Tafsir Al-Jawahir
Nama kitab: Al-Jawahir fi Tafsir al-Quran al-Karim atau Tafsir Tantawi Jauhari, Tafsir Thanthawi Jauhari
Judul kitab asal: Al-Jawahir fi Tafsir al-Quran al-Karim (الجواهر في تفسير القرآن الكريم)
Nama penulis: Syaikh Thanthawi Jauhari
Nama lengkap: Syaikh Thanthawi Jauhari
Lahir: Mesir, 23 September 1865 M (atau 17 Oktober 1865 M
Wafat: Kairo, Mesir 22 Agustus 1935 M (23 Jumadil Ula 1354 H),
Penerjemah ke Bahasa Indonesia:
Bidang studi: Tafsir al Quran
Daftar Isi
- Biografi Pengarang
- Profil Kitab Tafsir al-Manar
- Download Tafsir Al-Manar (pdf)
- Kitab Tafsir lain
- Terjemah Tafsir Ibnu Abbas
- Terjemah Tafsir Tabari
- Terjemah Tafsir al-Qurtubi
- Terjemah Tafsir Jalalain
- Terjemah Tafsir Ibnu Katsir
- Terjemah Tafsir al-Munir Wahbah Zuhaili
- Terjemah Tafsir Fathul Qadir al-Syaukani
- Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Quran Sayid Qutub
- Tafsir Al-Manar
- Tafsir Al-Maraghi
- Tafsir Al-Jawahir
- Tafsir Bahasa Indonesia dan Jawa
- Tafsir al-Mishbah Quraish Shihab
- Tafsir Al-Azhar Hamka
- Tafsir An-Nur Hasbi Ash-Shiddieqy
- Tafsir Al-Furqan A. Hassan
- Tafsir al-Ibriz Bisri Mustofa (Jawa)
- Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsir al-Quran
- Tafsir al-Quran Kemenag
- Tafsir Quran Karim Mahmud Yunus
- Terjemah Al-Quran Lengkap dalam Satu Halaman
- Terjemah Al-Quran berdasar Juz
- Terjemah Al-Quran dalam bahasa Inggris
- Kitab Ulumul Quran
- Kitab Tajwid al-Quran
Biografi Pengarang
Syekh Thanthawi Jauhari adalah sosok ulama yang sangat unik dalam sejarah pemikiran Islam abad ke-20. Beliau dikenal sebagai "Filosof Al-Azhar" karena keberaniannya mengintegrasikan ilmu-ilmu alam modern (sains) ke dalam penafsiran Al-Qur'an.Berikut adalah biografi lengkap beliau:
1. Latar Belakang dan Pendidikan
Syekh Thanthawi Jauhari lahir pada tahun 1870 M di sebuah desa bernama Kafr Iwadh Allah, provinsi Syarqiyah, Mesir.Pendidikan Awal: Seperti tradisi ulama Mesir pada masanya, beliau menghafal Al-Qur'an di kuttab (sekolah dasar Al-Qur'an) di desanya.
Al-Azhar: Beliau melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar. Di sana, beliau mempelajari ilmu-ilmu syariat klasik seperti Fikih, Nahwu, dan Tauhid.
Darul Ulum: Merasa tidak puas hanya dengan ilmu tradisional, beliau masuk ke Madrasah Darul Ulum di Kairo. Lembaga ini merupakan pionir dalam menggabungkan kurikulum agama dengan ilmu pengetahuan modern (sejarah, geografi, dan sains). Beliau lulus pada tahun 1893.
2. Karier dan Pengabdian
Setelah lulus, Syekh Thanthawi mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan dan intelektual:Pendidik: Beliau mengajar di berbagai sekolah menengah pemerintahan di Mesir dan kemudian menjadi dosen di Universitas Kairo serta Darul Ulum.
Aktivis Pemikiran: Beliau aktif dalam gerakan pembaharuan Islam dan pernah menjadi anggota Ikhwanul Muslimin pada masa awal, di mana beliau sangat dihormati oleh Hassan al-Banna karena kedalaman ilmunya.
Nominasi Nobel: Menariknya, pada tahun 1935 dan 1936, beliau sempat dicalonkan untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian karena tulisan-tulisannya yang mempromosikan perdamaian dunia melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan agama.
3. Visi Intelektual: "Sains adalah Ibadah"
Pemikiran Syekh Thanthawi sangat dipengaruhi oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Namun, beliau melangkah lebih jauh dalam hal sains. Beliau merasa prihatin melihat umat Islam yang sangat mahir dalam hukum fikih (darah haid, tata cara shalat, dll), namun buta terhadap ilmu astronomi, biologi, dan fisika.Menurut beliau:
Alam semesta adalah "Kitab Allah yang Terbuka" (Ayat Kauniyah).
Mempelajari sains adalah wajib (Fardhu Kifayah) karena dengan sains, umat Islam bisa keluar dari kemiskinan dan ketertinggalan.
4. Karya Monumental: Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an
Karya terbesarnya adalah Tafsir Al-Jawahir yang terdiri dari 26 jilid.Beliau menulis tafsir ini untuk menunjukkan bahwa Al-Qur'an mengandung kebenaran ilmiah yang mendahului penemuan Barat.
Dalam tafsirnya, beliau memasukkan banyak gambar anatomi, peta bintang, dan penjelasan tentang flora-fauna.
5. Karakter Pribadi dan Wafat
Syekh Thanthawi dikenal sebagai pribadi yang sangat zuhud, tenang, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Beliau menguasai bahasa Inggris dengan baik, yang memungkinkannya membaca jurnal-jurnal ilmiah Barat pada masanya.Beliau wafat pada 12 Januari 1940 M di Kairo. Meskipun beberapa metodologinya dikritik oleh ulama konservatif karena dianggap terlalu memaksakan sains ke dalam ayat (tatafshul), warisannya tetap abadi sebagai peletak batu pertama Tafsir Ilmi (Tafsir Saintifik) modern.
Relevansi dengan Literasi Modern
Jika kita melihat karya A. Fatih Syuhud, semangat yang dibawa Syekh Thanthawi Jauhari—yaitu kemajuan intelektual dan keterbukaan terhadap ilmu baru—sangatlah sejalan. Keduanya memandang bahwa menjadi seorang muslim yang baik berarti juga menjadi seorang yang berilmu pengetahuan luas dan mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman.Profil Kitab Tafsir Al-Jawahir
Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim (Permata dalam Tafsir Al-Qur'an) adalah salah satu karya tafsir paling unik dan kontroversial dalam sejarah literatur Islam modern. Kitab ini ditulis oleh Syekh Thanthawi Jauhari (1870–1940 M), seorang ulama Mesir yang memiliki ketertarikan luar biasa pada ilmu alam dan sains.Tafsir ini sering disebut sebagai "Tafsir Saintifik" (Tafsir Ilmi) yang paling komprehensif karena upayanya yang masif dalam menyatukan ayat-ayat Al-Qur'an dengan penemuan sains modern.
1. Karakteristik Utama: Fokus pada Sains
Berbeda dengan tafsir klasik yang didominasi oleh pembahasan bahasa (Nahwu/Balaghah) atau hukum (Fikih), Syekh Thanthawi Jauhari berargumen bahwa:Al-Qur'an mengandung ribuan ayat tentang alam semesta (ayat kauniyah), sementara ayat tentang hukum (ayat ahkam) hanya sekitar 150-an.
Umat Islam harus mempelajari ilmu alam (astronomi, biologi, fisika) agar bisa maju dan memahami kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.
2. Metodologi Penulisan
Syekh Thanthawi menggunakan pendekatan yang sangat visual dan ensiklopedis:Integrasi Gambar: Kitab ini terkenal karena memuat banyak ilustrasi, tabel, dan gambar-gambar tentang anatomi tubuh manusia, peta bintang (astronomi), hewan, tumbuhan, hingga fenomena alam.
Analisis Tematik: Beliau mengelompokkan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam dan menjelaskannya menggunakan teori sains yang berkembang pada masanya.
Tujuan Pedagogis: Tafsir ini dirancang agar umat Islam tidak hanya beribadah secara ritual, tetapi juga menjadi peneliti dan penemu di bidang sains.
3. Struktur Isi Kitab
Tafsir ini terdiri dari 26 jilid (dalam beberapa cetakan) dan disusun dengan
sistematika:
1. Penjelasan Ayat: Menafsirkan ayat dari sisi bahasa
dan makna dasar.
2. Al-Jawahir (Permata): Bagian khusus di mana beliau
memasukkan data sains, hasil eksperimen, dan fakta ilmiah yang relevan dengan
ayat tersebut.
3. Kesimpulan Moral: Bagaimana penemuan sains tersebut
seharusnya meningkatkan keimanan seseorang.
4. Respon dan Kritik
Karena pendekatannya yang sangat berani, Al-Jawahir menuai beragam reaksi:
Pendukung:
Memuji kitab ini sebagai jawaban atas kemunduran umat Islam di bidang sains
dan teknologi. Kitab ini dianggap sebagai jembatan agar Islam tetap relevan di
era modern.
Pengkritik: Beberapa ulama (termasuk Syekh Rasyid
Ridha) mengkritik bahwa kitab ini "berisi segala hal kecuali tafsir itu
sendiri." Mereka khawatir penafsiran Al-Qur'an menjadi terlalu bergantung pada
teori sains yang bersifat tentatif (bisa berubah), padahal kebenaran Al-Qur'an
bersifat mutlak.
