Pertemuan antara Hadis Ahad dan Qiyas

Bab: Pertemuan antara Hadis Ahad dan Qiyas Mazhab Malik —rahimahullah— berpendapat bahwa apabila Hadis Ahad bertemu dengan Qiyas (dan keduanya bertent

Bab: Pertemuan antara Hadis Ahad dan Qiyas

Nama kitab: Terjemah Ushul Fikih Madzhab Maliki Al-Muqaddimah fi al-Ushul
Judul kitab asal: Al-Muqaddimah fi al-Ushul li al-Qishar (المقدمة في الأصول للقصار )
Penulis: Imam Abul Hasan Ibn al-Qishar (أبو الحسن ابن القصار)
Nama lengkap: Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Umar ibn al-Qishar al-Maliki (أبو الحسن، علي بن عمر بن أحمد بن سعد الخولاني البغدادي المالكي، الشهير بـ"ابن القصار)
Tempat/Lahir: Baghdad, Irak, 
Tempat/Wafat: Baghdad, Irak, 297 atau 398 H/ 25 Juli 1007 atau 1008 M 
Penerjemah: alkhoirot.org / Al-Khoirot Research and Publication
Bidang studi: Ushul fikih, Hukum syariah

Daftar Isi  

  1. Bab XXVII: Penjelasan Mengenai Pertemuan antara Hadis Ahad dan Qiyas
  2. Bab XXVIII: Penjelasan Bahwa Kebenaran Itu Satu dalam Pendapat Para Mujtahid
  3. Bab XXIX: Penjelasan Mengenai Penundaan Penjelasan (Tak’khirul Bayan)
  4. Bab XXX: Penjelasan Mengenai Perintah kepada Satu Orang (Apakah Berlaku untuk Semua?)
  5. Bab XXXI: Penjelasan Mengenai Lafal Umum yang Dikhususkan Sebagiannya
  6. Bab XXXII: Penjelasan Mengenai Qiyas terhadap Dalil yang Dikhususkan
  7. Bab XXXIII: Penjelasan Mengenai Pengecualian (Istitsna') Setelah Beberapa Kalimat
  8. Bab XXXIV: Penjelasan Mengenai Perintah, Apakah Harus Segera (Fawr) atau Boleh Ditunda (Tarakhi)?
  9. Bab XXXV: Penjelasan Apakah Perintah Menuntut Pengulangan (At-Tikrar) atau Tidak?
  10. Bab XXXVI: Penjelasan Mengenai Penghapusan (Nasakh) Al-Qur'an dengan Sunnah 
  11. Kembali ke: Terjemah Ushul Fikih Mazhab Maliki (al-Muqaddimah fil Ushul)     

 باب القول في خبر الواحد والقياس يجتمعان

ومذهب مالك ـ رحمه الله ـ أن خبر الواحد إذا اجتمع مع القياس ولم يكن استعمالهما جميعا قدم القياس عند بعض أصحابنا .

والحجة له هي أن خبر الواحد لما جاز عليه النسخ ، والغلط ، والسهو ، والكذب ، والتخصيص ، ولم يجز على القياس من الفساد إلا [110] وجه واحد ، وهو أن هذا الأصل معلول بهذه العلة أو لا ؛ وصار أقوى من خبر الواحد فوجب أن يقدم .

وقد اختلف في ذلك :

فقيل : خبر الواحد أولى من القايس في هذا الذي ذكرناه .

وقيل : القياس أولى لما ذكرناه. واختلف فيه أًحابنا ، والله أعلم . [111]

Bab: Penjelasan Mengenai Pertemuan antara Hadis Ahad dan Qiyas


"Mazhab Malik —rahimahullah— berpendapat bahwa apabila Hadis Ahad bertemu dengan Qiyas (dan keduanya bertentangan) serta tidak memungkinkan untuk mengamalkan keduanya secara bersamaan, maka menurut sebagian rekan kami (ulama Malikiyyah), Qiyas harus didahulukan.

Hujah (Argumen) bagi Pendapat Ini:
Bahwasanya Hadis Ahad mengandung berbagai kemungkinan kelemahan seperti:

    Adanya penghapusan hukum (Nasakh).

    Kemungkinan kekeliruan (Ghalat).

    Lupa (Sahwu).

    Kebohongan (Kadzib).

    Serta pengkhususan (Takhshish).

Sedangkan pada Qiyas, tidak ada kemungkinan kerusakan kecuali dari satu sisi saja, yaitu: 'Apakah pokok (ashl) ini benar-benar memiliki sebab hukum ('illah) tersebut atau tidak?'. Mengingat Qiyas (dalam hal ini) dianggap lebih kuat kemantapannya dibanding Hadis Ahad, maka ia wajib didahulukan.

Perbedaan Pendapat dalam Mazhab:
Namun, para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini:

    Ada yang berpendapat: Hadis Ahad lebih utama daripada Qiyas.

    Ada yang berpendapat: Qiyas lebih utama daripada Hadis Ahad karena alasan yang telah kami sebutkan di atas.

Para sahabat kami (ulama Maliki) berselisih dalam hal ini. Wallahu a'lam."

باب القول في أن الحق واحد

من أقوال المجتهدين

قال القاضي ـ رحمه الله ـ :

ومذهب مالك ـ رحمه الله ـ أن الحق واحد من أقاويل المجتهدين ، وذلك أنه قال ـ لما سئل عن اختلاف أصحاب [112] رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( ليس فيه سعة [113] إنما هو خطأ أوصواب )) .

وكذلك قال الليث لما سئل عن ذلك .

وقال مالك ـ رحمه الله ـ (( قولان مختلفان لا يكونان جميعا حقا ، وما الحق إلا واحد )) .

وأجمع مالك وسائر الفقهاء أن الإثم في الخطأ في مسائل الاجتهاد موضوع ، والدليل على ذلك قول النبي صلى الله عليه وسلم : (( إذا اجتهد [114] الحاكم فأصاب فله أجران ، وإن أخطأ فله أجر )) .

وهذا نص في أن في مسائل الاجتهاد ما هو عن خطأ ، فدل على أن الحق في واحد لا في جميعها ، وجعل له الأجر وإن أخطأ على اجتهاده ورفع عنه إثم خطئه .

وهو أيضا إجماع الصحابة ـ رضي الله عنهم ـ لأنهم اختلفوا في مسائل الاجتهاد . وأنكر بعضهم على بعض ، ودعا بعضهم بعضا إلى المباهلة ، وأنكر بعضهم على بعض بأغلظ نكير ، وسوغ بعضهم لبعض الرد على صاحبه ، ولم يقل بعضهم لبعض : الحق معي ومعك ، فلو كان [115] كل واحد منهم مصيبا ، لم يكن لاختلافهم معنى ، فدل ذلك على ما قلناه ، وبالله التوفيق . [116]

Bab: Penjelasan Bahwa Kebenaran Itu Satu dalam Pendapat Para Mujtahid


"Al-Qadhi —rahimahullah— berkata:

Mazhab Malik —rahimahullah— berpendapat bahwa kebenaran itu hanya satu di antara berbagai pendapat para mujtahid. Hal ini didasarkan pada jawaban Imam Malik ketika ditanya tentang perbedaan pendapat para Sahabat Rasulullah ﷺ:

    'Tidak ada kelapangan (untuk membenarkan semuanya) di dalamnya, sesungguhnya ia hanya berupa kesalahan atau kebenaran.'

Demikian pula yang dikatakan oleh Al-Laits (bin Sa'ad) ketika ditanya mengenai hal tersebut. Imam Malik juga berkata:

    'Dua pendapat yang berbeda tidak mungkin keduanya benar secara bersamaan, karena kebenaran itu hanyalah satu.'

Status Dosa dan Pahala:
Imam Malik dan seluruh fukaha telah bersepakat (Ijma') bahwa dosa atas kesalahan dalam masalah ijtihad telah dihapuskan (maudhu'). Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:

    'Apabila seorang hakim berijtihad lalu ia benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila ia berijtihad lalu ia salah, maka baginya satu pahala.'

Hadis ini adalah nas yang jelas bahwa dalam masalah ijtihad terdapat hal yang berstatus salah. Ini menunjukkan bahwa kebenaran hanya terletak pada satu pendapat, bukan pada semua pendapat. Meskipun demikian, Allah tetap memberikan pahala atas usaha ijtihadnya dan menghapuskan dosa dari kesalahannya.

Argumen dari Praktik Sahabat:
Hal ini juga merupakan konsensus (Ijma') para Sahabat —radhiyallahu 'anhum—. Mereka berselisih dalam masalah ijtihad, saling menyanggah satu sama lain, bahkan sebagian mengajak yang lain untuk mubahalah (sumpah kutukan) dan saling mengingkari dengan teguran yang keras. Mereka juga membolehkan satu sama lain untuk membantah pendapat rekannya. Tidak pernah ada seorang Sahabat pun yang berkata kepada rekannya: 'Kebenaran ada padaku dan juga ada padamu.'

Seandainya setiap mujtahid itu benar (mushib), niscaya perselisihan mereka tidak akan ada maknanya. Maka hal ini menunjukkan kebenaran dari apa yang kami katakan. Wa billahit taufiq."

باب القول في تأخير البيان

وليس يختلف مالك ـ رحمه الله ـ وسائر الفقهاء في أن تأخير البيان عن وقت الحاجة لا يجوز ، إنما الخلاف هل يجوز أن يتأخر عن وقت النزول إلى وقت الحاجة ؟

وليس عند مالك ـ رحمه الله ـ في ذلك نص قول ، ولا لأصحابه المتقدمين .

وكان ابن بكير يقول : (( إن البيان يجوزأن يتأخر عن وقت ورود الخطاب إلى وقت الحاجة )) . ويذكر أن مالكا ـ رحمه الله ـ قد أشار على ذلك حيث قال ـ وقد ذكر قول النبي صلى الله عليه وسلم : (( من قتل قتيلا فله سلبه )) ـ : أن ذلك له إذا رآه الإمام ؛ لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد كان قبل ذلك قسم أسلابا كثيرة ، ولم يبلغني أنه قال ذلك إلا يوم حنين . [118]

قال ابن بكير : وقد كان قال مالك : (( لا يجوز أن يتأخر البيان عن وقت الحاجة )) ، فهذا يدل على أنه كان يجوز تأخيره عن وقت النزول . وكان شيخنا أبو بكر بن صالح الأبهري ـ رحمه الله ـ يمنع من ذلك ويقول : (( لا يجوز أن يتأخر البيان عن وقت ورود الخطاب )) .

والحجة لمن جوز تأخيره عن وقت الخطاب إلى وقت الحاجة ما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر معاذا أن يعلم أهل اليمن أن عليهم زكاة تؤخذ من أغنيائهم وترد على فقرائهم ، فأعلمهم معاذ ذلك ، ثم كان بيان شرائع [119] الزكاة ووجوهها يقع لهم على مقدار الحاجة ، حتى سألوه عن وقص البقر ، فأخبرهم أنه لم يسمع من النبي صلى الله عليه وسلم فيه شيئا .

ولا معنى لمن ينكره ؛ لأن ذلك لو كان ممتنعا غير جائز لم يخل أن يكون ممتنعا بالعقل ، أو بالشرع ، ولسنا نعلم في العقل امتناعه ، ولا في الشرع أيضا ما يمنعه .

والحجة لمن منع من ذلك : هو أن المخاطب لا يدري ما يعتقد فيه قبل ورود البيان له ، وأن رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كان البيان يجري على يديه ، فلا يجوز أن تخترمه المنية قبل التبيين ، وقال تعالى : { لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ } [النحل :44] . [120]

وألأول أصح ، وبالله التوفيق . [121] .

Bab: Penjelasan Mengenai Penundaan Penjelasan (Tak’khirul Bayan)


"Imam Malik —rahimahullah— dan seluruh fukaha tidak berselisih pendapat bahwa menunda penjelasan melewati waktu saat hukum itu dibutuhkan (Waqtul Hajah) adalah tidak boleh. Perselisihan terjadi pada: Apakah boleh menunda penjelasan dari waktu turunnya ayat/hadis (Waqtul Wurud) hingga sampai datangnya waktu kebutuhan?

Mengenai hal ini, tidak ditemukan nas (pernyataan eksplisit) dari Imam Malik maupun dari murid-murid senior beliau. Namun, Ibnu Bukair (ulama Maliki) berkata:

    'Boleh menunda penjelasan dari waktu turunnya teks hingga waktu datangnya kebutuhan.'

Beliau menyebutkan bahwa Imam Malik pernah mengisyaratkan hal tersebut saat membahas hadis Nabi ﷺ: 'Siapa yang membunuh musuh, maka baginya barang rampasan (salab) si musuh.' Imam Malik berpendapat bahwa hal itu berlaku jika diputuskan oleh Imam (pemimpin). Beliau beralasan bahwa Nabi ﷺ sebelumnya telah membagikan banyak barang rampasan, namun beliau tidak pernah menyabdakan hal tersebut (sebagai aturan tetap) kecuali pada hari Perang Hunain.

Ibnu Bukair berkata: 'Imam Malik pernah menyatakan tidak boleh menunda penjelasan melewati waktu kebutuhan, ini menunjukkan bahwa beliau membolehkan penundaan penjelasan dari waktu turunnya ayat.'

Di sisi lain, guru kami Abu Bakar bin Shalih al-Abhari —rahimahullah— melarang hal tersebut dan berkata: 'Tidak boleh menunda penjelasan dari saat turunnya teks khithab.'
Argumen Bagi yang Membolehkan Penundaan:

Hujahnya adalah hadis saat Nabi ﷺ mengutus Mu'adz ke Yaman untuk mengajarkan bahwa mereka wajib membayar zakat yang diambil dari orang kaya dan diberikan kepada orang miskin. Mu'adz menyampaikan poin global tersebut, kemudian penjelasan detail mengenai syariat zakat dan kadarnya diberikan secara bertahap sesuai kebutuhan. Sampai-sampai ketika mereka bertanya tentang zakat sapi yang jumlahnya di bawah nishab (waqash al-baqar), Mu'adz mengabarkan bahwa ia belum mendengar penjelasan khusus dari Nabi ﷺ mengenai hal itu.

Secara logika pun tidak ada alasan untuk melarangnya, karena jika hal itu mustahil, maka mustahilnya harus karena Akal atau Syara' (Agama). Namun, kita tidak mendapati Akal maupun Syara' yang melarang penundaan penjelasan tersebut.
Argumen Bagi yang Melarang Penundaan:

Hujahnya adalah jika penjelasan ditunda, orang yang diajak bicara (mukhathab) tidak akan tahu apa yang harus ia yakini sebelum penjelasan itu datang. Selain itu, jika penjelasan ada di tangan Rasulullah ﷺ, dikhawatirkan kematian akan menjemput beliau sebelum penjelasan disampaikan. Allah Ta'ala berfirman: '...agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.' (QS. An-Nahl: 44).

Pendapat yang pertama (membolehkan penundaan hingga waktu kebutuhan) adalah yang lebih shahih. Wa billahit taufiq."

باب القول في خطاب الواحد

هل يكون خطابا للجميع

قال القاضي ـ رحمه الله ـ :

إذا خاطب النبي صلى الله عليه وسلم العين الواحدة هل يكون خطابا للجميع مع المشاركة في الجنس أم لا ؟.

إنا لا نعرف عن مالك ـ رحمه الله ـ نصا في ذلك والذي يدل عليه في ذلك مذهبه ، هو أن الخطاب خطاب الله تعالى ، أو خطاب رسول الله صلى الله عليه وسلم لعين من الأعيان خطاب للجميع ، وذلك [122] أن مالكا ـ رحمه الله ـ روى حديثا عن أبي هريرة في الموطأ أن رجلا أفطر في رمضان في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فأمره رسول الله صلى الله عليه وسلمأن يعتق رقبة ، أو يطعم ستسن مسكينا ؛ أو يصوم شهرين متتابعين ... الحديث ، فاحتج بذلك فيمن أكل في شهر رمضان متعمدا لغير عذر ان عليه الكفارة ، فهذا يدل على أن مذهبه ما قلناه .

ومما يوضح ذلك أيضا : أنه روى حديث فاطمة بنت أبي حبيش أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لها : (( إذا أقبلت الحيضة فدعي الصلاة ، وإذا ذهب قدرها فاغسلي عنك الدم وصلي )) .

فأوجب مالك ـ رحمه الله ـ أن يكون الحكم في النساء كلهن [123] مثل الحكم فيها ، وعول على الحكم في الحيض على هذا الحديث .

والحجة لذلك قول النبي صلى الله عليه وسلم : (( خطابي للواحد خطابي لجميع )) .

وهذا نص فيما ذكرناه ، فوجب الحكم به ، وبالله التوفيق .

Bab: Penjelasan Mengenai Perintah kepada Satu Orang (Apakah Berlaku untuk Semua?)


"Al-Qadhi —rahimahullah— berkata:

Apabila Nabi ﷺ memberikan perintah atau berbicara kepada satu orang tertentu (al-'ain al-wahidah), apakah pembicaraan tersebut menjadi perintah bagi seluruh umat yang memiliki kesamaan jenis (status hukum) dengannya atau tidak?

Kami tidak mendapati nas (pernyataan tertulis) dari Imam Malik —rahimahullah— mengenai masalah ini. Namun, apa yang ditunjukkan oleh mazhab beliau adalah bahwa perintah Allah Ta'ala atau perintah Rasul-Nya ﷺ kepada satu individu tertentu merupakan perintah bagi semuanya.

Contoh Penerapan Mazhab Malik:

    Kifarat Puasa: Imam Malik meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah dalam Al-Muwatta’ bahwa ada seorang laki-laki berbuka puasa di bulan Ramadan pada zaman Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ memerintahkannya untuk memerdekakan budak, atau memberi makan 60 orang miskin, atau berpuasa dua bulan berturut-turut. Imam Malik menggunakan hadis ini sebagai hujah bahwa siapa pun yang makan di bulan Ramadan secara sengaja tanpa uzur, maka ia wajib membayar kifarat. Ini menunjukkan beliau memberlakukan hukum satu orang tersebut kepada semua orang.

    Hukum Haid: Beliau juga meriwayatkan hadis Fatimah binti Abi Hubaisy, di mana Nabi ﷺ bersabda kepadanya: 'Jika haid itu datang, tinggalkanlah shalat. Dan jika masanya telah berlalu, bersihkanlah darah itu darimu dan shalatlah.'
    Imam Malik —rahimahullah— mewajibkan hukum yang sama bagi seluruh wanita sebagaimana hukum yang berlaku pada Fatimah, dan beliau menyandarkan hukum haid (secara umum) pada hadis ini.

Hujah Utama:
Hujah untuk hal ini adalah sabda Nabi ﷺ:

    'Perintahku kepada satu orang adalah perintahku bagi semuanya.'

Ini adalah nas yang sangat jelas mengenai apa yang telah kami sebutkan, maka wajiblah menetapkan hukum berdasarkan prinsip ini. Wa billahit taufiq."

باب القول في العموم يخص بعضه

مذهب مالك ـ رحمه الله ـ في العموم إذا خص بعضه ، هل يكون ما بقي على عمومه ، أو يتوقف عنه حتى يقوم دليل يدل على خصوص أو عموم ؟.

ليس يختلف أصحابنا في أن ما بقي بعد قيام الدليل على خصوصه أنه على العموم .

والدليل على ذلك : أن الله عز وجل خاطبه بلغة العرب ووجدناهم يقولون إذا أمروا من تلزمه طاعتهم وامتثال أوامرهم : (( أعط بني تميم كذا وكذا )) أنه يلزم المأمور أن يعطيهم ما أمر به ، فإذا قال له بعد ذلك : (( لا تعط شيوخ بني تميم شيئا )) لا يكون في ذلك [125] منع لإعطاء من بقي من الشبان ؛ لأن عطية الكل ثابتة بالأمر ، فخروج البعض من الجملة لا يدل على إبطال الكل ، وذلك معقول عندهم ، ومشهور في لسانهم ، فوجب ألا يخرج عن ذلك ، وبالله التوفيق .

Bab: Penjelasan Mengenai Lafal Umum yang Dikhususkan Sebagiannya


"Mengenai lafal umum ('Am) apabila sebagian anggotanya telah dikhususkan (khussya ba'dhuhu); apakah sisa dari anggota yang tidak terkena pengkhususan itu tetap pada keumumannya, ataukah kita harus bersikap tawaqquf (menahan diri/diam) sampai tegak dalil lain yang menunjukkan kekhususan atau keumumannya?

Rekan-rekan kami (ulama Malikiyyah) tidak berselisih pendapat bahwa apa yang tersisa setelah adanya dalil pengkhususan, statusnya tetap pada keumuman (Baqin 'ala al-'Umum).

Hujah (Argumen) dan Logika Bahasa:
Dalil atas hal tersebut adalah: Bahwasanya Allah Azza wa Jalla berbicara dengan lisan/bahasa Arab. Kita dapati dalam kaidah bahasa mereka, jika seseorang yang wajib ditaati perintahnya berkata:

    'Berikanlah kepada Bani Tamim sekian dan sekian.'

Maka wajib bagi yang diperintah untuk memberikan kepada mereka semua sebagaimana yang diperintahkan. Jika setelah itu si pemberi perintah berkata lagi:

    'Jangan berikan sesuatu pun kepada para tetua Bani Tamim.'

Maka larangan tersebut tidaklah menjadi penghalang untuk tetap memberikan pemberian kepada anggota Bani Tamim yang tersisa, yaitu para pemuda. Sebab, perintah pemberian untuk semuanya telah tetap berdasarkan perintah pertama. Keluarnya sebagian anggota dari kelompok besar tersebut tidaklah menunjukkan batalnya hukum bagi sisa anggota kelompok yang ada. Hal ini sangat masuk akal bagi mereka (orang Arab) dan masyhur dalam bahasa mereka. Maka wajib hukumnya untuk tidak keluar dari kaidah bahasa tersebut. Wa billahit taufiq."

باب القول في القياس على المخصوص

مذهب مالك ـ رحمه اله ـ هل يجوز أن يقاس على المخصوص أم لا ـ أن المخصوص إذا عرفت علته جاز القياس عليه ، وإلى هذا ذهب القاضي إسماعيل بن إسحاق ـ رحمه الله ـ . [127]

والحجة لذلك : هو أن الحكم للعلة ، فإذا وجدت علق عليها الحكم ، وذلك مثل قول الله عز وجل : { الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ } [النور:3] .

فكانلك عاما في كل زانية وزان ، وسواءكان عبدا أو حرا ، ثم خص من ذلك الإماء بقوله عز وجل : { فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ } [النساء:25] .

ثم ألحق العبيد بالإماء في الاقتصار على نصف حد الحر من طريق القياس ، وكانت العلة الجامعة بين الإماء والعبيد وجود الزنا مع الرق ن فثبت بذلك جواز القياس على المخصوص ، وبالله التوفيق . [128]

Bab: Penjelasan Mengenai Qiyas terhadap Dalil yang Dikhususkan


"Mengenai Mazhab Malik —rahimahullah— apakah diperbolehkan melakukan analogi (Qiyas) terhadap sesuatu yang sudah dikhususkan (makhshush) atau tidak?

Sesungguhnya hal yang dikhususkan tersebut, apabila telah diketahui penyebab hukumnya ('illah-nya), maka boleh melakukan Qiyas padanya. Inilah pendapat yang dipegang oleh Al-Qadhi Ismail bin Ishaq —rahimahullah—.

Hujah (Argumen):
Bahwasanya hukum itu bergantung pada keberadaan 'illah. Jika 'illah tersebut ditemukan (pada kasus lain), maka hukum tersebut wajib dikaitkan padanya.

Contoh Penerapan:
Firman Allah Azza wa Jalla:

    'Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali dera.' (QS. An-Nur: 2).

Ayat ini bersifat umum bagi setiap pezina, baik ia berstatus budak maupun merdeka. Kemudian, hamba sahaya perempuan (al-ima') dikhususkan dari keumuman tersebut melalui firman Allah Azza wa Jalla:

    '...maka bagi mereka (budak perempuan) separuh dari siksaan perempuan-perempuan merdeka yang bersuami.' (QS. An-Nisa: 25).

Setelah itu, hamba sahaya laki-laki (al-'abid) disetarakan dengan hamba sahaya perempuan dalam hal pembatasan hukuman separuh dari had orang merdeka melalui jalan Qiyas. 'Illah yang mengumpulkan (persamaan) antara budak perempuan dan budak laki-laki adalah: 'adanya perbuatan zina yang dibarengi dengan status perbudakan'. Maka, dengan ini tetaplah keabsahan melakukan Qiyas terhadap sesuatu yang telah dikhususkan. Wa billahit taufiq."

باب القول في الاستثناء عقيب الجملة

عند مالك ـ رحمه الله ـ الاستثناء والشرط إذا ذكر عقيب جملة من الخطاب ، هل يكون رجوعهما إلى جميع ما تقدم ، أو يكونان راجعين إلى أقرب المذكورين ، وهو الذي يليهما ؟ .

والذي يدل عليه مذهب مالك ـ رحمه الله ـ أن يكون الاستثناء [129] راجعا إلى ما تقدم إلا أن تقوم دلالة على المنع ، وذلك أنه قال : (( شهادة القف مقبولة متى تاب لقوله عز وجل : { وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ } [النور:4ـ5] .

فجعل الاستثناء راجعا على جميع ما تقدم من الفسق وقبول الشهادة .

والدليل على صحة ذلك : هو أن الاستثناء رفع لحكم كلام متقدم قد نيط بعضه ببعض حتى صار كالكلمة الواحدة ، فوجب أن يكون راجعا إلى جميعه ، إذ ليس بعضه بالرجوع إليه أولى من بعض . [130]

ومما يبين ذلك أن الله عز وجل قال : { فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا } [العنكبوت :14] .

فكان الاستثناء عاما في جميع ما تقدم ، إذ لم يكن بعض السنسن برجوع ذلك إليه أولى من بعض ؛ لأن جميع ذلك مرتبط بعضه ببعض ، والله أعلم . [131]

Bab: Penjelasan Mengenai Pengecualian (Istitsna') Setelah Beberapa Kalimat


"Menurut Imam Malik —rahimahullah—, apabila pengecualian (Istitsna') dan syarat disebutkan tepat setelah beberapa rangkaian kalimat dalam satu pembicaraan (Khithab), apakah keduanya merujuk kembali kepada seluruh kalimat yang telah disebutkan sebelumnya, atau hanya merujuk kepada kalimat terakhir yang paling dekat dengannya?

Dasar-dasar Mazhab Malik menunjukkan bahwa pengecualian tersebut merujuk kembali kepada seluruh kalimat yang telah disebutkan sebelumnya, kecuali jika terdapat dalil tertentu yang melarang hal itu.

Contoh Penerapan:
Imam Malik berpendapat bahwa kesaksian seorang penuduh zina (Qadzif) dapat diterima kembali jika ia telah bertaubat. Beliau berhujah dengan firman Allah Azza wa Jalla:

    '...(1) dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. (2) Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (3) Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu...' (QS. An-Nur: 4-5).

Imam Malik menjadikan pengecualian tersebut ('Kecuali yang bertaubat') merujuk pada seluruh rangkaian hukum sebelumnya, yaitu mengenai status kefasikan dan penolakan kesaksian.

Hujah (Argumen) Keabsahannya:
Bahwasanya pengecualian itu berfungsi untuk membatalkan (raf'u) hukum dari pembicaraan sebelumnya yang sudah saling terikat satu sama lain hingga menjadi seperti satu kata yang utuh. Oleh karena itu, pengecualian tersebut wajib merujuk kepada seluruh rangkaian kalimat, sebab tidak ada satu bagian pun yang lebih utama untuk dirujuk daripada bagian lainnya.

Contoh Pendukung:
Hal ini dijelaskan pula dalam firman Allah Azza wa Jalla:

    '...maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kecuali lima puluh tahun.' (QS. Al-Ankabut: 14).

Dalam ayat ini, pengecualian tersebut bersifat umum bagi seluruh jumlah yang disebutkan sebelumnya (seribu tahun), karena tidak ada satu bagian tahun pun yang lebih utama untuk dikecualikan daripada bagian lainnya; sebab semuanya saling berkaitan satu sama lain. Wallahu a'lam."

باب القول في الأوامر هل هي على الفور أو التراخي

ليس عن مالك ـ رحمه الله ـ في ذلك نص ، ولكن مذهبه يدل على أنها على الفور ؛ لأن الحج عنده على الفور ، ولم يكن ذلك كذلك إلا لأن الأمر اقتضاه . [132]

والحجة له ، قوله تعالى : { # qممح'$y™ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ } [آل عمران:133] . قال المفسرون : إلى الأعمال لبتي بها تغفر ذنوبكم .

وهذا عام في كل عمل ، فأمرنا بالمسارعة ، والتراخي ضد المسارعة ، فدل على أن الأوامر على الفور دون التراخي .

فإن قيل : قوله عز وجل : { # qممح'$y™ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ } يدل [133] على وجوب المبادرة إلى ما يسقط الذنوب ، ويوجب غفرانها ؛ لأن المغفرة إنما تكون للذنب ، وليس في ظاهر الآية إلا وجوب التوبة وما يوجب التكفير للذنوب التي يستحق عليها العقاب ، وهذا ما لا خلاف في وجوب المبادرة إليه ، فمن زعم أن غيره من الأفعال بمنزلته ، فعله إقامة الدليل .

قيل له : سائر الإعال الطاعات والحسنات تغفر بها السيئات ، قال الله تعالى : { إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ } [هود :114] .

والمبادرة على فعل ما أمر الله به من الطاعات والشرائع مما تغفر به السيئات ، فثبت ما قلناه ، والله أعلم . [134]

Bab: Penjelasan Mengenai Perintah, Apakah Harus Segera (Fawr) atau Boleh Ditunda (Tarakhi)?


"Tidak ditemukan nas (pernyataan eksplisit) dari Imam Malik —rahimahullah— mengenai masalah ini. Akan tetapi, metodologi mazhab beliau menunjukkan bahwa perintah menuntut untuk segera dilaksanakan (Al-Fawr). Hal ini didasarkan pada pendapat beliau bahwa ibadah Haji hukumnya wajib dilaksanakan segera (begitu mampu), dan tidaklah demikian melainkan karena perintah (haji) itu sendiri menuntut kesegeraan.

Hujah (Argumen):
Firman Allah Ta'ala:

    'Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu...' (QS. Ali Imran: 133).

Para ahli tafsir berkata: (Bersegeralah) kepada amal-amal yang dengannya dosa-dosa kalian diampuni.

Ayat ini bersifat umum mencakup setiap amal perbuatan. Kita diperintahkan untuk bersegera (al-musara'ah), sedangkan menunda-nunda (at-tarakhi) adalah lawan dari bersegera. Maka ini menunjukkan bahwa setiap perintah pada dasarnya menuntut kesegeraan, bukan penundaan.

Sanggahan dan Jawaban:

    Keberatan: "Ada yang berpendapat bahwa ayat tersebut hanya menunjukkan wajibnya bersegera pada hal-hal yang dapat menggugurkan dosa, yaitu bertaubat dan amal penghapus dosa (takfir), karena ampunan (maghfirah) hanya ada untuk dosa. Ini adalah hal yang tidak diperselisihkan kewajibannya (segera taubat). Adapun jika ada yang mengklaim bahwa perbuatan taat lainnya berkedudukan sama (wajib segera), maka ia harus membawa dalil lain."

    Jawaban: Seluruh amal ketaatan dan kebaikan pada dasarnya adalah penghapus bagi kesalahan-kesalahan. Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.' (QS. Hud: 114). Maka, bersegera mengerjakan apa yang diperintahkan Allah baik berupa ketaatan maupun syariat adalah bagian dari hal yang dengannya dosa-dosa diampuni. Maka tetaplah kebenaran dari apa yang kami katakan (bahwa semua perintah wajib segera). Wallahu a'lam."

باب قال في الأوامر هل تقتضي

تكرار المأمور به أم لا ؟

قال القاضي ـ رحمه الله ـ

الأمر بالفعل إذا تجرد هل يقتضي تكراره ، أم لا يقتضي ذلك إلا بدليل ؟.

ليس عن مالك ـ رحمه الله ـ فيه نص ، ولكن مذهبه عندي يدل على تكراره إلا أن يقوم دليل [136] والحجة لذلك حديث سراقة لما سأل النبي صلى الله عليه وسلم فقال : أحجتنا هذه لعامنا أم للأبد ؟

فقال النبي صلى الله عليه وسلم : (( اتركوني ما تركتكم )) .

وقيل في خبر : (( بل للأبد )) .

وسراقة عربي ، فلولا أن حكم الخطاب في اللغة يوجب ذلك ، وإلا فما وجه مسألته عن ذلك ؛ لأن الأمر لو كان لا يعقل منه إلا مرة واحدة لم يسأل سراقة عن الأبد ، ولا سوغه النبي صلى الله عليه وسلم ذلك ، ولكان يقول له : إذا أمرت بأمر معروف فمعناه في لغتك فلم تسأل عما تعقله من الأمر ؟.

فإن قال قائل : هذا ينقلب عليكم ؛ لأنه لو كانت الأمر يوجب التكرار لما كان لسؤاله معنى ، ولقال له النبي صلى الله عليه وسلم : قد أمرت بأمر مفهوم معقول في لسانك أنه للتكرار ، فلم تسأل عما تعقله بالأمر ؟ .

قيل له : فائدة سؤاله ها هنا هو أنه لما رأى الصلوات والصيام يتكرران ، وكانت المشقة العظيمة تلحق في الحج ، ولا يكون مثلها في سائر العبادات ، ثم ورد عليه الأمر الذي يوجب التكرار ، خاف أن يكون بمنزلة سائر العبادات التي تتكرر ، فحينئذ سأل النبي صلى الله عليه وسلم ، ولو كان الأمر يوجب فعل مرة واحدة لما كان لسؤاله معنى ؛ لأنه ليس بخالف أن يتكرر فيسأل عنه .

قال القاضي ـ رحمه الله ـ :

وعندي أن الصحيح ، هو أن الأمر إذا أطلق يقتضي فعل [138] مرة وتكراره يحتاج إلى دليل .

والدليل على ذلك : أن معنى قوله : (( صلوا )) المراد منه فيما توجبه اللغة : افعلوا صلاة .

وقوله : (( صلوا ، ثم صلوا )) يقتضي فعل صلاصتين .

وكذلك لو قال : (( صلوا عشر صلوات )) أو (( عشرة أيام )) اقتضى عددا أكثر من ذلك .

وكذلك إذا قال : (( صلوا أبدا )) ، وهذه ألفاظ قد وضعها أهل اللغة للتكرار ، فإذا ورد الأمر مجردا منها لم يدل بمجرد قوله : (( صلوا )) إلا على فعل مرة واحدة ، والله أعلم . [139]

Bab: Penjelasan Apakah Perintah Menuntut Pengulangan (At-Tikrar) atau Tidak?


"Al-Qadhi —rahimahullah— berkata:

Apabila sebuah perintah untuk melakukan perbuatan bersifat mutlak (tanpa keterangan tambahan), apakah ia menuntut pengulangan perbuatan tersebut secara terus-menerus, ataukah tidak menuntut pengulangan kecuali ada dalil lain yang menyertainya?

Tidak ada pernyataan eksplisit (nas) dari Imam Malik —rahimahullah— mengenai hal ini. Namun, menurut pendapat saya (Ibnul Qishshar), metodologi mazhab beliau menunjukkan bahwa perintah menuntut pengulangan kecuali jika ada dalil yang membatasi.

Argumen Pendapat Pertama (Mendukung Pengulangan):
Hujahnya adalah hadis Suraqah bin Malik ketika ia bertanya kepada Nabi ﷺ: "Apakah haji kita ini hanya untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?"

Nabi ﷺ menjawab: "Biarkanlah aku selama aku membiarkan kalian." (Dalam riwayat lain disebutkan: "Bahkan untuk selamanya").

Suraqah adalah seorang Arab asli. Seandainya kaidah bahasa Arab tidak menunjukkan bahwa sebuah perintah berpotensi menuntut pengulangan, tentu tidak ada alasan bagi Suraqah untuk bertanya demikian. Jika perintah secara bahasa hanya dipahami untuk dilakukan satu kali saja, niscaya Nabi ﷺ akan menegurnya dengan berkata: "Engkau tahu dalam bahasamu bahwa perintah hanya berarti sekali, mengapa engkau bertanya tentang sesuatu yang sudah engkau pahami?"

Sanggahan dan Jawaban:

    Keberatan: Jika perintah memang asalnya menuntut pengulangan, justru pertanyaan Suraqah menjadi tidak bermakna karena ia seharusnya sudah tahu itu untuk selamanya.

    Jawaban: Suraqah bertanya karena ia melihat ibadah lain seperti Shalat dan Puasa berulang, namun ibadah Haji memiliki tingkat kesulitan (masyaqqah) yang sangat besar. Ia khawatir perintah Haji yang bersifat umum itu akan memberatkannya seperti ibadah harian, sehingga ia butuh penegasan. Jika perintah asalnya hanya sekali, ia tidak akan merasa takut akan adanya pengulangan.

Pendapat Kedua (Pendapat Pribadi Ibnul Qishshar):

"Al-Qadhi —rahimahullah— berkata:

Menurut saya, pendapat yang Shahih adalah: Perintah yang bersifat mutlak hanya menuntut pelaksanaan satu kali saja, sedangkan untuk pengulangan (tikrar) diperlukan dalil tambahan.

Hujah (Argumen):
Secara bahasa, perintah "Shalatlah!" maknanya adalah "Lakukanlah satu kali shalat".

    Jika seseorang berkata: "Shalatlah, kemudian shalatlah!", barulah ia menuntut dua kali shalat.

    Jika dikatakan: "Shalatlah sepuluh kali" atau "sepuluh hari", barulah menuntut jumlah yang lebih banyak.

    Jika dikatakan: "Shalatlah selamanya (Abadan)", barulah menuntut pengulangan terus-menerus.

Kata-kata di atas (sepuluh kali, selamanya) adalah lafal yang memang diletakkan ahli bahasa untuk menunjukkan pengulangan. Maka, jika perintah datang tanpa kata-kata tersebut (hanya "Shalatlah"), secara bahasa ia tidak menunjukkan kecuali kewajiban melakukan satu kali saja. Wallahu a'lam."

باب القول في نسخ القرآن بالسنة

ليس يعرف عن مالك ـ رضي الله عنه ـ في هذا نص .

واستدل أبو الفرج القاضي المالكي على أن مذهب مالك ـ رحمه الله ـ : أن ذلك يجوز . [141]

قال : لأن مذهبه أن (( لا وصية لوارث )) ، وهذا من مذهبه يدل على أن نسخ القرآن بما صح عن النبي صلى الله عليه وسلم .

وذهب على أبي الفرج أن مالكا ـ رحمه الله ـ قال في الموطأ : (( نسخت آية المواريث الوصية للوارث )) .

والأمر محتمل ، وقد اختلف في ذلك :

فمن ذهب إلى أنه يجوز ، فحجته : أن النبي صلى الله عليه وسلم قد ثبت صدقه ، وهو الأصل فيما جاءنا به عن الله عز وجل ، فلا فرق إذا وردت آية [142] .

عامة بين أن يبين لنا أنه أريد بها بعض الأعيان دون بعض ، وبين أن يبين لنا أنه أريد بها زمان دون زمان ؛ لأن هذا تخصيص للأعيان ، وهذا تخصيص للأزمان ، فإذا جاز أن يخص النبي صلى الله عليه وسلم ببيانه الأعيان بالتفاق ، جاز أن يخص النبي صلى الله عليه وسلم ببيانه الأزمان قياسا عليه لأنه مثله .

ومن امتنع من ذلك ، فعلى وجهين :

أحدهما : أنه لم توجد سنة نسخت قرآنا . [143]

والوجه الآخر : أنه لا يجوز أن توجد

واستدل بقوله عز وجل : { مَا نَنْسَخْ مِنْ آَيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا } [البقرة 105] قال : فقوله تعالى : { نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا } يريد آية خيرا منها ؛ لأن قائل لو قال لعبده : (( ما آخذ منك ثوبا إلا أعطيتك خيرا منه )) يريد ثوبا خيرا منه لا ثوبا مثله ، هذا مفهوم [144] من كلام العرب ، فأخبر الله ع زوجل أنه يأتي بخير منها أو مثلها ، فلو كان يجوز أن يأتي بغيره مما ليس بقرآن لذكره ، والله أعلم . [145]

Bab: Penjelasan Mengenai Penghapusan (Nasakh) Al-Qur'an dengan Sunnah


"Tidak diketahui adanya pernyataan eksplisit (nas) dari Imam Malik —radhiyallahu 'anhu— mengenai masalah ini. Namun, Abu Al-Faraj (seorang Qadhi dari kalangan ulama Maliki) berargumen bahwa metodologi Imam Malik menunjukkan bolehnya hal tersebut terjadi.

Argumen Abu Al-Faraj:
Beliau berdalil bahwa dalam Mazhab Maliki berlaku kaidah: "Tidak ada wasiat bagi ahli waris" (Hadis). Hal ini menunjukkan bahwa hukum dalam Al-Qur'an (yang awalnya membolehkan wasiat bagi orang tua dan kerabat dalam QS. Al-Baqarah: 180) telah dihapus (mansukh) oleh hadis tersebut yang telah terbukti keabsahannya dari Nabi ﷺ.

Namun, Ibnul Qishshar mencatat bahwa Abu Al-Faraj mungkin luput memperhatikan pernyataan Imam Malik dalam Al-Muwatta’ yang menyebutkan: "Ayat Mawaris (pembagian warisan dalam Al-Qur'an) lah yang menghapus hukum wasiat bagi ahli waris." (Artinya, menurut Imam Malik, itu adalah penghapusan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, bukan dengan Hadis).

Meskipun demikian, masalah ini tetap mengandung kemungkinan dan telah diperselisihkan oleh para ulama:
1. Argumen yang Membolehkan (Nasakh Qur'an dengan Sunnah)

Hujahnya adalah: Nabi ﷺ telah terbukti kejujurannya dan beliau adalah perantara utama apa yang datang dari Allah Azza wa Jalla. Maka, tidak ada perbedaan ketika sebuah ayat bersifat umum:

    Jika Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ayat itu hanya berlaku untuk orang tertentu (Takhshish individu/objek), maka itu dibolehkan berdasarkan kesepakatan (ittifaq).

    Maka secara analogi (qiyas), Nabi ﷺ juga boleh menjelaskan bahwa ayat itu hanya berlaku untuk waktu tertentu (Nasakh/Takhshish waktu).
    Sebab, Nasakh pada dasarnya adalah "pengkhususan waktu" (takhshish al-azman), sebagaimana Takhshish adalah "pengkhususan objek" (takhshish al-a'yan). Karena keduanya serupa, maka hukumnya harus sama.

2. Argumen yang Melarang

Larangan ini didasarkan pada dua alasan:

    Secara Fakta: Tidak ditemukan satu pun Sunnah (hadis) yang secara riil menghapus hukum Al-Qur'an.

    Secara Syariat: Memang tidak diperbolehkan secara prinsipil.

Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:

    "Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya..." (QS. Al-Baqarah: 106).

Logika bahasanya: Jika seseorang berkata kepada budaknya: "Tidaklah aku mengambil sebuah baju darimu, kecuali aku beri gantinya yang lebih baik," maka yang dimaksud adalah baju yang lebih baik, bukan sesuatu yang lain. Ini adalah pemahaman dalam bahasa Arab. Maka, ketika Allah berfirman akan mendatangkan yang "lebih baik" atau "sebanding" setelah menghapus sebuah ayat, maka penggantinya haruslah berupa Ayat (Al-Qur'an) lagi. Seandainya boleh diganti dengan selain Al-Qur'an (seperti Sunnah), niscaya Allah akan menyebutkannya. Wallahu a'lam."[]

LihatTutupKomentar