Validitas 'Illat (Sebab) dalam Istidlal

Para ulama berselisih mengenai apa yang membuktikan validitas sebuah 'illah; apakah ia menjadi sah karena faktor Al-Jariyan (keberlangsungan) dan Ath-

Validitas 'Illat (Sebab) dalam Istidlal

Nama kitab: Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki Al-Muqaddimah fi al-Ushul
Judul kitab asal: Al-Muqaddimah fi al-Ushul li al-Qishar (المقدمة في الأصول للقصار )
Penulis: Imam Abul Hasan Ibn al-Qishar (أبو الحسن ابن القصار)
Nama lengkap: Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Umar ibn al-Qishar al-Maliki (أبو الحسن، علي بن عمر بن أحمد بن سعد الخولاني البغدادي المالكي، الشهير بـ"ابن القصار)
Tempat/Lahir: Baghdad, Irak, 
Tempat/Wafat: Baghdad, Irak, 297 atau 398 H/ 25 Juli 1007 atau 1008 M 
Penerjemah: alkhoirot.org / Al-Khoirot Research and Publication
Bidang studi: Ushul fikih, Hukum syariah

Daftar Isi  

  1. Bab XLIV: Apa yang Menunjukkan Validitas 'Illah/Illat
  2. Bab XLV: 'Illah yang Tidak Meluas (Qashirah)
  3. Bab XLVI: Pengkhususan Sebab (Takhshish al-'Illah)
  4. Bab XLVII: Pendapat Adanya Dua 'Illah dalam Satu Hukum
  5. Bab XLVIII: Dua 'Illah yang Salah Satunya Memiliki Lebih Banyak Cabang Hukum
  6. Bab XLIX: Kebolehan Menjadikan Nama (Ism) Sebagai 'Illah
  7. Bab L: Pengambilan Nama Secara Analogi (Qiyas)
  8. Bab LI: Hukum Pidana (Al-Hudud) 
  9. Kembali ke: Terjemah Ushul Fikih Mazhab Maliki (al-Muqaddimah fil Ushul)  


باب القول فيما يدل على صحة العلة

اختلف الناس فيما يدل على صحة العلة ، و هل تصح بالجريان و الطرد في معلولاتها ، أو تعلم صحتها بغير ذلك ؟ .

فمنهم من يقول : علامة صحتها جريانها في معلولاتها ، و أن لا يدمجها أصل . [171]

و منهم من قال : يحتاج أن يثبت أولا أنها علة ، ثم جريانها بعد ذلك مرتبة أخرى .

قالو : لأن من يعلل بالطرد و الجريان لوقيل له :

لما علقت الحكم بها ؟

لكان من حقه أن يقول : لأنها علة .

فإذا قيل له : لم صارت علة ؟ .

قال : لأن الحكم يتعلق بها أينما وجدت ، و هذا يؤدي الى التناقض .

قال القاضي ـ رحمه الله ـ :

و الذي يقوى في نفس الوجه الأول من الطرد و الجريان ، و أنه يكون دليلا على صحتها .

والأصل في ذلك : أن الله تعال قال : { أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا } [النساء82] [173]

فدل على أن المنتفق من عنده ، لما اتفق بالصيغة والنظم ، أثبت بالصيغة والنظم ، وأن المختلف ليس من عنده ، فلو جاز وجود مختلف من عنده لم يكن عدم الاختلاف في القرآن دليلا على أنه من عنده ، ولو جاز أيضا وجود متفق لا من عنده لم نأمن أن يكون القرآن متفقا لا من عنده ، وفي استدعاء المخاطيبن إلى التدبر بهذه الآية دليل على أن المتفق لا يوجد إلا من جهته ، وأن المختلف لا يوجد منه .

فإن قيل : على هذا فإن الاختلاف في القرآن موجود ، لأننا نجد فيه الخاص والعام ، والناسخ والمنسوخ ، والخاص والذي أريد به العام ، والعام الذي أريد به الخاص .

قيل : إنما أريد بنفي الاختلاف الذي من جهته صار القرآن [174] حجة وهو عدم الاختلاف في الإعجاز ، وهو في الإعجاز متفق .

وأيضا فإننا قد أمرنا بالرجوع إلى الأصول في الحوادث ، كما أمرنا بالرجوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم فيها ، فإذا عرض عليه نوع من أنواع المقايسة ، فلم يرده وسكت عنه ، كان ذلك دليلا على صحته ، وكذلك الأصول إذا عرضت العلة عليها ، فلم يردها أصل منها ، دل ذلك على صحتها .

وأيضا : فإن الله عز وجل طالب المشركين بإجراء العلة فيما اعتمدوه علة ، فقال تعالى : { قُلْ آَلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ } [الأنعام : 143] .

أي : إن كان المعنى للذكورة والأنوثة ، أو الجميع فالتزموه إن كنتم صادقين ، وإلا فأنتم مناقضون .

وأيضا : فإن المتفق من الفتوى حجة ، فكذلك المتفق من المعنى ؛ لأنه في الجريان والطرد اتفاق المعنى ، ولا يلزم ما ذكروه من السؤال في أن الحكم وجب لعلة . [175]

فإذا قيل : لما صارت علة ؟

قيل : لأن الحكم يتعلق بها أينما وجدت ، وذلك أنه إذا قيل له : لم وجب الحكم ؟ فقال : للعلة ، فإنما هو مدع للعلة بلا برهان .

فإذا قيل له : ولم صارت هذه علة ؟

فإنما عليه أن يدل على صحتها ، فإذا دل على صحتها بالجريان والطرد ، فقد أقام البرهان على كونها علة ، وفي الأولى سمها علة بدعوى ، والله أعلم . [176]

Bab: Penjelasan Mengenai Apa yang Menunjukkan Validitas 'Illah


"Para ulama berselisih mengenai apa yang membuktikan validitas sebuah 'illah; apakah ia menjadi sah karena faktor Al-Jariyan (keberlangsungan) dan Ath-Thard (konsistensi) pada akibat hukumnya, ataukah validitasnya diketahui melalui cara lain?

    Pendapat Pertama: Tanda validitasnya adalah kelakuannya (jariyan) pada akibat-akibat hukumnya dan tidak ada dalil asal (ashl) yang membatalkannya.

    Pendapat Kedua: Perlu dibuktikan terlebih dahulu bahwa ia adalah 'illah, baru kemudian kelakuannya (jariyan) menjadi tingkatan berikutnya. Mereka beralasan: Jika seseorang berargumen hanya dengan Thard dan Jariyan, lalu ditanya: "Mengapa hukum dikaitkan dengannya?", ia akan menjawab: "Karena ia 'illah". Lalu jika ditanya lagi: "Mengapa ia menjadi 'illah?", ia menjawab: "Karena hukum selalu ada bersamanya". Ini dianggap sebagai logika berputar (tanaqudh/daur).

Pendapat Al-Qadhi (Ibnul Qishshar):
Pendapat yang kuat menurut saya adalah pendapat pertama; bahwa Ath-Thard dan Al-Jariyan merupakan dalil validitas sebuah 'illah.
Hujah dan Dasar Logika:

1. Dalil Al-Qur'an (Ketiadaan Pertentangan):
Firman Allah Ta'ala:

    "Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur'an? Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, pastilah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya." (QS. An-Nisa: 82).

Ayat ini menunjukkan bahwa apa yang datang dari Allah ditandai dengan keselarasan (ittifaq) dan keteraturan (nazhm). Jika dalam Al-Qur'an terdapat pertentangan, tentu ia bukan dari Allah. Begitu pula dalam hukum: jika sebuah makna ('illah) konsisten tanpa kontradiksi (thard), maka itu tanda kebenarannya.

    Sanggahan: Bukankah dalam Al-Qur'an ada yang khusus-umum atau nasakh-mansukh yang tampak berbeda?

    Jawaban: Maksud ketiadaan ikhtilaf di sini adalah dalam aspek mukjizatnya. Dalam hal kemukjizatan, Al-Qur'an sepenuhnya selaras dan konsisten dari awal hingga akhir.

2. Keselarasan dengan Dasar Hukum (Ashl):
Sama seperti kita diperintahkan merujuk kepada Nabi ﷺ, kita juga merujuk pada prinsip dasar (Ashl). Jika sebuah analogi (Qiyas) diajukan dan Nabi diam (tidak menolak), itu bukti keabsahannya. Demikian pula jika sebuah 'illah diajukan dan tidak ada satu pun dasar hukum agama yang menolaknya, maka itu menunjukkan validitasnya.

3. Tantangan Logika terhadap Kaum Musyrik:
Allah menantang kaum musyrik untuk konsisten dengan alasan mereka:

    "Katakanlah: 'Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang dikandung oleh rahim kedua betinanya?'" (QS. Al-An'am: 143).

Maksudnya: Jika alasan kalian mengharamkan adalah karena jantannya, betinanya, atau kandungannya, maka terapkanlah itu secara konsisten (thard). Jika kalian tidak konsisten, maka alasan ('illah) kalian batal karena kontradiktif.

4. Kesepakatan Makna:
Fatwa yang disepakati adalah hujah, maka makna ('illah) yang konsisten juga hujah. Jika ditanya: "Mengapa ini menjadi 'illah?", jawabannya: "Karena hukum selalu menyertainya di mana pun ia berada". Ini bukan sekadar klaim, tapi pembuktian melalui bukti konsistensi (thard) yang merupakan burhan (bukti nyata). Wallahu a'lam."

باب القول في العلة التي لا تتعدى

واختلف الناس في العلة التي لا تتعدى ، هل تكون صحيحة أم لا ؟ .

فعندنا وعند غيرنا من الفقهاء أنها تكون علة صحيحة . [177]

وقال أهل العراق : هي باطلة ؛ لأنها لا تفيد إلا ما قد أفاده النص ، فلا معنى لطلب علة لا تفيد غير ما أفاده النص .

والدليل على أنها تصح : أن الغرض من العلة أن يعلم أن الحكم إنما وجب لأهلها ، فإذا صح ذلك ، صح أن تكون متعدية وغير متعدية .

وأيضا : فإنها تفيد أن الأصل الذي اقتضيت العلة منه أصل لا يجوز القياس عليه ، فقد حصلت الفائدة فيها من هذا الوجه أيضا . [178]

Bab: Penjelasan Mengenai 'Illah yang Tidak Meluas (Qashirah)

"Para ulama berselisih mengenai 'illah yang tidak meluas (la tat-'adda), apakah ia dianggap sebagai 'illah yang sah atau tidak?

Menurut kami (Mazhab Maliki) dan mayoritas ahli fikih lainnya, itu adalah 'illah yang sah.

Sedangkan Penduduk Irak (Mazhab Hanafi) berkata: 'Itu adalah 'illah yang batal (sia-sia); karena ia tidak memberikan faedah hukum selain apa yang sudah diberikan oleh teks (nash) itu sendiri. Maka, tidak ada gunanya mencari sebab hukum yang tidak bisa dikembangkan ke kasus lain.'

Dua Dalil Keabsahannya:

    Tujuan utama dari mencari 'illah adalah agar diketahui bahwa hukum tersebut wajib karena adanya sifat ('illah) tersebut. Jika hal ini sudah terbukti benar, maka statusnya tetap sah, baik ia bisa dikembangkan ke kasus lain (muta'addiyah) maupun terbatas pada satu kasus saja (qashirah).

    'Illah yang terbatas ini memberikan faedah penting: Menegaskan bahwa kasus tersebut adalah kasus khusus yang tidak boleh dijadikan dasar analogi (qiyas) untuk masalah lain. Dengan demikian, faedah hukum tetap didapatkan dari sisi ini."

باب الكلام في تخصيص العلة

عند مالك ـ رحمه الله ـ وغيره من أهل العلم : لا يجوز تخصيص العلة العقلية ، ولا خلاف في ذلك .

واختلف الناس في تخصيص العلة الشرعية المنصوص عليها ، والمستدل عليها ، إذا كانتا شرعيتين :

فعندنا وعند غيرنا من الفقهاء : لا يجوز تخصيصها .

وقال أهل العراق : يجوز تخصيصها ، ويجعلونها كالعموم [180] المشتمل على مسميات ، يصح أن يخص في بعض المسميات ، فكذلك هي ، لأنها علامة وأمارة .

وذهب غيرهم إلى جواز تخصيص العلة المنصوص عليها مثل قوله تعالى : { مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي ں@fدنآuژَ خ) } [المائدة: 32] .

وكقوله تعالى : { كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ } [الحشر:7] . [181] .

وكقول النبي صلى الله عليه وسلم في الهرة : (( إنها من الطوافين عليكم أو الطوافات )) .

وامتنع من تخصيص العلة المستنبطة كعلة الربا في البر .

وعندنا أنه لا يجوز تخصيصها جميعا . [182]

والأصل في ذلك : هو أن العلة إنما هي أمارة صحتها الجريان ، بما قدمناه من الدلائل ، والتخصيص يمنع جريانها ، ويبطل أن يكون الجريان دليلا على صحتها ، وإذا كان الجريان دليلا على صحتها ، وتخصيصها إذا باطل ؛ لأنه يرفع أصلا ثابتا ، وما أدى إلى رفع الأصل الثابت المستقر فهو مرفوع .

وأيضا : فإن الله تعالى أخذ المشركين بالنفور عليهم ، فقال سبحانه : { وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ } [التوبة: 81] .

فلولا أن المساواة في المعنى توجب المساواة في الحكم ، لم تلزمهم هذا ، بل كانو يتخلصون منه بأن يقولوا : قام دليله فخصصنا العلة .

و كذلك قال عنهم تعالى : { قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ } [آل عمران : 183] [183] .

فلم يقولوا قام دليله خصصناه .

و أيضا : فإنه لولم يؤثر التخصيص في صحتها ، لم تؤثر المعارضة ؛ لأن االتخصيص هو غاية المناقضة التي لا ترتضيها العامة في أخلاقها ، فضلا عن أن تكون من أفعال الحكماء ، ألا ترى أن تاجرا سوقيا لوقيل له : سامح في هذا الثوب ، فقال : لا أسامح فيه لأنه كتان ، ثم سمح في ثوب كتان مثله لِلَّهِ لقيل له : قد ناقضت ، و لكان هذا مما لا يخفى على عوام الناس رده على قائله و أنه تناقض بذلك ، فبطل جواز التخصيص في العلة .

و أيضا فإن العلة لو جاز وجودها مع ارتفاع الحكم و لا يمنع ذلك من صحتها ، لاحتيج في تعليق الحكم بها في كل فرع إلى استئناف دلالة ؛ لأنما دل على أنها علة في الأصل ، لم يوجب تعليق الحكم بها أينما وجدت على هذا القول ، و إذا لم يوجب ذلك فيجب الرجوع في تعليق الحكم بها في كل فرع بعينه الى دليل مستأنف ، و في ذلك إخراج لها عن أن تكون علة . [184]

يبين ذلك : أن العلم المعجزة الدالة على صدق النبي صلى الله عليه وسلم لو لم يقتض صدق النبي صلى الله عليه وسلم في كل ما يقوله و ما يؤديه ، لاحتاج في كل ما أخبر به إلى معجز ، فكذلك القول في العلل .

فإن قيل : فإن العلة في تعليق الحكم بها كالاسم العام في ذلك ، فكما أن وجود الاسم مع ارتفاع الحكم مما لايبطل كون العموم دلالة لا تجب الحاجة في تعليق الحكم بكل اسم الى دليل مستأنف ، فكذلك العلة .

قيل : إن العموم إنما يدل على إرادة المخاطب وإرادته تدل على الحكم لا نفس الحكم ، فإن قرن إلى العموم ما يدل على أنه لم يرد جميعه ، علمنا أن ما عداه مراد ، ولم تجعل الدلالة مخصوصة ، إذ الدلالة هي الإرادة ، والدلالة على الإرادة هي العموم مع القرينة ؛ لأن البيان لا يتأخر ةليس كذلك العلة ؛ لأنها إن كانت هي في نفسها علة ، [185] فيجب ألا يسوغ تخصيصها ؛ لأنها لا تختص في الوجود بعين دون عين ، وإن كانت تدل على الإرادة للجاعل لها علة . فيجب أن يقرن بها ما يخرجها عن أن تكون بإطلاقها علة ، وعلى أن العلة التي توجد في كل فرع في الحكم في خمن النص على كل فرع ، فكما أن التخصيص في ذلك لا يسوغ ؛ فكذلك القول في العلة ؛ لأنها ليست بمنزلة العموم الذي يدخله المجاز ؛ لأن التعليل لا يدخله المجاز ، فهو كالنص فيما ذكرناه ، والله أعلم . [186] .

Bab: Penjelasan Mengenai Pengkhususan Sebab (Takhshish al-'Illah)


"Menurut Imam Malik —rahimahullah— dan para ulama lainnya: Tidak diperbolehkan mengkhususkan 'illah aqliyyah (logika murni), dan tidak ada perselisihan dalam hal ini.

Namun, para ulama berselisih mengenai pengkhususan 'illah syar'iyyah, baik yang disebutkan eksplisit dalam teks (manshushah) maupun yang digali melalui ijtihad (mustanbathah):

    Mazhab Maliki & Mayoritas Fuqaha: Tidak diperbolehkan mengkhususkan 'illah sama sekali.

    Penduduk Irak (Mazhab Hanafi): Diperbolehkan mengkhususkan 'illah. Mereka menganggap 'illah seperti lafal umum ('am) yang bisa dikecualikan pada sebagian objeknya, karena 'illah hanyalah sebuah tanda (alamah).

    Pendapat Lain: Membolehkan pengkhususan pada 'illah yang ada teksnya (seperti alasan haramnya membunuh dalam QS. Al-Ma'idah: 32, atau alasan perputaran harta dalam QS. Al-Hasyr: 7, atau alasan kesucian kucing karena ia 'hewan yang berkeliling' dalam hadis), namun melarang pengkhususan pada 'illah hasil ijtihad (seperti sebab riba pada gandum).

Pendapat Kami (Maliki): Tidak boleh mengkhususkan kedua jenis 'illah tersebut.
Hujah dan Dasar Logika Penolakan Takhshish 'Illah:

1. Kehancuran Prinsip Konsistensi (Jariyan):
Sebagaimana telah dijelaskan, bukti validitas sebuah 'illah adalah konsistensinya (jariyan). Jika pengkhususan dibolehkan (artinya: sebabnya ada tapi hukumnya tidak ada), maka konsistensi itu hancur. Jika konsistensi hancur, maka batal pula kedudukannya sebagai dalil yang sah. Sesuatu yang merusak fondasi hukum harus ditolak.

2. Hujah Al-Qur'an terhadap Kaum Munafik:
Allah mencela orang-orang yang enggan berperang dengan alasan cuaca panas:

    "Katakanlah: 'Api neraka Jahanam itu lebih sangat panasnya'..." (QS. At-Taufah: 81).
    Seandainya pengkhususan 'illah itu dibolehkan, tentu mereka akan membela diri dengan berkata: "Memang panas adalah alasan untuk tidak pergi, tapi dalam kasus kami ini (perang Tabuk), hukumnya dikecualikan." Namun Allah tidak menerima logika pengecualian tersebut karena kesamaan 'illah (panas) menuntut kesamaan hukum.

3. Analogi Logika Masyarakat Umum:
Jika seorang pedagang di pasar berkata: "Aku tidak mau memberi diskon pada kain ini karena bahannya katun," namun sesaat kemudian ia memberi diskon pada kain katun lain yang serupa, maka orang awam pun akan berkata: "Engkau kontradiksi!". Pengkhususan tanpa alasan yang membatalkan 'illah adalah bentuk kontradiksi (tanaqudh) yang tidak pantas dilakukan oleh Zat Yang Maha Bijaksana.

4. Kebutuhan akan Dalil Baru:
Jika 'illah boleh ada tanpa adanya hukum, maka setiap kali kita menemukan 'illah tersebut pada kasus baru, kita butuh dalil baru lagi untuk memastikan hukumnya berlaku. Ini akan menghilangkan fungsi 'illah sebagai alat ukur hukum yang mandiri.
Jawaban atas Perumpamaan dengan Lafal Umum ('Am):

Ada yang menyamakan 'illah dengan lafal umum (yang boleh dikhususkan). Kami menjawab:

    Lafal Umum: Menunjukkan kehendak pembicara. Jika ada petunjuk pengecualian, kita tahu sebagian objek tidak diinginkan. Lafal umum mengandung kemungkinan kiasan (majaz).

    'Illah: Adalah identitas hukum itu sendiri. Ia tidak mengandung kiasan (majaz). Status 'illah dalam setiap kasus cabang kedudukannya sama kuatnya dengan teks eksplisit (nash). Maka, sebagaimana nash tidak bisa diabaikan tanpa pembatalan, 'illah pun tidak bisa dikhususkan. Wallahu a'lam."

باب الكلام في القول بالعلتين

اختلف الناس في القول بالعلتين في أصل واحد ، إحداهما تقتضي حمل الفرع عليه ، والأخرى تمنع من حمل الفرع عليه ؟ .

فمنهم من قال : لا تتنافيان ؛ لأن العلة المقصورة على الأصل لا تمنع رد الفرع إذا كانت هناك علة أخرى تقتضي الرد ، كما أن العموم الشامل لمئة شيء ، لا يمنع من شمول غير ذلك لألف شيء ولا ينافيه .

ومنهم من قال : إنهما تتنافيان . [187] .

قال القاضي الجليل :

وغلى هذا أذهب في المعنى ؛ لأن ما له ثبت الحكم في الأصل إما أن تكون العلة المقصورة عليه أو المتعدية ، فإن كانت المتعدية هي الصحيحة ، صح القياس على الأصل ، وإن تكن المقصورة هي الصحيحة ، امتنع القياس عليه ؛ لأننا استفدنا بها أن الأصل مما لا يجوز القياس عليه ، فقد حصل التنافي في المعنى ، و ذلك نحو تعليل الذهب بالوزن الذي يتعدى ، و بكونه ثمنا لايتعدى و ماشبه ذلك .

وهذه المسألة من فروع ماتقدم من أن العلة إذا لم تتعد ، هل تحص أم لا ؟ فيجب بناؤها عليه ، و الله أعلم . [188]

Bab: Penjelasan Mengenai Pendapat Adanya Dua 'Illah dalam Satu Hukum


"Para ulama berselisih mengenai adanya dua 'illah (sebab hukum) pada satu objek asal (ashl) yang sama, di mana salah satunya menuntut agar kasus cabang (far') dianalogikan padanya, sementara 'illah lainnya melarang penganalogian tersebut.

1. Pendapat Pertama: Keduanya tidak saling meniadakan (la tatanafayan). Alasannya, 'illah yang terbatas (qashirah) pada objek asal tidak menghalangi penarikan hukum pada kasus cabang jika di sana terdapat 'illah lain yang menuntut pengalihan hukum tersebut. Hal ini diibaratkan seperti lafal umum yang mencakup 100 hal, tidak menghalangi adanya lafal lain yang mencakup 1000 hal; keduanya tidak saling bertentangan.

2. Pendapat Kedua: Keduanya saling meniadakan (tatanafayan).

Pendapat Al-Qadhi (Ibnul Qishshar):
Al-Qadhi yang mulia berkata: Saya cenderung pada pendapat ini secara substansi. Sebab, alasan ditetapkannya hukum pada suatu objek asal pastilah salah satu dari keduanya: apakah 'illah yang terbatas (qashirah) atau 'illah yang meluas (muta'addiyah).

    Jika 'illah yang meluas itu yang benar, maka sah melakukan Qiyas terhadap objek asal tersebut.

    Jika 'illah yang terbatas itu yang benar, maka terlarang melakukan Qiyas padanya.

Sebab, dari 'illah yang terbatas itu kita mengambil faedah bahwa objek asal tersebut termasuk perkara yang tidak boleh dianalogikan (la yajuzu al-qiyasu 'alaihi). Maka, telah terjadi pertentangan secara makna. Contohnya adalah dalam masalah emas: apakah ia diharamkan (ribawi) karena faktor timbangan (al-wazn)—yang sifatnya meluas ke logam lain—atau karena ia adalah alat tukar (tsaman)—yang menurut sebagian pendapat sifatnya terbatas.

Masalah ini merupakan cabang dari pembahasan sebelumnya: 'Apakah 'illah yang tidak meluas itu sah atau tidak?'. Maka, kesimpulan hukum di sini harus dibangun di atas pondasi bab tersebut. Wallahu a'lam."

باب القول في العلتين

احداهما أكثر فروعا من الأخرى

قال القاضي الجليل :

و أما تعليل الأصل بعلة توجد في عشرة فروع ، وتعليله بعلة توجد فيه و في واحد من تلك الفروع ، فإني أقول فيه أيضا : أنهما يتنافيان في المعنى ، و إن كان بعض من يمتنع من القول بالعلتين لا يمتنع هاهنا ويقول : إنهما لايتنافيان .

و وجه التنافي فيهما هو أن الأصل إذا علل بعلة تتعدى إلى عشرة فروع ، فليس يعلم أن هذه العلة إلا بعد أن يسبر الأصل ، [189] و يستقرأ جميع ما يصلح أن يكون علة ، فإن جميعها و صحت هي و سلمت ، و صارت في التقدير علة ، و كأن الله عز وجل نص عليها و قال : إنما حرمت ذلك لهذه العلة دون ما سواها ، فتبطل كل علة سوى العلة التي ثبت أن الحكم لأجلها وجب .

فإن قيل : يجوز أن يصبر الأصل فيعلم أنه معلول بعلتين ، إحداهما تتعدى إلى شيء ، و إلى ما زاد عليه .

قيل : هما كالعلة التي لا تتعدى مع المتعدية ؛ لأن العلة التي تتعدى الى عشرة فروع يتبين بها أن الأصل يقاس عليه عشرة فروع ، و العلة الأخرى كشفت لنا أن هذا الأصل يقاس عليه ثمانية فروع لا غير ، فهو كما ينكشف بالعلة التي لا تتعدى أن [190] الأصل مما لايجوز القياس عليه ، وأي شيء تنافى أكثر من أن العلتين تصطحبان الى فرع ، ثم تقف إحداهما الى غيره و الأخرى تتجاوزه كالتي لا تتعدى مع المتعدية ، و تصير العلة المتعدية الى فروع كثيرة أكثر مما تتعدت اليه الأخرى بمنزلة الآيتين و الخبرين ، إن قلنا بالواحد منهما ، سقط الحكم الآخر ، و إن كانت إحدى العلتين تتعدى الى فرع آخر غير الفروع التي تعدت إليها العلة الأخرى ، فهذا ربما لم يتناف ، و فيه نظر ، و الله أعلم . [191]

Bab: Penjelasan Mengenai Dua 'Illah yang Salah Satunya Memiliki Lebih Banyak Cabang Hukum


"Al-Qadhi yang mulia berkata:

Adapun mengenai pemberian alasan (ta'lil) terhadap suatu hukum asal dengan sebuah 'illah yang ditemukan pada sepuluh kasus cabang, dibandingkan dengan pemberian alasan dengan 'illah lain yang hanya ditemukan pada hukum asal itu sendiri dan satu kasus cabang saja; maka saya berpendapat bahwa keduanya pun saling meniadakan secara makna (tatanafayan fil ma'na). Meskipun sebagian ulama yang melarang adanya dua 'illah (dalam bab sebelumnya) tidak melarangnya dalam kasus ini dan menganggap keduanya tidak saling meniadakan.

Alasan Mengapa Keduanya Saling Meniadakan:
Bahwasanya suatu hukum asal, jika dikaitkan dengan 'illah yang meluas hingga sepuluh cabang, maka 'illah tersebut tidak akan diketahui kecuali setelah melalui proses Sabar wa Taqsim (pengujian dan klasifikasi) terhadap hukum asal tersebut, serta meneliti semua sifat yang layak menjadi 'illah. Jika sifat tersebut telah teruji dan valid, maka kedudukannya seolah-olah Allah Azza wa Jalla telah menetapkannya secara eksplisit (nash) dan berfirman: 'Hanya saja Aku haramkan hal ini karena 'illah ini, bukan karena yang lainnya.' Dengan demikian, batallah setiap 'illah lain selain 'illah yang telah terbukti menjadi penyebab wajibnya hukum tersebut.

Sanggahan dan Jawaban:

    Keberatan: "Mungkinkah setelah pengujian (sabar) ditemukan bahwa satu hukum asal memang memiliki dua 'illah, yang satu meluas ke banyak hal dan yang satu lagi meluas ke hal yang lebih sedikit?"

    Jawaban: Kondisinya sama seperti pertentangan antara 'illah terbatas (qashirah) dengan 'illah meluas (muta'addiyah). Sebab, 'illah yang meluas ke sepuluh cabang menjelaskan bahwa hukum asal ini bisa dianalogikan pada sepuluh kasus. Sementara 'illah lainnya menyatakan bahwa hukum asal ini hanya bisa dianalogikan pada delapan kasus saja (misalnya).

Adakah pertentangan yang lebih nyata daripada dua 'illah yang berjalan beriringan pada satu cabang, lalu salah satunya berhenti sementara yang lain melampauinya? Kondisi ini membuat 'illah yang memiliki lebih banyak cabang berkedudukan seperti dua ayat atau dua hadis yang saling bertentangan; jika kita mengambil salah satunya, maka hukum dari yang lainnya gugur.

Namun, jika salah satu dari dua 'illah tersebut meluas ke cabang yang berbeda (tidak saling tumpang tindih) dengan cabang yang dituju oleh 'illah lainnya, maka kemungkinan hal ini tidak saling meniadakan, meski ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Wallahu a'lam."

باب القول في جواز كون الاسم علة

و اختلف الناس في كون الاسم علة :

فذهبت طائفة إلى جوازه .

و منعت منه طائفة .

قال القاضي ـ رحمه الله ـ :

و عند أنه يجوز ، و عليه يدل مذهب مالك ـ رحمه الله ـ .

و الأصل فيه : أن الله عز وجل أمر بالاعتبار و هو ر الشيء الى نظيره ، و لم يفرق بين أن يرد باسم أو وصف . [192]

و أيضا : فإن الاسم سمة للمسمى يميز به بينه و بين غيره ، و كذلك الصفة صفة يميز بها بينه و بين غيره ، فإذا جاز أن تكون الصفة علة جاز في الاسم .

و أيضا : فإن الاسم يتوصل به الى الحكم كالصفة ، فيجب أن يجوز كونه علة كالصفة .

و أيضا فإذا كان النص يوجب الأحكام تارة بالاسم ، و تارة بالصفة ، فكل واحد منهما كصاحبه في جواز جعله علة ، و بمثل هذه العلل يعتد في جواز جعل الحكم علة لحكم آخر .

و إن شئت قلت إن الأحكام تدرك بالشرع كالمعاني ، فإذا جاز جعل المعنى علة فكذلك الاسم ، و الله أعلم [193] .

Bab: Penjelasan Mengenai Kebolehan Menjadikan Nama (Ism) Sebagai 'Illah


"Para ulama berselisih mengenai apakah sebuah Nama (Ism) dapat berkedudukan sebagai 'illah (sebab hukum):

    Satu kelompok ulama berpendapat hal itu boleh.

    Kelompok lain melarangnya.

Pendapat Al-Qadhi (Ibnul Qishshar):
Menurut saya, hal itu boleh, dan metodologi Mazhab Malik —rahimahullah— menunjukkan hal tersebut.

Hujah dan Dasar Logikanya:

    Perintah untuk Ber-I'tibar:
    Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk melakukan I'tibar (mengambil pelajaran/analogi), yaitu mengembalikan sesuatu kepada kembarannya (nazhir). Dalam perintah ini, Allah tidak membedakan apakah keserupaan itu didasarkan pada Nama atau pada Sifat.

    Fungsi Pembeda yang Sama:
    Nama adalah tanda (simah) bagi objek yang dinamai untuk membedakannya dengan yang lain. Demikian pula Sifat, ia berfungsi membedakan objek tersebut dengan yang lain. Jika Sifat boleh menjadi 'illah, maka Nama pun seharusnya boleh.

    Sarana Menuju Hukum:
    Sebuah Nama dapat menjadi perantara untuk mencapai ketetapan hukum, sebagaimana halnya Sifat. Maka secara logika, keduanya memiliki kedudukan yang sama dalam keabsahannya sebagai sebab hukum.

    Kesejajaran dalam Teks (Nash):
    Teks syariat terkadang mewajibkan suatu hukum berdasarkan Nama (misal: "Emas"), dan terkadang berdasarkan Sifat (misal: "Yang Memabukkan"). Karena keduanya digunakan oleh Syariat untuk menetapkan hukum, maka masing-masing setara untuk dijadikan 'illah. Atas dasar logika ini pula, suatu Hukum diperbolehkan menjadi 'illah bagi hukum lainnya.

Kesimpulan Tambahan:
Jika Anda mau, Anda bisa katakan: Hukum-hukum itu dipahami melalui Syariat sebagaimana Makna-makna dipahami. Jika Makna boleh dijadikan 'illah, maka Nama pun demikian. Wallahu a'lam."

باب القول في أخذ الاسم قياسا

عند مالك ـ رحمه الله ـ يجوز أن تؤخذ الأسماء من جهة القياس .

و أبى ذلك قوم أن تؤخذ الأسماء قياسا .

و الأصل فيه : أن الله عز وجل قال : { فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ } [الحشر:2] [194]

فهو على العموم في الاسامي و الأحكام .

و أيضا فإنه يجوز أخذ الأحكام قياسا ، فكذلك الاسماء ؛ لأنهما في الحالين جاءا بالجائز في العقول السائغ فيها .

و أيضا : فإن المعاني أعلام للإحكام و أدلة عليها ، و الأسماء كذلك ، ثم من الجائز التنبيه على المعنى تارة بالشرع ، و تارة بلا شرع ، و كذلك الاسماء ؛ لأن الجميع من الحجج و الأعلام التي يجوز به الهجوم على الحلال و الحرام .

وأيضا : فإن القول على الشيء بأن كذا اسم له على مشاكلة القول عليه بأن كذا حكم له ، فلما جاز أن يصدر أحدهما من جهة الشرع ؛ فكذلك الثاني . [195]

وأيضا : فإن الوجود شاهد لنا ، وهو أن الشريعة سمت أسماء لم تعرف بها قبل الشرع مثل : الإيمان والإسلام والملة ، والحج ، والصوم ، والصلاة ، والزكاة ، والسنة ، والتطوع ، فوجودها يغني عن الدلالة عليها .

وأيضا : فإن من قضايا العقول أن كل متماثبين فحكمهما واحد من حيث تماثلا ، فإذا وجدنا الخمر كسبت هذا الاسم لحدوث الشدة المخصوصة ، وترتفع بارتفاع الشدة المطربة ، وسلم ذلك على السبر والامتحان ، ورأيناها في النبيذ موجودة وجب أن نعطيه اسم الخمر .

فإن قيل : فقد قال الله عز وجل : { وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا } [البقرة: 31] . [196]

فأخبر أنه علمه الكل ، والقياس ممتنع .

قيل : كذلك نقول : إن الله تعالى علم آدم الأسماء كلها ، إلا أنه نص على بعضها ونبه على بعض ، وسبيل ذلك سبيل قوله تعالى : { مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ } [الأنعام : 38 ] .

وقال تعالى : { تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى } [النحل :89] .

ثم كان وجه البيان منها على ضروب ، منها نص ، ومنها تنبيه ، كذلك هذا على أنه دليل لنا ، وذلك أنه لما ثبت أن الله تعالى علم آدم الأسماء كلها ثبت أن مآخذ الأسماء من جهة الشرع .

وقد قيل : إنه علمه أسماء الأجناس دون التفصيل ، والله أعلم . [197]

Bab: Penjelasan Mengenai Pengambilan Nama Secara Analogi (Qiyas)


"Menurut Imam Malik —rahimahullah— diperbolehkan mengambil atau menetapkan nama-nama berdasarkan jalur analogi (Qiyas). Namun, sekelompok orang menolak hal ini.

Hujah dan Dasar Logikanya:

    Keumuman Perintah I'tibar:
    Firman Allah Ta'ala: "Maka ambillah pelajaran (i'tibar) wahai orang-orang yang mempunyai wawasan." (QS. Al-Hashr: 2). Perintah ini bersifat umum, mencakup analogi dalam hal hukum maupun dalam hal penamaan (al-asami).

    Analogi Nama Setara dengan Analogi Hukum:
    Jika diperbolehkan mengambil hukum melalui analogi, maka demikian pula dengan nama. Keduanya secara akal adalah hal yang sah dan diperbolehkan.

    Nama sebagai Penanda ('Alam):
    Makna-makna (ma'ani) adalah tanda dan dalil bagi hukum, begitupun dengan nama. Sebagaimana makna terkadang diketahui melalui syariat dan terkadang melalui jalur lain, begitu pula nama. Semuanya adalah hujah yang digunakan untuk menetapkan status halal dan haram.

    Adanya Istilah Syariat Baru (Al-Asma' al-Syar'iyyah):
    Fakta sejarah membuktikan bahwa syariat menetapkan nama-nama yang tidak dikenal dengan makna tersebut sebelum datangnya Islam, seperti: Iman, Islam, Millah, Haji, Puasa, Shalat, Zakat, Sunnah, dan Tathawwu'. Keberadaan istilah-istilah ini sudah cukup sebagai bukti tanpa perlu dalil tambahan.

    Logika Keserupaan (Kasus Khamr):
    Secara akal, dua hal yang serupa harus memiliki hukum yang sama. Jika kita dapati istilah "Khamr" disematkan karena adanya sifat memabukkan yang kuat (syiddah muthribah), dan nama itu hilang jika sifatnya hilang (menjadi cuka), maka ketika kita mendapati sifat memabukkan yang sama pada Nabidz (perasan selain anggur), secara logika kita wajib memberinya nama "Khamr".

Sanggahan dan Jawaban:

    Keberatan: Allah berfirman: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya." (QS. Al-Baqarah: 31). Jika Allah sudah mengajarkan semuanya secara langsung, maka tidak ada ruang bagi analogi (Qiyas).

    Jawaban: Benar Allah mengajarkan semuanya, namun metodenya beragam: ada yang melalui teks eksplisit (nash) dan ada yang melalui isyarat/peringatan (tanbih). Ini serupa dengan firman Allah: "Tidak Kami lupakan sesuatu pun dalam Al-Kitab" dan "Sebagai penjelasan atas segala sesuatu". Penjelasan tersebut ada yang berbentuk teks langsung dan ada yang berbentuk analogi. Maka, fakta bahwa Allah mengajarkan nama-nama justru membuktikan bahwa sumber penamaan adalah syariat (bukan sekadar bahasa), dan analogi adalah salah satu metodenya. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa Allah mengajarkan nama-nama jenis (ajnas) secara umum, bukan rinciannya. Wallahu a'lam."

باب القول في الحدود

هل تؤخذ من جهة القياس

الذي عليه مذهب مالك ـ رحمه الله ـ جواز أن تؤخذ الحدود والكفارات والمقدرات من جهة القاياس .

واختلف القائلون بالقياس : هل يجوز أن تؤخذ الحدود والكفارات والمقدرات من طريق القياس ؟ .

فعندناأنه جائز ، ومنع منه بعض أصحاب أبي حنيفة ، [199] وبعض أصحاب الشافعي ، وجوزه بعضهم .

قال اقاضي ـ رحمه الله ـ :

وهو عندي جائز .

والأصل فيه : قوله عز وجل : { فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ } [الحشر:2] . [200] .

فأمر الاعتبار عموما ، ولم يفرق بين الأحكام في المقدارت والحدود والكفارات وغيرها ، فهو على عمومه في جميعها حتى يقوم دليل يمنع منه ، ولم يقم دليل يمنع منه ، فهو جائز .

وقال أيضا : { مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ } [الأنعام : 38 ] .

وقال : { تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ } [النحل :89] .

فخرج النص المستغني عن البيان وبقي الباقي ، وعدمنا كونه تبيانا لجميع الأشياء كلها لفظا ونصا على كل شيء منها ، فثبت أنه تبيان لها بالنص والتنبيه ، والقياس على المعنى من جملة التنبيه .

وأيضا : فإنما جاز إثباته بالخبر الذي يصدر عن الرسول صلى الله عليه وسلم من جهة الآحاد من أحكام الشريعة ، جاز إثباته بالقياس ، دليل ذلك غير الحدود المقدرات ، وكذلك الحدود والمقدرات . [201]

وأيضا : فإن الحوادث على ضربين : مقدر ، وغير مقدر ، ثم جاز أخذ ما ليس بمقدر قياسا ، فكذلك المقدر ، لأنه أحد ركني الحوادث ، ولإن في استعماله من طريق اللفظ والنعنى تكثير الفوائد فهو أولى .

وأيضا : فإن الصحابة ـ رضي الله عنهم ـ حين استشارهم ، حتى قال على ـ رضيالله عنه ـ وغيره من الصحابة : (( إذا سكر هذى وإذا افترى ، فنرى أن نحده حد المفتري ثمانين )) . [202 ]

فقبل عمر ـ رضي الله عنه ـ ذلك منه واتفقوا عليه ، فلما أخذوا ذلك من جهة القياس والاستنباط دل على أن للقياس مدخلا في ذلك بإجماع الصحابة ـ رضوان الله عليهم ـ فثبت ذلك وصح لإجماع الصحابة على ترك النكير على عمر وعلي ـ رضي الله عنهما ـ ، ولأنهم سوغوا ما قال وعملوا به جميعا .

فإن قيل : فقد النبي صلى الله عليه وسلم : (( ادرؤوا الحدود بالشبهات )) . [203]

والقياس محتمل فهو شبهة ؟ .

قيل له : ليس يعتبر فيه الاحتمال ، ألا ترى أنه يجوز أخذه من جهة العموم وخبر الواحد ، وشهادة الشهود ، وفي جميع ذلك من الاحتمال ما في القياس ، ولم تكن شبهة فسط ما ذكروا .

فإن قيل : فإن العقوبات مختلفة متفاونة مع اشتراكها في المعنى ، وأخذ ذلك قياسا لا يجوز .

قيل : لو وجب ذلك فيها لوجب في الخارجات من الإنسان لاشتراك جميعها في الخروج من البدن واختلافها في الأحكام ، على أن أصحاب أبي حنيفة ـ رحمه الله ـ قد ناقضوا في هذا الأصل ، وعملوا في إيجاب الحدود بالمحتمل فقالوا فيمن شهد عليه أربعة بالزنا في أربع [204] زوايا : إنه يجب عليه الحد ، وأقاموا الدلالة في الصيد مقام القتل في إيجاب الجزاء الذي هو مقدر ، ووافقونا على قياس قتل المرأة على الرجل في إيجاب الكفارة ، وكذلك في إيجاب الكفارة عليها إذا جمعت في شهر رمضان طائعة ، وقاسوا الأكل في شهر رمضان لغير عذر على المجامع ، وهذا كله نقض لأصلهم ، وبالله التوفيق والتسديد . [205]

قال القاضي أبو الحسن علي بن عمر :

هذه مقدمة من الأصول في الفقه ذكرنتها في مسائل الخلاف ليفهمها أصحابنا ، ولم أستقص الحجج عليها ، لأنه لم يكن مقصودي ذلك . [206 ] .

Bab: Penjelasan Mengenai Hukum Pidana (Al-Hudud)

Apakah Boleh Ditetapkan Melalui Jalur Analogi (Qiyas)?

"Metodologi Mazhab Malik —rahimahullah— membolehkan penetapan Hudud (hukuman pidana), Kafarat (denda penghapus dosa), dan Muqaddarat (ketentuan kadar hukum yang sudah baku) melalui jalur analogi (Qiyas).

Para ahli ushul fiqh berselisih mengenai hal ini:

    Mazhab Maliki: Boleh secara mutlak.

    Sebagian Pengikut Abu Hanifah & Syafi'i: Melarangnya.

    Sebagian Pengikut Syafi'i lainnya: Membolehkannya.

Pendapat Al-Qadhi (Ibnul Qishshar):
Menurut saya, hal ini diperbolehkan.

Hujah dan Dasar Logikanya:

    Keumuman Perintah I'tibar:
    Allah berfirman: "Maka ambillah pelajaran (i'tibar) wahai orang-orang yang mempunyai wawasan." (QS. Al-Hashr: 2). Perintah ini mencakup semua hukum tanpa membedakan antara Hudud, Kafarat, maupun ketentuan lainnya. Selama tidak ada dalil khusus yang melarang, maka perintah ini tetap berlaku umum.

    Al-Qur'an sebagai Penjelasan Segala Sesuatu:
    Allah berfirman bahwa Al-Qur'an adalah "Penjelasan bagi segala sesuatu". Karena Al-Qur'an tidak menyebutkan rincian setiap kasus secara tekstual (lafdhan), maka penjelasan tersebut hadir melalui Teks dan Isyarat/Peringatan (Tanbih). Analogi (Qiyas) adalah bagian dari metode Tanbih tersebut.

    Kesetaraan dengan Hadis Ahad:
    Hukum syariat bisa ditetapkan melalui Khabar Wahid (hadis yang diriwayatkan satu orang) yang mengandung kemungkinan salah. Jika Hudud bisa ditetapkan dengan Hadis Ahad, maka ia pun boleh ditetapkan dengan Qiyas, karena keduanya memiliki tingkat probabilitas yang serupa.

    Praktik Para Sahabat (Konsensus Sukuti):
    Ketika para Sahabat bermusyawarah mengenai hukuman bagi peminum khamr, Ali bin Abi Thalib berkata: "Jika ia mabuk, ia akan meracau (fantasinya liar). Jika ia meracau, ia akan menuduh orang lain berzina (iftira). Maka, kami berpendapat ia harus dihukum dengan hukuman penuduh zina (qadzaf), yaitu 80 kali cambuk."
    Umar bin Khattab menerima pendapat ini dan para Sahabat menyepakatinya. Ini adalah bukti nyata bahwa Sahabat menggunakan analogi untuk menetapkan hukuman pidana.

Sanggahan dan Jawaban:

    Keberatan 1: Nabi ﷺ bersabda: "Tolaklah hukum Hudud karena adanya syubhat (keraguan)." Bukankah Qiyas itu mengandung kemungkinan salah sehingga ia termasuk syubhat?

    Jawaban: Kemungkinan salah (ihtimal) dalam Qiyas tidak lantas menjadikannya syubhat yang membatalkan hukum. Bukankah kita menerima kesaksian saksi dan hadis ahad dalam Hudud? Padahal keduanya juga mengandung kemungkinan salah yang setara dengan Qiyas.

    Keberatan 2 (Kritik terhadap Mazhab Hanafi):
    Ibnul Qishshar mencatat bahwa penganut Mazhab Hanafi seringkali tidak konsisten (naqadh). Mereka melarang Qiyas dalam Hudud secara teori, namun dalam praktiknya:

        Mereka mewajibkan had zina bagi orang yang disaksikan berzina oleh 4 saksi di 4 sudut berbeda (hasil ijtihad).

        Mereka menganalogikan pembunuhan hewan buruan dengan pembunuhan manusia dalam hal denda.

        Mereka sepakat menganalogikan hukuman wanita dengan laki-laki dalam hal denda kafarat (seperti kafarat puasa).

        Mereka menganalogikan orang yang makan di siang hari Ramadhan dengan orang yang berhubungan badan dalam hal kewajiban denda kafarat.
        Ini semua adalah bentuk Qiyas dalam hukum yang mereka klaim tidak boleh diputus dengan Qiyas.

Analisis Penutup dari Penulis

Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Umar (Ibnul Qishshar) menutup naskah ini dengan berkata:

    "Ini adalah pengantar kaidah-kaidah Ushul Fiqh yang aku tulis di tengah masalah-masalah khilafiyah agar dipahami oleh rekan-rekan (Mazhab Maliki). Aku tidak memaparkan seluruh hujah secara mendalam karena itu bukan tujuan utama penulisan ini."[]

LihatTutupKomentar