Kitab Waqaf dan Hibah Mazhab Hanbali

Kitab Waqaf dan Hibah Mazhab Hanbali Barangsiapa yang berwakaf dalam keadaan sehat akal dan jasmaninya kepada suatu kaum, anak-anak mereka, dan keturu

Kitab Waqaf dan Hibah Mazhab Hanbali

Nama kitab: Terjemah Mukhtashar Al-Khiraqi
Judul asal: Mukhtashar Al-Khiraqi dikenal dengan nama Matn al-Khiraqi ala Madzhab Abi Abdillah ibn Hanbal al-Syaibani ("مختصر الخرقي ويُعرف بـ "متن الخرقي على مذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل الشيباني")
Penulis: Abu al-Qasim Umar ibn al-Husain bin Abdillah al-Khiraqi ( أبو القاسم عمر بن الحسين بن عبد الله الخرقي )
Wafat: 334 H.
Penerjemah: Al-Khoirot Research & Publication
Bidang studi: Fikih madzhab Hanbali (Hambali)

Daftar Isi

Kembali ke: Mukhtashar Al-Khiraqi Fikih Mazhab Hanbali   

 كتاب الوقوف والعطايا1

ومن وقف في صحة من عقله وبدنه على قوم وأولادهم وعقبهم ثم آخره للمساكين فقد زال ملكه عنه ولا يجوز أن يرجع إليه بشيء من منافعه إلا أن يشترط أن يأكل منه فيكون له مقدار ما يشترط والباقي على من وقف عليه وأولاده الذكور والإناث من أولاد البنين بينهم بالسوية إلا أن يكون الواقف فضل بعضهم فإذا لم يبق منهم أحد فهو على المساكين فإن لم يجعل آخره للمساكين ولم يبق ممن وقف عليه أحد رجع إلى وارثة الواقف في أحد الروايتين والرواية الأخرى يكون وقفا على أقرب عصبة الواقف فإن وقف في مرضه الذي مات فيه أو قال هو وقف بعد موتي ولم يخرج من الثلث وقف منه بمقدار الثلث إلا أن تجيز الورثة.

وإذا خرب الوقف ولم يرد شيئا تبيع واشتري بثمنه ما يرد على أهل الوقف وجعل وقفا كالأول وكذلك الفرس الحابيس إذا لم يصلح للغزو اشتري بثمنه ما يصلح للجهاد.

وإذا حصلت في بد بعض أهل الوقف خمسة أوصق فعليه الزكاة وإذا صار الوقف للمساكين فلا زكاة فيه وما لا ينتفع به إلا بالإتلاف مثل الذهب والورق والمأكول والمشروب فوقفه غير جائز ويصح الوقف فيما عدا ذلك ويجوز وقف المشاع إذا لم يكن الوقف على معروف أو بر فهو باطل.

1 الوقوف والعطايا: الوقف في اللغة: الحبس وفي الشرع: حبس الأصل وتسبيل الثمرة. أي حبس المال وصرف منافعه في سبيل الله.

KITAB WAKAF DAN PEMBERIAN (AL-WUKUF WA AL-'ATAYA)¹

Barangsiapa yang berwakaf dalam keadaan sehat akal dan jasmaninya kepada suatu kaum, anak-anak mereka, dan keturunan mereka, kemudian menjadikan bagian akhirnya untuk orang-orang miskin, maka hak kepemilikan atas harta tersebut telah lepas darinya. Ia tidak boleh mengambil kembali sedikit pun dari manfaat wakaf tersebut, kecuali jika ia memberikan syarat (di awal) bahwa ia boleh ikut memakan hasilnya. Jika demikian, ia berhak mengambil sebesar kadar yang ia syaratkan, sedangkan sisanya diberikan kepada pihak yang menerima wakaf beserta anak-anak mereka—baik laki-laki maupun perempuan dari jalur anak laki-laki—yang dibagikan di antara mereka secara merata, kecuali jika pewakaf (waqif) melebihkan sebagian dari mereka.

Jika tidak ada seorang pun dari mereka yang tersisa, maka wakaf tersebut dialihkan kepada orang-orang miskin. Apabila ia tidak menjadikan bagian akhirnya untuk orang-orang miskin dan pihak yang menerima wakaf sudah tidak ada lagi yang tersisa, maka harta tersebut kembali kepada ahli waris pewakaf menurut salah satu dari dua riwayat (dalam mazhab). Sedangkan menurut riwayat yang lain, harta tersebut menjadi wakaf bagi kerabat asabah (garis bapak) yang paling dekat dengan pewakaf.

Jika seseorang berwakaf dalam keadaan sakit yang membawa kematiannya, atau ia berkata, "Harta ini menjadi wakaf setelah kematianku," sementara nilainya melebihi sepertiga harta totalnya, maka yang sah menjadi wakaf hanyalah senilai sepertiga hartanya saja, kecuali jika para ahli waris mengizinkannya (untuk lebih dari sepertiga).

Apabila harta wakaf tersebut rusak dan tidak menghasilkan apa-apa lagi, maka harta itu dijual, dan hasil penjualannya digunakan untuk membeli harta lain yang dapat menghasilkan manfaat bagi penerima wakaf, serta statusnya dijadikan wakaf sebagaimana harta yang pertama. Begitu pula dengan seekor kuda yang ditahan (diwakafkan) untuk perang; apabila sudah tidak layak lagi digunakan untuk bertempur, maka kuda itu dijual dan hasil penjualannya dibelikan kuda atau alat lain yang layak untuk jihad.

Apabila di tangan salah seorang penerima wakaf terkumpul hasil wakaf sebanyak 5 wasaq (minimal nisab zakat pertanian), maka ia wajib membayar zakat atasnya. Namun, apabila wakaf tersebut (sejak awal atau telah beralih) diperuntukkan bagi orang-orang miskin secara umum, maka tidak ada kewajiban zakat di dalamnya.

Sesuatu yang tidak dapat diambil manfaatnya kecuali dengan cara menghabiskannya—seperti emas, perak (uang dinar/dirham kuno), makanan, dan minuman—maka wakaf atas benda-benda tersebut hukumnya tidak sah. Wakaf dianggap sah pada benda-benda selain itu. Diperbolehkan juga mewakafkan harta bersama yang belum dibagi (musya'). Jika suatu wakaf tidak ditujukan untuk kemakrufan (kebaikan umum) atau kebajikan, maka wakaf tersebut batal.

 ¹ Wakaf dan Pemberian: Wakaf secara bahasa berarti menahan (al-habs). Secara syariat berarti menahan aset pokok (al-ashl) dan mengalirkan hasilnya (tashbil ats-tsamarah), yaitu menahan harta dan menyalurkan manfaatnya di jalan Allah.

كتاب الهبة والعطية1

ولا تصح الهبة والصدقة فيما يكال أو يوزن إلا بقبضه وتصح في غير ذلك بغير قبض إذا قبل كما يصح في البيع ويقبض للطفل أبوه أو وصية بعده أو الحاكم أو أمينه بأمره.

وإذا فاضل بين ولده في العطية أمر برده كما أمر النبي 1 [صلى الله عليه وسلم] فإن مات ولم يردد فقد ثبت لمن وهب له إذا كان في صحته ولا يحل لواهب أن يرجع في هبته ولا لمهد في هديته وإن لم يثب عليها وإن قال داري لك عمري أو هي لك عمرك فهي له ولورثته من بعده.

وإذا قال سكناها لك عمرك كان له أخذها أي وقت أحب لأن السكنى ليست كالعمرى والرقبى والله أعلم.

1 الهبة والعطية: الهبة: العطية الخالية من الأعواض والأغراض، وأعطيات الجند: أرزاقهم وما يرتب لهم من مال الهبة في الشرع: عقد موضوعه تمليك الإنسان ماله لغيره في الحياة بلا عوض فيعين المعنى المراد.

KITAB HIBAH DAN PEMBERIAN (AL-HIBAH WA AL-'ATIYYAH)¹

Hibah dan sedekah pada benda-benda yang ditakar atau ditimbang hukumnya tidak sah kecuali setelah adanya serah-terima (qabdh). Sedangkan pada benda selain itu, hibah dianggap sah tanpa harus ada serah-terima terlebih dahulu asalkan pihak penerima telah menyatakan menerima (qabul), sebagaimana yang berlaku dalam akad jual beli. Adapun bagi anak kecil, yang melakukan serah-terima adalah ayahnya, atau wasi (penerima wasiat/wali) setelah ayahnya, atau hakim (penguasa), atau orang kepercayaan yang ditunjuk atas perintah hakim.

Jika seseorang melebihkan pemberian di antara anak-anaknya (tidak adil), maka ia diperintahkan untuk menariknya kembali sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi $~_{\text{SAW}}$. Namun, jika ia terlanjur meninggal dunia sebelum menariknya kembali, maka hibah tersebut telah sah dan tetap menjadi hak bagi anak yang diberi, asalkan pemberian itu dilakukan ketika orang tua dalam keadaan sehat.

Seorang pemberi tidak halal menarik kembali hibahnya, begitu pula orang yang memberi hadiah tidak boleh menarik kembali hadiahnya, meskipun ia tidak mendapatkan balasan (tsawab) atas pemberian tersebut.

Jika seseorang berkata, "Rumahku ini untukmu sepanjang umurku ('umra)" atau "Rumah ini untukmu sepanjang umurmu," maka rumah tersebut menjadi milik penerima dan beralih kepada ahli warisnya setelah ia meninggal dunia. Namun, jika ia berkata, "Hak menempatinya (sukna) untukmu sepanjang umurmu," maka pemilik asli boleh mengambilnya kembali kapan saja ia mau, karena hak menempati (al-sukna) tidak sama hukumnya dengan 'umra (hibah kepemilikan seumur hidup) maupun ruqba (hibah kepemilikan bersyarat mati). Wallahu a'lam.

 ¹ Hibah dan Pemberian: Hibah adalah pemberian yang sepi dari kompensasi (timbal balik) dan maksud-maksud tertentu. Adapun pemberian bagi tentara (a'thiyatul jund) bermakna gaji dan rezeki yang ditetapkan bagi mereka dari kas negara. Hibah menurut syariat adalah akad yang objeknya adalah pemindahan kepemilikan harta seseorang kepada orang lain semasa hidupnya tanpa adanya imbalan.

كتاب اللقطة
مدخل

كتاب اللقطة1

ومن وجد لقطة عرفها سنة في أبواب المساجد فإن جاء ربها وإلا كانت كسائر ماله وحفظ وكائها وعفاصها2 وحفظ عددها وصفاتها فإن جاء ربها فوصفها دفعت إليه بلا بينة أو مثلها إن





كانت قد استهلكت فإن كان الملتقط قد مات كان صاحبها غريما بها وإن كان صاحبها جعل لمن وجدها شيئا معلوما فله أخذه إن كان التقطها بعد أن بلغه الجعل وإن كان التقطها قبل ذلك فردها لعلة الجعل لم يجز له أخذه وإن كان الذي وجدها سفيها أو طفلا قام وليه بتعريفها فإن تمت السنة ضمها إلى مال واجدها وإذا وجد الشاة بمصر أو بمهلكة فهي لقطة. ولا يترعض لبعير ولا لما فيه قوة المنع عن نفسه والله أعلم.


1 اللقطة: ما يؤخذ من الأرض، والتقط الشيء: عثر عليه من غير فقد ولا طلب قال تعالى: {فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ} [القصص:8]

2 وكاءها وعفاصها: الوكاء ما يشد به الكيس.

والعفاص: الوعاء الذي تكون فيه النفقة من جلد أو غيره.

KITAB BARANG TEMUAN (AL-LUQATHAH)¹

Barangsiapa menemukan barang temuan (luqathah), ia wajib mengumumkannya selama satu tahun di pintu-pintu masjid. Jika pemiliknya datang (maka serahkan), dan jika tidak kunjung datang, maka barang tersebut statusnya menjadi seperti hartanya yang lain (boleh dimanfaatkan). Ia wajib menjaga tali pengikatnya (wika'), wadahnya ('ifash)², serta menghafal jumlah dan sifat-sifatnya. Jika pemiliknya datang lalu menyebutkan sifat-sifatnya dengan tepat, maka barang tersebut harus diserahkan kepadanya tanpa perlu meminta bukti persidangan (bayyinah), atau diganti dengan yang sepadan jika barang tersebut telah habis terpakai.

Jika orang yang menemukan barang tersebut (multaqith) meninggal dunia, maka pemilik barang posisinya menjadi orang yang berpiutang atas harta peninggalan penemu tersebut.

Jika pemilik barang sengaja membuat sayembara dengan menjanjikan imbalan tertentu (ju'l) bagi siapa saja yang menemukannya, maka penemu berhak mengambil imbalan tersebut apabila ia memungutnya setelah mengetahui adanya sayembara. Namun, jika ia memungutnya sebelum tahu, lalu mengembalikannya semata-mata karena baru tahu adanya imbalan, ia tidak boleh mengambil imbalan tersebut.

Jika orang yang menemukan barang adalah orang yang kurang akal (safih) atau anak kecil, maka walinyalah yang bertugas melakukan pengumuman. Jika masa satu tahun telah terpenuhi, wali menggabungkan barang tersebut ke dalam harta milik si penemu (anak kecil/safih tersebut).

Jika seseorang menemukan seekor kambing di wilayah perkotaan atau di tempat yang rawan binasa (padang pasir/hutan), maka statusnya adalah barang temuan (boleh langsung diamankan). Namun, jangan sekali-kali mengusik unta, atau hewan apa pun yang memiliki kekuatan untuk mempertahankan dirinya sendiri dari binatang buas. Wallahu a'lam.

 ¹ Luqathah: Sesuatu yang diambil dari tanah. Kalimat iltaqatha asy-syai' berarti ia menemukannya tanpa sengaja kehilangan dan tanpa mencarinya. Allah Ta'ala berfirman: "Maka dia dipungut oleh keluarga Fir'aun." (QS. Al-Qashash: 8).
 ² Wika' dan 'Ifash: Wika' adalah tali yang digunakan untuk mengikat kantong/pundi-pundi harta. Sedangkan 'Ifash adalah wadah tempat menyimpan uang/bekal, baik terbuat dari kulit maupun bahan lainnya.


باب اللقيط1

واللقيط حر ينفق عليه من بيت المال إن لم يوجد معه شيء ينفق عليه منه وولاؤه لسائر المسلمين.

وإن لم يكن من وجد اللقيط أمينا منع من السفر به.

وإذا ادعاه مسلم وكافر أري القافة2 فبأيهما ألحقوه لحق والله أعلم.

1 اللقيط: الوليد الذي يوجد ملقى على الطريق لا يعرف أبواه.

2 القافة: جمع قائف، وهو الذي يحسن معرفة الأثر وتتبعه.

BAB: ANAK TEMUAN (AL-LAQITh)¹

Anak temuan (laqith) statusnya adalah orang merdeka. Ia diberi nafkah dari Baitul Mal jika tidak ditemukan harta bersamanya yang bisa digunakan untuk menafkahinya. Hak perwaliannya (wala') kembali kepada kaum muslimin secara umum.

Jika orang yang menemukan anak tersebut (multaqith) bukan orang yang tepercaya (amin), maka ia dilarang membawa anak tersebut bepergian (safar).

Apabila anak tersebut diklaim (diakui anak) oleh seorang muslim dan seorang kafir secara bersamaan, maka anak tersebut diperlihatkan kepada ahli pelacak nasab (qafah)². Kepada siapa pun di antara keduanya para ahli menetapkan nasabnya, maka anak tersebut sah dihubungkan kepadanya. Wallahu a'lam.

 ¹ Laqith: Bayi atau anak kecil yang ditemukan tercapak di jalanan dan tidak diketahui kedua orang tuanya.
 ² Qafah: Bentuk jamak dari qa'if, yaitu orang yang memiliki keahlian dan kecermatan tinggi dalam mengenali kemiripan fisik, jejak kaki, dan garis keturunan.

كتاب الوصايا1

ولا وصية لوارث إلا أن يجيز الورثة ذلك ومن أوصى لغير وارث بأكثر من الثلث فأجاز ذلك الورثة بعد موت الموصي جاز وإن لم يجيزوا رد إلى الثلث ومن أوصى له هو في الظاهر وارث فلم يمت الموصي حتى صار الموصى له غير وارث فالوصية له ثابتة لأن اعتبار الوصية بالموت فإن مات الموصى له قبل موت الموصي بطلت الوصية وإن رد الموصى له الوصية بعد موت الموصي بطلت الوصية وإن مات قبل أن يقبل أو يرد قام

1 الوصايا: هي هبة الإنسان غيره عينا أو دينا أو منفعة على أن يملك الموصى له الهبة بعد موت الموصى.

KITAB WASIAT (AL-WASHAYA)¹

Tidak ada hak wasiat bagi ahli waris, kecuali jika para ahli waris yang lain mengizinkannya. Barangsiapa berwasiat kepada selain ahli waris dengan jumlah lebih dari sepertiga harta, lalu para ahli waris menyetujuinya setelah kematian pewasiat (mushi), maka wasiat tersebut sah dijalankan. Namun jika mereka tidak menyetujuinya, maka wasiat tersebut ditolak dan dikembalikan menjadi senilai sepertiga harta saja.

Barangsiapa berwasiat kepada seseorang yang pada lahiriahnya saat itu merupakan ahli waris, namun sebelum pewasiat meninggal dunia status orang tersebut berubah menjadi bukan lagi ahli waris, maka wasiat untuknya tetap sah dan berlaku; sebab, tolok ukur status wasiat dinilai pada saat kematian pewasiat.

Jika penerima wasiat (musha lahu) meninggal dunia terlebih dahulu sebelum kematian pewasiat, maka wasiat tersebut batal. Jika penerima wasiat menolak wasiat tersebut setelah kematian pewasiat, maka wasiatnya juga batal. Namun, jika pewasiat telah meninggal dunia dan penerima wasiat ikut meninggal dunia sebelum ia sempat menyatakan menerima (qabul) atau menolak (radd), maka posisinya digantikan oleh... [Teks terputus di sini].

 ¹ Wasiat: Pemberian seseorang kepada orang lain berupa barang, piutang, atau manfaat, dengan ketentuan bahwa pihak penerima wasiat baru sah memiliki pemberian tersebut setelah kematian pihak pemberi wasiat.

LihatTutupKomentar