Kitab Ghasab Madzhab Hanbali

Kitab Ghasab Madzhab Hanbali Barangsiapa menyita (menggasab) sebidang tanah lalu menanaminya dengan tanaman keras (pohon), maka ia dipaksa untuk menca

Kitab Ghasab Madzhab Hanbali

 Nama kitab: Terjemah Mukhtashar Al-Khiraqi
Judul asal: Mukhtashar Al-Khiraqi dikenal dengan nama Matn al-Khiraqi ala Madzhab Abi Abdillah ibn Hanbal al-Syaibani ("مختصر الخرقي ويُعرف بـ "متن الخرقي على مذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل الشيباني")
Penulis: Abu al-Qasim Umar ibn al-Husain bin Abdillah al-Khiraqi ( أبو القاسم عمر بن الحسين بن عبد الله الخرقي )
Wafat: 334 H.
Penerjemah: Al-Khoirot Research & Publication
Bidang studi: Fikih madzhab Hanbali (Hambali)

Daftar Isi

  1. Kitab Al-Ghasb (Ghasab/Penyitaan Hak secara Zalim)
  2. Kitab Asy-Syuf'ah (Hak Melebihi dalam Pembelian Aset Bersama) 
  3. Kitab Al-Musaqah (Kerja Sama Pengairan Kebun) 
  4. Kitab Al-Ijarah (Sewa Properti dan Upah Tenaga Kerja) 
  5. Kitab Ihya' Al-Mawat (Menghidupkan Lahan Mati)  
  6. Kembali ke: Mukhtashar Al-Khiraqi Fikih Mazhab Hanbali  

 كتاب الغصب1

Kitab Al-Ghasb (Ghasab/Penyitaan Hak secara Zalim) 

ومن غصب أرضا فغرسها أخذ بقلع غرسه وأجرتها إلى وقت تسليمها ومقدار نقصانها إن كان نقصها الغرس وإن كان زرعها فأدركها ربها والزرع قائم كان الزرع لصاحب الأرض وعليه النفقة فإن استحقت بعد أخذ الغاصب الزرع لزمه أجرة الأرض.

ومن غصب عبدا أو أمة وقيمته مائة فزاد في بدنه أو تعليم صنعة حتى صارت قيمته مائتي درهم ثم نقص بنقصان بدنه أو نسيان ما علم حتى صارت قيمته مئة أخذه سيده وأخذ من الغاصب مائة ولو غصب جارية فوطئها وأولدها لزمه الحد وأخذها سيدها وأولادها ومهر مثلها وإن كان الغاصب باعها فوطئها المشتري وأولدها وهو لا يعلم ردت الجارية إلى سيدها ومهر مثلها وفدى أولاده بمثلهم وهم أحرار ورجع بذلك كله على الغاصب.

ومن غصب شيئا ولم يقدر على رده لزمت الغاصب القيمة فإن قدر على رده وأخذ القيمة ولو غصبها حاملا فولدت في يديه ثم مات الولد أخذها سيدها وقيمة ولدها أكثر ما كانت قيمته وإذا كانت للمغصوب أجرة فعلى الغاصب رده وأجره مثله مدة مقامه في يده.

ومن أتلف لذمي خمرا أو خنزيرا فلا غرم عليه وينهى عن التعرض لهم فيما لا يظهرونه والله أعلم.

1 الغصب: هو أخذ شخص حق غيره والاستيلاء عليه عدوانا وقهرا عنه.

Kitab Al-Ghasb (Ghasab/Penyitaan Hak secara Zalim) 

Barangsiapa menyita (menggasab) sebidang tanah lalu menanaminya dengan tanaman keras (pohon), maka ia dipaksa untuk mencabut tanamannya tersebut, membayar sewa tanah hingga waktu penyerahannya kembali, serta membayar ganti rugi atas penurunan nilai tanah jika penanaman tersebut merusak kualitas tanah.

Jika ia menanaminya dengan tanaman semusim (biji-bijian/palawija) lalu pemilik tanah mendapatinya saat tanaman itu masih tegak berdiri, maka tanaman itu menjadi hak pemilik tanah, dan pemilik tanah wajib mengganti biaya penanamannya. Namun, jika hak atas tanah itu dipulihkan setelah si penggasab memanen tanamannya, maka si penggasab wajib membayar sewa tanah tersebut.

Barangsiapa menggasab seorang budak laki-laki atau perempuan yang nilainya 100 dirham, lalu nilainya meningkat menjadi 200 dirham karena pertumbuhan fisiknya atau karena diajarkan suatu keterampilan, kemudian nilainya turun kembali menjadi 100 dirham akibat penurunan kondisi fisiknya atau karena ia lupa akan keterampilan yang telah diajarkan, maka pemilik budak tersebut berhak mengambil budaknya kembali beserta uang kompensasi 100 dirham dari si penggasab.

Jika seseorang menggasab seorang budak perempuan lalu menyetubuhinya hingga melahirkan anak, maka si penggasab dikenai hukuman had (zina), dan pemilik budak mengambil kembali budak perempuannya, anak-anaknya, serta mendapatkan mahar mitsil (mahar yang sepadan). Jika si penggasab menjual budak perempuan tersebut, lalu si pembeli menyetubuhinya hingga melahirkan anak dalam keadaan si pembeli tidak mengetahui (bahwa budak itu hasil gasab), maka budak perempuan tersebut harus dikembalikan kepada pemilik aslinya beserta mahar mitsil-nya. Si pembeli harus menebus anak-anaknya dengan tebusan yang sepadan (untuk memerdekakan mereka), dan anak-anak tersebut berstatus merdeka. Kemudian, si pembeli dapat menuntut ganti rugi atas seluruh biaya tersebut kepada si penggasab.

Barangsiapa menggasab sesuatu dan tidak mampu mengembalikannya, maka ia wajib mengganti nilainya. Jika di kemudian hari ia mampu mengembalikannya, maka barang tersebut dikembalikan dan nilai (uang ganti rugi) yang telah diambil dipulangkan kembali.

Jika ia menggasab seekor hewan/budak dalam keadaan hamil lalu melahirkan di tangannya, kemudian anak tersebut mati, maka pemiliknya berhak mengambil induknya serta nilai harga anaknya berdasarkan nilai tertinggi yang pernah dicapai oleh anak tersebut semasa hidup. Apabila barang yang digasab itu memiliki nilai sewa, maka si penggasab wajib mengembalikannya beserta upah sewa yang sepadan (ujrah mitsil) selama barang tersebut berada di tangannya.

Barangsiapa merusak khamar atau babi milik seorang kafir dzimmi, maka tidak ada kewajiban ganti rugi (ghurm) baginya, namun kaum muslimin dilarang mengganggu mereka dalam hal-hal yang tidak mereka tampakkan (secara terbuka). Wallahu a'lam.

  Ghasab: Mengambil hak orang lain dan menguasainya secara zalim (permusuhan) dan paksa.

كتاب الشفعة1

Kitab Asy-Syuf'ah (Hak Melebihi dalam Pembelian Aset Bersama) 

ولا تجب الشفعة إلا للشريك المقاسم فإذا وقعت الحدود وصرفت الطرق فلا شفعة [ومن كان غائبا] لم يطالب بالشفعة في وقت علمه بالبيع فلا شفعة له.

ومن كان غائبا فعلم بالبيع وقت قدومه فله الشفعة وإن طالت غيبته وإن علم وهو في السفر فلم يشهد على مطالبته فلا شفعة له فإن لم يعلم حتى تبايع ذلك ثلاثة أو أكثر كان له أن يطالب بالشفعة من شاء منهم فإن طالب الأول رجع الثاني بالثمن الذي أخذه منه والثالث على الثاني وللصغير إذا كبر المطالبة بالشفعة وإذا بنى المشتري أعطاه الشفيع قيمة بنائه إلا أن يشاء المشتري أن يأخذ بناءه فله ذل إذا لم يكن في أخذه ضرر وإن كان الشراء وقع بعين أو ورق أعطاه الشفيع مثل ذلك وإن كان عرضا أعطاه قيمته وإن اختلفا في قدر الثمن فالقول ما قال المشتري مع يمينه إلا أن يكون للشفيع بينة.

وإذا كانت دار بين ثلاثة لأحدهم نصفها وللآخر ثلثها وللآخر سدسها فباع أحدهم كانت الشفعة بين النفسين على قدر سهامهما فإن ترك أحدهما شفعته لم يكن للآخر أن يأخذ إلا الكل أو يترك وعهدة الشفيع على المشتري وعهدة المشتري على البائع والشفعة لا تورث إلا أن يكون الميت طالب بها وإن أذن الشريك بالبيع ثم طالب بالشفعة بعد وقوع البيع فله ذلك ولا شفعة لكافر على مسلم والله أعلم.

1 الشفعة: هي تملك المشفوع فيه جبرا عن المشتري بما قام عليه من الثمن والنفقات.

Kitab Asy-Syuf'ah (Hak Melebihi dalam Pembelian Aset Bersama) 

Hak syuf'ah tidak wajib (berlaku) kecuali bagi sekutu (pemilik bersama) yang hartanya belum dibagi (asy-syarik al-muqasim). Apabila batas-batas tanah telah ditetapkan dan jalan-jalannya telah dialihkan (masing-masing sudah terpisah secara resmi), maka tidak ada lagi hak syuf'ah. Barangsiapa yang sedang tidak berada di tempat (ghaib) lalu ia tidak menuntut hak syuf'ah pada saat ia mengetahui terjadinya penjualan, maka gugurlah hak syuf'ah baginya.

Barangsiapa yang sedang tidak berada di tempat, lalu baru mengetahui penjualan tersebut pada saat kepulangannya, maka ia tetap memiliki hak syuf'ah meskipun masa kepergiannya lama. Namun, jika ia mengetahuinya saat masih dalam perjalanan (safar) tetapi ia tidak mempersaksikan tuntutannya (tidak menyatakan secara resmi di depan saksi), maka tidak ada hak syuf'ah baginya.

Jika ia tidak mengetahui penjualan tersebut sampai aset itu diperjualbelikan secara berantai oleh tiga orang atau lebih, maka ia berhak menuntut hak syuf'ah kepada siapa saja yang ia kehendaki di antara mereka. Jika ia menuntut kepada pembeli pertama, maka pembeli kedua menuntut kembali uang pembeliannya dari pembeli pertama, dan pembeli ketiga menuntut kepada pembeli kedua.

Seorang anak kecil apabila telah beranjak dewasa berhak menuntut hak syuf'ah-nya. Apabila si pembeli telah mendirikan bangunan di atas tanah tersebut, maka orang yang mengambil hak syuf'ah (syafi') wajib memberikan ganti rugi senilai bangunannya kepada pembeli, kecuali jika si pembeli memilih untuk membongkar dan mengambil kembali material bangunannya sendiri; pembeli berhak melakukan hal itu asalkan pembongkarannya tidak menimbulkan kerusakan pada tanah.

Jika pembelian tersebut menggunakan emas ('ain) atau perak (waraq), maka orang yang mengambil hak syuf'ah harus membayar dengan jumlah yang serupa. Jika pembelian menggunakan barang dagangan ('aradh), ia harus membayar senilai harganya. Apabila keduanya berselisih mengenai nominal harga pembeliannya, maka perkataan yang dimenangkan adalah perkataan si pembeli disertai sumpah, kecuali jika pihak penuntut (syafi') memiliki bukti nyata (bayyinah).

Jika sebuah rumah dimiliki bersama oleh tiga orang, di mana orang pertama memiliki setengah (1/2), orang kedua sepertiga (1/3), dan orang ketiga seperenam (1/6), lalu salah seorang dari mereka menjual bagiannya, maka hak syuf'ah dibagi di antara dua orang yang tersisa sesuai dengan kadar kepemilikan saham mereka masing-masing. Jika salah satu dari keduanya melepaskan hak syuf'ah-nya, maka pihak yang satu lagi tidak boleh mengambil sebagian saja, melainkan ia harus mengambil seluruhnya atau melepaskannya sama sekali.

Tanggung jawab hukum ('uhdah) orang yang menuntut syuf'ah berada pada pembeli, dan tanggung jawab pembeli berada pada penjual. Hak syuf'ah tidak dapat diwariskan, kecuali jika orang yang meninggal tersebut telah menuntut haknya sebelum wafat. Jika seorang sekutu memberikan izin untuk menjual, namun kemudian ia tetap menuntut hak syuf'ah setelah penjualan itu terjadi, maka ia diperbolehkan melakukannya. Dan tidak ada hak syuf'ah bagi orang kafir atas aset milik seorang muslim. Wallahu a'lam.

  Syuf'ah: Kepemilikan atas objek syuf'ah secara paksa dari tangan pembeli sebesar nilai harga beli asli serta biaya-biaya yang telah dikeluarkannya.

كتاب المساقاة1

Kitab Al-Musaqah (Kerja Sama Pengairan Kebun)

وتجوز المساقاة في النخل والشجر والكرم بشيء معلوم يجعل للعامل من الثمر ولا يجوز أن يجعل له فضل دراهم.

وتجوز المزارعة2 ببعض ما يخرج من الأرض إذا كان البذر من رب الأرض فإن اتفقا على أن يأخذ رب الأرض مثل بذره ويقتسما ما بقي لم يجز وكان للمزارع أجرة مثله وكذلك يبطل إن أخرج المزارع البذر ويصير الزرع للمزارع وعليه أجرة الأرض والله أعلم.

1 المساقاة: أن يدفع الرجل شجره إلى آخر ليقوم بسقيه وعمل سائر ما يحتاج إليه بجزء معلوم له من ثمره.

2 المزارعة: دفع الأرض: إلى من يزرعها، على أن يكون الزرع بينهما.

Kitab Al-Musaqah (Kerja Sama Pengairan Kebun) 

Akad musaqah diperbolehkan pada pohon kurma, tanaman pohon lainnya, dan kebun anggur dengan imbalan bagian tertentu yang telah diketahui (maklum) dari hasil buahnya yang diperuntukkan bagi pengelola ('amil). Tidak diperbolehkan menjanjikan imbalan tambahan berupa uang dirham untuknya.

Diperbolehkan pula akad mazarah (kerja sama bagi hasil pertanian) dengan bagian dari apa yang dihasilkan dari tanah tersebut, apabila benihnya berasal dari pemilik lahan (rabbul ardhi). Jika keduanya bersepakat bahwa pemilik lahan akan mengambil kembali benih yang sepadan dengan miliknya lalu sisa hasil panennya dibagi dua, maka hal ini tidak diperbolehkan, dan si petani pengelola berhak mendapatkan upah yang sepadan (ujrah mitsil). Demikian pula, akad menjadi batal jika benihnya dikeluarkan oleh petani pengelola; dalam kondisi ini, seluruh hasil panen menjadi milik petani pengelola, dan ia wajib membayar uang sewa tanah yang sepadan kepada pemilik lahan. Wallahu a'lam.

  1. Musaqah: Seseorang menyerahkan tanaman pohonnya kepada orang lain agar disirami dan diurus segala keperluan perawatannya dengan imbalan bagian tertentu yang telah disepakati dari hasil buahnya.
  2. Mazarah: Menyerahkan sebidang tanah kepada orang yang akan menanaminya dengan ketentuan hasil panennya dibagi di antara keduanya.

كتاب الإجارة1

Kitab Al-Ijarah (Sewa Properti dan Upah Tenaga Kerja) 

وإذا وقعت الإجارة على أجرة معلومة فقد ملك المستأجر المنافع وملكت عليه الأجرة كاملة في وقت العقد إلا أن يشترط أجلا فإن وقعت الإجارة في كل شهر بشيء معلوم لم يكن لكل واحد منهما الفسخ إلا عند تقضي كل شهر ومن استأجر عقارا مدة بعينها فبدا له قبل تقضيها فقد لزمته الأجرة ولا يتصرف مالك العقار فيه إلا عند تقضي المدة فإن حوله المالك قبل تقضي المدة لم يكن له أجرة لما سكن فإن جاء أمر غالب يحجز المستأجر عن منفعة ما وقع عليه العقد لزمه من الأجرة بمقدار مدة انتفاعه وإذا استؤجر لعمل شيء بعينه فمرض أقيم مقامه من يعمله والأجرة على المريض وإذا مات المكري والمكتري أو أحدهما فالإجارة بحالها.

ومن استأجر عقارا فله أن يسكنه غيره إذا كان يقوم مقامه.

ويجوز أن يستأجر الأجير بطعامه وكسوته وكذلك الظئر ويستحب أن تعطى عند الطام عبدا أو أمة كما جاء الخبر إن كان المسترضع موسرا.

ومن اكترى1 دابة إلى موضع فجاوز فعليه الأجرة المذكورة وأجرة المثل لما جاوز وإن تلفت فعليه أيضا قيمتها وكذلك إن اكترى لحموله شيء فزاد عليه ولا يجوز أن يكترى لمدة غزاته فإن سمى لكل يوم شيئا معلوما فجائز وإن اكترى إلى مكة فلم ير الجمال الراكبين والمحامل والأوطئة والأغطية وجميع ما يحتاج إليه لم يجز الكراء فإن رأى الراكبين أو وصفا له وذكر الباقي بأرطال معلومة فجائز.

وما حدث في السلعة من يد الصانع ضمن وإن تلفت من حرز فلا ضمان عليه ولا أجرة له فيما عمل فيها ولا ضمان على حجام ولا ختان ولا متطبب إذا عرف منهم حذق الصنعة ولم تجن أيديهم ولا ضمان على الراعي إذا لم يتعد.

1 الإجارة: عقد على المنافع بعوض.
1 اكترى: استأجر.

Kitab Al-Ijarah (Sewa Properti dan Upah Tenaga Kerja) 

Apabila akad ijarah telah terjadi dengan nilai upah/sewa yang telah diketahui secara jelas, maka si penyewa berhak memiliki manfaat dari barang tersebut, dan si pemilik barang berhak atas bayaran sewa secara penuh pada saat akad berlangsung, kecuali jika disyaratkan adanya penundaan tempo (pembayaran bertahap). Jika sewa-menyewa tersebut disepakati per bulan dengan nominal tertentu, maka masing-masing pihak tidak berhak membatalkan akad secara sepihak kecuali setelah berakhirnya tiap-tiap bulan.

Barangsiapa menyewa suatu properti (aqar) untuk jangka waktu tertentu, lalu di tengah jalan ia berubah pikiran sebelum masa sewanya habis, maka ia tetap wajib membayar sewa secara penuh, dan pemilik properti tidak boleh menggunakannya sampai masa sewa berakhir. Namun, jika pemilik mengusir/memindahkan si penyewa sebelum masa sewa berakhir, maka pemilik tidak berhak mendapatkan uang sewa atas durasi yang telah ditempati. Jika terjadi suatu keadaan darurat yang memaksa (amrun ghalib) yang menghalangi penyewa untuk mengambil manfaat dari objek yang diakadkan, maka ia hanya wajib membayar sewa sebanding dengan durasi pemanfaatan yang sempat ia rasakan.

Apabila seseorang diupah untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu lalu ia jatuh sakit, maka posisinya dapat digantikan oleh orang lain yang mampu mengerjakannya, sedangkan upah pengganti tersebut ditanggung oleh orang yang sakit. Jika orang yang menyewakan (mukri) dan si penyewa (muktari) keduanya atau salah satunya meninggal dunia, maka akad sewa-menyewa tetap berjalan (tidak batal).

Barangsiapa menyewa properti, ia diperbolehkan menempatkan orang lain di properti tersebut selama orang lain itu setara dalam pemanfaatannya (tidak merusak).

Diperbolehkan mengupah seorang pekerja dengan imbalan makanan dan pakaiannya, begitu pula dengan ibu susuan (zhi'r). Disunahkan (mustahab) untuk memberikan seorang budak laki-laki atau perempuan kepada ibu susuan tersebut saat masa penyapihan anak, sebagaimana disebutkan dalam riwayat, apabila orang yang menyusukan tersebut dalam keadaan berkecukupan (kaya).

Barangsiapa menyewa (iktara) seekor hewan tunggangan menuju suatu tempat lalu ia melewati batas tempat tersebut, maka ia wajib membayar uang sewa yang disebutkan di awal ditambah upah sewa yang sepadan (ujrah mitsil) atas kelebihan jaraknya. Jika hewan tersebut mati (di luar batas), ia juga wajib mengganti senilai harganya. Demikian pula hukumnya jika ia menyewa hewan untuk mengangkut muatan tertentu lalu ia menambah berat muatannya.

Tidak diperbolehkan menyewa untuk jangka waktu peperangannya (yang tidak jelas fasenya). Namun, jika ia menentukan nominal tertentu untuk setiap harinya, maka hal itu diperbolehkan. Jika ia menyewa (angkutan) menuju Makkah, namun pemilik unta (jamal) tidak memperlihatkan para penumpang lainnya, sekedup/tandu (mahamil), alas duduk (awthi'ah), penutup/selimut (aghthiyah), serta segala hal yang dibutuhkan, maka akad sewa tersebut tidak sah. Tetapi jika ia melihat para penumpang atau mereka disifatkan (dijelaskan kriterianya) kepadanya, dan sisa kelengkapan lainnya disebutkan dengan takaran berat (ratal) yang jelas, maka hal itu diperbolehkan.

Apa saja kerusakan yang terjadi pada barang di tangan seorang pengrajin/pekerja (shani'), maka ia wajib menggantinya (dhaman). Namun, jika barang tersebut rusak atau hilang dari tempat penyimpanannya (hirz) tanpa kecerobohan, maka tidak ada kewajiban ganti rugi baginya, tetapi ia juga tidak berhak mendapatkan upah atas pekerjaan yang telah dilakukannya pada barang tersebut.

Tidak ada kewajiban ganti rugi atas tukang bekam (hajjam), tukang khitan (khittan), maupun tabib/dokter (mutathabbib) apabila mereka dikenal memiliki keahlian dalam profesinya dan tangan mereka tidak berbuat kelalaian/kesalahan fatal. Demikian pula, tidak ada kewajiban ganti rugi bagi seorang penggembala jika ia tidak melakukan pelanggaran (ta'addi).

  1.   Ijarah: Akad atas suatu manfaat dengan adanya imbalan (ganti rugi).
  2.   Iktara: Menyewa/menyewa jasa.

كتاب أحياء الموات1

Kitab Ihya' Al-Mawat (Menghidupkan Lahan Mati) 

ومن أحيا أرضا لم تملك فهي له إلا أن تكون أرض ملح أو ما للمسلمين فيه منفعة فلا يجوز أن ينفرد بها الإنسان وإحياء الأرض أن يحوط عليها حائطا أو أن يحفر فيها بئرا فيكون له خمس وعشرون ذراعا حواليها وإن سبق إلى بئر عادية2 فحريمها خمسون ذراعا وسواء في ذلك ما أحياه أو سبق إليه بإذن الإمام أو غير إذنه والله أعلم.

1 إحياء الموات: معناه إعداد الأرض الميتة التي لم يسبق تعميرها وتهيأتها وجعلها صالحة للانتفاع بها في السكنى والزرع ونحو ذلك.

2 بئر عادية أي قديمة منسوبة إلى عاد.

Kitab Ihya' Al-Mawat (Menghidupkan Lahan Mati) 

Barangsiapa membuka (menghidupkan) sebidang tanah yang belum dimiliki oleh siapa pun, maka tanah itu menjadi miliknya. Kecuali jika tanah tersebut berupa ladang garam atau lahan yang di dalamnya terdapat kemaslahatan bagi kaum muslimin secara umum, maka tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk menguasainya sendirian.

Cara menghidupkan tanah adalah dengan membangun pagar tembok di sekelilingnya atau dengan menggali sumur di dalamnya. Bagi penggali sumur baru, ia berhak atas wilayah pembatas/proteksi (harim) sejauh 25 hasta di sekeliling sumur tersebut. Dan barangsiapa yang lebih dahulu mendapati sumur kuno ('adiyah), maka batas proteksinya adalah sejauh 50 hasta. Ketentuan ini berlaku sama, baik ia menghidupkan lahan atau mendahului sumur tersebut dengan izin dari imam (pemerintah) maupun tanpa izinnya. Wallahu a'lam.

  1. Ihya' al-Mawat: Maknanya adalah mengolah tanah mati yang belum pernah dibangun atau dikelola sebelumnya, menyiapkannya, serta menjadikannya layak untuk dimanfaatkan seperti untuk tempat tinggal, pertanian, dan sejenisnya.
  2. Bi'run 'Adiyah: Yaitu sumur kuno/tua (yang dinisbatkan secara bahasa kepada kaum 'Ad).
LihatTutupKomentar