Sumber Syariah Islam menurut Mazhab Maliki
Nama kitab: Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki Al-Muqaddimah fi al-Ushul
Judul kitab asal: Al-Muqaddimah fi al-Ushul li al-Qishar (المقدمة في الأصول للقصار )
Penulis: Imam Abul Hasan Ibn al-Qishar (أبو الحسن ابن القصار)
Nama lengkap: Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Umar ibn al-Qishar al-Maliki (أبو الحسن، علي بن عمر بن أحمد بن سعد الخولاني البغدادي المالكي، الشهير بـ"ابن القصار)
Tempat/Lahir: Baghdad, Irak,
Tempat/Wafat: Baghdad, Irak, 297 atau 398 H/ 25 Juli 1007 atau 1008 M
Penerjemah: alkhoirot.org / Al-Khoirot Research and Publication
Bidang studi: Ushul fikih, Hukum syariah
Daftar Isi
- Fasal Mengenai Al-Kitab (Al-Qur'an)
- Fasal Mengenai As-Sunnah
- Fasal Mengenai Al-Ijma' (Konsensus)
- Fasal Mengenai Al-Istidlal (Penalaran) dan Al-Qiyas (Analogi)
- Fasal Mengenai Al-Qiyas (Analogi)
- Bab: Penjelasan Mengenai Al-Khushush (Khusus) dan Al-Umum (Umum)
- Bab: Penjelasan Mengenai Perintah (Al-Awamir) dan Larangan (An-Nawahi)
- Kembali ke: Terjemah Ushul Fikih Mazhab Maliki (al-Muqaddimah fil Ushul)
فصل في الكتاب
وكتاب الله عز وجل هو الذي كما وصفه الله تعالى فقال :
{ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ
وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ } [فصلت : 41ـ 42] .
وقال
تعالى : { لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ } [البقرة:2 ] .
وقال
تعالى : { مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ } [الأنعام : 38 ] .
وقال
تعالى : { فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآَنَهُ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا
بَيَانَهُ } [القيامة : 17 ـ 18] .
وقال عز وجل : { قُلْ لَئِنِ
اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا
الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
} [الإسراء : 88] .
أي معاونا . [41]
فقطع عذر الخلق به
وبإعجازه ، وظهر عجزهم على أن يأتوا بسورة من مثله ، فثبتت آياته ، ولزمت حجته .
[42] .
Fasal Mengenai Al-Kitab (Al-Qur'an)
"Kitab Allah Azza wa Jalla adalah kitab yang sebagaimana telah
disifatkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya:
'Dan
sesungguhnya ia adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya kebatilan
baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha
Bijaksana lagi Maha Terpuji.' (QS. Fussilat: 41-42).
Allah Ta'ala
juga berfirman:
'Tidak ada keraguan di dalamnya;
petunjuk bagi mereka yang bertakwa.' (QS. Al-Baqarah: 2).
Allah
Ta'ala berfirman:
'Tiadalah Kami lupakan sesuatu pun
dalam Al-Kitab.' (QS. Al-An'am: 38).
Allah Ta'ala berfirman:
'Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
Kemudian, sesungguhnya tanggungan Kamilah penjelasannya.' (QS. Al-Qiyamah:
18-19).
Allah Azza wa Jalla berfirman:
'Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang
serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa
dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang
lain.' (QS. Al-Isra: 88).
Makna zhahira (ظهيرا) adalah
pembantu/penolong.
Maka Allah memutus alasan bagi makhluk melalui
Al-Qur'an dan mukjizatnya. Telah nyata kelemahan mereka untuk mendatangkan
meski hanya satu surah yang serupa dengannya. Dengan demikian, tetaplah
(kebenaran) ayat-ayatnya dan wajiblah (mengikuti) hujah-hujahnya."
فصل في السنة
وأم سنة الرسول صلى الله عليه وسلم ، فأصل ذلك في كتاب
الله عز وجل ، قال الله تعالى : { مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
} [النساء :80] .
وقال عز وجل : { وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا
الرَّسُولَ } [ المائدة : 92] .
وقال تعالى : { لَا تَجْعَلُوا
دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ... } إلى قوله : {
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ } الآية [ النور : 63] .
وقال
تعالى : { وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ
فَانْتَهُوا } [الحشر:7] .
وقال عز وجل : { فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي
شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ } [ النساء : 59] [43]
وقال
تعالى : { فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ
بَيْنَهُمْ ... } إلى قوله { تَسْلِيمًا } [ النساء : 65] .
فأوجب
الله عز وجل علينا طاعة رسوله ، كما أوجب علينا طاعة نفسه سبحانه ، وقرن طاعته
بطاعته، وامر بأخذ ما أتى به ، والانتهاء عما نهى عنه .
وأخبر أنه
ولاَّه بيان ما أنزل إليه فقال عز وجل : { وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ } [النحل :44] .
وقال :
{ وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى } [النجم:3 ـ 4]
.
إلى آيات كثيرة تدلعلى وجوب السنة كوجوب الكتاب . [44]
Fasal Mengenai As-Sunnah
"Adapun Sunnah Rasulullah ﷺ, maka landasan dasarnya terdapat dalam Kitab
Allah Azza wa Jalla. Allah Ta'ala berfirman:
'Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya ia telah menaati
Allah.' (QS. An-Nisa: 80).
Allah Azza wa Jalla berfirman:
'Dan taatilah Allah dan taatilah Rasul...' (QS. Al-Ma'idah: 92).
Allah
Ta'ala berfirman:
'Janganlah kamu jadikan panggilan
Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada
sebagian (yang lain)...' sampai firman-Nya: '...maka hendaklah orang-orang
yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut (akan ditimpa cobaan).' (QS. An-Nur:
63).
Allah Ta'ala berfirman:
'Apa yang
diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka
tinggalkanlah.' (QS. Al-Hashr: 7).
Allah Azza wa Jalla
berfirman:
'Jika kamu berbeda pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul...' (QS. An-Nisa:
59).
Allah Ta'ala berfirman:
'Maka demi
Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad)
sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan...' sampai firman-Nya:
'...dengan ketundukan yang sepenuhnya.' (QS. An-Nisa: 65).
Maka
Allah Azza wa Jalla mewajibkan kita untuk menaati Rasul-Nya sebagaimana Dia
mewajibkan kita menaati diri-Nya sendiri Subhanahu wa Ta'ala. Dia
menyandingkan ketaatan kepada Rasul dengan ketaatan kepada-Nya, serta
memerintahkan untuk mengambil apa yang dibawa oleh Rasul dan berhenti dari apa
yang dilarangnya.
Allah juga mengabarkan bahwa Dia menyerahkan
tugas penjelasan (bayan) atas apa yang diturunkan kepada beliau. Allah Azza wa
Jalla berfirman:
'Dan Kami turunkan kepadamu
Al-Qur'an agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan
kepada mereka.' (QS. An-Nahl: 44).
Dan Allah berfirman:
'Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an/Sunnah) menurut
keinginannya. Tidak lain (ucapan itu) melainkan wahyu yang diwahyukan
(kepadanya).' (QS. An-Najm: 3-4).
Masih banyak ayat lainnya yang
menunjukkan bahwa kewajiban (mengikuti) Sunnah adalah seperti kewajiban
(mengikuti) Al-Kitab."
فصل في الإجماع
وأما الإجماع فأصله في كتاب الله عز وجل أيضا ،
قال الله تعالى : { وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ
الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا } [النساء : 115] [45] . وقال تعالى : {
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ } [النساء
: 59] .
وقال تعالى : { وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى
أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ }
[النساء :83] .
فأمر تعالى باتباع سبيل المؤمنين ، وحذر من ترك
اتباعهم ، كما حذر من ترك اتباع الرسول صلى الله عليه وسلم ، وأمر بطاعة أولي
الأمر منهم وجعلها مقرونة بطاعة الله رسوله عليه السلام . [46] .
فقيل
في أولي الأمر منهم : إنهم العلماء.
وقيل : أمراء السرايا ، وهو من
العلماء أيضا .
فيحتمل أن تكون الآية عامة في العلماء وأمراء السرايا
، على أن [47] أمراء السرايا من جملة العلماء ؛ لأنه لم يكن يولي عليهم إلا علماء
الصحابة وفقهاؤهم ، فأمر الله تعالى يالرد إليهم واتباع سبيلهم فصح أنهم حجة لا
يجوز خلافهم .
فهذه أصول السمع ، وأصلها كلها في الكتاب كما رأيت ،
وهي كلها مضافة إلى بيان الكتاب لقوله تعالى : { تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
وَهُدًى } [النحل :89] .
وقوله: { مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ
شَيْءٍ } [الأنعام : 38] .
وعلى هذا إضافة ما جمع عليه مما لا يوجد له
في الكتاب نص ولا في السنة ذكر ؛ لأن الكتاب أمر بقبول ذلك كله ، فوجبت حجة جميعه
، وهكذا تقليد من لزم تقليده من أولى الأمر وهو العلماء كما ذكرنا . [48]
Fasal Mengenai Al-Ijma' (Konsensus)
"Adapun Ijma', maka landasan dasarnya juga terdapat dalam Kitab Allah Azza wa
Jalla. Allah Ta'ala berfirman:
'Dan barangsiapa yang
menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang
bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan
yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan
Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.' (QS. An-Nisa: 115).
Allah
Ta'ala juga berfirman:
'Taatilah Allah dan taatilah
Rasul(-Nya), dan Ulil Amri di antara kamu.' (QS. An-Nisa: 59).
Dan
Allah Ta'ala berfirman:
'Dan kalau mereka
menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah
orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari
mereka (Rasul dan Ulil Amri).' (QS. An-Nisa: 83).
Maka Allah Ta'ala
memerintahkan untuk mengikuti jalan orang-orang mukmin (sabilil mu'minin) dan
memperingatkan agar tidak meninggalkannya, sebagaimana Dia memperingatkan agar
tidak meninggalkan petunjuk Rasul ﷺ. Dia juga memerintahkan untuk menaati Ulil
Amri di antara mereka dan menjadikan ketaatan tersebut berdampingan dengan
ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Siapakah Ulil Amri?
Ada yang berpendapat: Mereka adalah para Ulama.
Ada yang berpendapat: Mereka adalah para Pemimpin Pasukan (Umara
as-Saraya), yang mana mereka pun termasuk bagian dari ulama.
Maka
ayat tersebut mengandung kemungkinan bermakna umum, mencakup ulama dan para
pemimpin pasukan, dengan catatan bahwa pemimpin pasukan saat itu adalah bagian
dari ulama; karena (Rasulullah) tidak mengangkat pemimpin atas mereka kecuali
dari kalangan Sahabat yang berilmu dan ahli fikih. Allah memerintahkan untuk
mengembalikan urusan kepada mereka dan mengikuti jalan mereka, maka sahlah
bahwa mereka adalah hujjah (otoritas) yang tidak boleh diselisihi.
Kesimpulan
Fondasi Wahyu (As-Sam'):
Inilah pokok-pokok dalil wahyu (ushul as-sam'),
dan semuanya berakar pada Al-Kitab (Al-Qur'an) sebagaimana yang telah Anda
lihat. Semuanya merupakan tambahan penjelasan bagi Al-Kitab, berdasarkan
firman Allah Ta'ala:
'...untuk menjelaskan segala
sesuatu dan sebagai petunjuk.' (QS. An-Nahl: 89).
Dan
firman-Nya:
'Tiadalah Kami lupakan sesuatu pun dalam
Al-Kitab.' (QS. Al-An'am: 38).
Atas dasar inilah, segala hal yang
telah disepakati (Ijma')—meskipun teks eksplisitnya tidak ditemukan dalam
Al-Kitab maupun penyebutannya dalam As-Sunnah—tetap dinisbatkan (kepada
agama); karena Al-Kitab sendiri yang memerintahkan untuk menerima itu semua.
Maka, menjadi wajiblah otoritas itu seluruhnya. Demikian pulalah halnya dengan
taqlid kepada orang yang wajib diikuti dari kalangan Ulil Amri, yaitu para
ulama, sebagaimana telah kami jelaskan."
فصل في الاستدلال والقياس
ثم دل الكتاب على الاستنباط والاستدلال
في غير موضع ، قال الله عز وجل : { فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ }
[الحشر:2] .
وقال تعالى : { فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ
فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا } [النساء :58]
[49]
فكان في ذلك دليل على الانتزاع من الأصول ، وألحاق المسكوت عنه
بالمذكور على وجه الاعتبار ، وهذا هو باب القياس والاجتهاد ، وأًله في الكتاب ،
وهو أيضا مضاف إلى بيانه .
وليس شيء من الأحكام يخرج عن الكتاب نصا ،
وعن السنة والاجماع والقياس ، وقد انطوى تحت بيان الكتاب ذلك كله ، وفي ذلك بيان
معنى قوله تعالى : { تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى } [النحل :89] .
وقوله
: { مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ } [الأنعام : 38] .
وقوله
: { وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ } [يونس :57] .
والله أعلم .
[50]
Fasal Mengenai Al-Istidlal (Penalaran) dan Al-Qiyas (Analogi)
"Kemudian, Al-Kitab (Al-Qur'an) memberikan petunjuk mengenai Istinbath
(penggalian hukum) dan Istidlal (penalaran) di berbagai tempat. Allah Azza wa
Jalla berfirman:
'Maka ambillah pelajaran (itibar),
wahai orang-orang yang mempunyai wawasan.' (QS. Al-Hasyr: 2).
Allah
Ta'ala juga berfirman:
'Jika kamu berbeda pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya.' (QS. An-Nisa: 59).
Dalam ayat tersebut
terdapat dalil untuk melakukan penarikan kesimpulan (intiza') dari pokok-pokok
hukum (Al-Qur'an dan Sunnah), serta menghubungkan masalah yang tidak
disebutkan (teksnya) kepada masalah yang telah disebutkan berdasarkan metode
perumpamaan/pelajaran (itibar). Inilah yang disebut dengan pintu Qiyas dan
Ijtihad. Akarnya terdapat dalam Al-Kitab dan ia juga menjadi bagian dari
penjelasan (bayan) Al-Kitab.
Tidak ada satu pun hukum yang keluar
dari:
Nas (teks eksplisit) Al-Kitab.
Serta dari As-Sunnah, Al-Ijma', dan Al-Qiyas.
Segala hal
tersebut telah tercakup di bawah penjelasan (bayan) Al-Kitab. Di sinilah letak
penjelasan dari makna firman Allah Ta'ala:
'...untuk
menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk.' (QS. An-Nahl: 89).
Serta
firman-Nya:
'Tiadalah Kami lupakan sesuatu pun dalam
Al-Kitab.' (QS. Al-An'am: 38).
Dan firman-Nya:
'...dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada.' (QS.
Yunus: 57).
Wallahu a'lam."
فصل في القياس
ومذهب مالك ـ رحمه الله ـ القول بالقياس ، وقد بينا
الحجة له .
والدليل أيضا على صحة القياس ، وهو إجماع الصحابة ـ رضي
الله عنهم ـ على تسويغ بعضهم لبعض القول بالقياس والاستعمال له في الحوادث ، حتى
أن بعضهم شبه بالشجرة ، وبعضهم شبه بالنهر في مسائل الجد والإخوة ، ويقول ابن
عباس ؛ (( لو لم يعتبر الإنسان [51] في العقل إلا بالأصابع )) وغيرذلك مما يطول
ذكره مما هو مشهور عنهم ، ولم ينكر أحد منهم على الآخر ما ذهب إليه من جهة القياس
، فدل على إجماعهم على القول بالقياس وعلى صحته وأنه مما يتوصل به إلى علم
الحوادث مع ما ذكرناه من دلائل الكتاب والسنة والاجماع على صحته ووجوب القول به ،
وبالله التوفيق . [52]
Fasal Mengenai Al-Qiyas (Analogi)
"Mazhab Malik —rahimahullah— adalah berpendapat dengan Qiyas
(menggunakannya sebagai sumber hukum), dan kami telah menjelaskan hujah
(dalil) baginya.
Adapun dalil lain atas keabsahan Qiyas adalah
Ijma' (kesepakatan) para Sahabat —radhiyallahu 'anhum—. Mereka saling
membolehkan satu sama lain untuk menggunakan Qiyas dalam menghadapi
peristiwa-peristiwa baru (al-hawadits).
Bahkan, sebagian dari
mereka ada yang menyerupakan (kasus waris) dengan pohon, dan sebagian lain
menyerupakannya dengan sungai dalam masalah kakek bersama saudara (al-jadd wal
ikhwah). Ibnu Abbas juga pernah berkata: 'Seandainya manusia tidak menggunakan
nalar (itibar) dalam akal kecuali pada (kasus) jari-jemari...' dan masih
banyak lagi contoh masyhur lainnya yang akan sangat panjang jika disebutkan
semua.
Tidak ada seorang pun di antara para Sahabat yang
mengingkari Sahabat lainnya atas penggunaan metode Qiyas yang mereka tempuh.
Hal ini menunjukkan kesepakatan mereka akan keabsahan Qiyas dan bahwa Qiyas
merupakan sarana untuk mencapai pengetahuan hukum atas peristiwa-peristiwa
baru, di samping dalil-dalil dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma' yang telah
kami sebutkan mengenai keabsahan dan kewajiban menggunakannya. Wa billahit
taufiq."
باب القول في الخصوص والعموم
قال اقاضي ـ رحمه الله ـ :
من
مذهب مالك ـ رحمه الله ـ القول بالعموم ، وقد نص عليه في كتابه في مسائله ، حيث
يقول محتجا لإيجابه اللعان بين كل زوجين لعموم إيجاب الله عز وجل ذلك بين الأزواج
.
وكذلك قال وقد سئل عن عدة الصغيرة من الوفاة ، واحتج بقوله [53]
تعالى : { وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا
يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا } [البقرة:32] .
وقد
احتج لقوله : إن الاعتكاف لا يكون إلا في المساجد سواء كان جامعا أو غيره بقوله
تعالى : { وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ } [البقرة : 187] .
قا
لمالك : (( فعم الله الله سبحانه المساجد كلها ولم يخص مسجدا من مسجد )) .
وحكم
هذا الباب عنده أن الخطاب إذا ورد باللفظ العام نظر ، فإن وجد دليل يخص اللفظ كان
اللفظ كان مقصورا عليه ، وإن لم يوجد دليل يخصه أجري الكلام على عمومه . [54]
.
ووجه ذلك : أن فطرة اللسان في العام الذي وصفته ، احتمال الخصوص ،
إذ لم يكن محتملا لذلك لكانت عينه توجب أن يجري حكمه على جميع ما اشتمل عليه ،
ولو كانت عينه توجب ذلك لم يجز أن يوجد في الخطاب لفظ عام اريد به الخصوص ، ولا
جاز أن يقوم دليل على خصوص لفظ عام ، وفي وجونا الأمر بخلاف ذلك دليل على أن عين
اللفظ لا يوجب العموم ، وإذا كان ذلك كذلك علم احتماله ، ومتى علم أنه محتمل لم
يجز الإقدام على الحكم به دون البحث والنظر في المراد به والمعنى الذي يخرج عليه
؛ لأن الله عز وجل [55] أمرنا باتباع كتابه وسنة رسوله عليه السلام ، والاعتبار
بهما والرد إليهما ، وذلك كله كالآية الواحدة فلا يجوز ترك شيء من ذلك مع القدرة
عليه .
وإذا لم يجز ذلك وجب أن ننظر ولا نهجم بالتنفيذ قبل التأمل ،
كما لا نبادر في الكلام التصل إلى أن ينتهى على آخره فننظر هل يتبعه استثناء ام
لا ؟ .
وكذلك الكتاب والسنة والأصول كلها كالآية الواحدة ، ولا يجوز
أن نبادر إلى التنفيذ حتى نتدبر وننظر ، فإن وجدنا دليلا يخص حملنا الخطاب عليه ،
وإن لم نجد فقد حصل الأمر ، والمراد به التنفيذ ، وإنما جعلت الأسماء دلائل على
المسميات ، وقد ورد اللفظ مشتملا [56] على مسميات فليس بعضها أولى من بعض فيقدم
عليه ، فهو على عمومه ، والحكم جار على جميع ما انطوى عليه ؛ لأن قضية العقول :
أن كل متساويين فحكمها واحد من حيث تساويا إلا بأن يخص أحدهما بمعنى يوجب غفراده
عن صاحبه ، فإذا عدم دليل الإفراد فلا حكم إلا التسوية ، إذ ليس أحدهما أولى من
الآخر ، وإذا كان هذا ، صح ما قلناه في العموم والخصوص ، وبالله التوفيق . [57]
.
Bab: Penjelasan Mengenai Al-Khushush (Khusus) dan Al-Umum (Umum)
Al-Qadhi (Ibnul Qishshar) —rahimahullah— berkata:
"Termasuk dari
Mazhab Malik adalah berpegang pada Lafal Umum (Al-Qaulu bil Umum). Beliau
telah menegaskan hal ini dalam kitabnya dan masalah-masalahnya, di
antaranya:
Kasus Li’an: Beliau berargumen tentang
wajibnya proses li’an (sumpah putus hubungan suami-istri karena tuduhan zina)
bagi setiap pasangan suami istri berdasarkan keumuman firman Allah yang
mewajibkan hal tersebut di antara para suami-istri.
Masa Iddah Anak Kecil: Saat ditanya tentang masa iddah (menunggu) bagi istri
yang masih kecil karena ditinggal mati suaminya, beliau berhujah dengan
keumuman ayat: 'Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan
meninggalkan istri-istri, hendaklah mereka (istri-istri) menangguhkan dirinya
(beriddah) empat bulan sepuluh hari.' (QS. Al-Baqarah: 234).
Tempat Itikaf: Beliau berhujah bahwa itikaf tidak sah kecuali di masjid
(baik masjid Jami' maupun bukan) berdasarkan keumuman firman-Nya:
'...sedangkan kamu beriktikaf dalam masjid.' (QS. Al-Baqarah: 187). Imam Malik
berkata: 'Allah menyamaratakan seluruh masjid dan tidak mengkhususkan satu
masjid dari masjid lainnya.'
Kaidah Penerapannya:
Hukum dalam
bab ini menurut beliau adalah: Apabila muncul khitbah (teks) dengan lafal yang
umum, maka harus diteliti:
Jika ditemukan dalil yang
mengkhususkan (mukhassis) lafal tersebut, maka maknanya dibatasi pada dalil
pengkhusus itu.
Jika tidak ditemukan dalil
pengkhusus, maka pembicaraan tersebut tetap dijalankan sesuai dengan
keumumannya.
Logika di Balik Kaidah Ini:
Sifat dasar bahasa
dalam lafal umum mengandung kemungkinan adanya pengkhususan (ihtimal
al-khushush). Karena jika lafal umum itu pasti mutlak 100% tanpa celah khusus,
maka mustahil kita akan menemukan teks umum yang ternyata dimaksudkan untuk
makna khusus dalam syariat.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan
kita untuk mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah serta merujuk kepadanya. Seluruh
dalil itu (Al-Qur'an dan Sunnah) kedudukannya seperti satu ayat yang utuh.
Maka, tidak boleh meninggalkan satu bagian pun padahal kita mampu
menjangkaunya.
Prinsip Kehati-hatian (Analogi Kalimat):
Kita
wajib meneliti dan tidak boleh terburu-buru mengeksekusi hukum sebelum
melakukan perenungan. Hal ini sama seperti saat kita mendengarkan seseorang
berbicara; kita tidak boleh langsung menyimpulkan di tengah kalimat sampai ia
selesai berbicara, agar kita tahu apakah ada kata pengecualian (istitsna) di
akhir kalimatnya atau tidak.
Demikian pula Al-Kitab, As-Sunnah, dan
seluruh pokok hukum (Ushul) kedudukannya seperti satu ayat tunggal. Kita tidak
boleh bersegera menjalankan hukum sampai kita merenungkan dan meneliti:
Jika ditemukan dalil pengkhusus, kita bawa makna teks tersebut ke arah
yang khusus.
Jika tidak ditemukan, maka perintah itu
tetap dijalankan sesuai cakupan lafalnya.
Secara akal, jika ada
beberapa hal yang tercakup dalam satu nama/istilah, maka semuanya memiliki hak
yang sama untuk masuk dalam hukum tersebut. Tidak ada satu bagian yang lebih
berhak didahulukan daripada yang lain, kecuali jika ada dalil yang
memisahkannya. Jika dalil pemisah itu tidak ada, maka hukumnya adalah
penyamarataan (taswiyah). Inilah kebenaran dalam masalah Umum dan Khusus. Wa
billahit taufiq."
باب الكلام في الأوامر والنواهي
عند مالك ـ رحمه الله ـ أن
الأوامر على الوجوب إذا وردت [58] من مفروض الطاعة .
وقد احتج ـ حيث
سئل عن تتميم ما يدخل فيه من القرب ـ بقوله عز وجل : { وَأَتِمُّوا الْحَجَّ
وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ } [البقرة : 196] .
وبقوله تعالى : { ثُمَّ
أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ } [البقرة: 187] [59] .
والدليل
على صحة ذلك : هو أن المفروض الطاعة اذا قال لمن تلزمه طاعته : (( افعل )) لم
يعقل منه (( لا تفعل )) ولا ما في معناه ولا (( توقف )) ولا ما في معناه ، ولا ((
أنت مخير )) ولا في ما معناه ، فلم يبق إلا إيجاب الفعل وإنجازه من المأمور به
فدل على أن الأوامر على الوجوب إذا تجردت عن القرائن التي تدل على الندب وغيره ،
والله أعلم . [60] .
Bab: Penjelasan Mengenai Perintah (Al-Awamir) dan Larangan (An-Nawahi)
"Menurut Imam Malik —rahimahullah—: Segala bentuk perintah (al-awamir)
menunjukkan kewajiban (al-wujub) apabila perintah tersebut datang dari pihak
yang wajib ditaati (Allah dan Rasul-Nya).
Beliau (Imam Malik)
pernah berhujah —saat ditanya tentang kewajiban menyempurnakan ibadah sunnah
yang telah terlanjur dimulai (at-tatmim)— dengan firman Allah Azza wa
Jalla:
'Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah
karena Allah.' (QS. Al-Baqarah: 196).
Dan dengan firman-Nya:
'Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.' (QS.
Al-Baqarah: 187).
Dalil Logis atas Hal Tersebut:
Sesungguhnya
pihak yang wajib ditaati, apabila ia berkata kepada orang yang wajib
menaatinya: 'Kerjakanlah!' (If'al), maka secara akal tidak mungkin dipahami
sebagai:
'Jangan kerjakan'.
'Berhentilah/Tunggulah'.
'Kamu bebas memilih' (boleh
kerjakan, boleh tidak).
Maka, tidak ada pilihan makna yang tersisa
kecuali kewajiban untuk melakukan dan menuntaskan apa yang diperintahkan
tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa segala bentuk perintah bermakna wajib
selama perintah tersebut terlepas dari tanda-tanda (qarinah) lain yang
menunjukkan makna sunnah (mandub) atau makna lainnya. Wallahu a'lam."
Analisis
Poin Utama:
Kaidah Dasar Perintah: Ibnul Qishshar
menegaskan prinsip utama dalam Ushul Fiqh: Al-Ashlu fil amri lil wujub (Asal
dari sebuah perintah adalah wajib). Jika Allah memerintahkan sesuatu dalam
Al-Qur'an, kita tidak boleh menganggapnya sekadar "saran" kecuali ada dalil
lain yang menurunkannya menjadi sunnah.
Kewajiban
Menyempurnakan Amal: Mazhab Maliki memiliki keunikan (berbeda dengan Syafi'i):
Jika Anda memulai ibadah sunnah (seperti puasa sunnah atau umrah sunnah), maka
Anda wajib menyempurnakannya dan haram membatalkannya tanpa alasan syar'i.
Argumennya adalah perintah "Sempurnakanlah" dalam ayat di atas bersifat
umum.
Logika Bahasa: Penulis menggunakan pendekatan
bahasa yang sangat logis. Kata kerja perintah (Fi'il Amr) secara alami
menuntut kepatuhan. Jika seorang raja atau atasan memberi perintah, secara
akal itu bukan berarti "terserah kamu".
Peran Qarinah
(Konteks): Beliau memberi catatan penting: Perintah menjadi wajib hanya jika
"telanjang" atau murni. Namun, jika ada konteks lain (misalnya perintah Nabi
yang sifatnya anjuran medis atau etika makan), maka statusnya bisa berubah
dari wajib menjadi sunnah atau mubah.
