Kitab Perwakilan dan Jaminan Madzhab Hanbali
Nama kitab: Terjemah Mukhtashar Al-Khiraqi
Judul asal: Mukhtashar Al-Khiraqi dikenal dengan nama Matn al-Khiraqi ala Madzhab Abi Abdillah ibn Hanbal al-Syaibani ("مختصر الخرقي ويُعرف بـ "متن الخرقي على مذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل الشيباني")
Penulis: Abu al-Qasim Umar ibn al-Husain bin Abdillah al-Khiraqi ( أبو القاسم عمر بن الحسين بن عبد الله الخرقي )
Wafat: 334 H.
Penerjemah: Al-Khoirot Research & Publication
Bidang studi: Fikih madzhab Hanbali (Hambali)
Daftar Isi
- Kitab Transfer Utang Dan Jaminan (Kitab Al-Hawalah Wal-Dhaman)
- Bab Jaminan (Dhaman / Kafalah)
- Bab Serikat Dagang (Bab Asy-Syirkah)
- Kitab Perwakilan (Kitab Al-Wakalah)
- Kitab Pengakuan Hak (Kitab Al-Iqrar Bil-Huquq)
- Kembali ke: Mukhtashar Al-Khiraqi Fikih Mazhab Hanbali
كتاب الحوالة والضمان
KITAB TRANSFER UTANG DAN JAMINAN (KITAB AL-HAWALAH WAL-DHAMAN)
مدخل
كتاب الحوالة والضمان1
قال ومن أحيل بحقه على من عليه مثل ذلك الحق فرضي فقد برئ المحيل أبدا.
ومن أحيل بحقه على ملىء فواجب عليه أن يحتال.
1 والضمان: الكفالة والالتزام.
KITAB TRANSFER UTANG DAN JAMINAN (KITAB AL-HAWALAH WAL-DHAMAN)
Pendahuluan
Pengalihan
Utang (Hawalah): Barangsiapa yang haknya (piutangnya) dialihkan kepada
orang lain yang memiliki utang sejenis kepada pihak yang mengalihkan,
lalu ia rida (setuju), maka bebaslah tanggungan pihak yang mengalihkan
utang (muhil) untuk selamanya.
Kewajiban Menerima Pengalihan:
Barangsiapa yang piutangnya dialihkan kepada orang yang mapan/mampu
membayar (mali'), maka wajib baginya untuk menerima pengalihan utang
tersebut.
باب الضمان
Bab Jaminan (Dhaman / Kafalah)
ومن
ضمن عنه حق بعد ووبه عليه أو قال ما أعطيته فهو علي فقد لزمه ما صح أنه
أعطاه ولا يبرأ المضمون عنه إلا بأداء الضامن فمتى أدى رجع الضامن به عليه
سواء قال له تضمن عني أو لم يقل.
ومن تكفل بنفس لزمه ما عليها إن لم يسلمها فإن مات برئ المتكفل والله أعلم.
Bab Jaminan (Dhaman / Kafalah)
Konsekuensi Menjamin: Barangsiapa
yang menjamin suatu hak atas orang lain setelah hak tersebut menjadi
kewajibannya, atau ia berkata: "Apa pun yang kamu berikan kepadanya,
maka itu menjadi tanggunganku," maka ia wajib membayar apa yang terbukti
telah diberikan kepadanya.
Pelepasan Tanggungan: Pihak yang dijamin
(madhmun 'anhu / debitur asli) tidak terbebas dari beban utang kecuali
setelah adanya pelunasan dari pihak penjamin (dhamin).
Hak Menuntut
Kembali (Ruju'): Ketika penjamin telah melunasi utang tersebut, ia
berhak menuntut ganti rugi kepada pihak yang dijamin, baik orang
tersebut pernah berkata "jaminlah utangku" maupun tidak.
Jaminan
Fisik (Kafalah bin-Nafs): Barangsiapa yang menjamin kehadiran fisik
seseorang, maka ia wajib menanggung hak (utang/hukum) yang menjadi beban
orang tersebut jika ia tidak berhasil menghadirkan fisiknya. Namun,
jika orang yang dijamin itu meninggal dunia, maka terbebaslah tanggung
jawab sang penjamin.
باب الشركة1
BAB SERIKAT DAGANG (BAB ASY-SYIRKAH)
وشركة
الأبدان جائزة وإن اشترك بدنان بمال أحدهما أو بدنان بمال غيرهما أو بدن
ومال أو مالان وبدن صاحب أحدهما أو بدنان بمالهما تساوى المال أو اختلف فكل
ذلك جائز.
والربح على ما اصطلحا عليه والوضيعة على قدر المال ولا
يجوز أن يجعل لأحد من الشركاء فضل دراهم والمضارب إذا باع بنسيئة بغير أمر
ضمن في إحدى الروايتين والرواية الأخرى لا يضمن.
وإذا ضارب2 لرجل لم
يجز أن يضارب لآخر إن كان فيه ضرر على الأول فإن فعل وربح رده في شركة
الأول وليس للمضارب ربح حتى يستوفي رأس المال وإن اشترى سلعتين فربح في
أحدهما وخسر في
1 الشركة: هي الإختلاط ويعرفها الفقهاء بأنها عقد بين المتشاركين في رأس المال والربح.
2 المضاربة: عقد شركة يكون فيها المال من طرف والعمل من طرف آخر والربح بينهما على ما شرطا والخسارة على صاحب المال وتسمى القراض.
الأخرى جبرت الوضيعة من الربح.
وإذا تبين المضارب أن في يده فضلا لم يكن له أخذ شيء منه إلا بإذن رب المال.
وإن اتفق رب المال والمضارب على أن الربح بينهما والوضيعة عليهما كان الربح بينهما والوضيعة على المال.
ولا يجوز أن يقال لمن عليه الدين ضارب بالمال الذي عليك فإن كان في يده وديعة جاز أن يقال له ضارب منها.
BAB SERIKAT DAGANG (BAB ASY-SYIRKAH)
Serikat Kerja (Syirkah Al-Abdan): Serikat kerja hukumnya sah. Baik bertumpu pada gabungan tenaga dua orang dengan modal dari salah satunya, gabungan tenaga dua orang dengan modal dari pihak lain, gabungan antara tenaga dan modal (mudharabah), gabungan dua modal dengan tenaga dari salah satu pemilik modal, maupun gabungan tenaga dua orang disertai modal dari keduanya—baik nilai modalnya sama ataupun berbeda—maka semua bentuk itu hukumnya sah.
Pembagian Untung dan Rugi: Keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan yang mereka buat bersama, sedangkan kerugian (wadhi'ah) ditanggung berdasarkan porsi modal masing-masing.
Larangan Keuntungan Flat: Tidak boleh menentukan jatah keuntungan dalam jumlah nominal dirham yang pasti (flat) bagi salah satu pihak yang berserikat.
Transaksi Tempo oleh Pengelola: Jika pengelola modal (mudharib) menjual barang secara tempo (kredit) tanpa adanya perintah dari pemilik modal, maka ia wajib menanggung ganti rugi jika terjadi kerugian menurut salah satu dari dua riwayat. Sedangkan riwayat yang lain menyatakan ia tidak menanggung ganti rugi.
Mengelola Dua Modal Sekaligus: Jika seseorang mengelola modal (mudharabah) milik seseorang, ia tidak boleh mengelola modal milik orang lain jika hal itu mendatangkan kerugian (madharat) bagi pemilik modal pertama. Jika ia tetap melakukannya dan mendapatkan keuntungan, maka keuntungan tersebut dikembalikan ke dalam serikat modal yang pertama.
Ketentuan Keuntungan Mudharabah: Pengelola tidak berhak mengambil bagian keuntungan sampai modal pokok (ra'sul mal) terpenuhi secara utuh. Jika ia membeli dua barang, lalu untung pada salah satunya dan rugi pada barang yang lain, maka kerugian tersebut ditutupi oleh keuntungan yang ada.
Kelebihan Modal: Jika jelas bagi pengelola bahwa di tangannya terdapat kelebihan harta (di luar kesepakatan), ia tidak boleh mengambil sedikit pun darinya kecuali dengan izin pemilik modal (rabbul mal).
Kesepakatan Menyalahi Ketentuan Kerugian: Jika pemilik modal dan pengelola sepakat bahwa keuntungan dibagi di antara keduanya sedangkan kerugian ditanggung bersama oleh keduanya, maka kesepakatan rugi itu batal; keuntungan tetap dibagi di antara keduanya, namun kerugian tetap ditanggung oleh modal pokok.
Mengelola Piutang Menjadi Mudharabah: Tidak boleh berkata kepada orang yang berutang: "Kelolalah uang yang menjadi utangmu itu sebagai modal mudharabah." Namun, jika di tangannya terdapat barang titipan (wadi'ah), maka boleh berkata kepadanya: "Kelolalah sebagian dari barang titipan itu sebagai modal mudharabah."
كتاب الوكالة1
KITAB PERWAKILAN (KITAB AL-WAKALAH)
ويجوز
التوكيل في الشراء والبيع ومطالبة الحقوق والعتق والطلاق حاضرا كان الموكل
أو غائبا وليس للوكيل أن يوكل فيما وكل فيه إلا أن يجعل ذلك إليه.
وإذا
باع الوكيل ثم ادعى تلف الثمن من غير تعد منه فلا ضمان عليه فإن اتهم حلف
وول أمر وكيله أن يدفع إلى رجل مالا فادعى أنه دفعه إليه لم يقبل قوله على
الأمر إلا ببينة.
وشراء الوكيل من نفسه غير جائز وكذلك الوصي وشراء
الرجل لنفسه من مال ولده الطفل جائز وكذلك شراؤه له من نفسه وما فعل الوكيل
بعد فسخ الموكل أو موته فباطل وإذا وكله في طلاق زوجته فهو في يده حتى
يفسخ أو يطأ ومن وكل في شراء شيء فاشترى غيره كان الآمر مخيرا في قبول
الشراء فإن لم يقبل لزم الوكيل إلا أن يكون اشتراه بعين المال فيبطل الشراء
والله أعلم.
1 الوكالة: معناها التفويض: والمراد بها هنا استنابة الإنسان غيره فيما يقبل النيابة.
KITAB PERWAKILAN (KITAB AL-WAKALAH)
Cakupan Perwakilan: Sah
mewakilkan orang lain dalam urusan pembelian, penjualan, penuntutan hak,
pembebasan budak, dan talak, baik pihak yang mewakilkan (muwakkil)
berada di tempat maupun sedang gaib (tidak di tempat).
Hak
Mewakilkan Kembali: Seorang wakil tidak berhak mewakilkan lagi perkara
yang dikuasakan kepadanya kepada orang lain, kecuali jika urusan itu
diserahkan (diizinkan) kepadanya oleh pemberi kuasa.
Klaim Kerusakan
Barang oleh Wakil: Jika seorang wakil telah menjual barang lalu
mengklaim bahwa uang hasil penjualannya telah hilang tanpa adanya
kelalaian/pelanggaran darinya, maka ia tidak dikenakan ganti rugi. Jika
ia dicurigai, maka ia diminta bersumpah.
Klaim Penyerahan Uang: Jika
seseorang memerintahkan wakilnya untuk menyerahkan sejumlah harta
kepada seseorang, lalu sang wakil mengklaim telah menyerahkannya kepada
orang tersebut, maka perkataan wakil tidak diterima atas pemberi
perintah kecuali dengan mendatangkan bukti (saksi).
Wakil Membeli
dari Dirinya Sendiri: Tidak sah seorang wakil membeli barang titipan
untuk dirinya sendiri, demikian pula bagi seorang penerima wasiat
(washi).
Orang Tua Membeli Harta Anak: Sah hukumnya seorang ayah
membeli harta milik anaknya yang masih kecil untuk dirinya sendiri,
demikian pula ia membelikan barang untuk anaknya dari hartanya sendiri.
Tindakan
Wakil Setelah Pembatalan/Kematian: Segala tindakan yang dilakukan oleh
wakil setelah adanya pembatalan kuasa oleh pemberi mandat atau setelah
kematiannya, maka tindakan tersebut dinyatakan batal.
Kuasa Talak:
Jika seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk mentalak istrinya,
maka hak talak itu tetap berada di tangan wakil sampai ia dibatalkan
kuasanya atau sampai sang suami menyetubuhi istrinya tersebut.
Wakil
Menyalahi Objek Pembelian: Barangsiapa diwakilkan untuk membeli sesuatu
lalu ia membeli barang yang lain, maka pemberi perintah memiliki hak
opsi (khiyar) untuk menerima pembelian tersebut. Jika ia tidak
menerimanya, maka barang itu menjadi tanggungan dan milik wakil
tersebut, kecuali jika ia membelinya menggunakan uang tunai milik
pemberi mandat secara langsung, maka pembeliannya menjadi batal.
كتاب الإقرار بالحقوق
KITAB PENGAKUAN HAK (KITAB AL-IQRAR BIL-HUQUQ)
ومن أقر بشيء واستثنى من غير جنسه كان
استثناؤه باطلا إلا أن يستثني عينا من ورق1 أو ورقا من عين ومن ادعي عليه
شيء فقال قد كان له علي وقضيته لم يكن ذلك إقرارا ومن أقر بعشرة دراهم ثم
سكت سكوتا كان يمكنه الكلام فيه ثم قال زيوفا أو صغارا أو إلى شهر كانت
عشرة جياد وافية حالة ومن أقر بشيء واستثنى منه الكثير وهو أكثر من النصف
أخذ بالكل وكان استثناؤه باطلا وإذا قال له عندي عشرة دراهم ثم قال وديعة
كان القول قوله ولو قال له علي ألف درهم ثم قال وديعة لم يقبل قوله ولو قال
له عندي رهن فقال المالك وديعة كان القول قول المالك.
ولو مات فخلف
ولدين فأقر أحدهما بأخ أو أخت لزمه أن يعطي الفضل الذي في يديه لمن أقر له
به وكذلك إن أقر بدين على أبيه لزمه من الدين بقدر ميراثه وكل من قلت
القول قوله فلخصمه عليه اليمين.
والإقرار بدين في مرض موته كالإقرار
في الصحة إذا كان لغير وارث وإن أقر لوارث بدين لم يلزم باقي الورثة قبوله
إلا ببينة والعارية2 مضمونة وإن لم يتعد فيها المستعير والله أعلم.
1 ورق: الفضة.
2
العارية: جمع عرية وهي في الأص عطية ثمر النخل دون الرقبة وهي بيع الرطب
على النخل بتمر في الأرض والعنب في الشجر بزبيب فيما دون خمسة أوسق.
KITAB PENGAKUAN HAK (KITAB AL-IQRAR BIL-HUQUQ)
Pengecualian
Berbeda Jenis (Istisna' Ghoiru Jins): Barangsiapa mengakui suatu hak
lalu mengecualikan sesuatu yang bukan dari jenisnya, maka
pengecualiannya batal. Kecuali jika ia mengecualikan koin emas ('ain)
dari perak (wariq), atau perak dari emas.
Bukan Bentuk Pengakuan:
Barangsiapa digugat atas sesuatu lalu ia menjawab: "Dulu dia memang
punya hak atas diriku, tapi sudah aku lunasi," maka ucapan tersebut
tidak dianggap sebagai pengakuan (iqrar).
Pengakuan Disusul Jeda:
Barangsiapa mengakui utang sebesar sepuluh dirham, kemudian ia diam
dengan jeda yang sebenarnya ia mampu berbicara padanya, lalu setelah
diam ia berkata: "Tapi dirhamnya palsu," atau "dirham kecil," atau
"tempo satu bulan," maka perkataan susulannya ditolak; ia tetap wajib
membayar sepuluh dirham yang berkualitas baik, utuh, dan tunai seketika.
Pengecualian
Mayoritas: Jika seseorang mengakui sesuatu lalu mengecualikan sebagian
besar darinya (yaitu lebih dari setengah nominal yang diakui), maka ia
dihukum atas seluruh nominal pengakuannya dan pengecualiannya dianggap
batal.
Perbedaan Kalimat "Di Tanganku" dan "Utangku": Jika ia
berkata: "Dia memiliki sepuluh dirham di tanganku," lalu ia
menyambungnya dengan berkata: "Sebagai barang titipan (wadi'ah)," maka
perkataan yang dimenangkan adalah perkataannya. Namun, jika ia berkata:
"Aku memiliki utang ('alayya) seribu dirham kepadanya," lalu ia berkata
"sebagai titipan", maka perkataan susulannya tidak diterima (ia tetap
wajib melunasinya sebagai utang).
Klaim Gadai vs Titipan: Jika
seseorang berkata: "Barang miliknya ada di tanganku sebagai jaminan
gadai," sedangkan pemilik barang berkata: "Itu adalah barang titipan,"
maka perkataan yang dimenangkan adalah perkataan pemilik barang.
Pengakuan
Ahli Waris terhadap Nasab: Jika seseorang wafat dan meninggalkan dua
orang anak, lalu salah satunya mengakui adanya saudara laki-laki atau
perempuan baru, maka ia wajib memberikan kelebihan harta waris yang ada
di tangannya kepada orang yang diakuinya tersebut.
Pengakuan Ahli
Waris terhadap Utang: Demikian pula jika ia mengakui adanya utang atas
ayahnya, ia wajib membayar utang tersebut seukuran porsi warisan yang
diterimanya.
Hak Sumpah Pihak Lawan: Setiap orang yang dinyatakan
bahwa "perkataannya yang dimenangkan", maka pihak lawannya berhak
meminta sumpah darinya di hadapan hakim.
Pengakuan Saat Sakit
Menjelang Wafat: Pengakuan utang yang diucapkan seseorang di masa sakit
menjelang kematiannya (maradhul maut) hukumnya sama seperti pengakuannya
di masa sehat, selama pengakuan itu ditujukan kepada selain ahli waris.
Jika ia mengakui utang untuk keuntungan salah satu ahli warisnya, maka
ahli waris yang lain tidak wajib menerimanya kecuali jika ada bukti
nyata (saksi).
Ganti Rugi Barang Pinjaman: Barang pinjaman ('ariyah)
wajib diganti jika rusak, meskipun orang yang meminjam (musta'ir) tidak
melakukan kelalaian atau pelanggaran pada barang tersebut.[]
