Pengkhususan Al-Qur'an dengan As-Sunnah
Nama kitab: Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki Al-Muqaddimah fi al-Ushul
Judul kitab asal: Al-Muqaddimah fi al-Ushul li al-Qishar (المقدمة في الأصول للقصار )
Penulis: Imam Abul Hasan Ibn al-Qishar (أبو الحسن ابن القصار)
Nama lengkap: Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Umar ibn al-Qishar al-Maliki (أبو الحسن، علي بن عمر بن أحمد بن سعد الخولاني البغدادي المالكي، الشهير بـ"ابن القصار)
Tempat/Lahir: Baghdad, Irak,
Tempat/Wafat: Baghdad, Irak, 297 atau 398 H/ 25 Juli 1007 atau 1008 M
Penerjemah: alkhoirot.org / Al-Khoirot Research and Publication
Bidang studi: Ushul fikih, Hukum syariah
Daftar Isi
- Bab XXIII: Sebab-Sebab yang Menjadi Latar Belakang Teks (Khithab)
- Bab XXIV: Tambahan dalam Berita (Ziyadat al-Akhbar)
- Bab XXV: Hal-Hal yang Mengkhususkan Umum (Mukhassis)
- Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an
- Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan As-Sunnah
- Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Ijma' dan Sunnah
- Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Qiyas
- Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Pendapat Sahabat Nabi
- Fasal: Pengkhususan Sunnah dan Prinsip Harmonisasi Dalil
- Bab XXVI: Penjelasan Mengenai Berita (Hadis) yang Saling Berbeda
- Kembali ke: Terjemah Ushul Fikih Mazhab Maliki (al-Muqaddimah fil Ushul)
باب القول في الأسباب
الوارد عليها الخطاب
ومذهب
مالك ـ رحمه الله ـ قصر الحكم على السبب الذي خرج اللفظ عليه متى خلا مما يدل على
اشتراك ما تناوله اللفظ معه .
وحكي عن القاضي إسماعيل بن إسحاق ـ رحمه
الله ـ أن [88] الحكم للفظ دون السبب ، قال : وذلك نحو ما روي عن رسول الله صلى
الله عليه وسلم وقد سئل عن بئر بضاعة وما يلقى فيها من الكلاب فقال : (( خلق الله
عز وجل الماء طهورا لا ينجسه شيء إلا ما غيره )) .
فحكم للماء بأنه
طهور جنسه دون الماء الذي سئل عنه ، فدل على أن كل ماء وصفه ما ذكره ، لأن اللفظ
يقتضي ذلك .
والحجة له أنه لما كان الموجب للحكم هو اللفظ دون السبب ،
وجب أن يكون هو المراعى دونه . [89] .
والحجة للوجه الآخر ـ وهو قول
مالك ـ رحمه الله ـ هو أن السؤال يفتقر إلى الجواب ، والجواب سببه السؤال ، فقد
صار كل واحد منها سببا لصاحبه لا بد له منه ، فلما كان السئال مقصورا على سببه
كان الجواب كذلك [90] ، والله أعلم [91] .
Bab: Penjelasan Mengenai Sebab-Sebab yang Menjadi Latar Belakang Teks (Khithab)
"Mazhab Malik —rahimahullah— berpendapat bahwa hukum dibatasi hanya pada
sebab yang melatarbelakangi keluarnya lafal tersebut, apabila teks tersebut
terlepas dari indikasi yang menunjukkan bahwa hal-hal lain ikut serta dalam
hukum yang dicakup oleh lafal itu.
Diriwayatkan dari Al-Qadhi
Ismail bin Ishaq —rahimahullah— bahwa hukum itu mengikuti lafalnya, bukan
sebabnya (Al-I'tibaru bi 'Umumil Lafzhi la bi Khushushis Sabab). Beliau
berkata:
'Contohnya adalah apa yang diriwayatkan dari
Rasulullah ﷺ ketika beliau ditanya tentang Sumur Budha'ah dan bangkai anjing
yang dibuang ke dalamnya. Beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla
menciptakan air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang menajiskannya kecuali apa
yang mengubahnya (bau, rasa, warnanya).'
Dalam kasus ini, Nabi ﷺ
menetapkan hukum kesucian bagi jenis air secara umum, bukan hanya terbatas
pada air sumur yang ditanyakan saja. Ini menunjukkan bahwa setiap air yang
memiliki sifat tersebut (tidak berubah) adalah suci, karena lafalnya memang
menuntut demikian.
Hujah bagi Pendapat Kedua (Umumnya Lafal):
Bahwasanya
karena yang mewajibkan hukum adalah lafal, bukan sebabnya, maka lafal itulah
yang wajib diperhatikan, bukan sebabnya.
Hujah bagi Pendapat
Pertama (Mazhab Malik):
Bahwasanya sebuah pertanyaan membutuhkan jawaban,
dan jawaban itu sebabnya adalah pertanyaan. Maka masing-masing dari keduanya
menjadi sebab bagi pasangannya yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena
pertanyaan itu terbatas pada sebabnya, maka jawaban pun (seharusnya) terbatas
pada sebab tersebut. Wallahu a'lam."
باب القول في الزائد من الأخبار
من مذهب مالك ـ رحمه الله ـ قبول
الزائد من الأخبار ، وصورته :
أن يروي أحد الراويين خبرا يفيد معنى من
المعاني ، ويروي آخر ذلك الخبر بزيادة لفظة فيه ؛ لأن تلك اللفظة تدل على زيادة
معنى آخر في الحديث ، وتكون اللفظة الزائدة لو انفردت لاستفيد منها معنى ، فيصير
الخبر مع زيادته كالخبرين ، فمن قبل خبر الواحد لزمه قبول ذلك ؛ لأن [92] الزيادة
كخبر آخر، فقبولها واجب ، والله أعلم . [93] .
2. Bab: Penjelasan Mengenai Tambahan dalam Berita (Ziyadat al-Akhbar)
Bab ini membahas bagaimana jika ada dua perawi melaporkan hadis yang
sama, namun salah satunya memberikan tambahan lafal.
Mazhab Malik: Menerima tambahan tersebut (Qabul az-Ziyadah).
Logika: Jika seorang perawi menambahkan satu kata yang memberikan makna
baru, maka tambahan itu statusnya seperti hadis baru yang berdiri sendiri.
Karena kita diwajibkan menerima hadis dari orang yang adil, maka kita pun
wajib menerima tambahan informasi yang ia bawa, selama ia dapat dipercaya.
باب القول فيما يخص به العموم
مذهب مالك ـ رحمه الله ـ أن الآية
العامة إذا كان في العقل تخصيصها خصت به ، وإذا لم يكن في العقل تخصيصها فإنه
يجوز أن يخص بالآية الخاصة ، وكذلك بالسنة المتواترة ، وبالاجماع ، [94] وخبر
الواحد ، وبالقياس . [95] .
3. Bab: Penjelasan Mengenai Hal-Hal yang Mengkhususkan Umum (Mukhassis)
Ibnul Qishshar menjelaskan bahwa ayat yang bermakna umum (Am) bisa
dikhususkan (Takhshish) oleh beberapa hal: Akal, Ayat lain, Sunnah Mutawatir,
Ijma', Hadis Ahad, maupun Qiyas.
فصل
فمما خص بالكتاب قوله عز وجل : { إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ
مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ } [المؤمنون:6] ، فكان
عاما في الجمع بين الأختين بملك اليمين ، ثم خصه قوله تعالى : { وَأَنْ
تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ } [النساء: 23] .
وكذلك
خص قوله عز وجل : { وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ
قُرُوءٍ } [البقرة:228] ، بقوله تعالى : { وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ
مِنْ ِ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي
لَمْ يَحِضْنَ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ }
... الآية [الطلاق:4] . [96]
فدل ذلك على أن قوله تعالى : { أَوْ مَا
مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ } [النساء:3] إلا أن تكونا اختين فلا تجمعوا بينهما في
الوطء .
وكذلك عدتهن الأقراء لإذا كن من أهل المحيض ، وأشباه ذلك كثير
في الكتاب . [97]
Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an
"Di antara dalil umum yang dikhususkan oleh ayat Al-Qur'an lainnya
adalah:
1. Kasus Menyetubuhi Dua Budak Bersaudara
Firman Allah
Azza wa Jalla:
'...kecuali terhadap istri-istri
mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini
tiada tercela.' (QS. Al-Mu'minun: 6).
Ayat ini bersifat umum, yang
(secara lahiriah) membolehkan mengumpulkan dua saudara perempuan jika keduanya
adalah budak milik sendiri. Namun, keumuman ini dikhususkan oleh firman Allah
Ta’ala:
'...dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam
pernikahan/persetubuhan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah
terjadi pada masa lampau.' (QS. An-Nisa: 23).
Maka ayat ini
menunjukkan bahwa maksud dari '...atau budak yang mereka miliki' adalah (boleh
disetubuhi) kecuali jika keduanya bersaudara, maka kalian tidak boleh
mengumpulkan keduanya dalam hal persetubuhan.
2. Kasus Masa Iddah
Wanita
Demikian pula firman Allah Azza wa Jalla:
'Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'
(suci/haid).' (QS. Al-Baqarah: 228).
Ayat ini bersifat umum
(berlaku bagi setiap wanita yang ditalak). Kemudian ayat ini dikhususkan oleh
firman-Nya:
'Dan perempuan-perempuan yang tidak haid
lagi (menopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu, maka
masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu pula perempuan-perempuan yang
tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu adalah
sampai mereka melahirkan kandungannya.' (QS. At-Thalaq: 4).
Ini
menunjukkan bahwa kewajiban iddah dengan hitungan quru’ (masa suci/haid) hanya
berlaku bagi mereka yang memang masih mengalami haid. Contoh-contoh serupa
mengenai pengkhususan ini sangat banyak ditemukan di dalam Al-Kitab
(Al-Qur'an)."
فصل
ومما خص من الكتاب بالسنة قوله عز وجل : { وَالسَّارِقُ
وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا } [النساء:40]
.
وهذا عموم ن فبين النبي صلى الله عليه وسلم أن المراد من ذلك من سرق
ربع دينار فصاعدا ، وبين الرسول عليه السلام أن السرقة من غير حرز لا قطع فيها .
[98]
وكذلك قوله عز وجل : { فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ } [التوبة:5]
، عام ، بين النبي صلى الله عليه وسلم من يجوز قتله ممن لا يجوز من أهل العهد
والذمة ، وغير ذلك مما بينه النبي صلى الله عليه وسلم بسنته من عموم الكتاب مما
يطول ذكره .
وقال الله سبحانه في نبيه صلى الله عليه وسلم: {
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ } [النحل :44] .
وقال :
{ nqمeخ7¨?$$su } [الأنعام:155] .
وقال : { فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ
يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ } [النور:61] . [99] .
Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan As-Sunnah
"Di antara dalil Al-Qur'an yang dikhususkan oleh Sunnah (Hadis) adalah
firman Allah Azza wa Jalla:
'Laki-laki yang mencuri
dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi
apa yang mereka kerjakan.' (QS. Al-Ma'idah: 38).
Ayat ini bersifat
umum. Namun, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa yang dimaksud (terkena hukum potong
tangan) hanyalah orang yang mencuri senilai seperempat dinar atau lebih.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa pencurian yang dilakukan pada barang yang
tidak berada di tempat penyimpanan yang aman (ghairu hirz) tidak dikenakan
hukuman potong tangan.
Begitu pula dengan firman Allah Azza wa
Jalla:
'...maka bunuhlah orang-orang musyrik itu...'
(QS. At-Taubah: 5).
Ayat ini bersifat umum. Namun, Nabi ﷺ
menjelaskan siapa saja yang boleh dibunuh dan siapa yang tidak boleh dibunuh,
seperti penduduk yang terikat perjanjian (Ahli 'Ahd) dan warga non-muslim yang
dilindungi (Dzimmi). Masih banyak contoh lain di mana Nabi ﷺ memberikan
penjelasan khusus terhadap keumuman Al-Qur'an melalui Sunnahnya yang jika
disebutkan semua akan sangat panjang.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala
berfirman mengenai Nabi-Nya ﷺ:
'...agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.' (QS.
An-Nahl: 44).
Dan Allah berfirman:
'...maka ikutilah dia (Rasul)...' (QS. Al-An'am: 155).
Serta
firman-Nya:
'Maka hendaklah orang-orang yang
menyalahi perintah Rasul-Nya takut (akan ditimpa cobaan)...' (QS. An-Nur:
63)."
فصل
ومما خص من الكتاب بالاجماع قوله عز وجل : { يُوصِيكُمُ اللَّهُ
فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ } ... الآية كلها
[النساء:11] .
وأجمعوا أن العبد لا يرث .
وروي عن النبي
صلى الله عليه وسلم أنه قال في قاتل العمد : (( إنه لا يرث )) ، واجمعوا على ذلك
. وقال عليه السلام : (( لا يتوارث أهل ملتين )) .
فقد دل الإجماع على
تخصييص بعض ، والسنة على تخصيص بعض ، وغير ذلك مما خص بالإجماع كثير ، وقد ذكرنا
الدليل على وجوب حجة الإجماع . [101] .
Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Ijma' dan Sunnah
"Di antara dalil Al-Qur'an yang dikhususkan oleh Ijma' (kesepakatan
ulama) adalah firman Allah Azza wa Jalla:
'Allah
mensyariatkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu. Yaitu:
bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan...'
(QS. An-Nisa: 11).
Ayat ini bersifat umum (mencakup semua anak).
Namun, para ulama telah bersepakat (Ijma') bahwa seorang hamba sahaya (budak)
tidak berhak menerima warisan, meskipun ia adalah anak kandung.
Demikian
pula terdapat pengkhususan melalui Sunnah dan Ijma' dalam masalah berikut:
Pembunuh: Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda mengenai orang
yang membunuh dengan sengaja: 'Sesungguhnya ia tidak berhak mewarisi.' Dan
para ulama telah bersepakat atas hal tersebut.
Perbedaan Agama: Nabi ﷺ bersabda: 'Tidak saling mewarisi antara penganut dua
agama yang berbeda.'
Maka, Ijma' telah menunjukkan pengkhususan
bagi sebagian (cakupan ayat), dan Sunnah juga menunjukkan pengkhususan bagi
sebagian lainnya. Masih banyak hal lain yang dikhususkan berdasarkan Ijma',
dan kami telah menyebutkan sebelumnya dalil mengenai wajibnya menjadikan Ijma'
sebagai hujah (otoritas hukum)."
فصل
ومما خص بالقياس قوله عز وجل : { الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي
فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ } [النور:2] .
وقوله
في الإماء : { فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ
نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ } [النساء:25] .
فدلت
هذه الآية على أن الأمة لم تدخل في عموم من أمر بجلدها مئة من النساء ، ثم قيس
العبد على الأمة فجعل حده خمسين كحدها فكانت الأمة مخصوصة بالآية ، والعبد مخصوصا
من [102] قوله تعالى : { الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ
مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ } [النور:2] بالقياس على الأمة ، وقد ذكرنا الدليل على
صحة القياس ، وبالله التوفيق .
Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Qiyas
"Di antara dalil Al-Qur'an yang dikhususkan dengan Qiyas (Analogi)
adalah firman Allah Azza wa Jalla:
'Pezina perempuan
dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali dera.'
(QS. An-Nur: 2).
Dan firman-Nya mengenai para hamba sahaya
perempuan (emak):
'...apabila mereka telah beristri
(bersuami), kemudian mereka melakukan perbuatan keji (zina), maka bagi mereka
separuh dari siksaan (deraan) perempuan-perempuan merdeka yang bersuami.' (QS.
An-Nisa: 25).
Ayat ini (An-Nisa: 25) menunjukkan bahwa hamba sahaya
perempuan tidak termasuk dalam keumuman perintah dera seratus kali bagi
perempuan (dalam surat An-Nur).
Kemudian, hamba sahaya laki-laki
(Al-'Abdu) dianalogikan (qiyas) kepada hamba sahaya perempuan (Al-Amah),
sehingga hukuman had baginya ditetapkan sebanyak lima puluh kali dera
sebagaimana hukumannya. Dengan demikian, hamba sahaya perempuan dikhususkan
(dikeluarkan dari hukum umum 100 kali dera) berdasarkan teks ayat, sedangkan
hamba sahaya laki-laki dikhususkan dari keumuman firman-Nya: 'Pezina perempuan
dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali dera',
berdasarkan Qiyas terhadap hamba sahaya perempuan. Kami telah menyebutkan
sebelumnya dalil mengenai keabsahan Qiyas. Wa billahit taufiq."
فصل
ويجوز عند مالك تخصيص الظاهر بقول الصحابي الواحد إذا لم يعلم له
مخالف وظهر قوله ؛ لأن قوله يلزم ، فيجب التخصيص به ؛ لأنه يجري مجرى الإجماع ،
جميع ذلك مذهبه في تخصيص الآي . [104]
Fasal: Pengkhususan Al-Qur'an dengan Pendapat Sahabat Nabi
"Menurut Imam Malik —rahimahullah— diperbolehkan mengkhususkan makna
lahiriah (at-takhshish az-zhahir) suatu ayat dengan pendapat satu orang
Sahabat, apabila tidak diketahui adanya Sahabat lain yang menyelisihinya dan
pendapat tersebut telah tersebar (masyhur).
Alasannya:
Karena
pendapat Sahabat yang demikian sifatnya mengikat (yalzam), maka wajib
melakukan pengkhususan (takhshish) dengannya. Hal ini dikarenakan kedudukan
pendapat Sahabat yang tidak diselisihi tersebut menempati kedudukan Ijma'
(Konsensus). Seluruh hal yang telah disebutkan ini (mulai dari pengkhususan
dengan Akal, Al-Qur'an, Sunnah, hingga Pendapat Sahabat) merupakan metodologi
Mazhab Malik dalam mengkhususkan ayat-ayat Al-Qur'an."
فصل
وكذلك مذهب مالك ـ رحمه الله ـ في السنة إذا كان اللفظ بها عاما ،
يخصها مثل ما ذكرنا مما يخص به الكتاب فتخص السنة بالكتاب ، وبالسنة ، [105]
وبالإجماع ، وبالقياس ، وبقول الصحابي ، وأصل هذا الباب في البيان بالكتاب والسنة
والإجماع والقياس .
والدليل عليه : أن الدليل لما قام على أن الخاص
يبين معنى العام ، وجب بذلك أن يبين الخاص من الكتاب العام منه ، وإذا وجب ذلك في
الآية بالآية ؛ وجب مثله في الآية والسنة ، وفي الآية والإجماع ؛ لأن هذه كلها
أصول قد لزم العمل بها فهي كالآية الواحدة وكالأصل الواحد ، ومتى تعلق متعلق
بظاهر الآية ، تعلق الآخر بخصوص السنة فتجابذاه ، فإن رامأحدهما طرح ما يتعلق به
صاحبه عارضه صاحبه بمثل ذلك فيما تعلق به ، فإذا تعارضا فالحجة تلزم بهما وبكل
واحد منها وصار كالآيتين ، ووجب الجمع بينهما على ما يؤدي إلى استعمالهما ،
وبالله التوفيق . [106]
Fasal: Pengkhususan Sunnah dan Prinsip Harmonisasi Dalil
"Demikian pula Mazhab Malik —rahimahullah— dalam memandang As-Sunnah
(Hadis); apabila lafal hadis tersebut bersifat umum, maka ia dapat dikhususkan
oleh hal-hal yang sama sebagaimana pengkhusus Al-Kitab (Al-Qur'an) yang telah
kami sebutkan.
Maka, Sunnah dapat dikhususkan oleh:
Al-Kitab (Al-Qur'an).
As-Sunnah (Hadis
lainnya).
Al-Ijma' (Konsensus).
Al-Qiyas (Analogi).
Qawl as-Sahabi (Pendapat
Sahabat).
Dasar dari bab ini adalah bahwa penjelasan (Al-Bayan)
bisa bersumber dari Al-Kitab, As-Sunnah, Al-Ijma', maupun Al-Qiyas.
Argumen
dan Logika Hukum:
Dalil telah tegak bahwa dalil yang bersifat khusus
(Al-Khass) berfungsi menjelaskan makna dari dalil yang bersifat umum (Al-'Am).
Jika sudah wajib hukumnya menjelaskan satu ayat dengan ayat lainnya, maka
wajib pula menjelaskan ayat dengan sunnah, atau ayat dengan ijma'. Hal ini
dikarenakan semua itu adalah Pokok-pokok Hukum (Ushul) yang wajib diamalkan,
sehingga kedudukannya adalah seperti satu ayat yang utuh atau satu pokok yang
tunggal.
Apabila ada seseorang yang berpegang pada makna lahiriah
(zhahir) sebuah ayat, sementara yang lain berpegang pada pengkhususan (khusus)
dari Sunnah, lalu keduanya saling tarik-menarik; jika salah satunya hendak
membuang dalil kawannya, maka kawannya pun akan melakukan hal yang sama. Jika
keduanya bertentangan, maka hujah tetap mengikat pada keduanya secara
bersamaan (karena keduanya valid). Maka posisi keduanya menjadi seperti dua
ayat yang berdampingan, dan wajib untuk mengompromikan keduanya (Al-Jam'u
Bainahuma) sedemikian rupa sehingga kedua dalil tersebut tetap dapat
diamalkan. Wa billahit taufiq."
باب القول في الأخبار إذا اختلفت
ومذهب مالك ـ رحمه الله ـ
التخيير في فعل ما اختلفت الأخبار فيه مثل ما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم من
قول الإمام ، آمين ، وتركه . [107] وما روي عنه من رفع اليدين في الصلاة عند
الركوع والرفع منه وتركه . والتسبيح في الركوع وأشباه ذلك مما اختلفت الأخبار فيه
عن النبي صلى الله عليه وسلم إذا لم تقم الدلالة على قوة أحدهما على الآخر ، ولا
ما أوجب إسقاطهما ولا إسقاط أحدهما . [108]
والحجة في ذلك : أن
الخبرين إذا ثبتا جميعا ، ليس أحدهما أولى من صاحبه ، ولا طريق إلى إسقاطهما ،
ولا إلى إسقاط أحدهما ، وقد تساويا وتقاوما ، وما أمكن الاستعمال ، فلم يبق إلا
التخيير فيهما ، وأن يكون كل واحد منها يسد مسد الآخر ، وصار بمزلة الكفارة التي
قد دخلها التخيير ، والله أعلم . [109]
Bab: Penjelasan Mengenai Berita (Hadis) yang Saling Berbeda
"Mazhab Malik —rahimahullah— berpendapat adanya pilihan (At-Takhyir)
untuk melakukan salah satu dari apa yang disebutkan dalam hadis-hadis yang
saling berbeda. Contohnya seperti riwayat dari Nabi ﷺ mengenai imam yang
mengucapkan 'Amiin' dan riwayat yang menyebutkan imam meninggalkannya (tidak
mengeraskannya).
Begitu pula dengan riwayat mengenai mengangkat
tangan dalam shalat saat akan rukuk dan saat bangkit dari rukuk, serta riwayat
yang meninggalkannya. Juga dalam hal bacaan tasbih saat rukuk dan hal-hal
serupa yang riwayatnya berbeda-beda dari Nabi ﷺ. Ini berlaku selama tidak
tegak dalil yang menunjukkan bahwa salah satunya lebih kuat dari yang lain,
dan tidak ada dalil yang mewajibkan untuk menggugurkan keduanya atau
menggugurkan salah satunya.
Hujah (Argumen) dalam Masalah Ini:
Bahwasanya
apabila dua berita (hadis) tersebut sama-sama tetap (sahih), maka tidak ada
salah satu yang lebih utama dari kawannya. Tidak ada jalan untuk menggugurkan
keduanya, tidak pula menggugurkan salah satunya, karena keduanya setara dan
seimbang, serta memungkinkan untuk diamalkan.
Maka, tidak tersisa
pilihan kecuali memberikan kebebasan memilih (At-Takhyir) di antara keduanya,
dan masing-masing kedudukannya dapat menggantikan yang lain. Hal ini statusnya
menjadi seperti Kifarat (tebusan) yang di dalamnya terdapat pilihan (misalnya
memilih antara memberi makan atau memberi pakaian)."
