Penambahan atas Teks (Nash) Merupakan Nasakh atau Bukan?
Nama kitab: Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki Al-Muqaddimah fi al-Ushul
Judul kitab asal: Al-Muqaddimah fi al-Ushul li al-Qishar (المقدمة في الأصول للقصار )
Penulis: Imam Abul Hasan Ibn al-Qishar (أبو الحسن ابن القصار)
Nama lengkap: Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Umar ibn al-Qishar al-Maliki (أبو الحسن، علي بن عمر بن أحمد بن سعد الخولاني البغدادي المالكي، الشهير بـ"ابن القصار)
Tempat/Lahir: Baghdad, Irak,
Tempat/Wafat: Baghdad, Irak, 297 atau 398 H/ 25 Juli 1007 atau 1008 M
Penerjemah: alkhoirot.org / Al-Khoirot Research and Publication
Bidang studi: Ushul fikih, Hukum syariah
Daftar Isi
- Bab XXXVII: Apakah Penambahan atas Teks (Nash) Merupakan Nasakh atau Bukan?
- Bab XXXVIII : Syariat Para Nabi Sebelum Kita
- Bab XXXVIX : Larangan (Hazhr) dan Kebolehan (Ibahah)
- Bab XXXX: Istish-hab al-Hal
- Bab XXXXI : Ijma (Konsensus) Setelah Adanya Perselisihan
- Bab XXXXII : Konsensus di Setiap Masa (Ijma' al-A'shar)
- Bab XXXXIII : 'Illah (Sebab) dan Ma'lul (Akibat)
- Fasal: Ma'lul (Akibat Hukum)
- Kembali ke: Terjemah Ushul Fikih Mazhab Maliki (al-Muqaddimah fil Ushul)
باب القول في الزيادة على النص هل يكون نسخا أو لا ؟
الذي
يدل عليه مذهب مالك رحمه الله أن الزيادة على النص لا تكون نسخا بل تكون زيادة
حكم آخر .
والمخالفون من أهل العراق قالوا : الزيادة على النص نسخ له
.
فيقال لهم : إذا كان من أصلكم الانتزاع من دليل الخطاب [146] وكان
قول الله عز وجل: { الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ
مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ } [النور: 2]
يتضمن معنيين :
أحدهما:
أن الزاني يجلد مائة .
والآخر : أن ما عدا المائة على ما كان عليه في
الأصل .
فإذا قالوا : نعم ، ولابد من ذلك .
قيل لهم : إذا
كانت المائة حكمها باقي بحاله وماعداها حكمه حكم المائة قبل ورود السمع بوجوبها ،
ووجدنا المائة لم يؤثر النفي فيها شيئا لا بأن أبطلها ولا أبطل شيئا منها وكان
ماعداها لا يصح أن يكون منسوخا ، كما لا يكون استئناف الشرع بالوجوب ناسخا لما لم
يكن في العقل وجوبه [147] فلم يبق شيء يصح أن يكون منسوخا ، وبالله التوفيق.
[148] .
Bab: Penjelasan Apakah Penambahan atas Teks (Nash) Merupakan Nasakh atau Bukan?
"Metodologi yang ditunjukkan oleh Mazhab Malik —rahimahullah— adalah
bahwa penambahan atas teks bukanlah Nasakh, melainkan penambahan hukum baru
(Ziyadatu Hukmin Akhar).
Sedangkan para penentang kami dari
penduduk Irak (Mazhab Hanafi) berkata: 'Penambahan atas teks merupakan Nasakh
bagi teks tersebut.'
Maka dikatakan (sebagai argumen) kepada
mereka:
Jika sudah menjadi prinsip kalian untuk mengambil kesimpulan dari
Dalil al-Khithab (Mafhum Mukhalafah), dan firman Allah Azza wa Jalla:
'Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari
keduanya seratus kali dera.' (QS. An-Nur: 2)
Mengandung dua
makna:
Bahwa pezina dicambuk seratus kali.
Bahwa jumlah selain seratus (tambahan) tetap pada status asalnya
(sebelum ada perintah).
Jika mereka (penduduk Irak) menjawab: 'Ya,
memang harus demikian.'
Maka dikatakan kepada mereka: Jika hukum
cambuk seratus kali itu tetap pada kondisinya (tidak berubah), dan tambahan di
luar itu statusnya sama seperti hukum sebelum adanya syariat (yaitu tidak
wajib), serta kita dapati bahwa penetapan seratus kali cambuk tidak
terpengaruh sedikit pun oleh adanya tambahan (tidak membatalkan jumlah 100
tersebut), maka tambahan tersebut tidak sah disebut sebagai Nasakh.
Sebagaimana dimulainya syariat dengan sebuah kewajiban tidaklah dianggap
menghapus (Nasakh) ketiadaan kewajiban tersebut secara logika. Maka, tidak ada
satu pun bagian yang sah untuk disebut sebagai Nasakh. Wa billahit taufiq."
باب الكلام في شرائع من كان قبلنا من الأنبياء
اختلف فيه :
هل
يلزمنا اتباع من كان في شرائع من كان قبل نبينا صلى الله عليه وسلم من الأنبياء
عليهم السلام ، إذا لم يكن في شرعنا ما ينسخه أم لا ؟
فقيل : يلزمنا ،
إلا أن يمنع منه دليل .
ومذهب مالك رحمه الله يدل على أن علينا
اتباعهم ، لأنه [149] احتج بقوله تعالى : { وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ
النَّفْسَ بِالنَّفْسِ } [المائدة: 45] .
وهذا خطاب لأهل التوراة
بشريعة موسى عليه السلام .
والحجة في ذلك قوله تعالى: { أُوْلَئِكَ
الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ } [الأنعام: 90] .
فأمر
نبينا صلى الله عليه وسلم أن يقتدي بهدي الأنبياء عليهم السلام ممن قبله. [150]
وكذلك قوله تعالى : { ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ
إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا } [النحل: 123] .
فدل على أن علينا اتباعهم
.
ومن قال ليس علينا اتباعهم فحجته قوله عز وجل : { لِكُلٍّ جَعَلْنَا
مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا } [المائدة: 48] .
فمن زعم أن شرائع من
كان قبلنا يلزمنا العمل بها أو ببعضها فقد جعل الشرع لنا ولهم والمنهاج واحدا ،
والله تعالى جعل لكل منهم شرعة ومنهاجا .
وهذا إنما يقع في الشرائع
والعبادات التي يجوز فيها النسخ والنقل والتبديل ، فأما التوحيد وما يتعلق به فلا
خلاف فيه بين شرائع الأنبياء عليهم السلام وكلهم فيه على منهاج واحد ، لأنه لا
يجوز أن يقع فيه اختلاف ، وبالله التوفيق. [151]
Bab: Penjelasan Mengenai Syariat Para Nabi Sebelum Kita
"Terdapat perbedaan pendapat mengenai masalah ini:
Apakah
kita wajib mengikuti syariat para Nabi sebelum Nabi kita ﷺ, apabila dalam
syariat kita tidak terdapat dalil yang menghapusnya (naskh)?
Pendapat
Pertama: Wajib bagi kita (mengikutinya), kecuali jika ada dalil yang
melarangnya.
Pandangan Mazhab Malik: Metodologi Imam Malik
—rahimahullah— menunjukkan bahwa kita wajib mengikuti mereka. Hal ini
dikarenakan beliau berhujah dengan firman Allah Ta'ala:
'Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat)
bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa...' (QS. Al-Ma'idah: 45).
Meskipun
ayat ini adalah khitab (perintah) bagi penganut Taurat dalam syariat Nabi Musa
'alaihissalam, Imam Malik tetap menggunakannya sebagai dasar hukum.
Hujah
(Argumen) Pendapat Ini:
Firman Allah Ta'ala:
'Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka
ikutilah petunjuk mereka.' (QS. Al-An'am: 90).
Allah memerintahkan
Nabi kita ﷺ untuk meneladani petunjuk para Nabi sebelum beliau. Begitu pula
firman-Nya:
'Kemudian Kami wahyukan kepadamu
(Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim yang lurus...' (QS. An-Nahl: 123).
Ayat-ayat
ini menunjukkan bahwa kita wajib mengikuti mereka.
Pendapat Kedua:
Tidak Wajib Mengikuti Mereka
Hujahnya adalah firman Allah Azza wa
Jalla:
'Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami
berikan aturan (syariat) dan jalan yang terang (minhaj).' (QS. Al-Ma'idah:
48).
Barangsiapa yang mengklaim bahwa syariat sebelum kita wajib
diamalkan (seluruh atau sebagiannya), maka ia telah menjadikan syariat dan
minhaj kita dan mereka itu sama. Padahal Allah Ta'ala telah menjadikan bagi
masing-masing umat sebuah syariat dan minhaj yang khusus.
باب الكلام في الحظر والإباحة
ليس عن مالك رحمه الله في الحظر
والإباحة في الأطعمة والأشربة ، وما جرت العادة بأن الجسم لابد له منه نص في ذلك
.
وذهب القاضي أبو الفرج المالكي إلى أنها على الإباحة في الأصل حتى
يقوم دليل بالحظر .
وغيره من أصحابنا يقول : هي على الحظر حتى يقوم
دليل الإباحة [153] .
ومنهم من قال هي على الوقف حتى يقوم دليل الحظر
أو الإباحة .
فحجة من قال : إنها على الإباحة : هي أنها لا تخلو أن
يكون الله عز وجل خلقها لينتفع هو بها - تعالى الله عن ذلك - أو لننتفع نحن وهو
بها ، أو ننتفع نحن دونه تعالى بها ، أو خلقها لا لينتفع هو ولا نحن بها .
فخلقها
لينتفع هو بها تعالى محال ، لأنه عز وجلّ لا تجوز عليه المنافع ولا المضار .
وخلقها
أيضا له ولنا محال لا يجوز ؛ لأن المنفعة والمضرة عليه لا تجوز [154]
وخلقها
لا لينتفع هو بها ولا نحن عبث لا يجوز عليه ـ سبحانه وتعالى عن ذلك علوا كبيرا ـ
.
فلم يبق إلا خلقها لننتفع نحن بها ، وإذا ثبت ذلك صارت هذه الدلالة
تقوم مقام الإذن منه تعالى لنا فيالانتفاع بها .
وأما من قال : هي
عنده على الحظر في الأصل ، فحجته أنه قد ثبت أن الأشياء كلها ملك لمالك واحد وهو
الله سبحانه وتعالى ، ولا يجوز الإقدام على ملك أحد إلا بإذنه ؛ لأنه لا يؤمن أن
يكون في الإقدام عليها من غير إذنه منه ضرر في العاقبة .
ومن قال هي
على الوقف ، فحجته تعارض المعنيين وتقابلهما في الحظر والإباحة ، فوجب الوقف وطلب
الدليل المميز ، وأن لا يقدم أحد على أحد القولين إلا بحجة ؛ ولأن الحظر يقتضي
حاظرا ، وأن الإباحة تقتضي مبيحا ، فوجب التوقف حتى يعلم ذلك . [155]
وعلى
أن الكلام في هذه المسألة تكلف ؛ لأنه لا يعقل الناس حالا قبل الرسل والشرائع ؛
لأن الرسل بعد آدم عليه السلام ، فقد تقررت الشرائع في جميع الأشياء بالرسل عليهم
السلام ، والله أعلم . [156]
Bab: Penjelasan Mengenai Larangan (Hazhr) dan Kebolehan (Ibahah)
"Tidak ada pernyataan eksplisit (nas) dari Imam Malik —rahimahullah—
mengenai status asal (sebelum adanya syariat) pada makanan, minuman, dan
hal-hal yang secara tradisi dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Terdapat
tiga pendapat di kalangan ulama Mazhab Maliki mengenai hal ini:
Qadhi Abu Al-Faraj Al-Maliki: Berpendapat bahwa hukum asalnya adalah
Boleh (Ibahah) sampai ada dalil yang melarangnya.
Sebagian ulama Maliki lainnya: Berpendapat bahwa hukum asalnya adalah
Terlarang (Hazhr) sampai ada dalil yang membolehkan.
Sebagian lainnya: Berpendapat untuk Berhenti (Waqf) (tidak menghukumi) sampai
tegak dalil yang melarang atau membolehkan.
Argumen Masing-Masing
Pendapat:
Hujah Pendapat "Asalnya Boleh"
(Al-Ibahah):
Allah menciptakan segala sesuatu tidak lepas
dari empat kemungkinan: (1) Untuk kemanfaatan Allah sendiri—Maha Suci Allah
dari hal itu; (2) Untuk manfaat Allah dan kita; (3) Untuk manfaat kita tanpa
Allah; atau (4) Diciptakan tanpa manfaat bagi siapa pun.
Menciptakan untuk manfaat Allah adalah mustahil, karena
Allah tidak membutuhkan manfaat dan tidak terkena mudarat.
Menciptakan untuk manfaat Allah dan kita juga mustahil
karena alasan yang sama.
Menciptakan
tanpa manfaat bagi siapa pun adalah sia-sia ('abats), dan Allah Maha Suci dari
perbuatan sia-sia.
Maka, kesimpulannya
adalah Allah menciptakannya hanya untuk kemanfaatan kita. Hal ini secara logis
berkedudukan sebagai izin dari-Nya bagi kita untuk memanfaatkannya.
Hujah Pendapat "Asalnya Terlarang" (Al-Hazhr):
Segala sesuatu adalah milik mutlak dari Pemilik yang Satu, yaitu Allah. Secara
logika, tidak boleh seseorang mempergunakan milik orang lain kecuali dengan
izinnya, karena jika dilakukan tanpa izin, dikhawatirkan akan membawa dampak
buruk (siksa) di akhirat kelak.
Hujah Pendapat
"Berhenti" (Al-Waqf):
Karena adanya pertentangan dua logika
di atas (kepemilikan Allah vs penciptaan untuk manfaat manusia), maka wajib
bagi kita untuk tidak menetapkan hukum apa pun sampai ada dalil pembeda yang
jelas.
Kesimpulan Penulis (Ibnul Qishshar):
"Al-Qadhi
(Ibnul Qishshar) berkata: Sesungguhnya perdebatan dalam masalah ini adalah
sebuah pembebanan diri yang berlebihan (takalluf). Sebab, umat manusia tidak
pernah mengalami keadaan tanpa adanya Rasul dan Syariat. Sejak masa Nabi Adam
'alaihissalam (manusia pertama), syariat telah ditetapkan bagi segala sesuatu
melalui perantara para Rasul. Wallahu a'lam."
باب الكلام في استصحاب الحال
ليس عند مالك ـ رحمه الله ـ في ذلك
نص ، ولكن مذهبه يدل عليه ؛ لأنه احتج في أشياء كثيرة سئل عنها ، فقال : (( لم
يفعل النبي صلى الله عليه وسلم ذلك ، ولا الصحابة رحمة الله عليهم )) ،و كذالكة
يقول : (( ما رأيت أحدا فعله )) ، وهذا يدل على أن السمع إذا لم يرد بإيجاب شيء
لم يجب ، وكان على ما كان عليه من البراءة الذمة . [157]
والأصل في
ذلك أن الله ع زوجل قد احتج على عباده في العبادات بالعقل والسمع ، فما كان له
حكم في العقل ولم يرد سمع بخلافه ، فأمره موقوف على ورود السمع ، فإن ورد بمثل ما
كان في العقل كان مؤكدا ، وإن ورد بخلافه ، فقد نقل الأمر عما كان عليه ، وإن لم
يرد سمع بشيء من ذلك ، فهو على أصل حكمه في العقل ، والله أعلم . [158]
Bab: Penjelasan Mengenai Istish-hab al-Hal
"Tidak ada pernyataan eksplisit (nas) dari Imam Malik —rahimahullah—
mengenai masalah ini. Akan tetapi, metodologi mazhab beliau menunjukkan adanya
penggunaan prinsip tersebut. Hal ini terlihat ketika beliau ditanya mengenai
banyak perkara, beliau sering berhujah dengan berkata:
'Nabi ﷺ tidak pernah melakukan hal itu, begitu pula para Sahabat
—rahmatullah 'alaihim—.' Atau beliau berkata:
'Aku tidak
pernah melihat seorang pun (ulama Madinah) melakukannya.'
Ini
menunjukkan bahwa apabila wahyu (as-sam'u) tidak menetapkan kewajiban atas
sesuatu, maka sesuatu itu tidak menjadi wajib, dan statusnya tetap pada
kondisi asalnya, yaitu lepasnya tanggung jawab (bara'atuz dzimmah).
Kaidah
Dasarnya:
Bahwasanya Allah Azza wa Jalla memberikan hujah kepada para
hamba-Nya dalam masalah ibadah melalui dua jalur: Akal dan Wahyu
(As-Sam'u).
Apa saja yang telah memiliki ketetapan
hukum secara akal dan tidak ada wahyu yang menyelisihinya, maka urusannya
tertahan (mawquf) sampai datangnya wahyu.
Jika wahyu
datang memperkuat apa yang ditetapkan akal, maka ia menjadi penguat
(mu'akkid).
Jika wahyu datang membawa hukum yang
berbeda, maka hukum asal tersebut berpindah (naql) menjadi hukum baru.
Namun, jika wahyu tidak datang membawa penjelasan apa pun mengenai hal
tersebut, maka ia tetap pada status hukum asalnya secara akal. Wallahu a'lam."
باب القول في الإجماع بعد الخلاف
إذا اختلفت الصحابة ـ رضي الله
عنهم ـ على قولين ، وانقرضوا على ذلك ، ثم أجمع التابعون على أحد القولين ، فهل
يسقط الخلاف؟ أم هل هو باق ؟ .
ليس عن مالك ـ رحمه الله ـ في ذلك نص ،
واختلف أصحابه في ذلك :
فقال بعضهم : ينقطع الخلاف ، ولا يجوز مخالفة
إجماع التابعين بعدهم .
وقال بعضهم : بل الخلاف باق ولا ينقطع .
قال اقاضي ـ رحمه الله ـ :
والجيد ـ وهو الذي يختاره شيخنا أبو بكر بن
صالح الأبهري [159] ـ رحمه الله ـ ـ أن الخلاف باق ، وذلك أن تقدير المسألة أن
يكون قول الصحابي المخالف بمنزلة حضوره مع التابعين ، وكونه حيا معهم وكونه ميتا
لا يسقط خلافه لهم بإجماعهم على خلافه ، وأحسن أحوال التابعين معه : أن يكونوا
بمنزلة الصحابة معه في أن مخالفة الصحابة له من طريق الاجتهادلا يسقط خلافه ،
وكذلك كون التابعين وإجماعهم على خلافه من طريق الاجتهاد لا يسقط خلافه لهم ؛
ولأن قوله بمنزلة أن لو كان حيا معهم ، ويصير إجماعهم كطائفة انضافت إلى أحد
الخبرين من الصحابة ـ رضي الله عنهم ـ وبالله التوفيق . [160]
Bab: Penjelasan Mengenai Ijma (Konsensus) Setelah Adanya Perselisihan
"Apabila para Sahabat —radhiyallahu 'anhum— berselisih dalam dua pendapat dan
mereka wafat dalam keadaan tetap memegang kedua pendapat tersebut, kemudian
para Tabi'in bersepakat (Ijma) pada salah satu dari dua pendapat tersebut;
apakah perselisihan (dari generasi Sahabat) tersebut menjadi gugur? Ataukah
perselisihan itu tetap dianggap ada?
Tidak ditemukan pernyataan
eksplisit (nas) dari Imam Malik —rahimahullah— mengenai masalah ini, dan para
pengikut beliau (ulama Maliki) berselisih pendapat:
Pendapat Sebagian Ulama: Perselisihan tersebut terputus, dan tidak
diperbolehkan lagi menyalahi ijma para Tabi'in setelah mereka bersepakat.
Pendapat Sebagian Lainnya: Perselisihan tersebut tetap ada dan tidak
terputus (meskipun Tabi'in sudah bersepakat).
Pilihan Penulis
(Ibnul Qishshar):
Al-Qadhi —rahimahullah— berkata: Pendapat yang baik
—dan inilah yang dipilih oleh guru kami Abu Bakar bin Shalih al-Abhari
—rahimahullah— adalah bahwa perselisihan tersebut tetap ada.
Hujah
(Argumen):
Asumsinya adalah kedudukan pendapat Sahabat yang berbeda
tersebut seolah-olah ia hadir bersama para Tabi'in (tetap hidup di tengah
mereka). Status wafatnya Sahabat tersebut tidak lantas menggugurkan perbedaan
pendapatnya hanya karena para Tabi'in bersepakat menentangnya. Kondisi terbaik
bagi para Tabi'in dalam menghadapi (pendapat Sahabat) ini adalah: posisi
mereka setara dengan sesama Sahabat lainnya, di mana perselisihan seorang
Sahabat melalui jalur ijtihad tidak bisa digugurkan oleh Sahabat lain. Begitu
pula ijma para Tabi'in yang didasarkan pada jalur ijtihad, tidak bisa
menggugurkan pendapat Sahabat yang telah mendahului mereka. Pendapat Sahabat
tersebut kedudukannya seolah-olah ia masih hidup bersama mereka, dan ijma para
Tabi'in hanyalah seperti sekelompok orang yang bergabung menguatkan salah satu
dari dua pendapat Sahabat yang ada sebelumnya. Wa billahit taufiq."
باب في الكلام على إجماع الأعصار
مذهب مالك ـ رحمه الله ـ وغيره
من الفقهاء : أن إجماع الأعصار حجة .
وأنكر قوم أن يكون إجماع الأعصار
حجة ، إلا للصحابة ـ رضي الله عنهم ـ والدليل على أن إجماع الأعصار حجة ، هو أن
الله عز وجل أثنى على هذه الأمة ، وبين فضلها ، ونبه عليه وعلى وجوب الحجة بقولها
، ولقوله تعالى في القرآن في مواضع كثيرة مثل قوله : { كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ
أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
. . . } الآية [آل عمران :110] .
وقوله عز وجل أيضا : { وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا [162] uن!#y‰pka عَلَى النَّاسِ }
[البقرة:143] .
وغير ذلك .
ومن السنة قول النبي صلى الله
عليه وسلم : (( أمتي لا تجتمع على ضلالة )) .
وقوله عليه السلام :
[163] (( لا تجتمع أمتي على خطأ )) .
وقوله صلى الله عليه وسلم أيضا :
(( لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خالفهم حتى تقوم الساعة ))
.
ومن حجة العقل الدال على عصمتها ، أنه لا يخلو أن يكون المراد بذلك
جميع الأمة كلها من أولها إلى آخرها ، أو يكون المراد بذلك بعضهم دون بعض ،
ويستحيل أن يكون المراد بذلك الأمة كلها أولها وآخرها من جهتين :
إحداهما
: أنهم لا يكونون حجة على أنفسهم . [164]
والأخرى : أنهم لو كانوا
كذلك ، أو جاز أن يكونوا بأجمعهم حجة لم يجز أن يدرك الحكم من جهتهم إلا من أدرك
أولهم وآخرهم .
وهذا أيضا بين الفساد ، فثبت أن الحجة متعلقة ببعضهم ،
ولا يخلو ذلك البعض من أن يكون حجة على أهل عصره ، أو لا يكون حجة غلا على أهل
العصر الذي بعده ، فبطل القسم الأول لاتفاق الجميع على أن الصحابة ـ رضي الله
عنهم ـ ليس بعضهم حجة على بعض ، فلم يبق إلا أنهم حجة على من بعدهم لأجل تقدمهم ،
وكان تقدم العصر الثاني للثالث ، كتقدم عصر الصحابة للتابعين ، وكانت حاجة العصر
الثالث إلى الثاني كحاجة الثاني إلى الأول في العوارض من إرسال الرسل عليهم
السلام ، إذ الرسل قد انقطعت بعد النبي صلى الله عليه وسلم ؛ لأنه جعل خاتم
النبيين صلى الله عليه وسلم ، وجعلت الأمة عوضا عنها ، فوجب حجة الأعصر متقديمهم
على متأخرهم ، كوجوب حجة عصر الصحابة ـ رضي الله عنهم ـ على من بعدهم ، ولأن الحق
لا يجوز أن يخرج عن كل عصر ، فثبت أن إجماع كل عصر حجة ، والله أعلم . [165]
Bab: Penjelasan Mengenai Konsensus di Setiap Masa (Ijma' al-A'shar)
"Mazhab Malik —rahimahullah— dan mayoritas ahli fikih berpendapat bahwa
konsensus yang terjadi di setiap masa adalah hujah (dalil yang mengikat).
Sebagian
kaum mengingkari hal ini dan menganggap bahwa ijma' hanya menjadi hujah jika
terjadi di kalangan Sahabat saja. Adapun dalil bahwa ijma' di setiap masa
adalah hujah, didasarkan pada pujian Allah Azza wa Jalla terhadap umat ini,
penjelasan atas keutamaannya, serta peringatan akan wajibnya menjadikan
pendapat mereka sebagai hujah. Hal ini tertuang dalam banyak tempat di
Al-Qur'an, seperti:
'Kamu adalah umat yang terbaik
yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari
yang mungkar...' (QS. Ali Imran: 110).
Serta firman-Nya:
'Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang
adil (wasath) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia...' (QS.
Al-Baqarah: 143).
Dalil dari Sunnah:
Sabda
Nabi ﷺ: 'Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.'
Sabda beliau ﷺ: 'Umatku tidak akan bersepakat di atas kesalahan.'
Sabda beliau ﷺ: 'Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tegak di
atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka
sampai datangnya hari kiamat.'
Hujah Akal (Logika) Mengenai
Maksumnya Umat:
Secara logika, maksud dari 'Umat' dalam dalil-dalil
tersebut tidak mungkin merujuk pada seluruh umat dari awal hingga akhir zaman
secara sekaligus karena dua alasan:
Mereka (totalitas
umat) tidak mungkin menjadi hujah atas diri mereka sendiri.
Jika seluruh umat (dari awal sampai akhir) adalah syarat ijma', maka
hukum tidak akan pernah bisa diketahui kecuali oleh orang yang menjumpai
generasi pertama hingga generasi terakhir. Ini jelas mustahil (bathil).
Maka,
tetaplah bahwa hujah itu terletak pada sebagian dari mereka (generasi
tertentu). Pilihannya: apakah generasi tersebut menjadi hujah bagi generasinya
sendiri, atau hanya bagi generasi setelahnya?
Karena disepakati bahwa
sesama Sahabat tidak menjadi hujah atas Sahabat lainnya (masing-masing punya
ijtihad), maka yang tersisa adalah mereka menjadi hujah bagi generasi
setelahnya karena faktor dahulu (taqaddum).
Kedudukan masa kedua
terhadap masa ketiga, sama seperti kedudukan masa Sahabat terhadap Tabi'in.
Kebutuhan masa ketiga terhadap masa kedua sama seperti kebutuhan masa kedua
terhadap masa pertama dalam menghadapi perkara baru setelah putusnya risalah
para Nabi. Karena Nabi ﷺ adalah penutup para Nabi, maka Umat dijadikan sebagai
pengganti fungsi tersebut. Maka wajib hukumnya ijma' di setiap masa menjadi
hujah atas masa sesudahnya, karena kebenaran tidak boleh keluar dari
kesepakatan umat di masa mana pun. Wallahu a'lam."
باب الكلام على العلة والمعلول
قال القاضي الجليل أبو الحسن ـ
رضي الله عنه ـ :
العلة عند مالك والفقهاء هي : الصفة التي يتعلق
الحكم الشرعي بها .
والعلة في مواضعة اللغة تفيد ما يتغير الحكم
بوجوده ، ولهذا سمي المرض علة لما تغيرت الحال عما كانت عليه بوجوده ، و يصفونا
ماله فعل الفعل أو لم يفعل علة ، فيقولون : (( جئتك لعلة كذا و كذا )) و (( لم
آتك لعلة كيت و كيت )) .
و استعملها المتكلمون في غير ذلك .
فأما
العلة عند مالك و الفقهاء فهي : (( الصفة التي يتعلق الحكم الشرعي بها )) كما
قلنا .
و من حكم العلة العقلية و حقها :
1- أن تكون موجبة
لمعلولها .
2- أن يستغني في إيجابها عن مقارنة غيرها لها .
3-
و أن لاتقف في إيجابها على شرط . [168]
4- و أن لا تختص بإيجابها لما
توجبه لبعض الأعيان دون بعض ، أو لبعض الزمان دون بعض .
و العلة
الشرعية تفارقها في جميع هذه الوجوه بلا خلاف بين القائسين ، إلا في اختصاصها
ببعض الأحيان ، فإن من يمتنع من جواز تخصيص العلة الشرعية يسوي بينها وين العلل
العقليات في هذا الوجه الواحد ، دون من يرى تخصيص العلة الشرعية منهم .
و
طريق معرفة العلة العقلية دليل العقل ، و طريق معرفة العلة الشرعية دليل السمع .
[169]
Bab: Penjelasan Mengenai 'Illah (Sebab) dan Ma'lul (Akibat)
"Al-Qadhi yang mulia Abu Al-Hasan —radhiyallahu 'anhu— berkata:
'Illah
menurut Imam Malik dan para fukaha adalah: Sifat yang menjadi tempat
bergantungnya suatu hukum syariat.
Dalam penggunaan bahasa
(lughah), 'illah berarti sesuatu yang dengannya suatu keadaan berubah. Itulah
sebabnya penyakit disebut 'illah, karena keadaan tubuh berubah dari sehat
menjadi sakit dengan keberadaannya. Bahasa juga menggunakan istilah 'illah
untuk motif melakukan atau tidak melakukan sesuatu, seperti ucapan: 'Aku
mendatangimu karena 'illah (alasan) ini dan itu', atau 'Aku tidak mendatangimu
karena 'illah ini dan itu'.
Para ahli kalam (teolog) menggunakannya
dalam konteks lain. Namun bagi Malik dan para fukaha, 'illah adalah: 'Sifat
yang menjadi tempat bergantungnya hukum syariat', sebagaimana yang telah kami
sebutkan.
Karakteristik 'Illah Aqliyyah (Logika Murni):
Secara
hakikat dan hukum akal, 'illah aqliyyah harus memenuhi:
Wajib mewujudkan akibatnya (mujibatan li ma'luliha): Jika ada sebab,
akibat pasti lahir seketika.
Mandiri: Tidak
membutuhkan faktor lain untuk mewujudkan akibatnya.
Tanpa Syarat: Tidak bergantung pada syarat tambahan.
Universal: Tidak khusus berlaku pada objek tertentu atau waktu tertentu
saja.
Perbedaan dengan 'Illah Syar'iyyah (Hukum Agama):
'Illah
syar'iyyah berbeda dengan 'illah aqliyyah dalam semua poin di atas menurut
kesepakatan para ahli Qiyas. Satu-satunya pengecualian adalah dalam hal
pengkhususan (takhshish):
Ulama yang melarang
takhshish 'illah menyamakan 'illah syar'iyyah dengan 'illah aqliyyah hanya
dalam poin universalitas ini.
Sedangkan ulama yang
membolehkan takhshish 'illah (menganggap sebab hukum bisa dikecualikan pada
kasus tertentu) melihat adanya perbedaan di semua poin.
Cara
Mengetahuinya:
Jalur untuk mengetahui 'illah aqliyyah
adalah dalil akal.
Jalur untuk mengetahui 'illah
syar'iyyah adalah dalil wahyu (as-sam'u).
Analisis Poin Utama: Roh
dari Qiyas
Ibnul Qishshar menjelaskan fondasi terpenting dalam
melakukan analogi hukum (Qiyas). Tanpa memahami 'illah, seseorang tidak bisa
melakukan ijtihad.
Definisi Operasional: 'Illah bukan
sekadar alasan, tapi "sifat" yang terikat pada hukum. Contoh: 'Illah haramnya
khamr bukan "cairan merahnya", tapi "sifat memabukkannya". Jika sifat
memabukkan itu ada pada minuman lain, maka hukum haram berpindah ke sana.
Akal vs Syariat: Penulis membedakan secara tajam antara hukum
alam/logika dengan hukum Tuhan.
Dalam
hukum alam ('illah aqliyyah), api membakar karena sifatnya (akibat pasti).
Dalam hukum syariat ('illah syar'iyyah), Allah
mengikatkan hukum pada suatu sifat bukan karena sifat itu "memaksa" Allah,
melainkan sebagai tanda (alamah) bagi manusia. Misalnya, safar adalah 'illah
bolehnya qashar shalat, tapi seseorang boleh tetap shalat sempurna
(menunjukkan 'illah syariat tidak selalu mewajibkan akibatnya secara otomatis
seperti hukum alam).
Fleksibilitas Syariat: Poin
mengenai "pengkhususan" menunjukkan bahwa syariat Islam sangat memperhatikan
konteks. Sebuah sebab hukum bisa saja ada, namun karena suatu kondisi khusus,
hukumnya tidak berlaku (misalnya: membunuh adalah sebab hukuman mati, tapi
dikecualikan jika membunuh dalam membela diri).
فصل
و أما المعلول فهو الحكم الذي العلة علة فيه ، و هو تحريم الربا
أبدا لا أنه نفس البر و الأرز على ما يظنه بعضهم ، و كيف يجوز ذلك في المعلول و
هو الذي من حقه أن تؤثر العلة فيه و يتبعها و يزول بزوالها ، و هذا كله لا يتأتى
في البر نفسه ، فثبت أن المعلول هو الحكم الذي العلة علة فيه ، و الله أعلم .
[170]
Fasal: Penjelasan Mengenai Ma'lul (Akibat Hukum)
"Adapun Ma'lul adalah hukum yang diakibatkan oleh suatu 'illah (sebab
hukum). Contohnya adalah: Pengharaman Riba untuk selamanya. Ma'lul bukanlah
fisik atau zat benda itu sendiri seperti gandum (al-burr) atau beras
(al-aruzz), sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang.
Bagaimana
mungkin zat benda dianggap sebagai ma'lul? Padahal hakikat ma'lul adalah
sesuatu yang harus dipengaruhi oleh 'illah, selalu mengikutinya, dan akan
hilang (hukumnya) apabila 'illah tersebut hilang. Semua karakteristik ini
tidak mungkin terjadi pada zat gandum itu sendiri (zat gandum tetap ada, baik
hukum ribanya ada atau tidak).
Maka, tetaplah (kebenaran) bahwa
Ma'lul adalah hukum yang diakibatkan oleh keberadaan 'illah-nya. Wallahu
a'lam."
