Bab Ijtihad dan Taqlid Madzhab Maliki
Nama kitab: Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki Al-Muqaddimah fi al-Ushul
Judul kitab asal: Al-Muqaddimah fi al-Ushul li al-Qishar (المقدمة في الأصول للقصار )
Penulis: Imam Abul Hasan Ibn al-Qishar (أبو الحسن ابن القصار)
Nama lengkap: Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Umar ibn al-Qishar al-Maliki (أبو الحسن، علي بن عمر بن أحمد بن سعد الخولاني البغدادي المالكي، الشهير بـ"ابن القصار)
Tempat/Lahir: Baghdad, Irak,
Tempat/Wafat: Baghdad, Irak, 297 atau 398 H/ 25 Juli 1007 atau 1008 M
Penerjemah: alkhoirot.org / Al-Khoirot Research and Publication
Bidang studi: Ushul fikih, Hukum syariah
Daftar Isi
- Bab: Penjelasan Mengenai Hal yang Wajib Dilakukan Ijtihad dan yang Tidak Wajib
- Bab: Penjelasan Mengenai Hal yang Boleh Taqlid dan yang Tidak Boleh
- Bab: Penjelasan Mengenai Penggunaan Fatwa yang Diterima oleh Orang Awam
- Bab: Bertaqlid kepada Ulama yang Sudah Wafat
- Bab: Mengenai Apa yang Ditemukan dalam Kitab Ulama
- Bab: Mengenai Penerjemahan Makna
- Bab: Kewajiban Dalil-Dalil Sam'iyyah (Wahyu)
- Kembali ke: Terjemah Ushul Fikih Mazhab Maliki (al-Muqaddimah fil Ushul)
باب القول فيما يلزم فيه الاجتهاد وما لا يلزم
ومذهب مالك
ـ رحمه الله ـ أنه إذا دخل رجل إلى قرية خراب لا أحد فيها ، وحضر وقت الصلاة ،
فإن كان من أهل الاجتهاد ، ولم تخف عليه دلائل القبلة ، يرجعإلى ذلك ، ولم يلتفت
إلى محاريب يشاهدها في آثار مساجد قد خربت ، فإن خفيت عليه الدلائل أو لم يكن من
أهل الاجتهاد ، وكانت القرية للمسلمين ؛ فإنه يصلي إلى مصلى تلك المحاريب ؛ لأن
الظاهر من بلاد المسلمين أن مساجدهم وآثارهم لا تخفى ، وأن قبلتهم وحاربهم على ما
توجبه الشريعة .
وأما إذا طانت المحاريب منصوبة في بلاد المسلمين
العامرة [28] وفي المساجد التي تكثر فيها الصلوات وتتكرر ، ويعلم أن إماما
للمسلمين بناها ، أو اجتمع أهل البلد على بنائها ، فإن العالم والعامي يصليان إلى
تلك القبلة ، ولا يحتاجان في ذلك إلى الاجتهاد ؛ لأنه معلوم أنها لم تبن إلا بعد
اجتهاد العلماء في ذلك .
وأما المساجد التي لا تجري هذا المجرى ، فإن
العالم إذا كان من أهل الاجتهاد ، فسبيله أن يستدل على الجهة ، فإن خفيت عليه
الدلائل صلى إلى ذلك املحراب إذا كان بلدا للمسلمين عامرا ؛ لأن هذا أقوى من
اجتهاده مع خفاء الدلائل عليه .
فأما العامي فيصلي في سائر المساجد ،
إذ ليس من أهل الاجتهاد ، والله أعلم . [29] .
Bab: Penjelasan Mengenai Hal yang Wajib Dilakukan Ijtihad dan yang Tidak Wajib
"Mazhab Malik —rahimahullah— berpendapat bahwa apabila seseorang memasuki sebuah desa yang telah hancur (kosong) dan tidak ada seorang pun di sana, lalu tiba waktu shalat, maka:
Bagi Ahli Ijtihad: Jika ia memiliki kemampuan untuk berijtihad dan tanda-tanda (petunjuk) arah kiblat tidak samar baginya, maka ia harus merujuk pada ijtihadnya sendiri. Ia tidak perlu menoleh (memperhatikan) mihrab-mihrab yang ia lihat pada sisa-sisa bangunan masjid yang telah hancur tersebut.
Jika Tanda Kiblat Samar atau Bukan Ahli Ijtihad: Namun, jika tanda-tanda kiblat samar baginya atau ia memang bukan orang yang mampu berijtihad, sedangkan desa tersebut dulunya milik kaum Muslimin, maka ia shalat menghadap ke arah mihrab-mihrab tersebut. Hal ini dikarenakan pada dasarnya di negeri Muslim, masjid dan peninggalan mereka tidaklah samar (asal-usulnya), dan kiblat serta mihrab mereka dibangun berdasarkan apa yang diwajibkan oleh syariat.
Kondisi di Negeri Muslim yang Ramai (Makmur):
Adapun jika mihrab-mihrab tersebut terpasang di negeri Muslim yang berpenghuni ('amirah) dan di masjid-masjid yang sering ditegakkan shalat secara berjemaah, serta diketahui bahwa imam kaum Muslimin (pemerintah) yang membangunnya atau penduduk kota sepakat membangunnya, maka dalam kondisi ini:
Baik orang berilmu (alim) maupun orang awam shalat menghadap ke arah kiblat tersebut.
Mereka berdua tidak perlu melakukan ijtihad dalam menentukan arahnya, karena sudah maklum (diketahui) bahwa masjid tersebut tidaklah dibangun melainkan setelah adanya ijtihad para ulama dalam menentukannya.
Kondisi Masjid Lainnya:
Adapun pada masjid-masjid yang tidak menempati kedudukan tersebut (tidak dibangun secara resmi atau kolektif), maka bagi seorang alim yang mampu berijtihad, jalannya adalah mencari dalil/petunjuk arah kiblat. Jika tanda-tandanya tetap samar baginya, maka ia boleh shalat menghadap mihrab tersebut selama ia berada di negeri Muslim yang makmur; karena hal ini lebih kuat daripada ijtihad pribadinya di saat tanda-tanda kiblat sedang samar baginya.
Bagi Orang Awam:
Sedangkan bagi orang awam, ia boleh shalat di semua masjid (dengan mengikuti mihrab yang ada), karena ia memang bukan termasuk ahli ijtihad. Wallahu a'lam."
باب القول فيما يجوز فيه التقليد وما لا يجوز
ولا يجوز عند مالك ـ
رحمه الله ـ لعالم ولا عامي أن يقلد في زوال الشمس ؛ لأنه أمر يشاهد ، ويصل كل
واحد منهم إلى معرفته ، بل العامي يقلد العالم في أن وقت الظهر هو إذا زالت الشمس
، ويقلده في أوقات الصلوات أنها هي أوقات التي وقتها [30] رسول الله صلى الله
عليه وسلم ، لأن هذا أمر يعلمه أهل العلم بالتوقيف ، وليس مما يشاهد ،فإن كان في
عامة من يخفى عليه علم الزوال ولا يتمكن من إدراكه ، جاز أن يقلد فيه كما يقلد في
سائر ما لا معرفة له به ، والله أعلم . [31] .
Bab: Penjelasan Mengenai Hal yang Boleh Taqlid dan yang Tidak Boleh
"Menurut Imam Malik —rahimahullah—: Tidak diperbolehkan bagi seorang ilmuwan (ulama) maupun orang awam untuk bertaqlid (ikut-ikutan pendapat orang lain) dalam menentukan tergelincirnya matahari (zawal).
Alasannya:
Karena hal tersebut adalah perkara yang dapat disaksikan langsung oleh mata (musyahadah), dan setiap individu memiliki kemampuan untuk mengetahuinya sendiri (dengan melihat bayangan atau posisi matahari).
Pembedaan antara Fakta Lapangan dan Ketentuan Syariat:
Namun, orang awam bertaqlid kepada ulama dalam dua hal berikut:
Bahwa waktu (dimulainya) shalat Zhuhur adalah ketika matahari tergelincir.
Mengenai waktu-waktu shalat secara umum, bahwa itulah waktu-waktu yang telah ditetapkan (tauqit) oleh Rasulullah ﷺ.
Hal ini dikarenakan pengetahuan tersebut (timing shalat) didapatkan para ahli ilmu melalui jalur riwayat/ketetapan wahyu (tauqif), dan bukan merupakan sesuatu yang bisa diketahui hanya dengan pengamatan mata semata (tanpa dasar syariat).
Pengecualian:
Apabila ada orang awam yang memang buta atau tersembunyi baginya pengetahuan tentang cara melihat tergelincirnya matahari, serta ia tidak mungkin bisa mengetahuinya sendiri, maka boleh baginya bertaqlid dalam hal tersebut, sebagaimana ia boleh bertaqlid dalam perkara lain yang tidak ia ketahui. Wallahu a'lam."
باب القول في استعمال العامي ما يفتى له
يحتمل مذهب مالك إذا استفتى
العامي العالم في نازلة فأفتاه ، ثم نزلت مثل تلك النازلة بالعامي مرة أخرى ،
فيحتمل أن يقال إنه يستعمل تلك الفتوى ولا يحتاج إلى أن يسأل ثانية ؛ لأنه على
الظاهر قد ساغ له ، ولو كلف ذلك لشق عليه ، وهذا إذا كانت المسألة الأولى بعينها
، وما لا إشكال فيه على أحد .
ويحتمل أن يقال إن عليه أن يسأل ، ولعله
الأصح ؛ لأنه إنما [32] يعمل باجتهاد ذلك الفقيه ، ولعل اجتهاده في وقت إفتائه قد
تغير قد تغير عما كان أفتاه به في ذلك الوقت ، وهذا مثل من يجتهد في القبلة فيصلى
، ثم يريد صلاة صلاة أخرى ، فإنه يجتهد ثانية ، ولا يعمل على الاجتهاد الأول .
[33] .
Bab: Penjelasan Mengenai Penggunaan Fatwa yang Diterima oleh Orang Awam
"Terdapat dua kemungkinan dalam Mazhab Malik apabila seorang awam
meminta fatwa kepada seorang ulama mengenai suatu kejadian (nazilah) lalu
ulama tersebut memberinya fatwa, kemudian kejadian yang serupa menimpa orang
awam tersebut di lain waktu:
Kemungkinan Pertama:
Dikatakan
bahwa ia boleh menggunakan fatwa tersebut (yang lama) dan tidak perlu bertanya
untuk kedua kalinya. Karena secara lahiriah, hal itu telah dibenarkan baginya.
Jika ia dibebani untuk bertanya kembali (setiap kali kejadian berulang), maka
hal itu akan menyulitkannya (masyaqqah). Ini berlaku jika masalahnya
benar-benar identik (bi 'ainihi) dan tidak ada keraguan padanya bagi siapa
pun.
Kemungkinan Kedua (Pendapat yang Dianggap Lebih Kuat):
Dikatakan
bahwa ia wajib bertanya kembali, dan barangkali ini adalah pendapat yang lebih
sahih. Alasannya adalah:
Sesungguhnya ia beramal
berdasarkan ijtihad ahli fikih tersebut.
Ada
kemungkinan ijtihad sang ulama pada saat itu telah berubah dari ijtihad yang
ia berikan sebelumnya.
Hal ini diibaratkan seperti orang yang
berijtihad untuk menentukan arah kiblat saat hendak shalat; ketika ia ingin
melakukan shalat yang lain (di waktu atau kondisi yang berbeda), maka ia harus
berijtihad kembali dan tidak boleh hanya bersandar pada ijtihad yang
pertama."
باب القول في تقليد من مات من العلماء
إذا حكي للعامي عن مالك ـ رحمه
الله ـ أو عن عن غيره من العلماء ـ وهو في غير عصره ـ فتوى في مسألة ؛ فإنه يجوز
للعامي أن يقلد أن يقلد مالكا بعد موته ، وكذلك غيره من العلماء الذين اشتهرت
إمامتهم ، لأن العامي إذا جاز له أن يعمل على اجتهاد بعض أصحاب مالك ، وكان عمله
على اجتهاد مالك أولى ، فإن لم يكن أولى منه فهو مثله ، ويكون مالك كأنه باق ؛
لأن قوله بمنزلته وهو حي ، وتصير منزلة العامي مع مالك كمنزلة مالك مع الصحابي في
أنه يرجع على قوله وإن كان ميتا ، ويكون قول الصحابي أولى من أهل عصر مالك ـ رحمة
الله عليهم ـ [34] .
4. Bab: Bertaqlid kepada Ulama yang Sudah Wafat
"Apabila diceritakan kepada seorang awam mengenai sebuah fatwa dalam suatu
masalah dari Imam Malik —rahimahullah— atau dari ulama lainnya—sedangkan ia
(orang awam tersebut) tidak hidup sezaman dengan ulama itu—maka diperbolehkan
bagi si awam untuk bertaqlid (mengikuti) Imam Malik setelah kewafatannya.
Demikian pula (boleh diikuti) ulama-ulama lainnya yang telah masyhur keimaman
(otoritas) mereka.
Argumen dan Logikanya:
Hal ini dikarenakan
apabila seorang awam diperbolehkan beramal berdasarkan ijtihad sebagian
murid/pengikut Imam Malik (yang masih hidup), maka beramal berdasarkan ijtihad
Imam Malik sendiri tentu lebih utama. Jika pun tidak dianggap lebih utama,
maka kedudukannya minimal setara.
Maka, keberadaan Imam Malik
(dalam bentuk pendapatnya) seolah-olah ia masih tetap ada; karena perkataannya
(yang terdokumentasi) menempati kedudukan yang sama dengan saat ia masih
hidup.
Perbandingan Hierarki Otoritas:
Kedudukan orang awam
terhadap Imam Malik adalah seperti kedudukan Imam Malik terhadap seorang
Sahabat Nabi; dalam hal ia (Imam Malik) merujuk kepada pendapat Sahabat
meskipun Sahabat tersebut telah wafat. Dan pendapat Sahabat itu lebih utama
(untuk diikuti) daripada pendapat orang-orang yang sezaman dengan Imam Malik
—semoga rahmat Allah tercurah kepada mereka semua—."
باب القول فيما يوجد في كتب العلماء
قال القاضي ـ رحمه الله ـ :
إذا
وجد الرجل كتابا مترجما بكتاب (( موطأ مالكا أو (( كتاب الثوري )) أو (( الأوزاعي
)) أو (( الشافعي )) ، فهل يجوز له أن يقول [35] .في شيئ يجده فيه : قال مالك ،
وقال الثوري ، وقال الأوزاعي ، وقال الشافعي ؟ .
قال القاضي ـ رحمه
الله ـ :
فهذا سبيله أن ينظر ، فإن كان من الكتب التي قد اشتهر ذكرها
مثل (( الموطأ )) لمالك ـ رحمه الله ـ و (( جامع )) الثوري و (( كتاب )) الربيع ،
جاز أن يعزى ذلك إلى المترجم عنه إذا كان الكتاب صحيحا مقروءا على العلماء ،
ومعارضا بكتبهم من [36] الكتب التي لم يشتهر وينتشر ذكرها ، لم يجز ذلك حتى يروي
ما فيها عمن تنسب إليه بروايات الثقات عنه ، والله أعلم . [37] .
5. Bab: Mengenai Apa yang Ditemukan dalam Kitab Ulama
Al-Qadhi (Ibnul Qishshar) —rahimahullah— berkata:
"Jika seseorang
menemukan sebuah kitab yang diberi judul sebagai 'Kitab Muwatha’ Malik' atau
'Kitab Ats-Tsauri' atau '(Kitab) Al-Awza’i' atau '(Kitab) Asy-Syafi’i', apakah
diperbolehkan baginya untuk mengatakan terhadap sesuatu yang ia temukan di
dalamnya: 'Malik berkata demikian', 'Ats-Tsauri berkata demikian', 'Al-Awza’i
berkata demikian', atau 'Asy-Syafi’i berkata demikian'?"
Al-Qadhi
—rahimahullah— menjawab:
"Jalan dalam masalah ini adalah dengan
menelitinya:
Jika kitab tersebut termasuk kitab-kitab
yang kemasyhurannya sudah tersebar luas, seperti Al-Muwatha’ karya Malik,
Al-Jami’ karya Ats-Tsauri, dan Kitab karya Ar-Rabi’ (murid Syafi'i), maka
diperbolehkan menisbatkan isinya kepada penulis yang tercantum di judul
tersebut. Hal ini berlaku jika naskah kitabnya sahih, telah dibacakan di
hadapan para ulama, serta telah dibandingkan (mu’aradhah) dengan naskah-naskah
milik para ulama lainnya.
Adapun kitab-kitab yang
tidak masyhur dan belum tersebar luas penyebutannya, maka tidak diperbolehkan
(menisbatkan isinya secara langsung) sampai ia meriwayatkan apa yang ada di
dalamnya dari orang yang dinisbatkan tersebut melalui jalur periwayatan
orang-orang yang terpercaya (tsiqat). Wallahu a'lam."
باب القول في الترجمة عن المعنى
مذهب مالك ـ رحمه الله ـ إذا كان
الفقيه عربي اللسان ولا يسحن الفارسية أو غيرها من الألسن ، وكان المستفتي عجميا
لا يحسن العربية ، فجاء رجل يحسن لسان العرب والعجم وهو عامي فترجم للفقيه عن
الأعجمي ما قاله ، وترجم عن الفقيه للأعجمي ما قاله وأفتاه به ، فيجوز ذلك ويصير
طريقه طريق الخبر .
ويجب أن يكون الترجمان عدلا كما نقول في نقل الخبر
[ 38] ، ويكون معبرا للفتوى بلسانه على حسب ما قاله الفقيه من غير تغيير له عن
معناه .
وكذلك إذا بعث الرجل بسؤاله إلى الفقيه ، فأجابه الفقيه بالخط
على سؤاله في رقعة ، فيجب أن يكون الرسول ثقة ؛ لأن هذا من الأمور التي جرت
العادة بها في كل عصر وزمان ، وإلى الناس ضرورة إليها ، والله أعلم . [39] .
6. Bab: Mengenai Penerjemahan Makna
Jika seorang ulama hanya bisa bahasa Arab dan pemohon fatwa hanya bisa bahasa
asing (misal: Persia), lalu ada orang awam yang menguasai kedua bahasa
tersebut menjadi penerjemah:
Hal ini diperbolehkan dan
statusnya seperti penyampaian berita (khabar).
Syarat: Penerjemah harus seorang yang adil (jujur) dan harus menyampaikan makna fatwa secara akurat sesuai maksud ulama tanpa mengubah maknanya.
Demikian pula apabila seseorang mengirimkan pertanyaannya kepada seorang ahli fikih (ulama), lalu ulama tersebut menjawabnya dengan tulisan tangan pada lembaran pertanyaan itu sendiri, maka wajib bagi utusan (pembawa pesan) tersebut untuk menjadi orang yang terpercaya (tsiqah). Hal ini dikarenakan perkara tersebut termasuk hal-hal yang telah menjadi kebiasaan di setiap masa dan zaman, serta adanya kebutuhan mendesak (dharurah) manusia terhadap hal tersebut. Wallahu a'lam.
باب الكلام في وجوب أدلة السمع
قال اقاضي ـ رحمه الله ـ :
قد
بينا قول مالك ـ رحمه الله ـ في بطلان التقليد ، ووجوب الرجوع إلى الأصول
ومعانيها ، فمن الأصول السمعية عند مالك : الكتاب ، والسنة ، والإجماع ،
والاستدلالات منها والقياس عليها . [40]
7. Bab: Kewajiban Dalil-Dalil Sam'iyyah (Wahyu)
Ibnul Qishshar menegaskan kembali bahwa dalam Mazhab Malik, taqlid (bagi
ulama) adalah batal/dilarang. Wajib hukumnya merujuk pada prinsip dasar
(al-ushul). Sumber hukum wahyu (Sam'iyyah) menurut Imam Malik adalah:
1.
Al-Qur'an (Al-Kitab)
2. As-Sunnah
3. Al-Ijma' (Kesepakatan Ulama)
4.
Istidlal (pendalilan dari sumber di atas) dan Qiyas (analogi).
