11/22/2017

Download Terjemah Kitab Kuning

Download Terjemah Kitab Kuning
Download Terjemah Kitab Kuning klasik berbagai bidang studi islam seperti Tafsir, hadits akidah fiqih tarikh ilmu hisab falak bahasa Arab dan lain-lain. Untuk tingkat dasar dan tingkat lanjut.

Seorang santri tidak pantas disebut santri salaf apabila tidak mampu membaca kitab kuning (kutub turats). Mampu membaca kitab kuning bukan hanya sebatas bisa membaca sesuai dengan kaidah gramatika bahasa Arab yang benar. Namun jauh lebih luas dari itu yakni mampu menguasai kandungan kitab-kitab klasik dari berbagai bidang studi meliputi tafsir, hadits, fiqih, tarikh, akhlaq, tauhid / aqidah, nahwu & sharaf, tajwid, ilmu falak & ilmu hisab, dll. Berikut beberapa kitab kuning yang sudah diterjemah ke dalam bahasa Indonesia atau Melayu.

Download Kitab Kuning Terjemah Tingkat Dasar dan Menengah

TERJEMAH KITAB KUNING DASAR

Kitab kuning dasar adalah kitab yang biasa dikaji untuk santri pesantren salaf tingkat dasar yaitu Madrasah Diniyah Ibtidaiyah atau tingkat I'dad, Ula dan Wustho.

Quran, Tafsir, Ilmu Tafsir

- Terjemah Al-Quran Indonesia
- Quran in English
- Quran in French
- Quran in German
- Quran in Spanish
- Tafsir Jalalain
- Terjemah Matan Tajwid Tuhfatul Atfal

Hadits dan Ilmu Hadits

- Bulughul Maram Ibnu Hajar Asqolani
- Hadits Arbain Nawawi
- Ilmu Mustholah Hadits

Tasawuf dan Akhlak

- Terjemah Minhajul Abidin
- Terjemah Al-Hikam
- Nashoihul Ibad
- Terjemah Talimul Muta'allim Az-Zarnuji
- Manhajus Salikin
- Al Ghazali: Pembebas dari Kesesatan (Terjemah Al-Munqidz min Al-Dholal

Fiqih

- Terjemah Fathul Qorib (Makna Gandul Jawa)
- Terjemah Matan Taqrib (Fiqih)
- Terjemah Safinatun Naja (Fiqih) (Arabnya tanpa harkat) | Teks Arabnya Berharkat
- Terjemah Sullam Taufiq
- Hukum Waris Islam
- Tabel Hukum Waris Islam
- Hukum Seputar Doa Setelah Shalat Fardhu

Gramatika Bahasa Arab

- Terjemah Matan Jurmiyah (Nahwu)
- Terjemah Nazham Imrithi Jilid 1
- Terjemah Nazham Imrithi Jilid 2
- Terjemah Nazham Maqsud
- Alfiyah Ibn Malik ( Ringkasan, 60 Chart / Tabel)
- Alfiyah Ibnu Malik dalam MP3 (Arab)
- Alfiah Ibnu Malik (Listen MP3 Online)
- Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia

Aqidah

- Terjemah Jawahirul Kalamiyah (Tauhid)
- Terjemah Aqidatul Awam (Tauhid)
- Terjemah Aqidah Sanusiyah Ummul Barahin
- Imam Asy'ari: Ajaran-Ajaran Asy'ari
- Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja)
- Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi - Idrus Romli
- Terjemah Risalah Ahlussunah Wal Jamaah oleh KH. Hasyim Asy'ari
- Kesalahan Konsep Tauhid Trinititas Wahabi Salafi
- Perbandingan Aliran Wahabi dan Ahlussunnah
- Kesesatan Tauhid Wahabi

Sejarah

- Terjemah Nurul Yaqin
- Terjemah Maulid Husnul Maqshid Al-Suyuthi
- Qasidah Al-Burdah

Biografi Ulama

- Biografi Imam Syafi'i | Versi Online
- Fiqhul Akbar Imam Hanafi & Imam Syafi'i

TERJEMAH KITAB TINGKAT LANJUT (ADVANCED)

Berikut kitab-kitab kuning tingkat lanjut (mabsutot, mutowwalat) yang dapat didownload. Format berkas adalah pdf dan djvu.

TERJEMAH TAFSIR IBNU KATSIR

Berdasarkan Jilid Kitab (Lengkap)

- 1 Tafsir Ibnu Katsir 1 a
- 2 Tafsir Ibnu Katsir 1 b
- 3 Tafsir Ibnu Katsir 1 c
- 4 Tafsir Ibnu Katsir 1 d
- 5 Tafsir Ibnu Katsir 2.1
- 6 Tafsir Ibnu Katsir 2.2
- 7 Tafsir Ibnu Katsir 2.3
- 8 Tafsir Ibnu Katsir 2.4
- 9 Tafsir Ibnu Katsir 3.1
- 10 Tafsir Ibnu Katsir 3.2
- 11 Tafsir Ibnu Katsir 3.3
- 12 Tafsir Ibnu Katsir 3.4
- 13 Tafsir Ibnu Katsir 4.1
- 14 Tafsir Ibnu Katsir 4.2
- 15 Tafsir Ibnu Katsir 4.3
- 16 Tafsir Ibnu Katsir 4.4
- 17 Tafsir Ibnu Katsir 5.1
- 18 Tafsir Ibnu Katsir 5.2
- 19 Tafsir Ibnu Katsir 5.3
- 20 Tafsir Ibnu Katsir 5.4
- 21 Tafsir Ibnu Katsir 6.1
- 22 Tafsir Ibnu Katsir 6.2
- 23 Tafsir Ibnu Katsir 6.3
- 24 Tafsir Ibnu Katsir 6.4
- 25 Tafsir Ibnu Katsir 6.5
- 26 Tafsir Ibnu Katsir 7.1
- 27 Tafsir Ibnu Katsir 7.2
- 28 Tafsir Ibnu Katsir 7.3
- 29 Tafsir Ibnu Katsir 7.4
- 30 Tafsir Ibnu Katsir 7.5
- 31 Tafsir Ibnu Katsir 8.1
- 32 Tafsir Ibnu Katsir 8.2
- 33 Tafsir Ibnu Katsir 8.3
- 34 Tafsir Ibnu Katsir 8.4
- 35 Tafsir Ibnu Katsir 8.5
- 36 Tafsir Ibnu Katsir 8.6 (Keutamaan2 al-Qur'an)

Berdasarkan Juz Al-Quran (Tidak lengkap)

- Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 [Al-Baqarah 253 s.d. Ali Imran 91]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 4 [Ali Imran 92 s.d. An-Nisa 23]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 [An-Nisa 24 s.d. An-Nisa 147]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 [Surat An-Nisa 148 s.d. Al-Maidah 82]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 7 [Surat Al-Maidah 83 s.d. Al-An'am 110]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 8 [Surat Al-An'am 111 s.d. Al-A'raf 87]
-
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 9 [Surat Al-A'raf 88 s.d Al-Anfal 40]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 10
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 13 [Surat Yusuf 53 s.d Al-Hijr 1]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 14 [Surat Al-Hijr 2 s.d. An-Nahl 128]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 15
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 28


TERJEMAH KITAB SAHIH BUKHARI (PDF)

- Jilid 1
- Jilid 2
- Jilid 3
- Jilid 4
- Jilid 5
- Jilid 6
- Jilid 7

TERJEMAH KITAB SAHIH MUSLIM (DJVU)

Nama kitab: Terjemah Sahih Muslim
Jilid: 6 (lengkap)
Penyusun: Imam Muslim
Penerjemah: Fachruddin HS
Penerbit: Bulan Bintang Jakarta
Format file: Djvu

- Jilid 1
- Jilid 2
- Jilid 3
- Jilid 4
- Jilid 5
- Jilid 6


Kitab Al-Umm Imam Syafi'i

Terjemah Al-Umm ini ada dua versi. Versi lengkap dan versi ringkasan. Terjemah lengkap dialihkan ke dalam format digital langsung dari versi cetaknya dengan scanning.

Terjemah versi lengkap

Nama: Al-Umm Kitab Induk
Karangan: Al-Imam Asy-Syafi'i
Terjamahan: Prof. TK. H. Ismail Yakub, Sh., MA.
Penerbit: Victory Agence, Kuala Lumpur, Malaysia

Terjemah versi Ringkasan

Judul: Ringkasan Kitab Al-Umm
Penerjemah: Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail

- Kitab Al-Umm Jilid 1 Ringkasan | Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 2 Ringkasan | Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 3 Ringkasan | Versi Lengkap (tidak tersedia)
- Kitab Al-Umm Jilid 4 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 5 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 6 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 7 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 8 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 9 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 10 (tidak tersedia)
- Kitab Al-Umm Jilid 11 Versi Lengkap

2. Terjemah Kitab Fathul Bari Ibnu Hajar Al-Asqolani

Format file: (a) Jilid 1, 2 dan 3 format PDF; (b) Jilid 4, 5, 6, 7, dan 8 format DJVU.

- Fathul Bari Jilid 1
- Fathul Bari Jilid 2
- Fathul Bari Jilid 3
- Fathul Bari Jilid 4
- Fathul Bari Jilid 5
- Fathul Bari Jilid 6
- Fathul Bari Jilid 7
- Fathul Bari Jilid 8


Terjemah Kitab Ibanah Al-Ahkam Syarah Buluthul

Format file: pdf

- Ibanah Al-Ahkam Juz 1
- Ibanah Al-Ahkam Juz 2
- Ibanah Al-Ahkam Juz 3
- Ibanah Al-Ahkam Juz 4


TERJEMAH RIYADUSH SHOLIHIN IMAM NAWAWI

- Jilid 1
- Jilid 2


TERJEMAH KITAB FATHUL QORIB

Terjemah Makna Jawa Gandul (Utawi Iku)

- Terjemah Fathul Qorib Makna Jawa Gandul

Terjemah Bahasa Indonesia

- Fathul Qorib Syarah Taqrib Jilid 1
- Fathul Qorib Syarah Taqrib Jilid 2

- Terjemah Fathul Qorib Edisi Online

TERJEMAH KITAB FATHUL MUIN

Nama kitab: Terjemah Fathul Muin
Jilid: 12 jilid (tamat)
Penyusun: Al-Malibari
Bidang Studi: Fiqih
Penerjemah: Abul Hiyadh
Penerbit: Al-Hidayah Surabaya
Format file: Djvu
- Jilid 1
- Jilid 2:
- Jilid 3:
- Jilid 4:
- Jilid 5:
- Jilid 6:
- Jilid 7:
- Jilid 8:
- Jilid 9:
- Jilid 10:
- Jilid 11:
- Jilid 12:

3. Terjemah Fiqih Sirah oleh Said Ramadan Al-Buti

- Fiqih Sirah


Terjemah Kitab-kitab karya Syekh Yusuf Qardhawi

- Halal Haram dalam Islam
- Fiqih Prioritas
- Islam Dakwah Menyeluruh (Syumul)
- Fiqih Zakat


BUKU TENTANG WAHABI SALAFI

- Kesalahan Konsep Tauhid Trinititas Wahabi Salafi
- Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi oleh Idrus Romli
- Wahabisme: Sebuah Tinjauan Kritis
- Puluhan kitab ulama Salaf yang dipalsukan Wahabi
- Sejarah Dakwah Salafiyah di Indonesia
- Kesesatan Akidah Tauhid
- Kritik terhadap Konsep Tauhid Ibnu Taimiyah
- Perbandingan Aliran Wahabi dan Ahlussunnah

11/21/2017

Terjemah Kitab Tafsir Jalalain

Terjemah Kitab Tafsir Jalalain

Terjemah Kitab Tafsir Jalalain lengkap dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Nama kitab: Tafsir Al-Jalalain (Tafsir oleh Dua Jalaluddin)
Nama penafsir:
1. Jalaluddin Al-Mahalli. (Lahir: 791 - 864 Hijriyah / Wafat: 1389 - 1459 Masehi)
Nama lengkap: Jalaluddin, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Al-Mahalli Al-Syafi'i (محمد بن أحمد بن محمد بن إبراهيم المحلي الشافعي)
2. Jalaluddin Al-Suyuti (Lahir: 3 Oktober 1445 M / 1 Rajab 849 H; wafat: 18 Oktober 1505 M / 19 Jumadi Ula 911 H)
Nama lengkap: Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Suyuti (جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي)
Penerjemah ke Bahasa Indonesia:
Bidang studi: Tafsir Al-Quran

Daftar Isi


Download Tafsir Jalalain:
- Terjemah Bahasa Indonesia Format PDF (3 MB)
- Terjemah Indonesia Format CHM (2 MB)
- Versi Bahasa Arab: format Pdf
- Terjemah Arab - Inggris (pdf)

TAFSIR JALALAIN AL-QURAN SURAT AL-FATIHAH AYAT 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7

Al-Fatihah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

001. (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)


{ الحمد لله } جملة خبرية قصد بها الثناء على الله بمضمونها على أنه تعالى : مالك لجميع الحمد من الخلق آو مستحق لأن يحمدوه والله علم على المعبود بحق { رب العالمين } أي مالك جميع الخلق من الإنس والجن والملائكة والدواب وغيرهم وكل منها يطلق عليه عالم يقال عالم الإنس وعالم الجن إلى غير ذلك وغلب في جمعه بالياء والنون أولي العلم على غيرهم وهو من العلامة لأنه علامة على موجده

002. (Segala puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Taala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. (Tuhan semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal 'al-`aalamiin' merupakan bentuk jamak dari lafal '`aalam', yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata 'aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya.


{ الرحمن الرحيم }
أي ذي الرحمة وهي إرادة الخير لأهله

003. (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) yaitu yang mempunyai rahmat. Rahmat ialah menghendaki kebaikan bagi orang yang menerimanya.


{ مالك يوم الدين }
أي الجزاء وهو يوم القيامة وخص بالذكر لأنه لا ملك ظاهرا فيه لأحد إلا لله تعالى بدليل { لمن الملك اليوم ؟ لله } ومن قرأ مالك فمعناه مالك الأمر كله في يوم القيامة أو هو موصوف بذلك دائما كغافر الذنب فصح وقوعه صفة لمعرفة

004. (Yang menguasai hari pembalasan) di hari kiamat kelak. Lafal 'yaumuddiin' disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata, sesuai dengan firman Allah Taala yang menyatakan, "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (Q.S. Al-Mukmin 16) Bagi orang yang membacanya 'maaliki' maknanya menjadi "Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat". Atau Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti 'ghaafiruz dzanbi' (Yang mengampuni dosa-dosa). Dengan demikian maka lafal 'maaliki yaumiddiin' ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah (dikenal).


{ إياك نعبد وإياك نستعين }
أي نخصك بالعبادة من توحيد وغيره ونطلب المعونة على العبادة وغيرها

005. (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan) Artinya kami beribadah hanya kepada-Mu, seperti mengesakan dan lain-lainnya, dan kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu dalam menghadapi semua hamba-Mu dan lain-lainnya.


{ اهدنا الصراط المستقيم }
أي أرشدنا إليه ويبدل منه

006. (Tunjukilah kami ke jalan yang lurus) Artinya bimbinglah kami ke jalan yang lurus, kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu:


{ صراط الذين أنعمت عليهم }
بالهداية ويبدل من الذين بصلته { غير المغضوب عليهم } وهم اليهود { ولا } وغير { الظالمين } وهم النصارى ونكتة البدل إفادة أن المهتدين ليسوا يهودا ولا نصارى والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب وصلى الله على سيدنا محمد و على آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا دائما أبدا وحسبنا الله ونعم الوكيل ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

007. (Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), yaitu melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh ayat berikut: (Bukan (jalan) mereka yang dimurkai) Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. (Dan bukan pula) dan selain (mereka yang sesat.) Yang dimaksud adalah orang-orang Kristen. Faedah adanya penjelasan tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu. Semoga selawat dan salam-Nya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan para sahabatnya, selawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi kita Allah sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.[alkhoirot.org]

TERJEMAH AL-QURAN SURAT AL-FATIHAH BAHASA INGGRIS

1. In the name of Allah, the Entirely Merciful, the Especially Merciful.

2. [All] praise is [due] to Allah, Lord of the worlds -

3. The Entirely Merciful, the Especially Merciful,

4. Sovereign of the Day of Recompense.

5. It is You we worship and You we ask for help.

6. Guide us to the straight path

7. The path of those upon whom You have bestowed favor, not of those who have evoked [Your] anger or of those who are astray. [alkhoirot.org]

TERJEMAH BAHASA PRANCIS

1. Au nom d'Allah, le Tout Miséricordieux, le Très Miséricordieux.

2. Louange à Allah, Seigneur de l'univers.

3. Le Tout Miséricordieux, le Très Miséricordieux,

4. Maître du Jour de la rétribution.

5. C'est Toi [Seul] que nous adorons, et c'est Toi [Seul] dont nous implorons secours.

6. Guide-nous dans le droit chemin,

7. le chemin de ceux que Tu as comblés de faveurs, non pas de ceux qui ont encouru Ta colère, ni des égarés. [alkhoirot.org]

TERJEMAH BAHASA JERMAN

1. Im Namen Allahs, des Allerbarmers, des Barmherzigen!

2. Alles Lob gebührt Allah, dem Herrn der Welten

3. dem Allerbarmer, dem Barmherzigen

4. dem Herrscher am Tage des Gerichts!

5. Dir (allein) dienen wir, und Dich (allein) bitten wir um Hilfe.

6. Führe uns den geraden Weg

7. den Weg derer, denen Du Gnade erwiesen hast, nicht (den Weg) derer, die(Deinen) Zorn erregt haben, und nicht (den Weg) der Irregehenden. [alkhoirot.org]

TERJEMAH BAHASA SPANYOL

1. En el Nombre de Dios, el Más Misericordioso, el Dispensador de Gracia

2. Toda alabanza pertenece sólo a Dios, el Sustentador de todos los mundos,

3. el Más Misericordioso, el Dispensador de Gracia,

4. ¡Señor del Día del Juicio!

5. A Ti sólo adoramos; sólo en Ti buscamos ayuda.

6. ¡Guíanos por el camino recto –

7. el camino de aquellos sobre los que has derramado Tus bendiciones, no el de aquellos que han sido condenados [por Ti], ni el de aquellos que andan extraviados! [alkhoirot.org]

TERJEMAH BAHASA ITALIA

1. In nome di Allah, il Compassionevole, il Misericordioso

2. La lode [appartiene] ad Allah, Signore dei mondi

3. il Compassionevole, il Misericordioso,

4. Re del Giorno del Giudizio.

5. Te noi adoriamo e a Te chiediamo aiuto.

6. Guidaci sulla retta via,

7. la via di coloro che hai colmato di grazia, non di coloro che [sono incorsi] nella [Tua] ira, né degli sviati.[alkhoirot.org]

11/11/2017

Terjemah Kitab Fathul Qorib

Terjemah Kitab Fathul Qorib
Nama kitab: Terjemah Kitab Fathul Qorib (Fath Al-Qarib)
Syarh dari: Kitab Matan Taqrib Abu Syujak
Judul kitab asal: Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Alfazh Al-Taqrib atau Al-Qawl Al-Mukhtar fi Syarh Ghayatil Ikhtishar (فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب أو القول المختار في شرح غاية الإختصا)
Pengarang: Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazi ibn Al-Gharabili Abu Abdillah Syamsuddin (محمد بن قاسم بن محمد الغزي ابن الغرابيلي أبو عبد الله شمس الدين)
Download versi Arab: di sini
Download terjemah makna Jawa : di sini.
Download terjemah Indonesia: Jilid 1 dan Jilid 2
Bidang studi: Fiqih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

Muqaddimah

مقدمة الكتاب

بسم الله الرحمن الرحيم

قال الشيخ الإمام العالم العلامة شمس الدين أبو عبد اللّه محمد بن قاسم الشافعيّ تغمده الله برحمته ورضوانه آمين:
الحمد لله تبركاً بفاتحة الكتاب لأنها ابتداء كل أمرٍ ذي بال، وخاتمة كل دعاء مجاب، وآخر دعوى المؤمنين في الجنة دار الثواب، أحمده أن وفق من أراد من عباده للتفقه في الدين على وفق مراده، وأصلي وأسلم على أفضل خلقه محمد سيد المرسلين، القائل: 'مَنْ يُرِدِ اللّهُ بهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّين' وعلى آله وصحبه مدة ذكر الذّاكرين وَسَهْوِ الغافلين.

(وبعد): هذا كتاب في غاية الاختصار والتهذيب، وضعته على الكتاب المسمى بالتقريب لينتفع به المحتاج من المبتدئين لفروع الشريعة والدين، وليكون وسيلة لنجاتي يوم الدين، ونفعاً لعباده المسلمين إنه سميع دعاء عباده، وقريب مجيب، ومن قصده لا يخيب {وَإذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإنِّي قَرِيبٌ} (سورة البقرة: الآية 186).

واعلم أنه يوجد في بعض نسخ هذا الكتاب في غير خطبته تسميته تارة بالتقريب، وتارة بغاية الاختصار، فلذلك سميته باسمين أحدهما: (فتح القريب المجيب) في شرح ألفاظ التقريب، والثاني: 'القول المختار في شرح غاية الاختصار'.
قال الشيخ الإمام أبو الطيب: ويشتهر أيضاً بأبي شجاع شهاب الملة والدين أحمد بن الحسين بن أحمد الأصفهاني سقى الله ثراه صبيب الرحمة والرضوان، وأسكنه أعلى فراديس الجنان.

بسم اللّه الرحمن الرحيم) أبتدىء كتابي هذا، والله اسمٌ للذات الواجب الوجود، والرّحمن أبلغ من الرحيم. (الحمد لله) هو الثناء على الله تعالى بالجميل على جهة التعظيم (ربِّ) أي مالك (العالمين) بفتح اللام، وهو كما قال ابن مالك اسم جمع خاصّ بمن يعقل لا جمع، ومفرده عالم بفتح اللام، لأنه اسم عام لما سوى الله تعالى والجمع خاصّ بمن يعقل. (وصلى الله) وسلم (على سيدنا محمد النبيّ) هو بالهمز وتركه إنسان أوحيَ إليه بشرع يعمل به، وإن لم يؤمر بتبليغه فإن أمر بتبليغه فنبيّ ورسول أيضاً. والمعنى ينشىء الصلاة والسلام عليه، ومحمد علم منقول من اسم مفعول المضعف العين، والنبيّ بدل منه أو عطف بيان عليه. (و) على (آله الطاهرين) هم كما قال الشافعي أقاربه المؤمنون من بني هاشم، وبني المطلب، وقيل واختاره النووي: إنهم كلّ مسلم. ولعلّ قوله الطاهرين منتزع من قوله تعالى: {وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيراً} (و) على (صحابته) جمع صاحب النبيّ وقوله (أجمعين) تأكيد لصحابته.

Syaikh Al Imam Al ‘Alim Al ‘Alamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qosim As Syafi’i -Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keridlhoannya amin- berkata :
Seluruh pujian hanya hak Allah, memulainya dengan hamdalah karena berharap berkah, karena merupakan permulaan setiap urusan yang penting, penutup setiap puji yang diijabah, dan akhir ungkapan orang-orang mu’min di surga, kampung pahala. Aku memujiNya yang telah memberikan taufiq kepada setiap yang Dia kehendaki dari kalangan para hambanya, untuk tafaquh di dalam Agama sesuai dengan yang dikehendakiNya. Aku bersholawat dan memohonkan keselamatan bagi makhluk termulia, Muhammad penghulu para utusan, yang bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللّهُ بهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya maka Dia Ta’ala akan memahamkannya pada agama” (HR. Bukhori[71], Muslim[1037]), demikian pula sholawat dan salam bagi seluruh pengikut dan sahabatnya, selama ada orang-orang yang berdzikir dan adanya orang-orang yang lalai.

Kemudian, kitab ini sangatlah ringkas dan runtut, kitab ini saya berinama At Taqrib, dengan harapan para pemula bisa mengambil manfa’at dalam masalah cabang syari’at dan agama, dan supaya menjadi media bagi kebahagiaanku pada hari pembalasan, serta bermanfa’at bagi para hambanya dari orang-orang Islam. Sesungguhnya Dia maha Mendengar permintaan hambanya, Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan, orang yang memaksudkanNya tidak akan sia-sia “Jika hambaku bertanya kepada mu, maka sesungguhnya Aku sangatlah Dekat”. (QS. Al Baqoroh : 186).

Ketahuilah!, dalam sebagian naskah kitab pada muqoddimahnya terkadang penamaanya dengan At Taqrib dan terkadang pula dengan Ghoyatul Ikhtishor, oleh karena itu saya pun manamainya dengan dua nama, pertama Fathul Qorib Al Mujib Fi Syarhi Alfadzi At Taqrib, kedua Al Qaul Al Mukhtar Fi Syarhi Ghoyatil Ikhtishor.

As Syaikh Al Imam Abu Thoyyib, dan terkenal pula dengan nama Abi Suja’ Syihabul millah wad dien Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Al Ashfahaniy –semoga Allah memperbanyak curahan rahmat dan keridlhoan kepadanya, dan menempatkannya di surga tertinggi– berkata:

[Bismillahirrohmaanirrohim] Aku memulai tulisan ini Allah merupakan nama bagi Dzat Yang Wajib Adanya ‘wajibul wujud’ Ar Rohman lebih menyampaikan daripada Ar Rohim.

[Al Hamdu] merupakan pujian kepada Allah Ta’ala dengan keindahan/kebaikan disertai pengagungan. [Robbi] yaitu Yang Maha Menguasai. [Al ‘Aalamin] dengan difatahkan, ia sebagimana pendapat Ibnu Malik : Kata benda jamak yang khusus digunakan bagi yang berakal, bukan seluruhnya. Kata tunggalnya ‘aalam dengan difathahkan huruf lam, ia merupakan nama bagi selain Allah Ta’ala dan jamaknya khusus bagi yang berakal.

[Dan sholawat Allah] serta salam [atas pengulu kita, Muhammad sang Nabi] ia dengan hamzah dan tidak dengan hamzah adalah manusia yang diberikan wahyu kepadanya dengan syari’at yang dia beramal dengannya walaupun tidak diperintahkan menyampaikannya, maka jika diperintahkan menyampaikan maka dia Nabi dan Rosul. Maknanya curahkanlah sholawat dan salam kepadanya. Muhammad adalah nama yang diambil dari isim maf’ul al mudlho’af al ‘ain. Dan Nabi merupakan badal dari nya atau ‘athof bayan. [Dan] bagi [keluarganya yang suci], mereka sebagaimana diungkapkan As Syafi’i : Keluarganya yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Al Mutholib, dikatakan dan An Nawawi memilihnya : Mereka adalah seluruh orang muslim. Mudah-mudahan perkataanya ath thohirin diambil dari firmanNya Ta’ala : “dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS. Al Ahzab : 33). [Dan] bagi [para sahabatnya], ia jamak dari shohibun nabi . Dan perkataanya [seluruhnya] merupakan takid ‘penegas’ dari Sahabat.

Kitab Nikah, Talak dan Rujuk

Kitab Nikah
Nikah atau perkawinan dalam Islam adalah suatu akad (transaksi) antara pria dan wanita untuk menjalin hubungan sebagai suami istri dengan syarat dan rukun tertentu.

Nama kitab: Terjemah Kitab Fathul Qarib
Judul kitab asal: Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Alfazh Al-Taqrib atau Al-Qawl Al-Mukhtar fi Syarh Ghayatil Ikhtishar (فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب أو القول المختار في شرح غاية الإختصا)
Pengarang: Abu Abdillah Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazi ibn Al-Gharabili
Bidang studi: Fiqih madzhab Syafi'i

Daftar Isi


Kitab Nikah

كتاب أحكام النكاح وما يتعلق به

وفي بعض النسخ وما يتصل به (من الأحكام والقضايا) وهذه الكلمة ساقطة من بعض نسخ المتن، والنكاح يطلق لغة على الضم والوطء والعقد، ويطلق شرعاً على عقد مشتمل على الأركان والشروط (والنكاح مستحب لمن يحتاج إليه) بتوقان نفسه للوطء ويجد أهبته كمهر ونفقة، فإن فقد الأهبة لم يستحب له النكاح

(ويجوز للحر أن يجمع بين أربع حرائر) فقط إلا أن تتعين الواحدة في حقه كنكاح سفيه ونحوه مما يتوقف على الحاجة (و) يجوز (للعبد) ولو مدبراً أو مبعضاً أو مكاتباً أو معلقاً عتقه بصفة (أن يجمع بين اثنتين) أي زوجتين فقط (ولا ينكح الحر أمة) لغيره (إلا بشرطين عدم صداق الحرة) أو فقد الحرة أو عدم رضاها به (وخوف العنت) أي الزنى مدة فقد الحرة، وترك المصنف شرطين آخرين،

أحدهما أن لا يكون تحته حرة مسلمة أو كتابية تصلح للاستمتاع. والثاني إسلام الأمة التي ينكحها الحر، فلا يحل لمسلم أمة كتابية، وإذا نكح أمة بالشروط المذكورة، ثم أيسر ونكح حرة لم ينفسخ نكاح الأمة

(ونظر الرجل إلى المرأة على سبعة أضرب أحدها نظره) ولو كان شيخاً هرماً عاجزاً عن الوطء (إلى أجنبية لغير حاجة) إلى نظرها (فغير جائز) فإن كان النظر لحاجة كشهادة عليها جاز

(والثاني نظره) أي الرجل (إلى زوجته وأمته فيجوز أن ينظر) من كل منهما (إلى ما عدا الفرج منهما) أما الفرج فيحرم نظره، وهذا وجه ضعيف والأصح جواز النظر إليه، لكن مع الكراهة

(والثالث نظره إلى ذوات محارمه) بنسب أو رضاع أو مصاهرة (أو أمته المزوجة فيجوز) أن ينظر (فيما عدا ما بين السرة والركبة) أما الذي بينهما فيحرم نظره (والرابع النظر) إلى الأجنبية (لأجل) حاجة (النكاح فيجوز) للشخص عند عزمه على نكاح امرأة النظر (إلى الوجه والكفين) منها ظاهراً و باطناً وإن لم تأذن له الزوجة في ذلك، وينظر من الأمة على ترجيح النووي عند قصد خطبتها ما ينظره من الحرة

(والخامس النظر للمداواة فيجوز) نظر الطبيب من الأجنبية (إلى المواضع التي يحتاج إليها) في المداواة حتى مداواة الفرج، ويكون ذلك بحضور محرم أو زوج أو سيد، وأن لا تكون هناك امرأة تعالجها. (والسادس النظر للشهادة) عليها فينظر الشاهد فرجها عند شهادته بزناها أو ولادتها، فإن تعمد النظر لغير الشهادة فسق وردت شهادته (أو) النظر (للمعاملة) للمرأة في بيع وغيره (فيجوز النظر) أي نظره لها وقوله (إلى الوجه) منها (خاصة) يرجع للشهادة والمعاملة

(والسابع النظر إلى الأمة عند ابتياعها) أي شرائها (فيجوز) النظر (إلى المواضع التي يحتاج إلى تقليبها) فينظر أطرافها وشعرها لا عورتها.

Pengertian Nikah

Dalam sebagian redaksi dengan menggunakan bahasa, “hukum dan permasalahan yang terkait dengan nikah.”

Kalimat ini tidak tercantum di dalam sebagian redaksi matan.

Nikah secara bahasa diungkapkan untuk makna mengumpulkan, wathi’ dan akad.

Dan secara syariah nikah adalah akad yang mengandung beberapa rukun dan syarat.

Hukum Nikah

Nikah disunnahkan bagi orang yang membutuhkannya sebab keinginan kuat di dalam dirinya untuk melakukan wathi’ dan ia memiliki biaya seperti mas kawin dan nafkah.

Jika ia tidak memiliki biaya, maka tidak disunnahkan baginya untuk menikah.

Nikah Empat Wanita Bagi Laki-Laki Merdeka dan Dua Wanita Bagi Budak

Bagi laki-laki merdeka hanya diperkenankan untuk mengumpulkan (dalam pernikahan) empat wanita merdeka saja.

Kecuali jika haknya hanya satu saja seperti nikahnya lelaki idiot dan sesamanya, yaitu pernikahan yang tergantung pada kebutuhan saja.

Bagi seorang budak walaupun budak mudabbar, muba’adl, mukatab, atau budak yang digantungkan kemerdekaannya dengan sebuah sifat, diperkenankan hanya mengumpulkan dua istri saja.

Menikah Dengan Budak Wanita

Laki-laki merdeka tidak diperkenankan menikahi budak wanita orang lain keculai dengan dua syarat, yaitu tidak memiliki mas kawin untuk menikahi wanita merdeka, tidak menemukan wanita merdeka atau tidak ada wanita merdeka yang berkenan menikah dengannya, dan ada kekhawatiran melakukan zina selama tidak menemukan wanita merdeka.

Mushannif meninggalkan dua syarat yang lain,

Yang pertama, dia tidak memiliki istri wanita merdeka, baik muslim atau ahli kitab yang masih bisa untuk dinikmati.

Yang kedua, budak wanita yang akan dinikahi oleh lelaki merdeka tersebut beragama islam. Sehingga bagi lelaki muslim tidak halal menikahi budak wanita ahli kitab.

Ketika lelaki merdeka menikahi budak wanita dengan syarat-syarat tersebut, kemudian ia kaya dan menikah dengan wanita merdeka, maka nikahnya dengan budak wanita tersebut tidak rusak.

Memandang Lawan Jenis

Pandangan seorang lelaki pada wanita terbagi menjadi tujuh macam:

Yang pertama, pandangan seorang laki-laki, walaupun sudah tua rentah dan tidak mampu lagi berhubungan intim, kepada wanita lain (bukan mahram dan bukan istri) tanpa ada hajat untuk memandangnya, maka hukumnya tidak diperkenankan (Haram).

Jika pandangannya karena ada hajat seperti bersaksi atas wanita tersebut, maka hukumnya diperkenankan.

Yang kedua, pandangan seorang laki-laki pada istri dan budak perempuannya.

Maka baginya diperkenankan melihat pada masing-masing dari keduanya selain bagian kemaluan keduanya.

Sedangkan bagian kemaluan, maka hukum melihatnya adalah haram. Dan ini pendapat yang lemah.

Menurut pendapat al ashah adalah diperkenankan melihat bagian kemaluan akan tetapi disertai hukum makruh.

Yang ketiga, pandangan seorang laki-laki pada wanita-wanita mahramnya, baik sebab nasab, radla’ ataupun pernikahan, atau pada budak wanitanya yang telah dinikahkan dengan orang lain.

Maka diperkenankan baginya memandang anggota badan selain anggota di antara pusar dan lutut.

Sedangkan anggota di antara keduanya, maka hukumnya haram dipandang.

Yang ke empat adalah memandang pada wanita lain karena ingin dinikah.

Ketika seseorang ingin menikahi seorang wanita, maka diperkenankan baginya melihat wajah dan kedua telapak tangan luar dalam wanita tersebut, walaupun calon istri tersebut tidak memberi izin melakukannya.

Menurut tarjihnya imam an Nawawi, ketika seorang lelaki hendak melamar budak wanita, maka ia diperkenankan melihat dari wanita budak tersebut bagian badan yang diperkenankan untuk dilihat dari wanita merdeka.

Yang kelima adalah melihat karena untuk mengobati.

Maka bagi seorang dokter laki-laki diperkenankan melihat dari pasien wanita lain bagian-bagian yang butuh ia obati hingga bagian farji sekalipun.

Hal itu ia lakukan di hadapan mahram, suami, atau majikan pasien wanita tersebut. Dan di sana memang tidak ada dokter wanita yang bisa mengobati pasien wanita tersebut.

Yang ke enam adalah memandang karena tujuan bersaksi atas seorang wanita.

Maka seorang saksi diperkenankan memandang farji wanita lain ketika ia bersaksi atas perbutan zina atau melahirkan yang dialami oleh wanita tersebut.

Sehingga, jika ia sengaja melihat dengan tujuan selain bersaksi, maka ia dihukumi fasiq dan persaksiannya ditolak.

Atau memandang karena untuk melakukan transaksi jual beli atau yang lain dengan seorang wanita.

Maka baginya diperkenankan memandang pada wanita tersebut.

Ungkapan mushannif, “tertentu hanya memandang bagian wajahnya saja”, kembali pada permasalahan persaksian dan transaksi.

Yang ke tujuh adalah memandang budak wanita ketika hendak membelinya.

Maka baginya diperkenankan memandang bagian-bagian badan yang butuh untuk dipandang/ dibolak balik.

Sehingga ia diperkenankan memandang bagian-bagian tubuh dan rambutnya, tidak bagian auratnya.[alkhoirot.org]

Kitab Bisnis Jual Beli

Kitab Jual Beli
Kitab Jual Beli madzhab Syafi'i. Buyuk (jamak dari bai') adalah transaksi bisnis jual beli antara dua pihak. Hubungan bisnis antar manusia disebut muamalah, sedangkan interaksi antara manusia dengan Tuhannya adalah ibadah. Hukum asal dalam bisnis adalah boleh dan halal kecuali apabila mengandung riba, tipuan (gharar), atau bisnis barang haram atau benda najis. Bisnis Islam dalam segi penamaan dan/atau praktiknya memiliki banyak kemiripan dengan bisnis konvensional seperti akad syirkah (joint venture atau usaha bersama), rahn atau gadai, dll.

Nama kitab: Terjemah Kitab Fathul Qorib
Judul kitab asal: Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Alfazh Al-Taqrib atau Al-Qawl Al-Mukhtar fi Syarh Ghayatil Ikhtishar (فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب أو القول المختار في شرح غاية الإختصار)
Pengarang: Abu Abdillah Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazi ibn Al-Gharabili
Penerjemah:
Bidang studi: Fiqih madzhab Syafi'i

Daftar Isi


KITAB JUAL BELI

كتاب أحكام البيوع

وغيرها من المعاملات كقراض وشركة جمع بيع، والبيع لغة مقابلة شيء بشيء، فدخل ما ليس بمال كخمر، وأما شرعاً فأحسن ما قيل في تعريفه إنه تمليك عين مالية بمعاوضة بإذن شرعي أو تمليك منفعة مباحة على التأبيد بثمن مالي، فخرج بمعاوضة القرض، وبإذن شرعي الربا، ودخل في منفعة تمليك حق البناء، وخرج بثمن الأجرة في الإجارة، فإنها لا تسمى ثمناً

(البيوع ثلاثة أشياء) أحدها (بيع عين مشاهدة) أي حاضرة (فجائز) إذا وجدت الشروط من كون المبيع طاهراً منتفعاً به مقدوراً على تسليمه للعاقد عليه ولاية، ولا بد في البيع من إيجاب وقبول، فالأول كقول البائع أو القائم مقامه بعتك، وملكتك بكذا، والثاني كقول المشتري أو القائم مقامه اشتريت وتملكت ونحوهما

(و) الثاني من الأشياء (بيع شيء موصوف في الذمة) ويسمى هذا بالسلم (فجائز إذا وجدت) فيه (الصفة على ما وصف به) من صفات السلم الآتية في فصل السلم

(و) الثالث (بيع عين غائبة لم تشاهد) للمتعاقدين (فلا يجوز) بيعها والمراد بالجواز في هذه الثلاثة الصحة، وقد يشعر قوله لم تشاهد بأنها إن شوهدت ثم غابت عند العقد أنه يجوز، ولكن محل هذا في عين لا تتغير غالباً في المدة المتخللة بين الرؤية والشراء (ويصح بيع كل طاهر منتفع به مملوك)

وصرح المصنف بمفهوم هذه الأشياء في قوله (ولا يصح بيع عين نجسة) ولا متنجسة كخمر ودهن وخل متنجس ونحوها مما لا يمكن تطهيره (ولا) بيع (ما لا منفعة فيه) كعقرب ونمل وسبع لا ينفع.

Pengertian Buyuk (Jual Beli)

Ketika mushannif telah selesai menjelaskan interaksi dengan Sang Pencipta yaitu ibadah, maka beliau bergegas menjelaskan tentang interaksi sesama makhluk. Beliau berkata,

dan selainnya dari bentuk-bentuk transaksi seperti qiradl (investasi) dan syirkah (kerjasama).

Lafadz “al buyu’” adalah bentuk kalimat jama’ dari lafadz “bai’”.

Bai’ / jual beli secara bahasa adalah menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Maka mencakup sesuatu yang bukan harta seperti khamr.

Adapun bai’ secara syara’, maka keterangan paling baik yang digunakan untuk mendefinisikan adalah sesungguhnya bai’ adalah memberikan milik berupa benda yang berharga dengan cara barter (tukar) dengan izin syara’, atau memberikan milik berupa manfaat yang mubah untuk selamanya dengan harga berupa benda yang bernilai.

Dengan bahasa “barter/tukar”, mengecualikan hutang. Dan dengan bahasa “izin syar’i”, mengecualikan riba.

Termasuk di dalam manfaat adalah memberikan milik hak untuk membangun.

Dengan bahasa “tsaman/harga”, mengecualikan ongkos di dalam akad sewa, karena sesungguhnya ujrah / ongkos tidak disebut tsanam.

Pembagian Jual Beli

Jual beli ada tiga perkara.

Salah satunya adalah menjual barang yang terlihat, maksudnya hadir -di tempat transaksi-, maka hukumnya boleh.

Ketika syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu mabi’ (barang yang dijual) berupa barang yang suci, memiliki manfaat, mampu diserahkan, dan orang yang melakukan transaksi memiliki hak untuk menguasai barang tersebut.

Di dalam akan jual beli harus ada ijab (serah) dan qabul (terima).

Yang pertama (ijab) seperti ucapan penjual atau orang yang menempati posisinya, “aku menjual padamu” dan “aku memberikan hak milik padamu dengan harga sekian.”

Yang ke dua (qabul) seperti ucapan pembeli atau orang yang menempati posisinya, “aku membelinya”, dan ucapan, “aku menerima kepemilikan” dan kata-kata yang semakna dengan keduanya.

Yang kedua dari tiga macamnya jual beli adalah menjual barang yang diberi sifat yang masih menjadi tanggungan. Dan bentuk ini disebut dengan akad salam.

Maka hukumnya boleh ketika di dalam akad salam tersebut telah ditemukan sifat-sifat yang digunakan untuk mensifati, yaitu sifat-sifat akad salam yang akan dijelaskan di fasal “Salam”.

Bentuk yang ke tiga adalah menjual barang samar yang tidak terlihat oleh kedua orang yang melakukan akad. Maka menjual barang tersebut tidak boleh.

Yang dikehendaki dengan jawaz / boleh di dalam ke tiga bentuk ini adalah sah.

Sesungguhnya perkataan mushannif, “tidak terlihat”, menunjukkan bahwa sesungguhnya jika barang yang akan dijual sudah dilihat kemudian tidak ada saat akad berlangsung, maka hukumnya diperbolehkan, akan tetapi hal ini bila terjadi pada barang yang biasanya tidak sampai berubah pada masa di antara melihat dan membelinya.

Syarat Barang Yang Dijual

Hukumnya sah menjual setiap barang yang suci, memiliki manfaat dan dimiliki.

Mushannif menjelaskan mafhum dari perkara-perkara ini di dalam perkataan beliau,

Tidak sah menjual barang najis dan barang yang terkena najis seperti khamr, minyak, cuka yang terkena najis dan sesamanya yaitu barang-barang yang tidak mungkin untuk disucikan lagi.

Tidak sah menjual barang yang tidak ada manfaatnya seperti kalajengking, semut, binatang buas yang tidak bermanfaat. [alkhoirot.org]

Kitab Haji dan Umroh

Haji dan Umroh
Haji adalah ibadah yang wajib dilaksanakan sekali seumur hidup oleh setiap muslim yang memenuhi syarat. Rukun haji adalah hal terpenting yang harus diketahui. Karena, meninggalkan rukun haji berarti tidak sah hajinya. Kewajiban-kewajiban haji juga harus diketahui agar supaya terhindar dari membayar dam (denda) dan agar lebih sempurna ibadahnya. Begitu juga ibadah umroh.

Nama kitab: Terjemah Kitab Fathul Qorib
Judul kitab asal: Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Alfazh Al-Taqrib atau Al-Qawl Al-Mukhtar fi Syarh Ghayatil Ikhtishar (فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب أو القول المختار في شرح غاية الإختصار)
Pengarang: Abu Abdillah Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazi ibn Al-Gharabili
Bidang studi: Fiqih madzhab Syafi'i

Daftar Isi


Kitab Hukum Haji

كتاب أحكام الحج

وهو لغة القصد وشرعاً قصد البيت الحرام للنسك (وشرائط وجوب الحج سبعة أشياء) وفي بعض النسخ سبع خصال (الإسلام والبلوغ والعقل والحرية) فلا يجب الحج على المتصف بضد ذلك (ووجود الزاد) وأوعيته إن احتاج إليها وقد لا يحتاج إليها كشخص قريب من مكة، ويشترط أيضاً وجود الماء في المواضع المعتاد حمل الماء منها بثمن المثل (و) وجود (الراحلة) التي تصح له بشراء أو استئجار هذا إذا كان الشخص بينه وبين مكة مرحلتان فأكثر سواء قدر على المشي أم لا، فإن كان بينه وبين مكة دون مرحلتين، وهو قوي على المشي لزمه الحج بلا راحلة، ويشترط كون ما ذكر فاضلاً عن دينه وعن مؤنة من عليه مؤنتهم مدة ذهابه وإيابه، وفاضلاً أيضاً عن مسكنه اللائق به، وعن عبد يليق به (وتخلية الطريق) والمراد بالتخلية هنا أمن الطريق ظناً بحسب ما يليق بكل مكان، فلو لم يأمن الشخص على نفسه أو ماله أو بضعه، لم يجب عليه الحج وقوله (وإمكان المسير) ثابت في بعض النسخ، والمراد بهذا الإمكان أن يبقى من الزمان بعد وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير المعهود إلى الحج، فإن أمكن إلا أنه يحتاج لقطع مرحلتين في بعض الأيام لم يلزمه الحج للضرر.

وأركان الحج أربعة) أحدها (الإحرام مع النية) أي نية الدخول في الحج (و) الثاني (الوقوف بعرفة) والمراد حضور المحرم بالحج لحظة بعد زوال الشمس يوم عرفة، وهو اليوم التاسع من ذي الحجة بشرط كون الواقف أهلاً للعبادة لا مغمى عليه، ويستمر وقت الوقوف إلى فجر يوم النحر، وهو العاشر من ذي الحجة (و) الثالث (الطواف بالبيت) سبع طوفات جاعلاً في طوافه البيت عن يساره مبتدئاً بالحجر الأسود محاذياً له في مروره بجميع بدنه، فلو بدأ بغير الحجر لم يحسب له (و) الرابع (السعي بين الصفا والمروة) سبع مرات وشرطه أن يبدأ في أول مرة بالصفا، ويختم بالمروة ويحسب ذهابه من الصفا إلى المروة مرة وعوده إليه مرة أخرى، والصفا بالقصر طرف جبل أبي قبيس، والمروة بفتح الميم وبقي من أركان الحج الحلق أو التقصير إن جعلنا كلاًّ منهما نسكاً، وهو المشهور، فإن قلنا إن كلاًّ منهما استباحة محظور فليسا من الأركان، ويجب تقديم الإحرام على كل الأركان السابقة

(وأركان العمرة ثلاثة) كما في بعض النسخ، وفي بعضها أربعة أشياء (الإحرام والطواف والسعي والحلق أو التقصير في أحد القولين) وهو الراجح كما سبق قريباً وإلا فلا يكون من أركان العمرة

Definisi Haji

Haji secara bahasa adalah menyengaja. Dan secara syara’ adalah menyengaja Baitul Haram guna melaksanakan ibadah.

Syarat-Syarat Wajib Haji

Syarat-syarat kewajiban haji ada tujuh perkara.

Di dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa tujuh khishal.

Yaitu Islam, baligh, berakal, dan merdeka. Maka haji tidak wajib bagi orang yang memiliki sifat kebalikan dari sifat-sifat tersebut.

Dan wujudnya bekal dan wadah bekal jika ia memerlukannya.

Dan terkadang ia tidak memerlukannya, seperti orang yang dekat dengan negara Makkah.

Dan juga disyaratkan harus ada air di tempat-tempat yang sudah biasa membawa air dari situ yang dijual dengan harga standar.

Dan adanya kendaraan yang layak bagi orang seperti dia, baik dengan membeli atau menyewa.

Hal ini jika jarak seseorang dengan Makkah mencapai dua marhalah atau lebih, baik ia mampu berjalan ataupun tidak.

Jika jarak di antara dia dan Makkah kurang dari dua marhalah dan ia mampu untuk berjalan, maka wajib melaksanakan haji tanpa harus naik kendaraan.

Semua hal yang telah disebutkan di atas disyaratkan harus melebihi dari hutangnya dan biaya orang yang wajib ia nafkahi selama berangkat haji. Dan juga harus lebih dari rumah dan budak yang layak baginya.

Dan sepinya jalan. Yang dikehendaki dengan sepi di sini adalah dugaan aman di perjalanan sesuai dengan apa yang terdapat pada setiap tempat.

Jika seseorang tidak aman pada diri, harta atau kemaluannya, maka bagiya tidak wajib untuk melaksanakan haji.

Perkataan mushannif “dan memungkinkan untuk menempuh perjalanan” terdapat di sebagian redaksi.

Yang dikehendaki dengan mungkin ini adalah setelah menemukan bekal dan kendaraan, masih ada waktu yang mungkin untuk digunakan berangkat haji dengan cara yang semestinya.

Jika mungkin ditempuh, hanya saja ia butuh menempuh dua marhalah dalam jangka waktu sebagian dari hari-hari yang sudah terbiasa, maka baginya tidak wajib melaksanakan haji karena hal tersebut menyulitkan.

Rukun-Rukun Haji

Rukun-rukun haji ada empat.

Salah satunya adalah ihram disertainya niat, maksudnya niat masuk di dalam ibadah haji.

Yang ke dua adalah wukuf di Arafah.

Yang dikehendaki adalah kehadiran orang yang ihram haji dalam waktu sebentar setelah tergelincirnya matahari di hari Arafah, yaitu hari ke sembilan dari bulan Dzul Hijjah.

Dengan syarat orang yang wukuf termasuk ahli untuk melakukan ibadah, bukan orang yang sedang gila dan bukan orang yang epilepsi.

Waktu wukuf tetap berlanjut hingga terbitnya fajar hari raya kurban, yaitu hari ke sepuluh dari bulan Dzul Hijjah.

Yang ke tiga adalah thawaf di Baitulllah sebanyak tujuh kali thawafan.

Saat tahwaf, ia memposisikan Baitullah di sebelah kirinya dan memulai dari Hajar Aswad tepat lurus dengan seluruh badannya saat berjalan.

Seandainya ia memulai thawaf dari selain Hajar Aswad, maka thawaf yang ia lakukan tidak dianggap.

Rukun ke empat adalah sa’i di antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

Syaratnya adalah memulai sa’i pertama dari bukit Shafa dan di akhiri di bukit Marwah.

Perjalanannya dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan kembali dari Marwah ke Shafa juga dihitung satu kali.

Shafa, dengan alif qashr di akhirnya, adalah tepi gunung Abi Qubais.

Dan Marwah, dengan terbaca fathah huruf mimnya, adalah nama suatu tempat yang sudah dikenal di Makkah.

Masih ada rukun-rukun haji yang tersisa, yaitu mencukur atau memotong rambut, jika kita menjadikan masing-masing dari keduanya termasuk rangkaian ibadah haji. Dan ini adalah pendapat yang masyhur.

Jika kita mengatakan bahwa masing-masing dari keduanya adalah bentuk perbuatan untuk memperbolehkan hal-hal yang diharamkan saat haji, maka keduanya bukan termasuk rukun-rukun haji.

Dan wajib mendahulukan ihram dari semua rukun-rukun haji yang lain.


Rukun-Rukun Umrah

Rukun-rukun umrah ada tiga sebagaimana yang terdapat di sebagian redaksi. Dan di dalam sebagian redaksi ada empat perkara.

Yaitu ihram, thawaf, sa’i, dan mencukur atau memotong rambut menurut salah satu dari dua pendapat, dan ini adalah pendapat yang kuat sebagaimana keterangan yang telah lewat barusan.

Jika tidak menurut pendapat yang kuat, maka keduanya bukan termasuk rukun umrah.[alkhoirot.org]

10/27/2017

Terjemah Bulughul Maram

Terjemah Bulughul Maram
Nama kitab: Terjemah Kitab Bulughul Maram (Bulugh Al Marom)
Judul kitab asal: Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ)
Pengarang: Ibnu Hajar Al Asqalani (773 - 825H /1372 - 1449 M)
Penerjemah:
Bidang studi: Hadits Hukum
Download:
- Versi Arab (doc)
- Versi Terjemah (pdf)

Daftar Isi


Muqaddimah

بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ
الحافظ ابن حجر العسقلاني

مقدمة

الحمد لله على نعمه الظاهرة والباطنة قديما وحديثا والصلاة والسلام على نبيه ورسوله محمد وآله وصحبه الذين ساروا في نصرة دينه سيرا حثيثا وعلى أتباعهم الذين ورثوا علمهم والعلماء ورثة الأنبياء أكرم بهم وارثا وموروثا أما بعد

فهذا مختصر يشمل على أصول الأدلة الحديثية للأحكام حررته تحريرا بالغا ليصير من يحفظه من بين أقرانه نابغاً ، ويستعين به الطالب المبتدئ ولا يستغني عنه الراغب المنتهي .

وقد بينت عقب كل حديث من أخرجه من الأئمة لإرادة نصح الأمة .
فالمراد بالسبعة أحمد والبخاري ومسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجة ، وبالستة من عدا أحمد ، وبالخمسة من عدا البخاري ومسلم . وقد أقول الأربعة وأحمد ، وبالأربعة من عدا الثلاثة الأول ، وبالثلاثة من عداهم وعدا الأخير ،وبالمتفق البخاري ومسلم ، وقد لا أذكر معهما ، وما عدا ذلك فهو مبين .
وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، والله أسأله أن لا يجعل ما علمناه علينا وبالاً ، وأن يرزقنا العمل بما يرضيه سبحانه وتعالى .

***

كِتَابُ اَلطَّهَارَةِ

بَابُ اَلْمِيَاهِ

1- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ فِي اَلْبَحْرِ: { هُوَ اَلطُّهُورُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ } أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ

2 - وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ } أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ .

3- وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ اَلْبَاهِلِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ { إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ, إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ, وَلَوْنِهِ } أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ وَضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ .

4 - وَلِلْبَيْهَقِيِّ: { اَلْمَاءُ طَاهِرٌ إِلَّا إِنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ, أَوْ طَعْمُهُ, أَوْ لَوْنُهُ; بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِ }

5- وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: { إِذَا كَانَ اَلْمَاءَ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ اَلْخَبَثَ } وَفِي لَفْظٍ: { لَمْ يَنْجُسْ } أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ. وَابْنُ حِبَّانَ .

6- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { لَا يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِي اَلْمَاءِ اَلدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ } أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .
وَلِلْبُخَارِيِّ: { لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي اَلْمَاءِ اَلدَّائِمِ اَلَّذِي لَا يَجْرِي, ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ } .
وَلِمُسْلِمٍ: "مِنْهُ" . وَلِأَبِي دَاوُدَ: { وَلَا يَغْتَسِلُ فِيهِ مِنْ اَلْجَنَابَةِ } .

7- وَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ اَلنَّبِيَّ قَالَ: { نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ "أَنْ تَغْتَسِلَ اَلْمَرْأَةُ بِفَضْلِ اَلرَّجُلِ, أَوْ اَلرَّجُلُ بِفَضْلِ اَلْمَرْأَةِ, وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ. وَالنَّسَائِيُّ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ .

8- وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; { أَنَّ اَلنَّبِيَّ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا } أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .

9- وَلِأَصْحَابِ "اَلسُّنَنِ": { اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ اَلنَّبِيِّ فِي جَفْنَةٍ, فَجَاءَ لِيَغْتَسِلَ مِنْهَا, فَقَالَتْ لَهُ: إِنِّي كُنْتُ جُنُبًا, فَقَالَ: "إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُجْنِبُ" } وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ خُزَيْمَةَ

10- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذْ وَلَغَ فِيهِ اَلْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ, أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ } أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .
وَفِي لَفْظٍ لَهُ: { فَلْيُرِقْهُ } ( ) .
وَلِلتِّرْمِذِيِّ: { أُخْرَاهُنَّ, أَوْ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ } ( ) .

11- وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ قَالَ -فِي اَلْهِرَّةِ-: { إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ, إِنَّمَا هِيَ مِنْ اَلطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ } أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ. وَابْنُ خُزَيْمَةَ

12- وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: { جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ اَلْمَسْجِدِ, فَزَجَرَهُ اَلنَّاسُ, فَنَهَاهُمْ اَلنَّبِيُّ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ اَلنَّبِيُّ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ; فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ. } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

13- وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ, فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ: فَالْجَرَادُ وَالْحُوتُ, وَأَمَّا الدَّمَانُ: فَالطِّحَالُ وَالْكَبِدُ } أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَفِيهِ ضَعْفٌ

14- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { إِذَا وَقَعَ اَلذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ, ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ, فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً, وَفِي اَلْآخَرِ شِفَاءً } أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ

وَأَبُو دَاوُدَ, وَزَادَ: { وَإِنَّهُ يَتَّقِي بِجَنَاحِهِ اَلَّذِي فِيهِ اَلدَّاءُ }

15- وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اَللَّيْثِيِّ قَالَ: قَالَ اَلنَّبِيُّ { مَا قُطِعَ مِنْ اَلْبَهِيمَةِ -وَهِيَ حَيَّةٌ- فَهُوَ مَيِّتٌ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ, وَاللَّفْظُ لَهُ

1. Kitab Thaharah

Bab Air

Hadits ke-1 Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya.

Hadits ke-2 Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya (hakekat) air adalah suci dan mensucikan, tak ada sesuatu pun yang menajiskannya.” Dikeluarkan oleh Imam Tiga dan dinilai shahih oleh Ahmad.

Hadits ke-3 Dari Abu Umamah al-Bahily Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya kecuali oleh sesuatu yang dapat merubah bau, rasa atau warnanya.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dianggap lemah oleh Ibnu Hatim.

Hadits ke-4 Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi: “Air itu suci dan mensucikan kecuali jika ia berubah baunya, rasanya atau warnanya dengan suatu najis yang masuk di dalamnya.”

Hadits ke-5 Dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika banyaknya air telah mencapai dua kullah maka ia tidak mengandung kotoran.” Dalam suatu lafadz hadits: “Tidak najis”. Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Hakim, dan Ibnu Hibban.

Hadits ke-6 Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah seseorang di antara kamu mandi dalam air yang tergenang (tidak mengalir) ketika dalam keadaan junub.” Dikeluarkan oleh Muslim.

Menurut Riwayat Imam Bukhari: “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu kencing dalam air tergenang yang tidak mengalir kemudian dia mandi di dalamnya.”

Menurut riwayat Muslim dan Abu Dawud: “Dan janganlah seseorang mandi junub di dalamnya.”

Hadits ke-7 Seorang laki-laki yang bersahabat dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang perempuan mandi dari sisa air laki-laki atau laki-laki dari sisa air perempuan, namun hendaklah keduanya menyiduk (mengambil) air bersama-sama. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i, dan sanadnya benar.

Hadits ke-8 Dari Ibnu Abbas r.a: Bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah r.a. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Hadits ke-9 Menurut para pengarang kitab Sunan: Sebagian istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mandi dalam satu tempat air, lalu Nabi datang hendak mandi dengan air itu, maka berkatalah istrinya: Sesungguhnya aku sedang junub. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya air itu tidak menjadi junub.” Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

Hadits ke-10 Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sucinya tempat air seseorang diantara kamu jika dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan debu tanah.” Dikeluarkan oleh Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan: “Hendaklah ia membuang air itu.” Menurut riwayat Tirmidzi: “Yang terakhir atau yang pertama (dicampur dengan debu tanah).

Hadits ke-11 Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda perihal kucing -bahwa kucing itu tidaklah najis, ia adalah termasuk hewan berkeliaran di sekitarmu. Diriwayatkan oleh Imam Empat dan dianggap shahih oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

Hadits ke-12 Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Seseorang Badui datang kemudian kencing di suatu sudut masjid, maka orang-orang menghardiknya, lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang mereka. Ketika ia telah selesai kencing, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh untuk diambilkan setimba air lalu disiramkan di atas bekas kencing itu.” Muttafaq Alaihi.

Hadits ke-13 Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah hati dan jantung.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan.

Hadits ke-14 Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila ada lalat jatuh ke dalam minuman seseorang di antara kamu maka benamkanlah lalat itu kemudian keluarkanlah, sebab ada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya ada obat penawar.” Dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Dawud dengan tambahan: “Dan hendaknya ia waspada dengan sayap yang ada penyakitnya.”

Hadits ke-15 Dari Abu Waqid Al-Laitsi Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Anggota yang terputus dari binatang yang masih hidup adalah termasuk bangkai.” Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan beliau menyatakannya shahih. Lafadz hadits ini menurut Tirmidzi.[alkhoirot.org]