian ahli
kedokteran, astronomi, pertanian, geologi… atau sebagaimana diterima oleh
sebagian kaum muslimin yang menguasai ilmu-ilmu ini pada masa Abbasiyah dan
setelahnya.
Mereka tidak memiliki kapasitas untuk memahami detail
yang dipahami para ilmuwan ini sekarang. Oleh karena itu mereka hanya
memahaminya secara umum atau tidak menjelaskannya kecuali sesuai kemampuan
mereka.
Demikian pula para ulama tafsir yang menafsirkan Al-Qur'an
hingga sekarang—kecuali sangat sedikit.
Mereka cukup dengan tafsir
lafazh, balaghah, dan nahwu, disertai pandangan umum terhadap fenomena yang
dibahas ayat tersebut. Mufassir memahaminya dan menonjolkan pelajaran darinya…
Mungkin mereka menambahkan ke tafsir sesuatu yang mereka dengar dari
Israiliyat yang membingungkan mereka, sebagaimana mereka menafsirkan fenomena
guntur, kilat, dan lainnya yang kita lihat dan kita ingkari dalam kitab-kitab
tafsir yang ada di tangan kita…
Diketahui bahwa sejauh mana
keterbukaan pikiran dan sejauh mana hasil keilmuan seseorang, sejauh itu pula
arah pengetahuan dan pertanyaannya tentang apa yang ingin diketahuinya…
Orang
desa yang bodoh di pedesaan yang tidak bisa membaca dan menulis tidak
mampu—ketika mendengar radio dan menonton televisi—mengarahkan pikirannya
untuk bertanya tentang detail pembuatan radio dan televisi—sebagaimana pernah
dikisahkan almarhum Dr. Ahmad Zaki yang menyebutnya “si bisu dan si tuli”,
atau “si bisu” sebagaimana disebut almarhum Ustadz Mahmud Taimur. Namun ia
memandang dengan kagum pada kedua alat itu ketika keduanya menjalankan
fungsinya. Ia menyimpulkan dari itu akan kekuatan akal manusia yang
menciptakannya. Bahkan jika muncul pertanyaan darinya—secara tiba-tiba atau
sembrono—“Bagaimana suara dan gambar bisa dipindahkan?” maka tidak pantas bagi
seorang ilmuwan duduk menjelaskan kepadanya detail proses itu, karena akalnya
tidak mampu mencernanya, dan ia tidak memiliki dasar ilmiah untuk menyangga
penjelasan itu…
Maka membahas hal itu—dalam kasus ini—adalah
pemborosan waktu dan bertentangan dengan hikmah. Oleh karena itu, bijaksana
jika jawaban diarahkan ke arah yang mampu dicerna akalnya. Inilah yang
ditempuh Al-Qur'an Al-Karim.
سؤال عن الأهلة:
فقد روت لنا كتب التفسير فى أسباب نزول قوله تعالى: (يَسْئَلُونَكَ
عَنِ الْأَهِلَّةِ) ما يشبه هذا. قال معاذ بن جبل رضى الله عنه لرسول الله صلى
الله عليه وسلم: (ما بال الهلال يبدو دقيقا مثل الخيط ثم يزيد حتى يمتلئ ويستوى،
ثم لا يزال ينقص، حتى يعود كما بدا، لا يكون على حالة واحدة كالشمس) وجواب هذا
السؤال عرفناه ونحن صغار ندرس حركة القمر الشهرية، وموقعه بالنسبة للشمس والأرض،
ورسمنا له الخريطة التى توضح أشكال القمر مع إظهار الجزء المنير منه، المواجه
للشمس من ناحية، وما يظهر لنا نحن سكان الأرض من هذا الجزء المنير الذى يؤدى إلى
أشكال القمر التى يراها الناس جميعا، أعنى أن الجواب أصبح فى متناول الطلاب
الصغار الآن ...
ولكنه وقت نزول القرآن، لم يكن من المناسب توضيحه
للعرب، وليست عندهم أوليات علمية عن الشمس والأرض والقمر من هذه الناحية .. ولم
يكن لدى الرسول صلى الله عليه وسلم كذلك علم بأسباب هذا التغير، لأن علمه ليس من
مهمته. وكان من الممكن أن ينزل القرآن به، كما نزل بكثير من الأجوبة، التى كان لا
يعرفها الرسول، ولكنا نرى القرآن حين ينزل بالرد عليهم، يتجه وجهة أخرى، غير ما
سأل عنها معاذ، وهى بيان فوائد حركة القمر لنا .. (قُلْ هِيَ مَواقِيتُ لِلنَّاسِ
وَالْحَجِّ) ؛ لأن هذا هو الذى كان يمكنهم فى ذلك الوقت فهمه
ولهذا قال علماء البلاغة فى هذا الجواب إنه من الأسلوب الحكيم .. أى الجواب بغير
ما سأل عنه السائل، لصرفه عن موضع سؤاله، ايحاء له بأن كلا من سؤاله والجواب
الحقيقى عنه غير مناسب، بل المناسب أن يسأل عما كان الجواب فعلا عنه .. وهو فائدة
تغير القمر بهذه الأشكال التى نراها .. حتى قال بعض المفسرين فهما لقوله تعالى
عقب ذلك مباشرة
وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ
ظُهُورِها وَلكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوابِها
[1] قالوا: إن ذلك يشبه أن يكون تقريعا لاتجاههم إلى ذلك السؤال، الذى لا يحتملون
الاجابة الحقيقة عنه، وكان الأولى أن يقتصدوا فى الأسئلة، ولا يتعرضوا لما هو فوق
طاقتهم العلمية .. فمثل هذا السؤال كمن أتى البيوت من ظهورها وقفز من نوافذها
وسار إلى الشيء من غير طريقه المناسب له. وليس هذا برا، ولكن البر أو الصواب هو
اتقاء مثل هذه الأساليب، فى الأسئلة لعدم مناسبتها لكم ..
هكذا علل
بعض المفسرين سر اتصال أجزاء الآية بعضها ببعض، وهو فهم فى الآية على كل حال،
يقوم على حالة واقعة، هى عدم معرفتهم بمسائل العلم التى تؤهلهم لادراك الجواب
الحقيقى على سؤالهم ..
وهذا مثال من القرآن نفسه يوضح لنا ما نقول عن
واقع الصحابة العلمى حين نزول القرآن ..
Pertanyaan tentang hilal:
Kitab-kitab tafsir meriwayatkan dalam sebab turunnya firman Allah: «Mereka
bertanya kepadamu tentang hilal…» sesuatu yang mirip dengan ini. Mu’adz bin
Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam: “Apa sebabnya hilal muncul tipis seperti benang, kemudian bertambah
hingga penuh dan rata, lalu terus berkurang hingga kembali seperti semula,
tidak tetap pada satu keadaan seperti matahari?” Jawaban atas pertanyaan ini
kita ketahui sejak kecil ketika belajar tentang gerak bulanan bulan, posisinya
relatif terhadap matahari dan bumi, serta kita menggambar peta yang
menjelaskan bentuk-bentuk bulan dengan menunjukkan bagian yang bercahaya yang
menghadap matahari dari satu sisi, dan apa yang tampak bagi kita penduduk bumi
dari bagian bercahaya itu yang menyebabkan bentuk-bentuk bulan yang dilihat
semua orang—artinya jawaban itu kini berada dalam jangkauan murid-murid
kecil…
Namun pada masa turunnya Al-Qur'an, tidak pantas
menjelaskannya kepada orang Arab karena mereka tidak memiliki dasar-dasar
ilmiah tentang matahari, bumi, dan bulan dari sisi ini… Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga tidak memiliki pengetahuan tentang sebab perubahan itu,
karena ilmu beliau bukan bagian dari tugasnya. Memang mungkin Al-Qur'an turun
dengan penjelasan itu, sebagaimana turun dengan banyak jawaban yang tidak
diketahui Rasulullah. Namun kita lihat Al-Qur'an ketika menjawab mereka
mengarahkan ke arah lain, bukan apa yang ditanyakan Mu’adz, yaitu menjelaskan
manfaat gerak bulan bagi kita: «Katakanlah: Itu adalah waktu-waktu bagi
manusia dan (bagi ibadah) haji.» Karena inilah yang mampu mereka pahami pada
masa itu…
Karena itulah para ahli balaghah mengatakan tentang
jawaban ini bahwa ia termasuk uslub hakimi (gaya bijaksana)… yaitu menjawab
bukan dengan apa yang ditanyakan penanya, untuk mengalihkannya dari topik
pertanyaannya, memberi isyarat kepadanya bahwa baik pertanyaannya maupun
jawaban sebenarnya tidak sesuai, melainkan yang sesuai adalah bertanya tentang
apa yang benar-benar dijawab… yaitu manfaat perubahan bulan dengan
bentuk-bentuk yang kita lihat… hingga sebagian mufassir mengatakan bahwa
firman Allah setelah itu secara langsung:
«Dan bukanlah kebajikan
itu bahwa kalian memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu
adalah bertakwa. Dan masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya…» (QS.
Al-Baqarah: 189) [1]
Mereka berkata: Itu seolah-olah teguran
atas arah pertanyaan mereka yang tidak mereka sanggupi jawaban sebenarnya, dan
seharusnya mereka hemat dalam bertanya serta tidak menyentuh apa yang di luar
kemampuan ilmiah mereka… Maka pertanyaan seperti ini seperti orang yang
memasuki rumah dari belakangnya, melompat dari jendelanya, dan mendatangi
sesuatu bukan dari jalannya yang sesuai. Itu bukan kebajikan. Kebajikan atau
yang benar adalah bertakwa dari cara-cara seperti itu dalam bertanya karena
tidak sesuai dengan mereka…
Demikianlah sebagian mufassir
menjelaskan rahasia keterkaitan bagian-bagian ayat satu sama lain. Ini adalah
pemahaman terhadap ayat itu bagaimanapun juga, yang didasarkan pada realitas
yang ada, yaitu ketidaktahuan mereka tentang masalah-masalah ilmiah yang
memungkinkan mereka memahami jawaban sebenarnya atas pertanyaan mereka…
Ini
adalah contoh dari Al-Qur'an sendiri yang menjelaskan kepada kita tentang
realitas ilmiah para sahabat ketika Al-Qur'an diturunkan…
والنتيجة:
والذى نريد أن نصل إليه من هذا كله:
أن الصحابة لم
يكونوا مؤهلين بمعرفة عن تاريخ الرسل وأممهم فوق ما جاء فى القرآن. فكل زيادة فى
هذه الناحية، إن ثبت ورودها عن الرسول قبلناها، وإلا أبعدناها
عن
تفسير القرآن، اللهم إلا إذا وجدنا حفريات ونقوشا تضيف لنا جديدا عمن تحدث عنهم
القرآن ..
كما أن الصحابة لم يكونوا مؤهلين بمعرفة علمية عميقة أو شبه
عميقة عن
(1) البقرة/ 189.
الإنسان، ومظاهر الكون أمامهم،
ولهذا لم يخوضوا فيها بتفصيل، ولم يتحدثوا عنها، وإنما كانوا يكتفون بالعبرة،
يأخذونها من منطوق الآية ومن النظرة البسيطة إلى المظاهر الكونية أمامهم دون
تعمق، فإذا جاء عنهم شىء فى ذلك فقد نقلوه من خارج البيئة الاسلامية، اسرائيلية
أو غيرها ..
وقد جاء القرآن الكريم يخاطب العرب فى حالتهم تلك،
بالأسلوب المناسب لهذه الحالة، فيأخذون منه قدرا يحرك فى نفوسهم الاتعاظ بما
يحدثهم عنه، ويخاطب من هم أعلى منهم علما، وأدق نظرا، على درجاتهم المتفاوتة فى
العلم ودقة النظر، فيكتسبون العبرة الظاهرة التى استفادها العرب الأميون، ولكنهم
يزيدون عليها تأملات جديدة فى الآية على ضوء ما وصلوا إليه من علوم يقينية يجدون
فى الآية إشارة لها وتحتملها ألفاظها ..
ومن هنا أرى أن أولى الناس
بتفسير الآيات الكونية إنما هم أهل العلم فى الطب والفلك والجيولوجيا وما يشبه
ذلك من علوم، على ألا يتحدثوا عن آية إلا باليقينيات من العلم، لا بالفروض
والنظريات. أما أرباب النحو والبلاغة فقد فسروها كما تدل عليه ألفاظها مع ما
عندهم من علم عن الكون، استفادوه بالنظرة السطحية التى تشبه نظرة الصحابة، مع
تفتح جاءهم على مرور الزمن حسب الجو العلمى الذى كانوا يعيشون فيه ..
وأعتقد
أننا بهذا الذى أوردناه قد ألقينا ضوءا كاشفا عن حالة تفسير القرآن الكريم فى عصر
الرسول، وعن المحصول الذى يمكن أن نخرج به من هذا، وعن العوامل المتعددة، التى
جعلته محصولا يسيرا.
ومن يدرى .. لعل فى ذلك جوانب من الخير كثيرة،
أهمها: ترك الباب مفتوحا للعقول وعلى مر الزمن لتجتهد فى فهم القرآن على ضوء
خبرتها وعلمها، وتبرز لنا من أسرار الكون المكتشفة حديثا، ما أشارت الآيات إليه،
ولم يدركه السابقون .. وهو خير يزيد المؤمنين إيمانا ويقينا ..
ومن
أراد أن يرجع إلى ما تركه الرسول صلى الله عليه من تفسير قليل.
فليرجع
إلى أمهات كتب الحديث. باب التفسير ليقف على هذه الحصيلة القليلة، بجانب ما غصت
به كتب التفسير بأجزائها ومجلداتها.
Kesimpulan:
Apa yang ingin kami capai dari semua ini:
Bahwa para sahabat
tidak memiliki kualifikasi pengetahuan tentang sejarah rasul-rasul dan
umat-umat mereka di luar apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Maka setiap
tambahan dalam aspek ini, jika terbukti berasal dari Rasulullah, kami terima.
Jika tidak, kami jauhkan dari tafsir Al-Qur'an—kecuali jika kita menemukan
penggalian arkeologi dan prasasti yang menambah informasi baru tentang mereka
yang dibicarakan Al-Qur'an…
Demikian pula para sahabat tidak
memiliki kualifikasi ilmiah mendalam atau setengah mendalam tentang manusia,
fenomena alam di hadapan mereka. Oleh karena itu mereka tidak mendalami secara
rinci dan tidak berbicara tentangnya. Mereka cukup dengan pelajaran,
mengambilnya dari teks ayat dan pandangan sederhana terhadap fenomena alam di
hadapan mereka tanpa mendalami. Jika ada sesuatu dari mereka dalam hal itu,
maka mereka mengambilnya dari luar lingkungan Islam—Israiliyat atau
lainnya…
Al-Qur'an Al-Karim berbicara kepada orang Arab dalam
keadaan mereka saat itu dengan gaya yang sesuai dengan keadaan tersebut.
Mereka mengambil darinya kadar yang menggerakkan dalam jiwa mereka pelajaran
dari apa yang dibicarakan, dan berbicara kepada orang-orang yang lebih tinggi
ilmunya dan lebih tajam pandangannya sesuai tingkatan mereka yang berbeda
dalam ilmu dan ketajaman pandangan. Mereka mendapat pelajaran yang tampak yang
diperoleh orang Arab ummi, namun mereka menambahkan perenungan baru terhadap
ayat tersebut sesuai dengan ilmu pasti yang telah mereka capai, yang menemukan
dalam ayat isyarat kepadanya dan lafazh-lafazhnya memungkinkannya…
Dari
sini saya melihat bahwa orang yang paling berhak menafsirkan ayat-ayat kosa
(alam semesta) adalah ahli ilmu dalam kedokteran, astronomi, geologi, dan
ilmu-ilmu serupa—dengan syarat mereka tidak berbicara tentang satu ayat pun
kecuali dengan hal-hal yang pasti dari ilmu, bukan dengan hipotesis dan teori.
Adapun ahli nahwu dan balaghah, maka mereka telah menafsirkannya sesuai dengan
apa yang ditunjukkan lafazh-lafazhnya disertai pengetahuan mereka tentang alam
semesta yang mereka peroleh dari pandangan permukaan yang mirip dengan
pandangan para sahabat, dengan tambahan keterbukaan yang datang kepada mereka
seiring berjalannya waktu sesuai suasana ilmiah yang mereka alami…
Saya
yakin bahwa dengan apa yang telah kami sampaikan, kami telah melemparkan
cahaya yang menyingkap tentang keadaan tafsir Al-Qur'an Al-Karim pada masa
Rasulullah, tentang hasil yang dapat kami ambil darinya, serta tentang
berbagai faktor yang menjadikannya hasil yang sedikit.
Dan siapa
yang tahu… mungkin di dalamnya terdapat banyak sisi kebaikan, yang terpenting:
membiarkan pintu terbuka bagi akal-akal sepanjang masa untuk berijtihad dalam
memahami Al-Qur'an sesuai dengan pengalaman dan ilmu mereka, serta menyingkap
bagi kita dari rahasia-rahasia alam semesta yang baru ditemukan apa yang telah
diisyaratkan ayat-ayat tersebut, yang tidak dicapai oleh orang-orang
terdahulu… Itu adalah kebaikan yang menambah iman dan keyakinan orang-orang
beriman…
Dan barang siapa ingin kembali kepada apa yang
ditinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa tafsir yang
sedikit, maka hendaklah ia kembali kepada kitab-kitab hadits utama, bab
tafsir, untuk melihat hasil yang sedikit ini di samping apa yang dipenuhi
kitab-kitab tafsir dengan bagian-bagian dan jilid-jilidnya.
