Bab Perbuatan Nabi ﷺ (Af’alun Nabiy)
Nama kitab: Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki Al-Muqaddimah fi al-Ushul
Judul
kitab asal: Al-Muqaddimah fi al-Ushul li al-Qishar (المقدمة في الأصول للقصار
)
Penulis: Imam Abul Hasan Ibn al-Qishar (أبو الحسن ابن القصار)
Nama
lengkap: Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Umar ibn al-Qishar al-Maliki (أبو الحسن،
علي بن عمر بن أحمد بن سعد الخولاني البغدادي المالكي، الشهير بـ"ابن القصار)
Tempat/Lahir:
Baghdad, Irak,
Tempat/Wafat: Baghdad, Irak, 297 atau 398 H/ 25 Juli
1007 atau 1008 M
Penerjemah: alkhoirot.org / Al-Khoirot Research
and Publication
Bidang studi: Ushul fikih, Hukum syariah
Daftar Isi
- Bab XVII: Perbuatan Nabi ﷺ (Af’alun Nabi)
- Bab XVIII: Berita (Hadis) dan Penjelasan tentang Berita Mutawatir
- Bab XIX: Khabar Wahid (Hadis Ahad) yang Adil
- Bab XX: Hadis Mursal (Khabar al-Mursal)
- Bab XXI: Konsensus (Ijma') dan Ilmu Penduduk Madinah
- Bab XXII: Dalil al-Khithab (Mafhum Mukhalafah)
- Kembali ke: Terjemah Ushul Fikih Mazhab Maliki (al-Muqaddimah fil Ushul)
باب القول في أفعال النبي صلى الله عليه وسلم
ومذهب مالك ـ رحمه
الله ـ أن أفعال النبي صلى الله عليه وسلم على [61] الوجوب ، وقد قال في مواضع
كثيرة محتجا بقوله تعالى : { لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ } [ الأحزاب :21] .
وسواء كان ذلك حظرا أو إباحة ، حتى يتبين
أنه عليه السلام مخصوص بذلك دوننا .
وقد أسقط مالك ـ رضي الله عنه ـ
زكاة الخضروات اقتداء بأنها لم يأخذها النبي صلى الله عليه وسلم ، فدل على أن
أفعاله صلى الله عليه وسلم عنده على الوجوب. [63] .
وقال الله تعالى :
{ nqمeخ7¨?$$su } [الأنعام : 155] والأمر على الوجوب ، فوجب اتباعه عليه السلام
في قوله وفعله .
وكذلك قال عمر ـ رضي الله عنه ـ لما قبل الحجر : ((
لإني لأعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولكني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم
قبلك )) .
وكذلك خلعت الصحابة ـ رضي الله عنهم ـ نعالهم لدخول الكعبة
وقالوا : (( رأينا رسول الله صلى الله عليه وسلم خلع نعليه لدخولها )) . [63]
.
فدل على ان أفعاله صلى الله عليه وسلم كانت عندهم على الوجوب إلا أن
يقوم دليل الخصوص ، والله أعلم . [64] .
Bab: Penjelasan Mengenai Perbuatan Nabi ﷺ (Af’alun Nabiy)
"Mazhab Malik —rahimahullah— berpendapat bahwa perbuatan Nabi ﷺ menunjukkan
kewajiban (al-wujub). Beliau telah berargumen di banyak tempat dengan merujuk
pada firman Allah Ta’ala:
'Sesungguhnya telah ada
pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.' (QS. Al-Ahzab:
21).
Status kewajiban ini berlaku sama, baik dalam hal pelarangan
(hazhr) maupun pembolehan (ibahah), kecuali jika terdapat kejelasan bahwa
perbuatan tersebut bersifat khusus bagi beliau ﷺ dan tidak berlaku bagi kita
(umatnya).
Contoh Penerapan Mazhab:
Zakat
Sayur-mayur: Imam Malik —radhiyallahu 'anhu— menggugurkan kewajiban zakat pada
sayur-mayur karena mengikuti fakta bahwa Nabi ﷺ tidak pernah mengambil zakat
darinya. Ini menunjukkan bahwa perbuatan (atau ketetapan diam) Nabi ﷺ bagi
beliau adalah sebuah kewajiban untuk diikuti.
Perintah Mengikuti: Allah Ta'ala berfirman: '...maka ikutilah dia
(Al-Qur'an/Rasul)...' (QS. Al-An'am: 155). Karena sebuah perintah pada
dasarnya bermakna wajib, maka wajib hukumnya mengikuti beliau baik dalam
perkataan maupun perbuatannya.
Atsar dari Para Sahabat:
Umar bin Khattab: Saat mencium Hajar Aswad, beliau berkata:
'Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi
mudarat maupun manfaat. Namun, aku melihat Rasulullah ﷺ menciummu (maka aku
pun menciummu).'
Para Sahabat: Mereka melepas alas
kaki saat memasuki Ka'bah dan berkata: 'Kami melihat Rasulullah ﷺ melepas
kedua alas kakinya saat memasukinya.'
Maka, hal ini menunjukkan
bahwa di mata para Sahabat, perbuatan Nabi ﷺ adalah suatu kewajiban untuk
diikuti, kecuali jika tegak dalil yang menyatakan bahwa perbuatan tersebut
bersifat khusus bagi beliau. Wallahu a'lam."
باب الكلام في الأخبار والقول في خبر التواتر
ومذهب مالك ـ رحمه
الله ـ قبول الخبر الذي قد اشتهر واستغني عن ذكر عدد ناقليه لكثرتهم ، كمواقيت
الصلاة ، وأركان الحج التي لا يتم إلا بها ، وتحويل القبلة من بيت المقدس إلى
الكعبة ، وأشباه ذلك من الشرائع التي تواترت الأخبار بها عن رسول الله صلى الله
عليه وسلم .
وهذا هو الخبر المتواتر الذي يوجب العلم ، ويقطع العذر ،
ويشهد على مخبره بالصدق ، ويرتفع معه الريب ، وهذا مما لا خلاف فيه بين فقهاء
الأمصار وسائر الأمة ، ولا ينكره إلا من خرج عن الجماعة ، ومرق من الدين ، وخالف
ما عليه جميع المسلمين .
ولأن بمثله تعرف أخبار الأنبياء والرسل
والممالك والدول والأيام والأسلاف ، وما لم نشاهد من البلدان مثل : الصين ،
وخرسان .
فمن [65] أنكر ذلك لزمه أن يتوقف عن معرفة هذه الأشياء ، ومن
توقف عن هذا بان عوار مذهبه ، وقبح طريقته ، وعناده ومكابرته ، وخروجه عما عليه
جميع العقلاء ، وكفى بهذا بطلانا وفسادا ، وبالله التوفيق . [66] .
Bab: Penjelasan Mengenai Berita (Hadis) dan Penjelasan tentang Berita Mutawatir
"Mazhab Malik —rahimahullah— menerima berita (khabar) yang telah masyhur
sehingga tidak perlu lagi menyebutkan jumlah orang yang meriwayatkannya karena
saking banyaknya mereka. Contohnya seperti:
Waktu-waktu shalat.
Rukun-rukun haji yang mana ibadah
haji tidak sah tanpanya.
Perpindahan kiblat dari
Baitul Maqdis ke Ka'bah.
Dan syariat-syariat serupa
yang beritanya sampai secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.
Inilah
yang dinamakan Khabar Mutawatir, yaitu berita yang membuahkan keyakinan yang
pasti (yujibul 'ilm), memutus segala alasan (keraguan), menjadi saksi atas
kebenaran penyampainya, serta menghilangkan segala kebimbangan. Hal ini
merupakan perkara yang tidak diperselisihkan di antara para fukaha di berbagai
negeri maupun oleh seluruh umat. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang
yang keluar dari jemaah, menyimpang dari agama, dan menyelisihi apa yang
dipegang oleh seluruh kaum Muslimin.
Argumen Logika:
Sebab,
dengan berita serupa inilah kita dapat mengetahui sejarah para nabi, rasul,
kerajaan, negara, peristiwa masa lalu, dan nenek moyang. Begitu pula dengan
keberadaan negeri-negeri yang tidak pernah kita saksikan secara langsung,
seperti: Cina dan Khurasan.
Barangsiapa yang mengingkari (legalitas
berita mutawatir) ini, maka ia terpaksa harus berhenti meyakini keberadaan
hal-hal tersebut. Siapa pun yang bersikap skeptis/berhenti tahu tentang hal
ini, maka akan tampaklah keburukan mazhabnya, keji jalannya, sikap keras
kepalanya, serta keluarnya ia dari apa yang disepakati oleh seluruh orang yang
berakal. Cukuplah hal itu sebagai bukti atas kebatilan dan kerusakannya. Wa
billahit taufiq."
باب القول في خبر الواحد العدل
ومذهب مالك ـ رحمه الله ـ قبول
خبر الواحد العدل وأنه يوجب العمل دون القطع على غيبه ، وبه قال جميع الفقهاء
.
وقد احتج مالك لذلك في المتبايعين بالخيار ما لم [67] يفترقا ،
وكذلك في غسل الإناء من ولوغ الكلب ، وفي مواضع كثيرة .
والدليل على
وجوب العمل به قوله عز وجل : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ
فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا
عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ } [الحجرات:6] .
فدل على أن العدل لا
يتثبت في خبره ، إذ لو كان الفاسق والعدل سواء ، لم يكن لتخصيص الفاسق بالذكر
فائدة . [68] .
وإنما لم يقطع على غيبه ؛ العلم لا يحصل من جهته ، إذ
لم كان يحصل من جهته العلم لوجب أن يستوي فيه كل من سمعه كما يستوون في العلم
بمخبر خبر التواتر ، فلما كنا نجد أنفسنا غير عالمين بصحة مخبره ، دل على أنه لا
يقطع على مغيبه ، وأنه بخلاف خبر التواتر ، فصار خبر الواحد بمنزلة الشاهد الذي
قد أمرنا بقبول شهادته ، وإن كنا لا نقطع على صدقه .
فإن قيل بأن في
سياق الآية ما يوجب التوقف عن خبره ، وهو قوله عز وجل : { أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا
بِجَهَالَةٍ } [الحجرات:6] والجهالة قد تدخل في خبر العدل من حيث كان خبره لا
يقطع على مغيبه ، من حيث كان السهو والغلط والكذب جائزا عليه .
قيل :
الجهالة في هذا الموضع هي السفاهة ، وفعل ما لا يجوز فعله مما يقع التوبيخ والذم
عليه ، وقد جاز التوبيخ على الجهل في بعض المواضع ولو كانت الجاهلة لا تكون إلا
بمعنى الغلط ، لقبح الذم والتوبيخ على فعلها .
والدليل على صحة هذا
التأويل قوله عز وجل : { فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ }
[الحجرات:6] . والندم إنما يكون على ارتكاب المنهي [69] والدليل أيضا على ذلك هو
أنه لوكانت العلة في وجوب التوقف عنه في الجهل لخبره لم يجز قبول خبر الشاهدين
لهذه العلة ، فلما أجاز الله سبحانه ذلك وأمر بقبوله ، دل على فساد قول من رد خبر
الواحد بذلك ، والله أعلم . [70] .
Bab: Penjelasan Mengenai Khabar Wahid (Hadis Ahad) yang Adil
"Mazhab Malik —rahimahullah— menerima berita dari satu orang yang adil
(Khabar al-Wahid al-'Adl). Statusnya adalah wajib untuk diamalkan, namun tidak
memberikan keyakinan yang pasti (qath'i) terhadap kebenaran mutlaknya secara
gaib. Pendapat ini disepakati oleh seluruh fukaha.
Imam Malik telah
berhujah dengan hadis ahad dalam banyak masalah, seperti:
Hak pilih bagi penjual dan pembeli selama belum berpisah (khiyar
al-majlis).
Kewajiban mencuci bejana yang dijilat
anjing.
Dan di banyak tempat lainnya.
Dalil
Kewajiban Mengamalkannya:
Firman Allah Azza wa Jalla:
'Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak
mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang menyebabkan kamu
menyesali perbuatanmu itu.' (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini
menunjukkan bahwa berita dari orang yang adil tidak perlu diverifikasi ketat
(langsung diterima untuk diamalkan). Sebab, jika kedudukan orang fasik dan
orang adil itu sama-sama harus ditunda/diteliti, maka penyebutan kata 'fasik'
secara khusus dalam ayat tersebut tidak akan ada faedahnya.
Mengapa
Tidak Memberikan Keyakinan Pasti (Qath'i)?
Ilmu yang pasti tidak didapat
dari jalur satu orang. Jika memang hadis satu orang menghasilkan kepastian,
niscaya setiap orang yang mendengarnya akan memiliki keyakinan yang sama rata,
sebagaimana mereka yakin pada berita mutawatir. Namun, karena kita mendapati
diri kita tidak yakin 100% akan kebenaran mutlaknya (karena adanya kemungkinan
salah), maka jelaslah bahwa hadis ahad berbeda dengan mutawatir. Hadis ahad
kedudukannya seperti saksi; kita diperintahkan untuk menerima kesaksiannya
meskipun kita tidak bisa menjamin 100% kejujurannya secara batin.
Sanggahan
terhadap Keberatan:
Jika ada yang keberatan dengan mengutip potongan
ayat: '...agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (jahalah)',
dan berargumen bahwa 'jahalah' (ketidaktahuan) bisa saja terjadi pada berita
orang adil karena adanya kemungkinan lupa, salah, atau bohong.
Jawaban:
Jahalah dalam konteks ayat ini bermakna safahah (tindakan
bodoh/gegabah) atau melakukan sesuatu yang dilarang yang mendatangkan celaan.
Jika jahalah hanya bermakna 'salah/keliru', maka tidak pantas orang yang
melakukannya dicela atau dihina.
Bukti tafsir ini
adalah firman-Nya: '...sehingga kamu menyesali perbuatanmu.' Penyesalan hanya
terjadi akibat melakukan sesuatu yang dilarang.
Selain itu, jika alasan menolak hadis satu orang adalah karena faktor
'ketidaktahuan/kemungkinan salah', maka seharusnya kesaksian dua orang saksi
di pengadilan juga harus ditolak dengan alasan yang sama. Namun, karena Allah
memerintahkan untuk menerima saksi, maka gugurlah argumen orang yang menolak
hadis ahad dengan alasan tersebut. Wallahu a'lam."
باب القول في الخبر المرسل
ومذهب مالك ـ رحمه الله ـ قبول الخبر
المرسل إذا كان مرسله عدلا عارفا بما أرسل ، كما يقبل المسند [71] .
وقد
احتج به في مواضع كثيرة حيث أرسل الخبر في اليمين مع الشاهد وعمل به .
وكذلك
أرسل الحديث في الشفعة للشريك وعمل به . [72] .
وكذلك أرسل الخبر في
ناقة البراء وسائر جنايات المواشي ، وعمل بذلك .
والحجة له قول : أن
المرسل إذا كان عدلا متيقظا فقد أسقط عنا بعدالته وتيقظه تعدل ما لم يذكره لنا
ممن روى عنه ، وناب منابنا وكفانا اتماس عدالة من نقل عنه ، فوجب لمن وجب تقليده
في عدالته أن يقلده في أنه لايروي عن غير عدل ثقة ، وقد علم أنه إذا صرح بالذكر
من روى عنه فقد وكل الاجتهاد إلينا لنعتبر حاله بأنفسنا ، وأنه إذا أضرب عن ذكره
[73] قد استبد بعلم من خفي علينا من عدالته ، ولن يعمل على ذلك من كان مرضيا
عندنا ضابطا متيقظا إلا وقد بالغ في الثقة ممن روى عنه ، ولن يقول قال رسول الله
صلى الله عليه وسلم إلا من حيث يصح عنده أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله ، ولم
يزل أصحاب رسول اله صلى الله عليه وسلم يرسلون ويخبر بعضهم بعضا فيذكرون من
أخبرهم تارة ، ويستغنون عن ذكره أخرى ، وكذلك التابعون بعدهم وتابعوهم ، فدل على
صحة ما قلناه وأنه إجماع من الفقهاء ، والمحدثون يستعملونه في كل عصر وزمان فوجب
أنه جهة معمول به ، والله أعلم . [74] .
Bab: Penjelasan Mengenai Hadis Mursal (Khabar al-Mursal)
"Mazhab
Malik —rahimahullah— menerima Hadis Mursal apabila orang yang meriwayatkannya
(mursal-nya) adalah seorang yang adil dan paham (alim) terhadap apa yang ia
riwayatkan, sebagaimana ia menerima hadis musnad (yang bersambung
sanadnya).
Beliau telah berhujah dengan hadis mursal di banyak
tempat, di antaranya:
Beliau meriwayatkan hadis
secara mursal mengenai sumpah beserta satu saksi dan mengamalkannya.
Demikian pula beliau meriwayatkan hadis secara mursal mengenai hak
syuf'ah (hak beli pertama) bagi rekan serikat dan mengamalkannya.
Juga meriwayatkan hadis secara mursal mengenai kasus unta milik
Al-Bara' serta kasus-kasus pengrusakan oleh hewan ternak lainnya, dan beliau
mengamalkan hal tersebut.
Hujah (Argumen) bagi Mazhab Maliki:
Sesungguhnya
seorang perawi yang mursal, apabila ia adalah orang yang adil dan waspada
(mutayaqqizh), maka dengan keadilan dan kewaspadaannya itu, ia telah
menggugurkan kewajiban kita untuk memeriksa keadilan orang yang tidak ia
sebutkan namanya (guru tempat ia mengambil riwayat). Ia telah mewakili kita
dan mencukupi kita dalam meneliti keadilan orang yang ia nukil darinya.
Maka,
wajib bagi orang yang sudah mengakui keadilan si perawi mursal ini untuk
mengikutinya (taqlid) dalam hal bahwa ia (si perawi) tidak akan meriwayatkan
kecuali dari orang yang adil dan terpercaya (tsiqah). Telah diketahui bahwa
jika seorang perawi menyebutkan dengan jelas nama orang yang ia ambil
riwayatnya, maka ia menyerahkan ijtihad kepada kita untuk menilai sendiri
keadaan orang tersebut. Namun, jika ia sengaja tidak menyebutkan namanya,
berarti ia telah menjamin pengetahuan tentang keadilan orang yang tersembunyi
dari kita tersebut.
Seorang perawi yang diridhai, teliti, dan
waspada tidak akan melakukan hal itu melainkan setelah ia benar-benar yakin
akan kepercayaan orang yang ia ambil riwayatnya. Ia tidak akan berkata
'Rasulullah ﷺ bersabda...' kecuali berdasarkan apa yang sah menurutnya bahwa
Nabi ﷺ memang menyabdakannya.
Para Sahabat Rasulullah ﷺ pun
senantiasa meriwayatkan secara mursal; terkadang mereka menyebutkan siapa yang
mengabari mereka, dan di lain waktu mereka merasa cukup tanpa menyebutkannya.
Demikian pula yang dilakukan para Tabi’in dan generasi setelah mereka. Hal ini
menunjukkan kebenaran apa yang kami katakan dan bahwa hal tersebut merupakan
ijma' (kesepakatan) para fukaha. Para ahli hadis pun menggunakannya di setiap
masa dan zaman, maka wajiblah bahwa hadis mursal adalah jalan yang dapat
diamalkan. Wallahu a'lam."
باب الكلام في إجناع أهل المدينة وعلمهم
قد تقدم أن مذهب مالك ـ
رحمه الله ـ وسائر العلماء القول بإجماع الأمة ، ومن مذهب مالك ـ رحمه الله ـ
العلم على إجماع أهل المدينة فيما طريقه التوقيف من الرسول صلى الله عليه وسلم ،
أو أن يكون الغالب منه أنه عن توقيف منه عليه الصلاة والسلام كإسقاط زكاة [75]
الخضروات ؛ لأنه معلوم أنها قد كانت في وقت النبي صلى الله عليه وسلم ولم ينقل
أنه أخذ منهاالزكاة ، وإجماع أهل المدينة على ذلك ، فعمل عليه وإن خالفهم غيرهم
.
وقد احتج مالك ـ رحمه الله ـ بذلك في مسائل يكثر تعدادها حيث يقول :
(( الأمر الذي لا اختلاف فيه عندنا )) ، وهذا من خبر التواتر الذي قد بينا أنه
مذهبه .
وحجته في أنهم أولى من غيرهم فيما طريقه النقل عن النبي صلى
الله عليه وسلم [76] أن الرسول عليه السلام كانت هجرته إلى المدينة ، ومقامه بها
، ونزول الوحي عليه فيها ، واستقرار الأحكام والشرائع بها ، وأهلها مشاهدون لذلك
كله عالمون به ، لا يخفى عنهم شيء منه ، وكانت حاله صلى الله عليه وسلم معهم إلى
أن قبض على أوجه :
1 ـ إما أن يأمرهم بالأمر فيفعلونه .
2
ـ أو يفعل الأمر فيتبعونه .
3 ـ أو يشاهدهم على أمر فيقرهم عليه .
فلما
كانت هذه المنزلة منه عليه الصلاة والسلام حتى اقطع التنزبل ، وقبض من بينهم صلى
الله عليه وسلم فمحال أن يذهب عليهم وهم مع هذه الصفة ما يستدركه غيرهم ؛ لأن
غيرهم ممن ظعن منهم إلى المواضع هم الأقل ، فالأخبار عنهم أخبار آحاد ؛ لأن عددهم
مضبوط ، وأخبار أهل المدينة أخبار تواتر فكانت أولى من أخبار الآحاد . [77]
فإن
قيل : فقد نقلت إلى أهل المدينة أشياء كانت من النبي صلى الله عليه وسلم في
مغازيه لم يكونوا علموها قبل ذلك من النبي صلى الله عليه وسلم ؟ .
قيل
: الذين نقلوا إليهم ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم هم من أهل المدينة ، فلم
يخرج النقل عنهم .
فإن قيل : قفد كانت منه صلى الله عليه وسلم أشياء
بمكة لما حج لم تكن بالمدينة ؟ .
قيل : قد معه أهل المدينة في حجته ،
فهم شاهدوه أيضا بمكة ونقلوا عنه ما كان منه في حجه وغيره . [78] .
فإن
قيل : فإن اتفق لأهل مكة مثل خبر أهل المدينة في إجماعهم لأنهم قد شاهدوا النبي
صلى الله عليه وسلم كما شاهده أهل المدينة فإذا اتفقوا على شيء من توقيف أو ما
الغالب منه أن يكون على توقيف ، فهل يجب أن يقبل ذلك منهم ؟ .
قيل :
إن اتفق لهم ذلك كانوا هم وأهل المدينة سواء فيما نقلوه عنه صلى الله عليه وسلم ،
ولكن لا يكاد أن ينفق هذا لغير أهل المدينة في أن يكون خبرهم طرفاه كوسطه لا
يتخلله أخبار الآحاد ؛ لأن أخبار غيرهم وإن نقلها جماعة يتخللها أخبار الآحاد في
طرفيها أو في وسطها فخرجت بذلك عن أن تكون تواترا . وأهل المدينة يحصل لهم في
فعلهم صفة التواتر ، فلهذا كان خبرهم مقدما على خبر غيرهم ، والله أعلم . [79]
.
Bab: Penjelasan Mengenai Konsensus (Ijma') dan Ilmu Penduduk Madinah
"Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Mazhab Malik dan seluruh ulama
berpegang pada Konsensus Umat (Ijma' al-Ummah). Namun, secara khusus, termasuk
dari Mazhab Malik adalah berhujah dengan Konsensus Penduduk Madinah dalam
perkara yang jalannya adalah ketetapan (tauqif) dari Rasulullah ﷺ, atau
perkara yang secara umum berasal dari ketetapan beliau.
Contoh
Penerapan:
Penghapusan (tidak adanya) kewajiban zakat pada sayur-mayur.
Diketahui bahwa sayur-mayur ada di zaman Nabi ﷺ, namun tidak ada riwayat
beliau mengambil zakat darinya. Penduduk Madinah pun bersepakat atas hal itu
(tidak ada zakat sayur). Maka Imam Malik mengamalkannya meskipun menyelisihi
pendapat ulama di luar Madinah.
Imam Malik sering berhujah dengan
hal ini dalam banyak masalah dengan ungkapan: 'Perkara yang tidak ada
perselisihan di antara kami (di Madinah).' Baginya, ini termasuk bagian dari
Khabar Mutawatir.
Hujah Mengapa Penduduk Madinah Lebih Utama:
Dalam
perkara yang sifatnya penukilan (riwayat) dari Nabi ﷺ, penduduk Madinah lebih
utama karena:
Madinah adalah tempat hijrah Nabi,
tempat tinggal beliau, tempat turunnya wahyu, serta tempat ditetapkannya
berbagai hukum dan syariat.
Penduduknya menyaksikan
langsung semua itu dan mengetahuinya; tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi
bagi mereka.
Kondisi Nabi ﷺ bersama mereka hingga beliau wafat
mencakup tiga hal:
Nabi memerintahkan sesuatu, lalu
mereka mengerjakannya.
Nabi melakukan sesuatu, lalu
mereka mengikutinya.
Nabi melihat mereka melakukan
sesuatu, lalu beliau mendiamkannya (persetujuan/taqrir).
Sangat
mustahil bagi penduduk Madinah —dengan kedekatan tersebut— untuk tidak
mengetahui sesuatu yang justru didapatkan oleh orang di luar mereka. Orang
yang pergi meninggalkan Madinah jumlahnya sedikit, sehingga laporan dari
mereka berstatus Hadis Ahad (individu). Sedangkan tradisi kolektif penduduk
Madinah berstatus Hadis Mutawatir. Tentu yang mutawatir lebih utama daripada
yang ahad.
Sanggahan terhadap Keberatan:
Keberatan: "Bagaimana dengan hal-hal yang terjadi saat Nabi ﷺ sedang berperang
(di luar Madinah)?"
Jawaban: Mereka
yang ikut berperang dan menukilkan hal itu kepada penduduk Madinah adalah
orang Madinah juga. Maka penukilannya tidak keluar dari lingkup mereka.
Keberatan: "Bagaimana dengan hal-hal yang terjadi di Mekkah saat Haji
Wada?"
Jawaban: Penduduk Madinah
menyertai beliau dalam haji tersebut, mereka menyaksikannya dan menukilkan apa
yang beliau lakukan.
Keberatan: "Apakah penduduk
Mekkah bisa memiliki otoritas yang sama?"
Jawaban: Jika mereka sepakat secara kolektif, mereka setara dengan
penduduk Madinah. Namun, kenyataannya kondisi 'berita yang bersambung secara
massal dari awal hingga akhir tanpa terputus oleh riwayat individu' hampir
tidak ditemukan kecuali pada penduduk Madinah. Pada penduduk Madinah, tradisi
mereka memiliki sifat Mutawatir, sehingga harus didahulukan di atas berita
lainnya. Wallahu a'lam."
باب القول في دليل الخطاب
ومن مذهب مالك ـ رحمه الله ـ أن دليل
الخطاب محكوم به ، وقد احتج بذلك في مواضع منها حيث قا ل : (( إن من نحر هديه
بالليل لم يجزه ، لقوله عز وجل : { وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ
مَعْلُومَاتٍ } [الحج : 26] ))
دليله : أنه لا يجزيه إذا نحره بالليل
. [81] .
وكقوله : (( من دخل الدار فاعطه درهما )) .
دليله
: من لم يدخل فلا تعطه شيئا .
وهذا نص منه في القول بدليل الخطاب .
والوجه
فيه أن ينظر ـ عند ورود الخطاب بالشرط أو الصفة ـ إلى سياق الكلام وما تقدمه وما
خرج عليه الخطاب ، فإن وجد دليل يدل على المسكوت عنه وبين المذكور ، صير إليه ،
وإن لم [82] يوجد دليل أمضي الحكم على ما ذكر ، ثم ينظر في حكم المسكوت على سبيل
ما ينظر في الحوادث التي لا نصوص فيها ، فقد يقع السؤال عن شيء على صفة فيخرج
الجواب مقيدا به ، ولا يكون في ذلك دليل على مخالفة المسكوت عنه للمذكور ، كمن
أقر لرجل بألف درهم ،فقيل له : إن كان له عليك ألف درهم فأخرج له منها .
وكالعالم
إذا سئل عن رجل قتل ابنه ؟ فيقول العالم : (( من قتل ابنه فلا قود عليه )) فيكون
ذلك شرط في الأب وحده ؛ ولإنه لا ينفي القود في غيره .
وهذا كما نقول
: إن سائلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن المسح على الخفين ، هل يمسح المسافر
ثلاثة أيام ؟ فقال صلى الله عليه وسلم : (( يسمح المسافر ثلاثة أيام )) ولا يكون
مقصورا على السؤال . [83] .
وكذلك يخرج ما روي أن النبي صلى الله عليه
وسلم قال : (( في سائمة الغنم الزكاة )) أنه سؤال سائل عن هذا وما أشبهه ، فلا
يكون مقصورا على السؤال لقيام الدلي على أن العاملة كالسائمة في وجوب الزكاة فيها
.
وقد يرد الحكم في شيء مذكور ببعض أوصافه فيكون فيما سكت عنه ما قد
يساوي المذكور في حكمه ، ويكون منه ما يخالف ، ألا ترى إلى قوله عز وجل : {
وَحَلَائِلُ مNa6ح !$oYِ/r& الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ } [النساء : 23]
.كيف اشترط في التحريم حلائل أبناء الأصلاب فكان في ذلك نفي [84] لتحريم حلائل
البنين ، ولم يكن فيه نفي لتحريم حلائل أبناء الرضاع ، واستوى حكم حلائل أبناء
الأصلاب وحلائل أبناء الرضاع في التحريم ، ولم يكن أيضا في ذكر أبناء الحلائل من
يخالف فيمن وطئه الأبناء بملك اليمين بل التحريم واحد .
وقد يرد
الخطاب على وجوه ، والظاهر منه إذا تجرد دل على أن ما عداه بخلافه إلا أن يقوم
دليل .
والحجة لقوله بدليل الخطاب إذا تجرد ، هو أن ذلك لغة العرب ؛
لأن الخطاب إنما يقع باللسان العربي ، وبه يحصل البيان ، ووجدنا أهل اللسان
يفرقون بين المطلق والمقيد ، وبين المبهم وما يعلق بالشرط ، فإذا قال القائل : ((
من دخل الدار من بني تميم فأعطه درها )) [ 85] عقل منه خلاف ما يعقل من قوله : ((
من دخل الدار فأعطه درهما )) ، وعقل منه خلاف ما يعقل من قوله : (( من لم يدخل
الدار فأعطه درهما )) .
ولذلك سأل أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم
عن القصر للصلاة إذا أمنوا لما سمعوا قوله تعالى : { فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ
أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ
كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ } [النساء : 101] .
فكان عندهم أن ما
عدا الخوف من الأمن بخلافه ، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( صدقة
تصدق الله عز وجل بها عليكم فاقبلوا صدقته )) ، ولم يرد عليهم ما ظنوه ، ولا
خاطبهم فيما قدروه ، فدل على أن ذلك لغته ولغتهم ـ رضي الله عنهم ـ ، فدل على صحة
القول بدليل الخطاب ، والله أعلم . [86] .
Bab: Penjelasan Mengenai Dalil al-Khithab (Mafhum Mukhalafah)
"Termasuk dari Mazhab Malik —rahimahullah— adalah berhujah dengan Dalil
al-Khithab (pemahaman tersirat yang berlawanan). Beliau telah berhujah dengan
hal ini dalam beberapa masalah, di antaranya:
Penyembelihan Kurban/Hadyu: Beliau berpendapat bahwa siapa yang menyembelih
hewan kurbannya pada malam hari, maka tidak sah. Beliau berhujah dengan firman
Allah Azza wa Jalla: '...dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari
yang telah ditentukan.' (QS. Al-Hajj: 28).
Dalilnya: Karena ayat menyebut 'hari' (siang), maka secara tersirat
tidak sah jika dilakukan pada malam hari.
Contoh
Linguistik: Jika seseorang berkata: 'Siapa yang masuk rumah, berilah dia satu
dirham.'
Dalilnya: Siapa yang tidak
masuk, maka jangan beri dia apa-apa.
Kaidah dan Ketentuan:
Dalam
memahami teks yang dikaitkan dengan syarat atau sifat, kita harus
memperhatikan konteks pembicaraan (siyaqul kalam) dan latar belakang munculnya
teks tersebut.
Jika ada dalil lain yang menjelaskan
status hukum bagi hal yang tidak disebutkan (al-maskut 'anhu), maka kita
merujuk pada dalil tersebut.
Jika tidak ada dalil
lain, maka hukum diberlakukan sesuai teks yang ada, lalu hal yang tidak
disebutkan diteliti sebagaimana meneliti peristiwa baru yang tidak ada
nasnya.
Pengecualian (Kapan Dalil al-Khithab Tidak Berlaku):
Terkadang
sebuah jawaban muncul terikat dengan sifat tertentu karena pertanyaan yang
diajukan memang spesifik, sehingga tidak berarti hal yang tidak disebutkan
berbeda hukumnya.
Contoh 1: Jika seorang alim ditanya
tentang ayah yang membunuh anaknya, lalu ia menjawab: 'Siapa yang membunuh
anaknya tidak dikenakan qishash.' Jawaban ini hanya menjelaskan status ayah,
namun tidak secara otomatis meniadakan qishash bagi selain ayah (seperti
paman).
Contoh 2: Nabi ﷺ ditanya tentang mengusap
sepatu (khuff), apakah musafir boleh mengusap selama tiga hari? Beliau
menjawab: 'Musafir mengusap tiga hari.' Jawaban ini mengikuti pertanyaan,
bukan berarti membatasi hukum hanya pada penanya tersebut.
Contoh 3: Hadis Nabi ﷺ: 'Pada kambing yang digembalakan (sa'imah)
terdapat zakat.' Penyebutan 'digembalakan' mungkin karena adanya pertanyaan
tentang itu, sehingga tidak otomatis berarti kambing yang diberi makan
('alufah) bebas zakat (menurut sebagian ulama), karena ada dalil lain yang
menyamakannya.
Hujah Keabsahan Dalil al-Khithab:
Alasannya
adalah karena ini merupakan Fitrah Bahasa Arab. Para ahli bahasa membedakan
antara pernyataan mutlak dengan pernyataan yang dibatasi (muqayyad), serta
antara pernyataan umum dengan yang digantungkan pada syarat.
Jika
seseorang berkata: 'Berilah dirham kepada Bani Tamim yang masuk rumah', akal
akan menangkap makna yang berbeda jika ia hanya berkata: 'Berilah dirham
kepada yang masuk rumah'.
Dalil dari Praktik Sahabat:
Para
Sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang shalat qashar saat kondisi aman. Hal
ini karena mereka mendengar ayat: '...tidaklah mengapa kamu menyingkat
shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.' (QS. An-Nisa: 101).
Para
Sahabat memahami secara tersirat bahwa jika tidak takut (aman), maka tidak
boleh qashar. Nabi ﷺ tidak menyalahkan logika mereka, melainkan menjawab: 'Itu
adalah sedekah dari Allah kepada kalian, maka terimalah sedekah-Nya.'
Jawaban
Nabi ﷺ menunjukkan bahwa pemahaman tersirat (Mafhum Mukhalafah) para Sahabat
adalah benar secara bahasa, namun dalam kasus qashar, ada hukum tambahan
berupa kemurahan (sedekah) dari Allah. Wallahu a'lam."[]
