Kitab Persaksian
Nama kitab: Terjemah Mukhtashar Al-Khiraqi
Judul asal: Mukhtashar Al-Khiraqi dikenal dengan nama Matn al-Khiraqi ala Madzhab Abi Abdillah ibn Hanbal al-Syaibani ("مختصر الخرقي ويُعرف بـ "متن الخرقي على مذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل الشيباني")
Penulis: Abu al-Qasim Umar ibn al-Husain bin Abdillah al-Khiraqi ( أبو القاسم عمر بن الحسين بن عبد الله الخرقي )
Wafat: 334 H.
Penerjemah: Al-Khoirot Research & Publication
Bidang studi: Fikih madzhab Hanbali (Hambali)
Daftar Isi
- Kitab Persaksian
- Kitab Peradilan / Putusan Hukum (Kitab Al-Aqdhiyah)
- Kitab Gugatan Dan Bukti (Kitab Ad-Da'awa Wal-Bayyinat)
- Kitab Memerdekakan Budak (Kitab Al-Itq)
- Kitab Mudabbar (Budak Yang Dijanjikan Merdeka Setelah Majikan Wafat)
- Kitab Mukatab (Budak Yang Menyicil Kemerdekaannya)
- Kitab Memerdekakan Ummuhatul Awlad (Budak Perempuan Yang Melahirkan Anak Tuannya)
- Kembali ke: Mukhtashar Al-Khiraqi Fikih Mazhab Hanbali
كتاب الشهادات
KITAB PERSAKSIAN (KIDAB ASY-SYAHADAT)
ولا يقبل في الزنا إلا أربعة رجال عدول أحرار مسلمين ولا يقبل فيما سوى الأموال فيما يطلع عليه الرجال أقل من رجلين ولا يقبل في الأموال أقل من رجل وامرأتين أو رجل عدل مع يمين الطالب ويقبل فيما لا يطلع عليه الرجال مثل الرضاع والولادة والحيض والعدة وما أشبهها
KITAB PERSAKSIAN (KIDAB ASY-SYAHADAT)
Kasus zina tidak dapat diterima kecuali dengan kesaksian empat orang laki-laki yang adil, merdeka, dan muslim.
Perkara selain harta (keuangan) yang biasa dilihat atau diketahui oleh laki-laki, tidak diterima kesaksian kurang dari dua orang laki-laki.
Dalam urusan harta, tidak diterima kesaksian kurang dari satu orang laki-laki dan dua orang perempuan, atau kesaksian satu orang laki-laki yang adil disertai sumpah pihak penggugat (yang menuntut hak).
Kesaksian perempuan diterima dalam perkara-perkara yang biasanya tidak dilihat oleh laki-laki, seperti masalah persusuan (radha'ah), kelahiran, haid, masa idah, dan perkara sejenisnya.
كتاب الأقضية
KITAB PERADILAN / PUTUSAN HUKUM (KITAB AL-AQDHIYAH)
وإذا مات رجل وخلف ولدين ومائتي درهم فأقر أحدهما بمائة درهم دينا على أبيه لأجنبي دفع إلى المقر له نصف ما بقي في يده من إرثه عن أبيه إلا أن يكون المقر عدلا فيشاء الغريم أن يحلف مع شهادة الابن ويأخذ مائة وتكون المائة الباقية بين الابنين.
وإذا هلك رجل عن ابنين وله حق بشاهد وعليه من الدين ما يستغرق ماله فأبى الوارثان أن يحلفا مع الشاهد لم يكن للغريم أن يحلف مع شاهد الميت ويستحق فإن حلف الوارثان مع الشاهد حكم بالدين ودفع إلى الغريم.
ومن ادعى دعوى على رجل وذكر إن بينته بالبعد منه لحلف المدعى عليه ثم أحضر المدعي البينة حكم بها ولم تكن اليمين مزيلة للحق.
واليمين التي يبرأ بها المطلوب هي اليمين بالله عز وجل وإن كان الحالف كافرا إلا أنه يقال له إن كان يهوديا قل والله الذي أنزل التوراة على موسى وإن كان نصرانيا قيل له قل والله الذي أنزل الإنجيل على عيسى فإن كان لهم مواضع يعظمونها ويتقون أن يحلفوا فيها كاذبين حلفوا فيها.
ويحلف الرجل فيما عليه على البت ويحلف الوارث على دين الميت على نفي العلم وإذا شهد من الأربعة اثنان إن هذا زنى بهذه في هذا
البيت وشهد الآخران أنه زنى بها في البيت الآخر فالأربعة قذفة وعليهم الحد ولو جاء الأربعة متفرقين والحاكم جالس في مجلس حكمه لم يقم قبل شهادتهم وإن جاء بعضهم بعد أن قام الحاكم كانوا قذفة وعليهم الحد ومن حكم بشهادتهما بجرح أو بقتل ثم رجعا فقالا عمدنا اقتص منهما وإن قالا أخطأنا غرمنا الدية أو أرش الجرح وإن كانت شهادتهما بمال غرماه ولا يرجع به على المحكوم له به سواء كان المال قائما أو تالفا وكذلك إن كان المحكوم به عبدا أو أمة غرما قيمته.
وإذا قطع الحاكم يد السارق بشهادة اثنين ثم علم أنهما كافران أو فاسقان كانت دية اليد من بيت المال.
وإذا ادعى العبد أن سيده أعتقه وأقام شاهدا حلف مع شاهده وصار حرا.
ومن شهد شهادة زور أدب وأقيم للناس في المواضع التي يشتهر فيها ويعلم أنه شاهد زور إذا تحقق تعمده لذلك وإن غير العدل شهادته بحضرة الحاكم فزاد فيها أو نقص قبلت منه ما لم يحكم بشهادته وإذا شهد شاهد بألف وآخر بخمسمائة حكم لمدعي الألف بخمسمائة وحلف مع شاهده على الخمسمائة الأخرى إن أحب ومن ادعى شهادة عدل فأنكر العدل أن يكون عنده شهادة ثم شهد بها بعد ذلك وقال أنسيتها قبلت منه ومن شهد بشهادة تجر إلى نفسه بعضها بطلت شهادته في الكل.
وإذا مات رجل وخلف أبنا وألف درهم فادعى رجل دينا على الميت ألف درهم فصدقه الابن وادعى الآخر مثل ذلك وصدقه الابن فإن كان في مجلس واحد كانت الألف بينهما وإن كان في مجلسين كانت
الألف للأول ولا شيء للثاني.
وإذا ادعى على مريض دعوى فأومأ برأسه أي نعم لم يحكم بها عليه حتى يقول بلسانه ومن ادعى دعوى وقال لا بينة لي ثم أتى بعد ذلك ببينة لم تقبل منه لأنه مكذب لبينته وإذا شهد الوصي على من هو موصى عليهم قبلت شهادته وإن شهد لهم لم تقبل إذا كانوا في حجره وإذا شهد من يخنق في الأحيان قبلت شهادته في إفاقته.
وتقبل شهادة الطبيب العدل في الموضحة إذ لم يقدر على طبيبين وكذلك البيطار في داء الدابة.
KITAB PERADILAN / PUTUSAN HUKUM (KITAB AL-AQDHIYAH)
Jika seorang laki-laki wafat dan meninggalkan dua orang anak serta uang 200 dirham, lalu salah satu anak mengakui adanya utang ayahnya sebesar 100 dirham kepada orang lain (pihak ketiga), maka anak yang mengakui utang tersebut harus menyerahkan kepada kreditur (pemberi utang) setengah dari sisa warisan dari ayahnya yang ada di tangannya. Kecuali jika anak yang mengakui itu adalah orang yang adil, lalu kreditur memilih untuk bersumpah menyertai persaksian anak tersebut, maka ia berhak mengambil 100 dirham penuh, dan sisa 100 dirham berikutnya dibagi di antara kedua anak tersebut.
Jika seorang laki-laki wafat dan memiliki piutang yang diperkuat oleh seorang saksi, sedangkan ia memiliki utang yang menghabiskan seluruh hartanya, namun kedua ahli warisnya menolak untuk bersumpah bersama saksi tersebut, maka kreditur tidak berhak bersumpah bersama saksi si mayit untuk mengambil haknya. Namun, jika kedua ahli waris bersumpah bersama saksi, maka utang tersebut ditetapkan dan diserahkan kepada kreditur.
Barangsiapa mengajukan suatu gugatan terhadap seseorang dan menyebutkan bahwa bukti-buktinya berada di tempat yang jauh sehingga tergugat diminta bersumpah terlebih dahulu, kemudian setelah itu penggugat mendatangkan buktinya (saksi), maka hakim tetap memutuskan perkara berdasarkan bukti tersebut, dan sumpah yang telah dilakukan sebelumnya tidak menggugurkan hak.
Sumpah yang dapat membebaskan tertuduh (tergugat) adalah sumpah demi Allah 'Azza wa Jalla. Meskipun orang yang bersumpah adalah orang kafir, hanya saja diinstruksikan kepadanya: jika ia seorang Yahudi, katakanlah: "Demi Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa." Jika ia seorang Nasrani, dikatakan kepadanya: "Demi Allah yang telah menurunkan Injil kepada Isa." Jika mereka memiliki tempat-tempat khusus yang mereka agungkan dan mereka takuti untuk bersumpah palsu di sana, maka mereka diminta bersumpah di tempat tersebut.
Seseorang bersumpah atas apa yang dituduhkan kepadanya dengan sumpah yang pasti (tegas/yakin). Sedangkan seorang ahli waris bersumpah atas utang si mayit berdasarkan ketiadaan pengetahuan (ia bersumpah tidak mengetahui adanya utang tersebut).
Jika dua orang dari empat saksi bersaksi bahwa seorang laki-laki berzina dengan seorang perempuan di rumah ini, sedangkan dua saksi lainnya bersaksi bahwa ia berzina dengannya di rumah yang lain, maka keempat saksi tersebut dianggap sebagai penuduh zina tanpa bukti (qadzaf) dan mereka dikenakan hukuman cambuk (had qadzaf).
Jika keempat saksi datang secara terpisah sementara hakim sedang duduk di majelis peradilannya, hakim tidak boleh bangkit sampai persaksian mereka selesai diambil. Namun, jika sebagian dari mereka datang setelah hakim bangkit/pergi, maka mereka dianggap sebagai penuduh zina (qadzaf) dan dikenakan hukuman had.
Barangsiapa yang dijatuhi hukuman berdasarkan persaksian dua orang saksi dalam kasus pelukaan atau pembunuhan, kemudian kedua saksi itu mencabut persaksiannya dan berkata: "Kami sengaja melakukannya," maka dilakukan hukum qishash pada keduanya. Namun jika keduanya berkata: "Kami keliru/salah," maka kedua saksi wajib membayar denda (diat) atau ganti rugi luka (arsy).
Jika persaksian keduanya berkaitan dengan harta lalu mereka mencabutnya, maka mereka berdua wajib mengganti harta tersebut, dan harta itu tidak diambil kembali dari orang yang memenangkan putusan hukum, baik harta tersebut masih utuh maupun sudah rusak/hilang. Demikian pula jika perkara yang diputuskan itu berupa budak laki-laki atau perempuan, maka kedua saksi wajib mengganti nilainya.
Jika hakim memotong tangan pencuri berdasarkan persaksian dua orang saksi, kemudian diketahui bahwa kedua saksi tersebut ternyata orang kafir atau fasik, maka denda (diat) potongan tangan tersebut diambil dari Baitul Mal.
Jika seorang budak mengaku bahwa tuannya telah memerdekakannya dan ia mendatangkan seorang saksi, lalu ia bersumpah bersama saksinya, maka ia menjadi merdeka.
Barangsiapa memberikan persaksian palsu (syahadat zur), ia harus dihukum ta'zir (edukatif/pemberian efek jera) dan diumumkan di hadapan masyarakat di tempat-tempat keramaian agar diketahui bahwa ia adalah saksi palsu, jika telah terbukti bahwa ia sengaja melakukannya.
Jika seorang saksi yang adil mengubah persaksiannya di hadapan hakim, baik menambah atau menguranginya, perubahan itu diterima darinya selama hakim belum menjatuhkan putusan berdasarkan persaksian tersebut.
Jika seorang saksi bersaksi atas nilai 1.000 dirham dan saksi lainnya bersaksi atas nilai 500 dirham, maka hakim memutuskan untuk penggugat sebesar 500 dirham, dan penggugat dapat bersumpah bersama saksinya untuk 500 dirham sisanya jika ia mau.
Barangsiapa yang meminta persaksian dari seorang yang adil, lalu orang yang adil itu mengingkari bahwa ia memiliki persaksian tersebut, kemudian setelah itu ia memberikan persaksiannya dan berkata: "Tadi saya lupa," maka persaksiannya diterima.
Barangsiapa yang memberikan persaksian yang mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri pada sebagian persaksiannya, maka batal seluruh persaksiannya secara total.
Jika seorang laki-laki wafat dan meninggalkan seorang anak lelaki serta uang 1.000 dirham, lalu seseorang mengklaim memiliki piutang pada si mayit sebesar 1.000 dirham dan anak itu membenarkannya, kemudian orang lain juga mengklaim hal yang sama dan anak tersebut membenarkannya pula: jika pengakuan itu terjadi dalam satu majelis, maka uang 1.000 dirham itu dibagi di antara keduanya. Namun jika terjadi di dua majelis yang berbeda, maka uang 1.000 dirham itu menjadi milik orang yang pertama, dan orang yang kedua tidak mendapatkan apa-apa.
Jika seseorang mengajukan gugatan terhadap orang yang sakit, lalu orang sakit itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengiyakan (ya), maka putusan belum boleh dijatuhkan atasnya sampai ia mengatakannya dengan lisannya.
Barangsiapa mengajukan gugatan dan berkata: "Saya tidak punya bukti," lalu setelah itu ia datang membawa bukti, maka bukti tersebut tidak diterima darinya karena ia telah mendustakan perkataan/buktinya sendiri.
Jika seorang washi (penerima wasiat/wali amanah) bersaksi terhadap orang yang berada di bawah pengawasannya, maka persaksiannya diterima. Namun jika ia bersaksi untuk keuntungan mereka, persaksiannya tidak diterima jika mereka berada dalam pengasuhannya.
Jika seseorang yang terkadang mengalami gangguan jiwa (gila/pingsan sesekali) memberikan kesaksian, persaksiannya diterima ketika ia dalam keadaan sadar/sehat.
Diterima persaksian seorang dokter yang adil dalam kasus luka kepala yang mengelupas kulitnya (al-mudhihah) jika tidak ditemukan dua orang dokter. Demikian pula persaksian dokter hewan (al-baithar) dalam penyakit hewan ternak.
كتاب الدعاوى والبينات
KITAB GUGATAN DAN BUKTI (KITAB AD-DA'AWA WAL-BAYYINAT)
ومن ادعى زوجية امرأة فأنكرته ولم يكن له بينة فرق بينهما ولم يحلف ومن ادعى دابة في يد رجل فأنكر وأقام كل واحد منهما بينة حكم بها للمدعي بينته ولم يلتفت إلى بينة المدعى عليه لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر باستماع بينة المدعي ويمين المدعى عليه وسواء شهدت بينة المدعي له إنها له أو قالت ولدت في ملكه.
ولو كانت الدابة في أيديهما فأقام أحدهما البينة أنها له وأقام الآخر البينة أنها له نتجت في ملكه سقطت البينات وكانا كمن لا بينة لهما وجعلت بينهما نصفين وكانت اليمين لكل واحد منهما على الآخر في النصف المحكوم له به ولو كانت الدابة في يد غيرهما واعترف أنه لا يملكها أو أنها لأحدهما ولا يعرفه عينا أقرع بينهما فمن قرع صاحبه حلف وسلمت إليه.
وإذا كان في يده دار فادعاها رجل فأقر بها لغيره فان كان المقر له بها حاضرا جعل الخصم فيها وإن كان غائبا وكانت للمدعي بينة حكم له بها وكان الغائب على خصومته متى حضر ولو مات رجل وخلف ولدين مسلما وكافرا فادعى المسلم أن أباه مات مسلما وادعى الكافر أن أباه مات كافرا فالقول قول الكافر مع يمينه لأن المسلم باعترافه بأخوة الكافر معترف أن أباه كان كافرا مدعيا لإسلامه وإن لم يعترف بأخوة الكافر ولم تكن بينة بأخوته كان الميراث بينهما نصفين لتساوي أيديهما وإن أقام الكافر بينة أن أباه مات كافرا وأقام المسلم بينة أنه مات مسلما سقطت البينتان وكان كمن لا بينة لهما.
وإن قال شاهدان نعرفه كافرا وقال شاهدان نعرفه مسلما حكم بالميراث للمسلم لأن الإسلام يطرأ على الكفر إذا لم يؤرخ الشهود معرفتهم.
ولو ماتت امرأة وابنها فقال زوجها ماتت قبل ابني فورثناها ثم مات ابني فورثته وقال أخوها مات ابنها فورثته ثم ماتت فورثناها ولا بينة حلف كل واحد منهما على إبطال دعوى صاحبه وكان ميراث الابن لأبيه وميراث المرأة لأخيها وزوجها نصفين.
ولو شهد شاهدان على رجل أنه أخذ من صبي ألفا وشهد آخران على رجل آخر أنه أخذ من الصبي ألفا كان على ولي الصبي أن يطالب أحدهما بالألف إلا أن تكون كل بينة لم تشهد بالألف التي شهدت بها الأخرى فيأخذ الولي الألفين ولو أن رجلين حربيين جاءا من ارض الحرب مسلمين فذكر كل واحد منهما أنه أخو صاحبه جعلاهما أخوين ولو كانا سبيا فادعيا ذلك بعد أن أعتقا فميراث كل واحد منهما لمعتقه إذا
لم يصدقهما إلا أن يقوم بما ادعياه من الأخوة بينة من المسلمين فيثبت النسب بها فيورث كل واحد منهما من أخيه.
وإذا كان الزوجان في البيت فافترقا أو ماتا فادعى كل واحد منهما ما في البيت أنه له أو ورثه حكم بما كان يصلح للرجال للرجل وما كان يصلح للنساء للمرأة وما كان يصلح أن يكون لهما فهو بينهما نصفين.
ومن كان له على أحد حق فمنعه منه وقدر على مال له لم يأخذ منه مقدار حقه لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أد الأمانة إلى من ائتمنك ولا تخن من خانك" .
KITAB GUGATAN DAN BUKTI (KITAB AD-DA'AWA WAL-BAYYINAT)
Barangsiapa mengklaim status pernikahan dengan seorang perempuan, lalu perempuan itu mengingkarinya dan laki-laki itu tidak memiliki bukti, maka keduanya dipisahkan dan perempuan itu tidak perlu bersumpah.
Barangsiapa mengklaim seekor hewan ternak yang berada di tangan orang lain, lalu orang tersebut mengingkarinya dan masing-masing mendatangkan bukti (saksi), maka diputuskan hewan itu untuk penggugat berdasarkan buktinya, dan bukti dari tergugat tidak dihiraukan. Karena Nabi SAW memerintahkan untuk mendengarkan bukti dari penggugat dan sumpah dari tergugat. Sama saja apakah bukti penggugat bersaksi bahwa hewan itu miliknya atau bersaksi bahwa hewan itu lahir dalam kepemilikannya.
Jika hewan tersebut berada di tangan keduanya (dikuasai bersama), lalu salah satunya mendatangkan bukti bahwa hewan itu miliknya dan yang lain mendatangkan bukti bahwa hewan itu miliknya dan lahir dalam kepemilikannya, maka semua bukti tersebut gugur, dan status keduanya seperti orang yang tidak memiliki bukti. Hewan itu dibagi dua di antara mereka, dan masing-masing wajib bersumpah atas setengah bagian yang diputuskan untuk saudaranya.
Jika hewan tersebut berada di tangan pihak ketiga, dan orang itu mengakui bahwa ia tidak memilikinya atau menyatakan bahwa hewan itu milik salah satu dari keduanya namun ia tidak tahu pasti orangnya, maka dilakukan undian (qur'ah) di antara keduanya. Siapa yang keluar namanya dalam undian tersebut, ia harus bersumpah dan hewan itu diserahkan kepadanya.
Jika ada sebuah rumah di tangan seseorang, lalu seorang laki-laki menggugatnya, kemudian orang yang menguasai rumah tersebut mengaku bahwa rumah itu milik orang lain (pihak ketiga): jika orang yang diakui haknya itu hadir, maka ia dijadikan sebagai lawan tanding dalam perkara (tergugat asli). Namun jika ia tidak ada (gaib), sementara penggugat memiliki bukti, maka diputuskan rumah itu untuk penggugat, dan orang yang gaib tersebut tetap berhak mengajukan gugatan kapan pun ia hadir.
Jika seorang laki-laki wafat dan meninggalkan dua orang anak, yang satu muslim dan yang satu kafir, lalu anak yang muslim mengklaim bahwa ayahnya wafat dalam keadaan muslim sedangkan anak yang kafir mengklaim bahwa ayahnya wafat dalam keadaan kafir, maka perkataan yang dimenangkan adalah perkataan anak yang kafir disertai sumpahnya. Karena dengan pengakuan anak muslim terhadap persaudaraan anak yang kafir, berarti ia mengakui bahwa ayahnya dulunya kafir dan ia hanya sekadar mengklaim keislaman ayahnya. Namun jika anak muslim tidak mengakui persaudaraan anak kafir itu dan tidak ada bukti atas persaudaraannya, maka warisan dibagi dua di antara keduanya karena kesamaan penguasaan fisik mereka atas harta. Jika anak yang kafir mendatangkan bukti bahwa ayahnya wafat dalam keadaan kafir dan anak yang muslim mendatangkan bukti bahwa ayahnya wafat dalam keadaan muslim, maka kedua bukti tersebut gugur dan posisi mereka seperti orang yang tidak memiliki bukti.
Jika dua orang saksi berkata: "Kami mengetahui ia wafat dalam keadaan kafir," dan dua orang saksi lainnya berkata: "Kami mengetahui ia wafat dalam keadaan muslim," maka warisan diputuskan untuk anak yang muslim, karena Islam adalah status baru yang menghapus kekafiran, apabila para saksi tidak memberikan penanggalan (waktu spesifik) kapan mereka mengetahuinya.
Jika seorang perempuan dan anak laki-lakinya wafat, lalu suaminya berkata: "Istriku wafat sebelum anakku, sehingga kami (aku dan anakku) mewarisinya, kemudian anakku wafat lalu aku mewarisinya." Sementara saudara laki-laki si perempuan berkata: "Anaknya wafat duluan sehingga saudara perempuanku mewarisinya, kemudian saudara perempuannya wafat lalu kami mewarisinya," dan tidak ada bukti di antara keduanya: maka masing-masing dari keduanya bersumpah untuk membatalkan klaim lawannya, dan harta warisan anak diserahkan kepada ayahnya, sedangkan warisan si perempuan dibagi dua di antara saudara laki-lakinya dan suaminya.
Jika dua orang saksi bersaksi atas seorang laki-laki bahwa ia mengambil uang 1.000 dirham dari seorang anak kecil, dan dua saksi lainnya bersaksi atas laki-laki lain bahwa ia mengambil 1.000 dirham dari anak kecil tersebut, maka wali anak kecil itu berhak menuntut salah satu dari keduanya sebesar 1.000 dirham. Kecuali jika masing-masing kesaksian menegaskan bahwa 1.000 dirham yang diambil berbeda dengan 1.000 dirham yang disaksikan oleh saksi lainnya, maka wali mengambil 2.000 dirham.
Jika dua orang kafir harbi datang dari negeri perang dalam keadaan muslim, lalu masing-masing menyebutkan bahwa ia adalah saudara dari temannya, maka keduanya ditetapkan sebagai saudara. Namun jika keduanya merupakan tawanan perang (budak), lalu mereka mengklaim hal tersebut setelah mereka dimerdekakan, maka warisan masing-masing kembali kepada orang yang memerdekakannya (mu'tiq), jika mantan tuan tidak membenarkan mereka, kecuali jika ada bukti dari kalangan kaum muslimin atas persaudaraan yang mereka klaim, sehingga nasabnya menjadi tetap dan masing-masing bisa saling mewarisi dari saudaranya.
Jika sepasang suami istri berada di dalam rumah lalu mereka bercerai atau meninggal dunia, kemudian masing-masing mengklaim bahwa barang-barang yang ada di dalam rumah adalah miliknya atau warisannya, maka diputuskan bahwa barang-barang yang pantas/biasa digunakan untuk laki-laki menjadi milik suami, barang-barang yang pantas untuk perempuan menjadi milik istri, dan barang-barang yang pantas digunakan oleh keduanya dibagi dua di antara mereka.
Barangsiapa memiliki hak atas seseorang namun orang tersebut menahannya, dan ia mampu mengambil harta orang itu, maka ia tidak boleh mengambilnya melebihi kadar haknya, berdasarkan sabda Rasulullah SAW: "Tunaikanlah amanah kepada orang yang memercayaimu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu."
كتاب العتق
KITAB MEMERDEKAKAN BUDAK (KITAB AL-ITQ)
وإذا كان العبد بن ثلاثة فاعتقوه معا أو وكل نفسان الثالث أن يعتق حقوقهما مع حقه ففعل أو اعتق كل واحد منهم حقه وكان معسرا فقد صار العبد حرا وولاؤه بينهم أثلاثا ولو اعتقه أحدهم وهو موسر عتق كله وصار لصاحبيه عليه قيمة ثلثيه فإن اعتقاه بعد عتق الأول له وقبل أخذ القيمة لم يثبت لهما فيه عتق لأنه قد صار حرا بعتق الأول له وان اعتقه الأول وهو معسر واعتقه الثاني وهو موسر عتق عليه نصيبه ونصيب شريكه وكان عليه ثلث قيمته وكان ثلث ولائه للمعتق الثاني ولو كان المعتق الثاني معسرا عتق نصيبه منه وكان ثلثه رقيقا لمن لم يعتق فإن مات وفي يده مال كان ثلثه لمن لم يعتق وثلثاه للمعتق الأول والمعتق الثاني بالولاء إذا لم يكن له وارث أحق منهما.
وإذا كان العبد بين نفسين فادعى كل واحد منهما أن شريكه أعتق حقه منه فإن كانا معسرين لم يقبل قول كل واحد منهما على شريكه فإن كانا عدلين كان للعبد أن يحلف مع كل واحد منهما ويصير حرا أو يحلف
مع أحدهما ويصير نصفه حرا.
وإن كان الشريكان موسرين فقد صار حرا باعتراف كل واحد منهما بحريته وصار مدعيا على شريكه نصف قيمته فإن لم تكن بينة فيمين كل واحد منهما لشريكه.
وإذا مات رجل وخلف ابنين وعبدين لا يملك غيرهما وهما متساويان في القيمة فقال أحد الابنين أبي أعتق هذا وقال الآخر أبي أعتق أحدهما لا أدري من منهما أقرع بينهما فإن وقعت القرعة على الذين اعترف الابن بعتقه عتق منه ثلثاه إن لم يجز الابنان عتقه كاملا وكان الآخر عبدا وإن وقعت القرعة على الآخر عتق منه ثلثه وكان لمن أقرعنا بقوله فيه سدسه ونصف العبد الآخر ولأخيه نصفه وسدس العبد الذي اعترف أن أباه اعتقه فصار ثلث كل واحد من العبدين حرا وإذا كان لرجل نصف عبد ولآخر ثلثه ولآخر سدسه فأعتقه صاحب النصف وصاحب السدس معا وكان موسرين عتق عليهما وضمنا حق شريكهما فيه نصفين وكان ولاؤه بينهما أثلاثا لصاحب النصف ثلثاه ولصاحب السدس ثلثه وإذا كانت الأمة بين نفسين فأصابها أحدهما وأحبلها أدب ولم يبلغ به الحد وضمن نصف قيمتها لشريكه وصارت أم ولد له وولده حر فإن كان معسرا كان في ذمته نصف قيمتها وإن لم تحبل منه فعليه نصف مهر مثلها وهي على ملكهما وإذا ملك سهما من بعض من يعتق عليه بغير الميراث وهو موسر عتق عليه كله وكان لشريكه عليه قيمة حقه منه وإن كان معسرا لم يعتق عليه منه إلا ما ملك منه موسرا كان أو معسرا.
وإذا كان له ثلاثة أعبد فأعتقهم في مرض موته أو دبرهم أو دبر
أحدهم وأوصى بعتق الآخرين ولم يخرج من ثلثه إلا واحد لتساوي قيمتهم اقرع بينهم بسهم حرية وسهمي رق فمن وقع له سهم حرية عتق دون صاحبيه.
ولو قال لهم في مرض موته أحدكم حر أو كلكم حر ومات فكذلك وإذا ملك نصف عبد فدبره أو اعتقه في مرض موته فعتق بموته وكان ثلث ماله يفي بقيمة النصف الذي لشريكه أعطي وكان كله حرا في إحدى الروايتين عن أبي عبد الله رحمه الله والرواية الأخرى لا يعتق إلا حصته وان كان ثلث ماله يفي بحصة شريكه وكذلك إذا دبر بعضه وهو مالك لكله ولو اعتقهم وثلثه يحتملهم فأعتقناهم ثم ظهر عليه دين يستغرقهم بعناهم في دينه ولو أعتقهم وهم ثلاثة فأعتقنا منهم واحدا لعجز ثلثه عن أكثر منه ثم ظهر له مال يخرجون من ثلثه عتق من أرق منهم.
ومن قال لعبده أنت حر في وقت سماه لم يعتق حتى يأتي الوقت وإذا أسلمت أم ولد النصراني منع من غشيانها والتلذذ بها وكانت نفقتها عليه فإن اسلم حلت له وإذا مات عتقت.
وإذا قال لأمته أول ولد تلدينه فهو حر فولدت اثنين أقرع بينهما فمن أصابته القرعة عتق إذا أشكل أولهما خروجا.
وإذا قال العبد لرجل أشترني من سيدي بهذا المال واعتقني ففعل فقد صار حرا وعلى المشتري أن يؤدي إلى البائع مثل الذي اشتراه به وولاؤه للذي اشتراه ألا أن يكون قال له يعني بهذا المال فيكون الشراء والعتق باطلين ويكون السيد قد أخذ ماله.
KITAB MEMERDEKAKAN BUDAK (KITAB AL-ITQ)
Jika seorang budak dimiliki oleh tiga orang, lalu mereka memerdekakannya bersama-sama, atau dua orang mewakilkan kepada orang ketiga untuk memerdekakan hak mereka bersama haknya lalu ia melaksanakannya, atau masing-masing memerdekakan haknya dalam keadaan miskin (tidak mampu), maka budak tersebut menjadi merdeka sepenuhnya, dan hak wala' (loyalitas/hubungan waris mantan budak) dibagi tiga di antara mereka.
Jika salah satu dari mereka memerdekakannya dalam keadaan kaya (mampu), maka budak itu merdeka seluruhnya, dan ia wajib membayar nilai dua pertiga harga budak tersebut kepada kedua temannya. Jika kedua temannya memerdekakan bagian mereka setelah pembebasan yang pertama dan sebelum menerima ganti rugi nilai budak, maka pembebasan kedua temannya tidak berlaku karena budak tersebut sudah menjadi merdeka sejak pembebasan pertama.
Jika orang pertama memerdekakannya dalam keadaan miskin, lalu orang kedua memerdekakannya dalam keadaan kaya, maka bagiannya dan bagian rekannya yang ketiga menjadi merdeka atas tanggungannya, dan ia wajib membayar sepertiga nilai budak, serta sepertiga hak wala' menjadi milik orang kedua yang memerdekakan tersebut. Namun jika orang kedua yang memerdekakan juga dalam keadaan miskin, maka merdeka bagiannya saja, dan sepertiga bagian budak tersebut tetap menjadi budak milik orang ketiga yang tidak memerdekakannya. Jika budak tersebut mati dan di tangannya ada harta, maka sepertiga hartanya milik orang yang tidak memerdekakannya, dan dua pertiganya untuk orang pertama dan kedua berdasarkan hak wala', jika ia tidak memiliki ahli waris yang lebih berhak dari mereka berdua.
Jika seorang budak dimiliki oleh dua orang, lalu masing-masing mengklaim bahwa rekannya telah memerdekakan bagiannya dari budak tersebut: jika keduanya dalam keadaan miskin, perkataan masing-masing tidak diterima atas rekannya. Namun jika keduanya adalah orang yang adil, budak tersebut berhak bersumpah bersama masing-masing dari keduanya sehingga ia menjadi merdeka sepenuhnya, atau bersumpah bersama salah satunya sehingga setengah dari dirinya menjadi merdeka.
Jika kedua rekan tersebut adalah orang kaya, maka budak itu otomatis merdeka berdasarkan pengakuan masing-masing atas kemerdekaannya, dan masing-masing menjadi penggugat atas rekannya sebesar setengah dari nilai budak. Jika tidak ada bukti, maka masing-masing dari keduanya bersumpah atas rekannya.
Jika seorang laki-laki wafat dan meninggalkan dua orang anak serta dua orang budak yang tidak ada harta lain selain keduanya, dan nilai kedua budak itu sama, lalu salah satu anak berkata: "Ayahku telah memerdekakan budak ini," sedangkan anak yang lain berkata: "Ayahku memerdekakan salah satu dari keduanya, aku tidak tahu yang mana," maka dilakukan undian di antara kedua budak tersebut. Jika undian jatuh pada budak yang diakui kemerdekaannya oleh anak pertama, maka merdeka dua pertiga darinya jika kedua anak tidak mengizinkan pembebasannya secara penuh, dan budak yang lain tetap menjadi budak. Jika undian jatuh pada budak yang lain, maka merdeka sepertiga darinya, dan bagi anak yang kita undi berdasarkan perkataannya mendapatkan seperenam darinya dan setengah dari budak yang lain, sedangkan saudaranya mendapatkan setengah dari budak yang lain dan seperenam dari budak yang diakui dimerdekakan oleh ayahnya, sehingga sepertiga dari masing-masing kedua budak tersebut menjadi merdeka.
Jika seorang laki-laki memiliki setengah bagian budak, orang lain memiliki sepertiga, dan orang lainnya lagi memiliki seperenam, lalu pemilik setengah bagian dan pemilik seperenam memerdekakannya bersama-sama dalam keadaan kaya, maka budak tersebut merdeka atas tanggungan keduanya, dan keduanya menanggung hak rekan mereka (pemilik sepertiga) dibagi dua di antara keduanya, dan hak wala' budak dibagi tiga di antara keduanya: pemilik setengah mendapatkan dua pertiga wala' dan pemilik seperenam mendapatkan sepertiga wala'.
Jika seorang budak perempuan (amah) dimiliki oleh dua orang, lalu salah satu dari keduanya menyetubuhinya hingga hamil, maka ia dihukum ta'zir namun tidak sampai hukuman had zina, dan ia wajib menanggung setengah dari nilai budak tersebut kepada rekannya, sehingga budak perempuan itu menjadi Ummu Walad baginya dan anaknya berstatus merdeka. Jika ia dalam keadaan miskin, maka setengah nilai budak itu menjadi utang dalam tanggungannya. Jika budak perempuan itu tidak hamil darinya, maka ia wajib membayar setengah mahar mitsil (mahar yang sepadan), dan budak perempuan itu tetap menjadi milik bersama keduanya.
Jika seseorang memiliki sebagian saham dari kerabat yang otomatis merdeka jika ia miliki melalui jalur selain warisan, sementara ia dalam keadaan kaya, maka kerabat itu merdeka seluruhnya atas tanggungannya, dan ia wajib membayar nilai hak rekannya. Jika ia dalam keadaan miskin, tidak ada yang merdeka kecuali bagian yang ia miliki saja, baik ia kaya maupun miskin.
Jika seseorang memiliki tiga orang budak, lalu ia memerdekakan mereka di masa sakit menjelang kematiannya, atau menjadikannya budak Mudabbar (merdeka setelah majikan wafat), atau mentadbir salah satunya dan berwasiat untuk memerdekakan dua lainnya, sementara sepertiga hartanya tidak mencukupi kecuali untuk satu budak karena nilai mereka sama, maka dilakukan undian di antara mereka dengan satu undian kemerdekaan dan dua undian perbudakan. Siapa yang mendapatkan undian kemerdekaan, dialah yang merdeka tanpa kedua temannya.
Jika ia berkata kepada mereka di masa sakit menjelang kematiannya: "Salah satu dari kalian merdeka," atau "Kalian semua merdeka," lalu ia wafat, maka hukumnya sama seperti di atas.
Jika seseorang memiliki setengah bagian budak, lalu ia mentadbirnya atau memerdekakannya di masa sakit menjelang kematiannya, maka bagian tersebut merdeka dengan kematiannya. Jika sepertiga hartanya mencukupi untuk membayar nilai setengah bagian milik rekannya, maka uang itu diberikan dan budak tersebut menjadi merdeka sepenuhnya berdasarkan salah satu dari dua riwayat dari Abu Abdillah (Imam Ahmad) rahimahullah. Sedangkan riwayat yang lain menyatakan tidak merdeka kecuali bagian dirinya saja, meskipun sepertiga hartanya mencukupi untuk bagian rekannya. Demikian pula jika ia mentadbir sebagian budak padahal ia memiliki budak itu sepenuhnya.
Jika ia memerdekakan mereka semua sedangkan sepertiga hartanya mencukupi untuk memerdekakan mereka, maka kita merdekakan mereka. Kemudian jika setelah itu muncul utang yang menghabiskan seluruh harta mereka, maka kita menjual mereka untuk melunasi utangnya.
Jika ia memerdekakan mereka padahal mereka berjumlah tiga orang, lalu kita merdekakan satu orang dari mereka karena sepertiga hartanya tidak mencukupi untuk lebih dari itu, kemudian setelah itu muncul harta baru miliknya yang dapat memerdekakan sisa budak dari sepertiga harta tersebut, maka merdekalah budak yang tersisa dari status budak mereka.
Barangsiapa berkata kepada budaknya: "Kamu merdeka pada waktu yang ditentukan," maka ia tidak merdeka sampai waktu tersebut tiba.
Jika Ummu Walad milik seorang Nasrani masuk Islam, maka si Nasrani dilarang menyetubuhinya dan bersenang-senang dengannya, namun ia tetap wajib memberikan nafkah kepadanya. Jika si Nasrani masuk Islam, maka Ummu Walad itu halal kembali baginya, dan jika ia mati, maka Ummu Walad itu menjadi merdeka.
Jika seseorang berkata kepada budak perempuannya: "Anak pertama yang kamu lahirkan berstatus merdeka," lalu ia melahirkan dua anak kembar, maka dilakukan undian di antara keduanya. Siapa yang keluar namanya dalam undian, dialah yang merdeka, apabila sulit dipastikan mana yang keluar pertama kali.
Jika seorang budak berkata kepada seseorang: "Belilah aku dari tuanku dengan harta ini dan merdekakanlah aku," lalu orang itu melakukannya, maka budak tersebut menjadi merdeka, dan pembeli wajib membayar kepada penjual nilai yang sepadan dengan harga pembeliannya, dan hak wala' menjadi milik orang yang membelinya. Kecuali jika budak itu berkata "belilah aku menggunakan harta ini (merujuk pada harta milik budak/tuan itu sendiri)", maka pembelian dan pembebasan tersebut batal, dan tuan mengambil kembali hartanya.
كتاب المدبر
KITAB MUDABBAR (BUDAK YANG DIJANJIKAN MERDEKA SETELAH MAJIKAN WAFAT)
وإذا قال لعبده أو أمته أنت مدبر أو قد دبرتك أو أنت حر بعد موتي صار مدبرا وله بيعه في الدين ولا تباع المدبرة إلا في الدين في إحدى الروايتين عن أبي عبد الله رحمه الله والرواية الأخرى الأمة كالعبد فإن اشتراه بعد ذلك رجع في التدبير ولو دبره وقال قد رجعت في تدبيري أو قال قد أبطلته لم يبطل لأنه علق العتق بصفة في إحدى الروايتين والرواية الأخرى يبطل التدبير وما ولدت المدبرة بعد تدبيرها فولدها بمنزلتها وله إصابة مدبرته ومن أنكر التدبير لم يحكم عليه به إلا بشاهدين عدلين أو شاهد ويمين العبد.
وإذا دبر عبده ومات وله مال غائب أو دين في ذمة موسر أو معسر عتق من المدبر ثلثه وكلما انقضى من دينه شيء أو حضر من ماله الغائب شيء عتق من العبد مقدار ثلث ذلك حتى يعتق كله من الثلث وإذا دبر قبل البلوغ كان تدبيره جائزا إذا كان له عشر سنين فصاعدا وكان يعرف التدبير وما قلته في الرجل فالمرأة مثله إذا صار لها تسع سنين فصاعدا وإذا قتل المدبر سيده بطل [تدبيره] .
KITAB MUDABBAR (BUDAK YANG DIJANJIKAN MERDEKA SETELAH MAJIKAN WAFAT)
Jika seseorang berkata kepada budak laki-laki atau perempuannya: "Kamu adalah Mudabbar," atau "Sungguh aku telah mentadbirmu," atau "Kamu merdeka setelah kematianku," maka ia menjadi budak Mudabbar. Majikan berhak menjualnya untuk melunasi utang. Budak perempuan Mudabbar tidak boleh dijual kecuali untuk melunasi utang, menurut salah satu dari dua riwayat dari Abu Abdillah rahimahullah. Sedangkan riwayat yang lain menyatakan budak perempuan sama halnya dengan budak laki-laki (boleh dijual secara mutlak). Jika majikan membelinya kembali setelah itu, ia kembali ke status tadbirnya.
Jika ia mentadbir budaknya lalu berkata: "Aku menarik kembali tadbirku," atau berkata: "Aku telah membatalkannya," maka tadbir tersebut tidak batal karena ia telah menggantungkan kemerdekaan dengan suatu sifat (kematian majikan), menurut salah satu dari dua riwayat. Sedangkan riwayat yang lain menyatakan tadbirnya batal.
Anak yang dilahirkan oleh budak perempuan Mudabbar setelah ia mendapat status tadbir, maka status anak tersebut sama seperti ibunya. Majikan juga boleh menyetubuhi budak perempuan Mudabbar miliknya.
Barangsiapa mengingkari status tadbir seorang budak, maka perkara tersebut tidak diputuskan atasnya kecuali dengan kesaksian dua orang saksi yang adil, atau seorang saksi disertai sumpah si budak.
Jika seseorang mentadbir budaknya lalu ia wafat, sementara ia memiliki harta yang berada di tempat jauh (gaib) atau piutang dalam tanggungan orang yang kaya maupun miskin, maka merdeka sepertiga dari budak Mudabbar tersebut. Setiap kali utangnya terlunasi sedikit demi sedikit atau hartanya yang gaib itu datang, maka merdeka pula dari budak tersebut seukuran sepertiga dari harta yang terkumpul itu hingga ia merdeka seluruhnya dari sepertiga harta.
Jika ia melakukan tadbir sebelum usia balig, maka tadbirnya sah apabila ia telah berusia sepuluh tahun atau lebih dan memahami makna tadbir. Apa yang aku katakan tentang laki-laki, maka perempuan juga sama sepertinya apabila telah berusia sembilan tahun atau lebih.
Jika budak Mudabbar membunuh tuannya, maka batal status tadbirnya.
كتاب المكاتب
KITAB MUKATAB (BUDAK YANG MENYICIL KEMERDEKAANNYA)
وإذا كاتب عبده أو أمته على أنجم فأديت الكتابة فقد صار حرا وولاؤه لمكاتبه ويعطي مما كوتب عليه الربع لقوله تعالى: {وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ} وإن عجلت الكتابة قبل محلها لزم السيد الأخذ وعتق من وقته في إحدى الروايتين والرواية الأخرى إذا ملك ما يؤدي فقد صار حرا وإذا أدى بعض كتابته ومات
وفي يده وفاء أو فضل فهو لسيده في إحدى الروايتين والرواية الأخرى لسيده بقية كتابته والباقي لورثته وإذا مات السيد كان العبد على كتابته وما أدى فبين ورثة سيده مقسوما كالميراث وولاؤه لسيده فإن عجز فهو عبد لسائر الورثة ولا يمنع المكاتب من السفر وليس له أن يتزوج إلا بإذن سيده ولا يبيعه سيده درهما بدرهمين.
وليس للرجل أن يطأ مكاتبته إلا أن يشترط فإن وطئ ولم يشترط أدب ولم يبلغ به حد الزاني وكان لها عليه مهر مثلها فإن علقت منه فهي مخيرة بين العجز وأن تكون أم ولد وبين المضي على الكتابة فإن أدت عتقت وإن عجزت عتقت بموته وإن مات قبل عجزها عتقت لأنها من أمهات الأولاد وسقط عنها ما بقي من كتابتها وما في يديها لورثة سيدها.
وإذا كاتب نصف عبد فأدى ما كوتب عليه ومثله لسيده صار نصفه حرا بالكتابة إن كان الذي كاتبه معسرا وإن كان موسرا عتق عليه كله وكان نصف قيمته على الذي كاتبه لشريكه.
وإذا أعتق المكاتب استقبل بما في يده من المال حولا ثم زكاه إن كان منصبا وإذا لم يؤد نجما حتى حل آخر عجزه السيد إن أحب وعاد عبدا غير مكاتب وما قبض من نجوم مكاتبه استقبل بزكاته حولا وإذا جنى المكاتب بدء بجنايته قبل كتابته فإن عجز كان سيده مخيرا بين أن يفديه بقيمته إن كانت أقل من جنايته أو يسلمه وإذا كاتبه ثم دبره فإن أدى صار حرا وإن مات السيد قبل الأداء عتق بالتدبير إن احتمل الثلث ما بقي عليه من الكتابة وإلا عتق منه بقدر الثلث وسقط من الكتابة بقدر ما عتق وكان على الكتابة فيما بقي وإذا ادعى المكاتب وفاء كتابته وأتى بشاهد حلف مع شاهده وصار حرا ولا يكفر المكاتب بغير الصوم وولد المكاتبة الذين ولدتهم في الكتابة يعتقون بعتقها.
ويجوز بيع المكاتب ومشتريه يقوم فيه مقام المكاتب فإذا أدى صار حرا وولاؤه لمشتريه وإن لم يبين البائع للمشتري بأنه مكاتب كان مخيرا بين أن يرجع بالثمن أو يأخذ ما بينه سليما أو مكاتبا وإذا ملك المكاتب أباه أو ذا رحم من المحرم عليه نكاحه لم يعتقوا حتى يؤدي وهم في ملكه فإن عجز فهم عبيد للسيد.
وإذا كان العبد بين ثلاثة فجاءهم بثلاثمائة درهم بيعوني نفسي بها فأجابوه فلما عاد إليهم ليكتبوا له كتابا أنكر أحدهم أن يكون أخذ شيئا وشهد الرجلان عليه بالأخذ فقد صار العبد حرا بشهادة الشريكين إذا كان عدلين ويشاركهما فيما أخذا من المال وليس على العبد شيء.
وإذا قال السيد كتابتك على ألفين وقال العبد على ألف فالقول قول السيد مع يمينه وإذا أعتق الأمة أو كاتبها وشرط ما في بطنها أو أعتق ما في بطنها دونها فله شرطه.
ولا بأس أن يعجل المكاتب لسيده ويضع عنه بعض كتابته.
وإذا كان العبد بين اثنين فكاتب أحدهما فلم يؤد كل كتابته حتى أعتق الآخر وهو موسر فقد صار العبد كله حرا ويرجع الشريك على المعتق بنصف قيمته وإذا عجز المكاتب ورد في الرق وقد كان تصدق عليه بشيء فهو لسيده وإذا اشترى المكاتبان كل واحد منهما الآخر صح شراء الأول وبطل شراء الآخر وإذا اشترك في كتابته أن يوالي من شاء فالولاء لمن أعتق والشرط باطل وإذا أسر العدو المكاتب فاشتراه رجل فأخرجه إلى سيده فإن أحب أخذه أخذه بما اشتراه وهو على كتابته وإن لم يحب أخذه فهو على ملك مشتريه مبقى على ما بقي من كتابته يعتق بالأداء وولاؤه لمن يؤدي إليه.
KITAB MUKATAB (BUDAK YANG MENYICIL KEMERDEKAANNYA)
Jika seseorang melakukan akad kitabah (perjanjian tebusan) dengan budak laki-laki atau perempuannya dengan cicilan beberapa waktu (berjangka), lalu budak itu melunasi uang kitabah tersebut, maka ia menjadi merdeka dan hak wala' miliknya kembali kepada orang yang melakukan akad kitabah dengannya. Budak tersebut diberi seperempat dari nilai tebusan yang ia cicil berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu."
Jika uang tebusan dilunasi sebelum jatuh temponya, tuan wajib menerimanya dan budak itu merdeka seketika itu juga menurut salah satu dari dua riwayat. Sedangkan riwayat yang lain menyatakan apabila budak tersebut telah memiliki apa yang akan ia lunasi, ia langsung menjadi merdeka.
Jika budak Mukatab membayar sebagian uang kitabahnya lalu ia wafat, sementara di tangannya ada harta yang cukup untuk pelunasan atau lebih, maka harta itu menjadi milik tuannya menurut salah satu dari dua riwayat. Sedangkan riwayat yang lain menyatakan bagi tuannya adalah sisa uang kitabahnya, dan sisanya lagi untuk ahli waris si budak.
Jika tuan wafat, budak tersebut tetap berada dalam status kitabahnya. Apa yang ia bayarkan dibagi di antara ahli waris tuannya seperti pembagian warisan, dan hak wala' budak tetap untuk tuannya. Jika ia tidak mampu melunasinya (ajaza), ia kembali menjadi budak milik seluruh ahli waris. Budak Mukatab tidak dilarang untuk bepergian (safar), namun ia tidak boleh menikah kecuali dengan izin tuannya, dan tuannya tidak boleh menjual piutang tebusannya satu dirham diganti dengan dua dirham.
Seseorang tidak boleh menyetubuhi budak perempuan Mukatab-nya kecuali jika ia mensyaratkannya di awal. Jika ia menyetubuhinya tanpa syarat, ia dihukum ta'zir namun tidak sampai hukuman had pezina, dan budak perempuan itu berhak mendapatkan mahar mitsil darinya. Jika budak perempuan itu hamil darinya, ia boleh memilih antara menyatakan diri tidak mampu (sehingga kembali menjadi budak biasa lalu otomatis menjadi Ummu Walad) atau tetap melanjutkan akad kitabahnya. Jika ia melunasinya, ia merdeka. Jika ia tidak mampu melunasinya, ia merdeka dengan kematian tuannya karena statusnya sebagai Ummahatul Awlad, dan sisa uang tebusannya menjadi gugur, serta harta yang ada di tangannya menjadi milik ahli waris tuannya.
Jika seseorang melakukan akad kitabah terhadap setengah bagian budak, lalu budak itu melunasi apa yang didebatkan atasnya dan yang sepadan dengannya kepada tuannya, maka setengah dirinya menjadi merdeka dengan jalan kitabah apabila tuan yang membuat akad dalam keadaan miskin. Namun jika tuannya kaya, maka budak itu merdeka seluruhnya, dan tuan wajib membayar setengah nilai budak tersebut kepada rekannya (pemilik setengah bagian lainnya).
Jika budak Mukatab dimerdekakan, ia mulai menghitung haul (satu tahun) baru atas harta yang ada di tangannya, kemudian menzakatinya jika telah mencapai nisab.
Jika budak Mukatab tidak membayar satu cicilan hingga tiba waktu cicilan berikutnya, tuan boleh menyatakan ia tidak mampu jika mau, dan ia kembali menjadi budak biasa yang bukan Mukatab. Apa yang diterima tuan dari cicilan budak Mukatab-nya, tuan mulai menghitung haul baru untuk zakatnya.
Jika budak Mukatab melakukan tindak pidana (jinayah), maka penyelesaian tindak pidananya didahulukan sebelum pelunasan tebusan kitabahnya. Jika ia tidak mampu, tuannya boleh memilih antara menebusnya dengan nilainya jika nilai budak lebih kecil dari denda pidananya, atau menyerahkan budak tersebut.
Jika tuan melakukan akad kitabah dengannya kemudian mentadbirnya, lalu budak itu melunasinya, ia menjadi merdeka. Jika tuan wafat sebelum pelunasan, ia merdeka dengan jalan tadbir apabila sepertiga harta tuan mencukupi sisa utang kitabahnya. Jika tidak mencukupi, ia merdeka seukuran sepertiga harta tersebut, dan utang kitabahnya gugur seukuran kemerdekaan itu, serta ia tetap melanjutkan akad kitabah pada sisa yang belum bebas.
Jika budak Mukatab mengklaim telah melunasi uang kitabahnya dan membawa seorang saksi, ia bersumpah bersama saksinya dan menjadi merdeka.
Budak Mukatab tidak boleh membayar kafarat kecuali dengan puasa. Anak-anak dari budak perempuan Mukatab yang dilahirkan selama masa akad kitabah ikut merdeka seiring dengan kemerdekaan ibunya.
Boleh menjual budak Mukatab, dan pembelinya menempati posisi tuan pertama dalam akad kitabah tersebut. Apabila ia telah melunasinya, ia merdeka dan hak wala'-nya menjadi milik pembelinya. Jika penjual tidak menjelaskan kepada pembeli bahwa budak tersebut adalah budak Mukatab, maka pembeli boleh memilih antara mengembalikan budak dan mengambil kembali uangnya, atau menerima budak tersebut apa adanya baik dalam keadaan selamat (budak biasa) maupun sebagai budak Mukatab.
Jika budak Mukatab memiliki ayahnya sendiri atau kerabat dekat (dzul rahim) yang mahram baginya untuk dinikahi, mereka tidak otomatis merdeka sampai budak Mukatab itu melunasi tebusannya; mereka tetap berstatus sebagai miliknya. Jika ia gagal melunasi (ajaza), mereka semua menjadi budak milik tuannya.
Jika seorang budak dimiliki oleh tiga orang, lalu ia mendatangi mereka membawa uang 300 dirham seraya berkata: "Belilah diriku dari kalian dengan uang ini," lalu mereka menyetujuinya. Ketika budak itu kembali kepada mereka agar mereka menuliskan surat perjanjian tebusan, salah satu dari mereka mengingkari bahwa ia telah menerima bagian uang tersebut, sedangkan dua orang rekan lainnya bersaksi bahwa orang tersebut telah menerimanya. Maka budak tersebut menjadi merdeka berdasarkan kesaksian kedua sekutu tersebut apabila keduanya adil, dan orang yang mengingkari itu ikut berserikat dengan keduanya atas harta yang telah mereka ambil, serta budak tidak menanggung beban apa pun lagi.
Jika tuan berkata: "Uang tebusanmu adalah dua ribu," sedangkan budak berkata: "Seribu," maka perkataan yang dimenangkan adalah perkataan tuan disertai sumpahnya.
Jika seseorang memerdekakan budak perempuan atau melakukan akad kitabah dengannya dan mensyaratkan janin yang ada di dalam kandungannya (tetap menjadi budak), atau ia memerdekakan janin dalam kandungannya saja tanpa ibunya, maka ia mendapatkan apa yang disyaratkannya.
Tidak mengapa jika budak Mukatab mempercepat pembayaran kepada tuannya dan tuannya menggugurkan (memotong) sebagian uang tebusannya.
Jika seorang budak dimiliki oleh dua orang, lalu salah satunya melakukan akad kitabah dengan budak itu dan budak tersebut belum melunasi seluruh tebusannya hingga rekan yang satunya lagi memerdekakan bagiannya dalam keadaan kaya, maka budak itu merdeka seluruhnya, dan rekan tersebut mengembalikan kepada orang yang memerdekakan setengah dari nilai budak.
Jika budak Mukatab dinyatakan tidak mampu dan dikembalikan ke status budak murni, padahal sebelumnya ada orang yang bersedekah kepadanya sesuatu, maka sedekah itu menjadi milik tuannya.
Jika dua orang budak Mukatab masing-masing membeli satu sama lain, maka sah pembelian yang pertama dan batal pembelian yang kedua.
Jika budak Mukatab mensyaratkan dalam akad kitabahnya bahwa ia boleh berloyalitas (wala') kepada siapa saja yang ia kehendaki, maka hak wala' tetap bagi orang yang memerdekakannya, dan syarat tersebut batal.
Jika musuh menawan budak Mukatab lalu seorang laki-laki membelinya dan membawanya keluar kepada tuannya: jika tuannya mau mengambilnya, ia boleh mengambilnya dengan harga pembelian orang tersebut dan budak itu tetap dalam status kitabahnya. Jika tuannya tidak mau mengambilnya, budak itu tetap menjadi milik pembelinya dengan status sisa kitabah yang ada; ia akan merdeka dengan pelunasan, dan hak wala'-nya bagi orang yang melunasi kepadanya.
كتاب عتق أمهات الأولاد
KITAB MEMERDEKAKAN UMMUHATUL AWLAD (BUDAK PEREMPUAN YANG MELAHIRKAN ANAK TUANNYA)
وأحكام أمهات الأولاد أحكام الإماء في جميع أمورهن إلا أنهن لا يبعن وإذا أصاب الأمة وهي في ملك غيره بنكاح فحملت منه ثم ملكها حاملا عتق الجنين وله بيعها وإذا علقت منه "بحر" في ملكه فوضعت ما يتبين فيه بعض خلق الإنسان كانت له بذلك أم ولد فإذا مات فقد صارت حرة وإن لم يملك غيرها وإذا صارت الأمة أم ولد بما وصفنا ثم ولدت من غيره كان له حكمها في العتق بموت سيدها وإذا أسلمت أم ولد نصراني منع من وطئها والتلذذ بها وأجبر على نفقتها فإن أسلم حلت له وإن مات قبل ذلك عتقت.
وإذا أعتقت أم الولد بموت سيدها فما كان في يدها من شيء فهو لورثة سيدها ولو أوصى لها بما في يدها كان لها إذا احتملت الثلث.
فإذا مات عن أم ولده فعدتها حيضة وإذا جنت أم الولد فداها سيدها بقيمتها أو دونها فإن عادت فجنت فداها كما وصفت.
ووصية الرجل لأم ولده وإليها جائزة وله تزويجها وان كرهت ولا حد على من قذفها.
وإن صلت أم الولد مكشوفة الرأس كره لها ذلك وأجزأها وإن قتلت أم الولد سيدها فعليها قيمة نفسها. والله اعلم.
KITAB MEMERDEKAKAN UMMUHATUL AWLAD (BUDAK PEREMPUAN YANG MELAHIRKAN ANAK TUANNYA)
Hukum-hukum Ummahatul Awlad adalah seperti hukum-hukum budak perempuan biasa dalam segala urusan mereka, kecuali bahwa mereka tidak boleh dijual.
Jika seseorang menyetubuhi budak perempuan milik orang lain dengan jalan pernikahan lalu budak itu hamil darinya, kemudian ia memiliki budak perempuan itu dalam keadaan hamil, maka janin tersebut merdeka dan ia boleh menjual ibunya.
Jika budak perempuan hamil darinya dengan status anak yang "merdeka" dalam kepemilikannya, lalu ia melahirkan janin yang telah tampak padanya sebagian bentuk penciptaan manusia, maka dengan sebab itu ia menjadi Ummu Walad baginya. Apabila tuannya wafat, ia otomatis menjadi merdeka meskipun tuannya tidak memiliki harta lain selain dirinya.
Jika budak perempuan telah menjadi Ummu Walad dengan kriteria yang kami sebutkan, kemudian ia melahirkan anak dari laki-laki lain, maka anak tersebut mengikuti hukum ibunya dalam hal kemerdekaan dengan sebab wafatnya sang tuan.
Jika Ummu Walad milik seorang Nasrani masuk Islam, ia dilarang untuk disetubuhi dan diambil kesenangan darinya, dan tuannya dipaksa untuk memberikan nafkah kepadanya. Jika tuannya masuk Islam, ia halal kembali baginya, dan jika tuannya mati sebelum itu, ia menjadi merdeka.
Jika Ummu Walad merdeka dengan sebab wafatnya sang tuan, maka segala sesuatu yang ada di tangannya menjadi milik ahli waris tuannya. Namun jika tuannya berwasiat untuknya atas apa yang ada di tangannya, maka barang tersebut menjadi miliknya apabila sepertiga harta mencukupinya.
Apabila tuan wafat meninggalkan Ummu Walad-nya, maka masa idahnya adalah satu kali haid.
Jika Ummu Walad melakukan tindak pidana (jinayah), tuannya menebusnya dengan nilainya atau kurang dari itu. Jika ia mengulanginya lagi lalu melakukan pidana kembali, tuannya menebusnya seperti yang telah aku sebutkan.
Wasiat seorang laki-laki untuk Ummu Walad-nya dan wasiat kepadanya adalah sah (boleh). Majikan juga boleh menikahkannya meskipun ia tidak menyukainya. Tidak ada hukuman had bagi orang yang menuduhnya berzina (qadzaf).
Jika Ummu Walad salat dengan kepala terbuka, hal itu dimakruhkan baginya namun salatnya tetap sah.
Jika Ummu Walad membunuh tuannya, ia wajib membayar nilai dirinya sendiri.
Wallahu a'lam.
