Terjemah al-Faraidul Bahiyyah (Kaidah Fikih)

Nama kitab: Terjemah kitab Al-Faraidul Bahiyyah Kaidah Fikih Judul kitab asal: ٍSyarah al-Faraid al-Bahiyyah fi Nazhm al-Qawaid al-Fiqhiyyah

Terjemah al-Faraidul Bahiyyah

Nama kitab: Terjemah kitab Al-Faraidul Bahiyyah 
Judul kitab asal: ٍSyarah al-Faraid al-Bahiyyah fi Nazhm al-Qawaid al-Fiqhiyyah (شرح الفرائد البهية في نظم القواعد الفقهية)
Penulis: Abu Bakar bin Abi al-Qasim al-Ahdal
Nama lengkap: Syaikh Abu Bakar bin Abi al-Qasim al-Ahdal al-Yamani al-Syafi'i
Tempat/Wafat: 1035 H
Penerjemah:
Bidang studi: Kaidah fikih, Ushul fikih (Usul Fiqh), metodologi Hukum syariah

Daftar Isi

  1. Download Kitab
  2. Biografi Pengarang
  3. Profil Kitab Al-Faraidul Bahiyyah 
  4. Mukaddimah
  5. Bab Pertama: Lima Kaidah Fikih 
    1. Kaidah Pertama: Segala Sesuatu Tergantung Niat 
    2. Kaidah Kedua: Keyakinan Tidak Hilang oleh Keraguan  
    3. Kaidah ketiga: Kesulitan mendatangkan kemudahan 
    4. Kaidah Keempat: Bahaya harus dihilangkan
    5. Kaidah Kelima: Kebiasaan itu Dapat Dijadikan Hukum
  6.  Bab Kedua 40 Kaidah Fikih: Mengenai Kaidah Umum yang Menjadi Dasar bagi Kasus-Kasus Khusus
    1. Kaidah Pertama: Ijtihad Tidak Dibatalkan oleh Ijtihad
    2. Kaidah Kedua: Jika Halal dan Haram Berkumpul, Maka Haram yang Dimenangkan
    3. Kaidah Ketiga: Mendahulukan Orang Lain dalam Hal Ibadah (kepada Allah) adalah makruh
    4. Kaidah Keempat: Hukum pengikut adalah mengikuti
    5. Kaidah ke-5: Tindakan Imam terhadap Umat Terikat dengan Maslahat 
    6. Kaidah ke-6: Hudud Gugur karena Syubhat    
    7. Kaidah ke-7: Orang Merdeka Tidak Masuk di Bawah Kekuasaan  
    8. Kaidah ke-8: Sesuatu yang Diharamkan Baginya Memiliki Hukum Seperti yang Diharamkannya
    9. Kaidah ke-9: Bertemunya Dua Hal yang Sama  
    10. Kaidah ke-10: Mengamalkan lebih utama daripada Mengabaikan  
    11. Kaidah ke-11: Kharaj dengan Tanggungan (Daman) 
    12. Kaidah ke-12: Keluar dari Perbedaan Pendapat Itu Dianjurkan 
    13. Kaidah ke-13: Pencegahan Lebih Kuat daripada Penangguhan  
    14. Kaidah ke-14: Rukhsah (Keringanan) Tidak Terikat dengan Kemaksiatan  
    15. Kaidah ke-15: Rukhsah (Dispensasi) Tidak Terikat dengan Syak (Keraguan)
    16. Kaidah Fikih ke-16: Ridha terhadap Sesuatu adalah Ridha terhadap Apa yang Lahir Daripadanya
    17. Kaidah Fikih ke-17: Pertanyaan Diulang dalam Jawaban 
    18. Kaidah Fikih ke-18: Tidak Dinisbahkan Ucapan kepada Orang yang Diam 
    19. Kaidah Fikih ke-19: Apa yang Lebih Banyak Amalnya, Maka Lebih Utama Keutamaannya 
    20. Kaidah Fikih ke-20 : Yang Muta'addi (Transitif) Menurut Mereka Lebih Utama daripada yang Qashir (Intransitif)
    21. Kaidah Fikih ke-21 : Fardhu Lebih Utama daripada Nafal (Sunnah)
    22. Kaidah Fikih ke-22 : Keutamaan yang Berkaitan dengan Zat Ibadah Lebih Utama daripada yang Berkaitan dengan Tempatnya
    23. Kaidah Fikih ke-23 : Wajib Tidak Ditinggalkan Kecuali karena Wajib Lain
    24. Kaidah Fikih ke-24 : Apa yang Mewajibkan yang Lebih Agung Secara Khusus, Tidak Mewajibkan yang Lebih Ringan Secara Umum
    25. Kaidah Fikih ke-25 : Apa yang Terbukti dengan Syar'i Lebih Didahulukan daripada yang Terbukti dengan Syarat
    26. Kaidah Fikih ke-26 : Apa yang Haram Penggunaannya, Haram Pengambilannya
    27. Kaidah Fikih ke-27 : Apa yang Haram Diambilnya, Haram Diberikannya
    28. Kaidah Fikih ke-28 : Yang Disibukkan Tidak Menyibukkan
    29.  Kaidah Fikih ke-29 : Yang sudah diperbesar tidak boleh dibesarkan
    30. Kaidah Fikih ke-30 : Barang Siapa yang Terburu-buru Mencapai Sesuatu Sebelum Waktunya, Maka Ia Dihukum dengan Tidak Memperolehnya
    31. Kaidah Fikih ke-31 : Sunnah Lebih Luas daripada Fardhu
    32. Kaidah Fikih ke-32 : Wilayah Khusus Lebih Kuat daripada Wilayah Umum
    33. Kaidah Fikih ke-33 : Tidak Dianggap Asumsi (Zann) yang Jelas Salahnya
    34. Kaidah Fikih ke-34 : Sibuk dengan yang Bukan Maksud Adalah Mengabaikan Maksud
    35. Kaidah Fikih ke-35 : Tidak Menyangkal yang Diperdebatkan, Melainkan Menyangkal yang Disepakati
    36. Kaidah Fikih ke-36 : Yang Kuat Masuk ke dalam yang Lemah, Bukan Sebaliknya
    37. Kaidah Fikih ke-37 : Dimaafkan dalam Sarana Apa yang Tidak Dimaafkan dalam Maksud
    38. Kaidah Fikih ke-38 : Yang Mudah Tidak Gugur karena yang Sulit
    39. Kaidah Fikih ke-39 : Apa yang Tidak Menerima Pembagian, Maka Memilih Sebagiannya Seperti Memilih Seluruhnya, dan Menjatuhkan Sebagiannya Seperti Menjatuhkan Seluruhnya
    40. Kaidah Fikih ke-40:  Jika Bertemu Sebab atau Tipu Daya dengan Pelaksanaan, Maka Pelaksanaan Didahulukan 
  7. Bab Ketiga: 20 Kaidah Fikih Mukhtalaf
  8. Penutup 
  9. Kitab Kaidah Fikih Lain 
  10. BIOGRAFI PENGARANG: IBN AL-AHDAL

    Biografi Imam Allamah Sayyid Abu Bakr bin Abi al-Qasim al-Ahdal al-Yamani al-Shafi'i

    Nama dan Nasab:  
    Abu Bakr bin Abi al-Qasim bin Ahmad bin Muhammad al-Ahdal al-Husaini al-Yamani al-Tihami. Ia dikenal sebagai "Ibn al-Ahdal", dan ia adalah keturunan para Sayyid al-Husainiyyin di Tihamah Yaman, serta merupakan seorang fadhil yang mulia, ulama yang bersinar dalam fiqh Syafi'i, ilmu hadis, anabib, dan tasawuf.

    Kelahiran dan Pendidikan:  
    Ia lahir pada tahun 984 H (1576 M) di kota Bait al-Faqih, Provinsi Hudaidah di Yaman, yang merupakan salah satu kota terkemuka di Tihamah. Ia dibesarkan dalam lingkungan ilmu yang penuh berkah, di mana ia menerima pendidikan awalnya di tempat kelahirannya. Ia menghafal Al-Qur'an al-Karim secara keseluruhan saat masih kecil, dan mempelajari fiqh Syafi'i serta ilmu-ilmu syar'i di tangan ulama-ulama daerah setempat, sehingga ia mahir dan menguasainya. Ia dikenal dengan ketelitiannya dalam menyusun hadis-hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan penafsiran mendalamnya terhadap teks-teks agama, yang menjadikannya rujukan dalam bidang hadis dan fiqh.

    Riwayat Hidup dan Ilmunya:  
    Ibn al-Ahdal menjalani seluruh hidupnya di Yaman, berkomitmen pada ilmu dan penulisan, tanpa banyak bepergian ke luar negerinya. Ia terkenal dengan kemuliaan dan ketakwaannya, serta merupakan seorang faqih Hanafi dalam beberapa riwayat (mungkin karena pengaruh beberapa mazhab), tetapi secara mendasar ia diklasifikasikan dalam mazhab Syafi'i yang menjadi keahliannya. Ia berkontribusi dalam pelestarian warisan anabib al-Alawiyyah dan al-Husainiyyah, serta menulis tentang tasawuf dan ushul fiqh, yang mencerminkan keluasan ilmunya. Ia disebutkan dalam kitab-kitab thabaqat dan tarajim sebagai ulama fadhil dari penduduk Tihamah, dan ia memiliki peran dalam mendokumentasikan sejarah keluarganya yang mulia al-Ahdaliyyah.

    Karyanya:  
    Ia memiliki karya-karya berharga dalam fiqh, hadis, anabib, dan tasawuf, di antaranya yang terkemuka:  

    1. Al-Fara'id al-Bahiyyah fi Nazham al-Qawa'id al-Fiqhiyyah: Nazham puisi yang merangkum qawa'id fiqh Syafi'i dari kitab "Al-Asybah wa al-Naza'ir" karya al-Suyuthi, dan ini adalah salah satu karya terkenalnya yang paling bermanfaat bagi para pelajar ilmu.  
    2. Nafhat al-Mandal fi Tarajim Sada al-Ahdal: Tarajim untuk keluarganya dan keturunannya, di mana ia menjelaskan nasab mereka dan keutamaan-keutamaannya.  
    3. Al-Ahsab al-'Aliyyah fi al-Anabib al-Ahdaliyyah: Kitab dalam ilmu anabib yang berfokus pada nasab Bani al-Ahdal al-Husainiyyin.  
    4. Ishtilahat al-Shufiyyah: Tentang istilahat tasawuf.  
    5. Nazham al-Tahrir fi al-Fiqh: Nazham dalam fiqh Syafi'i. 
    6. Munhat al-Wahhab bi Nazham Tahrir Tanqih al-Labab: Syarah nazham untuk kitab dalam fiqh Syafi'i.  

    Serta karya-karya lain dalam hadis dan fiqh, yang menjadi saksi atas karya ilmiahnya yang melimpah.

    Wafatnya:  
    Ia wafat pada tahun 1035 H (1626 M) di desa "al-Mahath" atau Bait al-Faqih di Yaman, pada usia sekitar 51 tahun. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas, dan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.

    Pujian terhadapnya:  
    Para sejarawan mengatakan tentang beliau bahwa ia adalah "fadhil dari penduduk Tihamah Yaman", dan "ulama Yaman yang mahir dalam fiqh Syafi'i dan ilmu hadis", serta merupakan pelita zamannya dalam pelestarian warisan syar'i dan nasab. Beliau disebutkan dalam sumber-sumber seperti "Al-A'lam" karya al-Zarkali (2:68), "Khalasah al-Atsar" (1:64), "Mulhaq al-Badr" (14), dan "Thabaqat al-Nasabiyyin".

    PROFIL KITAB AL-FARAIDUL BAHIYYAH 

    Kitab Syarah Al-Fara'id al-Bahiyyah dalam Penyusunan Qawa'id Fiqhiyyah adalah penjelasan atas buku Nazam al-Qawa'id al-Fiqhiyyah karya Syaikh Abu Bakr al-Ahdal, yang merupakan rangkuman berbentuk nazham (puisi) tentang qawa'id fiqhiyyah di mana ia merangkum buku Al-Asybah wa al-Naza'ir karya Imam al-Suyuthi. Buku ini bermanfaat bagi para pelajar ilmu agama atau santri untuk memahami qawa'id fiqhiyyah utama dan cabang-cabangnya. 

    Nazham:  
    "Al-Fara'id al-Bahiyyah" adalah nazham puisi/syair yang disusun oleh al-Ahdal untuk merangkum qawa'id mazhab Syafi'i dari buku "Al-Asybah wa al-Naza'ir" karya al-Suyuthi.

    Isi Nazham:  
    Mencakup lima puluh lima qaidah fiqhiyyah yang disusun dalam tiga bab:  

    1. Bab Pertama: Lima qaidah utama yang menjadi rujukan bagi seluruh masail fiqhiyyah, seperti qaidah "Al-umur bi maqashidha" (Segala perkara tergantung pada maksudnya).  
    2. Bab Kedua: (Tidak disebutkan secara spesifik dalam sumber-sumber, tetapi tampaknya mencakup sisa qawa'id lainnya).  
    3. Bab Ketiga: Berisi dua puluh qaidah yang berbeda di dalamnya.

    Pentingnya Buku Ini

    Penjelasan ini dianggap bermanfaat bagi para pelajar dan orang lain yang ingin mengetahui qawa'id fiqhiyyah Islam.  

    Ia merupakan ringkasan yang mudah dipahami tentang qawa'id fiqhiyyah, sehingga menjadikannya alat yang berharga untuk mempelajari fiqh.

    DOWNLOAD KITAB 

    1. Terjemah Al-Faraidul Bahiyyah (Al-Faraid al-Bahiyah)  
    2. Al-Faraid al-Bahiyyah Syarah al-Qawaid al-Fiqhiyyah (versi Arab) 
LihatTutupKomentar