Pemahaman Sahabat terhadap Al-Qur'an

Sahabat dan Pemahaman Mereka terhadap Al-Qur'an: Hal-hal yang Harus Diperhatikan Membangun Akidah Terlebih Dahulu Managemen Pola Pikir dalam Kehidupan

Managemen Pola Pikir dalam Kehidupan Baru

Nama kitab/buku: Terjemah Ilm al-Tafsir Kaifa Nasya'a wa Tatawwara hatta Intaha ila Ashrina al-Hadir / Ilmu Tafsir Bagaimana ia bermula (sejarah kemunculannya) dan perkembangannya hingga sampai ke zaman kita sekarang.)
Judul kitab asal: Ilm al-Tafsir Kaifa Nasya'a wa Tatawwara hatta Intaha ila Ashrina al-Hadir (علم التفسير كيف نشأ وتطور حتى انتهى إلى عصرنا الحاضر )
Nama penulis: Prof. Dr. Abdel Moneim Al-Nimr / Abd al-Mun'im al-Nimr / Abdul Mun'in An-Nimr (عبد المنعم النمر)
Penerjemah: alkhoirot.org | Al-Khoirot Research and Publication, Malang
Lahir: Mesir, 1913 M
Wafat: Mesir, 1991 M
Bidang studi: Ulum Al-Quran, Ilmu Tafsir
Penerbit: Dar al-Kutub al-Islamiyyah – Kairo Cetakan: Pertama, 1405 H – 1985 M Jumlah Halaman: 168 Halaman Catatan: [Penomoran halaman dalam versi digital ini sesuai dengan versi cetak]

Daftar Isi 

  1. Sahabat dan Pemahaman Mereka terhadap Al-Qur'an: Hal-hal yang Harus Diperhatikan
    1. Namun, Pemahaman Seperti Apa Itu?
    2. Membangun Akidah Terlebih Dahulu:
  2. Metode Pemikiran dalam Kehidupan Baru dan Kaitannya dengan Pemahaman Al-Qur'an
  3. Janganlah Kamu Menanyakan Hal-hal... (Larangan Bertanya yang Berlebihan)
  4. Di dalam Hati Mereka Ada Penyakit
    1. Contoh Lain
  5. Kembali ke: Sejarah Ilmu Tafsir    

  الصحابة وفهمهم للقرآن اعتبارات لا بدّ من مراعاتها ..

ونعود للكلام عن الصحابة رضوان الله عليهم ومدى فهمهم للقرآن وتفسيرهم له بشيء أكثر من التفصيل ..

فحين نقول إن الصحابة رضوان الله عليهم أجمعين كانوا يفهمون القرآن، قد ينطبع فى أذهان الكثيرين أنهم كانوا يفهمونه على النحو التفصيلى الذى نراه الآن فى كتب التفسير، بحيث لم تكن هناك كلمة أو عبارة غامضة عليهم، لا سيما وهم عرب فصحاء والرسول صلى الله عليه وسلم معهم، يعلمهم ويرشدهم، ويستطيعون سؤاله عن كل شىء يدق فهمه عليهم ...

فهل كان الأمر كذلك؟.

وإذا شئنا أن نضع هذا السؤال فى صيغة أخرى، فإنه يمكن أن نقول: إلى أى حد كان الصحابة يفهمون القرآن ويفسرونه؟

وللإجابة عن هذا السؤال لا بد أن نضع أمام اعتبارنا الأمور الآتية:

1 - أن القرآن عربى والصحابة عرب فصحاء.

2 - أنهم لم يكونوا سواء فى الفهم أو الذكاء، كما لم يكونوا سواء فى قربهم من الرسول وبعدهم عنه.

3 - أن الوقت كان وقت دعوة وبناء للعقيدة ودفاع عنها بالحجة أو السيف.

4 - أن الصحابة كان همهم الأول الإيمان مع التطبيق والسلوك.

5 - أن آيات نزلت وأحاديث صدرت من الرسول تحد من تتبع المتشابهات ومن كثرة السؤال ...

6 - أن البيئة العربية فى ذلك الوقت لم تكن بيئة علمية بالمعنى المعروف ..

هذه الاعتبارات يجب أن نضعها أمامنا، ونحن نتحدث عن فهم الصحابة للقرآن أو تفسيرهم له.

ويمكن أن نتناول كل اعتبار من هذه الاعتبارات بشيء من البسط والتوضيح.

نزل القرآن باللغة العربية فى عهد ازدهرت فيه هذه اللغة، فلم يكن قد داخل الألسنة شىء مما داخلها بعد ذلك حين اختلط العرب بغيرهم، من أبناء البلاد التى اعتنقت الإسلام، ولقد امتن الله سبحانه على العرب بنزول القرآن بلغتهم، وفى متناول فهمهم

إِنَّا أَنْزَلْناهُ قُرْآناً عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ [1]

إِنَّا جَعَلْناهُ قُرْآناً عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ [2]

وَلَوْ جَعَلْناهُ قُرْآناً أَعْجَمِيًّا لَقالُوا لَوْلا فُصِّلَتْ آياتُهُ [3]

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ 193 عَلى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ 194 بِلِسانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ 195 [4]

كِتابٌ فُصِّلَتْ آياتُهُ قُرْآناً عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ [5]

ومؤدى هذا كله أن القرآن نزل بلغة العرب واضحا وبينا، لكى يعقلوه ويتدبروه، ويصلوا عن هذا الطريق إلى الإيمان به، وبالذى أنزله، ومن أنزل عليه .. وقد جعل الله معجزة رسوله فى هذا القرآن، وتحدى العرب أن يأتوا بسورة من مثله فى بلاغته وبيانه .. وهذا يقتضى بالطبع أن يكونوا مدركين له، وللمعانى التى احتوت عليها الآيات وعبرت عنها الكلمات .. إذ بغير إدراك المعانى لا يمكن تذوق البلاغة، ولا الإحساس بالعجز عن مجاراة القرآن فى التعبير عنها بمثل هذا الأسلوب.

(1) أول سورة يوسف.

(2) سورة الزخرف.

(3) سورة فصلت.

(4) الشعراء/ 195.

(5) فصلت/ 3.

وهذا الذى كان .. فقد اتخذ الرسول من بلاغة القرآن أقوى سلاح لدعوته ..

فكان يحرص فى مجالات الدعوة للإيمان على أن يقرأ على المشركين العرب آيات منه، وهو مدرك تماما أنهم يتفاعلون مع تعبيراته، ويحسون ما فيها من روعة تفوق كل روعة يحسونها من كلام الخطباء وشعر الشعراء .. حتى كانوا يضطرون وهم فى ذروة معارضته، والحملة عليه إلى اعتراف بعضهم لبعض سرا، بأن هذا ليس من كلام

البشر، ولكنهم اتهموه أمام العامة بأنه سحر مبين، وأصدر زعماؤهم تحذيرا عاما من الاستماع إليه خوفا من تأثيره عليهم وَقالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لا تَسْمَعُوا لِهذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ 26 [1]

وقد وجدنا فى قصة إسلام عمر أن استماعه لآيات من سورة (طه) أطفأت ما فى نفسه من حمية جاهلية، وقلبته من رجل يتوعد الرسول، ويستعد لقتله، إلى رجل هادئ، وادع، يستسلم للرسول، ويؤمن به، ويعز الله الإسلام بجرأته.

هذا- وأمثاله كثير- يدلنا بلا شك على أن القرآن كان مفهوما للعرب بمجرد أن يسمعوه، إذ لو لم يفهموه لما تأثروا به، ولما سحرهم بقوة بيانه وبلاغته ..

Para Sahabat dan Pemahaman Mereka terhadap Al-Qur'an: Pertimbangan yang Harus Diperhatikan...

Kita kembali membahas para sahabat radhiyallahu ‘anhum—semoga Allah meridhai mereka semua—dan sejauh mana pemahaman mereka terhadap Al-Qur'an serta penafsiran mereka terhadapnya, dengan sedikit lebih detail.

Ketika kita mengatakan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum memahami Al-Qur'an, mungkin terbayang dalam benak banyak orang bahwa mereka memahaminya secara rinci seperti yang kita lihat sekarang dalam kitab-kitab tafsir, sehingga tidak ada satu kata atau ungkapan pun yang samar bagi mereka—terutama karena mereka adalah orang Arab yang fasih, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada bersama mereka, mengajari dan membimbing mereka, serta mereka bisa bertanya kepadanya tentang segala sesuatu yang sulit dipahami akal mereka...

Apakah memang demikian?

Jika kita ingin merumuskan pertanyaan ini dengan cara lain, kita bisa mengatakan: Sejauh mana para sahabat memahami dan menafsirkan Al-Qur'an?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mempertimbangkan hal-hal berikut:

1. Al-Qur'an berbahasa Arab, dan para sahabat adalah orang Arab yang fasih.

2. Mereka tidak setara dalam pemahaman atau kecerdasan, sebagaimana mereka tidak setara dalam kedekatan atau jarak mereka dengan Rasulullah.

3. Saat itu adalah masa dakwah, pembangunan aqidah, dan pembelaan terhadapnya dengan hujjah atau pedang.

4. Para sahabat lebih mengutamakan iman disertai penerapan dan perilaku.

5. Ada ayat-ayat yang turun dan hadits-hadits yang muncul dari Rasulullah yang membatasi penelusuran terhadap ayat-ayat mutasyabihat serta pertanyaan yang berlebihan...

6. Lingkungan Arab pada masa itu bukanlah lingkungan ilmiah dalam pengertian yang dikenal sekarang...

Pertimbangan-pertimbangan ini harus kita letakkan di hadapan kita ketika membahas pemahaman para sahabat terhadap Al-Qur'an atau penafsiran mereka terhadapnya.

Kita bisa membahas masing-masing pertimbangan ini dengan sedikit penjelasan dan uraian.

Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa Arab pada masa bahasa ini sedang mengalami masa kejayaan, sehingga belum ada campuran apa pun yang masuk ke dalamnya setelah itu ketika orang Arab bercampur dengan penduduk negeri-negeri lain yang memeluk Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi karunia kepada orang Arab dengan menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa mereka, dan dalam jangkauan pemahaman mereka:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur'an berbahasa Arab agar kalian memahami.” (QS. Yusuf: 2) [1]  
“Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Qur'an berbahasa Arab agar kalian memahami.” (QS. Az-Zukhruf: 3) [2]  
“Dan sekiranya Kami jadikan ia Al-Qur'an berbahasa asing, tentulah mereka berkata: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’” (QS. Fushshilat: 44) [3]  
“Dengan dibawanya oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke hatimu agar kamu menjadi salah seorang pemberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 193-195) [4]  
“Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, Al-Qur'an berbahasa Arab untuk kaum yang mengetahui.” (QS. Fushshilat: 3) [5]

Semua ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas dan terang, agar mereka memahami dan merenungkannya, lalu melalui jalan itu mereka sampai kepada iman kepada-Nya, kepada yang menurunkannya, dan kepada yang diturunkan kepadanya... Allah menjadikan mukjizat Rasul-Nya dalam Al-Qur'an ini, dan menantang orang Arab untuk mendatangkan satu surah sepertinya dalam hal balaghah dan kejelasannya... Hal ini secara alami mengharuskan mereka memahami Al-Qur'an serta makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayatnya dan yang diungkapkan oleh kata-katanya... Karena tanpa memahami makna-makna tersebut, tidak mungkin mereka bisa menikmati balaghahnya, dan tidak mungkin merasakan ketidakmampuan untuk menandingi Al-Qur'an dalam mengungkapkannya dengan gaya seperti itu.

(1) Awal surah Yusuf.  
(2) Surah Az-Zukhruf.  
(3) Surah Fushshilat.  
(4) QS. Asy-Syu’ara: 195.  
(5) QS. Fushshilat: 3.

Dan itulah yang terjadi... Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan balaghah Al-Qur'an sebagai senjata terkuat dalam dakwahnya...

Beliau sangat berhati-hati dalam medan dakwah untuk mengimani, membacakan ayat-ayat Al-Qur'an kepada orang-orang musyrik Arab. Beliau sangat memahami bahwa mereka bereaksi terhadap ungkapan-ungkapannya, dan merasakan keindahan yang melampaui segala keindahan yang mereka rasakan dari ucapan para khatib dan syair para penyair... Bahkan mereka terpaksa—meskipun dalam puncak penentangan dan serangan terhadap beliau—mengakui secara rahasia satu sama lain bahwa ini bukan ucapan manusia. Namun di hadapan umum mereka menuduhnya sebagai sihir yang nyata, dan para pemimpin mereka mengeluarkan peringatan umum agar tidak mendengarkannya karena takut pengaruhnya terhadap mereka: “Dan orang-orang kafir berkata: ‘Janganlah kalian mendengarkan Al-Qur'an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kalian dapat mengalahkan.’” (QS. Fushshilat: 26) [1]

Dalam kisah keislaman Umar, kami menemukan bahwa mendengar ayat-ayat dari surah Thaha memadamkan apa yang ada dalam dirinya dari fanatisme jahiliah, dan mengubahnya dari seseorang yang mengancam Rasulullah dan siap membunuhnya menjadi seseorang yang tenang, patuh, menyerah kepada Rasulullah, beriman kepadanya, dan menguatkan Islam dengan keberaniannya.

Ini—dan banyak contoh serupa—menunjukkan kepada kita tanpa ragu bahwa Al-Qur'an dipahami oleh orang Arab begitu mereka mendengarnya. Sebab jika mereka tidak memahaminya, niscaya mereka tidak terpengaruh olehnya, dan tidak terpikat oleh kekuatan penjelasan dan balaghahnya...

ولكن أى فهم كان؟

لقد نزل القرآن يتحدث عن العقائد، كما يتحدث عن التشريع، وعن قصص السابقين، وعن خلق الكون، وبعض مظاهره وذلك بأسلوب جديد عليهم فى قوته وبيانه، مستعملا الحقيقة والمجاز والكناية، وكثير من الموضوعات التى تحدث عنها جديدة عليهم، فإلى أى مدى كان فهمهم للآيات التى تتحدث عن هذا كله؟

هل كان فهمهم مستوعبا لكل آية، وكل كلمة وعبارة، وفى أى موضوع من الموضوعات التى تحدث عنها القرآن؟

(1) فصلت/ 26.

أو أنهم مع تأثرهم العام ببلاغة القرآن لا يلزم أن يكونوا ملمين بمعانى القرآن كله وكلماته، بل كانت تفوتهم معانى بعض الكلمات أو العبارات، والغرض المراد منها؟ تبعا لاختلاف مستوياتهم فى الفهم والذكاء، أو لقربهم من الرسول- مصدر الإشعاع- وبعدهم عنه، أو لظروف أخرى غير ذلك؟

إن الإجابة عن هذا تحتاج إلى أن نعرف الجوانب التى كانت تستحوذ على الرسول وصحابته فى بناء حياتهم الجديدة، لأن هذه الجوانب هى التى يمكن أن تبين لنا ما إذا كان عندهم وقت فراغ يتيح لهم التوسع والاستيعاب، وتبين لنا المنهج الذى كان يتناسب مع هذه الحياة الجديدة، أو يفرض نفسه فرضا عليها.

كما أن الإجابة تحتاج إلى معرفة المحصول العلمى، الذى كان لدى الصحابة قبل إسلامهم، واستقبلوا به القرآن وما جاء به من معارف وعلوم، لأن الرجل المحدود المعرفة، قد يكفيه من الفهم السطحى العابر، أو الإجمالى العام ما لا يكفى الرجل الواسع المعرفة والثقافة. فكلاهما له نظرته الخاصة فيما يقرؤه أو يسمعه، وله تساؤلاته ومناقشاته، وموضوعاته، التى يمكنه أن يخوض فيها، ويسأل عنها، كما هو مشاهد محسوس الآن من الفرق بين الجو العلمى للوسط المثقف، وبين الجو العلمى للوسط الذى لم ينل حظا من الثقافة، من حيث الفهم والدقة فيه، ومن حيث نوع الأسئلة التى تطرح للإجابة عنها ..

وعلى أساس تحديد الجوانب المهمة فى الحياة الجديدة، والوقوف على ما كان لدى الصحابة من محصول علمى سابق، يمكن تحديد الاتجاه الذى اتجهوا إليه فى فهمهم للقرآن وتفسيره، لأن الطابع العام للحياة فى أى عصر من العصور، له تأثيره القوى على الاتجاه العام للناس، فى فهم القرآن. فطابع الحياة فى عهود الاختلاف ونشوء الفرق مثلا .. أضفى على تفسير القرآن اتجاها يتناسب معه، كما نلمس ذلك فى بعض التفاسير، وفى توجيه المفسر للآية، وفهمه لها على حسب اتجاهه السياسى أو المذهبى، والطابع العلمى الذى يمتاز به عصرنا دفع كثيرا من الناس إلى إضفاء الثوب العلمى على كثير جدا من آيات القرآن وفسروها تفسيرا علميا، حتى خرجوا أحيانا عن الحد المناسب .. وهكذا ...

Namun pemahaman seperti apakah itu?


Al-Qur'an turun membahas aqidah, syariat, kisah-kisah umat terdahulu, penciptaan alam semesta, dan sebagian fenomenanya—dengan gaya baru bagi mereka dalam kekuatan dan kejelasannya, menggunakan hakikat, majaz, kinayah, dan banyak topik yang dibahas di dalamnya baru bagi mereka. Maka sejauh mana pemahaman mereka terhadap ayat-ayat yang membahas semua itu?

Apakah pemahaman mereka mencakup setiap ayat, setiap kata dan ungkapan, serta setiap topik yang dibahas Al-Qur'an?

(1) QS. Fushshilat: 26.

Atau bahwa mereka—meskipun terpengaruh secara umum oleh balaghah Al-Qur'an—tidak harus memahami seluruh makna Al-Qur'an dan kata-katanya secara menyeluruh, melainkan ada makna beberapa kata atau ungkapan yang luput dari mereka, serta tujuan yang dimaksud darinya? Hal itu sesuai dengan perbedaan tingkat pemahaman dan kecerdasan mereka, atau kedekatan mereka dengan Rasulullah—sumber cahaya—dan jarak mereka darinya, atau karena faktor-faktor lain?

Jawaban atas hal ini memerlukan kita untuk mengetahui aspek-aspek yang mendominasi Rasulullah dan para sahabatnya dalam membangun kehidupan baru mereka, karena aspek-aspek inilah yang dapat menjelaskan kepada kita apakah mereka memiliki waktu luang yang memungkinkan mereka untuk memperluas dan memahami secara menyeluruh, serta menjelaskan kepada kita metode yang sesuai dengan kehidupan baru ini atau yang dipaksakan olehnya.

Jawaban juga memerlukan pengetahuan tentang hasil keilmuan yang dimiliki para sahabat sebelum masuk Islam, dan dengan apa mereka menyambut Al-Qur'an serta pengetahuan dan ilmu yang dibawanya. Karena orang yang pengetahuannya terbatas mungkin cukup dengan pemahaman permukaan yang sepintas atau pemahaman umum yang tidak cukup bagi orang yang luas pengetahuan dan budayanya. Masing-masing memiliki pandangan khusus terhadap apa yang dibaca atau didengarnya, memiliki pertanyaan dan diskusi serta topik-topik yang bisa mereka dalami dan tanyakan—seperti yang kita saksikan sekarang dari perbedaan antara suasana ilmiah di kalangan terpelajar dan kalangan yang tidak mendapat bagian dari budaya, dalam hal pemahaman dan ketepatan, serta jenis pertanyaan yang diajukan untuk dijawab...

Berdasarkan penentuan aspek-aspek penting dalam kehidupan baru, serta pengetahuan tentang hasil keilmuan para sahabat sebelumnya, kita dapat menentukan arah yang mereka tempuh dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur'an. Karena karakter umum kehidupan pada setiap zaman memiliki pengaruh kuat terhadap arah umum orang-orang dalam memahami Al-Qur'an. Karakter kehidupan pada masa perselisihan dan munculnya sekte-sekte, misalnya... memberikan corak tertentu pada tafsir Al-Qur'an yang sesuai dengannya, seperti yang kita rasakan dalam beberapa tafsir, serta pengarahan mufassir terhadap ayat dan pemahamannya sesuai dengan arah politik atau mazhabnya. Karakter ilmiah yang menjadi ciri khas zaman kita mendorong banyak orang untuk memberikan pakaian ilmiah pada banyak ayat Al-Qur'an dan menafsirkannya secara ilmiah, hingga terkadang mereka melampaui batas yang semestinya... dan seterusnya...

بناء العقيدة أولا:

لقد كان أهم شىء فى الحياة الجديدة هو- أولا- بناء العقيدة السليمة- عقيدة التوحيد، والقضاء على كل المظاهر التى تتنافى معها، ولم يكن ذلك بالأمر السهل فى بيئة مردت على الشرك، وعبادة الأصنام، والتعلق بالخرافات، والاستهانة بالعقول، إلى حد أنها كانت تحكّم الطيور والأحجار فيما تقدم عليه من أفعال،. وكانت تعد الخروج على شىء من ذلك، خروجا على مقدسات الآباء الموروثة وتقاليدهم، وثورة على ما تواضع عليه المجتمع، تجب المبادرة بقمعها والقضاء عليها.

ومن هنا كانت العناية المركزة فى القرآن الكريم، وفى دعوة الرسول، على عقيدة التوحيد والبعث.

كان الإشراك قد تحصن فى عقول العرب، حتى أصبحوا يعدّون ما عداه أمرا غريبا يلفت النظر، ويدعو إلى العجب، والدعوة إلى التوحيد مؤامرة تستدعى الحذر

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلهاً واحِداً إِنَّ هذا لَشَيْءٌ عُجابٌ 5 وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هذا لَشَيْءٌ يُرادُ 6 [1]

فهذا الحصن هو الذى يقف أمام دعوة الإسلام. ولا يمكن أن يلجأ الداعون للتوحيد إلى التسلسل من ورائه وتركه .. لا بد من مجابهته، وهدمه حجرا حجرا، بل لا بدّ من إزالة أنقاضه، وترابه وغباره، وكل أثر من آثاره.

. .. وهذا كله ليس بالأمر السهل فإن هدم الحصون الحجرية- أو الخرسانية بلغة العصر- قد يكون أسهل كثيرا من التغلب على الحصون العقلية والتقليدية.

ومن هنا يمكن أن نتصور أى شىء كان يشغل الرسول ومن آمن معه، ويأخذ منهم كل أوقاتهم وجهودهم.

(1) أوائل سورة «ص».

والقارئ يعلم بلا شك تلك الظروف التى عاش فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم والمؤمنون القليلون معه فى مكة مدة ثلاث عشرة سنة .. كما يعلم الظروف التى عاش

فيها الرسول مع صحابته بعد ذلك فى المدينة.

وكلها ظروف تحتم توجيه أكبر قسط من الجهد والعناية للأمور الأكثر أهمية بالنسبة للدين الجديد: من الدعوة إليه والتمسك بمبادئه وتشريعاته من ناحية، والدفاع المستميت عنه ضد أعدائه من ناحية أخرى، أو بلغة العصر الحديث:

إقامة بناء جديد قوى للدعوة فى الداخل، ودفاع وحماية لها من أعدائها فى الخارج.

وهذا هو الذى كان، فلقد انصرف الرسول وصحابته بكل ما يسعهم من جهد وطاقة، إلى تدعيم العقيدة فى النفوس، والعناية بالتطبيق لكل ما جاء به الدين من تشريعات، والاستعداد التام لمجابهة كل عدو والوقوف أمامه. [وهذا يعنى أن الناحية العلمية كانت هى الجانب الأهم فى حياة الرسول والمؤمنين، وكان المسلمون ينصرفون إليها بكل جهودهم ووقتهم، بعد أن يعلمهم الرسول القائد، ما عليهم من واجبات ..

ثم لا ننسى أنه كان عليهم واجبات معيشية أخرى غير واجبات دينهم ..

[ولا ننسى أيضا أنهم مع حرصهم الشديد على التجاوب التام مع دينهم، وعلى حفظ القرآن، لم يستطع أكثرهم متابعة ما ينزل على الرسول صلى الله عليه وسلم من القرآن بالحفظ والاستظهار .. ولم يكن هناك أمر فى القرآن، ولا فى كلام الرسول، يوجب عليهم استظهاره كله .. لأن ذلك شىء قد يشق عليهم، ولا يستطيعون احتماله، والله لا يكلف نفسا إلا وسعها .. وليس المهم الحفظ والاستظهار، وإنما المهم فى الدرجة الأولى: التنفيذ والعمل .. وهو ما حرصوا عليه، وقاموا به.

صحيح أن الرسول صلى الله عليه وسلم كان يحرص على أن يحفظوا، وكانوا هم الآخرين يتسابقون إلى الحفظ، ويعتبرونه مفخرة، لكن ذلك كله لم يصل إلى حد أن كل واحد منهم قد وجد الفرص الكافية لحفظ القرآن كله ... وإن كان كل واحد لم يفته أن يحفظ شيئا من القرآن قليلا أو كثيرا ..

وكانوا يتفاوتون فى هذا الحفظ ويتفاضلون به، فحفظ كل منهم قدر ما يستطيع، على حسب ما يتيسر له، وإن كان هناك من الصحابة جمّ غفير عرف عنهم أنهم حفظوا القرآن كله فى عهد رسول الله.

ولا شك فى أن الواحد منهم إنما كان يعنى بتفسير ما يحفظ وفهمه، على قدر استطاعته، أو بالاستعانة بالرسول، أو بغيره من الصحابة، ممن يتوسم فيهم المعرفة. أما ما لا يحفظه فإننا لا نستطيع القول بأنه عنى بفهمه أو بتفهمه، اللهم إلا إذا سمع أحدا يقرؤه.

ومؤدى هذا كله أن الصحابة رضوان الله عليهم مع عنايتهم الشديدة بالقرآن، لم يتيسر لجمهرتهم حفظه كله، كما لم يتوفر لهم بالتالى تفسيره وفهمه تفصيلا، وإن كان هناك من خواصهم من تيسر لهم حفظه، وتوفر على فهمه قدر استطاعته.

وفى ذلك نروى ما قاله مسروق (( جالست أصحاب محمد عليه الصلاة والسلام فوجدتهم كالإخاذ- يعنى الغدير- فالإخاذ يروى الرجل، والإخاذ يروى الرجلين، والإخاذ يروى العشرة، والإخاذ يروى المائة، والإخاذ لو نزل به أهل الأرض لأصدرهم )) يعنى يرويهم. يعبر بذلك عن اختلاف مستوياتهم العلمية، ومحصولهم من فهم القرآن، كما تختلف الآبار فى كمية مياهها ..

ويقول ابن قتيبة: إن العرب لا تستوى فى المعرفة بجميع ما فى القرآن من الغريب والمتشابه، بل أن بعضها يفضل بعضا فى ذلك ..

وهذا أمر طبيعى كما سبق أن قررناه .. وقلنا إنه يرجع إلى استعداداتهم الفطرية، كما يرجع إلى قربهم من الرسول .. - مصدر الإشعاع- وبعدهم عنه .. وإن كان من الممكن أن نقول: أنه كان هناك قدر مشترك بينهم فى فهمهم العام لما يقرءون، أو يسمعون من القرآن، باعتبار أنهم عرب .. كما قررنا من قبل ..

وإذا كانت الدعوة الجديدة قد أخذت من الرسول صلى الله عليه وسلم والمؤمنين معه، جهدا ووقتا فى دعوة الناس إليها، وفى الدفاع عنها بالحجة أو

بالسيف، مما أضفى على حياتهم الطالع العملى الجاد، فلقد كان من مستلزمات ذلك أن لا تكون هناك عناية إلا بما يمس هذه الناحية العملية .. وأن يحد من الاسترسال وراء شهوة الكلام والجدل، وإثارة الإشكالات والشبه، فإن ظروف المسلمين فيما بينهم لا تسمح بذلك، كما أن ظروفهم أمام أعدائهم المحيطين بهم من كل جانب لا تستسيغه، والبناء الجديد يقتضى احتياطا وعناية لا بد منهما.

ومن هنا تحدد المنهج الذى يجب أن يسير عليه الصحابة فى حياتهم العلمية، وكان لذلك أثره فى فهمهم للقرآن وتفسيرهم له.

Pembangunan Aqidah Terlebih Dahulu:

Hal terpenting dalam kehidupan baru adalah—pertama-tama—membangun aqidah yang lurus, yaitu aqidah tauhid, serta menghilangkan semua bentuk yang bertentangan dengannya. Hal itu bukan perkara mudah di lingkungan yang terbiasa dengan syirik, penyembahan berhala, keterikatan pada khurafat, dan meremehkan akal hingga mereka menjadikan burung dan batu sebagai penentu tindakan mereka. Mereka menganggap penyimpangan dari hal itu sebagai penyimpangan dari kesucian leluhur yang diwarisi dan tradisi mereka, serta pemberontakan terhadap apa yang telah disepakati masyarakat, yang wajib segera ditekan dan dihilangkan.

Oleh karena itu, perhatian utama dalam Al-Qur'an Al-Karim dan dakwah Rasulullah tertuju pada aqidah tauhid dan kebangkitan.

Syirik telah menguat dalam pikiran orang Arab hingga mereka menganggap apa pun selain itu sebagai hal aneh yang menarik perhatian dan menimbulkan keheranan. Dakwah menuju tauhid dianggap sebagai konspirasi yang mengharuskan kewaspadaan:

“Dia menjadikan semua tuhan menjadi satu Tuhan saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”  
“Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka sambil berkata: ‘Berjalanlah dan bersabarlah atas tuhan-tuhan kalian. Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang dikehendaki.’” (QS. Shad: 5-6) [1]

Inilah benteng yang menghalangi dakwah Islam. Tidak mungkin para pendakwah tauhid menyelinap dari belakangnya dan meninggalkannya... Harus dihadapi dan dihancurkan batu demi batu, bahkan harus dihilangkan puing-puing, debu, dan segala bekasnya.

...Dan semua itu bukan perkara mudah. Menghancurkan benteng batu—atau beton dengan bahasa zaman sekarang—mungkin jauh lebih mudah daripada mengatasi benteng-benteng pemikiran dan tradisi.

Oleh karena itu, kita bisa membayangkan apa yang mendominasi Rasulullah dan orang-orang yang beriman bersamanya, serta mengambil seluruh waktu dan upaya mereka.

(1) Awal surah Shad.

Pembaca pasti tahu tanpa ragu kondisi yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sedikit orang beriman bersamanya di Mekkah selama tiga belas tahun... serta kondisi yang dialami Rasulullah bersama para sahabatnya setelah itu di Madinah.

Semua itu adalah kondisi yang mengharuskan pengalihan sebagian besar upaya dan perhatian kepada hal-hal yang paling penting bagi agama baru ini: dari dakwah kepadanya, berpegang pada prinsip dan syariatnya dari satu sisi, serta pembelaan mati-matian terhadapnya dari musuh-musuhnya dari sisi lain, atau dengan bahasa zaman modern:

Membangun struktur baru yang kuat bagi dakwah di dalam, serta pertahanan dan perlindungan darinya dari musuh-musuhnya di luar.

Dan itulah yang terjadi. Rasulullah dan para sahabatnya mengerahkan segala upaya dan kemampuan mereka untuk memperkuat aqidah dalam jiwa, memperhatikan penerapan segala syariat yang dibawa agama, serta bersiap sepenuhnya untuk menghadapi setiap musuh dan berdiri di hadapannya.

Ini berarti bahwa aspek ilmiah adalah aspek terpenting dalam kehidupan Rasulullah dan orang-orang beriman. Kaum muslimin mengerahkan segala upaya dan waktu mereka kepadanya, setelah Rasulullah—sebagai pemimpin—mengajari mereka apa yang menjadi kewajiban mereka...

Jangan lupa bahwa mereka juga memiliki kewajiban hidup lainnya selain kewajiban agama mereka...

Juga jangan lupa bahwa meskipun mereka sangat bersemangat untuk merespons agama mereka secara sempurna dan menghafal Al-Qur'an, mayoritas mereka tidak mampu mengikuti apa yang turun kepada Rasulullah dari Al-Qur'an dengan hafalan dan penguasaan... Tidak ada perintah dalam Al-Qur'an maupun ucapan Rasulullah yang mewajibkan mereka menghafal semuanya... karena hal itu mungkin memberatkan mereka dan mereka tidak mampu menanggungnya. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya... Yang terpenting bukan hafalan dan penguasaan, melainkan yang terpenting pertama-tama adalah pelaksanaan dan pengamalan... dan itulah yang mereka tekuni dan laksanakan.

Memang benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berhati-hati agar mereka menghafal, dan mereka sendiri berlomba-lomba menghafal serta menganggapnya sebagai kebanggaan. Namun semua itu tidak sampai pada tingkat bahwa setiap mereka mendapat kesempatan cukup untuk menghafal seluruh Al-Qur'an... Meskipun ada di antara para sahabat yang jumlahnya sangat banyak yang dikenal telah menghafal seluruh Al-Qur'an pada masa Rasulullah.

Tidak diragukan bahwa masing-masing dari mereka hanya memperhatikan penafsiran dan pemahaman apa yang mereka hafal, sesuai kemampuan mereka, atau dengan bantuan Rasulullah, atau sahabat lain yang mereka anggap lebih mengetahui. Adapun apa yang tidak mereka hafal, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka memperhatikan pemahaman atau penjelasannya—kecuali jika mereka mendengar seseorang membacanya.

Semua ini menunjukkan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum—meskipun sangat memperhatikan Al-Qur'an—mayoritas mereka tidak mendapat kemudahan untuk menghafalnya secara keseluruhan, sebagaimana mereka tidak memiliki kesempatan untuk menafsirkannya dan memahaminya secara rinci. Meskipun ada di antara tokoh-tokoh mereka yang mendapat kemudahan menghafalnya dan memperhatikan pemahamannya sesuai kemampuan mereka.

Dalam hal ini kami meriwayatkan apa yang dikatakan Masruq: “Saya pernah duduk bersama para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu saya menemukan mereka seperti kolam-kolam air—kolam yang bisa memuaskan satu orang, kolam yang memuaskan dua orang, kolam yang memuaskan sepuluh orang, kolam yang memuaskan seratus orang, dan kolam yang jika seluruh penduduk bumi datang kepadanya, niscaya akan mencukupi mereka.” Ia mengungkapkan perbedaan tingkat keilmuan mereka dan hasil pemahaman mereka terhadap Al-Qur'an, sebagaimana kolam-kolam berbeda dalam jumlah airnya...

Ibnu Qutaibah berkata: Orang Arab tidak setara dalam pengetahuan tentang segala yang ada dalam Al-Qur'an dari hal-hal asing dan mutasyabihat, melainkan sebagian mereka lebih unggul daripada yang lain dalam hal itu...

Ini adalah hal yang wajar seperti yang telah kami tetapkan sebelumnya... Kami katakan bahwa hal itu kembali kepada bakat bawaan mereka, sebagaimana kembali kepada kedekatan mereka dengan Rasulullah—sumber cahaya—dan jarak mereka darinya... Meskipun kita bisa mengatakan bahwa ada pemahaman bersama di antara mereka dalam pemahaman umum terhadap apa yang mereka baca atau dengar dari Al-Qur'an, karena mereka adalah orang Arab... seperti yang telah kami tetapkan sebelumnya...

Jika dakwah baru ini telah mengambil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang beriman bersamanya upaya dan waktu dalam mendakwahi manusia kepadanya serta membelanya dengan hujjah atau pedang—yang memberikan corak praktis serius pada kehidupan mereka—maka dari keharusan itu muncul bahwa tidak ada perhatian kecuali pada hal-hal yang menyentuh aspek praktis ini... dan membatasi pengembaraan di balik nafsu bicara dan perdebatan, serta memunculkan masalah-masalah dan syubhat. Karena kondisi kaum muslimin di antara mereka sendiri tidak mengizinkan hal itu, sebagaimana kondisi mereka di hadapan musuh-musuh yang mengelilingi mereka dari segala penjuru tidak membenarkannya. Pembangunan baru memerlukan kehati-hatian dan perhatian yang mutlak.

Dari sini ditentukan metode yang harus diikuti para sahabat dalam kehidupan ilmiah mereka, dan hal itu memiliki pengaruh dalam pemahaman dan penafsiran mereka terhadap Al-Qur'an.

المنهج الفكرى فى الحياة الجديدة وصلته بفهم القرآن

هذا المنهج الفكرى كان من الضرورى أن يكون ملائما ومتناسقا مع الحياة الجديدة وضروراتها وفى إطارها، وإذا أمكن أن نستعمل مصطلحات العصر الحديث، قلنا: إنه كان من الضرورى أن يكون فى خدمة الحياة الجديدة ومتطلباتها، كما يقال الآن: يجب أن يكون العلم فى خدمة الإنتاج مثلا، وأن يغذى الإنتاج الفكرى الأهداف العامة للدولة، وذلك من أجل تماسك البناء، وهو لا يزال جديدا، وعدم إصابته بهزات عكسية، تترك عليه آثارها من التخلخل والتشقق ..

فكل ما يتصل بالعقيدة وتمتين بنائها مقبول بل مطلوب. أما أن تثار حولها شبهات ومجادلات نظرية تشتت العقول، تدخلنا فى التيه، فذلك أمر غير مقبول .. وذلك مثل الكلام فى القضاء والقدر الذى لم ولن ينتهى إلى نتيجة حاسمة ولذلك نهوا عنه ..

وكل ما يتصل بتصحيح العمل- عبادة كان أم معاملة- فالكلام والسؤال والجواب فيه مقبول. بل مطلوب كذلك، ولكن بقدر ما يصحح العمل، دون الاسترسال وراء شهوة الكلام والجدل والافتراضات.

ولقد كان القرآن ينزل فى شأن هذا وذاك، والرسول يتابعه بالبيان القولى أو التطبيقى بحيث لا يترك شيئا يحتاج إلى بيان إلا وضحه .. ومع ذلك فمن الجائز أن يبقى هناك شىء غامض لدى بعض الناس. وهذا يحمد منهم أن يستوضحوا أمره .. ومن الجائز أن تنزل آية، ويفهم منها الصحابة شيئا من التكليف الغير المستطاع أو شيئا يخالف ما فهموه من قبل فيلجئوا إلى الرسول ويسألوه، فيوضح لهم الأمر، مسرورا بإقبالهم على فهم دينهم ..

فمثلا .. حين نزل قوله تعالى من سورة الأنعام وهى مكية الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ 82 [1] شق ذلك على أصحاب رسول الله وقالوا: أينا لم يظلم نفسه؟ فقال الرسول صلى الله عليه وسلم: ليس بالذى تعنون. ألم تسمعوا ما قال العبد الصالح:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ 13 [2] يعنى لقمان كما جاء فى سورته.

فهذا الذى فهموه أولا من الآية السابقة أزعجهم، لأنه يتصل بحياتهم فى الآخرة، وهم يحرصون على أن تكون حياة طيبة، فسألوا رسول الله، فبين لهم أن معنى الظلم فى الآية هو الإشراك، وأحالهم على آية أخرى حكت عن لقمان قوله لابنه: (يا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ) وبهذا انتهى الإشكال.

والسيدة عائشة رضى الله عنها لما سمعت الرسول صلى الله عليه وسلم يقول:

«من حوسب عذب»، رأت أن هذا القول فى ظاهره، يخالف قوله تعالى:

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتابَهُ بِيَمِينِهِ 7 فَسَوْفَ يُحاسَبُ حِساباً يَسِيراً 8 وَيَنْقَلِبُ إِلى أَهْلِهِ مَسْرُوراً 9 [3]

فهناك إذن من يحاسب، ثم يلقى أهله مسرورا فى الآخرة، ولا يلحقه عذاب. والحديث يقول بصيغة التعميم (من حوسب عذب) فتلجأ إلى الرسول، وتحتج بالآية، وكأنها تعارضه. فتقول له: «أو ليس يقول الله عز وجل فسوف يحاسب حسابا يسيرا، فقال لها الرسول صلى الله عليه وسلم (إنما ذلك العرض) وفى رواية ليس ذاك بالحساب ولكن ذلك العرض، أى عرض

(1) سورة الأنعام الآية 82.

(2) انظر تفسير ابن كثير ج 2 سورة الأنعام. تفسير الآية المتقدمة .. وآية لقمان 13.

(3) سورة الانشقاق 7 - 9.

الأعمال على الله تعالى وتجاوزه عن السيئات منها ثم قال الرسول: (ولكن من نوقش الحساب يهلك، أو من نوقش الحساب يوم القيامة عذب) روايات مختلفة والمعنى واحد.

وسؤال عائشة رضى الله عنها كان فى أمر مهم، يتصل بمصير الناس فى الآخرة، وما فهمته عنه من الآية الكريمة .. ورواية أخرى عن عائشة أيضا فى هذا تقول: (سمعت رسول الله يقول فى بعض صلاته (اللهم حاسبنى حسابا يسيرا) فلما انصرف، قلت يا رسول الله: ما الحساب اليسير؟ فقال: (أن ينظر فى كتابه، فيتجاوز له عنه. إنه من نوقش الحساب يا عائشة يومئذ هلك) [1] وهو سؤال لتوضيح معنى يتصل بالآية السابقة.

ويروى البخارى فى صحيحه- فى باب الصوم- عن عدى بن حاتم رضى الله عنه قال: لما نزلت (حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ) [2] عمدت إلى عقال أسود، وعقال أبيض، فجعلتهما تحت وسادتى، فجعلت أنظر إلى الليل، فلا يستبين لى، فغدوت على رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكرت له ذلك، فقال: «إنما ذلك سواد الليل وبياض النهار».

وفى رواية أخرى عن عدى أيضا بلفظ آخر «لما نزلت: وكلوا واشربوا ..

الآية» عمدت إلى عقالين: أحدهما أسود، والآخر أبيض، فجعلتهما تحت وسادتى. قال: فجعلت أنظر إليهما، فلما تبين لى الأبيض من الأسود أمسكت.

أى امتنعت عن الطعام وبدأت الصيام. فلما أصبحت غدوت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبرته بالذى صنعت فقال: (إن وسادك- إذن- لعريض. إنما ذلك بياض النهار من سواد الليل) .

وتعليق الرسول صلى الله عليه وسلم: (إن وسادك لعريض) مبنى على أنه وضع تحته الخيطين اللذين جعلهما الله كناية عن بياض النهار وظلمة الليل فاتخذ

(1) انظر صحيح البخارى فى باب العلم وابن كثير فى تفسير الآية من سورة الانشقاق ج 4 ص 48 طبعة الحلبى.

(2) سورة البقرة 187.

وسادته كأنها أفق يضم هذين الخيطين. وفى رواية أخرى أنه قال له أيضا (إنك لعريض القفا) وبعض الناس يفهم من هذا أنه يرميه بالبلادة فى فهم المراد من الآية .. ولكنه من مستلزمات (إن وسادك لعريض) فما دام الوساد عريضا إلى هذا الحد فلا بد أن القفا الذى يستلقى عليه عريض كذلك بما يتناسب معه. وربما يكون ذلك إشارة إلى أنه كان مستريحا فى نومه على وسادة مريحة فتكاسل عن القيام وأجرى تجربته وهو نائم.

وهى كلها تعليقات طريفة على هذا الفهم البدائى، الذى أخذ ما فى الآية على حقيقته، ولم يفطن إلى أن ذلك كناية عن خيط النور الذى يشق سواد الليل مؤذنا بطلوع الفجر ..

والشاهد فى هذه الرواية هو أن الرجل فهم فهما فى القرآن، ثم لم يطمئن إليه بعد التجربة التى أجراها، فذهب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم يعرض عليه هذا الفهم، ويستوضحه الحقيقة فيه، فبين له الرسول حقيقة المراد فى الآية ..

وأمثال هذه الاستفسارات لا بدّ أنها كانت كثيرة، وقد روى البخارى ما صح منها فى صحيحه وكانت أمرا لا بدّ منه فى فهم الصحابة للآيات التى تشرع لهم فى أمر عباداتهم أو معاملاتهم .. ومن الطبيعى أن الرسول كان يتقبل هذه- الاستسفسارات بصدر رحب، ويجيب عنها بما يوضح لهم الفهم الصحيح.

لأنها كانت تدخل فى صميم الحياة العملية لهم .. ويتوقف عليها تسديد الخطى فى هذه الحياة ...

لكن العقل البشرى له جولاته فى نطاق الحياة العملية، وله تساؤلاته فيما يغيب عنه، وكثيرا ما يدفعه الفضول أو الرغبة فى الاطلاع على المجهول إلى أسئلة يرجو الإجابة عنها.

وقد نزل القرآن موجزا مجملا وحمال أوجه، وفيه متسع لمن يريد السير وراء الأسئلة التى من هذا النوع .. حيث ركز على موضع العبرة عنها، تاركا فيها بعض الجوانب التى يلح العقل فى معرفتها عادة ..

كما أن فى القرآن بعض الآيات التى تبدو فى ظاهرها متناقضة .. فالله «ليس كمثله شىء» كما تقرر آية، ثم تأتى آيات أخرى، فتتحدث عن أن الله

يدا (بَلْ يَداهُ مَبْسُوطَتانِ) ووجها (وَيَبْقى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالْإِكْرامِ) وعينا (وَلِتُصْنَعَ عَلى عَيْنِي) ، وسمعا وبصرا (إِنَّ اللَّهَ كانَ سَمِيعاً بَصِيراً) . إلى غير ذلك من الآيات التى تبدو على غير اتفاق مع قوله تعالى (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ) مما أطلق عليه أنه من المتشابهات فى القرآن .. بمعنى عدم جلاء معناه عند قراءته أو سماعه، كما يفهم سريعا من قوله تعالى مثلا: (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَماناتِ إِلى أَهْلِها) .. (وَإِلهُكُمْ إِلهٌ واحِدٌ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ) .

وهناك ألفاظ فى القرآن جاءت على غير ما اعتاد العرب فى كلامهم (( الم.

ألر. المص. طسم. حم. ص. ق. ن). مما بدأ الله به بعض سور القرآن ..

وهناك آيات فى القرآن الكريم تنص على أن الله «يُضِلُّ مَنْ يَشاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشاءُ و (مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِداً) .

(وَما تَشاؤُنَ إِلَّا أَنْ يَشاءَ اللَّهُ) وآيات أخرى صريحة فى مجازاة الإنسان على ضلاله وعلى عمله، وينتج عن هذه وتلك .. هذا الإشكال المزمن: هل العبد مسير أو مخير؟ وكيف يحاسب الله العبد على شىء، نفذت به مشيئة الله وليس فيه حينئذ خيار؟

آيات كثيرة فيها هذا وذاك وذلك .. ومرت القرون عليها، والناس مختلفون متجادلون فى فهم المراد منها .. وستمر قرون كذلك، دون أن يصل فيها العقل إلى رأى قاطع حاسم، فماذا كان موقف صحابة رسول الله منها؟.

هل فهموها ووصلوا فيها إلى حل مريح، أو سألوا الرسول عنها فبينها لهم؟

لو أنهم فهموها أو بينها لهم الرسول، لروى لنا هذا الفهم، وهذا الحل، واسترحنا، إذ ليس من المعقول أن يندرس مثل هذا البيان عن هذه الآيات المشكلة، فلا يرث علمهم أحد ممن أخذ عنهم، ولا نتوارثه، مع أن الروايات، نقلت لنا الكثير من أقوال الرسول وأقوالهم، مما هو أقل شأنا من موضوع فهم هذه الآيات، ومع أن عهد التابعين قد كثرت فيه الأسئلة عن غوامض القرآن.

ولكن هل تمر عليهم دون أن يفهموها، ودون أن يسألوا عنها؟ ..

أظن ذلك هو الأقرب إلى العقل .. إذ لو سألوا وأجابهم عنها لوصل إلينا ذلك فيما وصل.

وما دمنا لم نعثر على حديث صحيح عن الرسول، أو على رأى للصحابة موثوق بنسبته إليهم، فالأقرب للعقول أنهم لم يفهموها تفصيلا ولم يسألوا عنها.

ولكن كيف مرت دون أن يفهموها، ودون أن يسألوا عنها، وهى التى تشغلنا الآن كما أنها شغلت من كان قبلنا، وستشغل من هو بعدنا، ويكثر فى فهمها الاختلاف كما كثر من قبل دون الوصول إلى رأى قاطع ..

ما المراد بقوله تعالى فى أوائل السور: الم. المص. الر. حم .. الخ؟

ما المراد بيد الله وسمعه وبصره وعينه؟

ألم يفسرها الرسول تفسير قاطعا؟ ألم يتطلع الصحابة لمعرفتها فيتركوا لنا فيها تفسيرا مقنعا؟

تروى بعض كتب التفسير عن أبى بكر وعمر أنهما مما استأثر الله بعلمه ..

ولو صحت هذه الرواية لكان معنى ذلك أنهم يعلمون ذلك من الرسول ..

ولقطعت هذه الرواية حبل الاجتهاد على كل متحدث يريد شرحها وفهمها ..

ولكن حبل الحديث والتفسير والاجتهاد فى فهمها لم ينقطع، حتى بلغت الأقوال مثلا فى معنى الحروف المقطعة .. عشرات. ومغزى هذا أن هذه الرواية عن أبى بكر وعمر لم تصح، ولم تعتمد لدى المفسرين جميعا. فبقى باب الفهم والاجتهاد فيه مفتوحا.

فرأينا فريقا من المفسرين يقف عن تفسيرها ويقول (الله أعلم بمراده) وآخرين منهم يفسرونها بما يمكنك الاطلاع عليه فى كتب التفسير .. وكلها تفسيرات اجتهادية ترجع إلى عقل المفسر وترجيحه ..

والسبب فى ذلك كله أننا لم نرث عن الصحابة رواية صحيحة معتمدة، تقطع الطريق على أى قول آخر.

فكيف تترك هذه الأمور غامضة دون توضيح؟ .. وهل يعقل أن تكون

معانيها غامضة عليهم، ثم سكتوا فلم يسألوا الرسول، وهو المرجع الأعلى فى تفسير القرآن وفهمه؟ ..

أسئلة أجدها كلها نابتة من جونا العلمى والفكرى الذى نعيش فيه، والذى دأب الناس فيه على أن يسألوا عن كل شىء، حتى ما لا يحتمل السؤال .. وفى هذه الأسئلة التى نتساءلها شىء .. من الاستغراب، عن موقف الصحابة وإحجامهم عن السؤال .. وشىء من الأمانى الغالية أن لو كان الصحابة سألوا عنها الرسول فبينها وأراحنا ..

فهل يلام الصحابة لعدم سؤالهم أو بيانهم؟.

إنه لا بد لنا لكى نفهم موقفهم ونقدره .. نحاول بتفكيرنا العيش معهم فى الجو الذى كانوا يعيشون فيه، ونقدر مع ذلك البساطة العربية التى كانت تنفر من التعقيد، والتى كانت طابعهم العام، ونعرف فى الوقت نفسه أن وقتهم كان وقت تعبئة عامة وتركيز حول المسائل المهمة، التى تأخذ من حياتهم الاهتمام الأول، وهى العقيدة وبناؤها، والأحكام والالتزام بها، والأعداء الكثيرون المحيطون بهم وضرورة مجابهتهم .. وأولا وأخيرا أمة جديدة فى كل شىء، تزرع وسط حقول ألغام، ولا بد لها من الحذر والحيطة التامة فى سيرها ..

فهل يحتمل هذا الجو- مع ما نعلمه من البساطة العربية- أن ينصرف الصحابة- والحالة حالة طوارئ- إلى مناقشات حول موضوعات لا تدخل فى صميم عقيدتهم، أو عباداتهم ومعاملاتهم. وهى موضوعات أثيرت فيما بعد، بدافع من الأمن والفراغ، واتساع الحركة الذهنية والعلمية، وكثرة الداخلين فى الإسلام من غير العرب ..

لقد عاش الرسول صلى الله عليه وسلم بعد بعثته نحو عشرين سنة كانت هى مدة الدعوة إلى الدين الجديد بعد فتور الوحى، ومنذ أمره بإنذار عشيرته الأقربين، وأمره بتبليغ الدعوة جهرا إلى الناس أجمعين. وقد قضى من هذه المدة نحو نصفها فى مكة فى حالة ضغط مستمر عليه وعلى أصحابه، واضطهاد عنيف تحملوه صابرين .. ومطاردة ومصادرة لهم فى أفكارهم وتحركاتهم ..

بل وحياتهم. فلم يكن من المعقول فى هذا الظرف أن تثور مناقشات نظرية حول هذه المتشابهات التى نزل أكثرها بمكة ..

وقضى رسول الله فى المدينة نحو عشر سنوات كذلك، قضاها كلها فى دفاع وحروب مستمرة فرضها عليه أعداؤه .. فكانت كلها سنوات طوارئ بلغتنا الحديثة .. وفى حالات الطوارئ لا يقبل فيها من الكلام والمناقشات ما يقبل عادة فى حالات الأمن والرخاء .. بل تفرض التعبئة العامة جوها على الحياة وعلى الأفكار ..

هل يكون من المقبول والمستساغ لدينا- إذا كنا فى حالة حرب أو طوارئ وتعبئة- أن نثير فى الصحف بحوثا ومجالات نظرية تشغل الأفكار وتمزقها، ولو حول بعض المسائل الدينية البعيدة عن جونا الذى نعيش فيه؟

هل يستساغ أن نثير فى مثل هذه الحالة بحثا حول جواز ترجمة القرآن مثلا، أو عدم جوازها؟ أو حول من كان أحق بالخلافة. أبو بكر أم على؟. أو حول المراد من الحروف المقطعة التى بدئت بها بعض السور؟ أو حول القضاء والقدر؟

وهل الإنسان مسير أو مخير؟ - أو حول القرآن، وهل هو مخلوق، أو غير مخلوق؟. أو نثير بحثا حول الشعر القديم والشعر الحديث؟. أو نعيد سيرة البيزنطيين فنتناقش: أيهما الأصل: البيضة أم الدجاجة؟!!

وإذا كنا لا نستسيغ ذلك حاليا مع شهوتنا الملحة دائما فى الكلام والجدل، فكيف يمكن أن نطلب من الرسول .. وصحابته وقد كانوا فى حالة طوارئ مستمرة، وحالة حرب، وخطر الحرب، أن يسألوا ويبحثوا فى أشياء نظرية، وبعضها قد يثير الاضطراب الفكرى، ويبعثر الجهود، ويشتت الأفكار، ويؤدى إلى الدخول فى التيه؟ ..

ولكن أليس فى فهم معنى يد الله وسمعه وبصره اتصال بالعقيدة؟

نعم .. كان له اتصال .. ولكنهم فهموه فهما إجماليا وتركوه، واكتفوا بهذا ولم ينساقوا الى ما وراءه مما أثير بعد ذلك .. اكتفوا واكتفى منهم الرسول بأنهم مؤمنون بالله وبصفاته كما جاء فى كتابه، وليس لهم أن يشغلوا أنفسهم وأفكارهم بالبحث

عن: كيف، ولماذا؟ بدليل أننا لو آمنا الآن بصفات الله كما وردت فى القرآن، وفوضنا معناها إلى الله، ما كان فى ذلك بأس، بل إن بعضنا يقول: هذا هو المطلوب منا. وهكذا سار المسلمون بعد الرسول. وتحرجوا عن السؤال فى هذه المتشابهات وقال الإمام مالك: إن السؤال عنها بدعة.

ومع أن طابع الحياة العملية وظروفها التى عاشوا فيها قد أملى عليهم هذا الاتجاه، كان هناك بجوار هذا أو قبل هذا توجيهات من القرآن الكريم، ومن رسول الله صلى الله عليه وسلم تحبذ مثل هذا أو تدعو إليه، وترسم منهجا لتفكيرهم وأسلوب فهمهم للقرآن، والدين الجديد الذى اعتنقوه ..

Metode Pemikiran dalam Kehidupan Baru dan Kaitannya dengan Pemahaman Al-Qur'an

Metode pemikiran ini harus sesuai dan selaras dengan kehidupan baru serta kebutuhannya, dan berada dalam kerangkanya. Jika kita boleh menggunakan istilah zaman modern, kita katakan: metode ini harus melayani kehidupan baru dan tuntutannya, sebagaimana dikatakan sekarang bahwa ilmu harus melayani produksi, misalnya, dan pemikiran ilmiah harus memberi makan tujuan-tujuan umum negara—demi kekokohan bangunan yang masih baru, dan agar tidak terkena guncangan balik yang meninggalkan dampak keretakan dan retak...

Segala yang berkaitan dengan aqidah dan penguatannya diterima, bahkan diwajibkan. Adapun memunculkan syubhat dan perdebatan teoretis yang mengacaukan pikiran, menjerumuskan kita ke dalam kebingungan—itu tidak diterima... Seperti pembicaraan tentang qadha dan qadar yang tidak pernah mencapai hasil pasti, maka mereka dilarang darinya...

Segala yang berkaitan dengan perbaikan amal—baik ibadah maupun muamalah—maka pembicaraan, pertanyaan, dan jawaban tentangnya diterima, bahkan diwajibkan pula, tetapi hanya sebatas yang memperbaiki amal, tanpa pengembaraan di balik nafsu bicara, perdebatan, dan asumsi-asumsi.

Al-Qur'an turun berkaitan dengan ini dan itu, dan Rasulullah mengikutinya dengan penjelasan lisan atau penerapan praktis sehingga tidak meninggalkan sesuatu yang memerlukan penjelasan kecuali beliau jelaskan... Meskipun demikian, mungkin masih ada sesuatu yang samar bagi sebagian orang. Hal itu patut dipuji jika mereka meminta penjelasan tentangnya... Mungkin juga turun ayat, dan para sahabat memahami darinya sesuatu dari kewajiban yang tidak sanggup mereka lakukan atau sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman mereka sebelumnya, maka mereka mendatangi Rasulullah dan bertanya kepadanya, lalu beliau menjelaskan kepada mereka dengan senang karena semangat mereka memahami agama mereka...

Sebagai contoh... ketika turun firman Allah dari surah Al-An’am yang Makkiyah: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82) [1] Hal itu memberatkan para sahabat Rasulullah, dan mereka berkata: “Siapa di antara kita yang tidak menzalimi dirinya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan seperti yang kalian maksud. Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan hamba yang saleh: ‘Sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13) [2] yaitu Luqman seperti yang disebutkan dalam surahnya.

Maka pemahaman pertama mereka terhadap ayat sebelumnya mengkhawatirkan mereka, karena berkaitan dengan kehidupan mereka di akhirat, dan mereka sangat menginginkan kehidupan yang baik. Mereka bertanya kepada Rasulullah, lalu beliau menjelaskan kepada mereka bahwa makna kezaliman dalam ayat itu adalah syirik, dan mengarahkan mereka kepada ayat lain yang menceritakan perkataan Luqman kepada anaknya: “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar.” Dengan demikian masalah selesai.

Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa dihisab, maka ia disiksa,” ia melihat bahwa perkataan ini secara zahir bertentangan dengan firman Allah:

“Adapun orang yang diberi kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan dihisab dengan hisab yang mudah, dan ia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 7-9) [3]

Di sini ada orang yang dihisab, kemudian kembali kepada keluarganya dengan gembira di akhirat, dan tidak disentuh siksa. Hadits menyebutkan dengan bentuk umum “Barang siapa dihisab, maka ia disiksa” maka ia mendatangi Rasulullah dan berhujjah dengan ayat itu, seolah-olah menentang beliau. Ia berkata kepadanya: “Bukankah Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘maka ia akan dihisab dengan hisab yang mudah’?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Itu hanyalah pemeriksaan.” Dalam riwayat lain: “Itu bukanlah hisab, melainkan pemeriksaan,” yaitu pemeriksaan amal kepada Allah Ta’ala dan beliau melewati kesalahan-kesalahan darinya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Akan tetapi barang siapa dipertanyakan hisabnya, maka ia binasa,” atau dalam riwayat: “Barang siapa dipertanyakan hisabnya pada hari kiamat, maka ia disiksa.” Riwayat-riwayat berbeda tetapi maknanya sama.

Pertanyaan Aisyah radhiyallahu ‘anha berkaitan dengan hal penting yang menyangkut nasib manusia di akhirat, dan apa yang ia pahami dari ayat mulia itu... Riwayat lain dari Aisyah juga dalam hal ini menyebutkan: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebagian shalatnya mengatakan: ‘Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.’” Ketika beliau selesai, aku berkata: “Ya Rasulullah, apakah hisab yang mudah itu?” Beliau bersabda: “Yaitu melihat kitabnya, lalu Allah melewati kesalahannya darinya. Sesungguhnya barang siapa dipertanyakan hisabnya pada hari itu, ya Aisyah, maka ia binasa.” [1] Ini adalah pertanyaan untuk menjelaskan makna yang berkaitan dengan ayat sebelumnya.

Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya—dalam bab puasa—dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketika turun: ‘...hingga terlihat oleh kalian benang putih dari benang hitam dari fajar...’ [2] saya mengambil tali hitam dan tali putih, lalu saya letakkan di bawah bantalku. Saya terus melihat ke malam, namun tidak terlihat jelas bagiku. Maka pagi harinya saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Beliau bersabda: “Itu hanyalah kegelapan malam dan cahaya siang.”

Dalam riwayat lain dari ‘Adi juga dengan lafazh lain: “Ketika turun: ‘...makan dan minumlah...’ ayat tersebut, saya mengambil dua tali: satu hitam dan satu putih, lalu saya letakkan di bawah bantalku.” Ia berkata: “Saya terus melihat keduanya, ketika putih terlihat jelas daripada hitam, saya berhenti.” Yaitu menahan diri dari makan dan mulai berpuasa. Ketika pagi, saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahu beliau tentang apa yang saya lakukan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya bantalku—kalau begitu—sangat lebar. Itu hanyalah cahaya siang dari kegelapan malam.”

Komentar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya bantalku sangat lebar” didasarkan pada bahwa ia meletakkan kedua tali itu di bawahnya yang dijadikan Allah sebagai kiasan tentang cahaya siang dan kegelapan malam, sehingga ia menjadikan bantalnya seolah-olah ufuk yang memuat kedua tali itu. Dalam riwayat lain, beliau juga berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau lebar tengkukmu.” Sebagian orang memahami ini sebagai celaan atas kebodohannya dalam memahami maksud ayat... Namun itu merupakan konsekuensi dari “Sesungguhnya bantalku sangat lebar”—karena jika bantal sangat lebar sampai sejauh itu, maka tengkuk yang bersandar padanya juga harus lebar sesuai dengannya. Mungkin itu juga isyarat bahwa ia sedang nyaman tidur di atas bantal yang empuk sehingga ia malas bangun dan melakukan percobaan dalam keadaan tidur.

Semua itu adalah komentar lucu atas pemahaman awam ini, yang mengambil apa yang ada dalam ayat secara harfiah, dan tidak menyadari bahwa itu adalah kiasan tentang benang cahaya yang memecah kegelapan malam sebagai tanda terbitnya fajar...

Saksi dalam riwayat ini adalah bahwa lelaki itu memahami pemahaman tertentu terhadap Al-Qur'an, kemudian setelah percobaan yang dilakukannya ia tidak yakin, maka ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan pemahaman ini kepadanya dan meminta penjelasan tentang kebenarannya, lalu Rasulullah menjelaskan kepadanya hakikat maksud dalam ayat tersebut...

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini pasti sangat banyak, dan Bukhari telah meriwayatkan yang shahih darinya dalam Shahihnya. Itu adalah perkara yang tidak bisa dihindari dalam pemahaman para sahabat terhadap ayat-ayat yang mensyariatkan bagi mereka dalam urusan ibadah atau muamalah mereka... Wajar jika Rasulullah menerima pertanyaan-pertanyaan ini dengan dada lapang, dan menjawabnya dengan apa yang menjelaskan pemahaman yang benar bagi mereka.

Karena itu masuk dalam inti kehidupan praktis mereka... dan bergantung padanya ketepatan langkah dalam kehidupan ini...

Namun akal manusia memiliki jelajahannya dalam lingkup kehidupan praktis, serta pertanyaan-pertanyaannya tentang apa yang gaib baginya. Sering kali rasa ingin tahu atau keinginan untuk mengetahui yang tidak diketahui mendorongnya kepada pertanyaan-pertanyaan yang ia harapkan jawabannya.

Al-Qur'an turun secara ringkas dan umum serta mengandung banyak makna, dan di dalamnya ada kelapangan bagi siapa yang ingin mengikuti pertanyaan-pertanyaan jenis ini... di mana ia fokus pada tempat pelajaran darinya, meninggalkan sebagian aspek yang biasanya akal bersikeras untuk mengetahuinya...

Di dalam Al-Qur'an juga ada sebagian ayat yang secara zahir tampak bertentangan... Allah “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” sebagaimana ditegaskan satu ayat, kemudian datang ayat-ayat lain yang berbicara tentang bahwa Allah memiliki tangan (“Bahkan kedua tangan-Nya terbuka”), wajah (“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan”), mata (“Dan agar engkau dibesarkan di bawah pengawasan-Ku”), serta pendengaran dan penglihatan (“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”)... dan seterusnya dari ayat-ayat yang tampak tidak selaras dengan firman-Nya “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”—yang disebut sebagai mutasyabihat dalam Al-Qur'an... dalam arti maknanya tidak jelas ketika dibaca atau didengar, sebagaimana dipahami dengan cepat dari firman-Nya misalnya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya...” “Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia...”

Ada pula lafazh-lafazh dalam Al-Qur'an yang datang tidak sesuai dengan kebiasaan orang Arab dalam bicara mereka (Alif Lam Mim. Alif Lam Ra. Alif Lam Mim Shad. Tha Sin Mim. Ha Mim. Shad. Qaf. Nun)... yang Allah mulai dengannya sebagian surah Al-Qur'an...

Ada pula ayat-ayat dalam Al-Qur'an Al-Karim yang menyatakan bahwa Allah “menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki” serta “Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang Allah sesatkan maka engkau tidak akan menemukan baginya seorang pemimpin yang memberi petunjuk.” “Dan kalian tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki.” Dan ayat-ayat lain yang tegas dalam pembalasan manusia atas kesesatannya dan amalnya. Dari ini dan itu muncul masalah abadi ini: Apakah hamba itu dikendalikan atau diberi pilihan? Dan bagaimana Allah menghisab hamba atas sesuatu yang telah dilaksanakan oleh kehendak Allah, padahal ketika itu tidak ada pilihan baginya?

Ayat-ayat banyak yang mengandung ini dan itu... dan berabad-abad telah berlalu atasnya, sementara manusia berbeda dan berdebat dalam memahami maksud darinya... dan akan terus berlalu berabad-abad seperti itu, tanpa akal mencapai pendapat yang pasti dan tegas. Maka bagaimana sikap para sahabat Rasulullah terhadapnya?

Apakah mereka memahaminya dan mencapai solusi yang menenangkan, atau bertanya kepada Rasulullah tentangnya lalu beliau menjelaskannya kepada mereka?

Jika mereka memahaminya atau Rasulullah menjelaskannya kepada mereka, niscaya pemahaman dan solusi ini akan sampai kepada kita, dan kita akan tenang. Karena tidak masuk akal bahwa penjelasan seperti ini tentang ayat-ayat yang rumit ini hilang, sehingga tidak ada yang mewarisinya dari mereka yang mengambil darinya, dan kita tidak mewarisinya—padahal riwayat-riwayat telah menyampaikan kepada kita banyak perkataan Rasulullah dan perkataan mereka, yang lebih kecil nilainya daripada topik pemahaman ayat-ayat ini. Padahal pada masa tabi’in pertanyaan tentang hal-hal rumit Al-Qur'an telah banyak.

Namun apakah hal-hal ini berlalu tanpa mereka memahaminya, dan tanpa mereka bertanya tentangnya?

Saya kira itulah yang paling masuk akal... Sebab jika mereka bertanya dan beliau menjawab tentangnya, niscaya hal itu sampai kepada kita dalam apa yang sampai.

Dan selama kita tidak menemukan hadits shahih dari Rasulullah, atau pendapat para sahabat yang dapat dipercaya dinisbahkan kepada mereka, maka yang paling masuk akal adalah bahwa mereka tidak memahaminya secara rinci dan tidak bertanya tentangnya.

Namun bagaimana hal-hal ini berlalu tanpa mereka memahaminya, dan tanpa mereka bertanya tentangnya—padahal hal-hal itu menyibukkan kita sekarang sebagaimana menyibukkan orang-orang sebelum kita, dan akan menyibukkan orang-orang setelah kita, serta perbedaan dalam memahaminya banyak seperti sebelumnya tanpa mencapai pendapat yang pasti...

Apa maksud firman Allah di awal-awal surah: Alif Lam Mim. Alif Lam Mim Shad. Tha Sin Mim. Ha Mim. Shad. Qaf. Nun... dst.?

Apa maksud tangan Allah, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, mata-Nya?

Apakah Rasulullah tidak menafsirkannya dengan tafsir yang pasti? Apakah para sahabat tidak ingin mengetahuinya sehingga meninggalkan bagi kita tafsir yang meyakinkan?

Sebagian kitab tafsir meriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar bahwa itu termasuk yang Allah khususkan ilmunya...

Jika riwayat ini shahih, maka artinya mereka mengetahui hal itu dari Rasulullah...

Dan riwayat ini akan memutus tali ijtihad bagi setiap pembicara yang ingin menjelaskan dan memahaminya...

Namun tali hadits, tafsir, dan ijtihad dalam memahaminya tidak terputus, hingga pendapat-pendapat tentang makna huruf-huruf muqatha’ah mencapai puluhan. Makna ini adalah bahwa riwayat dari Abu Bakar dan Umar tidak shahih, dan tidak diterima oleh semua mufassir. Maka pintu pemahaman dan ijtihad di dalamnya tetap terbuka.

Kami melihat sekelompok mufassir berhenti dari menafsirkannya dan berkata “Allah lebih mengetahui maksud-Nya”, dan yang lain menafsirkannya dengan apa yang bisa Anda lihat dalam kitab-kitab tafsir... Semuanya adalah tafsir ijtihadi yang kembali kepada akal mufassir dan preferensinya...

Penyebab semua itu adalah bahwa kita tidak mewarisi dari para sahabat riwayat shahih yang dapat diandalkan, yang memutus jalan bagi pendapat lain.

Maka bagaimana hal-hal ini dibiarkan samar tanpa penjelasan?... Dan apakah masuk akal bahwa maknanya samar bagi mereka, lalu mereka diam dan tidak bertanya kepada Rasulullah—padahal beliau adalah rujukan tertinggi dalam tafsir dan pemahaman Al-Qur'an?...

Pertanyaan-pertanyaan yang saya temukan semuanya tumbuh dari lingkungan ilmiah dan pemikiran kita yang sekarang, yang kebiasaan orang-orang di dalamnya adalah bertanya tentang segala sesuatu, bahkan yang tidak memerlukan pertanyaan... Dalam pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan ini ada sesuatu... dari keheranan terhadap sikap para sahabat dan keengganan mereka bertanya... serta sesuatu dari harapan yang mahal agar para sahabat bertanya tentangnya kepada Rasulullah lalu beliau menjelaskannya dan menenangkan kita...

Apakah para sahabat patut dicela karena tidak bertanya atau menjelaskannya?

Tidak, kita harus memahami sikap mereka dan menghargainya... Kita harus berusaha dengan pemikiran kita untuk hidup bersama mereka dalam suasana yang mereka alami, serta menghargai kesederhanaan Arab yang membenci kerumitan—yang merupakan corak umum mereka—dan kita ketahui pada saat yang sama bahwa waktu mereka adalah waktu mobilisasi umum dan konsentrasi pada masalah-masalah penting yang mengambil perhatian utama dalam kehidupan mereka, yaitu aqidah dan pembangunannya, hukum-hukum dan komitmen terhadapnya, serta musuh-musuh yang banyak mengelilingi mereka dan keharusan menghadapi mereka... Dan pertama-tama serta terakhir adalah umat baru dalam segala hal, yang ditanam di tengah ladang ranjau, dan harus berhati-hati serta waspada sepenuhnya dalam perjalanannya...

Apakah suasana ini—bersama dengan apa yang kita ketahui tentang kesederhanaan Arab—memungkinkan para sahabat—dalam keadaan darurat—untuk mengalihkan perhatian kepada diskusi-diskusi teoretis tentang topik-topik yang tidak masuk dalam inti aqidah, ibadah, dan muamalah mereka? Topik-topik yang muncul kemudian, didorong oleh keamanan dan kelapangan, perluasan gerak pemikiran dan ilmiah, serta banyaknya orang non-Arab yang masuk Islam...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup setelah diutusnya sekitar dua puluh tahun yang merupakan masa dakwah kepada agama baru setelah jeda wahyu, sejak perintah beliau untuk memperingatkan kerabat terdekatnya, dan perintah beliau untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan kepada seluruh manusia. Beliau menghabiskan sekitar separuh masa itu di Mekkah dalam keadaan tekanan terus-menerus terhadap beliau dan para sahabatnya, serta penganiayaan keras yang mereka tanggung dengan sabar... serta pengejaran dan penyitaan terhadap pemikiran dan gerakan mereka...

Bahkan terhadap kehidupan mereka. Maka tidak masuk akal dalam kondisi ini muncul diskusi-diskusi teoretis tentang mutasyabihat yang mayoritasnya turun di Mekkah...

Rasulullah menghabiskan di Madinah sekitar sepuluh tahun, semuanya dihabiskan dalam pembelaan dan perang terus-menerus yang dipaksakan oleh musuh-musuhnya... Maka semuanya adalah tahun-tahun darurat dengan bahasa modern kita... Dan dalam keadaan darurat, tidak diterima pembicaraan dan diskusi seperti yang diterima biasanya dalam keadaan aman dan sejahtera... Melainkan mobilisasi umum memaksakan suasananya pada kehidupan dan pemikiran...

Apakah masuk akal dan dapat diterima bagi kita—jika kita berada dalam keadaan perang atau darurat dan mobilisasi—untuk memunculkan dalam surat kabar penelitian dan diskusi teoretis yang mengacaukan pemikiran dan memecahnya, meskipun tentang sebagian masalah agama yang jauh dari lingkungan yang kita alami?

Apakah dapat diterima bahwa kita memunculkan dalam keadaan seperti ini diskusi tentang kebolehan menerjemahkan Al-Qur'an, misalnya, atau ketidakbolehannya? Atau tentang siapa yang lebih berhak menjadi khalifah: Abu Bakar atau Ali? Atau tentang maksud huruf-huruf muqatha’ah yang memulai sebagian surah? Atau tentang qadha dan qadar?—apakah manusia dikendalikan atau diberi pilihan? Atau tentang Al-Qur'an, apakah ia makhluk atau bukan makhluk? Atau kita mengulang sejarah Bizantium lalu berdiskusi: mana yang asal, telur atau ayam?!

Dan jika kita tidak menerimanya sekarang dengan nafsu kita yang selalu ingin bicara dan berdebat, maka bagaimana kita bisa meminta dari Rasulullah... dan para sahabatnya—padahal mereka berada dalam keadaan darurat terus-menerus, keadaan perang, dan bahaya perang—agar mereka bertanya dan membahas hal-hal teoretis, sebagiannya dapat menimbulkan kegelisahan pemikiran, memecah upaya, mengacaukan pikiran, dan menjerumuskan ke dalam kebingungan?...

Namun bukankah memahami makna tangan Allah, pendengaran-Nya, dan penglihatan-Nya berkaitan dengan aqidah?

Ya... ada kaitannya... Namun mereka memahaminya secara umum dan meninggalkannya, cukup dengan itu dan tidak mengikuti apa yang ada di baliknya yang muncul kemudian... Mereka cukup dan Rasulullah cukup dengan mereka beriman kepada Allah dan sifat-sifat-Nya sebagaimana datang dalam Kitab-Nya, dan mereka tidak boleh menyibukkan diri dan pikiran mereka dengan mencari: bagaimana, dan mengapa? Bukti bahwa jika kita sekarang beriman kepada sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an, dan menyerahkan maknanya kepada Allah, maka tidak ada masalah—bahkan sebagian kita mengatakan: inilah yang diwajibkan atas kita. Demikianlah umat Islam berjalan setelah Rasulullah. Mereka menahan diri dari bertanya tentang mutasyabihat ini dan berkata bahwa Imam Malik: bertanya tentangnya adalah bid’ah.

Meskipun karakter kehidupan praktis dan kondisinya yang mereka alami telah memaksakan arah ini kepada mereka, ada selain itu atau sebelum itu petunjuk dari Al-Qur'an Al-Karim, dan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendorong hal seperti ini atau mengajak kepadanya, serta menggambarkan metode bagi pemikiran mereka dan cara pemahaman mereka terhadap Al-Qur'an serta agama baru yang mereka peluk...

لا تسألوا عن أشياء ...

إن المعروف فى تاريخ الأديان والمذاهب حتى الوضعية منها أن الدور الأول فيها يكون الجهد فيه منصرفا الى القواعد العامة، والى إشعال الروح، والى التطبيق العملى

لتعاليمها .. أما التفريعات والتعليلات، أو التماس فلسفة لهذه القواعد وهذه التعاليم، فذلك يكون بعد إرساء القواعد، وتكميل البناء، وغالبا ما يصاحب ذلك شىء من خمود الروح ولو نسيبا عما كانت عليه فى الدور الأول .. دور الحماس وفوران العاطفة ..

لقد وجدنا القرآن الكريم يتعرض لأناس يكثرون من سؤال الرسول ووجدوها فرصة يشبعون فيها نهمهم فى الأسئلة عما فى نفوسهم حتى أدى شغفهم بكثرة الأسئلة إلى أن يسأل واحد منهم رسول الله: اين أبى؟ فيضطر الرسول إلى أن يخبره أنه فى النار، وكان قد مات على الكفر .. ويسأل آخر: من أبى؟ وآخر أين ناقتى؟ وآخر يسأله عن الحج أواجب مرة فى العمر أم فى كل سنة .. إلى غير ذلك، فأنزل الله آية تحسم هذه الحالة، وتحد منها، لأنها لا جدوى منها ولا تتناسب مع الرسول ووقته ومهمته، ولا مع الصحابة وما ينبغى أن ينصرفوا إليه فى حياتهم، فقال

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْئَلُوا عَنْ أَشْياءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْئَلُوا عَنْها حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْها وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ 101 قَدْ سَأَلَها قَوْمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا بِها كافِرِينَ 102 [1]

وفى ألفاظ الآيتين وترتيبها المنطقى من قوة الردع والزجر ما تنخلع منها القلوب وتخرس الألسنة «إن تبد لكم تسؤكم. وإن تسألوا عنها حين ينزل

(1) المائدة/ 101، 102.

القرآن تبد لكم. ثم «قد سألها قوم من قبلكم ثم أصبحوا بها كافرين».

ردع قوى عن الاسترسال فى توجيه أسئلة للرسول لا داعى لها فوق أنها تشغله، وما كان هذا الردع القوى إلا لأن «الناس» كانوا كما جاء فى حديث أنس رضى الله عنه «سألوا نبى الله صلّى الله عليه وسلّم حتى أضنوه بالمسألة. وفى حديث آخر يوضح المعنى «فلما أكثروا عليه المسألة غضب». وكان من أثر غضبه عليه الصلاة والسلام أن قال لهم: ذرونى ما تركتكم.

وأجدنى فى حاجة لأن أقف قليلا لأوضح: لم غضب الرسول؟ حتى لا أترك فى ذهن القارئ علامة استفهام كبيرة لا جواب عنها ..

سبب الغضب يمكن أن يبينه هذا الحديث «خطب رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال- إن الله قد فرض عليكم الحج. فقال رجل- أفى كل عام؟ فسكت عنه. حتى أعاده ثلاثا. فقال: لو قلت: نعم لوجبت، ولو وجبت، ما قمتم بها أو لما استطعتم .. ذرونى ما تركتكم، فإنما هلك من كان قبلكم بكثرة سؤالهم واختلافهم على أنبيائهم، فإذا أمرتكم بشيء فخذوا منه ما استطعتم، وإذا نهيتكم عن شىء فاجتنبوه.» [1]

فمثل هذا السؤال من الرجل «أفى كل عام؟» لا محل له .. إذ لو كان فى كل عام لبينه الرسول دون حاجة إلى سؤال أحد. ثم كان على الرجل أن يكون فطنا حين لم يرد عليه الرسول، فيسكت هو الآخر، ولا يتمادى فى السؤال، كأنه هو الحريص وحده على البيان .. ومثل هذا الموقف كثيرا ما يدخل صاحبه فى باب التنطع الذى قال عنه الرسول «هلك المتنطعون»، والاسلام ذوق، وجمال، وإحساس، وجو، لا بد أن يشيع فيه هذا كله.

والذين ما رسوا مهنة الدعوة أو التدريس، هم أكثر الناس إدراكا وفهما لمثل هذا الموقف، فكثيرا ما يجابه المدرس بأسئلة، تنطلق من بعض الطلاب

(1) سنن النسائي ورواه مسلم وغيره بألفاظ مختلفة راجع تفسير الآية فى ابن كثير وفى المنار وغيرهما، وكيف كان غضب الرسول من كثرة الأسئلة فى موضوعات متعددة لا أهمية لها أو تؤدى للتشديد عليهم.

كالرشاش فى (الفاضى والمليان) وقبل الشرح أحيانا، وخارج موضوع المدرس أحيانا، ولو استرسل المدرس مع السائل لتشتت الموضوع، وضاع الوقت، وتبرم الباقون، ولو سكت الطالب (المتسائل) لجاءه الشرح الذى ينبغى له أن يفهمه، ولا يزيد عليه، وخرج هو وزملاؤه بالفائدة المرجوة ..

ثم ماذا ربح السائل: أين أبى؟ «حين قال له: فى النار .. ومعروف أن الذين ماتوا على الكفر مآلهم النار كما قال عمر ملطفا حدة الموقف، ثم هذا الذى سأل: من أبى؟ أكان يضمن- كما قالت له أمه توبخه- أن أمه علقت فيه من غير أبيه فكان يفضحها أمام الجميع ويفضح نفسه؟ جو اندفع إليه الصحابة، ولم يكن لائقا أبدا بهم ولا بالرسول ومهماته ..

فكان لا بد للرسول أن يغضب من هذه الحالة التى تضيع الوقت وتبعد المسلمين عن الطابع الجدى الوقور، الذى يجب أن يكون طابع مجالس الرسول، ومجالس العلم بعامة، وطابع الجد الذى يعيشون فيه،

ومن هذا يتضح جليا سبب الغضب، ويبعد عن الأذهان ما قد يناوشها- من أن الرسول لم يكن يجب أن يسأل عن بيان أمر شرعى، يتصل بتصحيح عقيدة المؤمن وعمله، لأن ذلك يتنافى مع طبيعة الرسالة ومهمة الرسول ..

ولعل الأمر يزداد وضوحا إذا ذكرت هنا آية أخرى فى هذا المقام- ولو أن الاستطراد سيطول- لكن هذه النقطة لا بدّ أن أوضحها تماما .. ولا أترك لها مخلفات فى الأذهان .. هذه الآية من سورة المجادلة تقول: يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذا ناجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْواكُمْ صَدَقَةً ذلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 12 [1]

كيف هذا؟

هل مناجاة الرسول ومحادثته تقتضى أن يتصدق المتحدث قبل أن يقدم على مناجاته؟

(1) سورة المجادلة الآية 12.

أليس الرسول مبينا، ومن مهمته أن يتحدث للناس ويستمع إليهم؟

بلى. من مهمته ذلك. ولكن حسن خلقه وسيره على طبيعته السهلة أطمع كل من حوله فى أن يتحدث معه، ويناجيه، وقد ينفرد به، وقد يشغله، وقد يقتحم عليه أوقات راحته، وقد يتحدث معه فى توافه الأمور، فكان تواضعه وحسن خلقه سببا فى إيجاد شىء من عدم الدقة فى فهم مقام الرسول، وما ينبغى أن يكون عليه الحديث معه .. ولما يجب من توفير وقته للمهم من الأمور، أو كما نقول سببا فى «رفع الكلفة» فى الحديث معه، فكان لا بد من وقفة، أو من هزة تنبه الجميع إلى ما يجب أن يكون عليه الحديث مع الرسول، فليس هو مثلهم. إنه رسول .. وإذا كان قد رباه ربه على التواضع، فليس معنى ذلك أن تزيلوا كل حجاب، أو ترفعوا الكلفة بينكم وبينه وتشغلوا كل وقته بأسئلتكم ومحادثاتكم.

إن مقامه عظيم، ومقام المحادثة معه عظيم، يقتضى أن يقدم من يريد الحديث معه صدقة. نعم. لا حجاب، ولا حراس، ولا استئذان ولكن صدقة من مال، أفهمتم مقام الرسول؟ أفهمتم خطورة التحدث معه؟ لا بد أن تتأدبوا. لا بد أن تحتاطوا.

وعرفوا قدر المحادثة مع الرسول ومناجاته وقيمة وقته، وأحجموا .. حتى أقرب الناس إليه وهو على رضى الله عنه، لما أراد أن يحدثه، قدم صدقة قبل أن يتحدث معه، ثم تحدث .. وكان المهم أن يعوا هذا الدرس، ويعلموا أنهم يتحدثون مع رسول الله، ولا بد أن يكون الحديث جديا مناسبا لمقامه.

وقد فهموا هذا ووعوه، ثم أدركتهم رحمة الله سريعا وأعفتهم من هذه الصدقة، لكن بعد أن فهموا وتعلموا، فقال الله لهم أَأَشْفَقْتُمْ أَنْ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْواكُمْ صَدَقاتٍ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا وَتابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكاةَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِما تَعْمَلُونَ 13 [1]

ومنه حفظكم لمقام الرسالة والرسول وتأدبكم فى الحديث معه.

(1) المجادلة/ 13.

وفى معنى هذا أيضا يقول الله «لا تجعلوا دعاء الرسول بينكم كدعاء بعضكم بعضا «من أواخر سورة النور، وقوله فى أوائل سورة الحجرات «يأيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبى ولا تجهروا له بالقول كجهر بعضكم لبعض أن تحبط أعمالكم وأنتم لا تشعرون، إن الذين يغضّون أصواتهم عند رسول الله أولئك الذين امتحن الله قلوبهم للتقوى لهم مغفرة وأجر عظيم، إن الذين ينادونك من وراء الحجرات (كما ينادون أمثالهم) أكثرهم لا يعقلون، ولو أنهم صبروا حتى تخرج إليهم لكان خيرا لهم».

أدب مع النبوة يجب أن تتأدبوا به. فلما غفلوا عنه غضب الرسول وغضب الله له. حتى لا يكون هؤلاء (المتنطعون) سببا فى الإثقال على غيرهم .. كما قال الله «إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ، وَإِنْ تَسْئَلُوا عَنْها حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ». وكما قال الرسول:- «لو قلت نعم لوجبت، ولما استطعتم».

ولقد كان هذا الدرس نافعا ومفيدا، بل ذهب إلى نفوس الصحابة إلى أكثر من مداه .. وهذا هو شاهدنا وموضع هدفنا من الآية وأثرها ..

فلقد تخوف الصحابة من السؤال، أى سؤال، وتحرجوا منه، مما يمكن أن نعده رد فعل لما كانوا عليه أولا، قبل أن يغضب الرسول وتنزل الآية .. فقد أداهم الخوف والخشية إلى أن يحجموا عن الأسئلة، خوفا من أن يبدو منهم ما قد يكون محل مؤاخذة فآثروا العافية .. والرواية الآتية تبين لنا إلى حد آثروا العافية وتخوفوا الأسئلة ..

روى مسلم فى صحيحه عن أنس رضى الله عنه قال «كنا نهينا أن نسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن شىء، وكان يعجبنا أن يجئ الرجل الغافل من أهل البادية (أى الذى لم يبلغه أمر النهى كما بلغنا) فيسأله ونحن نسمع [1]، وأخرج الإمام أحمد فى مسنده عن أبى أمامة قال:- «لما نزلت، يأيها الذين آمنوا لا تسألوا عن أشياء» الآية، كنا قد اتقينا أن نسأله صلى الله عليه وسلم فأتينا أعرابيا،

(1) عن تفسير المنار ح 7 ص 148 نقلا عن فتح البارى.

فرشوناه برداء وقلنا سل النبى صلى الله عليه وسلم والأعرابى ليس بملتزم بما يلتزمه المقيمون مع الرسول .. والرشوة هنا ليست هى الرشوة المحرّمة طبعا، بل هى تحريض على خير يريدونه ولا يستطيعونه.

وروى مسلم أيضا عن النواسى بن سمعان قال: «أقمت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم سنة بالمدينة ما يمنعنى من الهجرة إلا المسألة، كان أحدنا إذا هاجر لم يسأل النبى صلى الله عليه وسلم».

فلم يتخذ النواسى صفة المقيم بالمدينة حتى لا ينطبق عليه ما ينطبق على المقيمين مع الرسول من تحشم واحتياط فى الأسئلة، وظل سنة ضيفا، دون أن يأخذ حكم الإقامة،

لتكون له الحرية فى سؤال الرسول عما يريد. لأن الحرج كان خاصا بالمقيمين لا بالوافدين؟؟؟ .. لأنهم يتزودون بالعلم ويرحلون، وتسامح معهم أكثر مما يتسامح مع المقيمين.

وروى أبو يعلى عن البراء «إن كان ليأتى على السنة، أريد أن أسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الشيء فأتهيب، وإن كنا لنتمنى الأعراب، أى قدومهم، ليسألوا فيسمعوا هم الأجوبة عن أسئلة الأعراب فيستفيدوا منها ..

إلى هذا الحد بلغ رد فعل هذا الدرس الذى فهموه من الآية: إحجام عن السؤال مع رغبتهم الشديدة فيه، حتى يحرضوا الأعرابى، ليسأل بدلهم، ويغروه بشيء فى مقابل السؤال، واستماعهم معه للجواب .. مبالغة فى الأدب، مع حرص شديد على الاستفادة ..

ومع أن الآية- كما يفهم من مدلولها- لم تنههم عن السؤال أيا كان موضوعه، بل نهتهم عن أسئلة من نوع خاص، بينته لهم «إن تبد لكم تسؤكم» كما أن الحالة التى نزلت الآية تعالجها كانت مفهومة عندهم، أقول ومع ذلك أحدثت الآية فى نفوسهم رد فعل زائد عن الحد المطلوب فيها.

ولو أنهم- مع هذا المعروف عنهم- لم يغفلوا أول الأمر عما كان يجب عليهم من مراعاة مقام الرسول، والحفاظ على وقته الثمين، الذى يجب صرفه كله للأمور المهمة، لما حصل هذا كله .. ولكنه درس لهم، ولكل من أتى أو يأتى من بعدهم، حتى لا تشغلهم التوافه عن العظائم، ولا يتشددوا فيشدد الله

عليهم، وحتى يوفروا للعلماء ولمن يدبرون لهم الأمور أوقاتهم، وينزلوا الناس منازلهم.

ونعود بعد هذا لنتساءل- هل معنى هذا أنه لم يعد بعد نزول الآية استفسار من الصحابة للرسول عن أمور تهمهم فى دينهم؟

. لا .. إذ لا يمكن أن تزول ظاهرة السؤال والجواب .. ما دام الرسول حيا .. ينزل عليه الوحى بتشريعات جديدة، تحتاج أحيانا- ولدى بعض الناس على الأقل- إلى استفسار وتوضيح ..

فما معنى تهيب هؤلاء، حتى كانوا يستعينون بالوافدين عليهم، أو ينتظرون قدومهم، ليسمعوا أسئلتهم وجواب الرسول عنها؟

الذى أفهمه من جملة النصوص ومن طبيعة الرسالة معا أنه حدث تهيب عام من الأسئلة بعد نزول الآية، لم يمتد إلى الضرورى مما تمس الحاجة إلى السؤال عنه .. ولكنه وضع حدا للسؤال فيما لا تمس الحاجة إليه، ولا تتوقف صحة العقيدة والعمل عليه .. بالإضافة إلى أن بعض الناس رأى من باب الأحوط أن يأخذ نفسه بعدم السؤال عن شىء، خوفا من الوقوع فى الحرج، مكتفيا بما يسمعه من سؤال الوافدين على الرسول، وإجابته لهم، أو ببيان صحابى له، يكون أكثر إدراكا وفهما منه ..

ومما لا شك فيه أن هذا الجو الذى أحدثه نزول هذه الآية كان له تأثيره فيما يتصل الاستفسار عن بعض ما فى القرآن من ألفاظ وموضوعات ذكرنا شيئا منها وتساءلنا- كيف تمر فى عهد الرسول، دون أن يسأل أحد من الصحابة عنها ودون أن يصلنا شىء موثوق به عن معناها وتفسيرها، وكان من الممكن- لو وجد- أن يقطع كل خلاف بين العلماء حول تفسيرها ..

Jangan bertanya tentang hal-hal tertentu...


Diketahui dalam sejarah agama dan mazhab—bahkan yang sekuler sekalipun—bahwa tahap pertama di dalamnya upaya difokuskan pada kaidah-kaidah umum, menyalakan semangat, serta penerapan praktis terhadap ajaran-ajarannya... Adapun cabang-cabang, penjelasan-penjelasan, atau mencari filsafat bagi kaidah-kaidah dan ajaran ini, maka itu terjadi setelah kaidah-kaidah ditegakkan, bangunan disempurnakan, dan sering kali disertai dengan sedikit meredupnya semangat—meskipun relatif—dibandingkan dengan tahap pertama... tahap antusiasme dan gejolak emosi...

Kami menemukan Al-Qur'an Al-Karim membahas orang-orang yang banyak bertanya kepada Rasulullah dan menjadikannya kesempatan untuk memuaskan nafsu bertanya mereka tentang apa yang ada dalam jiwa mereka hingga pertanyaan mereka yang berlebihan membuat salah seorang dari mereka bertanya kepada Rasulullah: “Di mana ayahku?” maka Rasulullah terpaksa memberitahunya bahwa ia di neraka, padahal ia meninggal dalam kekafiran... Dan yang lain bertanya: “Siapa ayahku?” Dan yang lain: “Di mana untaku?” Dan yang lain bertanya tentang haji: apakah wajib sekali seumur hidup atau setiap tahun... dan seterusnya, maka Allah menurunkan ayat yang menghentikan keadaan ini dan membatasinya, karena tidak ada manfaat darinya dan tidak sesuai dengan Rasulullah, waktunya, serta tugasnya, juga tidak sesuai dengan para sahabat dan apa yang seharusnya mereka perhatikan dalam kehidupan mereka, maka Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang hal-hal yang jika dijelaskan kepada kalian akan menyusahkan kalian. Dan jika kalian bertanya tentangnya ketika Al-Qur'an diturunkan, niscaya akan dijelaskan kepada kalian. Allah telah memaafkannya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Sungguh, ada kaum sebelum kalian yang telah bertanya tentang hal-hal itu, kemudian mereka menjadi kafir karenanya.” (QS. Al-Maidah: 101-102) [1]

Dalam lafazh kedua ayat dan urutannya yang logis terdapat kekuatan pencegahan dan teguran yang membuat hati bergetar dan lidah terdiam: “Jika dijelaskan kepada kalian akan menyusahkan kalian. Dan jika kalian bertanya tentangnya ketika Al-Qur'an diturunkan, niscaya akan dijelaskan kepada kalian.” Kemudian “Sungguh, ada kaum sebelum kalian yang telah bertanya tentang hal-hal itu, kemudian mereka menjadi kafir karenanya.”

Teguran kuat terhadap pengembaraan dalam mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah yang tidak perlu—selain karena itu menyibukkan beliau. Teguran kuat ini tidak ada kecuali karena “orang-orang”—sebagaimana datang dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu—“telah bertanya kepada Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga membuat beliau lelah dengan pertanyaan.” Dalam hadits lain yang menjelaskan makna: “Ketika mereka banyak bertanya kepadanya, beliau marah.” Dan dari akibat kemarahan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau berkata kepada mereka: “Biarkan aku sebagaimana aku membiarkan kalian.”

Saya perlu berhenti sejenak untuk menjelaskan: Mengapa Rasulullah marah? Agar tidak meninggalkan tanda tanya besar dalam benak pembaca tanpa jawaban...

Penyebab kemarahan ini dapat dijelaskan oleh hadits ini: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah lalu bersabda: ‘Sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian.’ Maka seorang lelaki berkata: ‘Apakah setiap tahun?’ Beliau diam darinya. Hingga ia mengulanginya tiga kali. Maka beliau bersabda: ‘Jika aku katakan ya, niscaya menjadi wajib, dan jika menjadi wajib, kalian tidak akan mampu melaksanakannya atau tidak akan sanggup... Biarkan aku sebagaimana aku membiarkan kalian. Sesungguhnya yang binasa sebelum kalian adalah karena banyak bertanya dan perselisihan mereka terhadap para nabi mereka. Jika aku memerintahkan kalian sesuatu, maka ambillah darinya sesuai kemampuan kalian. Dan jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah.’” [1]

Maka pertanyaan seperti ini dari lelaki “Apakah setiap tahun?” tidak pada tempatnya... Sebab jika setiap tahun, niscaya Rasulullah menjelaskannya tanpa perlu ada yang bertanya. Kemudian lelaki itu seharusnya cerdas ketika Rasulullah tidak menjawabnya, lalu ia diam, dan tidak melanjutkan bertanya, seolah-olah hanya ia yang peduli dengan penjelasan... Sikap seperti ini sering kali memasukkan pelakunya ke dalam pintu tanaththu’ (berlebihan) yang dikatakan Rasulullah tentangnya: “Binasa orang-orang yang berlebihan.” Islam adalah selera, keindahan, perasaan, dan suasana—harus menyebar di dalamnya semua itu.

Orang-orang yang belum terbiasa dengan profesi dakwah atau pengajaran adalah orang yang paling memahami sikap seperti ini. Sering kali seorang guru dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari sebagian murid seperti hujan rintik dalam (yang penuh dan yang kosong), kadang sebelum penjelasan, kadang di luar topik pelajaran. Jika guru mengikuti si penanya, topik akan tercerai-berai, waktu terbuang, dan yang lain bosan. Jika si penanya diam, penjelasan yang seharusnya ia pahami akan datang, dan ia serta teman-temannya keluar dengan manfaat yang diharapkan...

Lalu apa yang didapat si penanya: “Di mana ayahku?” ketika dikatakan kepadanya: “Di neraka”... Padahal diketahui bahwa orang-orang yang meninggal dalam kekafiran tempat kembalinya adalah neraka—sebagaimana dikatakan Umar dengan melunakkan kekerasan situasi, lalu yang bertanya ini: “Siapa ayahku?” Apakah ia menjamin—sebagaimana dikatakan ibunya menegurnya—bahwa ibunya mengandungnya tanpa ayahnya sehingga ia memalukan ibunya di hadapan semua orang dan memalukan dirinya sendiri? Suasana yang didorong para sahabat, dan sama sekali tidak pantas bagi mereka maupun bagi Rasulullah serta tugas-tugas beliau...

Maka wajar jika Rasulullah marah terhadap keadaan ini yang menyia-nyiakan waktu dan menjauhkan kaum muslimin dari corak serius dan tenang yang harus menjadi corak majelis Rasulullah, majelis ilmu secara umum, serta corak keseriusan yang mereka jalani.

Dari sini jelas sekali penyebab kemarahan, dan menjauhkan dari pikiran apa yang mungkin mengusiknya—bahwa Rasulullah tidak seharusnya ditanya tentang penjelasan hukum syariat yang berkaitan dengan perbaikan aqidah dan amal orang beriman, karena itu bertentangan dengan tabiat risalah dan tugas Rasul...

Mungkin masalah menjadi lebih jelas jika saya sebutkan di sini ayat lain dalam konteks ini—meskipun pengembaraan akan panjang—namun poin ini harus saya jelaskan sepenuhnya... dan tidak meninggalkan sisa-sisa di benak... Ayat ini dari surah Al-Mujadilah berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermusyawarah dengan Rasul, maka berikanlah sedekah sebelum musyawarah kalian. Itu lebih baik bagi kalian dan lebih bersih. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mujadilah: 12) [1]

Bagaimana ini?

Apakah musyawarah dan pembicaraan dengan Rasulullah mengharuskan orang yang berbicara bersedekah sebelum memulai musyawarahnya?

Bukankah Rasulullah adalah penjelas, dan tugasnya adalah berbicara kepada manusia serta mendengarkan mereka?

Benar. Itu tugasnya. Namun akhlak baiknya dan sikapnya yang mudah membuat semua orang di sekitarnya tamak untuk berbicara dengannya, bermusyawarah dengannya, mungkin menyendiri dengannya, mungkin menyibukkannya, mungkin menerobos waktu istirahatnya, mungkin berbicara dengannya tentang hal-hal remeh... Maka kerendahan hati dan akhlak baiknya menjadi penyebab munculnya sedikit ketidaktepatan dalam memahami kedudukan Rasulullah, dan apa yang seharusnya menjadi batas pembicaraan dengannya... Dan agar waktu beliau tersedia untuk hal-hal penting, atau seperti yang kita katakan sekarang: penyebab “hilangnya batasan” dalam pembicaraan dengannya, maka harus ada penghentian atau guncangan yang mengingatkan semua orang tentang apa yang seharusnya menjadi sikap dalam berbicara dengan Rasulullah. Beliau bukan seperti mereka. Beliau adalah Rasul... Dan jika Tuhannya mendidik beliau dengan kerendahan hati, bukan berarti kalian menghilangkan semua tabir, atau menghapus batasan antara kalian dan beliau serta menyibukkan seluruh waktunya dengan pertanyaan dan pembicaraan kalian.

Kedudukannya agung, dan kedudukan pembicaraan dengannya agung, mengharuskan orang yang ingin berbicara dengannya mendahulukan sedekah. Ya. Tidak ada tabir, tidak ada penjaga, tidak ada izin—tetapi sedekah dari harta. Apakah kalian memahami kedudukan Rasulullah? Apakah kalian memahami bahaya berbicara dengannya? Haruslah kalian beradab. Haruslah kalian berhati-hati.

Dan mereka mengetahui nilai pembicaraan dan musyawarah dengan Rasulullah serta nilai waktu beliau, lalu mereka mundur... hingga orang yang paling dekat dengannya, yaitu Ali radhiyallahu ‘anhu, ketika ingin berbicara dengannya, mendahulukan sedekah sebelum berbicara dengannya, kemudian berbicara... Yang terpenting adalah mereka memahami pelajaran ini, dan mengetahui bahwa mereka berbicara dengan Rasulullah, dan pembicaraan harus serius sesuai dengan kedudukannya.

Mereka memahami dan mengamalkannya, kemudian rahmat Allah segera menjangkau mereka dan membebaskan mereka dari sedekah ini—tetapi setelah mereka memahami dan belajar—maka Allah berfirman kepada mereka: “Apakah kalian takut memberikan sedekah sebelum musyawarah kalian? Maka ketika kalian tidak melakukannya dan Allah menerima taubat kalian, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 13) [1]

Dari sini terpelihara bagi kalian kedudukan kenabian dan Rasul, serta adab kalian dalam berbicara dengannya.

Dalam makna ini juga Allah berfirman: “Janganlah kalian menjadikan seruan Rasul di antara kalian seperti seruan sebagian kalian kepada sebagian yang lain.” (dari akhir surah An-Nur), dan firman-Nya di awal surah Al-Hujurat: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian di atas suara Nabi dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras seperti kerasnya sebagian kalian kepada sebagian yang lain, sehingga amal kalian menjadi sia-sia tanpa kalian sadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suara mereka di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari belakang kamar-kamar (sebagaimana mereka memanggil teman-teman mereka), kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar hingga engkau keluar kepada mereka, niscaya itu lebih baik bagi mereka.”

Adab terhadap kenabian yang harus kalian amalkan. Ketika mereka lalai darinya, Rasulullah marah dan Allah marah untuknya. Agar orang-orang “yang berlebihan” ini tidak menjadi penyebab membebani orang lain... sebagaimana Allah berfirman: “Jika dijelaskan kepada kalian akan menyusahkan kalian. Dan jika kalian bertanya tentangnya ketika Al-Qur'an diturunkan, niscaya akan dijelaskan kepada kalian.” Dan sebagaimana Rasulullah bersabda: “Jika aku katakan ya, niscaya menjadi wajib, dan kalian tidak akan sanggup.”

Pelajaran ini bermanfaat dan berguna, bahkan masuk ke dalam jiwa para sahabat melebihi batasnya... Dan inilah saksi dan tujuan kita dari ayat tersebut serta dampaknya...

Para sahabat menjadi takut bertanya—yaitu bertanya apa pun—dan merasa berat melakukannya, sehingga kita bisa menganggapnya sebagai reaksi berlebihan terhadap apa yang mereka lakukan sebelumnya, sebelum Rasulullah marah dan ayat turun... Ketakutan dan kekhawatiran membawa mereka untuk menahan diri dari bertanya, takut terjatuh dalam hal yang dapat dicela... Mereka memilih keselamatan... Riwayat berikut menunjukkan kepada kita sejauh mana mereka memilih keselamatan dan takut bertanya...

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami dilarang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sesuatu. Kami senang jika datang seorang lelaki dari penduduk Badui yang tidak tahu larangan itu, lalu ia bertanya dan kami mendengar.” [1] Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abu Umamah berkata: “Ketika turun: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang hal-hal...’ ayat tersebut, kami takut bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kami mendatangi seorang Badui, kami beri ia jubah dan berkata: ‘Tanyakanlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Badui itu tidak terikat dengan apa yang mengikat orang-orang yang tinggal bersama Rasulullah... Dan ‘suap’ di sini tentu bukan suap yang diharamkan, melainkan dorongan kepada kebaikan yang mereka inginkan namun tidak mampu melakukannya.

Muslim juga meriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam’an berkata: “Saya tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama satu tahun di Madinah. Yang menghalangiku dari hijrah hanyalah pertanyaan. Jika salah seorang dari kami hijrah, ia tidak bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Maka An-Nawwas tidak mengambil status penduduk Madinah agar tidak berlaku padanya apa yang berlaku pada penduduk yang tinggal bersama Rasulullah berupa rasa malu dan kehati-hatian dalam bertanya. Ia tetap sebagai tamu selama satu tahun, tanpa mengambil hukum tinggal, agar memiliki kebebasan bertanya kepada Rasulullah tentang apa yang ia inginkan. Karena rasa berat itu khusus bagi penduduk, bukan bagi pendatang... karena mereka mengambil ilmu lalu pergi, dan lebih ditoleransi daripada penduduk.

Abu Ya’la meriwayatkan dari Al-Bara’: “Kadang setahun berlalu, aku ingin bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sesuatu, namun aku takut. Kami justru mengharapkan datangnya orang-orang Badui agar mereka bertanya, lalu kami mendengar jawaban Rasulullah atas pertanyaan mereka sehingga kami mendapat manfaat darinya...”

Sampai sejauh ini reaksi dari pelajaran yang mereka pahami dari ayat tersebut: menahan diri dari bertanya meskipun sangat menginginkannya, hingga mereka mendorong orang Badui untuk bertanya menggantikan mereka, dan memberinya sesuatu sebagai imbalan pertanyaan, serta mendengarkan bersamanya jawaban Rasulullah... berlebihan dalam adab, disertai semangat besar untuk mendapat manfaat...

Meskipun ayat tersebut—sebagaimana dipahami dari maknanya—tidak melarang mereka bertanya apa pun, melainkan melarang pertanyaan jenis tertentu yang dijelaskan kepada mereka “jika dijelaskan kepada kalian akan menyusahkan kalian” sebagaimana kondisi yang diatasi ayat itu dipahami oleh mereka, saya katakan meskipun demikian ayat itu menimbulkan reaksi berlebihan dalam jiwa mereka melebihi batas yang diperlukan di dalamnya.

Meskipun demikian—dengan apa yang diketahui tentang mereka—mereka tidak lalai pada awalnya tentang apa yang seharusnya mereka perhatikan berupa penghormatan terhadap kedudukan Rasulullah dan menjaga waktu beliau yang berharga, yang harus dihabiskan seluruhnya untuk hal-hal penting, niscaya tidak terjadi semua ini... Namun itu adalah pelajaran bagi mereka dan bagi setiap yang datang atau akan datang setelah mereka, agar hal-hal remeh tidak menyibukkan mereka dari hal-hal besar, dan agar mereka tidak berlebihan sehingga Allah memperberat atas mereka, serta agar mereka menyediakan waktu bagi ulama dan orang-orang yang mengatur urusan mereka, serta menempatkan manusia pada kedudukannya.

Kita kembali setelah ini untuk bertanya—apakah artinya ini bahwa setelah turunnya ayat tersebut tidak ada lagi pertanyaan dari para sahabat kepada Rasulullah tentang urusan agama mereka yang penting bagi mereka?

Tidak... Karena tidak mungkin hilang fenomena bertanya dan menjawab... selama Rasulullah masih hidup... wahyu turun kepadanya dengan syariat baru, yang terkadang—setidaknya bagi sebagian orang—memerlukan pertanyaan dan penjelasan...

Maka apa makna ketakutan mereka ini, hingga mereka meminta bantuan pendatang atau menunggu kedatangan mereka, agar mendengar pertanyaan mereka dan jawaban Rasulullah atasnya?

Yang saya pahami dari rangkaian teks dan tabiat risalah sekaligus adalah bahwa terjadi ketakutan umum terhadap pertanyaan setelah turunnya ayat tersebut, namun tidak meluas hingga ke hal-hal yang diperlukan dan dibutuhkan untuk bertanya tentangnya... Melainkan ia menetapkan batas bagi pertanyaan tentang hal-hal yang tidak diperlukan dan tidak bergantung padanya kebenaran aqidah dan amal... Ditambah lagi bahwa sebagian orang melihat dari sisi kehati-hatian untuk mengambil diri mereka tidak bertanya tentang sesuatu, takut jatuh dalam hal yang memberatkan, cukup dengan apa yang mereka dengar dari pertanyaan pendatang kepada Rasulullah dan jawaban beliau kepada mereka, atau penjelasan sahabat yang lebih memahami daripada mereka...

Tidak diragukan bahwa suasana yang ditimbulkan turunnya ayat ini memiliki pengaruh dalam hal pertanyaan tentang sebagian lafazh dan topik dalam Al-Qur'an yang telah kami sebutkan sebagiannya dan kami tanyakan—bagaimana hal itu berlalu pada masa Rasulullah tanpa ada seorang pun dari para sahabat bertanya tentangnya dan tanpa sampai kepada kita sesuatu yang dapat diandalkan tentang makna dan tafsirnya, padahal jika ada niscaya itu akan memutus setiap perselisihan di antara ulama tentang tafsirnya...

فى قلوبهم مرض

ومع ذلك لم تكن هذه الآية هى كل ما فى الموضوع، بل كان هناك غيرها، يشاركها فى تأثيرها.

وأعنى بها قوله تعالى

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتابَ مِنْهُ آياتٌ مُحْكَماتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتابِ وَأُخَرُ مُتَشابِهاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ ما تَشابَهَ مِنْهُ ابْتِغاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغاءَ تَأْوِيلِهِ وَما يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا وَما يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُوا الْأَلْبابِ 7 [1]

وقد كان سبب نزول الآية نقاشا دار بين النبى عليه الصلاة والسلام، وبين وقد نصارى نجران، فى شأن عيسى عليه السلام، كانت نتيجته إفحامهم، فلجئوا إلى الجدال والمراء فقالوا: ألست تقول إنه من روح الله وكلمته؟ قال:

بلى، قالوا: هذا حسبنا .. فنزلت الآية تندد بهم لوقوفهم- خدمة لهواهم- عند ما ورد فى القرآن من أنه روح الله وكلمته، غير ناظرين إلى الآيات الأخرى المحكمة التى تبين حقيقة عيسى عليه السلام، مثل قوله: «إن هو إلا عبد أنعمنا عليه» فى سورة الزخرف المكية، وغير ذلك من الآيات التى تبين حقيقة ولادته وبشريته مثل «إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتانِيَ الْكِتابَ .. » [2].

ونلاحظ أن الآية توجه حملتها على الذين يعمدون إلى الألفاظ المتشابهة ..

مثل هؤلاء .. فيؤولونها حسب هواهم، بقصد إثارة الفتنة .. وابعاد الناس

(1) أوائل سورة عمران.

(2) سورة مريم الآية 30.

عن الحق .. «فأما الذين فى قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله» على حسب هواهم، مع أن هناك آيات أخرى تحول بينهم وبين اتباع الهوى ..

ولكنهم يتعامون عنها، ويهملونها، انتصارا لرأيهم، وتلبيسا على العوام، وجذبا لهم ...

وفى مقابل ذم هؤلاء الذين يتعامون عن الحقائق، ويثيرون الفتن، ذكر الله طائفة أخرى لا تذهب مذهب الأولين فى إثارة الفتن بالمتشابه بل تؤمن به إيمانها بالمحكم، باعتبار أنهما صادران عن الله سبحانه، وسماهم الراسخين فى العلم، أى الراسخين فى علمهم بالله جل جلاله، وبالتالى فى إيمانهم به. فقال تعقيبا على الأولين وبيانا لموقف الآخرين (وَما يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا وَما يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُوا الْأَلْبابِ) . ربنا (أى يدعو الراسخون المؤمنون ربهم قائلين) لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب، لفرط إيمانهم واعتصامهم بربهم.

وبذلك وضح موقف فريقين من الناس: فريق يعمد للمتشابه ليؤوله تأويلات فاسدة يقصد منها إثارة الفتن، وفريق يؤمن به كما يؤمن بالمحكم من الآيات.، والفريق الأول مذموم.، والفريق الثانى ممدوح.

ويؤكد هذا حديث روته السيدة عائشة رضى الله عنها تقول فيه: (تلا رسول الله صلى الله عليه وسلم هذه الآية وقال: (فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذرهم.

ومع أن الآية والحديث- كما رأيت- يذمان الذين يتبعون المتشابه، ويؤولونه تأويلا يثير الشبه والفتن، ولا يتناولان الذين يسألون عن المتشابه سؤالا بريئا بقصد الفهم، أو الذين يذكرونه، ويردونه إلى المحكم، ويفهمونه على ضوئه، أقول مع هذا أصبح السؤال عن المتشابه أو الحديث عنه مثيرا لعلامة استفهام حول صاحبه، أو واضعا له موضع الريبة فى إيمانه، حتى تتبين حقيقته ...

ولذا كان من الطبيعى أن يتحاشى المخلصون الصادقون هذه الريبة، ويبتعدوا ما أمكن عن الكلام حول المتشابه ويكتفوا بالفهم الإجمالى، رادين كل

ما يسمعونه أو يقرءونه منه، إلى إيمانهم العميق بالله جل جلاله. وتسليمهم المطلق بكل ما ورد فى القرآن، ولو لم يفهموا حقيقة المراد منه، حتى يكونوا ممن مدحهم الله.

فمثلا الآيات التى تتحدث عن مشيئة الله ومشيئة العباد. وعن قضاء الله وأفعال العباد. فيها آيات ترد كل شىء إلى الله «وما تشاءون إلا أن يشاء الله» ..

وآيات تضيف العمل إلى الإنسان «كل امرئ بما كسب رهين» فكيف نوفق بين مشيئة الله، وقضائه وقدره بالنسبة لعباده، وبين محاسبة العبد على ما يفعل؟

هذه القضية التى شغلت الناس قبل الإسلام وبعده، وإلى الآن، وإلى ما شاء الله من أزمان وأجيال ..

وفى غمرة الاختلاف حول هذه القضية نتمنى- حسب تفكيرنا- أن لو أثار الصحابة هذه القضية ليجدوا لهم ولنا حلها من الرسول صلى الله عليه وسلم.

ولكنا لم نرث هذا البيان، ولو كان .. لورثناه ..

وبالإضافة إلى هذا نجد توجيها من الرسول فى هذا: «إذا ذكر القدر أو القضاء فأمسكوا» [1] أى ولا تخوضوا فى البحث عنه .. ولذلك كان الخلفاء بعد الرسول يطاردون كل من يثير كلاما حول القدر، بعد اتساع رقعة الإسلام.

وعن صفات الله، وما ورد عنها فى القرآن من الوجه، واليد والعين والسمع والبصر .. الخ- مما يدل على المشابهة، ويفيد فى ظاهره التجسيم، وهو محال، بنص الآية الأخرى «ليس كمثله شىء» فماذا تفيد- إذن- وما المراد بها؟.

كان الكلام فى هذه الناحية والاسترسال فيه مما حظره الرسول، فوق أنه يثير شبها حول صاحبه .. ولذا لم نجد من يسأل عن حقيقة الوجه واليد .. الخ ..

بل آمنوا بها كما وردت مع إيمانهم بأنه ليس كمثله شىء ...

يقول العالم المحقق شاه ولى الله الدهلوى فى كتابه (حجة الله البالغة) ص 134 ج 1 بعد أن تكلم عن هذه الصفات: (والحق فى هذا المقام أن النبى صلى

(1) رواه الطبرانى من حديث ابن مسعود بإسناد حسن.

الله عليه وسلم لم يتكلم فيه بشيء، بل حجر (أى منع) أمته عن التكلم فيه، والبحث عنه، فليس لأحد أن يقدم على ما حجره).

وقد روى أن عمر بن الخطاب رضى الله عنه ضرب رجلا يقال له (صبيغ) ، لأنه كان يسأل عن متشابه القرآن، وما زال به حتى تاب ..

يقول الإمام الشاطبى فى كتابه (الموافقات) الجزء الثانى ص 87 فى فصل عقده لبيان أن الاعتناء بالمعانى المبثوثة فى الخطاب هو المقصود الأعظم:

(ومن المشهور تأديبه لصبيغ حين كان يكثر السؤال عن (المرسلات) و (العاصفات) ونحوهما).

وجاء فى مسند الدارمى ما يوضح ذلك حيث قال: «أخبرنا عبد الله بن صالح حدثنى الليث أخبرنى ابن عجلان عن نافع مولى عبد الله، أن صبيغا (بالصاد المهملة) العراقى، جعل يسأل عن أشياء فى القرآن، فى أجناد المسلمين، حتى قدم مصر، فبعث به عمرو بن العاص إلى عمر بن الخطاب، فلما أتاه الرسول بالكتاب فقرأه فقال: أين الرجل؟ فقال: فى الرحل: فقال عمر: أبصر أن يكون ذهب، فتصيبك منى به العقوبة الموجعة. فأتاه، فقال عمر: تسأل محدثة؟ فأرسل إلى رطائب من جريد (أى لإحضارها) ، فضربه بها، حتى ترك ظهره دبرة [1]. ثم تركه حتى برأ، ثم عاد إليه، ثم تركه، حتى برأ، فدعا به ليعود إليه، قال: فقال صبيغ: إن كنت تريد قتلى فاقتلنى قتلا جميلا، وإن كنت تريد أن تداوينى فقد- والله- برأت. فأذن له إلى أرضه، وكتب إلى أبى موسى الأشعرى أن لا يجالسه أحد من المسلمين، فاشتد ذلك على الرجل. فكتب أبو موسى الأشعرى إلى عمر أنه قد حسنت توبته.

فكتب عمر أن يأذن للناس بمجالسته. وهذا كله لأنه أثار فى الناس أسئلة لم يعهدوها، وليس من المناسب إثارتها ..

وفى رواية: فأتى بعراجين النخل فقال من أنت؟ قال عبد الله صبيغ، فأخذ عمر عرجونا من تلك العراجين فضربه وقال: أنا عبد الله عمر .. فجعل

(1) بها قروح كما يفعل رحل الدابة بها من القروح.

له ضربا حتى دمى رأسه. فقال: يا أمير المؤمنين حسبك. قد ذهب الذى أجد فى رأسى ...

وهذه الرواية وتلك لهما دلالتهما فى موضوعنا .. ولا سيما فى قول عمر للرجل يؤنبه: تسأل محدثة؟ أى أتثير بين الناس أمرا جديدا لم يتعودوه قبل ذلك؟ وهو السؤال عن معنى قوله تعالى «وَالْمُرْسَلاتِ عُرْفاً فَالْعاصِفاتِ عَصْفاً» .. ونحوهما.

مما يدل على أن مثل هذه الأسئلة لم يكن من المعتاد أن يسألها الصحابة فى زمن الرسول، وحتى عهد عمر .. بل كانوا يعتبرونها تكلفا يثير الشبهة ... وفى الاهتمام بإرسال الرجل من مصر الى المدينة، وضرب عمر له، ثم فى أمره لأبى موسى بعزله عن المسلمين، ما يعطينا دلالة قوية على سوء النظرة فى ذلك الوقت، إلى كل من يثير مثل هذه الأسئلة .. ودلالة على مقدار حرص عمر وولاته، على تجنيب المسلمين الاشتغال بمعانى المرسلات والعاصفات ونحوهما، مما يعدونه متشابها، محافظة على النهج الذى كان فى عهد الرسول وخليفته أبى بكر، ولذلك أنكر عليه مسلكه وقال له: أتسأل محدثة؟ لأنه يحدث فى الوسط الإسلامى ما لم يتعوده .. ولهذا أيضا نجد الإمام مالك يقول فى الرد على من يسأله عن معنى (الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى) ، الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والسؤال عنه بدعة.

وحينئذ لا بد أن يرد على ذهن القارئ سؤال: كيف إذن كانوا يفهمون مثل هذا؟

وجواب هذا .. أنهم كانوا يكتفون بالمعنى الإجمالى، وما يفيده السياق فى مثل هذه الأمور وغيرها، مما لا يتعلق بها حكم تكليفى محدد. فمثلا .. القسم بالمرسلات وما بعدها من العاصفات والناشرات والفارقات .. يفهمون أنها أشياء عظيمة، يقسم الله بها على أمر مهم، وهو: البعث .. لا يهمهم المراد بالعاصفات. كما عنى بها من بعدهم وقالوا: الرياح، أو الملائكة، ولم يتفقوا على رأى، لأنهم يجتهدون فى بيان المراد، ولكل اجتهاده. فكان الصحابة لا يخوضون فى بيان المراد تحديدا، بل يرون أن ذلك تكلف لا يصح الاشتغال به، ما دام المعنى الكلى مفهوما، وليس هناك ما يوجب فهم المراد بالمفردات ..

Di dalam hati mereka ada penyakit


Meskipun demikian, ayat ini bukanlah satu-satunya dalam topik ini, melainkan ada yang lain yang ikut memengaruhinya.

Yang saya maksud adalah firman Allah:

“Dialah yang menurunkan Kitab kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok Kitab, dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian yang mutasyabihat darinya untuk mencari fitnah dan mencari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang kokoh ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepadanya. Semuanya dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak ada yang mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 7) [1]

Penyebab turunnya ayat adalah diskusi yang terjadi antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan delegasi Nasrani Najran tentang Isa ‘alaihis salam, yang hasilnya membuat mereka terdiam, lalu mereka beralih ke perdebatan dan pertengkaran. Mereka berkata: “Bukankah engkau mengatakan bahwa ia adalah ruh Allah dan kalimat-Nya?” Beliau menjawab: “Ya.” Mereka berkata: “Ini cukup bagi kami.” Maka turunlah ayat yang mengecam mereka karena berhenti—demi hawa nafsu mereka—pada apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa ia adalah ruh Allah dan kalimat-Nya, tanpa memperhatikan ayat-ayat muhkamat lain yang menjelaskan hakikat Isa ‘alaihis salam, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya ia hanyalah hamba yang Kami beri nikmat kepadanya” dalam surah Az-Zukhruf yang Makkiyah, dan lainnya yang menjelaskan hakikat kelahirannya dan kemanusiaannya seperti “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab...” [2].

Kita perhatikan bahwa ayat itu mengarahkan serangannya kepada orang-orang yang sengaja mengambil lafazh-lafazh mutasyabihat...

seperti mereka... lalu menafsirkannya sesuai hawa nafsu mereka, dengan tujuan menimbulkan fitnah... dan menjauhkan manusia dari kebenaran... “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian yang mutasyabihat darinya untuk mencari fitnah dan mencari takwilnya” sesuai hawa nafsu mereka, padahal ada ayat-ayat lain yang menghalangi mereka dari mengikuti hawa nafsu...

Namun mereka menutup mata terhadapnya dan mengabaikannya, demi membela pendapat mereka, menyesatkan orang awam, dan menarik mereka...

Sebagai lawan dari celaan terhadap orang-orang yang menutup mata terhadap kebenaran dan menimbulkan fitnah dengan mutasyabihat, Allah menyebutkan kelompok lain yang tidak mengikuti jalan orang-orang pertama dalam menimbulkan fitnah dengan mutasyabihat, melainkan beriman kepadanya sebagaimana mereka beriman kepada yang muhkamat—dengan pertimbangan bahwa keduanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala—dan menyebut mereka sebagai orang-orang yang kokoh ilmunya, yaitu kokoh dalam ilmu mereka tentang Allah Ta’ala, dan dengan demikian dalam iman mereka kepada-Nya. Maka Allah berfirman sebagai kelanjutan dari orang-orang pertama dan penjelasan sikap orang-orang lain: “Dan tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang kokoh ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepadanya. Semuanya dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak ada yang mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” Tuhan kami (yaitu orang-orang yang kokoh ilmu dan beriman berdoa kepada Tuhan mereka dengan mengatakan): “Janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi.” karena sangat kuatnya iman mereka dan berpegang teguh mereka kepada Tuhan mereka.

Dengan demikian jelas sikap dua kelompok manusia: kelompok yang sengaja mengambil mutasyabihat untuk menafsirkannya dengan tafsir yang rusak dengan tujuan menimbulkan fitnah, dan kelompok yang beriman kepadanya sebagaimana beriman kepada yang muhkamat. Kelompok pertama dicela, kelompok kedua dipuji.

Hal ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini dan bersabda: ‘Maka jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti sebagian yang mutasyabihat darinya, maka mereka itulah yang disebut Allah, maka waspadalah terhadap mereka.’”

Meskipun ayat dan hadits—seperti yang Anda lihat—mencela orang-orang yang mengikuti mutasyabihat dan menafsirkannya dengan tafsir yang menimbulkan syubhat dan fitnah, serta tidak mencakup orang-orang yang bertanya tentang mutasyabihat dengan pertanyaan yang bersih dengan tujuan memahami, atau yang menyebutkannya dan mengembalikannya kepada yang muhkamat serta memahaminya di bawah cahayanya, saya katakan meskipun demikian pertanyaan tentang mutasyabihat atau pembicaraan tentangnya menjadi pemicu tanda tanya tentang pelakunya, atau menempatkannya pada posisi yang diragukan imannya, hingga terbukti hakikatnya...

Oleh karena itu, wajar jika orang-orang yang ikhlas dan jujur menghindari keraguan ini, dan menjauh sejauh mungkin dari pembicaraan tentang mutasyabihat serta cukup dengan pemahaman umum, mengembalikan segala yang mereka dengar atau baca darinya kepada iman mereka yang mendalam kepada Allah Ta’ala serta penyerahan mutlak mereka terhadap segala yang datang dalam Al-Qur'an, meskipun mereka tidak memahami hakikat maksud darinya—agar mereka termasuk orang-orang yang Allah puji.

Sebagai contoh... ayat-ayat yang berbicara tentang kehendak Allah dan kehendak hamba, serta tentang qadha Allah dan perbuatan hamba. Di dalamnya ada ayat-ayat yang mengembalikan segala sesuatu kepada Allah “Dan kalian tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki”...

Dan ayat-ayat yang menambahkan perbuatan kepada manusia “Setiap manusia terikat dengan apa yang ia usahakan.” Maka bagaimana kita menyelaraskan antara kehendak Allah dan qadha serta qadar-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, dengan penghisaban hamba atas apa yang ia lakukan?

Masalah ini yang menyibukkan manusia sebelum Islam dan sesudahnya, hingga sekarang, dan hingga waktu yang Allah kehendaki dari zaman dan generasi...

Di tengah perselisihan tentang masalah ini kami berharap—menurut pemikiran kami—agar para sahabat memunculkan masalah ini untuk menemukan solusi bagi mereka dan bagi kita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun kami tidak mewarisi penjelasan ini, dan jika ada niscaya kami akan mewarisinya...

Selain itu kami menemukan petunjuk dari Rasulullah dalam hal ini: “Jika disebutkan qadar atau qadha, maka tahanlah.” [1] Yaitu janganlah kalian terjun ke dalam pembahasan tentangnya... Oleh karena itu para khalifah setelah Rasulullah mengejar setiap orang yang memunculkan pembicaraan tentang qadar, setelah wilayah Islam meluas.

Tentang sifat-sifat Allah, dan apa yang disebutkan tentangnya dalam Al-Qur'an berupa wajah, tangan, mata, pendengaran, dan penglihatan... dst—yang menunjukkan kemiripan, dan secara zahir mengandung makna penjasmian, padahal itu mustahil, berdasarkan nash ayat lain “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”—maka apa gunanya—kalau begitu—dan apa maksudnya?

Pembicaraan tentang aspek ini dan pengembaraan di dalamnya termasuk yang dilarang Rasulullah, selain karena itu menimbulkan syubhat terhadap pelakunya... Oleh karena itu kami tidak menemukan orang yang bertanya tentang hakikat wajah dan tangan... dst...

Melainkan mereka beriman kepadanya sebagaimana datangnya disertai iman mereka bahwa “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”...

Ulama peneliti Shah Waliullah Ad-Dahlawi berkata dalam kitabnya Hujjah Allah Al-Balighah hal. 134 jilid 1 setelah membahas sifat-sifat ini: “Kebenaran dalam masalah ini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbicara tentangnya sama sekali, melainkan melarang umatnya berbicara tentangnya dan menelitinya, maka tidak ada seorang pun yang boleh mendahulukan apa yang beliau larang.”

Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu memukul seorang lelaki bernama Shabigh, karena ia banyak bertanya tentang mutasyabihat Al-Qur'an, dan terus memukulnya hingga ia bertaubat...

Imam Asy-Syathibi berkata dalam kitabnya Al-Muwafaqat jilid dua hal. 87 dalam bab yang ia khususkan untuk menjelaskan bahwa perhatian terhadap makna-makna yang tersebar dalam khitab adalah tujuan utama:

“Dan termasuk yang terkenal adalah pendidikan beliau terhadap Shabigh ketika ia banyak bertanya tentang ‘Al-Mursalat’ dan ‘Al-‘Ashifat’ serta semisalnya.”

Dalam Musnad Ad-Darimi disebutkan yang menjelaskan hal itu: “Abdullah bin Shalih memberitahu kami, Al-Laits memberitahu kami dari Ibnu ‘Ajlan dari Nafi’ maula Abdullah, bahwa Shabigh orang Irak mulai bertanya tentang berbagai hal dalam Al-Qur'an di kalangan pasukan muslimin, hingga ia datang ke Mesir. Maka ‘Amr bin Al-‘Ash mengirimnya kepada Umar bin Al-Khaththab. Ketika utusan datang dengan surat dan ia membacanya, ia berkata: ‘Di mana lelaki itu?’ Ia menjawab: ‘Di rombongan.’ Umar berkata: ‘Pastikan ia tidak pergi, agar engkau tidak mendapat hukuman menyakitkan dariku.’ Maka ia mendatanginya. Umar berkata: ‘Engkau bertanya tentang hal baru?’ Ia mengirimkan beberapa pelepah kurma basah (untuk diambil), lalu memukulnya dengannya hingga punggungnya berluka. Kemudian ia membiarkannya hingga sembuh, lalu memanggilnya lagi untuk melanjutkan, ia berkata: ‘Jika engkau ingin membunuhku, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika engkau ingin menyembuhkanku, demi Allah aku telah sembuh.’ Maka ia mengizinkannya kembali ke negerinya, dan menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari agar tidak ada seorang muslim pun yang bergaul dengannya. Hal itu sangat memberatkan lelaki itu. Maka Abu Musa Al-Asy’ari menulis kepada Umar bahwa taubatnya telah baik. Umar menulis agar ia mengizinkan orang-orang bergaul dengannya.” Semua ini karena ia memunculkan di antara manusia pertanyaan-pertanyaan yang belum mereka kenal sebelumnya, dan bukanlah hal yang sesuai untuk dimunculkan...

Dalam riwayat: “Maka dibawakan kepadanya pelepah kurma, lalu ia berkata: ‘Siapa engkau?’ Ia menjawab: ‘Abdullah Shabigh.’ Maka Umar mengambil sebatang pelepah dari pelepah-pelepah itu dan memukulnya seraya berkata: ‘Aku adalah Abdullah Umar.’ Maka ia terus memukulnya hingga kepalanya berdarah. Ia berkata: ‘Ya Amirul Mukminin, cukup.’ Yang ada di kepalaku telah hilang...”

Riwayat ini dan yang sebelumnya memiliki dalilnya dalam topik kita... terutama dalam ucapan Umar kepada lelaki itu menegurnya: “Engkau bertanya tentang hal baru?” Yaitu: Apakah engkau memunculkan di antara manusia sesuatu yang baru yang belum mereka kenal sebelumnya? Yaitu pertanyaan tentang makna firman Allah “Demi angin yang diutus” dan “yang meniup kencang”... dan semisalnya.

Ini menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti ini belum biasa ditanyakan para sahabat pada masa Rasulullah, bahkan hingga masa Umar... Melainkan mereka menganggapnya sebagai sikap berlebihan yang dilarang... Oleh karena itu pengiriman lelaki dari Mesir ke Madinah, pemukulan Umar terhadapnya, serta perintahnya kepada Abu Musa untuk mengucilkannya dari kaum muslimin memberikan dalil kuat tentang pandangan buruk pada masa itu terhadap setiap orang yang memunculkan pertanyaan seperti ini... serta dalil tentang seberapa besar kehati-hatian Umar dan para gubernurnya untuk menjauhkan kaum muslimin dari membahas makna “angin yang diutus” dan “yang meniup kencang” serta semisalnya, yang mereka anggap mutasyabihat, demi menjaga metode yang ada pada masa Rasulullah dan khalifahnya Abu Bakar. Oleh karena itu ia mengecam perilakunya dan berkata kepadanya: “Engkau bertanya tentang hal baru?” karena ia memunculkan di tengah masyarakat Islam apa yang belum mereka kenal... Dan karena itu pula kita menemukan Imam Malik berkata dalam menjawab orang yang bertanya kepadanya tentang makna “Ar-Rahman di atas ‘Arsy ber-istiwa’: Istiwa diketahui, kaifiyat tidak diketahui, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.

Ketika itu pasti muncul dalam benak pembaca pertanyaan: Bagaimana kalau begitu mereka memahami hal seperti ini?

Jawabannya... bahwa mereka cukup dengan makna umum, dan apa yang ditunjukkan oleh konteks dalam hal-hal seperti ini dan lainnya, yang tidak berkaitan dengannya hukum taklif yang spesifik. Sebagai contoh... sumpah dengan “angin yang diutus” dan apa yang setelahnya berupa “yang meniup kencang”, “yang menyebarkan”, “yang memisahkan”... mereka memahami bahwa itu adalah hal-hal besar yang Allah sumpah dengannya atas perkara penting, yaitu kebangkitan... Mereka tidak memperhatikan maksud “yang meniup kencang” seperti yang diperhatikan orang-orang setelahnya yang berkata: angin, atau malaikat, dan mereka tidak sepakat pada satu pendapat, karena mereka berijtihad dalam menjelaskan maksudnya, dan masing-masing memiliki ijtihadnya. Maka para sahabat tidak terjun ke dalam penjelasan maksud secara spesifik, melainkan menganggap itu sebagai sikap berlebihan yang tidak boleh dilakukan, selama makna keseluruhan dipahami, dan tidak ada yang mewajibkan pemahaman makna kata-kata secara rinci...

[مثل آخر]

ومثل آخر يوضح هذا ويؤكده، وهو لا يتعلق بالمتشابه، بل يتعلق بكلمة عادية، ولهذا دلالته فى موضوعنا، روى أن عمر رضى الله عنه قرأ (وَفاكِهَةً وَأَبًّا) من سورة (عبس) فقال وما الأب؟ ثم قال: ما كلفنا هذا، مع أن الأب ليس من المتشابه، ولكن عمر رأى السؤال تكلفا منهيا عنه، إذ لا بد أن الأب نبات خلقه الله، وهذا يكفى. والشاهد أن عمر كان من حفاظ القرآن .. وقرأ هذه الآية مرات .. حتى سأل نفسه أخيرا هذا السؤال، ثم استدرك وأعلن أن البحث عن مثل هذا تكلف لا داعى له، بل نهوا عنه ...

وعمر بلا شك كان يدرك المعنى الإجمالى. وهو العبرة المستمدة من خلق الله هذه الأشياء: «فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسانُ إِلى طَعامِهِ أَنَّا صَبَبْنَا الْماءَ صَبًّا ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا فَأَنْبَتْنا فِيها حَبًّا وَعِنَباً وَقَضْباً وَزَيْتُوناً وَنَخْلًا. وَحَدائِقَ غُلْباً وَفاكِهَةً وَأَبًّا مَتاعاً لَكُمْ وَلِأَنْعامِكُمْ» [1] فالأب لا يخرج عن كونه نباتا جعله الله مع ما ذكره من أنواع ما تنبته الأرض «متاعا لكم ولأنعامكم» أما ما هو بالذات .. فلم يكن يعرفه عمر كما روى، والاشتغال بمعرفته تكلف كما قال .... والمعنى العام لا يتوقف على معرفته ..

وقد رويت حادثة السؤال عن (الأب) بتشديد الباء، بروايات مختلفة فى بعضها زيادات عن البعض الآخر وكلها توضح المعنى الذى نريده .. ففي رواية أن عمر رضى الله عنه سأل نفسه عن الأب. ثم قال: ما كلفنا هذا، كما سبق، ورواية تقول: أن رجلا سأل عمر، فقال له عمر: نهينا عن التكلف والتعمق .. وفى رواية أن عمر قرأ (وَفاكِهَةً وَأَبًّا) فقال هذه الفاكهة عرفناها، فما الأب؟ .. ثم استدرك وقال: هو التكلف. فما عليك ألا تدريه ..

وقد أورد الإمام الشاطبى روايتين من هذه الروايات، وضم إليهما رواية تأديب عمر لصبيغ، لسؤاله عن المرسلات الخ .. ثم قال: (وظاهر من هذا كله أنه إنما نهى عنه لأن المعنى التركيبى معلوم على الجملة، ولا ينبنى على فهم هذه الأشياء حكم تكليفى فرأى الاشتغال به عن غيره مما هو أهم منه تكلف) .

(1) سورة عبس 24 وما بعدها.

ثم قال «فلو كان فهم اللفظ الافرادى يتوقف عليه فهم التركيبى لم يكن تكلفا (أى لم يكن السؤال تكلفا) بل هو مضطر إليه، كما روى عن عمر نفسه فى قوله تعالى «أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلى تَخَوُّفٍ» فإنه سأل عنه على المنبر، فقال له رجل من هذيل: التخوف عندنا هو التنقص. ثم أنشد:

تخوف الرحل منها تامكا قردا ... كما تخوف عود النبعة السفن [1]

(أى أن رحل الناقة أخذ من سنامها المتلبد- تنقص منه- كما يأخذ المبرد وينقص من العود، بمعنى أزال بعضه فقال عمر: أيها الناس تمسكوا بديوان شعركم فى الجاهلية فإن فيه تفسير كتابكم .. )

ومع الدلالة التى أوردنا هذه الرواية لها .. نأخذ دلالة أخرى تؤكد ما سبق أن أوردناه .. وهو أن بعض الألفاظ من غير المتشابه ظلت غير مفهومة لحفاظ القرآن حتى توفى الرسول لعدم ورودها فى لهجتهم دون أن يسألوه عنها مع ملازمتهم له أو قربهم منه عليه الصلاة والسلام خوفا من رميهم بالتكلف، والاشتباه فى إيمانهم، مكتفين بفهم المعنى العام التركيبى.

وهذا بالتالى يدلنا على أنه ليس بلازم للصحابى- وإن كان فى المقدمة- أن يحيط علما بكل المعانى الدقيقة لألفاظ القرآن .. كما نظن نحن الآن .. وليس هذا ماسا بهم، لأنهم كانت لهم شواغلهم وأعمالهم، وكانوا يفهمون منه ما يتصل بالعقائد من الألفاظ الظاهرة المحكمة، وما يتصل بالتكاليف. فهذا أمر ضرورى .. ويفهمون مما عدا ذلك كثيرا أو قليلا، كل على قدر استعداده .. ووقته فهما إجماليا. علما بأن القرآن عربى وهم عرب، وأقدر الناس على فهمه .. لكن هذا لم يمنع أن تكون هناك ألفاظ لها معان خفيت على بعضهم، أو لها مراد لم تصل إليه عقولهم لأنها تتحدث عن أمور لم يألفوها، ولم يسألوا عنها، تحاشيا من الوقوع فى التكلف الذى نهوا عنه، أو من الاشتباه فيهم ...

(1) التامك: المرتفع من السنام. القرد: المتلبد. النبعة: شجر. والسفن: المبرد ونحوه.

Contoh lain


Contoh lain yang menjelaskan dan menguatkan ini—dan tidak berkaitan dengan mutasyabihat, melainkan dengan kata biasa—memiliki dalilnya dalam topik kita, diriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu membaca “dan buah-buahan serta al-abb” dari surah ‘Abasa lalu berkata: “Apa al-abb?” Kemudian ia berkata: “Kita tidak dibebani ini.” Padahal “al-abb” bukan termasuk mutasyabihat, namun Umar melihat pertanyaan itu sebagai sikap berlebihan yang dilarang, karena pasti “al-abb” adalah tanaman yang diciptakan Allah, dan ini sudah cukup. Saksinya adalah bahwa Umar termasuk penghafal Al-Qur'an... dan ia membaca ayat ini berkali-kali... hingga akhirnya ia bertanya kepada dirinya sendiri pertanyaan ini, kemudian ia menyadari dan menyatakan bahwa mencari seperti ini adalah sikap berlebihan yang tidak perlu, bahkan dilarang...

Umar tanpa ragu memahami makna umumnya, yaitu pelajaran yang diambil dari penciptaan Allah berbagai hal ini: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami telah menurunkan air dengan curahan, kemudian Kami belah bumi dengan belahan, lalu Kami tumbuhkan di dalamnya biji-bijian, anggur, sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun yang rindang, buah-buahan, dan al-abb sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi ternak kalian.” (QS. ‘Abasa: 24 dan seterusnya) [1] Maka “al-abb” tidak keluar dari menjadi tanaman yang dijadikan Allah bersama apa yang disebutkan-Nya dari jenis-jenis yang ditumbuhkan bumi “sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi ternak kalian” Adapun apa hakikatnya... maka Umar tidak mengetahuinya seperti yang diriwayatkan, dan membahasnya adalah sikap berlebihan seperti yang ia katakan... Makna umum tidak bergantung pada pengetahuannya...

Diriwayatkan peristiwa pertanyaan tentang “al-abb” dengan tasydid pada huruf ba’ dengan riwayat-riwayat berbeda, sebagiannya ada tambahan dari yang lain, dan semuanya menjelaskan makna yang kami inginkan... Dalam satu riwayat Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada dirinya sendiri tentang “al-abb”, kemudian berkata: “Kita tidak dibebani ini.” Seperti sebelumnya, dan riwayat mengatakan: seorang lelaki bertanya kepada Umar, maka Umar berkata kepadanya: “Kita dilarang dari sikap berlebihan dan mendalami secara berlebihan.” Dalam riwayat lain Umar membaca “dan buah-buahan serta al-abb” lalu berkata: “Ini buah-buahan kita ketahui, maka apa al-abb?” Kemudian ia menyadari dan berkata: “Itu adalah sikap berlebihan. Maka tidak mengapa bagimu jika tidak mengetahuinya...”

Imam Asy-Syathibi meriwayatkan dua riwayat dari riwayat-riwayat ini, dan menggabungkannya dengan riwayat pendidikan Umar terhadap Shabigh karena bertanya tentang “Al-Mursalat” dst... Kemudian ia berkata: “Dan zahir dari semua ini adalah bahwa larangan itu karena makna komposisi secara umum diketahui, dan tidak dibangun di atas pemahaman hal-hal ini hukum taklif tertentu, maka ia menganggap membahasnya selain dari yang lebih penting darinya adalah sikap berlebihan.”

Kemudian ia berkata: “Jika pemahaman lafazh tunggal tergantung padanya pemahaman komposisi, maka itu bukan sikap berlebihan (yaitu pertanyaan bukan sikap berlebihan) melainkan terpaksa, seperti yang diriwayatkan dari Umar sendiri dalam firman Allah: ‘atau menimpakan kepada mereka secara bertahap’ maka ia bertanya tentangnya di atas mimbar, lalu seorang dari Hudzail berkata kepadanya: ‘Takhawwuf’ di kalangan kami adalah pengurangan. Kemudian ia membacakan syair:

Takhawwuf ar-rahil minha tamika qirda... kama takhawwaf ‘aud an-nab’ah as-safan [1]

(yaitu pelana unta mengambil dari punuknya yang mengeras—menguranginya—seperti yang dilakukan pengikir dan mengurangi kayu, artinya menghilangkan sebagiannya. Maka Umar berkata: Wahai manusia, berpeganglah pada syair kalian pada masa jahiliah karena di dalamnya ada tafsir Kitab kalian...)”

Dengan dalil yang kami sebutkan riwayat ini memilikinya... kami mengambil dalil lain yang menguatkan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya... yaitu bahwa sebagian lafazh selain mutasyabihat tetap tidak dipahami oleh para penghafal Al-Qur'an hingga Rasulullah wafat karena tidak muncul dalam dialek mereka—tanpa mereka bertanya kepadanya meskipun mereka selalu bersama beliau atau dekat dengannya shallallahu ‘alaihi wa sallam—karena takut dituduh berlebihan dan dicurigai imannya, cukup dengan pemahaman makna umum komposisi.

Ini pada akhirnya menunjukkan kepada kita bahwa tidak wajib bagi seorang sahabat—meskipun termasuk yang terdepan—untuk menguasai seluruh makna rinci lafazh-lafazh Al-Qur'an... seperti yang kita kira sekarang... Dan ini tidak mengurangi mereka, karena mereka memiliki kesibukan dan pekerjaan mereka, dan mereka memahami darinya apa yang berkaitan dengan aqidah dari lafazh-lafazh yang zahir dan muhkamat, serta apa yang berkaitan dengan taklif. Itu perkara yang diperlukan... Dan mereka memahami dari selain itu banyak atau sedikit, masing-masing sesuai kemampuan dan waktunya dengan pemahaman umum. Dengan catatan bahwa Al-Qur'an berbahasa Arab dan mereka adalah orang Arab, serta orang yang paling mampu memahaminya... Namun ini tidak menghalangi adanya lafazh-lafazh yang maknanya tersembunyi bagi sebagian mereka, atau memiliki maksud yang tidak sampai kepada akal mereka karena membahas hal-hal yang belum mereka kenal, dan mereka tidak bertanya tentangnya karena menghindari jatuh dalam sikap berlebihan yang dilarang, atau dicurigai...

(1) At-Tamik: yang tinggi dari punuk. Al-Qird: yang mengeras. An-Nab’ah: pohon. As-Safan: pengikir dan semisalnya. 

LihatTutupKomentar