Kitab Kurban Sumpah Nadzar Mazhab Hanbali
Nama kitab: Terjemah Mukhtashar Al-Khiraqi
Judul asal: Mukhtashar Al-Khiraqi dikenal dengan nama Matn al-Khiraqi ala Madzhab Abi Abdillah ibn Hanbal al-Syaibani ("مختصر الخرقي ويُعرف بـ "متن الخرقي على مذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل الشيباني")
Penulis: Abu al-Qasim Umar ibn al-Husain bin Abdillah al-Khiraqi ( أبو القاسم عمر بن الحسين بن عبد الله الخرقي )
Wafat: 334 H.
Penerjemah: Al-Khoirot Research & Publication
Bidang studi: Fikih madzhab Hanbali (Hambali)
Daftar Isi
- Kitab Kurban (Kitab al-Adahi)
- Kitab Perlombaan Pacuan dan Memanah (Kitab al-Sabq wa al-Ramyi)
- Kitab Sumpah dan Nadzar (Kitab al-Aiman wa al-Nudzur)
- Kitab Kafarat (Kitab al-Kaffarat)
- Kembali ke: Mukhtashar Al-Khiraqi Fikih Mazhab Hanbali
كتاب الأضاحي
Kitab Kurban (Kitab al-Adhahi)
والأضحية سنة ولا يستحب تركها لمن يقدر عليها ومن أراد أن يضحي فدخل العشر فلا
يأخذ من شعره ولا بشرته شيئا وتجزئ البدنة عن سبعة وكذلك البقرة ولا يجزئ إلا
الجذع من الضأن والثني مما سواه.
والجذع من الضأن الذي له ستة أشهر
وقد دخل في السابع قال أبو القاسم سمعت أبي يقول سألت بعض أهل البادية كيف تعرفون
الضأن إذا أجذع قالوا لا تزال الصوفة قائمة على ظهره ما دام حملا فإذا نامت
الصوفة على ظهره علم أنه قد أجذع والثني من المعز إذا تم له سنة ودخل في الثانية
والبقر إذا صار لها سنتان ودخلت في الثالثة والإبل إذا كمل لها خمس سنين ودخلت في
السادسة.
ويجتنب في الضحايا العوراء البين عورها والعرجاء البين عرجها
والمريضة التي لا يرجى برؤها والعجفاء التي لا تنقي والعضباء والعضب ذهاب أكثر من
نصف الأذن أو القرن وان اشتراها سليمة وأوجبها فعابت عنده ذبحها وكانت أضحية وإن
ولدت ذبح ولدها معها.
وإيجابها أن يقول هي أضحية ولو أوجبها ناقصة وجب
عليه ذبحها ولم تجزئه ولا تباع أضحية الميت في دينه ويأكلها ورثته والاستحباب أن
يأكل ثلث أضحيته ويتصدق بثلثها ويهدي ثلثها ولو أكل أكثر جاز
ولا يعطى
الجزار بأجرته شيئا منها وله أن ينتفع بجلدها ولا يجوز أن يبيعه ولا شيئا منها
ويجوز له أن يبدل الأضحية إذا أوجبها بخير منها.
وإذا مضى من نهار يوم
الأضحى بقدر صلاة الإمام العيد وخطبته فقد حل الذبح إلى آخر يومين من أيام
التشريق نهارا ولا يجوز ليلا فإن ذبح قبل ذلك لم يجزئه ولزمه البدل ولا يستحب أن
يذبحها إلا مسلم وإن ذبحها بيده كان أفضل ويقول عند الذبح بسم الله والله أكبر
فإن نسي فلا يضره وليس عليه أن يقول عند الذبح عمن لأن النية تجزئه
ويجوز
أن يتشارك السبعة فيضحوا بالبقرة أو البدنة.
والعقيقة سنة عن الغلام
شاتان وعن الجارية شاة تذبح يوم السابع ويجتنب فيها من العيب ما يجتنب في الأضحية
وسبيلها في الأكل والصدقة والهدية سبيلها إلا أنها تطبخ أجدالا1
1
أجدالا: لا يكسر لها عظم انظر رسالة "العقيقة سنة لن تموت" من إصدارات الدار.
Kitab Kurban (Kitab al-Adhahi)
Ibadah kurban (udhhiyah) hukumnya
adalah sunah, dan tidak disukai (makruh) meninggalkannya bagi orang yang mampu
melaksanakannya. Siapa saja yang berniat ingin berkurban dan telah memasuki
sepuluh hari pertama (bulan Zulhijah), maka janganlah ia memotong rambutnya
dan memotong kulitnya sedikit pun. Seekor unta (badanah) sah sebagai kurban
untuk tujuh orang, begitu pula dengan seekor sapi. Dan tidak sah (sebagai
kurban) kecuali domba yang telah berumur jadza' dan hewan selain domba yang
telah berumur tsani.
Jadza' dari jenis domba adalah yang telah
genap berumur enam bulan dan memasuki bulan ketujuh. Abu al-Qasim berkata:
"Aku mendengar ayahku berkata: Aku bertanya kepada sebagian penduduk badui
(pedalaman), 'Bagaimana kalian mengetahui bahwa domba telah mencapai usia
jadza'?' Mereka menjawab: 'Bulu domba itu akan selalu berdiri tegak di
punggungnya selama ia masih kecil (hamal). Apabila bulunya telah rebah (tidur)
di punggungnya, maka diketahuilah bahwa ia telah mencapai usia jadza''."
Sedangkan
tsani dari jenis kambing kacang (ma'iz) adalah yang telah genap berumur satu
tahun dan memasuki tahun kedua. Dari jenis sapi adalah yang telah mencapai
umur dua tahun dan memasuki tahun ketiga. Dan dari jenis unta adalah yang
telah genap berumur lima tahun dan memasuki tahun keenam.
Harus
dihindari dalam hewan kurban: hewan yang buta sebelah yang jelas kebutaannya,
hewan yang pincang yang jelas kepincangannya, hewan yang sakit yang tidak ada
harapan sembuhnya, hewan yang sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum
tulang, dan hewan yang 'adhba'. Yang dimaksud 'adhba' adalah hilangnya lebih
dari separuh telinga atau tanduk.
Jika seseorang membeli hewan
kurban dalam keadaan sehat lalu ia mewajibkannya (meniatkannya sebagai kurban
wajib/nadzar), kemudian hewan tersebut mengalami cacat di sisinya, maka ia
tetap menyembelihnya dan hal itu sah sebagai kurban. Jika hewan tersebut
melahirkan, maka anaknya ikut disembelih bersamanya.
Cara
mewajibkannya adalah dengan mengucapkan: "Ini adalah hewan kurban." Seandainya
ia mewajibkan hewan yang sudah cacat sejak awal, maka ia tetap wajib
menyembelihnya namun kurbannya tidak sah (sebagai kurban sunah/wajib yang
standar).
Hewan kurban milik orang yang sudah meninggal tidak boleh
dijual untuk melunasi utangnya, melainkan ahli warisnya memakan daging kurban
tersebut. Dianjurkan (mustahab) bagi seseorang untuk memakan sepertiga dari
daging kurbannya, menyedekahkan sepertiganya (kepada fakir miskin), dan
menghadiahkan sepertiganya (kepada kerabat/tetangga). Seandainya ia memakan
lebih dari sepertiga, hukumnya boleh.
Tukang jagal tidak boleh
diberi bagian apa pun dari hewan kurban sebagai upah kerjanya. Pemilik kurban
boleh memanfaatkan kulit hewan kurbannya, namun ia tidak boleh menjual kulit
tersebut maupun bagian apa pun dari hewan kurban. Ia juga diperbolehkan untuk
menukar hewan kurban yang telah ia wajibkan dengan hewan lain yang lebih baik
darinya.
Apabila siang hari pada hari raya kurban (Iduladha) telah
berjalan sekira durasi salat id dan khotbah imam, maka penyembelihan telah
halal (dimulai) sampai akhir dua hari setelah hari raya (hari Tasyrik) pada
siang hari, dan tidak boleh (makruh) menyembelih pada malam hari. Jika ia
menyembelih sebelum waktu tersebut, maka kurbannya tidak sah dan ia wajib
menggantinya.
Tidak dianjurkan penyembelihan dilakukan kecuali oleh
seorang muslim. Jika ia menyembelih dengan tangannya sendiri, maka itu lebih
utama. Ketika menyembelih, ia mengucapkan: "Bismillah wallahu akbar" (Dengan
nama Allah dan Allah Mahabesar). Jika ia lupa membacanya, hal itu tidak
membahayakannya (tetap sah). Ia tidak wajib mengucapkan "atas nama si Fulan"
saat menyembelih, karena niat saja sudah mencukupi.
Diperbolehkan
tujuh orang berserikat (patungan) untuk berkurban dengan seekor sapi atau
unta.
Akikah ('aqiqah) hukumnya sunah. Untuk anak laki-laki adalah
dua ekor kambing/domba, dan untuk anak perempuan adalah satu ekor
kambing/domba, yang disembelih pada hari ketujuh (kelahiran). Cacat yang harus
dihindari pada hewan akikah sama dengan cacat yang harus dihindari pada hewan
kurban. Aturan dalam memakan, menyedekahkan, dan menghadiahkannya juga sama
dengan kurban, hanya saja daging akikah dimasak per bagian utuh (ajdala).
Ajdala: Tulang-tulangnya tidak dipecah/dihancurkan. Lihat risalah "Al-Aqiqah
Sunnatun Lan Tamut" terbitan Dar.
كتاب السبق والرمي
Kitab Perlombaan Pacuan dan Memanah (Kitab al-Sabq wa al-Ramyi)
كتاب السبق1 والرمي2
والسبق في الحافر3 والنصل4 والخف5 لا غير فإذا
أرادا أن يستبقا أخرج أحدهما ولم يخرج الآخر فإن سبق من أخرج أحرز سبقه ولم يأخذ
من المسبوق شيئا وإن سبق من لم يخرج أحرز سبق صاحبه فإن أخرجا جميعا لم يجز إلا
أن يدخلا بينهما محللا يكافئ فرسه فرسيهما أو رميه رمييهما فإن سبقهما أخذ
سبقيمها وإن كان السابق أحدهما أحرز سبقه وأخذ سبق صاحبه فكان كسائر ماله ولم
يأخذ من المحلل شيئا.
ولا يجوز إذا أرسل الفرسان أن يجنب أحدهما مع
فرسه فرسا يحرضه على العدو ولا يصيح في وقت سباقه لما روي عن النبي صلى الله عليه
وسلم أنه قال: "لا جنب6 ولا جلب" .
1 السبق: يعني المسابقة وتكون
بالعدو "الجرى" بين الأشخاص كما تكون بالسهام والأسلحة وبالخيل والبغال
والحمير
2 الرمي: بالسهم والرماح قديما وبأسلحة الرماية حديثا.
3
الحافر: الحافر من الحيوان: ما يقابل القدم من الإنسان أو حفر الأرض أثار ترابها
بحديدة أو نحوها "الخيل"
4 النصل: السهم
5 الخف: أخفاف
وخفاف، هو للجمل ونحوه بمنزلة الحافر للفرس "الإبل"
6 الجنب والجلب:
الجنب هو أن يجنب فرسا إلى فرسه إذا فترت تحول إلى المجنوب
Kitab Perlombaan Pacuan dan Memanah (Kitab al-Sabq wa al-Ramyi)
Perlombaan
yang menggunakan taruhan (sabq) tidak diperbolehkan kecuali pada hewan yang
berkuku satu (seperti kuda/bighal), ujung panah (memanah)4, dan hewan yang
berkuku belah/berlapik (seperti unta).
Apabila dua orang ingin
berlomba, lalu salah satu dari keduanya mengeluarkan taruhan sedangkan yang
lain tidak mengeluarkan taruhan, maka jika orang yang mengeluarkan taruhan
tersebut menang, ia berhak mengambil kembali taruhannya dan tidak mengambil
apa pun dari pihak yang kalah. Namun jika yang menang adalah orang yang tidak
mengeluarkan taruhan, maka ia berhak mengambil taruhan milik temannya
tersebut.
Jika keduanya sama-sama mengeluarkan taruhan, maka
perlombaan tersebut tidak sah kecuali jika mereka memasukkan pihak ketiga
(muhallil) di antara mereka, yang mana kemampuan kudanya sepadan dengan kedua
kuda mereka, atau kemampuan memanahnya sepadan dengan kemampuan memanah mereka
berdua. Jika si muhallil ini mengungguli keduanya, maka ia berhak mengambil
taruhan dari kedua belah pihak. Namun jika pemenangnya adalah salah satu dari
dua orang yang pertama, maka pemenang tersebut berhak mengambil taruhannya
sendiri dan mengambil taruhan temannya, sehingga taruhan itu menjadi hak milik
seperti hartanya yang lain, dan si muhallil tidak mendapatkan bagian apa
pun.
Ketika melepaskan kuda pacuan, tidak diperbolehkan bagi salah
satu pihak untuk menuntun kuda lain di samping kudanya dengan tujuan
memprovokasi/memacu kudanya agar berlari lebih cepat (janab). Tidak boleh pula
berteriak-teriak pada saat perlombaan berlangsung (jalab), berdasarkan riwayat
dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: "Tidak ada
janab dan tidak ada jalab dalam perlombaan."6
Catatan
Al-Sabq: Perlombaan atau kompetisi, baik
berupa lari antarmanusia, lomba memanah/senjata, maupun pacuan kuda, bighal,
dan keledai.
2 Al-Ramyu: Memanah dengan anak panah dan tombak pada
masa lalu, atau dengan senjata menembak pada masa modern.
Al-Hafir: Kuku hewan berkaki satu yang posisinya sama seperti kaki pada
manusia, atau hewan yang menggali tanah dengan kukunya yang tajam (merujuk
pada Kuda).
4 Al-Nashl: Anak panah/mata panah.
Al-Khuff: Bentuk jamaknya akhfaf atau khifaf, yaitu telapak kaki pada unta dan
sejenisnya yang posisinya sama seperti kuku pada kuda (merujuk pada Unta).
6
Al-Janab wa al-Jalab: Janab adalah menuntun kuda cadangan di samping kuda
pacuan, sehingga ketika kuda utama mulai kelelahan, penunggangnya berpindah ke
kuda cadangan tersebut. Jalab adalah berteriak-teriak dari belakang atau
samping untuk mengejutkan dan memacu kuda agar berlari cepat.
كتاب الأيمان والنذور
Kitab Sumpah dan Nadzar (Kitab al-Aiman wa al-Nudzur)
ومن حلف أن يفعل شيئا فلم يفعله أو لا يفعل شيئا ففعله فعليه كفارة فإن فعله
ناسيا فلا شيء عليه إذا كانت اليمين بغير الطلاق والعتاق.
ومن حلف على
شيء وهو يعلم أنه كاذب فلا كفارة عليه لان الذي أتى به أعظم من أن يكون فيه
الكفارة والكفارة إنما تلزم من حلف وهو يريد عقد اليمين ومن حلف على شيء وهو يرى
أنه كما حلف عليه فلم
يكن فلا كفارة عليه لأنه من لغو اليمين إلا أن
يكون اليمين بالطلاق أو العتاق فيلزمه الحنث. قال واليمين المكفرة أن يحلف بالله
عز وجل أو باسم من أسمائه أو بآية من القرآن أو بصدقة ملكه أو بالحج أو بالعهد أو
بالخروج عن الإسلام أو بتحريم مملوكه أو بشيء من ماله أو بنحر ولده أو يقول اقسم
بالله أو اشهد بالله أو أعزم بالله أو بأمانة الله. عز وجل ولو حلف بهذه
الأيمان كلها على شيء واحد فحنث لزمته كفارة واحدة ولو حلف على شيء واحد بيمينين
مختلفي الكفارة لزمه في كل واحدة اليمينين كفارتها.
ولو حلف بحق
القرآن لزمته بكل آية كفارة يمين وقد روي عن أبي عبد الله رحمه الله فيمن حلف
بنحر ولده روايتان أحدهما كفارة يمين والأخرى يذبح كبشا ومن حلف بتحريم زوجته
لزمه ما يلزم المظاهر نوى الطلاق أو لم ينوه ومن حلف بعتق ما يملك فحنث عتق عليه
كل ما يملك من عبيده وإمائه ومدبريه وأمهات أولاده ومكاتبيه وشقص يملكه من مملوكه
ومن حلف فهو مخير في الكفارة قبل الحنث أو بعده سواء كانت الكفارة صوما أو غيره
إلا في الظهار أو الحرام فعليه الكفارة قبل الحنث.
وإذا حلف بيمين
فقال إن شاء الله فإن شاء فعل وإن شاء ترك ولا كفارة عليه إذا لم يكن بين اليمين
والاستثناء كلام وإذا استثنى في الطلاق أو العتاق فأكثر الروايات عن أبي عبد الله
أنه توقف عن الجواب وقد قطع في موضع أنه لا ينفعه الاستثناء.
وإذا قال
إن تزوجت فلانة فهي طالق لم تطلق إن تزوج بها وإن قال إن ملكت فلانا فهو حر
فملكه صار حرا وإن حلف أن لا ينكح فلانة أو لاشتريت فلانا فنكحها نكاحا فاسدا أو
اشتراه شراء فاسدا لم يحنث ولو حلف أن لا يشتري فلانا أو لا يضربه فوكل في الشراء
أو الضرب حنث مالم يكن له نية ولو حلف بعتق أو طلاق أن لا يفعل شيئا ففعله ناسيا
حنث.
ومن حلف فتأول في يمينه فله تأوله إذا كان مظلوما فإذا كان ظالما
لم ينفعه تأويله لما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: "يمينك على ما
يصدقك به صاحبك" .
Kitab Sumpah dan Nadzar (Kitab al-Aiman wa al-Nudzur)
Barang siapa
yang bersumpah untuk melakukan sesuatu lalu ia tidak melakukannya, atau
bersumpah untuk tidak melakukan sesuatu namun ia malah melakukannya, maka ia
wajib membayar kafarat (kaffarah). Jika ia melakukannya karena lupa, maka ia
tidak dikenai sanksi apa pun, dengan catatan apabila sumpah tersebut bukan
sumpah talak (perceraian) atau sumpah 'itaq (pembebasan budak).
Barang
siapa yang bersumpah atas sesuatu padahal ia tahu bahwa dirinya berdusta
(sumpah palsu/yamin al-ghamus), maka tidak ada kafarat baginya, karena dosa
dari perbuatan yang ia lakukan terlalu besar untuk bisa ditebus dengan
kafarat. Kafarat itu hanya diwajibkan bagi orang bersumpah yang memang berniat
mengikat sumpahnya tersebut.
Barang siapa yang bersumpah atas
sesuatu karena ia mengira kondisinya memang seperti yang ia sumpahkan, namun
ternyata kenyataannya tidak demikian, maka tidak ada kafarat baginya, karena
hal itu termasuk sumpah yang tidak disengaja (laghwu al-yamin), kecuali jika
sumpah tersebut menggunakan kalimat talak atau pembebasan budak, maka ia
dianggap melanggar sumpah (hanits).
Sumpah yang wajib dibayar
kafaratnya jika dilanggar adalah bersumpah demi Allah 'Azza wa Jalla, atau
dengan salah satu nama-Nya, atau dengan suatu ayat dari Al-Qur'an, atau dengan
menyedekahkan harta miliknya, atau dengan ibadah haji, atau dengan janji
('ahd), atau dengan keluar dari Islam (jika melanggar), atau dengan
mengharamkan budak miliknya, atau dengan sesuatu dari hartanya, atau dengan
menyembelih anaknya, atau ia mengucapkan: "Aku bersumpah demi Allah", "Aku
bersaksi demi Allah", "Aku memastikan demi Allah", atau "Demi amanah Allah
'Azza wa Jalla".
Seandainya ia mengucapkan semua jenis sumpah ini
untuk satu hal yang sama lalu ia melanggarnya, ia hanya dikenai satu kafarat
saja. Namun, jika ia bersumpah untuk satu hal yang sama dengan dua sumpah yang
memiliki jenis kafarat yang berbeda, maka ia wajib membayar kafarat bagi
masing-masing dari kedua sumpah tersebut.
Seandainya ia bersumpah
"Demi kebenaran Al-Qur'an", maka ia dikenai satu kafarat sumpah untuk setiap
ayat Al-Qur'an. Telah diriwayatkan dari Abu Abdillah (Imam Ahmad) rahimahullah
mengenai orang yang bersumpah dengan menyembelih anaknya dua riwayat: salah
satunya adalah membayar kafarat sumpah, dan riwayat lainnya adalah menyembelih
seekor domba jantan.
Barang siapa yang bersumpah dengan
mengharamkan istrinya (mengatakan istrinya haram baginya), maka berlaku
baginya ketentuan yang berlaku bagi orang yang melakukan zhihar, baik ia
berniat menjatuhkan talak maupun tidak berniat. Barang siapa yang bersumpah
akan membebaskan semua budak milik kekayaannya lalu ia melanggarnya, maka
bebaslah semua budak yang ia miliki, baik budak laki-laki, budak perempuan,
budak mudabbar, ummu walad, budak mukatab, maupun bagian kepemilikan saham
yang ia miliki pada seorang budak serikat.
Orang yang bersumpah
diperbolehkan memilih untuk membayar kafarat sebelum ia melanggar sumpahnya
atau sesudah melanggarnya, baik kafarat itu berupa puasa maupun yang lainnya,
kecuali dalam kasus zhihar atau sumpah mengharamkan istri (al-haram), maka ia
wajib membayar kafarat sebelum melanggar (sebelum berhubungan kembali).
Apabila
seseorang bersumpah lalu mengucapkan "Insya Allah" (Jika Allah menghendaki),
maka jika ia mau ia boleh melakukannya dan jika ia mau ia boleh
meninggalkannya, serta tidak ada kafarat baginya, dengan syarat tidak ada jeda
perkataan lain antara kalimat sumpah dengan kalimat istisna (Insya Allah)
tersebut. Namun, jika ia melakukan istisna dalam sumpah talak atau pembebasan
budak, maka sebagian besar riwayat dari Abu Abdillah menyebutkan bahwa beliau
menahan diri dari memberikan jawaban (tawaqquf), meskipun di tempat lain
beliau menegaskan bahwa kalimat istisna tidak bermanfaat (tidak berlaku) dalam
talak dan pembebasan budak.
Jika seseorang berkata: "Jika aku
menikahi si Fulanah, maka ia tertalak," maka wanita itu tidak tertalak jika ia
menikahinya. Dan jika ia berkata: "Jika aku memiliki budak ini, maka ia
merdeka," lalu ia memilikinya, maka budak itu seketika menjadi merdeka.
Jika
ia bersumpah tidak akan menikahi si Fulanah atau tidak akan membeli si Fulan,
lalu ia menikahinya dengan nikah yang rusak (fasid) atau membelinya dengan
transaksi yang rusak (fasid), maka ia tidak dianggap melanggar sumpah. Namun
seandainya ia bersumpah tidak akan membeli si Fulan atau tidak akan
memukulnya, lalu ia mewakilkan orang lain untuk membeli atau memukulnya, maka
ia dianggap melanggar sumpah, kecuali jika dari awal ia memiliki niat yang
berbeda.
Jika ia bersumpah dengan pembebasan budak atau talak untuk
tidak melakukan sesuatu, lalu ia melakukannya karena lupa, maka ia tetap
dianggap melanggar sumpah.
Barang siapa bersumpah lalu ia melakukan
takwil (memaknai kalimat sumpahnya dengan makna lain) dalam sumpahnya, maka
takwilnya tersebut diperbolehkan (diterima) apabila ia dalam posisi orang yang
dizalimi. Namun, jika ia berada di posisi orang yang zalim, maka takwilnya
tidak bermanfaat baginya, berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam bahwa beliau bersabda: "Sumpahmu itu didasarkan atas apa yang
dibenarkan oleh temanmu (orang yang meminta sumpah)."
كتاب الكفارات
Kitab Kafarat (Kitab al-Kaffarat)
وإذا وجبت عليه بالحنث كفارة يمين فهو مخير إن شاء أطعم عشرة مساكين أحرارا كبارا
كانوا أو صغارا إذا أكلوا الطعام لكل مسكين مد من حنطة أو دقيق أو رطلان خبزا أو
مدان شعيرا أو تمرا ولو أعطاهم مكان الطعام أضعاف قيمته ورقا لم يجزه ويعطي من
أقاربه من يجوز له أن يعطيه من زكاة ماله ومن لم يصب إلا مسكينا واحدا رده عليه
في كل يوم تتمة عشرة أيام وإن شاء كسا عشرة مساكين للرجل ثوب يجزئه أن يصلي فيه
والمرأة درع وخمار وإن شاء أعتق رقبة مؤمنة قد صامت وصلت لأن الإيمان قول وعمل
وتكون سليمة ليس فيها نقص يضرب بالعمل ولو اشتراها بشرط العتق وأعتقها في الكفارة
عتقت ولم يجزئه عن الكفارة.
وكذلك لو اشترى بعض من يعتق عليه إذا ملكه
ينوي بشرائه الكفارة عتق ولم يجزه عن الكفارة ولا يجزئ في الكفارة أم ولد ولا
مكاتب قد أدى من كتابته شيئا ويجزئه المدبر والخصي وولد الزنا فمن لم يجد من هذه
الثلاثة واحدا صام ثلاثة أيام متتابعة ولو كان الحانث عبدا لم يكفر بغير الصوم
ولو حنث وهو عبد لم يصم حتى عتق فعليه الصوم ولا يجزيه غيره.
ويكفر
بالصوم من لم يفضل عن قوته وقوت عياله يومنه وليلته مقدار ما يكفر به.
ومن
له دار لا غنى له عن سكناها ودابة يحتاج إلى ركوبها وخادم يحتاج إلى خدمته أجزأه
الصيام في الكفارة ويجزئه إن أطعم خمسة مساكين وكسا خمسة وإن أعتق نصفي عبدين أو
نصفي أمتين أو نصفي عبد وأمة أجزأ عنه وإن أعتق نصف عبد وأطعم خمسة مساكين أو
كساهم لم يجزئه ومن دخل في الصوم ثم أيسر لم يكن عليه الخروج من الصوم إلى العتق
أو الإطعام إلا أن يشاء.
Kitab Kafarat (Kitab al-Kaffarat)
Apabila seseorang wajib membayar
kafarat sumpah karena melanggar sumpahnya, maka ia diperbolehkan memilih opsi
kafarat berikut:
1. Jika mau, ia boleh memberi makan sepuluh orang
miskin dari kalangan orang merdeka, baik mereka dewasa maupun anak-anak yang
sudah bisa makan makanan pokok. Bagian untuk setiap orang miskin adalah satu
mud gandum murni (hinthah) atau tepung, atau dua rathl roti, atau dua mud
jelai (sya'ir) atau kurma. Seandainya ia memberikan uang sebagai pengganti
makanan pokok meskipun nilainya berkali-kali lipat dari harga makanan
tersebut, maka hal itu tidak sah. Ia boleh memberikan makanan tersebut kepada
kerabatnya yang memang boleh menerima zakat hartanya. Jika ia tidak menemukan
kecuali satu orang miskin saja, ia boleh memberikan makanan kepadanya berulang
kali setiap hari sampai genap sepuluh hari.
2. Jika mau, ia boleh memberi
pakaian kepada sepuluh orang miskin. Untuk laki-laki adalah pakaian yang sah
digunakan untuk salat, dan untuk wanita adalah baju kurung (dir'un) beserta
kerudung (khimar).
3. Jika mau, ia boleh memerdekakan seorang budak
(raqabah) yang beriman yang telah mengerjakan salat dan puasa—karena iman itu
mencakup perkataan dan perbuatan. Budak tersebut harus dalam kondisi sehat,
tidak memiliki cacat yang dapat mengganggu kinerjanya. Seandainya ia membeli
budak dengan syarat ia harus memerdekakannya, lalu ia memerdekakannya untuk
kafarat, maka budak itu merdeka namun tidak sah sebagai kafaratnya. Begitu
pula jika ia membeli sebagian kerabatnya yang otomatis akan merdeka begitu ia
miliki dengan niat untuk kafarat, maka kerabat itu merdeka namun tidak sah
sebagai kafarat. Tidak sah pula dalam kafarat menggunakan budak ummu walad
maupun budak mukatab yang telah mencicil sebagian dari uang tebusan
kitabahnya. Namun sah menggunakan budak mudabbar, budak yang dikebiri (khasi),
dan anak hasil zina.
Siapa saja yang tidak mampu menemukan salah
satu dari ketiga pilihan di atas, maka ia wajib berpuasa tiga hari secara
berturut-turut.
Seandainya orang yang melanggar sumpah tersebut
statusnya adalah seorang budak, maka ia tidak boleh membayar kafarat kecuali
dengan berpuasa. Jika ia melanggar sumpah saat masih menjadi budak namun ia
tidak sempat berpuasa sampai ia dimerdekakan, maka kewajibannya tetap berpuasa
dan tidak sah opsi yang lain.
Kafarat dengan puasa diperbolehkan
bagi orang yang tidak memiliki kelebihan harta dari kebutuhan makanan pokok
dirinya dan keluarganya untuk ukuran waktu sehari semalam.
Bagi
orang yang memiliki rumah yang memang ia butuhkan sebagai tempat tinggal,
memiliki hewan tunggangan yang ia butuhkan untuk dikendarai, dan pelayan yang
ia butuhkan untuk membantunya, maka ia sudah dianggap sah untuk mengambil opsi
berpuasa dalam kafarat.
Sah juga baginya jika ia memberi makan lima
orang miskin dan memberi pakaian kepada lima orang miskin lainnya. Seandainya
ia memerdekakan setengah bagian dari dua orang budak laki-laki, atau setengah
bagian dari dua orang budak perempuan, atau setengah bagian dari seorang budak
laki-laki dan seorang budak perempuan, maka hal itu sah baginya. Namun jika ia
memerdekakan setengah bagian budak dan memberi makan atau pakaian kepada lima
orang miskin, hal itu tidak sah.
Barang siapa yang sudah terlanjur
mulai berpuasa (karena awalnya miskin) kemudian ia menjadi kaya/mampu, maka ia
tidak wajib membatalkan puasanya untuk beralih ke opsi memerdekakan budak atau
memberi makan, kecuali jika ia menghendakinya sendiri.
