7/24/2017

Hukum Iddah

Tags

Hukum Iddah
Iddah adalah masa di mana wanita sedang dalam masa menunggu bersihnya rahimnya dari suami yang berpisah dengannya. Baik karena cerai atau ditinggal mati suami. Iddah dilakukan dalam bentuk masa suci (quru'), atau kelahiran atau bulan.

Nama kitab: Terjemah Kitab Fathul Qarib
Judul kitab asal: Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Alfazh Al-Taqrib atau Al-Qawl Al-Mukhtar fi Syarh Ghayatil Ikhtishar (فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب أو القول المختار في شرح غاية الإختصا)
Pengarang: Abu Abdillah Muhammad bin Qasim bin Muhammad Al-Ghazi ibn Al-Gharabili
Bidang studi: Fiqih madzhab Syafi'i

Daftar Isi


Hukum Iddah

(فصل): في أحكام العدة وأنواع المعتدة وهي لغة الاسم من اعتد، وشرعاً تربص المرأة مدة يعرف فيها براءة رحمها بأقراء أو أشهر أو وضع حمل

(والمعتدة على ضربين متوفى عنها) زوجها (وغير متوفى عنها فالمتوفى عنها) زوجها (إن كانت) حرة (حاملاً فعدتها) عن وفاة زوجها (بوضع الحمل) كله حتى ثاني توأمين مع إمكان نسبة الحمل للميت ولو احتمالاً كمنفي بلعان، فلو مات صبي لا يولد لمثله عن حامل فعدتها بالأشهر لا بوضع الحمل (وإن كانت حائلاً فعدتها أربعة أشهر وعشراً) من الأيام بلياليها وتعتبر الأشهر بالأهلة ما أمكن، ويكمل المنكسر ثلاثين يوماً (وغير المتوفى عنها) زوجها (إن كانت حاملاً فعدتها بوضع الحمل) المنسوب لصاحب العدة

(وإن كانت حائلاً وهي من ذوات) أي صواحب (الحيض فعدتها ثلاثة قروء وهي الأطهار) وإن طلقت طاهراً بأن بقي من زمن طهرها بقية بعد طلاقها انقضت عدتها بالطعن في حيضة ثالثة، أو طلقت حائضاً أو نفساء انقضت عدتها بالطعن في حيضة رابعة، وما بقي من حيضها لا يحسب قرءاً.

(وإن كانت) تلك المعتدة (صغيرة) أو كبيرة لم تحض أصلاً ولم تبلغ سن اليأس أو كانت متحيرة (أو آيسة فعدتها ثلاثة أشهر) هلالية إن انطبق طلاقها على أول الشهر، فإن طلقت في أثناء شهر فبعده هلالان، ويكمل المنكسر ثلاثين يوماً من الشهر الرابع. فإن حاضت المعتدة في الأشهر، وجب عليها العدة بالأقراء أو بعد انقضاء الأشهر لم تجب الأقراء

(والمطلقة قبل الدخول بها لا عدة عليها) سواء باشرها الزوج فيما دون الفرج أم لا (وعدة الأمة) الحامل إذا طلقت طلاقاً رجعياً أو بائناً (بالحمل) أي بوضعه بشرط نسبته إلى صاحب العدة وقوله (كعدة الحرة) الحامل أي في جميع ما سبق (وبالأقراء أن تعتد بقرءين) والمبعضة والمكاتبة وأم الولد كالأمة (وبالشهور عن الوفاة أن تعتد بشهرين وخمس ليال و) عدتها (عن الطلاق أن تعتد بشهر ونصف) على النصف وفي قول شهران وكلام الغزالي يقتضي ترجيحه، وأما المصنف فجعله أولى حيث قال (فإن اعتدت بشهرين كان أولى) وفي قول عدتها ثلاثة أشهر، وهو الأحوط كما قال الشافعي رضي الله عنه وعليه جمع من الأصحاب.

Pengertian Iddah

‘Iddah secara bahasa adalah kalimat isim dari fi’il madli “i’tadda.”

Dan secara syara’ adalah penantian seorang perempuan dalam jangka waktu yang bisa diketahui dalam rentan waktu tersebut bahwa kandungannya telah bersih, dengan beberapa masa suci, beberapa bulan atau melahirkan kandungan.

Macam-Macam Mu’taddah (Wanita Yang Menjalankan ‘Iddah)

Wanita mu’taddah ada dua macam, yaitu mu’taddah mutawaffa ‘anha zaujuha (yang ditinggal mati suami) dan mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha (yang tidak ditinggal mati suami).

Wanita Iddah karena Ditinggal Mati Suami (Mu’taddah Mutawaffa‘Anha Zaujuha)

Untuk mu’taddah mutawaffa ‘anha zaujuha, jika berstatus merdeka dan sedang hamil, maka ‘iddahnya sebab wafatnya sang suami adalah dengan melahirkan kandungan secara utuh hingga kandungan yang berupa dua anak kembar dengan syarat dimungkinkan nasab sang anak bersambung pada suami yang meninggal dunia walaupun hanya kemungkinan saja seperti anak yang dinafikan dengan sumpah li’an.

Sehingga, seandainya ada anak kecil meninggal dunia yang tidak mungkin bisa memiliki keturunan dan meninggalkan istri yang sedang hamil, maka ‘iddahnya sang istri adalah dengan melewati beberapa bulan, tidak dengan melahirkan kandungan.

Jika mu’taddah mutawaffa ‘anha zaujuha itu tidak dalam keadaan hamil, maka masa ‘iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari sepuluh malam.

Empat bulan tersebut dihitung sesuai dengan perhitungan tanggalan yang memungkinkan, dan untuk tanggal bulan yang tidak utuh, maka disempurnakan menjadi tiga puluh hari.

Wanita Iddah Bukan Karena Ditinggal Mati (Mu’taddah Ghairu Mutawaffa ‘Anha Zaujuha)

Untuk mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha jika dalam keadaan hamil, maka ‘iddahnya dengan melahirkan kandungan yang bisa dihubungkan nasabnya pada suami yang memiliki ‘iddah tersebut.

Jika mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha itu tidak dalam keadaan hamil dan ia termasuk golongan wanita yang memiliki / memungkinkan haidl, maka ‘iddahnya adalah tiga kali aqra’, yaitu tiga kali suci.

Jika ia tertalak saat dalam keadaan suci dengan arti setelah tertalak masih berada dalam waktu suci, maka ‘iddahnya habis dengan mengalami haidl yang ketiga.

Atau tertalak saat dalam keadaan haidl atau nifas, maka ‘iddahnya habis dengan mengalami haidl yang ke empat.

Sedangkan sisa masa haidlnya tidak terhitung masa suci.

Jika mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha tersebut masih kecil atau sudah besar dan sama sekali belum pernah haidl dan belum mencapai usia ya’si (monupause), atau dia adalah wanita yang sedang mengalami mutahayyirah (bingung akan haidl dan sucinya) atau sudah mencapai usia monupause, maka ‘iddahnya adalah tiga bulan sesuai tanggal jika talaknya bertepatan dengan awal bulan.

Sehingga, jika ia tertalak di tengah bulan, maka ‘iddahnya adalah dua bulan setelahnya sesuai dengan tanggal dan untuk jumlah bulan yang tidak utuh disempurnakan menjadi tiga puluh hari dari bulan ke empat.

Jika mu’taddah ghairu mutawaffa ‘anha zaujuha -yang telah disebutkan ini- mengalami haidl di saat menjalankan ‘iddah dengan penghitungan bulan, maka wajib bagi dia melakukan ‘iddah dengan penghitungan masa suci.

Atau mengalami haidl setelah selesai menjalankan ‘iddah dengan penghitungan beberapa bulan, maka ia tidak wajib menjalankan ‘iddah lagi dengan penghitungan masa suci.

Wanita yang tertalak sebelum sempat dijima’, maka tidak ada kewajiban ‘iddah bagi wanita tersebut.

Baik sang suami sudah pernah berhubungan badan dengannya selain pada bagian farji ataupun tidak.

‘Iddahnya Budak Wanita

‘Iddahnya budak wanita yang sedang hamil ketika tertalak raj’i atau ba’in adalah dengan melahirkan kandungan dengan syarat anak tersebut bisa dihubungkan nasabnya pada lelaki yang memiliki ‘iddahnya (suami yang mentalak).

Ungkapan mushannif “seperti ‘iddahnya wanita merdeka yang sedang hamil” maksudnya di dalam semua hukum yang telah dijelaskan di depan.

Dan jika ‘iddah dengan beberapa masa suci, maka budak wanita tersebut melaksanakan ‘iddah dengan dua kali masa suci.

Budak wanita muba’adl, mukatab, dan ummu walad hukumnya seperti budak wanita yang murni.

Jika budak wanita tersebut melaksanakan ‘iddah dengan penghitungan bulan sebab ditinggal mati suami, maka ‘iddahnya dengan dua bulan lima hari.

‘Iddahnya budak wanita sebab talak adalah ‘iddah dengan satu bulan setengah, yaitu separuh dari ‘iddahnya wanita merdeka.

Satu pendapat mengatakan bahwa ‘iddahnya adalah dua bulan, dan ungkapan imam al Ghazali menetapkan keunggulan pendapat ini.

Sedangkan mushannif hanya menjadikan dua bulan sebagai bentuk yang lebih utama saja, sehingga beliau berkata, “sehingga, jika budak wanita itu melaksanakan ‘iddah dengan dua bulan, maka itu lebih utama.”

Satu pendapat mengatakan bahwa ‘iddahnya adalah tiga bulan, dan ini adalah yang lebih hati-hati sebagaimana yang disampaikan oleh imam asy Syafi’i Ra.

Dan ini pendapat yang diikuti oleh beberapa golongan al ashhab (ulama madzhab Syafi'i).[alkhoirot.org]

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com

Untuk Konsultasi Agama kirim ke: alkhoirot@gmail.com
Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini!

EmoticonEmoticon