6/30/2017

Download Terjemah Kitab Kuning

Download Terjemah Kitab Kuning

Download Terjemah Kitab Kuning klasik berbagai bidang studi islam seperti Tafsir, hadits akidah fiqih tarikh ilmu hisab falak bahasa Arab dan lain-lain. Untuk tingkat dasar dan tingkat lanjut.

Download Kitab Kuning Terjemah Tingkat Dasar dan Menengah

TERJEMAH KITAB KUNING DASAR

Kitab kuning dasar adalah kitab yang biasa dikaji untuk santri pesantren salaf tingkat dasar yaitu Madrasah Diniyah Ibtidaiyah atau tingkat I'dad, Ula dan Wustho.

Quran, Tafsir, Ilmu Tafsir

- Terjemah Al-Quran Indonesia
- Quran in English
- Quran in French
- Quran in German
- Quran in Spanish
- Tafsir Jalalain
- Terjemah Matan Tajwid Tuhfatul Atfal

Hadits dan Ilmu Hadits

- Bulughul Maram Ibnu Hajar Asqolani
- Hadits Arbain Nawawi
- Ilmu Mustholah Hadits

Tasawuf dan Akhlak

- Terjemah Minhajul Abidin
- Terjemah Al-Hikam
- Nashoihul Ibad
- Terjemah Talimul Muta'allim Az-Zarnuji
- Manhajus Salikin
- Al Ghazali: Pembebas dari Kesesatan (Terjemah Al-Munqidz min Al-Dholal

Fiqih

- Terjemah Fathul Qorib (Makna Gandul Jawa)
- Terjemah Matan Taqrib (Fiqih)
- Terjemah Safinatun Naja (Fiqih) (Arabnya tanpa harkat) | Teks Arabnya Berharkat
- Terjemah Sullam Taufiq
- Hukum Waris Islam
- Tabel Hukum Waris Islam
- Hukum Seputar Doa Setelah Shalat Fardhu

Gramatika Bahasa Arab

- Terjemah Matan Jurmiyah (Nahwu)
- Terjemah Nazham Imrithi Jilid 1
- Terjemah Nazham Imrithi Jilid 2
- Terjemah Nazham Maqsud
- Alfiyah Ibn Malik ( Ringkasan, 60 Chart / Tabel)
- Alfiyah Ibnu Malik dalam MP3 (Arab)
- Alfiah Ibnu Malik (Listen MP3 Online)
- Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia

Aqidah

- Terjemah Jawahirul Kalamiyah (Tauhid)
- Terjemah Aqidatul Awam (Tauhid)
- Terjemah Aqidah Sanusiyah Ummul Barahin
- Imam Asy'ari: Ajaran-Ajaran Asy'ari
- Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja)
- Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi - Idrus Romli
- Terjemah Risalah Ahlussunah Wal Jamaah oleh KH. Hasyim Asy'ari
- Kesalahan Konsep Tauhid Trinititas Wahabi Salafi
- Perbandingan Aliran Wahabi dan Ahlussunnah
- Kesesatan Tauhid Wahabi

Sejarah

- Terjemah Nurul Yaqin
- Terjemah Maulid Husnul Maqshid Al-Suyuthi
- Qasidah Al-Burdah

Biografi Ulama

- Biografi Imam Syafi'i | Versi Online
- Fiqhul Akbar Imam Hanafi & Imam Syafi'i

TERJEMAH KITAB TINGKAT LANJUT (ADVANCED)

Berikut kitab-kitab kuning tingkat lanjut (mabsutot, mutowwalat) yang dapat didownload. Format berkas adalah pdf dan djvu.

TERJEMAH TAFSIR IBNU KATSIR

Berdasarkan Jilid Kitab (Lengkap)

- 1 Tafsir Ibnu Katsir 1 a
- 2 Tafsir Ibnu Katsir 1 b
- 3 Tafsir Ibnu Katsir 1 c
- 4 Tafsir Ibnu Katsir 1 d
- 5 Tafsir Ibnu Katsir 2.1
- 6 Tafsir Ibnu Katsir 2.2
- 7 Tafsir Ibnu Katsir 2.3
- 8 Tafsir Ibnu Katsir 2.4
- 9 Tafsir Ibnu Katsir 3.1
- 10 Tafsir Ibnu Katsir 3.2
- 11 Tafsir Ibnu Katsir 3.3
- 12 Tafsir Ibnu Katsir 3.4
- 13 Tafsir Ibnu Katsir 4.1
- 14 Tafsir Ibnu Katsir 4.2
- 15 Tafsir Ibnu Katsir 4.3
- 16 Tafsir Ibnu Katsir 4.4
- 17 Tafsir Ibnu Katsir 5.1
- 18 Tafsir Ibnu Katsir 5.2
- 19 Tafsir Ibnu Katsir 5.3
- 20 Tafsir Ibnu Katsir 5.4
- 21 Tafsir Ibnu Katsir 6.1
- 22 Tafsir Ibnu Katsir 6.2
- 23 Tafsir Ibnu Katsir 6.3
- 24 Tafsir Ibnu Katsir 6.4
- 25 Tafsir Ibnu Katsir 6.5
- 26 Tafsir Ibnu Katsir 7.1
- 27 Tafsir Ibnu Katsir 7.2
- 28 Tafsir Ibnu Katsir 7.3
- 29 Tafsir Ibnu Katsir 7.4
- 30 Tafsir Ibnu Katsir 7.5
- 31 Tafsir Ibnu Katsir 8.1
- 32 Tafsir Ibnu Katsir 8.2
- 33 Tafsir Ibnu Katsir 8.3
- 34 Tafsir Ibnu Katsir 8.4
- 35 Tafsir Ibnu Katsir 8.5
- 36 Tafsir Ibnu Katsir 8.6 (Keutamaan2 al-Qur'an)

Berdasarkan Juz Al-Quran (Tidak lengkap)

- Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 [Al-Baqarah 253 s.d. Ali Imran 91]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 4 [Ali Imran 92 s.d. An-Nisa 23]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 [An-Nisa 24 s.d. An-Nisa 147]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 [Surat An-Nisa 148 s.d. Al-Maidah 82]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 7 [Surat Al-Maidah 83 s.d. Al-An'am 110]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 8 [Surat Al-An'am 111 s.d. Al-A'raf 87]
-
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 9 [Surat Al-A'raf 88 s.d Al-Anfal 40]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 10
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 13 [Surat Yusuf 53 s.d Al-Hijr 1]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 14 [Surat Al-Hijr 2 s.d. An-Nahl 128]
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 15
- Tafsir Ibnu Katsir Juz 28


TERJEMAH KITAB SAHIH BUKHARI (PDF)

- Jilid 1
- Jilid 2
- Jilid 3
- Jilid 4
- Jilid 5
- Jilid 6
- Jilid 7

TERJEMAH KITAB SAHIH MUSLIM (DJVU)

Nama kitab: Terjemah Sahih Muslim
Jilid: 6 (lengkap)
Penyusun: Imam Muslim
Penerjemah: Fachruddin HS
Penerbit: Bulan Bintang Jakarta
Format file: Djvu

- Jilid 1
- Jilid 2
- Jilid 3
- Jilid 4
- Jilid 5
- Jilid 6


Kitab Al-Umm Imam Syafi'i

Terjemah Al-Umm ini ada dua versi. Versi lengkap dan versi ringkasan. Terjemah lengkap dialihkan ke dalam format digital langsung dari versi cetaknya dengan scanning.

Terjemah versi lengkap

Nama: Al-Umm Kitab Induk
Karangan: Al-Imam Asy-Syafi'i
Terjamahan: Prof. TK. H. Ismail Yakub, Sh., MA.
Penerbit: Victory Agence, Kuala Lumpur, Malaysia

Terjemah versi Ringkasan

Judul: Ringkasan Kitab Al-Umm
Penerjemah: Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail

- Kitab Al-Umm Jilid 1 Ringkasan | Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 2 Ringkasan | Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 3 Ringkasan | Versi Lengkap (tidak tersedia)
- Kitab Al-Umm Jilid 4 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 5 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 6 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 7 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 8 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 9 Versi Lengkap
- Kitab Al-Umm Jilid 10 (tidak tersedia)
- Kitab Al-Umm Jilid 11 Versi Lengkap

2. Terjemah Kitab Fathul Bari Ibnu Hajar Al-Asqolani

Format file: (a) Jilid 1, 2 dan 3 format PDF; (b) Jilid 4, 5, 6, 7, dan 8 format DJVU.

- Fathul Bari Jilid 1
- Fathul Bari Jilid 2
- Fathul Bari Jilid 3
- Fathul Bari Jilid 4
- Fathul Bari Jilid 5
- Fathul Bari Jilid 6
- Fathul Bari Jilid 7
- Fathul Bari Jilid 8


TERJEMAH RIYADUSH SHOLIHIN IMAM NAWAWI

- Jilid 1
- Jilid 2


TERJEMAH KITAB FATHUL QORIB

Terjemah Makna Jawa Gandul (Utawi Iku)

- Terjemah Fathul Qorib Makna Jawa Gandul

Terjemah Bahasa Indonesia

- Fathul Qorib Syarah Taqrib Jilid 1
- Fathul Qorib Syarah Taqrib Jilid 2

TERJEMAH KITAB FATHUL MUIN

Nama kitab: Terjemah Fathul Muin
Jilid: 12 jilid (tamat)
Penyusun: Al-Malibari
Bidang Studi: Fiqih
Penerjemah: Abul Hiyadh
Penerbit: Al-Hidayah Surabaya
Format file: Djvu
- Jilid 1
- Jilid 2:
- Jilid 3:
- Jilid 4:
- Jilid 5:
- Jilid 6:
- Jilid 7:
- Jilid 8:
- Jilid 9:
- Jilid 10:
- Jilid 11:
- Jilid 12:

3. Terjemah Fiqih Sirah oleh Said Ramadan Al-Buti

- Fiqih Sirah


Terjemah Kitab-kitab karya Syekh Yusuf Qardhawi

- Halal Haram dalam Islam
- Fiqih Prioritas
- Islam Dakwah Menyeluruh (Syumul)
- Fiqih Zakat


BUKU TENTANG WAHABI SALAFI

- Kesalahan Konsep Tauhid Trinititas Wahabi Salafi
- Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi oleh Idrus Romli
- Wahabisme: Sebuah Tinjauan Kritis
- Puluhan kitab ulama Salaf yang dipalsukan Wahabi
- Sejarah Dakwah Salafiyah di Indonesia
- Kesesatan Akidah Tauhid
- Kritik terhadap Konsep Tauhid Ibnu Taimiyah
- Perbandingan Aliran Wahabi dan Ahlussunnah

5/31/2017

Terjemah Kitab Sullamut Taufiq

Terjemah Sullamut Taufiq
Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Nama asal kitab dalam tulisan Arab: سُلَّمُ التَّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق مُخْتَصَرٌ فِيما يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ أنْ يَعْلَمَهُ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ وفُرُوعِهِ
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 H/-1777 M)
Penerjemah:
Bidang studi: Aqidah, Tasawuf dan Fiqih
Baca online versi Arab: di sini.
Download terjemah versi PDF: di sini.
Download versi Arab: di sini

Daftar Isi

Pengantar Penulis

مُقَدِّمَةُ المُؤَلِّف

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العالَمِينَ، وأشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهْ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ والتّابِعِين.

أمّا بَعْدُ، فَهٰذا جُزْءٌ لَطِيفٌ يَسَّرَهُ اللهُ تَعالَى، فِيما يَجِبُ تَعَلُّمُهُ، وتَعْلِيمُهُ، والعَمَلُ بِهِ لِلخاصِّ والعامِّ، والواجِبُ ما وَعَدَ اللهُ فاعِلَهُ بِالثَّوابِ، وتَوَعَّدَ تارِكَهُ بِالعِقابِ، وسَمَّيْتُهُ سُلَّمَ التّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق، أسأَلُ اللهَ الكَرِيمَ أنْ يَجْعَلَ ذٰلك مِنْهُولَهُ وفِيهِ وإلَيْه، ومُوجِبًا لِلقُرْبِ والزُّلْفَى لَدَيْه، وأنْ يُوَفِّقَ مَنْ وَقَفَ عليه لِلْعَمَلِ بِمُقْتَضاه، ثُمَّ التَّرَقِّي بِالتَّوَدُّدِ بِالنَّوافِلِ لِيَحُوزَ حُبَّهُ ووَلاه.
Pendahuluan

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Segala puji hanyalah milik Allah yang menjadi tuhan semesta alam.

Dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Allah yang maha tunggal yang tiada sekutu baginya.

Dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Semoga sholawat dan salam Allah senantiasa tercurahkan atas beliau, seluruh keluarga, sahabat, dan para pengikut mereka.

Selanjutnya, ini adalah sebuah kitab kecil (semoga Allah menjadikannya mudah untuk difaham dan diamalkan) yang menjelaskan tentang hal-hal yang wajib untuk dipelajari dan diajarkan serta diamalkan oleh orang yang berilmu maupun orang awam.

Wajib adalah sesuatu yang telah dijanjikan oleh Allah bagi orang yang mengerjakannya dengan mendapatkan pahala dan telah diancam oleh Allah bagi orang yang meninggalkannya dengan mendapatkan siksa.

Dan aku namai kitab ini dengan nama “Tangga pertolongan untuk menggapai cinta Allah dengan sebenar-benarnya.”

Aku memohon kepada Allah yang maha dermawan agar nenjadikan kitab ini semata-mata anugrah dariNya, murni karenaNya, cinta padaNya dan menyampaikan kepadaNya.

Dan sebagai pendekat di sisiNya

Dan semoga Allah memberikan pertolongan pada orang yang mempelajari kitab ini untuk bisa mengamalkan isinya (mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram).

Kemudian terus meningkat dengan senang mengamalkan kesunahan-kesunahan supaya ia bisa mempeoleh cinta dan pertolongan Allah.


Bab Pokok-pokok Agama

بابُ أُصُولِ الدِّينِ

فَصْلٌ: في الواجِبِ على كُلِّ مُكَلَّفٍ

يَجِبُ على كافَّةِ المُكَلَّفِينَ الدُّخُولُ في دِينِ الإسْلام، والثُّبُوتُ فيه على الدَّوام، والْتِزامُ ما لَزِمَ عليه مِنَ الأحْكام.

فَصْلٌ: في مَعْنَى الشَّهادَتَيْنِ

فَمِمّا يَجِبُ عِلْمُهُ واعْتِقادُهُ مُطْلَقًا، والنُّطْقُ به في الحالِ إنْ كانَ كافِرًا، وإلّا ففي الصَّلاةِ، الشَّهادَتانِ وهُما: "أشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ"، صلى الله عليه وسلم.

مَعْنَى الشَّهادَةِ الأُولَى: ومَعْنَى أشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ: أنْ تَعْلَمَ وتَعْتَقِدَ وتُؤْمِنَ وتُصَدِّقَ أنْ لا مَعْبُودَ بِحَقٍّ في الوُجُودِ إلّا اللهُ، الواحِدُ، الأحَدُ، الأوَّلُ، القَدِيمُ، الحَيُّ، القَيُّومُ، الباقِي، الدائِمُ، الخالِقُ، الرّازِقُ، العالِمُ، القَدِيرُ، الفَعّالُ لما يُرِيدُ، ما شاءَ اللهُ كانَ وما لم يَشَأْ لم يَكُنْ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ، مَوْصُوفٌ بِكُلِّ كَمالٍ، مُنَزَّهٌ عن كُلِّ نَقْصٍ، ﴿ لَيْسَ كَمثْلِهِ شَيْءٌ وهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴾، فهو القَدِيمُ وما سِواهُ حادِثٌ، وهو الخالِقُ وما سِواهُ مَخْلُوقٌ، وكَلامُهُ قَدِيمٌ [أي بِلا ابْتِداءٍ] كَسائِرِ صِفاتِهِ، لِأنَّهُ سُبْحانَهُ مُبايِنٌ لِجَمِيعِ المَخْلُوقاتِ في الذّاتِ والصِّفاتِ والأفْعال، [ومَهْما تَصَوَّرْتَ بِبالِك، فَاللهُ تَعالَى لا يُشْبِهُ ذلِك]، سُبْحانَهُ وتَعالَى عَمّا يَقُولُ الظّالِمُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا.

مَعْنَى الشَّهادَةِ الثّانِيَةِ: ومَعْنَى أشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ: أنْ تَعْلَمَ وتَعْتَقِدَ وتُصَدِّقَ وتُؤْمِنَ أنَّ سَيِّدَنا ونَبِيَّنا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنافٍ القُرَشِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ عَبْدُ اللهِ ورَسُولُهُ إلى جَمِيعِ الخَلْقِ؛ وُلِدَ بِمَكَّةَ، وبُعِثَ بِها، وهاجَرَ إلى المَدِينَةِ، ودُفِنَ فيها، وأنَّهُ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ صادِقٌ في جَمِيعِ ما أخْبَرَ بِهِ .

Pasal Yang Wajib bagi Setiap Muslim Mukallaf

Setiap orang yang mukallaf (baligh dan berakal) wajib masuk kedalam agama islam dan menetap selama-lamanya serta menjalankan semua hukum-hukumnya.

Pasal Makna Dua Kalimat Syahadat

Diantara perkara yang wajib untuk diketahui dan diyakininya adalah dua kalimat syahadat yang wajib ia ucapkan disaat itu juga apabila ia kafir dan didalam sholat apabila ia muslim.

Dua kalimat syahadat itu adalah "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Allah dan bahwasanya nabi Muhammad SAW adalah utusanNya."

Adapun ma’na أشهد ان لا اله الا الله adalah engkau mengetahui, meyakini, mempercayai dan membenarkan bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya didalam wujud kecuali hanya Allah.

Yang maha esa, yang maha tunggal, yang maha pertama, yang maha terdahulu, yang maha hidup, yang maha kekal, yang maha abadi, yang maha pencipta, yang maha memberi rizqi, yang maha mengetahui, yang maha kuasa, yang maha memperbuat pada sesuatu yang dikehendaki.

Apapun yang diinginkanNya wujud, maka akan terwujud. Dan apapun yang tidak diinginkanNya wujud, maka tidak akan terwujud. Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolonganNya yang maha tinggi lagi maha agung.

Dia bersifat dengan semua sifat kesempurnaan dan disucikan dari semua kekurangan dan tidak ada sesuatu apapun yang menyamaiNya dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.

Dia adalah terdahulu dan selainNya adalah baharu. Dan Dia adalah yang menciptakan dan selainNya adalah yang diciptakan.

KalamNya adalah terdahulu sebagaimana sifat-sifatNya karena sesungguhnya Dia (maha suci Dia) berbeda dengan seluruh makhluk didalam dzat, sifat dan perbuatan.

Maha suci dan maha tinggi Dia dari apa-apa yang diucapkan oleh orang-orang yang zholim dengan ketinggian yang besar.

Dan adapun ma’na أشهد أن محمدا رسول الله adalah engkau mengetahui, meyakini, mempercayai dan membenarkan bahwasanya junjungan dan nabi kita Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul muththolib bin Hasyim bin Abdu manaf yang bersuku quraisy adalah hamba dan utusan Allah kepada seluruh makhluk.

Beliau dilahirkan dan diutus di mekah dan beliau hijrah ke madinah dan dikuburkan disana.

Beliau SAW adalah benar di dalam seluruh kabar yang telah disampaikannya.

5/25/2017

Syarat Agar Shalat Diterima Allah

Syarat Agar Shalat Diterima Allah
Syarat Agar Shalat Diterima Allah

Terjemah Sullamut Taufiq di Laman ini membahas tentang Shalat dari syarat, rukun/fardhu, dan pembatal shalat. Termasuk tentang najis dan cara menghilangkan najis ainiyah dan hukmiyah.

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 HB/-1777 M)
Penerjemah: A. Fatih Syuhud
Bidang studi: Aqidah, Tasawuf dan Fiqih madzhab Syafi'i

Daftar Isi

Teks Arab

فَصْلٌ : في النَّجاسَةِ وإزالَتِها

ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ الطَّهارَةُ عَنِ النَّجاسَةِ: في البَدَنِ، والثَّوْبِ، والمَكانِ، والمَحْمُولِ له، [كَقِنِّينَةٍ أو مِنْدِيلٍ، في يَدِهِ أو جَيْبِهِ]، فَإنْ لاقاهُ نَجِسٌ أو لاقَى ثِيابَهُ أو مَحْمُولَهُ بَطَلَتْ صَلاتُهُ إلّا أنْ يُلْقِيَهُ حالًا، أو يَكُونَ مَعْفُوًّا عَنْهُ كَدَمِ جُرْحِهِ.

ويَجِبُ إزالَةُ نَجِسٍ لم يُعْفَ عَنْهُ، [وذٰلك]: [في النَّجاسَةِ العَيْنِيَّةِ]: بِإزالَةِ العَيْنِ، مِنْ طَعْمٍ ولَوْنٍ ورِيحٍ [وحَجْمٍ]، بِالماءِ المُطَهِّرِ، و[في النَّجاسَةِ] الحُكْمِيَّةِ [أي الَّتِي لا يُدْرَكُ لَها حَجْمٌ ولا لَوْنٌ ولا طَعْمٌ ولا رِيحٌ]: بِجَرْيِ الماءِ [المُطَهِّرِ مَرَّةً] عليها، و[في النَّجاسَةِ] الكَلْبِيَّةِ: بِغَسْلِها سَبْعًا [بِالماءِ المُطَهِّرِ]، إحْداهُنَّ مَمْزُوجَةٌ [أي مُكَدَّرَةٌ] بِالتُّرابِ؛ والمُزِيلَةُ لِلْعَيْنِ وإنْ تَعَدَّدَتْ واحِدَةٌ، ويُشْتَرَطُ [في التَّطْهِيرِ مِنَ النَّجاسَةِ] وُرُودُ الماءِ [عليها] إنْ كانَ قَلِيلًا [أي دُونَ القُلَّتَيْنِ].

فَصْلٌ : في شُرُوطٍ أُخْرَى لِلصَّلاةِ

ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ: اسْتِقْبالُ القِبْلَةِ، ودُخُولُ الوَقْتِ، والإسْلامُ، والتَّمْيِيزُ، والعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِها [إذا كانَتْ صَلاةً مَفْرُوضَةً]، وأنْ لا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوضِها سُنَّةً، والسَّتْرُ بِما يَسْتُرُ لَوْنَ البَشَرَةِ لِجَمِيعِ بَدَنِ الحُرَّةِ إلّا الوَجْهَ والكَفَّيْنِ، وسَتْرُ ما بَيْنَ السُّرَّةِ والرُّكْبَةِ لِلذَّكَرِ والأَمَةِ، مِنْ كُلِّ الجَوانِبِ لا الأَسْفَلِ.

فَصْلٌ : في مُبْطِلاتِ الصَّلاةِ

وتَبْطُلُ الصَّلاةُ: بِالكَلامِ ولو بِحَرْفَيْنِ [غَيْرِ مُفْهِمَيْنِ] أو بِحَرْفٍ مُفْهِمٍ، إلّا إنْ نَسِيَ وقَلَّ، وبِالأَفْعالِ الكَثِيرَةِ المُتَوالِيَةِ [أو مَعًا]، كَثَلاثِ حَرَكاتٍ، [ولو ناسِيًا]، وبِالحَرَكَةِ المُفْرِطَةِ [كَوَثْبَةٍ، ولو ناسِيًا]، وبِزِيادَةِ رُكْنٍ فِعْليٍّ [عَمْدًا]، وبِالحَرَكَةِ الواحِدَةِ لِلَّعِبِ [ولو خَفِيفَةً]، وبِالأَكْلِ والشُّرْبِ، إلّا إنْ نَسِيَ وقَلَّ، وبِنِيَّةِ قَطْعِ الصَّلاةِ، وبِتَعْلِيقِ
قَطْعِها [على أَمْرٍ ما]، وبِالتَّرَدُّدِ فيه [أي في قَطْعِها] ، وبأنْ يَمْضِيَ رُكْنٌ مَعَ الشَّكِّ في نِيَّةِ التَّحَرُّمِ، أو يَطُولَ زَمَنُ الشَّكِّ، [وبِتَغْيِيرِ النِّيَّةِ، كَأَنْ قَلَبَ فَرْضًا نَفْلًا وعَكْسُهُ، إلّا لِعُذْرٍ شَرْعِيٍّ].

فَصْلٌ : في شُرُوطِ قَبُولِ الصَّلاةِ

وشُرِطَ، مَعَ ما مَرَّ [مِنْ شُرُوطِ صِحَّةِ الصَّلاةِ]، لِقَبُولِها عِنْدَ اللهِ سُبْحانَهُ وتَعالى [أي نَيْلِ ثَوابِها ودَرَجاتِها]: أنْ يَقْصِدَ بِها وَجْهَ اللهِ وَحْدَهُ [أي وِجْهَةَ طاعَةِ اللهِ] ، وأنْ يَكُونَ مَأْكَلُهُ ومَلْبُوسُهُ ومُصَلّاهُ حَلالًا، وأنْ يُحضِرَ قَلْبَهُ فيها [بِأَنْ يَخْشَعَ قَلْبُهُ للهِ ولَوْ لَحْظَةً]، فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلاتِهِ إلّا ما عَقَلَ [أي وَعَى]، وأنْ لا يُعْجَبَ بِها. [ومَعْنَى صِحَّةِ الصَّلاةِ دُونَ قَبُولِها، أنْ تَسْقُطَ عنه المُطالَبَةُ بِها دُونَ أنْ يَنالَ ثَوابَها الخاصَّ.]

فَصْلٌ : في أَرْكانِ الصَّلاةِ

أَرْكانُ الصَّلاةِ سَبْعَةَ عَشَرَ رُكْنًا: الأوَّلُ: نِيَّةٌ بِالقَلْبِ [لِفِعْلِ الصَّلاةِ]، ويُعَيِّنُ ذاتَ السَّبَبِ والوَقْتِ، ويَنْوِي الفَرْضِيَّةَ في الفَرْضِ، [ومِثالُ النِّيَّةِ الكافِيَةِ أنْ يَنْوِيَ قائِلًا في ذِهْنِهِ: "أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ"] ، [الثّانِي]: ويَقُولُ [بِلِسانِهِ]، بِحَيْثُ يُسْمِعُ نَفْسَهُ كَكُلِّ رُكْنٍ قَوْليٍّ: "اللهُ أَكْبَر"، [مَعَ اسْتِحْضارِ النِّيَّةِ بِقَلْبِهِ]، وهو ثانِي أرْكانِها، الثّالِثُ: القِيامُ في الفَرْضِ لِلْقادِرِ، الرّابِعُ: قِراءَةُ الفاتِحَةِ، بِالبَسْمَلَةِ، والتَّشْدِيداتِ، ومُوالاتِها، وتَرْتِيبِها، وإخْراجِ الحُرُوفِ مِنْ مَخارِجِها، وعَدَمِ اللَّحْنِ [أيْ الخَطَأِ في الحَرَكاتِ] المُخِلِّ بِالمَعْنَى، ويَحْرُمُ اللَّحْنُ الَّذِي لا يُخِلُّ [إذا تَعَمَّدَهُ]، ولا يُبْطِلُ، الخامِسُ: الرُّكُوعُ بِأنْ يَنْحَنِيَ بِحَيْثُ تَنالُ راحَتاهُ رُكْبَتَيْهِ، السّادِسُ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه بِقَدْرِ سُبْحانَ اللهِ، السّابِعُ: الاعْتِدالُ بِأنْ يَنْتَصِبَ قائِمًا، الثّامِنُ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه، التّاسِعُ: السُّجُودُ مَرَّتَيْنِ بِأنْ يَضَعَ جَبْهَتَهُ [ولَوْ بَعْضَها] على مُصَلّاهُ مَكْشُوفَةً ومُتَثاقِلًا بِها ومُنَكِّسًا [أيْ جاعِلًا أَسْفَلَهُ أَعْلَى مِنْ أَعْلاهُ]، ويَضَعَ شَيْئًا مِنْ رُكْبَتَيْهِ، ومِنْ بُطُونِ كَفَّيْهِ، ومِنْ بُطُونِ أَصابِعِ رِجْلَيْهِ،

العاشِرُ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه، الحادِي عَشَرَ: الجُلُوسُ بين السَّجْدَتَيْنِ، الثانِي عَشَرَ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه، الثّالِثَ عَشَرَ: الجُلُوسُ، لِلتَّشَهُّدِ الأَخِيرِ وما بَعْدَهُ، الرّابِعَ عَشَرَ: التَّشَهُّدُ الأَخِيرُ، فَـ[ـأَكْمَلُهُ أَنْ] يَقُولَ: "التَّحِيّاتُ المُبارَكاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّباتُ للهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ أيُّها النَّبِيُّ ورَحْمَةُ اللهِ وبَرَكاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنا وعلى عِبادِ اللهِ الصّالِحينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ"، الخامِسَ عَشَرَ: الصَّلاةُ على النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ، [و]أَقَلُّها: "اللّٰهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ"، السّادِسَ عَشَرَ: السَّلامُ، [و]أَقَلُّهُ: "السَّلامُ عَلَيْكُمْ"، السّابِعَ عَشَرَ: التَّرْتِيبُ، فَإِنْ تَعَمَّدَ تَرْكَهُ، كَأَنْ سَجَدَ قَبْلَ رُكُوعِهِ بَطَلَتْ، وإِنْ سَها [كأنْ تَرَكَ الرُّكُوعَ] فَلْيَعُدْ إليه إلّا أنْ يَكُونَ في مِثْلِهِ أو بَعْدَهُ، فَتَتِمُّ بِهِ رَكْعَتُهُ، ولَغا ما سَها بِهِ.

Pasal: Najis dan Cara Menghilangkan

Sebagian syarat shalat adalah suci dari najis di badan, baju dan tempat dan barang yang dibawa seperti saputangan di tangan atau saku. Apabila bertemu najis atau menyentuh bajunya atau barang yang dibawanya maka batal shalatnya kecuali kalau langsung dilempar atau najisnya dimaafkan (makfu) seperti darah lukanya.

Wajib menghilangkan najis yang tidak dimaafkan yakni najis ainiyah dengan menghilangkan bendanya dari rasa warna dan bau dengan menyiramkan air yang menyucikan. Sedangkan dalam najis hukmiyah yakni najis yang tidak terlihat benda, warna, rasa dan baunya dengan cara mengalirkan air yang menyucikan satu kali. Dalam najis anjing dibasuh dengan air tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah (debu) yang suci yang menghilangkan bendanya najis sekalipun terhitung satu kali. Dan disyaratkan sampainya air apabila air sedikit yakni kurang dua kulah.

Pasal: Syarat Lain Shalat

Termasuk syarat shalat adalah menghadap kiblat, masuknya waktu, Islam, tamyiz, tahu atas wajibnya shalat (apabila shalat fardhu), tidak boleh meyakini yang fardhu sebagai sunnah, menutupi seluruh badan dengan kain yang menutupi warna kulit kecuali wajah dan telapak tangan, menutupi tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki dan budak amat dari segala arah kecuali bawah.

Pasal: Pembatal Shalat

Shalat batal karena berbicara walaupun dengan dua huruf (kata) yang tidak bisa dimengerti atau dengan satu huruf (kata) yang dimengerti, kecuali apabila lupa dan sedikit dan dengan gerakan yang banyak yang berturut-turut atau bersamaan seperti tiga gerakan walaupun lupa. Dan dengan gerakan yang melebihi batas walaupun lupa. Dan karena tambahan rukun fi'li yang disengaja, dan karena gerakan satu untuk main-main walaupun ringan, makan dan minum kecuali apabila lupa dan sediit, karena niat memutus shalat, menghubungkan memutuskan shalat atas perkara apapun, karena ragu-ragu dalam memutuskan shalat, berlalunya satu rukun disertai ragu dalam nikat taharum, atau panjangnya masa ragu, juga karena perubahan niat seperti merubah fardhu menjadi sunnah atau sebaliknya kecuali karena udzur syar'i.

Pasal: Syarat Diterimanya Shalat

Disyaratkan selain yang sudah disebut dari syarat sahnya shalat untuk diterimanya shalat di sisi Allah yakni untuk memperoleh pahala dan derajat shalat yaitu harus bermaksud karena Allah semata yakni semata taat pada Allah. Makanan, baju dan tempat shalat harus halal. Hatinya hadir dalam shalat yakni hatinya khusyuk pada Allah walaupun sebentar. Maka shalatnya itu tergantung dari yang dia fikirkan. Dan hendaknya tidak ujub (sombong) pada shalatnya. Makna sahnya shalat, bukan diterimanya shalat, adalah gugurnya tuntutan shalat dari orang tersebut bukan mendapatkan pahala shalat yang khusus.

Pasal: Rukun Shalat

Rukun shalat ada 17: Pertama, niat dengan hati untuk melakukan shalat menentukan sebab dan waktu dan berniat fardhu untuk shalat fardhu. Contoh niat yang sah adalah niat dalam hatinya "Aku shalat fardhu Zhuhur". Kedua, berkata secara lisan sekiranya dapat didengar sendiri sebagaimana setiap rukun qauli (ucapan) yang lain ucapan "Allahu Akbar" disertai menghadirkan niat dalam hati. Ini rukun kedua. Ketiga, Berdiri dalam shalat fardhu bagi yang kuasa. Keempat, membaca Al Fatihah dengan basmalah dan tasydid dengan segera dan urut dan mengeluarkan bunyi huruf sesuai makhrajnya dan tidak lahan yakni salah harkat yang merubah makna. Haram lahan yang tidak merusak maka apabila sengaja tapi tidak membatalkan shalat. Kelima, rukuk dengan cara membungkuk sekiranya kedua telapak tangan menyentuh lutut. Keenam, tumakninah dalam rukuk dengan sekadar membaca "subnahallah". Ketujuh, i'tidal yaitu bangun setelah rukuk. Kedelapan, tuma'ninah dalam i'tidal. Kesembilan, sujud dua kali dengan menaruh jidat atau dahi walaupun sebagian pada tempat shalat secara terbuka. Kesepuluh, tumakninah dalam sujud.

Kesebelas, duduk di antara dua sujud. Keduabelas, tumakninah dalam sujud. Ketigabelas, duduk untuk tasyahud atau tahiyat akhir dan yang setelahnya. Keempatbelas, tahiyat akhir. Ucapan tahiyat akhir paling sempurna adalah: "التَّحِيّاتُ المُبارَكاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّباتُ للهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ أيُّها النَّبِيُّ ورَحْمَةُ اللهِ وبَرَكاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنا وعلى عِبادِ اللهِ الصّالِحينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ" Kelimabelas, membaca shalawat pada Nabi. Paling sedikit bacaan shalawat adalah: "اللّٰهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ" Keenambelas, salam. Paling sedikit ucapan salam adalah "السَّلامُ عَلَيْكُمْ" Ketujuhbelas, tertib atau urut. Apabila sengaja meninggalkan tertib, seperti sujud sebelum rukuk maka batal shalatnya. Apabila lupa seperti tidak rukuk, maka hendaknya ia mengulanginya kecuali apabila ia dalam perbuatan yang sama atau setelahnya maka hendaknya ia menyempurnakan rakaatnya dan sia-sia rakaat yang dia ada yang terlupa sebelumnya.[]

5/24/2017

Wudhu dan Mandi Junub Madzhab Syafi'i

Wudhu dan Mandi Junub Madzhab Syafi'i
Wudhu dan Mandi Junub Madzhab Syafi'i

Terjemah Sullam Taufiq di laman ini membahas hukum fiqih berkaitan dengan wudhu, mandi besar dan tayamum syarat rukun dan perkara yang membatalkan serta yang haram dilakukan bagi pelaku hadas kecil, besar dan wanita haid.

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 HB/-1777 M)
Penerjemah: A. Fatih Syuhud
Bidang studi: Aqidah, Tasawuf dan Fiqih

Daftar Isi

Teks Arab

فَصْلٌ : في فُرُوضِ الوُضُوءِ

ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ الوُضُوءُ، وفُرُوضُهُ سِتَّةٌ: الأوَّلُ: نِيَّةُ الطَّهارَةِ لِلصَّلاةِ بِالقَلْبِ، أو غَيْرُها مِنَ النِّيّاتِ المُجْزِئَةِ، عِنْدَ غَسْلِ الوَجْهِ؛ الثّاني: غَسْلُ الوَجْهِ جَمِيعِهِ، مِنْ مَنابِتِ شَعْرِ رَأْسِهِ إلى الذَّقَنِ، ومِنَ الأُذُنِ إلى الأُذُنِ، شَعَرًا وبَشَرًا، إلّا باطِنَ لِحْيَةِ الرَّجُلِ وعارِضَيْهِ إذا كَثُفْنَ؛ الثّالِثُ: غَسْلُ اليَدَيْنِ مَعَ المِرْفَقَيْنِ وما عليهما [كَشَعْرِ الذِّراعِ]؛ الرابِعُ: مَسْحُ الرّأْسِ أو بَعْضِهِ، ولَوْ شَعْرَةً في حَدِّهِ؛ الخامِسُ: غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الكَعْبَيْنِ، أو مَسْحُ الخُفِّ إذا كَمَلَتْ شُرُوطُهُ؛
السّادِسُ: التَّرْتِيبُ هٰكذا.

فَصْلٌ : في نَواقِضِ الوُضُوءِ

ويَنْقُضُ الوُضُوءَ: ما خَرَجَ مِنَ السَّبِيلَيْنِ إلّا المَنِيَّ؛ ومَسُّ قُبُلِ الآدَمِيِّ أو حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الكَفِّ بِلا حائِلٍ؛ ولَمسُ [الذَّكَرِ] بَشَرَةَ [الأُنْثَى] الأجْنَبِيَّةِ [ولو زَوْجَةً] مَعَ كِبَرٍ [أو العَكْسُ، فَيَنْتَقِضُ وُضُوءُ اللّامِسِ والمَلْمُوسِ إذا اخْتَلَفَ جِنْسُهُما وكانَ كُلٌّ منهما يُشتَهَى ولم يَكُونا مَحْرَمَيْنِ]؛ وزَوالُ العَقْلِ إلّا نَوْمَ قاعِدٍ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَتَهُ.

فَصْلٌ : فِيما يَجِبُ عَقِبَ ما يَخْرُجُ مِنَ السَّبِيلَيْنِ

يَجِبُ الاسْتِنْجاءُ مِنْ كُلِّ رَطْبٍ خارِجٍ مِنَ السَّبِيلَيْنِ غَيْرَ المَنِيِّ: [بِالغَسْلِ] بِالماءِ إلى أنْ يَطْهُرَ المَحَلُّ؛ أو [بأنْ] يَمْسَحَهُ ثَلاثَ مَسَحاتٍ أو أكْثَرَ، إلى أنْ يَنْقَى المَحَلُّ، وإنْ بَقِيَ الأثَرُ، بِقالِعٍ، طاهِرٍ، جامِدٍ [أي غَيْرِ مائعٍ ولا رَطْبٍ ولا مَطْحُونٍ]، غَيْرِ مُحْتَرَمٍ [كَالخُبْزِ] ، مِنْ غَيْرِ انْتِقالٍ، وقَبْلَ جَفافٍ [وإلّا وَجَبَ الماءُ].

فَصْلٌ : فِي ما يُوجِبُ الغُسلَ وفروضِهِ

ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ: الطَّهارَةُ عَنِ الحَدَثِ الأَكْبَرِ، وهو الغُسْلُ [ويَتَيَمَّمُ إنْ عَجَزَ عنه]، والَّذِي يُوجِبُهُ خَمْسَةُ أَشْياءَ: خُرُوجُ المَنِيِّ والجِماعُ والحَيْضُ والنِّفاسُ والوِلادَةُ

وفُرُوضُ الغُسْلِ اثْنانِ: نِيَّةُ رَفْعِ الحَدَثِ الأَكْبَرِ أو نَحْوُها، وتَعْمِيمُ جَمِيعِ البَدَنِ بَشَرًا وشَعَرًا وإنْ كَثُفَ [بِالماءِ].

فَصْلٌ : في شُرُوطِ الطَّهارَةِ وأَرْكانِ التَّيَمُّمِ

شَرْطُ الطَّهارَةِ: الإسْلامُ، والتَّمْيِيزُ، وعَدَمُ المانِعِ مِنْ وُصُولِ الماءِ إلى المَغْسُولِ، والسَّيَلانُ، وأنْ يَكُونَ الماءُ مُطَهِّرًا، بأنْ: لا يُسْلَبَ اسْمَهُ بِمُخالَطَةِ طاهِرٍ يَسْتَغْنِي الماءُ عنه، وأنْ لا يَتَغَيَّرَ بِنَجِسٍ ولو تَغَيُّرًا يَسِيرًا، وإنْ كانَ الماءُ دُونَ القُلَّتَيْنِ زِيدَ [شَرْطانِ آخَرانِ لِيَكُونَ مُطَهِّرًا]: بِأنْ لا يُلاقِيَهُ نَجِسٌ غَيْرُ مَعْفُوٍّ عنه، و[أنْ] لا [يَكُونَ] اسْتُعْمِلَ في رَفْعِ حَدَثٍ أو إزالَةِ نَجَسٍ. ومَنْ لم يَجِدِ الماءَ أو كانَ يَضرُّهُ الماءُ تَيَمَّمَ، بَعْدَ: دُخُولِ الوَقْتِ، وزَوالِ النَّجاسَةِ [الَّتي لا يُعفَى عنها]، ومَعْرِفَةِ القِبْلَةِ، [ويَكُونُ] بِتُرابٍ [أو رَمْلٍ] خالِصٍ طَهُورٍ له غُبارٌ، في الوَجْهِ واليَدَيْنِ، يُرَتِّبُهُما بِضَرْبَتَيْنِ [على الأَقَلِّ]، بِنِيَّةِ اسْتِباحَةِ فَرْضِ الصَّلاةِ، [وتَكُونُ النِّيَّةُ] مَعَ النَّقْلِ ومَسْحِ أَوَّلِ الوَجْهِ.

فَصْلٌ : فِيما يَحْرُمُ بِالحَدَثِ الأَصْغَرِ وغَيْرِهِ

ومَنِ انْتَقَضَ وُضُوؤُهُ حَرُمَ عليه: الصَّلاةُ، والطَّوافُ، وحَمْلُ المُصْحَفِ،
ومَسُّهُ [أي المُصْحَفِ، ولو بِحائِلٍ]، إلّا الصَّبِيَّ لِلدِّراسَةِ [فَيَجُوزُ تَمْكِينُهُ مِنَ الحَمْلِ والمَسِّ مَعَ حَدَثِهِ]، وعلى الجُنُبِ [تَحْرُمُ]: هٰذه [الأَرْبعُ السّابِقَةُ]،
وقِراءَةُ القُرْآنِ [بِصَوتٍ]، ومُكْثُ المَسْجِدِ [لا عُبُورُهُ]، وعلى الحائِضِ والنُّفَساءِ [تَحْرُمُ]: هٰذه [السِّتُّ السّابِقَةُ]، والصَّوْمُ قَبْلَ الانْقِطاعِ، وتَمْكِينُ الزَّوْجِ مِنَ الاسْتِمْتاعِ بِما بَيْنَ سُرَّتِها ورُكْبَتِها [بِالجِماعِ ولو بِحائِلٍ، واللَّمْسِ بِلا حائِلٍ ولو بِلا شَهْوَةٍ] قَبْلَ الغُسْلِ [الشَّرْعِيِّ].

Fardhu Wudhu

Salah satu syarat shalat adalah wudhu. Fardhu wudhu ada enam. Pertama, niat bersuci untuk shalat dalam hati, atau niat lain yang sah, ketika membasuh wajah. Kedua, membasuh seluruh wajah termasuk tempat tumbuhnya rambut kepala sampai dagu, dari kuping sampai kuping, rambut dan kulit kecuali bagian dalam jenggot dan jambang laki-laki apabila tebal. Ketiga, membasuh kedua tangan termasuk siku dan yang di atasnya. Keempat, Mengusap kepala atau sebagiannya, walaupun satu rambut dalam batas kepala. Kelima, membasuh kedua kaki beserta mata kaki, atau mengusap khuf apabila memenuhi syarat. Keenam, tertib.

Pasal: Yang Membatalkan Wudhu

Yang membatalkan wudhu adalah perkara yang keluar dari dua jalan (depan belakang) kecuali mani. Menyentuh kemaluan depan manusia atau bundaran anus tanpa penghalang. Laki-laki menyentuh kulit wanita dewasa bukan mahram walaupun istri begitu juga sebaliknya. Maka, wudhu orang yang menyentuh dan yang disentuh sama-sama batal apabila beda jenisnya dan masing-masing saling tertarik dan bukan mahram. Hilang akal kecuali tidurnya orang yang duduk yang menetap pada tempat duduknya.

Pasal: Yang Wajib setelah Keluarnya Sesuatu dari Dua Jalan

Wajib istinjak (bersuci) dari segala benda basah yang keluar dari dua jalan kecuali mani dengan cara membasuh dengan air sampai suci tempatnya. Atau dengan mengusap tiga kali atau lebih sampai bersih tempatnya dengan benda kasar, padat dan suci dan tidak dimuliakan yakni bukan benda cair, basah, dan tidak dimuliakan seperti roti, tanpa berpindah dan sebelum kering. Apabila tidak, maka harus memakai air.

Pasal: Yang Wajib Mandi Besar dan Fardhunya

Termasuk syarat shalat adalah suci dari hadas besar yaitu mandi besar dan tayammum apabila tidak mampu melakukannya. Yang mewajibkan mandi ada lima yaitu: keluar mani, jimak (hubungan intim), haid, nifas, melahirkan.

Fardhu Mandi ada dua yaitu niat menghilangkan hadas besar atau semisalnya. Meratakan air pada seluruh badan, kulit dan bulu walaupun tebal.

Pasal: Syarat Bersuci dan Rukun Tayammum

Syarat bersuci adalah Islam, tamyiz (berakal sehat), tidak ada perkara yang mencegah sampainya air pada yang dibasuh, mengalir, air harus suci dan menyucikan dalam arti tidak merusak nama air karena bercampur dengan benda suci yang tidak diperlukan air. Air tidak boleh berubah karena bercampur najis walaupun berubah sedikit. Apabila air kurang dua kulah maka airnya ditambah. Dua syarat lain supaya air dapat menyucikan adalah tidak bertemu najis yang tidak dimakfu (dimaafkan) dan belum dipakai untuk menghilangkan hadas atau najis. Siapa yang tidak menemukan air atau ada air tapi membahayakan tubuhnya maka boleh tayamum setelah masuknya waktu. Hilangnya najis yang tidak dimaafkan. Mengetahui arah kiblat. Tayamum dengan debu atau pasir bersih dan suci yang mengandung debu, pada wajah dan kedua tangan dengan dua kali pukulan paling sedikit dengan niat bolehnya fardhu shalat. Niat dilakukan bersamaan dengan pindah dan mengusap awal wajah.

Pasal: Yang Haram karena Hadas Kecil dan Hadas Besar

Orang yang batal wudhunya maka haram baginya hal-hal berikut: shalat, thawaf, membahwa mushaf al Quran, menyentuh mushaf walaupun dengan penghalang kecuali anak kecil dengan tujuan belajar maka boleh ia membawa dan menyentuh mushaf walaupun hadas. Haram bagi orang junub empat perkara di atas ditambah membaca Al Quran dengan bersuara, diam di masjid kecuali hanya lewat. Bagi wanita haid haram enam perkarta di atas ditambah puasa sebelum putus haidnya, membolehkan suami mencumbunya antara pusat dan lutut dengan jimak (hubungan intim) walaupun dengan penghalang, menyentuh tanpa penghalang walaupun tanpa syahwat sebelum mandi besar yang syar'i.

Jadwal Waktu 5 Shalat Fardhu

Jadwal Waktu 5 Shalat Fardhu
Jadwal Waktu 5 Shalat Fardhu

Terjemah Sullam Taufiq di laman ini membahas hukum fiqih berkaitan dengan bersuci, shalat dan waktu shalat lima waktu serta kewajiban setiap penguasa dan orang tua untuk memerintahkan dan memaksa rakyat dan anaknya untuk melaksanakan shalat secara teratur.

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 HB/-1777 M)
Penerjemah: A. Fatih Syuhud
Bidang studi: Aqidah, Tasawuf dan Fiqih

Daftar Isi

Bab Fiqih

فَصْلٌ : فِيما ما يَجِبُ على المُكَلَّفِ

يَجِبُ على كُلِّ مُكَلَّفٍ أداءُ جَمِيعِ ما أوْجَبَهُ اللهُ عليه، ويَجِبُ أنْ يُؤَدِّيَهُ على ما أمَرَهُ اللهُ بِهِ، مِنَ الإتْيانِ بِأرْكانِهِ وشُرُوطِهِ، وتَجَنُّبِ مُبْطِلاتِهِ، ويَجِبُ عليه أمْرُ مَنْ رَآهُ تارِكًا لِشَيْءٍ منها أو يَأتِي بِها على غيرِ وَجْهِها [بأدائِها على وَجْهِها]، ويَجِبُ عليه قَهْرُهُ على ذٰلك إنْ قَدِرَ، وإلّا فَيَجِبُ عليه الإنْكارُ بِقَلْبِهِ إنْ عَجَزَ عن القَهْرِ والأمْرِ، وذٰلك أضْعَفُ الإيمانِ، أي أقَلُّ ما يَلْزَمُ الإنْسانَ عند العَجْزِ؛ ويَجِبُ تَرْكُ جَمِيعِ المُحَرَّماتِ، ونَهْيُ مُرْتَكِبِها ومَنْعُهُ قَهْرًا منها إنْ قَدِرَ عليه، وإلّا وَجَبَ عليه أنْ يُنْكِرَ ذٰلك بِقَلْبِهِ ومُفارَقَةُ مَوْضِعِ المَعْصِيَةِ؛ والحَرامُ ما تَوَعَّدَ اللهُ مُرْتَكِبَهُ بِالعِقابِ ووَعَدَ تارِكَهُ بِالثَّوابِ [وعَكْسُهُ الواجِبُ].

بابُ الطَّهارَةِ والصَّلاةِ

فَصْلٌ : في أوْقاتِ الصَّلَواتِ المَفْرُوضَةِ

فَمِنَ الواجِبِ خَمْسُ صَلَواتٍ في اليَوْمِ واللَّيْلَةِ: الظُّهْرُ: ووَقْتُها إذا زالَتِ الشَّمْسُ [أي مالَتْ عَنْ وَسَطِ السَّماءِ إلى جِهَةِ الغَرْبِ]، إلى مَصِيرِ ظِلِّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ غَيْرَ ظِلِّ الاسْتِواءِ؛ والعَصْرُ: ووَقْتُها مِنْ بَعْدِ [انْتِهاءِ] وَقْتِ الظُّهْرِ إلى مَغِيبِ الشَّمْسِ؛ والمَغْرِبُ: ووَقْتُها مِنْ بَعْدِ مَغِيبِ الشَّمْسِ، إلى مَغِيبِ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ؛

والعِشاءُ: ووَقْتُها مِنْ بَعْدِ [انْتِهاءِ] وَقْتِ المَغْرِبِ، إلى طُلُوعِ الفَجْرِ الصّادِقِ؛

والصُّبْحُ: ووَقْتُها مِنْ بَعْدِ [انْتِهاءِ] وَقْتِ العِشاءِ إلى طُلُوعِ الشَّمْسِ.

فَتَجِبُ هٰذِهِ الفُرُوضُ في أَوْقاتِها على كُلِّ مُسْلِمٍ، بالِغٍ، عاقِلٍ، طاهِرٍ؛ فَيَحْرُمُ تَقْدِيمُها على وَقْتِها وتَأْخِيرُها عنه بِغَيْرِ عُذْرٍ؛ فَإنْ طَرَأَ مانِعٌ (كَحَيْضٍ) بَعْدَما مَضَى مِنْ [أَوَّلِ] وَقْتِها ما يَسَعُها [بِدُونِ طُهْرِها لِمَنْ هو سَلِيمٌ مِنْ نَحْوِ سَلَسٍ]، و[ما يَسَعُها مَعَ] طُهْرِها لِنَحْوِ [مَرِيضِ] سَلَسٍ، لَزِمَهُ قَضاؤُها؛ أو زالَ المانِعُ وقَدْ بَقِيَ مِنَ الوَقْتِ قَدْرُ تَكْبِيرَةٍ لَزِمَتْهُ، وكَذا [يَلْزَمُهُ] ما قَبْلَها إنْ جُمْعِتْ مَعَها، [إذا امْتَدَّتِ السَّلامَةُ مِنَ المانِعِ قَدْرًا يَسَعُ ذٰلك].

فَصْلٌ : فِيما يَجِبُ على وُلاةِ الأُمُورِ

يَجِبُ [وُجُوبًا كِفائِيًّا] على وَلِيِّ الصَّبِيِّ والصَّبِيَّةِ المُمَيِّزَيْنِ أنْ يَأْمُرَهما بِالصَّلاةِ ويُعَلِّمَهُما أَحْكامَها بَعْدَ سَبْعِ سِنِينَ [قَمَرِيَّةٍ] ، ويَضْرِبَهُما على تَرْكِها بَعْدَ عَشْرِ سِنِينَ، كَصَوْمٍ أَطاقاهُ، ويَجِبُ عليه أَيْضًا تَعْلِيمُهُما [مِنَ العَقائِدِ والأَحْكامِ] ما [يُمْكِنُهُما فَهْمُهُ، وتَعْلِيمُهُما ما] يَجِبُ [بَعْدَ البُلُوغِ] عليهما وما يَحْرُمُ [كَذٰلكَ، وكَذا مَشْرُوعِيَّةُ نَحْوِ السِّواكِ].

ويَجِبُ على وُلاةِ الأمْرِ [أيِ الخَلِيفَةِ ومَنْ يَنُوبُ عنه] قَتْلُ تارِكِ الصَّلاةِ [ولَوْ فَرْضًا واحِدًا] كَسَلًا [بَعْدَ إنْذارِهِ بِشُرُوطِهِ] إنْ لم يَتُبْ [أي إنْ لم يُصَلِّ] ، وحُكْمُهُ [أنَّهُ] مُسْلِمٌ.

ويَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ أَمْرُ أَهْلِهِ [أي زَوْجَتِهِ وأَهْلِ بَيْتِهِ ومَحارِمِهِ] بِها [أي الصَّلاةِ]، وقهرُهُمْ [على فِعْلِها إنْ قَصَّرُوا]، وتَعْلِيمُهُمْ أَرْكانَها وشُرُوطَها ومُبْطِلاتِها، و[كذٰلكَ] كُلُّ مَنْ قَدِرَ عليه مِنْ غَيْرِهِمْ.

Yang Wajib bagi Muslim Mukalaf

Wajib bagi muslim mukalaf (baligh dan berakal) untuk melaksanakan seluruh perintah Allah dan harus melaksanakannya sesuai perintahNya seperti melakukan sesuai rukun dan syaratnya dan menjauhi perkara yang membatalkan. Dan wajib memerintahkan orang tidak melaksanakan kewajiban atau mengamalkan tapi tidak sesuai caranya. Wajib memaksakan apabila mampu kalau tidak maka wajib mengingkari dengan hati apabila tidak mampu memaksa. Ini selemah-lemahnya iman yakni paling sedikitnya kewajiban manusia apabila lemah. Wajib meninggalkan keharaman dan melarang pelaku haram secara paksa apabila mampu. Apabila tidak mampu maka wajib ingkar dengan hati dan menjauh dari tempat maksiat. Perkara haram adalah perkara yang pelakunya diancam oleh Allah dengan siksa dan menjanjikan pahala bagi yang meninggalkannya (kebalikan dari wajib).

Bab Bersuci dan Shalat

Fasal Waktu Shalat Wajib

Termasuk kewajiban adalah lima shalat sehari semalam.

Zhuhur: waktunya apabila matahari condong yakni condong dari tengah langit ke arah barat sampai bayangan benda sama dengan bendanya selain bayangan istiwa (tengah).
Ashar: waktunya setelah habisnya zhuhur sampai terbenamnya matahari.

Maghrib: waktunya dari setelah terbenamnya matahari sampai tenggelamnya syafaq marah.Isya': waktunya dari setelah habisnya waktu maghrib sampai terbitnya fajar shodiq. Subuh: waktunya dari setelah habisnya waktu isya' sampai terbitnya matahari.

Kelima shalat fardhu ini wajib dilakukan pada waktunya oleh setiap muslim yang baligh, berakal sehat, dan suci. Haram mendahulukan shalat dari waktunya atau mengakhirkan dari waktunya tanpa udzur. Apabila muncul perkara baru yang mencegah seperti haid setelah lewat dari awal waktu yang cukup tanpa bersuci bagi yang selamat dari seumpama beser dan perkara yang cukup bagi seumpama sakit beser, maka wajib mengqadhanya. Atau hilang pencegahnya sementara waktunya masih tersisa untuk takbirotul ihram maka shalat wajib dilakukan. Begitu juga wajib shalat yang sebelumnya apabila dijamak bersamanya apabila selamat dari pencega itu memanjang sampai waktu yang cukup untuk itu.

Fasal: Yang Wajib bagi Orang Tua dan Penguasa

Wajib kifayah bagi wali (orang tua atau yang lain) anak kecil yang tamyiz untuk memerintahkan mereka shalat dan mengajarkan hukum-hukumnya setelah tujuh tahun (qomariyah / hijriyah). Dan memukul mereka apabila meninggalkan shalat setelah usia 10 tahun sebagaimana puasa apabila mampu. Wajib bagi wali untuk mengajarkan anak-anak tentang akidah dan hukum menurut kemampuan si anak dan mengajarkan mereka apa yang wajib setelah baligh dan perkara yang haram dan sunnahnya perkara seperti siwak.

Wajib bagi penguasa yakni Khalifah dan orang yang di bawahnya membunuh orang yang tidak shalat walaupun satu shalat fardhu karena malas setelah diperingati dengan syarat-syaratnya apabila tidak bertaubat (tetap tidak shalat). Hukumnya, dia muslim.

Wajib bagi muslim menyuruh keluarganya yakni istri, anak dan mahramnya untuk shalat dan memaksa mereka melakukannya apabila mereka melanggar. Wajib mengajarkan rukun-rukun shalat, syarat-syarat dan yang membatalkan shalat. Begitu juga setiap orang yang mampu dari yang lain.

Akibat Hukum bagi Orang Murtad

Akibat Hukum bagi Orang Murtad
Akibat Hukum bagi Orang Murtad

Terjemah Sullam Taufiq pada halaman ini membahas tentang penyebab murtad ucapan (qauliyah) dan akibat hukum bagi orang muslim yang murtad / kufur. Dan apa kaidah umum penyebab murtad/kufur.

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 HB/-1777 M)
Penerjemah:

Daftar Isi

Teks Arab

أمْثِلَةُ الرِّدَّةِ بِاللِّسانِ (أي الأقْوالِ الكُفْرِيَّةِ):

والقِسْمُ الثّالِثُ الأقْوالُ، وهي كَثِيرَةٌ جِدًّا لا تَنْحَصِرُ، منها:
أنْ يَقُولَ [الشَّخْصُ] لِمُسْلِمٍ: "يا كافِرُ"، أو "يا يَهُودِيُّ"، أو "يا نَصْرانيُّ"، أو "يا عَدِيمَ الدِّينِ"، مُرِيدًا أنَّ الَّذِي عليه المُخاطَبُ مِنَ الدِّينِ كُفْرٌ أو يَهُودِيَّةٌ أو نَصْرانِيَّةٌ أو لَيْسَ بِدِينٍ؛ وكَالسُّخْرِيَةِ بِاسْمٍ مِنْ أسْمائِهِ تَعالَى أو وَعْدِهِ أو وَعِيدِهِ، مِمَّن لا يَخْفَى عليه نِسْبَةُ ذٰلك إليه سُبْحانَهُ؛

وكَأنْ يَقُولَ [الشَّخْصُ]: "لَوْ أمَرَنِي اللهُ بِكَذا لم أفْعَلْهُ"، أو [يَقُولَ الشَّخْصُ]: "لَوْ صارَتِ القِبْلَةُ في جِهَةِ كَذا ما صَلَّيْتُ إليها"، أو [يَقُولَ الشَّخْصُ]: "لَوْ أعْطانِي اللهُ الجَنَّةَ ما دَخَلْتُها"، مُسْتَخِفًّا، أو مُظهِرًا لِلْعِنادِ، في الكُلِّ؛
وكَأنْ يَقُولَ [الشَّخْصُ]: "لَوْ آخَذَنِي اللهُ بِتَرْكِ الصَّلاةِ مَعَ ما أنا فيه مِنَ المَرَضِ ظَلَمَنِي"؛
أو قالَ [الشَّخْصُ] لِفِعْلٍ: "حَدَثَ هذا بِغَيْرِ تَقْدِيرِ اللهِ"؛
أو [قالَ الشَّخْصُ]: "لَوْ شَهِدَ عِنْدِي الأنْبِياءُ أو المَلائِكَةُ أو جَمِيعُ المُسْلِمِينَ بِكَذا ما قَبِلْتُهُمْ"؛
أو قالَ [الشَّخْصُ]: "لا أفعَلُ كَذا وإنْ كانَ سُنَّةً" بِقَصْدِ الاسْتِهْزاءِ؛
أو [قالَ الشَّخْصُ]: "لَوْ كانَ فُلانٌ نَبِيًّا ما آمَنْتُ به"؛

أو أعْطاهُ عالِمٌ فَتْوَى فَقالَ [الشَّخْصُ]: "أَيْشٍ هذا الشَّرْعُ" مُرِيدًا الاسْتِخْفافَ [بِحُكْمِ الشَّرْعِ]؛
أو قالَ [الشَّخْصُ]: "لَعْنَةُ اللهِ على كُلِّ عالِمٍ" مُرِيدًا الاسْتِغْراقَ الشّامِلَ [لِعُلَماءِ الدِّينِ الإسْلامِيِّ أو] لِأحَدِ الأنْبِياءِ،
أو قالَ [الشَّخْصُ]: "أنا بَرِيءٌ مِنَ اللهِ" أو "مِنَ المَلائِكَةِ" أو "مِنَ النَّبِيِّ" أو "مِنَ القُرْآنِ" أو "مِنَ الشَّرِيعَةِ" أو "مِنَ الإسْلامِ"؛
أو قالَ [الشَّخْصُ] لِحُكْمٍ حُكِمَ بِهِ مِنْ أحْكامِ الشَّرِيعَةِ: "لَيْسَ هذا الحُكْمُ" أو "لا أعْرِفُ الحُكْمَ" مُسْتَهْزِئًا بِحُكْمِ اللهِ؛
أو قالَ [الشَّخْصُ] وقَدْ مَلَأَ وِعاءً: "﴿وَكَأْسًا دِهَاقًا﴾"، أو أفْرَغَ شَرابًا: "﴿فَكَانَتْ سَرَابًا﴾"، أو عِنْدَ وَزْنٍ أو كَيْلٍ: "﴿وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ﴾"، أو عِنْدَ رُؤْيَةِ جَمْعٍ: "﴿وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا﴾"، بِقَصْدِ الاسْتِخْفافِ أو الاسْتِهْزاءِ [بِهٰذِهِ الآياتِ] في الكُلِّ؛ فإنْ كانَ بِغَيْرِ ذٰلك القَصْدِ [ونَحْوِهِ] فَلا يَكْفُرُ لٰكِنْ قالَ الشَّيْخُ أحْمَدُ بْنُ حَجَرٍ رَحِمَهُ اللهُ: "لا تَبْعُدُ حُرمَتُهُ"؛

وكَذا يَكْفُرُ مَنْ شَتَمَ نَبِيًّا أو مَلَكًا [بِفَتْحِ اللّامِ، أي واحِدًا مِنَ المَلائِكَةِ]؛

أو قالَ [الشَّخْصُ]: "أكُونُ قَوّادًا إنْ صَلَّيْتُ"، أو [قالَ]: "ما أصَبْتُ خَيْرًا مُنْذُ صَلَّيْتُ"، أو [قالَ]: "الصَّلاةُ لا تَصْلُحُ لِي"، بِقَصْدِ الاسْتِخْفافِ بِها، أو الاسْتِهْزاءِ، أو اسْتِحْلالِ تَرْكِها، أو التَّشاؤُمِ بِها؛

أو قالَ [الشَّخْصُ] لِمُسْلِمٍ: "أنا عَدَوُّكَ وعَدُوُّ نَبِيِّكَ"، أو [قالَ] لِشَرِيفٍ: "أنا عَدُوُّكَ وعَدُوُّ جَدِّكَ" مُرِيدًا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ؛
أو [أنْ] يَقُولَ [الشَّخْصُ] شَيْئًا مِنْ نَحْوِ هٰذِهِ الألْفاظِ البَشِعَةِ الشَّنِيعَةِ؛

وقَدْ عَدَّ الشَّيْخُ أحْمَدُ ابْنُ حَجَرٍ والقاضِي عِياضٌ رَحِمَهُما اللهُ في كِتابَيْهِما "الإعْلامُ" و"الشِّفا" شَيْئًا كَثِيرًا [مِنَ المُكَفِّراتِ] ، فَيَنْبَغِي الاطِّلاعُ عليه، فَإنَّ مَنْ لم يَعْرِفِ الشَّرَّ يَقَعْ فيه.

قاعِدَةٌ لِمَعْرِفَةِ كَثِيرٍ مِنَ الكُفْرِ:

وحاصِلُ [أيْ حُكْمُ] أَكْثَرِ تلْكَ العِباراتِ يَرْجِعُ إلى [قاعِدَةِ] أنَّ كُلَّ عَقْدٍ أو فِعْلٍ أو قَوْلٍ يَدُلُّ على اسْتِهانَةٍ أو اسْتِخْفافٍ بِاللهِ، أو كُتُبِهِ، أو رُسُلِهِ، أو مَلائِكَتِهِ، أو شَعائِرِ أو مَعالِمِ دِينِهِ، أو أحْكامِهِ، أو وَعْدِهِ، أو وَعِيدِهِ، كُفْرٌ ومَعْصِيَةٌ، فَلْيَحْذَرِ الإنْسانُ مِنْ ذٰلك جَهْدَهُ.

فَصْلٌ : في بَعْضِ أحْكامِ المُرْتَدِّ

يَجِبُ على مَنْ وَقَعَتْ مِنْهُ رِدَّةٌ [أي كَفَرَ بَعْدَ أنْ كانَ مُسْلِمًا]: العَوْدُ فَوْرًا إلى الإسْلامِ: بِالنُّطْقِ بِالشَّهادَتَيْنِ، والإقْلاعِ عَمّا وَقَعَتْ به الرِّدَّةُ؛ ويَجِبُ عليه [أيْضًا]: النَّدَمُ على ما صَدَرَ منه، والعَزْمُ على أنْ لا يَعُودَ لِمِثْلِهِ، وقَضاءُ ما فاتَهُ مِنْ واجِباتِ الشَّرْعِ في تِلْكَ المُدَّةِ [كالصَّلَواتِ المَفْرُوضَةِ]؛ فإنْ لم يَتُبْ [أي فإنْ لم يَرْجِعْ عن كُفْرِهِ بِالشَّهادَتَيْنِ] وَجَبَتِ اسْتِتابَتُهُ [أي أمْرُهُ بِالرُّجُوعِ إلى الإسْلامِ بِالشَّهادَتَيْنِ]، ولا يُقبَلُ منه إلّا الإسْلامُ أو القَتْلُ [يُنَفِّذُهُ عليه الخَلِيفَةُ بِشُرُوطٍ مَذْكُورَةٍ في المُطَوَّلاتِ].

و[مِمّا يَتَرَتَّبُ على رِدَّةِ الشَّخْصِ أنَّهُ:] [تَذْهَبُ بِها حَسَناتُهُ] ، يَبْطُلُ بِها صَوْمُهُ [للنَّهارِ الَّذِي ارْتَدَّ فيه]، و [يَبْطُلُ بِها] تَيَمُّمُهُ، و[يَبْطُلُ بِها] نِكاحُهُ [أي زَواجُهُ] قَبْلَ الدُّخُولِ، وكَذا بعدَهُ إنْ لم يَعُدْ إلى الإسْلامِ في العِدَّةِ، ولا يَصِحُّ عَقْدُ نِكاحِهِ [ولَوْ على مُرْتَدَّةٍ مِثْلِهِ]،

وتَحْرُمُ ذَبِيحَتُهُ [وتَكُونُ نَجِسَةً]، ولا يَرِثُ، ولا يُورَثُ، ولا يُصَلَّى عليه [ويَكْفُرُ مَنْ يُصَلِّي عليه وهو عالِمٌ بِحالِهِ]، ولا يُغَسَّلُ [أي لا يَجِبُ]، ولا يُكَفَّنُ [أي لا يَجِبُ]، ولا يُدْفَنُ [أي لا يَجِبُ]، [ويَحْرُمُ دَفْنُهُ في مَدافِنِ المُسْلِمِينَ]، ومالُهُ [بَعْدَ مَوْتِهِ] فَيْءٌ [أي لِمَصالِحِ المُسْلِمِينَ]، [ويُخَلَّدُ بِلا نِهايَةٍ في العَذابِ إنْ ماتَ على رِدَّتِهِ، كَغَيْرِهِ مِمَّنْ يَمُوتُ على غَيْرِ الإسْلامِ].

Ketiga, Murtad karena ucapan (Murtad Qouliyah)

Ini sangat banyak sehingga tdk terhitung jumlahnya, Diantaranya:

- Memanggil Seorang Muslim dengan kata-kata : "Hai orang kafir !!, "Hai orang yahudi !! , "Hai orang nasrani !! Hai orang tak beragama !! dengan tujuan tersebut.
- Menghina salah satu nama dari nama2 Alloh.
- Menghina janji dan ancaman Alloh atau Apa yang di-hubungkan kepada-Nya.
- Berkata : "Andaikan Alloh memerintahkan-ku, maka aku tidak akan mengerjakan-Nya.
- Berkata : "Jika arah kiblat dipindah kearah yg lain, maka Aku tidak mau shalat.
- Berkata : "Seandainya aku diberi syurga oleh Alloh, maka saya tak mau memasukinya,Semua diucapkan dengan tujuan merendahkan (مستخفا)

- Menampakan kedurhakaan secara keseluruhan. Seperti :

Berkata : "Jika Alloh menyiksa-ku karena meninggalkan sholat , padahal aku sedang sakit berarti Alloh menzholimi -ku.
Berkata ketika ada sesuatu peristiwa : "Ini bukan takdir Alloh".
Berkata : "Andai yg menjadi saksi itu para nabi, para malaikat, atau seluruh muslimin maka aku tak kan mau menerima mereka menjadi saksi.
Berkata : "Aku tidak mau melakukan ini, sekalipun itu sunah, (kata-kata menghina)
Berkata : " Seandainya si Fulan menjadi nabi, saya tak mau percaya kepada-nya,
Berkata : " Syareat yg mana ini?" .(Dia berkata : ketika ada seorang ulama memberikan Fatwa-Hukum dgn tujuan meremehkan.)

Berkata : "Laknat Alloh atas semua orang 'Alim. dgn ucapan ini berarti mengkaitkan keseluruhan salah satu nabi.
Berkata : " Saya melepaskan diri dari Allah ! "Saya bebas dari malaikat !, bebas dari nabi !, atau bebas dari syariat ! dan dari islam.
Berkata : "Ini bukan hukum syareat'' . (Berkata ketika ada satu hukum syara')
Berkata : "Saya tidak kenali hukum syara ini', dgn maksud menghina hukum Allah SWT.

- Berkata Sambil mengejek saat mengisi benjana dengan Ayat "(وكأسا دهاقا)" atau "(فكانت شرابا) " sambil menuang minuman, dgn tujuan menghina. Atau membaca Ayat (واذا كلوهم او وزنوهم يخسرون) ketika berada disisi timbangan atau takaran, (tujuan menghina). Atau Membaca Ayat (وحشرناهم فلم نغادر منهم احدا) Ketika ada rombongan lewat dgn tujuan menghina atau meremehkan Alqur'an.

- Membaca Ayat Alqur'an disebuah tempat dgn maksud menghina. Jika tidak, maka tidaklah kufur.

Namun menurut Syeikh Ahmad bin Hajar hal itu mendekati keharaman, demikian pula memaki para nabi dan malaikat,

- Dan berkata ,jika saya sholat maka saya akan menjadi penjual pelacur,
- Dan berkata sejak saya sholat tidak mendapat kebaikan.
- Dan berkata sholat itu sama sekali tidak pantas bagiku, dgn tujuan menghina sholat,meremehkan atau menganggap halalnya meninggalkan sholat atau merasa mendapat situasi buruk sebab sholat.
- Dan berkata kepada syarif (keturunan Nabi muhammad SAW), aku ini musuhmu,dan musuh kakekmu, dia bermaksud menghina nabi SAW.

- atau berkata selain dgn kata2 tersebut(mulai awal )tapi sama buruknya dgn kata2 diatas juga menjadikannya murtad,

Imam Syeikh Ahmad bin Hajar dalam kitab Al-I'lamu Biqowatihil islam, menghitung dan menerangkan banyak masalah murtad dan imam Qodi iyad juga demikian dalam kitab Assyifa, seyogyanya kita melihat dua kitab itu, siapa yang tak mengerti keburukan, tentu jatuh kedalamnya.

Kaidah untuk Memahami Kekufuran

Kesimpulannya bahwa setiap keyakinan, perbuatan atau perkataan yang menunjukkan penghinaan, meremehkan pada Allah, kitab-kitabNya, para Rasul-Nya, malaikatNya, syiar atau tanda agamaNya, hukum-hukumNya, janji Allah, ancaman Allah, maka itu kufur dan dosa. Maka hendaknya manusia berhati-hati akan hal itu.

Pasal: Akibat Hukum bagi Orang Murtad

Wajib bagi yang murtad yakni kufur setelah muslim untuk kembali segera pada Islam: dengan ucapan dan dua kalimat syahadat dan melepaskan diri dari penyebab murtad. Wajib baginya menyesali atas timbulnya hal itu dan berniat untuk tidak mengulangi hal serupa dan mengqadha kewajiban syariat pada masa itu seperti shalat lima waktu. Apabila tidak bertaubat yakni apabila tidak berbalik dari kufurnya dengan dua kalimat syahadat maka wajib disuruh bertaubat yakni disuruh kembali ke Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Dia tidak diterima kecuali Islam atau dibunuh yang dilakukan oleh Khalifah dengan syarat-syarat yang disebut dalam kitab besar.

Akibat dari murtadnya seseorang adalah hilang semua kebaikannya, batal puasanya pada siang hari dia murtad dan batal tayammumnya. Batal nikahnya sebelum dukhul (hubungan intim) begitu juga setelah dukhul apabila tidak kembali ke Islam dalam masa iddah. Tidak sah akad nikahnya walaupun pada perempuan murtad yang lain.

Haram sembelihannya dan hewannya najis. Tidak mewarisi, tidak menerima warisan, tidak disholati. Kufur orang yang menyolatinya kalau dia tahu keadaannya. Tidak dimandikan yakni diwajib dimandikan. Tidak wajib dikafani. Tidak wajib dikubur jenazahnya. Haram menguburnya di pemakanan muslim. Hartanya setelah matinya menjadi harta fai' untuk kemaslahatan umat Islam. Di akhirat dia disiksa selamanya apabila mati dalam keadaan murtad seperti yang lain yang mati dalam keadaan kafir.[]

Penyebab Murtad Pembatal Keislaman

Penyebab Murtad Pembatal Keislaman
Penyebab Murtad Pembatal Keislaman

Terjemah Sullam Taufiq pada halaman ini membahas tentang penyebab murtad (keluar dari Islam) yang terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu murtad keyakinan hati (i'tiqadi), murtad perbuatan (fi'liyah), murtad ucapan (qauliyah).

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 HB/-1777 M)

Daftar Isi

Teks Arab


فَصْلٌ : فِيما يُخرِجُ مِنَ الإسْلامِ

يَجِبُ على كُلِّ مُسْلِمٍ حِفْظُ إسْلامِهِ وصَوْنُهُ عَمّا يُفْسِدُهُ ويُبْطِلُهُ ويَقْطَعُهُ، وهو الرِّدَّةُ [أيِ الكُفْرُ بَعْدَ الإسْلامِ] والعِياذُ بِاللهِ تَعالَى، وقَدْ كَثُرَ في هذا الزَّمانِ التَّساهُلُ في الكَلامِ حَتَّى إنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ بَعْضِهِمْ ألْفاظٌ تُخْرِجُهُمْ عن الإسْلامِ، ولا يَرَوْنَ ذٰلك ذَنْبًا فَضْلًا عن كَوْنِهِ كُفْرًا، والرِّدَّةُ ثَلاثَةُ أقْسامٍ: اعْتِقاداتٌ وأفْعالٌ وأقْوالٌ، وكُلُّ قِسْمٍ يَتَشَعَّبُ شُعَبًا كَثِيرَةً.

أمْثِلَةُ الرِّدَّةِ بِالقَلْبِ (أيِ الاعْتِقاداتِ الكُفْرِيَّةِ): فَمِنَ الأوَّلِ:

الشَّكُّ في اللهِ، أو في رَسُولِهِ، أو القُرْآنِ، أو اليَوْمِ الآخِرِ، أو الجَنَّةِ، أو النّارِ، أو الثَّوابِ، أو العِقابِ، ونَحْوِ ذٰلك مِمّا هو مُجمَعٌ عليه [مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]؛

أو [مَنِ] اعتَقَدَ فَقْدَ [أي نَفْيَ] صِفَةٍ مِنْ صِفاتِ اللهِ الواجِبَةِ إجْماعًا [ممّا دلَّ عليه العَقْلُ] كَالعِلْمِ، أو [مَنْ] نَسَبَ له [تَعالَى] صِفَةً يَجِبُ تَنْزِيهُهُ عنها إجْماعًا [مِمّا يَدُلُّ العَقْلُ على أنَّهُ نَقْصٌ في حَقِّهِ تَعالَى]، كَالجِسْمِ، أو [مَنْ] حَلَّلَ مُحَرَّمًا بِالإجْماعِ مَعْلُومًا مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه، كالزِّنا واللِّواطِ والقَتْلِ والسَّرِقَةِ والغَصْبِ [أي أَخْذِ أَمْوالِ النّاسِ بِغَيْرِ حَقٍّ قَهْرًا]؛ أو [مَنْ] حَرَّمَ حَلالًا كذٰلك [أي مِمّا هو مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]، كالبَيْعِ والنِّكاحِ؛ أو [مَنْ] نَفَى وُجُوبَ مُجْمَعٍ عليه كذٰلك [أي مِمّا هو مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]، كَالصَّلَواتِ الخَمْسِ، أو سَجْدَةٍ منها، والزَّكاةِ، والصَّوْمِ، والحَجِّ، والوُضُوءِ؛ أو [مَنْ] أوْجَبَ ما لم يَجِبْ إجْماعًا كذٰلك [أي مِمّا هو مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]؛ أو [مَنْ] نَفَى مَشْرُوعِيَّةَ مُجْمَعٍ عليه كذٰلك [أي مِمّا هو مَعْلُومٌ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ مِمّا لا يَخْفَى عليه]، كَالرَّواتِبِ؛ أو [مَنْ] عَزَمَ على الكُفْرِ [مُطْلَقًا] في المُسْتَقْبَلِ؛ أو [مَنْ عَزَمَ] على فِعْلِ شَيْءٍ مِمّا ذُكِرَ [مِنَ الكُفْرِيّاتِ أو نَحْوِها في المُسْتَقْبَلِ]، أو تَرَدَّدَ فيه، لا وَسْوَسَةٌ؛

أو [مَنْ] أنْكَرَ صُحْبَةَ سَيِّدِنا أبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عنه؛ أو [مَنْ أنْكَرَ] رِسالَةَ واحِدٍ مِنَ الرُّسُلِ المُجْمَعِ على رِسالَتِهِ [أي مِمَّنْ رِسالَتُهُ مِنَ المَعْلُومِ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ الَّذِي لا يَخْفَى عليه، كَسَيِّدِنا عِيسَى وسَيِّدِنا مُوسَى عليهما الصَّلاةُ والسَّلامُ]؛ أو [مَنْ] جَحَدَ حَرْفًا مُجْمَعًا عليه مِنَ القُرْآنِ [وهو يَعْتَقِدُ أنَّهُ منه]، أو زادَ حَرْفًا فيه مُجْمَعًا على نَفْيِهِ [مَعَ كَوْنِهِ] مُعْتَقِدًا أنَّهُ [لَيْسَ] منه؛ أو [مَنْ] كَذَّبَ رَسُولًا، أو نَقَّصَهُ، أو صَغَّرَ اسْمَهُ بِقَصْدِ تَحْقِيرِهِ؛ أو [مَنْ] جَوَّزَ نُبُوَّةَ أحَدٍ بَعْدَ نَبِيِّنا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ.

أمْثِلَةُ الرِّدَّةِ بِالجَوارِحِ (أي الأفْعالِ الكُفْرِيَّةِ):

والقِسْمُ الثّاني أفْعالٌ، كَسُجُودٍ لِصَنَمٍ أو شَمْسٍ أو قَمَرٍ [أو شَيْطانٍ] [مُطْلَقًا]، أو مَخْلُوقٍ آخَرَ [على وَجْهِ عِبادَتِهِ].

Penyebab Murtad

Setiap orang islam wajib memelihara dan menjaga keislamannya agar jangan sampai ada sesuatu yg merusak,membatalkan dan memutus islamnya,sebab semua itu adalah murtad, semoga kita dilindungi oleh Alloh dari perbuatan murtad.

Pada zaman ini banyak orang yg sembrono dalama berkata2. Segingga yg diucapkan sungguh sungguh mengeluarkan dirinya dari agama islam,sementara dia sama sekali tidak pernah menganggap bahwa yg diucapkan itu dosa, apalagi dianggap kufur malah tak mungkin

Perbutan murtad terbagi menjadi tiga hal.

1. Murtad i'tiqod (keyakinan dalam hati)
2. Murtad fi'liyah (perbuatan)
3. Murtad qouliyah (ucapan)

Masing2 bagian bercabang amat banyak


Pertama, Murtad I'tiqadi

Murtad karena Kenyakinan
Setiap pembagian Sifat murtad bercabang cabang dgn cabang yg banyak. Sebagian dari murtad I'tiqod yaitu:

- Meragukan adanya Allah,
- Meragukan utusan Allah,
- Meragukan kebenaran Alqur'an,
- Meragukan hari kiyamat, Meragukan
- Meragukan adanya surga dan neraka, Meragukan
- Meragukan adanya pahala,
- Meragukan siksaan Allah
- Meragukan hukum yg disepakati para ulama mujtahid.

- Berkeyakinan tidak ada sifat wajib bagi Alloh yg telah disepakati ulama mujtahid, Serperti 'ilmu, Menisbatkan Alloh dgn sifat yang seharusnya wajib mensucikanya secara ijma' ulama seperti mengatakan Allah berjasad

- Menghalalkan perkara haram yg di sepakati Ulama Mujtahid sdh di ketauhui secara agama. Seperti : zina, liwath (homosex), Pembantaian, Pencuarian, Merampok.

- Mengharamkan yang halal seperti jual beli dan nikah

- Meniadakan kewajiban yg telah disepakati ulama, seperti sholat lima waktu, atau menghilangkan satu sujud dari Sholat, Meniadakan kewajiban Zakat, Puasa, Haji, Wudlu.
- Mewajibkan apa yg tidak wajib secara ijma' ulama
- Meniadakan ibadah yg di syareatkan agama,' seperti sholat sunah rowatib (qobliyah-ba'diyah)
- Berencana kufur (Murtad ) akan masa datang.
- Berencana mengerjakan sesuatu pada keadaan dari apa yg telah disebutkan
- Bimbang dalam agama, Bukan karena waswas.
- Mengingkari sahabat-sahabat nabi kita seperti abu Bakar, Umar ,Utsman, Ali.
- Mengingkari kerasulan salah satu rosul Allah menurut Ijma' ulama.
- Mengingkari satu huruf dari Alqur'an yang telah disepakati ulama
- Menambahkan satu huruf yg tidak dalam Alquran menurut Ijma' ulama sedangkan dia meyakini itu salah satu huruf Alquran.
- Mendustakan dan meremehkan serta men-tashgir nama rasul dgn tujuan menghina,
- Menyangka ada nabi sesudah nabi muhammad SAW.

Kedua, Murtad Karena Perbuatan (Murtad Fi'liyah) yaitu seperti :

- Menyembah berhala,
- Menyembah matahari,
- Menyembah mahluk lainnya[]