Kitab Bersuci menurut Mazhab Hanbali
Nama kitab: Terjemah Mukhtashar Al-Khiraqi
Judul asal: Mukhtashar Al-Khiraqi dikenal dengan nama Matn al-Khiraqi ala Madzhab Abi Abdillah ibn Hanbal al-Syaibani ("مختصر الخرقي ويُعرف بـ "متن الخرقي على مذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل الشيباني")
Penulis: Abu al-Qasim Umar ibn al-Husain bin Abdillah al-Khiraqi ( أبو القاسم عمر بن الحسين بن عبد الله الخرقي )
Wafat: 334 H.
Penerjemah: Al-Khoirot Research & Publication
Bidang studi: Fikih madzhab Hanbali (Hambali)
Daftar Isi
- Kitab Thaharah (Bersuci)
- Bab: Air yang Dapat Digunakan untuk Bersuci
- Bab: Bejana (Al-Aniyah)
- Bab Siwak dan Sunah Wudhu
- Bab Syarat Bersuci (Fardhu al-Thaharah)
- Bab Istithabah Dan Hadas
- Bab Yang Membatalkan Bersuci (Ma Yunqidhu Al-Thaharah)
- Bab Perkara Yang Mewajibkan Mandi (Ma Yujibul Ghusl)
- Bab Mandi Janabah
- Bab Tayamum
- Bab Mengusap Di Atas Dua Sepatu Khuf (Al-Mas-Hu 'Alal Khuffain)
- Bab Haid (Bab al-Haidh)
- Kembali ke: Mukhtashar Al-Khiraqi Fikih Mazhab Hanbali
كتاب الطهارة1
KITAB THAHARAH (BERSUCI)¹
باب ما تكون به الطهارة من الماء
قال والطهارة بالماء الطاهر المطلق
الذي لا يضاف إلى اسم شيء غيره مثل ماء الباقلاء2 وماء الحمص وماء الورد وماء
الزعفران وما أشبهها مما لا يزايل اسمه اسم الماء في وقت وما سقط فيه مما ذكرنا
أو من غيره وكان يسيرا فلم يوجد له طعم ولا لون ولا رائحة كثيرة حتى ينسب الماء
إليه توضئ به ولا يتوضأ بماء قد توضئ به.
وإذا كان الماء قلتين3 وهو
خمس قرب فوقعت فيه نجاسة فلم يوجد له طعم ولا رائحة ولا لون فهو طاهر إلا أن تكون
النجاسة4 بولا أو عذرة مائعة فإنه ينجس إلا أن يكون الماء مثل المصانع التي بطريق
مكة وما أشبهها من المياه الكثيرة التي لا يمكن نزحها فذلك الذي لا ينجسه شيء
وإذا مات في الماء اليسير ما ليست له نفس سائلة مثل الذباب والعقرب والخنفساء وما
أشبهها فلا ينجسه
1 الطهارة: إما حقيقة كالطهارة بالماء أو حكمية
كالطهارة بالتراب في التيمم: والتطهر بالماء ونحوه والتطهير والطهارة ضربان
جسمانية ونفسانية والطاهر: النقي. يقال: فلان طاهر الثوب أو الذيل أو العرض:
برىء
من العيوب نزيه شريف، والماء الطاهر الصالح للتطهر به.
2 الباقلاء:
نبات عشبي حولي من الفصيلة القرنية تؤكل قرونه مطبوخة وكذلك بذوره.
3
القلتين: القلتان قدرتا ب "ذراع وربع" طولا وعرضا وارتفاعا.
وهو ربع
متر مكعب = 250 لتر "برميل وربع" تقريبا
4 النجاسة: هي كل شيئ يستقذره
أهل الطبائع السليمة ويتحفظون عنه ويغسلون الثياب إذا أصابها كالعذرة والبول وما
ورد فيه نص عن رسول الله صلى الله عليه وسلم.
قال ولا يتوضأ بسؤر1 كل
بهيمة لا يؤكل لحمها إلا السنور2 وما دونها في الخلق
قال وكل إناء حلت
فيه نجاسة من ولوغ كلب أو بول أو غيره فإنه يغسل سبع مرات إحداهن بالتراب وإذا
كان معه في السفر إنآن نجس وطاهر واشتبها عليه أراقهما وتيمم
1 السؤر:
هو ما يتبقى من الماء بعد الشرب.
2 السنور: الهر "القط"
Bab: Air yang Dapat Digunakan untuk Bersuci
Beliau (Al-Khiraqi) berkata:
Bersuci itu menggunakan air yang suci
lagi mutlak, yaitu air yang tidak disandarkan (diidhafahkan) kepada nama
sesuatu yang lain, seperti air bakila (kacang babi)², air hummus (kacang
arab), air mawar, air za'faran, dan yang sejenisnya dari jenis air yang
namanya tidak bisa lepas dari nama air tersebut pada suatu waktu.
Dan
apa saja yang jatuh ke dalam air—baik dari perkara yang telah kami sebutkan
tadi atau dari perkara lainnya—sedangkan jumlahnya sedikit, lalu tidak
ditemukan padanya rasa, warna, maupun bau yang pekat sekiranya air tersebut
sampai dinisbatkan (disebut) dengan nama perkara tersebut, maka air itu boleh
digunakan untuk berwudu. Namun, tidak boleh berwudu dengan air yang sudah
digunakan untuk berwudu (air musta'mal).
Apabila air tersebut
mencapai dua qulah³—yaitu berukuran lima qirbah (kantong air dari kulit)—lalu
kejatuhan najis, namun tidak ditemukan perubahan pada rasa, bau, maupun
warnanya, maka air tersebut statusnya suci. Kecuali jika najis tersebut berupa
air kencing atau kotoran manusia yang cair, maka air tersebut menjadi najis⁴,
kecuali jika kondisi airnya itu luas dan banyak seperti bak-bak penampungan
air (al-mashani') yang berada di jalur menuju Mekah dan air banyak sejenisnya
yang tidak mungkin dikuras (dihabiskan), maka air yang demikian itu tidak
dapat dinajiskan oleh sesuatu pun.
Dan apabila hewan yang tidak
memiliki darah mengalir mati di dalam air yang sedikit, seperti lalat,
kalajengking, kumbang, dan yang sejenisnya, maka hewan tersebut tidak
menajiskan air.
Catatan Kaki Bagian 1:
1.
Thaharah: Bisa bersifat hakiki seperti bersuci dengan air, atau bersifat hukmi
(simbolis) seperti bersuci dengan debu saat tayamum. Kata at-tathahhur berarti
bersuci dengan air dan sejenisnya, begitu pula kata at-tathhir dan
at-thaharah. Bersuci ada dua macam: bersuci jasmani dan bersuci rohani.
Sedangkan At-Thahir berarti yang bersih/suci. Dikatakan: "Si fulan thahirul
tsawb (suci pakaiannya), thahirul dzail (suci ujung pakaiannya), atau thahirul
'irdh (suci kehormatannya)", artinya bebas dari cacat/aib, terjaga, lagi
mulia. Dan al-ma' ut-thahir adalah air yang suci lagi sah digunakan untuk
bersuci.
2. Al-Baqila (Kacang Babi): Tumbuhan herba semusim dari famili
polong-polongan (Fabaceae), polongnya dimakan dengan cara dimasak, begitu pula
bijinya.
3. Dua Qulah: Dua qulah diukur dengan ukuran satu hasta
seperempat (1 1/4 hasta) untuk panjang, lebar, dan dalamnya. Ukuran tersebut
setara dengan seperempat meter kubik = sekitar 250 liter (kurang lebih satu
barel seperempat).
4. Najis: Adalah segala sesuatu yang dianggap
kotor/menjijikkan oleh orang-orang yang memiliki tabiat yang sehat, di mana
mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian jika terkena olehnya, seperti
kotoran manusia, air kencing, dan apa saja yang terdapat teks dalil (nash)
mengenainya dari Rasulullah SAW.
Beliau (Al-Khiraqi) berkata:
Dan
tidak boleh berwudu menggunakan air sisa minum (su'r)¹ setiap binatang yang
tidak dimakan dagingnya, kecuali kucing² dan hewan yang ukuran fisiknya lebih
kecil dari kucing.
Beliau berkata:
Dan setiap wadah yang
kemasukan najis—baik karena jilatan anjing (wuluwgh), air kencing, atau najis
lainnya—maka wadah tersebut wajib dicuci sebanyak tujuh kali, yang salah
satunya dicampur dengan debu.
Apabila seseorang sedang dalam
perjalanan (safar) membawa dua wadah, yang satu najis dan yang satu suci, lalu
ia merasa samar (tidak bisa membedakan) antara keduanya, maka ia wajib
menumpahkan kedua air tersebut lalu bertayamum.
Catatan Kaki Bagian
2:
1. As-Su'r: Air yang tersisa di dalam wadah setelah diminum.
2.
As-Sinnur: Kucing (al-hirr / al-qith).
باب الآنية
BAB BEJANA (AL-ANIYAH)
قال وكل جلد ميتة دبغ أو لم يدبغ فهو نجس وكذلك آنية عظام الميتة ويكره أن يتوضأ
في آنية الذهب والفضة فإن فعل أجزأه وصوف الميتة وشعرها طاهر.
Beliau (Al-Khiraqi) berkata:
Setiap kulit bangkai—baik yang sudah
disamak (dibagh) maupun yang belum disamak—maka statusnya najis. Demikian pula
dengan wadah/bejana yang terbuat dari tulang bangkai.
Dan makruh
hukumnya berwudu menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak. Namun,
jika seseorang tetap melakukannya (berwudu dengannya), maka wudunya sah
(mencukupi).
Adapun bulu domba (shuwf) bangkai dan bulu rambut
(sya'r) bangkai, statusnya suci.
باب السواك وسنة الوضوء
BAB SIWAK DAN SUNAH WUDU
والسواك1 سنة يستحب عند كل صلاة إلا أن يكون صائما فيمسك من وقت صلاة الظهر إلى
أن تغيب الشمس وغسل اليدين إذا قام من نوم الليل قبل أن يدخلهما الإناء ثلاثا
والتسمية عند الوضوء والمبالغة في المضمضة والاستنشاق إلا أن يكون صائما وتخليل
اللحية وأخذ ماء جديد للأذنين ظاهرهما وباطنهما وتخليل ما بين الأصابع وغسل
الميامن قبل المياسر
"*" السواك: وهو عود الأراك الذي يتسوك به ولقد
يسر الله لنا إخراج رسالة "السواك وما أشبه ذاك" للحافظ أبي شامة ورسالة "السواك
دراسة بين الدين والعلم الحديث" من إصدارات الدار.
Bersiwak[1] merupakan bagian dari sunah yang dianjurkan (mustahab) setiap kali
hendak melaksanakan salat, kecuali bagi orang yang sedang berpuasa; maka ia
harus menahan diri (tidak bersiwak) sejak masuknya waktu salat Zuhur hingga
matahari terbenam.
Di antara sunah wudu lainnya adalah:
- Mencuci kedua tangan sebanyak tiga kali ketika bangun dari tidur malam, sebelum memasukkan keduanya ke dalam wadah air.
- Membaca basmalah (at-tasmiyah) saat mengawali wudu.
- Bersungguh-sungguh (menyempurnakan) saat berkumur-kumur (al-madhmadha) dan menghirup air ke hidung (al-istinsyaq), kecuali bagi orang yang sedang berpuasa.
- Menyela-nyela janggut (takhliylul lihyah).
- Mengambil air yang baru (khusus) untuk mengusap bagian luar dan dalam kedua telinga.
- Menyela-nyela bagian di antara jari-jemari tangan dan kaki.
- Mendahulukan anggota tubuh bagian kanan (al-mayamin) sebelum bagian kiri (al-mayasir).
Catatan Kaki:
1. As-Siwak: Yaitu kayu/ranting pohon arak
(al-arak) yang digunakan untuk membersihkan gigi. Dan sungguh Allah telah
memudahkan kami untuk menerbitkan risalah berjudul "As-Siwak wa Ma Asybah
Dzak" karya Al-Hafizh Abu Syamah, serta risalah "As-Siwak Dirasah Baina ad-Din
wa al-Ilm al-Hadits" (Siwak: Studi antara Agama dan Sains Modern) yang
termasuk dalam produk publikasi penerbit (ad-dar) ini.
باب فرض الطهارة
BAB SYARAT BERSUCI (FARDHUT THAHARAH)
قال وفرض الطهارة ماء طاهر وإزالة الحدث والنية للطهارة وغسل الوجه وهو من منابت
شعر الرأس إلى ما انحدر من اللحيين والذقن وإلى أصول الأذنين ويتعاهد المفصل وهو
ما بين اللحية والأذن والفم والأنف من الوجه وغسل اليدين إلى المرفقين ويدخل
المرفقين في الغسل.
ومسح الرأس وغسل الرجلين إلى الكعبين وهما العظمان
الناتئان1 ويأتي بالطهارة عضوا بعد عضو كما أمر الله عز وجل.
والوضوء
مرة مرة يجزئ والثلاث أفضل وإذا توضأ لنافلة صلى بها فريضة.
ولا يقرأ
القرآن جنب ولا حائض ولا نفساء ولا يمس المصحف إلا طاهر والله أعلم.
1
العظمان الناتئان: البارزان.
BAB FARDU BERSUCI (FARDHUT THAHARAH)
Beliau (Al-Khiraqi) berkata:
Fardu (rukun) bersuci adalah
menggunakan air yang suci, berniat untuk bersuci (an-niyah), dan menghilangkan
hadas (izalatul hadats).
Rukun berikutnya adalah membasuh wajah,
yaitu area dari batas tumbuhnya rambut kepala hingga bagian bawah dua tulang
rahang (al-lahyain) dan dagu, serta secara horizontal sampai ke pangkal kedua
telinga. Seseorang harus memperhatikan bagian persendian/lekukan (al-mifshal)
yaitu area antara janggut dan telinga. Mulut dan hidung adalah bagian dari
wajah (yang wajib dibasuh/dibersihkan).
Membasuh kedua tangan
sampai ke siku, dan siku wajib dimasukkan ke dalam basuhan.
Mengusap
kepala dan membasuh kedua kaki sampai ke kedua mata kaki, yaitu dua tulang
yang menonjol (al-'adhmanan naiti'an)¹. Seseorang wajib melakukan bersuci ini
anggota demi anggota (tertib/berurutan) sebagaimana yang diperintahkan oleh
Allah 'Azza wa Jalla.
Wudu dengan membasuh masing-masing satu kali
hukumnya sudah sah (mencukupi), namun membasuh tiga kali adalah yang lebih
utama. Apabila seseorang berwudu untuk melaksanakan salat sunah (nafilah),
maka ia boleh menggunakan wudu tersebut untuk melaksanakan salat fardu.
Orang
yang dalam keadaan junub, haid, maupun nifas tidak boleh membaca Al-Qur'an.
Dan tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang suci. Wallahu a'lam.
Catatan
Kaki:
1. Dua Tulang yang Menonjol (Al-'Adhmanan Naiti'an): Yaitu
tulang yang tampak menonjol ke luar (mata kaki)
باب الاستطابة والحدث
BAB ISTITHABAH DAN HADAS
باب الاستطابة1والحدث2
وليس على من نام أو خرجت منه ريح استنجاء
والاستنجاء لما يخرج من السبيلين فإن لم يعد مخرجهما أجزأه ثلاثة أحجار إذا أنقى
بهن فإن أنقى بدونهن لم يجزئه حتى يأتي بالعدد فإن لم ينق بثلاثة زاد حتى ينقي
والخشب والخرق وكل ما أنقى به فهو كالأحجار إلا الروث والعظام والطعام والحجر
الكبير الذي له ثلاث شعب يقوم مقام ثلاثة أحجار وما عدا المخرج فلا يجزئ فيه إلا
الماء.
1 الاستطابة: أي استنجى وأزال الأذى وسمى استطابة لأنه يطيب
جسده بذلك مما عليه من الخبث.
2 الحدث: الرجل: وقع منه ما ينقض
طهارته. وقال أبو هريرة "فساء أو ضراط" .
BAB ISTITHABAH DAN HADAS
Beliau (Al-Khiraqi) berkata:
Tidak ada kewajiban beristinja (cebok)
bagi orang yang sekadar tidur atau orang yang keluar angin (kentut) darinya.
Istinja hanyalah dilakukan karena sesuatu yang keluar dari dua jalan
(as-sabilain).
Jika najis tersebut tidak melewati (meluber dari)
tempat keluarnya, maka mencukupi baginya beristinja menggunakan tiga buah
batu, dengan syarat batu-batu tersebut dapat membersihkannya. Jika area najis
sudah bersih dengan kurang dari tiga batu, hal itu belum dianggap sah sampai
ia mencukupkan bilangannya (menjadi tiga). Namun, jika belum bersih dengan
tiga batu, maka ia harus menambahnya sampai bersih.
Penggunaan
kayu, kain perca, dan segala sesuatu yang dapat membersihkan najis
kedudukannya sama seperti batu (boleh digunakan untuk beristinja), kecuali
kotoran binatang (ar-rawts), tulang, makanan, dan batu besar yang memiliki
tiga sisi/sudut yang menonjol; batu besar tersebut dapat menempati posisi tiga
buah batu. Adapun najis yang telah melewati atau meluber di luar tempat
keluarnya, maka tidak mencukupi untuk membersihkannya kecuali dengan
menggunakan air.
Catatan Kaki:
1. Al-Instisthabah:
Artinya beristinja dan menghilangkan gangguan/kotoran. Disebut ististhabah
karena tindakan tersebut membuat tubuhnya kembali menjadi baik/nyaman
(yuthayyibu jasadahu) setelah bersih dari kotoran.
2. Al-Hadats: Kondisi
seorang laki-laki ketika terjadi sesuatu yang membatalkan kesuciannya. Abu
Hurairah berkata: "(Hadas adalah) suara angin yang pelan (fusaa') atau suara
angin yang keras (dhiraath) [kentut]."
باب ما ينقض الطهارة
BAB YANG MEMBATALKAN BERSUCI (MA YUNQIDHU AL-THAHARAH)
والذي ينقض الطهارة ما خرج من قبل أو دبر وخروج الغائط1 والبول من غير مخرجهما
وزوال العقل إلا أن يكون بنوم يسير جالسا أو قائما والارتداد عن الإسلام ومس
الفرج والقيء الفاحش والدم الفاحش والدود الفاحش يخرج من الجروح وأكل لحم الجزور
وغسل الميت وملاقاة جسم الرجل للمرأة لشهوة.
ومن تيقن الطهارة وشك في
الحدث أو تيقن الحدث وشك في الطهارة فهو على ما تيقن منهما.
1 الغائط:
المكان المنخفض الواسع من الأرض يقال: ذهب إلى الغائط وجاء منه: كناية عن التبرز
وفي التنزيل العزيز {أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ} [النساء:43]
كناية من التبرز.
BAB YANG MEMBATALKAN BERSUCI (MA YUNQIDHU AL-THAHARAH)
Beliau (Al-Khiraqi) berkata:
Perkara yang membatalkan bersuci
(wudu) adalah:
- Apa saja yang keluar dari kubul maupun dubur.
- Keluarnya tinja¹ dan air kencing dari selain tempat keluar yang semestinya.
- Hilangnya akal, kecuali jika disebabkan oleh tidur yang ringan dalam posisi duduk atau berdiri.
- Murtad (keluar) dari agama Islam.
- Menyentuh kemaluan.
- Muntah yang banyak/parah.
- Keluarnya darah yang banyak/parah, serta keluarnya ulat yang banyak dari luka-luka.
- Memakan daging unta (lahmul jazur).
- Memandikan mayat.
- Persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang disertai syahwat.
Barangsiapa yang meyakini dirinya dalam keadaan suci lalu ragu-ragu
apakah telah berhadas, atau ia meyakini dirinya telah berhadas lalu ragu-ragu
apakah sudah bersuci, maka ia harus menetapkan statusnya berdasarkan apa yang
ia yakini di antara keduanya.
Catatan Kaki:
1.
Al-Gha'ith (Tinja): Makna aslinya adalah tempat yang rendah dan luas di atas
tanah. Dikatakan: "Si fulan pergi ke al-gha'ith atau datang darinya", yang
merupakan ungkapan kiasan (kinayah) untuk buang air besar (defekasi). Di dalam
Al-Qur'an al-Karim disebutkan: "...atau salah seorang di antara kamu kembali
dari tempat buang air (al-gha'ith)..." [QS. An-Nisa: 43], sebagai kiasan untuk
buang air besar.
باب ما يوجب الغسل
BAB PERKARA YANG MEWAJIBKAN MANDI (MA YUJIBUL GHUSL)
قال والموجب للغسل خروج المني والتقاء الختانين1 والارتداد عن الإسلام وإذا أسلم
الكافر والطهر من الحيض والنفاس والحائض والجنب والمشرك إذا غمسوا أيديهم في
الماء فهو طاهر ولا يتوضأ الرجل بفضل طهور المرأة إذا خلت بالماء.
1
التقاء الختانين: أي تغييب الحشفة في الفرج وإن لم ينزل.
BAB PERKARA YANG MEWAJIBKAN MANDI (MA YUJIBUL GHUSL)
Beliau
(Al-Khiraqi) berkata:
Perkara yang mewajibkan mandi (al-ghusl)
adalah:
Keluarnya mani.
Pertemuan dua tempat
khitan (bersetubuh)¹, meskipun tidak keluar mani.
Murtad dari agama
Islam.
Apabila seorang kafir masuk Islam.
Suci dari haid
dan nifas.
Apabila orang yang haid, junub, maupun orang musyrik
mencelupkan tangan mereka ke dalam air, maka air tersebut tetap berstatus
suci. Dan seorang laki-laki tidak boleh berwudu menggunakan sisa air bersuci
seorang wanita, apabila wanita tersebut menyendiri dalam menggunakan air
tersebut.
Catatan Kaki:
1. Pertemuan Dua Tempat
Khitan (Iltiga'ul Khitanain): Yaitu masuknya bagian kepala penis (hasyafah) ke
dalam kemaluan wanita (farj), meskipun tidak sampai keluar mani.
باب الغسل من الجنابة1
BAB MANDI JANABAH
قال وإذا أجنب الرجل غسل ما به من أذى وتوضأ وضوءه للصلاة ثم أفرغ على رأسه ثلاثا
ويروي بهن أصول الشعر ثم يفيض الماء على سائر
1 الجنابة: حال من ينزل
منه مني، أو يكون منه جماع. يقال: اغتسل من الجنابة.
BAB MANDI JANABAH¹
Beliau (Al-Khiraqi) berkata:
Apabila
seorang laki-laki dalam keadaan junub, maka ia harus membasuh kotoran/najis
yang ada pada dirinya terlebih dahulu, kemudian berwudu sebagaimana wudunya
untuk salat. Setelah itu, ia menuangkan air ke atas kepalanya sebanyak tiga
kali hingga membasahi pangkal-pangkal rambutnya dengan tuangan tersebut, lalu
meratakan air ke seluruh tubuhnya.
Catatan Kaki:
1. Al-Janabah: Kondisi seseorang yang mengeluarkan mani atau
melakukan hubungan intim (jima'). Dikatakan: "Ia mandi dari jinabah."
باب التيمم
BAB TAYAMUM
قال ويتيمم في قصير السفر وطويله إذا دخل وقت الصلاة وطلب الماء فأعوزه والاختيار
تأخير التيمم إلى آخر الوقت فإن تيمم في أول الوقت وصلى أجزأه وإن أصاب الماء في
الوقت.
قال والتيمم ضربة واحدة يضرب بيديه على الصعيد الطيب وهو
التراب وينوي به المكتوبة فيمسح بهما وجهه وكفيه وإن كان ما ضرب بيديه غير طاهر
لم يجزه وإن كان به قرح أو مرض مخوف وأجنب فخشي على نفسه أن أصابه الماء غسل
الصحيح من جسده وتيمم لما لم يصبه الماء.
وإذا تيمم صلى الصلاة التي
قد حضر وقتها وصلى به فوائت إن كانت عليه والتطوع إلى أن يدخل وقت صلاة أخرى.
قال
وإذا خاف العطش حبس الماء وتيمم ولا إعادة عليه وإذا نسي الجنابة وتيمم للحدث لم
يجزئه.
قال وإذا وجد المتيمم الماء وهو في الصلاة خرج فتوضأ أو اغتسل
إن كان جنبا واستقبل الصلاة.
قال وإذا شد الكسير الجبائر وكان طاهرا
ولم يعد بها موضع الكسر مسح عليها كلما أحدث إلى أن يحلها.
BAB TAYAMUM
Beliau (Al-Khiraqi) berkata:
Seseorang
boleh bertayamum baik dalam perjalanan pendek maupun panjang, apabila waktu
salat telah masuk dan ia telah berusaha mencari air namun tidak mendapatkannya
('a-wazah). Adapun yang terpilih (lebih utama) adalah mengakhirkan tayamum
hingga akhir waktu salat. Namun, jika ia bertayamum di awal waktu lalu
melaksanakan salat, maka salatnya sah (mencukupi) meskipun setelah itu ia
menemukan air di dalam waktu salat tersebut.
Beliau berkata:
Tayamum
dilakukan dengan satu kali tepukan. Seseorang menepukkan kedua tangannya ke
atas permukaan tanah yang baik/suci (ash-sha'idut thayyib), yaitu debu tanah,
lalu berniat untuk melaksanakan salat fardu (al-maktubah). Kemudian ia
mengusapkan kedua tangannya ke wajah dan kedua telapak tangannya. Apabila debu
tanah yang ditepuk dengan kedua tangannya ternyata tidak suci, maka tayamumnya
tidak sah.
Apabila seseorang mengalami luka-luka atau penyakit yang
mengkhawatirkan, lalu ia mengalami jinabah dan khawatir terhadap keselamatan
dirinya jika terkena air, maka ia cukup membasuh bagian tubuhnya yang sehat
dan bertayamum untuk bagian tubuh yang tidak boleh terkena air.
Ketika
seseorang telah bertayamum, ia boleh melaksanakan salat yang telah masuk
waktunya, melaksanakan salat-salat yang terlewat (fawa'it) jika ada kewajiban
mengqadha atasnya, serta melaksanakan salat sunah (tathawwu') hingga masuknya
waktu salat berikutnya.
Beliau berkata:
Jika seseorang
khawatir akan kehausan (khawatir kehabisan air minum), maka ia boleh menyimpan
air tersebut dan memilih bertayamum, serta tidak ada kewajiban mengulang salat
(i'adah) baginya. Namun, jika ia lupa bahwa dirinya sedang jinabah, lalu ia
bertayamum dengan niat untuk menghilangkan hadas kecil, maka tayamumnya tidak
sah (untuk menghilangkan jinabah).
Beliau berkata:
Apabila
orang yang bertayamum menemukan air sedangkan ia sedang berada di dalam salat,
maka ia harus membatalkan salatnya lalu keluar untuk berwudu, atau mandi jika
ia dalam keadaan junub, kemudian mengulangi salatnya dari awal.
Beliau
berkata:
Apabila seseorang yang mengalami patah tulang membalut
lukanya dengan pembalut/gips (al-jabair) dalam keadaan suci, serta balutan
tersebut tidak melebihi area patah tulang yang semestinya, maka ia cukup
mengusap di atas balutan tersebut setiap kali ia berhadas sampai balutan itu
dilepas.
باب المسح على الخفين
BAB MENGUSAP SEPATU KHUF (AL-MAS-HU 'ALAL KHUFFAIN)
قال ومن لبس خفيه وهو كامل الطهارة ثم أحدث مسح عليهما يوما وليلة للمقيم وثلاثة
أيام ولياليهن للمسافر فإن خلع قبل ذلك أعاد الوضوء.
ولو أحدث وهو
مقيم فلم يمسح حتى سافر أتم على مسح مسافر منذ كان الحدث.
ولو أحدث
مقيما ثم مسح مقيما ثم سافر أتم على مسح مقيم ثم خلع وإذا مسح مسافرا يوما وليلة
فصاعدا ثم أقام أو قدم أتم على مسح مقيم ثم خلع.
ولا يمسح إلا على
خفين أو ما يقوم مقامهما من مقطوع وما أشبهه مما يجاوز الكعبين وهما العظمان
الناتئان.
وكذلك الجورب الصفيق1 الذي لا يسقط إذا مشى فيه فإن كان
يثبت بالنعل مسح عليه فإذا خلع النعل انتقضت الطهارة وإن كان في الخف خرق يبدو
منه بعض القدم لم يجزه المسح عليهما.
1 الصفيق: كثف نسجه أي جورب كثيف
النسج.
ويمسح على ظاهر القدم فإن مسح أسفله دون أعلاه لم يجزه والرجل
والمرأة في ذلك سواء.
BAB MENGUSAP DI ATAS DUA SEPATU KHUF (AL-MAS-HU 'ALAL KHUFFAIN)
Beliau
(Al-Khiraqi) berkata:
Barangsiapa yang memakai kedua sepatu
khuf-nya dalam keadaan suci yang sempurna, kemudian ia berhadas, maka ia boleh
mengusap di atas kedua khuf tersebut selama satu hari satu malam bagi mukim
(orang yang menetap) dan tiga hari tiga malam bagi musafir. Jika ia melepas
khuf-nya sebelum masa itu habis, maka ia harus mengulangi wudunya.
Jika
seseorang berhadas dalam kondisi mukim namun ia belum sempat mengusap khuf-nya
hingga ia melakukan perjalanan (safar), maka ia boleh menyempurnakan masa
usapan seperti masa usapan musafir (tiga hari tiga malam) dihitung sejak waktu
berhadas.
Jika ia berhadas dalam kondisi mukim lalu sempat mengusap
khuf-nya dalam kondisi mukim, kemudian setelah itu ia melakukan perjalanan,
maka ia hanya boleh menyempurnakan masa usapan seperti masa usapan mukim (satu
hari satu malam), kemudian ia wajib melepas khuf-nya. Begitu pula jika ia
mulai mengusap saat safar selama satu hari satu malam atau lebih, lalu ia
bermukim atau sampai di tujuan, maka ia harus menyempurnakan masa usapan
seperti masa usapan mukim, kemudian melepas khuf-nya.
Tidak boleh
mengusap kecuali di atas dua sepatu khuf atau apa saja yang menempati posisi
keduanya, seperti sepatu potongan (maqthu') dan sejenisnya yang tingginya
melewati kedua mata kaki (al-ka'bain), yaitu dua tulang yang menonjol.
Demikian
pula boleh mengusap di atas kaus kaki yang tebal (al-jawrab ash-shafiq)¹ yang
tidak melorot ketika digunakan berjalan. Jika kaus kaki tersebut baru bisa
kokoh karena diikat/ditopang dengan sandal, lalu ia mengusap di atasnya, maka
ketika sandal itu dilepas, batal pula kesuciannya. Dan jika pada sepatu khuf
terdapat lubang/robekan yang memperlihatkan sebagian dari kaki, maka tidak sah
mengusap di atas keduanya.
Catatan Kaki:
1.
Ash-Shafiq: Tenunannya rapat dan tebal. Maksudnya adalah kaus kaki yang
memiliki rajutan/tenunan yang tebal.
Mengusap khuf dilakukan pada
bagian atas (punggung) kaki. Jika seseorang hanya mengusap bagian bawah khuf
tanpa mengusap bagian atasnya, maka hal itu tidak sah. Dalam ketentuan
mengusap khuf ini, hukum bagi laki-laki dan perempuan adalah sama.
باب الحيض
BAB HAID (BABUL HAIDH)
قال وأقل الحيض يوم وليلة وأكثره خمسة عشر يوما فمن أطبق بها الدم1 فكانت ممن
تميز فتعلم إقباله بأنه أسود ثخين منتن وإدباره بأنه رقيق أحمر تركت الصلاة في
إقباله فإذا أدبر اغتسلت وتوضأت لكل صلاة وصلت.
فإن لم يكن دمها
منفصلا وكانت لها أيام من الشهر تعرفها أمسكت عن الصلاة فيها واغتسلت إذا جاوزتها
وإن كانت لها أيام أنسيتها فإنها تقعد ستا أو سبعا في كل شهر. والمبتدأ بها الدم
تحتاط فتجلس يوما وليلة وتغتسل وتتوضأ لكل صلاة وتصلي فإن انقطع الدم في خمسة عشر
يوما اغتسلت عند انقطاعه وتفعل مثل ذلك ثانية وثالثة فإن كان بمعنى واحد عملت
عليه وأعادت الصوم إن كانت صامت في هذه الثلاث مرار لفرض وإن استمر بها الدم ولم
يتميز قعدت في كل شهر ستا أو سبعا لأن الغالب من النساء هكذا يحضن.
والصفرة
والكدرة في أيام الحيض من الحيض ويستمتع من الحائض بدون الفرج فإن انقطع دمها فلا
توطأ حتى تغتسل.
ولا توطأ مستحاضة إلا أن يخاف2 على نفسه العنت وهو
الزنا.
1 وهي الاستحاضة: وهي استمرار نزول الدم وجريانه في غير
أوانه.
"*" يقصد لون دم الحيض، فإنه يتغير من أسود عند نزوله إلى أصفر
قرب انقطاعه.
2 يخاف: أي الزوج.
والمبتلى بسلس1 البول أو
كثرة المذي فلا ينقطع كالمستحاضة يتوضأ لكل صلاة بعد أن يغسل فرجه.
وأكثر
النفاس أربعون يوما وليس لأقله حد أي وقت رأت الطهر اغتسلت وهي طاهر.
ولا
يقربها زوجها في الفرج حتى تتم الأربعين استحبابا ومن كانت لها أيام حيض فزادت
على ما كانت تعرف لم تلتفت إلى الزيادة إلا أن تراه ثلاث مرات فتعلم حينئذ أن
حيضها قد انتقل فتصير إليه وتترك الأول وإن كانت صامت في هذه الثلاث مرات أعادته
إذا كان صوما واجبا.
وإذا رأت الدم قبل أيامها التي كانت تعرف فلا
تلتفت إليه حتى يعاودها ثلاث مرات ومن كانت لها أيام حيض فرأت الطهر قبل ذلك فهي
طاهر تغتسل وتصلي فإن عاودها الدم فلا تلتفت إليه حتى تجيء أيامها، والحامل إذا
رأت الدم فلا تلتفت إليه لأن الحامل لا تحيض إلا أن تراه قبل ولادتها بيومين أو
ثلاثة فيكون دم نفاس وإذا رأت الدم ولها خمسون سنة فلا تدع الصلاة ولا الصوم
وتقضي الصوم احتياطا وإذا رأته بعد الستين فقد زال الإشكال وتيقن أنه ليس بحيض
فتصوم وتصلي ولا تقضي.
والمستحاضة إن اغتسلت لكل صلاة فهو أشد ما قيل
فيها وإن توضأت لكل صلاة أجزأها والله أعلم.
1 سلس البول: عدم قدرته
على التحكم في نزول البول وقد سلس بوله: إذ لم يتهيأ له أن يمسكه.
BAB HAID (BABUL HAYDH)
Beliau (Al-Khiraqi) berkata:
Masa
minimal haid adalah satu hari satu malam (24 jam), dan masa maksimalnya adalah
lima belas hari.
Bagi wanita yang darahnya keluar terus-menerus
(mengalami istihadhah)¹:
Jika termasuk wanita yang bisa
membedakan sifat darah (mumayyizah): di mana ia mengetahui awal kedatangan
haid dengan ciri darah berwarna hitam, kental, dan berbau busuk, serta
mengetahui waktu selesainya haid dengan ciri darah berubah menjadi encer dan
merah, maka ia wajib meninggalkan salat pada masa awal kedatangan darah
tersebut. Apabila sifat darahnya telah berubah (menandakan haid selesai), ia
wajib mandi, lalu berwudu setiap kali hendak melaksanakan salat, dan
mengerjakan salat.
Jika sifat darahnya tidak dapat dibedakan, namun
ia memiliki kebiasaan (siklus) harian tertentu dalam sebulan yang ia ketahui
(mu'tadah): maka ia wajib menahan diri dari salat pada hari-hari kebiasaannya
tersebut, lalu mandi apabila hari-hari itu telah terlewati.
Jika ia
memiliki kebiasaan (siklus) harian namun lupa jumlah harinya (mudhillah): maka
ia wajib menahan diri (dianggap haid) selama enam atau tujuh hari pada setiap
bulannya.
Adapun bagi wanita yang baru pertama kali mengeluarkan
darah (mubtada'ah), ia harus berhati-hati (tahwath); ia menahan diri (tidak
salat) selama satu hari satu malam, kemudian mandi, lalu berwudu setiap kali
hendak melaksanakan salat dan tetap mengerjakan salat.
Jika
darah tersebut ternyata berhenti dalam kurun waktu lima belas hari, ia wajib
mandi ketika darah itu berhenti.
Ia melakukan hal serupa pada bulan
kedua dan ketiga. Jika polanya tetap sama (konsisten), maka ia menjadikan pola
tersebut sebagai acuannya, serta wajib mengqadha puasa apabila ia sempat
berpuasa fardu pada tiga bulan masa uji coba tersebut.
Namun, jika
darahnya keluar terus-menerus dan sifatnya tidak dapat dibedakan, maka ia
menetapkan masa haidnya selama enam atau tujuh hari setiap bulan, karena
secara umum wanita mengalami haid dalam rentang waktu tersebut.
Cairan
berwarna kuning (ash-shufrah) dan keruh (al-kudrah) yang keluar pada hari-hari
haid termasuk bagian dari darah haid.
Seorang suami boleh
bersenang-senang (bercumbu) dengan istrinya yang sedang haid pada bagian tubuh
selain kemaluan (farj). Apabila darah haidnya telah berhenti, istri tersebut
tetap tidak boleh disetubuhi sampai ia mandi wajib terlebih dahulu.
Wanita
yang sedang istihadhah tidak boleh disetubuhi, kecuali jika sang suami
khawatir² dirinya akan jatuh ke dalam kesulitan (al-'anat), yaitu perbuatan
zina.
Catatan Kaki Bagian 1:
1. Darah
Terus-menerus (Istihadhah): Yaitu kondisi keluarnya darah secara terus-menerus
dan mengalir bukan pada waktu haid yang semestinya.
Yang dimaksud
adalah warna darah haid; warnanya dapat berubah dari hitam saat pertama kali
keluar menjadi kuning ketika mendekati waktu berhentinya.
2. Khawatir:
Yaitu pihak suami yang mengkhawatirkan dirinya.
Orang yang diuji
dengan penyakit salasul baul (beser/inkontinensia urine)¹ atau sering keluar
madzi yang tidak bisa berhenti, kedudukannya sama seperti wanita istihadhah;
ia wajib berwudu setiap kali hendak salat setelah membasuh kemaluannya
terlebih dahulu.
Masa maksimal nifas adalah empat puluh hari,
sedangkan masa minimalnya tidak memiliki batasan tertentu; kapan pun seorang
wanita melihat dirinya telah suci (darah berhenti), maka ia wajib mandi dan
statusnya telah suci.
Secara anjuran (sunah/mustahab), suami
sebaiknya tidak menyetubuhi istrinya pada kemaluan sampai genap masa empat
puluh hari nifas.
Seseorang wanita yang memiliki kebiasaan (siklus)
hari-hari haid tertentu, lalu mengalami penambahan hari dari yang biasa ia
ketahui, maka ia tidak perlu memedulikan penambahan tersebut, kecuali jika ia
melihat penambahan itu berulang sebanyak tiga kali (tiga siklus
berturut-turut). Dengan begitu, ia mengetahui bahwa siklus haidnya telah
berpindah, sehingga ia merujuk pada siklus yang baru dan meninggalkan siklus
yang lama. Jika ia sempat melakukan puasa wajib pada masa penambahan di tiga
bulan tersebut, ia wajib mengqadhanya.
Apabila ia melihat darah
keluar sebelum hari-hari kebiasaan yang diketahuinya, ia tidak perlu
memedulikannya (tidak dianggap haid) sampai hal itu berulang kembali sebanyak
tiga kali.
Wanita hamil yang melihat keluarnya darah tidak perlu
memedulikan darah tersebut (tidak dianggap haid), karena wanita hamil tidak
mengalami haid. Kecuali jika ia melihat darah tersebut keluar dalam jangka
waktu dua atau tiga hari sebelum melahirkan, maka darah tersebut berstatus
sebagai darah nifas.
Apabila seorang wanita melihat darah keluar
sedangkan ia telah menginjak usia lima puluh tahun, ia tidak boleh
meninggalkan salat maupun puasa, namun ia wajib mengqadha puasanya sebagai
bentuk kehati-hatian (ihtiyath). Dan apabila ia melihat darah keluar setelah
usia enam puluh tahun, maka keraguan telah hilang dan diyakini secara pasti
bahwa itu bukan darah haid; maka ia tetap berpuasa, melaksanakan salat, dan
tidak perlu mengqadha.
Mengenai wanita istihadhah: jika ia mandi
setiap kali hendak melaksanakan salat, maka itu adalah pendapat paling ketat
(paling utama) yang dikatakan ulama mengenainya. Namun, jika ia sekadar
berwudu setiap kali hendak melaksanakan salat, hal itu sudah sah (mencukupi)
baginya. Wallahu a'lam.
Catatan Kaki Bagian 2:
1.
Salasul Baul (Beser): Ketidakmampuan seseorang untuk mengendalikan keluarnya
air kencing. Dikatakan "salasa bauluh" apabila seseorang tidak lagi mampu
menahan air kencingnya sendiri.
